• Tidak ada hasil yang ditemukan

EVALUASI KETERSEDIAAN HAYATI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EVALUASI KETERSEDIAAN HAYATI"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

12/1 1/2012 @D h Pwt

EVALUASI

KETERSEDIAAN

h adhang_WK J

KETERSEDIAAN

HAYATI

Jurusan Farm

Metode uji ketersediaan hayati

Perhitungan parameter ketersediaan hayati

1

asi FKIK

Uns

(2)

P

ENDAHULUAN

| Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM)

berkewajiban menilai semua produk obat sebelum

di k b ik i i d

12/11/2

0

dipasarkan, memberikan izin pemasaran, dan

melakukan pengawasan terhadap produk obat tersebut setelah dipasarkan.

012

@Dhad

h

Unsoed

| Produk obat yang mengandung zat aktif berupa zat

kimia baru (new chemical entity = NCE) dibutuhkan penilaian mengenai efikasi keamanan dan mutu

h

ang_WK Jur

u

Pwt

penilaian mengenai efikasi, keamanan dan mutu secara lengkap. NCE yang dipatenkan oleh pabrik penemunya disebut obat inovator.

u

san Farmasi

| Produk obat yang merupakan produk “copy” hanya

dibutuhkan standar mutu antara lain berupa

bioekivalensi dengan produk obat innovator sebagai

FKIK

bioekivalensi dengan produk obat innovator sebagai produk pembanding (reference product) yang

merupakan baku mutu.

(3)

B

EBERAPA

D

EFINISI

| Bioavailabilitas (ketersediaan hayati)

12/11/2

0

( y )

adalah persentase dan kecepatan zat aktif dalam suatu produk obat yang mencapai/tersedia dalam sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh/aktif

012

@Dhad

h

Unsoed

sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh/aktif

setelah pemberian produk obat tersebut, diukur dari kadarnya dalam darah terhadap waktu atau

h

ang_WK Jur

u

Pwt

dari ekskresinya dalam urin

| Bioavailabilitas absolut: bila dibandingkan

dengan sediaan intravena yang

u

san Farmasi

dengan sediaan intravena yang bioavailabilitasnya 100 %

| Bioavailabilitas relatif: Bila dibandingkan

FKIK

(4)

B

EBERAPA

D

EFINISI

| Ekivalensi farmaseutik: dua produk obat

12/11/2

0

p

mempunyai ekivalensi farmaseutik jika

keduanya mengandung zat aktif yang sama dalam jumlah yang sama dan bentuk sediaan

012

@Dhad

h

Unsoed

dalam jumlah yang sama dan bentuk sediaan yang sama.

| Alternatif farmaseutik: dua produk obat

h

ang_WK Jur

u

Pwt

merupakan alternatif farmaseutik jika keduanya mengandung zat aktif yang sama tetapi berbeda dalam bentuk kimia (garam ester dsb) atau

u

san Farmasi

dalam bentuk kimia (garam, ester, dsb) atau bentuk sediaan atau kekuatan.

FKIK

(5)

B

EBERAPA

D

EFINISI

| Bioekivalensi: Dua produk obat disebut

12/11/2

0

p

bioekivalen jika keduanya mempunyai ekivalensi farmaseutik atau merupakan alternatif

farmaseutik dan pada pemberian dengan dosis

012

@Dhad

h

Unsoed

farmaseutik dan pada pemberian dengan dosis molar yang sama akan menghasilkan

bioavailabilitas yang sebanding sehingga efeknya f

h

ang_WK Jur

u

Pwt

akan sama, dalam hal efikasi maupun keamanan.

| Jika bioavailabilitas tidak memenuhi kriteria

u

san Farmasi

| Jika bioavailabilitas tidak memenuhi kriteria

bioekivalen maka kedua produk obat tersebut disebut bioinekivalen

FKIK

(6)

B

EBERAPA

D

EFINISI

| Ekivalensi terapeutik: Dua produk obat

12/11/2

0

p p

mempunyai ekivalensi terapeutik jika keduanya mempunyai ekivalensi farmaseutik atau

merupakan alternatif farmaseutik dan pada

012

@Dhad

h

Unsoed

merupakan alternatif farmaseutik dan pada

pemberian dengan dosis molar yang sama akan menghasilkan efikasi klinik dan keamanan yang

h

ang_WK Jur

u

Pwt

sebanding.

| Dengan demikian, ekivalensi/inekivalensi

terapeutik seharusnya ditunjukkan dengan uji

u

san Farmasi

terapeutik seharusnya ditunjukkan dengan uji klinik.

