• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARAKTERISTIK BUKU PANDUAN BELAJAR BAHAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KARAKTERISTIK BUKU PANDUAN BELAJAR BAHAS"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PANDUAN UMUM BUKU PANDUAN BELAJAR BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SMA KELAS X-XII

A. KARAKTERISTIK BUKU PANDUAN BELAJAR BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SMA KELAS X-XII

Buku PANDUAN BELAJAR BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SMA/MA KELAS X-XII disusun berdasarkan KTSP dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar ISI (SI), dan berpedoman pada Panduan Umum yang ditetapkan oleh oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Juli 2006. Sebagaimana dianjurkan oleh BNSP, materi-materi yang dikembangkan dalam buku ini sebagian besar merujuk pada model KTSP yang dibuat oleh BNSP sehingga siap dipergunakan oleh guru-guru di sekolah yang dalam penyusunan KTSP-nya juga mengambil langkah sama. Namun, tidak sedikit juga indikator yang ditambahkan untuk memperdalam penguasaan suatu kompetensi.

Buku PANDUAN BELAJAR BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SMA/MA ini terbit secara lengkap dan ditunjang/dilengkapi beberapa produk lain. Buku ini terdiri atas 3 jilid, yaitu PANDUAN BELAJAR BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SMA/MA jilid 1 untuk kelas X , jilid 2 untuk kelas XI, dan jilid 3 untuk kelas XII. Produk lain yang secara khusus dibuat untuk menunjang buku ini adalah buku GELADI DAN UJI KOMPENTENSI untuk BAHASA DAN SASTRA INDONESIA SMA/MA. Buku tersebut berisi latihan-latihan dan tes-tes untuk memahirkan dan mengukur kompetensi siswa baik secara mandiri atau terbimbing. Selain itu juga disertai perangkat audio visual (kaset/CD/VCD) yang berisi teks-teks lisan baik sebagai model maupun bahan simakan/bacaan.

Setiap buku terdiri atas 12 unit dan dalam setiap unit yang dibingkai oleh sebuah tema disajikan 3 pembelajaran Kompetensi Dasar. Kompetensi Dasar setiap unit disajikan berkelanjutan dan komposisinya bervariasi, sehingga guru dan peserta didik tidak lekas jenuh dan lebih mudah mengikutinya. Selanjutnya dalam setiap pokok pembelajaran Kompetensi Dasar disajikan serangkaian aktivitas yang menarik, menantang, dan memacu siswa untuk lebih cepat menguasai kompotensi yang dipelajari. Serangakain aktivitas tersebut adalah Geladi Diri, Geladi Mandiri, Geladi Kelompok, Uji Kompetensi Diri, Uji Kompetensi Kelompok, Kuis Uji Teori, dan Asah Kata.

(2)

Di samping itu, buku ini juga diperkaya dengan fitur-fitur yang disisipkan di sisi-sisi samping teks utama. Meskipun berukuran mini, fitur ini sarat informasi kebahasaan, kesusasteraan, dan pengetahuan umum yang dapat memperluas wawasan siswa. Fitur INFO LINGUISTIK berisi kajian-kajian singkat dan akurat gejala-gejala bahasa yang ditemukan dalam teks bacaan. INFO SASTRA mengulas istilah-istilah atau konsep-konsep sastra yang terkait dengan materi pembelajaran, juga kadang berisi info profil sastrawan, penyair, atau tokoh-tokoh penting dalam dunia sastra yang karyanya diapresiasi. INFO PLUS berisi informasi-informasi menarik dan penting diketahui siswa terkait isi teks bacaan.

Untuk membantu Guru melakukan tes formatif, di setiap akhir 2 unit buku ini disajikan Tes Uji Kompetensi Komulatif. Tes Tertulis berbentuk pilihan ganda, esai, dan penugasan/tagihan ini dapat dipergunakan langsung atau pun sekedar sebagai model. Guru dapat memodifikasi isi maupun peruntukannya sesuai kebutuhan siswa.

