• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penistaan agama dalam al Quran: studi analisis surah al An’am ayat 108.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penistaan agama dalam al Quran: studi analisis surah al An’am ayat 108."

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

PENISTAAN DALAM AL-

QUR’AN

(Studi Analisis terhadap Penafsiran surah al-

An’am ayat 108)

“SKRIPSI”

Diajukan Kepada

Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Program Sarjana Strata Satu Ilmu al-Quran dan

Tafsir

Oleh:

KHOIR MAKYA FAIRUS E03213042

PRODI ILMU AL-QURAN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Khoir Makya Fairus. 2013. Penistaan agama dalam Qur’an (studi analisis surah al-An’am ayat 108), Skripsi Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ussuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Fenomena dalam negara Indonesia yang timbul dalam kehidupan masyarakat dilatarbelakangi oleh berbagai keyakinan, budaya, suku, adat istiadat dan lain-lain. Perbedaan tersebut telah terikat oleh Bhineka Tunggal Ika yang artinya beragam dalam satu ikatan. Setiap ada permasalah selalu saja mengaitkan dengan masalah keagamaan. Seiring berjalannya waktu tindakan penistaan agama sering dilakukan oleh oknum-oknum untuk kepentingan diri sendiri. Penista agama tindakan menghina keyakinan agama orang lain. Sehingga, dengan kejadian inilah dalam kehidupan beragama saling ber-adu argumen dan berselisih karena sama-sama menganggap keyakinan agama mereka benar. Padahal setiap agama adalah samawy kenapa selalu diberdebatkan. Oleh karena itu, sikap toleransi merupakan peran utama dalam hubungan beragama guna menciptakan rasa damai, harmonis dan sejahtera. Dengan demikian, hasil penelitian dari problematika diatas menjadi ketertarikan dalam meneliti untuk menemukan solusi sehingga dapat memberi contoh atau tindakan yang bijak pada umat manusia.

Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana penafsiran surah al-An’am ayat 108. 2) Bagaimana implikasi penafsiran surat al-An’am ayat 108 terhadap kehidupan beragama?

Penelitian ini bersifat kepustakaan (library research) dengan menggunakan

metode penyajian data deskriptif dan analisis. Metode deskriptif yang digunakan

adalah metode tah}li>li> . Dimana mufassir menguraikan makna yang terkandung dalam

al-Qur’an, ayat demi ayat, surah demi surah yang urutannya sesuai dengan mushaf. Hasil penelitian ini menyimpulkan menurut berbagai pendapat mufassir bahwa Allah swt telah melarang setiap umat manusia baik muslim maupun non muslim seharusnya

tidak mel\\\\akukan perbuatan memaki-maki terhadap berhala-berhala sesembahan orang lain. Supaya terhindar dari makian yang ditujukan kepada Allah swt tanpa ilmu pengetahuan yang dimiliki. Akibat dari seseorang yang menghina agama yaitu akan mengakibatkan suatu terpecah belahnya kehidupan antar umat beragama. Melalui ilmu pengetahuan inilah setiap manusia akan menemukan dan meningkatkan pemahaman dari kehidupan. Oleh karena itu manusia sangat memerlukan ilmu pengetahuan.

Kata kunci : Penistaan agama, penafsiran, Implikasi.

(7)

DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PERSETUJUAN TIM PENGUJI ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

PEDOMAN TRANSLITERASI ... xii

BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah dan Batasan Masalah ... 7

C. Rumusan Masalah ... 8

D. Tujuan Penelitian ... 9

E. Kegunaan Penelitian ... 9

F. Tinjauan Pustaka ... 10

G. Metode Penelitian ... 11

H. Sistematika Pembahasan ... 18

BAB II: LANDASAN TEORI PENISTAAN AGAMA A. Pengertian penistaan agama ... 19

B. Jenis-jenis penistaan agama ... 21

C. Hubungan antar beragama ... 22

D. Pengertian toleransi ... 26

E. Aspek-aspek toleransi ... 30

F. Faktor-faktor yang memengaruhi toleransi ... 36

G. Prinsip-prinsip toleransi ... 41

(8)

BAB III: PENAFSIRAN SURAH AL-AN’AM AYAT 108

A. Surah al-An’am ayat 108 ... 44 B. Penafsiran surah al-An’am ayat 108 menurut mufassir. ... 48 BAB IV: ANALISIS

A. Analisis penafsiran ... 77 B. Analisis implikasi ... 83 BAB V: PENUTUP

(9)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Al-Quran merupakan sumber pokok dan pedoman bagi petunjuk kehidupan setiap umat manusia. Dimana dalam al-Qur’an mengkaji setiap perilaku manusia maupun perbuatannya. Sehingga dengan adanya al-Qur’an sebagai kitab petunjuk yang menuntut setiap manusia menuju kejalan yang benar. Al-Quran menjelaskan bagaimana dalam kehidupan masyarakat modern dengan berusaha memberikan jawaban terhadap masalah-masalah dalam kemasyarakatan melalui petunjuk-petunjuk yang terdapat pada kandungan al-Qur’an. Diantaranya problem-problem yang ada yaitu dengan adanya perbedaan dalam keberagaman, ras, suku dan budaya.

(10)

2

keberhasilan Indonesia dan harus terus dipelihara untuk menjaga keutuhan Indonesia.

