UJI
TOKSISITAS
SEDIMEN
Oleh :
Meiska Nur Harlandi (25309008) Indah Kartika Sari L (25309028)
SEDIMEN
Indah Kartika Sari L (25309028)
PENDAHULUAN
• Sedimen: habitat untuk organisme akuatik dan tempat penyimpanan terbesar
senyawa kimia persisten.
• Kontaminan yang terakumulasi sedimen berupa senyawa kimia antropogenik
(l b t ki i i d t i ti id hid k b i) (logam berat, senyawa kimia industri, pestisida, hidrokarbon energi)
• Konsentrasi kontaminan di sedimen > di air.
• Faktor yg mempengaruhi partitioning atau sorption senyawa antara air dan
sedimen adalah:
- Kelarutan dalam air − Jumlah asam sulfida volatile - pH − Ukuran sedimen
- Redoks − Kandungan mineral utama dlm sedimen
-Afinitas utk sedimen organik karbon dan organik karbon terlarut
-Afinitas utk sedimen organik karbon dan organik karbon terlarut
• Lokasi yg paling parah terkontaminasi adalah pelabuhan-pelabuhan industri. • Penentuan efek sedimen terkontaminasi pada organisme akuatik
KARAKTERISTIK SEDIMEN
• Sedimen adalah partikulat yg terdapat di bawah air.• Komponen utama sedimen adalah:
• Interstitial water (komponen terbesar),terdapat di sekitar partikel sedimen dengan jumlah
50% d i l di 50% dari volume sedimen.
• Fase anorganik (fragmen batu dan mineral), mengatur bioavailabilitas logam divalen. • Senyawa organik, mrp komponen yg penting karena mengatur sorption dan bioavailabilitas
kontaminan organik nonionik.
• Senyawa antropogenik, termasuk kontaminan.
• Ukuran sedimen dikelompokkan menjadi:
• Tanah liat (<2 µm) − Pasir (50 - <2000 µm)
L (2 50 ) K ikil ( 2000 )
• Lumpur (2 - <50µm) − Kerikil (>2000 µm)
• Fraksi yg kasar tersusun dari senyawa anorganik stabil dan bukan merupakan
senyawa kimia kontaminan.
• Kontaminan biasanya ditemukan pada fraksi yg halus, yg memiliki luas area
lebih besar sehingga meningkatkan kemampuan sorpsi kontaminan.
PRINSIP UJI TOKSISITAS SEDIMEN
• Tujuan: mengetahui toksisitas potensial kontaminan terhadap bentos. • Metode: uji letalitas jangka pendek (mengukur efek individualkontaminan pada satu spesies) atau uji jangka panjang (menentukan efek campuran senyawa kimia pada struktur dan fungsi komunitas). efek campuran senyawa kimia pada struktur dan fungsi komunitas).
• Evaluasi komunitas bentos sebaiknya dilakukan terlebih dahulu. • Tidak adanya bentos di sedimen tidak selalu mengindikasikan
sedimen toksik, keberadaan bentos dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia.
P ji t k i it di d t di k t k
• Pengujian toksisitas sedimen dapat digunakan untuk:
Menentukan hubungan antara efek toksik dan bioavailabilitas
Meneliti interaksi antar kontaminan
Menentukan distribusi kontaminasi spasial dan temporal
Mengevaluasi bahaya dari bahan yg dikeruk
Menentukan prioritas area yang dibersihkan
• Fase sedimen yang dievaluasi meliputi: whole sediment, suspended sediment, elutriates atau ekstrak sedimen.
• Jumlah sampel sedimen: beberapa milimeter hingga lebih dari 800 L. • Organisme uji: alga, makrofita, ikan , bentos, epibentos dan pelagic
invertebrates.
• Metode yang sering digunakan adalah paparan jangka pendek (≤10 hari),
karena penelitian jangka panjang memberikan hasil yang tidak terlalu berbeda terhadap toksisitas kontaminan.
