PRINSIP SUSTAINABLE DEVELOPMENT PONDOK PESANTREN DENGAN KARAKTER ENTREPRENEURSHIP(STUDI KASUS PONDOK PESANTREN MUKMIN MANDIRI SIDOARJO).

106  13  Download (2)

Teks penuh

(1)

PRINSIP

SUSTAINABLE

DEVELOPMENT

PONDOK PESANTREN

DENGAN KARAKTER

ENTREPRENEURSHIP

(Studi Kasus Pondok Pesantren Mukmin Mandiri Sidoarjo)

Skripsi

Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Memperoleh

Gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I)

Oleh :

HUMAM ABDULILAH NIM B54212058

PROGRAM STUDI MANAJEMEN DAKWAH

JURUSAN DAKWAH

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Humam Abdulilah, 2016. Prinsip Sustainable Development Pondok Pesantren dengan Karakter Entrepreneurship (Studi Kasus Pondok Pesantren Mukmin Mandiri Sidoarjo).

Kata kunci : Sustainable Development, Pondok Pesantren, Entrepreneurship.

Fokus masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah bagaimana konsep entrepreneurship pondok pesantren Mukmin Mandiri. bagaimana Prinsip Sustainable Development Pondok Pesantren dengan Karakter Entrepreneurship di Pondok Pesantren Mukmin Mandiri ?

Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif serta jenis penelitian studi kasus dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi dan dokumentasi. Dalam pengolahan data menggunakan triangulasi data dengan tujuan untuk menguji keabsahan data yang diperoleh. Selanjutnya data dianalisis dimulai dari memilah dan memilahh data, menyajikan data secara keseluruhan, kemudian menarik kesimpulan dari hasil analisis yang diperoleh.

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN PERTANGGUNGJAWABAN OTENTISITAS SKRIPSI ... v ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ...

B. Rumusan Masalah ...

C. Tujuan Penelitian ...

D. Manfaat ...

E. Tujuan Penelitian ...

F. Definisi Konsep ...

G. Sistematika Pembahasan ... 1

2

3

3

4

5

(8)

BAB II KAJIAN TEORITIK

A. Penelitian Terdahulu yang Relevan ...

B. Kerangka Teori ...

1. Entrepreneurship ...

2. Sustainable Development ...

3. Pondok Pesantren ...

BAB III METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian ...

B. Lokasi Penelitian ...

C. Jenis Dan Sumber Data ...

D. Tahap-Tahap Penelitian ...

E. Teknik Pengumpulan Data ...

A. Gambaran Umum Pondok Pesantren Mukmin Mandiri

Sidoarjo ...

B. Penyajian Data ...

1. Konsep entreprenership Pondok Pesantren Mukmin

Mandiri Sidoarjo ...

2. Pembangunan Keberlanjutan Pondok Pesantren

Agrobisnis dan Agroindustri Mukmin Mandiri

...

49

59

59

(9)

C. Pembahasan Hasil Penelitian (analisis) ... 78

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ...

B. Saran dan Rekomendasi ...

C. Keterbatasan Penelitian ... 91

92

93

DAFTAR PUSTAKA ...

LAMPIRAN - LAMPIRAN

(10)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada setiap individu maupun organisasi dalam konteks apapun pasti

memerlukan perencanaan (planning). Perencaanan tersebut tidak hanya dimiliki

oleh orang-orang atau organisasi besar, yang kuantitasnya lebih kecil pun jelas

mereka memiliknya. Pentingnya sebuah perencanaan dikarenakan kompleksitas

permasalahan yang pasti akan dialami oleh setiap individu atau organisasi. Ketika

individu atau organisasi manapun yang tidak disiplin dalam menerapkan

aturan-aturan yang sebelumnya sudah direncanakan, maka cepat atau lambat akan

mengalami kegagalan dalam aktifitasnya.

Sistem perencanaan pada setiap masing-masing individu atau organisasi

pastinya pada beberapa hal pastinya berbeda, namun secara prinsip-prinsip

memiliki kesamaan, hal ini dikarenakan sifatnya universal. Pada dasarnya proses

perencanaan yang digunakan adalah untuk memilih tujuan dan menentukan

bagaimana mencapainya.

Entrepreneurship telah menjadi proses dinamik bagi bangsa yang berkinginan

untuk maju. Proses tersebut diciptakan oleh individu-individu yang menanggung

risiko utama, baik berupa modal, waktu dan atau komitmen karier dalam hal

menyediakan nilai untuk sebuah produk atau jasa tertentu. Salah satu devinisi

Entrepreneurship atau kewirausahaan yang dikemukakan oleh R. Heru Kristanto,

(11)

2

”….. ilmu, seni maupun perilaku, sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki kemampuan dalam mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif (creative new and Different). Berpikir sesuatu yang baru dan bertindak melakukan sesuatu yang baru guna menciptakan niali tambah, agar mampu bersaing dengan tujuan menciptakan kemakmuran individu dan masyarakat”.1

Jika dipandang dalam perspektif agama tentang wirausaha, Islam

mengajarkan umatnya yang secara tidak langsung mengajarkannya untuk

berwirausaha. Dalam sebuah ayat Allah berfirman :

Artinya ” apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya

kamu beruntung. (Q.s. Al Jumu’ah : 10)

Pengangguran dan kemiskinan terjadi karena perbandingan antara kesempatan

kerja tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja. Kesenjangan antara jumlah

permintaan dan penawaran ini seharusnya diperhatikan bagaimana solusinya.

Khusus atau lebihnya terhadap para tenaga kerja tak terdidik, tidak trampil dan

atau tenaga kerja berpendidikan rendah. Bila tenaga kerja yang dimaksud

tersebut itu tidak tertampung dalam sebuah lembaga formal, maka perlu kiranya

mereka dilatih untuk terampil dalam berwirausaha, yang substansinya mereka

mampu berpenghasilan dan mencapai kesejahteraan.

1

(12)

3

Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis agama Islam memiliki

peluang untuk mendidik moral dan perilaku masyarakat Indonesia. Penekanan

pada pendidikan anak pesantren atau santri tidak hanya pada ilmu agama dan

ilmu umum saja, melainkan juga pada pembentukan pribadi yang beriman,

bertaqwa, serta berakhlak mulia. Di sisi lain, sebagai lembaga pendidikan pondok

pesantren diminati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang mayoritas

penduduknya muslim.

Menurut Ahmad Musthofa Harun dalam Mahpuddin Poor, pesantren memiliki

watak kemandirian yang memungkinkannya untuk bertahan selama

berabad-abad. Eksistensi pesantren dalam jangka waktu yang lama ini dimungkinkan oleh

karakternya yang bisa bergerak selaras dengan perubahan sosial.2

Berbicara tentang Sustainable mempunyai pengertian yang luas. Apabila

diterjemahkan, sustainability ini mempunyai arti berkelanjutan. Dalam sebuah

laporan our common future WCED (World Commision On Environmental

Development) mendefinisikan sustainable development sebagai : ”pembangunan

yang berusaha memenuhi kebutuhan hari ini, tanpa mengurangi kemampuan

generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya3.

Pondok pesantren dengan karakter entrepreneurship erat kaitannya dengan

prinsip keberlanjutan atau sustainable development. keberlanjutan baik dari segi

kehidupan sosial hidup bermasyarakat, keberlanjutan ekonomi masyarakat, serta

2

Mahpuddin Noor, 2006, Potret Dunia Pesantren, Bandung, Humaniora, hal.2.

3

(13)

4

keberlanjutan lingkungan alam. Ketiga aspek tersebut perlu di pertahankan

sebagai prinsip dasar sustainable development atau disebut sebagai tiga dimensi

sustainable development.

Pondok pesantren Mukmin Mandiri merupakan pondok pesantren berkarakter

entrepreneurship yang letaknya berada di perumahan elit kawasan Sidoarjo.

Pondok pesantren Mukmin Mandiri merupakan pesantren modern. Hal ini

dikarenakan pesantren ini tidak hanya bergerak pada sektor keagamaan

melainkan diorientasikan pada pemberdayaan dan kemandirian para santri dalam

berwirausaha. Bidang wirausaha yang di jalankan di pondok pesantren Mukmin

Mandiri adalah di bidang wirausaha angrobisnis dan agroindustri produksi kopi.

