Pencegahan Primer,
Sekunder & Tersier
(Sistem
Neurobehavior)
Pengertian
Neurologi
neuro: syaraf
logi (logos): ilmu
• Sistem saraf adalah pusat komunikasi dan pengambil keputusan.
SISTEM SARAF
SSP Sistem saraf tepi
(sistem saraf pusat)
Otak saraf(nervus) Medulla spinalis(sumsum tl. Belakang)
• SSP dan saraf tepi bekerja bersama mengatur berbagai
aktifitas sehari-hari manusia: bernafas, berpikir, mengingat, dsb.
Sel Saraf
•
Sistem saraf dibentuk oleh jaringan saraf yang
terdiri atas beberapa macam sel.
•
Komponen utama sistem saraf adalah sel saraf
atau
Neuron
.
•
Neuron atau sel saraf bertanggung jawab atas
reaksi, transmisi, dan proses pengenalan
penerima rangsang
•
Neuron motoris
(
efferent
): berfungsi
mengontrol organ sasaran
•
Neuron sensoris
(
afferent
): menerima
Perjalanan Saraf
• Saraf keluar dari otak menuju organ-organ tubuh seperti mata, telinga, wajah, hidung, dan medulla spinalis
• Dari medulla spinalis saraf diteruskan menuju bagian tubuh yang lebih rendah seperti tangan dan kaki
• Neuron sensoris menerima rangsangan dari
lingkungan diteruskan ke medulla spinalis dan secara cepat diteruskan ke otak
• Otak mengolah pesan dan memberikan respon • Respon diteruskan oleh neuron motoris ke bagian
Rangsang dari lingkungan
respon
neuron sensoris
Pengertian Neurobehavior
Penyakit Sistem Saraf
1. Cedera kepala
2. Cedera medula spinalis 3. Stroke
4. Epilepsi 5. Migrain
6. Nyeri kepala klaster 7. Nyeri kepala tipe
tegang
8. Nyeri kepala pasca trauma
9. Neuralgia trigeminus 10. Arteritis temporalis
11. Neuritis vestibularis 12. Vertigo posisionl
benigna
13. Herniasi diskus lumbal
14. Spondilosis 15. Spondilitis tuberkulosis
!6. Spondilolistesis
17. Penyakit parkinson 18. Meningitis
Risk Assesment & Risk
Intervention
v Banyak orang yang beranggapan bahwa dokter dan sistem kesehatan lainnya identik dengan pengobatan penyakit
v Sehingga pencegahan penyakit bukanlah hal yang utama.
v Mungkin itu sebabnya mengapa orang baru datang ke dokter atau pusat kesehatan lainnya hanya bila mereka sudah mempunyai masalah dengan kesehatannya.
IMPLEMENTASI PENCEGAHAN DALAM PRAKTEK DOKTER KELUARGA
Kondisi kesehatan sebagai suatu kontinum, yaitu:
1. Keadaan sehat ( Wellness )
Di sini berperan promosi kesehatan melalui
self-improvement
2. Keadaan bebas penyakit (absence of the disease)
Pada keadaan ini kita perlu melakukan identifikasi dari
faktor-faktor resiko yang mungkin ada pada orang tersebut, dan tindakan ini disebut pencegahan tingkat primer.
3. Keadaan dimana seseorang mempunyai penyakit tetapi
belum menunjukkan gejala secara klinis (asimptomatik)
Early detection melalui skrining perlu dilakukan. Hasil skrining dapat dilakukan intervensi farmakologis maupun
non-farmakologis pada tahap awal kasus. Hal ini tentu saja akan memberikan hasil yang lebih memuaskan daripada kita
melakukan intervensi setelah penyakit tersebut berada pada tahap lanjut.
Kegiatan ini disebut pencegahan tingkat sekunder.
4. Keadaan dimana seseorang sudah didiagnosa menderita
suatu penyakit dan simptomatik (clinically ill)
Pencegahan terhadap timbulnya komplikasi dengan melakukan antisipasi terhadap masalah-masalah yang
dijumpai dan juga melakukan rehabillitasi untuk meningkatkan kualitas hidup dari penderita.
Tindakan ini disebut pencegahan tingkat tertier.
Penc. Tingkat Primer :
Penc. Tingkat Sekunder
Penc. Tingkat Tersier
Dalam mengimplementasikan pencegahan di praktek sehari-hari dibutuhkan
- data riwayat penyakit pasien, - data pemeriksaan fisik,
- prioritas dalam merancang tindakan,
- meluangkan waktu untuk edukasi dan konseling pasien serta menggunakan sebuah sistem kartu/ rekam medis yang berorientasi pencegahan
(prevention-oriented charting system), sehingga kita
perlu berfikir secara sistematis.
Sistem RISE
R = identiHikasi faktor resiko (risk factor),
I = imunisasi,
S = skrining atau penapisan
E = edukasi.
• IdentiHikasi faktor resiko dapat kita ketahui dengan bertanya mengenai riwayat keluarga pasien melalui
genogram pasien,
• Data imunisasi perlu diperbaharui secara berkala,
• Skrining dilakukan pada saat pemeriksaan Hisik dan melakukan pemeriksaan laboratorium.
Edukasi dilakukan pada semua pasien.