PROPOSAL PENELITIAN
PENERAPAN TEKNIK BERTANYA DASAR DAN TEKNIK
BERTANYA LANJUT UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS
BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS VIII
DI MTs NEGERI 1 CIREBON
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) merupakan hal yang penting dalam pendidikan di sekolah. Seorang siswa dikatakan belajar apabila dapat memahami sesuatu yang tadinya belum dimengerti menjadi mengerti. Keberhasilan pendidikan di sekolah secara langsung sangat ditentukan oleh aktivitas guru, siswa dan sumber belajar dalam pembelajaran. guru yang berperan fasilitator, pembimbing, mediator, dan sekaligus sebagai model akan memberikan pengaruh besar terhadap sikap siswa di dalam kelas. Setiap langkah dan ucapan guru menghasilkan respon yang sebanding dengan siswa dalam menyukseskan pembelajaran.
evaluasi. Masing-masing komponen tersebut saling terkait dan saling memengaruhi satu sama lain.
Menurut Muhamad Ali (2008:5) mengatakan bahwa “setiap siswa mempunyai keragaman dalam hal kecakapan maupun kepribadian”. Sehingga siswa sebagai individu yang potensial tidak dapat berkembang banyak tanpa bantuan guru, hal ini mengandung arti bahwa kesiapan belajar siswa dapat dikondidikan oleh guru melalui suatu strategi mengajar yang tepat. Sebagi dampak dari upaya tersebut adalah kemampuan belajar siswa akan meningkat yang pada akhirnya akan berpengaruh pada peningkatan hasil belajarnya.
Saat ini salah satu hal yang dapat menunjukan keberhasilan dalam proses pendidikan adalah melalui ujian Nasional. Siswa atau peserta didik dinyatakan berhasil atau tuntas dalam proses pendidikan apabila ia dinyatakan lulus dalam ujian nasional, sedangkan siswa dinyatakn gagal atau belum tuntas dalam proses pendidikan apabila ia dinyatakan tidak lulus dalam ujian nasional. Salah satu mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional adalah mata pelajaran IPS.
Banyak masalah yang muncul di sekolah yang berkaitan dengan siswa selama proses pembelajaran. salah satu diantaranya adalah siswa kurang berani dalam menyampaikan pendapatnya atau merespon pembelajaran yang sedang berlangsung. Sikap keengganan siswa untuk menyampaikan pendapatnya ini sangat mengganggu dan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pembelajaran.
Untuk mengatasi masalah ini, salah satu caranya menggunakan strategi. Menurut Kozna (1989) dalam buku model-model, media dan strategi pembelajaran kontekstual, menjelaskan bahwa “strategi pemeblajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu”. Sedangkan menurut Dick dan Carey (1990) menjelaskan bahwa “strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang atau digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu”.
Strategi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu startegi keterampilan bertanya dasar dan bertanya lanjut. Menurut
Karena kemungkinan siswa tidak bisa menjawab atau salah mengkomunikasikan pendapatnya disebabkan oleh pertanyaan dari guru yang tidak dalat dipahami. Dengan kualitas keterampilan bertanya yang baik, guru akan mampu memfungsikan pertanyaan-pertanyaan secara optiamal dalam proses belajar mengajar.
Dengan demikian penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan hal ini di sekolah menengah pertama. Penelitian ini di beri judul: “Penerapan Teknik Bertanya Dasar dan Teknik Bertanya Lanjut Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VIII di MTs Negeri 1 Cirebon”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka permasalahan yang timbul dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
1.
C. Batasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada masalah Penerapan Teknik Bertanya Dasar dan Teknik Bertanya Lanjut Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VIII di MTs Negeri 1 Cirebon.
D. Rumusan Masalah
belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi, maka dalam penulisan ini dirumuskan masalah yang akan dibahas, yaitu :
1. Bagaimana gambaran model pembelajaran cooperative learning pada mata pelajaran ekonomi kelas X di SMA NEGERI 1 PLUMBON?