Produksi yang dihasilkan dalam bentuk kopi goreng dan bubuk kopi dengan

merk ”Mahkota Raja Blend Doa” yang komposisinya terdiri dari biji jenis kopi

Arabika dan Robusta. Kemurnian kopi biji ini menjadi ciri khas kopi santri.

Berdasarkan latar belakang diatas peneliti ingin mengkaji lebih dalam lagi

tentang pondok pesantren entrepreneurship dengan Judul ”prinsip sustainable

development pondok pesantren dengan karakter entrepreneurship (Study Kasus

Pondok Pesantren Mukmin Mandiri, Sidoarjo).

B. Rumusan Masalah

Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan yang menjadi rumusan masalah

dalam pembahasan dalam pengajuan skripsi ini adalah :

1. Bagaimanakah Konsep Entrepreneurship di Pondok Pesantren Mukmin

(14)

5

2. Bagaimanakah Prinsip Sustainable Development Pondok Pesantren dengan

karakter Entrepreneurship di Pondok Pesantren Mukmin Mandiri Sidoarjo ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian :

1. Untuk Mengetahui Konsep Entrepreneurship di Pondok Pesantren

Mukmin Mandiri Sidoarjo

2. Untuk Mengetahui Prinsip Sustainable Development Pondok Pesantren

dengan karakter Entrepreneurship Pada Pondok Pesantren Mukmin

Mandiri Sidoarjo.

D. Manfaat Penelitian

1. Segi teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif

dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu manajemen serta

ilmu sosial. Dan diharapkan dapat memperkaya khazanah pemikiran,

khususnya sebagai upaya pencarian solusi alternatif dalam meningkatkan

kemampuan santri pondok pesantren Mukmin Mandiri dalam

mengembangakan prinsip sustainable development dalam berwirausaha.

2. Segi praktis

a. Bagi pemerintah, merupakan bahan pertimbangan dalam kebijakan

pemerintah dalam membangun tatanan sosial masyarakat yang ideal.

b. Bagi lembaga pendidikan, merupakan hasil pemikiran yang dapat di

(15)

6

yang intelektualis yang tidak hanya cakap dalam bidang agama akan

tetapi juga cakap dalam menanggapi persaingan era modern dalam hal

ini entrepreneur.

c. Bagi peneliti, merupakan bahan informasi guna meningkatkan dan

menambah pengetahuan tentang Pondok Pesantren dengan karakter

entrepreneurship yang terdapat dalam Pondok Pesantren dan bagaimana

lembaga tersebut memfasilitasi para santrinya supaya tidak hanya cakap

dalam bidang agama melainkan juga dibidang lain sesuai dengan

kebutuhan zaman.

E. Definisi Konsep

1. Sustainable Development

Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) adalah sebuah

upaya pembangunan yang meliputi aspek ekonomi, sosial, lingkungan bahkan

budaya untuk kebutuhan masa kini tetapi tidak mengorbankan atau

mengurangi kebutuhan generasi yang akan datang.4

2. Entrepreneurship

Kewirausahaan adalah padanan kata dari entrepreneurship dalam bahasa

Inggris, unternehmer dalam bahasa Jerman, ondernemen dalam bahasa

Belanda. Sedangkan di Indonesia diberi nama kewirausahaan. Kata

entrepreneur berasal dari bahasa Perancis yaitu entreprende yang berarti

petualang, pengambil risiko, kontraktor, pengusaha (orang yang

4

(16)

7

mengusahakan suatu pekerjaan tertentu), dan pencipta yang menjual hasil

ciptaannya.

Entrepreneurship adalah suatu kemampuan untuk mengelola sesuatu yang

ada dalam diri seseorang untuk dimanfaatkan dan ditingkatkan agar lebih

optimal (baik) sehingga bisa meningkatkan taraf hidup seseorang dimasa

mendatang.

Dari beberapa definisi kata yang telah disebutkan dapat diambil

kesimpulan dalam memaknai kata sustainable development pondok pesantren

entrepreneurship adalah pembangunan berkelanjutan dengan konsep

entrepreneurnya yang diprogramkan oleh pondok pesantren untuk para santri

agar mampu dan mau mengembangkan secara berlanjut jiwa

kewirausahaannya, tidak hanya dalam lingkungan pondok tapi juga mampu

mengaplikasikannya didunia luar (dalam hal ini luar pesantren) demi

menumbuhkan kemampuan entrepreneur santri melalui program-program

yang telah dicanangkan oleh pesantren.

3. Pondok Pesantren

Pondok pesantren menurut pengertiannya kata pesantren, pondok

pesantren, atau sering disingkat pondok atau ponpes, adalah sebuah asrama

pendidikan tradisional, di mana para siswa atau santrinya semua tinggal

bersama dan belajar dibawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan

sebutan kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Santri

(17)

8

beribadah, ruang untuk belajar dan kegiatan keagamaan lainnya. Komplek ini

biasanya dikelilingi oleh tembok untuk dapat mengawasi keluar masuknya

para santri sesuai dengan peraturan yang berlaku.5

Pondok pesantren diidealkan dapat menjadi agen perubahan sosial di

tengah-tengah gegap gempitanya persoalan-persoalan kemanusiaan yang

menuntut disikapi secara konkrit. Pondok pesantren dalam melaksanakan

fungsinya sebagai lembaga pendidikan keagamaan, merupakan sub sistem

pendidikan nasional yang tercantum pada pasal 30 ayat (4), Undang-Undang

Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003, yang

menyatakan,”pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah,

pesantren, peasraman, pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis”.6

F. Sistematika Pembahasan

Bab satu, merupakan pendahuluan, yang menggambarkan tentang,

latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, Manfaat

penelitian, deginisi konsep dan sistematika. Dengan demikian, bab satu ini

merupakan pengantar skripsi ini.

Bab dua, merupakan kajian pustaka yang digunakan untuk mengkaji

secara teoritis sebuah objek penelitian

5

Zamakhsyari Dhofier, 1983, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, LP3S, Jakarta, hal.18

6

(18)

9

Bab tiga, merupakan bagian yang membahas tentang Metodologi

Penelitian yang berisi tentang : Jenis dan pendekatan penelitian, Jenis Data

dan Sumber Data, Teknik Pengumpulan Data, Teknik Analisis Data,

Keabsahan Data.

Bab empat, merupakan hasil lapangan yang merupakan gambaran

umum lokasi penelitian, penyajian data dan pembahasan hasil penelitian.

Bab lima (penutup), berisi kesimpulan dari uraian yang telah

dikemukakan dalam penulisan ini. Di samping memuat simpulan, bab ini juga

memuat saran dan rekomendasi dan keterbatasan dalam penulisan ini.

(19)

10

BAB II

KAJIAN TEORITIK

A. Penelitian Terdahulu yang Relevan

Dalam skripsi yang berjudul ”Pesantren dan entrepreneurship upaya

pesantren Riyadhul Jannah Pacet Mojokerto dalam pembentukan jiwa

entrepreneurship santrinya oleh Inayatul Khusna. Dalam penelitian ini lebih

mengarah bagaimana upaya-upaya pondok pesantren dalam pembentukan jiwa

entrepreneurship dibidang peternakan, perdangangan melalui adanya kopontren,

serta bidang pertanian 7.