Permasalahan mengenai agama memang sensitif dan rentan dengan konflik. Hal ini dikarenakan agama merupakan dasar pedoman hidup individu yang pastinya berbeda satu sama lain. Agama diyakini setiap pemeluknya sebagai perangkat aturan Tuhan untuk menjadikan pedoman hidup yang harus ditaati agar kelak dalam mengarungi kehidupan di dunia ini menuju kehidupan yang lebih abadi di akhirat nanti. Agama juga berperan sangat besar untuk membentuk kepribadian seseorang.1

Jika seseorang tersebut benar-benar mengenali dan memahami agamanya secara baik dan benar, pasti dia tidak akan beranggapan bahwa kebenaran agama yang dianutnya itu sama dengan agama lain, karena dia memahami bahwa masing-masing agama mempunyai klaim kebenaran mutlaknya sendiri (absolute truth claim). Dan sebagian besar pula, peristiwa-peristiwa unifikasi dan konflik dunia dilatar belakangi oleh faktor agama.

Sebagaimana telah dikutip sebelumnya, agama mempunyai kekuatan mengikat yang luar biasa kedalam (power of internal integrity) dan semangat yang keras menyalahkan pertentangan. Dengan agama pula, setiap umat manusia bisa bersatu dan bersaudara dan demi agama pula orang bertengkar dan berseteru.

Dalam agama Islam, keberagamaan adalah fitrah (sesuatu yang melekat pada diri manusia dan terbawa sejak kelahirannya) sesuai dengan firman Allah swt yang terdapat pada surah al-Rum ayat 30:

(11)

3                                 2

Fitrah Allah yang menciptakan manusia atas fitrah itu (QS. Al-Rum [30]: 30)

Ini berarti manusia tidak dapat melepaskan diri dari agama. Tuhan menciptakan demikian, karena agama merupakan kebutuhan hidupnya.3 Namun dengan demikian manusia memiliki pemahaman yang berbeda-beda dalam penerimaan konsep agama itu tersendiri sesuai dengan wawasan yang dimilikinya. Oleh karena itu, dengan wawasan yang dimilikinya muncullah aliran atau sekte atau paham baru dari beberapa pepahaman keagamaan. Dalam hal ini, indikasi terjadinya involusi dalam tataran mode of religion, yang kemudian melahirkan sejumlah paradoks dalam kehidupan beragama.4

Negara Indonesia merupakan negara yang tidak lepas dari berbagai budaya dan agama. Sehingga, dilihat dari sisi mana pun tidak bisa dilepaskan dari pluralitas. Kemajemukan etnis, suku dan agama dengan segala alirannya baik kristen, katolik maupun protestan merupakan realitas ke Indonesiaan yang tidak bisa dipungkiri siapapun. Keragaman tersebut pada gilirannya melahirkan keragaman budaya, pandangan dan bahkan dunia kehidupannya sendiri yang satu dengan yang lain tidak bisa disimplifikasi sebagai sesuatu yang monolitik.5

Setiap orang memiliki agama dan berbagai kebudayaan, dengan berbagai kebudayaan dan agama yang berbeda itu harus saling menghargai dan saling

2Al-Qur’an 30:30

3M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an Tafsir Maudhu’i atas Berbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 1998), 375.

4Nuhrison M. Nuh, Penistaan Agama dalam Perspektif Pemuka Agama Islam, (Jakarta: Kemenag, 2014), 22.

(12)

4

menghormati pada setiap agama dan budaya tersebut. Apabila tidak saling menghormati dan menghargai setiap agama dan budaya maka akan terjadi penistaan atau pelecehan.

Diskursus mengenai agama sangat rentan dengan muatan emosi, kecenderungan dan subyekrivitas individu. Sehingga, dengan mencermati berbagai kejadian yang berkaitan dengan kehidupan keagaman pada akhir-akhir ini selayaknya membuat kita prihatin. Jika diperhatikan secara mendalam ihwal kehidupan beragama yang ditampilkan oleh masyarakat-masyarakat akhir-akhir ini, mungkin kita perlu merasa ironis karena terdapatnya sejumlah paradoks dengan tuntunan kesejatian dalam beragama.6

Penistaan Agama merupakan persamaan penghinaan agama, penodaan agama, dan pelecehan agama. Penistaan agama adalah tindakan perbuatan tutur kata, sikap yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok atau orang atau lembaga atau organisasi dengan tujuan sengaja atau tidak sengaja untuk melukai, menghina suatu agama, keyakinan agama tertentu yang mengakibatkan penganut agama dan keyakinan lain tersinggung.7

Fenomena sosial penistaan terhadap agama yang telah terjadi sejak diturunkannya para Nabi dan Rasul. Tidaklah seorang nabi atau rasulpun yang diutus Allah swt kepada suatu kaum, pasti mendapatkan penistaan dari umatnya. Bahkan, berbagai penistaan agama terus berlanjut hingga zaman modern saat ini, dengan berbagai macam bentuk dan jenis yang baru.

6Syamsul Arifin, Islam Indonesia, Sinergi membangun Civil Islam dalam Bingkai Keadaban Demokrasi, (Malang: UMM, 2003), 123.

(13)

5

Tindakan penistaan terhadap agama Islam menariknya bukan hanya dalam kalangan non muslim yang menistakannya tersebut. Akan tetapi, dari kalangan Muslim tersendiri pun melakukan tindakan menistakan terhadap sesama muslim. Penistaan yang terkait pada Rasulullah saw ataupun al-Qur’an, secara prinsipil tidak ada kaitannya dengan doktrin sebuah agama. Artinya, semua agama samawy

tidak mengajarkan adanya penistaan terhadap agama lain, sebab berasal dari satu sumber yakni Allah Swt. Dengan demikian, penistaan agama Islam lebih terkait dengan kepentingan manusia sebagai pemeluk yang menyelewengkan ajaran agamanya dan terutama terkait masalah politik, ekonomi maupun kekuasaan.

