• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Pencegahan Primer, Sekunder Dan Tersier Pada Kegawat Daruratan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Upaya Pencegahan Primer, Sekunder Dan Tersier Pada Kegawat Daruratan"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH MAKALAH

UPAYA-UPAYA PENCEGAHAN PRIMER, SEKUNDER DAN TERSIER UPAYA-UPAYA PENCEGAHAN PRIMER, SEKUNDER DAN TERSIER

PADA KASUS KEGAWAT DARURATAN PADA KASUS KEGAWAT DARURATAN

Oleh : Oleh : KELOMPOK 1 KELOMPOK 1

WINDI SINTIA DEBI WINDI SINTIA DEBI TUTIK SETIYAWATI TUTIK SETIYAWATI PATI LESTARI PATI LESTARI HEMA MAULINA HEMA MAULINA M. ZAINI M. ZAINI ZUHRI RAIS ZUHRI RAIS

SILARAGITA DWI OKTAVIA SILARAGITA DWI OKTAVIA

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN JENJANG S.1 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN JENJANG S.1

MATARAM MATARAM

2018 2018

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah S.W.T, karena atas  berkat rahmat dan inayah-Nya terutama rahmat kesehatan dan kesempatan sehingga

kami dapat menyusun Makalah Gawat Darurat dengan judul”Pencegahan Primer, Sekunder dan Tersier pada Gawat Darurat Berbagai Sistem”

Terimakasih kami ucapkan kepada dosen pengajar , yang dengan ikhlas telah mengajar dan mengarahkan kami dalam menyelesaikan tugas makalah. Terimakasih  juga kami ucapkan kepada teman-teman kelas A2 yang selalu memberi dukungan

kepada kami dalam penyelesaian tugas ini.

Kami menyadari bahwa dalam Makalah ini, kami terdapat banyak hambatan yang dihadapi, namun dengan ketabahan dan kerja keras kami serta dengan bantuan dari teman- teman sehingga Alhamdulillah segala sesuatu dapat teratasi.

Kritik dan saran dari semua pihak akan kami terima dengan senang hati demi kesempurnaan Makalah ini.

Mataram, Maret 2018

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB 1 : PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 2

1.3 Tujuan ... 2

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1 Pencegahan Primer ... 3

2.2 Pencegahan Seknder... 5

2.3 Pencegahan Tersier ... 7

2.4 Pencegahan Primer Skunder Dann Tersier Berdasaran Letak Trauma ... 7

2.4.1 Trauma Kepala Dan Wajah ... 7

2.4.2 Trauma Toraks Dan Leher ... 7

2.4.3 Trauma Abdomen ... 8

2.4.4 Trauma Tulang Belakang ... 9

2.4.5 Trauma Muskuloskeletal ... 10

BAB 3 : PENUTUP ... 12

3.1 Simpulan ... 12 DAFTAR PUSTAKA

(4)
(5)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan suatu Negara yang terletak dalam pertemuan 5 lempeng dunia, selain itu Indonesia juga terletak direntetan gunung berapi mulai dari aceh hinga ke Maluku.

Akhir-akhir in berbagai bencana sepertinya belum bisa lepas dari Negara kita mulai dari kebakaran pabrik, banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami dan letusan gunung berapi, hal ini menggambarkan bahwa masih rentannya masyarakat menjadi korban bencana. Bencana yang pernah kita kenal ada dua macam yaitu bencana yang bersifat umum ( menyangkut orang banyak ) dan  bencana yang hanya terjadi pada satu orang atau beberapa orang saja atau

sering kita sebut sebagai kecelakaan. Kecelakaan umumnya terjadi secara mendadak dan seringnya kita sebagai tenaga kesehatan tidak cukup siap untuk menolong korban walaupun berpuluh-puluh teori sudah kita pelajari. Kita tentu mengingat tentang Gawat Darurat, bahkan kata itu sudah menjadi kata-kata setiap hari yang sering kita ucapkan walaupun belum tentu benar dalam mengartikannya.

Gawat artinya mengancam nyawa, sedangkan darurat adalah perlu mendapatkan penanganan atau tindakan dengan segera untuk menghilangkan ancamannyawa korban. Keperawatan gawat darurat (Emergency Nursing) merupakan pelayanan keperawatan yang komprehensif diberikan kepada  pasien dengan injuri akut atau sakit yang mengancam kehidupan. Tujuan  penanggulangan gawat darurat adalah untuk:

1. Mencegah kematian dan cacat pada pasien gawat darurat, hingga dapat hidup dan berfungsi kembali dalam masyarakat.

2. Merujuk pasien gawat darurat melalui system rujukan untuk memperoleh  penanganan yang lebih memadai.

(6)

2

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apakah pencegahan primer, sekunder dan tersier pada gawat darurat ? 1.2.2 Apakah pencegahan primer sekunder dan tersier pada gawat darurat di

 berbagai system ? 1.3 Tujuan

1.3.1 Untuk mengetahui pencegahan primer, sekunder tersier pada gawat darurat

1.3.2 Untuk mengetahui pencegahan primer sekunder dan tersier pada gawat darurat di berbagai system

(7)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pencegahan Primer

Upaya yang ditujukan kepada orang-orang sehat dan kelompok resiko tinggi yakni mereka yang belum menderita, tetapi berpotensi untuk mengalami Multi trauma. Tujuan dari pencegahan primer yaitu untuk mencegah timbulnya Multi Trauma pada individu yang beresiko mengalami Multi Trauma atau pada populasi umum. Sasaran pencegahan primer yaitu orang-orang yang belum sakit dan klien yang beresiko terhadap kejadian Multi Trauma.

Pencegahan primer adalah intervensi biologi, sosial, atau psikologis yang bertujuan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan atau menurunkan insiden penyakit di masyarakat dengan mengubah faktor-faktor penyebab sebelum membahayakan seperti penyuluhan kesehatan, pengubahan lingkungan, dukungan system social.

Pencegahan primer dapat dilakukan dengan : 2.1.1 Penyuluhan kesehatan

Penyuluhan kesehataan merupakan salah satu bagian dari  pencegahan primer yang mampu dilakukan. Penyuluhan kesehatan mencakup memperkuat individu dan kelompok melalui pembentukan kompetensi. Asumsinya adalah banyak respon maladaptive terjadi akibat kurangnya kompetensi. Hal ini meliputi kurangnya control yang dirasakan terhadap kehidupan seseorang, rasa keefektifan diri yang rendah, kurang efektifnya strategi koping, dan harga diri rendah yang terjadi. Penyuluhan kesehatan mencakup empat tingkat intervensi  berikut ini.

1. Meningkatkan kesadaran individu atau kelompok tentang masalah dan peristiwa yang berhubungan dengan sehat dan sakit, seperti tugas perkembangan normal.

2. Meningkatkan pemahaman seseorang tentang dimensi stressor yang  potensial, kemungkinan hasil (baik adaptif maupun maladaptif),

(8)

4

3. Meningkatkan pengetahuan seseorang tentang dimana dan  bagaimana memperoleh sumber yang diperlukan.

4. Meningkatkan keterampilan penyelesaian masalah individu atau kelompok, keterampilan interpersonal, toleransi terhadap stres dan frustasi, motifasi, harapan, dan harga diri.

2.1.2 Pengubahan lingkungan

Intervensi preventif mungkin dilakukan untuk memodifikasi lingkungan terdekat individu atau kelompok atau system social yang lebih besar. Intervensi ini terutama bermanfaat apabila lingkungan menempatkan tuntutan baru kepada pasien, tidak tanggap terhadap kebutuhan perkembangan, dan hanya memberikan sedikit dukungan. Pengubahan lingkungan meliputi jenis berikut ini.

1. Ekonomi

Mengalokasikan sumber untuk bantuan financial atau  bantuan anggaran dan pengelolaan penghasilan.

2. Pekerjaan

Menerima tes pekerjaan, bimbingan, pendidikan, atau  pelatihan kembali yang dapat menghasilkan pekerjaan atau karir  baru.

3. Perumahan

Pindah ketempat baru, yang berarti meninggalkan atau kembali pada keluarga dan teman; memperbaiki rumah yang sudah ada; mendapatkan atau kehilangan keluarga, teman atau teman sekamar.

4. Keluarga

Memasukkan anak pada fasilitas perawatan, taman kanak-kanak, sekolah dasar, atau berkemah, mendapatkan pelayanan rekreasi, social, keagamaan, atau komunitas.

(9)

Memengaruhi struktur dan prosedur pelayanan kesehatan;  berperan serta dalam perencanaan dan pengembangan

komunitas; mengatasi masalahlegislatif. 2.1.3 Dukungan system social

Penguatan dukungan social adalah cara mengurangi atau memperkecil pengaruh dari peristiwa yang berpotensi menimbulkan sters. Empat jenis intervensi preventif yang mungkin adalah:

1. Mengkaji lingkungan masyarakat untuk mengidentifikasi area masalah dan kelompok resiko tinggi.

2. Meningkatkan hubungan antara system dukungan masyarakat dan  pelayanan kesehatan jiwa formal.

3. Menguatkan jaringan pemberian pelayanan yang ada, meliputi kelompok gereja, organisasi masyarakat, kelompok wanita, dukungan tempat kerja, dan lingkungan, dan self-help group.

4. Membantu individu atau kelompok dalam mengembangkan, mempertahankan, memperluas, dan menggunakan jaringan social yang tersedia.

2.2 Pencegahan Sekunder

Tujuan dari pencegahan skunder kegawat daruratan yaitu Pendeteksian dini Multi Trauma serta penanganan segera sehingga komplikasi dapat dicegah. Sasaran pencegahan skunder yaitu pasien multi trauma yang baru terdiagnosa dan Kelompok penduduk resiko tinggi ( supir, tukang ojek, Balita, Pekerja  bangunan, pemanjat tebing ). Pencegahan skunder termaksud menurunkan  prevalensi ganguan. aktifitas pencegahan skunder meliputi penemuan kasus dini, skrining dan pengobatan efektif yang cepat. intervensi krisis adalah suatu modalitas terapi pencegahan sekunder yang penting.

2.2.1 Krisis

Krisis adalah gangguan internal yang ditimbulkan oleh peristiwa yang menegangkan atau ancaman yang dirasakan pada diri seseorang. Mekanisme koping yang biasa digunakan seseorang. Mekanisme koping yang biasa digunakan seseorang menjadi tidak efektif untuk mengatasi ancaman, dan orang tersebut mengalami suatu

(10)

6

ketidakseimbangan serta peningkatan ansietas. Ancaman atau peristiwa  pencetus biasanya dapat diidentifikasi. Tujuan intervensi krisis adalah individu pada tingkat fungsi sebelum krisis. Krisis memiliki keterbatasan waktu, dan konflik berat yang ditimbulkan dapat menstimulasi pertumbuhan personal. Apa yang dilakukan seseorang terhadap krisis menentukan pertumbuhan atau disorganisasi bagi orang tersebut.

2.2.2 Factor pengimbang

Dalam menguraikan resolusi krisis, beberapa factor pengimbang yang penting perlu dipertimbangkan. Keberhasilan resolusi krisis kemungkinan besar terjadi jika persepsi individu terhadap peristiwa adalah realististis bukan menyimpang, jika tersedia dukungan situasional sehingga orang lain dapat membatu menyelesaikan masalah, dan jika tersedia mekanisme koping untuk membantu mengurangi ansietas.

2.2.3 Jenis –  jenis krisis a. Krisis maturasi.

Krisis maturasi merupakan masa transisi atau perkembangan dalam kehidupan seseorang pada saat keseimbangan psikologis terganggu, seperti pada masa remaja, menjadi orang tua,  pernikahan, atau pensiun. Krisis maturasi menuntut perubahan  peran. Sifat dan besarnya krisis maturasi dapat dipengaruhi oleh model peran, sumber interpersonal yang memadai, dan kesiapan orang lain dalam menerima peran baru.

 b. Krisis situasi.

Krisis situasi terjadi ketika peristiwa eksternal tertentu mengganggu keseimbangan psikologis individu atau keseimbangan kelompok. Contohnya yaitu kehilangan pekerjaan,  perceraian, kematian, masalah sekolah, penyakit dan bencana.

(11)

2.3 Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier adalah upaya meningkatkan angka kesembuhan, angka survival (bertahan hidup), dan kualitas hidup dalam mengatasi penyakit. Aktivitas pencegahan tersier mencoba untuk mengurangi beratnya gangguan dan disabilitas yang berkaitan. Rehabilitasi adalah proses yang memungkinkan individu untuk kembali ke tingkat fungsi setinggi mungkin.

2.4 Pencegahan primer skunder dann tersier berdasaran letak trauma : 2.4.1 Trauma kepala dan wajah

a. Pencegahan primer

Upaya yang dilakukan perawat untuk pencegahan primer meliputi penyuluhan kepada masyarakat luas melalui lembaga swadaya masyarakat dan lembaga sosial lainnya. Program  penyuluhan diarahkan ke penggunaan Helm saat mengemudi kendaraan bermotor, Anak –  anak yang masih Balita selalu diawasi oleh orang tua, jangan Mengemudikan kendaraan dengan kecepatan yang tinggi, pada pemanjat tebing saat memanjat harus menggunakan pengaman pada kepala dan badan, Pada pekerja  bangunan agar menggunakan helm saat menaiki bangunan yang

tinggi.

 b. Pencegahan sunder

1) Penanganan segera secara cepat dan tepat pada penderita Multi Trauma:

Pada cedera Otak :

a) Pertahankan kepala harus berada dalam posisi gais tengah  b) Untuk jaringan yang terkoyak dari wajah, semua jaringan

dan organ yang lepas dikembalikan ke tempat semula. c) Berikan sedatif untuk mengatasi agitasi, ventilasi mekanis d) Berikan obat untuk menghentikan kejang : Benzodiazepin. e) Tindakan untuk menurunkan TIK

2) Pencegahan komplikasi akut dan kronis : a) cegah perdarahan yang hebat

(12)

8

c. Pencegahan tersier

1)  pada cedera kepala ringan :

-a) Klien harus didampingi oleh seseorang selama waktu 24  jam sesudah cedera.

 b) Jangan meminum minuman beralkohol selama 24  jam.beristirahat selama 24 jam berikutnya

c) Jangan mengemudikan kendaraan, mengoperasikan mesin, atau mengamibil keputusan yang penting.

2.4.2 Trauma Toraks dan Leher 

a. Pencegahan primer

 paya yang dilakukan perawat untuk pencegahan primer meliputi penyuluhan kepada masyarakat luas melalui lembaga swadaya masyarakat dan lembaga sosial lainnya. Program  penyuluhan diarahkan ke penggunaan Helm saat mengemudi kendaraan bermotor, Anak  –   anak yang masih Balita selalu diawasi oleh orang tua, jangan Mengemudikan kendaraan dengan kecepatan yang tinggi, pada pemanjat tebing saat memanjat harus menggunakan pengaman pada kepala dan badan, Pada pekerja  bangunan agar menggunakan helm saat menaiki bangunan yang

tinggi.

b. Pecegahan skunder

1) Tindakan untuk mengeluarkan cairan yang masif lewat Chest tube

2) Bebaskan jalan napas dengan mengatur posisi mandibula yang tepat

2.4.3 Trauma Abdomen a. Pencegahan primer

Upaya yang dilakukan perawat untuk pencegahan primer meliputi penyuluhan kepada masyarakat luas melalui lembaga swadaya masyarakat dan lembaga sosial lainnya. Program  penyuluhan diarahkan ke penggunaan Helm saat mengemudi kendaraan bermotor, Anak –  anak yang masih Balita selalu diawasi oleh orang tua, jangan Mengemudikan kendaraan dengan

(13)

kecepatan yang tinggi, pada pemanjat tebing saat memanjat harus menggunakan pengaman pada kepala dan badan, Pada pekerja  bangunan agar menggunakan helm saat menaiki bangunan yang

tinggi.

 b. Pencegahan skunder : Lakukan pemeriksaan Fisik secara cermat. c. Pencegahan tersier

1) Pada Trauma Limpa :

 Imunisasi rutin dengan vaksin pneumucocus, dilakukan  pada pasien yang baru menjalani splenektomi yang baru  pulanng dari rumah sakit, untuk mengurangi risiko

overwhelming postsplenectomy infection ( OPSI)

 Pada pasien yang mengalami hematoma Limpa Subkapsular Menghindarai aktivitas yang berat dan olahraga fisik selama kurang lebih 3 bulan untuk mencegah terjadinya perdarahan ulang yang menyebabkan ruptur limpa.

2) Pada pasien yang mengalami cedera colon :

 Pasien yang diduga cedera colon atau rekrum harus diberikan profillaksis antibiotik parenteral untuk mengatasi kuman –  kuman gram negatif aerob ( se perti Escherichia Coli ), dan anerob ( seperti Bcateroides fragilis ), sehingga kadar darah yang adekuat dapat dicapai pada saat laparatomi.

3) Pada cedera vaskular abdomen : tindakan umtuk mencegah hipotermi

4) Menghangatkan semua cairan infus kristaloid dan darah 5) Menggunakan rangkaian proses pemanasan leawt ventilator 6) Memberikan selimut hangat dan memasang lampu Menutup

kepala pasien. 2.4.4 Trauma Tulang Belakang

a. Pencegahan primer

 paya yang dilakukan perawat untuk pencegahan primer meliputi penyuluhan kepada masyarakat luas melalui lembaga

(14)

10

swadaya masyarakat dan lembaga sosial lainnya. Program  penyuluhan diarahkan ke penggunaan Helm saat mengemudi kendaraan bermotor, Anak –  anak yang masih Balita selalu diawasi oleh orang tua, jangan Mengemudikan kendaraan dengan kecepatan yang tinggi, pada pemanjat tebing saat memanjat harus menggunakan pengaman pada kepala dan badan, Pada pekerja  bangunan agar menggunakan helm saat menaiki bangunan yang

tinggi.

 b. Pencegahan skunder

1) Pasien harus di imobilisasi

a. Stabilisasi kepala dengan memfiksasinya dalam posisi segaris dan memerintahkan kepada pasien untuk tidak menggerakkan leher atau kepalanya.

 b. Pengkajian fungsi motorik dan sensorik

c. Bantuan langsung untuk memasang serta mengunci kollar servilkal yang kaku sesuai dengan ukuran, menggulingkan tubuh pasien satu garis ke sisi tubuhnya serta memasang  papan punggung dan mengikat tali papan punggung serta

alat penyangga kepala dan pitanya.

d. Cegah hipoksia dengan mempertahankan saturasi oksigen yang melibihi 90 % dan nilai hematokrit yang melibihi 30 %.

2.4.5 Trauma Muskuloskeletal a. Pencegahan primer

Upaya yang dilakukan perawat untuk pencegahan primer meliputi penyuluhan kepada masyarakat luas melalui lembaga swadaya masyarakat dan lembaga sosial lainnya. Program  penyuluhan diarahkan ke penggunaan Helm saat mengemudi kendaraan bermotor, Anak –  anak yang masih Balita selalu diawasi oleh orang tua, jangan Mengemudikan kendaraan dengan kecepatan yang tinggi, pada pemanjat tebing saat memanjat harus menggunakan pengaman pada kepala dan badan, Pada pekerja

(15)

 bangunan agar menggunakan helm saat menaiki bangunan yang tinggi.

 b. Pencegahan skunder

1) Untuk mengendalikan perdarahan lakukan penekanan langsung ( Turniket)

2) Apabila benda yang menancap maka harus distabilkan dengan metode apa saja, sehingga mencegah trauma lebih lanjut.

3) Imobilisasi fraktur : Pembidaian bagian atas dan bawah fraktur, meliputi persendian proksimal dan distal.

4) Pada pasien yang fraktur :

a) Pembatasan aktivitas yang sederhana dengan penggunaan mitela dan kruk

 b) Reposisi tertutup diikuti oleh pemasangan gips. c. Pencegahan tersier

1) Untuk menangani avulsi yaitu :

a) memantau dan mengendalikan perdarahan dengan  penekanan langsung

 b) rigasi flap kulit yang dilakukan dengan hati  –   hati, dan selanjutnya ditutupi dengan balutan yang tebal, steril serta  basah.

2) Imobilisasi fraktur : Pembidaian dengan pemasangan bantalan (pad ) untuk mencegah disrupsi kulit yang lebih lanjut.

3) Untuk mencegah terjadinya fraktur yang lebih lanjut : pasien yang akan dipulangkan :

a) Perawatan gips harus disampaikan dan dicatat

 b) Paien yang menggunkan kruk : harua mengajarkan cara  berjalan yang tepat.

(16)

12

BAB 3 PENUTUP

3.1 Simpulan

Gawat artinya mengancam nyawa, sedangkan darurat adalah perlu mendapatkan penanganan atau tindakan dengan segera untuk menghilangkan ancaman nyawa korban.

Keperawatan gawat darurat (Emergency Nursing) merupakan pelayanan keperawatan yang komprehensif diberikan kepada pasien dengan injuri akut atau sakit yang mengancam kehidupan.

Tujuan penanggulangan gawat darurat adalah untuk:

1. Mencegah kematian dan cacat pada pasien gawat darurat, hingga dapat hidup dan berfungsi kembali dalam masyarakat.

2. Merujuk pasien gawat darurat melalui system rujukan untuk memperoleh  penanganan yang lebih memadai.

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Musliha. 2010.  Keperawatan Gawat Darurat.  Nuha Medika: Yogyakarta.

Oman K. S. 2008 .  Panduan Belajar Keperawatan Emergensi. Jakarta: EGC.

Jasa KZ, Fachrul, dkk. 2014.  Lauran Pasien Cedera Kepala Berat yang  Dilakukan operasi Kraniotomi Evakuasi Hematoma atau  Kraniektomi Dekompresi di RSU Dr. Zaenoel Abidin Banda  Aceh. Vol.3, No.1 (8-14).

Hastuti Dwi. 2017.  Hubungan Pengetahuan Tentang Antisipasi Cedera  Dengan Praktik Pencegahan Cedera pada Anak Wilayah  Puskesmas Jelengkong Kabupaten Bandung.  Vol.3, No.1

(52-62).

Takatelid, Lucky, dkk. 2017.  Pengaruh Terapi Oksigenasi Nasal Prong Terhadap Perubahan Saturasi Oksigen Pasien Cedera Kepala  Di Instalasi Gawat Darurat RSUP. Prof. DR. R. D.Kandou  Manado. Vol.5, No.1.

Referensi

Dokumen terkait

Disarankan kepada Puskesmas Jatinangor untuk mengadakan program penyuluhan tentang sanitasi rumah yang baik untuk pencegahan penyakit ISPA dengan perawat berperan

Diharapkan dengan upaya-upaya ini, baik pemerintah sebagai otoritas fiskal, Bank Indonesia sebagai otoritas moneter, pihak swasta maupun masyarakat dapat bekerjasama dengan

Perawat memiliki peran yang penting dalam pencegahan luka tekan tetapi banyak perawat yang belum melakukan upaya pencegahan luka tekan secara maksimal Pentingnya

Berdasarkan beberapa alasan yang telah dibahas sebelumnya, maka kegiatan pengabdian masyarakat ini akan difokuskan dalam Penyuluhan Metode Biopori Sebagai Upaya

Vaksinasi HPV merupakan upaya pencegahan primer yang diharapkan akan menurunkan terjadinya infeksi HPV risiko tinggi, menurunkan kejadian karsinogenesis kanker serviks dan pada

Kegiatan pengabdian pada masyarakat dengan judul ““Upaya Pencegahan Penyakit Kulit pada Bayi melalui Penyuluhan Perawatan Kulit” yang telah dilaksanakan di Pos

Insiden kanker serviks sebenarnya dapat ditekan dengan melakukan upaya pencegahan primer seperti meningkatkan atau intensifikasi kegiatan penyuluhan kepada masyarakat untuk menjalankan

Upaya yang dilakukan dalam pencegahan stunting adalah pendampingan keluarga yakni kegiatan yang meliputi kegiatan penyuluhan, memfasilitasi pelayanan rujukan dan memfasilitasi pemberian