Dalam sebuah jurnal yang berjudul “Pesantren Dan Pengembangan

Kurikulum Kewirausahaan : Kajian Pesantren Roudahtul Khuffadz Sorong Papua

Barat, Ismail Suwardi Weke. Dalam penelitian ini ismail menganalisa sebuah

pesantren yang berbasis kurikulum kewirausahaan dan meninjaunya dari segi

social-kultural. Ismail menyimpulkan bahwa ketika lingkungan sekitar pesantren

membutuhkan keterampilan dalam peternakan, pertanian dan perikanan. Maka

sebuah pesantren mewadahi kebutuhan itu dengan mengintegrasikan kedalam

kurikulum pendidikan.8

7

Inayatul Khusna, Pesantren Dan Entrepreneurship : Upaya Pesantren Riyadhul Jannah Pacet Mojokerto Dalam Pembentukan Jiwa Entrepreneurship Santrinya, Skripsi Fakultas Tarbiyah, 2011

8

(20)

11

Dalam sebuah skripsi dengan Judul “Peran Pendidikan Islam Berbasis

Entrepreneurship Dalam Meningkatkan Financial Dan Spiritual Quotient Santri

Di Pondok Pesantren Mukmin Mandiri Sidoarjo”, Oleh Nur Kamila. Dalam

peenelitian ini Nur Kamila menyimpulkan bahwa peran pondok pesantren sendiri

begitu berpengaruh dalam meningkatkan jiwa kewirausahaan bagi santri, karena

seorang entrepreneurship tidak harus berasal dari keluarga orang kaya. Hal yang

terpenting dalam entrepreneurship adalah bagaimana ia berlatih, menekuni serta

keuletan yang terus diasah yang di imbangi dengan kesabaran yang tinggi.9

Dalam sebuah skripsi dengan judul ”Pesantren Interpreneurship Pesantren

Mukmin Mandiri Perumahan Graha Tirta Waru Kabupaten Sidoarjo 2006-2015:

Study Tentang Sejarah, Aktifitas Dan Perkembangan, Oleh Azmi Iman Sari.

Azmi menjenyimpulkan bahwa berdirinya sebuah pesantren ini adalah adanya

sikap peduli terhadap perubahan zaman masalah ekonomi di Negara Indonesia.

Pesantren yang ingin mencetak hafidzoh yang juga berjiwa entrepreneur. Yang

menjadi program utama dan tujuan pesantren ini ada dua hal yakni bidang

keagamaan dalam menghafal Alqur’an dan bidang entrepreneurship ekspor kopi.

Dalam sebuah jurnal yang berjudul ”Implementasi Dimensi Lingkungan

Dalam Pendidikan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Di Pondok Pesantren

Modern Selamat Kendal (Implementation Of Environmental Dimension Into

Education For Sustainable Development At Pondok Pesantren Modern Kendal)

9 Nur Kamila.”

(21)

12

oleh Sri Ngabekti, Dkk. Jurnal ini menyimpulkan bahwa dimensi lingkungan

telah diimplementasikan oleh komunitas pondok pesantren dalam kehidupan

sehari-hari. Pada lingkungan fisik /abiotilq bangunan pondok telah memanfaatkan

energi alam baik energi matahari maupun energi angin secara optimal.

Lingkungan biotik pondok telah dihijaukan sebagai salah satu upaya untuk

membantu mengatasi perubahan iklim dan meningkatkan biodiversitas. Dengan

sistem kluster dan mondok, emisi polutan kendaraan bermotor minimal. Dimensi

sosial-budaya (cultural) dipraktekkan dalam bentuk interaksi pondok pesantren

dengan orang tua santri, alumni, dan masyarakat10.

B. Kerangka Teori

1. Entrepreneurship

a. Pengertian Entrepreneurship

Entreprenership berasal dari bahasa perancis, entrepreneur. Menurut

etimologi memiliki arti perantara. Dalam bahasa Indonesia lebih akrab

dengan istilah wirausaha, yang terdiri dari kata wira (gagah berani,

perkasa) dan kata usaha. Dalam kamus umum bahasa Indonesia

entrepreneur mempunyai arti ”orang yang pandai atau berbakat mengenali

produk baru, memasarkannya serta pengaturan permodalan operasinya”.

10

(22)

13

John J. kao mendefinisikan entreprenurship atau kewirausahaan

sebagai berikut :

”kewirausahaan adalah usaha untuk menciptakan nilai melalui pengenalan kesempatan bisnis, pengambilan manajemen resiko yang tepat dan melalui keterampilan komunikasi dan untuk memobilisasi manusia, uang dan bahan-bahan baku atau sumber daya lain yang diperlukan untuk menghasilkan proyek supaya terlaksana dengan

baik”.11

Karl vesper menyatakan bahwa entrepreneur merupakan orang yang

mengkombinasi sumber-sumber daya yang ada, tenaga kerja, bahan-bahan

serta aktiva lainnya yang menyebabkan nilai mereka lebih besar dari

keadaan sebelumnya dan ia merupakan orang yang mengintroduksi

perubahan, inovasi dan tatanan baru12.

Sementara itu sukardi menjelaskan entrepreneurship adalah gaya

manajemen (mind set) yang mengikuti kesempatan tanpa memiliki

sumber-sumber yang dapat dikendalikan saat ini. Menurutnya kunci keberhasilan

pendidikan entrepreneurship adalah sebagai berikut :

1) Meningkatnya keahlian Individu

2) Lembaga yang memiliki Competitive Advantage

3) Memiliki kemampuan mengembangakan ekonomi wilayah

4) Tantangan menjadi Mayor planet di abad 21.

11

PO. Abas Sunaryo, dkk.,2010, Kewirausahaan, Penerbit Andi , Yogyakarta, hal.33

12

(23)

14

Dalam Islam, banyak ditemukan kata yang menunjukan pada makna

bekerja, seperti al’amal, al-kasb, alfi’l, as-sa’yu, an-nashru dan ash-sh’an.

Meskipun dari masing-masing kata memeiliki segi makna dan implikasi

yang berbeda, namun secara umum deretan kata tersebut berarti bekerja,

berusaha, mencari rizqi dan menjelajah (untuk bekerja).

Seluruh kata tersebut secara lughowi (bahasa) tidak ada menunjukan

makna entrepreneurship. Namun, jika kata tersebut dikomparasikan antara

makna, profil kewirausahaan dapat ditemukan. Misalnya dalam ayat

Al-Qur’an surat Yunus 67 : beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar.

Bahkan sabda Nabi Saw, “Sesungguhnya bekerja mencari rizki yang

halal itu merupakan kewajiban setelah ibadah fardlu”. (HR.Tabrani dan

Baihaqi). Nash ini jelas memberikan isyarat agar manusia bekerja keras dan

hidup mandiri.

Dalam sejarah Nabi Muhammad, istrinya, dan para sahabat-sahabanya

(24)

15

praktisi dan sosok tauladan bagi umat. Tidak asing jika mental entrepreneur

inheren dengan jiwa umat Islam. Bukankan Islam itu adalah agama kaum

pedagang, setidaknya sampai abad ke 13 M agama Islam di sebarkan melalui

jalur perdagangan.

b. Manfaat Entrepreneurship

Thomas W. Zimmerer merumuskan akan sebuah manfaat dari sebuah

kewiarausahaan13, adalah sebagai berikut :

1) Memberi peluang dan kebebasan untuk mengendalikan nasib sendiri.

2) Memberi peluang melakukan perubahan.

3) Memberi peluang untuk mencapai potensi diri sepenuhnya.

4) Memiliki peluang untuk meraih keuntungan seoptimal mungkin.

5) Memiliki peluang untuk berperan aktif dalam masyarakat dan mendapat

pengakuan atas usahanya.

6) Memiliki peluang untuk melakukan sesuatu yang disukai dan

menumbuhkan rasa senang dalam mengerjakannya.

c. Karakteristik entreprenurship

Karakter diartikan sebagai tabiat; watak; sifat-sifat kejiwaan; ahlak

atau budi bekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain. jadi

dalam sautu yang dikatakan membangun karakter (character Building)

adalah proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga

13

(25)

16

berbentuk unik, menarik dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang

lain.

Mc Clelland mengajukan sebuah konsep Need For Achievement

(N-Ach) yang diartikan sebagai virus kepribadian yang menyebabkan

seseorang ingin berbuat lebih baik dan terus maju dan memiliki tujuan

yang realistis dengan mengambil tindakan beresiko yang benar-benar telah

diperhitungkan.14

Dalam penelitian Ibnu jalil menyimpulkan bahwa seorang

entrepreneurship memiliki beberapa karakteristik, yakni sebagai berikut :

1) Berorientasi kedepan dan mengejar prestasi

Seorang entrepreneur senantiasa menginginkan prestasi yang

prima. Mereka cenderung berpikir cermat serta berfokus pada visi

jangka panjang tentang bisnis.

2) Berani mengambil resiko

Seorang entrepreneur tidak takut menjalani pekerjaan yang

disertai resiko dengan memperhatikan besar kecilnya resiko.

