BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Tulisan ini dibuat untuk menjawab beberapa permasalahan hukum yakni, Seberapa pentingkah peran otopsi dalam menentukan sebab kematian dari
korban kejahatan?
Apakah keluarga korban kejahatan yang meninggal dunia seharusnya dapat menolak permohonan otopsi dalam rangka pembuktian?
Apa yang dimaksud dengan “Perlu” dalam peraturan atau petunjuk internal kepolisian mengenai Otopsi.
Setelah melakukan analisis terhadap pertanyaan hukum yang telah dipaparkan diawal penulis dapat menyimpulkan, untuk menjawab pertanyaan hukum pertama yakni seberapa pentingkah peran otopsi dalam menentukan sebab kematian dari korban kejahatan.
Dalam suatu perkara pidana, yang pertama kali dilakukan oleh para polisi adalah menyelidik. Penyelidikan berarti serangkaian tindakan mencari dan
menemukan sesuatu keadaan atau peristiwa yang berhubungan dengan kejahatan dan pelanggaran tindak pidana atau yang diduga sebagai perbuatan pidana. Dalam proses penyelidikan, polisi akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah perkara tersebut merupakan perkara pidana atau bukan perkara pidana.
Pada penyelidikan akan dilanjutkan dengan penyidikan yang mana kewenangan dari penyidik lebih luas lagi karena telah memuat upaya paksa berupa penangkapan, penahanan, penggeledahan, penyitaan dan seterusnya sebelum akhirnya penyidik menyusun sebuah surat Berita Acara Pemeriksaan yang nantiknya akan diperiksa Jaksa dan dijadikan surat dakwaan. Sehingga Berita Acara Pemerikasaan penting dilakukan secara teliti dan menyeluruh agar nantinya Surat Dakwaan yang dibuat lengkap dan memperkecil kemungkinan adanya NO atau eksepsi obscuur libel (dakwaan kabur) terhadap surat dakwaan tersebut. Otopsi diletakkan pada proses penyidikan karena untuk otopsi sendiri memiliki persamaan-persamaan dengan penggeledahan khususnya penggeledahan rongga badan yang merupakan salah satu upaya paksa yang ada pada tahapan penyidikan. Selanjutnya dalam Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan di Pasal 10 mengenai keperluan administrasi penyidikan pada nomor 50 dan 51 menyebutkan surat permintaan bantuan laboratorium foresik dan surat hasil pemeriksaan laboratorium forensik termasuk dalam bagian administrasi penyidikan.
Berkaitan dengan pertanyaan hukum pertama, Otopsi memiliki banyak fungsi bagi untuk mengungkap kebenaran. Dengan dilakukannya otopsi maka dapat
berkaitan pula dengan locus delicti dan tempus delicti dari perkara tersebut yang merupakan sangat penting dalam sebuah kasus pidana.
Locus delicti dibutuhkan untuk mengetahui yurisdiksi hukum yang berada di wilayah manakah yang berwenang untuk menyelesaikan perkara tersebut sementara tempus delicti berlaku untuk menentukan hukum apakah yang berlaku pada saat kejadian tersebut berlangsung. Karena seseorang harus dihukum sesuai dengan apa yang dilakukannya menurut hukum yang berlaku pada saat peristiwa tersebut berlangsung.
Pada Pasal 133 KUHAP mengatakan bahwa petugas mempunyai kewenangan untuk meminta bantuan forensik berupa otopsi terhadap korban baik luka, keracunan atau mati karena peristiwa yang merupakan tindak pidana. Dalam suatu peristiwa tindak pidana terkadang ada kasus yang tidak dapat dipecahkan hanya melalui pemeriksaan luar. Apalagi ketentuan hukum acara pidana di Indonesia mengharusskan adanya minimal 2 barang bukti dan keyakinan hakim. Dalam hal ini dengan dilakukannya Otopsi maka sebab kematian dari korban dapat diketahui secara jelas. Hasil otopsi yang berupa surat nantinya akan dibacakan oleh dokter forensik dan menjadi keterangan ahli. Selain itu, hasil otopsi juga akan menambah keyakinan hakim yang juga merupakan hal yang penting dalam persidangan. Jika terhadap mayat tidak dilakukan otopsi maka tidak jelas pula penyebab kematian dari orang tersebut. Mengingat asas “in dubio pro reo” yang di kenal di Indonesia, yakni jika ada keragu-raguan maka harus diputus hal-hal yang menguntungkan terdakwa. Maka keberadaan otopsi ini sangatlah penting dalam proses penyidikan dan pembuktian.
Sementara untuk menjawab pertanyaan hukum yang kedua yaitu mengenai apakah diperbolehkan bagi keluarga untuk menolak otopsi yang hendak dilakukan terhadap korban kejahatan yang tekah dipertanyakan dalam pertanyaan hukum kedua yaitu apakah keluarga korban kejahatan yang meninggal dunia seharusnya dapat menolak permohonan otopsi dalam rangka pembuktian?
Hal ini tidak ada aturannya secara tertulis dalam rumusan pasal di KUHP dan KUHAP. Hanya saja dalam Pasal 134 KUHAP dirasakan ada ambiguitas sehingga banyak yang beranggapan bahwa izin dari keluarga merupakan hal yang penting dalam melakukan otopsi. Dalam ayat (1) dari pasal 134 KUHAP juga menyisipkan kata “dalam hal sangat diperlukan di mana untuk pembuktian bedah mayat tidak mungkin dapat dihindari lagi” tidak ada penjelasan lebih lanjut bagaimana dan apa yang dimaksud “keadaan yang tidak dapat dihindari”. Dalam Pasal 134 KUHAP sama sekali tidak ada takaran yang pasti terhadap kasus sehingga penyidik menilai kasus-kasus secara subjektif mengenai kasus mana yang perlu dilakukan otopsi terhadapnya atau yang tidak perlu dilakukan otopsi.
Dalam Pasal 134 KUHAP tepatnya padal ayat 3 secara tersirat seakan memperbolehkan untuk tidak dilakukannya otopsi karena dengan rumusan pasal ini tidak mengatur jika adanya tanggapan dari keluarga namun tanggapan tersebut adalah penolakan. Pasal ini hanya mengatur jika tidak ada tanggapan dari keluarga maka otopsi akan dilakukan. Dengan adanya ketidak jelasan ini maka masih banyak yang beranggapan bahwa penolakan otopsi yang dilakukan oleh keluarga dapat dilakukan. Padahal perlu diingat bahwa dalam Hukum Pidana yang
merupakan Hukum Publik yang berarti Pemangku ius puniendi ialah negara sebagai perwakilan masyarakat hukum. Sifat hukum publik adalah:
1. Suatu tindak pidana itu tetap ada, walaupun tindakannya telah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari korbannya;
2. Penuntutan menurut hukum pidana, tidak digantungkan kepada keinginan dari orang yang telah di rugikan oleh suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh orang lain. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa
3. Biaya penjatuhan pidana dipikul oleh negara sedangkan pidana denda dan perampasan barang menjadi menjadi penghasilan negara.
Menurut Wirjono Prodjodikoro, hukum pidana dapat dinyatakan merupakan hukum publik. Hal ini didasarkan pada hubungan hukum yang diatur dalam hukum pidana. Titik beratnya tidak berada pada kepentingan individu, melainkan pada kepentingan-kepentingan umum. Sifat ini dapat dilihat pada hukum pidana, yaitu dalam hal penerapan hukum pidana pada hakekatnya tidak tergantung kepada kehendak seorang individu, yang in concreto langsung dirugikan, melainkan diserahkan kepada pemerintah sebagai wakil dari kepentingan umum.
Dengan penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa kewenangan korban diserap habis oleh negara sehingga seharusnya tidak perlu ada izin keluarga terlebih dahulu untuk negara melakukan suatu hal berkaitan dengan penyelesaian kasus pidana karena negaralah yang mewakili korban bukanlagi korban itu sendiri atau keluarga korban.
Berkaitan dengan pertanyaan hukum terakhir, Penulis tidak menemukan peraturan yang secara jelas mengatakan penolakan keluarga dalam rangka dilakukannya otopsi dapat menghambat jalannya otopsi. Secara umum peraturan-peraturan internal kepolisian hanya memuat prosedur yang harus dipenuhi ketika hendak dilakukannya otopsi.
Hanya satu peraturan kapolri yang mengatur tentang penolakan keluarga terhadap otopsi yakni Instruksi Kapolri Nomor Pol : Ins/E/20/IX/75. Dalam Instruksi Kapolri ini dengan tegas menyatakan bahwa setiap kasus yang korbannya meninggal dunia harus dilakukan Otopsi dan tidak diperbolehkan untuk dilakukan hanya pemeriksaan luar saja. Namun kenyataanya banyak sekali kasus dimana kepada mayat korban hanya dilakukan pemeriksaan luar saja. Hal ini tidak bisa dipermasalahkan karena kekuatan dari Instruksi Kapolri ini pun tidak memaksa penyidik sehingga jikalau Instruksi ini diabaikan pun penyidik dapat melanjutkan penyidikan.
Dalam Butir 6 diperjelas bahwa keluarga yang keberatan jika dilakukan otopsi maka perlu untuk diberi tahu perihal perlu dan pentingnya otopsi untuk kepentingan penyidikan dan bila keluarga masih menolak untuk dilakukannya otopsi maka Pasal 222 KUHP dapat ditegakkan.Namun, pada prakteknya meskipun ada penolakan dari keluarga yang menghalangi proses otopsi tetap saja Pasal 222 KUHP tidak pernah ditegakkan karena masalah yang subjektif yaitu rasa kemanusiaan.
Alasan yang biasa digunakan oleh keluarga dalam penolakan otopsi adalah alasan karena agama. Untuk agama Islam ada anggapan bahwa memecahkan tulang mayat sama saja dengan memecahkan tulangnya semasa hidup. Namun perihal ini telah dikeluarkan sebuah fatwa oleh Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syarak Departemen Kesehatan RI Nomor 4 Tahun 1955. Fatwa tersebut menjelaskan bahwa untuk kepentingan peradilan maka otopsi diperbolehkan untuk dilakukan. Sehingga untuk yang beragama islam tidak diperkenankan untuk menggunakan alasan keagamaan. Walaupun dalam fatwa itu sendiri tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai “darurat” yang tercantum dalam fatwa tersebut namun jika penyidik telah meminta izin dilakukannya otopsi dapat dianggap bahwa hal tersebut penting untuk dilakukan mengingat untuk saat ini belum ada peraturan yang memberikan syarat atau kriteria mengenai kasus-kasus yang harus dilakukan otopsi.
Sementara untuk pertanyaan hukum nomer tiga yaitu, Apa yang dimaksud dengan “Perlu” dalam peraturan atau petunjuk internal kepolisian mengenai Otopsi dan praktinya di lapangan,
Melalui Interview yang telah dilakukan, petugas menentukan apakah otopsi harus dilakukan secara subyektif perkasusnya dan sama sekali tidak ada kriteria khusus dalam peraturan kepolisian mengenai keadaan seperti apa saja sehingga bisa diajukan otopsi.
Penulis juga tidak menemukan peraturan internal kepolisian Indonesia yang mengatur keadaan seperti apa yang bisa diajukan otopsi. Bisa dikatakan bahwa
tidak ada peraturan kepolisian yang memberikan arti kata “perlu” atau dibutuhkan untuk dilakukan otopsi.
Seringkali peraturan kapolri sendiri tidak dilaksanakan dalam praktek contohnya dalam kasus Mirna Salihin dimana seharusnya sampel yang diambil dari korban keracunan sudah tertulis standarnya di Peraturan Kapolri terdapat tata cara pemeriksaan barang bukti keracunan pada paragraf 3 pasal 59 (2) Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Tata Cara dan Persyaratan Permintaan Pemeriksaan Teknis Kriminalistik Tempat Kejadian Perkara dan Laboratoris Kriminalistik Barang Bukti Kepada Laboratorium Forensik Kepolisian Negara Republik Indonesia namun yang diambil hanya sampel lambung saja. Sehingga tidak bisa diketahui dengan pasti penyebab kematian Mirna Salihin.
Dalam praktek terjadi pula oknum polisi yang meminta biaya otopsi kepada keluarga korban. Hal ini menyebabkan keluarga semakin enggan untuk mempersilahkan anggota keluarganya yang meninggal secara tidak wajar untuk dilakukan otopsi. Dengan adanya perlakuan ini pula dapat memberikan kesan bahwa kekuatan mengikat otopsi sendiri lemah karena jika keluarga tidak bisa membayar maka otopsi bisa untuk tidak dilakukan. Keluarga seakan diberikan pilihan untuk menolak dilakukannya otopsi.
Seperti yang telah dijabarkan pada bab-bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa otopsi sangat dibutuhkan dalam hal oembuktian dimana banyak sekali hal-hal yang dapat diungkap dan diketahui dalam hasil otopsi.
Sementara itu, pihak yang berwenang untuk mengajukan otopsi adalah penyidik yang akan diajukan ke dokter forensik. Dalam hal ini, penyidik pula yang akan menentukan apakah terhadap mayat untuk suatu kasus tertentu harus dilakukan otopsi atau tidak. Namun, dengan adanya fakta bahwa fungsi otopsi itu sangat banyak untuk mengungkap kebenaran dan juga dengan adanya KUHAP yang menyatakan bahwa otopsi harus dilakukan sebagaimana tertulis dalam pasal 133 KUHAP serta instruksi kepolisian yang mengharuskan dilakukannya otopsi terhadap korban kejahatan yang meninggal dunia maka dapat disimpulkan bahwa otopsi sebenarnya adalah mutlak untuk dilakukan dan prosesnya tidak bisa diintervensi oleh siapapun. Adapun pemberitahuan secara persuasif terhadap keluarga hanya berfungsi agar keluarga memahami dengan betul proses otopsi serta fungsi-fungsi dari otopsi tersebut dan jika setelah cara persuasif tersebut dilakukan keluarga tetap menolak, tetap saja penyidik dapat melakukan proses otopsi tersebut.
Namun, seperti yang telah dijelaskan diatas pula dapat dilihat bahwa rumusan hukum pada KUHAP dan peraturan kapolri itu sendiri tidak begitu jelas sehingga banya yang menafsirkan bahwa proses otopsi dapat ditolak oleh pihak keluarga korban. Sehingga walaupun otopsi itu merupakan proses yang wajib dilakukan malah banyak sekali untuk tidak dilakukan pada faktanya dengan berbagai alasan. Sehingga dalam hal ini, penting untuk dilakukannya perbaikan aturan khususnya mengenai otopsi ini.
5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan oleh penulis mengenai permasalahan yang telah dibahas adalah :
Mengingat banyaknya kegunaan otopsi dalam proses acara pidana, perlu adanya revisi KUHAP mengenai pengaturan otopsi yang menjadi multi tafsir ini. Namun, mengingat untuk perubahan undang-undang harus dilalui dengan proses yang panjang dan lama maka dapat dikeluarkan peraturan kapolri yang secara khusus mengatur mengenai otopsi secara khusus dan lengkap sehingga memudahkan petugas untuk menjalankan tugasnya. Salah satunya mengeai tindakan persuasif yang diberikan kepada keluarga korban memang perlu diberikan namun keputusan yang diberikan keluarga korban setelah dilakukannya tindakan persuasif harus tidak mempengaruhi proses otopsi yang akan dilakukan. Selanjutnya diharapkan kedepannya penyidik dan petugas lainnya menghormati pula peraturan kapolri yang ada mengenai tata cara dan syarat penyidikan dan pembuktian sehingga ketika kasus sudah sampai ke kejaksaan tidak kekurangan suatu apapun karena bisa jadi ada kesalahan atau kekurang telitian jaksa untuk memeriksa kelengkapan khususnya barang bukti. Walaupun peraturan kapolri memang tidak mengikat, diharapkan polisi menghormati peraturan kapolri yang telah dibuat khususnya mengenai forensik yang kerap kali diabaikan oleh pihak penyidik. Perlu adanya hukuman bagi petugas yang tidak menjalankan tugasnya sesuai prosedur
Untuk persoalan penolakan keluarga, jika sudah ada perubahan peraturan kapolri dan atau KUHAP maka persolan penolakan keuarga dapat diselesaikan. Selain itu Perlu dipertanyakan apa kekuatan hukum dari surat penolakan otopsi. Jika memang otopsi harus dilakukan maka sudah seharusnya surat penolakan otopsi tersebut dihapuskan atau tidak diberikan dengan mudah karena surat itu justru akan menimbulkan asumsi untuk masyarakat bahwa penolakan otopsi boleh dilakukan oleh keluarga. Perlu adanya peraturan yang berisikan mengenai syarat-syarat atau kriteria
seperti apa yang wajib dilakukan otopsi secara jelas seperti yang dilakukan negara-negara lain yang telah disebutkan sebelumnya walaupun nantinya penyidiklah yang akan menentukan apakah terhadap mayat tersebut perlu untuk dilakukan. Norma yang dimaksud dapat dituliskan sebagai berikut: “Otopsi wajib dilakukan manakala bahwa penyebab kematian hanya dapat diperoleh secara meyakinkan melalu otopsi”. Dengan rumusan pasal yang tegas seperti ini tentunya akan mempercepat proses penyidikan dan juga memperkecil kemungkinan adanya oknum-oknum yang berusaha mencari celah. Seperti oknum polisi yang mencoba memungut dana dari otopsi akan lebih sulit karena jika dalam keadaan tertentu mayat tersebut harus segera diotopsi dan tidak menunggu lama, oknum polisi tersebut tidak akan bisa menunggu keputusan atau bayaran dari keluarga korban.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU DAN JURNAL
Abdul Mun’im Idries., Indonesian X-Files, PT Mizan Publika, Jakarta, 2014. Abdul Munim Idries, et al, Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik Dalam
Proses Penyidikan, Sagung Seto : Jakarta 1982.
Adami Chamzawi, Pelajaran Hukum Pidana 1, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2005.
JCT Simorangkir, et al, Kamus Hukum, Sinar Grafika, Jawa Barat, 2015.
KOMPOLNAS, Djokosuseno Research Center (FH UI), Revisi KUHAP
mengenai Upaya Paksa (1), Jakarta, Desember 2010.
Musa Perdanakusumah, Bab-bab Tentang Kedokteran Forensik, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1984.
M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP :
Penyidikan dan Penuntutan, PT. Sinar Grafika, Jakarta. 2000.
Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP :
Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali, PT. Sinar Grafika : Jakarta, 2000.
R. Abdussalam, et al, Buku Pintar Forensik (Pembuktian Ilmiah), PTIK Press, Jakarta. 2014.
R.Soeparmono, Keterangan Ahli & Visum et Repertum dalam Aspek Hukum Acara Pidana, Cv. Mandar Maju, Bandung,2011.
Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif : Suatu tinjauan Singkat, Rajawali Press, Jakarta, 2012.
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Press, Jakarta, 1986.
Al-Syinqithi, Ahkam Al-Jirahah Al-Thibiyah, hlm. 170;Nasyrah Soal
Jawab, 2/6/1970).
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DAN LAN-LAIN
KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA
KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM ACARA PIDANA
Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Tata Cara dan Persyaratan Permintaan Pemeriksaan Teknis Kriminalistik Tempat Kejadian Perkara dan Laboratoris Kriminalistik Barang Bukti Kepada Laboratorium Forensik Kepolisian Negara Republik Indonesia
Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan
2014 Louisiana Laws Revisied Statutes TITTLE 13 – Courts and Judicial Procedure, RS 13:5713-Duty to hold autopsies, investigations, etc.
New York State Law
SUMBER DARI INTERNET
http://news.detik.com/ http://www.republika.co.id/ http://www.beritasatu.com/ http://megapolitan.kompas.com/ http://www.cirebontrust.com/ http://www.tabloidlintas.com http://bangka.tribunnews.com/ http://korankito.com/ https://www.downstate.edu https//law.justia.com/codes/louisiana/2014.code-revisedstatutes/title-13/rs-13-5713 http://www.hukumonline.com/ https://beritasumut.com/