Keunikan dari buku ini adalah teks-teks lisan bahan simakan yang harus diperdengarkan kepada siswa disajikan dengan cetak terbalik Dengan cara ini, keinginan siswa untuk mengintip dan membaca sendiri teks dapat diminimalisir sehingga kegiatan mendengarkan diharapkan dapat berlangsung lebih murni.

Untuk memfasilitasi Guru dalam melakukan pembelajaran mendengarkan, buku ini juga melengkapi diri dengan sarana audio visual berupa kaset/CD/VCD. Namun bilamana kesulitan mendapatkan dan mengoperasikannya, Guru atau murid yang ditunjuk dapat membacakan transkripnya. Juga untuk mendukung terselenggaranya pembelajaran yang lebih menarik dan efektif, buku ini juga dilengkapi program Power Point.

B. DASAR-DASAR PENTING PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA 1. FUNGSI DAN TUJUAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Pembelajaran Bahasa Indonesia berfungsi untuk: a) sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa,

b) sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya,

c) sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni,

d) sarana penyebarluasan pemakaian Bahasa Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah,

e) sarana pengembangan penalaran, dan

f) sarana pemahaman beragam budaya Indonesia melalui khazanah kesusasteraan Indonesia.

Secara umum tujuan pemelajaran Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

(3)

b) Siswa memahami Bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi, serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan.

c) Siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional, dan kematangan sosial.

d) Siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis). e) Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan

kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.

f) Siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

2. PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Komunikasi adalah proses penyampaian maksud dengan menggunakan saluran tertentu. Maksud komunikasi dapat berupa pengungkapan pikiran, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi tentang suatu peristiwa, dan lain-lain. Hal itu disampaikan dalam aspek kebahasaan berupa kata, kalimat, paragraph, ejaan dan tanda baca dalam bahasa tulis. Sedangkan dalam bahasa lisan perlu diperhatikan unsur prosodi (intonasi, nada, irama, tekanan, tempo)

Dalam berkomunikasi ada pihak penyampai dan penerima pesan. Kedua pihak itu harus bekerja sama agar proses komunikasi berlangsung dengan baik. Kerjasama itu diciptakan dengan memperhatikan factor yang mempengaruhi proses komunikasi yaitu siapa yang diajak berkomunikasi, situasi, tempat, isi pembicaraan, dan media yang dipergunakan. Bertolak dari uraian tersebut, maka pendekatan pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan agar siswa terampil berkomunikasi. Siswa harus lebih banyak diberi kesempatan untuk berlatih berkomunikasi secara lisan maupun tertulis, secara aktif maupun reseptif. Pembelajaran bahasa tidak diarahkan pada penguasaan konsep-konsep kebahasaan atau pengetahuan berbahasa. Begitu pula untuk pembelajaran sastra tidak dibawa pada penguasaan pengetahuan sastra, tetapi langsung diajak untuk menggeluti karya sastra agar semakin mampu menikmati, memahami, dan menghayati isinya.

3. PENILAIAN

Salah satu komponen penting dalam proses pembelajaran adalah penilaian. Penilaian memiliki berbagai macam tujuan dan cara. Beberapa tujuan atau fungsi penialaian yaitu mengevaluasi program pembelajaran, menganalisis keberhasilan peserta didik, mengidentifikasi kemungkinan terjadi kesalahan konsep, dan memberi umpan balik kepada guru.

(4)

perlu menghimpun fakta-fakta dan dokumen berlajar yang diperoleh melalui observasi, portofolio, projek, produk, interview, dll. Untuk mendapatkan informasi yang akurat dan objektif, guru perlu melengkapi diri dengan format penilaian.

