BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu

21 

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tindakan

1. Defenisi Tindakan

Tindakan atau praktik (practice) adalah suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas (Notoatmodjo, 2007). Praktik ini mempunyai beberapa tingkatan :

a. Persepsi (perception)

Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama.

b. Respon terpimpin (guided response)

Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktik yang kuat.

c. Mekanisme (mecanism)

Apabila seseorang telah melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktik tingkat tiga d. Adopsi (adoption)

Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasikannya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

(2)

2. Tindakan Suami a. Pengertian

Tindakan adalah perangkat tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan dimasyarakat (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002, hlm 215). Tindakan suami adalah suatu bentuk kepedulian dan tanggung jawab suami pada istri dalam menjalani persalinan (Suharsono, 2003).

Suami juga berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan memberi rasa aman, sebagai kepala keluarga sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya(Effendi, 1999).

Seperti yang kita ketahui bahwa suami merupakan calon terkuat dalam hal mendampingi istri saat menjalani proses persalinan. Besar artinya kehadiran seorang pendamping persalinan karena dapat berbuat banyak untuk membantu ibu saat persalinan (musbikin, 2007).

b. Proses terbentuknya tindakan suami

Proses terbentuknya tindakan suami (ayah) berkembang sejalan dengan peran ibu. Secara umum ayah menyukai anak-anak,dan kadang - kadang istri senang berperan sebagai ayah dan senang mengasuh anak, percaya diri, dan mampu menjadi ayah, dan membagi pengalamannya tentang persalinannya dengan pasangannya (Meliasari, 2008).

Sebagai calon ayah yang berbahagia, jangan merasa cemas, khawatir, maupun takut secara berlebihan. Siapkan segala sesuatunya dengan baik, termasuk mental anda, maka proses persalinan itu akan berjalan lancar. Peran serta suami di ruang bersalin ternyata membuat istri mereka merasa lebih tenang

(3)

dan lebih siap dalam menghadapi proses persalinan. Bahkan, banyak diantaranya yang tidak memerlukan obat penghilang rasa sakit ketika melahirkan, karena ada suami yang mendampinginya (Musbikin 2007).

B. Pentingnya tindakan yang dilakukan suami dalam memberikan asuhan sayang ibu dalam menghadapi nyeri saat istri melahirkan.

Proses mekanisme yang menyebabkan kelahiran bayi perlu dipahami calon ibu, sehingga ibu mempunyai pengetahuan tentang yang akan terjadi dan apa yang diharapkan dari dirinya serta apa yang perlu dia lakukan ( Liewellyn, 2005).

Peran keluarga khususnya suami sangat dibutuhkan pada saat bersalin. Istri dapat meminta keluarga khususnya suami menunggu di kamar bersalin untuk ketenangan serta agar suaminya dapat merasakan bagaimana penderita saat bersalin. Hal ini sangat menguntungkan karena suami dapat memberikan dorongan moril dan menambah semangat ibu saat bersalin (manuaba, 1998).

Tindakan yang dilakuka suami saat istri bersalin penting dan dapat membantu ketenangan jiwa istri. Kasih sayang dan belaian suami masih tetap penting sehingga tampak keharmonisan rumah tangga menjelang hadirnya buah cinta yang diharapkan (Manuaba, 1999).

Kehadiran seorang suami diruang bersalin ternyata membuat istri mereka merasa lebih tenang dan lebih siap dalam menghadapi proses persalinan. Bahkan banyak diantaranya yang tidak memerlukan obat penghilang rasa sakit ketika melahirkan karena ada suami yang mendampinginya saat proses persalinan berlangsung. Kemudian seoang calon ayah yang ingin mendampingi istrinya diruang

(4)

bersalin, sebaiknya mempersiapkan diri baik secara mental maupun fisik. Hal ini dilakukan agar proses persalinan berjalan lancar (Musbikin, 2007)

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan para calon ayah ketika berada ruang bersalin adalah:

1. Bantulah istri anda untuk menghitung waktu kontraksi. 2. Tenangkanlah istri anda yan merasa galau, takut, dan cemas.

3. Lontarkanlah cerita cerita lucu yang membuatnya terhibur atau ajaklah ia bercanda.

4. Bantulah istri melatih pernafasan.

5. Berikan dukungan dan dorongan dalam bentuk kata – kata yang menyenangkan perasaanya

6. Janganlah tersinggung apabila istri anda menyalahkan anda terhadap semua rasa sakit yang sedang dirasakan istri anda karena apa yang dikatakannya itu tidak bermakna sebenarnya dan hanya merupakan luapan emosi dari kesakitan yang dirasakannya.

