• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PEMBELAJARAN (MAKE A MATCH) PADA KELOMPOK A DI RA GERHANA ALAUDDIN SKRIPSI OLEH : RIRIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MODEL PEMBELAJARAN (MAKE A MATCH) PADA KELOMPOK A DI RA GERHANA ALAUDDIN SKRIPSI OLEH : RIRIN"

Copied!
157
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini

Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

OLEH : RIRIN 105450000915

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2020

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi MOTTO

“Yakin adalah kunci jawaban dari segala permasalahan”

“Dengan bermodal yakin merupakan obat mujarab penumbuh semangat hidup”

Karya ini kupersembahkan kepada :

Kedua Orang tuaku tercinta

Yang selalu mendoakan dengan ikhlas dan memberi dukungan kepada saya Adekku tersayang

Yang selalu memberi semangat dan motivasi

Bunda-bunda cantik dan anak-anakku tersayang di sekolah RA Gerhana Alauddin

Serta sahabat dan teman-teman yang memberi motivasi serta dukungan kepada saya

(7)

vii

Pembelajaran Kooperatif (Make A Match) Pada KelompokA Di Ra Gerhana Alauddin. Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh Syamsuardi dan M.Yusran Rahmat.

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan hubungan social anak melalui model pembelajaran k make a match di RA Gerhana Alauddin Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaboratif dengan pendidik.. Subjek penelitian ini adalah anak kelompok A RA Gerhana Alauddin yang berjumlah 14 yang terdiri dari 6 anak laki-laki dan 8 anak perempuan. Objek penelitian ini peningkatan kemampuan hubungan social anak melalui model pemebelajaran kooperatif make a match. Metode pengumpulan data menggunakan observasi dan dokumentasi. Tehnik analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran make a match dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial anak. cara melakukan pembelajaran make a match yaitu langkah pertama guru mempersiapkan kartu-kartu yaitu kartu-kartu jawaban dan pertanyaan, guru menjelaskan cara melakukan kegiatan pembelajaran kooperatif make a match, guru membagi 3 kelompok yaitu kelompok pemegang kartu pertanyaan, kelompok pemegang kartu jawaban, dan kelompok penilai. Selanjutnya guru mengatur kelompok berbentuk U, guru memberikan kesempatan kepada anak untuk diskusi, anak-anak melakukan kegiatan pembelajaran make a match yaitu mencari pasangan kartu,

Hasil peningkatan kemampuan hubungan social anak sebelum tindakan menunjukkan hasil rata-rata 39,72% setelah dilakukan tindakan pada siklus I mengalami peningkatan sebesar 21,43% menjadi 61,15%. Pada akhir siklus II mengalami peningkatan sebesar 26,79% menjadi 87,94%. Dari hasil yang diperoleh disimpulkan bahwa kemampuan hubungan sosial anak dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran make a match.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Allah maha penyayang dan Pengasih, demikian kata untuk mewakili atas segala karunia dan nikmat-Nya. Jiwa ini takkan henti bertahmid atas anugerah pada detik waktu, denyut jantung, gerak langkah, serta rasa dan rasio pada-Mu,.Sang Khalik. Skripsi ini adalah setitik dari sederetan berkah-Mu.

Setiap orang dalam berkarya selalu mencari kesempurnaan, tetapi terkadang kesempurnaan itu terasa jauh dari kehidupan seseorang. Kesempurnaan bagaikan fatamorgana yang semakin dikejar semakin menghilang dari pandangan, bagai pelangi yang terlihat indah dari kejauhan, tetapi menghilang jika didekati. Demikian juga tulisan ini, kehendak hati ingin mencapai kesempurnaan, tetapi kapasitas penulis dalam keterbatasan. Segala daya dan upaya telah penulis serahkan untuk membuat tulisan ini selesai dengan baik dan bermanfaat dalam dunia pendidikan, khususnya dalam ruang lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Makassar.

Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam perampungan tulisan ini. Segala hormat, penulis mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua Talib dan Mare yang telah berjuang, berdoa, mengasuh, membersarkan, mendidik, dan membiayai penulis dalam proses pencarian ilmu. Demikian pula, penulis mengucapkan kepada para keluarga yang tak hentinya memberikan motivasi dan selalu menemaniku dengan candanya, kepada Syamsuardi,S.Pd.,M.Pd dan M.Yusran Rahmat, S.Pd., M.Pd., pembimbing I dan

(9)

ix

Tidak lupa juga penulis mengucapkan terimakasih kepada; Prof. Dr. H. Abd.Rahman Rahim, SE, MM. Selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Erwin Akib, M. Pd., P.Hd. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Tasrif Akib S.Pd., M.Pd, ketua Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini serta seluruh dosen dan para staf pegawai dalam lingkungan Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis

Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya juga penulis ucapkan kepada Kepala Sekolah, guru, RA Gerhana Alauddin, dan ibu Masriani S. Pd .I Selaku guru kelompok A di sekolah tersebut yang telah memberikan izin dan bantuan untuk melakukan penelitian. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada teman seperjuangku Marina Rustan, Muthmainna S, Sri Nurmi, Kasmawati, Mariana yang selalu menemaniku dalam suka dan duka, sahabat-sahabatku terkasih serta seluruh rekan mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Angkatan 2015 atas segala kebersamaan, motivasi saran dan bantuannya kepada penulis yang telah memberi pelangi dalam hidupku.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak, selama saran dan kritikan

(10)

x

tersebut sifatnya membangun karena penulis yakin bahwa suatu persoalan tidak akan berarti sama sekali tanpa adanya kritikan. Mudah-mudahan dapat memberi manfaat bagi para pembaca, terutama bagi diri pribadi penulis. Amin

Makassar, November 2019

(11)

xi

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv SURAT PERJANJIAN ... v MOTTO ... vi ABSTRAK ... vii KATAPENGANTAR ... viii DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang ... 1

B.Masalah Penelitian ... 4

1. Identifikasi Masalah ... 4

2. Alternatif Pemecahan Masalah ... 5

3. Rumusan Masalah ... 5

C.Tujuan Penelitian... 5

(12)

xii

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 7

A.Kajian Pustaka ... 7

1. Hasil Penelitian Relevan ... 7

2. Konsep Hubungan Sosial ... 8

3. Model Pembelajaran ... 16

4. Model Pembelajaran Make A Match ... 21

5. Indikator Kemampuan Hubungan Sosial Anak ... 23

B.Kerangka Pikir... 24

C.Hipotesis ... 27

BAB III METODE PENELITIAN ... 28

A.Jenis Penelitian ... 28

B.Lokasi dan Subjek Penelitian ... 29

C.Faktor yang Diselidiki ... 30

D.Prosedur Penelitian ... 30

E.Instrumen Penelitian ... 31

F. Teknik Pengumpulan Data ... 32

G.Teknik Analisis Data ... 32

H.Indikator Keberhasilan ... 34

BAB IV PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 35

A. Deskripsi Lokasi penelitian ... 35

B. Deskripsi Subjek Penelitian ... 35

C. Deskripsi Data Hubungan Sosial Anak Usia Dini ... 36

(13)

xiii

E. Pembahasan Hasil Penelitian ... 68

BAB V PENUTUP ... 72 A. Simpulan ... 72 B. Saran ... 73 DAFTAR PUSTAKA ... 74 LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

(14)

xiv

DAFTAER TABEL

No. Judul Halaman

4.1. Data Hasil Observasi Pra Tindakan ... 37 4.2. Data Hasil Kemampuan Hubungan Sosial Anak Siklus I ... 49 4.3. Data peningkatan hubungan sosial anak dari pra

tindakan ke siklus I ... 51 4.4. Data Hasil Kemampuan Hubungan Sosial Anak Siklus II ... 62 4.5. Data peningkatan hubungan social anak dari pra

tindakan ke siklus II... 64 4.6. peningkatan kemampuan hubungan sosial anak pra

tindakan, siklus I dan siklus II ... 66

(15)

xv

3.1. Model Suharsimi Arikunto ... 29

4.1. Gambar Grafik Pra Tindakan ... 39

4.2. Media gambar binatang dan kartu gambar ... 40

4.3.Media gambar bunga, kartu gambar dan kartu warna ... 41

4.4. Media gambar binatang memakan buah dan kartu gambar ... 41

4.5. Hasil kemampuan Hubungan Sosial Anak Siklus I ... 50

4.6. Hasil Peningkatan Kemampuan Hubungan pada Siklus I ... 52

4.7. hasil kemampuan Hubungan sosial anak siklus II ... 63

4.8. Peningkatan Hasil kemampuan Hubungan Sosial anak Siklus I dan Siklus II ... 65

4.9. hasil pra siklus, siklus I, dan siklus II Kemampuan Hubungan Sosial Anak ... 67

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Pengantar Penelitian Dari TU

Lampiran 2 Surat Permohonan izin Penelitian Dari LP3M

Lampiran 3 Surat izin Penelitian dari Dinas Penanaman Modal

Lampiran 4 Surat validasi Instrumen Penelitian

Lampiran 5 Surat Izin Penelitian Dari RA GerhanaAlauddin

Lampiran 6 Daftar Anak Didik Kelompok A RA Gerhana Alauddin

Lampiran 7 Kisi-kisi Pedoman Observasi Kemampuan Hubungan Sosial Anak

Lampiran 8 Rubrik Penilaian

Lampiran 9 Lembar Observasi Guru

Lampiran 10 Penilaian validasi isi dan konstruk

Lampiran 11 Rencana pelaksanaan pembelajaran harian (RPPH)

Lampiran 12 Hasil penilaian

(17)

1 A. Latar Belakang Masalah

Masa usia dini adalah masa emas perkembangan anak dimana semua aspek perkembangan dapat dengan mudah distimulasi.Periode emas ini hanya berlangsung satu kali sepanjang rentang kehidupan manusia. Oleh karena itu, padamasa usia dini perlu dilakukan upaya pengembangan meyeluruh yang melibatkan aspek pengasuhan, kesehatan, pendidikan, dan perlindungan.

Pendidikan anak usia dini (PAUD) sebagai pendidikan yang diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, memiliki kelompok sasaran anak usia 0-6 tahun yang sering disebut sebagai masa emas perkembangan. Oleh karena itu, penyelenggaraan PAUD harus memerhatikan dan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan anak.Tujuan program kegiatan belajar anak taman kanak-kanak adalah untuk membantu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya. Sangatlah penting sebagai seorang guru untuk mendidik dan membimbing anak untuk mengembangkannya sehingga potensi-potensi yang dimilki anak dapat dioptimalkan.Dalam peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan tentang kurikulum 2013 pasal 1 dinyatakan bahwa :

Pendidikan anak usia dini yang selanjutnya disingkat PAUD, merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengangan usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian ransangan pendidikan untuk membantu

(18)

2

pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Menurut Prayuanti (2014 :1) “Aspek yang perlu dikembangkan oleh pendidik salah satunya aspek sosial anak”.Adapun Hurlock (Nugraha, 2008) mengutarakan bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan social.Sedangkan Erikson (Mursid,2015) melihat perkembangan sosial pada anak terkait dengan kemampuan mereka dalam mengatasi krisis atau konflik yang terjadi pada setiap perpindahan tahap agar siap menghadapi berbagai permasalahan yang akan dijumpainya di kehidupan mendatang.Jadi perkembangan sosial merupakan interaksi yang dibangun oleh seseorang untuk dapat bekerjasama dalam menyeleaikan masalah, dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.

Berdasarkan hasil observasi di RA Gerhana Alauddin tepatnya dikelompok APeneliti menemukan berbagai macam permasalahan seperti, di dalam pembelajaran lebih sering dilakukan secara individual seperti mengerjakan lembar kerja masing-masing. Dalam proses pembelajaran guru tidak memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih kegiatan yang akan dilakukan terlebih dahulu, guru langsung memerintah anak tanpa menanyakan kemauan anak terlebih dahulu. dengan kondisi tersebut terlihat bahwa komunikasi anak dan guru tidak seimbang yaitu guru lebih dominan dibanding anak. Hal ini menyebabkan kurangnya interaksi atau hubungan sosial pada anak.

Aspek perkembangan sosial yang kurang berkembang di RA Gerhana Alauddin salah satunya hubungan sosial atau kemampuan interaksi anak, terlihat

(19)

dari 14 anak masih ada 10 anak yang masih kurang kemampuan interaksi sosialnya seperti, kurang mampu bekerjasama dengan temannya, tidak mau berbagi, tidak sabar menunggu giliran dan belum mampu menyesuaikan diri dengan situasi. karena pendidik jarang menggunakan model pembelajaran kelompok atau tim, sedangkan dengan menggunakan model pembelajaran kelompok atau tim anak dapat meningkatkan interaksi atau hubungan sosial anak.

Itulah permasalahan yang di temukan oleh peneliti di sekolah. Permasalahan tersebut sangat berpengaruh tehadap perkembangan sosial anak, jika tidak segera di atasi maka akan berdampak pada kehidupan sosial anak dan akan terbawa hingga ia dewasa. Maka dari itu sangat penting untuk mengembangkan hubungan sosial anak sejak usia dini agar anak mempunyai kesiapan dan kemampuan untuk beradaptasi serta mengatasi berbagai masalah yang muncul di masa yang akan datang.

Melihat pemasalahan diatasmaka pendidik dan peneliti merasa sangat perlu untuk mengadakan perbaikan terhadap pembelajaran dalam peningkatan hubungan sosial anak.Dalam hal ini peneliti ingin menerapkan salah satu model pembelajaran yang ada yaitumodel pembelajaran make a match yang merupakan salah satu metode dari Pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah “model pembelajaran yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (academic Skill), sekaligus keterampilan sosial (social skill) termasuk interpersonal skill” (Riyanto, 2009 : 267). Dalam pembelajaran kooperatif bertujuan “mengembangkan intelegensi interpersonal.Intelegensi ini berupa kemampuan untuk mengeri dan menjadi peka terhadap perasaan, intensi, motivasi,

(20)

4

watak, temperamen oranglain” (Suprijono, 2009:81). Oleh karena itu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif make a match, penelitian ini diharapkan adanya peningkatan interaksi atau hubungan sosial anak usia dini seperti yang diharapkan.

Menurut Rofiana (2017:4) Keunggulan model pembelajaran kooperatif make a match adalah anak didik mencaripasangan kartu yang mereka bawa sambil belajar mengenai materi pembelajaran tersebut ke dalam suasana yang menyenangkan dan kompetitif serta bisa membuat peserta didik termotivasi sehingga menjadi aktif untuk mencari pasangan kartu mereka. Dengan model make a match anak didik dapat bekerjasama dengan anggota kelompoknya serta dapat berkompetisi dengan kelompok lain.

Maka untuk meningkatkan kemampuan interaksi atau hubungan sosial anak, peneliti menggunakan model pembelajaran kooperatif (make a math) dan melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul “ peningkatan hubungan sosial anak usia dini melalui model pembelajaran kooperatif (make a math) pada kelompok A RA Gerhana Alauddin.

B. Masalah penelitian 1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, salah satu masalah utama dalam kegiatan pembelajaran anak usia dini, yaitu :

a. Kemampuan interaksi sosial anak kurang karna pendidik jarang menerapkan model pembelajaran kelompok

(21)

b. Guru tidak memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih kegiatan yang diinginkan.

c. Kegiatan lebih fokus pada lembar kerja anak yang bersifat individual.

2. Alternatif Pemecahan Masalah

Untuk memecahkan masalah tentang peningkatan hubungan social anak usia dini pada kelompok A RA Gerhana Alauddin maka peneliti menerapkan model pembelajaran make a match.

3. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat di rumuskan sebagai berikut : “Apakah dengan penggunaan model pembelajaran make a matchdapat meningkatkan hubungan sosial anak pada kelompok A di RA Gerhana Alauddin?”.

C. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui apakah dengan menggunakan model pembelajaran Make a Match dapat meningkatkan hubungan sosial pada anak Kelmpok A di RA Gerhana Alauddin.

D. Manfaat penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terkait diantaranya sebagai berikut :

(22)

6

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan atau panduan dalam penelitian selanjutnya khususnya terkait dengan peningkatan hubungan sosial anak

2. Manfaat praktis

a. Bagi sekolah

Sebagai bahan masukan bagi sekolah untuk memperbaiki praktik – praktik pembelajaran pendidik agar menjadi lebih efektif dan efisien sehingga kualitas pembelajaran dan hasil belajar anak meningkat.

b. Bagi anak

Meningkatkan hubungan sosial anak dalam mengikuti proses pembelajaran melalui model pembelajaran make a match

c. Bagi pendidik

Untuk memberikan masukan bagi pendidik tentang modelpembelajaran yang dapat menunjang keberhasilan peningkatan hubungan sosial anak usia dini. d. Bagi peneliti

Menambah pengetahuan bagi peneliti tentang bagaimana model pembelajaran make a match dapat meningkatkan hubungan sosial anak.

(23)

7 A. Kajian Pustaka

1. Hasil Penelitian Relevan

Adapun hasil penelitian yang relevan atau penelitian terdahulu yang hampir sama dengan judul yang diangkat yaitu “peningkatan hubungan sosial anak usia dini melalui model pembelajaran kooperatif (make a match) yang dapat dijadikan sebagai rujukan dalam mengadakan penelitian adalah sebagai berikut :

Rita Yudiastuti (2015) dalam skripsinya yang bejudul “Peningkatan Keterampilan Sosial Melalui Bermain Peran Pada Kelompok B TK Pertiwi Ngablak Kecamatan Srumbung”.Menyimpulkan bahwa keterampilan social anak mengalami peningkatan sesuai indikato keberhasilan yang telah ditentukan dengan berdasarkan pada aspek penilaian yang tertera pada instrument penilaian.

Saridawati (2017) dalam skripsinya yang berjudul “Upaya Meningkatkan Kemampuan Sosial Emosional Anak Usia Dini Melalui Metode Proyek Di TK Nurul Ihsan Ilmi Medan Tembung”. Menyimpulkan bahwa melalui metode proyek dengan menggunakan bahan menanam kacang hijau dapat meningkatkan kemampuan social emosional anak usia dini kelompok A Di TK Nurul Ihsan Ilmi Medan Tembung.

Dari penelitian yang sudah di bahas dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan dari setiap penelitian yaitu: RitaYudiastuti mengkaji tentang keterampilan social dapat ditingkatkan melalui bermain peran. Dan Saridawati mengkaji tentang Sosial Emosinal anak dapat meningkat melalui metode

(24)

8

proyek.Penelitian-penelitian tersebut masih berhubungan dengan penelitian ini, dengan demikian penelitian tersebut dapat dijadikan pendukung bagi penelitian ini.Pada penelitian ini menekankan model pembelajaran kooperatif (make a match) untuk meningkatkan hubungan sosial anak.

2. Konsep hubungan Sosial a. Pengertian hubungan sosial

Menurut Soerjono (Shinta, 2012 : 11) hubungan sosial diartikan sebagai cara individu bereaksi terhadap orang-orang disekitarnya dan bagaimana pengaruh hubungan tersebut terhadap dirinya.Menurut Sunarto dan Hartono (Mustabiqotul, 2011: 13) menjelaskan bahwa hubungan social merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan dimana setiap individu berusaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan kehidupan social bagaimana seharusnya seseorang hidup di dalam kelompoknya baik kelompok kecil maupun kelompok masyarakat luas.Sedangkan menurut Astrid. S. susanto (Laeni, 2016:10) Hubungan social yaitu hubungan antara manusia yang menghasilkan adanya proses pengaruh – mempengaruhi. Dari pendapat beberapa para ahli dapat dipahami bahwa hubungan sosial merupakan suatu proses interaksi atau penyesuain diri antara individu dengan individu dan individu dengan kelompok.

Hubungan social dimulai pada saat lahir dan terlihat jelas dalam interaksi sehari-hari antara bayi, orant tua, dan guru.Bayi adalah makhluk social yang memiliki banyak perilaku yang mereka gunakan untuk memulai dan memudahkan interaksi social. Semua orang menggunakan interaksi social untuk memulai dan

(25)

menjaga hubungan dengan orang lain. Karenanya perkembangan social yang sehat sangat penting bagi anak (George, 2012:190).Hubungan sosial dimulai dari tingkat yang sederhana yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana.Semakin dewasa, kebutuhan manusia menjadi kompleks. Pada jenjang perkembangan remaja, seorang remaja bukan saja memerlukan orang lain demi memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi mengandung maksud untuk disimpulkan bahwa pengertian perkembangan social adalah berkembangnya tingkat hubungan antar manusia sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan hidup manusia (Laeni, 2016 : 10).

b. Pengertian perkembangan sosial

Menurut Plato secara potensial (fitrah) manusia dilahirkan sebagai makhluk social (zoon piliticon). Syamsuddin (Nugraha, 2008:1.18) mengungkapkan bahwa sosialisasi adalah proses belajar untuk menjadi makhluk social, sedangkan menurut Loree (Nugraha, 2008:1.18) sosaialisasi merupakan suatu proses dimana individu (terutama) anak melatih kepekaan dirinya terhadap ransangan-ransangan social terutama tekanan-tekanan dan tuntutan kehidupan (kelompoknya) serta belajar bergaul dengan bertingkah laku, seperti orang lain di dalam lingkungan sosialnya. Manusia merupakan makhluk social yang saling membutuhkan satu dengan lainnya,oleh karena itu manusia harus mampu bergaul dan berinteraksi dengan sesamanya.

Muhibin (Nugraha, 2008:1.18) mengatakan bahwa perkembangan social merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yaknipribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya. Adapun Hurlock

(26)

10

(Mulyani, 2018:94) mengutarakan bahwa perkembangan social merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan social.Dari beberapa pendapat para ahli dapat dipahami bahwa sosialisasi adalah kemampuan bertingkah laku sesuai dengan norma, nilai atau harapan social.

c. Proses perkembangan sosial

Kemampuan orang yang mampu bersosialisasi dengan masyarakat memerlukan tiga proses, dimana masing-masing terpisah dan sangat berbeda satu sama lain, namun saling berkaitan. Sehingga kegagalan dalam suatu proses saja, akan menurunkan kadar sosialisasi individu dalam masyarakat. Ketiga proses tersebut adalah sebagai berikut Hurlock (Mulyani, 2018:95)

1) Belajar untuk bertingkah laku dengan cara yang dapat diterima masyarakat. Setiap kelompok sosial (masyarakat) mempunyai standar atau norma bagi para anggotanya dalam berperilaku yang dapat diterima bagi sesama. Untuk bermasyarakat, anak tidak hanya harus mengetahui perilaku yang dapat diterima, tetapi mereka juga harus menyesuaikan perilaku dengan patokan yang dapat diterima.

2) Belajar memainkan peran sosial yang ada di masyarakat.

Setiap kelompok sosial mempunyai pola kebiasaan yang telah ditentukan dengan seksama oleh para anggotanya dan dituntut untuk dipatuhi. Sebagai contoh, ada peran yang telah disetujui bersama bagi orang tua dan anak,serta bagi guru dan murid.

3) Mengembangkan sikap sosial terhadap individu lain dan aktivitas sosial yang ada di masyarakat.

(27)

Untuk bermasyarakat atau bergaul dengan baik, anak-anak harus menyukai orang dan aktivitas sosial .jika mereka dapat melakukannya, mereka akan berhasil dalam penyesuaian sosial yang baik dan diterima sebagi anggota kelompok sosial tempat mereka menggabungkan diri.

(Nugraha, 2008:1.19) menyatakan bahwa,

Berdasarkan ketiga tahap proses sosial ini, individu akan terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok individu social dan individu non sosial. Kelompok individu social adalah mereka yang tingkah lakunya mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka mampu untuk mengikuti kelompok yang diinginkan dan diterima sebagai anggota kelompok. Adakalanya mereka selalu menginginkan adanya orang lain dan merasa kesepian apabila berada seorang diri. Selain itu mereka juga merasa puas dan bahagia jika selalu berada dengan orang lain. Adapun kelompokindividu nonsosial, mereka adalah orang-orang yang tidak berhasil mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka adalah individu yang tidak tahu apa yang diharapkan kelompok social sehingga tingkah laku mereka tidak sesuai dengan harapan social. Kadang-kadang mereka tumbuh menjadi individu anti social, yaitu individu yang mengetahui harapan kelompok sosial, tetapi dengan sengaja melawan hal tersebut.Akibatnya individu anti social ini ditolak atau dikucilkan oleh kelompok sosial.

Namun demikian menurut Hurlock ( Mulyani, 2018:95) relatife hanya sedikit anak atau orang dewasa yang benar-benar berhasil dalam ketiga proses tersebut. Tetapi umumnya orang berharap memperoleh penerimaan social, sehingga sesuai dengan tuntutan kelompok. Sebagai missal, mereka melakukannya dengan belajar berpura-pura (berbohong) untuk menutupi pikiran dan perasaan yang mungkin tidak dapat diterima secara social.

d. Karakteristik dan ciri tingkah laku sosial

Patmonodewo(Nugraha, 2008:2.18) mengemukan beberapa karakteristik perilaku social pada anak prasekolah, diantaranya sebagai berikut:

(28)

12

1) Pada umumnya anak usia dini memiliki satu atau dua sahabat. Akan tetapi, sahabat ini cepat berganti. Mereka pada umumnya dapat cepat menyesuaikan diri secara social. Sahabat yang dipilih biasanya dari jenis kelamin yang sama, kemudian berkembang menjadi bersahabat dengan anak jenis kelamin yang bebeda.

2) Kelompok bermainnya cenderung kelompokkecil, tidak terlalu terorganisasi secara baku sehingga kelompok tersebut cepat berganti.

3) Anak yang lebih kecil sering kali mengamati anak yang lebih besar.

4) Pola bermain anak prasekolah lebih bervariasi fungsinya sesuai dengan kelas social dan gender. Anak dari kelas menengah lebih banyak bermain asosiatif, kooperatif, dan konstruktif, sedangkan anak perempuan lebih banyak bermain soliter, konstruktif, parallel, dan dramatis. Anak laki-laki lebih banyak bermain fungsional solitaire dan asosiatif dramatis.

5) Perselisihan sering terjadi. Akan tetapi,sebentar kemudian mereka berbaikan kembali. Anak laki-laki banyak melakukan tindakan agresif dan menantang. 6) Setelah masuk TK, pada umumnya kesadaran mereka terhadap peran jenis

kelamin telah berkembang. Anak laki-laki lebih senang bermain diluar, bermain kasar dab bertingkah laku agresif, sedangkan anak perempuan lebih suka bermain yang bersifat esenian, bermain boneka atau menari.

Sementara itu Hurlock (Nugraha, 2008:2.19) mengemukakan beberapa pola perilaku dalam situasi social pada awal masa kanak-kanak, yaitu sebagai berikut.

(29)

1) Kerja sama

Anak belajar bermain atau bekerja sama hingga usia mereka empat tahun. Semakin banyak kesempatan yang mereka miliki untuk melatih keterampilan ini, semakin cepat mereka belajar dan menerapkannya secara nyata dalam kehidupannya.

2) Persaingan

Persaingan ini dapat mengakibatkan perilaku baik atau buruk pada anak.Jika anak melakukannya karena merasa terdorong untuk melakukan sesuatu sebaik mungkin maka hal ini dapat berakibat baik pada prestasi dan pengolahan motivasinya, namun jika persaingan dianggap sebagai pertengkaran dan kesombongan maka hal ini dapat mengakibatkan timbulnya sosialisasi yang buruk.

3) Kemurahan hati

Kemurahan hati merupakan perilaku kesediaan untuk berbagi dengan anak lain. Jika hal ini meningkat maka perilaku mementingkan diri sendiri akan berkurang. Perilaku kemurahan hati sangat disukai oleh lingkungan sehingga menghasilkan penerimaan social yang baik.

4) Hasrat akan penerimaan sosial

Jika anak memiliki hasrat yang kuat akan penerimaan social, hal ini akan mendorong anak untuk melakukan penyesuaian social secara baik.

(30)

14

Seorang anak belum mampu melakukan simpati sehingga mereka pernah mengalami situasi yang mirip dengan duka cita.Mereka mengekspresikan simpati dengan berusaha menolong atau menghibur seseorang yang sedang bersedih. 6) Empati

Merupakan kemampuan meletakkan diri sendiri dalam posisi orang lain serta menghayati pengalaman orang tersebut. Hal ini hanya akan berkembang jika anak telah dapat memahami ekspresi wajah orang lain atau maksud pembicaraan orang lain.

7) Ketergantungan

Kebutuhan anak akan bantuan, perhatian dan dukungan orang lain membuat anak memperhatikan cara-cara berperilaku yang dapat diterima lingkungannya. Namun, berbeda dengan anak yang bebas, ia cenderung mengabaikan ini.

8) Sikap ramah

Seorang anak memperhatikan sikap ramah dengan cara melakukan sesuatu bersama orang lain, membantu teman, dan menunjukkan kasih sayang.

9) Meniru

Anak-anak melakukan peniruan terhadap orang-orang yang diterima baik oleh lingkungannya.Dengan meniru anak-anak mendapatkan respons penerimaan kelompok terhadap diri mereka.

(31)

Berdasarkan pengalaman pada masa bayi, tatkala anak merasakan kelekatan yang hangat dan penuh cinta kasih bersama ibunya, anak mengembangkan sikap ini untuk membina persahabatan dengan anak lain.

e. Metode pengembangan sosial

Adapun metode pengembagan social menurut (Nugraha,2008:9.17) adalah sebagai berikut:

1) Pengelompokan anak

Pengembangan sosialisasi dengan cara mengelempokkan anak di TK dirasakan sangat efektif. Melalui pengelompokan, anak akan saling mengenal dan berinteraksi secara intensif dengan anak lain. Anak akan menemukan teman-teman yang cocok dan kurang cocok. Sekali-sekali sangat mungkin terjadi konflik diantara mereka, namun selama itu tidak sampai pada tahap pertengkaran dan perkelahian kita tidak perlu mengkhawatirkannya, dan sedikit perselisihan akan mengasah kemampuan problem silving mereka.

2) Modeling dan Imitating

Imitasi adalah peniruan sikap, tingkah laku serta cara pandang orang lain yang dilakukan secara disengaja. Jadi, prosesnya berbeda dengan proses identifikasi yang berlangsung tanpa disadari. Biasanya sejak usia dua sampai tiga tahun anak mulai senang meniru tingkah laku orang lain yang ada di sekelilingnya. Contohnya memakai sepatu hak tinggi ibu karena ingin seperti ibu atau memakai minyak rambut ayah karena ingin bersisir seperti ayahnya.

(32)

16

Bermain kooperatif adalah permainan yang melibatkan sekelompok anak dimana setiap anak mendapatkan peran dan tugas masing-masing yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan bersama. Permainan ini mengjarkan anak bersikap sportif dan bekerja sama untuk mncapai tujuan. Hal ini, baik dilakukan untuk mengembangkan keterampilan social anak.

4) Belajar berbagi (sharing)

Belajar berbagi (sharing) merupakan keterampilan social yang sangat dibutuhkan oleh anak. Melalui sharing anak akan terlatih untuk membaca situasi lingkungan, belajar berempati terhadap kebutuhan anak lain, belajar bermurah hati, melatih bersikap lebih sosial, serta bertahap meninggalkan perilaku egosentrismenya.Anak-anak dapat dilatih untuk berbagimakanan, berbagi mainan hingga akhirnya berbagi cerita.

3. Model pembelajaran

a. Pengertian model pembelajaran

Menurut Hijriati (2017: 78) Istilah model pembelajaran diambil dari dua suku kata, yaitu model dan pembelajaran. Dimana masing-masing kata tersebut memiliki makna yang berbeda-beda.Model adalah suatu objek atau konsep yang digunakan untuk mepresentasikan sesuatu hal yang nyata dan dikonversi untuk sebuah bentuk yang lebih komprehensif.Sedangkan pembelajaran adalah usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Sedangkan menurut Trianto (Muhammad Afandi, 2013:15), menyebut bahwa modelpembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang

(33)

digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial

b. Model - model pembelajara PAUD

Ada beberapa model pembelajaran yang dilaksankan di pendidikan anak usia dini menurut Hijriati (2017: 79) adalah sebagai berikut:

1) Model Pembelajaran Klasikal

Model pembelajaran klasikal adalah pola pembelajaran dimana dengan waktu yang sama, kegiatan yang dilakukan oleh seluruh anak sama dalam satu kelas.

2) Model Pembelajran Area (Minat)

Model pembelajaran berdasarkan area (minat) lebih memberikan kesempatan kepada anak didik untuk memilih atau melakukan kegiatan sendiri sesuai dengan minatnya.

3) Model Pembelajaran BCCT (Beyound Centre and Circle Time)

Model pembelajaran BCCT adalah pendekatan pembelajaran yang dalam proses pembelajaran dilakukan di dalam lingkaran (Circle Time) dan sentra bermain.

4) Model Pembelajaran Kelompok (Cooperative Lerning)

Model pembelajaran kelompok atau pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil atau saling berinteraksi.

(34)

18

Model pembelajaran kooperatif atau kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Ada empat unsure penting alam pembelajaran kooperatif yaitu: (1) Adanya peserta dalam kelompok; (2) adanya aturan kelompok; (3) adanya upaya belajar setiap anggota kelompok; dan (4) adanya tujuan yang harus dicapai.

Strategi pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan strategi pembelajaran kelompok yang akhir-akhir ini menjadi perhatian dan dianjurkan para ahli pendidikan untuk digunakan. Slavin ( Sanjaya, 2006:242) mengemukakan dua alasan pertama, beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasibelajar siswa sekaligus dapn meningkatkan kemampuan hubungan social, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, serta dapat meningkatkan harga diri. Kedua, pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berfikir, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan. Dari dua alasan tersebut,maka pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran yang dapat memperbaiki system pembelajaran yang selama ini memiliki kelemahan.

Suprijono (2009:80) mengemukakan bahwa,

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untukmencapai hasil belajar berupa prestasi akademik, toleransi, menerima keragaman, dan pengembangan keterampilan social. Untuk mencapai hasil belajar itu model pembelajarn kooperatif menuntut kerja sama dan interdependensi peserta didik dalam struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur reward-nya. Struktur tugas berhubungan bagaimana tugas diorganisir. Struktur tujuan dan reward mengacu pada derajat kerjasama atau kompetisi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan maupun reward.

(35)

a) Karakteristik pembelajaran kooperatif

Ada beberapa karakteristik pembelajaran kooperatif menurut (Sanjaya,2006:244) diantaranya sebagai berikut:

(1) Pembelajaran secara tim

Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Semua anggota tim (anggota kelompok ) harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat saling memberikan pengalaman, saling member dan menerima sehingga diharapkan setiap anggota kelompok dapat memberikan konstribusi terhadap keberhasilan kelompok.

(2) Didasarkan pada manajemen kooperatif

Sebagaimana pada umumnya, manajemen mempunyai empat fungsi pokok, yaitu fungsi perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan, dan pungsi control.Demikian juga dalam pembelajaran kooperatif. Fungsi perencanaan menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan secara efektif. Fungsi pelaksanaan menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif harus dilaksanakan sesuai dengan perencanaan.Fungsi organisasi menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pekerjaan bersama antar setiap anggota kelompok, oleh sebab itu perlu diatur tugas dan tanggung jawab setiap anggota kelompok. Fungsi control menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui tes maupun notes.

(36)

20

(3) Kemauan untuk bekerja sama

Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok. Oleh sebab itu, prinsip bekerja sama perlu ditekankan dalam proses pembelajaran kooperatif. Setiap anggota kelompok bukan saja harus diatur tugas dan tanggung jawab masing-masing, akan tetapi juga ditanamkan perlunya saling membantu. Misalnya, yang pintar perlu membantu yang kurang pintar.

(4) Keterampilan bekerja sama

Kemauan untuk bekerja sama itu kemudian dipraktikkan melalui aktivitas dan kegiatan yang tergambarkan dalam keterampilan bekerja sama. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain.

b) Prinsip pembelajaran kooperatif

Ada beberapa prinsip pembelajaran kooperatif menurut (Riyanto,2009:266) diantaranya sebagai berikut :

(1) Positif Interdependence

Artinya adanya saling ketergantungan positif yakni anggota kelompok menyadari pentingnya kerja sama dalam pencpian tujuan.

(2) Face to Face Interaction

Artinya antar anggota berinteraksi dengan saling berhadapan (3) Individual Accountability

Artinya setiap anggota kelompokbelajar dan aktif memberikan konstribusi untuk mencapai keberhasilan kelompok.

(37)

(4) Use of collaborative/social skill

Artinya harus menggunakan keterampilan bekerjasama dan bersosialisasi.Agar siswa mampu berkolaborasi perlu adanya bimbingan guru. (5) Group processing

Artinya siswa perlu menilai bagaimana mereka bekerja secara efektif.

4. Model Pembelajaran Make a Match

a. Pengertian model pembelajaran make a match

Menurut (Rofiana, 2017:8) model pembelajaran make a matchadalah “pembelajaran dengan cara mencari pasangan kartu dimana anak mencari pasangan kartu sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang meneyenangkan”. Sedangkan Menurut Wahab(Supriatin, 2017:2) Model pembelajaran make a match adalah system pembelajaran yang mengutamakan penanaman kemampuan social terutama kemampuan bekerjasama, kemampuan berinteraksi, di samping kemampuan berfikir cepat melalui permainan mencari pasangan. Model pembelajaran make a match adalah pembelajaran yang dilakukan dengan cara mencari pasangan dengan menggunakan media kartu baik kartu berupa soal ataupun jawaban.Model pembelajaran ini dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan sosial anak.

b. Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran make a match

Langkah - langkah pelaksanaan model make a match Menurut (Suprijono, 2009:113) adalah sebagai berikut:

(38)

22

1) Guru mempersiapkan kartu-kartu, Kartu-kartu tersebut terdiri dari kartu berisi pertanyaandan jawaban.

2) Guru membagi komunitas kelas menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama merupakan kelompok pembawa kartu-kartu berisi pertanyaan, kelompok kedua adalah kelompok pembawa kartu berisi jawaban. Kelompok ketiga adalah kelompok penilai.Siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu akan diberi poin

3) Atur kelompok tersebut berbentuk huruf U

4) Guru membunyikan peluit sebagai tanda agar kelompok pertama maupun kelompok kedua saling bergerak mereka bertemu, mencari pasangan pertanyaan-jawaban yang cocok.

5) Berikan kesempatan untuk berdiskusi

6) Hasildiskusi ditandai oleh pasangan-pasangan antara anggota kelompok pembawa kartu pertanyaan dan anggot kelompok pembawa kartu jawaban 7) Pasangan –pasangan yang sudah terbentuk wajib menunjukkan pertanyaan dan

jawaban kepada kelompok penilai.

8) Penilai menilai jawaban pasangan-pasangan yang terbentuk.

c. Kelebihan dan kekurangan pembelajaran tipe make a match

Adapun kelebihan dan kekurangan pembelajaran tipe make a match menurut Lie (Supriatin, 2017:3) yaitu :

1) kelebihan

a) Dapat meningkatkan aktivitas belajar murid, baik secara kognitif maupun fisik.

(39)

b) Ada unsur permainan sehingga tipe ini menyenangkan bagi anak c) Meningkatkan pemahaman murid terhadap materi yang dipelajari d) Dapat meningkatkan motovasi belajar

e) Efektif melatih kedisiplinan murid menghargai waktu 2) Kekurangan

Kekurangan model pembelajaran make a match adalah waktu yang cepat dan kurang konsentrasi. Sedangkan kelemahannya ialah jika kelas anda termasuk kelas gemuk (lebih dari 30 orang/kelas) behati-hatilah.Karna jika anda kurang bijaksana maka yang muncul adalah suasana seperti pasar dengan keramaian yang tidak terkendali.

5. Indikator kemampuan hubungan sosial anak

Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat di ukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Ini berarti indicator pencapaian kompetensi merupakan rumusan kemampuan yang harus dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar (KD)

Dalam rangka meningkatkan hubungan sosial anak pada kelompok A di RA Gerhana Alauddin melalui model pembelajaran kooperatif. Pencapaian indikator kemampuan hubungan sosial anak menurut kurikulum 2013 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No 146 tahun 2014 pada aspek perkembangan social yaitu :

(40)

24

b. Mengantri sesuai urutan, menunggu giliran c. Senang melakukan kegiatan bersama teman

d. Senang berbagi (gagasan, mainan, makanan, dll) dengan teman

B. Kerangka Pikir

Kerangka pikir merupakan pijakan dalam memecahkan masalah penelitian.Kerangka piker dalam penelitian ini dijelaskan sebagai berikut.

Anak usia dini merupakan masa yang tepat untuk meningkatkan aspek perkembangan yang terdapat dalam diri anak. Aspek perkembangan yang belum muncul dapat distimulasi melalui model pembelajran yang tepat sesuai karakteristik anak.Perkembangan sosial seperti kemampuan berinteraksi dan bekerjasama merupakan salah satu aspek yang perlu ditingkatkan.Pentingnya bersosialisasi diajarkan sejak dini untuk membiasakan anak untuk berinteraksi dan saling tolong-menolong di lingkungan sekitar anak. Bersosialisasi dapat diajarkan dengan cara membiasakan anak bermain bersama-sama temannya secara berkelompok. Di dalam kegiatan bermain anak dihadapkan pada satu persoalan dalam kegiatan pembelajaran yang didalamnya terdapat unsur meningkatkan hubungan sosial anak dan berusaha untuk tolong – menolong bekerja sama satu sma lainnya dalam menyelesaikan tugas sampai selesai.

Dalam penelitian ini peneliti memaparkan bagan sebagai bentuk atau kerangka pikir, sehingga penelitian ini lebih terarah dan sistematis.Dengan model kelompok dalam kegiatan pembelajaran akan melatih anak untuk bersosialisasi dengan cara memecahkan masalah dan menyelesaikannya yang sedang dierjakan

(41)

secara bersama dengan kelompoknya masing-masing. Salah satu cara untuk meningkatkan hubungan social anak adalah menggunakan model pembelajaran make a match. Pelaksanaan pembelajaran make a match ditaman kanak-kanak, anak dibagi menjadi beberapa kelompok dan diberikan penjelasan cara bekerjasama dengan kelompok dan dengan teman lainnya. Pembagian kerja untuk masing-masing anak dalam kelompok bertugas mengerjakan sesuasi dengan tugas yang telah diberiakan oleh pendidik. Dengan pembelajaran make a match anak dilatih untuk bekerjasama, untuk lebih menyiapkan anak dengan bebagai keterampilan baru agar dapat ikut berpartisipasi dalam dunia yang selalu berubah dan terus berkembang, membentuk kepribadian anak agar dapat mengembangkan kemampuan bersosialisasi dengan orang lain dengan berbagai kegiatan social. Mengajak anak untuk membangun pengetahuan secara aktif karena dalam pembelajaran kooperatif, serta anak Taman kanak-kanak tidak hanya menerima pengetahuan dari pendidik begitu saja, tetapi anak menyusun pengetahuan yang terus menerus, sehingga menempatkan anak sebagai pihak aktif.Oleh karena itu, peneliti menggunakan model pembelajran make a matchuntuk peningkatan hubungan sosial anak.

(42)

26

KERANGKA PIKIR

Gambar 2.1

Bagan Kerangka Pikir

Perencanaan

Kondisi Awal

Pelaksanaan

Tindakan

Pengamatan

Kemampuan hubungan sosial

anak rendah

1. Anak belum mampu

menyesuaikan diri

2. Anak belum mampu

mengantri

3. Anak belum mampu

bekerjasama

4. Anak belum mampu

berbagi

Penerapan Model pembelajaran

make a match

Siklus I

Menggunakan Kartu Gambar

Siklus II

Menggunakan Kartu Gambar

Kemampuan Hubungan Sosial

Anak Meningkat

(43)

C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut : Model pembelajaran (make a match) dapat meningkatkan hubungan sosial pada anak kelompok A di RA Gerhana Alauddin.

(44)

28 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang diguanakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). PTK merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan keprofesionalan guru maupun dosen.Dalam pelaksanaannya peneliti dan guru perlu melakukam segala langkah penelitian ini secara bersama-sama (kolaboratif) dari awal hingga akhir.Menurut Arikunto (Nugraheni,2014:31) menyatakan bahwa dalam penelitian kolaboratif pihak yang melakukan tindakan adalah guru itu sendiri, sehingga yang diminta melakukan pengamatan terhadap berlangsungnya proses tindakan adalah peneliti, bukan guru yang sedang melakukan tindakan.

Menurut Arikunto(Paizaluddin, 2012) dapat dirangkum secara garis besar sebagai berikut : bahwa terdapat empat tahapan yang lazim dilalui yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, (4) refleksi. Adapun model dan penjelasan untuk masing-masing tahap adalah sebagai berikut:

(45)

Gambar 3.1

Arikunto (Paizaluddin, 2016:34 )

B. Lokasi dan Subjek Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di RA Gerhana Alauddin Makassar. Letak sekolah berada di kota namun jauh dari jalan besar, dekat dengan rumah-rumah warga. Kondisi sekolah nyaman untuk pembelajaran, sebab tidak banyak kendaraan yang lalu lalang di dekat sekolah sehingga pembelajaran di sekolah cukup nyaman dan aman, sekolah juga memilki tempat bermain di luar kelas, walaupun tempatnya tidak terlalu luas namun cukup untuk di tempati semua anak. Kelas terbagi atas dua yaitu kelas A Dan kelas B.

Perencanaan SIKLUS I Pengamatan Refleksi Pelaksanaan Perencanaan SIKLUS II Pengamatan Pelaksanaan Refleksi

(46)

30

2. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelompok A di RA Gerhana Alauddin Makassar yang berjumlah 14 anak. Peneliti memilih kelompok A untuk dijadikan subjek penelitian karena, peneliti menemukan kemampuan dalam hal besosialisasi masih kurang optimal. Hal ini terlihat ada beberapa anak yang masih kurang berinteraksi dengan temannya.

C. Faktor yang Diselidiki

Untuk memperoleh data pada penelitian ini maka factor yang akan diselidiki adalah :

1. Faktor Input, yaitu anak didik dan guru yang menjadi subjek penelitian, media dan alat bantu pembelajaran, sumber belajar.

2. Faktor Proses, yaitu interaksi belajar mengajar, cara guru melaksanakan pembelajaran make a match dan cara anak didik menggunakan media kartu gambar untuk meningkatkan kemampuan hubungan sosial anak usia dini. 3. Faktor Output, yaitu peningkatan kemampuan hubungan sosial anak usia dini.

D. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari beberapa tahap diantaranya sebagai berikut :

1. Tahap perencanaan

Adapun yang dilakukan adalah sebagai berikut :

a. Menentukan tema dan sub tema pembelajaran yang akan diberikan di RA Gerhana Alauddin Makassar.

(47)

b. Menyusun RKH (Rencana Kegiatan Harian) yang memuat kegiatan pembelajaran kooperatif untuk mengembangkan hubungan social anak.

c. Mempersiapkan sumber dan media pembelajaran yang akan digunakan.

d. Peneliti membuat lembar observasi untuk melihat kondisi belajar anak dikelas. 2. Tahap Pelaksanan tindakan

Pendidik di kelompok A RA Gerhana Alauddin Makassar merupakan pelaksana tindakan.Peneliti sebagai observer ketika pendidik mempraktekkan pengajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif. Namun sebelum masuk kedalam pembelajaran pendidik dan peneliti melakukan diskusi terlebih dahulu untuk membuat RKH yang sesuai tema dan sub tema untuk menentukan kegiatan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajran.

3. Tahap observasi dan evaluasi

Peneliti melakukan observasi langsung selama proses pembelajaran. Peneliti juga bekerjasama dengan guru kelas A untuk melihat peningkatan hubungan social anak.

4. Refleksi

Hasil yang diperoleh dari tahap observasi dan tahapevaluasi dikumpulkan kemuadian dianalisis.Dengan demikian peneliti dapat melihat dan merefleksi apakah kegiatan yang telah dilakukan dapat meningkatkan hubungan sosial anak.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian ini adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis. Instrumen digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan suatu

(48)

32

masalah yang diteliti.Sesudah itu barulah dipaparkan prosedur pengembangan isntrumen pengumpulan data atau pemilihan alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian. Dengan cara ini akan terlihat pakah instrument yang digunakan sesuai dengan masalah yang diukur, paling tida ditinjau dari segi isinya. Pada penelitian ini, instrument yang digunakan adalah pedoman pengamatan. Pedoman pengamatan digunakan peneliti untuk panduan yang dapat membantu melakukan pengamatan agar lebih terarah dan sistematis. Data yang diperoleh selama observasi dapat memberikan informasi tentang seluruh proses pembelajaran.

Adapun instrumen yang digunakan dalam dalam penelitian iniyaitu lembar observasi (ceklist), sebelum melakukan observasi terlebih dahulu di buat lembar observasi sebagai panduan bagi peneliti dalam melakukan observasi.Lembar observasi digunakan peneliti untuk mencatat hasil observasi yang dilakukan selama pembelajaran berlangsung yang dilakukan langsung oleh peneliti.

F. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini digunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut : 1. Observasi, yaitu cara pengumpulan data dengan mengamati langsung di

lapangan. Teknik observasi ini dilakukan melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala pada obyek yang dilakukan secara lngsung di tempat kejadian. 2. Dokumentasi, yaitu cara pengumpulan data dengan mengumpulkan data

melalui keterangan secara tertulis yang merupakan dokumen-dokumen yang ada hubungannya dengan data yang dibutuhkan dalam penelitian.

(49)

G. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dankuantitatif.Sudjana (Nugraheni, 2014:40) meyatakan bahwa analisis data adalah suatu proses mengolah dan menginterprestasikan data dengan tujuan untuk menundukkan berbagai informasi sesuai dengan fungsinya sehingga memiliki arti yang jelas sesuai dengan tujuan penelitian.

Data yang dianalisis yaitu hasil yang diperoleh pada pelaksanaan pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan hubungan social anak di lapangan.Analisis data yang dilakukan oleh peneliti yaitu hasil penelitian pada tiap siklus.Peneliti membuat perbandingan persentase kemampuan anak sebelum tindakan dan sesudah tindakan dengan model pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan hubungan sosial anak. Adapun rumus yang digunakan untuk mencari persentase dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

P = x 100%

Keterangan:

f= frekuensi yang dicari presentasinya

N =Number of cases (jumlah frekuensi atau banyaknya individu) P=Angka presentsi

Arikunto (Nugeaheni, 2014:41) menyatakan bahwa data tersebut diinterprestasikan dalam empat tingkatan yaitu :

1. Kriteria baik, yaitu apabila nilai yang diperoleh anak antara 76-100 2. Kriteria cukup, yaitu apabila nilai yang diperoleh anak antara 56-75

(50)

34

3. Kriteria kurang, yaitu nilai yang diproleh anak antara 42-55

4. Kriteria tidak baik, yaitu apabila nilai yang diperoleh anak antara 0-40

H. Indikator keberhasilan

1. Indikator proses

Kriteria yang digunakan untukmengukur keberhasilan pembelajaran dapat dicermati melalui kegiatan guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Pada penelitian ini indikator proses kemampuan yang dilakukan dengan langkah-langkah seperti memilih masalah sederhana, mengamati, dan menganalisis, menentukan tema dan lingkup kegiatan, mengamati dan mengidentifikasi, dialog dan Tanya jawab, membuat kesimpulan sedrhana, memiliki presentase 100% dengan kriteria penilaian yang berbeda. Pada penelitian tindakan kelas proses keberhasilan guru berada pada skor keberhasilan , (1) sangat baik, (2) tidak baik, (3) baik dan (4) sangat baik.

2. Indikator Hasil

Sesuai dengan karakteristik penelitian tindakan kelas, dalam penelitian ini dinyatakn berhasil apabila ada perubahan atau peningkatan hubungan sosial anak setelah diberikan tindakan.Penelitian ini dinggap berhasil apabila memperoleh rata-rata 80%.

(51)

35 A. Deskripsi Lokasi Penelitian

RA Gerhana Alauddin merupakan Taman kanak-kanak yang beralamat di Jl.Mallengkeri Utara No. 1 kota Makassar. Lokasinya sudah termasuk strategis karena berada di tengah rumah warga, walaupun sekolahnya belum terlalu besar namun sudah cukup aman dan nyaman untuk di tempati belajar mengajar. Terdapat 4 ruangan yaitu kelompok A, kelompok B1, B2, dan Kantor, di luar kelas terdapat tempat bermainuntuk anak tempatnya cukup luas dan terdapat beberapa mainan seperti ayunan, jungkat-jungkit, perosotan dan panjatan.Model pembelajaran di RA Gerhana Alauddin yaitu model kelompok biasasanya anak duduk lesehan di karpet dan biasa juga menggunakan meja dan kursi.

Di RA Gerhana Alauddin anak – anak berbaris terlebih dahulu menyanyikan lagu-lagu anak, membaca surah-surah pendek, membaca hadist kemudian masuk kelas.

B. Deskripsi Subjek Penelitian

Setiap anak memiliki karakter yang berbeda, anak kelompok A di RA Gerhana Alauddin menyukai kegitan pembelajaran yang berupa permainan seperti berlomba, memasangkan gambar, tebak gambar, dan games. Hal ini terbukti saat anak diajak untuk mewarnai ada anak yang tidak ingin mewarnai ada anak yang mewarnai secara tergesa – gesa karena ingin segera bermain dan ada anak yang mewarnai tanpa mempedulikan aturan seperti tidak boleh melewati garis tidak

(52)

36

boleh memakai warna lain kecuali yang sudah di tentukan guru, akan tetapi ada anak yang tidak menghiraukan aturan tersebut hal ini dikarenakan agar pekerjaan anak cepat selesai dan segera bermain. Meskipun ada anak yang biasanya bermain bersama tetapi masih ada juga anak yang tidak ingin bermain bersama mereka lebih senang bermain sendiri dan tidak mau bergabung dengan yang lainnya.Anak kelompokA RA Gerhana Alauddin dijadikan salah satu alasan memilih model pembelajaran (make a match) untuk meningkatkan hubungan sosial anak.

Kemampuan anak sebelum tindakan, dalam diri anak memiliki hubungan sosial, akan tetapi hanya beberapa anak yang memiliki hubungan sosial yang baik hal ini terlihat pada saat proses pembelajaran ada anak yang tidak mau berbagi pewarna dengan temannya, ada anak yang tidak mau berdekatan tempat duduk dan ada anak yang tidak mau membantu menyelesaikan pekerjaan temannya walaupun diperintahkan oleh gurunya, dan pada saat mencuci tangan sebelum makan banyak anak-anak yang tidak mau mengantri menunggu gilirannya. Hal ini berdampak kurangnya hubungan social anak karena tidak semua anak mampu menyesuaikan diri, berbagi, bekerja samaataupun mengantri sesuai urutan.

C. Deskripsi Data Hubungan Sosial Anak Usia Dini 1. Data kemampuan awal / Pra Tindakan

Peneliti melakukan pengamatan awal sebelum dilaksanakan penelitian tindakan kelas.Pengamatan awal merupakan kegiatan pra tindakan yang dilaksanakan untuk mengetahui keadaan awal hubungan sosial anak menggunakan lembar observasi untuk mengungkap kemampuan hubungan sosial anak.

(53)

Hubungan sosial yang diamati oleh peneliti di fokuskan pada unsur menyesuaikan diri dengan situasi, mengantri sesuai urutan atau menuggu giliran, senang melakukan kegiatan bersama teman, serta senang berbagi, berdasarkan hasil observasi sebelum tindakan diperoleh hasil rata-rata 49,72%. Berikut merupakan tabel hasil observasi kemampuan hubungan social anak

Tabel.4.1 Hasil observasi kemampuan awal / pratindakan hubungan sosial anak

No Indikator Jumlah

Presentase (%)

Kriteria

1 Menyesuaikan diri dengan situasi 11,88%

Kurang

2 Mengantri / menunggu giliran 15,62%

3 Melakukan kegiatan bersama 13,75%

4 Berbagi 14,37%

Jumlah presentasi 55,62%

Presentasi Rata-rata 39,72%

Adapun hasil observasi kemampuan hubungan sosial anak sebelum tindakan yaitu pada indikator menyesuaikan diri memiliki jumlah presentase 11,88%, Pada indikator mengantri memiliki jumlah presentase 15,62 %, pada indikator bekerjasama memiliki jumlah presentase 12,86%, pada indikator berbagi yang memiliki jumlah presentase 13,75%. Berdasarkan data hasil observasi diketahui bahwa rata-rata kemampuan hubungan social anak sebelum tindakan/ pra tindakan berjumlah 14,37% dengan kriteria kurang, Masih jauh dari rata-rata yang di tentukan yaitu 80% dengan kriteria baik.

(54)

38

Dengan begitu perlu adanya tindakan selanjutnya yang akan meningkatkan hubungan sosial anak yang akan dilakukan pada siklus I. Maka peneliti melakukan tindakan untuk meningkatkan hubungan sosial anak, upaya yang dapat ditempuh sebagai acuan peneliti bersama pendidik kelompok A Di RA Gerhana Alauddin dalam merancang tindakan untuk kegiatan pada siklus I yang telah disepakati bahwa tindakan yang akan dilakukan untuk meningkatkan hubungan social anak yaitu melalui model pembelajaran (Make A Match). Pembelajaran Make A Matchyaitu kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok dengan menggunakan kartu yang terdiri dari kartu pertanyaan dan kartu jawaban. Anak dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok yang memegang kartu pertanyaan dan kelompok yang memegang kartu jawaban serta kelompok penilai atau tim penilai.

Dengan menggunakan model pembelajaran make a match ini diharapkan mampu meningkatkan hubungan social anak diantranya: menyesuaikan diri dengan situasi, mengantri sesuai urutan atau menunggu giliran, bekerjasama dengan teman, dan berbagi.

(55)

11,88% 15,62% 13,75% 14,37% 0 2 4 6 8 10 12 14 16 menyesuaikan diri mengantri kerjasama berbagi Presentasi hasil observasi pra tindakan kemampuan hubungan sosial anak

4.1 Gambar grafik pra tindakan

2. Data hasil tindakan siklus I

Penelitian dalam siklus I terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi, dimana pada siklus ini dilaksanakan tiga kali pertemuan, pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 21 Oktober 2019, pertemuan kedua 22 Oktober 2019, pertemuan ketiga 28 Oktober 2019. Berikut merupakan deskripsi pelaksanaan penelitian siklus 1.

a. Tahap Perencanaan

1. Menentukan tema

Peneliti dalam menentukan tema yang akan digunakan dengan menyesuaikan tema yang ada di RA Gerhana Alauddin. Tema yang digunakan adalah binatang dengan sub tema serangga dan tema tanaman dengan sub tema bunga

(56)

40

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian ini di susun oleh peneliti yang bekerjasama dengan pendidik. Peneliti dan pendidik berdiskusi tentang model pembelajaran Make A Match .

3. Menyiapkan media

Sebelum melakukan penelitian, peneliti mempersiapkan media untuk kegiatan pembelajaran yaitu gambar binatang serangga dan kartu gambar serangga, Gambar bunga dengan kartu warna dan gambar binatang dengan kartu gambar buah.Media yang dibuat peneliti di kreasikan agar menarik minat anak misalnya menambahkan stik eskrim pada kartu gambar agar menarik perhatian anak untuk menggunakan media tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini:

4.2.Media gambar binatang dan kartu gambar

Setelah menggunakan media gambar binatang dan kartu gambar binatang selanjutnya dilakuan pembuatan media yang disesuaikan dengan tema yang sedang berlangsung yaitu tema tanaman sub tema bunga dengan media gambar bunga dan kartu warna seperti gambar berikut ini.

(57)

4.3.Media gambar bunga, kartu gambar dan kartu warna

Setelah menggunakan media gambar binatang dan kartu gambar binatang selanjutnya dilakuan pembuatan media yang disesuaikan dengan tema yang sedang berlangsung yaitu tema tanaman sub tema buah dengan media gambar buah dan kartu gambar buah seperti gambar berikut ini.

4.4.Media gambar binatang memakan buah dan kartu gambar

5. Mempersiapkan instrument

Penelitian ini menggunakan lembar observasi berbentuk ceklist. Lembar observasi digunakan untuk mengukur kemampuan hubungan social anak pada proses pembelajaran.

(58)

42

b. Tahap tindakan

Proses tindakan siklus I terdiri dari pertemuan 1, pertemuan 2, dan pertemuan 3 yang terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir. Siklus I menggunakan tema binatang dengan sub tema serangga dan tema tanaman dengan sub tema bunga .deskripsi tiap pertemuan sebagai berikut :

1. Pertemuan 1

Pertemuan 1 siklus 1 dilaksanakan pada hari senin tanggal 21 oktober 2019.Kegiatan yang dilakukan pada siklus 1 pertemuan 1 sebagai berikut :

a) kegiatan awal

kegiatan awal dimulai dengan anak di ajarkan menulis dan membaca kemudian setelah lonceng dibunyikan anak berbaris di depan kelas digabung kelompok A, kelompok B1 dan kelompok B2 menyanyikan lagu-lagu anak, membaca doa-doa pendek, membaca surah-surah pendek, dan membaca hadist. Setelah itu siswa berbaris masuk di kelasnya masing-masing. Sebelum melakukan kegiatan proses belajar mengajar guru menggambarkan terlebih dahulu dengan menggunakan metode bercakap-cakap, Tanya jawab tentang materi apayang akan dipelajari pada hari itu.Kegiatan pada pertemuan inidilakukan di luar kelas

b) Kegiatan inti

Pada kegiatan inti dilakukan sesuai dengan Rencana Kegiatan Harian yang dilakukan oleh pendidik dengan cara pendidik menjelaskan terlebih dahulu kegiatan belajar dengan menggunakan lembar kerja anak yaitu mewarnai gambar kupu-kupu.

(59)

Pada kegiatan selanjutnya guru memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran make a matchpembelajaran ini dilakukan di dalam kelas. Peneliti terlebih dahulu menjelaskan aturan pembelajaran make a match yaitu memasangkan kartu gambar serangga dengan gambar tempat serangga, kemudian peneliti membagi 3 kelompok dan di atur berbentuk U, peneliti membagikan kartu gambar pada setiap anak yang yang sudah di tentukan kelompoknya, kemudian pendidik dan peneliti mempraktekkan cara melaksanakan kegiatan memasangkan kartu gambar, selanjutnya anak diminta untuk melakukan kegiatan memasangkan kartu gambar dengan membunyikan peluit sebagai tanda memulai kegiatan, selanjutnya anak yang ada pada kelompok penilai menilai hasil kartu yang telah dipasangkan pada setiap pasangan dan pendidik menilai hasil kartu gambar yang telah dipasangkan serta jawaban dari kelompok penilai.

setelah anak selesai mengerjakannya anak mencuci tangan dan masuk ke dalam kelas berdoa sebelum makan dan minum kemudian makan bersama.

c) Kegiatan akhir

Kegiatan akhir dilakukan setelah proses belajar mengajar telas selesai. Guru besertapeneliti mengajak siswa untuk duduk melingkar di karpet guru menanyakan perasaan anak selama melakukan kegiatan pembelajaran, guru memberikan apresiasi kepada kelompok yang memasangkan kartu gambar dengan cepat dan benar, kemudian guru meberikan pesan-pesan kepada anak dan dilanjutkan dengan membaca doa bersama.

(60)

44

2. Pertemuan 2

Pertemuan 2 siklus I dilaksanakan pada hari selasa tanggal 22 Oktober 2019.Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam siklus 1 pertemuan ke-2 adalah sebagai berikut :

a) Kegiatan awal

kegiatan awal dimulai dengan anak di ajarkan menulis dan membaca kemudian setelah lonceng dibunyikan anak berbaris di depan kelas digabung kelompok A, kelompok B1 dan kelompok B2 menyanyikan lagu-lagu anak, membaca doa-doa pendek, membaca surah-surah pendek, dan membaca hadist. Setelah itu siswa berbaris masuk di kelasnya masing-masing. Sebelum melakukan kegiatan proses belajar mengajar guru menggambarkan terlebih dahulu dengan menggunakan metode bercakap-cakap, Tanya jawab tentang materi apa yang akan dipelajari pada hari itu yaitu binatang serangga. Kegiatan pada pertemuan ini dilakukan diluar kelas.

b) Kegiatan inti

Pada kegiatan inti dilakukan sesuai dengan Rencana Kegiatan Harian yang dilakukan oleh pendidik dengan cara pendidik menjelaskan terlebih dahulu kegiatan belajar dengan menggunakan lembar kerja anak yaitu menggunting dan menempel gambar kupu-kupu.

Pada kegiatan selanjutnya pendidik dibantu oleh peneliti menjelaskan terlebih dahulu aturan pembelajaran make a match yaitu memasangkan kartu gambar serangga dengan gambar tempat serangga misalnya gambar kupu-kupu dipasangkan dengan gambar bunga, kemudian peneliti membagi 3 kelompok dan

Gambar

Gambar 4.5. Hasil kemampuan Hubungan Sosial Anak Siklus I
Gambar 4.7.hasil kemampuan Hubungan sosial anak siklus II
Gambar 4.8.  Peningkatan  Hasil kemampuan Hubungan Sosial anak Siklus I dan  Siklus II
Tabel  4.6.peningkatan  kemampuan  hubungan  sosial  anak  pra  tindakan,  siklus I dan siklus II
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini merupakan Penelitia n Tindakan Kelas (PTK) yang berjudul “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Menulis Puisi Melalui Metode Outdor Study dengan

Dari hasil Analisa uji hipotesa diata dapat disimpulkan bahwa (1) Tai chi efektif menurukan tekanan darah pada lansia penderita hipertensi; (2) Tai chi efektif menurunkan

Sel-sel MSC yang diperoleh dari sumsum tulang manusia, tikus, dan mencit dapat menghasilkan beberapa jenis sel saraf sehingga dapat digunakan untuk terapi pada beberapa

Untuk lebih memusatkan penelitian pada pokok permasalahan, dan untuk mencegah terlalu luasnya pembahasan yang mengakibatkan terjadinya kesalahan interpretasi terhadap

Diagram 2 memperlihatkan bahwa, secara umum, pelaksanaan kelas berbahasa Inggris dalam pembelajaran pemrograman komputer cukup memberikan dukungan bagi peningkatan kemampuan

Analysis of data in the Unified Database for Social Protection Programs according to the sex of the head of the household and where possible, other members of

Berdasarkan permasalahan dan sistem yang berjalan saat ini maka, solusi yang ditawarkan adalah suatu perubahan sistem informasi layanan persidangan yang ditampilkan

Kemudian dari tumpukan data teks tweet tersebut dilakukan pembobotan setiapkata (term) yang kemudian hasil pembobotan tersebut diolah dengan algoritma C4.5 untuk