Penilaian berbasis kelas dilakukan Guru pada saat proses pembelajaran, baik di dalam maupun di luar ruang kelas. Penilaian berbasis kelas merupakan penilaian internal yang menjadi bagian integral dari penilaian eksternal oleh pihak luar sekolah. Selain dapat berfungsi sebagai bahan pertimbangan penentuan kenaikan kelas, juga berfungsi untuk umpan balik guru, alat motivasi peserta didik, juga berfungsi sebagai alat evaluasi dan intropeksi diri peserta didik terhadap kompetensi yang telah dicapai.

Prinsip-prinsip penitng yang harus diperhatikan dalam penilaian berbasis kelas, yaitu: a) pemberi motivasi

b) valid c) adil d) terbuka

e) berkesinambungan f) bermakna

g) menyeluruh (aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik) h) edukatif

Jenis-jenis Penilaian Berbasis Kelas

Pada dasarnya tidak ada satu pun alat / jenis penilaian yang tepat digunakan untuk setiap kompetensi yang diukur. Karena itu, Guru harus mengembangkan dan memberdayakan macam-macam jenis penilaian yang dapat dipergunakan dalam penilaian berbasis kelas. Jenis-jenis penilaian tersebut adalah:

a) Penilaian tes tertulis: menjawab pertanyaan, memberi tanggapan, PG, isian singkat, uraian (esai)

b) Tes Perbuatan: c) Pemberian Tugas d) Penilaian projek e) Penilaian produk f) Penilaian sikap g) Penilaian portofolio

Portofolio adalah kumpulan dokumen yang menjadi objek penilaian untuk mengetahui perkembangan suatu proses dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Objek Penilaian (evidence) dapat berwujud:

a) Hasil karya siswa di dalam kelas b) Hasil karya siswa di luar kelas (

c) Hasil pengamatan Guru atau pihak lain terhadap siswa d) Hasil karya yang disiapkan khusus untuk porto folio.

Evidence sebaiknya dikumpulkan dari berbagai sumber, berbagai tempat, dan berbagai tenggang waktu.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.

(5)

b) Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.

c) Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan peserta didik.

d) Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedial bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.

e) Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.

B. ASPEK-ASPEK PEMBELAJARAN BAHASA 1. MENDENGARKAN

Menyimak atau mendengarkan merupakan bentuk komunikasi lisan yang bersifat reseptif. Mendengarkan dilakukan dengan atensi dan itensi. Pendengar harus memasang telinga dengan baik-baik, memusatkan konsentrasi, dan menimbulkan suatu kebutuhan untuk memperoleh informasi. Hal ini berbeda dengan kegiatan mendengar yang berarti dalam keadaan mampu atau dapat menangkap suatu bunyi/ suara dengan telinga. Meskipun demikian, mendengar dan mendengarkan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kegiatan mendengarkan terdiri atas tindakan mendengar, memahami, dan mengapresiasi atau menanggapi. Ada tiga tahapan penting dalam proses mendengarkan, yaitu:

a) Tahap Interpretasi: pendengar menafsirkan makna atau pesan yang terkandung dalam informasi yang didengar.

b) Tahap Evaluasi: pendengar membuat penilaian atas informasi yang didengar dan mengambil suatu keputusan.

c) Tahap Reaksi: pendengar melakukan suatu tindak lanjut sebagai bentuk respon atau tanggapan atas informasi yang didengar.

Menyimak merupakan tindakan aktif reseptif, pendengar tidak sekedar menolah atau menerima informasi, tetapi mengolah atau memprosesnya. Dalam proses pengolahan itu terjadi interaksi aktif antara informasi yang diperoleh dengan informasi/pengetahuan awal yang dimiliki pendengar. Kemampuan pendengar memahami dan memproses informasi sangat dipengaruhi oleh tujuan menyimak serta wawasan yang dimiliki.