FKIK

(7)

E

KIVALENSI

T

ERAPETIK

U t k d k b t b k j i t ik ji kli ik

| Untuk produk obat yang bekerja sistemik, uji klinik

mempunyai kendala berikut:

y pada penyakit ringan tidak terlihat, pada penyakit berat

12/11/2

0

tidak etis;

y endpoint yang diukur seringkali kurang akurat sehingga

variabilitasnya besar sekali, dengan akibat dibutuhkan

012

@Dhad

h

Unsoed

y , g

sampel yang besar;

y sebagai uji klinik untuk menunjukkan ekivalensi

dibutuhkan sampel yang besar sekali.

h

ang_WK Jur

u

Pwt

dibutuhkan sampel yang besar sekali.

| Sebagai alternatif dilakukan uji bioekivalensi yang

endpointnya sangat akurat (yakni kadar obat dalam

plasma) sehingga variabilitasnya rendah Æ sampel yang

u

san Farmasi

plasma) sehingga variabilitasnya rendah Æ sampel yang dibutuhkan jauh lebih kecil.

| Jika terdapat perbedaan yang bermakna secara klinik

FKIK

dalam bioavailabilitasnya, maka kedua produk obat tersebut dinyatakan inekivalen secara terapeutik (inekivalensi terapeutik).

(8)

P

RODUK

O

BAT

P

EMBANDING

(R

EFERENCE

P

RODUCT

)

P

RODUCT

)

| Produk obat inovator yang telah diberi izin pemasaran

di Indonesia berdasarkan penilaian dossier lengkap

12/11/2

0

p g p

yang membuktikan efikasi, keamanan dan mutu.

| Hanya jika produk obat inovator tidak dipasarkan di

Indonesia atau tidak lagi dikenali yang mana karena

012

@Dhad

h

Unsoed

Indonesia atau tidak lagi dikenali yang mana karena sudah terlalu lama beredar di pasar, maka dapat

digunakan produk obat inovator dari primary market (Negara dimana produsennya menganggap bahwa

h

ang_WK Jur

u

Pwt

(Negara dimana produsennya menganggap bahwa efikasi, keamanan dan kualitas produknya

terdokumentasi paling baik) atau produk yang k k t l d t l h dib i i i

u

san Farmasi

merupakan market leader yang telah diberi izin pemasaran di Indonesia dan telah lolos penilaian efikasi, keamanan dan mutu.

FKIK

| Produk obat pembanding yang akan digunakan harus

disetujui oleh Badan POM.

(9)

P

RODUK

O

BAT

“C

OPY

| Produk obat yang mempunyai ekivalensi

12/11/2

0

y g p y

farmasetik atau merupakan alternative farmaseutik dengan produk obat

inovator/pembandingnya dapat dipasarkan

012

@Dhad

h

Unsoed

inovator/pembandingnya, dapat dipasarkan

dengan nama generik atau dengan nama dagang.

h ang_WK Jur u Pwt u san Farmasi FKIK 9

(10)

KRITERIA UNTUK UJI

EKIVALENSI Æ

YG PERLU UJI IN VIVO

|

Produk obat yang memerlukan uji

12/11/2

0

|

Produk obat yang memerlukan uji

ekivalensi in vivo

y Uji ekivalensi in vivo dapat berupa studi

012

@Dhad

h

Unsoed

bioekivalensi farmakokinetik, studi

farmakodinamik komparatif, atau uji klinik komparatif h ang_WK Jur u Pwt komparatif.

y Dokumentasi ekivalensi in vivo diperlukan jika ada risiko bahwa perbedaan

u

san Farmasi

bioavailabilitas dapat menyebabkan inekivalensi terapi.

