• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KOMPETENSI GURU BIOLOGI BERDASA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS KOMPETENSI GURU BIOLOGI BERDASA"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KOMPETENSI GURU BIOLOGI

BERDASARKAN PERSEPSI SISWA SMA

DI KOTA SEMARANG

PROPOSAL TESIS

diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan

Oleh

Novi Widyastuti

0402514006

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA

KONSENTRASI BIOLOGI

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

(2)

1. Latar Belakang Masalah

Peringkat Indonesia dalam HDI (Human Development Index) pada tahun

2013 tidak mengalami perubahan dari tahun 2012. Indonesia menempati peringkat

ke-108 dari 187 negara pada tahun 2013. Skor nilai HDI Indonesia sebesar 0,684

masih di bawah rata-rata dunia sebesar 0,702. Peringkat dan nilai HDI Indonesia

masih di bawah rata-rata dunia. HDI mengukur peringkat suatu negara dalam

bidang pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan ekonomi (Badan Penelitian dan

Pengembangan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013). Selain itu

berdasarkan hasil penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) Indonesia dalam hal Ilmu Pengetahuan Alam mengalami penurunan dari peringkat 60 pada tahun 2009 menjadi peringkat 64 pada tahun 2012 dari 65

negara yang berpartisipasi (Tim PISA Indonesia, 2013). Menurunnya peringkat

Negara Indonesia khususnya dalam bidang pendidikan menjadi salah satu faktor

Indonesia belum dapat bersaing dalam tataran global.

Biologi sebagai Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu

wahana untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Pelajaran biologi

bersifat kontekstual yang dapat dilihat dalam fenomena-fenomena kehidupan

sehari-hari. Pembelajaran biologi berupaya membekali siswa dengan berbagai

kemampuan ketrampilan proses yaitu: mengamati dengan indera, menggolongkan

atau mengelompokkan, menerapkan konsep atau prinsip, menggunakan alat dan

bahan, berkomunikasi, berhipotesis, menafsirkan data, melakukan percobaan, dan

mengajukan pertanyaan. Hasil wawancara dengan 20 siswa SMA di kota

(3)

sering mendapat nilai di bawah KKM. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak

siswa yang kurang berminat dengan pelajaran biologi. Alasan yang diungkapkan

oleh siswa beragam, diantaranya: materi yang sulit, hafalan yang banyak, bahasa

latin yang sulit dihafalkan, membosankan karena bersifat teoritis, serta guru yang

kurang variatif dan kreatif dalam mengajar. Salah satu alasan yang banyak

diungkap oleh siswa adalah faktor guru yang kurang kreatif dan variatif dalam

pembelajaran biologi.

Salah satu kompenen terpenting dalam pendidikan adalah guru. Guru

dalam konteks pendidikan mempunyai peranan yang penting karena guru berada

di barisan terdepan dalam pelaksanaan pendidikan. Menurut Hamalik (2002), guru

yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif,

menyenangkan dan akan mampu mengelola kelasnya, sehingga belajar para siswa

berada pada tingkat yang optimal. Guru merupakan ujung tombak yang

berhubungan langsung dengan siswa sebagai subjek dan objek belajar, sehingga

guru berperan penting dalam mensukseskan proses pembelajaran. Peran guru

dalam aktivitas pembelajaran sangat kompleks (Sanjaya, 2006).

Seorang guru harus memiliki sikap dan kepribadian yang dapat menjadi

teladan bagi peserta didiknya. Kepribadian guru melekat pada setiap perilaku yang

melingkupi kompetensi yang dimiliki. Berdasarkan UU RI No.14 tahun 2005,

guru harus memiliki 4 kompetensi profesionalisme yaitu kompetensi pribadi,

kompetensi sosial, kompetensi pedagogik dan kompetensi personal (Depdiknas,

(4)

Kompetensi guru dalam proses belajar mengajar merupakan faktor

penting dalam menentukan keberhasilan sebuah pengajaran. Kemampuan mereka

dalam menangani kegiatan belajar akan memiliki dampak langsung pada

keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan belajar. Oleh karena itu, pengembangan

kompetensi guru untuk membina sikap positif adalah agenda utama untuk

memperkuat profesi guru dan untuk memastikan pembangunan kualitas

pendidikan (Awang et all. 2013).

Seorang guru biologi perlu mengetahui bagaimana persepsi siswa

terhadap kompetensi guru. Persepsi siswa diperlukan untuk instropeksi guru

dalam meningkatkan kompetensi dan menjadi guru yang profesional. Bagi

seorang guru biologi, mengetahui dan menerapkan prinsip-prinsip yang

berhubungan dengan persepsi sangat penting karena guru akan mengenal

siswanya secara lebih baik (Slameto 2003). Siswa hendaknya memiliki persepsi

yang tepat (positif) terhadap guru sehingga akan menunjang proses belajar (Surya,

2004).

Siswa SMA adalah peserta didik yang sudah memasuki usia dewasa

awal, sehingga mampu melihat dan menilai mana guru yang patut ditiru dan

dijadikan contoh, yang memiliki ilmu pengetahuan, yang cakap dan terampil,

yang berkepribadian, dan bagaimana guru yang baik dan ideal dalam pandangan

mereka. Persepsi siswa tentang guru dan sistem pengajaran berperan penting

dalam mengembangkan kompetensi untuk menjadi seorang guru yang profesional

(5)

Berdasarman Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 74 Tahun

2008 Secara akademis guru biologi dikatakan sudah kompeten dalam bidangnya,

karena telah memenuhi kualifikasi akademik sesuai dengan jenis, jenjang, dan

satuan pendidikan formal. Realita dalam dunia pendidikan yang diketahui dari

hasil wawancara sebelumnya, menunjukkan bahwa tidak semua guru biologi di

kota Semarang berkompeten. Berdasarkan fenomena tersebut dan penelitian yang

dilakukan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa mengetahui persepsi siswa

penting bagi guru untuk mengembangkan kompetensi. Oleh karena itu, untuk

mengetahui persepsi siswa tentang kompetensi guru biologi, akan dilakukan

penelitian tentang kompetensi guru biologi SMA di kota Semarang berdasarkan

persepsi siswa .

2. Identifikasi Masalah

Ditinjau dari latar belakang di atas, maka yang menjadi identifikasi

masalah dari penelitian ini yaitu:

a. Berdasarkan hasil wawancara dengan 20 siswa SMA di Kota Semarang, minat

siswa terhadap pembelajaran biologi masih rendah.

b. Berdasarkan hasil wawancara dengan 20 siswa SMA di Kota Semarang,

menurut siswa guru kurang kreatif dan inovatif dalam pembelajaran biologi.

c. Terdapat keterkaitan antara persepsi dengan pengembangan kompetensi guru.

d. Belum terdapat data yang menginformasikan tentang kompetensi guru biologi

(6)

3. Cakupan Masalah

Agar penelitian ini lebih terarah dalam pelaksanaannya, maka perlu

diadakan cakupan masalah. Cakupan masalah dalam penelitian ini, yaitu :

a. Penelitian ini hanya terbatas pada pembahasan tentang bagaimana kompetensi

guru biologi di kota Semarang berdasarkan persepsi siswa SMA.

b. Penelitian ini menggunakan acuan standar kompetensi guru berdasarkan

Undang-undang guru dan dosen no. 14 tahin 2005 dan peraturan pemerintah

no. 19 tahun 2005 yang meliputi kompetensi kepribadian, pedagogik,

profesional, dan sosial.

c. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas XI SMA negeri dan swasta di Kota

Semarang Tahun Ajaran 2015/2016.

d. Penelitian ini bersifat persepsional, dalam hal ini berdasarkan persepsi siswa

yang diajar oleh guru biologi yang bersangkutan.

e. Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode kombinasi (Mixed

Methods) dengan menggunakan desain urutan pembuktian (Sequential

Explanatory).