• Kekurangan 10-d adalah:
Hanya untuk mengukur respons letal
Desain percobaan terbatas untuk pengujian statis
Spesies uji yang digunakan bukan merupakan spesies yang paling sensitif dan pada pengujian tidak ada life stage yang paling sensitif
Fase elutriate dan sedimen tersuspensi lebih sering diuji dibandingkan dengan whole Fase elutriate dan sedimen tersuspensi lebih sering diuji dibandingkan dengan whole
sediment
Pada saat pengujian whole sediment, spesies yang digunakan cenderung tidak kontak langsung dengan sedimen
• Pengujian subletal dilakukan dengan pemaparan selama 7-14 hari dengan
menggunakan midges (Chironomus riparius dan C. tetans), amphipods (Rhepoxynius abronius, Hyalella azteca dan Diporeia spp.) atau
cladoderan (Daphnia magna).
PENGUJIAN KUALITAS SEDIMEN
• Pendekatan yg digunakan US EPA dalam pengujian sedimen dapat dilihatpada Tabel 2, yang berupa:
-Perbandingan area rekomendasiPerbandingan area rekomendasi − Toksisitas whole sediment dan uji sediment-spiking Toksisitas whole sediment dan uji sediment spiking - Equilibrium partitioning − Struktur komunitas bentos
- Residu jaringan − Triad kualitas sedimen
-Toksisitas interstitial water
• Pendekatan numerik (untuk menentukan chemical-specific SQC), deskriptif
atau kombinasi numerik dan deskriptif.
• Untuk menentukan kualitas sedimen digunakan pendekatan kombinasi • Untuk menentukan kualitas sedimen digunakan pendekatan kombinasi. • Evaluasi: penggabungan data paparan, analisis kimia dan pengujian
komunitas bentos, yang akan menghasilkan tingkat polution-induced
KRITERIA KUALITAS SEDIMEN
DAN BIOAVAILABILITAS
• SQC merupakan konsentrasi numerik dari senyawa kimia tunggal yg digunakan
untuk memperkirakan efek biologi pada organisme bentos dan dapat juga
digunakan untuk pengelompokkan sedimen alami di danau, sungai, muara dan air laut pesisir pantai.
• Perhitungan SQC:
SQC = Kpx WQC
SQC : Sediment Quality Criteria (µg kontaminan/g sedimen, dalam berat kering) Kp : Koefisien partisi (L/g)
WQC : nilai kronis akhir yang diperoleh dari WQC Guidelines
• Pada sedimen berbasis karbon organik, SQCocdapat dihitung dengan rumus:
SQCoc= Kocx WQC
SQC S di b b i k b ik ( / ) SQCoc : Sedimen berbasis karbon organik (µg/goc)
Koc : Koefisien partisi karbon organik
• Karbon organik merupakan fase sorpsi utama untuk senyawa kimia organik nonion
yang tedapat di sedimen.
• Senyawa kimia dapat terakumulasi pada sedimen dan bersifat bioavailable thd
organisme yang berada di sedimen.
REMEDIASI SEDIMEN TERKONTAMINASI
• Dapat dilakukan dengan:
• Pemindahan, berupa pengerukan dan pembuangan → tempat pembuangan. • Stabilisasi, berupa injeksi grout, semen atau sealant untuk mengurangi air pd
sedimen.
• Penutupan berupa peletakan lapisan inert di atas sedimen terkontaminasi • Penutupan, berupa peletakan lapisan inert di atas sedimen terkontaminasi. • Pengelolaan in situ, berupa pengolahan kimia atau biologi.
• no action, biasanya dilakukan pada area dengan:
• Kontaminan tidak menimbulkan masalah dalam waktu dekat.
• Proses alami akan menutup sedimen terkontaminasi dalam waktu dekat. • Biodegradasi dapat mendetoksifikasi kontaminan.
• Remediasi terlalu mahal.
• Remediasi mengakibatkan lebih banyak masalah dibandingkan no action.
• Prosedur remediasi dipengaruhi oleh:
-Ekologi − Engineering
- Faktor kimia − Kesehatan masyarakat
-Faktor fisika − Pertimbangan politik
• Kontrol sumber dan pemantauan secara kontinu harus dilakukan untuk
METODOLOGI
•
Pedoman standar untuk pelaksanaan uji toksisitas sedimen dengan
invertebrata freshwater (ASTM 1995a: E 1706-95a)
•
Pedoman standar untuk pelaksanaan uji toksisitas sedimen statis
10-d dengan ampiphods muara dan laut (ASTM 1992: E 1367-92)
•
Pedoman standar untuk mendesain uji biologi pada sedimen (ASTM
1994d: 1525-94)
•
Pedoman standar untuk pelaksanaan uji toksisitas sedimen dengan
•
Pedoman standar untuk pelaksanaan uji toksisitas sedimen dengan
polychaetous annelids laut dan muara
•
Pedoman standar untuk pengambilan, penyimpanan, karakterisasi
dan manipulasi sedimen untuk uji toksikologi
PENGAMBILAN DAN PENYIMPANAN SEDIMEN
• Kontak langsung dengan sedimen harus dihindari → penggunaan APD. • Pengambilan sampel → replikasi.