7. Usaplah bagian belakang bagian tubuh istri anda dengan lemah lembut untuk mengurangi perasaan tidak nyaman atau rasa sakit yang dialaminya.

C. Tindakan yang dilakukan suami dalam menghadapi nyeri persalinan kala satu Beberapa tindakan yang dapat dilakukan suami untuk membantu istri saat proses persalinan adalah dengan melakukan stimulasi kulit (massage), relaksasi pernafasan, dan imajinasi.

(5)

1. Massage

a. Pengertian massage

Stimulasi kulit (massase) adalah melakukan tekanan tangan pada jaringan lunak, biasanya otot, tendon atau ligamentum, tanpa menyebabkan gerakan atau perubahan posisi sendi untuk meredakan nyeri, menghasilkan rasa nyaman, dan/atau memperbaiki sirkulasi. Malkin (1994) merincikan enam gerakan dasar yang dilakukan yaitu : effleurage (gerakan tangan mengurut), petrissage (gerakan tangan mencubit), tapotement (gerakan tangan melakukan perkusi), hacking (gerakan tangan mencincang), kneading (gerakan tangan meremas), dan cupping (tangan membentuk seperti mangkuk) (Mander, 2003, hal. 164).

Masase dan sentuhan membantu ibu lebih rileks dan nyaman selama persalinan. Sebuah penelitian menyebutkan ibu yang dipijat selama 20 menit setiap jam selama tahapan persalinan akan lebih bebas dari rasa sakit, karena masase (pijat) meransang tubuh melepaskan senyawa endhorpin yang merupakan pereda sakit alami dan menciptakan perasaan nyaman. Bagian tubuh ibu yang dapat dimasase adalah kepala, bahu, perut, kaki, tangan dan punggung. Saat memijat, pemijat harus memperhatikan respon ibu apakah tekanan yang diberikan sudah tepat (Danuatmadja dan Meiliasari, 2004, hal. 67).

Usapan yang dilakukan oleh seorang suami terhadap istrinya atau stimulasi kulit (massage) menjadi satu alternatif dalam pemberian terapi untuk mengurangi nyeri karena mudah dilakukan (tidak memerlukan keahlian khusus) sehingga dapat dilakukan suami atau keluarga, tidak

(6)

memerlukan biaya yang mahal dan tidak memerlukan peran aktif dari ibu sehingga dapat dilakukan walaupun respon ibu terhadap nyeri berlebihan.

Stimulasi kulit dalam hal ini massage, bisa dilakukan selama persalinan dan efektif mengurangi nyeri. Kemudian respon prilalaku yang baru terhadap nyeri dan stress dapat membantu ibu mengontrol rasa nyeri yang berlebih dan menurunkan emosi yang negatif atau segala sesuatu yang berhubungan denagan rasa nyeri(Reeder dan Martin , 1997).

b. Metode Massage

Masase merupakan salah satu metode nonfarmakologi yang dilakukan untuk mengurangi nyeri persalinan. Dasar teori masase adalah teori gate control yang dikemukakan oleh Melzak dan Wall, dalam Depkes RI (1997) yang menjelaskan bahwa ada dua macam serabut saraf yaitu serabut saraf berdiameter kecil dan serabut saraf berdiameter besar yang mempunyai fungsi yang berbeda.

Impuls rasa sakit yang dibawa oleh saraf berdiameter kecil menyebabkan gate control di spinal cord membuka dan impuls diteruskan ke korteks serebral sehingga akan menimbulkan rasa sakit. Tetapi impuls rasa sakit ini dapat diblok yaitu dengan memberikan ransangan pada saraf berdiameter besar yang menyebabkan gate control akan tertutup dan ransangan sakit tidak dapat diteruskan ke korteks serebral.

