KIA
Setiap tiga menit, di manapun di Indonesia, satu anak balita meninggal dunia. Peningkatan kesehatan ibu di Indonesia, yang merupakan Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) kelima, berjalan lambat dalam beberapa tahun terakhir. Indonesia telah melakukan upaya yang jauh lebih baik dalam menurunkan angka kematian pada bayi dan balita, yang merupakan MDG keempat (Unicef Indonesia, 2012).
Pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang berkualitas dapat mencegah tingginya angka kematian. Indonesia menunjukkan angka peningkatan proporsi persalinan yang dibantu oleh tenaga kesehatan yang terlatih, dari 41 persen pada tahun 1992 menjadi 82 persen pada tahun 2010. Sekitar 61 persen perempuan usia 10-59 tahun melakukan empat kunjungan pelayanan antenatal yang disyaratkan selama kehamilan terakhir mereka. Kebanyakan perempuan hamil (72 persen) di Indonesia melakukan kunjungan pertama, tetapi putus sebelum empat kunjungan yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan. Kurang lebih 16 persen perempuan (25 persen dari perdesaan dan 8 persen perempuan perkotaan) tidak pernah mendapatkan pelayanan antenatal selama kehamilan terakhir mereka (Unicef Indonesia, 2012).
Kualitas pelayanan yang diterima selama kunjungan antenatal tidak memadai. Kementerian Kesehatan Indonesia merekomendasikan komponen-komponen pelayanan antenatal yang berkualitas sebagai berikut: (i) pengukuran tinggi dan berat badan, (ii) pengukuran tekanan darah, (iii) tablet zat besi, (iv) imunisasi tetanus toksoid, (v) pemeriksaan perut, dan selain (vi) pengetesan sampel darah dan urin dan (vii) informasi tentang tanda-tanda komplikasi kehamilan (Unicef Indonesia, 2012).
Buruknya kualitas pelayanan kesehatan antenatal, persalinan, dan pascapersalinan merupakan hambatan utama untuk menurunkan kematian ibu dan anak (Unicef Indonesia, 2012).
Posyandu merupakan salah satu pranata sosial yang berperan dalam pendekatan partisipasi masyarakat di bidang kesehatan. Posyandu dikelola oleh kader posyandu yang telah mendapatkan
pelatihan dari puskesmas. Tugas kader posyandu dalam kegiatan KIA adalah melakukan pendaftaran, penimbangan, pencatat pelayanan ibu dan anak. Pencatatan dilakukan KIA menggunakan buku KIA sebagai bahan penyuluhan dan melaporkan penggunaan buku KIA (Sistiarani, 2013).
Sistiarani, dkk. 2013. Peran Kader DALAM Penggunaan Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Kemas. 8(2): 99-105.
Angka Kematian Ibu (AKI) sebagai salah satu indikator kesehatan ibu dewasa ini masih tinggi di Indonesia bila dibandingkan dengan AKI di negara ASEAN lainnya. Menurut data dari Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003, AKI di Indonesia adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup. Hal ini berarti bahwa lebih dari 18.000 ibu meninggal pertahun atau 2 ibu meninggal tiap jam oleh sebab yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas. Sampai dengan tahun 2002, AKI tersebut mengalami penurunan yang lambat dengan adanya krisis ekonomi sejak tahun 1997 lalu. (Adi Heru S. 2005. Kader Kesehatan Masyarakat. EGC. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta. Sedangkan angka kematian anak balita menurun 42 % dalam 15 tahun, dari 79 kematian per 1000 kelahiran hidup pada kurun waktu 1988 menjadi 46 per 1000 kelahiran hidup pada kurun waktu 1998-2002 (Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2002/2003). Sebagai perbandingan, angka kematian balita di negara maju seperti di Inggris tahun 2002 sampai tahun 2003 sekitar 5 per 1000 kelahiran hidup (Dirjen BKMDKK, 2003).