• Pengambilan sampel dapat menyebabkan hilangnya integritas sedimen, perubahan
senyawa kimia atau perubahan ekuilibrium zat kimia.
• Benthic grab lebih baik digunakan daripada pengeruk.
• Paparan langsung terhadap sinar matahari harus dikurangi jika terdapat senyawa
fotolitik.
• Pengawetan: pada suhu 40C dan suasana gelap.
• Rentang waktu pengawetan: <2 minggu (ASTM) - <8 minggu (US EPA).
• Jika uji toksisitas whole sediment tidak dapat dilakukan pada periode tersebut, maka
perlu dilakukan uji toksisitas interstitial water segera setelah sampel diambil.
• Uji toksisitas interstitial water diulangi dengan melakukan uji toksisitas whole sediment
untuk mengevaluasi perubahan potensial toksisitas selama penyimpanan.
SEDIMEN KONTROL
•
Sedimen yang bersih dari
kontaminan.
REFERENCE SEDIMENT
•
Digunakan untuk menilai
kondisi sedimen tanpa adanya
senyawa yang diinginkan.
•
Kontaminan yang terdapat di
sedimen kontrol merupakan
polutan yang tersebar merata,
bukan berasal dari satu titik
atau sumber.
•
Sedimen kontrol digunakan
untuk:
y
y
g
g
•
Pengujian reference sediment
membutuhkan basis area
spesifik untuk mengevaluasi
toksisitas.
•
Jika karakteristik geokimia
sedimen uji melebihi batas
untuk:
• Menilai acceptibility pengujian • Memberi bukti terhadap pengujian
organisme
• Dasar untuk menginterpretasi data
yang diperoleh dari uji sedimen
j
toleransi organisme uji, maka
perlu melakukan evaluasi
terhadap sedimen kontrol dan
reference.
LABORATORY-SPIKED SEDIMENT
• Sedimen uji dapat dibuat dengan memanipulasi sifat dari sedimen kontrol
dan reference dengan menambahkan senyawa kimia atau campuran limbah.
• Menentukan: LC50, LOEC serta hubungan konsentrasi-respons dan sebab-akibat
akibat,.
• Waktu pencampuran: beberapa jam pada temperatur rendah. • Durasi kontak dapat mempengaruhi partitioning dan bioavailabilitas. • Umur spiked sediment maks 1 bulan.
• Penggunaan pelarut selain air, harus diuji terlebih dahulu dibandingkan
dengan kontrol negatif sedimen.
• Jika ada perbedaan, maka kontrol yg digunakan adalah kontrol pelarut. • Jika tidak ada perbedaan, maka kedua data dapat digunakan.
• Pelarut organik yang bagus adalah trietilen glikol (toksisitas rendah, tidak
mudah menguap dan dapat melarutkan senyawa organik).
• Pelarut lain: metanol, etanol atau aseton.
• Penambahan senyawa kimia dapat dilakukan dengan menggunakan rolling mills, feed mixer atau hand mixing.
KARAKTERISASI SEDIMEN
•
Karakterisasi sedimen digunakan untuk mengatur availabilitas
kontaminan di sedimen.
•
Pengukuran karakterisasi berupa:
-
pH - Acid volatile sulfides - Karbon organik - persen air-Karbon anorganik - grain size
•
Pada desain percobaan tertentu, analisis yang dilakukan
meliputi BOD, COD, DOC, CEC, redoks, TVS, total amonia,
meliputi BOD, COD, DOC, CEC, redoks, TVS, total amonia,
logam, organosilikon, senyawa organik sintetik, minyak dan
lemak, hidrokarbon petroleum dan analisis kimia interstitial
water.
•
Dilakukan juga analisis makrobentos.
UJI ELUTRIATE
Tujuan: untuk mengevaluasi efek potensial jangka pendek (jamj g p j g p (j atau hari) dari open-water disposal.
