• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS KELOMPOK HUKUM EKONOMI ISLAM GADAI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TUGAS KELOMPOK HUKUM EKONOMI ISLAM GADAI"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS KELOMPOK HUKUM EKONOMI ISLAM

GADAI SYARIAH

Dosen Pengampu: Ro’fah Setyowati, SH, MH, PhD

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 8

ISMA LEONITA (11010111140481)

ALIS NINDY RAIHANAH (11010111140509)

ADHITYAS RIZKA ANDHINI (11010111140516)

ANISA SOLEKHA (11010111140562)

DIAH NUZUL PERMATASARI (11010111140570)

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS DIPONEGORO

▸ Baca selengkapnya: contoh surat gadai mobil berkekuatan hukum

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Dalam realitas social ekonimo masyarakat kerap ditemukan kondisi masyarakat yang memiliki harta dalam bentuk selain uang tunai dan pada saat yang sama, yang bersangkutan mengalami kesulitan likuiditas sehingga membutuhkan dana dalam bentuk tunai. Pilihan transaksi yang sering digunakan oleh masyarakat yang menghadapi masalah ini adalah menggadaikan barang-barang yang berharga. Istilah gadai barang nampaknya sudah sangat akrab di masyarakat kita, terutama kalangan masyarakat yang membutuhkan dana tunai saat kondisi likuiditasnya kurang baik. Karena masyarakat yang membutuhkan dana tunai dengan model gadai permintaannya cenderung besar, pegadaian sebagai lembaga yang merespon kebutuhan masyarakat pun akhirnya dapat eksis dan berkembang pesat. Pegadaian lahir dari interaksi permintaan dan penawaran terhadap dana tunai dalam waktu yang cepat dengan barang berharga sebagai jaminannya. Selama ini, bisnis pegadaian relative tumbuh dan berkembang, baik yang dilaksanakan oleh swasta maupun pemerintah. Tingginya permintaan terhadap praktik gadai, bahkan menyebabkan munculnya pelaku bisnis gadai dalam berbagai skala dengan beragam model dan bentuk transaksi. Tidak jarang karena masyarakat membutuhkan dana tunai dengan cepat, gadai barang menjadi salah satu modus rentenir dalam menjalankan operasinya.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1.2.1 Apa Pengertian Gadai Syariah? 1.2.2 Bagaimana sejarah Gadai Syariah?

1.2.3 Apa saja yang menjadi dasar hukum Gadai Syariah? 1.2.4 Apa saja rukun, akad dan syarat-syarat Gadai Syariah? 1.2.5 Hal-hal apa saja yang berkaitan dengan Gadai Syariah?

1.2.6 Apa saja yang menjadi hak dan kewajiban penerima dan pemberi Gadai Syariah? 1.2.7 Bagimana operasional Gadai?

1.2.8 Bagaimana perbedaan Gadai Syariah dengan Gadai Konvensional?

1.3 TUJUAN

(3)

Tujuan utama usaha pegadaian adalah mengatasi agar masyarakat yang sedang membutuhkan uang tidak jatuh kepada rentenir dengan bunga yang sangat tinggi. Perusahaan pegadaian menyediakan pinjaman uang dengan jaminan barang-barang berharga. Jika seseorang membutuhkan dana, ia dapat mengajukan ke berbagai sumber dana, seperti meminjam uang di bank dan lembaga keuangan lain. Sementara kendala utamanya adalah prosedur yang rumit dan memakan waktu yang relative lama, disamping persyaratan yang lebih sulit. Begitu pula dengan jaminan barang-barang tertentu karena tidak semua barang dapat dijadikan jaminan di bank.

Adapun di perusahaan pegadaian, prosesnya sangat mudah. Masyarakat cukup dating ke kantor pegadaian terdekat dengan membawa jaminan barang tertentu sehingga uang pinjaman pun dapat dalam waktu singkat terpenuhi sesuai dengan nilai barang-barang yang untuk apa uang tersebut digunakan dan hal ini tentu bertolak belakang dengan perbankan yang harus dibuat serinci mungkin tentang penggunaan dananya. Begitu pula dengan transaksi yang diberikan relatif ringan, apabila tidak dapat melunasi dalam waktu tertentu. Sanski yang paling berat adalah pelelangan barang jaminan untuk menutupi kekurangan pinjaman.

BAB II PEMBAHASAN

(4)

Transaksi hukum gadai dalam fikih Islam disebut ar-rahn. Ar-rahn adalah suatu jenis perjanjian untuk menahan suatu barang sebagai tanggungan utang. Pengertian ar-rahn dalam bahasa Arab adalah ats-tsubut wa ad-dawan, yang berarti “tetap” dan “kekal”, seperti dalam kalimat maun rahin, yang berarti air yang tenang. Hal itu, berdasarkan firman Allah SWT dalam QS. Al-Muddatstsir (74) ayat 38 sebagai berikut:

Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.

Pengertian “tetap” dan “kekal” dimaksud, merupakan makna yang tercakup dalam kata al-habsu, yang berarti menahan. Kata ini merupakan makna yang bersifat materiil. Karena itu, secara bahasa kata ar-rahn berarti “menjadikan sesuatu barang yang bersifat materi sebagai pengikat utang”.

(5)

Menjadikan seuatu barang yang mempunyai nilai harta dalam pandangan syara’ sebagai jaminan utang, yanag memungkinkan untuk mengambil seluruh atau sebagian utang dari barang tersebut.

Selain pengertian gadai (rahn) yang dikemukakan diatas, penulis mengungkapkan pengertian gadai (rahn) yang diberikan oleh para ahli hukum Islam sebagai berikut.

a. Ulama Syafi’iyah mendefinisikan sebagai berikut.

Menjadikan suatu barang yang biasa dijual sebagai jaminan utang dipenuhi dari harganya, bila yang berutang tidak sanggup membayar utangnya.

b. Ulama Hanabilah mengungkapkan sebagai berikut.

Suatu benda yang dijadikan kepercayaan suatu utang, untuk dipenuhi dari harganya, bila yang berutang tidak sanggup membayar utangnya.

c. Ulama Malikiyah mendefinisikan sebagai berikut.

Sesuatu yang bernilai harta (mutamawwal) yang diambil dari pemiliknya untuk dijadikan pengikat atas utang yang tetap (mengikat).

d. Ahmad Azhar Bayir

(6)

e. Muhammad Syafi’I Antonio

Gadai syariah (rahn) adalah menahan salah satu harta milik nasabah (rahin) sebagai barang jaminan (marhun) atas utang/pinjaman (marhun bih) yang diterimanya. Marhun tersebut memiliki nilai ekonomis. Dengan demikian, pihak yang menahan atau penerima gadai (murtahin) memperoleh jaminan untuk dapat mengambil kembali seluruh atau sebagian piutangnya.

