Jumlah Halaman: xviii + 154 halaman
Naskah:
Bidang Neraca Wilayah Dan Analisis Statistik
Gambar Kulit:
Bidang Neraca Wilayah Dan Analisis Statistik
Diterbitkan Oleh:
© BPS Provinsi Jawa Timur
Dicetak Oleh:
Penanggung Jawab: Khaerul Agus, S.Si., M.M.
Penyunting : Mudji Setijo, S.S.T, M.Si.
Penulis dan Pengolah Data: Baiq Irfa Noer Hamidah, S.Si.
Fitriana Zahroh, S.S.T.
Desain Kover dan Tata Letak: Baiq Irfa Noer Hamidah, S.Si.
Pusat statistik (BPS) dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).
Buku Laporan Penyusunan Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Timur 2010-2016 menyajikan tentang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Ekonomi Kreatif tahun 2010 sampai dengan tahun 2016. Selain itu juga disajikan mengenai distribusi dan pertumbuhan industri kreatif dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2016.
Surabaya, Desember 2017 Kepala
Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur
Teguh Pramono, M.A. Kerjasama BPS-Bekraf Tahun 2017 ini.
KATA PENGANTAR ... v
PRAKATA ... vii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 3
1.2 Maksud dan Tujuan ... 5
1.3 Manfaat ... 6
BAB II TAHAPAN KEGIATAN ... 7
2.1 Penyusunan Klasifikasi ... 9
2.2 Penyusunan Matriks Supply Industri Kreatif ... 11
2.3 Penyusunan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Ekonomi Kreatif ... 13
BAB III METODOLOGI ... 15
3.1 Metode Penyusunan Matriks Supply Ekonomi Kreatif Tahun 2010 17 3.2 Metode Penyusunan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Ekonomi Kreatif Tahun 2011-2016 ... 53
3.2.1 Konsep Dasar PDRB ... 53
3.3.2 Metode Estimasi PDRB Ekonomi Kreatif Tahun 2011-2016 58
BAB IV HASIL ... 103
4.1 Kondisi Makro PDRB Provinsi Jawa Timur Tahun 2010-2016 ... 105
4.2 Besaran PDRB Ekonomi Kreatif ... 107
4.3 Struktur Ekonomi Kreatif ... 112
4.4 Pertumbuhan Ekonomi Kreatif ... 115
4.5 Sumber Pertumbuhan PDRB Ekonomi Kreatif ... 117
Tabel 2.1 Cakupan KBLI 2015 Subsektor Ekonomi Kreatif ... 10 Tabel 4.1 Ringkasan Indikator Makro PDRB Ekonomi Kreatif Provinsi
Jawa Timur Tahun 2010-2016 ... 107 Tabel 4.2 Laju Pertumbuhan PDRB Ekonomi Kreatif Menurut Subsektor
Ekonomi Kreatif Tahun 2010-2016 (Persen) ... 117 Tabel 4.3 Sumber Pertumbuhan PDRB Ekonomi Kreatif Menurut
Gambar 2.1 Ilustrasi Kerangka Kerja Supply and UseTable (SUT) ... 11 Gambar 2.2 Tahapan Penyusunan Matriks Supply Industri Kreatif
Tahun 2010 ... 12 Gambar 2.3 Dimensi Matriks Supply Industri Kreatif ... 13 Gambar 2.4 Tahapan Penyusunan PDRB Ekonomi Kreatif ... 14 Gambar 4.1
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (Triliun Rupiah), PDRB Atas Dasar Harga Konstan (Triliun Rupiah), dan Laju Pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Timur (Persen) Tahun 2010-2016 ... 106 Gambar 4.2 PDRB Ekraf dan PDRB Non Ekraf Atas Dasar Harga Berlaku
(Triliun Rupiah) ... 109 Gambar 4.3 PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Subsektor Ekonomi
Kreatif Tahun 2016 (Miliar Rupiah) ... 110 Gambar 4.4 PDRB Ekraf dan PDRB Non Ekraf Atas Dasar Harga Konstan
(Triliun Rupiah) ... 111 Gambar 4.5 PDRB Atas Dasar Harga Konstan Menurut Subsektor Ekonomi
Kreatif Tahun 2016 (Miliar Rupiah) ... 112 Gambar 4.6 Struktur Perekonomian Provinsi Jawa Timur Tahun 2010 dan
2016 (Persen) ... 114 Gambar 4.7 Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Ekonomi
Kreatif Tahun 2016 (Persen) ... 115 Gambar 4.8 Laju Pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Timur, PDRB
Ekonomi Kreatif, dan PDRB Non Ekonomi Kreatif
Lampiran 1 Klasifikasi Ekonomi Kreatif dan Cakupan Subsektor Ekonomi Kreatif Menurut KBLI 2015 ... 123 Lampiran 2 Definisi dan Cakupan Ekonomi Kreatif ... 133 Lampiran 3 Metode Estimasi Supply Ekonomi Kreatif Tahun 2010 ... 138 Lampiran 4 PDRB Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Timur Atas Dasar
Harga Berlaku Tahun 2010-2016 (Miliar Rupiah) ... 148 Lampiran 5 PDRB Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Timur Atas Dasar
Harga Konstan 2010=100 Tahun 2010-2016 (Miliar Rupiah) 149 Lampiran 6 Distribusi PDRB Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Timur
Tahun 2010-2016 Atas Dasar Harga Berlaku (Persen) ... 150 Lampiran 7 Distribusi PDRB Ekonomi Kreatif Terhadap Total
PDRB Provinsi Jawa Timur Atas Dasar Harga Berlaku
Tahun 2010-2016 (Persen) ... 151 Lampiran 8 Laju Pertumbuhan PDRB Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa
Timur Atas Dasar Harga Konstan 2010=100 Tahun 2011-
2016 (Persen) ... 152 Lampiran 9 Laju Pertumbuhan PDRB Ekonomi Kreatif Provinsi
Jawa Timur Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2011-2016 (Persen) ... 153 Lampiran 10 Laju Pertumbuhan Indeks Implisit PDRB Ekonomi Kreatif
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ekonomi kreatif lahir sebagai konsep ekonomi baru yang bertumpu pada ide, kreativitas,
keterampilan, serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Perkembangan yang pesat terhadap globalisasi dan konektivitas
mengubah cara bertukar informasi, berdagang, dan konsumsi dari produk-produk budaya dan teknologi di berbagai tempat di dunia. Dunia menjadi tempat yang sangat dinamis dan kompleks sehingga kreativitas dan pengetahuan menjadi suatu aset yang tak ternilai dalam kompetisi dan pengembangan ekonomi.
Ekonomi kreatif memberikan nilai lebih karena menawarkan pembangunan yang berkelanjutan melalui kreativitas. Pembangunan berkelanjutan adalah suatu iklim perekonomian yang berdaya saing dan memiliki cadangan sumber daya yang
terbarukan. Dengan kata lain, ekonomi kreatif adalah manifestasi dari semangat bertahan hidup yang sangat penting bagi negara-negara maju dan juga
menawarkan peluang yang sama untuk negara-negara berkembang.
Pesan besar yang ditawarkan ekonomi kreatif adalah pemanfaatan cadangan sumber daya yang bukan hanya terbarukan, bahkan tak terbatas, yaitu ide, talenta dan kreativitas. Konsep ini telah memicu ketertarikan berbagai negara untuk melakukan kajian
seputar ekonomi kreatif dan menjadikan ekonomi kreatif sebagai model utama pengembangan ekonomi.
Di Indonesia sendiri, kehadiran ekonomi kreatif berpotensi dalam memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan, menciptakan iklim bisnis yang positif,
membangun citra dan identitas bangsa, meningkatkan keunggulan kompetitif, dan memberikan dampak sosial yang positif.
Pada dasarnya, bangsa Indonesia memiliki sumber daya yang kreatif. Bagi sebagian besar rakyat Indonesia, menghasilkan suatu karya kreatif seolah telah menjadi gaya hidup. Bahkan, beberapa diantaranya sudah menghasilkan produk yang bersaing di pasar global dan bersaing dengan produk negara lain, sehingga berkesempatan untuk
memperbesar pasar. Di tengah kelesuan ekonomi dunia, Indonesia harus melakukan terobosan dengan mengembangkan industri kreatif. Industri kreatif ini
mampu bertahan dari krisis karena bertumpu pada inovasi dan kreativitas.