2. Bagaimana gambaran model pembelajaran snowball throwing pada mata pelajaran ekonomi kelas X di SMA NEGERI 1 PLUMBON?
3. Bagaimana gambaran hasil belajar siswa pada kelas X di SMA NEGERI 1 PLUMBON?
4. Bagaimana hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran cooperative learning tipe snowball throwing dan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional pada mata pelajaran ekonomi kelas X di SMA NEGERI 1 PLUMBON?
5. Apakah terdapat pengaruh model pembelajaran cooperative learning tipe snowball throwing terhadap hasil belajar ekonomi siswa?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
F. Manfaat Penelitian
1. Bagi siswa, dapat membantu dalam memahami pelajaran ekonomi, mengoptimalkan kemampuan berfikir, tanggungjawab dan kemampuan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
2. Bagi guru, dapat menjadi masukan dalam hal melaksanakan pembelajaran dan menambah wacana tentang model pembelajaran yang efektif sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran ekonomi.
3. Bagi peneliti, dapat memperluas wawasan tentang proses pembelajaran dengan model cooperative learning tipe snowball throwing di bidang ekonomi.
G. Lokasi Dan Waktu Penelitian
BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGUJIAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teori
1. Pembelajaran Ekonomi a. Belajar dan Pembelajaran
Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar.
Belajar menurut pandangan Piaget (1960:13) bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanaya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berimbang.
Pengetahuan dibangun dalam pikiran. Setiap individu membangun sendiri pengetahuannya. Pengetahuan yang dibangun terdiri dari tiga bentuk yaitu pengetahuan fisik, pengetahuan logika, dan pengetahuan sosial.
Berhasil atau gagalnya proses pendidikan sangat tergantung pada proses belajar dan mengajar yang dialami siswa dan pendidik baik ketika para siswa itu di sekolah maupun di lingkungan keluarganya sendiri.
belajar aktif, yang menekankan pada penyediaan bahan ajar, mengevaluasi hasil belajar yang berupa dampak pengajaran. Pembelajaran yang aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang lebuh banyak melibatkan aktifitas peserta didik dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan.
Perilaku siswa merupakan hasil dari proses belajar. Perilaku tersebut dapat berupa perilaku yang tak dikehendaki dan yang dikehendaki. Hanya perilaku-perilaku yang dikehendaki diperkuat. Penguatan perilaku yang dikehendaki tersebut dilakukan dengan pengulangan, latihan, drill atau aplikasi.
b. Hasil Belajar
Sujana (1991 : 22) mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan itu bisa berupa kemampuan kognitif maupun afektif. Kemampuan kognitif diukur dengan alat evaluasi yaitu berupa soal tertulis, berbentuk pilihan ganda. Sedangkan kemampuan afektif diukur berdasarkan penilaian proses, yaitu berupa lembar pengamatan selama kegiatan pembelajaran.
pelajaran tertentu. Dikerjakan baik secara individual maupun kelompok. Dari ketiga pengertian diatas disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa terhadap penguasaan pengetahuan yang dikembangkan oleh mata pelajarannya. Untuk mengetahui hasil belajar siswa dilakukan dengan mengadakan evaluasi yaitu berupa soal-soal.
2. Model Cooperative Learning Tipe Snawball Throwing a. Model Cooperative Learning
Menurut Nur, dkk (2000), semua model mengajar ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan (reward). Struktur tugas mengacu kepada dua hal, yaitu pada cara pembelajaran itu diorganisasikan dari jenis kegiatan yang dilakukan oleh siswa di dalam kelas. Hal ini berlaku pada pengajaran dengan kelompok kecil, siswa diharap melakukan selama pengajaran itu.
Dalam penerapan pembelajaran kooperatif dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama, mereka akan berbagi penghargaan tersebut seandainya mereka berhasil sebagai kelompok.
belajar”. Selanjutnya Slavin (dalam Nur, 2008) mengatakan bahwa “Cooperative Learning adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolabotarif dan anggotanya terdiri dari 4 sampai dengan 6 orang dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen”. Keberhasilan dari suatu kelompok tergantung pada kemampuan dan aktivitas anggota klompok, baik secara individual maupun secara kelompok.