4. Rumusan Masalah

Penelitian ini memfokuskan pada deskripsi kompetensi guru biologi di

kota Semarang berdasarkan persepsi siswa SMA. Permasalahan penelitian yang

akan dijawab adalah bagaimana tingkat kompetensi guru biologi berdasarkan

persepsi siswa SMA di kota Semarang. Permasalahan tersebut dijabarkan dalam

(7)

a. Bagaimana kompetensi pedagogik guru biologi berdasarkan persepsi siswa

SMA di kota Semarang?

b. Bagaimana kompetensi profesional guru biologi berdasarkan persepsi siswa

SMA di kota Semarang?

c. Bagaimana kompetensi kepribadian guru biologi berdasarkan persepsi siswa

SMA di kota Semarang?

d. Bagaimana kompetensi sosial guru biologi berdasarkan persepsi siswa SMA di

kota Semarang?

5. Tujuan Penelitian

Ditinjau dari permasalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk:

a. Mengetahui tingkat kompetensi guru biologi berdasarkan persepsi siswa SMA

di kota Semarang.

b. Menganalisis kompetensi pedagogik guru biologi berdasarkan persepsi siswa

SMA di kota Semarang.

c. Menganalisis kompetensi profesional guru biologi berdasarkan persepsi siswa

SMA di kota Semarang.

d. Menganalisis kompetensi kepribadian guru biologi berdasarkan persepsi siswa

SMA di kota Semarang.

e. Menganalisis kompetensi sosial guru biologi berdasarkan persepsi siswa SMA

(8)

6. Manfaat Penelitian

berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, manfaat yang

diharapkan dari adanya penelitian ini adalah:

6.1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis penelitian ini adalah dapat menambah pengetahuan dan

mengembangkan ilmu yang didapat penulis selama kuliah, serta dapat dijadikan

referensi dalam menambah pengetahuan di bidang pendidikan dak memberikan

sumbangan bagi penelitian lebih lanjut.

6.2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru Biologi

a. Memberikan gambaran kompetensi guru biologi dalam pandangan siswa

SMA di kota Semarang.

b. Sebagai bahan acuan guru biologi untuk introspeksi diri dan meningkatkan

kompetensi berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab sebagai pengajar

dan pendidik.

c. Memotivasi guru biologi dalam mengembangkan kompetensi guru

b. Bagi Instansi Pendidikan

1) Sebagai bahan pertimbangan dalam pembinaan profesionalitas guru di

sekolah negeri maupun swasta di kota Semarang untuk meningkatkan

mutu pendidikan.

2) Sebagai bahan acuan dalam meningkatkan kualitas pengajaran biologi di

(9)

3) Sebagai bahan panduan sekolah untuk meningkatkan kompetensi guru

biologi.

c. Bagi Siswa SMA

1) Meningkatkan minat siswa terhadap pembelajaran biologi sehingga dapat

mengikuti pembelajaran biologi secara optimal.

2) Siswa dapat memperoleh pembelajaran biologi yang lebih baik, sehingga

memperoleh hasil belajar yang lebih baik pula.

d. Bagi Mahasiswa Calon Guru Biologi

1) Mahasiswa calon guru biologi dapat mengetahui kompetensi guru

berdasarkan persepsi siswa di kota Semarang.

2) Sebagai dasar mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi sebagai

calon guru biologi yang profesional.

3) Sebagai bahan masukan untuk perbaikan kualitas diri sebagai calon guru

biologi yang profesional.

7. Penegasan Istilah

a. Guru adalah semua orang yang mempunyai wewenang dan bertanggung jawab

untuk membimbing dan membina anak didik, baik secara individu maupun

klasikal, yang diselelnggarakan di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah

(Bahri, 2000). Guru dalam penelitian ini adalah guru biologi, yaitu guru yang

mengampu mata pelajaran biologi pada tingkat SMA negeri dan swasta di

(10)

b. Kompetensi di dalam UU RI No.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen,

diartikan sebagai seperangkat pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang

harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam

melaksanakan tugas keprofesionalan. Kompetensi dalam penelitian ini

meliputi kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian dan sosial

c. Persepsi ialah stimulus yang diindra oleh individu, diorganisasikan dan

interpretasikan, sehingga individu menyadari, mengerti dengan apa yang

diindra itu (Walgito, 2004). Persepsi dalam penelitian ini adalah pandangan

terhadap kompetensi guru biologi dimata siswa.

d. Menurut ketentuan umum dalam Undang-undang RI No. 20 tahun 2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional, siswa adalah anggota masyarakat yang

berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang

tersedia pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Siswa yang

dimaksud dalam penelitian ini adalah siswa SMA kelas XI dari berbagai SMA

Negeri dan Swasta di Kota Semarang.

8. Kajian Pustaka 8.1. Pengertian Guru

Guru merupakan salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar

mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia

yang potensial di bidang pembangunan (Djamarah, 2000). Seorang guru dengan

segala keilmuannya mampu mengembangan potensi dari setiap anak didiknya.

(11)

pembaharuan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang

sejalan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman.

Berdasarkan Undang-Undang RI No 14 tahun 2005 pasal 1 ayat (1),

guru dijelaskan sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,

membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peerta didik pada

pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan

pendidikan menengah. Sejalan dengan itu, dalam Undang-Undang RI No.20 tahun

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal (1) ayat (6) menjelaskan bahwa yang

dimaksud dengan guru (pendidik) adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi

sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widya swara, tutor, instruktur, fasilitator,

dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam

menyelenggarakan pendidikan. Selanjutnya dalam pada Pasal 39 ayat 2, dinyatakan

bahwa: “Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan

melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan

pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi

pendidik pada perguruan tinggi”.

Hamalik (2008) berpendapat bahwa guru adalah suatu jabatan

profesional yang memiliki peranan dan kompetensi profesional, yang

meliputi syarat-syarat fisik, mental atau kepribadian, keilmiahan atau

pengetahuan dan keterampilan. Seorang guru mempunyai tugas melaksanakan

pengajaran dengan sebaik-baiknya, maka seorang guru harus bertanggung jawab

melaksanakan, membina dan mengembangkan kurikulum sekolah.

Uno (2008) mengemukakan bahwa guru merupakan suatu profesi, yang

(12)

dilakukan oleh orang-orang diluar pendidikan karena seorang guru memiliki

kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan

mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dengan baik dan pada akhirnya

dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan.

Selanjutnya, Uno (2008) mengemukakan bahwa pada dasarnya perubahan

perilaku yang ditunjukkan oleh peserta didik dipengaruhi oleh latar belakang

pendidikan dan pengalaman yang dimiliki seorang guru yang sangat berpengaruh

terhadap hasil belajar peserta didik.

Suparlan (2006) mengemukakan bahwa guru adalah seseorang yang

memperoleh Surat Keputusan (SK), baik dari pemerintah maupun swasta untuk

melaksanakan tugasnya, dan karena itu ia memiliki hak dan kewajiban untuk

melaksanakan kegiatan belajar mengajar di lembaga pendidikan sekolah.

Pengertian yang lebih sempit yaitu, guru adalah orang yang pekerjaannya mengajar atau

memberikan pelajaran di sekolah atau di dalam kelas (Barizi dan Idris, 2010). Sedangkan

dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, guru adalah orang yang pekerjaannya (mata

pencahariannya, profesinya)mengajar.

Berdasarkan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli di

atas, dapat disimpulkan bahwa guru adalah orang yang memiliki kemampuan dan

keahlian khusus dalam bidang keguruan yang memiliki kompetensi yang

dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran, sehingga

ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan

maksimal.

(13)

Dalam proses belajar mengajar guru mempunyai peran mendorong,

membimbing dan memberikan fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan.

Untuk itu, guru mempunyai tanggung jawab untuk mengetahui segala hal yang

terjadi di kelas dengan tujuan membantu perkembangan siswa. Slameto (2003)

mengemukakan bahwa peranan guru perpusat pada tiga hal, yaitu mendidik

dengan memberikan arah dan motivasi untuk mencapai tujuan, memberikan

fasilitas melalui pengalaman belajar, dan membantu perkembangan aspek-aspek

pribadi seperti sikap, nilai-nilai dan penyesuaian diri.