Untuk membangun kompetensi dengan memanfaatkan potensi ekonomi kreatif yang sesuai bagi bangsa Indonesia tentunya memerlukan strategi kebijakan yang holistik dan tepat. Perencanaan program-program dan evaluasi pemerintah dalam mencapai target yang telah ditetapkan tidak dapat lepas dari dukungan ketersediaan data dan informasi yang memotret perkembangan kondisi industri kreatif terkini. Statistik yang berkualitas akan berdampak pada pengambilan keputusan yang lebih informatif serta perumusan kebijakan yang tepat untuk
mengembangkan industri kreatif di Indonesia.
1.2 Maksud dan Tujuan
Kegiatan Penyediaan dan Pengembangan Data dan Informasi Statistik Bidang Ekonomi Kreatif
ditujukan untuk memberikan data dan informasi mengenai perkembangan dan peranan industri kreatif di Indonesia, sehingga dapat digunakan sebagai landasan pengembangan industri kreatif di Indonesia dan evaluasi kebijakan pengembangan industri kreatif.
2016, selain itu menyusun indikator-indikator turunan, seperti distribusi, pertumbuhan dan sumber pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif, yaitu:
a. PDRB Ekonomi Kreatif atas dasar harga berlaku tahun 2010-2016
b. PDRB Ekonomi Kreatif atas dasar harga konstan 2010 tahun 2010-2016
c. Struktur/distribusi PDRB Ekonomi Kreatif tahun 2010 -2016
d. Laju pertumbuhan subsektor Ekonomi Kreatif tahun 2010-2016
e. Sumber pertumbuhan subsektor Ekonomi Kreatif tahun 2010-2016
1.3 Manfaat
Hasil kajian ini diharapkan dapat digunakan oleh pemerintah, khususnya oleh Badan Ekonomi Kreatif dalam menyusun dan mengevaluasi kebijakan di bidang ekonomi kreatif, sehingga dapat memacu sektor industri kreatif lebih berkontribusi dalam meningkatkan
pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain itu, hasil kajian ini diharapkan dapat pula digunakan oleh para peneliti, penulis, pelajar, pemerhati industri kreatif, atau para pelaku bisnis dalam industri kreatif untuk lebih
BAB II
TAHAPAN KEGIATAN
Penyusunan PDRB Ekonomi Kreatif dimulai dengan kegiatan penyusunan klasifikasi dan selanjutnya dilakukan penyusunan Matriks Supply
Ekonomi Kreatif tahun 2010. Dari Matriks Supply
Ekonomi Kreatif dapat diperoleh output yang kemudian dikalikan dengan nilai rasio konsumsi antara untuk mendapatkan angka PDRB Ekonomi Kreatif tahun 2010. Kegiatan berikutnya adalah penyusunan PDRB Ekonomi Kreatif tahun 2011-2016. Tahapan kegiatan penyusunan PDRB Ekonomi Kreatif secara rinci akan diuraikan di bawah ini.
2.1 Penyusunan Klasifikasi
Penyusunan klasifikasi kegiatan ekonomi kreatif merupakan langkah awal dalam penyusunan PDRB Ekonomi Kreatif. Besaran nilai PDRB Ekonomi Kreatif sangat tergantung dari cakupan kegiatan ekonomi yang terbentuk.
Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 72 Tahun 2015, industri kreatif dikelompokkan kedalam 16 kelompok, yang selanjutnya disebut sebagai
subsektor ekonomi kreatif, yaitu:
1. Arsitektur 2. Desain Interior
3. Desain Komunikasi Visual 4. Desain Produk
11. Aplikasi dan Game Developer 12. Penerbitan
13. Periklanan
14. Televisi dan Radio 15. Seni Pertunjukan 16. Seni Rupa
Selanjutnya, 16 subsektor tersebut dipetakan secara rinci ke dalam klasifikasi standar yang disebut Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI). Saat ini, Badan Pusat Statistik (BPS) telah
menggunakan KBLI terbaru, yaitu KBLI 2015. Rincian jumlah kelompok lima digit KBLI dalam
masing-10 Fesyen 19
11 Aplikasi dan Game Developer 13
masing subsektor ekonomi kreatif dapat dilihat pada tabel 2.1.
Selanjutnya, rincian cakupan 223 kelompok lima digit KBLI 2015 pada 16 subsektor ekonomi kreatif dapat dilihat secara lengkap pada lampiran. Sedangkan konsep dan definisi yang digunakan untuk masing-masing subsektor ekonomi kreatif dapat dilihat pada lampiran dua.
2.2 Penyusunan Matriks Supply Industri
Kreatif
Tabel Supply merupakan bagian dari Supply and Use Table (SUT). Tabel Supply memberikan gambaran rinci atas penyediaan barang dan jasa yang diproduksi di domestik dan yang didatangkan dari luar wilayah (impor). Sementara, Matriks Supply regional
memberikan gambaran rinci atas penyediaan barang dan jasa yang diproduksi di wilayah domestik regional, tanpa impor barang dan jasa.
Penyusunan Matriks Supply Ekonomi Kreatif tahun 2010 ditujukan untuk memperoleh PDRB tahun dasar, yaitu PDRB tahun 2010, dan sekaligus sebagai
benchmark PDRB Ekonomi Kreatif untuk tahun-tahun
Gambar 2.1
Ilustrasi Kerangka Kerja
Supply Industr Kreatif
Tahun 2010 berikutnya. Dengan terbentuknya Matriks Supply
Ekonomi Kreatif tahun 2010, maka PDRB Ekonomi Kreatif yang dihasilkan telah cukup valid.
Saat ini, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang dihasilkan oleh BPS memiliki tahun dasar 2010 (2010=100) atau biasa disebut sebagai PDRB seri 2010. PDRB seri 2010 tersebut diturunkan dari Matriks Supply 2010. Dengan demikian, agar konsisten dengan PDRB maka PDRB industri kreatif juga harus disusun menggunakan tahun dasar yang sama, sehingga diperlukan penyusunan Matriks
Supply 2010 berbasis industri kreatif. Tahapan penyusunan Matriks Supply industri kreatif tampak pada gambar 2.2.
Saat ini, dimensi Matriks Supply Provinsi terdiri atas 54 industri (kolom) dan 65 produk (baris). Untuk membentuk Matriks Supply industri kreatif maka muatan kreatif dalam 54 industri tersebut ditarik dan dipindahkan kedalam 16 subsektor industri kreatif. Penentuan muatan kreatif dalam suatu industri adalah berdasarkan KBLI 2015 ekonomi kreatif yang telah disusun. Dengan demikian, dimensi Matriks Supply
2.3 Penyusunan Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) Industri
Kreatif
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah jumlah nilai tambah dari seluruh aktivitas ekonomi yang tercipta akibat adanya proses produksi pada suatu periode tertentu dari suatu wilayah. Penyusunan PDRB ekonomi kreatif sesuai dengan standar penyusunan neraca nasional (SNA 2008) dan berbasis KBLI 2015. Tahapan penyusunan PDRB ekonomi kreatif dapat dilihat melalui gambar 2.4.