3) Mempunyai toleransi terhadap ambiguitas

Para entrepreneur memandang hal-hal yang sifatnya tidak pasti

dalam dunia bisnis sebagai bagian dari kehidupan mereka.

4) Independen

14

(26)

17

Seorang entrepreneur tidak ingin hidup dari bergantung pada

orang lain.

5) Mampu memecahkan masalah.

Seorang entrepreneur adalah orang yang memiliki kepemimpinan

yang tumbuh secara alami dan pada umumnya lebih cepat

mengidentifikasi permasalahan yang perlu diatasi.

6) Kreatif

Seorang entrepreneur tidak mengikuti cara yang telah menjadi

kebiasaan dan telah dilakukan oleh orang pada umumnya.

7) Memiliki kepercayaan yang tinggi.

Seorang entrepreneur mampu mengatasi permasalahan dengan

cepat dan gigih dalam mengejar tujuan.

8) Objektif

Seorang entrepreneur tidak membiarkan sifat mementingkan diri

sendiri dengan cara mengesampingkan objektifitas. Mereka akan

bertukar pikiran dengan orang-orang yang kompeten untuk

menghindari pengambilan keputusan sendiri.

9) Mampu menganalisa kesempatan.

Seorang entrepreneur akan menganalisis dengan cermat setiap

kesempatan sebelum dapat meyakini manfaat kesempatan tersebut bagi

(27)

18

10) Orang yang aktif.

Mereka yang tidak duduk menunggu aktifitas yang akan diberikan

orang lain kepada mereka. Diam tanpa aktivitas bukan sifat mereka.

Karakter dalam pembentukan seseorang untuk menjadi seorang

entrepreneur tidak sendirinya hadir dalam diri seseorang, melainkan terdapat

beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Adapun faktor-faktor tersebut

adalah sebagai berikut15 :

1) Faktor Lingkungan keluarga

Beberapa riset telah berusaha mengungkapkan akan faktor keluarga

yang menjadi pembentukan karakter entrepreneur dalam diri seseorang.

Beberapa riset tersebut menyimpulkan bahwa telah ditemukan anak yang

dalam urutan kelahiran pertama lebih banyak memilih untuk

kewirausahaan. Wirausaha yang berhasil adalah wirausaha yang

dibesarkan oleh orang tua yang juga entrepreneur, karena mereka lebih

luas daam pengalaman usaha.

2) Faktor pendidikan

Pendidikan merupakan sebuah pendukung dalam menumbuhkan jiwa

kewirausahaan. Pendidikan yang baik kan memberi dampak atau

pengetahuan yang lebih baik dalam wirausaha.

1515

(28)

19

3) Faktor Usia

Menurut Staw, usia bisa berkait dengan lamanya seseorang menjadi

entrepreneur. Maksudnya seorang entrepreneur semakin usianya

bertambah, maka pengalamannya dalam bidang usaha akan bertambah

luas.

4) Faktor Pengalaman Kerja

Salah satu ketidakpuasan orang dalam bekerja juga turut menjadi salah

satu pendorong seseorang untuk mengembangkan usaha baru.

Hal yang harus digaris bawahi pada karakteristik dan perlu diletakkan

dalam benak wirausaha adalah bagaimana berpikir objektif dan kreatif

sehingga mampu menganalisis setiap kesempatan bisnis yang muncul dan

pengendalian diri yang matang, sehingga mampu merencanakan dan

mengendalikan bisnis secara objektif dan tidak mengandalkan pertolongan

ataupun fasilitas yang ada diluar kemampuannya.

2. Sustainable Development

a. Pengertian Sustainable Development

Perencanaan ekonomi mungkin dapat diartikan sebagai upaya

pemerintah yang sungguh-sungguh untuk mengkoordinasikan

pengambilan keputusan ekonomi. Keputusan yang memiliki jangka

panjang serta langsung mempengaruhi dan dalam banyak hal

mengendalikan tingkat dan pertumbuhan berbagai variable pokok

(29)

20

sebagainya). Salah satu masalah yang penting dalam menghadapi

pembangunan ekonomi adalah bagaimana menghadapi trade off antara

kebutuhan pembangunan disatu sisi dan upaya mempertahankan

kelestarian lingkungan disisi lain.16

Konsep pembangunan yang berkelanjutan diperkenalkan dalam World

Conservation Strategy yang diterbitkan oleh United Nations Environment

Programme (UNEP), International Union for Conservation of Natural

Resource (IUCN) dan World Wide Fund for Natural (WWF). Menurut

Brundland Report dari PBB pada tahun 1987 dinyatakan bahwa

pembangunan yang berkelanjutan adalah proses pembangunan termasuk di

dalamnya pembangunan lahan, kota, bisnis, masyarakat dan sebagainya

yang berprinsip memahami kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan

pemenuhan kebutuhan generasi masa depan.

Menurut Emil salim pembangunan berkelanjutan atau sustainable

development diartikan sebagai suatu proses pembangunan yang

mengoptimalkan manfaat dari sumber daya alam dan sumber daya

manusia dengan menyerasikan sumber alam dan manusia dalam

pembangunan.17 Pembangunan berkelanjutan itu sendiri adalah perubahan

positif sosial ekonomi yang tidak mengabaikan sistem ekologi dan sosial

dimana masyarakat bergantung kepadanya. Keberhasilan penerapannya

16

Michael P, Todaro . Pembangunan dunia ekonomi Dunia ketiga, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1994. 155

17

(30)

21

memerlukan kebijakan, perencanaan dan proses pembelajaran sosial yang

terpadu, viabilitas politiknya tergantung pada dukungan masyarakat

melalui pemerintahannya, kelembagaan sosialnya dan kegiatan dunia

usahanya.18

Bruntdland menyatakan bahwa sustainable development adalah sebuah

perencanaan pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini

tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi

kebutuhan mereka19. Asumsi terkait dengan sustainable development

paling tidak terletak pada tiga aksioma dasar20, yaitu sebagai berikut :

1) Perlakuan masa kini dan masa mendatang yang menempatkan nilai

positif dalam jangka panjang.

2) Menyadari bahwa asset lingkungan memberi kontribusi terhadap

economic well-being.

3) Mengetahui kendala akibat impilikasi yang timbul pada asset

lingkungan.

Kesimpulannya bahwa pembangunan berkelanjutan atau

sustainable development adalah suatu cara pandang mengenai kegiatan

yang dilakukan secara sistematis dan terencana dalam kerangka

peningkatan kesejahteraan, kualitas kehidu-pan dan lingkungan umat

18

Aca Sugandhy dan Rustam Hakim, 2009, Prinsip Dasar kebijakan Pembangunan Berkelanjutan berwawasan Lingkungan, Jakarta, Bumi Aksara, hal.21

19

Akhmad Fauzi, Ekonomi Sumber Alam dan Daya Lingkungan, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, hal.231

20

(31)

22

manusia tanpa mengurangi akses dan kesempatan kepada generasi yang

akan datang untuk menikmati dan memanfaatkannya.

b. Dimensi Pembangunan Berkelanjutan (Sutainable Development)

Sustainable Development menjadi sebuah strategi sumber daya, baik

manusia maupun alam. Penerapannya dimulai dari tahap perencanaan,

proses pembangunan, hingga proses pengoperasian dan pengembangan.21

Menurut Haris konsep sustainable development dapat diperinci menjadi

tiga aspek. Aspek pertama ialah keberlanjutan ekonomi. Kedua

keberlanjutan dibidang lingkungan dan yang ketiga, keberlanjutan

dibidang sosial. Penjelasannya adalah sebagai berikut22 :

1) Sustainable development pada aspek ekonomi

Keberlanjutan pada aspek ekonomi berarti sebuah pembangunan

yang mampu menghasilkan barang dan jasa secara kontinu.

Keberlanjutan ini terwuujud apabila sebuah perusahaan atau usaha

bisnis mampu melakukan fungsinya secara optimal sehingga secara

ekonomi dapat memberikan keuntungan terus menerus, bersahabat

dengan lingkungan dan secara social mensejahterakan.

2) Sustainable development pada aspek lingkungan

Keberlanjutan dalam aspek lingkung merupakan system yang

mampu memelihara sumber daya yang stabil, menghindari eksploitasi

21

Arca Sugandhi, Dkk. 2009, Prinsip Dasar Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan, Jakarta , PT Bumi Aksara, hal.21

22

(32)

23

sumber daya alam dan adanya fungsi penyerapan lingkungan. Menjaga

agar tingkat eksploitasi sumber daya yang ada merupakan upaya agar

pasokan bahan baku perusahaan ini dapat terus berlanjut.

Keberlanjutan pada aspek lingkungan ini terwujud apabila

perusahaan atau usaha bisnis mampu menanggulangi dampak buruk

yang ditimbulkan terhadap lingkungan disekitarnya.

3) Sustainable development pada aspek sosial

Keberlanjutan dalam aspek sosial diartikan sebagai sistem yang

mampu mencapai kesetaraan, menyediakan layanan sosial berupa

kesehatan, pendidikan, gender dan akuntabilitas politik. Keberlanjutan

sosial akan terwujud apabila mampu mendistribusikan keuntungan

ekonomi yang diterimanya untuk peningkatan sumber daya dan

kesejahteraan tenaga kerja secara terus menerus. Keberlanjuatan sosial

akan semakin tinggi apa bila keberlanjutan ekonomi dapat dicapai.

Gambar.2.1

(33)

24

Pembangunan konvensional telah berhasil meningkatkan pertumbuhan

ekonomi, tetapi gagal dalam aspek social dan lingkungan. Hal ini terjadi

karena pembangunan konvensional menempatkan aspek social dan

lingkungan pada posisi yang kurang penting. Pembangunan konvensional

tidak dapat diterima lagi, karena menyebabkan yang lebih besar pada

distribusi pendapatan antar Negara maupun didalam Negara. Berikut tabel

terkait pembangunan berkelanjutan yang menghasilkan keberlanjutan dari

sisi ekonomi, social dan lingkungan.

Dari/ke Ekonomi Sosial Lingkungan

Ekonomi Mengentaskan Rakyat miskin

Dampak Terkait Dampak Terkait

Sosial Dampak Terkait Pembangunan

Manusia

Dampak Terkait

Lingkungan Dampak Terkait Dampak Terkait Pelesatarian Ekosistem

Tabel.2.1

Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Dvelopment)

Tabel di atas menjelaskan bahwa pengentasan kemiskinan memiliki

dampak ekonomi, pada pembangunan sosial dan lingkungan perlu

diperhatikan. Demikian pula pada indeks pembangunan manusia akan

mempengaruhi pada aspek ekonomi dan lingkungan. Dalam pembangunan

berkelanjutan segala indeks yang berkaitan dengannya harus

dipertimbangkan. Pertimbangan tersebut dapat dilakukan melalui

(34)

25

aspek yakni, ekonomi, sosial dan lingkungan menajdi satu kesatuan demi

mencapai pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development).

c. Indikator Sustainable development

Pada era sebelum pembangunan berkelanjutan, pertumbuhan ekonomi

merupakan tujuan bagi dilaksanakannya suatu pembangunan tanpa

mempertimbangkan aspek lainnya. Selanjutnya pada era pembangunan

berkelanjutan saat ini ada 3 tahapan yang dilalui oleh setiap negara. Pada

setiap tahap, tujuan pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi namun

dengan dasar pertimbangan aspek-aspek yang semakin komprehensif dalam

tiap tahapannya. Tahap pertama dasar pertimbangannya hanya pada

keseimbangan ekologi. Tahap kedua dasar pertimbangannya harus telah

memasukkan pula aspek keadilan sosial. Tahap ketiga, semestinya dasar

pertimbangan dalam pembangunan mencakup pula aspek aspirasi. Politis

dan sosial budaya dari masyarakat setempat. Tahapan-tahapan ini

(35)

26

Tabel. 2.2.

Tahapan-tahapan konsep pembangunan berkelanjutan (Sustainable Dvelopment)

Berdasarkan konsep pembangunan berkelanjutan tersebut, indikator

pembangunan berkelanjutan tidak akan terlepas dari aspek ekonomi,

lingkungan, sosial, budaya dan politik. Beberapa indikator yang menjadi

syarat pembangun berkelanjutan diantaranya adalah sebagai berikut23.

Dimensi Brundtland, G.H

Lingkungan Lingkungan untuk

generasi sekarang

Indikator Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Dvelopment)

23

(36)

27

d. Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) dalam Perspektif

Islam.

Para ahli ekonomi pembangunan memberlakukan istilah berkelanjutan

atau berkesinambungan (sustainability) untuk memperjelas hakekat

pembangunan yang paling diinginkan, yakni pertumbuhan ekonomi disatu

sisi, dan pelestarian lingkungan hidup atau pelestarian sumber daya alam

yang disisi lain. Pemerintah yang jujur dan demokratis adalah elemen

dasar bagi tercapainya pembangunan berkelanjutan.

Dari berbagai pendapat bahwa semua negara didunia untuk

melaksanakan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini

dilakukan untuk mencegah terjadinya kemerosotan kualitas lingkungan

hidup yang pada akhirnya akan menimbulkan bencana alam. Firman Allah

Swt dalam surat saba’ ayat 15-19 yang berbunyi sebagai berikut :

(37)

tempat kediaman mereka Yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan

di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari

rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu

kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah

Tuhan yang Maha Pengampun".

16. tetapi mereka berpaling, Maka Kami datangkan kepada mereka

banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua

kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl

dan sedikit dari pohon Sidr.

17. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada mereka karena

kekafiran mereka. dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian

itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.

18. dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang

Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan

dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan.

berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari

dengan dengan aman.

19. Maka mereka berkata: "Ya Tuhan Kami jauhkanlah jarak

(38)

29

Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka

sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu

benar-benar terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi Setiap orang yang

sabar lagi bersyukur.

Penjelasan dari ada ayat 15 adalah terdapat negeri Saba’ yang terletak

di sebuah lembah yang subur dan permai yang di apit oleh dua gunung di

kiri dan di kanannya. Oleh nenek moyang dan raja-raja terdahulu dibuat

suatu bendungan atau waduk besar.24 Waduk itu untuk menampung air

hujan, untuk mengambil faedahnya agar tidak terbuang percuma saja

kelautan. Bilamana musim hujan mereka bercocok tanam, karena

tanahnya memang subur. Selama waduk itu dijaga dengan baik, selama itu

pula kesuburan akan tetap ada, ”Negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha

Pengampun”25.

Pada ayat 16 dan 17 dijelaskan bahwa mereka berpaling dan menolak

dari seruan Allah Swt, tidak mensyukuri atas nikmat-Nya, maka Allah Swt

menimpkan kepada mereka malapetaka dasyat yang memusnakan negeri

24 Bendungan itu bernama bendungan Ma’rib atau Bendungan Al’Arim. Banyak ahli sejarah

meragukan akan keberadaan bendungan tersebut. Namun akhirnya seorang peneliti dari perancis dating sendiri keselatan Yaman untuk menyelidiki sisa-sisa bendungan itu pada tahun 1843. Peneliti perancis tersebut dapat membuktikannya bahwa dahulu terdapat suatu kerajaan yang maju, makmur dan tinggi kebudayaannya

25

(39)

30

mereka. Akhirnya tanah mereka menjadi tandus sehingga mereka yang

selamat terpaksa hijrah ketempat lain kecuali sebagian kecil.26

pada ayat 18 dan 19 dijelaskan bahwa pembangunan jalan dan

penyediaan sarana transportasi, serta penciptaan rasa aman merupakan

syarat-syarat bagi kesejahteraan satu masyarakat. Disisi lain juga

menunjukan pentingnya memelihara hasil pembangunan (bendungan

Ma’rib). Masyarakat yang tidak membangun atau gagal memelihara hasil

pembangunannya, akan runtuh dan warganya akan terpaksa mencari

wilayah lain yang lebih berguna untuk menyambung hidupnya27.

e. Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) dalam Ranah

Hukum Positif

Konsep pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) untuk

pertama kali dituangkan dalam kebijakan nasional melalui kepres No. 13

tahun 1989 tentang rencana pembangunan lima tahun (repelita), dan TAP

MPR No.II/MPR/1993 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Dengan demikian pembangunan berkelanjutan telah mempunyai pijakan

hukum dan kebijkan nasional.28

Pada pasal 33 yang dikenal sebagai pasal yang mengatur pengelolaan

ekonomi, ayat keempat yang berbunyi ”perekonomian nasional

26

Kementrian Agama RI, Al-Qur’an & Tafsirnya, Jakarta : Widya Cahaya, hal.82-83

27

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Jakarta, Lentera Hati, hal.368

28

(40)

31

diselengaraan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip

kebersamaan, efesiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan

lingkungan, kemandirian, serta menjaga keseimbangan kemajuan dan

kesatuan ekonomi nasional”.29

Kewajiban hukum bagi semua pihak untuk memelihara dan menjaga

kelestarian lingkungan yang serasi dan seimbang sebagai konsekwensi

penguasaan lingkungan yang dimiliki terhadap lingkungan, sebagaimana

tersirat dalam pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang

berbunyi :

Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran

rakyat”.