Keberhasilan guru melaksanakan peranannya dalam pendidikan

sebagian besar terletak pada kemampuan dalam melaksanakan berbagai peranan

yang bersifat khusus dalam situasi mengajar dan belajar. Tiap peranan menuntut

berbagai kompetensi atau keterampilan mengajar guru. Menurut Hamalik

(2008) menyebutkan ada beberapa peranan tersebut sebagai berikut :

a. Guru sebagai pengajar

Guru sebagai pengajar harus memiliki kestabilan emosi, ingin

memajukan siswa, bersikap realistis, bersikap jujur dan terbuka, peka terhadap

perkembangan terutama inovasi pendidikan. Untuk mencapai semua itu, guru

harus memiliki dan menguasai berbagai jenis bahan pelajaran, menguasai teori

dan praktik kependidikan, menguasai kurikulum dan metodelogi pengajaran.

Dengan ketrampilan yang dimilikinya, guru akan dapat memberikan variasi

dalam menyampaikan materi yang disajikannya sehingga anak didik tidak akan

(14)

b. Guru sebagai pemimpin kelas

Guru harus mampu memimpin kelompok siswa di dalam kelas. perlu

memiliki ketrampilan cara memimpin kelompok-kelompok dan peranannya. Guru

harus mampu memimpin, untuk itu guru harus mampu memiliki kepribadian,

menguasai ilmu kepemimpinan, menguasai prinsip hubungan antarmanusia,

teknik berkomunikasi, serta menguasai berbagai aspek kegiatan organisasi yang

berada di sekolah. Guru dituntut untuk dapat memiliki kemampuan memimpin

kelas agar dapat menguasai kelas meskipun anak didik terdiri dari berbagai

macam kemampuannya.

c. Guru sebagai pembimbing

Guru memiliki keterampilan cara mendorong dan mengarahkan

kegiatan belajar siswa. Bimbingan disini adalah proses pemberian bantuan

terhadap individu untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri yang

dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum terhadap

sekolah, keluarga serta masyarakat. Peranan ini harus dipentingkan, karena

kehadiran guru di sekolah adalah untuk membimbing anak di sekolah menjadi

manusia yang dewasa susila yang cakap. Tanpa bimbingan, anak didik akan

mengalamikesulitan dalam menghadapi segala perkembangan dirinya. Intinya

peran guru sebagai pembimbing adalah terletak pada kekuatan intensitas

hubungan interpersonal antara guru dengan siswa yang dibimbingnya

d. Guru sebagai pengatur lingkungan

Guru memiliki keterampilan mengatur lingkungan belajar yakni

(15)

belajar dapat tersedia dengan baik dan peserta didik akan memperhatikan materi

yang disampaikannya. Kondisi belajar yang kondusif pun akan tercipta bagi bagi

peserta didik.

e. Guru sebagai partisipan

Guru memiliki keterampilan cara memberikan saran, mengarahkan

pemikiran kelas dan memberikan penjelasan, sehingga ketika anak didik

menghadapi permasalahan guru dapat memberikan saran dan penjelasan yang

terbaik untuk anak didik.

f. Guru sebagai ekspeditur

Guru menyelidiki sumber-sumber masyarakat yang akan digunakan.

Dalam permasalahan ini guru harus terjun langsung ke masyarakat dan

mengadakan penelitian secara langsung, sehingga hasil penelitian tersebut dapat

valid dan dapat diterima oleh anak didik sebagai materi yang perlu dikaji.

g. Guru sebagai perencana

Guru memiliki keterampilan cara memilih dan meramu bahan pelajaran

secara profesional. Dengan ketrampilan ini guru akan lebih bisa menguasai kelas

dan lebih variatif dalam memilih metode dalam menyampaikan setiap bahan

pelajaran.

h. Guru sebagai supervisor

Mengawasi kegiatan dan ketertiban kelas. Sebagai supervisor, guru

(16)

proses pengajaran. Tekhnik-tekhnik supervise harus guru kuasai dengan baik agar

dapat melakukan perbaikan terhadap situasi belajar mengajar menjadi lebih baik

.Untuk itu kelebihan supervisor bukan hanya posisi atau kedudukan yang

ditempatinya, akan tetapi juga karena pengalamannya, pendidikannya,

kecakapannya, atau ketrampilan-ketrampilannya yang dimilikinya, atau karena

memiliki sifat-sifat kepribadian yang menonjol daripada orang-orang yang

disupervisinya.

i. Guru sebagai motivator

Guru perlu memiliki ketrampilan cara mendorong motivasi belajar

kelas. Sebagai motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar

bergairah dan aktif belajar. Dalam upaya memberikan motivasi, guru dapat

menganalisis motiv-motiv yang melatarbelakangi anak didik malas belajar dan

menurun prestasinya di sekolah. Setiap saat guru harus bertindak sebagai

motivator, karena dalam interaksi edukatif tidak mustahil ada di antara anak

didik yang malas belajar dan sebagainya.

j. Guru sebagai penanya

Guru memiliki keterampilan cara bertanya yang merangsang kelas

berpikir dan cara-cara memecahkan masalah. Dengan berbagai variasi pertanyaan

yang disesuaikan dengan keadaan kelas, anak didik akan lebih termotivasi

dengan materi pelajaran. Mengajukan pertanyaan dengan baik adalah

pengajaran yang baik. Oleh karena itu ketrampilan bertanya menjadi penting.

(17)

Guru memberikan ganjaran atau penghargaan terhadap siswa – siswa

yang berprestasi, sehingga dapat merangsang untuk mencapai prestasi yang

lebih baik di kemudian hari.

l. Guru sebagai evaluator

Guru memiliki keterampilan cara menilai anak-anak secara objektif,

kontinu dan komprehensif. Melalui evaluasi guru akan menjadi titik tolak untuk

memperbaiki dan meningkatkan proses belajar mengajar selanjutnya. Dengan

demikian proses belajr mengajar akan senantiasa ditingkatkan terus menerus

dalam mencapai efektifitas pembelajaran.

m. Guru sebagai konselor

Sebagai konselor, guru harus menjadi pengamat yang peka terhadap

tingkah laku dan gerak-gerik muridnya. Guru harus berusaha memberikan

tanggapan yang konstruktif apabila murid mengalami kelesuan dalam belajar.

Dalam hal ini guru dituntut untuk dapat memberikan solusi, saran-saran yang

terbaik terhadap permasalahan yang dihadapi anak didik.

8.3. Kompetensi Guru 8.3.1. Pengertian Kompetensi

Proses belajar dan hasil belajar para siswa bukan saja ditentukan oleh

sekolah, pola struktur, dan isi kurikulum, akan tetapi sebagian besar

ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing mereka. Guru

(18)

menyenangkan, dan akan lebih mampu mengelola kelasnya, sehingga belajar

para siswa berada pada tingkat optimal (Hamalik, 2002).

Menurut Mulyasa (2004), kompetensi merupakan perpaduan dari

pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan

berpikir dan bertindak. Pada sistem pengajaran, kompetensi digunakan untuk

mendeskripsikan kemampuan profesional yaitu kemampuan untuk menunjukkan

pengetahuan dan konseptualisasi pada tingkat yang lebih tinggi. Kompetensi ini

dapat diperoleh melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman lain sesuai tingkat

kompetensinya.

Kompetensi dalam bahasa Indonesia merupakan serapan dari bahasa

Inggris, competence yang berarti kecakapan dan kemampuan. Kompetensi adalah

kumpulan pengetahuan, perilaku, dan keterampilan yang harus dimiliki guru

untuk mencapai tujuan pembelajaran dan pendidikan. Kompetensi diperoleh

melalui pendidikan, pelatihan, dan belajar mandiri dengan memanfaatkan sumber

belajar (Musfah, 2011).