Berdasarkan pengertian gadai yang dikemukakan oleh para ahli hukum Islam diatas, penulis berpendapat bahwa gadai (rahn) adalah menahan barang jaminan yang bersifat materi milik si peminjam (rahin) sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya, dan barang yang diterima tersebut bernilai ekonomis, sehingga pihak yang menahan (murtahin) memperoleh jaminan untuk mengambil kembali seluruh atau sebagian utangnya dari barang gadai dimaksud, bila pihak yang menggadaikan tidak dapat membayar utang pada waktu yang telah ditentukan. Karena itu, tampak bahwa gadai syariah merupakan perjanjian antara seseorang untuk menyerahkan harta benda berupa emas/perhiasan/kendaraan dan/ atau harta benda lainnya sebagai jaminan dan/ atau agunan kepada seseorang dan/ atau lembaga penggadaian syariah berdasarkan hukum gadai syariah; sedangkan pihak lembaga penggadaian syariah menyerahkan uang sebagai tanda terima dengan jumlah maksimal 90% dari nilai taksir terhadap barang yang diserahkan oleh penggadai. Gadai dimaksud, ditandai dengan mengisi dan menandatangani Surat Bukti Gadai (rahn).

Jika memperhatikan pengertian gadai (rahn) diatas, maka tampak bahwa fungsi dari akad perjanjian antara pihak peminjam dengan pihak yang meminjam uang adalah untuk memberikan ketenangan bagi pemilik uang dan/ atau jaminan keamanan utang yang dipinjamkan. Karena itu, rahn pada prinsipnya merupakan suatu kegiatan utang piutang yang murni berfungsi social, sehingga dalam bukti fiqh mu’amalah akad ini merupakan akad tabarru’ atau akad derma yang tidak mewajibkan imbalan.

(7)

Sejarah pengadilan syariah di Indonesia tidak dapat di ceraipisahkan dari kemauan warga masyarakat islam untuk melaksanakan transaksi akad gadai berdasarkan prinsip syariah dan kebijaka pemerintah dalam pengembangan praktik ekonomi dan lembaga keuangan yang sesuai dengan nilai dan prinsip hukum islam. Hal ini dimaksud, dilatarbelakangi oleh maraknya aspirasi warga masyarakat islam di berbagai daerah yang menginginkan pelaksanaan hukum islam dalam berbagai aspeknya termasuk pegadaian syariah. Selain itu semakin populernya praktik bisnis ekonomi syariah dan mempunyai peluang yang cerah untuk dikembangkan.

Berdasarkan hal di atas, pihak pemerintah mengeluarkan peraturan perundang-undanga untuk melegitimasi secara hukum positif pelaksanaan praktik bisnis sesuian dengan syariah yang termasuk gadai syariah. Karena itu, pihak pemerintah bersama DPR merumuskan rancangan peraturan perundang-undangan yang kemudian disahkan pada bulan Mei menjadi UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Undang-undang dimaksud, memberikan peluang untuk diterapkan praktik perekonomian sesuai syariah di bawah perlindungan hukum positif.

Berdasarkan undang-undang tersebut maka terwujud lembaga-lembaga keuangan syariah (LKS). Pada awalnya, muncul lembaga perbankan syariah, yaitu Bank Mualamat menjadi pionirnya, dan seterusnya bermunculan lembaga pegadaian syariah, dan lain-lainnya.

Besarnya permintaan warga masyarakat terhadap jasa Perum Pegadaian membuat lembaga-lembaga keuangan syariah juga melirik kepada sektor pegadaian, sektor yang dapat dikatakan agak tertinggal dari sekian banyak lembaga keuangan syariah lainnya. Padahal dalam diskursus ekonomi islam, pegadaian juga merupakan salah satu praktik transaksi sosial dan keuangan yang pernah dipraktikkan di masa Nabi Muhammad saw. Yang amat menjajikan mengayomi perekonomian rakyat untuk dikembangkan.

(8)

Usaha lembaga keuangan syariah dimaksud, dimulai oleh PT Bank Muamalat Indonesia (BMI), ysng merupakan salah satu lembaga perbankan syariah pertama di Indonesia, beraliansi dengan Perum Pegadaian. Bentuk kerjasama kedua pihak, yaitu Perum Pegadaian bertindak sebagai kontributor sistem gadai dan BMI sebagai pihak kontibutor muatan sistem syariah dan dananya. Aliansi kedua pihak dimaksud, melahirkan Unit Layanan Gadai Syariah (kini, Cabang Pegadaian Syariah). Selain aliansi kedua lembaga dimaksud, gadai syariah juga dilakukan oleh bank-bank umum syariah, seperti BANK Syariah Mandiri (BSM) dan bank-banki umum lainnya yang membuka unit usaha syariah (UUS).

Melihat adanya peluang dalam mengimplementasikan praktik gadai berdasarkan prnsip syariah, Perum Pegadaian yang telah bergelut dengan bisnis pegadaian konvensional selama beratus-ratus tahun lebih, berinisiatif untuk mengadakan kerjasama dengan PT Bank Muamalat Indonesia (BMI) dalam mengusahakan praktik gadai syariah sebagai diversifikasi usaha gadai yang sudah dilakukannya sehingga pada bulan Mei tahun 2002, ditandatangani sebuah kerjasama antara keduanya untuk meluncurkan gadai syariah, yaitu BMI sebagai penyandang dana.

Untuk mengelola kegiatan dimaksud, dibentuklah Unit Layanan Gadai Syariah sebagai gerai layanan tersendiri namun masih dalam satu atap pada cabang-cabang Perum Pegadaian. Cabang pertama yang terpilih ketika itu adalam Perum Pegadaian Cabang Dewi Sartika, yang menerima pembiayaan modal dari BMI sebesar Rp. 1.550.000.000,00 dan sejumlah uang sebesar Rp. 24.435.000,00 yang diperuntukkan bagi perluasan jarinhan Unit Layanan Gadai Syariah (kini, Cabang Pegadaian Syariah). Kerja sama dimaksud, menggunakan skim musyarakah ( kerjasama investasi bagi hasil). Nisbah bagi hasil yang disepakati oleh BMI dengan Perum Pegadaian adalah 50:50, yang ditinjau setiap 6 bulan sekali dengan cara pembayaran bulanan.

Realisasi kerjasama strategis tersebut, sebenarnya sudah pernah direncanakan sejak awal tahun 1998 ketika beberapa General Manager (GM) Perum Pegadaian melakukan studi banding ke Malaysia, yang selanjutnya diadakan penggodokan rencana pendirian pegadaian syariah. Hanya saja dalam proses selanjutnya, hasil studi banding yang didapatkan hanya ditumpuk dan dibiarkan, karena terhambat oleh permasalahan internal perusahaan.

(9)

yang disebut Gadai Emas Syariah Mandiri (BSM), pada tangal 1 November 2001 atau bertepatan dengan ulang tahun kedua BSM. Dalam pelaksanaan Gadai Syariah ini, BSM menerapkan konsep transaksi (akad), yaitu gadai sebagai prinsip dan akad sebagai tambahan terhadap produk lain, seperti dalam pembiayaan bai’al-murabahah, yaitu (a) bank dapat menahan barang nasabah sebagai konsekuensi dari akad yang dilakukannya. Namun bank tidak menahan jaminan fisik, kecuali surat-suratnya saja (secara fiducia), (b) gadai sebagai produk, yaitu bank dapat menerima dan menahan barang jaminan untuk pinjaman yang diberikan dalam jangka waktu pendek.

Gadai Emas Banik Syariah Mandiri ketika itu, masih menerapkan fee terhadap jumlah pinjaman yang diberikan sebesar 4% , yang dialokasikan sebagai pendapatan yang dibagikan kepada para deposan dan biaya administrasi bank, yang didalamnya juga termasuk asuransi. Pelaksanaan gadai dimaksud, mendapat reaksi dari Dewan Syariah Nasional (DSN) yang menganggapnya tidak lebih sebagai praktis bisnis ribawi dan menyalahi prinsip dan nilai hukum islam, yang membungakan pinjaman. Oleh karena itu, mulai bulan Juli 2002, BSM tidak lagi menerapkan praktik gadai konvensional dan menggantinya dengan skim pembebanan biaya pada penyimpanan barang gadai, (deposit box) yang ditentukan oleh besar dan kecilnya terhadap risiko barang gadai (marhum), bukan pada besarnya pinjaman. Hal dimaksud, sesuai fatwa DSN No. 26/DSN/MUI/2002.

Berdasarkan perubahan status pegadaian, maka lembaga syariah mulai melirik pegadaian . Bank Muamalat dalam salah satu langkah aliansinya telah menggandeng Perum Pegadaian. Bentuk kerjasama Bank Muamalat dengan Perum Pegadaian , yaitu memberikan kontribusi dalam sistem gadainya, sedangkan Bank Muamalat memberi muatan sistem syariah. Lain halnya pihak Bank Syariah Mandiri, yaitu mengembangkan sendiri sebagai salah satu produk yang cukup diandalkan.

(10)

Bukanlah tanpa alasan bagi warga masyarakat yang tertarik untuk menggarap gadai ini. Disamping alasan rasional, bahwa gadai ini memiliki potensi pasar yang besar, sistem pembiayaan ini memang memiliki landasan syariah. Apalagi terbukti, di negara-negara yang mayoritas penduduk muslim, seperti Timur Tengah dan Malaysia, pegadaian syariah telah berkembang pesat.

Pengertian gadai atau ar-rahn seperti yang telah diuraikan adalah menyimpan sementara harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman uang yang diberikan oleh yang meminjamkan. Berarti, barang yang dititipkan pada si peminjam uang dapat diambil kembali dalam jangka waktu tertentu.

Dalam QS. Al-Baqarah (2) ayat 283:

Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).

(11)

Karena itu, secara teknis gadai syariah dapat dilakukan oleh suatu lembaga tersendiri seperti Perum Pegadaian, perusahaan swasta dan pemerintah, atau merupakan bagian dari produk-produk finansial yang ditawarkan oleh pihak bank.

Dalam hal perbankan syariah, kontak rahn digunakan pada 2 (dua) hal sebagai berikut :

1. Sebagai produk pelengkap, yakni sebagai akad tambahan (jaminan) bagin produk lain misalnya pembiayaan murabahah.

2. Sebagai produk tersendiri. Bedanya dengan pegadaian biasa, pada rahn nasabah tidak dikenai bunga, yang dipungut dari nasabah adalah biaya penaksiran (valuation), penitipan, pemeliharaan, penjagaan dan administrasi.

Mekanismenya biasa saja: barang yang digadaikan ditaksir (tentu pemilik barang harus dapat membuktikan bahwa itu barang miliknya secara sah) kemudian nasabah memperoleh pembiayaan dalam jumlah tertentu, yang bisa dicover oleh nilai barang yang digadaikan dimaksud. Prosesnya cepat dan praktis. Dewan Syariah Nasional telah menetapkan bahwa lembaga gadai diperkenankan mengambil biasa yang memang diperlukan, tanpa ada unsur mengambil keuntungan berlebihan

Praktik gadai syariah ini sangat strategis mengingat citra pegadaian memang telah berubah sejak enam-tujuh tahun terakhir ini. Pegadaian, kini bukan lagi dipandang tempatnya masyarakat kalangan bawah mencari dana di kala anaknya sakit atau butuh biaya sekolah. Lembaga pegadaian saat ini juga tempat para pengusaha mencari dana segar untuk kelancaran bisnisnya. Sebagai ilustrasi seorang eksportir produk kerajinan membutuhkan dana cepat untuk memberikan modal kerja bagi para pengerajin binaannya. Maka bisa saja ia menggadaikan mobilnya untuk memperoleh dana segar beberapa puluh juta rupiah. Setelah produk kerajinannya jadi dan diekspor, ia pun mendapat bayaran dari mitra luar negerinya, selekas itu pula ia menebus mobil yang digadaikannya. Bisnis tetap jalan, likuiditas lancar, dan yang penting kepercayaan dari mitra bisnis di luar negeri tetap terjaga.

(12)

Dasar hukum yang menjadi landasan gadai syariah adalah ayat-ayat Al-quran, hadis Nabi Muhammad saw., ijma’ ulama, dan fatwa MUI. Hal dimaksud, diungkapkan sebagai berikut.

1. Al-quran

QS. Al-Baqarah (2) ayat 283 yang digunakan sebagai dasar dalam membangun konsep gadai adalah sebagai berikut.

Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kammu kerjakan.

Syaikh Muhammad ‘Ali As-Sayis berpendapat, bahwa ayat Al-quran di atas adalah petunjuk untuk menerapkan prinsip kehati-hatian bila seseorang hendak melakukan traksaksi utang-piutang yang memakai jangka waktu dengan orang lain, dengan cara menjaminkan sebuah barang kepada orang yang berpiutang (rahn).

(13)

‘Ali As-Sayis menganggap bahwa dengan rahn, prinsip kehati-hatian sebenarnya lebih terjamin ketimbang bukti tertulis ditambah dengan persaksian seseorang. Sekalipun demikian, penerima gadai (murtahin) juga diperbolehkan tidak menerima barang jaminan (marhun) dari pemberi gadai (rahin), dengan alas an bahwa ia meyakini pemberi gadai (rahin) tidak akan menghindari kemudaratan yang diakibatkan oleh berkhianatnya salah satu pihak atau kedua belah pihak ketika keduanya melakukan traksaksi utang-piutang.

Fungsi barang gadai (marhun) pada ayat diatasn adalah untuk menjaga kepercayaan masing-masing pihak, sehingga penerima gadai (murtahin) meyakini bahwa pemberi gadai (rahin) beritikad baik untuk mengembalikan pinjamannya (marhum bih) dengan cara menggadaikan barang atau benda yang dimilikinya (marhun), serta tidak melalaikan jangka waktu pengembalian utangnya itu.

Sekalipun ayat tersebut, secara literal mengindikasian bahwa rahn dilakukan oleh seseorang ketika dalam keadaan musafir. Hal ini, bukan berarti dilarang bila dilakukan oleh orang yang menetap dan/atau bermukim. Sebab, keadaan musafir ataupun menetap bukanlah merupakan suatu persyaratan keabsahan transaksi rahn. Apalagi, terdapat sebuah hadis yang mengisahkan bahwaRaulullah saw, menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi, untuk mendapatkan makanan bagi keluarganya, pada saat beliau tidak melakukan perjalanan.

2. Hadis Nabi Muhammad saw

Dasar hukum yang kedua untuk dijadikan rujukan dalam mebuat rumusan gadai syariah adalah hadis Nabi Muhammad saw, yang antara lain diungkapkan sebagai berikut.

(14)

Telah meriwayatkan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al-Hanzhali dan Ali bin Khasyram berkata: keduanya mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus bin ‘Amasy dari Ibrahim dari Aswad dari ‘Aisyah berkata: bahwasannya Rasulullah saw, membeli makanan dari seorang Yahudi dengan menggadaikan baju besinya. (HR. Muslim)

B. Hadis dari Anas bin Malik ra. Yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah yang berbunyi:

Telah meriwayatkan kepada kami Nahr bin Ali Al-Jahdhami, ayahku telah meriwayatkan kepadaku, meriwayatkan kepada kami Hisyam bin Qatadah dari Anas berkata: Sungguh Rasulullah saw. Menggadaikan baju besinya kepada seseorang Yahudi di Madinah dan menukarnya dengan gandum untuk keluarganya.

(15)

Telah meriwayatkan kepada kami Muhammad bun Muqatil, mengabarkan kepada kami Abdullah bin Mubarak, mengabarkan kepada kami Zakariyah dari Sya,bi dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, bahwasannya beliau bersabda: Kendaraan dapat digunakan dan hewan ternak dapat pula diambil manfaatnya apabila digadaikan. Penggadaian wajib memberikan nafkah dan penerima gadai boleh mendapatkan manfaatnya. (HR. Al-Bukhari)

D. Hadis riwayat Abu Humairah ra, yang berbunyi:

Barang gadai tidak boleh disembunyikan dari pemilik yang menggadaikan, baginya risiko dan hasilnya (HR. Asy-Syafi’I dan Ad-Daruqutni)

3. Ijma’ Ulama

(16)

4. Fatwa Dewan Syariah Nasional

Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) menjadi salah satu rujukan yang berkenaan gadai syariah, diantaranya dikemukakan sebagai berikut.

a. Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 25/DSN-MUI/III/2002, tentang Rahn;

b. Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 26/DSN-MUI/III/2002, tentang Rahn Emas;

c. Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 09/DSN-MUI/IV/2000, tentang Pembiayaan Ijarah;

d. Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 10/DSN-MUI/IV/2000, tentang Wakalah;

e. Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 43/DSN-MUI/VII/2002, tentang Ganti Rugi.

2.4 Rukun, Akad dan Syarat-syarat Gadai Syariah

Rukun Gadai (rahn ) meliputi:

1. Rahin (yang menggadaikan), dalam konteks perbankan, yaitu: gadai emas syariah adalah nasabah.

2. Murtahin (yang menerima gadai), yaitu bank

3. Marhun (barang yang digadaikan), yaitu emas dan berlian. 4. Marhun bih (utang), yaitu pembiayaan.

5. Sighat (ijab-kabul), yaitu akad kontrak yang dilakukan antara nasabah dan pihak bank atau pihak yang menggadaikan dengan yang menerima gadai.

Syarat-syarat Gadai:

1. Rahin dan Muntahin

(17)

cukup berakal. Oleh sebab itu, menurut mereka, anak kecil yang mumayyiz boleh melakukan akad rahn, dengan syarat mendapatkan persetujuan dari walinya.

b. Layak untuk melakukan transaksi pemilikan. Setiap orang yang sah melakukan jual beli, juga sah untuk melakukan gadai karena gadai seperti jual beli merupakan pengelolaan harta.

2. Sighat (ijab-kabu)

a. Sighat tidak boleh terikat dengan syarat tertentu dan juga dengan wktu-waktu pada masa depan.

b. Rahn mempunyai sisi pelepasan barang dan pemberian utang, seperti halnya akad jual beli. Oleh karena itu, tidak boleh diikat dengan syarat tertentu atau dengan suatu waktu pada masa depan.

3. Marhun bih (utang)

a. Merupakan hak yang wajib diberikan/diserahkan kepada pemiliknya.

b. Memungkinkan pemanfaatannya. Apabila sesuatu yang menjadi utang tidak bisa dimanfaatkan, tidak sah hukumnya.

c. Dapat dikuantifikasikan atau dapat dihitung jumlahnya. Apabila tidak dapat diukur atau tidak dapat dikuantifikasikan, tidak sah.

d. Utang boleh dilunasi dengan anggunan itu. 4. Marhun (barang yang digadaikan)

Aturan pokok dalam mahzab Maliki tentang barang yang digadaikan bahwa gadai dapat dilakukan pada semua jenis harga dan semua jenis jual beli, kecuali pada jual beli mata uang (sharf) dan pokok modal salam yang berkaitan dengan tanggungan. Karena pada sharf diisyaratkan tunai (yaitu kedua belah pihak saling menerima), tidak boleh terjadi akad gadai, begitu pula pada harta modal gadai salam.

Menurut ulama Syafi,iyah, gadai dapat dikatakan sah dengan dipenuhinya tiga syarat. Pertama, harus berupa barang karena utangg tidak bisa digadaikan. Kedua, penetapan kepemilikian penggadai atas barang yang digadaikan tidak terhalang. Ketiga, barang yang digadaikan bisa dijual saat sudah lewat masa pelunasan utang gadai.

Secara umum, barang gadai harus memenuhi beberapa syarat, antara lain:

1. Harus diperjualbelikan,

2. Harus berupa harta yang bernilai,

3. Marhun harus bisa dimanfaatkan secara syariah,

4. Harus diketahui keadaan fisiknya sehingga piutang tidak sah untuk digadaikan harus berupa barang yang diterima secara langsung,)

(18)

Disamping syarat-syarat diatas, para ulama sepakat menyatakan bahwa rahn baru dianggap sempurna apabila barang yang di rahn kan secara hukum sudah berada ditangan pemberi utang, dan utang yang dibutuhkan telah diterima peminjam uang. Syarat terakhir (kesempurnaan rahn) oleh para ulama disebut qabdh al-marhun (barang jaminan dikuasai secara hukum oleh pemberi utang/kreditur).

Akad Gadai

Dalam transaksi gadai terdapat empat akad untuk mempermudah mekanisme perjanjianya, yaitu sebagai berikut:

1. Qard al-Hasan

Akad ini digunakan nasabah untuk tujuan konsumtif. Oleh karena itu, nasabah (rahin) dikenakan biaya perawatan dan penjagaan barang barang gadaian (marhun) kepada pengadaian (murtahin). Ketentuan transaksi pada akad qarad al hasan adalah:

a. Barang gadai hanya dapat dimanfaatkan dengan jalan menjual,

b. Karena bersifat sosial, tidak ada pembagian hasil. Pengadaian hanya diperkenankan untuk mengenakan biaya administrasi kepada rahin.

2. Mudharabah

Akad ini diberikan bagi nasabah yang ingin memperbesar modal usahanya atau untuk pembiayaan lain yang bersifat produktif. Ketentuan transaksi pada akad mudharabah ialah:

a. Barang gadai dapat berupa barang bergerak dan barang tidak bergerak seperti emas, elektronik, kendaraan bermotor, tanah, rumah, bangunan, dan lain-lain.

b. Keuntungan dibagi setelah dikurangi dengan biaya pengelolaan marhun. 3. Ba’i Muqayyadah

Akad ini diberikan bagi nasabah untuk keperluan yang bersifat produktif, seperti pembelian alat kantor dan modal kerja. Dalam hal ini, murtahin juga dapat menggunakan akad jual-beli untuk barang atau modal kerja yang diinginkan oleh rahin. Barang gadai adalah barang yang dapat dimanfaatkan oleh rahin dan murtahin.

4. Ijarah

Objek dari akad ini adalah pertukaran manfaat tertentu. Bentuknya adalah murtahin menyewakan tempat penyimpanan barang.

(19)

2.5.1 Status Barang Gadai

Status gadai terbentuk saat terjadinya akad atau kontrak utang pitang bersama dengan penyerahan jaminan. Misalnya, ketika seorang penjual meminta pembeli menyerahkan jaminan seharga tertentu untuk pembelian barang dan kredit. Status gadai sah setelah terjadinya utang. Para ulama pun menilai hal ini sah karena utang tetap menuntut pengambilan jaminan. Oleh karena itu, dibolehkan mengambil sesuatu sebagai jaminan.

Jumhur fuqaha berpendapat bahwa gadai berkaitan dengan keseluruhan hak barang yang digadaikan dan bagian lainnya, yaitu jika seseorang mengadaikan jumlah barang tertentu, kemudian ia melunasi sebagiannya, keseluruhan barang gadai masih tetap berada ditangan penerima gadai. Sebagaian fuqaha berpendapat bahwa barang yang masih tetap berada ditangan penerima gadai hanya sebagaiannya, yaitu sebesar hak yang belum dilunasi.

2.5.2 Jenis – jenis Barang Gadai

Jenis barang gadai (marhun) adalah barang yang dijadikan agunan oleh rahin sebagai pengikat utang, dan dipegang oleh murtahin sebagai jaminan utang. Menurut ukama Hnafi, barang-barang yang dapat digadaikan adalah barang-barang yang memenuhi katagori:

1. Barang-barang yang dapat dijual. Karena itu, barang-barang yang tidak berwujud tidak dapat dijadikan barang gadai, misalnya menggadaikan buah dari sebuah pohon yang belum berbuah, menggadaikan binatang yang belum lahir, menggadaikan burung yang ada di udara.

2. Barang gadai harus berupa harta menurut pandangan syara’ , tidak sah menggadaikan sesuatu yang bukan harta, seperti bangkai, hasil tangkapan di Tanah Haram, arak, aning, serta babi. Semua barang ini tidak diperbolehkan oleh syara’ dikarenakan berstatus haram.

3. Barang gadai tersebut harus diketahui, tidak boleh menggadaikan sesuatu yang majhul (tidak dapat dipastikan ada atau tidaknya).

4. Barang tersebut milik si rahin.

(20)

mengikuti pendapat Imam Abu Hanafi seperti yang dikutip oleh Wahbah Zuhaily, yang mengatakan bahwa manfaat tidak termasuk dalam katagori harta. Alasannya, karena ketika akad dilakukan, manfaat belum berwujud.

2.5.3 Pemanfaatan Barang Gadai

Para ulama mempunyai perbedaan pendapat berkenaan dengan pemanfaatan barang gadai, yaitu sebagai berikut :

1. Pendapat Ulama Syafi’iyah

Menurut ulama Syafi’iyah seperti yang dikutip oleh Chuzaimah T Yanggo Hafiz Anshari bahwa yang mempunyai hak atas manfaat harta benda gadai (marhun) adalah pemberi gadai (rahin) walaupun marhun itu berada di bawah kekuasaan penerima gadai (murtahin). Dasar hukum hal dimaksud adalah hadist Nabi Muhammad saw, sebagai berikut :

Pertama, hadist Nabi Muhammad saw, sebagai berikut,

Dari Abu Hurairah ra. Berkata bahwasannnya Rasullullah saw. Bersabda : Barang jaminan itu dapat air susunya dan ditunggangi/ dinaiki.

Kedua, hadist Nabi Muhammad saw, yang artinya:

Dari Abi Huraira Nabi Muhammad saw. Bersabda : Gadaian itu tidak menutup hak yang punya dari manfaat barang itu, faedahnya kepunyaan dia, dan dia wajib mempertanggungjawabkan segalanya (kerusakan dan biaya). (HR. Asy-Syafi’i dan Ad-Daruqutni).

Ketiga, hadist Nabi Muhammad saw, yang artinya :

(21)

Berdasarkan ketiga dasar hukum tersebut, dapat disimpulkan bahwa marhun itu hanya sebagai jaminan atau kepercayaan atas murtahin. Kepemilikan marhun tetap melekat pada rahin. Oleh karena itu manfaat atau hasil dari murtahin itu tetap berada pada rahin kecuali manfaat atau hasil dari marhun itu diserahkan kepada murtahin. Selain itu, perlu diungkapkan bahwa pemanfaatan marhun oleh murtahin yang mengakibatkan turun kualitas marhun tidak dibolehkan kecuali diizinkan oleh rahin.

2. Pendapat Ulama Malikiyah

Ulama Malikiyah berpendapat seperti yang dikutip oleh Muhammad dan Sholikhul Hadi bahwa penerima harta benda gadai (murtahin) hanya dapat memanfaatkan harta benda barang gadaian atas izin dari pemberi gadai dengan persyaratan berikut :

A. Utang disebabkan dari jual beli, bukan karena mengutangkan. Hal itu terjadi seperti orang menjual barang dengan harta yang tangguh, kemudian orang itu meminta gadai dengan suatu barang sesuai dengan utangnya maka hal ini diperbolehkan.

B. Pihak murtahin mensyaratkan bahwa manfaat dari harta benda gadaian diperuntukkan pada dirinya.

C. Jika waktu mengambil manfaat yang telah disyaratkan harus ditentukan apabila tidak ditentukan batas waktunya maka menjadi batal.

Pendapat di atas, berdasarkan hadist Rasullullah saw, sebagai berikut,

Pertama, hadist Nabi Muhammad saw :

Dari Abu Hurairah ra. Berkata, bahwasannya Rasulullah saw, bersabda : Barang jaminan itu dapat ditunggangi dan diperah susunya.

(22)

“Dari Umar bahwasannya Rasullullah bersabda : Hewan seseorang tidak boleh diperas tanpa seizin pemiliknya”. (HR. Al-Bukhari).

3. Pendapat Ulama Hanabillah

Menurut pendapat ulama Hanabilah, persyaratan bagi murtahin untuk mengambil manfaat harta benda gadai yang bukan berupa hewan adalah (a) Ada izin dari pemilik barang, (b) Adanya gadai bukan karena mengutangkan.

Apabila harta benda gadai berupa hewan yang tidak dapat diperah dan tidak dapat ditunggangi, maka boleh menjadikannya sebagai khadam. Akan tetapi, apabila harta benda gadai itu berupa rumah, sawah, kebun dan semacamnya maka tidak boleh mengambil manfaatnya.

Hal ini berdasarkan dalil hukum sebagai berikut :

Barang gadai (marhun dikendarai) oleh sebab nafkahnya apabila digadaikan dan atas yang mengendarai dan meminum susunya wajib nafkahnya. (HR. Al-Bukhari).

Hadist Nabi Muhammad saw, tersebut dijadikan dasar hukum kebolehan murtahin mengambil manfaat dari barang gadai (marhun).

Dari Muhammad bin Salamah bahwa Rasulullahsaw, bersabda : Apabila seekor kambing digadaikan maka yang menerima gadai boleh meminum susunya sesuai dengan kadar memberi makannya, apabila ia meminum susu itu melebihi harga memberi nafkahnya maka ia termasuk riba.

(23)

Dari Abu Hurairah ra. berkata bahwasannya Rasulullah saw. bersabda : barang jaminan itu dapat ditunggangi dan diperah susunya.

Dari Umar bahwasannya Rasulullah saw. bersabda : Hewan seseorang tidak boleh diperah tanpa seijin pemiliknya. (HR. Al-Bukhari).

4. Pendapat Ulama Hanafiyah

Menurut ulama Hanafiyah, tidak ada perbedaan antara pemanfatan barang gadai yang mengakibatkan kurangnya harga atau tidak. Alasannya adalah hadist Muhammad saw, sebagai berikut :

Dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra. berkata, bahwasannya Rasulullah saw. bersabda : Barang jaminan utang (gadai) dapat ditunggangi dan diperah susunya, serta atas dasar menunggangi dan memerah susunya, wajib menafkahi. (HR. Al-Bukhari)

Menurut ulama Hanafiyah, sesuai dengan fungsi dari barang gadai (marhun) sebagai barang jaminan dan kepercayaan bagi penerima gadai (murtahin). Apabila barang tersebut tidak dimanfaatkan oleh penerima gadai (murtahin) maka berarti menghilangkan manfaat dari barang tersebut, padahal barang itu memerlukan biaya untuk pemeliharaan. Hal itu dapat mendatangkan kemudharatan bagi kedua belah pihak, terutama bagi pemberi gadai (rahin).

(24)

memberikan izin untuk memanfaatkan barang tersebut, maka penerima gadai boleh memanfaatkannya.

Dari beberapa pendapat ulama yang diungkapkan diatas mempunyai dasar hukum yang sama. Namun mempunyai penafsiran yang berbeda-beda, oleh karena itu penulis mempunyai pendapat yang lain, tetapi tetap menjadikan dasar hukum pada hadist yang dikemukakan oleh para ulama, yaitu fungsi dari barang gadai (marhun) sebagai barang jaminan dan kepercayaan bagi penerima gadai (murtahin) sehingga barang tersebut dapat dimanfaatkan oleh penerima gadai (murtahin). Namun, bila rahin ingin memanfaatkan marhun harus seiring murtahin. Dari hal tersebut dapat disimpulkan kekuasaan pemanfaatan marhun berada pada murtahin selama utang rahin belum dilunasi kepada murtahin. Pendapat penulis tersebut menjadi kenyataan hukum dalam praktek pelaksanaan gadai pada umumnya baik gadai kendaraan bermotor, rumah, toko, empang, sawah maupun kebun maupun yang lainnya.

2.5.4 Sengketa Barang Gadai

Ada beberapa kondisipersengketaan yang terjadi antara pihak pemberi gadai (rahin) dengan pihak penerima gadai (murtahin). Persengketaan dimaksud, bisa menyangkut besaran uang pinjaman (marhun bih) dan status serta kondisi barang gadai (marhun). Beberapa kondisi yang dapat terjadi adalah sebagai berikut:

a. Jika dalam peristiwa gadai, pihak pemberi gadai (rahin) menjaminkan barang gadainya (marhun) kemudian menyebut sejumlah uang yang hendak dipinjamnya kepada pihak penerima gadai (murhin), katakanlah Rp1.000,00 , sedangkan murtahin menghargainya sebesar Rp20.000,00 maka patokan harga yang dipakai adalah patokan harga yang diutarakan oleh pemberi gadai (rahin). Pendapat ini dikemukakan oleh mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Sedangkan Mahzab Malikiyah memperbolehkan penetapan harga dan pihak murtahin, meskipun mayoritas ulama berpendapat bahwa jarang sekali harga atau nilai pinjaman (marhun bih) bisa lebih besar dari nilai barang jaminannya (marhun).

(25)

dapat dipercaya kebenerannya. Keterangan murtahin juga bisa dipercaya ketika ia menakar kisaran marhun setelah terjadi cacat atau rusak. Hal ini mengingat bahwa ia adalah pihak yang memberikan pinjaman. Akan tetapi, jika kerusakan tersebut terjadi pada waktu awal terjadinya rahn, maka keterangan rahin lah yang dapat dipercaya. c. Jika rahin dan murtahin bersengketa dalam harga penjualan marhun, maka pendapat

yang diambil adalah harga yang diberikan oleh murtahin

d. Jika rahin dan murtahin berselisih mengenai cara penyimpanan marhun, maka apa yang diminta oleh rahin yang dianggap benar. Sebagai contoh dapat diungkapkan misalnya rahin meminta agar marhunnya disimpan pada tempat tertentu, maka murtahin harus mengikutinya.

2.5.5 Musnahnya Barang Gadai

Terdapat perbedaan pendapat dikalangan fuqaha tentang barang gadai yang rusak atau hilang ditangan penerima gadai. Sebagian fuqaha, yaitu Imam Syafi’i, Ahmad, Abu Tsaur, dan kebanyakan ahli hadis berpendapat bahwa barang gadai adalah barang titipan (amanat), dan merupakann barang dari orang yang menggadaikan. Pemegang gadai sebagai pemengang amanat, tidak dapat mengambil tanggung jawab atas kehilangan tanggungan. Jika terjadi pemusnahan ditangan murtahin diikuti dengan sumpahnya bahwa dia tidak melalaikan dan tidak menganiaya barang tersebut. Secara jelas, menurut pendapat ini barang gadaian sebagai titipan yang tidak hars ditanggung oleh murtahin.

Sebagai fuqaha seperti Imam Abu Hanifah dan jumhur fuqaha Kufah berpendapat bahwa murtahin bertanggung jawab jika barang gadai rusak atau musnah ditangan murtahin. Mereka beralasan bahwa barang tersebut merupakan jaminan atas utang sehingga jika barang itu hilang atau rusak, kewajiban melunasi utang juga hilang.

2.6 Hak dan Kewajiban Penerima dan Pemberi Gadai

1. Hak dan Kewajiban Penerima Gadai

(26)

dapat digunakan untuk melunasi pinjaman (marhun bih) dan sisanya dikembalikan kepada rahin.

b. Penerima gadai berhak mendapatkan penggantian biaya yang telah dikeluarkan untuk menjaga keselamatan harta benda gadai (marhun).

c. Selama peminjaman belum dilunasi maka pihak pemegang gadai berhak menahan harta benda gadai yang diserahkan oleh pemberi gadai (nasabah/rahin).

Berdasarkan hak penerima gadai dimaksud, muncul kewajiban yang harus dilaksanakannya, yaitu sebagai berikut:

a. Penerima gadai bertanggung jawab atas hilang atau merosotnya harta benda gadai bila hal itu disebabkan oleh kelalaiannya.

b. Penerimagadai tidak boleh menggunakan barang gadai untuk kepentingan pribadinya. c. Penerima gadai berkewajiban memberitahukan kepada pemberi gadai sebelum

diadakan pelelangan harta benda gadai.

2. Hak dan Kewajiban Pemberi Gadai (Rahin)

Hak Pemberi Gadai (Rahin)

a. Pemberi gadai (rahin) berhak mendapatkan pengembalian harta benda yang digadaikan sesudah melunasi pinjaman utangnya

b. Pemberi gadai berhak menuntut ganti rugi atau kerusakan dan/atau hilangnua harta benda yang digadaikan, bila hal itu disebabkan oleh kelalaian penerima gadai.

c. Pemberi gadai berhak menerima sisa hasil penjualan harta benda gadai sesudah dikurangi biaya pinjaman dan biaya-biaya lainnya.

d. Pemberi gadai berhak meminta kembali harta benda gadai bila penerima gadai diketahui menyalahgunakan harta benda gadainya.

Berdasarkan hak-hak pemberi gadai diatas maka muncul kewajiban yang harus dipenuhinya, yaitu:

(27)

b. Pemberi gadai berkewajiban merelakan penjualan harta benda gadaiannya, bila dalam jangka waktu yang telah ditentukan pemberi gadai tidak dapat melunasi uang pinjamannya.

2.7 Operasional Gadai

Salah satu bentuk jasa pelayanan lembaga keuangan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah pembiayaan dengan menggadaikan barang sebagai jaminan. Landasan akad yang digunakan dalam operasional perusahaan dalam pegadaian syariah adalah rahn. Berlakunya rahn adalah bersifat mengikuti (tabi’iyah) terhadap akad tertentu yang dijalankan secara tidak tunai (dayn) sebagai jaminan untuk mendapatkan kepercayaan. Adapun secara teknis, implementasi akad rahn dalam lembaga pegadaian adalah sebagai berikut :

(28)

1. Nasabah menjaminkan barang (marhun) kepada pegadaian syariah untuk mendapatkan pembiayaan. Kemudian pegadaian menaksir barang jaminan tersebut untuk dijadikan dasar dalam memberikan pembiayaan.

2. Pegadaian syariah dan nasabah menyepakati akad gadai. Akad ini meliputi jumlah pinjaman, pembebanan biaya jasa simpanan dan biaya administrasi. Jatuh tempo pengembalian yaitu 120 hari (4 bulan).

3. Pegadaian syariah memberikann pembiayaan atau jasa yang dibutuhkan nasabah sesuia kesepakatan.

4. Nasabah menembus barang yang digadaikan setelah jatuh tempo. Apabbila pada saat jatuh tempo belum dapat mengembalikan uang pinjaman, dapat diperpanjang 1 (satu) kali masa jatuh tempo, demikian seterusnya. Apabila nasabah tidak dapat mengembalikan uang pinjaman dan tidak memperpanjang akad gadai,maka pegadaian dapat melakukan kegiatan pelelangan dengan menjual barang tersebut untuk melunasi pinjaman.

5. Pegadaian (murtahin) mengembalikan harta benda yang digadai (marhun) kepada pemiliknya (nasabah).

Pemaparan diatas merupakan ilustrasi cara kerja pegadaian syarian secara umum. Dengan mendasarkan pada prinsip tersebut, di pegadaian syariah sekarang ini telah dikenal beberapa jasa pelayanan yang ditawarkan kepada masyarakat, yaitu :

1. Pemberian pembiayaan atas dasar hukum gadai syariah (rahn), yaitu berupa penyerahan barang gadai oleh nasabah (rahin) untuk mendapatkan pinjaman yang jumlahnya ditentukan oleh nilai barang yang digadaikan.