Berdasarkan pendapat diatas dapat diartikan bahwa kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran yang melibatkan kelompok-kelompok kecil yang heterogen (jenis kelamin, ras, suku, budaya, agama dan tingkat akademis) dan siswa bekerjasama untuk mencapai tujuan dan tugas akademik bersama, sambil bekerjasama, belajar kolaboratif dan sosial. Para siswa diharapkan saling membantu antara yang satu dengan yang lainnya dalam mempelajari satu kompetensi dasar.
b. Karakteristik Kooperatif
Johnson dan Johnson (dalam Mulyono, 1999) menjelaskan bahwa ada empat unsur dasar yang terdapat dalam struktur pembelajaran kooperatif yaitu : “1) Saling ketergantungan positif, 2) interaksi tatap muka, 3) akuntabilitas individual, dan 4) keterampilan menjalin hubungan interpersonal”.
didalsam kelompoknya, 3) siswa harus melihat bahwa semua anggota didalam kelompoknya memiliki tujuan bersam, 4) siswa harus membagi tugas dan tanggungjawab yang sama di antara anggota kelomoknya, 5) siswa akan dikenakan atau akan diberikan hadiah atau penghargaan, 6) siswa harus berbagi kepemimpinan, 7) siswa diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang dipelajari dalam kelompoknya”.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pendekatan koperatif mempunyai ciri-ciri tertentu yaitu adanya saling ketergantungan, kerjasama, anggota kelompok yang heterogen dan dilakukan dalam kelompok yang tatap muka dan semua anggota saling berkomunikasi dan bertanggungjawab.
c. Cooperative Learning Tipe Snowball
Snowball Throwing suatu pembelajaran kelompok yang inovatif dan menyenangkan yang mengembangkan pola tanggungjawab ketua dan mengembangkan kemampuan masing-masing siswa dalam menguasai materi
pelajaran. Herdy
(2012) menjelaskan bahwa snowball artinya bola salju. Sedangkan throwing melempar. Jasi Snowball Throwing artinya melempar bola salju.
d. Langkah Pembelajaran Cooperative Learning tipe snowball throwing Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan Cooperative Learning tipe snowball throwing menurut Zainal Aqib (2013 : 27) terdiri atas 8 langkah yaitu :
1. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
2. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi.
3. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kamudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya.
4. Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.
5. Kemudian kertas tersebut dibulat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama ± 15 menit.
6. Setelah siswa dapat satu bola atau satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.
7. Evaluasi 8. Penutup
3. Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvensioanl adalah sebuah pembelajaran yang biasa digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran konvensional, guru memiliki peranan yang sangat penting. Guru dituntut untuk menjelaskan materi dari awal sehingga akhir pelajaran untuk menjamin bahwa semua siswa mengerti akan materi tersebut.
Pembelajaran konvensional mengakibatkan siswa menjadi pasif dalam proses pembelajaran. Karena pembelajaran yang berlangsung lebih berpusat pada guru dan komunikasi yang terjadi adalah komunikasi satu arah. Hal ini menyebabkan kurangnya interaksi antara guru dengan siswa. Siswa lebih banyak mendengarkan, mencatat dan akhirnya menghafal penjelasan yang diberikan oleh guru. Dalam proses pembelajaran siswa hanya sekali-kali bertanya mengenai hal-hal yang disampaikan oleh guru dan biasanya hal tersebut dilakukan oleh siswa yang sama. Sehingga proses pembelajaran yang berlangsung menjadi kurang efektif.
b. Ciri-ciri Pembelajaran Konvensional
Ciri-ciri Pembelajaran Konvensional adalah sebagai berikut : 1. Pembelajaran yang lebih berpusat pada guru.