Kompetensi di dalam UU RI No.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen,

diartikan sebagai seperangkat pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang harus

dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas

keprofesionalan. Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa

kompetensi merupakan seperangkat penguasaan kemampuan, ketrampilan, nilai,

dan sikap yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai guru yang bersumber dari

pendidikan, pelatihan, dan pengalamannya sehingga dapat menjalankan tugas

(19)

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kompetensi

merupakan satu kesatuan yang utuh yang menggambarkan potensi, pengetahuan,

keterampilan, dan sikap yang dinilai, yang terkait dengan profesi tertentu

berkenaan dengan bagian-bagian yang dapat diaktualisasikan dan diwujudkan

dalam bentuk tindakan atau kinerja untuk menjalankan profesi tertentu.

8.3.2. Pengertian Kompetensi Guru

Menurut Zamroni (2001), guru adalah orang yang memegang peran

penting dalam merancang strategi pembelajaran yang akan dilakukan.

Keberhasilan proses pembelajaran sangat tergantung pada penampilan guru dalam

mengajar dan kegiatan mengajar dapat dilakukan dengan baik dan benar oleh

seseorang yang telah melewati pendidikan tertentu yang memang dirancang untuk

mempersiapkan sebagai seorang guru. Pernyataan tersebut mengantarkan kepada

pengertian bahwa mengajar adalah suatu profesi, dan pekerjaan guru adalah

pekerjaan profesional. Setiap pekerjaan professional dipersyaratkan memiliki

kemampuan atau kompetensi tertentu agar yang bersangkutan dapat melaksanakan

tugas-tugas profesionalnnya.

Hubungan kompetensi dengan tenaga kependidikan, merujuk pada

perbuatan yang bersifat rasional dan memenuhi sertifikasi tertentu dalam

melaksanakan tugas kependidikan. Tenaga kependidikan dalam hal ini adalah

guru. Guru harus memilki kompetensi yang memadai agar dapat menjalankan

tugas dengan baik. Suparlan (2006) berpendapat bahwa “Kompetensi guru

melakukan kombinasi kompleks dari pengetahuan, sikap, ketrampilan dan

(20)

Sarimaya (2008) mengemukakan bahwa kompetensi guru merupakan

seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki,

dihayati, dikuasai dan diwujudkan oleh guru dalam melaksanakan tugas

keprofesionalannya.

Pillay et al., (2005) menyatakan bahwa kompetensi mengajar yang

dimiliki guru adalah prasyarat pengetahuan tentang subjek yang mereka ajarkan,

keterampilan mengajar dan percaya diri yang dimiliki. Kompetensi mengajar

mempengaruhi tingkat pencapaian kompetensi siswa dengan menggunakan

strategi pembelajaran yang efektif. Guru yang kompeten adalah guru yang

mempunyai keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menghadapi

berbagai karakteristik siswa.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan, bahwa kompetensi guru

adalah kebulatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang berwujud tindakan

cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas sebagai agen

pembelajaran yang didukung oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman

mengajar yang dimiliki seorang guru untuk menjadi guru yang profesional.

Okoro dan Chukwudi (2011) menyatakan bahwa seorang guru yang ideal harus

memiliki kompetensi dasar guru.

8.3.3. Komponen-Komponen Kompetensi Guru

Proses belajar mengajar dan hasil belajar para siswa bukan saja

ditentukan oleh sekolah, pola, struktur, dan isi kurikulum akan tetapi ditentukan

oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing. Guru berkompeten akan

(21)

Karadeniz (2011) menjelaskan bahwa The Australian Institute for

Teaching and School Leadership (AITSL) menetapkan standar kompetensi, yang

dijabarkan dalam tujuh elemen kunci untuk menjadi guru yang efektif yaitu:

1) Mengetahui bagaimana siswa dan cara belajarnya. Guru di harapkan untuk

memilih, mengembangkan, mengevaluasi dan merevisi strategi pembelajaran

untuk meningkatkan belajar siswa. Guru dapat menggunakan pengetahuan

tentang perkembangan fisik, sosial, intelektual dan karakteristik siswa dalam

rangka memenuhi kebutuhan siswa dari latar belakang budaya dan ekonomi

yang beragam.

2) Mengetahui kandungan materi ajar dan cara mengajarkannya. Guru harus

mampu untuk mengevaluasi dan meningkatkan pengetahuan materi dan

strategi mengajar. Selain itu, guru harus memantau dan mengevaluasi

pelaksanaan strategi pengajaran untuk memerluas kesempatan belajar dan

pengetahuan materi ajar.

3) Merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang efektif. Guru harus

merencanakan, melaksanakan, dan meninjau efektivitas program belajar dan

mengajar.

4) Membuat dan mengelola lingkungan belajar yang kondusif dan aman. Guru

diharapkan aktif dalam pengembangan lingkungan belajar yang produktif dan

inklusif.

5) Menilai, memberikan umpan balik dan melaporkan proses belajar siswa. Guru

(22)

mendiagnosis kebutuhan belajar dan mengkoordinasikan program evaluasi

menggunakan data penilaian siswa.

6) Terlibat dalam pembelajaran profesi. Guru dapat memperluas kesempatan

belajar profesi, terlibat dalam penelitian, dan meningkatkan kualitas.

7) Terlibat secara profesional dengan rekan-rekan, orang tua/wali dan

masyarakat.

Menurut Depdiknas (2007), berdasarkan Undang-Undang Guru dan

Dosen No. 14/2005 dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik

Indonesia No. 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan

Kompetensi Guru. Dijelaskan bahwa Standar Kompetensi Guru dikembangkan

secara utuh dari 4 kompetensi utama, yaitu:

1. Kompetensi pedagogik

Kompetensi pedagogik dalam Peraturan Pemerintah RI No. 74 tahun

2008 tentang Guru pasal 3 ayat 4, yaitu kemampuan guru dalam pengelolaan

pembelajaran yang meliputi:

a. Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan;

b. pemahaman terhadap peserta didik;

c. pengembangan kurikulum atau silabus;

d. perancangan pembelajaran;

e. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis;

f. pemanfaatan teknologi pembelajaran;

(23)

h. pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang

dimilikinya.

Kompetensi pedagogik juga dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah RI

No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 28 ayat 3 butir a,

sebagai kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi

pedagogik meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan

pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik

untuk mengaktualisasikan berbagai kompetensi yang dimilikinya.

Secara rinci setiap sub kompetensi dijabarkan menjadi indikator

esensial sebagai berikut (Sarimaya 2008):

1) Subkompetensi memahami peserta didik secara mendalam memiliki indikator

esensial: memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip

perkembangan kognitif, memahami peserta didik dengan memanfaatkan

prinsip-prinsip kepribadian, dan mengidentifikasi bekal awal peserta didik. 2) Merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan untuk

kepentingan pembelajaran. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial:

memahami landasan pendidikan, menerapkan teori belajar dan pembelajaran,

menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik,

kompetensi yang ingin dicapai dan materi ajar, serta menyusun rancangan

pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.

3) Subkompetensi melaksanakan evaluasi pembelajaran memiliki indikator

esensial: menata latar (setting) pembelajaran, dan melaksanakan pembelajaran

yang kondusif.

4) Subkompetensi merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran memiliki

(24)

dan hasil belajar dengan menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery

learning), dan memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan

kualitas program pembelajaran secara umum.