FKIK

(11)

KRITERIA UNTUK UJI

| Produk obat oral lepas cepat yang bekerja

12/11/2

0

EKIVALENSI Æ

YG PERLU UJI IN VIVO

p p y g j

sistemik, jika memenuhi satu atau lebih kriteria berikut ini: Ob t b t t k k di i i 012 @Dhad h Unsoed

a. Obat-obat untuk kondisi yang serius yang

memerlukan respons terapi yang pasti (critical use drugs), misal : antituberkulosis, antiretroviral,

antimalaria antibakteri antihipertensi

h

ang_WK Jur

u

Pwt

antimalaria, antibakteri, antihipertensi,

antiangina, obat gagal jantung, antiepilepsi, antiasma.

B t k /i d k t i it k

u

san Farmasi

b. Batas keamanan/indeks terapi yang sempit; kurva

dosis-respons yang curam, misal : digoksin,

antiaritmia, antikoagulan, obat-obat sitostatik, liti f it i ikl i lf il t fili

FKIK

(12)

KRITERIA UNTUK UJI

c. Terbukti ada masalah bioavailabilitas atau

12/11/2

0

EKIVALENSI Æ

YG PERLU UJI IN VIVO

bioinekivalensi dengan obat yang bersangkutan atau obat-obat dengan struktur kimia atau

formulasi yang mirip (tidak berhubungan dengan

012

@Dhad

h

Unsoed

y g p ( g g

masalah disolusi), misal :

|absorpsi bervariasi atau tidak lengkap;

li i i i t ik ti i

h

ang_WK Jur

u

Pwt

|eliminasi presistemik yang tinggi; |farmakokinetik nonlinear;

|sifat-sifat fisiokimia yang tidak

u

san Farmasi

y g

menguntungkan (misal: kelarutan rendah, permeabilitas rendah, tidak stabil, dsb.).

d Eksipien dan proses pembuatannya diketahui

FKIK

d. Eksipien dan proses pembuatannya diketahui

(13)

KRITERIA UNTUK UJI

| Produk obat non-oral dan non-parenteral yang

12/11/2

0

EKIVALENSI Æ

YG PERLU UJI IN VIVO

p y g

didesain untuk bekerja sistemik, misal: sediaan transdermal, supositoria, permen karet nikotin, gel testosteron dan kontraseptif bawah kulit

012

@Dhad

h

Unsoed

gel testosteron dan kontraseptif bawah kulit.

| Produk obat lepas lambat atau termodifikasi

yang bekerja sistemik.

h

ang_WK Jur

u

Pwt

| Produk kombinasi tetap untuk bekerja sistemik,

yang paling sedikit salah satu zat aktifnya memerlukan studi in vivo

u

san Farmasi

memerlukan studi in vivo. FKIK

(14)

KRITERIA UNTUK UJI

| Produk obat bukan larutan untuk penggunaan

12/11/2

0

EKIVALENSI Æ

YG PERLU UJI IN VIVO

nonsistemik (oral, nasal, okular, dermal, rektal, vaginal, dsb.) dan dimaksudkan untuk bekerja lokal (tidak untuk diabsorpsi sistemik). Untuk produk demikian,

bi ki l i h di j kk d di kli ik

012

@Dhad

h

Unsoed

bioekivalensi harus ditunjukkan dengan studi klinik atau farmakodinamik, dermatofarmakokinetik komparatif

dan/atau studi in vitro.

h

ang_WK Jur

u

Pwt

| Pada kasus-kasus tertentu, pengukuran kadar obat dalam darah masih diperlukan dengan alasan keamanan untuk melihat adanya absorpsi yang tidak diinginkan.

u

san Farmasi

| Pengukuran kadar obat dalam plasma versus waktu biasanya cukup untuk membuktikan efikasi dan

keamanan. Jika tidak, studi klinik atau farmakodinamik d t di k t k b ktik ki l i

FKIK

(15)

KRITERIA UNTUK UJI

| Produk obat yang cukup dilakukan uji

ekivalensi in vitro (uji disolusi terbanding)

12/11/2

0

EKIVALENSI Æ

CUKUP UJI IN VITRO

ekivalensi in vitro (uji disolusi terbanding)

y Produk obat yang tidak memerlukan studi in vivo (tidak

termasuk yang dijelaskan di atas).