Kesimpulannya mengisyaratkan bahwa dunia usaha dalam

kapasitasnya sebagai pelaku kegiatan ekonomi yang berhubungan erat

dengan kemasyarkatan mempunyai kewajiban dalam melakukan

pembangunan berkelanjutan yang salah satunya adalah mematuhi kaidah

perlindungan lingkungan sebagai wujud menyediakan kebutuhan

pembangunan pada masyarakat yang akan datang.

29

(41)

32

3. Pondok Pesantren

a. Pengertian Pondok Pesantren

Kata pondok berasal dari funduq (bahasa Arab) yang artinya ruang

tidur, asrama atau wisma sederhana, karena pondok memang sebagai

tempat tinggal yang sederhana dari para pelajar/santri yang jauh dari

tempat asalnya. Pesantren adalah sebuah kompleks dengan lokasi yang

umum terpisah dari kehidupan sekitarnya. Pada kompleks tersebut

memiliki beberapa bangunan : rumah kediaman pengasuh, sebuah surau

atau masjid, madrasah dan asrama tempat tinggal para santri.30

Kata “santri” mendapat awalan “pe” dan akhiran “an” yang berarti

tempat para santri menuntut ilmu. Kata santri mempunyai arti luas dan

sempit. Dalam arti sempit adalah santri adalah seorang murid satu sekolah

agama yang disebut pondok atau pesantren. Oleh sebab itulah perkataan

pesantren diambil dari kata santri yang berarti tempat tinggal untuk para

santri. Dalam arti luas dan umum santri adalah bagian penduduk Jawa

yang memeluk Islam secara benar-benar, sembahyang, pergi ke masjid

dan melakukan aktifitas lainnya31.

Menurut Arifin yang dikutip dalam oleh Mujamil Qomar bahwa

pondok pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam yang tumbuh

serta diakui oleh masyarakat sekitar, dengan sistem asrama di mana

30

Abdurrahman Wahid, Menggerakan Tradisi ; Esai-Esai Pesantren ”, Yogyakarta : LKiS, hal.3

31

Abdul Munir Mulkhan, 1994, Runtuhnya Mitos Politik Santri, Strategi Kebudayaan dalam Islam,

(42)

33

santri menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian atau

madrasah yang sepenuhnya berada dibawah kedaulatan dari leadership

atau beberapa orang kiai ciri-ciri khas yang bersifat kharismatik serta

independen dalam segala hal32.

Pondok pesantren memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri, dalam

sebuah tulisan M. Faisol yang berjudul ”Alqur’an, Sastra dan Pesantren”,

yang memiliki unik dan kekhasan sebagai berikut :

1) Pesantren dijalankan secara otonom. Tidak ada campur tangan dari

pihak luar pesantren. Bahkan diantara satu pesantren dengan pesantren

lainnya tidak ditemukan keseragaman.

2) Pesantren tidak dikelola melalui semangat materialisme. Artinya,

murid yang nyantri (belajar) tidak dipungut biaya yang tinggi. Santri

hanya membayar semampunya, bahkan tidak mengeluarkan biaya

sama sekali. Maka hal inilah yang menjadikan keberadaan pesantren

lebih dekat dengan masyarakat.33

Proses kehidupan dalam dunia pesantren berbeda dari pengertian rutin

kegiatan masyrakat sekitarnya, pesantren memiliki sifat dan ciri tersendiri.

Pertama-tama perputaran kegiatan di pesantren berdasarkan waktu sholat

wajib lima waktu (shalat rawatib). Dimensi waktu ini dapat dilihat dari

32

Mujamil Qomar, 2002, Pesantren dari TransformasiMetodelogi Menuju Demokratisasi Institusi,

Jakarta: Erlangga, hal.2.

33Muhammad In’am Esha (Ed.),

(43)

34

para santri saat mengaji kitab-kitab dengan pemberian kajian berdasarkan

pembagian waktu pengajian. Dimensi waktu tersebut juga terlihat pada

lamanya masa belajar dipesantren (nyantri). Selama santri masih

memerlukan bimbingan pengajian dari kiainya, selama itu pula ia tidak

harus menyelesaikan masa belajarnya dipesantren.

b. Tujuan Berdirinya Pondok Pesantren

Tujuan umum pesantren adalah membina warga negara agar

berkepribadian muslim sesuai dengan ajaran-ajaran agama islam dan

menanamkan rasa keagamaan pada kehidupan sehari-hari, serta

menjadikan dirinya sebagai orang yang berguna bagi agama, masyarakat

dan Negara.

Adapun tujuan khusus pesantren adalah sebagai berikut :

1) Mendidik santri anggota masyarakat untuk menjadi seorang muslim

yang bertaqwa kepada Allah Swt, berakhlak mulia, memiliki

kecerdasan, keterampilan dan sehat lahir batin sebagai warga Negara

yang berpancasila.

2) Mendidik santri untuk menjadi muslim selaku kader-kader ulama dan

mubaligh yang berjiwa ikhlas, tabah, tangguh, wiraswasta dalam

mengamalkan sejarah islam secara utuh dan dinamis.

3) Mendidik santri untuk memperoleh kepribadian dan mempertebal

(44)

35

pembangun yang membangun dirinya dan bertanggung jawab kepada

pembangunan bangsa dan Negara.

4) Mendidik tenaga-tenaga mikro (keluarga) dan regional (pedesaan/

masyarakat lingkungannya).

5) Mendidik santri agar menjadi tenaga-tenaga yang cakap dalam

berbagai sector pembangunan, khususnya pembangun mental spiritual.

6) Mendidik santri untuk membantu meningkatkan kesejahteraan social

masyarakat lingkungan dalam rangka usaha pembangunan masyarakat

bangsa.34

c. Fungsi dan Peranan Pesantren.

Sejak berdirinya pesantren hingga saat ini, fungsi pesantren telah

mengalami perkembangan. Visi, posisi dan persepsinya terhadap dunia

luar telah berubah. Pesantren pada masa awal (masa syaikh maulana Malik

Ibrahim) berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penyiaran agama Islam.

Kedua fungi ini saling bergerak saling menunjang. Pendidikan dapat

dijadikan bekal dalam mengumandangkan dakwah, sedangkan dakwah

bisa dimanfaatkan sebagai sarana dalam membangun system pendidikan.

Dalam masa penjajahan, peran pesantren memperluas fungsinya. Pada

masa ini pesantren berperan sebagai basis pertahanan bangsa dalam

pernag melawan penjajah demi lahirnya kemerdekaan. Maka dalam hal ini

pesantren berfungsi sebagai pencetak kader-kader yang patriotik, kader

34

(45)

36

yang rela mati demi memperjuangkan bangsa. Sanggup mengorbankan

seluruh waktu, harta bahkan jiwannya.