2. Penaksiran nilai barang , yaitu bahwa pegadaian syariah memberikan jasa penaksiran atas nilai suatu barang yang dilakukan oleh calon nasabah (rahin). Jasa ini diberikan karena biasanya lembaga pegadaian mempunyai alat penaksir yang keakuratannya dapat dihandalkan.

3. Pegadaian syariah juga menyelenggarakan jasa penyewaan (ijarah) tempat penitipan barang untuk alasan keamanan. Usaha ini dapat di jalankan karena pegadaian syariah menyediakan tempat atau gudang penyimpanan yang memadai.

(29)

Lembaga pegadaian dimaksudkan sebagai suatu lembaga yang memberikan fasilitas bagi warga masyarakat untuk dapat memperoleh pembiayaan secara praktis. Pembiayaan yang dimaksud biasanya lebih mudah diperoleh bagi calon nasabah karena menjaminkan barang-barang yang sudah dimiliki. Kemudahan ini membuat lembaga pegadaian diminati oleh kalangan masyarakat yang membutuhkan dana pembiayaan. Karena itu lembaga pegadaian secara relatif mempunyai kelebihan bila dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya, yaitu sebagai berikut :

1. Hanya memerlukan waktu yang relatif singkat untuk mencairkan uang pembiayaan tepat pada hari yang dibutuhkan karena adanya prosedur yang tidak berbelit-belit. 2. Persyaratan yang ditentukan bagi konsumen untuk mendapatkan pembiayaan sangat

sederhana.

3. Tidak ada ketentuan dari pihak pegadaian mengenai keperuntukan pembiayaan, sehingga nasabah dengan bebas untuk menggunakan uangnya.

Disamping uang tunai, pegadaian juga menyediakan jasa lainnya seperti penitipan dan taksiran. Jasa penitipan menyangkut layanan penitipan barang berharga seperti perhiasan, surat berharga dan/ atau barang bernilai lainnya. Sedangka yang dimaksud jasa taksiran meliputi layanan dalam bentuk penilaian barang berharga ditinjau dari segi kualitas, kuantitas, dan spesifikasi lainnya yang bermanfaat bagi warga masyarakat.

2.8 Perbedaan Gadai Syariah dan Gadai Konvensional

No Pengadaian Syariah Pengadaian Konvensional

1. Biaya administrasi berdasarkan barang Biaya administrasi berupa prensentase yang didasarkan pada golongan barang. 2. 1 hari dihitung 5 hari 1 hari dihitung 15 hari.

(30)

6. Maksimal jangka waktu 3 bulan. Maksimal jangka waktu 4 bulan

7. Kelebihan uang hasil dari penjualan barang tidak diambil oleh nasabah, tetapi diserahkan kepada Lembaga ZIS (Badan Amil Zakat)

Kelebihan uang hasil lelang tidak diambil oleh nasabah, tetpi menjadi milik pengadaian.

BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

(31)

jaminan dari pinjaman uang yang diajukan pada pegadaian diharapkan mampu untuk mengurangi beban dan kesulitan dalam memperoleh uang tunai.

Terdapat bebrbagai keuntungan yang didapat dari lembaga pegadaian yang dibandingkan dengan lembaga keuangan bank dan nonbank lainnya, yaitu:

1. Waktu yang relative singkat untuk memperoleh uang, yaitu ppada hari yang sama karena prosedur yang sederhana

2. Persyaratan yang sederhana dan memudahkan konsumen

3. Pihak pegadaian tidak mempermasalahkan peruntukan dana yang dipinjam akan digunakan untuk apa dan juga adanya sanksi yang relative ringan

Selain dapat menguntungkan pihak nasabah, perusahaan pegadaian juga memperoleh keuntungan yaitu:

1. penghasilan yang bersumber dari sewa modal yang dibayarkan oleh peminjam dana

2. penghasilan yang bersumber dari ongkos yang dibayarkan oleh nasabah memperoleh produk gadai syariah dapat mendapat keuntungan dari pembebanan biaya administrasi dan biaya sewa tempat penyimpanan emas.

3. Pelaksanaan misi perum pegadaian sebagai BUMN yang bergerak di bidang pembiayaan berupa pemberuan bantun kepada masyarakat yang memerlukan dana dengan prosedur yang relaitf sederhana

4. Berdasarkan PP No. 10 tahun 1990, laba yang diberoleh digunakan untuk: (1) dana pembangunan semesta 55%, (2) cadangan umum 20%, (3) cadangan tujuan 5%, (4) dana social.

3.2 SARAN

Dalam memilih pilihan untuk mengatasi keuangan, apalagi bagi masyarakat yang membutuhkan dana dengan segera namun dalam keadaan likuiditas yang kurang baik, jangan sampai memilih untuk meminjam uang pada agen rentenir dengan bunga tertentu yang sudah diperjanjikan, karena bunga itu sewaktu-waktu pastilah akan membesar jumlahnya dan malah akan menambah kesulitan dikemudian hari untuk melunsinya.

(32)

konsep-konsep yang ada didalamnya pun berdasarkan syariah yang sudah pasti lebih baik dibandingkan dengan lembaga pegadaian konvensional.

DAFTAR PUSTAKA

Burhanuddin, S. Aspek Hukum Lembaga Keuangan Syariah. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010

Ali, Zainuddin. Hukum Gadai Syariah. Jakarta: Sinar Grafika, 2008

Referensi

Dokumen terkait

Untuk pengendali 2 derajat kebebasan tipe paralel, jenis – jenis pengendali yang dirancang meliputi pengendali Proporsional Derivative (PD), pengendali

“Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan adalah wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia yang

Dapat disimpulkan bahwa mobile XXX handal dan dapat dipercaya, mobile XXX dapat menjaga janji dan komitmennya terhadap konsumen, mobile XXX selalu mengedepankan konsumen

trn darr kulit ikan patin sebagai bahan baku dengan melakukan penelitian terhadap penanganan bahan baku, penentuan kondisi yang terbaik untuk proses pengembangan kulit

Berdasarkan hasil penelitian tentang per- bedaan kekerasan mikro permukaan giomer dan kompomer setelah prosedur in office bleaching menggunakan bahan karbamid peroksida 45%, maka

Islam tidak menolak usaha menghasilkan laba, oleh karenanya tidak ada alasan bagi lembaga keuangan bank untuk tidak masuk dalam suatu kemitraan dengan pengusaha dan meminjamkan

ditentukan, maka barang gadai menjadi milik murtahin sebagai pembayaran hutang”, sebab ada kemungkinan pada waktu pembayaran yang telah ditentukan untuk membayar

Berdasarkan dari penjelasan di atas tersebut, maka yang boleh mengambil manfaat dari barang gadaian (borg) adalah orang yang menggadaikan (rahin) bukan orang