• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Program Pembiasaan Tadarus Al Quran terhadap Kecerdasan Emosional siswa di SMP Kemala Bhayangkari 1 Surabaya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengaruh Program Pembiasaan Tadarus Al Quran terhadap Kecerdasan Emosional siswa di SMP Kemala Bhayangkari 1 Surabaya"

Copied!
160
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PROGRAM PEMBIASAAN TADARUS

AL-QUR’AN TERHADAP KECERDASAN EMOSIONAL

SISWA DI SMP KEMALA BHAYANGKARI 1

SURABAYA

SKRIPSI

Oleh :

MOHAMMAD ANANG SYAHRONI

NIM: D01212089

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

2019

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

PENGARUH PROGRAM PEMBIASAAN TADARUS AL-QUR’AN TERHADAP KECERDASAN EMOSIONAL SISWA DI SMP KEMALA

BHAYANGKARI 1 SURABAYA Oleh:

Moh. Anang Syahroni ABSTRAK

Membaca Al-Qur’an merupakan perbuatan yang terpuji dan dimuliayakan oleh Allah SWT, sekalipun kita tidak memahami makna dari ayat Al-Qur’an tersebut itu bukan merupakan hal yang sia-sia, karena dengan membaca Al-Qur’an secara baik dan sungguh-sungguh akan mendapatkan banyak manfaat yang luar biasa, diantaranya ketenangan dan kedamaian dalam hati, karena dalam proses belajar seorang siswa pasti membutuhkan ketenangan dan kedamaian dalam hati dan fikiranya. Selain itu program pembiasaan tadarus Al-Qur’an juga memerikan pengaruh terhadap kecerdasan emosional siswa, karena dengan rajin membaca Al-Qur’an akan mampu mengendalikan emosinya dan mengarahkanya kepada hal yang positif, seperti bersikap tenang dalam menghadapi masalah, tidak ceroboh dalam mengambil keputusan, peka terhadap lingkungan sekitarnya dan selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Dalam penelitian ini, dilakukan pendekatan penelitian kuantitatif dengan analisis regresi linear sederhana. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII di SMP Kemala Bhayangkari 1 Surabaya dengan total 5 kelas. Sedangkan pengambilan sampelnya menggunakan teknik Simple Random Sampling, sehingga terpilih kelas VII-C dan VII-B yang berjumlah 46 siswa. instrument dalam penelitian ini adalah observasi, angket dan dokumentasi, instrument tersebut digunakan untuk mengambil data program pembiasaan tadarus al-Qur’an dan kecerdasan emosional siswa kelas VII di SMP Kemala Bhayangkari 1 Surabaya.

Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel program pembiasaan tadarus Al-Qur’an dengan kecerdasan emosional siswa kelas VII di SMP Kemala Bhayangkari 1 Surabaya. Hal ini dapat di ketahui dari analisis data secara meneyeluruh tentang kelancaran membaca Al-Qur’an siswa yaitu tergolong dalam kategori sedang dengan nilai 56,68% dengan jumlah 27 siswa dengan nilai rata-rata 11,54, median 10,9, modus 10,8, standar deviasi 2,17, sedangkan untuk kecerdasan emosional siswa juga tergolong dalam kategori sedang dengan nilai 56,51% dengan jumlah 26 siswa dengan nilai rata-rata 111,57, median 112,18, modus 111,58, dan standar deviasi 9,22. Dari perhitungan secara menyeluruh diperoleh hasil 0,078 sebagai rhitung, dan 0,291 sebagai rtabel dari signifikansi N=46 ke 5% didapatkan hasil tersebut. Karena rhitung lebih kecil dari rtabel maka hipotesis tidak dapat diterima. Artinya tidak ada pengaruh yang signifikan antara program pembiasaan tadarus Al-Qur’an terhadap kecerdasan emosional siswa SMP Kemala Bhayangkari 1 Surabaya.

(7)

DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM………. PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI……… PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN………... HALAMAN PENGESAHAN……….. ABSTRAK………... KATA PENGANTAR………. DAFTAR ISI………... DAFTAR TABEL……… DAFTAR GAMBAR………... DAFTAR LAMPIRAN……… BAB I PENDAHULUAN……… A. Latar Belakang Masalah………... B. Tujuan Penelitian dan Kegunaan………. C. Manfaat Penelitian………... D. Hipotesis Penelitian………. E. Ruang Lingkup Penelitian……… F. Prosedur Penelitian……….. G. Definisi Operasional……… H. Penelitian Terdahulu……… I. Sistematika Pembahasan……….. BAB II KAJIAN PUSTAKA………... A. Kajian Pembiasaan Tadarus Al-Qur’an……… 1. Pengertian Al-Qur’an………. 2. Pengertian Tadarus Al-Qur’an………... 3. Adab Tadarus Al-Qur’an………... 4. Waktu Membaca Al-Qur’an……….. 5. Keutamaan Tadarus Al-Qur’an……….. 6. Pembiasaan Tadarus Al-Qur’an………. 7. Dasar dan Tujuan Pembiasaan Tadarus Al-Qur’an……… B. KAJIAN KECERDASAN EMOSIONAL………... 1. Pengertian Kecerdasan Emosional………. 2. Pemahaman Kecerdasan Emosional……….. a. Kesadaran Emosi………. b. Ekspresi Emosi……… c. Kesadaran Emosi Terhadap Orang Lain……….. 3. Indicator Kecerdasan Emosional………... 4. Factor-faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosional…….. 5. Fungsi Kecerdasan Emosional………... C. Pendidikan Agama Islam………. 1. Pengertian Pendidikan Agama Islam………. 2. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam……….. 3. Fungsi Pendidikan Agama Islam……… D. Pengaruh Pembiasaan Tadarus Al-Qur’an Terhadap Kecerdasan Emosional………. BAB III METODOLOGI PENELITIAN……….

i ii iii iv v vi viii x xi xii 1 1 7 8 8 9 10 11 11 15 17 17 17 19 21 28 29 32 35 39 39 41 42 43 43 44 47 50 53 53 55 55 57 60

(8)

ix

A. Metode Penelitian………. B. Tempat dan Waktu Penelitian………... C. Variabel Penelitian………... D. Teknik Pengumpulan Data………... 1. Observasi………

2. Angket………

3. Metode Wawancara……… 4. Dokumentasi………... E. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling……….. F. Instrument Penelitian……… G. Teknik Analisis Data……… 1. Teknik Analisis Unit………... 2. Uji Prasyarat………... 3. Pengujian Hipotesis……… BAB IV HASIL PENELITIAN……… A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian………. B. Program Pembiasaan Tadarus Al-Qur’an di SMP Kemala Bhayangkari 1 Surabaya………... C. Kecerdasan Emosional Siswa di SMP Kemala Bhayangkari 1 Surabaya………... D. Pengaruh Program Tadarus Al-Qur’an Terhadap Kecerdasan Emosional Siswa di SMP Kemala Bhayangkari 1 Surabaya………… BAB V PEMBAHASAN……….. A. Program Tadarus Al-Qur’an SMP Kemala Bhayangkari 1 Surabaya………... B. Kecerdasan Emosional Siswa SMP Kemala Bhayangkari 1 Surabaya………... C. Pengaruh Program Pembiasaan Tadarus Al-Qur’an Terhadap Kecerdasan Emosional Siswa di SMP Kemala Bhayangkari 1 Surabaya………... BAB VI PENUTUP……….. A. Kesimpulan………... B. Saran………. DAFTAR PUSTAKA………... 60 61 62 63 63 64 65 67 68 70 81 82 85 86 88 88 97 106 115 131 131 134 137 141 141 143 145

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kisi-kisi Instrumen Penelitian……….. Tabel 3.2 Rubik Penilaian Tadarus Al-Qur’an……… Tabel 3.3 Kriteria Penilaian Pembiasaan Tadarus Al-Qur’an……….. Tabel 3.4 Kisi-kisi Uji Coba Instrumen Kecerdasan Emosional………. Tabel 4.1 Nama-nama Guru dan Mata Pelajaran yang di Ampu………. Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Kemampuan Membaca Al-Qur’an………. Tabel 4.3 Hasil Analisis Unit Variabel Lancar Membaca Al-Qur’an………….. Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Kecerdasan Emosional……… Tabel 4.5 Hasil Analisis Unit Variabel Kecerdasan Emosional………... Tabel 4.6 Uji Normalitas Kelancaran Membaca Al-Qur’an……… Tabel 4.7 Uji Normalitas Kecerdasan Emosional……… Tabel 4.8 Kontribusi Pembiasaan Tadarus Al-Qur’an Terhadap Kecerdasan

Emosional……… Tabel 4.9 Hasil Analisis Uji Hipotesis……….

73 74 75 76 94 102 105 112 114 121 122 124 128

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Diagram Batang Frekuensi Kemampuan Membaca Al-Qur’an…... Gambar 4.2 Diagram Batang Frekuensi Kecerdasan Emosional……….

104

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Instrumen Kelancaran Bacaan Al-Qur’an………... Lampiran 2 Instrumen Penilaian Bacaan Al-Qur’an……….. Lampiran 3 Instrumen Pengaruh Tadarus Al-Qur’an Terhadap Kecerdasan Emosional ……….. Lampiran 4 Instrumen Pengaruh Tadarus Al-Qur’an Terhadap Kecerdasan Emosional………... Lampiran 5 Tabel observasi Kecerdasan Emosional……….. Lampiran 6 Diskripsi Data Hasil Variabel Lancar Membaca Al-Qur’an……..

Lampiran 7 Diskripsi Data Hasil Variabel Kecerdasan Emosional……… Lampiran 8 Hasil Analisis Uji Hipotesis………

150 151 153 156 159 161 164 167

(12)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang di jadikan sebagai pegangan

hidup umat Islam sedunia yang di turunkan kepada Rasuluaal S.A.W untuk

seluruh umat manusia. Al-Qur’an membahas tentang semua ajaran kehidupan

tentang manusia dan sebagai pemberi peringatan kepada manusia. Al-Qur’an

juga mengajarkan kepada manusia tentang akidah tauhid. Disamping itu

Al-Qur’an juga mengajarkan manusia tentang cara beribadah kepada Allah untuk membersihkan sekaligus menunjukan kepada manusia dimana letak kebaikan

dalam kehidupan pribadi dan kemasyarakatan.1 Hal ini sebagai firman Allah dalam surat Al- Furqon ayat 1 yang berbunyi :











Artinya : Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al-Quran)

kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh

alam,2

Membaca merupakan sifat yang sangat dianjurkan bagi umat islam.hal

ini disebabkan besarnya manfaat yang dapat di petik dari kegiatan

tersebut.Anjuran membaca secara khusu’ dan bersungguh-sungguh

1 Muhammad makhdlori, Keajaiban Membaca Al-Qur’an, (Jogjakarta: Diva Press, 2007). Hlm 13 2 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya

(13)

2

merupakan langkah fundamental seorang muslim agar dapat mengenal makna

dan arti secara terbuka.3 Wahyu pertama yang di sampaikan kepada Nabi

adalah membaca, dan melalui membaca Allah mengajarkan sesuatu atau

pengetahuan yang tidak di ketahui oleh manusia sebelumnya. Selanjutnya

dalam proses membaca ada dua aspek yang saling berhubungan dan merupan

sesuatu yang mesti ada yaitu membaca dan objek yang dibaca, obek bacaan

inilah yang kemudian akan menjadikan si pembaca memperoleh pengetahuan

baru dari yang dibacanya.4

Dari pengertian di atas dapat kita ketahui bahwa kebiasaan membaca

adalah suatu kegiatan positif yang sangat penting bagi seseorang,sesuai

dengan undang-undang No. 20 tahun 2003 bab 2 pasal 3 tentang sistem

pendidikan nasional yang menyebutkan bahwa :

“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam langkah

mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi

peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan

yang maha esa,berakhlak mulia,sehat,berilmu,cakap,kreatif,mandiri menjadi

warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”5

3 Departemen Agama RI. 2005, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Lembaga Pengadaan Kitab

Suci, 1986. Hlm 571

4 Maidir Harun Munawiroh, Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an siswa SMA, Jakarta Timur:

Puslitbang Lektur Keagamaan, 2007. Hlm 7

5 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kopetensi Konsep dan

(14)

3

Salah satu upaya yang di lakukan untuk mencerdaskan kehidupan

bangsa adalah dengan membiasakan membaca. Tidak hanya membaca

buku-buku tentang ilmu pengetahuan saja, tetapi juga membaca Al-Qur’an juga

sangatlah penting dalam meningkatkan kecerdasan emosional siswa.

Kecerdasan emosional termasuk dalam kemampuan seseorang dalam menilai,

mengontrol, mengelolah, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di

sekitarnya.6

Dalam belajar pendidikan agama juga perlu adanya kecerdasan

emosional karena pada hakikatnya manusia menginginkan keberhasilan dan

kelayakan hidup. Untuk menjadi seorang yang berhasil diperlukan suatu

kecerdasan tertentu diantaranya kecerdasan akal (Intelegence Question), akan

tetapi dengan kecerdasan akal (IQ) saja tidak dapat menjamin keberhasilan

hidup seseorang. Tidaklah benar asumsi masyarakat selama ini bahwa orang

yang mempunyai IQ tinggi dikatakan cerdas dan orang yang mempunyai IQ

rendah tentu bodoh. Para psikolog sepakat bahwa IQ hanya menyumbang

kira-kira dua puluh persen factor dalam menentukan keberhasilan, delapan

puluh persen berasal dari factor lain.7

Dan juga menurut Daniel Goleman, yakni seorang ahli psikologi

perkembangan dari Universitas Havard, Amerika Srikat. Dalam bukunya

yaitu yng berjudul “Emotional intelligence” ia mengatakan koordinasi dari suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang

6 Daniel Goleman, Emotional Intellegence. Terjemahan oleh T. Hermaya, Kecerdasan Emosional.

Jakarta: Gramedia, 2003. Hlm 58

(15)

4

pandai dalam menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain,

orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih

mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkunganya.8

Jadi dalam hal ini,proses membaca Al-Qur’an adalah salah satu cara

yang efektif dalam rangka meningkatkan kecerdasan emosional. Emosi dalam

mengambil sikap, kepekaan terhadap sekitar, kreatifitas dalam belajar, serta

sebagai motifasi dalam belajar. Seperti yang kita tahu sebelumnya adalah

Al-Qur’an sebagai pedoman, petunjuk dan penjelas dalam kehidupan dan merupakan penjelas dari ilmu-ilmu yang belum di ketahui ataupun yang

sudah di ketahui. Pendidikan agama islam di lembaga pendidikan bertujuan

untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan

pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengamalan peserta

didik tentang agama islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus

berkembang dalam keimanan, ketaqwaan, berbangsa dan bernegara, serta

untuk melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi.

Al-Qur’an juga merupakan sumber utama dalam ruang lingkup

pembelajaran pendidikan agama islam. Dikatakan sumber utama adalah

karena pendidikan agama islam tidak hanya memepelajari tentang akidah

akhlak, fiqih, ibadah saja. Tetapi juga belajar tentang tata cara mengelolah

dan meningkatkan kecerdasan emosional. Dimana emosi juga berperan

8 Golema Daniel, 2002, Emotional Intellegence, terj. T.hermaya , Jakarta: Gramedia Pustaka

(16)

5

penting dalam dunia pendidikan dan kita juga harus bisa mengelolah dan

meningkatkan kecerdasan emosional kita. Dimana Al-Qur’an sebagai pondasi

utama dalam mempelajari pendidikan agama islam.9

Secara garis besar dimensi – dimensi kecerdasan emosional tersebut

adalah , pertama; kemampuan mengenali emosi diri, kedua; kemampuan

mengelolah emosi diri, ketiga; kemampuan memotivasi diri ketika

menghadapi kegagalan atau rintangan dalam mencapai keinginan, keempat;

kemampuan mengenali emosi orang lain, dan kelima; kemampuan membina

hubungan dengan sosialnya.10

Pada akhirnya kecerdasan emosional disebut sebagai ketrampilan

lunak yang besar andilnya dalam menentukan kesuksesan kita mulai

mendapat perhatian dan mulai diperhitungkan oleh pendidik, pelaku bisnis

dan media. Oleh karena itu, maka permasalahan yang berkaitan dengan

penelitian ini adalah bagaimana membangun kecerdasan emosional siswa

(EQ), adakah hubungan yang cukup sinergis antara tadarus Al-Qur’an

terhadap kecerdasan emosional. Dari hal tersebut menggambarkan hal patut

diduga, yaitu hubungan yang saling mempengaruhi antara pembiasaan tadarus

Al-Qur’an dengan kecerdasan emosional siswa. Tentu hal ini tidak lepas dari

adanya faktor yang mempengaruhi, baik faktor dari dalam maupun dari luar.

9 Iskandar Mirza, Sehat Dengan Al-Qur’an, Bandung: Grafindo Media Pratama, 2014. Hlm 98 10 Daniel Goleman, 2003. Op, Cit. 59

(17)

6

Faktor dari dalam antara lain kematangan usia, kekuatan iman, takwa dan

kecerdasan, sedang factor dari luar berupa lingkungan.11

Para siswa adalah sebagai anak-anak yang tengah memasuki usia

remaja, yang notabene dari segi emosi masih sangat labil maka tidak heran

jika muncul berbagai macam permasalahan. Permasalahn yang sering

dihadapi para siswa dan siswi SMP KEMALA BHAYANGKARI 1

SURABAYA adalah ada diantara mereka berpersepsi bahwa belajar itu sulit,

susah focus dalam belajar dan mudah menyerah atau putus asa. Dan ada juga

siswa atau siswi yang masih kesulitan dalam mengondisikan atau mengatur

emosinya ketika mereka dalam masalah, cenderung individualis atau bekerja

sendiri-sendiri ketika ada tugas kelompok, dan membeda-bedakan teman

dalam belajar sehingga berdampak pada proses belajarnya dikelas.

Ketika anak mempunyai kecerdasan emosional yang baik (positif),

maka akan berpengaruh baik pula pada kemampuan belajar siswa dikelas.

Sehingga siswa mampu mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru

dengan baik. Akan tetapi, ketika anak mempunyai kecerdasan emosional yang

rendah (negative), maka akan mempengaruhi semangat belajarnya dikelas,

tidak menutup kemungkinan dia akan malas belajar dan bersosialisai dengan

sekitarnya sehingga akan berdampak buruk pada hasil belajarnya.

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang demikian maka

peneliti terdorong untuk melakukan sebuah penelitian yang mengambil judul

11 Munthali‟ah. Konsep Diri Positif Penunjang Prestasi PAI, Semarang: Gunung Jati, 2002. Hlm

(18)

7

“Pengaruh Pembiasaan Tadarus Al-Qur’an Terhadap Kecerdasan Emosional Siswa pada Mata Pelajaran PAI di SMP KEMALA

BHAYANGKARI 1 SURABAYA” Peneliti mengambil judul tersebut

dengan harapan agar memberikan manfaat berupa inspirasi dan motivasi

kepada seluruh siswa dan tidak terkecuali seluruh umat islam,untuk lebih giat

lagi dalam membaca dan mempelajari Al-Qur’an.Serta dapat meningkatkan

kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah S.W.T.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti memberikan

rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana program pembiasaan tadarus Al-Qur’an di SMP KEMALA

BHAYANGKARI 1 SURABAYA ?

2. Bagaimana kecerdasan emosional siswa kelas VII SMP KEMALA

BHAYANGKARI 1 SURABAYA ?

3. Bagaimana pengaruh program pembiasaan tadarus Al-Qur’an terhadap

Kecerdasan Emosional siswa kelas VII SMP KEMALA

BHAYANGKARI 1 SURABAYA ?

B. Tujuan Penelitian dan Kegunaan

Tujuan penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah yang disebutkan

di atas adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui bagaimana program pembiasaan tadarus Al-Qur’an.

(19)

8

3. Untuk mengetahui pengaruh program pembiasaan tadarus Al-Qur’an

terhadap Kecerdasan Emosional siswa.

C. Manfaat Penelitian

1. Bagi Sekolah

Sebagai sumbangan perkembangan ilmu pengetahuan, baik kepada

lembaga-lembaga pendidikan secara umum, maupun kepada sekolah

SMP KEMALA BHAYANGKARI 1 SURABAYA.

2. Bagi Peneliti

a) Untuk menambah wawasan dan pengalaman baru yang nantinya

dapat dijadikan sebagai modal ketika terjun di dunia pendidikan.

b) Memeberikan Evaluasi kepada peneliti agar senantiasa membiasakan

membaca Al-Qur’an.

3. Bagi Pendidik

a) Membiasakan siswa untuk selalu memebiasakan tadarus Al-Qur’an.

b) Memeberikan motivasi untuk senantiasa membiasakan tadarus

Al;Qur’an.

c) Meningkatkan pengawasan kepada siswa dalam membiasakan

tadarus Al-Qur’an.

D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah

penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk

kalimat pernyataan. Dikatakan sementara karena di dasarkan pada teori yang

(20)

9

pengumpulan data.jadi Hipotesis bisa dinyatakan sebagai jawaban teoristis

terhadap rumusan masalah penelitian belum jawaban yang empiris dengan

data.12

Adapun jenis atau macam hipotesis dalam penelitian dapat di

paparkan sebagai berikut.(1) Hipotsis null atau nuhil adalah Hipotesis yang

mengandung pernyataan negative,yakni menyatakan tidak ada

hubungan,tidak ada pengaruh antara variabel yang satu dengan yang lain.(2)

Hipotesis kerja atau Hipotesis alternative adalah hipotesis yang menyatakan

pernyataan positif yakni menyatakan adanyan hubungan,adanya pengaruh

terhadap variabel yang satu dengan yang lain.13

Sedangkan formula dalam penelitian ini adalah Hipotesis Alternatif

sebagai beriku :

Ha : terdapat pengaruh yang signifikan anatara program pembiasaan

tadarus Al-Qur’an terhadap kecerdasan emosional siswa pada mata

pelajaran PAI.

H0 : Tidak terdapat Pengaruh yang signifikan anatara program

pembiasaan tadarus Al-Qur’an terhadap kecerdasan emosional siswa

pada mata pelajaran PAI.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Untuk menghindari kesalahpahaman dan penyimpangan arah dalam

pembahasan penelitian ini maka perlu adanya ruang lingkup, agar

pembahasan ini terfokus pada pembiasaan tadarus Al-Qur’an semua siswa,

12 Sugiyono,Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan kuantitatif,Kualitatif dan R&D,Hlm+.96 13 Djunaidi Ghony dan Fauzan Al mansur,Metodologi Penelitian Pendidikan Pendekatan

(21)

10

tetapi hanya meneliti program pembiasaan tadarus Al-Qur’an dan Kecerdasan

Emosional siswa dari aspek kognitif, efektif dan psikomotorik.

F. Prosedur Penelitian

Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:

1. Mengumpulkan teori-teori yang menjelaskan tentang pembiasaan

tadarus Al-Qur’an terhadap Kecerdasan Emosional.

2. Membuat model teoritis dari teori-teori yang telah dikumpulkan

3. Menentukan populasi dan sampel penelitian

4. Menyusun kisi-kisi instrumen penelitian berdasarkan teori yang sudah

ada

5. Kisi-kisi, tes dan angket yang telah dibuat dikonsultasikan kepada

pembimbing sehingga sesuai dengan penelitian ini

6. Instrumen yang sudah disusun diberikan kepada siswa yang terpilih

menjadi sampel pada penelitian ini

7. Uji validasi dan reliabilitas

8. Analisis data tentang pembiasaan tadarus Al-Qur’an terhadap

kecerdasan emosional berdasarkan angket

9. Analisis kesesuaian model yang diajukan dengan data yang diperoleh

dari hasil penelitian

10. Analisis pengaruh tadarus Al-Qur’an terhadap kecerdasan emosional

siswa

(22)

11

G. Definisi Operasional

Pembiasaan adalah Sesuatu kegiatan yang biasa dikerjakan dan dan

dilakukan secara terus menerus. Pembiasan merupakan suatu proses

pendidikan, karena pembiasaan berarti membiasakan untuk melakukan

kegiatan yang positif dan membentuk karakter siswa.

Tadarus Al-Qur’an adalah kegiataan membaca, menyimak dan

mendengarkan Ayat-ayat suci Al-Qur’an baik paham maknanya maupun

tidak, dilakukan sendiri maupun bersama-sama. Selain itu tadarus juga berarti

membaca, mempelajari dan mengkualitaskan kandungan isi Al-Qur’an, hal

itu merupakan ibadah yang sangat mulia disisi Allah SWT.

Kercerdasan Emosional adalah Kemampuan seseorang untuk

mengenali emosi diri, mengelolah emosi diri, memotivasi diri sendiri,

mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina

hubungan kerjasama dengan orang lain.

Pendidikan Agama Islam adalah berarti mendidik seseorang atau

Usaha sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal,

memahami dan menghayati hingga mengimani ajaran agama islama. Juga

disertai dengan tuntunan untuk menghormati agama lain dalam hubunganya

dengan kerukunan antar umat beraagama hingga terwujud kesatuan dan

persatuan bangsa.

H. Penelitian Terdahulu

Dari penelitian sebelumnya terdapat beberapa kesamaan dengan judul

(23)

12

1. Skripsi berjudul “PENGARUH KEBIASAAN MEMBACA AL-QUR’AN

TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS X DI MAN 2 MADIUN” oleh Amana,Fattich Alviani (2015). Penelitian ini di lakukan di MAN 2 Madiun yang bertujuan untuk

mengetahui kebiasaan membaca Al-Qur’an siswa kelas X di MAN 2

Madiun Tahun ajaran 2014/2015,tingkat prestasi belajar pendidikan

agama islam siswa kelas X di MAN 2 Madiun yang berjumlah 316

siswa.dan ada tidaknya pengaruh kebiasaan membaca Al-Qur’an terhadap

prestasi belajar siswa kelas X di MAN 2 MADIUN TAHUN AJARAN

2014/2015.

Untuk melakukan penelitian ini,di gunakan pendekatan penelitian

Kuantitatif dengan analisis regresi linear sederhana.populasi dalam

penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X di MAN 2 Madiun.maka

digunakan sampel penelitian menggunakan teknik cluster sampling

dengan mengambil siswa kelas X Model,X IPA 3 dan X IPS 2 yang

seluruhnya berjumlah 81 siswa.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang

signifikan antara variabel kebiasaan membaca Al-Qur’an siswa terhadap

prestasi belajar Pendidikan Agama Islam aspek kognitif dan aktif di

peroleh nilai signifikansi 0,002 dan 0,025. Oleh karena nilai probilitas

0,002 dan 0,025 lebih kecil dari 0,5 maka hipotesis alternatife (Ha) di

terima. Yang artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara kebiasaan

(24)

13

kognitif dan afektif. Hasil analisis untuk variabel kebiasaan membaca

Al-Qur’an terhadap prestasi belajar Pendidikan Agama Islam siswa aspek psikomotorik diperoleh nilai signifikan 0,100. Oleh karena probabilitas

0,100 lebih besar dari 0,5 maka hipotesis alternative (Ha) ditolak. Artinya

tidak ada pengaruh antara kebiasaan membaca Al-Qur’an terhadap

prestasi belajar PAI siswa aspek psikomotorik.

Kata Kunci :Kebiasaan membaca Al-Qur’an, prestasi belajar

2. Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Mukri tentang “peran

tadarus dalam meningkatkan prestasi belajar”. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara kegiatan tadarus

Al-Qur’an dengan prestasi belajar pada matapelajaran Al-Qur’an hadist.

Yang di latarbelakangi kurangnya ketertarikan remaja bertadarus,

mengatasi kendala dalam pembelajaran Al-Qur’an Hadist.

Hasil penelitian respon positif siswa terhadap kegiatan tadarus,

tingkat prestasi siswa berada dalam kategori baik setelah kegiatan tadarus,

adanya hubungan yang positif dan signifikan antara kegiatan tadarus

dengan prestasi.

3. Penelitian Familatul Hidayah tentang “pengaruh tadarus terhadap minat

mengikuti pelajaran”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) pelaksanaan tadarus Al-Qur’an, 2) minat mengikuti pelajaran Al-Qur’an

Hadist, dan 3) pengaruh tadarus Al-Qur’an terhadap minat mengikuti

(25)

14

Hasil penelitian ada pengaruh positif tadarus Al-Qur’an terhadap

minat mengikuti mata pelajaran Al-Qur’an Hadist siswa kelas X MA

AL-ASROR yang membuktikan hipotesis yang ada dapat diterima dan dapat

di buktikan kebenaranya.

4. Penelitian yang dilakukan oleh Siti Zulaiha tentang “pengarus tadarus

terhadap kecerdasan spiritual”. Tujuan penelitian tersebut untuk mengetahui ada tidaknya korelasi tadarus Al-Qur’an dengan prestasi

belajar matapelajaran Qur’an Hadist. Hasil penelitian tadarus

Al-Qur’an berpengaruh signifikan terhadap kecerdasan spiritual (ikhlas), tadarus Al-Qur’an berpengaruh besar pada kecerdasan spiritual (ikhlas).

5. Penelitian yang dilakukan oleh Siddiq Nugroho tentang “keistiqomahan

tadarus Al-Qur’an terhadap pembentukan karakter religious mahasiswa di pondok pesantren Anwarul Huda”. Tujuan penelitianya adalah untuk mengetahui hasil yang signifikan antara keistiqomhan tadarus Al-Qur’an

terhadap pembentukan karakter religious mahasiswa. Maka hasil

penelitian menyebutkan hasil yang positif dan sangat besar pengaruhnya

terhadap mahasiswa di pondok pesantren Nurul Huda.

Dari penelian-penelitian sebelumnya terdapat beberpa kesamaan

dalam penulisan judul, namun yang membedakan dalam penulisan karya

ilmiah yang sekarang adalah terletak pada pengaruhnya terhadapad

(26)

15

I. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan yang terdapat di bawah ini merupakan urutan

pembahasan yang akan dibahas oleh peneliti. Adapun sistematika

pembahasanya sebagai berikut :

Bab pertama merupakan bab pendahuluan. Dalam bab ini pembahasan

difokuskan pada Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian,

Manfaat Penelitian, Batasan Masalah, Defisi Oprasional, Penelitian

Terdahulu, Hipotesis Penelitian, dan Sitematika Pembahasan.

Bab kedua mendiskripsikan kajian pustaka. Bab ini mendeskripsikan

tentang tema besar yang akan di teliti oleh peneliti secara umum dan

menyeluruh, mencakup tentang pengaruh pembiasaan tadarus Al-Quran

terhadap kecerdasan emosional siswa pada mata pelajaran PAI di SMP

KEMALA BHAYANGKARI 1 SURABAYA.

Bab ketiga metode penelitian dimana dalam bab ini merupakan unsure

terpenting dalam penelitian, karena dengan berpatokan kepada metode

penelitian yang sudah ditetapkan oleh standar penelitian, maka arah penulisan

akan sistematis. Pada bab ini berisikan tentang Lokasi Penelitian, Pendekatan

dan Jenis Penelitian, Variabel Penelitian, Data dan Sumber Data, Populasi

dan Sampel, Instrmen Penelitian, Teknik Pengumpulan Data dan Analisis

Data.

Bab keempat bab ini berisi hasil penelitian dan telaah yang telah

(27)

16

Qur’an terhadap Kecerdasan Emosional Siswa pada Mata Pelajaran PAI di SMP KEMALA BHAYANGKARI 1 SURABAYA.

Bab kelima dalam bab ini peneliti akan menganalisis tentang data

yang sudah didapatkan pada bab sebelumnya, yaitu bagaimana kebiasaan

siswa membaca atau tadarus Al-Qur’an, dan bagaimana tingkat kecerdasan

emosional pada mata pelajaran PAI di SMP KEMALA BHAYANGKARI 1

SURABAYA.

Bab keenam dalam bab ini berisi kesimpulan dan saran. Disini peneliti

menarik kesimpulan dengan menguraikan secara singkat tentang pembiasaan

tadarus Al-Qur’an terhadap kecerdasan emosional siswa pada mata pelajaran

(28)

17 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Pembiasaan Tadarus Al-Qur’an

1. Pengertian Al-Qur’an

Dalam pembahasan pembiasaan tadarus Al-Qur’an terlebih dahulu

kita mengerti tentang arti dari Al-Qur’an yang di tinjau secara bahasa

(etimologi) dan istilah (terminologi)

a. Al-Qur’an menurut Bahasa (Etimologi)

Secara etimologis, al-qur’an adalah bacaan atau yang di baca.1 Al-qur’an adalah mashdar dari kata qa-ra-a. Setimbang dengan kata

fau’alan. Ada dua pengertian al-qur’an dalam bahasa Arab, yaitu qur’an berarti bacaan dan apa yang tertulis padanya.2

b. Al-Qur’an menurut Istilah (Terminologi)

Definisi al-qur’an menurut sebagian ulama ahli ushul adalah

firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W. yang

bersifat mukjizat dengan sebuah surat dari padanya, dan beribadat

bagi yang membacanya. Sebagian ahli ushul juga mendefinisikan

al-kitab (al-Qur’an) adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi

Muhammad dengan bahasa arab untuk di perhatikan dan di ambil

1 Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddiqy, sejarah dan pengantar ilmu al-qur’an dan tafsir,

Semarang;PT. Pustaka Rizqi Putra, 2003. Hlm. 3

(29)

18

pelajaran mutawatir yang ditulis dalam mushaf, di mulai dengan surat

al-Fatihah dan disudahi dengan surat an-Nas.3

Al-Qur’an menurut Abdul Majid Khon adalah kalam Allah yang

mengandung mukjizat (sesuatu yang luar biasa yang melemahkan lawan)

di turunkan kepada para Nabi dan Rosul yaitu (Muhammad S.A.W.)

melalui malaikat Jibril yang tertulis dalam muskhaf, dan dinilai ibadah

membacanya, yang dimulai dari suah al-Fatihah dan diakhiri dengan

surah an-Nas.4 Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun sebagai penerang, petunjuk, dan rahmat yang kekal dan

abadi sampai hari Kiamat, sekaligus sebagai bukti kebenaran risalah dan

kerasulanya juga sebagai mukjizat yang tidak dapat di bandingkan

dengan mukjizat yang ada lainya.5

Al-Qur’an sendiri sebagai penawar yang ada didalam dada, seperti

kesamaran dan keraguan. Al-Qur’an menghilangkan najis, kotoran, syirik

dan kekafiran dalam qolbu karena ia adalah sebagai petunjuk dan rahmat.

Inilah sebabnya bagi umat muslim diperlukan yang namanya pendidikan

agama islam.6

Dari penjelasan diatas dapat di simpulkan bahwa Al-Qur’an yaitu

kalam dan firman Allah S.W.T. yang diturunkan kepada Nabi

Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril sebagai utusan Allah

yang ditulis pada mushaf yang di jadikan pedoman bagi umat manusia

3 Moenawar chaili, kembali kepada al-Qur’an dab as-Sunnah, Jakarta: Bulan Bintang. hal. 179 4 Abdul Majid Khon, praktikum qira’at, Jakarta: Amzah, 2008. cet 1 hal 2

5 Imam Nawawi, Etika mempelajari al-Qur’an, Jakarta:Pustaka al-Kautsar, 1994

(30)

19

serta membacanya adalah ibadah, yang di mulai dari surah al-Fatihah dan

di akhiri dengan surah an-Nas.

Dalam membaca Al-Qur’an Muhammad Yunus menyebutkan

tujuan membaca Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

1) Memelihara kitab suci dan membacanya serta memerhatikan isinya,

untuk menjadi petunjuk dan pengajran bagi kita yang hidup di dunia.

2) Mengingat hukum-hukum agama yang termaktub dalam Al-Qur’an

serta menguatkan, mendorong berbuat kebaikan dan menjauhi

kejahatan.

3) Mengharap keridlaan kepada Allah SWT.

4) Menanamkan akhlak mulia dan mengambil ibarat dan perlu pelajaran

serta teladan yang termaktub dalam Al-Qur’an.

5) Menanamkan keagamaan dalam hati dan menumbuhkanya sehingga

bertambah mantab keimanan dan bertambah dekat dengan Allah

SWT.7

2. Pengertian Tadarus Al-Qur’an

Tadarus Qur’an termasuk dalam tata cara membaca Al-Qur’an,menurut ulama ada lima cara membca Al-Qur’an. Dan dari lima tersebut dikategorikan ada cara membaca Al-Qur’an yang benar da nada

juga cara membaca Al-Qur’an yang salah yaitu:

1. Tahqiq adalah membaca Al-Qur’an dengan cara memeberikan

hak-hak setipa huruf secara tegas, jelas, dan teliti seperti memanjangkan

(31)

20

mad, menyempurnakan harakat, serta melepas huruf secara tartil,

pelan-pelan, memeperhatikan panjang pendek, wakaf dan ibtida,

tanpa merampas huruf. Untuk memenuhi hal-hal tersebut, metode

tahqiq terkadang tampak memutus-mutus dalam membaca

huruf-huruf dan kalimat-kalimat Al-Qur’an.

2. Tartil adalah membaca Al-Qur’an dengan lebih menekankan aspek

memahami dan merenungi kandungan ayat-ayat Al-Qur’an.

3. Tadwir adalah membaca Al-Qur’an dengan memanjangkan mad,

hanya saja tidak sampai penuh. Tadwir merupakan tata cara

membaca yang sering digunakan pada waktu sholat.

4. Hadr adalah membaca Al-Qur’an dengan cepat, ringan, dan pendek,

namun tetap mengedepankan dan memakai aturan-aturan yang ada

dalam tajwid.

5. Hazramah adalah membaca Al-Qur’an dengan cepat, ringan dan

pendek, namun tidak memerhatikan hukum-hukum tajwid dan cara

bacaan tersebut tidak dianjurkan semua Imam Qiroat.

Tadarus mempunyai arti yaitu mempelajari bersama-sama, sehingga

tadarus dapat diartikan membaca, menelaah bersama-sama, dalam hal ini

adalah Al-Qur’an.8

Membaca atau melakukan tadarus Al-Qur’an memepunyai aturan

atau hukum dalam membacanya, sehingga tidak adanya kesalahan pada

bacaan yang akhirnya bisa merubah arti atau makna dalam bacaan

(32)

21

Qur’an. Tadarus menurut yang diungkapkan Mullah Ali Al-Qari dalam Misykatul-Mashabih yang dikutip oleh Ahmad Syarifudin mengatakan

bahwa tadarus adalah kegiatan qira’ah sebagian orang atas sebagian yang lain sambil membetulkan lafal-lafalnya dan mengungkap

makna-maknanya.9 Tadarus menurut bahasa artinya belajar, istilah ini biasa diatikan dan digunakan dengan pengertian khusus, yaitu membaca

Al-Qur’an semata-mata untuk ibadah kepada Allah SWT dan memperdalam pengetahuan terhadap ajaran Al-Qur’an.10Selain itu tadarus juga berarti membaca, mempelajari dan mengkualitaskan kandungan isi Al-Qur’an.

Hal itu merupakan ibadah yang sangat mulia disisi Allah SWT.11

Dari pengertian diatas peneliti menyimpulkan tadarus Al-Qur’an

adalah kegiatan membaca, menyimak, dan mendengarkan ayat-ayat suci

Al-Qur’an baik paham maknanya ataupun tidak, dilakukan sendiri

maupun bersama-sama. Dalam hal ini peneliti memfokuskan pada

aktifitas siswa ketika membaca Al-Qur’an.

3. Adab Tadarus Al-Qur’an

Segala sesuatu yang dilakukan manusia baik perbuatan, ucapan,

maupun tingkah laku semuanya harus memakai etika dan adab untuk

melakukanya, apalagi untuk membaca firman-firman Allah SWT yang

memiliki nilai yang sangat sakral dan penting dalam agama. Membaca Al-Qur’an termasuk beribadah kepada Allah SWT agar mendapat ridla-NYA,

9 Ahmad Syarifudin, Mendidik Anak Membaca Menulis dan Mencintai Al-Qur’an, Jakarta: Gema

Insani,2008. hal. 49

10 Ahsin W. Al Hafidz, Kamus Ilmu Al-Qur’an, Jakarta: Amzah, 2006. hal. 280

11 Bramma Aji Putra, Berpuasa Sunnah Senikmat Puasa Ramadan, Yogyakarta: Wahana

(33)

22

maka dari itu harus dengan niat yang baik. Tadarus Al-Qur’an adalah

membaca firman-firman Allah SWT dan berkomunikasi dengan sang

pencipta, maka seseorang yang membaca Al-Qur’an seola-olah dia

berdialog dengan Allah SWT.

Oleh karena itu diperlukan adab yang baik dan sopan di hadapanya.

Banyak adab yang disebutkan oleh para ulama, diantaranya adalah

sebagai berikut:

a. Niat tadarus dengan Ikhlas

Seorang yang membaca Al-Qur’an hendaknya berniat yang baik,

yaitu niat beribadah yang ikhlas karena Allah untuk mencari ridla

Allah SWT, bukan mencari ridla manusia atau agar mendapat pujian

darinya atau ingin popularitas atau ingin mendapatkan hadiah materi

dan lain-lain. Intinya hanya ingin mendapatkan ridlo dari Allah SWT.

b. Dalam Keadaan Bersuci

Diantara adab membaca Al-Qur’an adalah bersuci, yang berarti

ketika kita membaca Al-Qur’an wajib bagi kita dalam keadaan yang

suci, baik dari hadas kecil, hadas besar dan segala jenis najis, sebab

yang dibaca adalah firman Allah SWT. Demikian juga dengan

memegang, membawa dan mengambil Al-Qur’an hendaknya dengan

cara yang hormat kepada Al-Qur’an.

c. Membaca Ta’awudz

Hanya dalam membaca Al-Qur’an yang diperintahkan membaca Ta’awudz terlebih dahulu sebelum kita membaca Al-Qur’an. Dengan

(34)

23

demikian, memebaca ta’awudz hanya dikhususkan untuk membaca Al-Qur’an saja. Untuk membaca bacaan-bacaan lain selain Al-Qur’an,

seperti membaca sebuah buku, kitab, Koran dan lain-lain tidak perlu ta’awudz, cukuplah membaca bismillah saja. Karena didalam Al-Qur’an banyak terkandung fiman-firman Allah SWT yang wajib kita Imani ketika membaca Al-Qur’an. Dan disunnahkan membaca

dengan keduanya, yakni ta’awudz dan basmallah. Karena ini wujud dari penghormatan kita dan memuliakan Al-Qur’an.

d. Khusyu’ dan Khudlu’

Khusyu’ dan khudlu’ artinya merendahkan hati dan memfokuskan bacaan Al-Qur’an hanya kepada Allah SWT sehingga

Al-Qur’an yang dibaca mempunyai pengaruh bagi pembacanya,

ayat-ayat yang di baca mempunyai pengaruh rasa tenang, damai, dan akan

memberikan kenyamanan dalam hati bagi pembaca maupun

pendengarnya. Dan juga akan menambah rasa iman dan takut kita

kepada Allah SWT ketika membaca ayat-ayat yang mengandung arti

pembalasan atau ancaman tentang hukum Allah SWT.

e. Menghadap Kiblat dan Berpakaian Sopan

Membaca Al-Qur’an disunnahkan menghadap kiblat secara

khusyu, tenang, menundukan kepala, dan berpakaian yang sopan, jika

memungkinkan dan tidak terhalang oleh sesuatu. Dan berpakaian

yang sopan karena kita sedang menghadap sang pencipta bukan

(35)

24

dilaksanakanya di tempat yang suci, seperti di masjid, rumah atau

tempat ibadah lainya.

f. Merenungkan Makna AL-Qur’an

Diantaranya adab tadarus Al-Qur’an adalah merenungkan arti

ayat-ayat Al-Qur’an yang di baca, yaitu dengan cara memahami

setiap makna yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan

mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya

dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Setiap umat islam seharusnya punya buku penuntun makna

Al-Qur’an minimal Al-Al-Qur’an dan terjemahnya untuk di pahami isinya dan bertanya kepada para ahli jika mendapatkan kesulitan dalam

memahaminya. Karena dalam memahami makna Al-Qur’an tidak

bisa disepelehkan, apabila berbubah maknanya maka akan merubah

pula kandungan isi Al-Qur’an. Memahami makna Al-Qur’an

sangatlah penting bagi kita yang akan menjadi sandaran agar

mempunyai wawasan yang lebih luas dalam memahami islam.

g. Tadarus Al-Qur’an dengan Tartil

Tartil artinya membaca Al-Qur’an dengan perlahan-lahan tidak

terburu-buru, dengan bacaan yang baik dan benar sesuai dengan

makhraj al-hurf artinya membaca huruf-hurufnya sesuai dengan

tempat keluarnya seperti tenggorokan, di tengah lidah, antara dua

(36)

25

kenyamanan, kenikmatan, serta kedamaian, baik bagi para pembaca

maupun pendengarnya.

h. Memilih Tempat yang Pantas dan Suci

Ketika membaca Al-Qur’an sangat dianjurkan untuk memilih

tempat yang pantas dan suci, karena membaca Al-Qur’an tidak sama

dengan membaca majalah atau komic atau bacaan yang lainya. Tidak

semua tempat sesuai untuk membaca Al-Qur’an, ada beberapa tempat

yang tidak sesuai untuk membaca Al-Qur’an, seperti di toilet, kamar

mandi, atau pada saat buang air, di jalanan, di tempat-tempat kotor

dan lain-lain. Oleh karena itu hendaknya ketika membaca Al-Qur’an

memilih tempat yang suci dan tenang seperti Masjid, Musholla,

Rumah dan lain-lain yang dipandang pantas dan terhormat.

i. Berguru secara Musyafahah

Seseorang yang ingin pandai dan pintar membaca Al-Qur’an

seharusnya belajar terlebih dahulu kepada guru ngaji seperti ustad

atau orang tua kita yang mungkin sudah fasih dalam membaca

Qur’an. Layaknya seorang murid sebelum membaca ayat-ayat Al-Qur’an terlebih dahulu berguru kepada seorang guru yang ahli dalam bidang Al-Qur’an secara langsung, agar bisa membaca dan

melafadkan ayat Al-Qur’an dengan baik dan benar. Musyafahah dari

kata syafawiy = bibir, musyafahah = saling bibir-bibiran artinya

kedua murid dan guru harus bertemu langsung, saling melihat

(37)

26

j. Menyaringkan Suara

Masalah menyaringkan suara dalam membaca Al-Qur’an ada

beberapa hadist yang menerangkan tentang keutamaanya, tetapi ada

juga beberapa hadist yang menjelaskan keutamaan pelan atau

perlahan-lahan lebih baik, karena yang ditakutkan adalah sifat dari manusia itu sendiri yaitu pamer atau bukan karena Allah (riya’). Akan tetapi jika tidak dikhawatirkan tentang demikian, maka

membaca Al-Qur’an dengan suara yang nyaring akan lebih baik dari

pada pelan (sir). Karena dengan suara yang nyaring dan tegas akan

memperjelas bacaan Al-Qur’an agar kita juga bisa mengkoreksi

apabila ada bacaan yang kurang sesuai dengan tajwid atau hukum

bacaan Al-Qur’an.

k. Memperindah Suara

Al-Qur’an adalah firman-firman Allah SWT yang penuh dengan

keindahan dan kemuliaan di dalamnya, maka sangat dianjurkan

membaca Al-Qur’an dengan suara yang indah atau dengan

memperindah suara bacaannya. Usahakan memperindah suara ketika

membaca Al-Qur’an dan sangat disayangkan seseorang yang diberi

kenikmatan suara indah lagi merdu tidak digunakan membaca

Al-Qur’an, melainkan digunakan dalam hal-hal yang kurang bermanfaat. Kemerduan suara disunnahkan dalam membaca Al-Qur’an

(38)

27

yang pendek atau memendekan bacaan yang seharusnya dibaca

panjang, karena itu juga akan merubah arti dan makna dari Al-Qur’an.

l. Tidak Dipotong dengan Bacaan lain

Sebagaimana keterangan di atas, bahwa tadarus Al-Qur’an

adalah berdialog dengan Tuhan, karena Al-Qur’an adalah firmaNYA.

Maka diantara adabnya adalah tidak memotong bacaan dengan

pembicaraan lain atau mengobrol dengan orang lain, apalagi sambil

tertawa-tawa dan bermain-main.

Demikian juga ketika memulai dan mengakhiri bacaan di

tengah-tengah surah Al-Qur’an, hendaknya memulai awal pembahasan atau awal permasalahan yang di ceritakan Al-Qur’an

tidak masih ada sangkutnya dengan sebelumnya atau mengakhirinya

tidak masih ada sangkutnya dengan setelahnya. Agar arti dan makna

dalam bacaan Al-Qur’an akan tetap tersambung artinya sehingga

tidak terputus di tengah kalimat pada ayat Al-Qur’an.

m. Tidak Melupakan Ayat-ayat yang sudah Dihafal

Seseorang yang mampu menghafal Al-Qur’an termasuk orang

yang istimewa dan mulia, untuk itu alangkah baiknya apabila

seseorang sudah mampuh menghafal beberapa ayat dalam surah

Al-Qur’an untuk tidak melupakan dan meninggalkan hafalanya begitu saja. Akan tetapi hendaknya selalu di ingat, dihafalkan, dan

(39)

28

dimudzakarahkan, misalnya selalu dibaca, baik dalam sholat maupun

di luar sholat, tadarus dan lain-lain.12

n. Gosok Gigi

Diantara adab tadarus Al-Qur’an adalah bersiwak atau gosok

gigi terlebih dahulu sebelum mentadarus Al-Qur’an, agar harum bau

mulutnya dan bersih dari sisa-sisa makanan atau bau tidak enak,

orang yang membaca Al-Qur’an sama saja menghadap atau

berkomunikasi dengan Allah SWT, maka sangat layak jika dia

bermulut bersih dan segar bau mulutnya.

4. Waktu membaca Al-Qur’an

Waktu yang terbaik untuk membaca Al-Qur’an adalah pas waktu

kita beribadah khususnya ketika waktu sholat. Bagi orang yang

mempunyai kemampuan membaca Al-Qur’an yang baik dalam shalat,

bacalah surah-surah yang panjang, karena membaca Al-Qur’an dalam

shalat pahalanya lebih besar. Yang dimaksudkan disini adalah shalat

sunnah atau shalat wajib yang dilakukan sendirian (munfarid), bukan

shalat berjama’ah di tempat umum seperti di masjid umum. Apabila kita menjadi imam disuatu sholat jama’ah di masjid hendaknya menggunakan surah-surah yang pendek dalam setiap rakaat sholat, agar jama’ah tidak

merasa bosan dan jenuh ketika melaksanakan sholat berjamaah.

Khususnya pada waktu yang pendek atau dalam keadaan sibuk, seperti

sholat Dhuhur, Ashar dan Maghrib. Kecuali berjama’ah dengan

(40)

29

orang yang khusyu’ yang sudah sepakat dan siap mengikuti bacaan surah

yang panjang-panjang dalam shalat.

Banyak para ulama salaf yang khatam membaca Al-Qur’an dalam

shalat. Seperti ulama salaf yang berada di Makkah yang menjadi imam

shalat tarawih di Masjid al-Haram dan di Masjid an-Nabawi membaca

Al-Qur’an sampai khatam 30 juz dalam tempo waktu 30 hari bulan suci

Ramadhan.

Adapun membaca Al-Qur’an di luar shalat, terutama pada waktu

malam hari dan sebagian malam yang akhir lebih utama dari pada

sebagian yang pertama, karena diwaktu itu adalah waktu yang istimewah banyak do’a yang dipanjatkan oleh umat islam untuk meminta kepada Allah SWT, sedangkan membaca Al-Qur’an antara Maghrib dan Isya

dicintai. Pada waktu pagi hari yang utama adalah setelah shalat Shubuh,

karena ketika itu pikiran kita masih segar dan akan mersa nyaman dan

rileks ketika membaca Al-Qur’an. Tidak ada waktu makruh dalam segala

waktu, sekalipun dalam waktu yang dilarang untuk shalat, seperti pada

waktu terbit, terbenam, dan tengah siang dan setelah shalat Ashar dan

Maghrib.13

5. Keutamaan Tadarus Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an merupakan pekerjaan yang mulia disisi Allah

SWT yang mempunyai berbagai keistimewaan dan kelebihan

(41)

30

dibandingkan dengan membaca bacaan lain. Berikut adalah

keutamaan-keutamaan membaca Al-Qur’an, yaitu antara lain:

a. Menjadi Manusia yang Terbaik

Keutamaan orang yang membaca Al-Qur’an adalah menjadi

manusia yang terbaik dan yang paling utama. Karena membaca Al-Qur’an adalah suatu pekerjaan yang mulia, maka kamu akan di muliakan dan diutamakan. Tidak ada manusia di atas Bumi ini yang

lebih baik dari pada orang yang mau belajar Al-Qur’an dan

mengajarkan Al-Qur’an.

b. Mendapat Kenikmatan Tersendiri

Membaca Al-Qur’an adalah kenikmatan yang luar biasa. Karena

yang istimewa dalam membaca Al-Qur’an adalah kenikmatan dan

pahalanya kita sendiri yang mendapatkanya dan akan berimbas baik

pada kegiatan kita sehari-hari. Seseorang yang sudah merasakan

kenikmatan membaca Al-Qur’an tidak akan bosan sepanjang malam

dan siang, karena kenikmatanya akan terus mengalir dan membawa

ketenangan dalam hati bagi yang membacanya.

c. Derajat yang Paling Tinggi

Seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an dan juga

mengamalkan perintah dan larangan yang terkandung didalamnya

adalah seorang mukmin sejati, harum lahir batinya, terpancar aura

(42)

31

tersebut mendapat derajat yang paling tinggi baik di sisi Allah SWT

maupun di sisi manusia lain.

d. Bersama Malaikat

Diantara keutamaan orang yang membaca Al-Qur’an dengan

fasih dan mengamalkanya, akan selalu bersama dengan para Malaikat

yang selalu mengelilinginya dan mendo’akanya, karena janji Allah

SWT akan memuliakan dan mengangkat derajatnya.

e. Syafa’at Al-Qur’an

Keutamaan membaca Al-Qur’an yang lainya yaitu Al-Qur’an

akan memberikan syafa’at bagi seseorang yang membacanya dengan

baik dan benar serta memperhatikan adab-adabnya. Karena pahala

membaca Al-qur’an apabila diamalkan maka pahalanya tidak akan

pernah putus meskipun seseorang itu telah meninggal dunia.

Maksudnya memberi syafa’at adalah memohonkan pengampunan bagi pembacanya dari segala dosa yang dia lakukan selama di dunia.

f. Kebaikan Membaca Al-Qur’an

Keutamaan selanjutnya dari orang yang suka membaca Al-Qur’an yaitu akan mendapatkan kebaikan yang berlipat ganda setiap satu huruf yang dibacanya. Karena setiap satu huruf dalam ayat

Al-Qur’an memiliki sepuluh kebaikan. g. Keberkahan Al-Qur’an

Keutamaan tadarus Al-Qur’an berikutnya adalah setiap orang

(43)

32

membacanya saja akan membawa kebaikan dalam hidupnya,

kebaikan bukan pada dirinya sendiri melainkan pada keluarga dan

juga lingkunganya. Inilah yang dimaksud keberkahan dalam Al-Qur’an, bagaikan rumah yang di huni oleh pemiliknya dan tersedia segala perabotan dan peralatan yang diperlukan.14

6. Pembiasaan Tadarus Al-Qur’an

Pembiasaan menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah sesuatu

yang biasa dikerjakan. Dengan pengertian tersebut dapat kita simpulkan

bahwa pembiasaan adalah suatu kegiatan yang biasa dikerjakan dan

akan berlangsung secara terus menerus atau continue.

Pembiasaan secara etimologi berasal dari kata “ biasa “ dalam kamus besar bahasa Indonesia biasa adalah lazim atau umum. Sehingga

pembiasaan diartikan sebagai proses pembuatan menjadikan seseorang

menjadi terbiasa.

Adapun secara istilah, pembiasaan dapat diartikan oleh beberapa

tokoh berikut ini:

a. Menurut Ammai Arif pembiasaan adalah sebuah cara yang

dilakukan untuk membiasakan anak didik berfikir, bersikap,

dan bertindak sesuai dengan tuntunan ajaran agama islam.15

b. Menurut Hanna Junhana Bastaman pembiasaan adalah

melakukan sesuatu perbuatan atas ketrampilan tertentu terus

menerus secara konsisten untuk waktu yang cukup lama.

14 Ibid hlm 59-66

15 Amai, Arif, pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta; Ciputat Pers, 2002),

(44)

33

Sehingga perbuatan dan ketrampilan benar-benar dikuasai dan

akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang sulit ditinggalkan.16

c. Menurut Abdul Nashih Ulwan pembiasaan adalah segi praktik

nyata dalam proses pembentukan karakter dan persiapan oleh

peserta didik.17

Artur S Reber mendefinisikan “ Intensity is as borrowed from physics, a measure of quantity of energy “18bahwa Intensitas adalah

sebagai pinjaman dari fisik, suatu ukuran dari kualitas energy. Dapat

juga dikatakan bahwa intensitas adalah tingkatan atau ukuran yang

menunjukan kadaan seperti kuat, tinggi, bergelora penuh semangat,

berapi-api, berkobar-kobar, (perasaanya) dan sangat emosional yang

dimiliki oleh seorang yang diwujudkan dalam bentuk sikap maupun

tingkah laku, menurut Kartini dan Dali Dugo menjelaskan intensitas

adalah “ besar atau kekuatan suatu tingkah laku “19

Jadi dari penjelasan di atas intensitas bisa diartikan sebagai

pembiasaan yaitu perilaku yang bersifat rutinitas, serius dan memiliki

frekuwensi tinggi, artinya seseorang yang memiliki semangat yang

tinggi maka dia akan melakukan perbuatan secara rutin, terus menerus,

frekuensinya tinggi maupun serius. Dimana dalam penelitian ini

16 Hanna Junhana Bastaman, Integrasi Pesikologi dan Islam, (Yogyakarta; Pustaka Pelajar; 1995),

hlm. 126

17 Abdul Nashih Ulwan, Pendidikan Anak Menurut Islam Kaidah-kaidah Dasar, (Bandung; PT.

Remaja Rosda Karya, 1992), hlm. 60.

18 Artur S Reber, Dictionary of Psykogogy, (London: Pinguin Book; 1985), hlm. 366 19 Kartini dan Dali Dugo, Kamus Psikologi, (Bandung: Pignur Jaya, 1987), hlm. 233

(45)

34

pembiasaan atau intensitas berkaitan dengan kegiatan tadarus

Al-Qur’an peserta didik.

Dari pengertian tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

pembiasaan tadarus Al-Qur’an yaitu merupukan sebuah rutinitas,

keseriusan dalam kegiatan tadarus Al-Qur’an, yang dilakukan dalam

kehidupan sehari-hari baik perorangan maupun berjama’ah dan

semata-mata hanya untuk ibadah kepada Allah SWT.

Jadi pembiasan tadarus Al-Qur’an adalah tingkat rutinitas siswa

dalam tadarus Al-Qur’an. Dengan semakin banyak siswa melatih diri

baik mengembangkan potensi atau ketrampilanya, maka dengan itu

siswa akan semakin belajar atau semakin memahami kondisi dan cara

yang hendak dicapai.

Kaitanya dengan metode pengajaran dalam pendidikan islam, dapat

dikatakan bahwa pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan

untuk membiasakan anak didik berfikir, bersikap dan bertindak sesuai

dengan tuntunan dan syariat ajaran agama islam.20

Jadi dapat disimpulkan bahwa rutinitas tadarus Al-Qur’an adalah

membiasakan melihat dan memahami isi dari Al-Qur’an secara

berulang-ulang untuk hal yang sama. Akan tetapi yang dimaksud oleh

peneliti, mengenai rutinitas tadarus Al-Qur’an disini adalah pembiasaan

20 Nurnajmi Laila, Hubungan Pembiasaan Tadarus Qur’an Dengan Kemampuan Membaca

(46)

35

seseorang dalam tadarus Al-Qur’an untuk membiasakan dirinya, baik

dengan dipahami atau tidak, sehingga mampu memberikan kebiasaan

yang positif pada dirinya sendiri dalam membaca Al-Qur’an.

7. Dasar dan Tujuan Pembiasaan Tadarus Al-Qur’an

a. Dasar pembiasaan Tadarus Al-Qur’an

Pembiasaan merupakan salah satu metode pendidikan yang sangat

penting dengan cara mengubah seluruh sifat-sifat baik menjadi

kebiasaan, pembiasaan termasuk dalam pendidikan karena pembiasaan

berarti membiasakan peserta didik untuk melakukan hal yang positif

dan juga akan merubah karakteristik peserta didik. sehingga jiwa dapat

menemukan kebiasaan itu tanpa terlalu payah, tanpa kehilangan banyak

tenaga dan tanpa menemukan banyak kesulitan.21

Pembiasaan dalam pendidikan anak adalah sangatlah penting,

terutama dalam pembentukan karaktersitik seorang peserta didik, baik

dari kepribadian, akhlak dan agama pada umumnya. Pembiasaan

tersebut akan memasukan unsur yang positif dalam diri pribadi anak

yang sedang tumbuh, meskipun pada awal proses pembiasaan akan

sedikit sulit, karena pembiasaan berarti memaksa seseorang untuk

membiasakan dirinya agar terbiasa.

Semakin sering pembiasaan yang dilakukan khusunya tentang

pengalaman agama, maka pengetahuanya tentang agama akan semakin

(47)

36

baik dan berkualitas. Sehingga dapat memahami secara baik ajaran

agamanya.22

Seseorang yang mempunyai kebiasaan tertentu akan dapat

memaksimalkanya dengan mudah dan senang hati. Bahkan segala

sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dalam usia mudah sulit untuk

dirubah dan akan tetap berlangsung pada usia tua. Karena itu

pembiasaan yang paling baik ada dengan membiasakan seorang peserta

didik yaitu membaca Al-Qur’an.

Al-Quran memiliki terapi kepada otak seperti terapi

lagu atau music, Dalam pengertian lain bahwa Al-Quran memiliki

kejaiban dan keluarbiasaan untuk memberikan kecerdasan dan

kepintaran terhadap otak manusia. Bahkan ia

lebih hebat lagi selain mendatangkan kecerdasan dan kepintaran

seseorang, dengannya bisa memberikan ketenangan juga

ketentraman hati.23

Al-Qur’an merupakan obat atau solusi bagi setiap masalah dalam

kehidupan didunia, karena Al-Qur’an adalah kitab yang membawa

ketenangan dan kedamaian tanda ada keburukan didalamnya. Al-Qur’an

menghilangkan sifat-sifat yang buruk, kotoran, syirik dan kekafiran

didalam hati karena ia adalah sebagai petunjuk dan rahmat. Inilah

22 Zakiyah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), hlm. 61

23Agus Syarifudin, Pengaruh Hafalan Al-Qur’an Terhadap Prestasi Belajar Agama Pendidikan

(48)

37

sebabnya bagi orang muslim diperlukan adanya pendidikan agama

islam.24

Setiap manusia hidup selalu membutuhkan adanya sesuatu

pegangan dan pedoman dalam hidup yang disebut agama. Untuk

merasakan bahwa dalam jiwanya ada perasaan yang meyakini adanya

Dzat yang maha kuasa sebagai tempat untuk berlindung, memohon

ampunan dan memohon pertolongan. Disinilah terlihat pentingnya

membaca disertai usaha membaca tersebut karena Allah SWT. Dengan

begitu manfaat yang akan diperoleh adalah anugrah pemahaman,

pengetahuan dan wawasan baru, anugrah berikutnya yaitu mampu

membedakan hal yang baik dan buruk.25

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa mempelajari dan

mengamalkan isi kandungan dalam Al-Qur’an adalah merupakan

perintah dari ajaran agama islam. Karena Al-Qur’an merupakan wahyu

Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk

bagi umat islam. Jadi kita sebagai orang islam harus memepelajari dan

mengamalkan apa yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Dengan melihat dasar pembiasaan tadarus Al-Qur’an diatas, dapat

disimpulkan bahwa seseorang yang telah mempunyai kebiasaan tertentu

(tadarus Al-Qur’an) akan dapat melaksanakan dengan mudah dan

senang tanpa ada paksaan serta dia tidak akan menemukan kesulitan

karena sudah terbiasa.

24 Zuhairini, Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), hlm. 26 25 Wahyu Hidayat, Intensitas Membaca Al-Qur’an Dan Pengaruhnya Terhadap Perilaku Sosial

(49)

38

b. Tujuan Pembiasaan Tadarus Al-Qur’an

Tujuan dari pembiasaan sendiri adalah agar seseorang

memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat

dan positif dalam arti yang selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu,

selain itu arti tepat dan positif diatas adalah selaras dengan norma dan

tata moral yang berlaku baik bersifat religious maupun tradisional dan

kultural.26

Dalam tadarus Al-Qur’an tentunya mempunyai tujuan yang harus

dicapai. Tujuan tadarus Al-Qur’an adalah tadabbur (memikirkan atau

merenungkan) apa yang ada didalam Al-Qur’an baik bacaan maupun

maknanya.27

Dalam tadarus Al-Qur’an Muhammad Yunus menyebutkan tujuan

tadarus Al-Qur’an yaitu sebagai berikut:

1) Memiliki kitab suci dan membacanya serta memerhatikan

isinya, untuk menjadi petunjuk dan pengajaran bagi kita

dalam hidup didunia.

2) Mengingat hukum-hukum agama yang termaktub dalam

Al-Qur’an serta menguatkan, mendorong berbuat kebaikan dan menjauhi segala larangan atau kejahatan.

3) Mengharap keridlaan dari Allah SWT

4) Menanamkan akhlak mulia dan mengambil ibarat dan

pelajaran serta keteladanan yang termaktub dalam Al-Qur’an.

26 Zakiyah Darajat, op, cit, hlm. 63

(50)

39

5) Menanamkan keagamaan dalam hati dan menumbuhkanya

sehingga bertambah mantab keimanan dan bertambah dekat

dengan Allah SWT.28

B. Kajian Kecerdasan Emosional

1. Pengertian Kecerdasan Emosional

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Menurut Daniel

Goleman kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi

diri dan bertahan untuk menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan

hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan

menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berfikir,

berempati dan berdoa.29Sementara Peter dalam Shapiro memberikan definisi yang lebih sederhana, kecerdasan emosional adalah kemampuan

untuk menggunakan emosi secara untuk mencapai tujuan, membangun

hubungan produktif dan meraih keberhasilan, sedangkan menurut

Salovey dan Mayer, kecerdasan emosional terdapat beberapa kualitas

emosional yaitu empati, mengungkapkan dan memahami perasaan,

kemandirian, disukai, kemampuan memecahkan masalah, ketekunan,

kesetiakawanan, keramahan dan sikap hormat.

Seorang siswa dalam menjalankan tugasnya yaitu belajar disekolah

harus memiliki kemampuan mengendalikan, memahami dan

menerapkan kekuatan dan ketajaman emosinya sebagai sumber energy,

28 Mahmud Yunus, op, cit, 61

29Goleman, Daniel, Emotional Intellegence : Mengapa EI lebih penting daripada IQ. Jakarta:

(51)

40

informasi, koneksi, dan pengaruh dalam mengelolah kegiatan belajarnya

disekolah, sehingga akan memeberikan kontribusi pada tujuan yang

ingin dicapainya yaitu sukses dalam belajar.30

Setiap manusia mempunya emosi pada dirinya, karena emosi itu

penting menurut berbagai bukti. Perasaan adalah sumberdaya terkuat

yang dimiki oleh manusia, sedangkan emosi adalah sumber daya

kehidupan untuk kesadaran diri yang menghubungkan seseorang dengan

orang lain dengan kekuatan pada kehidupan di alam dunia dan akhirat.

Emosi sebagai sumber informasi berkenaan dengan esensi kehidupan

manusia, oleh karena itu kecerdasan emosional berkaitan dengan

bagaimana seseorang berinteraksi dengan lingkunganya, karena hal

tersebut juga ikut berperan dalam pembentukan pola berfikir,

kedisiplinan dan kepekaan hati.31

Macam-macam emosi manusia yang dalam kehidupan sehari-hari

muncul dan di kenal oleh masyarakat luas dapat diidentifikasikan di

antaranya sebagai berikut:

1) Amarah: beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel,

kesal hati, terganggu, rasa pahit, tersinggung, bermusuhan, dan

barangkali yang paling hebat adalah tindak kekerasan.

2) Kesedihan: pedih, sedih, muram, suram, melankolis,

mengasihi diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan depresi berat.

30 Dr. Rohiat, Kecerdasan Emosional Kepemimpinan,(Bengkulu: PT Refika Aditama, 2008)

hlm.33

31 Mei Alfian Nita, Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kemampuan Berfikir Kritis Siswa,

Gambar

Tabel 3.1 Kisi-kisi Instrumen Penelitian………………………………………..  Tabel 3.2 Rubik Penilaian Tadarus Al-Qur’an…………………………………  Tabel 3.3 Kriteria Penilaian Pembiasaan Tadarus Al-Qur’an………………….
Gambar 4.1 Diagram Batang Frekuensi Kemampuan Membaca Al-Qur’an…...  Gambar 4.2 Diagram Batang Frekuensi Kecerdasan Emosional………………
Diagram Batang Frekuensi Kemampuan Membaca Al-Qur’an

Referensi

Dokumen terkait

Karena seseorang yang sedang mengalami masalah memiliki hati yang gundah maka dibutuhkan cara untuk menenangkan yaitu salah satunya dengan tadarus Al- Qur‟an, dalam hal

3. Untuk menjelaskan pembiasaan tadarus Al-Quran yang menjadi. kegiatan rutin di MTsN

(3) Seberapa Besar Pengaruh Langsung yang Signifikan Antara Kebiasaan Tadarus Al- Quran Secara Terbimbing dan Secara Mandiri Terhadap Kelancaran Membaca Al-Quran Siswa

Pengaruh kebiasaan tadarus Al-Quran secara terbimbing, dan kebiasaan tadarus Al-Quran secara mandiri terhadap kelancaran membaca Al-Quran siswa kelas X MAN

Pengaruh kebiasaan tadarus Al-Quran secara terbimbing terhadap.. kelancaran membaca Al-Quran siswa kelas X

Tidak ada pengaruh yang signifikan intensitas membaca Al-Qur’an terhadap kecerdasan emosional siswa di SMP Negeri 2 Nglegok Blitar.. Tidak ada pengaruh yang

Membaca Al- Qur’an Terhadap Kecerdasan Emosionall Siswa Aspek mengenali emosi diri cukup kuat. 2) Dari hasil tabel di atas menunjukkan bahwa Intensitas Membaca.

Dan tabel rekapitulasi tentang pengaruh pembiasaan tadarus Al- Quran terhadap motivasi belajar ekstrinsik siswa pada mata pelajaran Al- Quran Hadits di