5) Subkompetensi mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan

berbagai kompetensinya, memiliki indikator esensial: memfasilitasi peserta

didik untuk mengembangkan berbagai potensi akademik, dan memfasilitasi

peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik, dan

memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi non

akademik

2. Kompetensi kepribadian

Kompetensi kepribadian dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun

2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 ayat 3 butir b, dijelaskan

sebagai kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa,

menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Menurut Kunandar

( 2008), kompetensi kepribadian yaitu perangkat perilaku yang berkaitan dengan

kemampuan individu daam mewujudkan dirinya sebagai pribadi yang mandiri

untuk melakukan transformasi diri, identitas diri, adentitas diri dan pemahaman

diri. Kompetensi kepribadian meliputi kemampuan-kemampuan dalam memahami

diri, mengelola diri, mengendalikan diri dan menghargai diri. Kompetensi

kepribadian dalam Peraturan Pemerintah RI No. 74 tahun 2008 tentang Guru

pasal 3 ayat 5 sekurang-kurangnya mencakup kepribadian yang beriman,

bertaqwa, berakhlak mulia, arif, bijaksana, demokratis, mantap, berwibawa, stabil,

dewasa, jujur, sportif, menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, serta

(25)

Suyatno (2008) mengemukakan bahwa kompetensi kepribadian adalah

kepribadian yang melekat pada pendidik yaitu pribadi yang mantap, stabil,

dewasa, arif, berwibawa, berakhlak mulia, serta dapat dijadikan teladan bagi

peserta didik. Seorang guru dinilai tidak hanya dari aspek keilmuannya saja,

tetapi juga dari aspek kepribadiannya yang ditampilkannya. Seorang guru harus

mempu menarik peserta didik dan memunculkan aura optimis dalam menghadapi

berbagai tantangan hidup. Seorang guru harus mempunyai kepribadian sehat

yang akan mendorongnya mencapai puncak prestasi. Di sinilah pentingnya

kompetensi kepribadian bagi guru agar pembelajaran berjalan dengan baik.

Secara rinci subkompetensi kepribadian dapat dijabarkan sebagai

berikut (Sarimaya, 2008):

1) Subkompetensi kepribadian yang mantab dan stabil memiliki indikator

esensial: bertindak sesuai dengan norma hukum , bertindak sesuai dengan

norma sosial, bangga sebagai guru, dan memiliki konsistensi dalam bertindak

sesuai dengan norma.

2) Subkompetensi kepribadian yang dewasa memiliki indikator esensial:

menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki

etos kerja sebagai guru.

3) Subkompetensi kepribadian yang arif memiliki indikator esensial:

menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik,

sekolah, dan masyarakat serta menunjukkan keterbukaan dalam berfikir dan

bertindak.

4) Subkompetensi kepribadian yang berwibawa memiliki indikator esensial:

memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan

(26)

5) Subkompetensi akhlak mulia dan dapat menjadi teladan memiliki indikator

esensial: bertindak sesuai norma religius (iman dan takwa, jujur, ikhlas, suka

menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.

6) Subkompetensi evaluasi diri dan pengembangan diri memiliki indikator

esensial: memilki kemampuan untuk berintropeksi, dan mampu

mengembangkan potensi diri secara optimal.

Menurut Akhyak (2005) dalam kompetensi pribadi, guru sering

dianggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian ideal, oleh karena itu, pribadi

guru sering dianggap sebagai model atau panutan (yang harus di-gugu dan ditiru).

Sebagai seorang model, guru harus memiliki kompetensi yang berhubungan

dengan pengembangan kepribadian (personal competencies).

3. Kompetensi professional

Kompetensi profesional adalah kompetensi atau kemampuan yang

berhubungan dengan penyelesaian tugas-tugas keguruan (Munardji, 2004).

Kompetensi ini merupakan kompetensi yang sangat penting, oleh sebab langsung

berhubungan dengan kinerja yang ditampilkan. Oleh sebab itu tingkat

keprofesionalan seorang guru dapat dilihat dari kompetensi ini. Kompetensi

profesional adalah kemampuan dalam penguasaan akademik (mata

pelajaran/bidang studi) yang diajarkan dan terpadu dengan kemampuan

mengajarnya sekaligus sehingga guru memiliki wibawa akademik (Kunandar,

(27)

Kompetensi profesional dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun

2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 ayat 3 butir c, dijelaskan

sebagai kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam

yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar

kompetensi yang ditetapkan.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.74 Tahun 2008 Pasal 3

ayat (7) mengemukakan bahwa kompetensi profesional merupakan kemampuan

guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu pengetahuan, teknologi,

dan/atau seni dan budaya yang diampunya yang sekurang-kurangnya meliputi

penguasaan:

1) Materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi

program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata

pelajaran yang akan diampu, dan

2) Konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan,

yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan

pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan

diampu.

Menurut Sarimaya (2008), kompetensi profesional merupakan

penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencangkup

penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan subtansi keilmuan

yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi

keilmuannya. Setiap subkompetensi tersebut memiliki indikator esensial sebagai

(28)

1) Subkompetensi menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang

studi memiliki memiliki indikator esensial: memahami materi ajar yang ada

dalam kurikulum sekolah, memahami struktur, konsep, dan metode keilmuan

yang menaungi atau koheren dengan materi ajar, memahami hubungan

konsep antar mata pelajaran terkait, dan menerapkan konsep keilmuan dalam

kehidupan sehari-hari.

2) Subkompetensi menguasai struktur dan metode keilmuan memiliki indikator

esensial menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian untuk

memperdalam pengetahuan materi bidang studi secara profesional dalam

kontek global.

4. Kompetensi sosial

Kompetensi sosial dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005

tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 ayat 3 butir d, dijelaskan sebagai

kemampuan pendidik yang merupakan bagian dari masyarakat untuk

berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik,

tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Menurut Kunandar (2008) kompetensi sosial yaitu perangkat perilaku tertentu

yang merupakan dasar dari pemahaman diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan

dari lingkungan sosial serta tercapainya interaksi sosial secara efektif.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.74 Tahun 2008 Pasal 3

ayat (6) mengemukakan bahwa kompetensi sosial merupakan kemampuan guru

sebagai bagian dari masyarakat yang sekurang-kurangnya meliputi kompetensi

untuk:

(29)

2) Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional

3) Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesame pendidik, tenaga

kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua atau wali peserta didik;

4) Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan

norma serta sistem nilai yang berlaku; dan

5) Menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan

Sarimaya (2008) menjabarkan kompetensi sosial menjadi

subkompe-tensi dengan indikator esensial sebagai berikut:

1) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik,

subkompetensi ini memiliki indikator esensial: berkomunikasi secara efektif

dengan peserta didik.

2) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan

tenaga pendidik.

3) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali

peserta didik dan masyarakat sekitar

Kompetensi inti guru dijabarkan berdasarkan Peraturan Menteri

Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 16 tahun 2007 tentang Standar

Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, sebagai berikut:

1) Kompetensi Pedagogik

a. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual,

sosial, kultural, emosional, dan intelektual.

b. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.

c. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang

(30)

d. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik.

e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan

pembelajaran.

f. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk

mengaktualisasi-kan berbagai potensi yang dimiliki.

g. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.

h. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.

i. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan

pembelajar-an.

j. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

2) Kompetensi Kepribadian

a. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional

Indonesia.

b. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi

peserta didik dan masyarakat.

c. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil,dewasa, arif, dan

berwibawa.

d. Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru,

dan rasa percaya diri.

e. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

3) Kompetensi Sosial

a. Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena

pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga,

(31)

b. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik,

tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.

c. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang

memiliki keragaman sosial budaya.

d. Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan

tulisan atau bentuk lain.

4) Kompetensi Profesional

a. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung

mata pelajaran yang diampu.

b. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang

diampu.

c. Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.

d. Mengembangkan keprofesionalan secaraberkelanjutan denganmelakukan

tindakan reflektif.

e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk

mengembang-kan diri.

Penjabaran tentang Kompetensi guru mata pelajaran biologi secara

khusus berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia

No. 16 tahun 2007 dijelaskan sebagai berikut:

1) Memahami konsep-konsep, hukum-hukum, dan teori-teori biologi serta

penerapannya secara fleksibel.