(6)

Kegiatan pembelajaran mendengarkan siswa SMA sangat beragam. Berdasarkan bahan atau sumber simakan, meliputi kegiatan mendengakan: siaran berita radio dan televisi, sambutan atau khotbah, pembicaraan dalam diskusi atau seminar, pembicaraan wawancara, laporan lisan, cerita secara langsung atau rekaman, pementasan drama, pembacaan cerpen, pembacaan penggalan novel, pembacaan teks drama, pembacaan puisi.

Sedangkan berdasarkan tujuannya, pembelajaran menyimak dapat diidentifikasi sebagai berikut:

a) Mendengarkan untuk menangkap ide-ide pokok b) Mendengarkan untuk menangkap detail-detail penting c) Mendengarkan untuk memahami urutan peristiwa

d) Mendengarkan untuk membuat prediksi dengan mengembangkan daya imajinasi e) Mendengarkan melakukan apresiasi karya sastra

Untuk mencapai hasil yang optimal, pembelajaran menyimak harus dikembangkan dengan berstrategi. Ada 3 tahap yang harus dilewati sebagai bagian dari strategi pembelajaran menyimak, yaitu:

a) Tahap Pramenyimak: guru membangkitkan skemata siswa, yaitu pengetahuan awal dan pengalaman hidup siswa yang berhubungan dengan topic simakan. Hal ini bisa dilakukan secara visual dengan menunjukkan sebuah gambar yang menarik.

b) Tahap Menyimak: secara garis besar meliputi proses interpretasi / memahami dan mengevaluasinya.

c) Tahap Pascamenyimak: yaitu tahap pengukuhan atas pengetahuan baru yang diraih siswa, dilanjutkan dengan memotivasi dan memfasilitasi siswa untuk melakukan reaksi positif baik secara lisan dan tertulis

2. MEMBACA

Di tengah arus informasi yang semakin deras merasuki kehidupan siswa, kompetensi membaca menjadi suatu kemutlakan untuk dimiliki. Tanpa kemampuan membaca yang baik, niscaya siswa akan kedodoran mengakses informasi yang melimpah tersebut. Oleh karena itu, pembelajaran membaca yang efisien dan efektif mendapat perhatian besar dalam standar isi KTSP 2006 di semua jenjang.

Membaca secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses memahami pesan atau informasi yang terkandung dalam suatu teks. Membaca dilakukan untuk berbagai maksud dan dengan berbagai cara. Antara maksud dan cara tersebut terdapat hubungan erat. Pemilihan cara membaca mana yang akan digunakan, didasarkan pada tujuan yang hendak dicapai. Untuk sekedar mendapatkan kesan umum dan informasi pokok suatu teks, kita tidak perlu membaca secara intensif, tetapi cukup secara sekilas (skimming).

(7)

memperhatikan pelafalan/artikulasi, lagu kalimat, intonasi, jeda, dsb sehingga informasi yang disampaikan dapat dipahami mudah oleh orang lain.

Takkalah penting untuk diperhatikan dalam pembelajaran membaca adalah pemilihan teks bacaan. Pemilihan teks harus memperhatikan tingkat kemampuan dan kondisi siswa, alokasi waktu, tema, dan kebutuhan siswa sendiri. Guru tidak wajib menggunakan teks yang ada dalam buku teks. Dengan alasan tertentu, teks bisa diganti dengan teks lain yang lebih relevan dengan kondisi lokal dan kebutuhan siswa.

Ada berbagai jenis keterampilan membaca yang dikembangkan dalam pembelajaran bahasa, yaitu membaca teknik/nyaring, membaca intensif, membaca ekstensif, membaca cepat, dan membaca indah.

1. Membaca Teknik/Nyaring

Membaca teknik adalah cara membaca bersuara dengan memperhatikan artikulasi kata, intonasi frase, intonasi kalimat, serta kandungan isi bacaan itu sendiri. Pembaca dituntut untuk bisa membedakan secara jelas intonasi kalaimat berita, kalimat tanya, kalimat seru atau perintah. Pembaca harus bisa membedakan lagu kalimat bernada marah, takut, gembira, sedih, dan suasana hati lainnya. Oleh karena itu, pungtuasi atau tanda baca menjadi hal penting sekali untuk dicermati.

