• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PERGANTIAN JARING TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN KERAPU LUMPUR Epinephelus sp. DALAM KERAMBA JARING APUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH PERGANTIAN JARING TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN KERAPU LUMPUR Epinephelus sp. DALAM KERAMBA JARING APUNG"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Yuliansyuh, H. dan Khalih, A.

PENGARUH

PERGANTIAN JARING TERHADAP

PERTUMBUHAN

DAN SINTASAN

KERAPU LUMPUR

Epinephelus

sp.

DALAM KERAMBA JARING APUNG

Hazmi

Yuliansyahl

dan

Abdul Khalik*)

ABSTRAK

Budidaya ikan di laut selalu ditempeli oleh aneka jasad air biof'ouling pada badan jaring sehingga dapat mernpengaruhi sirkulasi dan nrenimbulkan kerusakan. Penelitian i1i bertujuan

untuk mengetahui pengaruh frekuensi pergantian keranrba jaring apung terhadap pertumbuhan dan sintasan ikan kerapu lumpur [ipinelth.elus sp. Penelitian di]aksanakan selarna tiga bulan

dengan menerapkan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan adalah frekuensi pergantian jaring sebagai berikut: A. 2 minggu sekuii; B. 4 minggr sekali dan C' 8 minggu sekali. Kerarnba jaring apung yang digunakan berukuran 2 x 2 x 2,5

n

(volunre air

efektif sekitar 8 m) dan ditebari ikan kerapu lumpur dengan kepadatan 50 ekor/keramba. Hewan

uji diberi pakan ikan rucah sebanyak b% bobot ikan per hari.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi pergantian jaring selanra 2 nringgu sekali nrenghasilkan pertumbuhan mutlak dan sintasan terbaik. Laju pertumbuhan harian dan konversi

pakan lidak berbeda nyata (P>0,05) antara perlakuan A dengan perlakuan B dan C, Tinekat

sintasan berbeda nyata (P<0,05) antar perlakuan dan berkisar antara 69-96%.

Kualitas air yang diumtrti selamu penelitiun masih beruda puda kisarun yang layak untuk

urendukung kehidupan dan pertr.unbuhan ikun nji.

ABSTRACT:

The Effects of Net Replacernent

in

Floating Net Cageson the Growth and

Survival

Rate of Grouper EpineltlrcIus sp. By.' Hazmi Yuliansyalt and Abdul Khalih.

The marine cultured iu floating net cages always attached of biofouling so that it's can to effect for water sirculation and darnage the floating net cages. The aim of this experirnent was to know

the effect of net replacernent in floating net cages on the growth and survivul rate of grouper Epin'eplnlus sp. The net in the floating net cages were replaced every: (a) 2 weeks, 1b) 4 weeks and

(c) 8 weeks. Groupers with density of 50 individual per cage were fed with trash fish at 5% of fish

biomass. Each tretrtment has three replicates and was applied in randornized. experimental

desierr.

The best piowth rate was achieved if the nets were replaced every two weeks, followed by foqr und eight weeks. However, there were no significunt rlifference (P>0,0b) rrnollg t6q treltlrepts fordtrilygrowthundfectl conversiou.rulio. Thcrurrgcofstu.vivul11[cirrI.lr. lr..rrtrrr..tswcr..Gg-96% and were siglif icant differenct (p<0,0b).

KEYWORDS:

PENDAHULUAN

Di

perairan

pantai

Kepulauan

Riau

usaha budidaya

ikan laut

mempunyai potensi untuk daerah kornersil narnun sarnpai seknrang usaha

tersebut

masih

rnengalami beberapa kendala.

Salah satu kendala yang dihadapi daiam

pen€iern-bangan usaha budidaya khususnya pernbesaran ikan kerapu adalah penempelan aneka jasad air

pada

jarine

(biofoulinB)

yang dapat

rnempe-ngaruhi

kualitas

air

dalarn kerarnba. Menurut Soeharrnoko (198G) dalarn budidaya ikan di laut

banyak rnenggunakarr

uraterial serta

berbagai konstruksi bangunan yang menjadi substrat bagi

')

Peneliti pada

t')

Peneliti pada

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Pada Marpoyan

(2)

hewan-hewan yang hidup di sekitar perairan ter-sebut. Hewan yang hidup menernpel selalu

rne-nimbulkan pengotoan dan pengrusakan terhadap substratnya.

Untuk

rnengatasi

hal

tersebut biasanya

di-lakukan

dengan cara pergantian

jaring

secara

periodik

dan

dapat

juga

dilakukan

dengan langsung menyikat badan kerarnba, akan tetapi cara

ini

dapat mengakibatkah terjadinya stress

pada

ikan

yang dibudidayakan sehingga akan menurunkan

nafsu

rnakan

ikan dan

sintasan ikan. Selanjutnya Shepherd dan

Niail

(1988)

rne-ngemukakan bahwa lumpur yang terlarut dalam

air juga membawa racun yang dapat

rnengakibat-kan

terganggunya

kehidupan

ikan

dalam keramba jaring apung.

Penelitian

mengenai penangkaran maupun pembesaran

kerapu lumpur

Epinephelus sp.

dalarn kerarnba

jaring

apung telah banyak di-lakukan tetapi penelitian tentang jasad penernpel terbatits pada penelitian

jenis

biottr penernpel pada

jaring

(Hutorno dan Darsono, 1980); jenis kerang

yang

menernpel

pada

badan kerarnba

jarirg

apung (Soeharmoko, 1986), dan pengaruh

ukuran

mata

jaring

ffihalik

dan

Yuliansyah.

1994). Penelitian

ini

ditujukan untuk mendapat-kan data dan informasi tentang waktu

pengganti-an jaring

yang

efektif

dan

efisien

untuk

me-ngurangi masalah jasad penempel pada budidaya

jaring apung i-kan kerapu.

BAHAN DAN

MEI'ODE

Penelitian dilakul<an di Selat Dompak, dengan menggunakan kerarnba

jaring

apung berukuran

2x2x

2,5 m selama 3 bulan. Ukuran rnata jaring

yang digunakan adalah 1,5 inci yang terbuat dari bahan

polietilin

dengan nornor benang 18

me-ngacu

hasil terbaik

dari

peneliitan

perbedaan

rnata jarinq yang telah diiaksanakan sebelurmya

(Khalik dan Yuliansyah. 1994).

Hewan

uji

yang

digunakan adalah kerapu

Iumpur

Epinephelus sp. dengan

kisaran

berat

200-300

grlekor.

Percobaan

diatur

dengan rancangan acak lengkap dengan

3

perlakuan penggantian jaring, yaitu : A. Jaring dibersihkan

2

minggu sekali;

B.

4

rninggu sekali dan C. 8 rninggu sekali, rnasing-masing dengan 3 ulangan.

Padat tebar ikan

uji

adalah 50 ekor&erarnba dan

pakan yang diberikan adalah

ikan

rucah

se-banyak 5% dari bobot total ikan diberikan 1

kaii

Jurnul Penelitian Perihanan Indone-sia Vol.lI No.4 Tahun l9g6

sehari.

Perubahan

jurnlah pakan

dilakukan setiap

bulan

setelah selesai penimbangan dan disesuaikan dengan perubahan bobot hewan uji.

Setiap

bulan seluruh

il<an

uji

ditirnbang dengan menggunakan timbangan

duduk

rnerk Kubota kapasitas 2

kg

dengan

ketelitian

0,1 g. Pertumbuhan

mutlak

dan kelangsungan hidup dihitung pada akhir penelitian. Laju

perturnbuh-an

harian dihitung

berdasarkan

rurnus

NRC (1983), sintasan dan rasio konversi pakan ber-dasarkan rurnus Sedgwick (19?g).

Rurnus Rasio l(onversi Pakan :

Berat pakau yang diberikan

p"rtiffi

Rurnus Laju Perturnbuhan Harian:

ABWI - ABWo x l(X)(Zr ABWo + ABWI Rumus Sintasan; SI

^

x l(X) %, )o

Untuk rnengetahui perbedaan pengaruh

per-lakuan

terhadap

perturnbuhan,

sintasan

dan rasio konversi pakan dilakukan sidik ragarn, dan data yang diperoleh sebelurnnya telah dilakukan

uji

nonnalitas dan hornogenitas.

iika

diperoleh pengaruh yarrg

nyata

dari

perlakuan yang di-cobakan, rnaka dilakukan

uji

Tuckey untuk

rne-ngetahui pengaruh perbedaan antar perlakuan. Pengarnatan

terhadap

tingkat

pengotoran jaring dilakukan dengan rnenimbang jaring yang akan digunakan (jaring bersih basah) dan setelah digunakan (jaring kotor basah). Sedangkan

iden-tifikasi

biofouling dilakukan

dengan rnengacu pada petrxrjuk Saunders (1970); Oliver (19?b) dan Sabelli (1979).

Untuk

rnengetahui kelayakan media air bagi sintasan

ikan

uji

rnaka dilakukan pemantauan terhadap beberapa peubah

kualitas

air

seperti salinitas, suhu, oksigen

terlarut,

C02 bebas, pH, kecerahan air, kedalarnan dan kecepatan arus.
(3)

Yuliunsyah, H. dan l(halih, A.

HASIL

DAN PEMBAHASAN

Hasil penganratan pertumbuhan bobot ikan

uji

selarna 3 bulan membuktikan bahwa frekuensi pergantian jaring 2 minggu sekali lebili baik dari

pada frekuensi pergantian jaring 4 rninggu dan 8

rnilggu sekali. Perturnbuhan bobot individu ikan

pada frekuensi pergantiau jaring 2 rninggu sekali

rnencapai 0,60 g disusul perlakuan 4 minggu dan

8 rninggu sekali per hari rnasing-rnasing 0,50 dan

0,56 g (Figure 1).

tr'2

rvI \\( )

Tinrc (rrrotrllrs)

Absolute growth of grouper Epineplrclus sp. at different net replacetnent frequencies.

Figure 1

Dari

Table 1 diketahui bahwa perturnbuhan

bobot mutlak ikan uji pada perlakuan A, B dan C

rnenunjukkan peningkatan. Perlakuan

A

rneng-alarni pertarnbahan bobot dan panjang rata-rata

sebesar 54,03 g (0,60 g/hari) dan panjang 4,48 crn

(0,05 cmihari), untuk perlakuan B sebesar 45,00

g

(0,50 g/hari) dan 2,81 cm (0,03 crn/h.ari), dan perlakuan C sebesar

5I,2I

g (0,57 g/trari) dan 1,54

cm

(0,02 crn/hari).

Hal

ini

diduga

sirkulasi

air

dalam keramba pada perlakuan A lebih baik dari perlakuan B dan C karena cepat dibersihkan dari penempelan jasad penernpel. Schmittou (1g91)

rnenyatakan

bahwa pergantian

air

dalarn

kerarnba yang ideal adalah minirnal sekali setiap setengah

atau

satu rnenit, sedangkan rnenurut Chan el ol. (1981) kecepatan arus air yang ideal untuk budidaya herarnba jaring apung adalah

l0

cur/detik, bahkan

untuk

ikan-ikan

iaut

dianiur-kan 20-40 cm/detik.

Berdasarkan

Table

/

perturnbuhan harian kerapu lumpur Epinephelus sp. untuk perlakuan

A

mempunyai pertumbuhan

harian

yang lebih

baik

dibandingkan perlakuan lainnya. Menurut Danakusumah dan

hnanishi

(1984)

nilai

rasio

perturnbuhan harian dari kerapu lumpur

Epine-phelus

tauuina

antara

0,59-1,89%

dari

bobot badan dan tergantung ukuran

ikan.

Selanjutnya

Homna,

(1971) menarnbahkan sernakin besar ukuran

ikan

nilai

rasio peturnbuhan harian

se-rnakin kecil. Apabila dibandingkan dengan hasil penelitian

ini,

Iaju perturnbuhan yang diperoleh lebihrendah, terutarna terhadap perlakuan B dan

C, hal irri disebabkan adanya rnortalitas temtarna ikan yang berukuran besar.

Nilai

konversi pakan (FCR) rnernperlihatkan tidak berbeda nyata antara ke tiga perlakuan (A,

B

dan C) yang

diteliti,

secara berurutan adalah 10,24 (9,6-11,2);

ll,I

(10,5-11,2)

dan

12,3

(11,9-12,5).

Menurut

Chua

dan

Teng (1978) rnakin besar pemberian

pakan,

nilai

konversi pakan semakin tinggi.

Di

sarnping

itu,

tingginya

nilai

konversi pakan

juga

disebabkan adanya pakan yang tidak dicerna (Sugarna, 1983) atau ukuran

dan

jenis pakan yang kurang disukai.

Dana-kusumah dan

Imanish,

(1984) mengernukakan

bahwa dengan

bertarnbahnya

bobot

badan konversi pakau per hari akan menurun.
(4)

Jurnal Pene|itiun Pc.rihunu^. Ind.trrzsia. l/ol.II No.4 Tah,rtn Ig!)(i

Table

1. Daily growth

rate, suruiual rate

and food

conuersion.

ratio of

grouper

at

different

replacement requencies for 3 months.

Variables Frequency of net replacernent

2 Weehs 4

Weehs

8 Weehs

Initial

weight Final weight

Weig!fi gain.

Suruiual rate Daily growth rate

Feed conuension ratio

Bimass production

4,860.00

5,223.42

730

69"

o.tr

0.r

11.1tr

r0,407.47

9.017.15

Note-: Mean ualttes in rlre surne rotu forktu,ted by sirnilur are not sig,ificantrl, rriffnre,t (p>0.0s). (g / ekor) (g / elzor) (g / ehor) (%) (%) (g / cage) 183.6 5 237.68 7,780.32

ef

0.5b 10.24 t 1,408.64 238.84 283.84 208.90 260.1

I

12.3r

Tingkat sirrtasan dalam penelitian

ini

cukup

baik, hal ini disebabkan padat tebar yang diguna-kan relati-f rendah (6 ekor per

m).

Menurut Chua dan Teng (1978) padat tebar optirnal adalah 60

ekor

per

m", dan semakin tinggi

jumlah

padat penebaran angka kernatian cenderung rnening-kat.

Di

samping

itu,

selama penelitian terhadap

ikan uji

yang terinfeksi penyakit (berdasarkan tanda-tanda klinis), se gera dilakukan p engob a tan

dengan menggunakan antibiotik rnelalui cara

pe-nyuntikan.

Bobot

jaring

yang terberat

(bobot

jaring sesudah

digunakan dikurangi

jaring

sebt:hurr

digunakan) selarna

penelitian

didapatkan pada perlakuan C,

yaitu

sebesar 7,3

kg diikuti

oleh perlakuan B, yaitu sebesar 3,8 kg dan perlakuan A sebesar 2,2kg (Table 2).

Pertumbuhan

jasad

penempel

pada

badan keramba setiap

bulan

menunjukkan pola yang

sarna baik jenis rnaupun jumlah individunya, iral ini dapat di

iihat

pada Table 3. Pada perlakuan C

jasad penernpel lebih beragam baiJr spesies

lnau-pun jumlah

individunya. Jenis jasad penernpel diternukan pada masing-masing perlakuan dike-lompokkan

ke

dalam

famili

Pinnidae, Pteridae,

Ostreidae

dan

Balanidae.

Di

antara

keiompok

jasad

penempel

yang

rnenernpel didapatkan jurnlah Ostreidea dan Balanidae lebih dominan. Hutomo dan Darsono. (1980) melaporkan bahwa

kelornpok jasad penernpel

ini

rnerupakan biota yang dominan dan diternukan pada lapisan

ke-dalarnan antara 0-2 rn. Selanjutnya Soehannoko (1986) rnengernukkan

bahwa

kelornpok jasad penernpel

ini

kemungkinan besar dapat rnenim-bulkan gangguan terhadap ketahanan jaring dan tubuh ikan pun dapat terluka olehnya.

Kualitas

air

selarna penelitian yang rneliputi suhu, oksigeu

terlarut,

pI-I, aurouia, kecepatarr

arus dan salinitas ternyata rnasih dalarn kisaran yang layak

untuk

kehidupan dan perturnbuhan ikan kerapu lurnpur Epin.epltelus sp. Hal tersebut sesuai dengan h.ukurn toleransi (Shelford dalatn odum, 1971) bahwa toleransi suatu organisrna terhadap faktor lingkungan adalah terbatas dan

bila

melebihi

batas

tersebut rnaka organisrna

akan rnati.

Keadaan

biologis suatu

perairan sangat

ditentukan oleh

keadaan

fisika

kirnia perairan tersebut (Wardoyo, Ig77). Untuk jelas-nya hasil pengarnatan kualitas perairan selarna
(5)

Yuliansyuh, H. dan Khalih, A.

Table 2. Weight of floatinq nets in each tred,tn"rents before and after the experiment

Treatrnents Replicates Ob s eru

atiorts

( trt o

rttlt)

il

UI

2 Weehs 4 Weehs 8 Weelzs 2 ? Mean o 4 2 Mean I I c Mean 2.6 2.2 2.4 2.4 + 0.2 ,a 3.2 3.8 3.9 + 0.3 7.6 7.2 7.4 7.4 + 0.2 2.5 2.7 2.6 2.6 + 0.1 3.4 3.2 3.5 3.7 + 0.2 6.2 7.2 6.4 6.9 + 0.5 2.3 1.9 2.3 2.2 + 0.2 e, 3.6 3.4 3.8 + 9.1 7.5 7.3 7.1 7.3 + 0.2

Table 3. Tlrc total of biofouling for each treatments during experiment

Species 2 Weehs Treatrnent 4 Weehs 8 Weehs

Famili

Pinnidae Mytilidae Pteridae Ostreina Attenata Nobilis Mybilis

Trailli

Modiolus Hauentus Pen,quin Sterna Trapezina Folium Hyostis Narnades Crystagalli Balq.nus 22 7 4 2 6 2 24 15 4 2 4 2 1 137 14 2 2 4 I 17 12 2 2 3 11 2 4 14

I

72 Balanidae
(6)

Jurnal Penelitian Perihanan Inclonesiu Vtt.II No.4 Tahttn 1996

Table 4. Auerage of water quality uariables nxonitored during the experiment

Variables

Range Average

Salinity DO NH3

co2

pH

Water tem"perature

Air

ternperature Transparancy Depth Current uelocity 32.1 - 35.0 6.2 - 7.0 0.05 - 0.01 0.1 - 0.3 8.1 - 8.4 28.8 - 31.0 27.6 - 31.0 1.0 - 2.1 10.5 - 12.0 1.0 - 9.5 32.0 + 1.09 6.4 + 0.98 0.05 + 0.01 0.1 + 0.01 7.9 + 0.30 26.7 + 0.98 26.8 + 0.98 1.0 + 0.25 9.5 + 0.50 1.0 + 0.20 (ppt) (ppm) (pptn) (pptn)

(c)

(c)

(m) (m) (cm/s)

KESIMPULAN DAN SARAN

Perturnbuhan berat il<an kerapu Iumpur

Epi-nephelus sp. selama 3 bulan rnembuktikan bahwa pada pergantian

jaring

setiap

2

minggu, iebih baik daripada pergantian 4 minggu dan 8 minggu sekali.

Berdasarkan uji statistik tinghat sintasan ikan kerapu Iurnpur Epinephelu.s sp. berbeda nyata e<0,05) antar perlakuan dan berada pada kisar-an 69-96%.

Jenis jasad penernpel pada badan kerarnba didorninasi oleh kelornpok Pinnidae, Mylilidae, Pteridae, Ostreidae dan Balanidae.

Pergantian jaringpada perlakuan C (8 minggu

sekali)

mernperlihatkan

densitas

penernpelan

biofouling

yang tertinggi

dibandingkan pada perlakuanB (a minggu sekali) dan periakuan A (2

minggu sekali)

sehingga

dalam penelitian

ini

disarankan pergantian

jaring

setiap

2

minggu sekali.

DAPTAR PUSTAKA

Chan, W.L.L., B. TiensonErusmee, S. Pantjoprawiro

and T. Soedjarwo. 1981. Notes of site selection. FAO/UNDP Seafarming dev. Project. 24 - B0 pp.

Chua, T.E and S.K Teng. 1978. Effect

of

feeding frequency on the growth of young estuary grouper Epinephelus tauvina cultured in floating net cages. Aquaculture , 3l-47 .

Danakusumah,

E

dan

K.

Lnanishi. 19g4. On the

satiation of grouper EJtinepheh^ts tauuina. Laporan Penelitiun Perikanan Laut, B0 : 63-66.

Honma, A. L971. Aquaculture in Jupan FAO Associut-ion, Tokyo. 184 p.