012

@Dhad

h

Unsoed

y Produk obat “copy” yang hanya berbeda kekuatan– uji

disolusi terbanding dapat diterima untuk kekuatan yang lebih rendah berdasarkan perbandingan profil

h

ang_WK Jur

u

Pwt

disolusi.

a. Tablet lepas cepat

| Produk obat “copy” dengan kekuatan berbeda yang

u

san Farmasi

| Produk obat copy dengan kekuatan berbeda, yang dibuat oleh pabrik obat yang sama di tempat produksi yang sama, jika :

y semua kekuatan mempunyai proporsi zat aktif dan inaktif yang

FKIK

p y p p y g

persis sama atau untuk zat aktif yang sangat poten ( sampai 10 mg per satuan dosis), zat inaktifnya sama banyak untuk semua kekuatan;

(16)

KRITERIA UNTUK UJI

a. Tablet lepas cepat (lanjutan)

12/11/2

0

EKIVALENSI Æ

CUKUP UJI IN VITRO

p p ( j )

y studi ekivalensi telah dilakukan sedikitnya pada

salah satu kekuatan (biasanya kekuatan yang tertinggi kecuali untuk alasan keamanan dipilih

012

@Dhad

h

Unsoed

tertinggi, kecuali untuk alasan keamanan dipilih kekuatan yang lebih rendah);

y profil disolusinya mirip antar kekuatan, f2 > 50.

K l b i i b i b i l l b

h

ang_WK Jur

u

Pwt

b. Kapsul berisi butir-butir lepas lambat

y Jika kekuatannya berbeda hanya dalam jumlah butir

yang mengandung zat aktif, maka perbandingan

u

san Farmasi

profil disolusi (f2 > 50) dengan satu kondisi uji yang direkomendasi sudah cukup.

FKIK

(17)

KRITERIA UNTUK UJI

c. Tablet lepas lambat

12/11/2

0

EKIVALENSI Æ

CUKUP UJI IN VITRO

p

y Jika produk uji dalam bentuk sediaan yang sama

tetapi berbeda kekuatan, dan mempunyai proporsi zat aktif dan inaktif yang persis sama atau untuk zat

012

@Dhad

h

Unsoed

zat aktif dan inaktif yang persis sama atau untuk zat aktif yang sangat poten (sampai 10 mg per satuan dosis) zat inaktifnya sama banyak, dan mempunyai mekanisme pelepasan obat yang sama, kekuatan

h

ang_WK Jur

u

Pwt

mekanisme pelepasan obat yang sama, kekuatan yang lebih rendah tidak memerlukan studi in vivo jika menunjukkan profil disolusi yang mirip, f2 > 50, dalam 3 pH yang berbeda (antara pH 1.2 dan 7.5)

u

san Farmasi

dalam 3 pH yang berbeda (antara pH 1.2 dan 7.5) dengan metode uji yang direkomendasi.

FKIK

(18)

KRITERIA UNTUK UJI

| Berdasarkan sistem klasifikasi biofarmaseutik

12/11/2

0

EKIVALENSI Æ

CUKUP UJI IN VITRO

(Biopharmaceutic Classification System = BCS) dari zat aktif* serta karakteristik disolusi** dan profil disolusi*** dari produk obat.

012

@Dhad

h

Unsoed

profil disolusi dari produk obat.

| Berlaku untuk produk obat oral lepas cepat, tetapi

tidak berlaku untuk produk obat oral lepas cepat

h

ang_WK Jur

u

Pwt

seperti yang disebutkan di atas.

a. zat aktif memiliki kelarutan dalam air yang tinggi

dan permeabilitas dalam usus yang tinggi (BCS kelas

u

san Farmasi

p y g gg (

1), serta :

|produk obat memiliki disolusi yang sangat cepat,

atau ;

FKIK

atau ;

|produk obat memiliki disolusi yang cepat dan profil

disolusinya mirip dengan produk pembanding.