Dalam ajaran agama Islam penistaan atau pelecehan agama itu dilarang. Siapapun orangnya yang memiliki agama dan budaya harus dihormati. Misalnya saja penistaan atau pelecehan tersebut tertuju pada agama Budha dan Konghuchu atau Isa as, maka semua yang berbudaya dan ajaran agama tersebut akan mempunyai sifat emosi yang berlebihan. Hal ini, sejalan dengan QS. al-An’am [6]: 108:                                   

“Dan jangan lah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuham tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka

kerjakan”.8

Kata tasubbu dalam ayat diatas, terambil dari kata sabb yaitu ucapan yang mengandung makna penghinaan terhadap sesuatu atau penisbahan suatu kekurangan atau aib terhadapnya, baik hal itu benar demikian, lebih-lebih jika

(14)

6

tidak benar.9 Sementara itu ulama menggarisbawahi bahwa bukan termasuk dalam pengertian kata ini mempersalahkan satu pendapat atau perbuatan, juga tidak termasuk penilaian sesat terhadap satu agama, bila penilaian itu bersumber dari penganut agama lain.10 Jadi, larangan ayat ini bukan kepada hakikat tuhan-tuhan mereka, tetapi lebih kepada penghinaan, karena penghinaan tidak menhasilkan sesuatu menyangkut kemaslahatan agama.11 Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa istilah makna penistaan atau penghinaan agama dikenal dengan sabb ad-diin.

Dengan terjadinya penistaan atau pelecehan atau penghinaan terhadap agama sehingga mempunyai dampak dalam bermasyarakat yaitu saling bercerai berai antar-umat beragama, putusnya toleransi antar-umat beragama serta menjadi tidak adanya rasa aman dalam beragama. Hal ini menunjukkan dalam setiap manusia seharusnya tidak ada paksaan dalam memeluk agama selain agama Islam. Utamanya dalam melakukan penistaan tersebut adalah dilakukan oleh pemeluk agama Islam sendiri. Sehingga, disini bisa dilihat atau menjadi sebuah ukuran kualitas keberagamaan kaum muslimin. Munculnya nabi palsu, munculnya ulama’ terakhir dan masih banyak lainnya. Disini dapat menganalisis bahwa

dengan kejadian seperti itu menandakan dangkalnya pemahaman seseorang atas ajaran agama yang dianutnya.

9Kementerian Agama RI, Hubungan Antar-Umat Beragama, (Jakarta: Penerbit Aku Bisa, 2012), 33

10M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah Pesan, Kesan, dan keserasian al-Qur’an, Vol3, Cet 1, (Ciputat: Lentera Hati, 2000), 243

(15)

7

Hal ini menjadi sebuah tantangan bagi para tokoh dan ulama untuk memberikan pencerahan dan pemahaman yang komprehensif terhadap kaum muslimin.12

B. Identifikasi Masalah dan Batasan Masalah

Dari uraian pada latar belakang diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa dalam al-Qur’an menjelaskan perihal tentang penista atau pelecehan atau penodaan atau celaan terhadap agama. Namun dalam kaitannya dengan penelitian ini, lebih fokus pada permasalahan berikut ini:

1. Manusia mendefinisikan agama bahwasanya aturan tata cara keimanan (kepercayaan) dan peribadahan dalam hubungan dengan tuhan dan sesamanya. Jadi apabila manusia disinggung agamanya maka sangat mudah terpancing emosinya

2. Kaum Muslimin wajib bersikap toleransi terhadap agama-agama lain supaya menciptakan rasa aman serta hubungan harmonis antar-umat beragama.

3. Seluruh kaum Muslim harus menyadari bahwa dalam negara Indonesia terdapat berbagai agama, suku, ras dan budaya. Meskipun sejatinya, dalam negara Indonesia bermayoritas agama Islam tapi tidak memuat kemungkinan bahwa negara Indonesia adalah negara yang berpancasila dan bernegara Bhinneka Tunggal Ika. Sehingga, perlunya saling menghormati dan saling menghargai antara agama, suku, ras dan budaya

Dengan adanya penelitian ini dapat merenungi salah satu cara untuk menjauhi penistaan atau penghinaan agama serta cara bagaimana seseorang untuk

(16)

8

menghormati agama lain. Sehingga dengan adanya hal itu, maka setiap ajaran agama memiliki rasa aman pada keyakinan yang diajarkan sejak lahir.

Mengingat keluasan kajian penistaan atau penghinaan agama yang tertera dalam al-Quran, maka permasalahan yang akan diangkat dalam rangka untuk memproyeksikan penelitian lebih lanjut adalah menkonsentrasikan pada surah al-An’am ayat 108 yang secara khusus membahas penistaan atau mencela atau

penghinaan agama.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah yang disusun sebagai berikut:

1. Bagaimana penafsiran surah al-An’am ayat 108?

2. Bagaimana konsep penistaan dalam al-Quran keterkaitan dengan tafsir surah al-An’am ayat 108?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka peneliti memiliki tujuan dalam meneliti yaitu sebagai berikut:

1. Untuk menguraikan dengan jelas bagaimana penafsiran surah al-An’am ayat 108.

2. Untuk mengetahui dengan pasti bagaiamana konsep penistaan dalam al-Qur’an keterkaitannya dengan penafsiran surah al-An’am ayat 108.

E. Kegunaan Penelitian

(17)

9

selanjutnya. Oleh karena itu, disini peneliti memiliki dua kegunaan dalam penelitian yaitu sebagai berikut:

1. Secara teoritis penelitian ini berguna untuk memahami tentang cara menghormati agama serta budaya dan larangan menghujat agama lain. Sehingga dapat membedah wacana yang terdapat dalam al-Qur’an melalui pendekatan ilmu sosial.

2. Secara praktis, selain berguna sebagai teori, penelitian ini juga bertujuan agar dapat menambah wawasan serta mengingat kembali kepada masyarakat Islam pentingnya menghargai dan menghormati sesama agama dan segenap pembaca tentang tafsir yang berkaitan dengan sikap yang menghormati sesama agama.

G. Tinjauan Pustaka

Dengan adanya sebuah karya merupakan kesinambungan pemikiran dari generasi sebelumnya dan kemudian dilakukan perubahan yang signifikan. Penulisan skripsi ini merupakan kelanjutan dari karya-karya ilmiah yang sebelumnya. Sehingga, untuk menghindari plagiasi dalam sebuah karya ilmiah sebelumnya. Maka, dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui keorisinilan penelitian yang akan dilakukan.

(18)

10

menimbulkan persepsi bahwa tindak pidana penistaan agama yang dilakukan oleh Terdakwa hanyalah isu semata yang berkembang di masyarakat.

2. Skripsi yang berjudul “Pemidanaan Tindak Pidana Penodaan Agama (studi kasus di pengadilan negeri Surakarta)”, oleh David Setya Purnomo pada tahun 2010, di Universitas Muhammadiyah Surakarta, Fakultas Hukum. Skripsi ini membahas tentang bahwasanya bagaimana pemidanaan Tindak hakim untuk menyelesaikan perkara penodaan agama dan pertimbangan yang dialami oleh hakim mengenai pemeriksaan dan pemutusan pidana pada penodaan agama tersebut.

Berdasarkan penelusuran dari beberapa penelitian yang telah peneliti

kemukakan di atas, maka peneliti memilih judul dengan alasan belum pernah

dibahas oleh peneliti terdahulu. Setelah dilihat dari beberapa literatur belum ada

buku yang membahas tentang Penistaan Agama secara spesifik studi analisis

penafsiran surah al-Anam ayat 108 yang ada hanya pembahasan secara umum

tentang Penistaan menurut peraturan Perundang-undangan. Dari sinilah penulis

mencoba untuk mengembangkan tentang pembahasan tersebut secara spesifik

lagi menurut Penafsir. Adapun dimana sesuai dengan kejuruan yang menuntut

untuk menafsirkan suatu perkara sesuai dengan isi kandungan dalam al-Quran.

H. Metode Penelitian

(19)

11

dikaji, karena dengan metode-metode tersebut merupakan cara bagaimana cepat untuk bertindak agar suatu kegiatan dalam penelitian bisa dilaksanakan secara rasional dan terarah demi mencapai hasil yang maksimal.13 Adapun metode-metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Model Penelitian

Penelitian ini menggunakan model kualitatif. Yaitu penelitian yang bersifat atau memiliki karakteristik bahwa datanya di nyatakan dalam keadaan sewajarnya atau sebagaimana adanya relistic setting.

Penelitian kualitatif menghimpun data tentang kerangka ideologis, epistimologis dan asumsi-asumsi metodelogis pendekatan terhadap kajian tafsir dengan menelususri secara langsung pada literatur yang terkait.

2. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research), yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.14 Artinya data-data yang dimaksud disini merupakan rujukan penelitian yang diperoleh dari benda-benda atau sumber-sumber tertulis yang ada kaitannya dengan dengan tema yang dibahas.

13Anton Bakker, Metode Penelitian, (Yogyakarta: Kanisius, 1992), 10.

(20)

12

3. Metode Penelitian

Kata “metode” berasal dari bahasa Yunani methodos, yang berarti cara atau

jalan. Bangsa arab menerjemahkannnya dengan thariqat atau manhaj. Dalam bahasa Indonesia kata metode mengandung arti cara yang teratur yang terpikir baik-baik untuk mencapai maksud, cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai sesuatu yang ditentukan.15

Penelitian adalah terjemah dari bahasa Inggris yaitu research yang berarti usaha untuk mencari kembali yang dilakukan dengan metode tertentu dan dengan hati-hati, sistematis serta sempurna terhadap permasalahan sehingga dapat digunakan untuk menyelesaikan atau menjawab problem yang terjadi. Jadi metode penelitian adalah cara yang akan ditempuh oleh peneliti untuk menjawab permasalahan penelitian.16

Sehingga, dalam penelitian kali ini penulis telah memilih melakukan penelitian dengan cara metode tahlili atau metode analitis. Dalam metode tahlili biasanya hasil dari penafsiran ayat-ayat yang ditafsirkan mengikuti kecenderungan para ahli mufasir dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an yang didasari oleh latar belakang keilmuan, pemikiran, lingkungan sosial, pendidikan dan lain-lain.17 Sehingga penafsiran dengan metode ini menampilkan beberapa corak tafsir seperti corak fiqh, sufi, falsafi, „ilmi, lughawi, dan adab ijtima’i.

15Nasruddin Baidan, Metodologi Penafsiran al-Quran (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), 1.

(21)

13

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, dan lain sebagainya.18Sebagaimana tersebut di atas bahwa objek penelitian yang dikaji dalam penelitian ini adalah penafsiran surah al-An’am ayat 108 tentang penistaan agama. Oleh karena itu, penelitian ini bersifat kualitatif yang berupa penelitian kepustakaan dengan cara mendokumentasikan data, baik data primer, sekunder maupun pelengkap, selanjutnya penelitian ini juga menghimpun data berupa artikel dan naskah lain yang berkaitan dengan objek permasalahan yang dikaji sebagai bahan komparasi.

5. Sumber Data

Mengingat dalam melakukan suatu penelitian yang ilmiah. Disini penelitian Ilmiah ini menggunakan metode kepustakaan (Library Research), maka disini mengambil atau mendapatkan segala data dari berbagai melalui sumber tertulis. Contohnya saja terdapat pada sejumlah majalah, koran, jurnal, surat kabar, artikel, dan wawancara serta buku yang menyangkut dengan tema yang dikaji yaitu penistaan agama dalam surah al-An’am ayat 108. Dalam pembahasan tema yang dikaji ini menggunakan sumber data yang terbagi menjadi dua sumber yaitu Pertama, sumber data primer kemudian untuk yang Kedua, yaitu sumber data sekunder, yang perinciannya akan dijelaskan sebagai berikut:

(22)

14

a. Sumber Data Primer

Sumber primer adalah sumber yang berasal dari tulisan buku-buku yang berkaitan langsung dengan buku ini. Sumber utama penelitian ini adalah al-Qur’an dan kitab-kitab tafsir, yaitu antara lain:

a. Tafsir al-Maraghi karya Ahmad Mustafa al-Maraghi b. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb

c. Tafsir al-Azhar karya Prof Hamka

d. Tafsir al-Mishbah karya M. Quraish Shihab e. Tafsir al-Manar karya Muhammad Rasyid Ridha

b. Sumber Data Sekunder

Sumber data skunder adalah buku-buku kepustakaan yang erat kaitannya dengan judul skripsi ini, antara lain:

a. Penistaan Agama dalam Perspektif Pemuka Agama Islam karya Nuhrison M. Nuh

b. Menegakkan Pluralisme karya Ali Usman c. Tuhan tidak Perlu Dibela karya Gus Dur

d. Jangan Nodai Agama karya Imamuddin bin Syamsuri dan M. Zaenal Arifin Serta semua buku psikologi, ilmu pendidikan dan semua buku yang relevan dengan tema yang dikaji. Kemudian dibutuhkan langkah-langkah yang sistematis sebagai panduan dalam pembahasan. Adapun langkah yang akan peneliti lakukan dalam pembahasan meliputi berikut ini:

(23)

15

b. Menganalisa secara analitis dan dikaitkan dengan ilmu pendidikan dan psikologis.

c. Membaca dengan cermat dan teliti terhadap sumber data primer dan sekunder yang berbicara dan serta mendukung tentang penistaan agama yang terdapat dalam surah al-an’am ayat 108.

6. Teknik Analisis Data

Untuk menganalisis data, penelitian ini menggunakan metode mendeskripsikan konsep yang ada dalam al-Qur’an surah al-An’am ayat 108 yaitu dengan deskriptif-analisis yang berarti dilakukan dengan cara menyajikan deskripsi sebagaimana adanya, kemudian dianalisa lebih mendalam.19 Sehingga, dengan adanya metode ini usaha untuk pemberian deskripsi atas fakta tidak sekedar diuraikan, tetapi lebih dari itu, yakni fakta dipilih-pilih menurut klasifikasinya, diberi intepretasi, dan refleksi.20

Pendekatan bisa diartikan sebagai Metode atau cara analisis yang didasarkan oleh teori tertentu. Oleh karena itu , pada objek kali ini adalah al-Qur’an surah al -An’am ayat 108 maka pendekatan yang sangat relevan adalah pendekatan tafsir

tahlili atau analitis dengan bertolak dari analisis bahasa (linguistic) dan analisis konsep.

Dimana metode ini, berusaha mendeskripsikan konsep yang ada dalam al-Qur’an surah al-An’am ayat 108. Metode deskriptif yang digunakan dalam

metode tahlili mufasir menguraikan makna yang dikandung dalam al-Qur’an, ayat

19John W. Creswell, Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed, terj. Achmad Fawaid, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 201 2), 274

(24)

16

demi ayat. Surat demi surat yang urutannya sesuai mushaf. Uraian tersebut menyangkut berbagai aspek yang dikandung ayat, seperti pengertian kosa kata, konotasi kalimatnya, latar belakang turunnya ayat atau asbabun nuzul, keterkaitan dengan ayat yang mengiringi munasabah, juga pendapat-pendapat yang berkenaan dengan tafsiran ayat-ayat tersebut, baik yang disampaikan oleh Nabi, sahabat,para tabi’in, maupun ahli tafsir lainnya.21

Tafsir analisis terbagi menjadi dua bentuk yaitu yang Pertama, bentuk al-ma’tsur (riwayat) dan Kedua, bentuk al-ra’y (pemikiran). Bentuk al-ma’tsur

adalah suatu cara mengemukakan berbagai riwayat dan pendapat para ulama. Selain itu juga menggunakan ayat-ayat lain yang berkaitan denga ayat tersebut. Namun sangat jelas terasa riwayat mendominasi penafsiran sehingga dari uraian yang demikia panjang pendapat mufassir haya ditemukan beberapa baris saja. Jadi dalam tafsir riwayat ini tetap ada analisi tapi sebatas adanya riwayat. Karena dalam tafisr riwayat, riwayat itulah yang menjadi subjek penafsiran.22

Kedua, bentuk al-Ra’y adalah suatu cara pemikiran, dengan cara memberikan interpretasi terhadap ayat-ayat Alquran dengan pemikiran subjektifitas mufasir. Jadi para mufasir relatif memperoleh kebebasan, sehingga mereka agak lebih otonom berkreasi dalam memberikan interprestasi terhadap ayat-ayat al-Qur’an selama masih dalam batas-batas yang diizinkan oleh syara’dan kaidah-kaidah penafsiran yang mu’tabar. Itulah salah satu sebab yang

membuat tafsir dalam bentuk al-ra’y dengan metode analisis. Sehingga dapat

21Abd. al-Hayy al-Farmawi, Metode Tafsir Maudhu’i, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), 12.

(25)

17

melahirkan corak penafsiran yang beragam sekali seperti fiqh, falsafi, sufi, „ilmi, adabi ijtima’i dan lain sebagainya.23

Sebagaimana yang diketahui bahwasanya metode analisis menggunakan ini memiliki dua bentuk akan tetapi dalam penelitian kali ini lebih cenderung untuk menggunakan metode analisis bentuk al-ra’y yaitu berusaha menafsirkan ayat dengan pemikiran (ra’yi) dan menggunakan corak sosial kemasyarakatan (adabi ijtima’i). Dengan demikian peneliti bisa secara otonom dalam menafsirkan ayat

asalkan masih dalam kaidah-kaidah yang telah ditetapkan.

H. Sistematika Pembahasan

Dalam menguraikan pembahasan penelitian ini, diperlukan suatu sistematika agar memudahkan dalam penelitian meupun memudahkan dalam memahamkan pembaca. Maka sistematika pembahasan pada skripsi ini terbagi ke dalam lima bab, dengan rincian sebagai berikut:

Bab Satu, pendahuluan meliputi latar belakang masalah, penegasan judul, identifikasi masalah dan batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, sistematika pembahasan.

Bab Dua, menjelaskan tentang tinjauan umum mengenai konsep penistaan agama, jenis-jenis penistaan agama, hubungan antar umat beragama, konsep toleransi, aspek-aspek toleransi, faktor-faktor toleransi dan prinsip-prinsip toleransi serta tujuan toleransi.

(26)

18

Bab Tiga, menguraikan penafsiran surah al-An’am ayat108, yang meliputi terjemahannya, munasabahnya, tafsir mufradatnya serta penafsiran-penafsiran menurut para mufasir serta implikasinya.

Bab Empat, menyajikan analisis penistaan agama dalam al-Qur’an surah al -An’am ayat 108, serta yang meliputi penafsiran para ulama-ulama mufassir pada

surah al-An’am ayat 108.

(27)

19

BAB II

LANDASAN TEORI

A.

Pengertian Penistaan Agama

Pengertian dari kata “menista” berasal dari kata “nista”. Sebagian pakar

mempergunkana kata celaan. Perbedaan istilah tersebut disebabkan penggunaan kata-kata dalam menerjemahkan kata smaad dari bahasa belanda. “Nista” berarti hina, cela, rendah, noda.1

Sedangkan Agama adalah suatu peraturan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal, memegang peraturan tuhan dengan kehendaknya sendiri untuk mencapai kebaikan hidup di dunia dan kebahagiaan kelak di akhirat. Itulah pengertian “agama” menurut M. Taib Thahir Abdul Muin.2

Jadi, penistaan agama adalah tindakan perbuatan tutur kata, sikap atau tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok atau orang atau lembaga atau organisasi dalam bentuk provokasi, hasutan ataupun hinaan kepada individu atau kelompok lain melalui berbagai aspek seperti suku, budaya, adat istiadat serta agama. Dengan tujuan sengaja atau tidak sengaja untuk melukai, menghina suatu agama, keyakinan agama tertentu yang mengakibatkan penganut agama dan keyakinan lain tersinggung.3 Perlu diketahui bahwa penistaan agama itu sudah terjadi pada saat al-Qur’an diturunkan dan sampai berlanjut hingga sekarang. Berdasarkan dari definisi diatas menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan

1

Leden Marpaung SH, Tindak Pidana Terhadap kehormatan, (Jakarta, PT: Raja Grafindo Persada, 1997), 11.

2

Mujahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, (Jakarta, PT: Raja Persada, 1996), 3. 3

(28)

20

penistaan agama itu merupakan tindakan penghinaan, merendahkan, dan mengklaim suatu agama, pelaku ajaran agama, maupun atribut atau simbol-simbol agama yang dipandang dengan suci.

Dalam hukum Islam juga menjelaskan bahwa seeorang yang menistakan agama merupakan perbuatan yang dikategori perusak akidah, yang diancam berdosa besar (bagi pelakunya). Oleh karena itu, hal ini bertentangan dengan norma agama Islam yang ada dalam kitab suci al-Qur’an.

Sedangkan dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1PNPS/1965 tentang pencegaham Penyalahgunaan atau Penodaan Agama bahwa penistaan agama adalah “Setiap orang dilarang dengan sengaja dimuka umum menceritakan,

menganjurkan, mengusahakan dukungan umum untuk melakukan penafsitan tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agam itu, penafsirandari kegiatan mana yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.” Dapat disimpulkan bahwa setiap suatu kegiatan yang menyerupai agama dilarang untuk melakukan pengejekan atau penghinaan.