Hutomo, M dan P. Darsono. 1g80. Penelitian rentang

biota penempel

di

perairan selat, Kijang, Riau. I(ongres Biologi Nusionul VL

Khalik, A dan H. Yuliansyah. 1994. Pengaruh ukuran

mata jaring terhadap kelangsungan hidup kerapu

lumpur Dpinelthelus sp. dalarn keramba juring

apung di Desa Dompuk, Kepulauan Riau. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Tanjung Pinang (belum dipublikasi).

National Research Council (NRC). 1983. Requirement of warm water fishes. National Academic Sciences. Washington D.C. 78 p.

Odum, E.P. 1971. Fundamentals of Ecology. Third edition, W.B. sounders company, Philadelphia, London.

Oliver, A.P.H. 1975. Shells of the world the Hamlvn

Publh. Group Ltd. London, 820 p.

Sabelli, B. 1979. Guide to shells. A fire side book. Sumion and Schuster Publh. New York, b12 p.

(7)

t ( .i,lia,/)

Saunders, G.D. 1970. Shells

in

hrtroduction to sea shells of the worlil. A Totem book, Toronto, 64 p. Schmittou, H.R. 1990. Petunjuk pemeliharaan ikan

omnivor carp, Catfrsh dan Tilapia dalam keramba di lingkungan kolam, danau dan waduk. Disajikan pada Temu Lapang

II

Teknik Builidaya Udang/

Ikan dalam keramba jaring apung (cage culture), Pare -pare, 11 Juli 1990.

Sedgwick, R.W. 1979. Influence of dietary protein and energ'y

on

growth, food consumption, and food conversion efficiency

irt

Punq.etts me.rgu,ensis l)e

munn. Aquaculture 16 : 7-30.

Shepherd, C.J and R.B.

Niall.

L988. Intensive fish

farming. BSP. Profssional Books, Oxford. 401 p. Soeharmoko. 1986. Beberapa jenis kerang Bivalva

yang

menempel pada kantong

jaring

tempat budidaya ikan di perairan Pulau Kelong,

Kecanrat-an

Bintan Timur.

Jurnal

Penelitian Budidaya Pantai, Vol.2 No. l. & 2. Halaman 99 -102.

Sugama,

K.

1983. Perturnbuhan ikan kakap nrerah Lutjanus altifrontalis dalam keramba jaring apung. Laporan Penelitian Perikanan Laut, 29 : 61 - 6g.

Wardoyo, S.T.H. 1972. Practical Limno-Biological methods water analysis rnanual. Series of lectures and instruction on training in reservoir biology and fisheries, IPB. Bogor, G4 p.

Gambar

Table  1. Daily growth  rate, suruiual rate  and food  conuersion.  ratio of  grouper  at  different
Table  3.  Tlrc total  of  biofouling  for  each  treatments during  experiment
Table  4.  Auerage  of water  quality  uariables  nxonitored  during  the  experiment

Referensi

Dokumen terkait

Memberikan masukan yang bermanfaat bagi Dinas atau Instasi terkait khususnya Komisi Penanggulangan Aids Kota Semarang dalam penanggulangan tingginya kasus HIV/AIDS

Jelasnya, bahwa konsep hukum dalam Alquran yang disertai sanksi, baik berupa sanksi duniawi mau pun sanksi ukrawi (neraka), adalah bertujuan untuk membatasi

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan hasil kerja yang telah dicapai seseorang dari tingkah laku kerjanya dalam

Analisa perhitungan rem menghasilkan gaya pedal yang dibutuhkan untuk mengerem saat jalan turun dengan sudut 10 o adalah 65,42 N, memiliki daya pengereman sebesar 1423,26

Pada hari ini Selasa tanggal Dua Puluh Delapan bulan Juni tahun Dua Ribu Enam Belas kami Pokja Pada BLUD RSUD Kabupaten Manggarai telah melaksanakan download dan pembukaan

observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena

Agar proses pembuatan dan pengiriman tagihan tidak dilakukan secara manual maka dikembangkan sebuah sistem otomatisasi tagihan yang memiliki tujuan secara otomatis membuat

Penelitian serune kalee dalam upacara intat linto baro masyarakat Aceh di Banda Aceh mengumpulkan kegiatan-kegiatan pelaksanaan iring-iringan menjadi data dan dideskripsikan