PDRB ekonomi kreatif tahun 2010 diturunkan dari hasil Matriks Supply industri kreatif tahun 2010. Level PDRB ekonomi kreatif tahun 2010 ini menjadi basis penyusunan PDRB ekonomi kreatif untuk tahun-tahun berikutnya. Dalam istilah neraca nasional, tahun-tahun 2010 ini disebut sebagai tahun dasar (base period),
Gambar 2.4 Tahapan Penyusunan PDRB
biasa dituliskan sebagai 2010=100. Setelah PDRB ekonomi kreatif tahun 2010 diperoleh, langkah selanjutnya adalah melakukan estimasi untuk memperoleh PDRB ekonomi kreatif tahun 2011-2016. PDRB untuk periode ini diperoleh dengan menggunakan berbagai indikator dari hasil Survei Khusus Ekonomi Kreatif (SKEK), hasil Survei Khusus Neraca Produksi - Ekonomi Kreatif (SKNP-EK), dan data sekunder lainnya yang tersedia. Dengan demikian, diperoleh series PDRB ekonomi kreatif tahun 2010-2016.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Metode Estimasi Supply Industri
Kreatif Tahun 2010
Secara umum, metode yang digunakan untuk estimasi output (supply) dari masing-masing industri menggunakan pendekatan produksi. Estimasi supply
dilakukan per kategori dalam tiap-tiap subsektor ekonomi kreatif. Berikut adalah metode estimasi output (supply) dengan berbagai indikator yang digunakan dari masing-masing subsektor ekonomi kreatif.
a. Subsektor Arsitektur
Industri : Jasa Perusahaan
Estimasi output menggunakan pendekatan produksi didasarkan pada hasil Sensus Ekonomi (SE) 2006. Dari hasil SE tersebut diperoleh level output tahun 2006 menurut lima digit KBLI 2005. Level output yang diperoleh kemudian digunakan sebagi dasar untuk melakukan estimasi output tahun 2010 menurut lima digit KBLI 2005. Selanjutnya, dilakukan proses bridging untuk memperoleh output industri kreatif tahun 2010 menurut KBLI 2015. Struktur supply dibentuk
Arsitektur
bermanfaat bukan
dengan menggunakan hasil Matriks Supply Provinsi Jawa Timur.
Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur, BPS Provinsi Jawa Timur
b. Subsektor Desain Interior
Industri: Jasa Perusahaan
Estimasi output menggunakan pendekatan produksi didasarkan pada hasil Sensus Ekonomi (SE) 2006. Dari hasil SE tersebut diperoleh level output tahun 2006 menurut lima digit KBLI 2005. Level output yang diperoleh kemudian digunakan sebagai dasar untuk melakukan estimasi output tahun 2010 menurut lima digit KBLI 2005. Selanjutnya,
Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur, BPS Provinsi Jawa Timur
3. Survei Khusus Ekonomi Kreatif (SKEK) 2012, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Jasa Pendidikan
Estimasi output menggunakan pendekatan produksi didasarkan pada hasil Sensus Ekonomi (SE) 2006. Dari hasil SE tersebut diperoleh level output tahun 2006 menurut lima digit KBLI 2005. Struktur supply dibentuk dengan menggunakan hasil Matriks Supply Provinsi Jawa Timur Sumber data:
Matriks Supply Provinsi Jawa Timur, BPS Provinsi Jawa Timur
c. Subsektor Desain Komunikasi Visual
Industri: Jasa Perusahaan
sebagai dasar untuk melakukan estimasi output tahun 2010 menurut lima digit KBLI 2005. Selanjutnya, dilakukan proses bridging untuk memperoleh output industri kreatif tahun 2010 menurut KBLI 2015.
Disagregasi Desain menjadi Desain Interior, Desain Komunikasi Visual, dan Desain Produk dilakukan dengan menggunakan hasil Survei Khusus Ekonomi Kreatif (SKEK) 2012. Struktur supply
dibentuk dengan menggunakan hasil Matriks
Supply Provinsi Jawa Timur. Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur, BPS Provinsi Jawa Timur
3. Survei Khusus Ekonomi Kreatif (SKEK) 2012, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Jasa Pendidikan
Estimasi output menggunakan pendekatan produksi didasarkan pada hasil Sensus Ekonomi (SE) 2006. Dari hasil SE tersebut diperoleh level output tahun 2006 menurut lima digit KBLI 2005. Struktur supply dibentuk dengan menggunakan hasil Matriks Supply Provinsi Jawa Timur.
Sumber data:
Matriks Supply Provinsi Jawa Timur, BPS Provinsi Jawa Timur
d. Subsektor Desain Produk
Industri: Jasa Perusahaan
Estimasi output menggunakan pendekatan produksi didasarkan pada hasil Sensus Ekonomi (SE) 2006. Dari hasil SE tersebut diperoleh level output tahun 2006 menurut lima digit KBLI 2005. Level output yang diperoleh kemudian digunakan sebagi dasar untuk melakukan estimasi output tahun 2010 menurut lima digit KBLI 2005. Selanjutnya,
dilakukan proses bridging untuk memperoleh output industri kreatif tahun 2010 menurut KBLI 2015. Disagregasi Desain menjadi Desain Interior, Desain Komunikasi Visual, dan Desain Produk dilakukan dengan menggunakan hasil Survei Khusus Ekonomi Kreatif (SKEK) 2012. Struktur supply dibentuk dengan menggunakan hasil Matrik Supply Provinsi Jawa Timur.
Sumber data:
2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur, BPS Provinsi Jawa Timur
3. Survei Khusus Ekonomi Kreatif (SKEK) 2012, BPS Provinsi Jawa Timur.
Industri: Jasa Pendidikan
Estimasi output menggunakan pendekatan produksi didasarkan pada hasil Sensus Ekonomi (SE) 2006. Dari hasil SE tersebut diperoleh level output tahun 2006 menurut lima digit KBLI 2005. Struktur supply
dibentuk dengan menggunakan hasil Matrik Supply
Provinsi Jawa Timur. Sumber data:
Matriks Supply Provinsi Jawa Timur, BPS Provinsi Jawa Timur
e. Subsektor Film, Animasi, dan Video
Industri: Industri Pengolahan
Tahap pertama dalam penyusunan Matriks Supply
Tahukah anda :
semua produk baik produk utama maupun produk sekunder. Setelah didapatkan output menurut lima digit KBLI, dilakukan agregasi menurut produk dan industri untuk klasifikasi sektor ekonomi kreatif dan non ekonomi kreatif.
Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur, BPS Provinsi Jawa Timur
3. Statistik Industri Besar dan Sedang (IBS) Tahunan, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Informasi dan Komunikasi
Estimasi supply nilai produksi (output) diperoleh dari jumlah film, sinetron, dll dikalikan dengan rata-rata biaya pembuatan film, sinetron, dll. Untuk struktur
supply, menggunakan struktur data produksi Industri Besar dan Sedang (IBS) dan data Sensus Ekonomi 2006. Untuk disagregasi output film pemerintah, menggunakan data pendapatan dari laporan keuangan perusahaan BUMN, Kementerian BUMN.
Sumber data:
2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur, BPS Provinsi Jawa Timur
3. Statistik Industri Besar dan Sedang (IBS), BPS Provinsi Jawa Timur
f. Subsektor Fotografi
Industri: Jasa Perusahaan
Estimasi output menggunakan pendekatan produksi didasarkan pada hasil Sensus Ekonomi (SE) 2006. Dari hasil SE tersebut diperoleh level output tahun 2006 menurut lima digit KBLI 2005. Level output yang diperoleh kemudian digunakan sebagi dasar untuk melakukan estimasi output tahun 2010 menurut lima digit KBLI 2005. Selanjutnya,
dilakukan proses bridging untuk memperoleh output industri kreatif tahun 2010 menurut KBLI 2015. Struktur supply dibentuk dengan menggunakan hasil Matrik Supply Provinsi Jawa Timur. Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Jasa Pendidikan
Estimasi output menggunakan pendekatan produksi didasarkan pada hasil Sensus Ekonomi (SE) 2006. Dari hasil SE tersebut diperoleh level output tahun 2006 menurut lima digit KBLI 2005. Struktur supply
dibentuk dengan menggunakan hasil Matrik Supply
Provinsi Jawa Timur. Sumber data:
Matriks Supply Provinsi Jawa Timur, BPS Provinsi Jawa Timur
g. Subsektor Kriya
Industri: Industri Pengolahan
Tahap pertama dalam penyusunan Matriks Supply
Ekonomi Kreatif khususnya kategori Industri Pengolahan adalah mengidentifikasi kode lima digit KBLI ke dalam setiap klasifikasi Matriks Supply baik menurut produk maupun industri. Tahap selanjutnya adalah disagregasi setiap produk Matriks Supply
baik output maupun NTB ke dalam lima digit KBLI menggunakan data IBS dan IMK tahun 2010. Disagregasi dilakukan untuk semua produk baik produk utama maupun produk sekunder.
Perdagangan
industri untuk klasifikasi sektor ekonomi kreatif dan sektor non ekonomi kreatif.
Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur, BPS Provinsi Jawa Timur
3. Statistik Industri Besar dan Sedang (IBS) Tahunan, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi dan Perawatan Mobil dan
Sepeda Motor
Perkembangan
Output perdagangan adalah marjin perdagangan, yaitu nilai jual dikurangi nilai beli barang yang diperdagangkan setelah dikurangi dengan biaya angkutan yang dikeluarkan oleh pedagang. Konsumsi antaranya adalah seluruh biaya yang digunakan untuk kepentingan usaha perdagangan, seperti perlengkapan tulis menulis, bahan pengepak dan pembungkus, rekening listrik dan telepon, serta biaya iklan.
Industri perdagangan eceran bukan mobil dan sepeda motor dalam Matriks Supply meliputi penjualan kembali (tanpa perubahan teknis), baik barang baru maupun bekas, utamanya kepada masyarakat umum untuk konsumsi atau
Penghitungan output untuk kegiatan perdagangan menggunakan pendekatan tidak langsung/
commodity flow, yaitu dengan menghitung besarnya marjin perdagangan barang-barang subsektor kriya yang diperdagangkan. Dalam pendekatan ini dibutuhkan rasio marjin perdagangan besar dan eceran. Marjin perdagangan diperoleh dari perkalian antara output industri pengolahannya dengan rasio marjin perdagangan besar dan eceran untuk masing -masing produk. Output yang didapat dari perkalian tersebut merupakan output utama. Sedangkan untuk output sekundernya dihitung menggunakan rasio terhadap output utamanya. Rasio ini diperoleh dari survei khusus.
Sumber data:
1. Data Output Sektor Barang, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Survei Khusus Sektor Jasa (SKSJ), BPS Provinsi Jawa Timur
h. Subsektor Kuliner
Industri: Industri Pengolahan
Tahap pertama dalam penyusunan Matriks Supply
menurut produk maupun industri. Tahap selanjutnya adalah disagregasi setiap produk Matriks Supply
baik output maupun NTB ke dalam lima digit KBLI menggunakan data IBS dan IMK tahun 2010. Disagregasi dilakukan untuk semua produk baik produk utama maupun produk sekunder.
Setelah memperoleh output menurut lima digit KBLI, kemudian dilakukan agregasi menurut produk dan industri untuk klasifikasi sektor ekonomi kreatif dan sektor non ekonomi kreatif.
Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
3. Statistik Industri Besar dan Sedang (IBS)
Tahunan, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi dan Perawatan Mobil dan
Sepeda Motor
Penghitungan output untuk kegiatan perdagangan menggunakan pendekatan tidak langsung/
commodity flow yaitu dengan menghitung besarnya marjin perdagangan barang-barang Subsektor Kuliner yang diperdagangkan. Dalam pendekatan ini dibutuhkan rasio marjin perdagangan besar dan eceran. Marjin perdagangan diperoleh dari perkalian antara output industri pengolahannya dengan rasio marjin perdagangan besar dan eceran untuk masing -masing produk. Output yang didapat dari perkalian tersebut merupakan output utama. Sedangkan untuk output sekundernya dihitung menggunakan rasio terhadap output utamanya. Rasio ini diperoleh dari survei khusus.
Sumber data:
1. Data Output Sektor Barang, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Survei Khusus Sektor Jasa (SKSJ), BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Penyediaan Akomodasi dan
Penyediaan Makan Minum
konsumsi makanan jadi per kapita dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Data konsumsi yang diperoleh dari Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (SUSENAS) merupakan konsumsi seluruh anggota rumahtangga, baik di dalam negeri maupun di luar negeri (misalnya turis Indonesia membeli makanan di restoran di luar negeri), dengan kata lain output yang dihasilkan merupakan total supply produk jasa penyediaan makan minum yang dihasilkan oleh seluruh industri, termasuk yang berasal dari impor. Untuk mendapatkan total output domestik produk jasa penyediaan makan minum SUSENAS maka konsumsi penduduk tersebut dikurangi dengan impor produk jasa penyediaan makan minum lalu ditambah dengan ekspor produk jasa penyediaan makan minum.
Persamaan formulanya bisa disederhanakan, sebagai berikut:
Total Supply = Total Use Output Domestik + Impor = Total Konsumsi (konsumsi antara dan konsumsi akhir) + Ekspor Output Domestik = Total Konsumsi + Ekspor – Impor
Wisata memiliki
banyak ragam,
macam, dan
jenis, mulai dari
wisata alam,
bahari, budaya,
buru, domestik,
karya, kesehatan,
Selain itu, konsumsi rumahtangga yang didata di SUSENAS, bisa dilakukan di penyediaan makan minum baik di restoran yang ada di kereta api, di angkutan udara, maupun di hotel. Ini merupakan produk sekunder dari industri kereta api, angkutan udara, industri penyediaan akomodasi, dan industri lainnya. Jadi, untuk menghitung output jasa penyediaan makan minum yang khusus dihasilkan oleh industri
penyediaan makan minum, maka harus dikurangi output jasa penyediaan makan minum yang dihasilkan oleh industri-industri lain tersebut.
Sumber data:
1. Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (SUSENAS), BPS Provinsi Jawa Timur
2. Publikasi Proyeksi Penduduk 2010-2035, BPS Provinsi Jawa Timur
3. Statistik Pariwisata, BPS Provinsi Jawa Timur
i. Subsektor Musik
Industri: Industri Pengolahan
Disagregasi dilakukan untuk semua produk baik produk utama maupun produk sekunder.
Setelah memperoleh output menurut lima digit KBLI, kemudian dilakukan agregasi menurut produk dan industri untuk klasifikasi sektor ekonomi kreatif dan sektor non ekonomi kreatif.
Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur 2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur, tahun 2010,
BPS Provinsi Jawa Timur
3. Statistik Industri Besar dan Sedang (IBS) Tahunan, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi dan Perawatan Mobil dan
Sepeda Motor
Industri perdagangan di Subsektor Musik dibatasi hanya untuk perdagangan barang-barang domestik yang merupakan produk barang di Subsektor Musik. Penghitungan output untuk kegiatan perdagangan menggunakan pendekatan tidak langsung/
commodity flow yaitu dengan menghitung besarnya marjin perdagangan barang-barang subsektor musik yang diperdagangkan. Dalam pendekatan ini
dibutuhkan rasio marjin perdagangan besar dan
eceran. Marjin perdagangan diperoleh dari perkalian antara output industri pengolahannya dengan rasio marjin perdagangan besar dan eceran untuk masing -masing produk. Output yang didapat dari perkalian tersebutmerupakan output utama. Sedangkan untuk output sekundernya dihitung menggunakan rasio terhadap output utamanya. Rasio ini diperoleh dari survei khusus.
Sumber data:
1. Data Output Sektor Barang, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Survei Khusus Sektor Jasa (SKSJ), BPS Provinsi Jawa Timur
3. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Informasi dan Komunikasi
Dengan menggunakan data Sensus Ekonomi 2006, data Supply industri produksi gambar bergerak, video dan program televisi, perekaman suara dan penerbitan musik diproporsikan untuk
memperolehoutput subsektor musik. Untuk struktur
Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Matriks Supply 2010, BPS Provinsi Jawa Timur 3. Statistik Industri Besar dan Sedang 2009, BPS
Provinsi Jawa Timur
Industri: Jasa Perusahaan
Estimasi output didasarkan pada hasil Sensus Ekonomi 2006 (SE 2006). Dari hasil SE 2006 diperoleh level output tahun 2006 menurut lima digit KBLI 2005. Level output yang telah diperoleh digunakan sebagai dasar untuk melakukan estimasi output tahun 2010 menurut lima digit KBLI 2005. Selanjutnya, dilakukan proses bridging untuk memperoleh output industri kreatif tahun 2010 menurut KBLI 2015. Struktur Supply dibentuk dengan menggunakan hasil Matriks Supply. Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Pendidikan
Estimasi output menggunakan pendekatan produksi didasarkan pada hasil Sensus Ekonomi (SE) 2006. Dari hasil SE tersebut diperoleh level output tahun 2006 menurut lima digit KBLI 2005. Struktur supply
dibentuk dengan menggunakan hasil Matriks
Supply Provinsi Jawa Timur. Sumber data:
Matriks Supply Provinsi Jawa Timur BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Jasa Lainnya
Output dihitung menggunakan pendekatan
produksi, yaitu dengan mengalikan antara Indikator Produksi (IP) dan Indikator Harga (IH). Pendekatan indikator produksi yang digunakan dalam
Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Provinsi Jawa Timur
2. Statistik Tenaga Kerja (SAKERNAS), BPS Provinsi Provinsi Jawa Timur
3. Statistik Indeks Harga Konsumen. BPS Provinsi Provinsi Jawa Timur
j. Subsektor Fesyen
Industri: Industri Pengolahan
Tahap pertama dalam penyusunan Matriks Supply
Ekonomi Kreatif khususnya kategori Industri Pengolahan adalah mengidentifikasi kode lima digit KBLI kedalam setiap klasifikasi Matriks Supply baik menurut produk maupun industri. Tahap selanjutnya adalah disagregasi setiap produk Matriks Supply
Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
3. Statistik Industri Besar dan Sedang (IBS) Tahunan BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi dan Perawatan Mobil dan
Sepeda Motor
Industri perdagangan di Subsektor Fesyen dibatasi hanya untuk perdagangan barang-barang domestik yang merupakan produk dari industri pengolahan di Subsektor Fesyen.