Pada prinsipnya rangsangan berupa usapan pada saraf berdiameter besar yang banyak pada kulit harus dilakukan awal rasa sakit atau sebelum impuls rasa sakit yang dibawa oleh saraf berdiameter kecil mencapai korteks serebral.

(7)

Beberapa macam masase yang dapat dilakukan untuk meransang saraf berdiameter besar yaitu :

1) Effluerage, yaitu pasien dalam posisi atau setengah duduk, lalu letakkan kedua telapak tangan pada perut dan secara bersamaan digerakkan melingkar dari arah pusat ke simpisis atau dapat juga menggunakan satu telapak tangan dengan gerakkan melingkar atau satu arah. Cara ini dapat dilakukan sendiri oleh pasien.

2) Deep Back Massage, yaitu pasien berbaring miring, kemudian bidan atau keluarga pasien menekan daerah sakrum secara mantap dengan telapak tangan, lepaskan dan tekan lagi, begitu seterusnya.

3) Firm Counter Pressure, yaitu pasien dalam posisi duduk kemudian bidan atau keluarga pasien menekan sakrum secara bergantian dengan tangan yang dikepalkan secara mantap dan beraturan.

4) Abdominal Lifting, yaitu dengan cara membaringkan pasien pada posisi terlentang dengan posisi kepala agak tinggi. Letakkan kedua telapak tangan pada pinggang belakang pasien, kemudian secara bersamaan lakukan usapan yang berlawanan ke arah puncak perut tanpa menekan ke arah dalam, kemudian ulang lagi. Begitu seterusnya (Gadysa, 2009, hal. 6).

Masase merupakan tindakan melakukan tekanan tangan pada jaringan lunak, biasanya otot, tendon atau ligamentum, tanpa menyebabkan gerakan atau perubahan posisi sendi untuk meredakan nyeri, menghasilkan rasa relaks, nyaman dan/atau memperbaiki sirkulasi.

(8)

Manfaatnya adalah sebagai berikut : mengurangi ketegangan bahu, leher dan nyeri punggung, memperbaiki sirkulasi darah pada otot sehingga mengurangi nyeri, kram dan inflamasi, memperlambat frekuensi nadi dan menurunkan tekanan darah, menimbulkan relaksasi pikiran (Price, 1997, hal. 120).

2. Relaksasi

a. Pengertian Relaksasi

Relaksasi adalah satu bentuk aktivitas yang dapat membantu mengatasi nyeri dan stres. Teknik relaksasi ini melibatkan pergerakan badan secara mudah dan dapat dilakukan dimana saja. Menurut beberapa penelitian, orang yang rajin mempratekkan relaksasi secara cenderung lebih tenang, lebih mampu mengendalikan emosi dan lebih sehat. Salah satu cara yang umum digunakan adalah kontrol pernafasan (Indriarti, 2009).

Relaksasi merupakan membebaskan pikiran dan beban dari ketegangan yang dengan sengaja diupayakan dan dipraktekkan. Kemampuan untuk relaksasi secara disengaja dan sadar dapat dimamfaatkan sebagai pedoman mengurangi ketidaknyamanan atau nyeri. Relaksasi pernafasan biasanya dilakukan selama 15- 20 menit (Indriarti, 2009).

Tindakan relaksasi merupakan tindakan nonfarmakologik yang dapat dilakukan oleh suami dalam membantu kelancaran proses persalinan.karena jika tindakan ini dilakukan dapat membuat kenyamanan pada istri pada saat melahirkan baik fisik ataupun psikis sang istri (Musbikin, 2006).