Kompetensi Dasar membaca dalam standar isi KTSP 2006 SMA yang termasuk membaca teknik yaitu: membaca naskah berita, membaca teks pidato, membaca laporan, membaca puisi, pembacaan cerpen, dan pembacaan penggalan novel.

2. Membaca Intensif

Membaca intensif adalah membaca dalam hati atau tanpa suara untuk memahami secara mendalam dan mendetail informasi yang terkandung dalam teks.

Motivasi diri, kondisi eksternal/lingkungan, serta kebiasaan-kebiasaan tertentu menjadi factor penentu dalam mencapai hasil yang optimal. Perlu dihindarkan pada saat membaca intensif yaitu kebiasaan membaca dengan bersuara (vokalisasi) dan membaca dengan kepala, tangan, jari, dan bibir bergerak. Untuk meminimalisir gerakan itu, pembaca perlu memiliki luas jangkauan mata yang memadai. Dan hal sangat penting yang harus dilakukan adalah pemusatan konsentrasi pada saat membaca.

Kompetensi Dasar membaca dalam standar isi KTSP 2006 SMA yang termasuk membaca intensif yaitu: membaca cerpen, membaca sastra melayu klasik, membaca paragraph deduktif dan induktif, membaca hikayat, membaca novel, membaca tajuk rencana, dan membaca artikel ilmiah.

Untuk teks sastra, membaca intensif bertujuan untuk menelaah dan mengidentifikasi unsure-unsur intrinsic dan ekstrinsik. Sementara untuk teks nonsastra, bertujuan untuk mengidentifikasi gagasan pokok dan gagasan penjelas.

(8)

Membaca ekstensif atau membaca secara luas merupakan bagian dari membaca dalam hati. Membaca ektensif dipraktikkan dengan membaca teks sebanyak mungkin dalam waktu yang singkat. Bertolak belakang dengan membaca intensif, membaca ekstensif sekedar untuk mendapat informasi secara dangkal atau umum. Membaca ekstensif meliputi membaca survey (survey reading), membaca sekilas (skimming), dan membaca dangkal ( superficial reading).

a) Membaca Survei adalah membaca untuk melihat-lihat secara sekilas garis besar isi buku, koran, majalah, atau suatu artikel tertentu. Membaca survey dilakukan dengan membaca secara cepat indeks, daftar isi, bagan, skema, atau judul-judul dalam Koran/majalah.

b) Membaca Sekilas (skimming) adalah membaca sepintas kilas dengan mata bergerak cepat untuk mendapatkan informasi atau kesan umum isi suatu buku, artikel, Koran, atau majalah. Membaca skimming dilakukan dengan membuka-buka halaman secara cepat pada bagian halaman judul, kata pengantar, daftar isi, indeks, judul bab, judul subbab, skema, diagram. Khusus untuk membaca berita koran, dapat dilakukan dengan membaca sekilas bagian paragraph awal (teras/lead) dan paragraph akhir. Pada kedua bagian paragraph itu, penulis biasanya mengutarakan pokok-pokok masalah dan sikap pandangan penulis atas suatu permasalahan.

c) Membaca Dangkal adalah membaca untuk mendapat pemahaman yang dangkal atau bagian sisi luarnya. Hal ini tidak terlepas dari bahan bacaan yang bersifat ringan seperti cerita humor, anekdot, cerpen, dsb. Membaca dangkal biasanya dilakukan di waktu senggang dan bertujuan untuk fun atau kesenangan semata.