(19)

KRITERIA UNTUK UJI

b. Zat aktif memiliki kelarutan dalam air yang

12/11/2

0

EKIVALENSI Æ

CUKUP UJI IN VITRO

y g tinggi tetapi permeabilitas dalam usus yang rendah (BCS kelas 3), serta :

d k b t iliki di l i t

012

@Dhad

h

Unsoed

y produk obat memiliki disolusi yang sangat cepat, dan;

y produk obat tidak mengandung zat inaktif

h

ang_WK Jur

u

Pwt

produk obat tidak mengandung zat inaktif yang diketahui mengubah motilitas dan/atau permeabilitas saluran cerna.

u

san Farmasi

FKIK

(20)

KRITERIA UNTUK UJI

c. Zat aktif memiliki permeabilitas dalam usus

12/11/2

0

EKIVALENSI Æ

CUKUP UJI IN VITRO

p

yang tinggi tetapi kelarutan dalam air yang rendah (kelarutan dalam air tinggi hanya pada pH 6 8; BCS kelas 2 asam lemah) serta :

012

@Dhad

h

Unsoed

pH 6.8; BCS kelas 2 asam lemah), serta :

y produk obat memiliki disolusi yang cepat pada pH

6.8, dan ;

h

ang_WK Jur

u

Pwt

y produk obat memiliki profil disolusi yang mirip

dengan produk pembanding (juga berlaku jika disolusi < 10% pada salah satu pH).

u

san Farmasi

FKIK

(21)

P

RODUK OBAT YANG TIDAK

MEMERLUKAN UJI EKIVALENSI MEMERLUKAN UJI EKIVALENSI

| Produk obat “copy” untuk penggunaan intravena

sebagai larutan dalam air yang mengandung zat

12/11/2

0

sebagai larutan dalam air yang mengandung zat aktif yang sama dalam kadar molar yang sama dengan produk pembanding.

012

@Dhad

h

Unsoed

| Produk obat ”copy” untuk penggunaan parenteral

yang lain (misal : intramuskular, subkutan) sebagai larutan dalam air dan mengandung zat aktif yang

h

ang_WK Jur

u

Pwt

g g y g

sama dalam kadar molar yang sama dan eksipien yang sama atau mirip (similar) dalam kadar yang sebanding seperti dalam produk pembanding

u

san Farmasi

sebanding seperti dalam produk pembanding. Eksipien tertentu (misal : bufer, pengawet,

antioksidan) boleh berbeda asalkan perubahan

FKIK

eksipien ini diperkirakan tidak mempengaruhi keamanan dan/atau efikasi produk obat tersebut.

(22)

P

RODUK OBAT YANG TIDAK

| Produk obat “copy” berupa larutan untuk

12/11/2

0

MEMERLUKAN UJI EKIVALENSI

py p

penggunaan oral (termasuk sirup, eliksir, tingtur atau bentuk larutan lain tetapi bukan suspensi), yang mengandung zat aktif dalam kadar molar

012

@Dhad

h

Unsoed

yang mengandung zat aktif dalam kadar molar yang sama dengan produk pembanding, dan hanya mengandung eksipien yang diketahui

f

h

ang_WK Jur

u

Pwt

tidak mempunyai efek terhadap transit atau permeabilitas dalam saluran cerna dan dengan demikian terhadap absorpsi atau stabilitas zat

u

san Farmasi

p p

aktif dalam saluran cerna.

| Produk obat “copy” berupa bubuk untuk

dil tk d l t hi k it i

FKIK

dilarutkan dan larutannya memenuhi kriteria tersebut di atas.

(23)

P

RODUK OBAT YANG TIDAK

| Produk obat “copy” berupa gas.

12/11/2

0

MEMERLUKAN UJI EKIVALENSI

py p g

| Produk obat “copy” berupa sediaan obat mata

atau telinga sebagai larutan dalam air dan

d t ( t) ktif d l

012

@Dhad

h

Unsoed

mengandung zat (-zat) aktif yang sama dalam kadar molar yang sama dan eksipien yang

praktis sama dalam kadar yang sebanding.

h

ang_WK Jur

u

Pwt

Eksipien tertentu (misal: pengawet, buffer, zat untuk menyesuaikan tonisitas atau zat

pengental) boleh berbeda asalkan penggunaaan

u

san Farmasi

pengental) boleh berbeda asalkan penggunaaan eksipien ini diperkirakan tidak mempengaruhi keamanan dan/atau efikasi produk obat tersebut.