2. Siswa biasanya lebih pasif dalam proses pembelajaran. 3. Siswa belajar dengan menghafal.
4. Bahan ajar biasanya dalam bentuk ceramah, tugas tertulis dan media lain menurut pertimbangan guru.
B. Kerangka Berpikir
Ekonomi merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah yang hasus dikuasai oleh siswa pada jenjang pendidikan sekolah menengah pertama sampai sekolah menengah atas. Hal ini menunjukan bahwa Ekonomi merupakan mata pelajaran yang memiliki kedudukan penting dalam pendidikan, karena ekonomi merupakan studi yang amat berguna bagi kehidupan. Oleh karena itu maka dapat dikatakan setiap orang memerlukan pengetahuan Ekonomi dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhannya. Kondisi di lapangan saat ini menunjukan bahwa masih banyaknya guru yang menggunakan cara pendekatan konfensional yang tidak efektif dan
menimbulkan kejenuhan dalam kelas, serta pendekatan keterampilan dengan pembelajaran teoritis. Hal ini terlihat dari data nilai ulangan harian kelas X di SMA N 1 PLUMBON yang rata-rata siswanya masih mendapatkan nilai dibawah kkm.
pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerjasama dan saling membantu mengkontruksi konsep, dan memahami materi pelajaran.
Beberapa para ahli menyatakan bahwa model ini tidak hanya unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit, tetapi juga sangat berguna untuk menumbuhkan kemampuan berfikir kritis, bekerjasama, dan membantu teman. Dalam cooperative learning, siswa terlibat aktif pada proses pembelajaran sehingga memberikan dampak positif terhadap kualitas interaksi dan komunikasi yang berkualitas, dapat memotivasi siswa untuk meningkatkanprestasi belajarnya. Siswa bukan lagi sebagai objek
pembelajaran, namun bias juga berperan sebagai tutor bagi teman sebayanya. Cooperative learning juga menghasilkan peningkatan kemampuan akademik, membentuk hubungan persahabatan, menimba informasi, belajar menggunakan sopan-santun, menigkatkan motivasi siswa dan belajar mengurangi tingkah laku yang kurang baik, serta membantu siswa dalam menghargai pikiran atau gagasan orang lain. Dalam cooperative learning siswa diminta untuk bekerjasama menyelesaikan masalah dengan
menyatukan pendapat demi memperoleh keberhasilan yang optimal baik kelompok maupun individual.
karena kagiatan siswa tidak hanya berfikir, menulis, bertanyaa, atau berbicara, akan tetapi mereka juga akan melakukan aktivitas fisik yaitu menggulung kertas dan melemparkannya pada siswa lain. Dengan demikian, tiap anggota kelompok akan mempersiapkan diri karena pada gilirannya mereka harus menjawab pertanyaan dari temannya yang terdapat dalam bola kertas.
Pembelajaran Snowball Throwing ini cocok diterapkan di Sekolah Menengah Atas khususnya untuk pelajaran ekonomi, karena sesuai dengan inti dari pembelajaran Snowball Throwing yaitu siswa berkreatifitas dalam membuat soal ekonomi dan menjawab pertanyaan yang diberikan temannya dengan sebaik-baiknya. Siswa dapat belajar efektif dengan perasaan senang, karena siswa bias mendiskusikan gagasan atau yang menjadi pemikirannya dalam proses pembelajaran. Hal ini sangat baik, karena akan terbentuk persepsi bahwa ekonomi merupakan pelajaran yang sangat menarik, dan tujuan pembelajaran akan tercapai sehingga hasil belajar siswa juga akan baik.
C. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang diajukan (Sugiyono, 2009:284).
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
tinggi dibandingkan dengan siswa yang diajar menggunakan pembelajaran konvensional
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif analisis dengan pendekatan studi kasus. Pendekatan ini
B. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Menurut Arikunto (2002:108) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Sedangkan menurut Sugiyono (2009:80) Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/ subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian diambil kesimpulan. Jadi populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang berupa data kuantitatif mengukur dan menghitung.
Berdasarkan pendapat diatas yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas Berdasarkan pendapat diatas yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Plumbon sebanyak 779 siswa yang terbagi ke dalam 3 Sekolah. Data jumlah siswa dapat terlihat pada tabel berikut:
Data jumlah siswa SMA Negeri 1 PLUMBON
Nomor Kelas Populasi
1 Sepuluh 305
2 Sebelas 242
3 Duabelas 238
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto,2002:109), sedangkan menurut Sugiyono (2009:81) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.
