• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRUKTUR KOMUNITAS IKAN SUNGAI KAMPAR YA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STRUKTUR KOMUNITAS IKAN SUNGAI KAMPAR YA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

STRUKTUR KOMUNITAS IKAN SUNGAI KAMPAR YANG DIPENGARUHI PERUBAHAN MASSA AIR AKIBAT BENDUNGAN PLTA KOTOPANJANG

Oleh: Muhammad Fauzi*

*

Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau Email: [email protected]

Abstrak

Penelitian ini dilakukan pada sungai Kampar di bagian hilir Bendungan PLTA Kotopanjang mulai dari Rantau Berangin hingga Danau Bingkuang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas ikan di hilir bendungan. Suhu air selama penelitian berkisar antara 26-27oC, DHL 41-47,50umhos/cm, Turbiditas 7,4 9,3 NTU, Kecerahan 90 105 cm, oksigen terlarut 6,57-7,20 ppm, karbondioksida 4,0-4,30 ppm dan pH 6 6,5. Komposisi ikan yang ditemukan terdiri dari 14 famili yang tersusun dalam 49 jenis ikan yaitu famili Cyprinidae, Cobitidae, Clariidae, Bagridae, Siluridae, Pangasiidae, Notoperidae, Helostomatidae, Mastacembelidae, Ophicephalidae, Osphronemidae, Pristolepididae, Belonteiidae, dan Anabantidae. Komposisi ikan terbesar dari famili Cypdnidae yaitu 30 jenis selanjutnya dari famili Bagridae yaitu 3 jenis. Indeks kekayaan jenis dan keragaman (diversitas) menunjukkan bahwa struktur komunitas ikan tergolong sedang dan belum terlihat pengaruh bendungan PLTA Kotopanjang terhadap komposisi dan struktur komunitas ikan. Struktur komunitas ikan di Sungai Kampar pada bagian hilir bendungan PLTA Kotopanjang dipengaruhi oleh faktor oksigen terlarut.

Keywords: Struktur Komunitas, Ikan, indeks keragaman, indeks dominansi, sungai kampar, bendungan

PENDAHULUAN

Struktur komunitas ikan di sungai sangat tergantung pada keadaan faktor fisika kimia airnya. Pada sungai yang cukup panjang, secara alami faktor fisika kimia air berbeda antara bagian hulu, tengah dan hilir. Perbedaan yang jelas adalah pada keadaan dasar sungai yaitu berbatu, berpasir atau berlumpur, yang semuanya itu terkait dengan kecepatan arus sungai. Selain itu, kecepatan arus itu juga berpengaruh terhadap kandungan oksigen terlarut di air. Faktor fisika kimia itulah yang besar artinya dalam menentukan struktur komunitas ikan antara hulu, tengah dan hilir sungsi. Selain itu, perubahan pemanfaatan daerah pinggir sungai oleh penduduk juga akan berpengaruh terhadap kualitas air, yang sudah tentu akan berpengaruh terhadap komunitas ikan.

Sungai Kampar adalah salah satu sungai besar dari empat sungai utama di

Propinsi Riau. Sungai ini berhulu di Bukit Barisan dan bermuara di pantai Timur Sumatra. Pada bagian hulu Sungai Kampar telah dibangun bendungan untuk pembangkit listrik. Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) tersebut dinamakan PLTA Kotopanjang. PLTA Kotopanjang terletak di daerah sekitar Rantau Berangin. Sungai Kampar sangat penting peranannya, karena sebagai sumber air bagi PLTA Kotopanjang, industri, irigasi, perikanan, transportasi, rekreasi, air minum dan MCK. Selain itu masyarakat dan industri yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampar menjadikan pula aliran sungai ini sebagai sarana pembuangan limbahnya. Kegiatan ini juga memberikan sumbangan terhadap penurunan kualitas air Sungai Kampar.

(2)

Perubahan hidrologis depat meliputi berkurangya massa air, tidak ada lagi banjir musiman yang membawa nutrien bagi hilir sungai, arus air sungai tidak cepat lagi dan peningkatan suhu air serta perubahan terhadap komposisi dan komunitas ikan. Sungai yang terganggu kondisi hidrologis akan menyebabkan terjadinya fragmentasi pada ekologi dan biologi organisme perairan (Lusk,1995). Pada bagian hilir bendungan PLTA Kotopanjang telah menujukkan terjadi perubahan struktur komunitas plankton (Fauzi, Adriman dan Efrizal, 1999). Komposisi dan komunitas ikan pada suatu sungai erat sekali dengan faktor fisika dan kimia perairan seperti substrat, arus, dan alkalinitas (Fauzi, 1999).

Pembangunan PLTA

Kotopanjang yang membendung Sungai Kampar telah menenggelamkan 8 desa yang berada dalam Kecamtan XIII Koto Kampar Propinsi Riau dengan luas areal genangan 124 km2. Pembendungan sungai tersebut memberikan dampak terhadap kondisi hidrologis, oleh karena terjadi pengaturan air pada bendungan dan tertahannya hara pada waduk. Selanjutnya perubahan hidrologis ini akan memberikan dampak terhadap komposisi dan komunitas ikan. Akan tetapi seberapa besar dampak yang ditimbulkan terhadap komunitas ikan dibagian hilir bendungan PLTA Kotopanjang belum diketahui, diduga komposisi dan komunitas ikan pada bagian hilir akan terkena dampak terhadap perubahan tata air tersebut. Untuk mengetahui perubahan kondisi hidrologis akibat bendungan PLTA Kotopanjang terhadap komposisi dan komunitas ikan khususnya pada bagian hilir waduk maka diperlukan suatu penelitian.

Penelitian ini bertujuan yaitu untuk mengetahui komposisi dan komunitas ikan di bagian hilir bendungan PLTA Kotopanjang yang meliputi : faktor fisika-kimia, komposisi

dan kelimpahan ikan dan faktor fisika dan kimia yang mempengaruhi struktur komunitas ikan di hilir bendungan PLTA Kotopanjang.

METODOLOGI PENELITIAN

Tempat penelitian yaitu bagian hilir bendungan PLTA Kotopanjang mulai deri Rantau Berangin ke Danau Bingkuang. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah formalin 40%, alkohol 70%, aquades, kertas pH, larutan MnS04, KOH/KI, H2SO4 pekat,

NaS2O3 0,0125 N dan larutan amilum

1%. Alat yang dipergunakan adalah tangguk, jaring ingsang dengan mesh size 3/4 inchi dan panjang 75 m dan 1ebar 1,25 m, jala tebar ukuran mesh 3/4 inch ketinggian 1,25 m, accu 12 volt,

“stop watch”, meteran, timbangan ohaous, termometer air raksa, pH meter 3051 Jenway, ember, erlemeyer, gelas ukur, pipet tetes, pipet ukur, buret dan standar, botol koleksi, botol sampel air 250 ml, baki plastik, label dan alat-alat tulis.

Stasiun Penelitian. Lokasi penelitian ditetapkan secara purposive sampling pada aliran Sungai Kampar bagian hilir bendungan PLTA Kotopanjang, yaitu Stasiun I pada lokasi Rantau Berangin awal aliran air keluar dari bendungan PLTA, Stasiun II pada lokasi Kuok, Stasiun III pada lokasi Bangkinang, Stasiun IV di Air Tiris, Stasiun V pada Desa Kampar dan stasiun VI di lokasi Danau Bingkuang.

(3)

(1995), Ng and Lim (1993), Lim, Ng and Kottelat (1990),

Analisis Data. Keanekaragaman disusun oleh dua komponen: (1) jumlah total spesies dan (2) eveness (bagaimana data kelimpahan terdistribusi diantara spesies). Indek Richness mengunakan Indek Margalef (Da) (Maguran, 1988), Indek Keanekaragaman Shannon-wiener (Krebs, 1988), Eveness Shannon adalah X = H' / H' maks; H' maks = log s (Maguran, 1988). Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis (PCA)), jenis-jenis ikan yang dipergunakan data kualitatif (ada-tidak). Selanjutnya dibuat jenis ikan (baris) dan stasiun penelitian (kolom) (Ludwing dan Reynold (1989)).

Selanjutnya nilai dari koordinat pada PC 1 dan PC 2 dihubungkan dengan faktor fisika dan kimia dengan mengunakan rumus: regresi linear sederhana. Analisis data dilakukan dengan mengunakan bantuan program Ecostat dari Ludwing dan Reynold (1989) dan Statistical Package for Social Science (SPSS) for windows release 6.0 (1993).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Suhu Air. Hasil pengukuran faktor fisika dan kimia Air Sungai Kampar pada stasiun dapat dilihat pada Tabel 1. Suhu air Sungai Kampar 26 - 27,5 oC.

Suhu tertinggi selama penelitian ditemukan pada titik sampling Air Tiris dan terendah pada Rantau Berangin dan Danau Bingkuang. Secara umum terlihat bahwa suhu air pada hulu sungai rendah dan meningkat pada titik sampling Air Tiris selanjutnya turun kembali. Hal ini sangat erat dengan keadaan tepi sungai yang ditumbuhi oleh pohon atau tidak. Pada titik sampling air tiris tepi sungai cenderung sudah terbuka sehingga suhu air lebih tinggi dibandingkan dengan suhu air pada titik sampling lain. Kerapatan vegetasi disekitar tepi sungai dapat meningkatkan suhu udara selanjutnya akan meningkatkan suhu air (Ho and Furtado, 1982, Burkholder and Sheath, 1985). Rata-rata suhu air Sungai Kampar selama penelitian 26,61 OC dengan standar error 0,238 .

Daya Hantar Listrik (DHL). DHL air Sungai Kampar berkisar antara 41 - 47,50 µmhos/ cm (Tabel 1). DHL tertinggi ditemui pada titik sampling Rantau Berangin dan terendah pada titik sampling Kampar. Pola DHL semakin ke hilir umumnya meningkat namun hasil ini berbeda dengan pola umum DHL pada sungai, rata-rata kandungan DHL 43,517 µmhos/ cm dan standar deviasi 2,454. Kandungan DHL pada hilir bendungan PLTA Kotopanjang dapat dikatakan normal (Goldman and Home, 1983).

Tabel 1. Rata-rata parameter fisika dan kimia perairan

No. Parameter Satuan Rantau Berangin

Kuok Bangkinang Air Tiris

Kampar Danau Bingkuang

1 Suhu oC 26 26.27 27 27.5 26.5 26

2 DHL umhos 47.5 44.5 44.5 41.6 41 42

3 Turbiditas NTU 7.4 8.9 8.3 8.9 8.95 9.3

4 Kecerahan Cm 105 103.33 90 90 90 90

5 DO ppm 6.6 6.8 6.5 7.2 6.8 6.8

6 CO2 ppm 4.1 4.3 4 4.1 4.1 4.3

7 pH 6 6 6 6 6.5 6

Turbiditas dan Kecerahan. Turbiditas air sungai Kampar rata-rata 8,625 NTU

(4)

Rantau Berangin. Rata-rata kecerahan air 94,72 dengan standar deviasi 7,33 (Tabel 1). Kecerahan tertinggi dijumpai pada Rantau Berangin dan terendah dijumpai mulai dari Bangkinang hingga Danau Bingkuang. Apabila diperhatikan hasil pengukuran turbiditas dan kecerahan tidak terlihat adanya hubungan. Hal ini dapat diduga karena pengaruh arus air sungai. Pada lokasi Rantau Berangin dan Kuok arus air tidak begitu kuat sehingga sehingga mempengaruhi dalam pembacaan secchi. Selain itu, dapat juga dipengaruhi oleh kandungan bahan-bahan yang terlarut di badan air. Turbiditas air dapat disebabkan oleh mikroorganisme dan peningkatan partikel bahan terlarut (Bonetto, (1975) dalam Bruton (1985).

Faktor-faktor yang mempengaruhi turbiditas di sungai antara lain oleh dekomposisi dari batu-batuan, tanah dan tumbuhan yang terbawa dari daratan ke perairan oleh hujan. Turbiditas juga dapat disebabkan oleh fitoplankton, zooplankton dan bahan-bahan organik terlarut. Kisaran turbiditas air Sungai Kampar pada bagian hilir bendungan PLTA Kotopanjang menurut klasifikasi Cyrus (1983) dalam Bruton (1985) tergolong agak jernih.

Oksigen Terlarut (DO) dan C02.

Kandungan oksigen terlarut berkisar antara 6,50 - 7,20 ppm (Tabel 1) dengan rata-rata 6,783 ppm dan standar deviasi 0,240. Kandungan oksigen tertinggi dijumpai pada titik sampling Air Tiris dan terendah pada titik sampling Bangkinang. Kandungan oksigen terlarut di sungai sangat dipengaruhi oleh kecepaten arus. Arus air akan mempercepat proses absorbsi oksigen yang ada di udara (Goldman and Horne. 1983). Secara umum kandungan oksigen pada setiap titik sampling tidak begitu berbeda.

Kandungan C02 berkisar antara

4,0 - 4,30 ppm dengan rata-rata 4,150 ppm (Tabel 1) dan standar deviasi 0, 122. Kandungan C02 terendah dijumpai pada

titik sampling Bangkinang dan tertinggi di Kuok dan Danau Bingkuang. Kandungan C02 ini erat sekali

dipengaruhi oleh bahan-bahan organik sungai. Apabila diperhatikan kisaran C02

di air Sungai Kampar ini menunjukkan dapat mendukung kehidupan ikan, karena untuk hidup ikan normal kandungan C02 di badan air harus kurang

dari 5 ppm (Boyd, 1979).

pH. Kandungan pH di Sungai Kampar pada bagian hilir bendungan Kotopanjang berkisar antara 6 - 6,50 unit dengan rata-rata 6,083 standar deviasi 0,204. Nilai pH tertinggi dijumpai pada titik sampling Kampar. Secara umum nilai pH di Sungai Kampar tidak berbeda dimana air sungai mendekati normal. Nilai pH sangat dipengaruhi oleh kandungan kalsiurn di perairan. Nilai pH juga dapat turun apabila vegetasi disekitar tepi sungai ditebangi atau tidak ada hutan. Hal ini menimbulkan proses pengikisan material daratan ke perairan (Slack & Feltz, 1968 dalam Gurkholder & Sheath, 1985).

(5)

Tabel 2. Jenis Ikan yang ditemui di bagian hilir PLTA Kotopanjang

No. Taksa No Taksa No Taksa

CYPRINIDAE COBITIDAE

1 Barbichthys leavis 31 Botia hymenophysa OPHICEPHALIDAE

2 Barbodes balleroides 45 Ophiocephalus

striatus 3 Barbodes schwanefeldii CLARIDAE

4 Cyclocheilichys apogon 32 Clarias batrachus OSPHRONEMIDAE 5 Cyclocheilichys sp 33 Clarias teijsmanni 46 Osphronemus

goramy 6 Epalzeorhynchos kalopterus

7 Hampala macrolepidota BAGRIDAE PRISTOLEPIDIDAE 8 Labiobarbus fasciatus 34 Mystus nemurus 47 Pristolepis grootii 9 Labiobarbus kuhlii 35 Mystus nigriceps

10 Labiobarbus ocellatus 36 Mystus planiceps BELONTIIDAE

11 Labiobarbus sp 1 48 Sphaerichthys sp

12 Labiobarbus sp 2 SILURIDAE

13 Labiobarbus sumatranus 37 Ompok eugeneiatus ANABANTIDAE 14 Luciosoma trinema 38 Kryptopterus

macrocephalus

49 Anabas testudineus 15 Lobocheilus falcifer

16 Osteochilus borneensis PANGASIIDAE 17 Osteochilus hasseltii 39 Pangasius micronemus 18 Osteochilus microcephalus 40 Pangasius polyuranodon 19 Osteochilus schlegelii

20 Osteochilus sp NOTOPTERIDAE 21 Osteochilus waandersii 41 Chitola lopis 22 Oxygaster anomalura

23 Puntioplites waandersi HELOSTOMATIDAE 24 Puntius tetrazona 42 Helestoma temminckii 25 Rasbora dorsiocellata

26 Rasbora lateristriata MASTACEMBELIDAE 27 Rasbora reticulata 43 Mastecembelus maculatus 28 Rasbora sp 44 Mastacembelus

notophthalmus 29 Thynnichthys polylepis

30 Thynnichthys thynnoides

Komposisi ikan terbesar dari famili Cyprinidae yaitu 30 jenis, selanjutnya dari famili Bagridae yaitu 3 jenis. Komposisi jumlah ikan dari famili cyprinidae paling tinggi ditemukan yaitu 127 ekor. Selanjutnya dari famili Bagridae yaitu 17 ekor , Pristolepididae yaitu 12 ekor dan dari famili lain berkisar antara 1-6 ekor per famili (Gambar 1). Ikan-ikan dari famili cyprinidae ditemukan hampir di semua stasiun sampling, demikian juga jumlah jenisnya. Kelimpahan ikan dari famili Cyprinidae lebih umum dijumpai di

(6)

Gambar 1. Komposisi jenis ikan yang ditemui dalam famili

Ikan Hampala macrolepidota dijumpai hampir di tiap stasiun sampling. Selanjutnya ikan Osteochilus hasseltii dan Pristolepis grooti ditemukan hanya pada empat stasiun sampling. Ini berarti ikan-ikan tersebut terdistribusi dari Rantau Berangin hingga ke Danau Bingkuang. Hal ini kemungkinan karena sifat ikan Hampala yang predator, sehingga aktivitas mencari makanannya dapat terdistribusi yang luas. Akan tetapi bukan berarti ikan-ikan lain hanya terdistribusi terbatas, tetapi diperlukan studi yang lebih lama dengan mempertimbangkan waktu sampling sehingga dapat lebih menjelaskan distribusi ikan dan kelimpahannya.

Hasil penelitian ini juga dapat ditemukan ikan Belida (Chitala lopis). Ikan tersebut hanya ditemukan pada lokasi sampling Danau Bingkuang. Ikan Belida sudah jarang ditemukan dan sulit sekali didapatkan oleh masyarakat. Kesulitan mendapatkan ikan tersebut diduga karena habitat ikan tersebut sudah banyak rusak akibat aktifitas masyarakat di sungai. Aktivitas masyarakat meliputi penggalian pasir, batu-batu sungai,

membuang limbah rumah tangga serta limbah pasar ke sungai.

Ikan Botia (Botia hymenophysa) tergolong ikan hias yang banyak diminati oleh kolektor ikan. Hal ini disebabkan keindahan warna tubuhnya. Ikan Botia ini tidak aktif dan selalu tenang apabila diletakkan pada akuarium. Pada penelitian ini didapatkan juga ikan Botia yaitu pada sampling di lokasi Air Tiris.

Jumlah jenis, ikan yang ditemukan selama penelitian berkisar antara 11-18 jenis. Jumlah jenis yang terendah ditemukan pada lokasi Kuok dan Air Tiris, sedangkan yang tertinggi ditemukan pada lokasi Bangkinang. Secara umum jumlah jenis yang ditemukan antara lokasi sampling tidak begitu jauh berbeda. Hanya saja pada titik sampling Rantau Berangin hingga Bangkinang lebih banyak ditemukan ikan-ikan Cyprinidae, sedangkan mulai dari titik sampling Air Tiris hingga Danau Bengkuang sudah banyak jenis ikan dari famili selain Cyprinidae. Hal ini diduga karena perairan sudah semakin dalam dan arus air sungai tidak

62%

2% 4% 6% 4%

4% 2%

2% 4%

2%2% 2%2%2%

CYPRINIDAE

COBITIDAE

CLARIDAE

BAGRIDAE

SILURIDAE

PANGASIIDAE

NOTOPTERIDAE

HELOSTOMATIDAE

MASTACEMBELIDAE

OPHICEPHALIDAE

OSPHRONEMIDAE

PRISTOLEPIDIDAE

BELONTIIDAE

(7)

kuat lagi, sehingga banyak jenis yang mampu hidup pada perairan seperti demikian. Selain itu juga anak-anak sungai yang ada juga memberikan sumbangan keragaman jenis ikan. Pada bagian hilir sungai dimana perairan semakin dalam, air sungainya keruh akibat erosi dan bahan-bahan organik terlarut maka jenis ikan banyak yang ditemukan memiliki sungut (Kotelat et al., 1993). Sungut pada ikan berfungsi untuk membantu meraba makanan dan menunjuk arah gerakannya. Selain itu, di sungai juga terjadi perbedaan volume air, kekeruhan dan jenis endapan makanan yang tersedia, oleh sebab itu suatu komunitas ikan memiliki anggota yang suka terhadap lapisan sungai dan habitat tertentu (Prenda, Armitage and Grayston, 1997).

lkan-ikan cyprinidae yang banyak ditemukan pada titik sampling Rantau Berangin hingga Bangkinang diduga juga karena morfologi ikan yang pipih. Bentuk morfologi tubuh yang pipih dapat berlindung dibalik-balik batu dan celah-celah batu sehingga tidak hanyut terbawa arus air sungai yang deras (Odum, 1971).

Struktur Komunitas Ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekayaan jenis ikan pada Sungai Kampar di bagian hilir bendungan PLTA Kotopanjang berkisar antara 2,96-4,34 (Tabel 3). Kekayaan jenis tertinggi dijumpai pada lokasi sampling Bangkinang dan terendah dijumpai pada Air Tiris. Hal ini diduga kemungkinan aktivitas masyarakat seperti penangkapan ikan menggunakan racun, perubahan habitat akibat dari penggalian pasir dan batu sungai dan perubahan vegetasi pinggir sungai. Kakayaan jenis ikan sangat erat dengan proporsi jumlah ikan per jenis. Tingginya indeks kekayaan jenis pada Rantau Berangin

karena sebaran jumlah ikan yang dijumpai hampir sama. Kekayaan jenis ikan Kecenderungannya meningkat semakin ke hilir bendungan PLTA Kotopanjang.

Indeks Keragaman ikan berkisar antara 2,44-2,53 (Tabel 3). Indeks keragaman tertinggi pada Bangkinang dan terendah ditemukan pada Kuok. Secara umum keragaman ikan tergolong sedang. Hal ini disebabkan karena nilai indeks diversitas 2-3 Hasil ini masih belum dapat dipastikan pengaruh PLTA atau pengaruh lain. Akan tetapi sudah mulai menunjukkan adanya penurunan keragaman ikan.

(8)

Tabel 3. Struktur komunitas ikan bagian hilir PLTA Kotopanjang

No Parameter Stasiun

1 2 3 4 5 6

1 Jumlah 13 16 50 27 36 41

2 Jumlah jenis 12 11 18 11 14 15

3 Indeks Kekayaan Jenis

4.17 3.61 4.35 2.97 3.63 3.77

4 Indeks Keragaman 2.44 2.27 2.53 2.32 2.34 2.38 5 Indeks Dominansi 0.98 0.95 0.88 0.97 0.89 0.88

Keterangan: 1. Rantau Berangin, 2. Kuok, 3. Bangkinang, 4. Air Tiris, 5. Kampar, 6. Danau Bingkuang Berdasarkan analisis regresi berganda

antara faktor fisika dan kimia air sungai terhadap kekayaan jenis ikan, hanya faktor oksigen dan CO2 saja yang

memberikan hubungan yang berarti. Hasil analisis regresi berganda antara oksigen dan C02 terhadap menunjukkan

hubungan erat terhadap kekayaan jenis ikan, dimana R berganda = 0,9888 dan R2 = 0,9777, ini berarti oksigen dan karbodioksida mempengaruhi kekayaan jenis 97,77%.

Analisis ANOVA menunjukkan bahwa Fhitung = 65,9849 dan significan F =

0,0033. Ini berarti diterima hipotesis bahwa faktor oksigen dan karbondioksida mempengaruhi kekayaan jenis ikan di Sungai Kampar. Bentuk hubungan linear antara oksigen dan karbondioksida terhadap kekayaan jenis sebagai berikut:

Y = 17,9354 - 1,9690DO - 0,2002 C02

Secara parsial, hanya oksigen terlarut yang memberikan pengaruh yang nyata tertadap kekayaan jenis ikan. Hal ini dapat dilihat dari nilai thitung = 11,008

dan P-value = 0,0016.

Berdasarkan analisis regresi berganda antara faktor fisika dan kimia air sungai terhadap keragaman ikan, hanya faktor oksigen dan C02 yang memberikan

hubungan yang berarti. Hasil analisis berganda antara oksigen dan C02

terhadap menunjukkan hubungan erat terhadap keragaman ikan, dimana R

berganda = 0,8866 dan R2 = 0 7861. ini

berarti oksigen dan karbodioksida

mempengaruhi keragaman ikan 78,61 % dan 21,39% dipengaruhi oleh faktor lain.

Analisis ANOVA menunjukkan bahwa Fhitung = 5,5131 dan significan F =

0,0989. Ini berarti diterima hipotesis

bahwa faktor oksigen dan

karbondioksida mempengaruhi keragaman ikan di Sungai Kampar. Bentuk hubungan linear antara oksigen dan karbondioksida terhadap kekayaan jenis sebagai berikut:

Y = 5,6462 - 0,2416DO - 0,3917C02

Secara parsial, hanya oksigen terlarut yang memberikan pengaruh yang nyata terhadap kekayaan jenis ikan. Hal ini dapat dilihat dari nilai thitung = - 2,2380

dan P-value = 0, 1111.

(9)

Analisis Komponen Utama (PCA). Untuk melihat komposisi dan struktur komunitas ikan pada masing-masing sampling dilakukan analisis komponen utama (PCA). Hasil analisis menunjukkan bahwa eigenvalue untuk komponen 1 = 1,80615 dengan persen variance = 30,1%. Selanjutnya komponen 2 dengan persen variance = 20,2%, sehingga dua komponen tersebut baru membentuk 50,3%. Untuk lebih tinggi persen variance masih diperlukan komulatif komponen 3 - 5, sehingga persen kumulatif variance menjadi 94,5%.

Berdasarkan analisis komponen utama komunitas ikan yang ditemukan pada Sungai Kampar di hilir bendungan PLTA Kotopanjang bahwa titik sampling Kampar dan Danau Bingkuang sama. Hal ini dapat dilihat dengan tingginya nilai korelasi kedua stasiun sampling tersebut pada Komponen 1 (0,8635 dan 0,8377). Stasiun sampling Rantau Berangin, Kuok dan Bangkinang sama, hanya saja korelasi untuk stasiun Bangkinang berkorelasi negatif = -0,6017 terhadap komponen 2. Sedangkan titik sampling Air Tiris berbeda dengan yang lain dimana titik sampling tersebut lebih erat pada komponen 3 yaitu = 0,7805.

Selanjutnya analisis komponen utama dengan mengunakan strategi R didapatkan Eigenvalue untuk komponen 1 = 16,4932 atau persen variance 33,7%. Eigenvalue pada komponen 2 = 11,4476 atau persen variance 23,4% atau jumlah persen komponen 1 dan 2 = 57,0%. Ini berarti komponen 1 dan 2 baru dapat menjelaskan kondisi kesamaan habitat baru 57,0%. Untuk lebih lebih jelas diperlukan komponen 3 dan 4, sehingga persen varince menjadi 87,8%.

Berdasarkan nilai komponen utama disusun titik-titik ordinasi seperti yang

terlihat pada. Pada gambar tersebut terlihat bahwa stasiun 1 dan 2 sangat dekat atau dapat dikatakan sama. Stasiun 3 masih berhubungan dengan stasiun 1 dan 2 akan tetapi berkorelasi negatif. Stasiun 5 dan 6 lebih dekat atau sama, karena jumlah jenis ikan ditemukan lebih mirip di kedua tempat. Sedangkan stasiun 4 terletak sendiri hal ini disebabkan kelimpahan dan jenis ikan ditemukan peralihan dari stasiun 1, 2 serta stasiun 5, 6. Dari hasil analisis regresi terhadap kelima komponen, hanya komponen I dan 4 yang memberikan hubungan terhadap faktor fisika dan kimia air.

Hasil analisis regresi antara faktor fisik dan kimia air terhadap komponen 1 hanya karbondioksida yang memberikan hubungan yaitu r = 0,6489 dan nilai determinasi (R2) = 0,4211 atau 42,11 % saja kandungan karbondioksida dapat menjelaskan, sedangkan sisanya dari faktor lain.

Oksigen terlarut saja yang berhubungan dengan komponen 4 yaitu nilai r = 0,8245 dan R2 = 0,6798 atau 67,98%. Hasil analisis ANOVA menunjukkan Fhitung = 8,4940 dan significance F = 0,0435. Dengan bentuk linear oksigen terlarut dengan komponen 4 sebagai berikut :

Y = 23,2909 - 3,4336 oksigen

Ini berarti oksigen sangat erat menentukan komposisi dan struktur ikan.

KESIMPULAN

(10)

Osphronemidae, Pristolepididae, Belontiidae dan Anabantidae.

Komposisi ikan terbesar dari famili Cypdnidae yaitu 30 jenis selanjutnya dari famili Bagridae yaitu 3 jenis. Indeks kekayaan jenis dan keragaman (diversitas) menunjukkan bahwa struktur komunitas ikan tergolong sedang dan belum terlihat pengaruh bendungan PLTA Kotopanjang terhadap komposisi dan struktur komunitas ikan. Struktur komunitas ikan di Sungai Kampar pada bagian hilir bendungan PLTA Kotopanjang dipengaruhi oleh faktor oksigen terlarut.

UCAPAN TERIMAKASIH

Terima kasih kepada Universitas Riau yang telah memberikan bantuan dana penelitian ini dan kepada adik-adik mahasiswa yang telah membantu dalam penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, A.B., dan M.S. Kathergany. 1987. Preliminary investigation on standing stocks, habitat preference and effects of water level on riverine fish population in a tropical river. Trip. Ecol. 28: 264-273.

Boyd, C.E., 1979. Water quality in warmwater fish ponds. Auburn University press, Auburn, Alabama, USA.

Bruton, M.N., 1985. The effect os suspensoids on fish. Hidrobiologia 125: 221-241 Burkholder, J.M., and R.G. Sheath.

1985. Characteristic of softwater streams in Rhode Island, I. A. comparative analysis of physical and chemical variables. Hydrobiologia 128: 97-108 Bussing, W.A.,1993. Fish communities

and environmental

characteristics of a tropical rain forest river in Costa Rica. Revista de Biologia Tropical 41 (3 Part B): 791-809.

Fauzi, M., 1999. Struktur Komunitas ikan di sungai Selagan Bengkulu Utara. Laporan Penelitian Lembaga Penelitian Universitas Riau.

Fauzi, M., Adriman dan T.Efrizal, 1999. Struktur komunitas plankton di sungai kampar, Riau, Laporan Penelitian Lembaga Penelitian Universitas Riau.

Goldman, C.R., and A.J. Horne, 1983. Limnology. McGraw-Hill International Book Company, Singapore.

Harrison, T.D., and A.K. Whitfield, 1995. Fish community structure in three temporarily open/ closed estuaries on the Natal coast, Ichthyological Bulletin 64: 1-80

Ho, S.C., and J.I.. Furtado, 1982. The limnology of lowland streams in west Malaysia, Tropical Ecology 23 (1): 86-97.

Kottelat , M., 1985. Freshwater fishes of Kampuchea. Hydorbiologia 121: 249-279.

Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N.

Kartikasari dan S.

Wirhoatmodjo. 1993. Freshwater fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Periplus-Indonesia (EMDI) Project, Hongkong-Indonesia.

(11)

Lim, K.K.P., P.K.L. Ng dan M. Kottelat, 1990. On a collection of freshwater fishes form Endau-Rompin, Pahang-Johore, Peninsular Malaysia, Raffles Bull. Zoology 38 (1): 31-54. Lowe-McConnell, R.H., 1975. Fish

communities in tropical freshwaters. Longman, London.

Ludwig, J.A., dan J.F.Reynolds, 1988. Statistical ecology: a primer on methods and computing. John Wiley & Sons, New York, USA

Lusk, S., 1995. Influence of valley dams on the changes in fish communities inhabiting streams in the Dyje river drainage area. Folia Zoologica 44 (1): 45-56.

Maguran, A.E., 1988. Ecology Diversity and its measurement. Princeton University Press, Princeton, New Jersey, USA

Odum, E.P., 1971. Fundamentals of Ecology. Sauders Collage, USA.

Prenda, J., P.D. Armitage, and A.Grayston, 1997. Habitat use by the fish assemblages of two Chalk streams. Journal of Fish Biology 51: 64-79.

Rahel, F.J., 1984. Factors structuring fish assemblages along a bog lake succesional gradient. Ecology 65 (4): 1276-1289. Saanin, H., 1984. Taksonomi dan kunci

identifikasi ikan. Bina Cipta, Bandung, Indonesia.

Starmach, J., T. Fleituch, A. Amirowicz, G. Mazurkiewicz, and M. Jelonek. 1991. Longitudinal patterns in fish communities in a Polish mountain river: The relations to abiotic and biotic factors. Acta Hydrobiologica 33 (3-4): 353-366.

Vaas, K.F., M. Sachlan dan G. Wiraatmadja, 1953. On the ecology and fisheries of some inland waters along the rivers Ogan and Komering in South-east Sumatera. Cont.Inl.Fish.Res St. 3. 1-32.

Gambar

Tabel 1. Rata-rata parameter fisika dan kimia perairan
Tabel 2. Jenis Ikan yang ditemui di bagian hilir PLTA Kotopanjang
Gambar 1. Komposisi jenis ikan yang ditemui dalam famili  Ikan
Tabel 3. Struktur komunitas ikan bagian hilir PLTA Kotopanjang No Parameter Stasiun

Referensi

Dokumen terkait

1. Kegiatan orientasi belajar mengaji di Masjid Miftahul Jannah dilakukan dengan santri memperkenalkan diri masing-masing santri. Santri akan di beri tes kemampuan

Diketahui 2 buah titik A(2,1) dan titik B(8,5) bila titik A sebagai titik awal dan titik B sebagai titik akhir, maka buatlah garis yang menghubungkan titik tersebut dengan

Anak yang berasal dari keluarga broken home lebih memilih meninggalkan keluarga dan hidup sendiri sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sering mengambil keputusan

Dalam paper ini kompensasi kenaikan tahanan rotor dirancang berdasarkan perbedaan nilai arus magnetisasi yang diperoleh dari fluks model dan arus magnetisasi yang

113 dari berbagai negara sedangkan di perairan Lampung memiliki potensi lobster yang cukup memadai, rendahnya kesadaran masyarakat khususnya pelaku tindak pidana

Secara tertulis, apabila atas pertimbangan pejabat yang berwenang menjatuhkan sanksi, pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh mahasiswa yang bersangkutan akan dapat

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan mengenai pola permukiman madura, konsep ruang, konsep vegetasi, dan konsep sirkulasi maka konsep desain permukiman tradisional

1,3,4,5,12,28,34 Pada melasma tipe dermal, yang terlihat berwarna abu-abu kebiruan, pigmen melanin yang diproduksi oleh melanosit epidermal memasuki papilla dermis dan diambil