FKIK

(24)

P

RODUK OBAT YANG TIDAK

MEMERLUKAN UJI EKIVALENSI

| Produk obat “copy” berupa sediaan obat topikal

sebagai larutan dalam air dan mengandung zat

(-12/11/2

0

MEMERLUKAN UJI EKIVALENSI

g g g (

zat) aktif yang sama dalam kadar molar yang sama & eksipien yang praktis sama dalam kadar yg

sebanding 012 @Dhad h Unsoed sebanding.

| Produk obat “copy” berupa larutan untuk aerosol

atau produk inhalasi nebulizer atau semprot

h

ang_WK Jur

u

Pwt

hidung, yg digunakan dg atau tanpa alat yg praktis sama, sebagai larutan dalam air & mengandung

zat(-zat) aktif yg sama dalam kadar yg sama &

u

san Farmasi

zat( zat) aktif yg sama dalam kadar yg sama &

eksipien yg praktis sama dalam kadar yg sebanding. Produk obat tersebut boleh memasukkan eksipien

l i lk di ki k tid k

FKIK

lain asalkan penggunaannya diperkirakan tidak akan mempengaruhi keamanan dan/atau efikasi produk obat tersebut

(25)

DESAIN DAN PELAKSANAAN

BIOEKIVALENSI

| Studi bioekivalensi (BE) adalah studi

12/11/2

0

( )

bioavailabilitas (BA) komparatif yang dirancang untuk menunjukkan bioekivalensi antara produk uji (suatu produk obat ”copy”) dengan produk

012

@Dhad

h

Unsoed

uji (suatu produk obat copy ) dengan produk obat inovator/pembandingnya. Caranya dengan membandingkan profil kadar obat dalam darah

h

ang_WK Jur

u

Pwt

atau urin antara produk-produk obat yang

dibandingkan pada subyek manusia. Karena itu desain dan pelaksanaan studi BE harus

u

san Farmasi

p

mengikuti Pedoman Cara Uji Klinik yang Baik (CUKB), termasuk harus lolos Kaji Etik.

FKIK

(26)

DESAIN DAN PELAKSANAAN

BIOEKIVALENSI

| Kaji Etik

Oleh karena studi BA/BE dilakukan pada subyek

12/11/2

0

BIOEKIVALENSI

Oleh karena studi BA/BE dilakukan pada subyek manusia (suatu uji klinik) maka protokol studi

harus lolos kaji etik terlebih dahulu sebelum studi

d t di l i 012 @Dhad h Unsoed dapat dimulai. | Desain

Studi biasanya dilakukan pada subyek yang sama

h

ang_WK Jur

u

Pwt

Studi biasanya dilakukan pada subyek yang sama (dengan desain menyilang) untuk menghilangkan variasi biologik antarsubyek (karena setiap subyek

j di k t l di i) h l i i t

u

san Farmasi

menjadi kontrolnya sendiri), hal ini sangat

memperkecil jumlah subyek yang dibutuhkan. Jadi untuk membandingkan 2 produk obat,

FKIK

g

dilakukan studi menyilang 2-way (2 periode untuk pemberian 2 produk obat pada setiap subyek).