4. Membaca Cepat (Speed Reading)

Membaca cepat bukan sekedar membaca secara kuantitatif atau membaca sebanyak-banyaknya tulisan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Membaca cepat bertujuan untuk dapat memahami gagasan-gagasan penting suatu teks secara cepat dan cermat. Oleh karena itu, ukuran kecepatan efektif membaca (KEM) seseorang harus dikaitkan dengan kemampuan memahami apa yang dibacanya. Rumus untuk menghitung hasil pengukuran membaca cepat adalah:

Jumlah kata dalam teks

---X ...% pemahaman =…kpm (kata per menit) Jumlah menit membaca

Jika jumlah kata teks: 300; waktu baca 2 menit; persentase pemahaman 70%, maka KEM-nya adalah: ( 600:4) x 70%= 105 kpm.

(9)

Untuk mengukur pemahaman isi bacaan, siswa dapat menjawab pertanyaan pemahaman yang diajukan secara lisan. Atau diminta mengidentifikasi ide pokok paragraph dengan bantuan kata kunci setiap paragraph. Hal penting untuk diperhatikan, dalam mengerjakan tugas tersebut siswa tidak boleh sambil membaca teks, tetapi mengandalkan ingatannya. Pada saat pengukuran dilakukan, Guru sebelumnya sudah menghitung jumlah kata teks bacaan dan menyediakan alat pencatat waktu, seperti arloji atau stop wacth.

4. SQ3R

Membaca buku secara efisien dan efektif memerlukan sistem atau teknik tertentu. Salah satu system yang kini banyak diterapkan adalah SQ3R singkatan dari SURVEI-QUESTION-READ- RECITE-REVIEW. Teknik ini terbukti efektif untuk menemukan ide pokok dan detail penting yang menjadi pendukung ide pokok serta membuat pembaca lebih awet mengingatnya.

SURVEI – tahap prabaca untuk mendapatkan gambaran umum atau abstraksi dari buku yang akan dibacanya. Dilakukan dengan melihat sekilas bagian daftar isi, kata pengantar, pendahuluan, halaman indeks, daftar table/grafik/bagan, dan survey bab-bab.

QUESTION – Pembaca menimbulkan beberapa pertanyaan tentang isi bacaan sesuai informasi yang dibutuhkan dengan memanfaatkan informasi awal yang terdapat pada judul atau subjudul. Untuk memfokuskan pertanyaan, dapat menggunakan rumusan 5W +H.

READ – membaca secara intensif halaman demi halaman buku. Longkapi atau percepat pada bagian-bagian tidak penting.

Referensi

Dokumen terkait

Terkait dengan beberapa tuntutan di atas, mahasiswa juga dihadapkan pada masalah hubungannya dengan objek belajar yaitu siswa.. dipungkiri bahwa tingkat kecerdasan

Kuartal III / Third Quarter Period of financial statements submissions Tanggal awal periode berjalan January 01, 2018 Current period start date Tanggal akhir periode berjalan

 Kasus B Perhitungan penentuan estimasi lokasi jarak gangguan untuk tipe gangguan satu fasa ke tanah yang didapatkan hasil dari ETAP dan menampilkan hasil dari

NSDL juga menyediakan fasilitas untuk melakukan pemblokiran rekening oleh investor apa- bila investor tidak akan bertransaksi dalam waktu lama, update alamat atau detail bank

plastifikasi sebesar itu tidak terjadi ketika model dieksitasi gempa Tohoku-oki. Plastifikasi pada model RSA cenderung memiliki taraf kerusakan dan jumlah yang lebih

Menimbang : a.bahwa untuk tertib administrasi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah serta untuk melaksanakan ketentuan dalam Pasal 151 Peraturan Pemerintah

Efektifitas instrumen moneter berbasis syariah pasca dikeluarkannya PBI Nomor 10/11/PBI/2008 tentang Sertifikat Bank Indonesia Syariah yang dimaksud penulis adalah

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori feryanto (2010), yang menyatakan wanita hamil dengan infeksi saluran kemih sering terjadi di trimester III, disebabkan karna pada Saat