2) Memahami proses berpikir biologi dalam mempelajari proses dan gejala alam. 3) Menggunakan bahasa simbolik dalam mendeskripsikan proses dan gejala

(32)

4) Memahami struktur (termasuk hubungan fungsional antar konsep) ilmu

Biologi dan ilmu-ilmu lain yang terkait.

5) Bernalar secara kualitatif maupun kuantitatif tentang proses dan hukum

biologi.

6) Menerapkan konsep, hukum, dan teori fisika kimia dan matematika untuk

menjelaskan/mendeskripsikan fenomena biologi.

7) Menjelaskan penerapan hukum-hukum biologi dalam teknologi yang terkait

dengan biologi terutama yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. 8) Memahami lingkup dan kedalaman biologi sekolah.

9) Kreatif dan inovatif dalam penerapan dan pengembangan bidang ilmu biologi

dan ilmu-ilmu yang terkait.

10) Menguasai prinsip-prinsip dan teori-teori pengelolaan dan keselamatan

kerja/belajar di laboratorium biologi sekolah.

11) Menggunakan alat-alat ukur, alat peraga, alat hitung, dan piranti lunak

computer untuk meningkatkan pembelajaran biologi di kelas, laboratorium

dan lapangan.

12) Merancang eksperiment biologi untuk keperluan pembelajaran atau penelitian. 13) Melaksanakan eksperiment biologi dengan cara yang benar.

14) Memahami sejarah perkembangan IPA pada umumnya khusunya biologi dan

pikiran-pikiran yang mendasari perkembangan tersebut.

8.4. Pengertian Persepsi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia persepsi adalah tanggapan

(penerimaan) langsung dari sesuatu (KBBI, 2005). Proses persepsi ialah stimulus

yang diindra oleh individu, diorganisasikan dan interpretasikan, sehingga individu

menyadari, mengerti dengan apa yang diindra itu (Walgito,2004). Slameto, (2003)

menjelaskan bahwa melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan

hubungan dengan lingkungan. Hubungan ini dilakukan lewat inderanya yaitu

(33)

suatu pandangan atau pendapat seseorang tentang suatu peristiwa maupun

fenomena yang ada disekitarnya maupun yang dialaminya.

Menurut Saleh dan Wahhab (2004) Suatu penginderaan yang bermakna

akan menghasilkan sebuah persepsi, adapun ciri-ciri persepsi diantaranya:

a. Modalitas yakni rangsang-rangsang yang diterima harus sesuai dengan

modalitas tiap indera (cahaya untuk penglihatan, bau untuk penciuman, dan

suara untuk pendengaran)

b. Dimensi ruang, sehingga dapat menyatakan atas-bawah, tinggi-rendah, dan

depan-belakang

c. Dimensi waktu, seperti cepat-lambat dan tua-muda

d. Struktur komplek, yaitu keseluruhan yang menyatu.

Individu akan mengaitkan stimulus yang diterima dalam persepsi,

sehingga stimulus tersebut berarti bagi individu yang bersangkutan. Stimulus atau

rangsangan merupakan salah satu faktor yang berperan dalam persepsi. Faktor lain

yang mempengaruhi persepsi adalah perhatian yang selektif, ciri-ciri ransang, nilai

dan kebutuhan individu serta pengalaman terdahulu (Setiadi dan Usman 2011).

Berdasarkan beberapa faktor tersebut dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya

persepsi dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal individu. Faktor

internal dipengaruhi oleh karakteristik individual seperti: sikap, motif, minat,

kepentingan, pengalaman dan harapan. Sedangkan faktor eksternal dipengaruhi

oleh obyek atau sasaran persepsi atau stimulus itu sendiri dari faktor situasi.

Menurut Okoro dan Chukwudi (2011) guru merupakan kunci utama

(34)

pendidikan. Guru dipandang sebagai seseorang yang telah memperoleh

pengetahuan, ketrampilan, sikap, ide dan apresiasi lain sehingga dapat

mempenga-ruhi perubahan perilaku siswanya. Guru yang baik dapat menjadi contoh bagi

siswa untuk diteladani sikap dan perilakunya. Adanya sikap dan perilaku yang

baik dari guru, membuat siswa akan termotivasi untuk mengikuti pembelajaran

dengan lebih baik. Selain itu Okoro dan Chukwudi (2011) juga menyatakan

bahwa seorang guru harus memiliki kompetensi dasar guru, kemampuan

memimpin, dan interaksi sosial yang baik.

8.5. Karakteristik Siswa SMA

Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) termasuk individu-individu yang

memasuki masa remaja madya yang berusia 15-18 tahun. Masa remaja merupakan

suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang sejak berakhirnya

masa kanak-kanak sampai datangnya awal masa dewasa (Syamsyudin, 2007).

Usia remaja anak SMA adalah usia pertumbuhan untuk fisiknya, cara bersosial,

daya fikir untuk tingkat pengetahuan dan lain-lain. Di masa remaja awal ini

merupakan salah satu periode unik dan khusus yang ditandai dengan

perubahan-perubahan perkembangan yang tidak terjadi dalam tahap-tahap lain dalam

rentang kehidupan.

Menurut Yusuf (2004), masa remaja merupakan masa yang banyak

menarik perhatian kerena sifat-sifat khasnya dan peranannya yang menentukan

dalam kehidupan individu dalam masyarakat orang dewasa. Masa ini dapat

diperinci lagi menjadi beberapa masa sebagai berikut:

(35)

Masa praremaja biasanya berlangsung hanya dalam waktu relatif

singkat. Masa ini ditandai oleh sifat-sifat negatif pada remaja sehingga sering

kali masa ini disebut masa negatif dengan gejala seperti tidak tenang, kurang

suka bekerja, dan pesimistik.

2. Masa Remaja ( remaja madya )

Pada masa ini mulai tumbuh dalam diri remaja dorongan untuk hidup,

kebutuhan akan datang teman yang dapat memahami dan menolongnya, teman

yang dapat turut merasakan suka dan dukanya. Pada masa ini, sebagai masa

mencari sesutau yang dapat dipandang bernilai.

3. Masa Remaja Akhir

Setelah seorang remaja dapat menentukan pendirian hidupnya, pada

dasarnya dia telah mencapai masa remaja akhir. Maka dari itu, telah terpenuhilah

tuga-tugas perkembangan masa remaja yaitu menemukan pendirian hidup dan

masuklah individu ke dalam masa dewasa.

Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju

dewasa. Masa remaja mempunyai berbagai macam ciri pada masa ini disebut

sebagai fase yang sangat unik. Secara umum ciri-ciri remaja menurut

Zulkifli (2005), adalah sebagai berikut:

a. Pertumbuhan fisik mengalami perubahan dengan cepat, terlihat pada tungkai,

tangan dan otot-otot tubuh berkembang pesat.

b. Perkembangan seksual, seperti pada laki-laki alat reproduksi sperma mulai

berproduksi dan wanita mulai sudah mendapatkan mensrtuasi.

(36)

kritis ).

d. Emosi yang meluap-luap.

e. Mulai tertarik pada lawan jenis.

f. Menarik perhatian lingkungan, seperti berusaha mendapatkan status dan

peranan dalam suatu perkumpulan.

g. Terkait dengan kelompoknya

9. Kerangka Teoritis

Peran guru di dalam proses pembelajaran adalah sebagai korektor,

inspiratory, informatory, organisator, motivator, inisiator, fasilitator, pembimbing,

demonstrator, pengelola kelas, mediator, supervisor, dan evaluator (Djamarah,

2005).Guru memiliki pengaruh yang besar dalam menentukan seberapa besar

minat siswa mengikuti pelajaran dan seberapa tinggi hasil belajar yang mereka

capai. Proses dan hasil belajar para siswa bukan saja ditentukan oleh sekolah,

pola, stuktur, dan isi kurikulumnya, akan tetapi sebagian besar ditentukan

oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing mereka. Guru yang

kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif,

menyenangkan, dan akan lebih mampu mengelola kelasnya, sehingga belajar para

siswa berada pada tingkat optimal (Hamalik, 2002).

