• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI TOKSISITAS SEDIMEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UJI TOKSISITAS SEDIMEN"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

UJI

TOKSISITAS

SEDIMEN

Oleh :

Meiska Nur Harlandi (25309008) Indah Kartika Sari L (25309028)

SEDIMEN

Indah Kartika Sari L (25309028)

PENDAHULUAN

• Sedimen: habitat untuk organisme akuatik dan tempat penyimpanan terbesar

senyawa kimia persisten.

• Kontaminan yang terakumulasi sedimen berupa senyawa kimia antropogenik

(l b t ki i i d t i ti id hid k b i) (logam berat, senyawa kimia industri, pestisida, hidrokarbon energi)

• Konsentrasi kontaminan di sedimen > di air.

• Faktor yg mempengaruhi partitioning atau sorption senyawa antara air dan

sedimen adalah:

- Kelarutan dalam air − Jumlah asam sulfida volatile - pH − Ukuran sedimen

- Redoks − Kandungan mineral utama dlm sedimen

-Afinitas utk sedimen organik karbon dan organik karbon terlarut

-Afinitas utk sedimen organik karbon dan organik karbon terlarut

• Lokasi yg paling parah terkontaminasi adalah pelabuhan-pelabuhan industri. • Penentuan efek sedimen terkontaminasi pada organisme akuatik

(2)

KARAKTERISTIK SEDIMEN

• Sedimen adalah partikulat yg terdapat di bawah air.

• Komponen utama sedimen adalah:

Interstitial water (komponen terbesar),terdapat di sekitar partikel sedimen dengan jumlah

50% d i l di 50% dari volume sedimen.

• Fase anorganik (fragmen batu dan mineral), mengatur bioavailabilitas logam divalen. • Senyawa organik, mrp komponen yg penting karena mengatur sorption dan bioavailabilitas

kontaminan organik nonionik.

• Senyawa antropogenik, termasuk kontaminan.

• Ukuran sedimen dikelompokkan menjadi:

• Tanah liat (<2 µm) − Pasir (50 - <2000 µm)

L (2 50 ) K ikil ( 2000 )

• Lumpur (2 - <50µm) − Kerikil (>2000 µm)

• Fraksi yg kasar tersusun dari senyawa anorganik stabil dan bukan merupakan

senyawa kimia kontaminan.

• Kontaminan biasanya ditemukan pada fraksi yg halus, yg memiliki luas area

lebih besar sehingga meningkatkan kemampuan sorpsi kontaminan.

PRINSIP UJI TOKSISITAS SEDIMEN

• Tujuan: mengetahui toksisitas potensial kontaminan terhadap bentos. • Metode: uji letalitas jangka pendek (mengukur efek individual

kontaminan pada satu spesies) atau uji jangka panjang (menentukan efek campuran senyawa kimia pada struktur dan fungsi komunitas). efek campuran senyawa kimia pada struktur dan fungsi komunitas).

• Evaluasi komunitas bentos sebaiknya dilakukan terlebih dahulu. • Tidak adanya bentos di sedimen tidak selalu mengindikasikan

sedimen toksik, keberadaan bentos dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia.

P ji t k i it di d t di k t k

• Pengujian toksisitas sedimen dapat digunakan untuk:

Menentukan hubungan antara efek toksik dan bioavailabilitas

Meneliti interaksi antar kontaminan

Menentukan distribusi kontaminasi spasial dan temporal

Mengevaluasi bahaya dari bahan yg dikeruk

Menentukan prioritas area yang dibersihkan

(3)

Fase sedimen yang dievaluasi meliputi: whole sediment, suspended sediment, elutriates atau ekstrak sedimen.

• Jumlah sampel sedimen: beberapa milimeter hingga lebih dari 800 L. • Organisme uji: alga, makrofita, ikan , bentos, epibentos dan pelagic

invertebrates.

• Metode yang sering digunakan adalah paparan jangka pendek (≤10 hari),

karena penelitian jangka panjang memberikan hasil yang tidak terlalu berbeda terhadap toksisitas kontaminan.