(27)

DESAIN DAN PELAKSANAAN

BIOEKIVALENSI Æ DESAIN

| Pemberian produk obat yang pertama harus dilakukan

secara acak agar efek urutan (order effect) maupun efek

12/11/2

0

BIOEKIVALENSI Æ DESAIN

g ( ) p

waktu (period effect), bila ada, dibuat seimbang.

| Kedua perlakuan dipisahkan oleh periode washout yang

cukup untuk eliminasi produk obat yang pertama

012

@Dhad

h

Unsoed

cukup untuk eliminasi produk obat yang pertama

diberikan (biasanya lebih dari 5 x waktu paruh terminal dari obat, atau lebih lama jika mempunyai metabolit

aktif dengan waktu paruh yang lebih panjang Jika obat

h

ang_WK Jur

u

Pwt

aktif dengan waktu paruh yang lebih panjang. Jika obat mempunyai kecepatan eliminasi yang sangat bervariasi antarsubyek, periode washout yang lebih lama

di l k t k hit k k t

u

san Farmasi

diperlukan untuk memperhitungkan kecepatan

eliminasi yang lebih rendah pada beberapa subyek. Karena itu, untuk obat dengan waktu paruh eliminasi

j ( 24 j ) d t di ti b k

FKIK

yang panjang (> 24 jam), dapat dipertimbangkan

penggunaan desain 2 kelompok paralel.

(28)

DESAIN DAN PELAKSANAAN

| Pada umumnya, studi dosis tunggal sudah

12/11/2

0

BIOEKIVALENSI Æ DESAIN

y , gg

cukup, tetapi studi dalam keadaan tunak (steady-state) ki di l k t k 012 @Dhad h Unsoed

y mungkin diperlukan untuk :

|obat dengan kinetik yang non-linear

(eliminasinya bergantung pada dosis atau

h

ang_WK Jur

u

Pwt

(eliminasinya bergantung pada dosis atau mengalami kejenuhan pada dosis terapi), misal : difenilhidantoin, fluoksetin,

paroksetin;

u

san Farmasi

paroksetin;

|obat dengan kinetik yang bergantung pada

waktu pemberian obat (kronofarmakologi),

FKIK

p ( g )

(29)

DESAIN DAN PELAKSANAAN

|beberapa bentuk sediaan lepas

12/11/2

0

BIOEKIVALENSI Æ DESAIN

p p

lambat/terkendali (studi dosis tunggal lebih sensitif untuk menjawab pertanyaan utama BE yakni penglepasan zat aktif dari produk

012

@Dhad

h

Unsoed

BE, yakni penglepasan zat aktif dari produk obat ke dalam sirkulasi sistemik, karena itu studi keadaan tunak umumnya tidak

A

h

ang_WK Jur

u

Pwt

dianjurkan oleh FDA, bahkan jika kinetiknya nonlinear sekalipun).

u

san Farmasi

FKIK

(30)

DESAIN DAN PELAKSANAAN

BIOEKIVALENSI Æ DESAIN

| dapat dipertimbangkan untuk :

b d k d l k

12/11/2

0

BIOEKIVALENSI Æ DESAIN

y obat dengan kadar plasma atau kecepatan

eliminasi intra-subyek yang sangat bervariasi sehingga tidak memungkinkan untuk

012

@Dhad

h

Unsoed

gg g

menunjukkan bioekivalensi dengan studi dosis tunggal, sekalipun pada jumlah subyek yang cukup banyak dan variasi ini berkurang pada

h

ang_WK Jur

u

Pwt

cukup banyak, dan variasi ini berkurang pada keadaan tunak.

y obat yang metode penetapan kadarnya dalam

u

san Farmasi

plasma tidak cukup sensitif untuk mengukur kadarnya dalam plasma pada pemberian dosis tunggal (sebagai alternatif dari penggunaan

FKIK

tunggal (sebagai alternatif dari penggunaan metode penetapan kadar yang lebih sensitif), misal loratadin.

(31)

DESAIN DAN PELAKSANAAN

| Pada studi keadaan tunak, jadwal pemberian

12/11/2

0

BIOEKIVALENSI Æ DESAIN

, j p

obat harus mengikuti aturan dosis lazim yang dianjurkan. Pada studi ini, menurunnya kadar obat yang pertama terjadi bersamaan dengan

012

@Dhad

h

Unsoed

obat yang pertama terjadi bersamaan dengan meningkatnya kadar obat yang kedua, sehingga periode washout dapat diperpendek menjadi

h

ang_WK Jur

u

Pwt

sedikitnya 3 x waktu paruh eliminasi obat. usan Farmasi

FKIK

(32)