Seseorang dikatakan kompeten di bidang tertentu adalah seseorang

yang menguasai kecakapan kerja atau keahlian selaras dengan tuntutan bidang

kerja yang bersangkutan. Istilah kompetensi berasal dari bahasa Inggris adalah

(37)

Kompetensi merupakan kemampuan dan kecakapan atau keahlian yang selaras

dengan tuntutan bidang kerja yang bersangkutan (Uno, 2008).

Undang-undang RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab

IV Pasal 10 mengemukakan bahwa guru dikatakan berkompeten apabila ia

telah menguasai empat kompetensi dasar, yakni kompetensi pedagogik,

kepribadian, profesional, dan sosial. Kompetensi pedagogik merupakan

kemampuan seorang guru dalam mengelola proses pembelajaran peserta didik

yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan

pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk

mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya (Trianto dan Tutik, 2007).

Menurut Copriady (2014) untuk menjadi kompeten, guru harus efisien dalam

merancang, merencanakan dan melaksanakan pelajaran, hal tersebut menjelaskan

bahwa kompetensi pedagogik sangat penting bagi seorang guru. Kompetensi

kepribadian yaitu kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang

mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik,

dan berakhlak mulia (Sarimaya, 2008). Menurut Kheruniah (2013) kompetensi

kepribadian guru memberikan kontribusi positif untuk motivasi belajar dan

disiplin belajar siswa. untuk meningkatkan motivasi belajar dan disiplin belajar

siswa dapat dicapai dengan kualitas kompetensi kepribadian guru yang baik.

Menurut Kunandar (2008) kompetensi sosial yaitu perangkat perilaku tertentu

yang merupakan dasar dari pemahaman diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan

dari lingkungan sosial serta tercapainya interaksi sosial secara efektif. Sedangkan

(38)

secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik

memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional

Pendidikan (Trianto dan Tutik, 2007).

Pembelajaran IPA biologi memiliki karakteristik tersendiri, sehingga

membutuhkan guru biologi yang berkompeten untuk dapat memunculkan karakter

tersebut. Annetta & Dotger (2006) mengemukakan bahwa pentingnya untuk

memperkuat pengetahuan mengajar bagi guru, sehingga anak didik dapat

memahami pengetahuan dasar IPA. Kompetensi guru mata pelajaran biologi

secara khusus dijelaskan sebagai salah satu komponen dari kompetensi

profesional dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No.

16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.

Persepsi adalah stimulus yang diindra oleh individu, diorganisasikan

dan interpretasikan, sehingga individu menyadari, mengerti dengan apa yang

diindra itu (Walgito, 2004). Persepsi siswa tentang guru dan sistem pengajaran

berperan penting dalam mengembangkan kompetensi untuk menjadi seorang guru

yang ahli (Bhargava, 2011). Menjadi guru profesional harus memperhatikan

persepsi siswa, agar dapat memenuhi kebutuhan siswa. Pujiastuti et al. (2012)

menyatakan bahwa persepsi siswa tentang proses pembelajaran IPA dan

kompetensi guru biologi secara langsung dan signifikan mempunyai kontribusi

terhadap hasil belajar IPA.Penelitian tersebut menunjukkan bahwa persepsi siswa

dan kompetensi yang dimiliki oleh guru berpengaruh pada proses pembelajaran

(39)

guru biologi berbeda secara signifikan tergantung pada sekolah yang mereka

tempati.

Penelitian-penelitian tersebut mengenai persepsi siswa terhadap

kompetensi guru telah banyak dilakukan di berbagai daerah. Hasil penelitian–

penelitian tersebut menunjukkan kompetensi guru yang berbeda-beda.

Pembelajaran biologi memiliki karakteristik tersendiri, sehingga membutuhkan

guru biologi yang kompeten dan dapat memunculkan karakter tersebut. Belum

adanya penelitian yang menganalisis kompetensi guru biologi menurut persepsi

siswa SMA di kota Semarang, maka perlu untuk diteliti. Penelitian ini fokus

terhadap persepsi siswa SMA terhadap kompetensi guru biologi, dilihat dari

(40)

10. Kerangka Berpikir

Penjabaran kerangka berpikir penelitian ini disederhanakan melalui

Gambar 1

Gambar I: Kerangka Berpikir Penelitian

11. Metode Penelitian

Fakta pembelajaran biologi berdasarkan hasil wawancara oleh peneliti:

1. Materi yang sulit karena hafalan yang banyak 2. Bahasa latin yang sulit dihafalkan

3. Membosankan karena bersifat teoritis

4. Guru yang kurang variatif dan kreatif dalam mengajar

5. Minat siswa terhadap biologi rendah

Kompetensi Guru

Kompetensi Profesional

Kompetensi Pedagogik

Deskripsi tingkat kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian dan sosial gruru

biologi

Kompetensi Kepribadian Kompetensi

Sosial

(41)

11.1. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kombinasi (mixed methods) yang

menggunakan model sequential explanatory. Metode penelitian kombinasi

menurut Cresswell (dalam Sugiyono, 2013) adalah “an approach to inquiry that

combines or associated both qualitative quantitative forms of research”. Hal yang

sama diungkapkan oleh Sugiyono (2013) bahwa metode penelitian kombinasi

merupakan suatu metode penelitian yang mengkombinasikan atau

menggabungkan antara metode kuantitatif dan metode kualitatif untuk digunakan

secara bersama-sama dalam suatu kegiatan penelitian, sehingga diperoleh data

yang lebih komprehensif, valid, reliable dan obyektif.

Metode penelitian kombinasi model sequential explanatory merupakan

metode penelitian yang menggabungkan metode penelitian kuantitatif dan

kualitatif secara berurutan (Sugiyono,2013). Tahap pertama penelitian

menggunakan metode kuantitatif dan pada tahap kedua menggunakan metode

kualitatif. Metode kualitatif berperan untuk membuktikan, memperdalam, dan

memperluas data kuantitatif yang telah diperoleh pada tahap awal. Metode

kombinasi dipilih karena penelitian ini akan mengeksplorasi lebih dalam persepsi

siswa SMA tentangguru biologi yang profesional dikota Semarang

11.2. Prosedur Penelitian

Langkah-langkah penelitian kombinasi model sequential exsplanatory

menurut Sugiono (2013) ditunjukkan paga gambar 2.tentang proses penelitian

(42)

Gambar 2 Langkah-langkah Penelitian dalam Model Sequential Exsplanatory

Adapun desain khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Menyusun rancangan penelitian

2. Menentukan latar penelitian dan mengurus perijinan

3. Mempersiapkan instrument penelitian yang meliputi angket persepsi siswa

tentang guru biologi yang profesional

4. Mengumpulkan data tentang persepsi siswa tentang guru biologi yang

profesional

5. Menganalisis data tentang persepsi siswa tentang guru biologi yang profesional

6. Menentukan sumber data kualitatif dan melakukan wawancara dan

dokumentasi

7. Menganalisis data kuantitatif dan kualitatif tentang persepsi siswa tentang guru

(43)

8. Menyajikan seluruh data yang diperoleh dari penelitian kombinasi ini, baik

berupa data kuantitatif maupun data kualitatif. Deskripsi penyajian data

berpedoman pada rumusan masalah, kemudian diberikan pembahasan hasil

penelitian

11.3. Latar Penelitian

Penelitian dilaksanakan di 12 SMA di kota Semarang, dengan rincian 6

dari 16 SMA Negeri dan 6 dari 41 SMA Swasta di kota Semarang. Pemilihan

lokasi penelitian didasarkan pada peringkat hasil Ujian Nasional tahun 2015,

Tigkat atas 1. SMA N 2 Semarang

2. SMA N 5 Semarang

Tigkat menengah 1. SMA N 6 Semarang

2. SMA N 7 Semarang

Tigkat bawah 1. SMA N 14 Semarang2. SMA N 8 Semarang

SMA

Tigkat bawah 1. SMA Tugu Suharto

2. SMA Dian Kartika

(44)

11.4. Subjek Penelitian

Penentuan subjek (partisipan) dalam penelitian kualitatif menggunakan

teknik purposive sampling. Teknik ini dipilih karena peneliti menentukan subjek

sesuai dengan topik riset. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa

SMA kelas XI jurusan IPA . Setiap sekolah dipilih satu kelas sebagai sampel

angket dan kemudian dipilih 5 siswa sebagai informan untuk wawancara. Siswa

SMA kelas XI dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa siswa telah mendapatkan

pengalaman belajar dari berbagai karakter guru biologi semenjak SMP. Siswa

SMA kelas XI dianggap telah mengenal lingkungan dan komponen sekolah,

sehingga diharapkan mampu mengungkapkan pendapat dengan lebih baik.

Adapun kelas XII tidak memungkinkan digunakan sebagai responden karena

fokus untuk menghadapi Ujian Sekolah dan Ujian Nasional.

11.5. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas informan sebagai data

primer dan dokumentasi sebagai data sekunder. Berikut ini akan dijelaskan

masing-masing sumber data berikut

1) Informan

Sumber informan dalam penelitian ini adalah siswa SMA kelas XI sebagai

data primer. Data primer diperoleh dari hasil isian angket persepsi siswa dan

(45)

2) Dokumen

Sumber dokumen sebagai data sekunder diperoleh dari pihak sekolah. Sumber

dokumen dalam penelitian ini meliputi arsip-arsip, foto, grafik, dll.

11.6. Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data menggunakan teknik Angket/Kuesioner

wawancara, dan dokumentasi. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data

yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan

tertulis kepada responden untuk dijawab (Sugiyono, 2012). Pada penelitian ini,

angket diberikan kepada responden (siswa) untuk diisi sesuai dengan persepsi

mereka. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini meliputi wawancara

semiterstruktur (Sugiyono, 2012). Wawancara dilakukan pada siswa kelas XI

SMA Jurusan IPA. Wawancara direkam menggunakan alat perekam dan ditulis

pada lembar ringkasan wawancara. Data yang didapatkan ditulis dalam catatan

lapangan dan lembar ringkasan wawancara. Dokumen yang dapat digunakan

dalam penelitian ini antara lain arsip, foto, gambar, dll. Dokumen yang telah

didapatkan ditulis dalam lembar ringkasan dokumen. Rincian data, sumber data

(46)

Tabel 2. Data, Sumber data dan Teknik Pengambilan Data

Fokus penelitian Data yang diperlukan Teknik Sumber data

Mendeskripsikan

Menurut Moleong (2013), keabsahan data adalah setiap keadaan yang

harus memenuhi kriteria berikut: (1) mendemonstrasikan nilai yang benar; (2)

(47)

keputusan luar yang dapat dibuat tentang konsistensi dari prosedurnya dan

kenetralan dari temuan dan keputusan-keputusannya. Hasil temuan atau data

penelitian dapat dikatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang

dilaporkan dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian.

Pada metode kuantitatif, dilakukan uji keabsahan data dengan menguji

validitas dan reliabilitas instrumen angket/kuesioner persepsi siswa. Sedangkan

pada kualitatif, uji keabsahan data meliputi credibility (validitas internal),

transferability (validitas eksternal), dependability (reliabilitas), dan confirmability

(obyektivitas) (Sugiyono, 2013).

1) Uji Keabsahan Data Kuantitatif

Uji keabsahan data kuantitatif dilakukan pada instrumen

angket/kuesioner perepsi siswa sebelum diujikan pada sampel. Pengujiannya

meliputi uji validitas dan uji reliabilitas.

a. Uji Validitas

Validitas atau kesahihan menunjukkan kemampuan suatu instrumen

(alat pengukur) mengukur apa yang harus diukur (Sugiyono, 2013). Untuk

menjamin validitas isi instrumen angket/kuesioner persepsi siswa peneliti

menyusun kisi-kisi terlebih dahulu sebelum menulis butir soal. Validitas konstruk

dijamin dengan penilaian ahli/expert judgement. Untuk mengetahui validitas butir

soal digunakan rumus Korelasi Product Moment sebagai berikut.

(48)

Keterangan

r xy : Koefisien korelasi product moment

N : Jumlah peserta tes ∑Y : Jumlah skor total

∑X : Jumlah skor butir pernyataan

∑X 2 : Jumlah Kuadrat skor butir pernyataan ∑XY : Jumlah hasil kali skor butir pernyataan

Kriteria validitas dari instrumen penelitian ini adalah jika nilai sig

(Probabilitas) kurang dari 5 % (0,05) dari masing masing item atau r hitung lebih

besar dari r tabel

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas instrumen adalah ketetapan alat evaluasi dalam mengukur

(Sugiyono, 2013). Menurut Azwar (2004), reliabilitas instrumen mempunyai arti

sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali

pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif

sama jika aspek yang diukur dalam diri subjek belum berubah. Koefisien

reliabilitas tes uraian dapat dicari dengan menggunakan rumus reliabilitas Alpha

Cronbach seperti berikut ini.

Keterangan:

: koefisien reliabilitas,

(49)

: jumlah varian tiap butir soal, dan

: varian skor total (Arifin, 2011).

Hasil yang diperoleh kemudian dikonsultasikan dengan harga

product moment. Jika dengan  = 5% , maka instrumen yang diujikan

reliabel.

2) Uji Keabsahan Data Kualitatif

Credibility atau kredibilitas dapat dilakukan dengan beberapa cara,

yaitu: perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan penelitian, triangulasi,

diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif, dan menggunakan bahan

referensi. Pada penelitian ini, kredibilitas data dipenuhi dengan teknik triangulasi

sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan pada sumber yang

berbeda dengan teknik yang sama, yaitu siswa di SMA tingkat atas, menengah dan

bawah di kota Semarang. Triangulasi teknik dilakukan dengan teknik yang sama

pada sumber yang berbeda, yaitu teknik angket/kuesioner, dokumentasi, dan

wawancara.

Transferability atau keteralihan diperoleh dengan cara mendeskripsikan

persepsi siswa terhadap guru biologi yang profesional secara rinci, jelas,

sistematis, dan dapat dipercaya pada laporan penelitian sehingga pembaca dapat

Gambar

Gambar 1
Gambar 2 Langkah-langkah Penelitian dalam Model Sequential Exsplanatory
Tabel 1. Lokasi Penelitian
Tabel 2.  Data, Sumber data dan Teknik Pengambilan Data
+3

Referensi

Dokumen terkait

(1980) melakukan demetilenasi pada senyawa 1,3-benzodioksol, yaitu senyawa yang analog dengan safrol, menggunakan pereaksi AlBr 3 dengan etanatiol kering dan menghasilkan

Dari hasil penelitian tersebut, penulis mendapati bahwa penerapan prosedur pencairan gaji Pegawai Negeri Sipil di Kantor Pertanahan Kota Surakarta secara

Pada tahap ini yang dilakukan oleh peneliti adalah meminta surat bukti telah melakukan penelitian dari kepala madrasah MA Al-Hikmah Langkapan, mendeskripsikan data

Program diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif solusi dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap pelestrian fungsi lingkungan hidup

Dalam penelitian eksperimen ini, pengujian hipotesis yang harus dilakukan adalah pengujian tehadap perbedaan efektifitas yang terjadi pada penggunaan metode

Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 2 keluarga poligami (dalam hal ini suami yang memiliki dua istri), dengan demikian subyek dalam penelitian ini terdiri dari

Keywords Biodiesel · Jatropha curcas · Subcritical methanol · Subcritical acetic acid · Sunflower oil · (trans) Esterification Abbreviations FAME Fatty acid methyl ester(s) FFA

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepuasan pendengar terhadap program berita yang disebut Sonora News di Radio Sonora Surabaya setelah perubahan target