Cara: mengukur potensial yang dihasilkan oleh senyawa larut air pada sedimen terhadap water column selama proses pembuangan.
Sampel elutriate dibuat dengan pengocokan kuat 1 bagian sedimen dengan 4 bagian air selam 15-30 menit. Campuran kemudian didiamkan, fase cair disentrifugasi dan disaring. Hasil dari uji elutriate berupa letalitas akut bahan buangan. Beberapa sampel elutriate lebih toksik dibandingkan dengan
UJI INTERSTITIAL WATER
SEDIMENT
Tujuan: untuk mengevaluasi efek potensial in situ sedimen
terkontaminasi pada organisme akuatik.
Konsentrasi kontaminan pada interstitial water berhubungan
dengan toksisitas dan bioakumulasi.
Interstitial water dapat diisolasi dengan sentrifugasi, squeezing,
suction dan dialisis.
Sentrifugasi atau squeezing digunakan jika volume air yang
dibutuhkan banyak.
Jika sedimen bersifat anoxic, pada saat pemrosesan sampel
perlu mengurangi oksidasi (kontak sedimen dengan udara)
perlu mengurangi oksidasi (kontak sedimen dengan udara).
Interstitial water harus diuji secepatnya (penyimpanan akan
mengubah kandungan kimia).
Setelah sampel diisolasi,dilakukan pengujian sesuai dengan
prosedur pengujian toksisitas efluen (Chapter 2 dan 3).
PROSEDUR PERCOBAAN UJI
TOKSISITAS
WHOLE-SEDIMENT
1. Desain Percobaan
•
Tujuan percobaan
Menentukan LC50 : kontrol negatif, kontrol solven,
konsentrasi sedimen+bahan kimia
Studi lapangan : identifikasi tempat toksik untuk investigasi
lanjut 1 sampel per titik sampling (cakupan tempat
maksimum)
Survey kuantitatif sedimen : menentukan secara statistik
perbedaan antara efek dengan kontrol, referensi, dan uji
sedimen di beberapa tempat
•
Variabel : jumlah dan jenis kontrol sedimen referensi jumlah
•
Variabel : jumlah dan jenis kontrol, sedimen referensi, jumlah
perlakuan dan replikat, karakteristik dan kualitas air (lapisan
diatas sedimen)
•
Memisahkan subsampel : menghitung variasi didalam sampel
dan membandingkan prosedur pengujian (sensitivitas hewan
uji)
2. Chamber test (reaktor)
•
Tidak ada aliran air dari satu chamber ke chamber yang lain
•
Reaktor dibuat dari beberapa material (desain percobaan dan
kontaminan)
•
Tidak terjadi kontak, leaching dan pelarutan dengan material
reaktor (mempengaruhi organisme uji)
•
Meminimasi sorpsi, pelarutan dan leaching bahan kimia dari air
: kaca, stainless steel 316, nylon, teflon, dan polycarbonate /
polyethylene
•
Interaksi sedimen dan lapisan air dalam reaktor :
mempengaruhi keberadaan kontaminan
•
Rasio sedimen : lapisan air = merubah bioavailabilitas dan
efek racun
(St
t l) V l
di
l
k
•
(Stemmer et al) Volume sedimen : luas permukaan =
mempengaruhi toksisitas selenium dalam sampel sedimen pada
Dapnia magna
•
Luas permukaan konstan dengan rasio sedimen : air (1:4) =
mempengaruhi keberadaan kontaminan dan konsentrasi air
•
Uji dilakukan pada beberapa kondisi air terhadap sedimen
(kesadahan air dan pH memepengaruhi toksisitas sedimen)
3. Organisme Uji
•
Didasarkan pengaruh utamanya dalam ekologi, keberhasilan uji, dan
interpretasi hasil uji
•
Hewan uji yang banyak digunakan dalam pengujian toksisitas
Whole-sediment
•
Dipilih berdasarkan sensitivitas, cara makan, relevansi dengan
ekologi, distribusi geografis, taksonomi (hewan asli, jumlah
tersedia, toleransi dengan karakteristik geokimia sedimen
(ukuran / berat)
•
Jenis makanan dan kontak langsung dengan sedimen :
mempengaruhi dosis kontaminan dan potensi akumulasi
kontaminan (adsorpsi ke seluruh tubuh)
•
Hyalella azteca (Amphipod)