• Kekurangan 10-d adalah:

Hanya untuk mengukur respons letal

Desain percobaan terbatas untuk pengujian statis

Spesies uji yang digunakan bukan merupakan spesies yang paling sensitif dan pada pengujian tidak ada life stage yang paling sensitif

Fase elutriate dan sedimen tersuspensi lebih sering diuji dibandingkan dengan whole Fase elutriate dan sedimen tersuspensi lebih sering diuji dibandingkan dengan whole

sediment

Pada saat pengujian whole sediment, spesies yang digunakan cenderung tidak kontak langsung dengan sedimen

• Pengujian subletal dilakukan dengan pemaparan selama 7-14 hari dengan

menggunakan midges (Chironomus riparius dan C. tetans), amphipods (Rhepoxynius abronius, Hyalella azteca dan Diporeia spp.) atau

cladoderan (Daphnia magna).

PENGUJIAN KUALITAS SEDIMEN

• Pendekatan yg digunakan US EPA dalam pengujian sedimen dapat dilihat

pada Tabel 2, yang berupa:

-Perbandingan area rekomendasiPerbandingan area rekomendasi − Toksisitas whole sediment dan uji sediment-spiking Toksisitas whole sediment dan uji sediment spiking - Equilibrium partitioning − Struktur komunitas bentos

- Residu jaringan − Triad kualitas sedimen

-Toksisitas interstitial water

Pendekatan numerik (untuk menentukan chemical-specific SQC), deskriptif

atau kombinasi numerik dan deskriptif.

• Untuk menentukan kualitas sedimen digunakan pendekatan kombinasi • Untuk menentukan kualitas sedimen digunakan pendekatan kombinasi. • Evaluasi: penggabungan data paparan, analisis kimia dan pengujian

komunitas bentos, yang akan menghasilkan tingkat polution-induced

(4)

KRITERIA KUALITAS SEDIMEN

DAN BIOAVAILABILITAS

• SQC merupakan konsentrasi numerik dari senyawa kimia tunggal yg digunakan

untuk memperkirakan efek biologi pada organisme bentos dan dapat juga

digunakan untuk pengelompokkan sedimen alami di danau, sungai, muara dan air laut pesisir pantai.

• Perhitungan SQC:

SQC = Kpx WQC

SQC : Sediment Quality Criteria (µg kontaminan/g sedimen, dalam berat kering) Kp : Koefisien partisi (L/g)

WQC : nilai kronis akhir yang diperoleh dari WQC Guidelines

• Pada sedimen berbasis karbon organik, SQCocdapat dihitung dengan rumus:

SQCoc= Kocx WQC

SQC S di b b i k b ik ( / ) SQCoc : Sedimen berbasis karbon organik (µg/goc)

Koc : Koefisien partisi karbon organik

• Karbon organik merupakan fase sorpsi utama untuk senyawa kimia organik nonion

yang tedapat di sedimen.

• Senyawa kimia dapat terakumulasi pada sedimen dan bersifat bioavailable thd

organisme yang berada di sedimen.

REMEDIASI SEDIMEN TERKONTAMINASI

• Dapat dilakukan dengan:

• Pemindahan, berupa pengerukan dan pembuangan → tempat pembuangan. • Stabilisasi, berupa injeksi grout, semen atau sealant untuk mengurangi air pd

sedimen.

• Penutupan berupa peletakan lapisan inert di atas sedimen terkontaminasi • Penutupan, berupa peletakan lapisan inert di atas sedimen terkontaminasi. • Pengelolaan in situ, berupa pengolahan kimia atau biologi.

no action, biasanya dilakukan pada area dengan:

• Kontaminan tidak menimbulkan masalah dalam waktu dekat.

• Proses alami akan menutup sedimen terkontaminasi dalam waktu dekat. • Biodegradasi dapat mendetoksifikasi kontaminan.

• Remediasi terlalu mahal.

Remediasi mengakibatkan lebih banyak masalah dibandingkan no action.

