• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Pencegahan Primer, Sekunder, dan Tersier pada Masalah Kasus Kegawatdaruratan

N/A
N/A
Ilal Nahendra

Academic year: 2025

Membagikan "Upaya Pencegahan Primer, Sekunder, dan Tersier pada Masalah Kasus Kegawatdaruratan"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

UPAYA PENCEGAHAN PRIMER, SKUNDER, DAN TERSIER PADA MASALAH KASUS KEGAWAT-DARURATAN

DOSEN PEMBIMBING Tika Sari Dewy S.Kep.,Ns.M.Kep

Disusun oleh:

Noer Hidayah 11 14 22 0732

Fiki akhtur saputra 11 14 22 0724 Giant mardhani 11 14 22 0725 Mahrita azzahra 11 14 22 0729

Nur Hasanah 11 14 22 0734

Ridho Anwari 11 14 22 0738

Rosalina 11 14 22 0739

Vina mardiana 11 14 21 0699

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN STIKES DARUL AZHAR BATULICIN

TAHUN AJARAN 2025/2026

(2)

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas kelompok untuk mata kuliah Keperawatan Kegawat-Daruratan dengan judul " upaya pencegahan primer, skunder, dan tersier pada masalah kasus kegawat-daruratan". Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang dengan tulus memberikan doa, saran dan kritik sehingga makalah ini dapat terselesaikan, tidak lupa kami berterima kasih kepada dosen pembimbing Tika Sari Dewy S.Kep.,Ns.M.Kep

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang penulis miliki. Oleh karena itu, penulis mengharapkan segala bentuk saran serta masukan yang membangun dari berbagai pihak. Dan penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan dunia pendidikan.

Penyusun

Simpang Empat, Mei 2025

(3)

DAFTAR ISI

JUDUL

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang………..………..……….1 1.2 Rumusan Masalah……….……….………..……..……...……...1 1.3 Tujuan……….……….….………...1 1.4 Manfaat

BAB II TINAJUAN PUSTAKA

1.1 Kegawat-daruratan ISK ………..…………...…....….……….3 1.2 Kegawat-daruratan IMA………..…………...……..…………..4

1.3 Kegawat-daruratan Apendisitis……….………...….…...………5 BAB III PENUTUP

3.1 kesimpulan………..………..……….21 3.2 Saran………...21 DAFTAR PUSTAKA.

(4)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kegawatdaruratan Urologi (ISK)

Kegawatan medis pada sistem urologi merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian serius, terutama karena dapat berujung pada komplikasi berat jika tidak ditangani dengan segera. Salah satu kondisi yang sering ditemukan adalah infeksi saluran kemih (ISK), baik pada pasien rawat jalan maupun rawat inap. ISK dapat terjadi pada semua kelompok usia, namun paling sering menyerang perempuan, lansia, dan pasien dengan kateter urin jangka panjang. Jika tidak ditangani secara adekuat, ISK dapat berkembang menjadi pielonefritis, sepsis, bahkan gagal ginjal akut atau kronis (Ramesh et al., 2022).

Secara global, ISK juga merupakan masalah kesehatan yang signifikan.

Data dari WHO menunjukkan bahwa jumlah penderita ISK di dunia mencapai sekitar 8,3 juta orang dan diperkirakan jumlahnya akan terus meningkat.

Sedangkan di Indonesia, prevalensi ISK cukup tinggi. Menurut Kementerian Kesehatan RI, terdapat sekitar 180.000 kasus baru ISK setiap tahunnya, atau sekitar 90–100 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Prevalensi ini berkisar antara 5–15% di populasi umum. Faktor risiko utama meliputi kebersihan area genital yang kurang, kebiasaan menahan buang air kecil, dan asupan cairan yang tidak mencukupi. Di Kalimantan Selatan, peningkatan kasus kegawatan urologi ditandai dengan upaya RSUD Ulin Banjarmasin yang meluncurkan layanan teknologi laser pada tahun 2024 untuk mempercepat penanganan batu ginjal dan ISK yang berat. Inovasi ini mencerminkan adanya peningkatan kebutuhan terhadap pelayanan urologi emergensi. Selain itu, masih rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan area genital, kurangnya asupan cairan, dan kebiasaan menahan buang air kecil menjadi faktor risiko yang memperparah angka kejadian ISK.

Dalam konteks pencegahan, perlu dilakukan intervensi sejak dini melalui edukasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat, akses terhadap fasilitas air bersih,

(5)

serta pemeriksaan rutin terutama pada kelompok rentan. Deteksi dini melalui pemeriksaan urin sederhana sangat penting untuk mencegah perkembangan infeksi ke tahap yang lebih berat. Oleh karena itu, ISK sebagai kegawatan urologi harus dipahami secara komprehensif, mulai dari faktor risiko, gejala, hingga penanganan dan pencegahannya (Trihandini, 2023)

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk melakukan keperawatan kegawat-daruratan tentang upaya pencegahan primer, skunder, dan tersier pada masalah kasus urologi dengan infeksi saluran kemih

1.2 Rumusan masalah

Bagaimanakah upaya pencegahan primer, skunder, dan tersier pada masalah kasus kegawat-daruratan penyakit urologi (ISK)

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Mahasiswa mampu mengetahui tentang upaya pencegahan primer, skunder, dan tersier pada masalah kasus kegawat-daruratan penyakit urologi (ISK)

1.3.2Tujuan Khusus

1. Mahasiswa mampu mengetahui Definisi ISK

2. Mahasiswa mampu mengetahui Etiologi Infeksi Saluran Kemih (ISK) 3. Mahasiswa mampu mengetahui Manifestasi Klinis Infeksi saluran kemih

(ISK)

4. Mahasiswa mampu mengetahui Patofisiologi Infeksi saluran kemih (ISK) 5. Mahasiswa mampu mengetahui Komplikasi Infeksi saluran kemih (ISK) 6. Mahasiswa mampu mengetahui Klasifikasi Infeksi saluran kemih (ISK) 7. Mahasiswa mampu mengetahui Pencegahan primer, skunder, dan tersier

pada penyakit Infeksi saluran kemih (ISK)

8. Mahasiswa mampu mengetahui Penatalaksanaan pada penyakit Infeksi saluran kemih (ISK)

9. Mahasiswa mampu mengetahui Diagnosa keperawatan pada penyakit Infeksi saluran kemih (ISK)

1.4 Manfaat

(6)

Diharapkan dapat menambah wawasan bagi pembaca mengenai pencegahan primer, sekunder, dan tersier pada kasus kegawat daruratan pada urologi,

(7)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kegawatdaruratan Urologi (ISK)

2.1.1 Definisi Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Infeksi saluran kemih (ISK) adalah istilah kolektif yang menggambarkan setiap infeksi yang melibatkan setiap bagian dari saluran kemih, yaitu ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra. Infeksi saluran kemih juga biasanya didefinisikan sebagai peningkatan jumlah bakteri batas 105CFU atau lebih, dengan adanya gejala seperti sering ingin BAK, nyeri, disuria. (Widiyastuti, 2023)

2.1.2 Etiologi Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Menurut (Syarofina, 2021) Berbagai jenis orgnisme dapat menyebabkan ISK. Escherichia coli (80% kasus) dan organisme enterik garam-negatif lainnya merupakan organisme yang paling sering menyebabkan ISK: kuman-kuman ini biasanya ditemukan di daerah anus dan perineum. Organisme lain yang menyebabkan ISK antara lain Proteus, Pseudomonas, Klebsiella, Staphylococcus aureus, Haemophilus, dan Staphylococcus koagulse negatif.

Beberapa faktor menyebabkan munculnya ISK di masa kanak- kanakInfeksi saluran kemih sebagian besar disebabkan oleh bakteri, virus dan jamur tetapi bakteri yang sering menjadi penyebabnya. Penyebab ISK terbanyak adalah bakteri gram-negatif termasuk bakteri yang biasanya menghuni usus dan akan naik ke sistem saluran kemih antara lain adalah Escherichia coli, Proteus sp, Klebsiella, Enterobacter.

Selain penyebab terjadinya kejadian ISK dari berbagai jenis mikroba terdapat banyak faktor risiko yang menyebabkan terjadinya peningkatan angka kejadian ISK. Faktor risiko lain yang paling sering diidentifikasi adalah penggunaan antibiotik sebelumnya dan penggunaan katerisasi.

Faktor risiko ISK dalam penggunaan antibiotik sebelumnya disebabkan akibat resisten terhadap berbagai obat antibiotik (sulfamethoxazoletrimetropim)

(8)

dan dalam penggunaan katerisasi, organisme gram negatif bakteri

Pseudomonas Aeruginosa” adalah patogen yang paling umum yang bertanggung jawab untuk pengembangan infeksi saluran kemih diantara pasien kateter yang didapatkan dari pemasangan kateter dalam jangka panjang, serta bisa diakibatkan juga oleh hygine kateter, disfungsi bladder pada usia lanjut dan pemasangan kateter yang tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur 2.1.3 Manifestasi Klinis Infeksi saluran kemih (ISK)

Menurut (Abdullah, 2023) Adapun tanda dan gejala infeksi saluran kemih (ISK) meliputi:

a. Sensasi terbakar atau nyeri saat buang air kecil (anyang-anyangan).

b. Keinginan buang air kecil yang sering dan sulit ditahan.

c. Urine keruh, berbau tajam atau busuk, dan bisa berdarah.

d. Nyeri di perut bagian bawah, panggul, atau pinggang.

e. Demam, menggigil, lemas, mual, dan muntah (terutama jika infeksi sudah mencapai ginjal).

f. Pada kasus parah, nyeri saat diketuk di punggung atau pinggang, pingsan, dan gejala sepsis.

2.1.4 Patofisiologi Infeksi saluran kemih (ISK)

Menurut (Setyaningrum, 2024) Infeksi saluran kemih terjadi ketika bakteri atau mikroorganisme masuk ke dalam saluran kemih dan berkembang biak, menyebabkan peradangan dan gejala lainnya. Ada beberapa cara mikroorganisme dapat memasuki saluran kemih.

Jalur ascending adalah salah satu cara paling umum, di mana mikroorganisme dari flora normal usus dan sekitar anus dan genital masuk ke saluran kemih melalui uretra. Proses ini melibatkan kolonisasi mikroorganisme pada uretra, masuk ke dalam kandung kemih, multiplikasi, dan akhirnya naik ke ginjal. Selain itu, mikroorganisme juga dapat memasuki saluran kemih melalui jalur hematogen, yaitu penyebaran infeksi dari ginjal melalui peredaran darah.

(9)

Jalur limfogen juga memungkinkan, meskipun jarang, melalui sistem limfatik yang menghubungkan kandung kemih dan ginjal.

Pemakaian kateter atau infeksi dari organ sekitar juga dapat memungkinkan mikroorganisme masuk ke saluran kemih. Dalam semua kasus, mikroorganisme yang masuk akan berkembang biak dan menyebabkan peradangan, yang akhirnya mengakibatkan infeksi saluran kemih.

2.1.5 Komplikasi Infeksi saluran kemih (ISK)

Menurut (Ramesh, 2022) ISK dapat menyebabkan gagal ginjal akut, bakteremia, sepsis, dan meningitis. Komplikasi ISK jangka panjang adalah parut ginjal, hipertensi, gagal ginjal, komplikasi pada masa kehamilan seperti preeklampsia. Parut ginjal terjadi pada 8-40% pasien setelah mengalami episode pielonefritis akut. Faktor risiko terjadinya parut ginjal antara lain umur muda, keterlambatan pemberian antibiotik dalam tata laksana ISK. Adapun komplikasi yang ditimbulkan yaitu:

a. Pyelonefritis

Infeksi yang naik dari ureter ke ginjal, tubulus reflux urethrovesikal dan jaringan intestinal yang terjadi pada satu atau kedua ginjal.

b. Gagal Ginjal

Terjadi dalam waktu yang lama dan bila infeksi sering berulang atau tidak diobati dengan tuntas sehingga menyebabkan kerusakan ginjal baik secara akut dan kronik.

2.1.6 Klasifikasi Infeksi saluran kemih (ISK) 1. Berdasarkan Gejala

a. ISK Asimtomatik: Bakteriuria bermakna tanpa gejala.

b. ISK Simtomatik: Bakteriuria bermakna disertai gejala klinis seperti nyeri saat berkemih, sering berkemih, demam, dan lain-lain.

2. Berdasarkan Lokasi Infeksi

a. ISK Bawah: Infeksi pada saluran kemih bagian bawah, terutama kandung kemih (sistitis) dan uretra (uretritis).

b. ISK Atas: Infeksi pada saluran kemih bagian atas, yaitu ginjal dan pelvis ginjal (pielonefritis). (Vaoziah, 2021)

(10)

3. Berdasarkan Kelainan Saluran Kemih

a. ISK Simpleks (Uncomplicated UTI): Terjadi pada pasien tanpa kelainan anatomi atau fungsi saluran kemih, biasanya wanita sehat.

b. ISK Kompleks (Complicated UTI): Terjadi pada pasien dengan kelainan anatomi/fungsi saluran kemih, pria, wanita hamil, pasien dengan kateter, atau penyakit penyerta seperti diabetes. (Atthariq, 2024)

4. Berdasarkan Tingkat Keparahan (European Association of Urology - EAU) a. Asimtomatik Bakteriuria (ABU): Tanpa gejala.

b. Sistitis (CY-1): Gejala lokal seperti disuria, frekuensi, urgensi.

c. Pielonefritis Ringan (PN-2) dan Berat (PN-3): Disertai demam, nyeri pinggang, mual, muntah.

d. Urosepsis (US-4 sampai US-6): Infeksi sistemik dengan tanda-tanda kegagalan sirkulasi dan organ. (Amalia, 2022)

2.1.7 Pencegahan primer, skunder, dan tersier pada penyakit Infeksi saluran kemih (ISK)

1. Pencegahan Primer

a. Minum air putih cukup (sekitar 2 liter/hari) untuk mengencerkan urine dan membantu mengeluarkan bakteri.

b. Tidak menahan buang air kecil agar bakteri tidak berkembang di saluran kemih.

c. Menjaga kebersihan area kemaluan, terutama mencuci dari depan ke belakang setelah buang air kecil atau besar.

d. Menghindari penggunaan produk kewanitaan berpewangi dan pakaian dalam ketat agar area tetap kering.

e. Edukasi kesehatan untuk mengenali faktor risiko dan menjaga kebersihan.

2. Pencegahan Sekunder

a. Skrining dini, misalnya urinalisis pada ibu hamil untuk deteksi ISK awal.

b. Kepatuhan pengobatan dan anjuran tidak berhubungan seksual selama pengobatan ISK untuk mencegah komplikasi.

(11)

c. Deteksi tanda-tanda kegawatdaruratan seperti demam tinggi, oliguria, atau sepsis untuk penanganan cepat

3. Pencegahan Tersier

a. Pengobatan lanjutan dan pemantauan untuk mencegah kekambuhan dan komplikasi ISK seperti abses atau urosepsis.

b. Rehabilitasi dan pendampingan pasien pasca kegawatdaruratan untuk mengurangi kecacatan dan memperbaiki kualitas hidup (umum dalam kegawatdaruratan).

c. Edukasi lanjutan agar pasien memahami tanda komplikasi dan kapan harus kontrol kembali. (Setyaningrum, 2024)

2.1.8 Penatalaksanaan pada penyakit Infeksi saluran kemih (ISK) 1. Penatalaksanaan Medis

a. Antibiotik: Terapi utama ISK adalah antibiotik yang dipilih berdasarkan jenis infeksi dan hasil kultur. Antibiotik yang sering digunakan adalah cefixime, ciprofloxacin, levofloxacin, dan ceftriaxone. Pada ISK komplikata, kombinasi aminoglikosida dengan sefalosporin generasi kedua/ketiga dianjurkan, dan untuk bakteri resisten dapat digunakan ceftolozane/tazobactam.

b. Pemilihan antibiotik rasional: Penting untuk menggunakan antibiotik sesuai indikasi, dosis, dan durasi agar menghindari resistensi.

c. Terapi simptomatik: Pemberian analgesik atau NSAID untuk mengatasi nyeri saat berkemih dan nyeri pinggang. (Ayu Nur’efni Titania, 2024) 2. Penatalaksanaan Nonmedis / Nonfarmakologi

a. Modifikasi gaya hidup: Minum air putih cukup, tidak menahan kencing, menjaga kebersihan area genital dengan membersihkan dari depan ke belakang, memakai pakaian dalam berbahan katun dan longgar.

b. Terapi relaksasi nafas dalam: Teknik ini efektif menurunkan nyeri akibat ISK, membantu mengurangi ketegangan otot dan rasa sakit.

c. Manajemen nyeri nonfarmakologi lain: Termasuk kompres hangat/dingin, pijat, distraksi, terapi musik, dan stimulasi saraf elektrik

(12)

(TENS) yang dapat membantu mengurangi keluhan nyeri. (Anjaya, 2024)

2.1.9 Diagnosa keperawatan pada penyakit Infeksi saluran kemih (ISK) 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencederafisiologis, seperti inflamasi

pada saluran kemih.

2. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit infeksi.

3. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan iritasi kandung kemih akibat infeksi.

4. Hypovolemia berhubungan dengan kekurangan asupan cairan atau kehilangan cairan akibat demam dan muntah.

5. Risiko infeksi berhubungan dengan peningkatan paparan organisme patogen di lingkungan. (Pa, 2021)

(13)

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah infeksi pada saluran kemih yang disebabkan oleh bakteri, terutama Escherichia coli. Gejala ISK meliputi nyeri saat buang air kecil, keinginan buang air kecil yang sering, dan urine keruh atau berdarah. Pencegahan dapat dilakukan dengan minum air putih cukup dan menjaga kebersihan area kemaluan. Penatalaksanaan ISK meliputi terapi antibiotik dan modifikasi gaya hidup. Komplikasi ISK dapat berupa gagal ginjal akut dan sepsis, sehingga pencegahan dan penatalaksanaan yang tepat sangat penting.

3.2 Saran

meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan ISK, kita harus fokus pada beberapa hal penting. Masyarakat perlu memahami lebih dalam tentang faktor-faktor yang bisa memicu ISK dan pentingnya menerapkan gaya hidup sehat. Kampanye kesehatan, seminar, dan media massa bisa menjadi alat yang efektif untuk menyebarkan pesan ini.

(14)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kegawatdaruratan Kardiovaskuler (IMA)

Penyakit kardiovaskuler masih menjadi penyebab utama kematian di Indonesia dan dunia. Salah satu bentuk kegawatdaruratan medis yang paling serius di bidang ini adalah infark miokard akut (IMA), yaitu kondisi ketika aliran darah ke otot jantung tersumbat secara tiba-tiba, sehingga menyebabkan kerusakan jaringan jantung. IMA membutuhkan penanganan segera karena keterlambatan intervensi dapat menyebabkan kematian mendadak atau gagal jantung permanen (Amriani, 2024)

Secara global, penyakit jantung iskemik, termasuk IMA, menyebabkan sekitar 16,17% kematian, menjadikannya penyebab kematian tertinggi di dunia.

Di Indonesia, penyakit jantung iskemik menyumbang 14,38% dari total kematian, menempati posisi kedua setelah stroke. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa jumlah penderita penyakit jantung koroner meningkat drastis dari 672 kasus pada tahun 2021 menjadi 1.141 kasus hingga September 2023. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa beban penyakit kardiovaskular, khususnya IMA, masih tinggi dan memerlukan perhatian lebih dalam sistem layanan kesehatan daerah. Gaya hidup tidak sehat seperti merokok, konsumsi makanan tinggi lemak, stres, dan kurang aktivitas fisik turut menjadi pemicu utama terjadinya IMA. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan (2023) menunjukkan bahwa jumlah penderita penyakit jantung koroner meningkat drastis dari 672 kasus pada tahun 2021 menjadi 1.141 kasus hanya sampai September 2023. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa beban penyakit kardiovaskuler, khususnya IMA, masih tinggi dan memerlukan perhatian lebih dalam sistem layanan kesehatan daerah. Gaya hidup tidak sehat seperti merokok, konsumsi makanan tinggi lemak, stres, dan kurang aktivitas fisik turut menjadi pemicu utama terjadinya IMA. (Saff Putri, 2023)

Upaya pencegahan terhadap IMA tidak hanya berhenti pada edukasi, tetapi juga memerlukan sistem rujukan yang cepat, tersedianya alat diagnostik seperti

(15)

EKG di puskesmas, serta pelatihan tenaga kesehatan dalam mengenali gejala awal. Pencegahan primer, sekunder, dan tersier harus dilakukan secara sinergis untuk menurunkan angka kematian akibat IMA. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa keperawatan dan tenaga medis untuk memahami secara mendalam tentang patofisiologi, gejala klinis, penatalaksanaan, dan strategi pencegahan pada kasus IMA sebagai bentuk kegawatan kardiovaskuler yang sering terjadi (Angraeni, 2025)

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk melakukan keperawatan kegawat-daruratan tentang upaya pencegahan primer, skunder, dan tersier pada masalah kasus kardiovaskuler dengan IMA

1.2 Rumusan masalah

Bagaimanakah upaya pencegahan primer, skunder, dan tersier pada masalah kasus kegawat-daruratan penyakit kardiovaskuler (IMA)

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Mahasiswa mampu mengetahui tentang upaya pencegahan primer, skunder, dan tersier pada masalah kasus kegawat-daruratan penyakit kardiovaskuler (IMA)

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mahasiswa mampu mengetahui Definisi IMA 2. Mahasiswa mampu mengetahui Etiologi IMA

3. Mahasiswa mampu mengetahui Manifestasi Klinis IMA 4. Mahasiswa mampu mengetahui Patofisiologi IMA 5. Mahasiswa mampu mengetahui Komplikasi IMA 6. Mahasiswa mampu mengetahui Klasifikasi IMA

7. Mahasiswa mampu mengetahui Pencegahan primer, skunder, dan tersier pada penyakit IMA

8. Mahasiswa mampu mengetahui Penatalaksanaan pada penyakit IMA 9. Mahasiswa mampu mengetahui Diagnosa keperawatan pada penyakit IMA 1.4 Manfaat

Diharapkan dapat menambah wawasan bagi pembaca mengenai pencegahan primer, sekunder, dan tersier pada kasus kegawat daruratan pada kardiovaskuler

(16)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Kegawatdaruratan Kardiovaskuler 2.2.1 Definisi Infark Miokard Akut (IMA)

Menurut (Angraeni, 2025) Infark Miokard Akut (IMA) dikenal dengan istilah serangan jantung merupakan suatu keadaan dimana suplai darah yang tidak adekuat, memicu terjadinya kerusakan jaringan-jaringan miokard jantung sehingga aliran darah koroner berkurang. Serangan jantung terjadi secara mendadak dan berkembang sangat cepat, yang disebabkan adanya nekrosis pada jantung. Kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya kematian sel-sel jantung sehingga kekuatan kontraksi otot jantung menurun.

Infark miokard akut (IMA) adalah penyakit akibat berkurangnya pasokan darah karena arteri koroner mengalami penyempitan karena adanya aterosklerosis atau sumbatan arteri oleh emboli atau thrombus secara total membuat suplai dan kebutuhan oksigen jantung tidak sesuai, gangguan yang berkepanjangan ini menyebabkan terjadinya nekrosis pada miokard. Nekrosis pada miokard inilah yang dapat mengganggu jantung dalam melakukan fungsinya yaitu dalam mekanisme, biokimia dan juga kelistrikan pada jantung oleh karena itu jantung tidak mampu memompa darah secara adekuat untuk dapat dialirkan pada otak dan organ lain secara berkelanjutan, Bila dibandingkan penyakit jantung lainnya infark miokard akut (IMA) merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

2.2.2 Etiologi Infark Miokard Akut (IMA)

1. Faktor Risiko yang Tidak Dapat Dimodifikasi

a. Usia: Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, terutama pada pria di atas 45 tahun dan wanita di atas 55 tahun.

b. Riwayat keluarga : Penyakit jantung koroner, diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi pada keluarga dapat meningkatkan risiko.

2. Faktor Risiko yang Dapat Dimodifikasi

(17)

a. Merokok : Menyebabkan penyempitan pembuluh darah, peningkatan gumpalan darah, stres oksidatif, dan peningkatan tekanan darah.

b. Dislipidemia : Peningkatan kolesterol LDL, kolesterol HDL rendah, dan trigliserida tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis dan penyumbatan arteri.

c. Diabetes mellitus : Gula darah yang tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis yang dipercepat dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

d. Hipertensi : Tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan reaktivitas vaskular meningkat dan memicu proses aterosklerosis.

e. Kegemukan (obesitas) : Kelebihan lemak tubuh dapat meningkatkan tekanan darah, kadar kolesterol, peradangan, dan resistensi insulin.

(Angraeni, 2025)

2.2.3 Manifestasi Klinis Infark Miokard Akut (IMA)

Menurut (Dewi Marlianti, 2025) tanda dan gejala klinis infark miokardium yang utama: Nyeri substernal yang meremukkan, terasa panas, seperti tertekan benda berat, atau seperti diremas: Dapat menjalar ke rahang, punggung, lengan, leher, telinga atau bahu. Berlangsung lebih lama dibandingkan dengan nyeri angina, biasanya lebih dari 30 menit. Tidak dapat diredakan dengan istirahat.

2.2.4 Patofisiologi Infark Miokard Akut (IMA)

Menurut (Sofiah, 2022) Infark miokardium adalah kondisi di mana jantung mengalami kerusakan akibat kurangnya aliran darah ke bagian tertentu dari jantung. Jika iskemia berlangsung lebih dari 30-40 menit, kerusakan seluler menjadi irreversibel dan kematian otot jantung terjadi. Setelah infark, jantung mengalami proses penyembuhan yang melibatkan beberapa tahap.

Awalnya, otot jantung yang terkena infark tampak memar dan sianotik. Dalam 24 jam, edema dan respon peradangan terjadi, diikuti oleh degradasi jaringan dan pembuangan serabut nekrotik. Setelah beberapa minggu, jaringan parut mulai terbentuk dan menggantikan otot yang nekrosis. Infark miokardium

(18)

dapat mengurangi fungsi ventrikel kiri, menyebabkan penurunan daya kontraksi, perubahan gerakan dinding abnormal, dan pengurangan curah sekuncup. Tekanan akhir diastolic ventrikel kiri juga meningkat. Jantung memiliki beberapa respon kompensasi untuk mengatasi penurunan fungsi ventrikel, seperti peningkatan frekuensi jantung dan daya kontraksi, vasokontriksi umum, retensi natrium dan air, dilatasi ventrikel, dan hypertrofi ventrikel. Namun, respon kompensasi ini dapat memperburuk keadaan miokardium dengan meningkatkan kebutuhan oksigen. Dalam jangka panjang, infark miokardium dapat menyebabkan kerusakan permanen pada jantung dan mempengaruhi kualitas hidup seseorang.

2.2.5 Komplikasi Infark Miokard Akut (IMA)

Adapun Menurut (Setyowati, 2021) komplikasi infark miokard akut melupiti:

a. Gagal Jantung Kongestif: Terjadi ketika jantung tidak mampu memompa semua darah yang diterimanya. Hal ini dapat disebabkan oleh infark yang sangat luas atau aktivasi refleks baro reseptor yang menyebabkan peningkatan aliran darah kembali ke jantung yang rusak. Akibatnya, darah menumpuk di jantung, menyebabkan peregangan berlebihan pada otot jantung dan penurunan kemampuan kontraksi.

b. Disritmia: Disebabkan oleh ketidakseimbangan elektrolit dan penurunan pH. Daerah-daerah di jantung yang mudah teriritasi dapat memulai disritmia.

c. Syok Kardiogenik: Ini terjadi ketika curah jantung sangat berkurang dalam jangka waktu lama. Syok kardiogenik dapat berakibat fatal pada saat infark atau menyebabkan kematian atau kelemahan beberapa hari atau minggu kemudian karena gagal paru atau ginjal akibat iskemia. Syok kardiogenik biasanya terkait dengan kerusakan sebanyak 40% massa otot jantung.

d. Tromboemboli: Disebabkan oleh penurunan kontraktilitas miokardium.

Emboli dapat menghambat aliran darah ke bagian jantung yang sebelumnya

(19)

tidak rusak oleh infark. Emboli juga dapat mengalir ke organ lain, menghambat aliran darahnya dan menyebabkan infark di organ tersebut.

e. Perikarditis: Terjadi sebagai bagian dari reaksi peradangan setelah cedera dan kematian sel. Beberapa jenis perikarditis dapat muncul beberapa minggu setelah infark dan mungkin mencerminkan reaksi hipersensitivitas imun terhadap nekrosis jaringan.

f. Gagal Jantung Kiri: Meskipun jarang terjadi secara langsung pada miokard akut, biasanya muncul setelah 48 jam. Selain takikardia, dapat didengar bunyi jantung ketiga, krepitasi paru yang luas, dan terlihat kongesti vena paru.

g. Gagal Ventrikel Kanan: Ditandai dengan peningkatan tekanan vena jugularis dan sering ditemukan pada hari-hari pertama setelah infark akut.

Seringkali bersamaan dengan infark dinding inferior.

h. Emboli Paru / Edema Paru dan Infark Paru: Emboli paru sering menjadi penyebab kematian infark miokard akut. Kematian ini sering disebabkan oleh mobilisasi penderita yang terlalu cepat. Dugaan edema paru muncul jika terjadi hipotensi mendadak atau gagal jantung, terutama gagal ventrikel kiri beberapa saat setelah serangan infark miokard.

2.2.6 Klasifikasi Infark Miokard Akut (IMA)

Penyakit ini dapat dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu Infark Miokard Akut dengar Elevasi Segmen ST (IMA-EST)/ST Segment Elevation Myocardial Infarction (STEMI), Infark Miokard Non- Elevasi Segmen ST (IMA-NEST)/Non-ST Segment Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI), dan Angina pektoris tidak stabil/Unstable Angina Pectoris (UAP)

a. ST Elevation Myocardial Infarction

ST Elevation Myocardial Infarction (STEMI) merupakan penyakit jantung yang dapat menyumbat pembuluh darah arteri koroner secara total sehingga oksigen tidak di suplai ke otot-otot jantung, STEMI dapat terjadi ketika trombus pada plak aterosklerotik yang sudah ada sebelumnya secara

(20)

mendadak mengakibatkan aliran darah koroner menurun karena okulasi thrombus

b. Non ST Elevation Myocardial Infarction

Non ST Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI) adalah terjadinya penurunan suplai oksigen atau peningkatan kebutuhan oksigen akibat terjadinya penyempitan arteri koroner sehingga dapat menyebabkan iskemia myocardial lokal

c. Unstable Angina Pectoris

Unstable Angina Pectoris (UAP) atau angina tidak stabil merupakan ketidaknyamanan atau nyeri dada yang disebabkan oleh adanya aliran darah dan oksigen yang tidak mencukupi ke jantung atau kurangnya perfusi ke miokardium (Saff Putri, 2023)

2.2.7 Pencegahan primer, skunder, dan tersier

Adapun pencegahan primer, skunder, dan tersier menurut (Latif, 2025) yaitu:

1. Pencegahan primer

Ditujukan kepada individu yang belum pernah mengalami serangan jantung, dengan tujuan mencegah kejadian pertama.

1. Mengendalikan faktor risiko:

Tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi dan gula darah tidak terkontrol

2. Berhenti merokok sebagai langkah utama pencegahan 3. Menerapkan gaya hidup sehat:

Mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan rutin berolahraga 4. Pemberian obat pencegahan pada individu berisiko tinggi:

Aspirin dosis rendah, dan statin 5. Melakukan vaksinasi:

Influenza, Pneumonia (untuk mencegah infeksi yang dapat memicu serangan jantung)

2. Pencegahan sekunder

(21)

Dilakukan pada pasien yang sudah pernah mengalami serangan jantung, untuk mencegah kekambuhan dan memperbaiki kualitas hidup.

a. Mengendalikan faktor risiko secara konsisten

b. Menjalani pengobatan jangka panjang dengan kombinasi obat:

Spirin, statin, beta-blocker, ACE inhibitor c. Mengikuti program rehabilitasi jantung:

Aktivitas fisik terkontrol, edukasi dan dukungan psikologis d. Menjalani gaya hidup sehat berkelanjutan:

Berhenti merokok, pola makan sehat (misalnya diet Mediterania) dan rutin berolahraga sesuai kemampuan

e. Mengelola stres, kecemasan, dan depresi 3. Pencegahan Tersier

a. Rehabilitasi jantung

Program latihan fisik terkontrol dan edukasi pasien pasca-IMA.

Meningkatkan kapasitas fungsional jantung dan kualitas hidup.

b. Penggunaan obat secara teratur

Seperti beta-blocker, ACE inhibitor, statin, aspirin, dan antikoagulan.

Mencegah serangan ulang dan mengontrol faktor risiko.

c. Pemantauan dan kontrol faktor risiko

Mengontrol hipertensi, diabetes, dan kadar kolesteroldan menghentikan merokok dan membatasi konsumsi alkohol.

d. Perubahan gaya hidup sehat

Diet rendah lemak dan garam, aktivitas fisik sesuai anjuran medis dan dapat mengelola stres.

e. Tindakan lanjutan bila diperlukan

Seperti pemasangan stent atau bypass jika ada sumbatan signifikan dan pemantauan dengan EKG atau echocardiography secara berkala.

2.2.8 Penatalaksanaan pada penyakit Infark miokard akut (IMA)

Penatalaksaan pada serangan akut diantaranya meliputi penanggulangan rasa nyeri yang harus dilakukan sedini mungkin untuk mencegah aktivasi saraf

(22)

simpatis, karena safar simpatik ini dapat menyebabkan takikardi, vasokonstriksi, dan peningkatan tekanan darah yang pada gilirannya dapat memperberat beban jantung dan memperluas kerusakan miokardium. Tujuan penatalaksanaan adalah untuk menurunkan kebutuhan oksigen jantung dan untuk meningkatkan suplai oksigen

Penatalaksanaan IMA terdiri dari terapi farmakologi dan non farmakologi.

1. Terapi farmakologi ada tiga kelas obat-obatan yang biasa digunakan untuk meningkatkan suplai oksigen: vasodilatasi, antikoagulan, dan trombolik, Analgetik dapat diberikan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri dada, nyeri dikaitkan dengan aktivitas simpatis yang menyebabkan vasokonstriksi dan mengningkatkan beban jantung.

a. Antikoagulan: Seperti heparin diberikan dalam dosis 60 unit/kgBB (maksimal 4000 U) bolus intravena, dilanjutkan infus 12 unit/kgBB/

jam (maksimal 1000U / j * am ) dan enoxaparin: diberikan dalam dosis inisial 30 mg bolus intravena, dan rumatan 1 mg/kgBB secara subkutan untuk mencegah pembentukan bekuan darah.

b. Antiplatelet: Aspirin: diberikan dosis 81 mg (rentang 75 sampai 100 mg) dan clopidogrel: diberikan 300-600 mg, diikuti dosis rumatan 75 mg per 24 jam untuk mencegah agregasi trombosit.

c. Beta-blocker, diberikan tiga dosis IV 5 mg dengan jarak 5 menit, kemudian 50 mg secara oral setiap 6 jam, dimulai 15 menit setelah dosis IV ketiga, Untuk mengurangi beban kerja jantung dan menurunkan denyut jantung.

d. ACE Inhibitor: Seperti enalapril: diberikan secara intravena. Dosis awal cnalapril IV adalah 0,625 hingga 1,25 mg setiap 6 jam. Dosis dapat ditingkatkan hingga 5 mg IV setiap 6 jam dan lisinopril diberikan 2,5 hingga 40 mg per hari, tergantung indikasinya, untuk mengurangi beban kerja jantung dan meningkatkan fungsi jantung.

e. Statin; diberikan 20-40 mg per hari pada malam hari, Untuk mach kadar kolesterol dan mengurangi risiko kejadian kardiovaskular lebih lanjut.

(23)

f. Nitrates: diberikan 3-0,6 mg hingga 1,5 mg setiap 5 menit sampai maksimal 3 kali pemberian, Seperti nitrogliserin untuk meredakan nyeri dada.

g. Thrombolytics: Jika dalam fase akut dan sesuai indikasi, untuk melarutkan bekuan darah.

2. Terapi non-farmakologi pada pasien dengan Infark Miokard Akut (IMA) untuk mengurangi keluhan nyeri dada dapat dilakukan dengan kompres air hangat. Pemberian aplikasi panas pada tubuh untuk mengurangi gejala nyeri akut maupun kronis, suhu hangat dapat memperlebar pembuluh darah serta suplai oksigen dapat lebih mudah mencapai daerah yang sakit dan mampu mengurangi nyeri (RISMANYANT, 2024)

2.2.9 Diagnosa keperawatan pada pasien IMA

Menurut buku (SDKI) 2021 diagnosa yang mungkin muncul yaitu:

1. Nyeri akut (D.0077) berhubungan dengan agen pencedera fisiologis (iskemia miokard)

2. Penurunan curah jantung (D.0007) berhubungan dengan perubahan kontraktilitas jantung

3. Intoleransi aktivitas (D.0056) berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen

4. Ansietas (D.0080) berhubungan dengan krisis situasional 5. Risiko syok kardiogenik (D.0142)

6. Defisit pengetahuan (D.0111) berhubungan dengan kurang terpapar informasi

(24)

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Penyakit kardiovaskuler, khususnya Infark Miokard Akut (IMA), ada beberapa hal penting yang perlu kita pahami. Pertama, IMA merupakan kondisi serius yang bisa mengancam jiwa. Aliran darah yang terhambat ke otot jantung mengakibatkan kerusakan jaringan dan jika tidak ditangani dengan segera, bisa berujung pada kematian mendadak atau gagal jantung permanen. Kedua, faktor risiko IMA bisa dibedakan menjadi dua jenis: yang bisa dimodifikasi dan yang tidak bisa. Faktor yang bisa dimodifikasi seperti kebiasaan merokok, kadar kolesterol tinggi, diabetes, tekanan darah tinggi, dan obesitas bisa kita kendalikan untuk mencegah IMA. Faktor yang tidak bisa dimodifikasi seperti usia dan riwayat keluarga, harus kita perhatikan agar bisa mengidentifikasi individu yang berisiko tinggiKetiga, pencegahan IMA bisa dilakukan melalui tiga tahap: primer, sekunder, dan tersier. , penatalaksanaan IMA meliputi terapi farmakologi dan non-farmakologi.

3.2 Saran

Untuk meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan IMA, kita harus fokus pada beberapa hal penting. Masyarakat perlu memahami lebih dalam tentang faktor-faktor yang bisa memicu IMA dan pentingnya menerapkan gaya hidup sehat. Kampanye kesehatan, seminar, dan media massa bisa menjadi alat yang efektif untuk menyebarkan pesan ini.

(25)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kegawatdaruratan Abdomen (Apendisitis Akut)

Kegawatan abdomen merupakan salah satu penyebab utama pasien datang ke unit gawat darurat, dan apendisitis akut menempati posisi teratas sebagai kondisi bedah abdomen yang paling sering terjadi. Apendisitis akut adalah peradangan pada apendiks (usus buntu) yang jika tidak ditangani segera, dapat mengalami perforasi dan menyebabkan komplikasi serius seperti peritonitis atau sepsis. Kondisi ini biasanya muncul dengan nyeri di perut bagian kanan bawah, demam, mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan (Satria, 2024)

Secara global, pada tahun 2021, terdapat sekitar 17 juta kasus baru apendisitis dengan angka kematian mencapai 0,358 per 100.000 penduduk.

Insidensi global mencapai 214 per 100.000 penduduk, dengan risiko seumur hidup sebesar 8,6% pada pria dan 6,7% pada wanita. Di Indonesia, apendisitis akut juga menjadi masalah kesehatan yang signifikan. Data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki prevalensi apendisitis tertinggi di Asia Tenggara, yaitu 24,9 kasus per 10.000 penduduk. Di Kalimantan Selatan, meskipun kolelitiasis disebut sebagai salah satu kegawatan abdomen yang banyak ditangani di RSUD Moh. Ansari Saleh Banjarmasin (Jaminini, 2023), kasus apendisitis akut juga sangat umum ditemukan di ruang operasi darurat. Keterlambatan diagnosis, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gejala awal, serta kebiasaan mengobati sendiri dengan obat bebas sering menjadi penyebab mengapa pasien datang dalam kondisi yang sudah berat.

Ditemukan kasus apendisitis langka yaitu Apendisitis subhepatik merupakan kondisi langka yang hanya terjadi pada sekitar 0,01% dari semua kasus apendisitis akut. Dalam kasus ini, pasien mengalami nyeri di perut kanan atas selama empat hari, disertai demam, mual, dan muntah. laporan kasus ini menunjukkan bahwa apendisitis, termasuk varian langka seperti apendisitis subhepatik, memang terjadi dan ditangani di fasilitas kesehatan setempat (Setyowati 2021).

(26)

Pentingnya edukasi kesehatan mengenai gejala awal apendisitis dan pentingnya mencari pertolongan medis secara cepat perlu ditekankan dalam program promotif dan preventif. Pemeriksaan fisik dan penunjang seperti USG abdomen harus dilakukan secara cepat dan akurat agar tindakan bedah dapat segera dilaksanakan. Maka dari itu, memahami manajemen kegawatan abdomen, khususnya apendisitis akut, sangat penting dalam praktik keperawatan dan pelayanan gawat darurat di Indonesia (Aditya, 2024)

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk melakukan keperawatan kegawat-daruratan tentang upaya pencegahan primer, skunder, dan tersier pada masalah kasus Abdomen dengan apendisitis.

1.2 Rumusan masalah

Bagaimanakah upaya pencegahan primer, skunder, dan tersier pada masalah kasus kegawat-daruratan penyakit Abdomen dengan apendisitis

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Mahasiswa mampu mengetahui tentang upaya pencegahan primer, skunder, dan tersier pada masalah kasus kegawat-daruratan Abdomen dengan apendisitis

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mahasiswa mampu mengetahui Definisi apendisitis 2. Mahasiswa mampu mengetahui Etiologi apendisitis

3. Mahasiswa mampu mengetahui Manifestasi Klinis apendisitis 4. Mahasiswa mampu mengetahui Patofisiologi apendisitis 5. Mahasiswa mampu mengetahui Komplikasi apendisitis 6. Mahasiswa mampu mengetahui Klasifikasi apendisitis

7. Mahasiswa mampu mengetahui Pencegahan primer, skunder, dan tersier pada penyakit apendisitis

8. Mahasiswa mampu mengetahui Penatalaksanaan pada penyakit apendisitis 9. Mahasiswa mampu mengetahui Diagnosa keperawatan pada penyakit

apendisitis 1.4 Manfaat

(27)

Diharapkan dapat menambah wawasan bagi pembaca mengenai pencegahan primer, sekunder, dan tersier pada kasus kegawat daruratan pada abdomen (apendisitis)

(28)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Kegawatdaruratan Abdomen 2.3.1 Definisi Apendisitis Akut

Apendistis merupakan peradangan pada apendiks vermiformis atau biasa dikenal di masyarakat dengan peradangan pada usus bantu yang penyebabnya manih di perdebatkan. Beberapa pestinian mengungkapkan bahwa adanya peradangan atau sustatan pada apendas yang bersiht Episodik dan bilang timbul dalam waktu yang lama (Kheru, 2022)

2.3.2 Etiologi Apendisitis Akut

Apendisitis akut merupakan merupakan infeksi bakteria. Berbagai berperan sebagai faktor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai faktor pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor apendiks dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E.histolytica. Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaanmakan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya ini mempermudah timbulnya apendisitis akut (Serli Wulan Saftri, 2023) 2.3.3 Manifestasi Apendisitis Akut

Menurut (Sa'adah, 2024) Gejala berkembang cepat, kondisi dapat didiagnosis dalam 4 sampai 6 jam setelah munculnya gejala pertama.

a. Nyeri perut. Beberapa tanda nyeri yang terjadi pada kasus apendisitis dapat diketahui melalui beberapa tanda nyeri, antara lain: Rovsing's sign, Psoas sign, dan Obturator sign. Nyeri perut ini sering disertai mual serta satu atau lebih episode muntah dengan rasa sakit.

b. Umumnya nafsu makan akan menurun.

(29)

c. Konstipasi.

d. Nilai leukosit biasanya meningkat dari rentang nilai normal.

e. Pada auskultasi, bising usus normal atau meningkat pada awal apendisitis dan bising usus melemah jika terjadi perforasi.

f. Demam.

g. Temuan dari hasil USG berupa cairan yang berada di sekitar apendiks menjadi sebuah tanda sonografik penting.

2.3.4 Patofisiologi Apendisitis Akut

Apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Semakin lama mukus tersebut semakin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut lokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium

Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebutakan menyebkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah. Keadaan ini disebut apendisitis supuratif akut. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dindingyang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis. Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu massa klokal yang disebut infiltrate apendikularis. Peradangan pada apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, kerena omentum lebih pendek dan apendiks lebihpanjang, maka dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih

(30)

kurang sehingga memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua, perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah (Serli Wulan Saftri, 2023)

2.3.5 Komplikasi Apendisitis Akut

Adapun komplikasi Apendisitis Akut menurut (Geniko,2024) meliputi:

a. Abses. Abses merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mula- mula berupa flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi bila apendisitis gangren atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum.

b. Perforasi. Perforasi adalah pecahnya apendiks yang berisi pus sehingga bakteri menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam. Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70% kasus dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas lebih dari 38,50C, tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis terutama polymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik berupa perforasi bebas maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.

c. Peritononitis. Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis.

Bila infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum

2.3.6 Klasifikasi Apendisitis Akut

Menurut (Kheru, 2022) Klasifikasi apendisitis terbagi menjadi dua yaitu, apendisitis akut dan apendisitis kronik:

a. Apendisitis akut

Apendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak disertai rangsang peritonieum lokal. Gajala apendisitis akut talah nyeri

(31)

samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral didaerah epigastrium disekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ketitik mcBurney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat b. Apendisitis kronik

Diagnosis apendisitis kronis baru dapat ditegakkan jika ditemukan adanya riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang kronik apendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Kriteria mikroskopik apendisitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa, dan adanya selinflamasi kronik. Insiden apendisitis kronik antara 1-5%

2.3.7 Pencegahan Primer, Skunder dan Tersier tentang Apendisitis Akut Adapun pencegahan primer, skunder dan tersier menurut (Mugi Hartoyo, 2024)

1. Pencegahan Primer

a. Pola makan sehat dengan Konsumsi makanan tinggi serat (sayur, buah, biji-bijian) untuk mencegah sembelit dan penyumbatan di usus buntu.

b. Hindari makanan rendah serat dan olahan yang bisa memperlambat pergerakan usus.

c. Minum air yang cukup setiap hari untuk membantu sistem pencernaan.

d. Gaya hidup aktif Olahraga teratur membantu kelancaran sistem pencernaan.

e. Edukasi kesehatan masyarakat tentang pentingnya menjaga pencernaan 2. Pencegahan Skunder

a. Pengenalan gejala awal sepeti Nyeri perut kanan bawah, mual, muntah, demam ringan.

b. Pemeriksaan medis dini bila muncul gejala khas.

(32)

c. Diagnosa cepat dengan pemeriksaan fisik, laboratorium, atau USG/CT scan.

d. Tindakan segera Jika terindikasi, segera dilakukan apendektomi (operasi usus buntu) sebelum pecah.

3. Pencegahan Tersier

a. Perawatan pasca-operasi yang tepat (kebersihan luka, kontrol nyeri, pemberian antibiotik jika diperlukan).

b. Pemantauan komplikasi Seperti infeksi luka, abses, atau peritonitis.

c. Rehabilitasi bila diperlukan (misalnya jika ada komplikasi besar).

d. Edukasi pasien untuk mencegah keterlambatan mencari pertolongan jika mengalami gejala serupa di masa depan.

2.3.8 Penatalaksanaan Apendisitis Akut 1. Terapi Farmakologi

Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan.

Antibiotik dan cairan IV diberikan serta pasien diminta untuk membatasi aktivitas fisik sampai pembedahan dilakukan. Kemudian analgetik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakkan. Apendiktomi (pembedahan untuk mengangkat apendiks) dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi. Apendiktomi dapat dilakukan dibawah anestesi umum umum atau spinal, secara terbuka ataupun dengan cara laparoskopi yang merupakan metode terbaru yang sangat efektif. Bila apendiktomi terbuka, insisi Mc.Burney banyak dipilih oleh para ahli bedah. Pada penderita yang diagnosisnya tidak jelas sebaiknya dilakukan observasi dulu. Pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi bisa dilakukan bila dalam observasi masih terdapat keraguan. Bila terdapat laparoskop, tindakan laparoskopi diagnostik pada kasus meragukan dapat segera menentukan akan dilakukan operasi atau tidak (Serli Wulan Saftri, 2023)

2. Terapi non farmakologi

(33)

Tindakan yang dapat dilakukan perawat adalah selain mengubahposisi, meditasi, makan yang teratur, dan membuat klien merasa nyaman yaitu mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam. (Sa'adah, 2024)

2.3.9 Diagnosa keperawatan pada apendisitis

Menurut (Arsa, 2023) diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kasus apendisitis yaitu:

1) Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi (distensi jaringan intestinal oleh inflamasi)

2) Anxiety berhubungan dengan akan dilaksanakan operasi.

3) Resiko Infeksi dibuktikan dengan efek prosedur invasive 4) Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri

(34)

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Apendisitis akut adalah suatu kondisi peradangan pada apendiks vermiformis yang memerlukan penanganan segera karena berisiko menyebabkan komplikasi serius seperti perforasi, abses, dan peritonitis. Penyebab utama dari kondisi ini adalah obstruksi lumen apendiks oleh berbagai faktor seperti fekalit, hiperplasia limfoid, atau benda asing, yang kemudian memicu reaksi peradangan dan infeksi. Gejala khas meliputi nyeri perut kanan bawah, mual, muntah, demam, dan peningkatan jumlah leukosit. Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan fisik, laboratorium, dan pencitraan seperti USG atau CT scan. Penatalaksanaan utama adalah pembedahan berupa apendektomi, baik dengan metode terbuka maupun laparoskopi, disertai terapi suportif seperti antibiotik, cairan infus, dan penghilang nyeri.

Upaya pencegahan apendisitis dapat dilakukan melalui pendekatan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer mencakup pola hidup sehat, khususnya konsumsi makanan berserat tinggi dan hidrasi yang cukup. Pencegahan sekunder fokus pada deteksi dini gejala serta penanganan cepat untuk mencegah komplikasi. Sementara itu, pencegahan tersier bertujuan meminimalkan dampak lanjutan pasca-operasi dan mencegah kekambuhan melalui edukasi pasien dan pemantauan rutin. Dengan diagnosis dan terapi yang tepat serta kesadaran masyarakat akan gejala awal, angka morbiditas dan mortalitas akibat apendisitis akut dapat ditekan secara signifikan.

3.2 Saran

Untuk meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan apendisitis , kita harus fokus pada beberapa hal penting. Masyarakat perlu memahami lebih dalam

(35)

tentang faktor-faktor yang bisa memicu apendisitis dan pentingnya menerapkan gaya hidup sehat. Kampanye kesehatan, seminar, dan media massa bisa menjadi alat yang efektif untuk menyebarkan pesan ini

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, V. I. (2023). Edukasi Dan Deteksi Dini Infeksi Saluran Kemih Pada Ibu Hamil. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri), 7(3), 2653-2662.

Aditya, F. &. (2024). Apendisitis Akut Pada Pasien Dewasa: Ulasan Singkat.

Medical Profession Journal of Lampung, 14(3), 583-586.

Amalia, R. P. (2022). Pola Peresepan Antibiotik Pasien Infeksi Saluran Kemih (ISK) Rawat Inap di RSUD Provinsi NTB Tahun 2019. Jurnal Archives Pharmacia, 4(1), 1-10.

Amriani, E. A. (2024). Karakteristik infark miokard akut pada usia muda.

PREPOTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT, 8(2), 2996-3005.

Angraeni, A. S. (2025). Pengaruh Kompres Air Hangat Terhadap Skala Nyeri Pada Pasien Infark Miokard Akut di Ruang Abimanyu RSUD Jombang (Doctoral dissertation, ITSKes Insan Cendekia Medika Jomban.

Angraeni, A. S. (2025). Pengaruh Kompres Air Hangat Terhadap Skala Nyeri Pada Pasien Infark Miokard Akut di Ruang Abimanyu RSUD Jombang (Doctoral dissertation, ITSKes Insan Cendekia Medika Jombang).

Anjaya, P. U. (2024). Penatalaksanaan Pasien Perempuan Usia 33 Tahun dengan Infeksi Saluran Kemih dan Dispepsia melalui Pendekatan Dokter Keluarga di Wilayah Puskesmas Rawat Inap Kedaton. . Medical Profession Journal of Lampung, 14(7), 14.

Atthariq, G. (2024). Klasifikasi infeksi saluran kemih menggunakan support vector machine berdasarkan parameter urinalisis (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim).

(36)

Ayu Nur’efni Titania, P. U. (2024). ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. V DENGAN DIAGNOSA MEDIS INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) DI RUANG D1 RSPAL dr. RAMELAN SURABAYA (Doctoral dissertation, STIKES HANG TUAH SURABAYA).

Cardiology., E. S. (2023). Guidelines for Cardiovascular Disease Prevention. ESC Guidelines .

Danarto, H. R. (2021). BUKU AJAR UROLOGI. . UGM PRESS.

Dewi Marlianti, D. E. (2025). Penerapan Teknik Relaksasi Benson Untuk Mengurangi Skala Nyeri Pasien Acute Myocardial Infarc (Ami)/Stemi (Doctoral Dissertation, Universitas Kusuma Husada Surakarta).

Geniko, A. M. (2024). ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF: Kombinasi Konsep dan Tindakan (Pre, Intra & Post) dengan Pendekatan 3S (SDKI, SLKI, dan SIKI). MEGA PRESS NUSANTARA.

Geniko, A. M. (2024). ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF: Kombinasi Konsep dan Tindakan (Pre, Intra & Post) dengan Pendekatan 3S (SDKI, SLKI, dan SIKI). . MEGA PRESS NUSANTARA.

Jamini, T. &. (2023). Gambaran Karakteristik Penderita Kolelitiasis di RSUD Moh.

Ansari Saleh. Jurnal Surya Medika (JSM), 9(2), 291–295.

Kheru, A. S. (2022). Perbedaan jumlah leukosit pasien apendisitis akut dan perforasi. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 11(1), 161-167.

Latif, D. (2025). FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PENANGANAN PASIEN GAWAT DARURAT DENGAN SINDROM KORONER AKUT: LITERATURE REVIEW (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Magelang).

Mugi Hartoyo, M. (2024). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah II. . Mahakarya Citra Utama Group.

(37)

 Ns. Lasmina Lumban Gaol, S. M. (2025). PEMERIKSAAN FISIK KESEHATAN.

Media Pustaka Indo.

Rahayu, N. K. (2025). Penerapan Metode K-Nearest Neighbor untuk Mengklasifikasikan Penyakit Cardiovascular. In Bandung Conference Series: Statistics (Vol. 5, No. 1, pp. 19-26).

Ramesh, S. e. (2022). Emergencies in Urology. Springer International Publishing.

Sa'adah, L. Q. (2024). ASUHAN KEPERAWATAN PRE OPERASI PADA PASIEN APPENDICITIS DENGAN MASALAH KEPERAWATAN ANSIETAS MENGGUNAKAN TERAPI RELAKSASI BENSON.

Saff Putri, A. P. (2023). GAMBARAN PASIEN INFARK MIOKARD DENGAN ST ELEVASI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH RADEN MATTAHER PERIODE JANUARI 2022-JUNI 2023 (Doctoral dissertation, Universitas Jambi).

 Serli Wulan Saftri, S. ,. (2023). Bahan Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Dewasa. adap.

Selatan., D. K. (2023). Data Penyakit Jantung Koroner di Kalimantan Selatan.

Banjarmasin: Dinkes Kalsel.

Setyaningrum, N. H. (2024). Buku Ajar Keperawatan Gawat Darurat. . PT.

Sonpedia Publishing Indonesia.

Setyowati. (2021). Keperawatan Medikal Bedah Sistem Kardiovaskular ; Buku Lovrinz Publishing. LovRinz Publishing.

Sofiah, W. &. (2022). Asuhan Keperawatan Pasien Yang Mengalami Infark Miokard Akut Dengan Nyeri Melalui Teknik Relaksasi Nafas Dalam. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Bengkulu, 10(1), 78-83.

Syarofina, U. (2021). Asuhan Keperawatan Pada An. A dengan Infeksi Saluran Kemih (Isk) di Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul

(38)

(Doctoral dissertation, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.

Vaoziah, R. T. (2021). EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD 45’KUNINGAN. Jurnal Farmaku (Farmasi Muhammadiyah Kuningan), 6(1), 26-30.

Widiyastuti, S. F. (2023). Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Infeksi Saluran Kemih. Medical Profession Journal of Lampung, 13(6),.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa upaya keluarga dalam pencegahan primer Filariasis pada subvariabel promosi kesehatan, hamper setengahnya dari responden

PENANGGULANGAN VIRUS HIV/AIDS DI KABUPATEN BOYOLALI (Studi Kasus Tentang Peran SPEK-HAM atau Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia Dalam Upaya

Tujuan penelitian adalah membuat modul prevensi sekunder untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan guru dalam upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak usia

Tesis ini berjudul : Kebijakan Non Penal Dalam Upaya Pencegahan & Perlindungan Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (Trafiking) (Studi Kasus Provinsi Sumatera Utara).

PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU DALAM UPAYA PENCEGAHAN PRIMER DIABETES MELLITUS ANTARA MAHASISWA SEMESTER 1, TINGKAT PROFESI APOTEKER MINAT INDUSTRI.. DAN KLINIS FAKULTAS

Upaya yang dapat dilakukan untuk pencegahan atau mengurangi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah kita dapat memberikan pengetahuan mengenai

Berdasarkan hasil penelitian tentang upaya keluarga dalam pencegahan primer Filariasis di Desa Nanjung Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung dalam aspek promosi

2.9 Pendidikan kesehatan dan upaya pencegahan primer, sekunder dan tersier pada kasus GGK Gagal ginjal kronis merupakan suatu keadaan di mana ginjal mengalami kerusakan yang serius