Hyalella azteca (Amphipod)
Uji toksisitas sedimen air tawar
Umur 7-14 hari : dapat berkembangbiak (dewasa)
Hasil akhir uji : ketahanan, perilaku, pertumbuhan dan
pematangan alat reproduksi
Isolasi kuantitatif Amphipod muda di sedimen sulit diamati (ukuran
sangat kecil < 1 mm)
Hewan uji dewasa : dari lapangan dan aklimatisasi di laboratorium
sebelum dilakukan uji
Durasi pengujian 10 hari (amphipod air tawar, estuari dan laut)
Waktu paparan pendek : pengamatan efek kontaminan pada
pertumbuhan dan reproduksi
Metode kembangkan dengan waktu paparan sedimen lebih lama
(20-60 hari) menggunakan : A.abdita, L.plumulous dan H. Azteca
• Chironomous tentans (Midges)
Larva instar pertama C. tentas 6-27 kali lebih sensitiv daripada larva instar ke-4 paparan akut tembaga
Larva instar pertama C. Riparius 127 kali lebih sensitiv daripada larva instar ke-2 paparan akut kadmium
Uji kronik : instar hewan pertama, midges / daphnids untuk senyawa organik dan inorganik
Uji sedimen : larva instar ke-2 sampai instar ke-3 (umur 10-14 hari),
Uji sedimen : larva instar ke 2 sampai instar ke 3 (umur 10 14 hari), dilanjutkan sampai 17 hari (pertumbuhan instar ke-4 ) : mengukur efek pada larva yang hidup dan mengalami pertumbuhan
Metode yang sedang dikembangkan dan dipakai : paparan jangka panjang (20-42 hari ) pada sedimen menggunakan C.tentans
• Chironomus riparius
Umur larva hewan uji 1-3 hari, pupa dan dewasa
(Ingersoll & Nelson) : percobaan menggunakan C.riparius selama 21 hari ada pertumbuhan jamur dan bakteri pada permukaan sedimenp j p p
Pemberian makan dikurangi : mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur pada sedimen (larva yang hidup tidak terganggu)
Larva dewasa pertumbuhannya terhambat di 28 hari
Uji menggunakan C. Riparius dibatasi 14 hari dengan lapisan air menggunakan sistem renewal water
Pada hari ke-14 suhu 20 oC, larva instar pertama sampai larva instar ke-4 larva dapat bertahan hidup dan berkembang
•
Mayflies dan Cladocerans
Dilakukan selama 10 hari
Uji dengan Mayflies : kemampuan bertahan hidup, pertumbuhan
end point tokisisitas
Uji dengan Cladocerans : survival, pertumbuhan dan reproduksi
Cladocerans : lebih banyak kontak di permukaan sedimen dan terpapar
baik air-kontaminan yang terlarut di lapisan air serta ikatan partikel-
y
g
p
p
kontaminan pada permukaan sedimen
Cladocerans lebih sensitif diantara jenis organisme lain
•
Oligochaetes
Relatif lebih toleran terhadap beberapa jenis kontaminan
Memiliki siklus hidup komplek
Untuk uji toksisitas akut
(Wiederholm et al, 1987), Paparan selama 500 hari menggunakan
(
,
),
p
gg
Oligochaetes : mengukur pertumbuhan dan reproduksi
(Reynoldson, 1991 & ASTM, 1995), Uji jangka pendek selama 28 hari
menggunakan Tubifex tubifex : pengamatan efek pada pertumbuhan
dan reproduksi
(Phipps et al, 1993 & US.EPA, 1994), Bioakumulasi kontaminan pada
sedimen dengan periode paparan selama 28hari
Durasi ini lebih efektif untuk uji toksisitas lethal dan sublethal
menggunakan Lumbriculus variegatus
•
Polychaetes
Uji toksisitas sublethal di sedimen : larva, juvenile dan dewasa
Pengamatan efek : survival atau pertumbuhan
Waktu paparan 12 – 85 hari
Evaluasi efek sedimen laut dan estuari pada polychaetes
Uji l h l 4 h i
Uji lethal : 4 hari
Uji sub-lethal : 28 hari
4. Kondisi Paparan
Air pembiakan organisme dan perlakuan : sesuai dengan
organisme uji dan kualitasnya seragam (sama)
Air tepat dan sesuai menjamin keberhasilan organisme :
