• Tidak ada hasil yang ditemukan

pencegahan primer sekunder tersier neurobehavior

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "pencegahan primer sekunder tersier neurobehavior"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Pencegahan Primer,

Sekunder & Tersier

(Sistem

Neurobehavior)

(2)

Pengertian

Neurologi

neuro: syaraf

logi (logos): ilmu

(3)

• Sistem saraf adalah pusat komunikasi dan pengambil keputusan.

SISTEM SARAF

SSP Sistem saraf tepi

(sistem saraf pusat)

Otak saraf(nervus) Medulla spinalis(sumsum tl. Belakang)

• SSP dan saraf tepi bekerja bersama mengatur berbagai

aktifitas sehari-hari manusia: bernafas, berpikir, mengingat, dsb.

(4)

Sel Saraf

Sistem saraf dibentuk oleh jaringan saraf yang

terdiri atas beberapa macam sel.

Komponen utama sistem saraf adalah sel saraf

atau

Neuron

.

Neuron atau sel saraf bertanggung jawab atas

reaksi, transmisi, dan proses pengenalan

(5)

penerima rangsang

(6)

Neuron motoris

(

efferent

): berfungsi

mengontrol organ sasaran

Neuron sensoris

(

afferent

): menerima

(7)

Perjalanan Saraf

• Saraf keluar dari otak menuju organ-organ tubuh seperti mata, telinga, wajah, hidung, dan medulla spinalis

• Dari medulla spinalis saraf diteruskan menuju bagian tubuh yang lebih rendah seperti tangan dan kaki

• Neuron sensoris menerima rangsangan dari

lingkungan diteruskan ke medulla spinalis dan secara cepat diteruskan ke otak

• Otak mengolah pesan dan memberikan respon • Respon diteruskan oleh neuron motoris ke bagian

(8)

Rangsang dari lingkungan

respon

neuron sensoris

(9)

Pengertian Neurobehavior

(10)

Penyakit Sistem Saraf

1. Cedera kepala

2. Cedera medula spinalis 3. Stroke

4. Epilepsi 5. Migrain

6. Nyeri kepala klaster 7. Nyeri kepala tipe

tegang

8. Nyeri kepala pasca trauma

9. Neuralgia trigeminus 10.Arteritis temporalis

11. Neuritis vestibularis 12. Vertigo posisionl

benigna

13. Herniasi diskus lumbal

14. Spondilosis 15. Spondilitis tuberkulosis

!6. Spondilolistesis

17. Penyakit parkinson 18. Meningitis

(11)

Risk Assesment & Risk

Intervention

v Banyak orang yang beranggapan bahwa dokter dan sistem kesehatan lainnya identik dengan pengobatan penyakit

v Sehingga pencegahan penyakit bukanlah hal yang utama.

v Mungkin itu sebabnya mengapa orang baru datang ke dokter atau pusat kesehatan lainnya hanya bila mereka sudah mempunyai masalah dengan kesehatannya.

(12)

IMPLEMENTASI PENCEGAHAN DALAM PRAKTEK DOKTER KELUARGA

Kondisi kesehatan sebagai suatu kontinum, yaitu:

1. Keadaan sehat ( Wellness )

Di sini berperan promosi kesehatan melalui

self-improvement

2. Keadaan bebas penyakit (absence of the disease)

Pada keadaan ini kita perlu melakukan identifikasi dari

faktor-faktor resiko yang mungkin ada pada orang tersebut, dan tindakan ini disebut pencegahan tingkat primer.

(13)

3. Keadaan dimana seseorang mempunyai penyakit tetapi

belum menunjukkan gejala secara klinis (asimptomatik)

Early detection melalui skrining perlu dilakukan. Hasil skrining dapat dilakukan intervensi farmakologis maupun

non-farmakologis pada tahap awal kasus. Hal ini tentu saja akan memberikan hasil yang lebih memuaskan daripada kita

melakukan intervensi setelah penyakit tersebut berada pada tahap lanjut.

Kegiatan ini disebut pencegahan tingkat sekunder.

4. Keadaan dimana seseorang sudah didiagnosa menderita

suatu penyakit dan simptomatik (clinically ill)

Pencegahan terhadap timbulnya komplikasi dengan melakukan antisipasi terhadap masalah-masalah yang

dijumpai dan juga melakukan rehabillitasi untuk meningkatkan kualitas hidup dari penderita.

Tindakan ini disebut pencegahan tingkat tertier.

(14)

Penc. Tingkat Primer :

(15)

Penc. Tingkat Sekunder

(16)

Penc. Tingkat Tersier

(17)

Dalam mengimplementasikan pencegahan di praktek sehari-hari dibutuhkan

- data riwayat penyakit pasien, - data pemeriksaan fisik,

- prioritas dalam merancang tindakan,

- meluangkan waktu untuk edukasi dan konseling pasien serta menggunakan sebuah sistem kartu/ rekam medis yang berorientasi pencegahan

(prevention-oriented charting system), sehingga kita

perlu berfikir secara sistematis.

(18)

Sistem RISE

R = identiHikasi faktor resiko (risk factor),

I = imunisasi,

S = skrining atau penapisan

E = edukasi.

IdentiHikasi faktor resiko dapat kita ketahui dengan bertanya mengenai riwayat keluarga pasien melalui

genogram pasien,

Data imunisasi perlu diperbaharui secara berkala,

Skrining dilakukan pada saat pemeriksaan Hisik dan melakukan pemeriksaan laboratorium.

Edukasi dilakukan pada semua pasien.

(19)

Referensi

Dokumen terkait

Posma Ria Siallagan : Penelitian Tentang Tindakan Pencegahan Primer Terhadap Karies Gigi, Penyakit Periodontal Dan Maloklusi Gigi Oleh Dokter Gigi Di Praktek Pribadi Di Kota

PKV merupakan penyakit dengan etiologi multifaktorial sehingga semua faktor resiko perlu dipertimbangkan dalam upaya pencegahan, baik primer maupun sekunder. Faktor resiko tersebut

PKV merupakan penyakit dengan etiologi multifaktorial sehingga semua faktor resiko perlu dipertimbangkan dalam upaya pencegahan, baik primer maupun sekunder. Faktor resiko tersebut

Leavell dan Clark dalam penjelasannya tentang promotion of health menyatakan bahwa selain melalui peningktan gizi dan sebagainya peningkatan kesehatan juga dapat di lakukan

Berdasarkan uji statistik didapatkan hasil bahwa faktor praktik keluarga merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan dukungan keluarga dalam pencegahan

Pencegahan sekunder dapat berupa deteksi dini penyakit hipotiroid kongenital dengan skrining pada bayi baru lahir.. Pencegahan tersier berupa penanganan

Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap, Persepsi, Motivasi, Dukungan Keluarga Dan Sumber Informasi Pasien Penyakit Jantung Koroner dengan Tindakan Pencegahan Sekunder Faktor Risiko

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan peran bidan dalam promosi kesehatan dengan tindakan Pencegahan Primer Kompleks Tuberkulosis (PKTB) pada anak usia 1-23