Dalam sebuah tulisan A. Khudori Soleh35 yang bertema

Mengembalikan Pesantren NU Sebagai Agent Of Change”36

,

menjelaskan bahwa pesantren harus memformulasikan dirinya sebagai

lembaga pendidikan yang mampu menjawab tuntutan masa depan tanpa

kehilangan jati dirinya. Oleh karena itu sebagai lembaga pendidikan

pesantren tadak hanya dituntut mampu mendidik masyarakat tentang ajran

agamanya, terlebih lagi pesantren harus mampu tampil sebagai pelopor

perubahan (Agent of change). Jadi, pesantren harus mampu menjawab dan

mampu memberikan pemikiran-pemikiran baru dan tindakan-tindakan

alternatif dalam pelbagai persoalan keagamaan dan kemasyrakatan.

d. Keahlian Lulusan Pondok Pesantren

Nurcholis Madjid menjelaskan pada umumnya pembagian keahlian

pada para lulusan pondok pesantren berkisar pada bidang-bidang Nahwu

Shorof, Fiqh, Aqaid, Tasawuf, Ilmu tafsir, Hadits dan Bahasa Arab.37

Dijelaskan sebagai berikut ini :

1) Nahwu Shorof

35

Dosen Fakultas Psikologi, saat ini menjabat sebagai sekertaris program doctor (S3) PAI Multidisipliner UIN Malang dan Alumnus PP Tambak Beras Jombang.

36Muhammad In’am Esha (Ed.),

NU di TengahGolbalisasi ; kritik, solusi dan Aksi, hal.125

37

(46)

37

Nahwu Shorof merupakan gramatikal bahasa arab. Beberapa

orang mendapatkan status social-keagamaan, mereka sering diesbut

sebagai ustadz, kiai atau lainnya, hal itu dikarenakan mereka para

lulusan pondok pesantren dianggap ahli dalam gramatikal bahasa arab

tersebut. Beberapa kitab Nahwu Shorof diantaranya seperti

Ajurumiyah. Imrithi, Alfiyah, atau pada tingkatan yang lebih tingginya

Ibnu Aqil.

2) Fiqh

Para ulama fiqh mendefinisikannya sebagai sekumpulan amaliah

(sifat yang diamalkan) yang disyariatkan dalam Islam. Perkembangan

agama Islam terus menerus dan menyebar luas keseluruh penjuru

dunia, sehingga perlu atau keharusan adanya pembakuan system

hukum untuk mengatur masyarakat. Karena hubungannya yang erat

dengan kekuasaan, maka pengetahuan tentang hukum-hukum agama

merupakan tangga naik yang paling langsung menuju pada status

social politik yang lebih tinggi.

3) ‘Aqa’id

Bentuk plural dari ‘Aqidah yang padanannya dalam bahasa

Indonesia adalah keyakinan. Ruang lingkup Aqa’id sendiri meliputi

segala yang bertalian dengan kepercayaan dan keyaqinan. Selain itu

(47)

38

membahas ilmu Aqa’id adalah seperti Aqidatul Awamm, Bad’ul Amal,

sanusiyyah dan lain sebagainya.

4) Tasawuf

Sesungguhnya bidang tasawuf atau sufi adalah bidang yang

sangat mendalam, yang kaitannya berkaitan dengan rasa atau semangat

keagamaan itu sendiri. Dan sebenarnya bidang ini yang sangat

menarik dalam struktur kehidupan beragama. Tasawuf merupakan

bidang yang sangat potensial untuk memupuk rasa keagamaan para

santri dan menuntun mereka dalam budi pekerti mulia.

5) Tafsir

Salah satu bidang keahlian yang jarang di dihasilkan dipesantren

adalah bidang tafsir Al-qur’an. Bidang ini yang paling luas daya

cakupannya. Kalau diperhatikan banyak pemikiran-pemikiran

fundamental yang muncul dalam dunia Islam biasannya dikemukakan

melalui penafsiran-penafsiran Al-qur’an. Lemahnya dibidang ini akan

berdampak munculnya penyelewengan-penyelewengan dalam

menafsirkan Al-qur’an. Sungguh strategis keahlian dalam bidang ilmu

tafsir ini dalam mengantisipasi munculnya pemikiran-pemikiran yang

fundamentalis itu. Kitab yang sering dikaji dalam bidang ini adalah

kitab Tafsir Jalalayn.

(48)

39

Hadist merupakan sumber hukum kedua agama Islam setelah

Alqur’an. Keahlian dalam bidang ini tentunya sangat diperlukan untuk

pengembangan pengetahuan agama itu sendiri.

7) Bahasa Arab

Berbeda dengan bidang tafsir dan hadits, dibidang ini

pesantren-pesantren telah mampu memproduksi orang-orang yang memiliki

keahlian yang lumayan dalam berbahasa arab. Keahlian bidang ini

harus dibedakan dalam keahlian dibidang nahwu shorof diatas. Sebab

titik beratnya pada kemampuan penguasaan materi bahasa itu sendiri,

baik pasif maupun aktif. Biasanya penguasaan dalam bidang ini

merupakan lulusan dari pondok pesantren modern. Oleh karena itu,

pondok pesantren ini relative bersikap terbuka kepada ilmu

pengetahuan modern.

e. Jenis-Jenis Pesantren

Ditinjau dari perkembangannya pesantren terbagi menjadi dua ialah

sebagai berikut :

1) Pesantren Salaf

Pesantren salaf (tradisional) adalah pesantren yang masih

mempertahankan bentuk aslinya dengan materi pengajaran kitab klasik

sebagai inti pendidikan. Sistem pengajarannya bersifat non-klasik

yaitu dengan menggunakan metode sorogan dan badongan. Metode

(49)

40

menitik beratkan pada pengembangan kemampuan seorang individu

dibawah bimbingan ustadz atau kiai. Sedangakan bandongan

dilakukan dengan cara kyai mengajarkan kitab tertentu kepada

sekelompok santri38.

2) Pesantren Khalaf.

Pesantren khalaf (modern) adalah pesantren yang berusaha

mengintregasikan secara penuh antara sistem klasikal dan sekolah

kedalam pondok pesantren. Dalam hal ini, pesantren khalaf (modern)

memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a) Mulai akrab dengan metode ilmiah modern.

b) Semakin berorientasi pada pendidikan yang fungsional, artinya

terbuka atas perkembangan dirinya.

c) Penggolongan program dan kegiatan semakin terbuka dan

ketergantungannya pun absolut dengan kiai, yang sekaligus dapat

membekali santri dengan beberapa pengetahuan di luar mata

pelajaran agama maupun keterampilan yang diperlukan di

lapangan kerja.

d) Dapat berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat39.

38

Departemen Agama RI Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam 2003, Pola Pengembangan Pondok Pesantren, Jakarta : Departemen Keagamaan RI, hal.74

39

(50)

41

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian dengan judul ”prinsip sustainable development pondok pesantren

dengan karakter entrepreneurship (studi kasus pondok pesantren Mukmin

Mandiri, Sidoarjo) merupakan penelitian yang berbentuk penelitian kualitatif

dengan jenis penelitian Studi kasus. Dalam penelitian ini seorang peneliti

menyelidiki secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses atau

sekolompok individu. Kasus-kasus dibatasi oleh waktu dan aktifitas yang

berbagai prosedur-prosedur penggalian informasi berdasarkan waktu-waktu yang

telah ditentukan.40

Peneliti kualitatif adalah peneliti yang interpretative, yang di mana di

dalamnya peneliti terlibat ke dalam pengalaman yang berkelanjutan dan terus

menerus dengan partisipan.41 Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah

hal-hal yang berkaitan dengan pesantren entrepreneurship yang menjadi program

dalam pesantren tersebut yang bagaimana menciptakan pesantren

entrepreneurship yang sustainable development.

40

Jhon W. Cresswell, 2009, Research Design ; Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed, edisi ketiga, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, hal.20

41

(51)

42

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di yayasan pondok pesantren Mukmin Mandiri yang

beralamatkan di Graha Tirta Estate Bougenville No 69 Ngingas, kecamatan Waru,

Kab. Sidoarjo, Jawa Timur. Pondok pesantren Mukmin Mandiri merupakan

pesantren wirausaha (entrepreneurship) yang bergerak di bidang agroindustri dan

agrobisnis yang memproduksi kopi.

Pondok pesantren Mukmin Mandiri yang berbasis wirausaha bisnis di bidang

agroindustri dan agrobisnis yang berorientasi ekspor sejak berdirinya pada tahun

2009. Wirausaha usaha ini dalam mendapatkan pasokan biji kopi mengambil dari

para petani kopi yang masih berada dikawasan propinsi Jawa Timur.

Keberadaan wirausaha agroindustri dan agrobisnis yang di programkan oleh

pesantren dalam kurikulum program pondok pesantren Mukmin Mandiri telah

menyebabkan dinamika dalam segala aspek, seperti ekonomi, sosial dan

lingkungan yang mempunyai dampak terhadap keberlanjutan pembangunan pada

pondok pesantren mukmin mandiri, khususnya pada dunia wirausaha.

C. Jenis dan Sumber Data

Data yang diambil dan dikumpulkan pada penelitian ini terdiri dari data

primer dan data skunder. Data primer diperoleh melalui observasi pada objek

lapangan lokasi penelitian, serta malukukan wawancara mendalam dengan pakar

(52)

43

Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis data kualitatif. Jenis data

kualitatif yaitu data yang berbentuk kata, kalimat, dan gambar.42 Sedangkan

Sumber data adalah subyek dari mana data dapat diperoleh. Adapun sumber data

dalam penelitian ini meliputi : sumber data primer dan sumber data sekunder.

a. Data Primer

Sumber Primer yaitu data yang diperoleh penulis secara langsung dari

sumber aslinya43. Data primer diperoleh melalui observasi pada objek

lapangan lokasi penelitian, serta malukukan wawancara mendalam dengan

pakar (stackholder). Adapun sumber data primer diperoleh dari hasil

wawancara, observasi juga digunakan oleh peneliti sebagai bahan dalam

analisa data demi menghasilkan suatu kesimpulan

Adapun yang menjadi informan yang menjadi sumber primer, dalam

penelitian ini adalah, orang yang dianggap sangat mengetahui tentang konsep

dan implementasi program entrepreneur yang ada di pondok pesantren

Mukmin Mandiri. Informan tersebut adalah : pengasuh pondok pesantren,

pengurus pondok dan para santri yang dimana infroman juga merupakan

orang-orang yang mengetahui dan memahami seluk beluk segala aktivitas

pondok pesantren.

42

Suharsimi Arikunto, 1993, Prosedur penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta, Rineka Cipta, hal.83.

43

(53)

44

b. Data Sekunder

Sumber Sekunder yaitu data yang diambil dan diperoleh dari bahan

pustaka dengan mencari data atau informasi berupa benda-benda tertulis

seperti buku-buku, majalah, arsip-arsip, jurnal, dokumen, kliping, atau karya

tulis ilmiah44.

D. Tahap-Tahap Penelitian

Adapun tahapan awal yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tahap

pra-lapangan yang meliputi beberapa hal sebagai berikut :

a. Menyusun rancangan penelitian, yakni sistematika yang akan dilaksanakan

dalam penelitian.

b. Memilih lapangan penelitian.

c. Menjajaki dan menilai lapangan, yakni tujuan dari hal ini adalah untuk

mengenal segala unsur, social, fisik dan keadaan alam agar penelitian dapat

mempersiapkan diri serta menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan.

E. Teknik Pengumpulan Data

a. Observasi

Observasi dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan

sistematika fenomena-fenomena yang diselidiki.45 Teknik observasi ini

peneliti gunakan untuk mengamati secara langsung dan mencatat tentang

situasi yang ada.

44

Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian Suatu Pendekatan Praktek, hal.115.

45

(54)

45

Teknik ini digunakan untuk mengetahui gambaran umum tentang keadaan

letak geografis pondok pesantren, tentang pelaksanaan program

entrepreneurship dan sarana prasarana di pondok pesantren Mukmin Mandiri

Sidoarjo

b. Wawancara Mendalam (Indepth Interview)

Wawancara atau interview adalah suatu bentuk komunikasi verbal yang

bertujuan memperoleh informasi. Dalam wawancara pertanyaan dan jawaban

diberikan secara verbal, biasanya komunikasi ini bersifat sementara yaitu

berlangsung dalam jangka waktu tertentu dan kemudian diakhiri.46

Berkenaan dengan penelitian ini, informan yang dipilih peneliti adalah

informan yang tahu betul mengenai tentang Pondok Pesantren Mukmin

mandiri. Informan tersebut diantaranya : pengasuh pondok pesantren,

pengurus pondok dan para santri Pondok Pesantren Mukmin Mandiri. Adapun

yang dijadikan dalam penggalian data dari wawancara adalah sebagai berikut :

1) Sejarah berdirinya Pondok pesantren ini.

2) tujuan dari berdirinya pondok pesantren Mukmin Mandiri.

3) Program-program kegiatan di pondok pesantren Mukmin Mandiri.

4) Jumlah santri yang ada di pondok pesantren Mukmin Mandiri.

5) Konsep pesantren dengan karakter entrepreneursip

6) Prinsip sustainable development aspek sosial di Pondok pesantren

Mukmin Mandiri.

46

(55)

46

7) Prinsip sustainable development aspek ekonomi di pondok pesantren

Mukmin Mandiri.

8) Prinsip sustainable development aspek lingkungan di pondok pesantren

Mukmin Mandiri.

9) Potensi yang diharapkan oleh pondok pesantren Mukmin Mandiri untuk

para santrinya.

c. Dokumentasi

Dokumentasi yaitu data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkrip,

surat kabar dan lain-lain.47

Adapun dalam metode dokumentasi dalam penelitian ini adalah untuk

memperoleh gambaran umum objek penelitian Pondok pesantren Mukmin

Mandiri yakni sebagai berikut :

1) Profil Pondok Pesantren Mukmin Mandiri.

2) Visi dan Misi Pondok Pesantren Mukmin Mandiri.

3) Struktur Kepengurusan Pondok pesantren Mukmin Mandiri

4) Jadwal Program kegiatan Pondok pesantren Mukmin Mandiri

5) Sarana dan Prasarana yang mendukung kegiatan pondok pesantren

Mukmin Mandiri.

6) Jumlah Santri Pondok Pesantren Mukmin Mandiri.

47

(56)

47

d. Kepustakaan

Kepustakaan yaitu mengumpulkan data dengan cara memperoleh dari

kepustakaan dimana penulis mendapatkan teori – teori dan pendapat ahli.

F. Teknik Validasi Data

Pada penelitian ini, untuk pemeriksaan keabsahan data menggunakan teknik

trianggulasi, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang dipopulerkan oeleh

Denzin. Teknik trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang

memanfaatkan sesuatu yang yang lain diluar data yang didapatkan untuk

keperluan pengecekan atau sebagai pembanding pada data tersebut. Ada tiga cara

dalam Trianggulasi yang digunakan dalam penelitian, yakni teknik pemeriksaan

yang memanfaatkan sumber data, metode dan teori. 48

G. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan refleksi

terus menerus terhadap data, mengajukan pertanyaan-pertanyaan analitis dan

menulis catatan-catatan singkat sepanjang penelitian. Dalam penelitian kualitatif

kegiatan menganalisa data dalam suatu penelitian merupakan kegiatan inti yang

pada akhirnya akan melahirkan hasil dari penelitian yang berupa kesimpulan dan

saran. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengacu

48

(57)

48

pada konsep Milles & Huberman yaitu interactive model yang

mengklasifikasikan analisis data dalam tiga langkah, yaitu :49

a. Reduksi data (Data Reduction )

Reduksi data yaitu suatu proses pemilahan, pemusatan perhatian pada

penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari

catatan-catatan tertulis di lapangan.

b. Penyajian data (Display Data)

Data ini tersusun sedemikian rupa sehingga memberikan kemungkinan

adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Adapun bentuk

yang lazim digunakan pada data kualitatif terdahulu adalah dalam bentuk teks

naratif.

c. Penarikan kesimpulan (Verifikasi)

Dalam penelitian ini akan diungkap mengenai makna dari data yang

dikumpulkan. Dari data tersebut akan diperoleh kesimpulan yang tentatif,

kabur, kaku dan meragukan, sehingga kesimpulan tersebut perlu diverifikasi.

Verifikasi dilakukan dengan melihat kembali reduksi data maupun display

data sehingga kesimpulan yang diambil tidak menyimpang.

49

Figur

Tabel.2.1
Tabel.2.1 p.33
Tabel.2.3
Tabel.2.3 p.35

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di