• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peraturan Perundangan PP NO 24 TH 1991

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peraturan Perundangan PP NO 24 TH 1991"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

NOMOR 2 4 TAHUN 1 9 9 1 TENTANG

PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa unt uk lebih meningkat kan peranan t elekomunikasi dalam menunj ang pembangunan nasional, dipandang perlu mengat ur penyelenggaraan t elekomunikasi;

b. bahwa sehubungan dengan hal t ersebut dan sebagai pelaksanaan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1989, maka penyelenggaraan t elekomunikasi perlu diat ur dengan Perat uran Pemerint ah;

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;

2. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1989 t ent ang Telekomunikasi (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3391);

MEMUTUSKAN :

Menet apkan : PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Perat uran Pemerint ah ini yang dimaksud dengan:

(2)

elekt romagnet ik lainnya.

2. Penyelenggaraan t elekomunikasi adalah kegiat an penyediaan dan pelayanan sarana dan/ at au f asilit as t elekomunikasi sehingga memungkinkan t erselenggaranya t elekomunikasi.

3. Alat Telekomunikasi adalah set iap alat perlengkapan yang digunakan dalam bert elekomunikasi.

4. Perangkat Telekomunikasi adalah sekelompok alat t elekomunikasi yang memungkinkan bert elekomunikasi.

5. Jaringan t elekomunikasi adalah rangkaian perangkat t elekomunikasi dan kelengkapannya yang digunakan dalam rangka bert elekomunikasi.

6. Sarana t elekomunikasi adalah segala sesuat u yang dapat dipergunakan dalam bert elekomunikasi yang dapat berupa j aringan t elekomunikasi at au f asilit as t elekomunikasi.

7. Terminal adalah perangkat t elekomunikasi yang merupakan bagian uj ung j aringan t elekomunikasi t empat masukan/ keluaran yang berf ungsi mengubah inf ormasi yang dapat diindera manusia menj adi sinyal elekt romagnet ik unt uk dikirim melalui j aringan t elekomunikasi, at au sebaliknya.

8. Pemancar radio adalah alat t elekomunikasi yang menggunakan dan memancarkan gelombang radio.

9. Jasa t elekomunikasi adalah j asa yang disediakan oleh badan penyelenggara at au badan lain bagi masyarakat unt uk memenuhi kebut uhan bert elekomunikasi dengan menggunakan f asilit as t elekomunikasi.

(3)

11. Jasa t elekomunikasi bukan dasar adalah j asa t elekomunikasi di luar j asa t elekomunikasi dasar yang t imbul karena peningkat an karakt erist ik dan kemampuan sarana t elekomunikasi dengan menggunakan komput er at au perangkat lain unt uk mengolah dan/ at au menyimpan dat a dan inf ormasi.

12. Penyelenggaraan j asa t elekomunikasi adalah penyelenggaraan t elekomunikasi unt uk memenuhi kebut uhan masyarakat .

13. Badan penyelenggara adalah badan usaha milik Negara yang bent uk usahanya sesuai dengan perat uran perundang-undangan yang berlaku, yang bert indak sebagai pemegang kuasa penyelenggaraan j asa t elekomunikasi.

14. Badan lain adalah badan hukum di luar badan penyelenggara yang berbent uk koperasi, badan usaha milik daerah at au badan usaha swast a nasional, yang berusaha dalam penyelenggaraan j asa t elekomunikasi.

15. Penyelenggaraan t elekomunikasi unt uk keperluan khusus adalah penyelenggaraan t elekomunikasi yang dilakukan oleh inst ansi Pemerint ah t ert ent u, perseorangan at au badan hukum, unt uk keperluan khusus at au keperluan sendiri.

16. Ment eri adalah Ment eri yang bert anggung j awab di bidang t elekomunikasi.

Pasal 2

(1) Penyelenggaraan t elekomunikasi dilaksanakan oleh Pemerint ah

(2) Penyelenggaraan t elekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliput i:

a. penyelenggaraan j asa t elekomunikasi;

b. penyelenggaraan t elekomunikasi unt uk keperluan khusus;

(4)

keamanan negara.

(3) Penyelenggaraan t elekomunikasi unt uk keperluan pert ahanan keamanan negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf c diat ur t ersendiri dengan Perat uran Pemerint ah.

BAB II

PENYELENGGARAAN JASA TELEKOMUNIKASI Bagian Pert ama

Kewenangan Penyelenggaraan

Pasal 3

(1) Pemerint ah melimpahkan kewenangan penyelenggaraan j asa t elekomunikasi kepada badan penyelenggara.

(2) Penyelenggaraan j asa t elekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)t erdiri dari:

a. penyelenggaraan j asa t elekomunikasi dalam negeri;

b. penyelenggaraan j asa t elekomunikasi int ernat ional.

(3) Badan penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah badan usaha milik Negara yang dibent uk unt uk it u sesuai dengan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 4

(5)

Pasal 5

(1) Badan lain dalam penyelenggaraan j asa t elekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 merupakan mit ra usaha badan penyelenggara.

(2) Kerj a sama dalam penyelenggaraan j asa t elekomunikasi dasar oleh badan lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) t idak melepaskan kewenangan badan penyelenggara.

Pasal 6

Badan lain dalam menyelenggarakan j asa t elekomunikasi dasar dan bukan dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 waj ib memiliki izin dari Ment eri.

Pasal 7

Ket ent uan lebih lanj ut mengenai persyarat an, t at a cara perizinan, lingkup dan pedoman kerj a sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dit et apkan oleh Ment eri.

Pasal 8

Badan lain unt uk dapat melaksanakan penyelenggaraan j asa t elekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 waj ib memenuhi persyarat an:

a. mempunyai lingkup usaha di bidang penyelenggaraan j asa t elekomunikasi;

b. berbent uk badan hukum Indonesia;

c. menggunakan j aringan t elekomunikasi milik badan penyelenggara;

(6)

Ment eri.

Pasal 9

(1) Dengan t idak mengurangi ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 badan yang oleh Negara diberi kewenangan mengelola pos dan giro dapat menerima, membawa dan/ at au menyampaikan t ulisan dan/ at au gambar, dari suat u kant or pos dan giro ke kant or lain unt uk pelayanan umum yang proses pengirimannya menggunakan j aringan t elekomunikasi milik badan penyelenggara.

(2) Dalam memberikan pelayanan umum, badan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memungut biaya sesuai dengan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

Bagian Kedua

Jenis Jasa Telekomunikasi

Pasal 10

(1) Jenis j asa t elekomunikasi dasar meliput i j asa t elepon, t elex, t elegram, sambungan komunikasi dat a paket , sirkit langganan, dan kanal t elekomunikasi.

(2) Jenis j asa t elekomunikasi dasar selain yang dimaksud dalam ayat (1) dit et apkan oleh Ment eri.

Pasal 11

(1) Jenis j asa t elekomunikasi bukan dasar dikelompokkan dalam

a. kelompok suit sing;

b. kelompok t erminal;

(7)

d. kelompok t ransaksional.

(2) Perincian lebih lanj ut masing-masing kelompok j enis j asa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dit et apkan oleh Ment eri.

Bagian Ket iga Jaringan Telekomunikasi

Pasal 12

Badan penyelenggara waj ib membangun at au menyediakan j aringan t elekomunikasi.

Pasal 13

(1) Pelanggan j asa t elekomunikasi dapat menyediakan sendiri t erminal yang digunakan dan kabel t elekomunikasi di dalam gedung.

(2) Ket ent uan mengenai t at acara penyediaan t erminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dit et apkan oleh Ment eri.

Bagian Keempat Tarip

Pasal 14

Tarip j asa t elekomunikasi dibedakan dalam dua j enis:

a. t arip j asa t elekomunikasi dasar yang t erdiri dari t arip j asa t elekomunikasi dasar dalam negeri dan t arip j asa t elekomunikasi dasar int emasional;

b. t arip j asa t elekomunikasi bukan dasar.

Pasal 15

(1) St rukt ur t arip j asa t elekomunikasi dasar dalam negeri t erdiri dari

(8)

b. t arip khusus.

(2) Tarip dasar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a merupakan t arip yang digunakan sebagai dasar perhit ungan biaya hubungan

a. j asa t elepon dan t elex yait u t arip pulsa;

b. j asa t elegram yait u t arip kat a;

c. j asa sambungan komunikasi dat a paket yait u t arip volume (segment ) dat a dan t arip lama percakapan;

d. jasa sirkit langganan dan kanal t elekomunikasi yait u t arip pemakaian dengan j angka wakt u.

(3) Tarip khusus sebagaimana di maksud dalam ayat (1) huruf b merupakan t arip unt uk pemasangan dan penggunaan f asilit as t elekomunikasi yang dit et apkan menurut j enis f asilit as dan/ at au keadaan suat u daerah yang t erdiri dari :

a. biaya pasang;

b. biaya berlangganan bulanan;

c. biaya pemakaian f asilit as;

d. biaya f asilit as t ambahan lainnya.

Pasal 16

Besarnya t arip j asa t elekomunikasi dasar dalam negeri sebagaimart a dimaksud dalam Pasal 15 dit et apkan oleh Ment eri.

Pasal 17

(9)

Pasal 18

St rukt ur dan besarnya t arip j asa t elekomunikasi bukan dasar dit et apkan oleh badan penyelenggara dan/ at au badan lain set elah mendapat perset uj uan Ment eri.

Bagian Kelima Rahasia Berit a

Pasal 19

Badan penyelenggara dan/ at au badan lain waj ib memat uhi ket ent uan yang berlaku mengenai kerahasiaan berit a sebagaimana diat ur dalam Pasal 31 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1989 t ent ang Telekomunikasi.

Pasal 20

Penyampaian rekaman berit a oleh badan penyelenggara dan/ at au badan lain kepada pemakai j asa t elekomunikasi at as permint aan pemakai j asa yang bersangkut an unt uk keperluan pembukt ian pemakaian f asilit as t elekomunikasi, t idak merupakan pelanggaran t erhadap kewaj iban menj amin kerahasiaan berit a sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19.

Bagian Keenam Hak dan Kewaj iban

Pasal 21

(10)

inst ansi/ depart emen/ lembaga at au pihak lain.

(2) Biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) menj adi beban dan t anggung j awab inst ansi/ depart emen/ lembaga at au pihak lain yang melakukan kegiat an at au menghendaki adanya pemindahan at au perubahan t ersebut .

Pasal 22

Badan penyelenggara dan/ at au badan lain waj ib memenuhi set iap permohonan dari calon pemakai j asa t elekomunikasi yang t elah memenuhi syarat -syarat berlangganan j asa t elekomunikasi sepanj ang j aringan t elekomunikasi t ersedia.

Pasal 23

(1) Tat a cara pengaj uan dan penyelesaian keberat an at as set iap kerugian yang t imbul at as penggunaan j asa t elekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1989 diat ur sebagai berikut :

a. bagi pemakai j asa t elepon, t elex, t elegram dan f acsimile melalui kamar bicara umum at au warung t elekomunikasi at au pusat pelayanan, keberat an diaj ukan secara t ert ulis kepada badan penyelenggara dan/ at au badan lain selambat -lambat nya 7 (t uj uh) hari sej ak di-ket ahui t imbulnya kerugian dengan melampirkan

1) t anda bukt i diri yang sah dari pemakai;

2) laporan kej adian yang mengakibat kan kerugian;

3) t anda bukt i pembayaran;

(11)

7 (t uj uh) hari set elah laporan gangguan dengan melampirkan kuit ansi pembayaran bulan t erakhir.

(2) Badan penyelenggara dan/ at au badan lain mengadakan pemeriksaan berdasarkan laporan keberat an sebagaimana dimaksud dalam ayat (l).

(3) Keput usan perset uj uan at au penolakan pemberian gant i kerugian dit et apkan oleh badan penyelenggara dan/ at au badan lain dalam j angka wakt u selambat -lambat nya 30 (t iga puluh) hari set elah dit erimanya keberat an.

(4) Penolakan keberat an sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) disert ai dengan alasan-alasannya.

(5) Tat a cara pembayaran gant i kerugian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diat ur sebagai berikut :

a. unt uk pemakai j asa t elepon, t elex, t elegram, f acsimf le, dari kamar bicara umum at au warung t elekomunikasi at au pusat pelayanan, dibayarkan di lokasi kamar bicara umum, warung t elekomunikasi, pusat pelayanan yang bersangkut an dengan menunj ukkan surat panggilan unt uk menerima gant i kerugian;

b. unt uk pelanggan sambungan t elepon, f acsimile, t elex, sambungan komunikasi dat a paket , sirkit langganan dan kanal t elekomunikasi dibayarkan melalui rest it usi pada t agihan bulan berikut nya.

Pasal 24

Besarnya gant i kerugian dit et apkan sebagai berikut

a. pemakaian j asa t elekomunikasi dari kamar bicara umum at au warung t elekomunikasi at au pusat pelayanan, sebesar 3 (t iga) kali biaya yang dibayar oleh pemakai j asa;

(12)

sej ak dit erimanya laporan gangguan dibebaskan dari kewaj iban membayar biaya berlangganan bulanan pada bulan yang bersangkut an;

c. sambungan sirkit langganan dan kanal t elekomunikasi sebesar biaya yang seharusnya dibayar oleh pelanggan selama t erj adinya gangguan t erhit ung sej ak dit erimanya laporan gangguan berdasarkan biaya pemakaian f asf lit as perbulan.

Pasal 25

Tat a cara pembayaran dan besarnya gant i kerugian j enis j asa t elekomunikasi dasar lainnya dan j asa t elekomunikasi bukan dasar diat ur lebih lanj ut oleh Ment eri.

Pasal 26

Penyelesaian at as set iap kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 t idak menut up kemungkinan penggunaan upaya hukum lainnya.

BAB III

PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI UNTUK KEPERLUAN KHUSUS

Pasal 27

(13)

Pasal 28

Penyelenggaraan t elekomunikasi unt uk keperluan khusus meliput i

a. t elekomunikasi unt uk pelaksanaan t ugas khusus inst ansi Pemerint ah t ert ent u;

b. t elekomunikasi yang diselenggarakan oleh perseorangan;

c. t elekomunikasi yang diselenggarakan oleh badan hukum.

Pasal 29

(1) Penyelenggaraan t elekomunikasi unt uk pelaksanaan t ugas khusus inst ansi pemerint ah t ert ent u sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf a meliput i ant ara lain:

a. pencarian dan penyelamat an j iwa manusia;

b. navigasi radio unt uk perhubungan;

c. met eorologi dan geof isika;

d. radio republik Indonesia dan t elevisi republik Indonesia;

e. radio ast ronomi;

f . penginderaan dan pengendalian j arak j auh oleh pemerint ah;

g. sist im komunikasi kehut anan oleh pemerint ah;

h. radio konsesi unt uk kegiat an pemerint ah.

(2) Penyelenggaraan telekomunikasi unt uk keperluan khusus oleh perseorangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf b meliput i ant ara lain:

a. komunikasi radio ant ar penduduk;

b. komunikasi kawat ant ar penduduk;

c. radio amat ir.

(14)

badan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf c meliput i ant ara lain penyelenggaraan t elekomunikasi unt uk

a. radio siaran swast a;

b. t elevisi siaran swast a;

c. t elekomunikasi keret a api;

d. radio konsesi unt uk kegiat an pert ambangan minyak dan gas bumi;

e. radio konsesi unt uk kegiat an pengusahaan hut an.

(4) Penyelenggaraan t elekomunikasi unt uk keperluan khusus selain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) dit et apkan oleh Ment eri.

Pasal 30

(1) Penyelenggara t elekomunikasi unt uk keperluan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 waj ib mendapat kan izin penyelenggaraan darl Ment eri.

(2) Persyarat an dan t at acara pemberian izin penyelenggaraan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dit et apkan oleh Ment eri.

Pasal 31

(1) Penyelenggara t elekomunikasi unt uk keperluan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 huruf a dilarang menyelenggarakan j asa t elekomunikasi

(15)

Pasal 32

Penyelenggara t elekomunikasi unt uk keperluan khusus yang melaksanakan kegiat an sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (2) dapat memungut biaya sesuai t arip yang berlaku dan waj ib mengikut i ket ent uan-ket ent uan mengenai penyelenggaraan j asa t elekomunikasi.

Pasal 33

Penyelenggara t elekomunikasi unt uk keperluan khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 waj ib memenuhi persyarat an:

a. menggunakan sirkit langganan at au kanal t elekomunikasi milik badan penyelenggara;

b. menggunakan peralat an t elekomunikasi yang memenuhi persyarat an t eknis yang dit et apkan oleh Ment eri.

Pasal 34

Penyelenggaraan t elekomunikasi unt uk keperluan khusus oleh badan hukum hanya diizinkan unt uk hubungan ant ara kant or pusat dengan cabang-cabangnya at au ant ara cabang dengan cabang.

Pasal 35

(16)

BAB IV

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 36

Dengan berlakunya Perat uran Pemerint ah ini, semua perat uran pelaksanaan penyelenggaraan t elekomunikasi yang t elah ada dinyat akan t et ap berlaku sepanj ang t idak bert ent angan at au belum digant i dengan yang baru berdasar. kan Perat uran Pemerint ah ini.

BAB V

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 37

Dengan berlakunya Perat uran Pemerint ah ini, Perat uran Pemerint ah Nomor 22 Tahun 1974 sebagaimana t elah diubah dengan Perat uran Pemerint ah Nomor 53 Tahun 1980 t ent ang Telekomunikasi Unt uk Umum, dinyat akan t idak berlaku.

Pasal 38

Perat uran Pemerint ah ini mulai berlaku pada t anggal diundangkan.

(17)

Dit et apkan di Jakart a pada t anggal 20 April 1991

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

t t d

SOEHARTO

Diundangkan di Jakart a pada t anggal 20 April 1991

MENTERI/ SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA

t t d

(18)

PENJELASAN ATAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 4 TAHUN 1 9 9 1

TENTANG

PENYELENGGARAAN TELEKOMUNIKASI

UMUM

Penyelenggaraan t elekomunikasi mempunyai peranan yang pant ing dalam pembangunan bidang ekonomi, polit ik, sosial budaya dan pert ahanan keamanan negara sert a dalam menunj ang kelancaran pelaksanaan t ugas-t ugas pemerint ah.

Sesuai dengan ket ent uan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1989 penyelenggaraan j asa t elekomunikasi diserahkan oleh pemerint ah kepada badan penyelenggara yang berbent uk badan usaha milik negara, yang dibent uk unt uk it u dan bert indak selaku pemegang kuasa penyelenggara j asa t elekomunikasi yang meliput i penyelenggaraan j asa t elekomunikasi dalam negeri dan penyelenggaraan j asa t elekomunikasi int ernasional.

Badan penyelenggara t ersebut dit unt ut unt uk selalu berusaha memperluas j aringan t elekomunikasi khususnya badan penyelenggara j asa t elekomunikasi dalam negeri agar mengusahakan j aringan t elekomunikasinya dapat menj angkau ke seluruh wilayah t anah air.

(19)

Dalam pengat uran penyelenggaraan j asa t elekomunikasi dit et apkan bahwa unt uk j asa t elekomunikasi dasar, badan lain dapat ikut sert a menyelenggarakannya bekerj asama dengan badan penyelenggara, sedangkan unt uk j asa t elekomunikasi bukan dasar selain dapat diselenggarakan oleh badan penyelenggara at au diselenggarakan secara kerj a sama ant ara badan penyelenggara dan badan lain, dapat j uga diselenggarakan oleh badan lain it u sendiri.

Agar penyelenggaraan j asa t elekomunikasi t ersebut berdaya guna dan berhasil guna, kepada badan lain yang diizinkan menyelenggarakan j asa t elekomunikasi diwaj ibkan memanf aat kan j aringan t elekomunikasi dan sarana t elekomunikasi milik at au yang disediakan oleh badan penyelenggara.

Namun demikian, hal ini t idak menut up kemungkinan badan lain membangun j aringan t elekomunikasi at au sarana t elekomunikasi sendiri apabila belum t ersedia j aringan at au sarana t elekomunikasi milik badan penyelenggara, akan t et api perlu segera diikut i dengan pengalihan hak-hak at as j aringan t elekomunikasi yang dibangun oleh badan lain t ersebut kepada badan penyelenggara.

Lingkup kerj a sama penyelenggaraan j asa t elekomunikasi ant ara badan penyelenggara dengan badan lain dapat meliput i bidang pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan sarana t elekomunikasi. Keikut sert aan badan lain dalam melaksanakan kegiat an penyelenggaraan j asa t elekomunikasi dasar at as dasar kerj a sama dengan badan penyelenggara, t idak melepaskan kedudukan badan penyelenggara sebagai pemegang kuasa penyelenggaraan j asa t elekomunikasi.

(20)

sarana f asilit as t elekomunikasi yang dibangun dit et apkan oleh Ment eri. Prinsip yang dianut dalam rangka kerj a sama penyelenggaraan j asa t elekomunikasi ant ara badan penyelenggara dan badan lain, adalah prinsip yang saling mengunt ungkan dengan memperhat ikan sungguh-sungguh kepent ingan masyarakat t erut ama masyarakat pemakai j asa t elekomunikasi.

Berdasarkan sif at , bent uk kegunaan dan t at a cara penyelenggaraannya yang khusus, t erdapat j enis-j enis t elekomunikasi t ert ent u yang memang t idak dimaksudkan unt uk t uj uan penyelenggaraan j asa t elekomunikasi.

Dengan dit et apkannya Perat uran Pemerint ah mengenai penyelenggaraan t elekomunikasi sebagai perat uran pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 3 Tahun 1989 akan menj adi landasan hukum unt uk pengat uran penyelenggaraan j asa t elekomunikasi lebih lanj ut yang akan dit et apkan oleh Ment eri, dan sekaligus menggant ikan Perat uran Pemerint ah Nomor 22 Tahun 1974 sebagaimana t elah diubah dengan Perat uran Pemerint ah Nomor 53 Tahun 1980 t ent ang Telekomunikasi Unt uk Umum.

PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

Angka 1

Cukup j elas

Angka 2

Cukup j elas

Angka 3

Cukup j elas

(21)

Cukup j elas

Angka 5

Cukup j elas

Angka 6

Sarana t elekomunikasi dapat disebut sebagai j aringan t elekomunikasi mengingat f ungsinya unt uk menghubungkan berbagai perangkat t elekomunikasi yang t ersebar menurut lokasi at au j enisnya sehingga memungkinkan t erselenggaranya t elekomunikasi. Sarana t elekomunikasi dapat disebut j uga sebagai f asilit as t elekomunikasi mengingat sarana t ersebut dapat diuraikan menj adi berbagai j enis bagian at au komponen sesuai dengan f ungsinya unt uk memberikan kemudahan t ert ent u, misalnya suit sing (swit ching) unt uk menyambungkan, t ransmisi unt uk menyalurkan dan sebagainya.

Angka 7

Cukup j elas

Angka 8

Cukup j elas

Angka 9

Cukup j elas

Angka 10

Cukup j elas

Angka 11

Cukup j elas

Angka 12

Cukup j elas

(22)

Cukup j elas

Angka 14

Cukup j elas

Angka 15

Cukup j elas

Angka 16

Cukup j elas

Pasal 2

Ayat (1)

Cukup j el as

Ayat (2)

Cukup j elas

Ayat (3)

Cukup j elas

Pasal 3

Ayat (1)

Badan penyelenggara yang dimaksud adalah merupakan pemegang kuasa dari Pemerint ah unt uk menyelenggarakan j asa t elekomunikasi.

Ayat (2)

Cukup j elas

Ayat (3)

(23)

Pasal 4

Cukup j elas

Pasal 5

Ayat (1)

Cukup j elas

Ayat (2)

Cukup j elas

Pasal 6

Cukup j elas

Pasal 7

Cukup j elas

Pasal 8

Cukup j elas

Pasal 9

Ayat (1)

Perkembangan t eknologi t elekomunikasi t elah menimbulkan j asa-j asa t ert ent u yang t erkait dengan pelayanan pos, dan sej alan dengan ket ent uan Pasal 10 ayat (1) Undang-undang Nomor 6 Tahun 1984 t ent ang Pos, dan Pasal 4 Ayat (4) Perat uran Pemerint ah Nomor 37 Tahun 1985 t ent ang Penyelenggaraan Pos, badan penyelenggara Pos dan Giro Perum Pos dan Giro dapat ikut sert a menerima, membawa dan/ at au menyampaikan t ulisan dan/ at au gambar dari suat u kant or ke kant or lain unt uk kepent ingan umum yang diproses pengirimannya menggunakan j aringan t elekomunikasi.

(24)

pos dan giro waj ib menggunakan j aringan t elekomunikasi milik badan penyelenggara dengan membayar biaya yang besarnya dit et apkan oleh Ment eri.

Ayat (2)

Cukup j elas

Pasal 10

Ayat (1)

Jasa sirkit langganan dalam pasal ini adalah sama dengan yang dimaksud sebagai j asa sirkit sewa dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1989. Jasa kanal t elekomunikasi dapat berbent uk saluran kabel, serat opt ik, kanal radio at au t ransponder sat elit .

Sirkit langganan adalah saluran dan/ at au aluran milik badan penyelenggara yang digunakan oleh pelanggan secara t et ap at au t emporer unt uk mengadakan hubungan t elepon, t elegrap/ dat a, t elex dan j asa t elekomunikasi lainnya khusus ant ar pelanggan yang bersangkut an dan t idak dapat digunakan unt uk melayani kepent ingan umum.

Ayat (2)

Cukup j elas

Pasal 11

Ayat (1)

Jenis j asa t elekomunikasi bukan dasar yang t imbul dari kelompok suit sing pada hakekat nya adalah j asa t elekomunikasi yang merupakan kelengkapan (f eat ures) dari suit sing sehingga menimbulkan nilai t ambah bagi j enis j asa t elekomunikasi dasar yang disalurkan melalui suit sing t ersebut .

Cont oh ant ara lain:

(25)

- simpan dan t eruskan (st ore and f orward);

- pemberit ahuan biaya (reverse charging);

- put aran dipersingkat (abbreviat ed dialing).

Ayat (2)

Cukup j elas

Pasal 12

Cukup j elas

Pasal 13

Ayat (1)

Terminal yang dapat disediakan oleh pelanggan ant ara lain pesawat t elepon, pesawat t elex, pesawat f acsimile, sent ral t elepon langganan ot omat / sent ral t elepon langganan t idak ot omat .

Ayat (2)

Cukup j elas

Pasal 14

Cukup j elas

Pasal 15

Ayat (1)

Cukup j elas

Ayat (2)

Cukup j elas

Ayat (3)

Cukup j elas

(26)

Cukup j elas

Pasal 17

Perset uj uan-perset uj uan int ernasional yang berlaku misalnya yang dit et apkan oleh Int ernat ional Telecomunicat ion Union (ITU), Int ernat ional Sat elit Organizat ion (INTELSAT), Int ernat ional Marit ime Sat elit (INMARSAT). Penet apan t arip j asa t elekomunikasi dasar int ernasional dapat j uga didasarkan pada perset uj uan bilat eral at au mult ilat eral yang dilakukan oleh badan penyelenggara j asa t elekomunikasi int ernasional dengan penyelenggara t elekomunikasi negara lain.

Pasal 18

Dalam hal penyelenggaraan j asa t elekomunikasi bukan dasar dilakukan dengan kerj a sama ant ara badan penyelenggara

dengan badan lain, maka st rukt ur dan besarnya t arip dit et apkan oleh badan penyelenggara.

Sedangkan apabila penyelenggara j asa t elekomunikasi bukan dasar dilakukan oleh badan lain, maka st rukt ur dan besarnya t arip dit et apkan oleh badan lain t ersebut . St rukt ur dan besarnya t arip yang dit et apkan oleh badan penyel enggara at au badan lain t ersebut dilaksanakan set elah mendapat perset uj uan Ment eri.

Pasal 19

Cukup j elas

Pasal 20

Penyampaian rekaman berit a selain kepada pemakai j asa t elekomunikasi yang memint a perekaman pemakaian f asilit as t elekomunikasi yang dimilikinya, t erkena ket ent uan Pasal 30 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1989 t ent ang Telekomunikasi.

(27)

Ayat (1)

Cukup j elas

Ayat (2)

Cukup j elas

Pasal 22

Cukup j elas

Pasal 23

Ayat (1)

Cukup j elas

Ayat (2)

Cukup j elas

Ayat (3)

Cukup j elas

Ayat (4)

Cukup j elas

Ayat (5)

Cukup j elas

Pasal 24

Cukup j elas

Pasal 25

Cukup j elas

Pasal 26

Cukup j elas

(28)

Cukup j elas

Pasal 28

Badan hukum yang dimaksud adal ah badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia.

Pasal 29

Ayat (1)

Cukup j elas

Ayat (2)

Cukup j elas

Ayat (3)

Cukup j elas

Ayat (4)

Cukup j elas

Pasal 30

Ayat (1)

Izin penyelenggaraan sebagaimana dimaksud dalam ayat ini adalah hak unt uk menyelenggarakan t elekomunikasi unt uk keperluan khusus. Apabila unt uk penyelenggaraan t ersebut menggunakan f rekuensi radio maka izin penyelenggaraan sudah t ermasuk izin penggunaan f rekuensi radio.

Izin penggunaan f rekuensi radio unt uk penyelenggaraan t elekomunikasi unt uk keperluan khusus, diberikan set elah mendapat rekomendasi dari inst ansi/ depart emen yang t erkait .

Ayat (2)

Cukup j elas

(29)

Ayat (1)

Cukup j elas

Ayat (2)

Pada dasarnya badan penyelenggara mempunyai kewaj iban unt uk menyelenggarakan j asa t elekomunikasi sesuai dengan yang dibut uhkan masyarakat pemakai j asa. Namun seringkali kegiat an inst ansi pemerint ah t ert ent u at aupun badan hukum lain berada di lokasi di luar j angkauan pelayanan badan penyelenggara. Dapat pula t erj adi walaupun lokasi berada dalam j angkauan pelayanan namun memerlukan j enis j asa t ert ent u yang belum dapat dilayani oleh badan penyelenggara.

Dalam hal demikian maka inst ansi pemerint ah t ert ent u dan badan hukum lain t ersebut dapat diberikan izin unt uk menyelenggarakan t elekomunikasi unt uk keperluan masyarakat sekit arnya.

Pasal 32

Cukup j elas

Pasal 33

Penyelenggaraan t elekomunikasi unt uk keperluan khusus yang menggunakan f rekuensi radio, komunikasi kawat ant ar penduduk dan t elekomunikasi keret a api yang menggunakan kawat , t idak diwaj ibkan menggunakan sirkit langganan dan kanal t elekomunikasi milik badan penyelenggara.

Pasal 34

Cukup j elas

Pasal 35

Cukup j elas

(30)

Cukup j elas

Pasal 37

Cukup j elas

Pasal 38

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Berita Acara Penetapan Pemenang Nomor : 13/PBJ-Kons/KS-4/08/2012 tanggal 8 Juni 2012 Panitia Pengadaan Jasa Konsultansi Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung

(2) Dal am hal pesert a berhent i bekerj a l ebih dari 10 (sepul uh) t ahun sebel um dicapainya usia pensiun normal , maka berdasarkan pil ihan pesert a, hak at as pensiun

Yang dimaksud dengan Pengendali Perusahaan Terbuka adalah pihak yang memiliki saham lebih dari 50 % (lima puluh perseratus) dari seluruh saham yang disetor penuh, atau Pihak

Panitera Pengganti pada Pengadilan Negeri Lubuk Pakam, tahun 1999.. Kepala Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Nias Selatan,

Dengan ini diberitahukan bahwa setelah dilakukan evaluasi oleh Kelompok Kerja (Pokja) VI Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Tahun Anggaran 2017 yang

UNIT LAYANAN PENGADAAN BARANG DAN JASA POKJA PENGADAAN JASA KONSTRUKSI DAN JASA KONSULTANSI. TAHUN

[r]

Kepala Bidang Budi Daya Peternakan pada Dinas Peternakan Provinsi NTT selaku Pejabat Pembuat Komitmen – Kupang (sebagai