Relaksai merupakan proses mengistirahatkan tubuh dan fikiran dari segala beban fisik dan kejiwaan sehingga ibu merasa lebih tenang. Sedangkan

(9)

ketika persalinan relaksasi membuat proses kontraksi berlangsung aman, alami, dan lancar. Hal ini disebabkan karena relaksasi mengurangi ketegangan dan kelelahan yang mengintensifkan nyeri yang dirasakan selama proses persalinan. Dan dengan adanya tindakan relaksasi ini memungkinkan adanya ketersediaan oksigen dalam jumlah maksimal untuk rahim, yang juga dapat mengurangi nyeri, karena otot kerja (yang membuat rahim berkontraksi) menjadi sakit jika kekurangan oksigen. Kemudian konsentrasi mental yang terjadi secara sadar saat merelakskan otot dapat membantu mengalihkan perhatian dari rasa sakit sewaktu kontraksi, karena hal itu akan mengurangi kesadaran akan rasa sakit yang dialami (whalley, 2008).

b. Jenis-jenis Relaksasi

Jenis-jenis relaksasi antara lain adalah Relaksasi pernafasan, Regangan, Senam, Progressive muscular relaxation, Bertafakur, Yoga. Dalam membantu ibu dalam proses persalinan relaksasi yang biasa dilakukan adalah relaksasi pernafasan.

Tindakan relaksasi pernafasan merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan, yang dalam hal ini perawat mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan nafas dalam, nafas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan nafas secara perlahan, selain dapat menurunkan intensitas nyeri, tindakan relaksasi nafas dalam juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenasi darah.

Tindakan relaksasi pernafasan dapat menghilangkan nyeri, karena aktivitas-aktivitas di serat besar dirangsang oleh tindakan ini, sehingga

(10)

gerbang untuk aktifitas serat berdiameter kecil (nyeri) tertutup (Smeltzer & Bare, 2002).

Smeltzer & Bare (2002) menyatakan bahwa tujuan relaksasi pernafasan adalah untuk meningkatkan ventilasi alveoli, memelihara pertukaran gas, mencegah atelektasi paru, meningkatkan efesiensi batuk, mengurangi stress baik stress fisik maupun emosional yaitu menurunkan intensitas nyeri dan menurunkan kecemasan.

Ada banyak cara untuk mengatasi rasa nyeri dan stres. Keterampilan mengatasi nyeri dan langkah-langkah kenyamanan ini dapat dilakukan selama persalinan sehingga ibu mampu rileks dan menangani rasa nyeri (Whalley, Simkin, Keppleer. 2008)

Ada beberapa posisi relaksasi yang dapat dilakukan antara lain: 1) Posisi relaksasi dengan terlentang

Berbaring telentang, kedua tungkai kaki lurus dan terbuka sedikit, kedua tangan rileks di samping dibawah lutut dan kepala diberi bantal

2) Posisi relaksasi dengan berbaring miring

Berbaring miring, kedua lutut ditekuk, dibawah kepala diberi bantal dan dibawah perut sebaiknya diberi bantal juga, agar perut tidak menggantung 3) Posisi relaksasi dalam keadaan berbaring terlentang

Kedua lutut ditekuk, berbaring terlentang, kedua lutut ditekuk, kedua lengan disamping telinga

4) Posisi relaksasi dengan duduk

Duduk membungkuk, kedua lengan diatas sandaran kursi atau diatas tempat tidur, kedua kaki tidak boleh mengantung (Smeltzer & Bare, ).

(11)

Tahap pertama untuk belajar rileks adalah menyadari bagaimana rasanya tubuh dan pikiran ibu. Tubuh dan pikiran saling mempengaruhi satu sama lain. Keadaaan pikiran ibu mempunyai pengaruh yang besar terhadap seberapa rileks atau tegangnya tubuh ibu. Jika ibu cemas atau takut, tubuh akan merefleksikan perasaan ini dengan cara menegang, jika ibu merasa percaya diri dan positif, tubuh akan tetap rileks. Saat ibu mulai berlatih relaksasi, cobalah berbaring menyamping dengan tumpukan bantal, atau duduk membuat ibu merasa nyaman. Setelah belajar rileks dalam posisi ini, praktikkan relaksasi nafas dalam (Priharjo, 2003).

Adapun langkah-langkah teknik relaksasi pernafasan adalah sebagai berikut :

a) Ciptakan lingkungan yang tenang b) Usahakan tetap rileks dan tenang

c) Menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru-paru dengan udara melalui hitungan 1,2,3,4

d) Perlahan-lahan udara dihembuskan melalui mulut sambil merasakan ekstrimitas atas dan bawah rileks

e) Ketika menghembuskan nafas, hitung sampai tiga atau empat lagi, usahakan agar tetap konsentrasi / mata sambil dipejam

f) Pada saat konsentrasi pusatkan pada daerah yang nyeri

g) Cobalah bernafas melalui hidung dan menghembuskan melalui mulut, embuskan nafas dari mulut dengan lembut. Banyak ibu merasa lebih enak mengeluarkan suara saat menghembuskan nafas, misalnya “fuuuuuuuuh”

(12)

h) Anjurkan untuk mengulangi prosedur hingga nyeri terasa berkurang.

i) Ulangi sampai 15 kali, dengan selingi istirahat singkat setiap 5 kali (Priharjo, 2003).

3. Imajinasi

Selain tindakan relaksasi tindakan lain yang dapat dilakukan suami saat proses persalinan adalah tindakan imajinasi. Tindakan ini dengan mengarahkan sang ibu membayangkan sesuatu yang dapat membuatnya nyaman. Ajak dia membayangkan sesuatu tempat yang memberikan dirinya tenang, seperti sawah yang terhampar luas dengan hijaunya dedaunan padi yang melambai-lambai ditiup angin sore. Atau ajak Sdia ke suasana laut yang mengajak kita untuk mendengarkan deburan ombak yang perlahan mengenai kaki kita yang tercelup dalam air laut di tepian pantai. Atau hal lainnya dimana pendamping lebih tahu bagaimana memberikan ketenangan pada ibu bersalin saat ia membutuhkan ketenangan itu.

D. Pengertian persalinan

Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologis yang normal. Kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa social yang ibu dan keluarga menantikannya selama Sembilan bulan.

Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu ), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Saifuddin, 2006).

(13)

Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta, dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu ) tanpa disertai adanya penyulit (Susilawati 2009).

1. Persiapan persalinan

Tujuan akhir dari proses persalinan adalah agar ibu dan bayinya selamat. Karena itu harus ada kerja sama yang baik dan penuh pengertian antara penolong persalinan dan si ibu.Persalinan sebaiknya berlangsung di rumah sakit, atau di rumah bersalin yang cukup lengkap peralatannya maupun dibantu oleh tenaga yang terlatih. Jadi bila nantinya ditemui kesulitan (komplikasi) sebelum dan sesudah persalinan maka pertolongan dapat segera dilakukan dan lebih memadai (Musbkin, 2007).

2. Proses Persalinan

Proses persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu dan persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada kehamilan cukup bulan yaitu umur kehamilan 37 minggu, dengan letak belakang kepala.

Tanda – tanda persalinan : a. Terjadinya his persalinan

His persalinan mempunyai sifat :

1) Pinggang terasa sakit yang menjalar kedepan.

2) Sifatnya teratur, interfal makin pendek, dan kekuatannya makin besar. 3) Mempunyai pengaruh terhadap perubahan serviks

(14)

b. Pengeluaran lendir dan darah

Dengan his persalinan terjadi perubahan pada serviks yang menimbulkan : 1) Pendataran dan pembukaan

2) Pembukaan yang menyebabkan lender yang terdapat pada kanalis servikalis lepas.

3) Pengeluaran cairan yang ditimbulkan karena ketuban pecah menjelang pembukaan lengkap. (Manuaba, 2001)

3. Tanda tanda bahaya persalinan

Tanda tanda bahaya ibu bersalin yang dapat mengancam jiwa ibu adalah : a. Syok pada saat persalinan.

b. Perdarahan pada saat persalinan. c. Nyeri kepala .

d. Gangguan penglihatan. e. Kejang atau koma . f. Tekanan darah tinggi. g. Persalinan yang lama. h. Demam dalam persalinan. i. Sukar bernafas.

4. Kala persalinan

Proses persalinan terdiri dari empat kala yaitu : kala satu pembukaan lengkap, kala dua pengeluaran janin, kala tiga pengeluaran placenta, kala empat pengawasan.