Sampel Penelitian ini terdiri dari 2 (dua) ruang kelas yang terdiri dari kelas X 1 sebanyak 35 siswa, kelas X 2 sebanyak 35 siswa. Jadi jumlah sampel seluruhnya yaitu 70 siswa. kelompok siswa pertama dijadikan kelompok eksperimen dan kelompok kelas siswa kedua dijadikan kelas kontrol.
C. Instrumen Penelitian
Dalam melakukan penelitian, seorang peneliti harus menggunakan sebuah alat ukur yang baik, yang biasanya disebut dengan instrument penelitian. Instrument penelitian sendiri adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati (Sugiyono, 2009:102)
Terdapat dua instrument yang gunakan yaitu: 1. Model Pembelajaran cooperative learning 2. Motode Pembelajaran snowball throwing 3. Hasil Belajar Siswa
D. Jenis Data
langsung dari sumbernya. Data primer biasanya disebut dengan data asli / data baru
yang mempunyai sifat up to date. Untuk memperoleh data primer, peneliti wajib
mengumpulkannya secara langsung. Cara yang bisa digunakan peneliti untuk
mencari data primer yaitu observasi, diskusi terfokus, wawancara serta penyebaran
kuesioner.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik Pengumpulan Data yang digunakan untuk mengumpulkan dan menyusun data-data yang diperlukan adalah:
a. Penelitian lapangan yaitu dengan menggunakan metode observasi langsung ke sekolah yang menjadi objek penelitian untuk memperoleh data dan informasi melalui penyebaran angket pada siswa di sekolah yang berkaitan dengan masalah penelitian, sedangkan
b. Penelitian Kepustakaan
Penelitian Kepustakaan yaitu mempelajari dan menelaah berbagai bacaan yang dapat dijadikan landasan teoritis dalam menganalisis masalah serta pedoman dalam menentukan studi penelitian.
F. Teknik Analisis Data :
Menghitung nilai-nilai variabel X dan Y, Analisis Korelasi Pearson, Menghitung nilai thitung, Menghitung penerimaan dan penolakan Ho, Analisis
DAFTAR PUSTAKA
Slameto. (2009). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta
Suherman, Uman. (2002). Faktor-Faktor Mempengaruhi Prestasi Belajar. Bandung : Alfabeta
Hamalik, Oemar. (2005). Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara. Noehi Nasution dkk. (1998). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar.
Jakarta : PT. Bina Aksara.
Muhibbin Syah. (2008). Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Rusyan.T. (2012). Evaluasi dalam Proses Belajar-Mengajar. Jakarta:Bina Budhaya.
Jackson. H. John. Musselman. A. Vernon.(1996). Pengantar Ekonomi Perusahaan. Jakarta: Erlangga.
Sukirno Sadono. (2002). Pengantar Teori Mikroekonomi. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.
Sadulloh Uyoh. (2010). Pengantar Filsafah Pendidikan. Bandung: Alfa Beta
Isjoni.(2013). Cooperative Learning. Bandung : Alfabeta
Lie, Anita.(2009) cooperative Learning (mempraktikan diruang-ruang kelas). Jakarta : PT. Grasindo
Rusman . (2010). Model-model pembelajaran mengembangkan profesiaonal guru. Jakarta : Rajawali Pers
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung : Alfabeta
Riyanto Yatim. (2012). Paradigma Baru Pembelajaran Sebagai Referensi Bagi Guru atau Pendidik dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan
Berkualitas . Surabaya : Kharisma Putra Utama
Syafaruddin. (2008). Efektifitas Kebijakan Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta Dimyati, Mudjiono. (2013). Belajar & Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta
Aqib Zainal. (2013). Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual
( Inovatif ). Bandung : Yrama Widya
Syah Muhibbin. (2013). Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Suprijono Agus. (2013). Cooperative Learning Teori dan Aplikasi paikem. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar