Prevalensi Inkontinensi Urin pada Kehamilan dan Hubungannya dengan Indeks Masa Tubuh Ibu Hamil
di Kota Ternate
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Derajat Sarjana Kedokteran
Universitas Gadjah Mada
Disusun Oleh: Adi Ariffianto 11/311617/KU/14236
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA
Prevalensi Inkontinensia Urin pada Kehamilan dan Hubungannya dengan Indeks Masa Tubuh Ibu Hamil
di Kota Ternate
SKRIPSI Disusun oleh: Adi Ariffianto 11/311617/KU/14236
Adalah benar karya ilmiah hasil pekerjaan penulis sendiri dan sepanjang pengetahuan penulis, tidak berisi materi yang ditulis orang lain, sebagai persyaratan penyelesaian studi di Universitas Gadjah Mada ataupun perguruan tinggi lain kecuali bagian-bagian tertentu yang dikutip sebagai acuan dengan mengikuti tatacara dan etika penulisan karya ilmiah yang lazim.
Apabila kemudian hari terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar, sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Yogyakarta, 10 Oktober 2014
Penulis
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya, skripsi dengan judul “Prevalensi Inkontinensia Urin pada Kehamilan dan Hubungannya dengan Indeks Masa Tubuh Ibu Hamil di Kota Ternate” ini dapat diselesaikan. Penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari peran berbagai pihak. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh derajat sarjana kedokteran di Universitas Gadjah Mada.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan banyak terimakasih kepada pihak yang turut membantu, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. dr. Edi Patmini Setya Siswanti, Sp.OG selaku dosen pembimbing materi yang senantiasa memberikan bimbingan dan masukan dalam penulisan skripsi ini. 2. Drs. Abdul Wahab, MPH selaku dosen pembimbing
metodologi yang dengan penuh kesabaran membimbing penyusunan skripsi ini hingga selesai.
penulis dan memberikan saran dalam penulisan skripsi ini.
4. Kedua orang tua saya tercinta, yang senantiasa mendukung dan mendoakan saya selama penulisan skripsi ini.
5. Kakak-kakak saya yang saya sayangi, yang selalu memberikan semangat dan dukungannya selama penulisan skripsi ini.
6. Teman-teman tutorial tahun pertama, kedua dan ketiga yang telah berjuang bersama dalam menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
7. Teman-teman Fakultas Kedokteran angkatan 2011 yang telah membuat perjalanan hidup saya di Fakultas Kedokteran menjadi begitu berkesan.
Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam skripsi ini maka penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun sehingga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.
Yogyakarta, 10 Oktober 2014
Penulis
HALAMAN JUDUL ...i
LEMBAR PENGESAHAN ...ii
KATA PENGANTAR ...iii
DAFTAR ISI ...v
DAFTAR SINGKATAN ...viii
DAFTAR TABEL ...ix
DAFTAR GAMBAR ...x
DAFTAR LAMPIRAN ...xi
ABSTRACT ...xii
INTISARI ...xiii
BAB I. PENDAHULUAN ...1
I.1 Latar belakang ...1
I.2 Rumusan Masalah ...4
I.3 Tujuan Penelitian ...4
I.4 Keaslian Penelitian ...5
I.5 Manfaat Penelitian ...7
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ...8
II.1 Tinjauan Pustaka ...8
II.1.1 Pengertian inkontinensi urin dan prevalensinya ...8
II.1.2 Epidemiologi ...9
II.1.3 Jenis inkontinensi urin ...10
II.2 Landasan Teori ...15
II.3 Kerangka Teori...17
II.4 Kerangka Konsep ...18
II.5 Hipotesis ...18
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ...19
III.1 Metode yang digunakan ...19
III.1.1 Jenis dan rancangan penelitian .19 III.1.2 Populasi dan Subyek Penelitian .19 III.1.3 Pengumpulan data ...22
III.1.4 Definisi operasional ...24
III.1.5 Analisis data ...27
III.2 Waktu dan Tempat Penelitian ...27
III.3 Alat dan Bahan ...27
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...29
IV.1 Karakteristik Subyek Penelitian ...29
IV.2 Analisis Data ...33
IV.2.1 Prevalensi ibu hamil dengan inkontinensi urin ...33
IV.2.2 Hubungan inkontinensi urin dengan indeks masa tubuh ibu hamil ...34
IV.3 Pembahasan ...40
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ...48
V.1 Kesimpulan ...48
Daftar Pustaka ...51
ANC Antenatal Care
CI Confident Interval
D3 Diploma 3
ICN International Continence Society
IMT Indeks Masa Tubuh
MDGs Millenium Developmental Goals
OR Odds Ratio
S1 Strata 1
SD Sekolah Dasar
SMA Sekolah Menengah Atas
SMP Sekolah Menengah Pertama
TFU Tinggi Fundus Uteri
QUID Questionnaire for Urinary Incontinence Diagnose
Tabel 1. Definisi operasional ...24
Tabel 2. Gambaran demografis responden ...31
Tabel 3. Prevalensi inkontinensi urin ...34
Tabel 4. Hubungan inkontinensi urin dengan IMT ...35
Tabel 5. Estimasi risiko dari masing masing IMT berdasarkan usia kehamilan ...36
Tabel 6. Hubungan inkontinensi urin dengan IMT setelah distratifikasi terhadap usia kehamilan ....39
Gambar 1. Kerangka Teori ...17
Gambar 2. Kerangka Konsep ...18
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 2. Form Diagnosis Inkontinensi Urin ...55
Lampiran 3. Form Riwayat Inkontinensi Urin ...57
Lampiran 4. Form Faktor Risiko ...60
Lampiran 5. Ethical Clearance ...62
ABSTRACT
the inability to control the release of urine. Pregnant women will experience an increase in weight and the most likely to experience urinary incontinence. The impact of medical, psychosocial, and economic evident in those who suffer from urinary incontinence.
Objective: This study aimed to determine the prevalence of pregnant women with urinary incontinence and its relationship with maternal body mass index in Ternate. Methods: This study is an observational study using a cross-sectional study design. The independent variables were urinary incontinence. The dependent variable is the body mass index of pregnant women. Subjects were pregnant women who visit the selected health centers in the city of Ternate. Sample selection techniques use probability sampling that is cluster random sampling method. Data were gathered through interviews and direct physical examinations. Further descriptive analysis of the research conducted on data using SPSS. Results: The analysis showed the total prevalence of urinary incontinence in pregnant women in the city of Ternate is 29.1%. Urgency (37,9%) and mixtures incontinence (37.9%) were more frequently than the stress incontinence (24.2%) . There is a relationship between urinary incontinence with maternal body mass index, which is happening as much as 2.167 (1.008 to 4.656) times in pregnant women with obesity than those who had an ideal body mass index and statistically significant (p = 0.045). The gestational age is not a confounding factor in this relationship.
Conclusion: This study shows that urgency and mixture incontinence are the most common type of urinary incontinence in the pregnant women in Ternate. There is a significant correlation between urinary incontinence with a body mass index of pregnant women, especially in obese (p ≤ 0.05).