(15)

Kala 1 (pembukaan lengkap ) dimulai dari adanya kontraksi his hingga pembukaan lengkap. Kala 1 terdiri atas dua fase yaitu :

a. Fase laten : Pembukaan berlangsung lambat dari 0-4 cm, berlangsung 7-8 jam

b. Fase aktif : Berlangsung selama 6 jam, terdiri atas 3 sub fase : - Periode akselerasi berlangsung 2 jam, pembukaan 0-4

cm

- Periode dilatasi maksimal : berlangsung 2 jam, pembukaan dari 4-9 cm

- Periode deselerasi : berlangsung lambat, waktu 2 jam, pembukaan dari 9 cm- 10 cm

Fase fase yang diatas dijumpai pada primigravida. Bedanya dengan multigravida adalah :

Primigravida Multigravida

Serviks mendatar (effacement ) dulu, baru terjadi dilatasi

Mendatar dan membuka bisa bersamaan

Berlangsung 13 – 14 jam Berlangsung 6 – 7 Jam

E. Nyeri Persalinan

Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan yang tidak menyenangkan. Sifatnya sangat subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialami. Berikut ini pengertian nyeri :

(16)

1. Wolf Weifsel Feurst (1974), mengatakan nyeri merupakan suatu perasaan menderita secara fisik dan mental atau perasaan yang bisa menimbulkan ketegangan.

2. Secara umum, nyeri diartikan sebagai suatu keadaan yang tidak menyenangkan akibat terjadinya rangsangan fisik maupun dari serabut dalam serabut saraf dalam tubuh ke otak dan diikuti oleh reaksi fisik, fisiologis, maupun emosional (Musrifatul., Hidayat. 2008).

Rasa nyeri pada persalinan terjadi karena aktivitas besar di dalam tubuh guna mengeluarkan bayi. Persalinan diartikan sebagai peregangan pelebaran mulut rahim. Kejadian itu terjadi ketika otot-otot rahim berkontraksi untuk mendorong bayi keluar. Otot-otot rahim menegang selama kontraksi. Bersamaan dengan setiap kontraksi, kandung kemih, rektum, tulang belakang, dan tulang pubic menerima tekanan kuat dari rahim. Berat dari kepala bayi ketika bergerak ke bawah saluran lahir juga menyebabkan tekanan. Rasa sakit kontraksi dimulai dari bagian bawah punggung, kemudian menyebar ke bagian bawah perut mugkin juga menyebar ke kaki. Rasa sakit dimulai seperti sedikit tertusuk, lalu mencapai puncak, kemudian menghilang seluruhnya (Danuatmadja., Meiliasari, 2004).

Pada persalinan sebelum atau sesudah terjadi kontraksi, sering kali muncul lendir bercampur darah yang keluar dari vagina sebagai tanda persalinan, hal ini disebabkan oleh karena terlepasnya sumbatan pelindung pada leher rahim, karena serviks mulai membuka dan mendatar sedangkan darah itu berasal dari pembuluh darah kapiler yang berada di sekitar kanalis servikalis yang peka akibat pergesaran yang terjadi sewaktu serviks membuka. Masa kala I pada ibu primigravida terjadi sekitar 13 jam sedangkan pada ibu multigravida sekitar 7 jam. Kala pertama selesai

(17)

apabila pembukaan serviks lengkap. Intensitas kontraksi uterus meningkat sampai kala pertama dan frekuensi menjadi 2 sampai 4 kontraksi dalam 5 sampai 10 menit, juga lamanya his meningkat mulai dari 20 detik pada awal partus ibu sampai mencapai 60 sampai 90 detik pada kala pertama (Wiknjosastro, 2002).

Pada awal persalinan, kontraksi mungkin terasa seperti nyeri punggung bawah yang biasa atau kram saat haid. Kontraksi awal ini biasanya berlangsung singkat dan lemah. Datangnya kira-kira setiap 15-20 menit. Namun , beberapa persalinan dimulai dengan kontraksi-kontraksi kuat yang lebih dekat jarak waktunya. Banyak wanita yang awalnya merasa sakit di bagian punggung mereka, yang kemudian merambat ke bagian depan. Bila kontraksi-kontraksi terus datang, tetapi hanya berlangsung kurang dari 30 detik, atau jika tidak begitu kuat, dan jika tidak berdekatan waktunya, berarti masih dalam tahap pra persalinan atau memasuki persalinan awal. Dalam persalinan sejati, kontraksi akan bertambah kuat, panjang, dan makin berdekatan waktunya (Whalley, Simkin & Keppler. 2008).

Rasa nyeri muncul akibat respons psikis dan refleks fisik. Kualitas rasa nyeri fisik dinyatakan sebagai nyeri tusukan, nyeri terbakar, rasa sakit, denyutan, sensasi tajam, rasa mual, dan kram. Rasa nyeri dalam persalinan menimbulkan gejala yang dapat dikenali. Peningkatan sistem saraf simpatik timbul sebagai respon terhadap nyeri dan dapat mengakibatkan perubahan tekanan darah, denyut nadi, pernapasan dan warna kulit. Serangan mual, muntah dan keringat berlebihan juga sangat sering terjadi ( Bobak, 2004 ).

Nyeri persalinan memberikan gejala yang dapat di identifikasi seperti pada saraf simpatis yang dapat terjadi mengakibatkan perubahan tekanan darah, nadi,

(18)

respirasi, dan warna kulit. Ekspresi sikap kadang-kadang juga dapat dilihat perubahan sikap meliputi penigkatan kecemasan dengan penurunan lapangan persepsi, menangis, mengerang, tangan mengepal dan menggenggam serta otot mudah terangsang (Potter, dkk, 1993 dalam Bobak, 2005 ).

1. Klasifikasi Nyeri

Terdapat dua tipe nyeri yaitu : a. Nyeri akut

Nyeri ini bersifat mendadak, durasi singkat, biasanya berhubungan dengan kecemasan, orang bisa meresponnya dengan cara fisiologis yaitu diaforesis, peningkatan denyut jantung, peningkatan pernafasan, peningkatan tekanan darah dan dengan prilaku. Nyeri akut merupakan mekanisme yang berlangsung kurang dari enam bulan, secara fisiologis terjadi perubahan denyut jantung, frekuensi nafas, tekanan darah, aliran darah perifer, tekanan otot, keringat pada telapak tangan, dan perubahan pada ukuran pupil.

b. Nyeri kronik

Nyeri ini bersifat dalam, tumpul, diikuti dengan berbagai macam gangguan. Terjadi lambat dan meningkat secara perlahan, dimulai setelah detik pertama dan meningkat perlahan sampai beberapa detik atau menit. Nyeri ini biasanya berhubungan dengan kerusakan jaringan yang sifatnya terus menerus atau intermitten (Sari, 2005). Nyeri kronik merupakan nyeri yang konsisten yang menetap sepanjang satu periode waktu dan tidak mempunyai awitan yang ditetapkan dan sering sulit untuk diobati karena

(19)

biasanya nyeri ini tidak mempunyai respon terhadap pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya. Nyeri kronik ini sering didefenisikan sebagai nyeri yang berlangsung selama enam bulan atau lebih (Brunner & Suddarth, 1996 dikutip dari Smeltzer, 2001).

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri

Banyak faktor yang mempengaruhi nyeri selama persalinan. Faktor tersebut bisa fisiologis, sosial, atau fisiologis yang meliputi paritas (ukuran dan posisi fetal), dapat juga karena prosedur medik, kecemasan, kelelahan, budaya, dan mekanisme koping (Bobak, 1995).

Paritas bisa mempengaruhi persepsi terhadap nyeri persalinan karena primipara mempunyai proses persalinan lebih lama dan lebih melelahkan dibandingkan dengan wanita multipara. Hal ini disebabkan oleh serviks pada primipara memerlukan tenaga yang lebih besar untuk meregangkannya, sehingga menyebabkan intensitas kontraksi lebih besar selama persalinan. Disamping itu primipara menunjukkan peningkatan kecemasan dan keraguan untuk mentolerir rasa nyeri selama persalinan, perasaannya lebih terfokus pada nyeri yang dirasakan sedangkan pada multipara menunjukkan kontraksi yang lebih intens dibandingkan dengan primipara.