• Prosedur remediasi dipengaruhi oleh:

-Ekologi − Engineering

- Faktor kimia − Kesehatan masyarakat

-Faktor fisika − Pertimbangan politik

• Kontrol sumber dan pemantauan secara kontinu harus dilakukan untuk

(5)

METODOLOGI

Pedoman standar untuk pelaksanaan uji toksisitas sedimen dengan

invertebrata freshwater (ASTM 1995a: E 1706-95a)

Pedoman standar untuk pelaksanaan uji toksisitas sedimen statis

10-d dengan ampiphods muara dan laut (ASTM 1992: E 1367-92)

Pedoman standar untuk mendesain uji biologi pada sedimen (ASTM

1994d: 1525-94)

Pedoman standar untuk pelaksanaan uji toksisitas sedimen dengan

Pedoman standar untuk pelaksanaan uji toksisitas sedimen dengan

polychaetous annelids laut dan muara

Pedoman standar untuk pengambilan, penyimpanan, karakterisasi

dan manipulasi sedimen untuk uji toksikologi

PENGAMBILAN DAN PENYIMPANAN SEDIMEN

• Kontak langsung dengan sedimen harus dihindari → penggunaan APD. • Pengambilan sampel → replikasi.

• Pengambilan sampel dapat menyebabkan hilangnya integritas sedimen, perubahan

senyawa kimia atau perubahan ekuilibrium zat kimia.

Benthic grab lebih baik digunakan daripada pengeruk.

• Paparan langsung terhadap sinar matahari harus dikurangi jika terdapat senyawa

fotolitik.

• Pengawetan: pada suhu 40C dan suasana gelap.

• Rentang waktu pengawetan: <2 minggu (ASTM) - <8 minggu (US EPA).

Jika uji toksisitas whole sediment tidak dapat dilakukan pada periode tersebut, maka

perlu dilakukan uji toksisitas interstitial water segera setelah sampel diambil.

Uji toksisitas interstitial water diulangi dengan melakukan uji toksisitas whole sediment

untuk mengevaluasi perubahan potensial toksisitas selama penyimpanan.

(6)

SEDIMEN KONTROL

Sedimen yang bersih dari

kontaminan.

REFERENCE SEDIMENT

Digunakan untuk menilai

kondisi sedimen tanpa adanya

senyawa yang diinginkan.

Kontaminan yang terdapat di

sedimen kontrol merupakan

polutan yang tersebar merata,

bukan berasal dari satu titik

atau sumber.

Sedimen kontrol digunakan

untuk:

y

y

g

g

Pengujian reference sediment

membutuhkan basis area

spesifik untuk mengevaluasi

toksisitas.

Jika karakteristik geokimia

sedimen uji melebihi batas

untuk:

Menilai acceptibility pengujian • Memberi bukti terhadap pengujian

organisme

• Dasar untuk menginterpretasi data

yang diperoleh dari uji sedimen

j

toleransi organisme uji, maka

perlu melakukan evaluasi

terhadap sedimen kontrol dan

reference.

LABORATORY-SPIKED SEDIMENT

• Sedimen uji dapat dibuat dengan memanipulasi sifat dari sedimen kontrol

dan reference dengan menambahkan senyawa kimia atau campuran limbah.

• Menentukan: LC50, LOEC serta hubungan konsentrasi-respons dan sebab-akibat

akibat,.

• Waktu pencampuran: beberapa jam pada temperatur rendah. • Durasi kontak dapat mempengaruhi partitioning dan bioavailabilitas.Umur spiked sediment maks 1 bulan.

• Penggunaan pelarut selain air, harus diuji terlebih dahulu dibandingkan

dengan kontrol negatif sedimen.

• Jika ada perbedaan, maka kontrol yg digunakan adalah kontrol pelarut. • Jika tidak ada perbedaan, maka kedua data dapat digunakan.

• Pelarut organik yang bagus adalah trietilen glikol (toksisitas rendah, tidak

mudah menguap dan dapat melarutkan senyawa organik).

• Pelarut lain: metanol, etanol atau aseton.

Penambahan senyawa kimia dapat dilakukan dengan menggunakan rolling mills, feed mixer atau hand mixing.

(7)

KARAKTERISASI SEDIMEN

Karakterisasi sedimen digunakan untuk mengatur availabilitas

kontaminan di sedimen.

Pengukuran karakterisasi berupa:

-

pH - Acid volatile sulfides - Karbon organik - persen air

-Karbon anorganik - grain size

Pada desain percobaan tertentu, analisis yang dilakukan

meliputi BOD, COD, DOC, CEC, redoks, TVS, total amonia,

meliputi BOD, COD, DOC, CEC, redoks, TVS, total amonia,

logam, organosilikon, senyawa organik sintetik, minyak dan

lemak, hidrokarbon petroleum dan analisis kimia interstitial

water.

Dilakukan juga analisis makrobentos.

UJI ELUTRIATE

 Tujuan: untuk mengevaluasi efek potensial jangka pendek (jamj g p j g p (j atau hari) dari open-water disposal.

 Cara: mengukur potensial yang dihasilkan oleh senyawa larut air pada sedimen terhadap water column selama proses pembuangan.

 Sampel elutriate dibuat dengan pengocokan kuat 1 bagian sedimen dengan 4 bagian air selam 15-30 menit. Campuran kemudian didiamkan, fase cair disentrifugasi dan disaring.  Hasil dari uji elutriate berupa letalitas akut bahan buangan.  Beberapa sampel elutriate lebih toksik dibandingkan dengan

(8)

UJI INTERSTITIAL WATER

SEDIMENT

Tujuan: untuk mengevaluasi efek potensial in situ sedimen

terkontaminasi pada organisme akuatik.

Konsentrasi kontaminan pada interstitial water berhubungan

dengan toksisitas dan bioakumulasi.

Interstitial water dapat diisolasi dengan sentrifugasi, squeezing,

suction dan dialisis.

Sentrifugasi atau squeezing digunakan jika volume air yang

dibutuhkan banyak.

Jika sedimen bersifat anoxic, pada saat pemrosesan sampel

perlu mengurangi oksidasi (kontak sedimen dengan udara)

perlu mengurangi oksidasi (kontak sedimen dengan udara).

Interstitial water harus diuji secepatnya (penyimpanan akan

mengubah kandungan kimia).

Setelah sampel diisolasi,dilakukan pengujian sesuai dengan

prosedur pengujian toksisitas efluen (Chapter 2 dan 3).

PROSEDUR PERCOBAAN UJI

TOKSISITAS

WHOLE-SEDIMENT

1. Desain Percobaan

Tujuan percobaan

Menentukan LC50 : kontrol negatif, kontrol solven,

konsentrasi sedimen+bahan kimia

Studi lapangan : identifikasi tempat toksik untuk investigasi

lanjut 1 sampel per titik sampling (cakupan tempat

maksimum)

Survey kuantitatif sedimen : menentukan secara statistik

perbedaan antara efek dengan kontrol, referensi, dan uji

sedimen di beberapa tempat

Variabel : jumlah dan jenis kontrol sedimen referensi jumlah

Variabel : jumlah dan jenis kontrol, sedimen referensi, jumlah

perlakuan dan replikat, karakteristik dan kualitas air (lapisan

diatas sedimen)

Memisahkan subsampel : menghitung variasi didalam sampel

dan membandingkan prosedur pengujian (sensitivitas hewan

uji)

(9)

2. Chamber test (reaktor)

Tidak ada aliran air dari satu chamber ke chamber yang lain

Reaktor dibuat dari beberapa material (desain percobaan dan

kontaminan)

Tidak terjadi kontak, leaching dan pelarutan dengan material

reaktor (mempengaruhi organisme uji)

Meminimasi sorpsi, pelarutan dan leaching bahan kimia dari air

: kaca, stainless steel 316, nylon, teflon, dan polycarbonate /

polyethylene

Interaksi sedimen dan lapisan air dalam reaktor :

mempengaruhi keberadaan kontaminan

Rasio sedimen : lapisan air = merubah bioavailabilitas dan

efek racun

(St

t l) V l

di

l

k

(Stemmer et al) Volume sedimen : luas permukaan =

mempengaruhi toksisitas selenium dalam sampel sedimen pada

Dapnia magna

Luas permukaan konstan dengan rasio sedimen : air (1:4) =

mempengaruhi keberadaan kontaminan dan konsentrasi air

Uji dilakukan pada beberapa kondisi air terhadap sedimen

(kesadahan air dan pH memepengaruhi toksisitas sedimen)

3. Organisme Uji

Didasarkan pengaruh utamanya dalam ekologi, keberhasilan uji, dan

interpretasi hasil uji

Hewan uji yang banyak digunakan dalam pengujian toksisitas

Whole-sediment

(10)

Dipilih berdasarkan sensitivitas, cara makan, relevansi dengan

ekologi, distribusi geografis, taksonomi (hewan asli, jumlah

tersedia, toleransi dengan karakteristik geokimia sedimen

(ukuran / berat)

Jenis makanan dan kontak langsung dengan sedimen :

mempengaruhi dosis kontaminan dan potensi akumulasi

kontaminan (adsorpsi ke seluruh tubuh)

Hyalella azteca (Amphipod)

Hyalella azteca (Amphipod)

Uji toksisitas sedimen air tawar

Umur 7-14 hari : dapat berkembangbiak (dewasa)

Hasil akhir uji : ketahanan, perilaku, pertumbuhan dan

pematangan alat reproduksi

Isolasi kuantitatif Amphipod muda di sedimen sulit diamati (ukuran

sangat kecil < 1 mm)

Hewan uji dewasa : dari lapangan dan aklimatisasi di laboratorium

sebelum dilakukan uji

Durasi pengujian 10 hari (amphipod air tawar, estuari dan laut)

Waktu paparan pendek : pengamatan efek kontaminan pada

pertumbuhan dan reproduksi

Metode kembangkan dengan waktu paparan sedimen lebih lama

(20-60 hari) menggunakan : A.abdita, L.plumulous dan H. Azteca

Chironomous tentans (Midges)

Larva instar pertama C. tentas 6-27 kali lebih sensitiv daripada larva instar ke-4 paparan akut tembaga

Larva instar pertama C. Riparius 127 kali lebih sensitiv daripada larva instar ke-2 paparan akut kadmium

 Uji kronik : instar hewan pertama, midges / daphnids untuk senyawa organik dan inorganik

 Uji sedimen : larva instar ke-2 sampai instar ke-3 (umur 10-14 hari),

 Uji sedimen : larva instar ke 2 sampai instar ke 3 (umur 10 14 hari), dilanjutkan sampai 17 hari (pertumbuhan instar ke-4 ) : mengukur efek pada larva yang hidup dan mengalami pertumbuhan

 Metode yang sedang dikembangkan dan dipakai : paparan jangka panjang (20-42 hari ) pada sedimen menggunakan C.tentans

Chironomus riparius

 Umur larva hewan uji 1-3 hari, pupa dan dewasa

(Ingersoll & Nelson) : percobaan menggunakan C.riparius selama 21 hari ada pertumbuhan jamur dan bakteri pada permukaan sedimenp j p p

 Pemberian makan dikurangi : mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur pada sedimen (larva yang hidup tidak terganggu)

 Larva dewasa pertumbuhannya terhambat di 28 hari

Uji menggunakan C. Riparius dibatasi 14 hari dengan lapisan air menggunakan sistem renewal water

 Pada hari ke-14 suhu 20 oC, larva instar pertama sampai larva instar ke-4 larva dapat bertahan hidup dan berkembang

(11)

Mayflies dan Cladocerans

Dilakukan selama 10 hari

Uji dengan Mayflies : kemampuan bertahan hidup, pertumbuhan

end point tokisisitas

Uji dengan Cladocerans : survival, pertumbuhan dan reproduksi

Cladocerans : lebih banyak kontak di permukaan sedimen dan terpapar

baik air-kontaminan yang terlarut di lapisan air serta ikatan partikel-

y

g

p

p

kontaminan pada permukaan sedimen

Cladocerans lebih sensitif diantara jenis organisme lain

Oligochaetes

Relatif lebih toleran terhadap beberapa jenis kontaminan

Memiliki siklus hidup komplek

Untuk uji toksisitas akut

(Wiederholm et al, 1987), Paparan selama 500 hari menggunakan

(

,

),

p

gg

Oligochaetes : mengukur pertumbuhan dan reproduksi

(Reynoldson, 1991 & ASTM, 1995), Uji jangka pendek selama 28 hari

menggunakan Tubifex tubifex : pengamatan efek pada pertumbuhan

dan reproduksi

(Phipps et al, 1993 & US.EPA, 1994), Bioakumulasi kontaminan pada

sedimen dengan periode paparan selama 28hari

Durasi ini lebih efektif untuk uji toksisitas lethal dan sublethal

menggunakan Lumbriculus variegatus

Polychaetes

Uji toksisitas sublethal di sedimen : larva, juvenile dan dewasa

Pengamatan efek : survival atau pertumbuhan

Waktu paparan 12 – 85 hari

Evaluasi efek sedimen laut dan estuari pada polychaetes

Uji l h l 4 h i

Uji lethal : 4 hari

Uji sub-lethal : 28 hari

(12)

4. Kondisi Paparan

Air pembiakan organisme dan perlakuan : sesuai dengan

organisme uji dan kualitasnya seragam (sama)

Air tepat dan sesuai menjamin keberhasilan organisme :

bertahan hidup, tumbuh dan perilaku normal

L

i

i

l

i

b ik

tid k t k

t

i

i (k

t l)

Lapisan air alami sebaiknya tidak terkontaminasi (kontrol)

Kualitasnya tidak berubah-ubah seperti yang dispesifikasikan

oleh ASTM (1998) dan US EPA (1985, 1991)

Desain penelitian diperlukan air dari tempat yang sama

dengan sedimen

5. Homogenisasi Sedimen

Sedimen umumnya tercampur didalam wadah penampung

Subsampel whole-sediment ditambahkan ke masing-masing

reaktor

Kedalaman sedimen dalam reaktor tergantung desain

penelitian dan reaktor uji

penelitian dan reaktor uji

Lapisan air dituang perlahan ke dalam sisi-sisi reaktor :

meminimasi resuspensi sedimen

(13)

6. Uji Statik dan Renewal Water

Sistem operasi dan kondisi fisik (aerasi & suhu)

dicek setiap hari dan disesuaikan

pH,

alkalinitas,

kesadahan,

oksigen

terlarut,

konduktifitas dan organik karbon terlarut diukur

konduktifitas dan organik karbon terlarut diukur

pada awal dan akhir pengujian (1 x seminggu)

Uji Statik

 Lapisan air sampel tanpa pergantian dengan lapisan air baru, diaerasi

 Kualitas air dapat berubah selama waktu paparan (4 minggu)

 Konsentrasi produk metabolik (ammonia) tinggi

 Toksik bagi organisme dan mempengaruhi toksisitas sedimen

 Kesadahan mempengaruhi senyawa anorganik

 Kesadahan mempengaruhi senyawa anorganik

Uji Renewal Water

Aliran flow-through (kontinyu)

 Ada penambahan volume air per hari

 Pendistribusian volume lapisan air tiap reaktor harus merata

 Konsentrasi kontaminan di lapisan air berkurang

7. Pelaksanaan Uji

Aklimatisasi hewan uji terhadap lapisan air, suhu, pencahayaan

dan photoperiod (ASTM, 1995)

Reaktor diperiksa setiap hari

Pengamatan perilaku hewan uji (cara berkembangbiak di

g

p

j (

g

sedimen)

Paparan jangka pendek (10 hari) : organisme uji tidak diberi

pakan

Pengamatan efek sub-lethal : perkembangan, pertumbuhan,

reproduksi, perilaku dari organisme uji

Kematian organisme uji : adanya pertumbuhan jamur / bakteri

di permukaan sedimen

Data feeding rate dan keadaan permukaan sedimen dicek

Data feeding rate dan keadaan permukaan sedimen dicek

perhari

Penambahan makanan mempengaruhi keberadaan kontaminan

di sedimen

Akhir paparan : organisme uji diambil dari reaktor dengan

(14)

8. Quality Control

Sampel kontrol sedimen dan lapisan air

Evaluasi : kontrol organisme hidup, toksikan referensi,

persentase lemak organisme

O

i

ji d

k

t l l k

d

Organisme uji pada kontrol, perlakuan dan recovery

dapat dievaluasi setelah 1 jam

Referensi uji toksisitas : mengukur kemungkinan

perubahan kondisi spesies uji

Referensi toksikan uji : perbandingan interlaboratory

sensitivitas organisme uji

INTERPRETASI DAN

KEAKURATAN

HASIL PENGUKURAN

1. Analisis Data

Data kimia dan biologi dibandingkan kontrol atau referensi :

mengetahui efek racun, menghitung LC50 dan NOEC

Berdasarkan pengukuran rata-rata konsentrasi materi yang diuji

Perbandingan statistik dan interpretasi hasil harus sesuai

dengan desain percobaan

Perhitungan LC50 atau EC50 : metode probit, binomial, atau

moving-average

Replikat sampel sedimen independen : efek dibandingkan

Replikat sampel sedimen independen : efek dibandingkan

dengan kontrol/referensi menggunakan t-test, analisis ANOVA

atau analisis Regresi

ANOVA : mengetahui perbedaan antar perlakuan

 Ho = tidak ada perbedaan yang signifikan diantara perlakuan dan kontrol (referensi) sampel sedimen

 F-test = Ho diterima, kesimpulan : efek yang diamati pada desain percobaan tidak signifikan

(15)

Perhitungan NOEC atau LOEC : metode Fisher’s, Dunnett’s dan

Williams

US EPA (1994) : uji hipotesis, pengambilan keputusan tentang

sumber pencemar sedimen yang masuk ke perairan

Ho : tidak ada perbedaan diantara sumber pencemar sedimen

Kontrol dan perlakuan berada pada tingkat signifikansi 95% (α

= 0.05)

Daerah normal : perlakuan lebih toksik dibandingkan kontrol /

Daerah normal : perlakuan lebih toksik dibandingkan kontrol /

referensi

Tipe error I : sedimen nontoksik dikategorikan toksik

Tipe error II : sedimen toksik dikategorikan nontoksik

Error II lebih berbahaya dibandingkan Error I

Error II tidak membatasi pembuangan sedimen toksik yang

membahayakan kehidupan perairan dan manusia

Error I membatasi pembuangan sedimen nontoksik (sumbatan

atau pembuangan tertutup)

atau pembuangan tertutup)

Probabilitas Error II dan pencemaran sedimen toksik dapat

dikurangi :

Ho tidak ada perbedaan antara kontrol dan perlakuan / ditolak

pada α 0.5 (probbilitas Error I > 50%)

Menaikan ukuran sampel atau menyeting β pada 0.2 atau 0.1

KELEBIHAN DAN

KEKURANGAN

1. Kelebihan

Pengukuran langsung efek pada bentik

Tidak dibutuhkan peralatan khusus

Tidak dibutuhkan peralatan khusus

Cepat dan tidak mahal

Legal dan lebih scientific : standar ASTM

Uji dengan penambahan bahan kimia : data hubungan

penyebab-efek

Uji toksisitas sedimen dapat diterapkan semua bahan kimia

Aplikasi sampel lapangan : efek kumulatif dan interaksi

kontaminan

Uji toksisitas tidak ada validasi di lapangan

(16)

2. Kekurangan

Penyimpanan sedimen, penanganan dan pengumpulan

mempengaruhi bioavailabilitas

Penambahan sedimen tidak representatif

Karakteristik geokimia sedimen mempengaruhi respon

organisme uji

Hewan asli ada pada sedimen yang diambil di lapangan

Rute pajanan tidak diketahui

Data yang dihasilkan pada uji toksisitas sukar diinterpretasikan

Faktor kontrol bioavailabilitas kontaminan di sedimen tidak

diketahui

Aplikasi uji pada sampel lapangan tidak dapat menyebutkan

efek dari tiap-tiap bahan kimia

Banyak pembanding baik metode atau spesies uji

Metode tes kronik hanya untuk mengukur efek sublethal

Uji laboratorium tidak dapat memprediksi efek dalam ekologi

Uji tidak dapat memprediksi efek pada manusia secara langsung

Referensi

Dokumen terkait

Kandungan dodekanal dan dekanal yang tertinggi diperoleh pada waktu distilasi 8 jam dibandingkan dengan distilasi 4 jam Hal ini disebabkan karena secara umum minyak

Penelitian mengenai peringkat obligasi diperlukan karena masih terdapat perbedaan hasil penelitian menurut Andry (2005) bahwa faktor akuntansi yang berpengaruh terhadap

berjalan dengan baik, ada berbagai macam masalah yang terjadi dalam suasana belajar, yaitu seorang guru yang kurang menguasai pelajaran, kondisi kelas yang

terpencil, juga harus dipandang sebagai kelompok yang harus diprioritaskan menerima bantuan untuk meningkatkan akses mereka kepada air minum dan kesadaran mereka

Pertimbangan hakim dalam membatalkan Hak Tanggungan adalah benar karena tanah dan bangunan Sertipikat Hak Milik nomor: 334 yang dijadikan jaminan kredit

Penyelenggara Pemilu tidak boleh melanggar pengakuan dan perlindungan kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya yang dijamin dalam Pasal 18B UUD

Dengan kata lain, imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk

Smjernice su niz temeljnih koraka (faza) osmišlje- nih tako da pomognu knjižničarima koji se odluče na implementaciju društvenih mreža u usluge knjižnice kod odabira društvene