Penghitungan output untuk kegiatan perdagangan menggunakan pendekatan tidak langsung/
untuk output sekundernya dihitung menggunakan rasio terhadap output utamanya. Rasio ini diperoleh dari survei khusus.
Sumber data:
1. Data Output Sektor Barang, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Survei Khusus Sektor Jasa (SKSJ), BPS Provinsi Jawa Timur
3. Survei Penyediaan dan Penggunaan (lapangan usaha) Jasa (SPPJ), BPS Provinsi Jawa Timur 4. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010,
BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Pendidikan
Estimasi output menggunakan pendekatan produksi didasarkan pada hasil Sensus Ekonomi (SE) 2006. Dari hasil SE tersebut diperoleh level output tahun 2006 menurut lima digit KBLI 2005. Struktur supply
dibentuk dengan menggunakan hasil Matrik Supply
Provinsi Jawa Timur. Sumber data:
k. Subsektor Aplikasi dan Game Developer
Industri: Informasi dan Komunikasi
Subsektor aplikasi dan game developer menggunakan data Sensus Ekonomi 2006 dan indikator PDRB seri2000 sehingga diperoleh estimasi supply tahun 2010. Untuk struktur supply, diperoleh dari struktur pendapatan laporan
keuangan perusahaan go public dan data Sensus Ekonomi 2006.
Estimasi supply Subsektor Aplikasi dan Game Ddeveloper di industri penerbitan diperoleh dari proporsi output industri penerbitan dengan menggunakan data sensus ekonomi 2006. Untuk struktur supply menggunakan struktur data produksi Industri Besar dan Sedang dan data Sensus
Ekonomi 2006. Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
3. Statistik Industri Besar dan Sedang 2009, BPS Provinsi Jawa Timur
Dinamika dan
perkembangan
dunia game yang
sangat progresif
Industri: Jasa Perusahaan
Estimasi output didasarkan pada hasil Sensus Ekonomi 2006 (SE 2006). Dari hasil SE 2006 diperoleh level output tahun 2006 menurut lima digit KBLI 2005. Level output yang telah diperoleh digunakan sebagai dasar untuk melakukan estimasi output tahun 2010 menurut lima digit KBLI 2005. Selanjutnya, dilakukan proses bridging untuk memperoleh output industri kreatif tahun 2010 menurut KBLI 2015. Struktur Supply dibentuk dengan menggunakan hasil Matriks Supply. Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Jasa Lainnya
Output dihitung menggunakan pendekatan produksi, yaitu dengan mengalikan antara Indikator Produksi (IP) dan Indikator Harga (IH). Pendekatan indikator produksi yang digunakan dalam
ekstrapolasi jumlah tenaga kerja tahun 2006 ke tahun 2010 menggunakan pertumbuhan jumlah tenaga kerja Sakernas secara berantai. Sedangkan, indikator harga untuk tahun 2010 diperoleh dengan meng-inflate indikator harga tahun 2006 ke tahun 2010 menggunakan pertumbuhan IHK secara berantai.
Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Statistik Tenaga Kerja (SAKERNAS), BPS Provinsi Jawa Timur
3. Statistik Indeks Harga Konsumen. BPS Provinsi Jawa Timur
l. Subsektor Penerbitan
Industri: Industri Pengolahan
Tahap pertama dalam penyusunan Matriks Supply
Ekonomi Kreatif khususnya kategori Industri Pengolahan adalah mengidentifikasi kode lima digit KBLI kedalam setiap klasifikasi Matriks Supply baik menurut produk maupun industri. Tahap selanjutnya adalah disagregasi setiap produk Matriks Supply
Disagregasi dilakukan untuk semua produk baik produk utama maupun produk sekunder.
Setelah memperoleh output menurut lima digit KBLI, kemudian dilakukan agregasi menurut produk dan industri untuk klasifikasi sektor ekonomi kreatif dan sektor non ekonomi kreatif.
Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
3. Statistik Industri Besar dan Sedang (IBS) Tahunan, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi dan Perawatan Mobil dan
Sepeda Motor
Industri perdagangan di Subsektor Penerbitan dibatasi hanya untuk perdagangan barang-barang domestik yang merupakan produk barang di Subsektor Penerbitan.
Penghitungan output untuk kegiatan perdagangan menggunakan pendekatan tidak langsung/
penerbitan yang diperdagangkan. Dalam pendekatan ini dibutuhkan rasio marjin perdagangan besar dan eceran. Marjin
perdagangan diperoleh dari perkalian antara output industri pengolahannya dengan rasio marjin perdagangan besar dan eceran untuk masing-masing produk. Output yang didapat dari perkalian tersebut merupakan output utama. Sedangkan untuk output sekundernya dihitung menggunakan rasio terhadap output utamanya. Rasio ini diperoleh dari survei khusus.
Sumber data:
1. Data Output Sektor Barang, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Survei Khusus Sektor Jasa (SKSJ), BPS Provinsi Jawa Timur
3. Survei Penyediaan dan Penggunaan (lapangan usaha) Jasa (SPPJ), BPS Provinsi Jawa Timur 4. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010,
BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Informasi dan Komunikasi
dari nilai belanja iklan yang dinikmati oleh surat kabar, majalah dan sejenisnya tahun 2010. Untuk struktur supply menggunakan struktur data produksi Industri Besar dan Sedang dan data Sensus
Ekonomi 2006. Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
3. Statistik Industri Besar dan Sedang 2009, BPS Provinsi Jawa Timur
4. Laporan keuangan perusahaan go public, BEI
Industri: Jasa Perusahaan
Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Jasa Lainnya
Output dihitung menggunakan pendekatan
produksi, yaitu dengan mengalikan antara Indikator Produksi (IP) dan Indikator Harga (IH). Pendekatan indikator produksi yang digunakan dalam
penghitungan output adalah jumlah tenaga kerja. Sedangkan, indikator harga yang digunakan adalah output per tenaga kerja. Indikator produksi untuk tahun 2010 diperoleh dengan melakukan ekstrapolasi jumlah tenaga kerja tahun 2006 ke tahun 2010 menggunakan pertumbuhan jumlah tenaga kerja Sakernas secara berantai. Sedangkan, indikator harga untuk tahun 2010 diperoleh dengan meng-inflate indikator harga tahun 2006 ke tahun 2010 menggunakan pertumbuhan IHK secara berantai.