Prosedur medik seperti induksi dan augmentasi persalinan dapat mempengaruhi respon terhadap nyeri selama persalinan. Penggunaan obat untuk induksi menyebabkan kontraksi menjadi lebih kuat, lebih tidak nyaman dari kontraksi yang timbul secara spontan. Prosedur lain berupa periksa dalam pada posisi supine, penggunaan sabuk abdomen untuk memonitor fetal,

(20)

pembatasan perubahan posisi klien atau berjalan dan penggunaan prosedur edema dimana dapat menyebabkan kontraksi usus dan uterus (Bobak, 1995).

Kecemasan telah terbukti berpengaruh terhadap respon nyeri (Reeder & Martin, 1997). Kecemaan dapat meningkatkan nyeri selama persalinan karena meningkatnya spasme otot yang berakibat pada iskemi dan vasokontriksi berupa gangguan pada viseral dan pelepasan substansi produksi nyeri. Penemuan laboratorium dan klinik selama 30 tahun terakhir telah dibuktikan bahwa takut dan kecemasan yang paling tinggi telah dihubungkan dengan nilai nyeri yang paling tinggi dan meningkatkan penggunaan analgesia.

Kelelahan karena terjadi perubahan pola tidur, kelelahan dapat merubah dan memperbesar persepsi klien terhadap nyeri. Klien akan lebih tegang dan cemas jika tidak diberikan pembelajaran terhadap metode penurunan nyeri. Sehingga ibu kehilangan energi dan menurunkan kemampuannya untuk menggunakan strategi yang dianjurkan untuk mentolerir nyeri (Kinney et al, 2000). Kebudayaan mempengaruhi bagaimana seseorang mengekspresikan nyeri. Dalam agama tertentu, kesabaran adalah hal yang paling berharga dimata Tuhan. Kadang-kadang nyeri dianggap sebagai peringatan atas kesalahan yang telah dibuat sehingga orang tersebut pasrah dalam menghadapi nyeri (Taylor, 1997). Secara normal orang belajar mengatasi nyeri pada saat terjadinya nyeri, dan menggunakan koping yang sama pada saat terjadi nyeri berikutnya (Sherwen et al, 1995).

(21)

3. Penatalaksanaan Nyeri

Pada umumnya untuk mengatasi nyeri selama persalinan digunakan farmakologis yaitu dengan menggunakan obat-obatan yang dapat mengurangi nyeri dan cara nonfarmakologi atau tanpa obat-obatan. Cara farmakologi adalah dengan pemberian obat-obatan analgesia yang bisa disuntikkan melalui infus intrafena, infus, pemberian uap melalui obat-obatan untuk membantu meringankan nyeri (Ibrahim, 1996) disamping itu bisa juga mengurangi atau menghilangkan rasa sakit dengan memblokade saraf penghantar nyeri selama persalinan (Finddley, 1999). Tindakan farmakologis masih menimbulkan pertentangan karena pemberian obat selama persalinan dapat menembus sawar plasenta sehingga dapat menimbulkan efek pada aktifitas rahim (Thompson, 1995). Efek obat yang diberikan kepada ibu terhadap bayi dapat secara langsung maupun tidak langsung antara lain efek langsung menurunkan FHR yang bervariasi, dan yang tidak langsung seperti obat yang menyebabkan hipotensi maternal dan menurunkan aliran darah ke plasenta sehingga menimbulkan hipoksia dan asidosis pada bayi (Kinney et al, 2000).

Metode penurunan nyeri secara nonfarmakologi sangat penting karena tidak membahayakan bagi ibu maupun janin, tidak memperlambat persalinan jika diberikan kontrol nyeri yang kuat, dan tidak mempunyai efek alergi maupun efek obat (Thompson, 1995). Banyak tindakan nonfarmakologi untuk mengurangi efek selama persalinan. Tindakan tindakan tersebut meliputi relaksasi bernafas, imajinasi, stimulasi kulit (massage), dan kompres panas dan dingin. Stimulasi kulit dalam hal ini bisa dilakukan selama proses persalinan yang efektif mengurangi nyeri.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :