LANDASAN TEORI
2.1 Teori Umum
2.1.1 Konsep Sistem Informasi dan Teknologi Informasi 2.1.1.1 Pengertian Sistem Informasi
Menurut Hendarti (2011, h.1) “Sistem informasi secara sederhana dapat diartikan sebagai kumpulan dari beberapa komponen yang saling berinteraksi untuk mencapai hasil dari suatu tujuan”.
Menurut Rainer & Cegieslsi (2011, p29), Information System (IS) is the planning, development, management, and use of information technology tools to help people perform all tasks related to information processing and management.
Dapat diartikan bahwa, “Sistem Informasi (SI) adalah perencanaan, pengembangan, manajemen, dan penggunaan dari alat teknologi informasi untuk membantu dalam melakukan semua tugas yang berkaitan dengan proses informasi dan manajemen. ”
Dari kedua definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Sistem Informasi atau SI adalah sistem yang memungkinkan manajemen mengendalikan operasi sistem fisik perusahaan dalam merencanakan, mengembangkan hingga mengunakan teknologi informasi untuk membantu dalam melakukan semua tugas yang berkaitan dengan proses informasi dan manajemen.
2.1.1.2 Fungsi Sistem Informasi
Menurut buku O’brien yang diterjemahkan oleh Fitriasari, D., dkk (2006, p26), fungsi dari sistem informasi adalah sebagai berikut :
a. Area fungsional utama dari bisnis yang penting dalam keberhasilan bisnis, seperti fungsi akuntansi, keuangan, manajemen operasional, pemasaran, dan manajemen sumber daya manusia. b. Kontributor penting dalam efisiensi operasional, produktivitas dan
moral pegawai, serta layanan dan kepuasan pelanggan.
c. Sumber utama informasi dan dukungan yang dibutuhkan untuk menyebarluaskan pengambilan keputusan yang efektif oleh para manajer dan praktisi bisnis.
d. Bahan yang sangat penting dalam mengembangkan produk dan jasa yang kompetitif, yang memberikan organisasi kelebihan strategis dalam pasar global.
e. Peluang berkarier yang dinamis, memuaskan, serta menantang bagi jutaan pria dan wanita.
f.Komponen penting dari sumber daya, infrastruktur, dan kemampuan perusahaan bisnis yang membentuk jaringan.
2.1.1.3 Komponen Sistem Informasi
Menurut Rainer & Cegielski (2011, p40) komponen dasar Sistem Informasi (SI) dibagi menjadi 6 bagian, yaitu :
1. Hardware (Sumber Daya Perangkat keras)
Menurut Rainer & Cegiski (2011, p40), hardware is a device such as the processor, monitor, keyboard and printer.Together these devices accept data and information, process it, and display it.
Dapat diartikan bahwa, “yang termasuk hardware atau perangkat keras yaitu seperti processor, monitor, keyboard, dan printer. Hardware atau perangkat keras merupakan suatu alat yang menerima data dan informasi, memproses, kemudian menampilkannya.”
2. Software (Sumber Daya Perangkat Lunak)
Menurut Rainer&Cegilski(2011, p40), software is a programs that enables the hardware to process data.
Dapat diartikan bahwa, “Software atau perangkat lunak adalah suatu program yang memungkinkan hardware atau perangkat keras untuk dapat mengelolah data.”
3. Database (Sumber Daya Data)
Menurut Rainer & Cegielski (2011, p40) database is a collection of related files or tables containing data.
Dapat diartikan bahwa, “Database merupakan kumpulan dari file yang saling berkaitan atau tabel-tabel yang memuat suatu data.” 4. Network (Sumber daya jaringan)
Menurut Rainer & Cegielski (2011, p40) network is a connectiong system (wireline or wireless) that permits different computers to share resources.
Dapat diartikan bahwa, “Jaringan adalah sebuah sistem yang saling berhubungan (wireline atau wireless) yang memungkinkan komputer yang berbeda untuk berbagi sumber daya.”
5. People (Sumber daya manusia)
Menurut Rainer & cegielski (2011, p40), people are those individuals who use the hardware and software, interface with it, or use it’s output.
Dapat diartikan bahwa, “People atau pengguna adalah orang yang menggunakan hardware (perangkat keras) dan software (perangkat lunak), berinteraksi , atau menggunakan hasil dari hardware (perangkat keras) dan software (perangkat lunak) tersebut”
6. Procedures (Sumber daya prosedur)
Menurut Rainer & cegielski (2011, p40) procedures are set of introductions about how to combine the above components in order to process information and generate the desire output.
Dapat diartikan bahwa, “Prosedur adalah salah satu set pengenalan mengenai bagaiman cara untuk menggabungkan komponen yang ada dengan tujuan untuk memproses informasi dan menghasilkan hasil yang diinginkan.”
Jadi, dapat disimpukkan bahwa sistem informasi adalah sistem kerja yang terdiri dari user, hardware, software, jaringan komunikasi, sumber data yang mengumpulkan, menyimpan, menyediakan, menganalisis, menyebarkan informasi, dan mendukung satu atau lebih sistem kerja yang lain dalam suatu perusahaan.
2.1.1.4 Pengertian Teknologi Informasi
Menurut William dan Sawyer (2010, p.4) “Information technology is a general term that describes any technology that helps to produce, manipulate, store, communicate, and/or disseminate information”. Definisi tersebut dapat diartikan teknologi informasi adalah istilah umum untuk mendeskripsikan teknologi apapun yang membantu menghasilkan, memanipulasi, menyimpan, mengkomunikasikan, dan atau menyebar informasi.
Menurut Hendarti (2011, h.1) “Teknologi informasi secara sederhana adalah sebuah kombinasi teknologi komputer dengan teknologi komunikasi yang memfasilitasi perolehan, pemrosesan, penyimpanan, pengiriman, dan pembagian informasi dan isi digital lainnya”.
Menurut Rainer & Cegeilski (2011, p7), Information Technology (IT) realates to any computer based tool that people use to work with inforatmion and support the information and information-processing needs of an organization.
Dapat diartikan bahwa, “Teknologi Informasi (TI) berhubungan dengan beberapa alat berbasiskan komputer yang digunakan orang untuk bekerja dengan menggunakan dan mendukung informasi, serta pemrosesan informasi yang dibutuhkan oleh organisasi.”
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Teknologi Infomasi (TI) merupakan kumpulan dari hardware, software, telekomunikasi, manajemen database dan teknologi pemrosesan informasi lainnya yang digunakan untuk mendukung informasi, serta pemrosesan informasi yang dibutuhkan oleh organisasi.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Teknologi Informasi (TI) merupakan teknologi yang menggabungkan antara hardware, software, dan sistem informasi yang dapat membantu mengelola, menghasilkan, menyimpan, memanipulasi, mengkomunikasikan dan menyebarkan informasi.
2.1.1.5 Peran Teknologi Informasi
Mengacu pada pendapat O’brien dalam bukunya yang diterjemahkan oleh Fitriasari, D., dkk (2006, p 76), ada beberapa peran teknologi informasi dalam proses bisnis, yaitu :
1. Mempercepat proses bisnis. 2. Mendukung pemrosesan informasi.
3. Meningkatkan komunikasi dan kerja sama antar orang-orang yang bertanggung jawab atas operasi dan manajemennya.
2.1.2 Pengertian Investasti Teknologi Investasi
Menurut Schniederjans (2008, p13), IT invesments are the quintessential ingredient that can bring a quick and powerful improvement in communication and data movement, and thus bring a competitive advantage to a firm.Investasi TI dapat membawa perbaikan yang cepat dan kuat dalam komunikasi dan pergerakan data, dan dengan demikian membawa keuntungan kompetitif untuk perusahaan.
Sedangkan menurut Aradea et al dalam prosiding Seminar nasional Informatika 2011 (SemmasIF 2011), alokasi investasi TI didasarkan pada analisis kebutuhan dalam empat hal : Manajemen strategis (untuk mendapatkan keuntungan kompetitif), informasional (untuk memberikan informasi), transaksional (untuk memproses transaksi-transaksi), dan infrastruktur (untuk menyediakan layanan-layanan bersama dan membangun integrasi) dalam pernyataan-pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa investasi di bidang TI dilakukan untuk mendukung proses bisnis perusahaan dan memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan.
Berdasarkan kutipan diatas, “investasi teknologi informasi adalah sebuah investasi yang terdiri dari biaya total siklus hidup dari seluruh proyek atau potongan proyek yang melibatkan teknologi informasi, termasuk biaya operasi pasca-proyek dari sistem yang sedang dilaksanakan.”
Menurut Schniederjans (2010), the definition of IT invesment can be defined as the invesment decisions of allocating all types (i,e., human, monetary, physical) of resource to an Management Informaton System (MIS).
Dapat diartikan bahwa, “Investasi teknologi informasi (TI) juga dapat didefinisikan sebagai keputusan investasi dari pengalokasian seluruh jenis (seperti manusia, moneter, fisik) sumber daya ke dalam sebuah manajemen sistem informasi.”
Jadi, investasi teknologi informasi adalah suatu keputusan investasi dalam mengalokasikan seluruh tipe dari Sistem Informasi Manajemen (SIM), yang terdiri dari biaya total lifecycle dari keseluruhan proyek atau potongan proyek yang melibatkan teknologi informasi termasuk didalam biaya operasi setelah proyek dari sistem telah diimplementasikan.
2.1.3 Tujuan dan Manfaat Investasi Teknologi Informasi 1. Tujuan Investasi Teknologi Informasi:
Menurut Indrajit (2004, h.30 – h.32) tujuan Teknologi Informasi adalah: a. Kategori pertama adalah kaarena alasan kelangsungan hidup perusahaan
atau bisnis itu sendiri, dalam arti kata adalah bahwa perusahaan melihat bahwa keberadaan teknologi informasi di dalam bisnis terkait sifatnya adalah mutlak. Contohnya adalah perusahaan semacam bank retail, hotel kelas atas (bintang lima), transportasi penerbangan dan lain sebagainya yang “tidak mungkin” dapat bertahan lama dalam ketatnya persaingan bisnis tanpa diperlengkapi oleh teknologi informasi.
b. Kategori kedua adalah perusahaan yang hendak melakukan investasi karena alasan ingin memperbaiki efisiensi. Diharapkan dengan diimplemetasikannya teknologi informasi dalam sejumlah bidang atau aktivitas tertentu,maka akan dilakukan proses reduksi atau optimalisasi terhadap alokasi beragam sumber daya perusahaan, seperti manusia, waktu, biaya, material, dan asset dan lain sebagainnya.
c. Kategori ketiga adalah tujuan investasi untuk memperbaiki efektivitas usaha, dalam arti kata melakukan apa yang diistilahkan sebagai do the right thing. Contoh penerapan aplikasi teknologi informasi terkait dengan hal ini adalah menerapkan sistem pengambilan keputusan (Decision Support System), membangun data warehause untuk keperluan business intelligence, mengembangkan situs electronic commeree, dan lain sebagainya.
d. Kategori keempat adalah keinginan perusahaan untuk mendapatkan suatu loncatan keunggulan kompetitif (competitive advantage leap) agar dapat meninggalkan para pesaing bisnisnya dengan mengembangkan teknologi yang perusahaan lain belum dimiliki.
e. Kategori terakhir adalah suatu bentuk investasi yang dilatarbelakangi oleh peranan teknologi informasi sebagai salah satu perangkat infrastruktur yang tidak dapat dihindari keberadaannya bagi sebuah perusahaan di era global ini.
2. Manfaat Investasi Teknologi Informasi:
Menurut Indrajit (2004, h.41) manfaat Teknologi Informasi adalah:
a. Mereduksi biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan (cost displacement).
b. Menghindari biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan (cost avoidance).
c. Memperbaiki kualitas keputusan yang diambil (decision analysis).
d. Menghasilkan dampak positif yang akan diperoleh perusahaan (impact analysis)
2.1.4 Resiko atau Kegagalan Investasi Teknologi Informasi 2.1.4.1 Pengertian Resiko
Menurut Colman (2006, p.660) risk is danger or hazard, or a situation or factor involving danger or hazard, or one likely to cause loss or injury. Definisi tersebut dapat diartikan resiko adalah situasi atau faktor yang melibatkan bahaya, atau mungkin dapat menimbulkan kerugian ataupun kecelakaan.
Sedangkan menurut Black, Hashimzade, dan Myles risk is a form of uncertainty, will the actual outcome of an action is not know, probabilities can be assigned to each of the possible outcomes. Definisi tersebut dapat diartikan resiko adalah bentuk ketidakpastian akan hasil yang sebenarnya dari suatu tindakan yang tidak diketahui, probabilitasnya dapat ditetapkan untuk setiap hasil yang mungkin.
Jadi, dapat disimpulkan resiko adalah ketidakpastian akan hasil dari suatu tindakan yang mungkin dapat menyebabkan kerugian atau bahaya lainnya.
2.1.4.2 Klasifikasi Resiko
Mengacu pada pendapat Schniederjans (2010, p.12), umumnya ada 2 klasifikasi resiko TI, yaitu:
a) Physical Risks (Resiko Fisik)
Kerentanan hardware, software, dan data dari pencurian, sabotase, pembajakan, kehilangan, serta keamanan.
b) Managerial Risks (Resiko Manajemen)
Kegagalan mencapai target manfaat yang diinginkan, pengurangan biaya, ketepatan waktu penyelesaian proyek, resistensi end-user, ketidakmampuan sistem untuk mendukung pertumbuhan perusahaan dari waktu ke waktu, serta masalah ketidakcocokan pengembangan.
Sedangkan mengacu pada pendapat Ward & Daniel (2006, p.201), ada tiga tipe resiko yang berkaitan dengan investasi TI dan SI, yaitu :
a) Technical Risk (Resiko Teknikal)
Berkaitan dengan teknologi dan supplier yang dipilih, serta kemampuan perusahaan mungkin dapat menyebabkan kerugikan atau kinerja yang diperlukan.
Faktor yang mempengaruhi resiko teknikal : 1) Kemampuan teknis dari tim proyek
2) Pengetahuan internal, keterampilan dan infrastruktur yang dibutuhkan
3) Penggunaan proses yang paling tepat dalam menerapkan teknologi
b) Financial Risk (Resiko Keuangan)
Berkaitan dengan perkiraan biaya dan keuntungan yang akan diperoleh. Resiko tersebut dapat diperkirakan dengan melakukan pemeriksaan sensitivitas pada kasus keuangan dengan mengasumsikan biaya lebih tinggi sedangkan keuntungannya berkurang atau tertunda.
Faktor yang mempengaruhi resiko keuangan : 1) Lama Proyek
2) Besarnya Investasi
3) Kesesuaian mekanisme pengendalian biaya proyek 4) Perubahan lingkungan luar
2.1.4.3 Kegagalan Investasi Teknologi Informasi
Masalah investasi dan penggunaan di bidang TI merupakan hal yang cukup memusingkan bagi perusahaan. Di satu sisi perusahaan sadar bahwa harus memiliki TI yang dapat menunjang bisnis, sementara di lain pihak perusahaan harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk merancang dan mengimplementasikan TI yang dibutuhkan. Tanpa memiliki TI yang cukup canggih, sulit bagi perusahaan untuk bersaing dengan perusahan lain.
resiko atau kegagalan yang mungkin saja terjadi di dalam perusahaan. Menurut Indrajit (2004, h.5) kegagalan-kegagalan tersebut antara lain :
a) Gagalnya penerapan teknologi informasi karena berbagai faktor penyebab internal maupun eksternal. Dalam kerangka ini jelas terlihat bahwa investasi telah keluar secara percuma dan tidak dapat dikembalikan lagi.
b) Tingginya biaya pemeliharaan dan pengembangan teknologi informasi yang harus ditanggung perusahaan. Sehingga walaupun secara bisnis telah terjadi peningkatan output, membengkaknya biaya overhead pemeliharaan maupun pengembangan teknologi informasi telah menyebabkan tingginya faktor input yang dibutuhkan - sehingga secara langsung berdampak pada perhitungan produktivitas.
2.1.5 Pengertian Studi Kelayakan
Menurut Kasmir dan Jakfar (2008, p6), studi kelayakan bisnis adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu usaha atau bisnis yang akan dijalankan, dalam rangka menentukan layak atau tidak usaha tersebut dijalankan. Layak disini diartikan juga akan memberikan keuntungan tidak hanya bagi perusahaan yang menjalankannya, tetapi juga bagi investor, kreditor, pemerintah dan masyarakat luas.
Menurut Subagyo (2007, p6), studi kelayakan bisnis adalah studi kelayakan yang dilakukan untuk menilai kelayakan dalam pengembangan usaha.
Menurut O’Brien (2005, h515) yang diterjemahkan oleh Fitriasari dan Kwary “Studi Kelayakan adalah studi awal untuk merumuskan informasi yang dibutuhkan oleh pemakai akhir, kebutuhan sumber daya, biaya, manfaat, dan kelayakan proyek yang diusulkan”.
Jadi dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa studi kelayakan adalah proses yang dilakukan untuk menilai apakah suatu investasi layak dilakukan oleh perusahaan dengan melihat dari berbagai aspek, terutama aspek ekonomis
2.1.5.1 Analisis Kelayakan
Dalam Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2010 : 11), analisis kelayakan meliputi :
1. Kelayakan Teknis
Kelayakan teknis memberikan gambaran kondisi teknis dari rencana kegiatan yang memperhitungkan unsur keteknikan (engineering) dan non keteknikan (misalnya : ketersediaan material dan kemudahan pelaksanaan) sehingga suatu kegiatan dapat dilaksanakan.
2. Kelayakan Ekonomis
Kelayakan ekonomi memberikan gambaran atas efisiensi penggunaan sumber daya (input) dengan manfaat (outcomes) yang diperoleh dalam pelaksanaan rencana kegiatan. Kajian kelayakan
ekonomi berisi analisis secara kuantitatif perkiraan hasil dari kegiatan yang diusulkan.
3. Kelayakan Finansial
Kelayakan finansial memberikan gambaran aspek finansial atas penggunaan sumber daya (input) dengan hasil (output) yang diperoleh dari pelaksanaan rencana kegiatan, yang diperhitungkan dengan menggunakan harga pasar. Dalam penyajian kelayakan finansial dapat dipakai indikator indikator yang lazim dipergunakan, seperti pengembalian atas investasi (ROI), tingkat bunga pengembalian investasi (IRR), dan lain sebagainya.
4. Dampak Sosial dan Lingkungan
Dampak sosial dan lingkungan memberikan gambaran mengenai dampak sosial dan lingkungan yang mungkin timbul, baik positif maupun negative akibat pelaksanaan kegiatan yang diusulkan.
2.2 Teori Khusus
2.2.1 Cost Benefit Analysis (CBA)
Menurut Hendarti (2011, p11), cost benefit analysis merupakan sebuah teknik yang paling umum untuk mengukur biaya dan manfaat dari suatu proyek teknologi informasi. Menurut Parker yang dikutip oleh Hendarti (2011 : 11), aplikasi Traditional Cost Benefit Analysis digunakan untuk menghubungkan keuntungan-keuntungan dari domain bisnis (pendapatan atau pengurungan biaya) dengan biaya-biaya dari domain teknologi komputer, hardware, software, atau pegawai.
2.2.2 Tahapan Cost / Benefit Analysis
Mengacu pada pendapat Schniederjans M.J, Hamaker J.L dan Schniederjans A.M (2010 : 144-158), terdapat lima tahapan dalam melakukan anlisis investasi menggunakan cost/benefit analysis, yaitu :
Gambar 2.1 The five stages of cost/benefit analysis
Sumber : M.J Schniederjans, J.L Hamaker dan A.M Schniederjans, 2010
2.2.2.1 Mengidentifikasikan masalah
Mendefinisikan masalah sangat penting dalam semua jenis pengambilan keputusan, termasuk investasi TI pengambilan keputusan. Menganalisis masalah dan mendefinisikan satu-satunya cara untuk memungkinkan solusi alternatif yang tepat dapat dihasilkan.
2.2.2.2 Identifikasi dan kuantifikasi biaya dan manfaat
Setelah masalah telah didefinisikan dan alternatif yang sesuai telah diidentifikasi, tahap selanjutnya dalam analisis ini adalah untuk mengidentifikasi semua biaya dan manfaat yang relevan.
1. Biaya (cost)
Biaya merupakan sejumlah sumber daya yang dikeluarkan untuk melaksanakan proyek yang dibangun. Pendapat ini sesuai dengan Parker yang dikutip oleh Hendarti (2011 : 11), yang menyatakan “Cost is a measurement of the amount of resources required to Define Problem
Identify Costs and Benefits
Quantify Costs and Benefits
Compare Alternatives
obtain a product”, yang dapat diartikan biaya merupakan suatu pengukuran atas sejumlah daya yang dibutuhkan untuk memperoleh sebuah produk. Dalam metode information economics terdapat dua jenis biaya, yaitu :
a) Biaya pengembangan (development cost) dan
b) Biaya pemeliharaan atau biaya berjalan (maintenance/ongoing cost)
2. Manfaat (benefit)
Manfaat merupakan nilai pengembalian dari penghematan biaya. Tiga jenis manfaat menurut Parker dalam Hendarti (2011 : 11) sebagai berikut :
a) Tangible benefit
Adalah manfaat nyata yang dampak biayanya dapat diketahui dalam arus kas perusahaan.
b) Quasi-Tangible Benefit
Adalah manfaat yang terfokus pada peningkatan efesiensi proses kerja yang diterapkan dalam perusahaan.
c) Intangible Benefit
Adalah manfaat yang berfokus pada peningkatan efektifitas proses kerja yang diterapkan dalam perusahaan.
3. Nilai (value)
Nilai merupakan manfaat yang diperoleh atas penerapan sistem informasi, yang tercermin pada peningkatan kinerja organisasi pada saat sekarang maupun masa akan datang.
2.2.2.3 Menghitung biaya dan manfaat
Biaya adalah setiap pengeluaran yang harus dikeluarkan untuk pengadaan, instalasi, dan memelihara TI. Untuk pengambilan keputusan investasi TI, biaya secara tradisional dipandang sebagai baik yang nyata
(tangible) dan langsung dihubungkan dengan sistem. Namun, ini hanyalah salah satu pandangan biaya. Pandangan alternatif biaya adalah bahwa mereka tidak berwujud (intangible), yang berarti ini adalah efek yang tidak dapat mudah diberi nilai dari unit umum mengukur (biasanya dolar), dan tidak langsung dikaitkan dengan TI.
Tabel 2.1 Potential costs of an IT investment
Tangible Intangible
Hardware Resistance to change (change
management)
Software Inability to change
Telecommunications Organizational restructuring
Needs specification and updates Integration of new system into current situation
Services, e.g., installation, programming, etc
Temporary loss of productivity (learning curve)
Personnel, e.g. hiring, training, etc Formulation of IT policy and controls
Running cost Disruption to normal work practises
Furniture Downtime
Sumber : M.J Schniederjans, J.L Hamaker dan A.M Schniederjans, 2010
Manfaat (benefit) adalah konsekuensi positif dari melakukan investasi IT. Manfaat sering timbul dari membuat perbaikan dalam cara melaksanakan tugas organisasi yang diperlukan. Manfaat, secara umum, dapat diklasifikasikan ke dalam lima kategori :
1. Penghematan biaya atau penghindaran; 2. Kesalahan pengurangan;
4. Peningkatan fleksibilitas dan
5. Peningkatan perencanaan dan pengendalian.
Tabel 2.2 Potential benefits of an IT investment
Tangible Intangible
Increased productivity Improved asset utilization Decreased operational costs Improved resource control
Reduced workforce Improved organizational planning
Lower computer costs Improved organizational flexibility Lower outside vendor costs More timely information
Lower clerical and professional
costs Higher quality information
Lower in-house development costs Enhanced organization learning Reduced rate of growth in expenses Enhanced employee goodwill Lower facility costs Increased job satisfaction
Reduced software expenses
Improved decision-making Faster decision-making Lower error rates Improved operations Better corporate image
Improved customer satisfaction Increased customer loyalty
2.2.2.4 Bandingkan alternatif
Setelah semua biaya dan manfaat telah diidentifikasi dan dihitung ke dalam unit umum mengukur, alternatif yang kemudian dibandingkan satu sama lain berdasarkan kriteria umum. Membandingkan alternatif investasi dengan menggunakan beberapa metode cost/benefit analysis seperti benefit/cost ratio, net presemt value, internal rate of retun dan payback period.
Tabel 2.3 Common criteria to evaluate IT investments in cost/benefit analysis 1. Maximize the ratio benefit over costs
2. Maximize net present value of net benefits 3. Maximize internal rate of return
4. Shortest payback period
Sumber : M.J Schniederjans, J.L Hamaker dan A.M Schniederjans, 2010
2.2.2.5 Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas didefinisikan sebagai penentuan keandalan dari keputusan yang dihasilkan dari biaya / analisis manfaat. Biaya / manfaat analisis memiliki nilai yang sebenarnya dari setiap biaya dan benefit terkait dengan alternatif akan ideal. Jika nilai-nilai ini diketahui secara pasti tidak akan ada kesalahan.
Namun, nilai biaya dan manfaat, khususnya yang intangible, hanyalah sebuah perkiraan nilai dan kesalahan sangat mungkin terjadi. Sehingga analisis sensitivitas merupakan salah satu cara untuk memperkirakan tingkat kesalahan dalam perkiraan nilai.
2.2.3 Payback Period(PP)
Menurut Schniederjans (2010, p.155) “Payback period is a common accounting and finance tool used select the alternative that recovers its cost in the shortest amount of time”. Definisi tersebut dapat diartikan Payback period adalah penghitungan yang biasa digunakan untuk memilih alternative yang dapat mengembalikan biaya dalam waktu tersingkat.
Masalah utama dalam payback period adalah tidak mempertimbangkan nilai waktu uang (Time Value of Money). Namun, payback period juga mempunyai keuntungan, yaitu dapat dihitung dengan cepat dan tidak memerlukan pengetahuan tentang perhitungan present value.
Kelemahan payback method :
1. Tidak memperhitungan time value of money
2. Tidak memperlihatkan pendapatan selanjutnya setelah investasi awal kembali.
Keunggulan payback method :
1. Untuk investasi yang resikonya sulit diperkirakan, jangka waktu yang diperlukan untuk pengembalian investasi dapat diketahui dengan metode ini. 2. Metode ini dapat digunakan untuk menilai dua investasi yang mempunyai rate of return dan resiko yang sama, sehingga dapat dipilih investasi mana yang jangka waktu pengembaliannya paling cepat.
3. Metode ini mudah digunakan dan dipahami.
2.2.4 Net Present Value (NPV)
Menurut Schniederjans (2010,p.123),”Net present value is the present value of cash flow minus the initial investment cost”. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa net prenset value (NPV) adalah nilai sekarang dari arus kas dikurangi biaya investasi awal. Net Present Value dapat dihitung sebagai berikut :
C = Biaya
B = Manfaat / Keuntungan
r = Tingkat suku bunga
n = Periode
Jika NPV > 0 invetasi layak dijalankan Jika NPV< 0 investasi tidak layak dijalanan
2.2.5 Return On Investment (ROI)
Menurut Schniederjans (2010, p.129) “ Return on Investment methodology is another technique traditionally used in capital budgeting decisions where the rate of return of an investment is compared to the opportunity cost of capital”. Definisi tersebut dapat diartikan ROI adalah teknik lain yang biasanya digunakan dalam keputusan penganggaran modal dimana tingkat pengembalian investasi dibandingkan dengan biaya peluang modal. Return on Investment dapat dihitung sebagi berikut :
1. Jika ROI > 1, maka lakukan investasi. 2. Jika ROI ≤ 1, maka jangan lakukan investasi.
2.2.6 Profitability Index(PI)
Menurut Schniederjans(2010, p.126) “Profitability index is a ratio that can be send to rank project when the size of initial investment in mutually exclusive set”. Definisi tersebut dapat diartikan bahwa PI adalah rasio yang dapat dgunakan untuk menentukan tingkatan proyek ketika investasi awal berada pada mutually exclusive set. Profitability index dapat dihitung sebagai berikut :
Investasi dikategorikan layak , jika PI >1. Investasi dikategorikan tidak layak, jika PI < 1.
2.2.7 Benefit / Cost Ratio
Menurut Schniederjans (2010, p.153) “ The benefit / cost ratio is the present value of benefit devided by the present value of cost”. Definisi tersebut dapat diartikan benefit / cost ration adalah nilai sekarang(present value) dari manfaat dibagi dengan nilai sekarang dari biaya dan dihitung sebagai berikut :
B : Manfaat dalam jangka waktu t C : Biaya dalam jangka waktu t t : Jangka waktu
r : Tingkat suku bunga
Jika Rasio > 1 maka investasi layak dilakukan Jika Rasio ≤ 1 maka investasi tidak layak dilakukan
2.2.8 Skala Likert
Menurut Suliyanto (2011, p1-2) Kelebihan dari skala likert dibandingkan dengan skala pengukuran yang lain adalah mudah dipahami dan sederhana. Meskipun skala likert pada bidang ilmu sosial sangat banyak digunakan, namun sampai sekarang masih terdapat perbedaan pandangan diantara beberapa peneliti. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah
Kuisioner, dengan menggunakan data-data dari internal dan external perusahaan.
2.2.9 Ukuran Pemusatan 2.2.9.1 Mean(Rata-rata)
Menurut Lungan (2006, h.61) suatu nilai yang tepat berada ada pusat sebaran dinamakan mean atau nilai tengah dan dihitung dengan rumus :
Xi = Nilai pengamatan ke-i
= Rata-rata
n = Banyaknya unsure data
2.2.9.2 Modus
Menurut Lungan (2006, h.81) modus adalah nilai atau kelas yang mempunyai frekuensi tertinggi dalam suatu deretan (kelompok) data