DESAIN DAN PELAKSANAAN

| Subyek 12/11/2 0

BIOEKIVALENSI Æ SUBYEK

y Kriteria seleksi

Kriteria inklusi dan eksklusi harus dinyatakan

012

@Dhad

h

Unsoed

dengan jelas dalam protokol :

y Sukarelawan sehat (untuk mengurangi variasi

antarsubyek); h ang_WK Jur u Pwt y );

y Sedapat mungkin pria dan wanita (jika wanita

pertimbangkan risiko pada wanita usia subur;

y Umur antara 18 55 tahun;

u

san Farmasi

y Umur antara 18 – 55 tahun;

y Berat badan dalam kisaran normal:

FKIK

(33)

DESAIN DAN PELAKSANAAN

BIOEKIVALENSI Æ SUBYEK (

KRITERIA

| Kriteria sehat berdasarkan uji laboratorium klinis

b k (h l i i f i h i f i

12/11/2

0

SELEKSI

)

yang baku (hematologi rutin, fungsi hati, fungsi

ginjal, gula darah, dan urinalisis), riwayat penyakit, dan pemeriksaan fisik;

012

@Dhad

h

Unsoed

p ;

| Pemeriksaan khusus mungkin harus dilakukan

sebelum, selama dan setelah studi selesai,

b t d k l t i d fil k

h

ang_WK Jur

u

Pwt

bergantung pada kelas terapi dan profil keamanan obat yang diteliti. Misalnya, untuk obat dari kelas

fluorokuinolon yang diketahui dapat memperpanjang

u

san Farmasi

interval QT, harus dilakukan pemeriksaan EKG;

| Sebaiknya bukan perokok. Jika perokok sedang

(kurang dari 10 batang sehari) diikutsertakan harus

FKIK

(kurang dari 10 batang sehari) diikutsertakan, harus disebutkan dan efeknya pada hasil studi harus

didiskusikan;

(34)

DESAIN DAN PELAKSANAAN

BIOEKIVALENSI Æ SUBYEK (

KRITERIA

| Tidak mempunyai riwayat ketergantungan pada

12/11/2

0

SELEKSI

)

p y y g g p

alkohol atau penyalahgunaan obat;

| Tidak kontraindikasi atau hipersensitif terhadap

b t di ji

012

@Dhad

h

Unsoed

obat yang diuji;

| Untuk obat yang terlalu toksik untuk diberikan

kepada sukarelawan sehat (misal : sitostatik,

h

ang_WK Jur

u

Pwt

kepada sukarelawan sehat (misal : sitostatik,

antiaritmia), maka digunakan penderita dengan indikasi yang sesuai;

Uji l i h d H i i B (HB A )

u

san Farmasi

| Uji serologis terhadap Hepatitis B (HBsAg),

Hepatitis C (anti-HCV) dan HIV (anti-HIV) optinal B.

FKIK

p

Referensi

Dokumen terkait

Pelepasan obat dari kompleks nanopartikel alginat-kitosan diuji dengan metode dialisis dalam medium lambung buatan pH 1,2 untuk amoksisilin dan medium NaCl 0,9% untuk bovine

Tujuan evaluasi ini adalah untuk mengevaluasi draft Pedoman Uji Bioekivalensi yang dikembangkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dibandingkan dengan pedoman dari WHO

seperti apakah profil obat gangguan sistem saluran urinari meliputi jumlah obat, jenis obat, bentuk sediaan, aturan pakai obat (meliputi kekuatan obat, frekuensi, dan durasi)

Penelitian yang terkait masalah ketersediaan pelayanan informasi obat telah dilakukan oleh peneliti lain adalah Profil Pemberian Informasi Obat Pada Pelayanan Resep

Mirip dengan hasil penelitian yang dilakukan dengan judul profil penggunaan obat pasien hipertensi di instalasi rawat jalan sebuah rumah sakit umum daerah

Mekanisme pelepasan obat dari keenam formula terjadi secara difusi yang dapat dilihat dari nilai koefisien regresi ( r ) yang diperoleh dari kurva hubungan antara

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi Tween 80 dan pH terhadap diameter, persen penjeratan, dan pelepasan obat pada.