• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Stress Oxidative Marker Superoxide Dismutase Pada Akuos Humor Penderita Glaukoma Primer Chapter III VII

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Stress Oxidative Marker Superoxide Dismutase Pada Akuos Humor Penderita Glaukoma Primer Chapter III VII"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

KERANGKA TEORI,KONSEPSIONAL DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Teori

Gambar 3.1 Kerangka teori Reaksi oksidatif spesifik

Glaukoma

Penurunan SOD

Kerusakan neuron primer Kerusakan neuron sekunder

Mekanik Iskemik Cedera reperfusi Kerusakan sel ganglion retina

Kehilangan sel endotel TM Penurunan perfusi

Peningkatan TIO TM collaps atau enlargment

Kerusakan mitokondria

Apoptosis

Disregulasi drainase AH

(2)

3.2 Kerangka Konsep

Variabel dependen Variabel independen

Variabel Kendali

3.3 Definisi Operasional

Kategori Tolak Ukur Pemeriksaan/

tindakan Satuan intra okuli, terdiri dari : - Glaukoma sudut terbuka - Glaukoma sudut tertutup

(3)

Aktivitas

Usia Usia penderita glaukoma

dan penderita katarak

Jenis Kelamin Jenis kelamin penderita glaukoma dan katarak

pada kerusakan sel TM sehingga mempengaruhi terjadinya peningkatan

(4)

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan metode

pengumpulan data secara cross sectional.

4.2 Tempat Dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Dilakukan di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan, Rumah Sakit

Medan Baru Medical Center, Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara,

Rumah Sakit Sahuddin Kutacane, Rumah Sakit Umum Daerah Aceh

Singkil dan Laboratorium Terpadu FK. USU

2. Waktu penelitian

Bulan Februari sampai dengan bulan Juni 2017

4.3 Populasi Dan Sampel Penelitan

Populasi penelitian adalah seluruh penderita Glaukoma Primer

yang berkunjung ke poliklinik mata Rumah Sakit H. Adam Malik Medan

dan Rumah Sakit jejaring yang memenuhi kriteria inklusi mulai Februari

2017 sampai sampel terpenuhi.

4.4 Sampel Penelitian Besar sampel

Besar sampel penelitian dihitung berdasarkan rumus :

Z = deviat baku alpha. utk

= 0,05 maka nilai baku normalnya 1,96

) 1 (

Z

(5)

d

S = Standar deviasi kadar aktivitas enzim SOD pada akuos humor

penderita glukoma primer sebesar = 2,75.2

2 1 

  = beda rerata yang bermakna ditetapkan sebesar = 0,06

Maka sampel minimal untuk masing-masing kelompok sebanyak 19

tindakan.

4.5 Kriteria Inklusi dan Eksklusi 4.5.1 Kriteria Inklusi

 Semua penderita glaukoma primer yang :

1. Tidak menderita penyakit sistemik (diabetes mellitus, hipertensi

dan penyakit vaskular lainnya) dan penyakit keganasan.

2. Tidak mendapat pengobatan antiinflamasi nonsteroid dan

kortikosteroid atau obat imunosupresan lainnya dalam satu

bulan terakhir.

3. Tidak mengkomsumsi obat-abatan antioksidan

(vitamin A, C dan E) dalam 1 bulan terakhir.

4. Tidak menderita penyakit infeksi intraokular pada segmen

anterior dan atau segmen posterior bola mata.

 Semua penderita yang digunakan sebagai kontrol yaitu katarak senilis yang menjalani tindakan ekstraksi lensa

 Bersedia ikut dalam penelitian 4.5.2. Kriteria Eksklusi

 Pengambilan akuos humor kurang dari 0,1 ml.

 Cairan akuos bercampur dengan darah.

4.6 Identifikasi Variabel

1. Variabel terikat adalah Penderita glaukoma primer

2. Variabel bebas adalah Kadar SOD pada akuos humor

(6)

4.7 Prosedur Penelitian 4.7.1 Tahapan Persiapan

Pengumpulan data dilakukan terlebih dahulu dengan menegakkan

diagnosis glaukoma primer dan katarak senilis. Subjek penelitian yang

memenuhi kriteria inklusi diberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan

penelitian dan kemudian menandatangani informed consent. Selanjutnya

dilakukan tindakan operasi setelah menendatangai surat izin operasi

(SIO).

4.7.2 Pelaksanaan Penelitian

Adapun urutan pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut :

1. Anamnesis meliputi nama, umur, jenis kelamin dan pekerjaan, lama

menderita penyakitnya berdasarkan lembar kuisioner penelitian,

kemudian dicatat dalam tabel induk.

2. Diagnosis glaukoma primer ditegakkan berdasarkan anamnesis dan

pemeriksaan visus dengan snellen chart, pemeriksaan tekanan bola

mata dengan schiotz tonometri atau NCT, pemeriksaan segmen

anterior sekaligus penilaian kematangan kataraknya dengan slit lamp

(menggunakan kriteria Burato), dan pemeriksaan funduskopi serta

pemeriksaan lapang pandangan. Pada penderita katarak jika TIO

kurang dari 21 mmHg diberikan sikloplegik (midriatyl 0,5% ED) untuk

melebarkan pupil. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan funduskopi

dinilai dengan refleks fundusnya.

3. Pengambilan spesimen akuos humor

Spesimen akuos humor adalah cairan akuos humor yang diambil saat

tindakan trabekulektomi dan ektraksi lensa sebanyak 0.1-0,2 ml

dengan menggunakan spuit 27 G. Spesimen selanjutnya di masukkan

kedalam microtube ukuran 1 cc kemudian diberi label sesuai dengan

kode yang telah ditentukan dan dimasukkan kedalam cooler box,

untuk selanjutnya disimpan dilemari pendingin laboratorium terpadu FK

(7)

4. Pemeriksaan SOD akuos humor

Setiap spesimen dilakukan centrifuge selama 1 menit dengan suhu

5oC terlebih dahulu, kemudian dilakukan pemeriksaan aktivitas SOD

dengan mengikuti tahapan pengerjaan pada SOD activity Assay Kit.

Reagen-reagen pada kit ini terdiri dari WST solution,SOD Enzyme

Solution, SOD Assay Buffer dan SOD dilution Buffer dan larutan

standar untuk membuat kurva standar.

Adapun tahapan pengerjaan SOD assayadalah sebagai berikut:

- Tambahkan 20 µl larutan sampel untuk setiap sampel dan blank 2

dengan baik dan tambahkan 20 µl H2O ke blank 1dan blank 3

- Tambahkan 200 µl dari WST working Solution ke masing-masing well

- Tambahkan 20 µl dari dilution buffer kemasing-masing blank 2 dan

blank 3 dengan baik

- Tambahkan 20 µl working solution kesetiap sampel dan blank 1

dengan baik, aduk rata ; karena superoksida akan segera dilepaskan

setelah penambahan enzim working solution ke masing-masin well,

gunakan pipet saluran ganda untuk menghindari time lag reaction dari

masing-masing well.

- Lalu inkubasikan microplate reader yang wellnya sudah terisi kedalam

spektropotometri dengan suhu 37 C selama 20 menit.

- Dilakukan pembacaan absorbansinya pada 450 nm.

- Lalu hitung aktivitas SOD dengan menggunakan rumus sebagai

berikut :

- Kemudian setelah didapatkan hasil aktivitasnya dalam bentuk satuan

% lalu dihitung kembali dengan menggunakan rumus persamaan yang

didapatkan dari kurva standar sebagai berikut :

(8)

5. Semua hasil dicatat dan dikumpulkan kemudian diolah dalam tabulasi

data.

4.8 Bahan dan Alat

Bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Snellen chart

2. Slit Lamp

3. Gonioskopi

4. Oftalmoskopi direk

5. Spuit 1 cc dengan nield spuit 27 G

6. Cooler box

7. Microtube dan standar Microtube (merek Neptune)

8. Microplate 96 well (merek IWAKI)

9. Tips pipet

10. Lemari pendingin dengan suhu -800C

11. Spektrophotometer (merek Thermo Scientific) dengan pengukuran

absorbansinya 450 nm.

12. SOD Activity Assay Kit (merek BioVision K335-100)

(9)

4.9 Alur Penelitian

Untuk lebih mempermudah dalam pelaksanaan penelitian, maka

dibuat alur penelitian yang ditunjukkan dengan bagan alur penelitian

(Gambar 4.1)

Gambar 4.1 Skema Alur Penelitian Semua penderita Glaukoma Primer/ Katarak Senilis yang datang berobat ke

poliklinik mata RSUP H. Adam Malik Medan dan RS Jejaring mulai bulan Februari 2017 sampai sampel terpenuhi

Kriteria Inklusi Kriteria Eksklusi

Sampel penelitian

Informed consent

Trabekulektomi

SOD Activity Assay Kit (spektophotometer)

Kadar aktivitas enzim (U SOD/ml)

Statistik analisis Akuos humor Glaukoma Primer

Kontrol (Katarak Senilis)

(10)

4.10 Analisis Data

Analisis data dilakukan secara analitik dan disajikan dalam bentuk

tabulasi data, hal ini dilakukan dengan tujuan:

 Untuk mendeskripsikan variabel-variabel penelitian yang disajikan dalam bentuk tabulasi data

 Untuk melihat perbedaan kadar aktivitas SOD antara kelompok glaukoma primer dan kelompok katarak senilis digunakan uji T

independent jika data kedua variabel berdistribusi normal. Jika tidak

berdistribusi normal digunakan uji Mann Whiteney.

 Untuk melihat hubungan jenis kelamin, usia dan lama menderita glaukoma atau lama menderita katarak dengan kadar aktivitas SOD

juga digunakan uji T independent jika data kedua variabel berdistribusi

normal. Jika tidak berdistribusi normal digunakan uji Mann Whiteney.

4.11 Pertimbangan Etika

Usulan penelitian ini terlebih dahulu disetujui oleh bagian llmu

Penyakit Mata FK-USU/RSUP. H. Adam Malik Medan. Penelitian ini

kemudian diajukan untuk disetujui oleh komite etika Fakultas Kedokteran

universitas Sumatera Utara.

4.13. Personalia Penelitian

Peneliti : Hera Kesumawati Siregar

4.14 Biaya Penelitian

Biaya penelitian ditanggung oleh peneliti sendiri.

4.15 Ethical Clearance dan Informed Consent

Ethical Clearance dan Informed Consent diperoleh dari Komite

Penelitian Bidang Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera

Utara.

Informed Consent diminta secara tertulis dari subjek penelitian yang

bersedia untuk ikut dalam penelitian setelah mendapat penjelasan

(11)

BAB V

HASIL PENELITIAN

5.1 Karakteristik Subjek Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat observasional

analitik dengan metode pengumpulan data secara cross sectional, yang

dilakukan tahun 2017 dengan jumlah sampel 20 tindakan trabekulektomi

pada penderita glaukoma primer dan 26 tindakan ekstraksi lensa pada

penderita katarak senilis yang datang berobat ke Poliklinik Mata subdivisi

glaukoma dan subdivisi Lensa di RSUP H. Adam Malik Medan dan

Rumah Sakit Jejaring tahun 2017, yang melibatkan 46 mata. Umur

penderita yang berobat ke Poliklinik Mata RSUP H. Adam Malik Medan

umur 40 tahun keatas dimana laki-laki berjumlah 8 orang dan 10 mata dan

perempuan berjumlah 8 orang dan 10 mata pada penderita glaukoma,

sementara pada kelompok kontrol laki-laki berjumlah 17 orang 17 mata

dan perempuan berjumlah 9 orang dan 9 mata. Data diolah dengan

menggunakan statistik komputer (Tabel 5.1)

5.1 Karakteristik Umum keseluruhan Subjek Penelitian

Variabel

Diagnosis

Total n(%) Glaukoma Primer Katarak Senilis

(12)

Berdasarkan Tabel 5.1 di atas dapat dilihat karakteristik dari

keseluruhan 46 subjek penelitian jenis kelamin laki-laki lebih banyak yaitu

sebanyak 28 (60.9%) dibandingkan jumlah perempuan sebanyak 18

(39.1%). Dimana pada glaukoma primer perbandingan jumlah laki-laki dan

perempuan sama banyak yaitu 10 mata (21.7%), sedangkan pada

penderita katarak senilis dijumpai laki-laki lebih banyak dibandingkan

perempuan yaitu 18 orang (39.1%).

Usia penderita terbanyak pada keseluruhan subjek penelitian

adalah pada kelompok usia > 60 tahun sebanyak 32 orang (69.6%).

Dimana pada penderita glaukoma primer kelompok usia > 60 tahun yaitu

12 orang (26.1%) dan pada penderita katarak sebanyak 20 orang (43.5%).

Lama Menderita terbanyak pada keseluruhan subjek penelitian

adalah pada kelompok ≤ 2 yaitu sebanyak 27 orang (58.7%). Dimana

pada penderita glaukoma primer dijumpai lebih banyak pada kelompok

yaitu > 2 tahun adalah sebanyak 12 orang (26.1%). Dimana pada

penderita katarak senilis dijumpai lebih banyak pada kelompok yaitu ≤ 2

tahun adalah sebanyak 19 orang (41.3%).

Tekanan intraokuli sebelum operasi terbanyak pada keseluruhan

subjek TIO dijumpai pada kelompok < 21 mmHg yaitu 27 mata (58.7%).

Sedangkan pada glaukoma primer terbanyak dijumpai pada kelompok ≥

36 mmHg yaitu sebanyak 11 mata (23.9%).

Tajam penglihatan sebelum operasi pada keseluruhan subjek pada

kelompok visus < 1/300 lebih bayak dijumpai pada penderita katarak

sebanyak 32 mata (69.61%). Sedangkan pada kelompok glaukoma primer

dijumpai terbanyak pada kelompok visus sebelum operasi < 1/300 yaitu 14

mata (30.4%).

Lateralitas terbanyak pada keseluruhan subjek dijumpai pada mata

kanan yaitu 26 orang (56.5%). Begitu juga pada kelompok glaukoma

(13)

5.2 Perbandingan Kadar Aktivitas SOD pada Akuor Humor Penderita Glaukoma Primer dengan Penderita Katarak

Pada penelitian ini jumlah sampel penderita glaukoma primer

sebanyak 20 mata dan penderita kontrol yaitu penderita katarak sebanyak

26 mata. Tampak perbedaan kadar rerata aktivitas SOD pada keduanya

seperti terlihat pada tabel dibawah ini. (seperti pada tabel 5.2)

Tabel 5.2 Perbandingan Kadar Aktivitas SOD pada Akuor Humor Penderita Glaukoma Primer dengan Penderita Katarak

Diagnosis Aktivitas SOD 

n xSD

Glaukoma primer 20 3.9051.459 0.02*

Katarak senilis 26 7.1215.902

Keterangan : Uji Mann Whitney

* Signifikan

Dari tabel 5.2 di atas menunjukkan perbedaan yang signifikan ( <

0.05), dimana nilai rerata aktivitas SOD pada kelompok penderita

glaukoma primer lebih rendah yaitu 3.9051.459 U/ml dibandingkan

dengan pada kelompok penderita katarak senilis yaitu sebesar 7.121 ±

5.902 U/ml.

5.3 Pengaruh Aktivitas SOD dengan Jenis Kelamin, Usia dan Lama Menderita Glaukoma pada Glaukoma Primer

Pada penelitian ini terdapat jenis kelamin laki-laki dan perempuan

sama yaitu 10 mata, usia penderita pada kelompok 40-60 tahun berjumlah

8 mata pada kelompok > 60 tahun berjumlah 12 mata. Pada karakteristik

lama menderita glaukoma < 2 tahun berjumlah 8 mata lebih kecil dari

kelompok > 2 tahun berjumlah 12 mata. Pada karakteristik TIO sebelum

operasi pada kelompok 22-35 mmHg berjumlah 9 mata lebih kecil dari

(14)

Tabel 5.3 Pengaruh Aktivitas SOD dengan Jenis Kelamin, Usia dan Lama Menderita Glaukoma pada Glaukoma Primer

Karakteristik Aktivitas SOD (U/ml) 

N xSD

Jenis Kelamin

Laki-laki 10 4.1861.568 0.403a

Perempuan 10 3.6241.364

Usia

40-60 8 3.3461.825 0.168b

>60 12 4.2781.087

Lama Menderita

<2 8 3.1521.500 0.327b

>2 12 4.1741.432

TIO

22 – 35 9 3.8421.385 0.327b

≥36 11 3.9561.583

Keterangan : a Uji Mann Whitney , b Uji T

Berdasarkan Tabel 5.3 di atas tidak menunjukkan perbedaan yang

signifikan terhadap jenis kelamin, usia, lama menderita glaukoma dan

tekanan intraokuli sebelum operasi penderita glaukoma primer, Dimana

nilai rerata aktivitas SOD pada kelompok usia > 60 tahun dijumpai paling

tinggi dibandingkan kelompok karakteristik lainnya yaitu sebesar 4.278

1.0878 U/ml, sedang pada kelompok umur 40 - 60 tahun sebesar 3.346 

1.825 U/ml.

Nilai rerata aktivitas SOD pada lama menderita glaukoma dijumpai

lebih besar pada kelompok > 2 tahun sebesar 4.1741.432, sedang

pada kelompok < 2 tahun sebesar 3.1521.500 U/ml.

Nilai rerata aktivitas SOD berdasarkan tekanan intra okuli sebelum

operasi pada glaukoma primer tertinggi yaitu pada kelompok ≥36 mmHg

sebesar 3.8421.385 U/ml. Sedang pada kelompok 22-35 mmHg sebesar

(15)

BAB VI PEMBAHASAN

6.1 Karakteristik Umum Subjek Penelitian

Dari Tabel 5.1 dapat dilihat karakteristik dari keseluruhan 46 subjek

penelitian jenis kelamin laki-laki lebih banyak yaitu sebanyak 28 (60.9%)

dibandingkan jumlah perempuan sebanyak 18 (39.1%). Dimana

perbandingan tindakan trabekulektomi yang dilakukan pada penderita

glaukoma primer dimana jumlah laki-laki dan perempuan sama banyak

yaitu 10 orang (21.7%), sedangkan pada penderita katarak senilis

dijumpai laki-laki lebih banyak dilakukan tindakan ekstraksi lensa

dibandingkan perempuan yaitu 18 orang (39.1%). Hal ini sejalan dengan

penelitian yang dilakukan oleh Dian E dkk tahun 2011, Dimana

perbandinagn laki-laki dan perempuan pada tindakan tersebut adalah

sama yaitu 50%.45

Ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Helda pada

tahun 2011. Dimana prevalensi glaukoma primer penderita laki-laki lebih

banyak dijumpai yaitu 53.85 %.46 Begitu juga pada penelitian yang

dilakukan oleh Yih Chung Tham et al pada tahun 2014. Pevalensi

glaukoma pada usia 40-80 tahun sekitar 3.54% dimana POAG lebih

banyak dijumpai di Afrika (4.20%) dan penderita PACG lebih banyak

dijumpai di Asia (1.09%) dan POAG lebih banyak dijumpai pada laki-laki

dibandingkan perempuan.47

Usia penderita terbanyak pada keseluruhan subjek penelitian

adalah pada kelompok usia > 60 tahun sebanyak 32 orang (69.6%).

Dimana pada penelitian ini, penderita glaukoma primer kelompok usia >

60 tahun yaitu 12 orang (26.1%) dan pada penderita katarak sebanyak 20

orang (43.5%). Hal ini sejalan dengan penelitian Helda tahun 2011

prevalensi glaukoma primer berdasarkan pada kelompok usia 55-64 tahun

yaitu sekitar 54.49%.46

(16)

selanjutnya pada tahun 2015, Fereira SM et al menyatakan penderita

glaukoma primer rata-rata berusia 71 ± 2 tahun.2 Demikian juga pada

penelitian yang dilakukan Masaki et al menyatakan mean ± SD usia pada

penderita glaukoma primer sebesar 70,5 ± 11,3 dimana laki-laki 95

(46,1%) perempuan 111 (53,9%).47 Hasil penelitian oleh Oshida E et al

tahun 2010 juga melaporkan, usia rata-rata penderita glaukoma dalam hal

ini NTG adalah 67±10 tahun dimana laki-laki ada 10 mata dan perempuan

3 mata.19 Begitu juga menurut Bagnis A et al pada tahun 2012, usia

rata-rata penderita POAG adalah 72,9±3,54 tahun dimana mata laki-laki dan

perempuan yang diperiksa masing-masing sebanyak 5 mata.15

Lama Menderita terbanyak pada keseluruhan subjek penelitian

adalah pada kelompok ≤ 2 yaitu sebanyak 27 orang (58.7%). Dimana pada penelitian ini penderita glaukoma primer dijumpai lebih banyak pada

kelompok yaitu > 2 tahun adalah sebanyak 12 orang (26.1%).

Tekanan intraokuli sebelum operasi terbanyak pada keseluruhan

subjek TIO terbanyak dijumpai pada kelompok < 21 yaitu 27 mata

(58.7%). Ini sejalan dengan penelitian Ferreira SM et al, dimana TIO pre

operasi pada penderita katarak adalah 14+6 mmHg.2 Sedangkan pada

glaukoma primer TIO sebelum tindakan operasi trabekulektomi terbanyak

pada penelitian ini dijumpai pada kelompok ≥ 36 mmHg yaitu sebanyak 11

mata (23.9%). Hal ini sejalan dengan penelitian Dian E dkk tahun 2011,

didapatkan TIO sebelum operasi antara 21-62 mmHg dengan rerata TIO

36,8+11,3 mmHg.45

Namun tidak sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Ferreira

SM et al pada tahun 2009, tekanan intra okuli rata-rata sebelum operasi

tabekulektomi pada penderita glaukoma primer adalah 26 + 4 mmHg.2

Tajam penglihatan sebelum operasi pada keseluruhan subjek pada

kelompok visus < 1/300 lebih bayak dijumpai pada penderita katarak

sebanyak 32 mata (69.61%). Sedangkan pada kelompok glaukoma primer

dijumpai terbanyak pada kelompok visus sebelum operasi < 1/300 yaitu 14

(17)

Lateralitas terbanyak pada keseluruhan subjek dijumpai pada mata

kanan yaitu 26 orang (56.5%). Begitu juga pada kelompok glaukoma

primer terdapat lebih banyak pada mata kanan yaitu 11 mata (23.9%).

Pada penelitian ini dilakukan tindakan 20 mata pada penderita

glaukoma primer dimana terdiri dari 11 mata (23.9%), pada penderita

POAG dan 9 mata (19.5%) pada PACG. Pada penelitian yang dilakukan

Rahayu pada tahun 2013 didapatkan 25 sampel pada mata kanan

(62.5%) dan 15 sampel pada mata kiri (37.5%).47 Sedangkan pada

penelitian yang dilakukan oleh Made R pada tahun 2014 di Denpasar

diadapatkan total 11 (45,83%) pada mata kanan dan 13 (45.83%) pada

mata kiri. Pada glaukoma primer tidak memiliki predileksi lateralitas mata

yang terlibat karena terjadi pada kedua mata atau bilateral.49

6.2 Perbandingan Kadar Aktivitas SOD pada Akuor Humor Penderita Glaukoma Primer dengan Penderita Katarak

Dari Tabel 5.2 pada penelitian ini menunjukkan perbedaan yang

signifikan ( , < 0.05). Dimana didapatkan nilai rerata aktivitas SOD pada

kelompok penderita glaukoma primer lebih rendah yaitu 3.905 + 1.459

U/ml dibandingkan dengan pada kelompok penderita katarak senilis yaitu

sebesar 7.121 + 5.902 U/ml. Hal ini membuktikan bahwa terjadi

penurunan kadar aktivitas enzim SOD dan terjadi peningkatan sistem

stres oksidatif pada penderita galukoma primer.

Hal ini sejalan dengan penelitian Bagnis A et al menunjukkan

bahwa enzim antioksidan SOD signifikan lebih rendah pada kelompok

POAG dibandingkan kelompok kontrol (menunjukkan 2 - 2,2 poin lebih

rendah)15

Menurut Behndig et al pada tahun 1998 dilakukan pemeriksaan

kandungan aktivitas SOD pada akuos humor dan lensa manusia yang

sudah meninggal dalam 24 jam didapati EC-SOD 2.2 ± 0.3 vs 2.2 ± 1.4

U/g atau ml , CuZn-SOD 2.7 ± 1.2 vs 970 ± 310 U/gr atau ml dan Mn-SOD

(18)

Hal ini mungkin disebabkan oleh tingginya stres oksidatif juga

dipengaruhi faktor usia, dimana usia penderita glaukoma primer yang

diambil sebagai sampel lebih banyak pada kelompok usia > 60 tahun yaitu

sebanyak 12 orang (26,1%). Bertambahnya usia seseorang diikuti oleh

meningkatnya produksi radikal bebas, sel tubuh mengalami degenerasi,

sehingga kerja sel tidak optimal dan berdampak pada rendahnya aktivitas

enzim selular (SOD, catalase, dan glutation peroksidase), dimana SOD

memegang peranan penting sebagai garis pertahanan pertama dalam

melindungi kerusakan oksidatif .37

Pertambahan usia dapat terjadi akibat penurunan status

antioksidan yang kemudian menghambat progresivitas pertahanan tubuh,

untuk memperbaiki kondisi tersebut di atas, perlu di imbangi dengan

asupan suplemen antioksidan.50

Demikian juga sejalan menurut Monica pada tahun 1996 bahwa

kadar aktivitas SOD pada manusia yang diperiksa trabekular

meshworknya dengan batas waktu 36 jam setelah meninggal mengalami

penurunan sesuai dengan peningkatan usia donor. Dimana p = 0.00022;

r2 = 0,67; slope = - 0.96/tahun; intercept =104. Dan pada penelitian ini

dikatakan tidak dijumpai hubungan signifikan efek waktu pemeriksaan

dengan penurunan aktivitas enzim SOD.37,44

Alvarado et al menyatakan bahwa angka rata-rata kehilangan sel

TM diperkirakan 0.58% per tahun dari saat lahir sampai usia 81 tahun

Pada usia 30-91 tahun aktivitas SOD menurun dengan meningkatnya

usia. 44,18

Namun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan

Fereira SM et al, dimana angka rerata aktivitas SOD pada akuos humor

pada kelompok eksfoliatif glaukoma adalah 44 ± 7 vs 42 ± 5 U/ml

dibandingkan kelompok POAG. Hasil ini signifikan meningkat 67% pada

kedua kelompok diatas dibandingkan dengan kelompok katarak 27 ± 3

U/ml; (p = 0.001) namun tidak signifikan pada kedua kelompok glaukoma.2

Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor usia dan derajat kekeruhan

(19)

merangsang produksi antioksidan enzimatik sebagai suatu respon

adaptasi sel terhadap stres oksidatif. Dengan demikian dapat dikatakan

bahwa pasien yang berhasil beradaptasi dengan kondisi stres oksidatif

akan terbentuk SOD serum yang cukup tinggi yang melindunginya dari

katarak senilis. Sebaliknya pasien yang tidak mampu beradaptasi akan

menderita katarak dan SOD serumnya akan rendah. Kemampuan

adaptasi seseorang sangat dipengaruhi oleh genetik dan lingkungannya.51

Coleman et al pada tahun 2008 menyatakan bahwa diet dengan

intake antiokasidan yang rendah, misalnya retinol dan vit B1 berhubungan

dengan peningkatan resiko terjadinya glaukoma.52

Begitu juga penelitian yang pernah dilakukan oleh Kang et al pada

tahun 2004 dari total 1.115 sampel pada penelitiaanya fraktur pada

osteoporosis terdapat 95 orang yang di diagnosa dengan glaukoma dan

pada pasien-pasien ini di evaluasi dan dianalisis progresivitas dari

glaukomanya ternyata progresivitasnya menjadi lambat pada pasien yang

sering mengkomsumsi buah dan sayuran .53

Pada penelitian yang dilakukan oleh Zanon-Moreno et al pada

tahun 2011 dan 2013 menyatakan bahwa faktor genetik juga memainkan

peranan pada modulasi efek diet antioksidan pada penderita glaukoma.

Didapati pasien-pasien POAG memiliki konsentrasi plasma vitamin A dan

C yang rendah.54,55

Pertambahan usia akan berpengaruh pada penurunan produksi

SOD dan di lain pihak terjadi peningkatan produksi ROS, maka semakin

banyak pula SOD yang terpakai untuk menetralkan ROS. Lensa dengan

tingkat kekeruhan yang rendah mencerminkan aktivitas SOD yang cukup

tinggi, sehingga mampu menangkal ROS dan kekeruhan lensa dapat

dihambat. Komposisi lipid lensa berubah secara dramatis sesuai dengan

(20)

6.3 Pengaruh Aktivitas SOD dengan Jenis Kelamin, Usia dan Lama Menderita Glaukoma pada Glaukoma Primer

Berdasarkan Tabel 5.3 di atas tidak menunjukkan perbedaan yang

signifikan terhadap jenis kelamin, usia, lama menderita glaukoma dan

tekanan intraokuli sebelum operasi penderita glaukoma primer. Dimana

nilai rerata aktivitas SOD pada kelompok usia > 60 tahun dijumpai paling

tinggi dibandingkan kelompok karakteristik lainnya yaitu sebesar 4.278

1.0878 U/ml.

Pada penelitian ini didapatkan nilai rerata aktivitas SOD pada

laki-laki dibandingkan perempuan lebih tinggi yaitu sebesar 4.1861.568

U/ml, sedang pada perempuan yaitu sebesar 3.6241.364 U/ml. Sejauh

ini belum ada data penelitian yang mengaitkan tentang pengaruh jenis

kelamin dengan aktivitas enzim SOD.

Pada penelitian ini diadapatkan nilai rerata aktivitas SOD pada

kelompok usia > 60 tahun sebesar 4.278 1.087 U/ml lebih besar,

sedang pada kelompok umur 40 - 60 tahun sebesar 3.346 1.825 U/ml.

Hal ini sejalan dengan penjelasan monica et al bahwa POAG

merupakan penyakit yang berhubungan dengan faktor usia, ini berarti

seseorang yang menderita glaukoma lebih rentan berpotensial dalam

pengaruh terjadinya penurunan aktivitas enzim SOD, ini dibuktikan pada

penelitian yang dilakukannya terhadap trabekular meshwork cadaver

manusia pada tahun 1996, untuk mengetahui pengaruh usia dengan

aktivitas spesifik enzim SOD ternyata pada kisaran usia 30-90 tahun

dijumpai kadar SOD semakin menurun dengan bertambahnya usia.37

Pada penelitian yang dilakukan Rose tahun 2014 menunjukkan

kadar aktivitas SOD eritrosit penderita katarak nuklear menurun secara

signifikan pada pria usia lanjut dibandingkan pada kelompok pria dewasa

( = 0,014), dimana kadarnya pada pria usia lanjut (181.65 + 26.05 U/ml)

pria dewasa (200.13 ± 26.31 U/ml).56

Demikian juga menurut Winarsi dkk, bahwa aktivitas SOD

perempuan usia lanjut mengalami penurunan ( = 0.007) ini merupakan

(21)

kondisi tersebut merupakan salah satu marker aging. Hal ini terjadi karena

radikal bebas sangat reaktif menyerang membran sel termasuk sel

endotel, sehingga menekan status antioksidan dan sistem imun.43

Pada penelitian ini didapatkan nilai rerata aktivitas SOD pada

kelompok lama menderita glaukoma > 2 tahun sebesar 4.1741.432

lebih besar, sedang pada kelompok < 2 tahun sebesar 3.1521.500 U/ml.

Sampai saat ini belum ada data yang mengaitkan tentang pengaruh lama

menderita glaukoma dengan aktivitas enzim SOD, namun pada penelitian

ini lama menderita glaukoma ternyata tidak berpengaruh dengan aktivitas

enzim SOD pada penderita glaukoma primer.

Nilai rerata aktivitas SOD berdasarkan tekanan intra okuli sebelum

operasi pada glaukoma primer tertinggi yaitu pada kelompok ≥ 36 mmHg

sebesar 3.8421.385 U/ml. Sedang pada kelompok 22-35 mmHg sebesar

3.9561.583 U/ml. Namun menurut Fereira et al perubahan IOP sebagai

hasil dari proses ischemic menyebabkan penurun aliran oksigen ke

jaringan sehingga meningkatkan konsentrasi ion kalsium intrasellular

dimana hal ini dapat mengaktifkan proteolisis dan dapat mengkonversi

xanthine menjadi xanthine oxidase yang akhirnya menghasilkan anion

superoksida dan akan meningkatkan aktivitas SOD.2

Analisa yang didapat pada penelitian ini ternyata tidak ada

pengaruh antara jenis kelamin, usia, lama menderita glaukoma dan

hubungannya dengan peningkatan tekanan intra okular sebelum tindakan

operasi pada penderita glaukoma primer dengan kadar aktivitas SOD.

Walaupun menurut referensi yang ada pertambahan usia merupakan

faktor resiko untuk terjadinya glaukoma dimana pada penderita glaukoma

dapat terjadi penurunan kadar aktivitas SOD. Hal ini mungkin merupakan

keterbatasan dari penelitian ini yaitu kurang besarnya sampel penderita

(22)

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

1. Tidak ada pengaruh antara aktivitas enzim SOD terhadap jenis

kelamin, usia, lama menderita glaukoma dan hubungannya

dengan tekanan intraokular sebelum tindakan operasi.

2. Teradapat penurunan kadar aktivitas SOD pada penderita

glaukoma primer dibandingkan kelompok kontrol.

7.2 Saran

1. Mengingat glaukoma primer adalah penyakit multifaktorial, maka

diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mencari faktor-faktor lain

yang ikut berperan dalam etiopatogenesis glaukoma primer selain

aktivitas enzim SOD.

2. Diperlukan penyuluhan kepada masyarakat tentang perlunya

asupan sayuran dan buah-buahan karena banyak mengandung

antioksidan untuk mencegah penurunan kadar aktivitas enzim

SOD lebih lanjut pada pasien pasien glaukoma.

3. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dilanjutkan dengan

menggunakan sampel yang lebih besar. Dan kiranya dapat

dilakukan penelitian perbandingan kadar aktivitas SOD dengan

kelompok kontrolnya menggunakan glaukoma jenis lainnya.

Selain itu diharapkan penelitian ini dapat dilanjutkan dengan

melakukan perbandingan dalam menentukan kadar aktivitas SOD

penderita glaukoma dengan kontrol yang mendapat terapi

tambahan antioksidan sehingga dapat diketahui apakah

pemberian antioksidan pada penderita glaukoma benar-benar

bermanfaat sehingga mungkin dapat ditetapkan sebagai terapi

Gambar

Gambar 3.1 Kerangka teori
Gambar 4.1 Skema Alur Penelitian
Tabel 5.3 Pengaruh Aktivitas SOD dengan Jenis Kelamin, Usia dan Lama Menderita Glaukoma pada Glaukoma Primer

Referensi

Dokumen terkait

Mengingat suatu permasalahan bisa terjadi kapan saja, maka PT Pos Indonesia harus menyiapkan strategi untuk membuat pengguna jasa tetap percaya dan selalu menggunakan jasa

c) Risiko Fisik : Kemungkinan bahwa produk dapat membahayakan konsumen dan lain-lain dalam arti fisik-in lainnya kata, ketakutan konsumen bahwa produk tertentu dapat

Gambar 6.1 Grafik Perkembangan Pendapatan Daerah dari PAD Kabupaten Sijunjung Tahun

Jiwa yang lemah itu tidak sanggup mencapai tingkat yang lebih tinggi, jiwa yang akan menghubungkannya pada semesta alam sehingga ia dapat memahami adanya kesatuan yang menjelma

Penulis berpendapat bahwa TOC dalam kasus Benjina memanfaatkan kondisi ideal yang memiliki resiko yang rendah dan imbalan yang tinggi tersebut dengan memasuki pasar ilegal,

Hasil penelitian yang dilakukan pada 18 partisipan didapatkan faktor yang mempengaruhi peran kader kesehatan jiwa meliputi faktor pendukung meliputi pengetahuan,

Dalam penelitian ini wawancara dilakukan untuk memperoleh data – data secara langsung kepada penulis naskah monolog Inggit yaitu, Ahda Imran dan juga Pramukti Ardhi

Browse » Home » FISIKA » Penggunaan listrik Ac dan DC di kehidupan sehari hari DC merupakan singkatan dari direct current yang artinya arus listrik searah,dan AC singkatan