• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI ANALISIS PERAN NEGARA TERHADAP PER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STUDI ANALISIS PERAN NEGARA TERHADAP PER"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI ANALISIS PERAN NEGARA TERHADAP PERKELAHIAN ANTAR KELOMPOK DI KOTA MAKASSAR

Pendahuluan

Zaman kala masyarakat senantiasa tidaklah stagnan pada kondisi keseharian yang dimiliki, menjadikannya sebuah fenomena pantas untuk dikaji. Dinamika yang berkembang tersebut seringkali tidak terlepas dari peranan struktur makro yang mengatur sebuah masyarakat tertentu. Pemerintah dan aparatur penyokongnya merupakan salah satu faktor makro tersebut yang wajib ditekankan sebagai salah satu faktor penyokong bergeraknya arus dinamika tersebut. Sejak terbukanya sejarah mengenai peerintahan satu persatu teori mengenai fungsi dan peran pemerintah berjejal, dinamikanya berlangsung dengan mobilitas yang cepat. Masalah yang mendera juga satu per satu datang pasca kedatangan sistem pemerintahan. Sontak sistem tersebut mendapatkan tekanan sebagai institusi berwenang menyelesaikan setiap persoalan.

Manusia pemerintahan (Faried Ali, 2011) dalam sistem pemerintahan sebagai fokus yang menarik untuk diteliti melakukan pengkajian terhadap kekuasaan yang harus diembannya, kekuasaan yang diberikan oleh Negara sesuai dengan ketentuan konstitusi, kekuasaan melakukan pengaturan atas hubungan pemerintah sebagai pihak yang memerintah terhadap rakyat sebagai pihak yang diperintah, rakyat di dalam berbagai peran dan statusnya. Hubungan yang terjalin dalam kerangka kekuasaan yang diberikan oleh Negara didalam rangka pelaksanaan seluruh kehendak yang terjabar pada tujuan Negara yang disepakati bersama dalam suatu konstitusi yang diperlakukan.

(2)

Kerusuhan massa dengan berbagai implikasinya adalah ranah yang diperankan oleh manusia pemerintah untuk meredam dan mencegahnya. Berpedoman pada katalog kekerasan massa di kota Makassar memberikan gambaran, yang dapat disebutkan antara lain: kerusuhan April 1996 di kampus Universitas Muslim Indonesia yang menewaskan mahasiswa, kerusuhan dengan target etnis China dalam kurun waktu 1997-1998, Bentrokan berkali-kali antara aparat keamanan dan mahasiswa yang tak sedikit menimbulkan korban dalam kurun waktu 2007-hingga sekarang. Dalam pertarungan politik kecemasan akan kekerasan massa tak juga dapat terhindarkan. Ingat saja kasus pengrusakan show room milik mantan wakil Presiden Jusuf Kalla dalam momentum PILGUB Sulawesi Selatan. Hingga maraknya penghakiman massa maupun perkelahian antar kelompok warga membuat kota ini kemudian termasyhur dengan konflik fisik yang melibatkan banyak individu yang tergabung dalam beberapa kelompok atau yang biasa disebut dengan kekerasan massa.

Yang ganjil dalam perilaku massa adalah ciri psikologis yang ditimbulkan, para pelaku mengalami penumpulan rasa salah atas tindakan kekerasan mereka. Akal sehat disingkirkan dan digantikan dengan moralitas lemah yang menjauhi konteks budaya dimana moralitas tersebut dibangun. Berjarak dari peristiwa itu, beberapa analis yang ahli dalam bidang ini maupun masyarakat biasa pemerhati persoalan sosial lalu mengatakan bahwa individu terseret oleh desakan kebersamaan mereka sehingga tak bisa lain kecuali melakukan seperti yang dilakukan orang yang lain. Seperti kesadaran in group yang diungkapkan oleh sosiolog sekelas Soerjono Soekanto maupun Selo Soemardjan Individu yang terlibat dalam kekerasan massa secara massif dipindahkan dari ruang kontak sehari-hari ke dalam suatu ruang peleburan kolektif yang mengisap ciri-ciri personalnya sebagai seorang individu. Penulis menyebutnya “ruang kolektif’ karena ruang ini diproduksi oleh kebersamaan dan menjadi tempat bergeraknya tindakan-tindakan kolektif walaupun dalam beberapa analisis ada juga yang menyebutnya sebagai ruang massa.

(3)

kekerasan massa yang tinggi ketimbang dengan daerah lain yang belum begitu terjejal arus modernisasi. Semuanya itu menjadi kajian kompetensi sosiologi, hanya disiplin sosiologi yang dapat memberikan jawaban tuntas, namun jawaban yang akan diperoleh karena kompotensi sosiologi belumlah dapat dijadikan solusi pemecahannya.

Berbagai fakta menunjukkan bahwa berbagai teori sosiologi dicoba untuk menjawab akar persolaan kerusuhan massa seperti teori konflik namun fakta sosial pun menampakkan bukti hasil yang tidak secara otomatis dapat meredamnya. Kerusuhan semakin terjadi dimana dengan berbagai dampak seakan Negara kehilangan fungsi kepenegakan ketertiban, apalagi ketika arus demokrasi bersama-sama dengan arus globalisasi menghantam Negara-negara berkembang sebagaimana Indonesia.

Realitas atas fakta sosial terjadinya kerusuhan massa yang menjadi-jadi, adalah merupakan fenomena yang menarik bagi bidang kompotensi ilmu pemerintahan untuk mengkajinya lewat penelitian ilmiah, bidang kompotensi yang menempatkan manusia pemerintah sebagai sesuatu kekuatan yang dapat mengatasi, kekuatan yang lahir dari kekuasaan yang diemban didalam rangka melaksanakan berbagai kehendak Negara sesuai kehendak konstitusi yang berlaku. Fenomena yang memperlihatkan tidak berkorelasinya peran manusia pemerintahan dalam meredam kerusuhan dengan berbagai imlikasinya dengan factor-faktor sebagai penyebab terjadinya kerusuhan dengan memilih kasus perkelahian antar kelompok di kota Makassar.

(4)

Untuk menjawab permasalahan yang diajukan, penulis membuat suatu kerangka pemikiran yang menggambarkan hubungan variabel-variabel yang diteliti dalam satu kesatuan fokus dengan lokus pada wilayah Kota Makassar. Adapun fokus penelitian sebagaimana dijelaskan diatas adalah peran pemerintah kota yang dibawakan oleh manusia-manusia pemerintah yang berada dalam satuan kerja pemerintahan kota yang terdiri dari mereka para aparat pada instansi Kesatuan Bangsa Kota Makassar, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Makassar dan Dinas Sosial Kota Makassar didalam menanggulangi atau meredam perkelaaian antar kelompok dengan jalan mengantisipasi dan memecahkan faktor-faktor penyebab perkelahian yang terdiri perubahan sosial yang cepat, populasi yang padat, kondisi perkampungan yang buruk dan perekonomian penduduk yang rendah.

Adapun hubungan variabel dalam kerangka pemikiran penelitian dijelaskan diatas dapat digambarkan dalam pola sebagai berikut:

Peran Pemerintah Kota (Kesbang, DPRD, Dinas Sosial)

Faktor Penyebab

1.Kekuasaan Melakukan Perubahan Sosial 2.Kekuasaan Pengendalian Populasi 3.Kekuasaan Penataan Perkampungan

4.Kekuasan Menata Perekonomian Penduduk

Penanggulangan Perkelahian antar kelompok

di kota Makassar

Metode Penelitian

(5)

gambaran atau lukisan situasi secara sistematis, faktual dan akurat mengenai objek yang diselidiki di mana hasil eksplorasi merupakan jawaban dari pertanyaan yang telah dirumuskan dilanjutkan dengan penjelasan secara rinci dan mendetail tentang situasi perkelahian antar kelompok dan strategi peran yang diterapkan.

Oleh karena penelitian kualitatif dengan mengandalkan teknik pengumpulan data melalui wawancara serta didukung oleh observasi yang mendalam, maka populasi penelitian adalah seluruh informan yang ditetapkan dengan sengaja, yaitu (1) Pejabat pemerintah Kota Makassar dalam satuan perangkat kota kantor KESBANG dan Dinas Sosial, POLRESTABES Makassar, komisi A DPRD bidang pemerintahan, Masyarakat sekitar areal perkelahian antar kelompok yang pernah terjadi, beberapa pelaku perkelahian antar kelompok .

Pemilihan informan berkembang dan berubah sesuai dengan kebutuhan penelitian dalam memperoleh data yang akurat. Peneliti juga menggunakan cara pemilihan informan yang didasarkan atas petunjuk informan I (pertama) ke informan II (kedua) dan seterusnya dan tidak terencana sebelumnya akhirnya diperoleh data yang lebih lengkap dan mendalam berkenaan dengan masalah perkelahian antar kelompok. Jadi meskipun telah ditetapkan informan sebelumnya, beberapa informan lain didapatkan dari sejumlah informasi selama berada di lokasi penelitian.

Kaitan varibel dalam satu kesatuan fokus penelitian didefinisikan secara berturut-turut sebagai berikut:

1. Peran pemerintah kota ialah segala tindakan baik dalam bentuk kebijakan strategis maupun kebijakan teknis ataupun peran dalam bentuk kerja sama dengan institusi negara yang lain.

(6)

3. Penanggulangan ialah semua tindakan pencegahan untuk memutus mata rantai sebuah masalah. Hal ini sangat berbeda dengan istilah penanganan yang cenderung lebih dekat pada pengertian ketika sebuah masalah itu sedang terjadi, penanggulangan dapat berupa kebijakan atau upaya tertentu yang bisa dilakukan.

4. Perkelahian antar kelompok adalah perihal berkelahi atau pertengkaran yang dilakukan dua orang atau lebih dengan melibatkan kelompok secara langsung yang beradu tenaga.

Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Hal ini dimaksudkan agar tetap berada dalam fokus penelitian, penulis menggambarkan masalah yang terjadi menggunakan argumen yang jelas dan memfokuskan perhatian pada pengumpulan data serta informasi melalui observasi dan wawancara mendalam. Selanjutnya data dan informasi tersebut dianalisa secara kualitatif. Proses analisa data dimulai dengan menelaah terlebih dahulu seluruh data yang tersedia, kemudian akan dilakukan penarikan kesimpulan secara induktif.

Penganalisaan dilakukan terhadap manusia pemerintahan yang teraktualisasi pada sistem pemerintahan kota Makassar sebagai fokus atau obyek materia dengan menggunakan berbagai aspek disiplin yang dirangkum dalam satu kesatuan integral keperluan kekuasaan pemerintah didalam menjalankan kehendak negara sesuai konstitusi yang menjadi obyek forma dari analisa hasil penelitian ini.

GAMBARAN UMUM

(1). Faktor-faktor penyebab perkelahian antar kelompok yang di kuasai oleh pemerintah Kota Makassar

(7)

perkelahian kelompok karena konsekuensi kehidupan berkelompok yang memungkinkan terjadinya ketersinggungan kelompok, unjuk rasa dan bentuk lainnya. Aspek antropologi pun dapat dipahami dan dijelaskan oleh manusia pemerintahan bahwa sebab perkelahian kelompok disebabkan oleh terganggunya nilai-nilai budaya seperti siri, pacce dan berbagai nilai lainnya, demikian pula aspek ekonomi karena disebabkan perebutan lahan, apalagi berkenaan dengan aspek hukum/ kriminologi bahwa sebab itu dilihat dari motif perbuatan yang bias mungkin karena dendam, minuman keras, perselisihan, penganiayaan dan berbagai motif perbuatan yang melawan hukum lainnnya. Namun bagi aspek yang harus dipahami oleh manusia pemerintahan terhadap obyek forma yang harus digunakan dalam menjawab factor-faktor penyebab terjadinya perekelahian antar kelompok dalam kerangka hubungan pemerintah dengan pihak yang diperintah agar terciptanya tertib pemerintahan dalam artian seluas-luasnya, maka faktor-faktor penyebab harus dilihat dalam kontek kekuasaan yang diembannya. Oleh karena itu, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, terbukti bahwa keempat faktor disebutkan dalam kerangka pemikiran adalah sebagai 4 penyebab utama.

Keempat faktor dari gambaran umum diatas dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Kekuasaan Dalam Melakukan Perubahan sosial

(8)
(9)

Ketersinggungan Kelompok; 15.00%

Dendam; 25.00%

Pengaruh Minuman Keras/Obat-obatan; 15.00% Perselisihan; 25.00%

Penganiayaan; 10.00% Perebutan lahan; 5.00%

Unjuk rasa anarkis; 5.00% Persentase Motif Perkelahian antar kelompok

2. Kekuasaan Dalam PengendalianPopulasi

Wilayah kecamatan di kota Makassar yang memiliki angka jumlah penduduk yang tinggi ditunjukkan oleh kecamatan seperti Tamalate dengan 154.454 jiwa penduduk, diikuti Rappocini, Makassar, Tallo, Biringkanaya dan Panakukang. Namun jumlah penduduk bukan berarti serta merta memicu angka kriminalitas. Luas wilayah sebuah kecamatan menjadi variabel untung menghitung kepadatan sebuah wilayah. Wilayah kecamatan Makassar yang hanya memiliki luas wilayah 2,52 km2 bisa dilihat bagaimana tingkat kepadatan penduduk pada wilayah tersebut.

(10)

kesempatan pada setiap orang untuk menyentuh uang tersebut. Memang kota besar memiliki tingkat kemajemukan penduduk yang sangat tinggi. Wajar bila hal itu terjadi, daya pikat membuat segala penduduk segala penjuru di sekitar wilayah perkotaan akan mengarahkan perhatiannya pada kota ini. Bayangkan saja kota Makassar merupakan kota ikon bagian timur Indonesia, maka jangan heran bila puluhan etnis berkumpul dalam satu kota dengan kelompoknya masing-masing. Kecamatan Tamalanrea misalnya, setiap tahunnya sebagai kawasan pendidikan kawasan ini akan menerima puluhan ribu pendatang untuk menempuh pendidikan pada beberapa kapus yang tersebar. Belum lagi dengan beberapa wilayah lain yang juga demikian, mereka menerima para pencari kerja yang kemudian berpotensi menjadi embrio penyakit sosial baru di kota.

Sebuah pandangan pejabat teras pemerintah kota tentang deraan primordialisme yang tumbuh subur hingga menjadi pertarungan fisik antar kelompok. Dari data menunjukkan bahwa sebagian besar pertarungan fisik antar mahasiswa dilandasi karena pertarungan etnis. Kadang diantara mereka melabihi tindakan mereka dengan tindakan penghargaan terhadap siri’ atau jargon kebudayaan daerah yang lain. Anggota komisi A dari fraksi partai demokrasi kebangsaan (PDK) kemudian berujar tentang fenomena siri’ yang disalahgunakan. Menurutnya dalam kitab lontara dan kisah kepahlawanan daerah yang lain sama sekali tidak pernah ada ajaran yang menganjurkan kita untuk saling berseteru. Melainkan siri’ itu bermakna untuk malu berbuat untuk saling menyakiti satu sama lain, singkatnya siri’ menurutnya telah disalahkaprahkan.

(11)

kelompok adalah disebabkan kepadatan penduduk, hal itu nampak pada gambar yang tersajikan diatas.

3. Kekuasaan Dalam Pengendalian Status sosial ekonomi penduduk

Dalam ketidakberdayaan untuk memenuhi kebutuhan setiap orang akan berfikir untuk menggunakan cara apapun. Bila kesempatan dengan jalur yang telah disediakan telah tertutup maka seseorang tidak akan segan untuk membuka jalur pemenuhan kebutuhan yang lain. Kemiskinan merupakan faktor yang memicu tingkat kekerasan dalam masyarakat dan bila kondisi itu dialami bersama maka tingkat kekerasan kelompok akan terbentuk dengan sendirinya.

Tingkat kekerabatan kaum terpinggirkan akan sangat gampang terbentuk dan menjadi sebuah ikatan solidaritas bila dibandingkan dengan mereka pemilik ekonomi mapan karena dengan cukup mengandalkan kemampuan pribadi dari kekayaannya, seorang kaya sudah bisa membeli apapun. Ketimbang kaum terpinggir yakni mereka para miskin kota akan sangat gampang baik memobilisasi diri sendiri maupun dimobilisasi oleh kelompok tertentu. Beberapa wadah pemanusiaan diri tidak dapat diraih karena keterbatasan ekonomi seperti sekolah, bahkan untuk beribadah karena waktu telah habis digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pada tahun 2010 dari data dinas sosial kota Makassar menunjukkan bahwa angka kemiskinan di kecamatan Panakukang sebagai kawasan pusat perbelanjaan modern ternyata menjadi wilayah dengan angka kemiskinan yang sangat tinggi, 8233 KK di kecamatan ini tercatat sebagai keluarga fakir miskin. Alhasil anak terlantar yang biasa menjadi biang kerok perkelahian melebihi angka 1000 anak. Untuk melengkapi argumen penulis beriku kami cukupkan dengan pernyataan Kasi LINMAS KESBANG kota Makassar: bahwa “Ketika kondisi sosial sangat labil maka potensi konflik gampang terbentuk, Ketidakadilan atau kemiskinan juga itu menjadi potensi besar konflik.

4. Kekuasaan Menata perkampungan

(12)

satu sama lain. Rumah yang kadang tidak memiliki pagar halaman menjadi penjelas bahwa tidak ada sekat antara rumah yang satu dengan yang lainnya. Berarti interkasi antara satu sama lain menjadi erat. Kesamaan penderitaan yang dialami mewujudkan solidaritas tersebut. Pengamatan penulis membawanya untuk melihat kondisi sekitar kanal besar yang memotong jalan M.Yamin, Pelita Raya, Landak baru, Maccini dan beberapa jalan lainnya yang dilalui. Dari situ terlihat jelas pemukiman sekitar areal kanal yang sangat buruk bahkan bisa dikatakan sebagian besar rumah masih bersifat semi permanen dengan konstruksi seadanya.

Kecamatan Panakukang, Makassar dan Tallo secara berurutan tiga kecamatan tersebut merupakan kecamatan dengan angka rumah tidak layak huni di kota Makassar. Bisa dibuktikan bahwa kondisi pemukiman yang buruk juga menjadi faktor timbulnya tindak kriminal dengan melihat jumlah anak terlantar yang juga lumayan tinggi dari ketiga kecamatan tersebut, sebagaimana data faktualnya terlihat pada gambar diatas. 2). Peran Pemerintah Kota Makassar terhadap Perkelahian antar Kelompok

Pemerintah dalam penelitian ini dibagi kedalam dua bagian yaitu pemerintahan dalam skala besar yakni Eksekutif dan Legislatif. Penulis tidak memasukkan lembaga peradilan sebagai representasi yudikasi di negeri ini mengingat perkelahian antar kelompok sangat sulit untuk diadili karena banyaknya jumlah orang yang terlibat. Oleh karena itu penulis menggantikan peran tersebut dengan memasukkan kepolisian kota yakni POLRESTABES dalam upayanya menangani tidak kekerasan massa namun tidak penjabaran mengenai perannya hanya dimasukkan dalam pembahasan diantara dua bagian pemerintah dalam skala besar tadi. Selain itu penulis juga menemukan adanya jalinan kerjasama antar pemerintah kota dengan pihak kepolisian untuk bahu membahu menangani kasus perkelahian antar kelompok ini.

Peran Ekeskutif di Kota Makassar

(13)

1. Kantor Kesatuan Bangsa

Tugas dan fungsi KESBANG, tentunya segala program menjaga ketertiban dan keamanan dalam masyarakat. Menurut kepala kantor KESBANG Rompegading Patiroy, tugas kesbang ialah menjaga keamanan dan ketertiban kota. Sedangkan pola tindakan yang dilakukan lebih dalam dijelaskan oleh beliau bahwa kantor yang dipimpinnya itu lebih bersifat konsep dan preventif selanjutnya dalam penerapan di lapangan terkait bila peristiwa perkelahian berlangsung maka itu merupakan tugas dari kepolisian. Kesbang hanya melakukan pendekatan sosialisasi aturan seperti aturan tentang terorisme, agama dan aturan mengenai ketertiban dan keamanan.

Lembaga pemerintah di bawah naungan PEMKOT Makassar ini lebih mengutamakan pola penyampaian konsep masyarakat damai kepada berbagai elemen serta bersifat investigatif terhadap potensi konflik yang akan terjadi. Selain itu, program juga dikhususkan pada beberapa wilayah yang memang dekat dengan siklus perkelahian antar kelompok.

Namun selain dari program pelatihan dan sosialisasi, KESBANG juga mengadakan kerjasama dengan beberapa pihak untuk mewaspadai terjadinya tindak perkelahian sebelum konflik itu terjadi. Oleh karena itu KESBANG bersama lembaga kepolisian (POLRESTABES), TNI (Kodam VII Wirabuana) dan badan intelijen negara (BIN) bahu membahu mengupayakan cara penanganan kasus perkelahian antar kelompok dan bentuk kekerasan massa yang lain. Walaupun pihak KESBANG sama sekali tidak memberi kategorisasi mengenai program yang dilaksanakan, namun penulis mencoba memberi kategorisasi peran pemerintah terhadap perkelahian antar kelompok dari segi waktu pelaksanaan yang diukur dari kejadian sebuah kasus. Kategorisasinya terbagi atas upaya Preventif dan pasca kejadian, sosialisasi regulasi. pembinaan teknis resolusi konflik. Sedangkan pelibatan unsur lain di luar LSM dan tokoh masyarakat sebagai pemateri pada kegiatan ini diantaranya komando distrik militer (KODIM) Makassar, POLRESTABES, BIN, kantor KESBANG provinsi sulawesi selatan serta beberapa akademisi dari berbagai kampus di Makassar.

(14)

institusi tersebut adalah Kodam VII Wirabuana Makassar, POLRESTABES Makassar dan Badan Intelijen Negara (BIN). Bersama tiga institusi ini KESBANG mengadakan pola investigasi ketika konflik telah terdapat di permukaan. Dengan kerja intelijen konflik yang terlihat di lapangan itu sebisa mungkin dikendalikan sebelum meledak pada perkelahian.

Dari keempat lembaga ini pun melalui KESBANG mampu mengumpulkan data kekerasan yang terjadi di kota Makassar dilengkapi dengan motif serta dalang perkelahian. Dalam proses pengerjaannya bagi tiga institusi selain KESBANG yang lebih dulu menemukan potensi konflik maka akan segera melaporkannya kepada PEMKOT dalam hal ini KESBANG. Selanjutnya bila potensi kasus tersebut meledak maka PEMKOT membawa laporan kepada pihak kepolisian untuk segera mengadakan penangkapan atau pun pengamanan. Seperti yang diakui oleh KASI LINMAS KESBANG, program ini baru terbilang efektif pada tahun 2010, di tahun sebelumnya belum ada pengolahan data dari bahan intelijen yang sudah didapatkan. Barulah pada tahun 2010 KESBANG memiliki data perkelahian antar kelompok untuk kemudian dijadikan bahan acuan pembuatan program berikutnya.

2. Dinas Sosial

Secara tidak langsung menangani persoalan perkelahian antar kelompok namun DINSOS ternyata mengurusi pelaku tindak kriminal yang juga merupakan pelaku tindak perkelahian antar kelompok di masyarakat. Pada petunjuk teknis pelaksanaan masalah sosial anak nakal yang menjadi bahan rujukan DINSOS kota Makassar dalam pembuatan program pembinaan terhadap anak nakal, dinyatakan bahwa anak nakal ialah anak yang berperilaku menyimpang dari norma-norma masyarakat, mengganggu ketertiban namun masih dibawah kategori yang dapat dituntut secara hukum.

(15)

melanggar nilai-nilai atau norma-norma masyarakat. DINSOS dengan kegiatan ini bertujuan untuk memulihkan kondisi psikologi dan kondisi sosial serta pulihnya fungsi kualitas sosial remaja sehingga mereka dapat hidup wajar di masyarakat serta menjadi sumber daya manusia yang berguna produktif dan berkualitas tinggi. Jadi pada dasarnya kegiatan ini dibuat untuk mereka anak nakal dan remaja yang dianggap berpotensi melakukan atau telah melakukan tindakan kriminal termasuk salah satunya tindak perkelahian antar kelompok yag sering mereka lakukan.

Orang tua serta lingkungan sosial mereka juga diikutkan dalam program ini seperti lingkungan sebaya, lingkungan sekolah atau pekerjaan dan keluarga serta tetangga. Untuk mereka anak nakal dan remaja yang dilibatkan dalam proram ini lebih sering disebut dengan istilah korban. Oleh karena itu bisa dianalisa bahwa ada yang menjadi penyebab kerusakan nilai sosial dan mental mereka. Keseluruhan rangkaian proses rehablitasi ini terdiri atas 6 tahapan yang harus dilalui mulai dari tahap pendekatan awal, tahap Penerimaan, tahap assessment, tahap pembinaan dan bimbingan sosial, tahap resosialisasi / integrasi, tahapan tahap rujukan dan pembinaan lanjut. Terhadap jumlah anak terlantar dan anak nakal. Hasil penelitian memperlihatkan data sebagaimana Nampak pada tabel berikut:

Tabel : Jumlah anak terlantar dan anak nakal di kota Makassar 2010

(16)

Sedangkan peran legislativ dalam menangulangi perkelahian kelompok adalah membuat aturan dalam bentuk Peraturan Daerah, dimana hasil wawancara yang dilakukan dengan komisi A bidang pemerintahan, ternyata DPRD belum membuatnya. Selanjutnya untuk mengetahui bagaimana bentuk peran DPRD dalam penanggulangan kasus perkelahian antar kelompok, penulis mempertanyakan bentuk peran yang dimainkan oleh DPRD. Belum banyak jumlah reses yang dilakukan di beberapa kecamatan yang dianggap sebagai kecamatan dengan angka tawuran yang tinggi. Terbukti selama masa jabatan DPRD 2009-2014 hanya 2 kali reses dilakukan ke wilayah konflik.

Mengenai kemiskinan yang juga diakui oleh Mustagfyr Syabri sebagai pemicu terjadinya tindak perkelahian di masyarakat sudah ada upaya untuk menanganinya. Bentuk program yang dirancang oleh DPRD yaitu pembuatan bengekel ekonomi pemuda di tiap kecamatan di kota ini. Bengkel ekonomi yang dimaksud ialah tempat dimana para pemuda akan dibimbing untuk bagaimana berwirausaha demi mendapati penghidupan yang layak.

Penulis pun mempertanyakan mengenai kerjasama tiga institusi negara untuk menangani masalah kekerasan kolektif. Menurutnya, telah ada pembicaraan yang melibatkan pemerintah kota, kepolisian dan DPRD itu sendiri untuk membicarakan mengenai prilaku perkelahian antar kelompok.

PEMBAHASAN

(17)

Pelaku tindak Perkelahia

n

Perkelahian antar kelompok di perkotaan Tokoh

Masyaraka t

DPRD kota Pemerinta

h Kota

Polisi

adalah merupakan aktualisasi dari kebijakan pemerintah. Pengaturan inilah yang dimaksudkan penulis sebagai suatu kerangka pemikiran yang ditawarkan terhadap peran pemerintah dalam penyelesaian perkelahian kelompk di Kota Makassar sebagaimana dalam tinjauan pustaka sebagai berikut:

Dimana perkelahian antara kelompok di perkotaan sebagai focus penyelesaian berada dalam peran berbagai pihak dimana pemerintah kota adalah sebagai salah satu pemegang peran diantara lima peran lainnya yaitu tokoh masyarakat, DPRD, Polisi dan pelaku tindak perkelahian, dengan dasar pengaturan sebagaimana terlihat pada pola sebagai berikut:

Dalam pola terlihat bahwa penyelesaian perkelahian kelompok adalah bagian dari peran pemerintah kota untuk menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat berdasarkan

UU 32 Tahun 2004

Menjaga ketertiban dan kemanan masyarakat

Pemerintah Daerah/Kota Tupoksi Pemerintah

(18)

tupoksi pemerintahan service dan development atas dasar lehendak undang-undang nomor 32 tahun 2004.

Ilmu Pemerintahan sebagai ilmu yang mempelajari manusia dengan kekuasaan yang dimiliki untuk melaksanakan kehendak Negara (Faried Ali, 2011), memberikan pembenaran untuk dapat melakukan berbagai tindakan yang didasarkan pada kekuasaan yang dimiliki dan oleh karena itulah ilmu pemerintahan pun dapat disebut dengan ilmu kebijakan (Hogerwerf,1988).

Berdasarkan pemikiran atas ruang lingkup ilmu pemerintahan, maka faktor perubahan sosial yang cepat sebagai faktor penyebab terjadinya perkelahian kelompok memberikan indikator bahwa pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Makassar yang membawa perubahan sosial yang cepat dari segi teori kebijakan memberikan isyarat bahwa kebijakan yang dijadikan dasar tindakan oleh pemerintah tidak didasarkan pada pertimbangan lingkungan sosial dan budaya dan lebih banyak diwarnai oleh kemauan politik (Eksekutif dan Legislatif) dengan mengabaikan kepentingan rakyat sebagai kelompok sasaran dari pembangunan yang dilakukan. Pengabaikan faktor lingkungan sosial melahirkan tindakan perebutan lahan yang seyogianya pembangunan diawali dengan penataan lahan secara pasti kepemilikannya dilain sisi terabaikan pula pertimbangan lingkungan budaya yang mengabaikan nilai-nilai budaya seperti siri dan semacamnya.

(19)

Didalam alam demokrasi dewasa ini, kehendak pemerintah tidak cukup terwakilkan oleh lembaga eksekutif dengan lembaga legislatif akan tetapi secara substansial harus diimbangi oleh kehadiran ruang publik sebagai tempat penciptaan solusi antara pemerintah sebagai pihak yang memerintah dan publik sebagai pihak yang diperintah. Solusi yang lahir dari ruang public inilah yang akan dapat menciptakan tertib pemerintahan sehingga gejolak sosial sepertri perkelahian kelompok dapat terhindarkan. Kondisi sosial ekonomi yang rendah adalah realitas sosial yang dipahami oleh Pemerintah dan terkait dengan realitas nasional dan akibat perlakuan kebijakan makro, namun bagi pemerintah kota Makassar, kebijakan makro harus diantisipasi dengan kewenangan otonomi yang dimiliki yang mengharuskan bagi pemerintah kota untuk membuat dan memperlakukan kebijakan stratejik tingkat pemerintah kota dengan komitmen pengentasan kemiskinan dan upaya peningkatan dan perbaikan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Pemerintah secara fungsional adalah berkewajiban memberikan pelayanan dengan melakukan penyediaan berbagai fasilitas lapangan kerja sehingga rakyat sebagai pihak yang diperintah dan dilayani dapat mempotensikan fasilitas yang disediakan yang akan dapat membawa mereka ke tingkat perbaikan kondisi sosial ekonomi yang meningkat atau berbagai kebijakan lainnya. Namun, terjadinya perkelahian antar kelompok yang terpicu dari kondisi sosial ekonomi ataupun berbagai perbuatan kriminal yang terjadi yang ditimbulkannnya sebagai akibat dari kondisi yang rendah, adalah realitas tidaknya adanya kebijakan yang diperlakukan oleh Pemerintah Kota Makassar walaupun secara fisik pertumbuhan pembangunan fisik semakin meningkat yang diikuti oleh semakin meningkatnya kesenjangan antara yang berpunya dengan yang yang tidak berpunya. Oleh karena itu, secara teori fungsional, pemahaman Pemerintah Kota terhadap factor kondisi sosial ekonomi masyarakat yang rendah dapat dikatakan rendah.

(20)

adalah menjadi tanggung jawab Badan Perencana Pembangunan Kota dan Dinas Pekerjaan Umum serta Dinas lain yang terkait. Tidak adanya konsep dasar yang diinginkan oleh pemegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan kota serta tidaknya ada koordinasi yang mantap dilakukan pada satuan perangkat daerah yang terkait dengan pemukiman adalah penyebab terjadinya factor ini.

Keempat faktor yang dipahami oleh Pemerintah Kota Makassar yang dalam realitasnya melahirkan perekelahian antar kelompok, secara umum telah terungkap pada peran stratejik yang seharusnya dibawakan oleh Walikota dan Dewan Perwakilan Rakyat selaku Pemerintah Kota, namun secara tehnis dimungkinkan peran-peran itu harus dapat memberikan pencegahan walaupun dalam hasil penelitian memberikan gambaran bahwa kurangnya peran Pemerintah Kota secara umum dalam penegakkan ketertiban sesuai tupoksi, service development, diperlukan pengungkapakan peran-peran instansi secara tehnis.

Hasil penilitian atas peran instansi tehnis terhadap perkelahian antar kelompok memberikan isyarat bahwa bagi instansi kesbang, peran yang dibawakan hanya pada tataran sosialisasi atas ketertiban yang diharapkan, sosialisasi kepada tokoh-tokoh masyarakat dan para pelaku perkelahian, Komisi A DPRD belum sempat membuat peraturan daerah yang berkaitan dengan upaya pencegahan perkelahian kelompok dan peran nyata yang nyata baru pada tingkat peran observasi, sedangkan kepolosian tetap berada pada peran penegakkan hukum ketika perkelahian antara kelompok membawa akibat-akibat yang melawan hukum seperti penganiyaan, pembakaran, hingga pembunuhan.

Peran-peran dari instansi tehnis ini layaknya tidak dapat dapat meredam perkelahian dan ketika Walikoat bersama DPRD belum dapat berperan semaksimal mungkin melalui kebijakan strategis yang dapat diperlakukan.

Penutup dan Rangkuman

(21)

(1).Terhadap keempat faktor penyebab perkelahian antara kelompok yang dikuasai peristiwanya oleh Pemerintah Kota Makassar, utamanya oleh manusia-manusia pemerintah yang berada dalam satua-satuan kerja perangkat kota yang relevan serta instansi terkait tidak diikuti dengan upaya peredeman yang tuntas secara professional serta terkoordinasi yang efektif dengan pusat pada tindakan peredeman pada inti penyebabnya seperti perebutan lahan, ketersinggugan nilai dan kepentingan karena kepadatan penduduk, kemiskinan yang sudah berlangsung secara structural dan hampir menjadi kemiskinan cultural serta tata ruang yang tidak terkelola dengan baik baik isi maupun kebutuhannya.

(2).Manusia pemerintahan sebagai pelaku dalam hubungan pemerintahan antara pemerintah dengan pihak yang diperintah dalam berbagai status khususnya mereka yang memiliki tanggung jawab yang relean dengan peristiwa perkelahian antara kelompok, tidak antisipatif dan kreatif sehingga penyelesaian yang dilakukan hanya sampai pada tingkat proforma karena keterttikatan pada job deskripsi yang diemban serta selalu berada dalam jalur kepenegakkan prosedur bagi manusia pemerintah dengan atrubut kepolisian dan dalam jalur kepentingan politik bagi manusia pemerintah dengan atribut para politisi yang mewakili partai politik pada lembaga legislative (DPRD).

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Althusser,Louis. Tentang Ideologi (Marxisme Strukturalis, Psikoanalisis, Cultural Studies).Terjemahan Essay on Ideology 1984. Jalasutra.Yogyakarta

Anonim.,. Makassar dalam Angka 2010

Anonim,. Kamus Bahasa Indonesia, DEPDIKBUD, 1996

Anonim.,. Petunjuk Teknis Penanganan Masalah Sosial Anak Nakal, DEPSOS RI, 1997

Dom Helder. Spiral Kekerasan.Resist Book. Yogyakarta.2005 Froom, Akar Kekerasan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2008

Jacques, Jean Rousseau, Kontrak Sosial, Terjemahan Sumarjo, Erlangga, Jakarta. 1986 Kartini,Kartono. Kenakalan Remaja (Patologi sosial 2). Rajawali Press. Jakarta.2010 Kencana,Inu. Ilmu Politik.Penerbit Rineka Cipta.Jakarta. 1997

Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi I, Rieneka Cipta, Jakarta, 2003

Lawang, Robert M Z. Pengantar Sosiologi, PT. Karunika Universitas terbuka, Jakarta, 1985

Lexy, J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1991 Ndraha,Talidziduhu. Kybernology 1 dan 2 (ilmu pemerintahan baru). Penerbit Rineka

Cipta. 2000

Rasyid, Ryas. Makna Pemerintahan ditinjau dari Segi Etika dan Kepemimpinan, PT. Yarsif Watampone

Ritzer dan Goodman. Teori Sosiologi Modern. Kencana. Jakarta. 2010 Sabari, Yunus. Manajemen Kota. Pustaka Pelajar.Yogyakarta.2008

Soekanto, Soerjono, Memperkenalkan Sosiologi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1982

Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007

Suharto, Edy. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat; Refika Aditama. Bandung 2009.

Sukriansyah S.Latif dan Tomi Lebang, Amuk Makassar, Institute studi arus informasi, Makassar, 1998

(23)

Suryaningrat ,Bayu. Mengenal Ilmu Pemerintahan. PT.rineka Cipta.Jakarta.1992 Tadie, Jerome. Wilayah kekerasan Jakarta. Masup. Jakarta.2009

Wahid, Sugira. Manusia Makassar

Artikel/Jurnal

Anonim.,. Warta Titian Damai, Februari 2009

Budi Hardiman, Memahami akar-akar kekerasan massa, 28 Juli 2008 Anonim.,. Warta Titian Damai, Februari 2009

Situs

Situs resmi pemerintah kota Makassar

Situs resmi POLRI

Peraturan/Perundang-undangan

KEPMENSOS Nomor 25/huk/2003

Perda No. 3 tahun 2009 kota Makassar tentang kantor KESBANG

Perda kota Makassar nomor 22 tahun 2005 tentang pembentukan susunan organisasi dan tata kerja dinas sosial kota Makassar.

Gambar

Tabel : Jumlah anak terlantar dan anak nakal di kota Makassar 2010

Referensi

Dokumen terkait

Terhadap Peran Pelaksana Tugas (Plt) Walikota dalam Pemerintahan Kota Menurut Hukum Administrasi Negara (Studi Pemerintah Kota Medan) ”.. Sebelum penulis melanjutkan

Adapun peran agama dalam menyembuhkan penyakit schizophrenia maka menurut penulis adalah sangat besar peran dan fungsinya. Agama sangat membantu tercapainya kesehatan

Dengan mencermati lebih lanjut dari perundangan tersebut pada fokus tugas tridharma, dapat juga dikemukan peran penting Unmul sebagaimana perguruan tinggi lainnya sebagai agen

Hasil dari penelitian ini adalah Peran pemuda terhadap penanggulangan kemiskinan di kota Medan bagian Utara berada pada daerah yang positif dan Pengaruh peran pemuda

Bersumber dari latar belakang yang telah ditemukan dan dijelaskan peneliti diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Peran efikasi diri

Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa penelitian ini diarahkan untuk mengkaji permasalahan yang berkaitan dengan peran kelompok dasa wisma dalam

Saran penelitian ini untuk perusahaan sebaiknya peran Auditor dalam hal ini berlaku sebagai Satuan Pengawas Intern harus tetap mengacu pada Peraturan pemerintah

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Peran Pemerintah Desa terhadap Pencegahan stunting di Desa Penuba Kecamatan Selayar Kabupaten Lingga, adapun metode penelitian yang