Keywords: Urinary incontinence, body mass index, gestational age.
INTISARI
ketidakmampuan mengontrol keluarnya urin. Wanita hamil akan mengalami peningkatan berat badan dan paling mungkin mengalami inkontinensi urin. Dampak medis, psikososial, dan ekonomi terlihat nyata pada mereka yang menderita inkontinensi urin.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prevalensi ibu hamil dengan inkontinensi urin dan hubungannya dengan indeks masa tubuh ibu hamil di Kota Ternate.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan desain studi potong lintang. Variabel bebas adalah inkontinensi urin. Variabel terikat adalah indeks masa tubuh ibu hamil. Subjek penelitian adalah ibu hamil yang berkunjung di puskesmas terpilih di Kota Ternate. Teknik pemilihan sampel menggunakan probability sampling yaitu metode cluster random sampling. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara langsung dan pemeriksaan fisik. Selanjutnya analisis deskriptif pada data penelitian dilakukan dengan menggunakan program SPSS.
Hasil: Hasil analisis menunjukkan prevalensi inkontinensi urin pada ibu hamil di Kota Ternate sebesar 29,1% dengan inkontinensi urgensi (37,9%) dan campuran (37,9%) yang paling sering dijumpai dari pada inkontinensi stress (24,2%). Ada hubungan antara inkontinensi urin dengan indeks masa tubuh ibu hamil, yaitu terjadi sebanyak 2,167 (1,008 - 4,656) kali pada ibu hamil dengan obesitas dibandingkan yang IMT ideal dan bermakna secara statistic (p=0,045). Usia kehamilan bukan merupakan factor perancu hubungan indeks masa tubuh terhadap terjadinya inkontinensi urin.
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa jenis inkontinensi yang paling sering ditemui adalah urgensi dan campuran. Terdapat hubungan yang signifikan antara inkontinensi urin dengan indeks masa tubuh ibu hamil terutama pada obesitas (p≤0,05).
Kata kunci: Inkontinensi urin, indeks massa tubuh, usia kehamilan.
BAB I
I.1 Latar Belakang
Salah satu tujuan Millenium Development Goals
(MDGs) diantaranya adalah meningkatkan kesehatan Ibu seperti yang tercantum pada MDGs nomer 5 (Millennium & Goals 2012). Status kesehatan ibu bisa dilihat dari angka morbiditas dan mortalitas ibu hamil yang juga mempengaruhi kualitas hidupnya. Tujuan ini juga merupakan tujuan utama pembangunan di bidang kesehatan di Indonesia. Pencapaian tujuan MDGs ini secara nasional merupakan agregat dari data masing-masing wilayah Kabupaten/Kota. Untuk membantu tercapainya tujuan MDGs tentunya dibutuhkan dukungan serta kerjasama dari berbagai pihak dan stake holder yang terkait, baik dari perencanaan strategi, pelaksanaan, hingga evaluasi dan monitor (Departemen Kesehatan RI 2004).
Gurida merupakan pulau berukuran kecil yang tidak berpenghuni.
Hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kota Ternate sebanyak 185.650 jiwa, terdiri dari 94.540 laki-laki dan 91.110 perempuan (sex ratio 104) dengan kepadatan penduduk 740,1 jiwa/km2.
Kesehatan ibu saat hamil perlu dijaga, baik dari segi nutrisi, olahraga dan gaya hidupnya. Kesehatan ibu selama hamil ini penting karena akan mempengaruhi kondisi fisik dan kenyamanannya selama hamil. Salah satu kondisi yang mengganggu kenyamanan kualitas ibu hamil ini adalah inkontinensi urin. Data studi kohort tentang inkontinensi urin dilaporkan sebanyak 55,9% perempuan selama kehamilan di Victoria Australia. Inkontinensi stress adalah jenis yang paling umum, dilaporkan sebanyak 36,9% kemudian inkontinensi campuran sebanyak 13,1% dan inkontinensi urgensi 5,9% (Brown et al. 2010). Sementara di Indonesia sendiri penelitian tentang inkontinensi urin ini sangat minim, terutama di Kota Ternate.
penderita dan masyarakat. Kelainan ini tidak mengancam jiwa penderita, tapi berpengaruh terhadap kualitas hidup yang disebabkan karena faktor psikologis dan fator sosial yang sulit diatasi. Kelainan tersebut berhubungan dengan aktifitas sehari–hari, sebagai dampaknya penderita merasa kurang percaya diri, depresi, malu dan cemas (Arnold et al. 2009).
I.2 Rumusan Masalah
Dari paparan latar belakang di atas, maka peneliti sadar akan pentingnya studi penelitian tentang inkontinensi urin sebagai studi dasar untuk penelitian berikutnya, maka muncul beberapa masalah penelitian sebagai berikut:
1)Berapa prevalensi ibu hamil dengan inkontinensi urin di kota Ternate?
2)Adakah hubungan antara kejadian inkontinensi urin dengan Indeks Masa Tubuh Ibu hamil?
I.3 Tujuan Penelitian
Tujuan Umum:
Menurunkan kejadian inkontinensi urin pada ibu hamil di kota Ternate dan mendapatkan gambaran tentang pelaksanaan skrining kehamilan risiko inkontinensi urin dalam sistem surveilan maternal.
Tujuan Khusus:
1) Mengetahui prevalensi ibu hamil dengan risiko Inkontinensi urin di Kota Ternate.
I.4 Keaslian Penelitian
Penelitian sejenis ini pernah dilakukan sebelumnya, adapun penelitian yang sejenis adalah:
1. Brown, dan kawan melakukan penelitian dengan judul
Urinary incontinence in nulliparous women before and
during pregnancy: prevalence, incidence, and
associated risk factors. Subjek dari penelitian ini adalah wanita-wanita nulipara yang berusia >=18 tahun dan saat dimasukkan dalam penelitian sedang hamil <=24 minggu di Australia. Desain penelitian ini menggunakan prospektif cohort, sedangkan subjek pada penelitian saya adalah wanita-wanita hamil dengan berbagai usia, baik nulipara maupun yang tidak di kota ternate. Desain penelitian saya menggunakan cross sectional (Brown et al. 2010).
2. Prabhu, dan kawan dengan penelitiannya:
Prevalence and risk factors of urinary incontinence in
women residing in a tribal area in Maharashtra, India.
kota Ternate Indonesia dengan subjek penelitian wanita-wanita yang hamil yang tidak dibatasi usia (Prabhu & Shanbhag 2013).
3. López, dan kawan dalam penelitiannya: Prevalence
of urinary incontinence and its association with body
mass index among women in Puerto Rico. Penelitian ini
dilakukan di area urban Bayamon Puerto Rico, penelitian ini menggunakan subjek semua wanita yang tidak hamil dan berusia 21-64 tahun kemudian hasil dipetakan berdasarkan kelompok usia dan indeks masa tubuh, sedangkan penelitian saya dilakukan di kota Ternate dengan subjek wanita hamil dan tidak dibatasi usia (López et al. 2009).
I.5 Manfaat Penelitian
berhubungan langsung dengan inkontnensi urin akan membantu pencegahan di masyarakat.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Tinjauan Pustaka
II.1.1 Pengertian inkontinensi urin dan prevalensinya Inkontinensi urin merupakan masalah kesehatan dan masalah sosial yang sangat besar baik di negara maju dan di negara berkembang. Hal ini sering dianggap sebagai konsekuensi alami dari penuaan dan melahirkan, dan banyak wanita keliru dalam mentolerir dan mengatasi gejala yang mereka rasakan. Inkontinensi urin adalah hasil akhir dari banyak proses penyakit yang berbeda yang harus diselidiki untuk membuat diagnosis yang akurat dan memungkinkan pengobatan yang efektif (Rosevear 2002).
London (1995) menunjukkan bahwa 20 persen perempuan berusia lebih dari 45 tahun memiliki keluhan ini (Rosevear 2002).
Wanita berusia antara 20 hingga 80 tahun memiliki keseluruhan prevalensi inkontinensi urin 53,2 persen.
II.1.2. Epidemiologi
Inkontinensi urin adalah masalah kesehatan yang signifikan di seluruh dunia dengan pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan sosial dan ekonomis pada individu dan lingkungannya. Hu dan rekan memperkirakan biaya total dari inkontinensi di Amerika Serikat pada tahun 2000 adalah sekitar 19,5 juta dollar. Inkontinensi urin memiliki pengaruh ekonomis yang lebih besar dari pada penyakit kronis lainnya (Johnson & Chan 2006).
wanita tua mengalami peningkatan yang stabil (30% hingga 50%). Pada wanita tua inkontinensi yang sering terjadi adalah inkontinensi tipe campuran. Seperti yang telah disinggung di atas, risiko inkontinensi urin meningkat seiring dengan peningkatan usia. Telah lama dicurigai bahwa terdapat hubungan antara inkontinensi dengan menopause. Puncak prevalensi inkontinensi adalah pada wanita yang telah menopause (Steinar Hunskaar 2005).
Sementara itu pada wanita hamil dijumpai kejadian inkontinensi urin meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan. Sebuah penelitian tentang sosio demografik inkontinensi urin pada wanita hamil menunjukkan inkontinensi lebih sering terjadi pada ras kulit hitam dimana pada kelompok ini memiliki kriteria status pendidikan yang rendah, berat badan berlebih dan obesitas, melahirkan melalui jalur vaginal, dan multiparitas (Oliveira et al. 2013).
II.1.3 Jenis inkontinensi urin
- Stress urinary incontinence
Inkontinensi stres terjadi karena mekanisme spingter uretral yang tidak adekuat untuk menahan urine pada saat keluar dari kandung kemih. Pasien biasanya menggambarkan pengeluaran urin sedikit-sedikit secara tidak sengaja pada saat melakukan aktivitas yang meningkatkan tekanan intra abdominal, seperti batuk,tertawa, bersin atau mengangkat beban (Steinar Hunskaar 2005). Seringkali inkontinensi stres terjadi pada wanita dewasa (dengan riwayat hamil dan melahirkan pervaginam),inkontinensi stres biasanya disebabkan oleh kelemahan dasar panggul dan lemahnya sphincter vesikouretral. Pada keadaan normal tekanan penutupan uretra merespon terhadap pengisian kandung kemih, perubahan posisi, stres seperti batuk dan bersin. Spingter memiliki mekanisme sendiri untuk meningkatkan resistensi uretra dengan demikian menghalangi perembesan urin (Siti & Putu 2006).
Inkontinensi stres dapat dibedakan menjadi 4 jenis, yaitu (Iman 2008):
2.Tipe 1: inkontinensi urin dapat terjadi dengan pemeriksaan manuver stres dan ada sedikit penurunan uretra pada leher vesica urinaria.
3.Tipe 2: inkontinensi urin terjadi pada pemeriksaan dengan penurunan uretra pada leher vesica urinaria 2 cm atau lebih.
4.Tipe 3: uretra terbuka (lead peep) dan area leher vesica urinaria tampak kontraksi.
- Urge urinary incontinence
Yaitu inkontinensi yang berhubungan dengan aktivitas detrusor, disebut juga instabilitas detrusor. Jenis inkontinensi ini dikarakteristikan dengan tidak adanya pembatasan kontraksi kandung kemih dan banyak terjadi pada orang tua. Pasien seringkali menggambarkan gejalanya tidak dapat mengontrol keinginan untuk mengosongkan kandung kemih. Simptom lainnya adalah meningkatnya frekuensi berkemih dan terjadinya nokturia (Lue & Tanagho 2008).
- Mixed urinary incontinence
tidak disengaja yang berkaitan dengan urgensi dan juga dengan batuk dan bersin (Steinar Hunskaar 2005).
- Functional Incontinence
Selain ketiga inkontinensi di atas juga terdapat inkontinesi fungsional atau transien. Inkontinensi fungsional terkait dengan gangguan kognitif, fisiologis, atau fisik yang membuatnya sulit untuk mencapai toilet atau kencing dengan cara yang benar (Siti & Putu 2006).
- Overflow incontinence
Inkontinensi overflow merupakan keluarnya urin secara tidak terkendali yang dihubungkan dengan over distensi dari kandung kemih. Dua proses yang melibatkan yaitu retensi urin akibat obstruksi kandung kemih atau tidak adekuatnya kontraksi kandung kemih. Hal ini dapat terjadi secara sekunder dari kerusakan otot detrusor yang memicu kelemahan otot detrusor. Selain itu obstruksi uretra juga dapat memicu distensi kandung kemih (Siti & Putu 2006).
Faktor risiko inkontinensi urin sebagai berikut (Rosevear 2002):
a. Kehamilan dan melahirkan g. Histerektomi
d. Gangguan fungsional j. Ras e. Terapi radiasi panggul k. Obesitas f. Diuretik dan obat yang diresepkan lainnya
II.1.4 Inkontinensi urin dan indeks masa tubuh
Beberapa penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa peningkatan Indeks Masa Tubuh (IMT) merupakan faktor risiko yang signifikan dan independen untuk inkontinensi urin semua tipe. Fakta menunjukkan bahwa prevalensi inkontinensi stres meningkat sebanding dengan IMT (Oliveira et al. 2013).
Pengkategorian Indeks Masa Tubuh pada wanita hamil berbeda dengan yang lain. Pengkategorian ini berdasarkan Rosso yang hanya digunakan untuk menetapkan Indeks Masa Tubuh pada wanita hamil, yaitu underweight (<19,8), eutropic/ideal (19,8-26,0), overweight (26,0-29,0) dan obese (>29,0) (Wesnes et al. 2010).
Secara teori, peningkatan tekanan intra-abdominal serupa dengan peningkatan IMT yang sebanding dengan tekanan intravesikal yang lebih tinggi. Tekanan yang tinggi ini mempengaruhi tekanan penutupan uretra dan menyebabkan terjadinya inkontinensi urin (Santiagu et al. 2008).
tidak mampu menahan keluarnya urin dan terjadilah inkontinensi urin (Hilton & Dolan 2004).
II.2 Landasan Teori
Inkontinensi urin merupakan suatu masalah yang cukup serius karena dapat mengganggu kenyamanan hidup seseorang terutama wanita. Masalah ini sering dialami oleh wanita-wanita yang beresiko. Ada beberapa macam jenis inkontinensi urin yaitu inkontinensi urgensi, inkontinensi stres, inkontinensi fungsional, inkontinensi overflow dan inkontinensi campuran.
Inkontinensi stres terjadi karena mekanisme spingter uretra yang tidak adekuat untuk menahan urin pada saat keluar dari kandung kemih. Inkontinensi urgensi berhubungan dengan aktivitas detrusor, dimana terjadi instabilitas dari otot detrusor. Inkontinensi fungsional terjadi adanya gangguan kognitif, fisiologis, atau fisik yang membuatnya sulit untuk mencapai toilet atau kencing dengan cara yang benar. Inkontinensi overflow merupakan keluarnya urin secara tidak terkendali yang dihubungkan dengan over distensi dari kandung kemih. Inkontinensi campuran merupakan gejala dari inkontinensi urgensi dan inkontinensi stres.
Peningkatan tekanan intra-abdominal serupa dengan peningkatan IMT yang sebanding dengan tekanan intravesikal yang lebih tinggi. Tekanan yang tinggi ini mempengaruhi tekanan penutupan uretra dan menyebabkan terjadinya inkontinensi urin.
Gambar 1. Kerangka Teori (Morkved et al. 2004)(Bump et al. 1992)(Wijma et al. 2001)(Hilton & Dolan 2004)(Liang et al. 2012).
II.4 Kerangka Konsep
Gambar 2. Kerangka Konsep
Kehamilan Mobilitas
Uretra naik
Tekanan Otot dasar pelvis & Vesica urinary Meningkat
Otot Dasar Pelvis Lemah Kenaikan Berat
Badan
Prolaps organ pelvis
Tekanan intra abdomen naik IMT Saat Hamil >
25
Kandungan Kolagen turun Inkontinensi
Urin
Perubahan Kolagen
Genetik & Faktor Lingkungan
Tekanan Uretra turun Penurunan Relaxin
Tekanan Vesika Urinari > Tekanan
Uretra Spincter Uretra
Lemah
Pengembangan Uterus & Berat Fetus
Progesteron naik Tonus Uretra, vesica, Ureter meningkat Perubahan Hormonal Kekuatan Otot Pelvis menurun Usia Kehamilan
makin meningkat
Kapasitas Vesica Urinari turun
II.5 Hipotesis
Stes Inkontinensi adalah prevalensi yang dominan.
Ada hubungan antara Indeks Masa Tubuh Ibu hamil dengan kejadian inkontinensi urin.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
III.1 Metode yang digunakan
III.1.1 Jenis dan rancangan penelitian
Penelitian observational dengan rancangan cross-sectional dan pendekatan kuantitatif dilakukan untuk mendukung tercapainya tujuan penelitian ini. Data kuantitatif yang dikumpulkan adalah prevalensi ibu hamil yang mengalami inkontinensi urin.
III.1.2 Populasi dan subyek penelitian
Populasi sasaran dalam penelitian ini adalah ibu-ibu hamil yang tinggal di wilayah Puskesmas terpilih di Kota Ternate. Adapun populasi sumbernya adalah ibu-ibu hamil yang berkunjung dan memeriksakan kehamilannya di Puskesmas.
inkontinensi urin, yaitu 22% dengan alfa 0,05 (confidence level 95%) dan power 90%. Hasil perhitungan besar sampel dengan rumus Estimating a population proportion menunjukkan bahwa sampel yang dibutuhkan sebanyak 66 subyek.
Keterangan :
n = jumlah sampel minimal yang diperlukan
α = significant level dengan confidence level 95%.
P = proporsi responden dengan kehamilan yang mengalami inkontinensia urin
1–P = Q = proporsi responden yang tidak memiliki kehamilan dengan inkontinensia urin
d = limit dari error atau presisi absolut (10%)
Dengan mempertimbangkan variasi wilayah dan jumlah populasi di masing-masing Puskesmas maka dipertimbangkan design effect sebesar 3 sehingga dibutuhkan jumlah sampel sebanyak 198 subyek.
disesuaikan dengan jumlah ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas yang sebelumnya telah diundang oleh bidan setempat untuk datang ke puskesmas pada hari yang telah ditentukan untuk dilakukan wawancara dan pemeriksaan ANC. Pengambilan sampel dilakukan setiap hari kerja di Puskesmas yang berbeda-beda dari pagi hingga siang hari, dan berlangsung sampai jumlah sampel terpenuhi. Kriteria sampel meliputi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi, dimana kriteria tersebut menentukan dapat atau tidaknya sampel digunakan.
Adapun kriteria inklusi dan eksklusi adalah sebagai berikut:
a. Kriteria inklusi
1) Wanita hamil yang ada dalam jangkauan 6 Puskesmas terpilih di kota Ternate
2) Sehat kejiwaan
3) Bersedia menjadi subjek penelitian
b. Kriteria eksklusi
1) Wanita hamil yang mengalami infeksi saluran kemih
2) Mengalami gangguan jiwa berat
III.1.3 Pengumpulan data
badan serta pengukuran TFU. Pengukuran berat dan tinggi badan dengan menggunakan alat ukur berat dan tinggi badan dewasa yang tersedia di puskesmas dengan ketelitian berat badan 0,1 kg dan tinggi badan 1 mm. Subjek diminta untuk berdiri di atas timbangan kemudian dilihat hasilnya pada alat baca yang ada di timbangan, setelah itu subjek berpindah ke tempat ukur tinggi badan. Subjek diminta untuk berdiri dengan posisi tegak dengan pandangan mata lurus ke depan kemudian dibaca hasil pengukuran tingginya pada papan ukur. Selesai dilakukan pengukuran berat dan tinggi badan, subjek diminta berbaring untuk dilakukan pengukuran tinggi fundus uteri. Sementara untuk mengetahui usia kehamilan dilakukan dengan mengukur TFU menggunakan pita ukur dengan ketelitian 1 mm, titik nol pada pita pengukur diletakkan pada tepi atas simfisis pubis dan pita pengukur ditarik melewati garis tengan abdomen sampai puncak, kemudian hasil dibaca. Pengumpulan data ini dilakukan oleh para bidan yang melakukan pemeriksaan ANC di Puskesmas dengan peneliti.
diidentifikasi apakah pasien tersebut merupakan ibu hamil dengan inkontinensi urin atau tidak. Dalam pelaksanaan skrining tersebut dilakukan monitoring oleh peneliti. Data yang telah tercatat di dalam formulir yang telah disiapkan kemudian diserahkan kepada peneliti untuk dilakukan analisis. Peneliti juga melakukan cross check terhadap beberapa pasien yang menjadi subyek penelitian untuk mengontrol validitas data.
III.1.4 Definisi Operasional
Tabel 1. Definisi operasional.
No Variabel Definisi Operasional
Hasil Ukur
1. Inkontinens i Urin
Subjek dikatakan mengalami
inkontinensi urin jenis:
- Stres jika Skor QUID >= 4 pada pertanyaan nomer 1, 2, dan 3
- Urgensi jika Skor QUID >= 6 pada pertanyaan nomer 4,
1.Tidak
Inkontinensi Urin
2.Inkontinensi urin tipe:
a. stres
b. Urgensi
5, dan 6
- Campuran jika Skor QUID >= 4 pada pertanyaan nomer 1, 2, 3 dan Skor QUID
>= 6 pada
pertanyaan nomer 4,
5, dan 6
(Kammerer-doak & Abed 2007)
2. Indeks Masa Tubuh (IMT)
IMT yang dipakai adalah IMT khusus untuk wanita hamil yaitu menggunakan kriteria Rosso:
-underweight (<19,8) -eutropic/ideal (19,8-26,0)
-overweight (26,0-29,0)
-obese (>29,0)
(Wesnes at al. 2010)
1. Underweight
2. Ideal
3. Overweight
4. Obese
3. Usia
Kehamilan
Usia Kehamilan ditentukan dari
1. ≤ 24 minggu
pengukuran tinggi fundus uteri yaitu:
- 1/3 di atas simfisis= 12 minggu
- 1/2 simfisis pusat= 16 minggu
- 2/3 di atas simfisis= 20 minggu
- setinggi pusat = 28 minggu
- 1/2
pusat-prosessus xifoideus = 34 minggu
-Setinggi processus xifoideus = 36 minggu
III.1.5 Analsis data
dilanjutkan dengan analisis korelasi chi square dan Mantel Haenzsel untuk mencari ada tidaknya hubungan antara faktor risiko dengan outcome.
III.2 Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan di wilayah Kota Ternate Propinsi Maluku Utara, dan dilakukan pengambilan data pada tanggal 23 Agustus 2013 sampai 29 Agustus 2013. Kemudian dilakukan pengecekan ulang data untuk diteliti apakah semua data sudah terisi semua. Lalu dilakukan pengolahan dan analisis data.
III.3 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang akan digunakan dalam penelitian tersebut antar lain:
- Kuesioner untuk bidan di desa dan bidan Puskesmas
- Alat untuk pemeriksaan fisik berupa timbangan dewasa untuk mengukur berat badan dengan ketelitian 0,1 kg dan alat ukur tinggi badan yang menempel di dinding dengan ketelitian 0,1 cm serta pita ukur untuk mengukur tinggi fundus uteri dengan ketelitian 0,1 cm.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Karakteristik Subyek Penelitian
Usia subyek penelitian berkisar antara 16 tahun hingga 43 tahun, dengan nilai median 27 tahun. Jumlah paritas subyek penelitian berkisar antara nullipara (33,9%) hingga multipara (65,7%) dengan jumlah paritas maksimal sebanyak 6 kali. Pendidikan ibu hamil yang menjadi responden bervariasi yaitu sekolah dasar (9,3%), sekolah menengah pertama (17,2%), sekolah menengah atas (55,5%), diplomat (D3) (6,2%), sarjana (S1) (11,5%) dan ada juga yang tidak sekolah (0,4%), dengan jumlah responden terbanyak pada pendidikan sekolah menengah atas.
Indeks masa tubuh responden sebelum hamil sebagian besar berada pada kategori ideal yaitu 48,9% kemudian diikuti kategori underweight 27,3% kemudian overweight
7,9% dan obese 4,4%. Data yang kosong pada indeks masa tubuh sebelum hamil cukup banyak yakni 11,5%, ini dikarenakan responden tidak mencatat atau lupa mengingat berat badan sebelum hamil, sehingga tidak dapat dimasukkan ke dalam perhitungan IMT.
Sementara untuk Indeks masa tubuh ibu saat hamil saat dilakukan pengukuran terjadi kenaikan yang cukup signifikan pada ibu hamil yang memiliki IMT kategori
menjadi 18,1%. Kategori ideal juga mengalami kenaikan jumlah yaitu dari yang sebelum hamil sebanyak 48,9% menjadi 54,2%. Sementara itu terjadi penurunan jumlah responden dengan kategori underweight yaitu dari yang sebelum hamil sebanyak 27,3% menjadi 10,1% saat hamil. Data yang kosongpun hanya sekitar 1,3%, ini lebih sedikit dibandingkan data yang kosong pada IMT sebelum hamil dikarenakan sudah dilakukan secara langsung pengukuran berat dan tinggi badan saat hamil oleh peneliti.
Data kepuasan responden setelah berkemih menunjukkan responden menyatakan puas setelah berkemih sebanyak 74,4% yang artinya responden merasa tuntas mengeluarkan urin pada kandung kemihnya, sementara yang merasa tidak puas sebanyak 20,3% yang artinya responden masih merasa urin pada kandung kemihnya belum seluruhnya keluar, beberapa data juga ada yang kosong sebanyak 5,3%. Frekuensi berkemih subjek dalam satu hari bervariasi dengan nilai modus 5. Beberapa responden juga mengeluhkan sakit saat buang air kecil (9,2%).
hampir seluruh responden tidak melakukan senam kegel (97,4%). Hal ini diakibatkan pengetahuan tentang senam kegel masih minim di kalangan ibu hamil di kota Ternate.
Tabel 2. Gambaran Demografis Responden
Variabel Jumlah(n) Persentas(%)
Paritas Nullipara Multipara Missing 77 149 1 33,9 65,7 0,4 Usia maternal
≤ 20 tahun 21-30 tahun 31-40 tahun > 40 tahun
28 125 70 4 12,3 55,1 30,8 1,8 BMI sebelum hamil
Underweight Ideal Overweight Obese Missing 62 111 18 10 26 27,3 48,9 7,9 4,4 11,5 BMI saat hamil
Underweight Ideal Overweight Obese Miss 23 123 41 37 3 10,1 54,2 18,1 16,3 1,3 Pendidikan Ibu Tidak sekolah SD SMP SMA D3 S1 1 21 39 126 14 26 0,4 9,3 17,2 55,5 6,2 11,5 Nyeri saat berkemih
Merasa puas setelah berkemih Ya Tidak Missing 169 46 12 74,4 20,3 5,3 Frekuensi berkemih dalam satu hari
≤ 8 > 8 Missing 205 16 6 90,3 7 2,7 Rutin melakukan senam kegel
Ya Tidak Missing 3 221 3 1,3 97,4 1,3 Batuk kronis Ya Tidak Missing 12 200 15 5,3 88,1 6,6 IV.2 Analisis Data
IV.2.1 Prevalensi ibu hamil dengan inkontinensi urin
inkontinensi urgensi jika memiliki skor ≥6. Kriteria inkontinensi campuran jika responden memenuhi skor ≥4 pada pertanyaan nomer 1, 2, dan 3, dan juga responden memiliki skor ≥6 pada pertanyaan nomer 4, 5 dan 6 (Kammerer-doak & Abed 2007).
Tabel 3. Prevalensi inkontinensi urin.
Variabel Jumlah Persentase
(n) (%)
Inkontinensi urin
Ya 66 29,1
Tidak 161 70,9
Tipe inkontinensi urin
Murni stress 16 24,2
Murni urgensi 25 37,9
Campuran 25 37,9
IV.2.2 Hubungan inkontinensi urin dengan indeks masa tubuh ibu hamil.
Pengkategorian indeks masa tubuh ibu hamil berbeda dengan orang pada umumnya. Indeks masa tubuh ibu hamil ini dikategorikan dalam 4 kategori yaitu underweight
(<19,8 kg/m2), eutropic/ideal (19,8-26,0 kg/m2),
overweight (26,0-29,0 kg/m2) dan obese (>29,0 kg/m2) (Wesnes et al. 2010). Kemudian variabel indeks masa tubuh dilihat hubungannya dengan kejadian inkontinensi urin dengan melihat nilai Odds ratio untuk masing – masing kategori IMT dan sebagai referensi adalah IMT kategori ideal.
Tabel 4. Hubungan inkontinensi urin dengan IMT
Indeks masa tubuh
Inkontinensi
urin P
Ya Tidak OR ± 95%CI
Ideal 32 91 Referensi
Underweight 5 18 0,665 0,79 (0,271 - 2,302) Overweight 11 30 0,918 1,04 (0,469 - 2,320) Obese 16 21 0,045 2,17 (1,008 - 4,656)
Hasil analisis data menunjukkan kejadian
inkontinensi urin terjadi sebanyak 2,167 (95%CI=1,008
-4,656) kali pada ibu hamil dengan obesitas dibandingkan
p≤0,05. Sementara itu untuk kejadian inkontinensi urin pada IMT overweight tidak ada perbedaan secara signifikan (OR=1,043) dibanding IMT ideal dan tidak bermakna secara statistik (p>0,05). Pada hasil data didapatkan IMT kategori underweight memiliki kejadian inkontinensi urin yang lebih sedikit (OR=0,790) dibanding IMT kategori ideal, tetapi tidak bermakna secara statistik (p>0,05).
Tabel 5. Estimasi risiko dari masing masing IMT berdasarkan usia kehamilan
Umur
kehamilan Kriteria BMI OR ± 95% CI
≤ 24 minggu
ideal Referensi
underweight 0,494 (0,127 - 1,928) overweight 0,674 (0,167 - 2,72) obese 3,088 (0,739 - 12,91)
24 minggu ˃
ideal Referensi
underweight 2,178 (0,332 - 14,277) overweight 1,374 (0,502 - 3,77) obese 2,114 (0,814 - 5,486) Hasil analisis data pada table 5 menunjukkan bahwa pada usia kehamilan ≤ 24 minggu nilai OR untuk
usia kehamilan lebih dari 24 minggu di atas 1 yang berarti ada interaksi antara usia kehamilan terhadap hubungan indeks masa tubuh kategori underweight
dibanding ideal dengan terjadinya inkontinensi urin. Namun setelah dilihat nilai OR dari mantel hanzel pada table 6 untuk underweight, dimana ideal sebagai referensi ternyata nilai OR nya tidak tidak jauh berbeda dengan nilai OR sebelum distratifikasi yang berarti usia kehamilan bukan merupakan faktor perancu hubungan antara IMT ibu hamil kategori underweight
terhadap ideal dengan terjadinya inkontinensi urin.
Hasil serupa juga didapatkan pada IMT kategori
overweight terhadap ideal dimana pada usia kehamlan kurang dari sama dengan 24 minggu nilai OR di bawah 1 dan pada usia kehamilan di atas 24 minggu di atas 1. Ini menunjukkan ada interaksi antara usia kehamilan terhadap hubungan antara indeks masa tubuh kategori
overweight dibanding ideal dengan inkontinensi urin. Namun setelah dilihat nilai OR dari mantel hanzel untuk
underweight terhadap ideal dengan terjadinya inkontinensi urin.
Sementara itu hasil yang berbeda ditemukan pada IMT kategori obese terhadap ideal , dimana nilai OR pada usia kehamilan ≤ 24 minggu dan lebih dari 24 minggu sama-sama di atas 1 yang berarti tidak ada interaksi antara usia kehamilan terhadap hubungan IMT kategori obese dibanding ideal dengan terjadinya inkontinensi urin. Namun setelah dilihat nilai OR dari mantel hanzel untuk obese dimana ideal sebagai referensinya ternyata tidak jauh berbeda dengan nilai OR sebelum distratifikasi yang berarti usia kehamilan bukan merupakan faktor perancu hubungan ini.
Tabel 6. Hubungan inkontinensi urin dengan IMT setelah distratifikasi terhadap usia kehamilan
Indeks masa
Ideal Referensi Underweight 0,829 0,771
Overweight 0,948 1,06
Obese 0,049 2,37
Dengan dilakukannya analisis terhadap usia kehamilan maka didapatkan adanya interaksi antara usia kehamilan dengan IMT di dua kategori yaitu underweight
dan overweight dibandingkan IMT ideal terhadap terjadinya inkontinensi urin. Sementara itu IMT obese
tidak dipengaruhi oleh usia kehamilan, karena baik di usia kehamilan kurang dari sama dengan 24 minggu maupun di usia kehamilan lebih dari 24 minggu terjadinya inkontinensi urin pada kategori IMT obese tetap tinggi. Hasil analisis data juga menunjukkan bahwa usia kehamilan bukan merupakan faktor perancu hubungan IMT di semua kategori terhadap terjadinya inkontinensi urin, hal ini dapat dilihat dari tabel 6 di atas dimana tidak terjadi perubahan yang signifikan nilai OR dari sebelum distratifikasi dan setelah distratikasi.
IV.3 Pembahasan.
Kehamilan merupakan faktor risiko terjadinya inkontinensi urin. Pada kehamilan akan terjadi kenaikan berat badan, perubahan kolagen, pengembangan uterus dan berat fetus, dan perubahan hormonal yang kesemuanya akan menyebabkan trauma pada otot dasar pelvis dan melemahnya kekuatan otot tersebut. Melemahnya otot dasar pelvis akan mengakibatkan terjadinya inkontinensi urin.
wanita hamil terjadi paling banyak inkontinensi jenis urgensi (44%), diikuti inkontinensi campuran (34%) kemudian paling sedikit adalah jenis stress (22%) (Manuscript 2012a).
inkontinensi, karena usia kehamilan yang besar akan semakin meningkatkan tekanan intra abdomen sehingga terjadinya inkontinensi urin lebih sering ditemui (Sangsawang & Sangsawang 2013).
2. Hubungan inkontinensi urin dengan indeks masa tubuh ibu hamil.
Pada wanita hamil akan terjadi peningkatan berat badan yang cukup signifikan sehingga akan meningkatkan indeks masa tubuhnya. Peningkatan indeks masa tubuh ini akan meningkatkan tekanan intra abdomen dan juga meningkatkan tekanan otot dasar pelvis dan vesika urinari. Hal ini akan menyebabkan terjadinya prolaps organ pelvis dan meningkatkan mobilitas uretra yang keduanya akan menyebabkan terjadinya inkontinensi urin (Hilton & Dolan 2004).
(p≤0,05) namun tidak bermakna pada underweight dan
overweight (p>0,05).
Hasil di atas sama seperti penelitian Brown dan kawan yaitu obesitas pada wanita hamil meningkatkan risiko terjadinya inkontinensi urin (OR = 1,5(1,0-2,3))
underweight merupakan faktor protektif (OR =
0,6(0,4-1,0)) dibandingkan IMT yang ideal (Brown et al. 2010). Senada dengan Brown, Mishra yang melakukan penelitian tentang hubungan indeks masa tubuh dengan kejadian inkontinensi urin pada wanita paruh usia menunjukkan IMT underweight dapat menjadi faktor protektif terjadinya inkontinensi urin (OR = 0,87(0,58-1,21) dibanding IMT ideal. Overweight (OR = 1,30(0,95-1,78)) dan obesitas (OR = 1,42(0,86-2,32)) menjadi faktor risiko terjadinya inkontinensi urin (Mishra & Hardy 2012).
Penelitian lain di Cina yang meneliti hubungan IMT dengan kejadian inkontinensi urin juga menunjukkan hal yang sama, yaitu IMT ≥ 28 (Obese) memiliki risiko lebih besar dibanding IMT ≤ 24 (normal dan
sosio-demografik variabel termasuk indeks masa tubuh dengan kejadian inkontinensi urin pada wanita hamil. Hasil tersebut menunjukkan overweight dan obesitas pada wanita hamil secara signifikan meningkatkan terjadinya inkontinensi urin pada wanita hamil yaitu masing – masing sebanyak 2,13 kali (OR = 2,13(1,15-3,98)) dan 4,22 kali (OR = 4,22(2,09-8,54)) dibanding wanita hamil yang memiliki IMT ideal (Oliveira et al. 2013).
Hasil dari beberapa penelitian lain menunjukkan kesesuaian dengan hasil pada tabel 4, ini berarti terbukti bahwa obesitas merupakan faktor kuat atau faktor risiko terjadinya inkontinensi urin, dan
underweight merupakan faktor lemah atau faktor protektif terjadinya inkontinensi urin.
dilakukan stratifikasi usia kehamilan untuk menentukan apakah usia kehamilan merupakan faktor perancu atau mempengaruhi hasil hubungan IMT dengan kejadian inkontinensi urin.
Setelah dilakukan analisis dengan memasukkan usia kehamilan sebagai faktor perancu, didapatkan pada usia kehamilan <= 24 minggu obese masih memiliki risiko tertinggi terjadinya inkontinensi urin dibanding IMT yang lain (OR = 3,088 ± (0,739 - 12,91)), sedangkan
underweight merupakan faktor risiko terendah (OR= 0,494 ± (0,127 - 1,928)). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Brown dan kawan pada tahun 2010 dimana pada usia kehamilan <= 24 minggu obese juga merupakan faktor risiko tertingi terjadinya inkontinensi urin dibandingkan IMT yang lain (OR= 2,0 ± (1,2 – 3,2)), namun berbeda untuk faktor risiko terendahnya, dimana pada penelitian Brown 2010 IMT kategori over sebagai faktor risiko terendah (OR= 1,1 ± (0,7 – 1,7)).
IMT underweight (OR= 2,178 ± (0,332 - 14,277)) dan
obese (OR= 2,114 ± (0,814 - 5,486)), sedangkan pada penelitian Brown 2010 hanya obese (OR= 1,7 ± (1,1 -2,5)) yang menjadi faktor risiko terjadinya inkontinensi urin dibandingkan ideal, sementara
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan
2. Ada hubungan antara inkontinensi urin dengan indeks masa tubuh wanita hamil di kota Ternate dimana pada wanita hamil dengan obese terjadi inkontinensi urin 2,167 (95%CI=1,008 - 4,656) kali lebih banyak dibandingkan dengan wanita hamil dengan IMT ideal dan bermakna secara statistik (p≤0,05) dengan nilai p = 0,045. Wanita hamil dengan IMT underweight terjadi inkontinensi urin lebih sedikit yakni 0,790
(95%CI=0,271 - 2,302) kali dibanding wanita hamil dengan IMT ideal, namun tidak bermakna secara statistik (p>0,05) dengan nilai p = 0,665. Sementara itu untuk IMT overweight tidak ada perbedaan bermakna.
3. Usia kehamilan bukan merupakan faktor perancu hubungan antara indeks masa tubuh ibu hamil dengan terjadinya inkontinensi urin karena tidak ada perubahan yang signifikan dari nilai OR sebelum distratifikasi dan setelah distratifikasi dengan usia kehamilan.
V.2 Saran
1. Untuk Dinas Kesehatan Kota Ternate
diterapkan di wilayah Kota Ternate, sehingga dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan upaya kesehatan dan memberikan kajian ilmiah bagi para pengambil keputusan dan pemangku kepentingan untuk melindungi dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, khususnya dalam rangka meningkatkan kualitas hidup ibu hamil.
2. Untuk Peneliti
Dengan mengetahui hasil penelitian ini, diharapkan dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor risiko yang dapat mempengaruhhi terjadinya inkontinensi urin pada kehamilan. Setelah mengetahui faktor-faktor risiko yang terkait diharapkan dapat dilakukan pencegahan dini. Penurunan risiko terjadinya inkontinensi urin pada kehamilan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas hidup ibu hamil di Indonesia.
3. Untuk Masyarakat
Daftar Pustaka
Arnold, L.R. et al., 2009. Gambaran Inkontinensia Urin pada Wanita Gemuk di RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado. , pp.1–21.
Bradley, C.S. et al., 2011. NIH Public Access. , 29(5), pp.727–734.
Brown, S.J. et al., 2010. Urinary incontinence in nulliparous women before and during pregnancy: prevalence, incidence, and associated risk factors.
International urogynecology journal, 21(2), pp.193– 202.
Bump, R. et al., 1992. Obesity and lower urinary tract function in women: effect of surgically induced weight loss. Am J Obstet Gynecol, 167(2), pp.392– 397.
Hilton, P. & Dolan, L., 2004. Pathophysiology of
urinary incontinence and pelvic organ prolapse. Br J Obstet Gynaecol, 111(Supplement s1), pp.5–9.
Iman, B. susanto, 2004. Definisi Klasifikasi dan Panduan Tatalaksana Inkontinensia Urine. In 3rd International Consultation on Incontinence Monaco. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Iman, S., 2008. Inkontinensia Urin pada Perempuan.
Majalah Kedokteran Indonesia, 58(7), pp.258–264. Johnson, S.M. & Chan, P.D., 2006. Gynecologic Surgical
History, California: Current Clinical Strategies Publishing.
Kammerer-doak, D. & Abed, H., 2007. Urinary
Liang, C. et al., 2012. Lower urinary tract symptoms in primiparous women before and during pregnancy. Arch Gynecol Obstet, 285(5), pp.1205–1210.
López, M., Ortiz, A.P. & Vargas, R., 2009. Prevalence of urinary incontinence and its association with body mass index among women in Puerto Rico. Journal of women’s health (2002), 18(10), pp.1607–14.
Lue, T.F. & Tanagho, E.A., 2008. Urinary Incontinence. In E. A. Tanagho, A. J. Bella, & T. F. Lue, eds.
Smith’s General Urology. New York: McGrawHill, pp. 486–502.
Manuscript, A., 2012a. NIH Public Access. , 20(10), pp.1655–1662.
Manuscript, A., 2012b. NIH Public Access. , pp.1–11.
Millennium, T. & Goals, D., 2012. The Millennium Development Goals Report 2012.
Mishra, G.D. & Hardy, R., 2012. Europe PMC Funders Group Body weight through adult life and risk of urinary incontinence in middle aged women : results from a British prospective cohort. , 32(9),
pp.1415–1422.
Morkved, S. et al., 2004. Pelvic floor muscle strength and thickness in continent and incontinent
nulliparous pregnant women. Int Urogynecol J Pelvic Floor Dysfunct, 15(6), pp.384–389.
Oliveira, C. De et al., 2013. Urinary incontinence in pregnant women and its relation with
socio-demographic variables and quality of life. Revista da Associação Médica Brasileira (1992), 59(5), pp.460–6. Available at:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24080345 [Accessed July 4, 2014].
Prabhu, S.A. & Shanbhag, S.S., 2013. Prevalence and risk factors of urinary incontinence in women residing in a tribal area in maharashtra, India.
pp.125–30. Available at:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24077468. Rosevear, S.K., 2002. Handbook of Gynaecology
Management 1st ed., Great Britain: Blackwell Science.
Sangsawang, B. & Sangsawang, N., 2013. Stress urinary incontinence in pregnant women: a review of
prevalence, pathophysiology, and treatment.
International urogynecology journal, 24(6), pp.901– 12.
Santiagu, S., Mohan, A. & Audrey, W., 2008. Urinary Incontinence Pathophysiology and Management
Outline. Australian Family Physician, 37(3), pp.1– 5.
Siti, S. & Putu, D.I., 2006. Inkontinensia Urin dan Kandung Kemih Hiperaktif. In A. W. Sudoyo, ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, pp. 1392–1399.
Steinar Hunskaar, 2005. Epidemiology of Urinary
Incontinence. In H.-D. Becker et al., eds. Urinary and Fecal Incontinence. New York: Springer, pp. 1– 10.
Wesnes, S.L. et al., 2010. Urinary incontinence and weight change during pregnancy and postpartum: a cohort study. American journal of epidemiology, 172(9), pp.1034–44. Available at:
http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi ?artid=2962255&tool=pmcentrez&rendertype=abstract [Accessed June 16, 2014].
Wijma, J. et al., 2001. Anatomical and functional changes in the lower urinary tract during
Lampiran
Lampiran 1. Form Anamnesis
IDENTITAS:
Nama :
Alamat dan kontak :
Usia ibu : Pekerjaan
suami
:
Pendidikan Ibu
:
Pekerjaan
Ibu :
Usia Suami :
Pendidikan suami
:
Kebiasaan/Pola hidup
Kebiasaan merokok
Bila ya, berapa batang rokok dihabiskan dalam 24 jam?
1. Ya 2. Tidak
………..
Riwayat Obstetri
Paritas : G….P… A…
Lampiran 2. Form Diagnosis Inkontinensi Urin
1. Apakah saat hamil ini Anda pernah mengompol (walau hanya beberapa tetes), berkemih secara tidak sadar, atau basahnya celana dalam secara tidak sadar karena urin, saat:
Saat batuk atau bersin?
0 1 2 3 4 5
Saat membungkuk ke depan atau mengangkat sesuatu?
Ketika berjalan dengan cepat, berolah raga, atau jogging?
0 1 2 3 4 5
Saat sedang membuka celana/celana dalam saat akan berkemih?
0 1 2 3 4 5
2. Pernahkah saat hamil ini Anda merasa sangat tidak nyaman dan rasa sangat ingin berkemih dan Anda kemudian mengompol?
0 1 2 3 4 5
3. Apakah saat hamil ini Anda pernah terburu-buru karena rasa ingin berkemih yang kuat dan tidak tertahankan?
0 1 2 3 4 5
Lampiran 3. Form Riwayat Inkontinensi Urin
1. Apakah Anda merasa harus segera berkemih jika kandung kemih Anda penuh?
YA TIDAK
2. Apakah dengan melihat, medengar, atau dialiri air membuat anda ingin berkemih?
YA TIDAK
3. Pernahkah Anda mengompol pada posisi Anda berbaring?
YA TIDAK
4. Saat Anda berkemih, bisakah Anda menghentikan aliran urin tersebut secara tiba-tiba?
5. Apakah Anda mempunyai kesulitan dalam memulai mengeluarkan urin?
YA TIDAK
6. Apakah Anda memiliki permasalah berkemih ketika masih anak-anak?
YA TIDAK
7. Apakah masih ada urin Anda yang menetes setelah Anda berkemih?
YA TIDAK
8. Apakah Anda merasa nyeri saat berkemih?
YA TIDAK
9. Apakah Anda mengompol saat tidur?
YA TIDAK
10. Sebelum mengompol, apakah Anda merasa sangat ingin kencing?
YA TIDAK
11. Apakah Anda mengenakan popok?
YA TIDAK
12. Pernahkah Anda menjalani pengobatan untuk masalah ini?
(jika ya, tuliskan pengobatan apa saja yang Anda pernah lakukan. Contohnya: obat minum, latihan otot, senam, penggunaan alat).
Tipe pengobatan Tahun
13. Berapa kali Anda berkemih selama siang hari? ________ kali
14. Berapa kali Anda terbangun dari tidur untuk berkemih? ________ kali
15. Apakah setelah berkemih Anda merasa kandung kemih Anda benar-benar kosong?
YA TIDAK
16. Seberapa terganggukah Anda dengan gangguan berkemih Anda ini? (0: tidak sama sekali, 10: sangat terganggu)
Lampiran 4. Form Faktor Risiko
1. Pernahkah Anda dipasangi kateter karena Anda tidak bisa berkemih?
YA TIDAK
2. Pernahkah uretra Anda dilebarkan atau diregangkan?
YA TIDAK
3. Apakah Anda rutin melakukan senam kegel?
YA TIDAK
4. Apakah Anda merasakan adanya benjolan yang keluar dari vagina atau pada vagina?
YA, deskripsikan ukuran _________, sejak tahun _____
TIDAK
5. Apakah Anda memiliki penyakit-penyakit di bawah ini? Tandai penyakit yang Anda miliki/pernah miliki
o Cedera punggung
o Batuk kronis
o Depresi (mudah stress atau berobat ke dokter jiwa/psikolog)
o Nyeri kepala
o Artritis
o Stroke
o Prolaps organ
o Lainnya:
6. Tuliskanlah SEMUA obat yang sedang ataupun pernah Anda konsumsi selama 6 bulan terakhir ini, lingkarilah obat yang SEDANG Anda konsumsi sekarang?