Sumber data:
2. Statistik Tenaga Kerja (SAKERNAS), BPS Provinsi Jawa Timur
3. Statistik Indeks Harga Konsumen. BPS Provinsi Jawa Timur
m. Subsektor Periklanan
Industri: Jasa Perusahaan
Estimasi output didasarkan pada hasil Sensus Ekonomi 2006 (SE 2006). Dari hasil SE 2006 diperoleh level output tahun 2006 menurut lima digit KBLI 2005. Level output yang telah diperoleh digunakan sebagai dasar untuk melakukan
estimasi output tahun 2010 menurut lima digit KBLI 2005. Selanjutnya, dilakukan proses bridging untuk memperoleh output industri kreatif tahun 2010 menurut KBLI 2015. Struktur supply dibentuk dengan menggunakan hasil Matriks Supply. Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
n. Subsektor Televisi dan Radio
Industri: Informasi dan Komunikasi
Estimasi supply Subsektor Televisi dan Radio diperoleh dari nilai belanja iklan yang dinikmati oleh televisi dan radio ditambah dengan pendapatan dari laporan keuangan RRI dan TVRI. Untuk struktur
supply, diperoleh dengan menggunakan struktur pendapatan laporan keuangan perusahaan go public dan data Sensus Ekonomi 2006. Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur 2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010,
BPS Provinsi Jawa Timur
3. Laporan keuangan perusahaan go public, BEI
o. Subsektor Seni Pertunjukan
Industri: Jasa Perusahaan
Estimasi output didasarkan pada hasil Sensus Ekonomi 2006 (SE 2006). Dari hasil SE 2006 diperoleh level output tahun 2006 menurut lima digit KBLI 2005. Level output yang telah diperoleh digunakan sebagai dasar untuk melakukan estimasi output tahun 2010 menurut lima digit KBLI 2005. Selanjutnya, dilakukan proses bridging untuk memperoleh output industri kreatif tahun 2010
Tahukah anda :
Televisi Republik
Indonesia (TVRI)
adalah stasiun
televisi pertama di
Indonesia yang
mengudara pada
tanggal
menurut KBLI 2015. Struktur supply dibentuk dengan menggunakan hasil Matriks Supply. Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Pendidikan
Estimasi output menggunakan pendekatan produksi didasarkan pada hasil Sensus Ekonomi (SE) 2006. Dari hasil SE tersebut diperoleh level output tahun 2006 menurut lima digit KBLI 2005. Struktur supply
dibentuk dengan menggunakan hasil Matrik Supply
Provinsi Jawa Timur. Sumber data:
Matriks Supply Provinsi Jawa Timur BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Jasa Lainnya
Output dihitung menggunakan pendekatan
produksi, yaitu dengan mengalikan antara Indikator Produksi (IP) dan Indikator Harga (IH). Pendekatan indikator produksi yang digunakan dalam
output per tenaga kerja. Indikator produksi untuk tahun 2010 diperoleh dengan melakukan ekstrapolasi jumlah tenaga kerja tahun 2006 ke tahun 2010 menggunakan pertumbuhan jumlah tenaga kerja Sakernas secara berantai. Sedangkan, indikator harga untuk tahun 2010 diperoleh dengan meng-inflate indikator harga tahun 2006 ke tahun 2010 menggunakan pertumbuhan IHK secara berantai.
Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Statistik Tenaga Kerja (SAKERNAS), BPS Provinsi Jawa Timur
3. Statistik Pariwisata, BPS Provinsi Jawa Timur 4. Statistik Indeks Harga Konsumen. BPS Provinsi
Jawa Timur
p. Subsektor Seni Rupa
Industri: Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi dan Perawatan Mobil dan
Sepeda Motor
sensus ekonomi 2006. Untuk struktur supply, juga menggunakan data Sensus Ekonomi 2006. Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Jasa Perusahaan
Estimasi output didasarkan pada hasil Sensus Ekonomi 2006 (SE 2006). Dari hasil SE 2006 diperoleh level output tahun 2006 menurut lima digit KBLI 2005. Level output yang telah diperoleh digunakan sebagai dasar untuk melakukan estimasi output tahun 2010 menurut lima digit KBLI 2005. Selanjutnya, dilakukan proses bridging untuk memperoleh output industri kreatif tahun 2010 menurut KBLI 2015. Struktur supply dibentuk dengan menggunakan hasil Matriks Supply. Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Pendidikan
Estimasi output menggunakan pendekatan produksi didasarkan pada hasil Sensus Ekonomi (SE) 2006. Dari hasil SE tersebut diperoleh level output tahun 2006 menurut lima digit KBLI 2005. Struktur supply
dibentuk dengan menggunakan hasil Matrik Supply
Provinsi Jawa Timur. Sumber data:
Matriks Supply Provinsi Jawa Timur BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Jasa Lainnya
Output dihitung menggunakan pendekatan produksi, yaitu dengan mengalikan antara Indikator Produksi (IP) dan Indikator Harga (IH). Pendekatan indikator produksi yang digunakan dalam penghitungan output adalah jumlah tenaga kerja. Sedangkan, indikator harga yang digunakan adalah output per tenaga kerja. Indikator produksi untuk tahun 2010 diperoleh dengan melakukan ekstrapolasi jumlah tenaga kerja tahun 2006 ke tahun 2010
menggunakan pertumbuhan jumlah tenaga kerja Sakernas secara berantai. Sedangkan, indikator harga untuk tahun 2010 diperoleh dengan
Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur 2. Statistik Tenaga Kerja (SAKERNAS), BPS
Provinsi Jawa Timur
3. Statistik Pariwisata, BPS Provinsi Jawa Timur 4. Statistik Indeks Harga Konsumen. BPS Provinsi
Jawa Timur
Ringkasan metode estimasi supply dari masing-masing subsektor Ekonomi Kreatif dapat dilihat pada lampiran 3.
3.2 Metode Penyusunan Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) Ekonomi
Kreatif Tahun 2011-2016
3.2.1 Konsep Dasar PDRB
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan nilai tambah bruto seluruh barang dan jasa yang tercipta atau dihasilkan di wilayah domestik yang timbul akibat berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu periode tertentu, tanpa memperhatikan apakah faktor produksi dimiliki oleh residen atau non-residen.
Ada 3 pendekatan untuk menghitung PDRB, yaitu sebagai berikut:
1. PDRB produksi adalah jumlah nilai tambah seluruh aktivitas ekonomi, dimana nilai tambah diperoleh dari output dikurangi konsumsi antara.
2. PDRB pendapatan adalah jumlah seluruh balas jasa faktor produksi berupa Kompensasi Tenaga Kerja, Surplus Usaha, Penyusutan dan Pajak Produksi & Impor.
3. PDRB pengeluaran adalah jumlah seluruh permintaan akhir, yaitu konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal dan perubahan inventori, ekspor, dikurangi impor (C + G + I + X – M).
a. Output (Nilai Produksi)
Output adalah nilai barang atau jasa yang
dihasilkan dalam suatu periode tertentu, biasanya satu tahun, dan dinilai atas dasar harga dasar (basic price).
Jenis output ada 2 (dua) macam yaitu:
Output utama (output utama produksi),
Output sekunder
b. Konsumsi Antara
atau nilai barang dan jasa tidak tahan lama yang digunakan/habis dalam proses produksi. Konsumsi antara ini dinilai atas harga pembeli.
c. Nilai Tambah Bruto (NTB)
Nilai Tambah Bruto adalah selisih antara output dan konsumsi antara, yang merupakan produk dari proses produksi.
Produk ini terdiri atas :
a. Pendapatan faktor yang terdiri dari : - Kompensasi tenaga kerja
- Sewa tanah sebagai balas jasa tanah - Bunga sebagai jasa modal, dan
- Keuntungan sebagai balas jasa kewirswasta b. Konsumsi barang modal tetap yang dipakai
untuk produksi
c. Pajak lainnya atas produksi dikurangi subsidi lainnya atas produksi
PDRB dapat dinyatakan sebagai :
a. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (PDRB adhb)
b. PDRB Atas Dasar Harga Konstan (PDRB adhk)
Nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga pada satu tahun tertentu sebagai dasar penghitungan.
Pendekatan Penghitungan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (PDRB adhb) ada 3 yaitu: Produksi, Pendapatan dan Pengeluaran.
1. Menurut Pendekatan Produksi
Menghitung nilai tambah seluruh kegiatan ekonomi dengan cara
mengurangkan konsumsi antara dari masing-masing total nilai produksi/pendapatan (output) tiap-tiap lapangan usaha.
Dimana :
Output b,t = Output/nilai produksi bruto atas dasar harga berlaku tahun t
NTB b,t = Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku tahun ke-t
2. Menurut Pendekatan Pendapatan
PDRB merupakan balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi.
PDRB = Kompensasi Tenaga Kerja + Surplus Usaha Neto + Konsumsi Barang Modal Tetap + Pajak atas Produksi dan Impor.
3. Menurut Pendekatan Pengeluaran
PDRB adalah penjumlahan semua komponen permintaan akhir.
PDRB = Konsumsi rumahtangga +
KonsumsiPemerintah + PMTB + Perubahan stok + (Ekspor - Impor).
Pendekatan Penghitungan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (PDRB adhk) ada 3 yaitu: Revaluasi, Ekstrapolasi dan Deflasi.
1. Revaluasi yaitu perkalian kuantum produksi tahun yang berjalan dengan harga tahun dasar.
2. Ekstrapolasi yaitu dengan cara mengalikan nilai tahun dasar dengan suatu indeks kuantum dibagi 100.
Dalam rumus dapat dinyatakan sebagai berikut :
3. Deflasi yaitu dengan cara membagi nilai pada tahun berjalan dengan suatu indeks harga dibagi 100. Dalam rumus dapat dinyatakan sebagai berikut :
3.2.2 Metode Estimasi PDRB Ekonomi
Kreatif Tahun 2011-2016
Tahapan metode estimasi PDRB Ekonomi Kreatif tahun 2011-2016 adalah sebagai berikut: 1. PDRB Ekraf tahun 2010 diturunkan dari hasil
Matriks Supply Ekraf tahun 2010
3. Penghitungan output dan NTB atas dasar harga berlaku dengan metode pendekatan produksi dari masing-masing subsektor ekraf tahun 2011-2016. 4. Penghitungan output dan NTB atas dasar harga
konstan dengan metode ektrapolasi/deflasi dari masing-masing subsektor ekraf tahun 2011-2016. 5. Proses rekonsiliasi, uji kelayakan dan kewajaran.
Berikut metode penghitungan PDRB ekonomi kreatif atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan 2010 menurut subsektor ekonomi kreatif tahun 2011 sampai tahun 2016.
a. Subsektor Arsitektur
Industri: Jasa Perusahaan.
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (adhb)
PDRB atas dasar harga berlaku Subsektor Arsitektur tahun 2011-2016 diestimasi
menggunakan indikator dari PDRB atas dasar harga berlaku industri konstruksi.
PDRB Atas dasar Harga Konstan 2010 (adhk)
PDRB atas dasar harga konstan 2010 subsektor Arsitektur tahun 2011-2016 diestimasi
Sumber data:
1. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi .Jawa Timur
2. PDRB Provinsi Jawa Timur, BPS Provinsi .Jawa Timur
b. Subsektur Desain Interior
Industri: Jasa Perusahaan
PDRB Atas dasar Harga Berlaku (adhb)
PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2011-2016 diestimasi menggunakan indikator dari PDRB atas dasar harga berlaku real estat.
PDRB Atas dasar Harga Konstan 2010 (adhk)
PDRB atas dasar harga konstan 2010 tahun 2011-2016 diestimasi menggunakan indikator dari PDRB atas dasar harga konstan 2010 real estat.
Sumber data:
1. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Pendidikan
PDRB Atas dasar Harga Berlaku (adhb)
PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2011-2016 diestimasi sebagai perkalian antara PDRB atas dasar harga konstan 2010 dengan IHK kursus.
PDRB Atas dasar Harga Konstan 2010 (adhk)
PDRB atas dasar harga konstan 2010 tahun 2011-2016 diestimasi menggunakan indikator jumlah peserta kursus.
Sumber data:
1. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Statistik Pendidikan, Kemendikbud
3. Statistik Harga Konsumen (IHK), BPS Provinsi Jawa Timur
c. Subsektor Desain Komunikasi Visual
Industri: Jasa Perusahaan
PDRB Atas dasar Harga Berlaku (adhb)
PDRB Atas dasar Harga Konstan 2010 (adhk)
PDRB atas dasar harga konstan 2010 tahun 2011-2016 diperoleh dengan metode deflasi, yaitu dengan cara men-deflate PDRB atas dasar harga berlaku dengan deflator yang bersesuaian. Sumber data:
1. Matriks Supply Provinsi .Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
2. PDRB Subsektor Periklanan
Industri: Pendidikan
PDRB Atas dasar Harga Berlaku (adhb)
PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2011-2016 diestimasi sebagai perkalian antara PDRB atas dasar harga konstan 2010 dengan IHK kursus.
PDRB Atas dasar Harga Konstan 2010 (adhk)
PDRB atas dasar harga konstan 2010 tahun 2011-2016 diestimasi menggunakan indikator jumlah peserta kursus.
Sumber data:
Desain suatu
produk
menentukan
citra dari
produk
tersebut
2. Statistik Harga Konsumen (IHK), BPS Provinsi .awa Timur
d. Subsektor Desain Produk
Industri: Jasa Perusahaan
PDRB Atas dasar Harga Berlaku (adhb)
PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2011-2016 diestimasi menggunakan indikator PDRB atas dasar harga berlaku industri kemasan.
PDRB Atas dasar Harga Konstan 2010 (adhk)
PDRB atas dasar harga konstan 2010 tahun 2011-2016 diestimasi menggunakan indikator PDRB atas dasar harga konstan 2010 industri kemasan.
Sumber data:
1. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
2. PDRB Provinsi Jawa Timur, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Pendidikan
PDRB Atas dasar Harga Berlaku (adhb)
PDRB Atas dasar Harga Konstan 2010 (adhk)
PDRB atas dasar harga konstan 2010 tahun 2011-2016 diestimasi menggunakan indikator jumlah peserta kursus.
Sumber data:
1. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Statistik Harga Konsumen (IHK), BPS Provinsi Jawa Timur
e. Subsektor Film, Animasi, dan Video
Industri: Industri Pengolahan
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (adhb)
Data IBS diidentifikasi kedalam Output dan Konsumsi Antara untuk masing-masing 5 digit KBLI. Sedangkan data IMK hanya tersedia dalam 2 digit KBLI, sehingga perlu disagregasi ke dalam 5 digit KBLI menggunakan proporsi dari data IBS. Kemudian hasil penjumlahan output dan konsumsi antara IBS dan IMK tersebut diselaraskan dengan output dan Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga berlaku dari PDRB Industri pengolahan Non Migas Nasional. Dari hasil ini akan diperoleh Output dan NTB Industri Kreatif atas dasar harga berlaku.
PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 (adhk)
PDRB Industri Kreatif atas dasar harga konstan untuk kategori Industri pengolahan diperoleh dengan pendekatan Deflasi.
Output atas dasar harga konstan dihitung dengan mendeflate Output atas dasar harga berlaku dengan suatu deflator yaitu Indeks Harga Produsen (IHP).
Sumber data:
1. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Statistik Industri Besar dan Sedang (IBS) Tahunan, BPS Provinsi Jawa Timur 3. Indeks Harga Produsen (IHP) 2010, BPS
Provinsi Jawa Timur
4. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur Ekonomi Kreatif 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Informasi dan Komunikasi
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (adhb)
Nilai output berlaku diperoleh menggunakan pendekatan produksi, yaitu dengan mengalikan indikator produksi (jumlah film, sinetron, dll) dengan rata-rata biaya produksi film.Kemudian nilai NTB berlaku diperoleh dari perkalian antara output berlaku dan rasio NTB.
PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 (adhk)
Sumber data:
1. Statistik Indeks Harga Konsumen, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur Tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Pendidikan
PDRB Atas dasar Harga Berlaku (adhb)
PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2011-2016 diestimasi sebagai perkalian antara PDRB atas dasar harga konstan 2010 dengan IHK kursus.
PDRB Atas dasar Harga Konstan 2010 (adhk)
PDRB atas dasar harga konstan 2010 tahun 2011-2016 diestimasi menggunakan indikator jumlah peserta kursus.
Sumber data:
1. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
f. Subsektor Fotografi
Industri: Jasa Perusahaan
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (adhb)
PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2011-2013 diestimasi menggunakan hasil SKEK 2012-2013, sedangkan untuk tahun 2014-2016 diestimasi menggunakan hasil Survei Khusus Neraca Produksi (SKNP).
PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 (adhk)
PDRB atas dasar harga konstan 2010 tahun 2011-2016 diperoleh dengan metode deflasi, yaitu dengan cara men-deflate PDRB atas dasar harga berlaku dengan deflator yang bersesuaian. Sumber data:
1. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
2. SKEK 2015-2016, BPS Provinsi Jawa Timur 3. SKNP 2014-2016, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Pendidikan
PDRB Atas dasar Harga Berlaku (adhb)
PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2011-2016 diestimasi sebagai perkalian antara PDRB atas dasar harga konstan 2010 dengan IHK kursus.
Fotografi adalah
oleh mata, sudah
bisa dibuat
PDRB Atas dasar Harga Konstan 2010 (adhk)
PDRB atas dasar harga konstan 2010 tahun 2011-2016 diestimasi menggunakan indikator jumlah peserta kursus.
Sumber data:
1. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi .Jawa Timur
2. Statistik Harga Konsumen (IHK), BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Jasa Lainnya
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (adhb)
Output atas dasar harga berlaku dihitung menggunakan pendekatan produksi, yaitu mengalikan indikator produksi dan indikator harga. Sedangkan, NTB atas dasar harga berlaku diperoleh dengan mengalikan output atas dasar harga berlaku dan rasio NTB.
PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 (adhk)
output atas dasar harga konstan 2010 dan rasio NTB.
Sumber data:
1. Sensus Ekonomi 2006, BPS Provinsi Jawa Timur 2. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010,
BPS Provinsi Jawa Timur
3. Statistik Indeks Harga Konsumen, BPS Provinsi Jawa Timur
g. Subsektor Kriya
Industri: Industri Pengolahan
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (adhb)
PDRB Ekonomi Kreatif tahun 2010 didasarkan dari hasil Matriks Supply Industri Kreatif tahun 2010 dan sekaligus digunakan sebagai tahun dasar Penyusunan PDRB Industri Kreatif. PDRB Ekonomi Kreatif atas dasar harga berlaku tahun 2011-2016 khusus Kategori Industri Pengolahan dihitung menggunakan pendekatan produksi dari data Industri Besar dan Sedang (IBS) dan data Industri Mikro dan Kecil (IMK) tahun 2011-2016.
Data IBS diidentifikasi kedalam Output dan Konsumsi Antara untuk masing-masing 5 digit
KBLI. Sedangkan data IMK hanya tersedia dalam 2 digit KBLI, sehingga perlu disagregasi ke dalam 5 digit KBLI menggunakan proporsi dari data IBS. Kemudian hasil penjumlahan output dan konsumsi antara IBS dan IMK tersebut diselaraskan dengan output dan Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga berlaku dari PDRB Industri pengolahan Non Migas Nasional. Dari hasil ini akan diperoleh Output dan NTB Industri Kreatif atas dasar harga berlaku.
PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 (adhk)
PDRB Industri Kreatif atas dasar harga konstan untuk kategori Industri pengolahan diperoleh dengan pendekatan Deflasi.
Output atas dasar harga konstan dihitung dengan men-deflate Output atas dasar harga berlaku dengan suatu deflator yaitu Indeks Harga Produsen (IHP).
Sumber data:
1. Matriks Supply Provinsi Jawa Timur tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
2. Statistik Industri Besar dan Sedang (IBS) Tahunan, BPS Provinsi Jawa Timur 3. Indeks Harga Produsen (IHP) 2010, BPS 4. Matriks Supply Ekonomi Kreatif 2010, BPS
Provinsi Jawa Timur
Industri: Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi dan Perawatan Mobil dan
Sepeda Motor
Nilai output baik harga atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan untuk kegiatan perdagangan menggunakan pendekatan tidak langsung/commodity flow yaitu dengan menghitung besarnya marjin perdagangan barang-barang yang diperdagangkan dari industri pengolahan di
Sumber data:
1. Data Output Sektor Barang, BPS Provinsi .Jawa Timur
2. Matriks Supply Ekonomi Kreatif tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
3. SKSJ, BPS Provinsi Jawa Timur 4. SPPJ, BPS Provinsi Jawa Timur
h. Subsektor Kuliner
Industri: Industri Pengolahan
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (adhb)
PDRB Ekonomi Kreatif tahun 2010 didasarkan dari hasil Matriks Supply Industri Kreatif tahun 2010 dan sekaligus digunakan sebagai tahun dasar Penyusunan PDRB Industri Kreatif. PDRB Ekonomi Kreatif atas dasar harga berlaku tahun 2011-2016 khusus Kategori Industri Pengolahan dihitung menggunakan pendekatan produksi dari data Industri Besar dan Sedang (IBS) dan Industri Mikro dan Kecil (IMK) tahun 2011-2016.
dalam 2 digit KBLI, sehingga perlu disagregasi ke dalam 5 digit KBLI menggunakan proporsi dari data IBS. Kemudian hasil penjumlahan output dan konsumsi antara IBS dan IMK tersebut diselaraskan dengan output dan Nilai Tambah Bruto (NTB) atas dasar harga berlaku dari PDRB Industri pengolahan Non Migas Nasional. Dari hasil ini akan diperoleh Output dan NTB Industri Kreatif atas dasar harga berlaku.
PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 (adhk)
PDRB Industri Kreatif atas dasar harga konstan untuk kategori Industri pengolahan diperoleh dengan pendekatan Deflasi.
Output atas dasar harga konstan dihitung dengan mendeflate Output atas dasar harga berlaku dengan suatu deflator yaitu Indeks Harga Produsen (IHP).
NTB atas dasar harga konstan diperoleh dari perkalian output atas dasar harga konstan dengan rasio NTB tahun dasar yaitu rasio NTB tahun 2010.
Sumber data:
2. Statistik Industri Besar dan Sedang (IBS) Tahunan, BPS Provinsi Jawa Timur 3. Indeks Harga Produsen (IHP) 2010, BPS 4. Matriks Supply Ekonomi Kreatif 2010, BPS
Provinsi Jawa Timur
Industri: Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi dan Perawatan Mobil dan
Sepeda Motor
Nilai output baik harga atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan untuk kegiatan perdagangan menggunakan pendekatan tidak langsung/commodity flow yaitu dengan menghitung besarnya marjin perdagangan barang-barang yang diperdagangkan dari industri pengolahan di
subsektor kuliner. Marjin perdagangan merupakan perkalian antara output industri dengan rasio marjin perdagangan. Output yang didapat dari perkalian tersebut merupakan output utama. Sedangkan untuk output sekunder menggunakan rasio dari Matriks Supply 2010 Ekraf. Nilai tambah brutonya dihitung berdasarkan perkalian rasio nilai tambah bruto dengan outputnya.
Sumber data:
2. Matriks Supply Ekonomi Kreatif tahun 2010, BPS Provinsi Jawa Timur
3. SKSJ, BPS Provinsi Jawa Timur 4. SPPJ, BPS Provinsi Jawa Timur
Industri: Penyediaan Akomodasi dan
Penyediaan Makan Minum
Output subkategori penyediaan makan minum diperoleh dengan pendekatan pengeluaran. Output merupakan penjumlahan dari pengeluaran
penduduk terhadap produk penyediaan makan minum ditambah dengan konsumsi wisatawan mancanegara di Indonesia (ekspor wisatawan mancanegara dikurangi pengeluaran wisatawan nasional/impor restoran). Penghitungan tersebut menghasilkan output utama. Sedangkan output sekunder didapatkan dari rasio Matriks Supply Ekraf 2010. Output atas dasar harga konstan diperoleh dengan metode deflasi dengan IHP penyediaan makan minum sebagai deflatornya. Sedangkan nilai tambah brutonya dihitung berdasarkan perkalian rasio nilai tambah bruto dengan outputnya. Sumber data:
1. Susenas, BPS Provinsi Jawa Timur
3. Statistik Pariwisata, BPS Provinsi Jawa Timur
i. Subsektor Musik
Industri: Industri Pengolahan
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (adhb)
PDRB Ekonomi Kreatif tahun 2010 didasarkan dari hasil Matriks Supply Industri Kreatif tahun 2010 dan sekaligus digunakan sebagai tahun dasar Penyusunan PDRB Industri Kreatif. PDRB Ekonomi Kreatif atas dasar harga berlaku tahun 2011-2016 khusus Kategori Industri Pengolahan dihitung menggunakan pendekatan produksi dari data Industri Besar dan Sedang (IBS) dan data Industri Mikro dan Kecil (IMK) tahun 2011-2016.