• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Teknologi Pengolahan Pangan Peng (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Teknologi Pengolahan Pangan Peng (1)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM Teknologi Pengolahan Pangan “PENGELOLAHAN KAKAO”

NAMA : HARDIN MUHAMMAD

NIM : D1C1 14 028

KELAS : Teknologi Pangan A

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI DAN INDUSTRI PERTANIAN

UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI

(2)

A. Pendahuluan

Kakao merupakan komoditas perkebunan yang penting bagi perekonomian

nasional. Kakao berperan sebagai sumber penghasil devisa negara, menciptakan

lapangan kerja, sumber pendapatan petani, pendorong perkembangan agroindustri

dan pengembangan wilayah.

Indonesia menjadi produsen kakao kedua terbesar di dunia dengan

produksi 809.583 ton per tahun setelah Pantai Gading (1.380.000 ton per tahun).

Ekspor kakao Indonesia yang mencapai 535.236 ton dengan nilai US$ 1.413.535

pada tahun 2009, menjadikan komoditas kakao sebagai penghasil devisa terbesar

ketiga dalam sub sektor perkebunan setelah kelapa sawit dan karet (Dirjen

Perkebunan, 2012).

Luas lahan kakao di Sulawesi mencapai 838.037 Ha atau 58 % dari total

luas lahan di Indonesia. Di samping itu, Sulawesi menyumbang 63 % produksi

kakao nasional, dan Sulawesi Tenggara merupakan penyumbang terbesar kedua

(18%) setelah Sulawesi Tengah (19%). Potensi Sulawesi Tenggara sebagai sentral

pengembangan kakao sangat besar, luas lahan kakao di Sulawesi Tenggara yaitu

240.000 Ha (Statistik Perkebunan Indonesia, 2012). Kabupaten Konawe Selatan

merupakan salah satu daerah penghasil kakao di Sulawesi Tenggara. Suswono

(mentri pertanian) mengatakan bahwa Kecamatan Konda Kabupaten Konawe

Selatan merupakan salah satu pusat pengembangan mutu kakao di Sulawesi

Tenggara. (Www. Google. Com, 2011).

Wahyudi et al., (2008) mengatakan bahwa kakao forastero merupakan

(3)

Sulawesi Tenggara, namun penanganan pacsa panen yang kurang baik akan

menghasilkan kualitas kakao yang rendah. Tamrin et al., (2012) menjelaskan

bahwa kandungan antioksidan katekin pada kakao mengalami penurunan selama

penanganan pasca panen.

Tahapan pasca panen yang dapat mempengaruhi mutu, citarasa dan

antioksidan pada coklat diantaranya adalah pemeraman buah kakao dan

fermentasi biji kakao. Pemeraman bertujuan untuk menyeragamkan kematangan

buah serta mempercepat terlepasnya pulp buah pada saat fermentasi, hal ini

disebabkan karena terjadi peningkatan laju respirasi di dalam buah dan

selanjutnya mempengaruhi proses metabolisme biji (Susanto, 1994 dalam Pato et

al., 2003). Lieberei, (2002) menyatakan bahwa pada saat pemeraman buah terjadi

peningkatan senyawa polifenol. Perubahan senyawa polifenol tersebut disebabkan

oleh degradasi dan sintetis. Senyawa polifenol dalam kakao ini memiliki beberapa

kelompok kelas molekul diantaranya katekin, epikatekin, anthosianin,

pro-anthosianidin, asam fenolik, tannin terkondensasi, flavonoid lain dan beberapa

komponen minor lainnya (Sanchez-Rabaneda et al., 2003). Dilaporkan senyawa

fenolik yang terbesar dikandung dalam bubuk kakao adalah katekin.

Fermentasi berfungsi memberikan warna dan aroma yang lebih bagus jika

dibandingkan kakao yang tanpa fermentasi (Bahri, 2002). Selama proses ini

terjadi penurunan kadar polifenol yang dapat menurunkan rasa sepat dan pahit,

namun proses yang tidak terkontrol (waktu fermentasi) dapat merusak cita rasa

dan aroma serta pembentukan warna yang berlebihan (Wahyudi et al., 2008).

(4)

khas cokelat tidak terbentuk, juga seringkali dihasilkan citarasa yang tidak

dikehendaki (Atmawinata et al., 1998).

Proses fermentasi ini terjadi sejumlah reaksi yang dapat membentuk

senyawa aroma dan citarasa. Hubungan antara pembentukan senyawa aroma dan

citarasa kakao dengan lama pemeraman dan lama fermentasi berpengaruh

terhadap perubahan senyawa katekin dan meningkatkan kualitas kakao, maka

perlu dilakukan suatu penelitian pengaruh lama pemeraman dan fermentasi kakao

(5)

B. Proses Pengolahan Kakao

MENAMBAHKAN AIR 5% DARI NIBS 15 KG

MENCAMPUR PASTA HALUS, LEMAK COKLAT,

GULA PASIR, DAN SUSU BUBUK. BIJI KAKAO KERING

DISORTIR

DITIMBANG 15 SEBANYAK KG

DISANGRAI MENGGUNAKAN ROASTER

DIDINGINKAN MENGGUNAKAN ALAT CNC COCOA NIBS COOLER

MEMISAHKAN BIJI DENGAN KULIT MENGGUNAKAN NSS (NIBS SEL SEPARATOR)

MENYANGRAI ULANG DALAM ROASTER

MENGGILING BIJI KAKAO MENJADI PASTA KASAR MENGGUNAKAN ALAT STONE MILL

MENGHALUSKAN PASTA KASAR MENGGUNAKAN BALL MILL VERTIKAL

MENYIMPAN PASTA HALUS DALAM STORAGE TANK

MEMBUAT ADONAN COKLAT DENGAN ARIXES

MENGHALUSKAN ADONAN COKLAT DENGAN BALL MILL MINI

MENCETAK ADONAN COKLAT DENGAN VERTIKAL TEMPERING MACHINE

MEMASUKKAN KEDALAM LEMARI PENDINGIN

(6)

Referensi

Dokumen terkait

Indeks pertanaman merupakan salah satu upaya yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi beras secara nasional di Sulawesi Tengah. Hal ini menggambarkan bahwa

 Kakao/coklat merupakan komoditi ekspor terbesar Provinsi Sulawesi Tengah pada bulan September 2012 dengan nilai ekspor sebesar US$ 17,43 juta atau 54,26 persen dari total

Setelah tekstur bahan menjadi serat halus, bahan dimasak dengan bumbu yang sebelumnya telah dihaluskan, kemudian ditumis.Agar abon memiliki rasa yang gurih, saat pemberian

Banjar SMAN Banua Kalsel 16 Kalimantan Timur Kota Balikpapan SMAN 1 Balikpapan 17 Sulawesi Utara Kota Bitung SMAN 2 Bitung 18 Sulawesi Tengah Kota Palu SMAN 1 Palu 19 Sulawesi

Kota Malang merupakan salah satu pusat kota dalam pengembangan kawasan tengah yang ada di Provinsi Jawa Timur dan merupakan kota terbesar kedua setelah Surabaya JawaTimur. Kota

/salah satu kawal depan Mahkamah Agung yang mempunyai yurisdiksi se- wilayah Jawa Tengah yang merupakan terbesar kedua (setelah Pengadilan Tinggi Agama Surabaya)

Kedua, implementasi hubungan hak ulayat masyarakat hukum adat dengan hak menguasai negara di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai Kabupaten Bombana, Propinsi Sulawesi Tenggara

Kabupaten Karawang dikenal sebagai lumbung padi nasional dan tercatat sebagai daerah produsen beras terbesar kedua setelah Kabupaten Indramayu. Sebagai lumbung padi