bertahan hidup, tumbuh dan perilaku normal
L
i
i
l
i
b ik
tid k t k
t
i
i (k
t l)
Lapisan air alami sebaiknya tidak terkontaminasi (kontrol)
Kualitasnya tidak berubah-ubah seperti yang dispesifikasikan
oleh ASTM (1998) dan US EPA (1985, 1991)
Desain penelitian diperlukan air dari tempat yang sama
dengan sedimen
5. Homogenisasi Sedimen
Sedimen umumnya tercampur didalam wadah penampung
Subsampel whole-sediment ditambahkan ke masing-masing
reaktor
Kedalaman sedimen dalam reaktor tergantung desain
penelitian dan reaktor uji
penelitian dan reaktor uji
Lapisan air dituang perlahan ke dalam sisi-sisi reaktor :
meminimasi resuspensi sedimen
6. Uji Statik dan Renewal Water
•
Sistem operasi dan kondisi fisik (aerasi & suhu)
dicek setiap hari dan disesuaikan
•
pH,
alkalinitas,
kesadahan,
oksigen
terlarut,
konduktifitas dan organik karbon terlarut diukur
konduktifitas dan organik karbon terlarut diukur
pada awal dan akhir pengujian (1 x seminggu)
•
Uji Statik
Lapisan air sampel tanpa pergantian dengan lapisan air baru, diaerasi
Kualitas air dapat berubah selama waktu paparan (4 minggu)
Konsentrasi produk metabolik (ammonia) tinggi
Toksik bagi organisme dan mempengaruhi toksisitas sedimen
Kesadahan mempengaruhi senyawa anorganik
Kesadahan mempengaruhi senyawa anorganik
•
Uji Renewal Water
Aliran flow-through (kontinyu)
Ada penambahan volume air per hari
Pendistribusian volume lapisan air tiap reaktor harus merata
Konsentrasi kontaminan di lapisan air berkurang
7. Pelaksanaan Uji
•
Aklimatisasi hewan uji terhadap lapisan air, suhu, pencahayaan
dan photoperiod (ASTM, 1995)
•
Reaktor diperiksa setiap hari
•
Pengamatan perilaku hewan uji (cara berkembangbiak di
g
p
j (
g
sedimen)
•
Paparan jangka pendek (10 hari) : organisme uji tidak diberi
pakan
•
Pengamatan efek sub-lethal : perkembangan, pertumbuhan,
reproduksi, perilaku dari organisme uji
•
Kematian organisme uji : adanya pertumbuhan jamur / bakteri
di permukaan sedimen
•
Data feeding rate dan keadaan permukaan sedimen dicek
•
Data feeding rate dan keadaan permukaan sedimen dicek
perhari
•
Penambahan makanan mempengaruhi keberadaan kontaminan
di sedimen
•
Akhir paparan : organisme uji diambil dari reaktor dengan
8. Quality Control
•
Sampel kontrol sedimen dan lapisan air
•
Evaluasi : kontrol organisme hidup, toksikan referensi,
persentase lemak organisme
O
i
ji d
k
t l l k
d
•
Organisme uji pada kontrol, perlakuan dan recovery
dapat dievaluasi setelah 1 jam
•
Referensi uji toksisitas : mengukur kemungkinan
perubahan kondisi spesies uji
•
Referensi toksikan uji : perbandingan interlaboratory
sensitivitas organisme uji
INTERPRETASI DAN
KEAKURATAN
HASIL PENGUKURAN
1. Analisis Data
•
Data kimia dan biologi dibandingkan kontrol atau referensi :
mengetahui efek racun, menghitung LC50 dan NOEC
•
Berdasarkan pengukuran rata-rata konsentrasi materi yang diuji
•
Perbandingan statistik dan interpretasi hasil harus sesuai
dengan desain percobaan
•
Perhitungan LC50 atau EC50 : metode probit, binomial, atau
moving-average
•
Replikat sampel sedimen independen : efek dibandingkan
•
Replikat sampel sedimen independen : efek dibandingkan
dengan kontrol/referensi menggunakan t-test, analisis ANOVA
atau analisis Regresi
•
ANOVA : mengetahui perbedaan antar perlakuan
Ho = tidak ada perbedaan yang signifikan diantara perlakuan dan kontrol (referensi) sampel sedimen
F-test = Ho diterima, kesimpulan : efek yang diamati pada desain percobaan tidak signifikan