(29)

21

Memang secara tekstual dalam al-Qur’an memang tidak dijumpai kata-kata khusus yang bermakna penistaan. Akan tetapi dalam kamus Besar Bahasa Indonesia sudah menjelaskan maksud penistaan itu seperti apa. Kemudian dalam surah al-An’am ayat 108 juga menjelaskan bahwa kata dari sabba-yasuubbu-sabb(an), yang artinya “mencaci” atau “mencela”. Namun makna dari penelusuran melalui kata-kata persamaan yang senada dengan penistaan yaitu kata la’ib

(bersenda gurau, bermain-main), huzuw (berolok-olok), dan sakhira (mengejek, mencemooh).4

Dari ketiga kata tersebut merupakan satu kesatuan dari kata yang menistakan agama. Oleh sebab itu, tindakan penistaan terhadap agama diungkapkan dalam Al-Qur’an setidaknya dalam empat bentuk yaitu yang

Pertama, penistaan dalam bentuk penghinaan. Kedua, penistaan dalam bentuk bersenda gurau. Ketiga, penistaan dalam bentuk tuduhan dan tudingan. Keempat, penistaan dalam bentuk pandangan bahwa perbuatan dan ajaran nabi pada agama lain tidak benar atau dusta. Dan masih banyak lagi dari bentuk penistaan itu sendiri.

B.

Jenis-jenis Penistaan agama

Mengacu dalam fenomena penistaan agama sebagaimana telah dijelaskan pada sub-bab sebelumnya. Maka, dalam mengkalsifikasikan penistaan agama dalam dua jenis yakni:

4

(30)

22

Pertama, Verbal (dengan kata-kata atau ucapan). Penistaan yang verbal ini terjadi dalam bentuk: olok-olokan, sindiran, tuduhan, tudingan, ejekan, hinaan hingga candaan yang bukan pada tempatnya dan sebagainya.5

Kedua, Non Verbal yaitu menghina agama tidak menggunakan ucapan atau kata-kata, namun lebih pada tindakan, perilaku atau pandangan. Penistaan agama dalam jenis ini memiliki cakupan yang luas. Ia bisa terjadi dalam bentuk mencela dengan menggunakan bahasa tubuh atau tindakan yang mengotori ajaran agama masing-masing.6

Oleh sebab itu penistaan agama itu tidak dianjurkan pada setiap ajaran-ajaran agama karena selain merusak akidah juga bisa merusak suatu perdamaian, keharmonisan, dan sikap toleransi antar umat beragama baik dalam negara Indonesia maupun negara lainnya. Maka dari sini diperlukan adanya sikap Toleransi karena dimana toleransi merupakan fondasi supaya terciptanya hubungan antar agama menjadi sejahtera. Maka dari itu, sebelum menuju ke Toleransi kita harus paham terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan hubungan antar umat beragama. Oleh karena itu, maka akan dijelaskan sebagai berikut maksud dari hubungan antar umat beragama.

C.

Hubungan Antar Beragama

Negara Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai macam suku, adat, budaya, dan serta agama yang berbeda-beda sehingga menimbulkan suatu interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa agama-agama besar di dunia tumbuh subur di Indonesia yaitu

5

Imanuddin bin Syamsuri dan M. Zaenal Arifin, Jangan Nodai Agama,125 6

(31)

23

Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan ditambah lagi dengan Konghucu sebagai agama-agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia.7

Oleh karena itu, bangsa Indonesia memberi kebebasan kepada masyarakatnya untuk memeluk dan meyakini agama mereka masing-masing. Terkait dengan agama biasanya sering menimbulkan perpecahan yang mengakibatkan hilangnya rasa persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Timbulnya hilangnya rasa kesatuan dan perpecahan itu salah satunya yaitu dari mencela atau menistakan dari suatu agama, ras, suku, sampai dengan budaya.

Dalam hal memandang penistaan itu sendiri penistaan itu merupakan suatu perbuatan atau tindakan yang menhina atau melecehkan atau mencela sesuatu. Sebagaimana terdapat dalam surah al-An’am ayat 108 Allah swt berfirman:

                                        8

108. dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Dalam ayat diatas memberi penjelasan bahwa larangan seseorang untuk tidak mencela atau menistakan agama lain. Diantaranya adalah pengertian penistaan agama itu sendiri merupakan persamaan penghinaan agama, penodaan agama, dan pelecehan agama. Penistaan agama adalah tindakan perbuatan tutur kata, sikap yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok atau orang atau

7

Nawari Ismail, Perubahan Sosial-Budaya Komunitas (Agama Dam), Ed 1, Cet 1, (Yogyakarta, Deepublish, 2016), 3.

8Qur’an in word,

(32)

24

lembaga atau organisasi dengan tujuan sengaja atau tidak sengaja untuk melukai, menghina suatu agama, keyakinan agama tertentu yang mengakibatkan penganut agama dan keyakinan lain tersinggung.9

Selayaknya bangsa Indonesia harus menyadari bahwa dalam negara ini ada bermacam-macam suku, ras, budaya, adat serta budaya dan agama. Sehingga, dengan adanya perbedaan inilah setiap agama dalam Indonesia diharapkan menciptakan pluralitas sehingga dapat mewujudkan setiap individu, suku, bangsa, budaya, serta agama-agama lain untuk lebih mudah dalam menjalankan ikatan sosial dan pengenalan antar agama. Sehingga dengan itu dalam al-Qur’an menyatakan dalam surah al-Hujurat ayat 13:

                             

13. Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Sebagaimana ayat diatas menegaskan bahwa setiap keberagaman agama, ras, suku, dan budaya dibutuhkan saling kenal mengenal. Dari sinilah secara filosofi, kenal-mengenal tersebut dapat dipahami hanya sekedar literalitas, akan tetapi, lebih dari itu untuk saling memahami karakter, budaya peradaban, dan saling mengerti.10

Dengan apa yang dipaparkan tersebut hal itu dapat dapat disimpulkan bahwa hubungan antar beragama sangat berpengaruh dalam kehidupan berbangsa

9

Nuhrison M. Nuh, Penistaan Agama dalam, 23. 10

(33)

25

dan bernegara. Adanya hubungan antar agama inilah agar permasalahan atau konflik yang ada pada kehidupan masyarakat tidak semena-mena melakukannya dengan mengatas namakan agama. Hubungan antar agama dapat diartikan sebagai bentuk solidaritas sesama manusia yang ditunjukkan dalam kehidupan yang harmonis, saling menghormati semua agama serta menjalin hubungan sosial yang baik antar umat beragama dalam segala sesuatu sehingga mewujudkan kerukunan dalam umat beragama.

Kerukunan hidup beragama adalah sebagai dasar hubungan antar berberbagai kelompok umat beragama yang damai, harmonis, saling menghormati, tidak bertengkar dan semua permasalahan diselesaikan dengan baik-baik serta bersifat toleran terhadap pemeluk agama lainnya.11

Dengan demikian diperbedaan-perbedaan yang ada bukanlah sesuatu yang dimaksud untuk menunjukkan superioritas masing-masing terhadap keberagaman agama, suku, ras, dan budaya sekalipun. Melainkan untuk saling mengenal dan menegakkan prinsip persatuan, persaudaraan, dan persamaan. Maka dari itu sangat diperlukan sikap toleransi dan dengan ini akan dibahas sebagai berikut. Supaya bisa mengetahui bagaimana cara bertoleransi yang baik. Dimulai dari pengertian toleransi, selanjutnya aspek-aspek toleransi, kemudian faktor-faktor yang berpengaruh terhadap toleransi, serta tujuan toleransi. dari kelima inilah maka toleransi akan berjalan dengan baik.

11

(34)

26

D.

Pengertian Toleransi

Kata Toleransi dalam Webster’s New American Dictionary diartikan sebagai

leberaty towart the opinions of others: patience with other.12 Maksudnya yaitu memberikan kebebasan pendapat orang lain dan berlaku sabar terhadap orang lain. Jika kita merujuk kepada Kamus bahasa Arab, kata “tasamuh” berarti sikap ramah atau murah hati.13 Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari, mengartikan kata “al-samhah” dengan kata “al-sahlah” (mudah) dalam memaknai sebuah riwayat yang berbunyi, “Ahabbu al-dien ilallahi al-hanafiyyah

al-samhah”.14 Secara garis besar kata “tasamuh” berarti sikap ramah dengan cara memudahkan, memberi kemurahan dan keluasaan. Akan tetapi, makna tersebut bukan berarti dipahami secara gamblang sehingga menerima kebenaran yang berseberangan dengan keyakinan Islam, namun tetap menggunakan tolak ukur Al-Qur’an dan Sunnah.15

Namun menurut W. J. S. Poerwadarminto, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, Toleransi yang berasal dari kata “toleran” berarti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) terhadap pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan sebagainya) yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan pendiriannya.16 Sedangkan toleransi yang berasal dari bahasa Latin tolerantia, yang artinya kelonggaran, kelembutan

12

Dward N. Teall, A.M. and C. Ralph Taylor A. M., Webster’s New American Dictionary, (New York; Book Inc, 1958), 1050

13

Mohammad Badawi, Al-Muhit Oxford Study Dictionary English-Arabic, (Lebanon; Academia, 1996), 1120.

14

Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Juz 13, (Bairut; Darul Ma’rifah, 1379H), 20. 15

Muslim Ibrahim, Islam dan Wasatiyyah: Wastiyah Sebagai Paksi Perpaduan Serumpun, (Malaysia: USIM dan IQ, 2012), 70-71.

16

(35)

27

hati, keringanan dan kesabaran. Dari sini dapat dipahami bahwa toleransi merupakan sikap untuk memberikan hak sepenuhnya kepada orang lain agar menyampaikan pendapatnya, sekalipun pendapatnya salah maupun berbeda.17

Kemudian menurut Walzer toleransi yaitu mampu membentuk kemungkinan-kemungkinan sikap, antara lain sikap untuk menerima perbedaan, mengubah penyeragaman menjadi keragaman, mengakui hak orang lain, menghargai eksistensi orang lain dan mendukung secacara antusias terhadap perbedaan budaya dan keragaman ciptaan Tuhan YME. Yang terakhir kemudian populer dengan istilah multikuralisme.18

Secara terminologi, istilah Tolerance (toleransi) adalah istilah modern, baik dari segi nama maupun kandungannya, dan memiliki banyak makna yang berbeda.19 Sehingga, menurut Umar Hasyim toleransi yaitu pemberian kebebasan kepada sesama manusia atau kepada sesama warga masyarakat untuk menjalankan keyakinannya atau mengatur hidupnya dan menentukan nasibnya masing-masing, selama dalam menjalankan dan menentukan sikapnya itu tidak melanggar dan tidak bertentangan dengan syarat-syarat atas terciptanya ketertiban dan perdamaian dalam masyarakat.20

Dari hasil beberapa definisi diatas penulis menyimpulkan, ada kesamaan pendapat yang berbeda bahwasanya toleransi adalah tingkah laku seseorang atau kelompok untuk memberi mengizinkan dan menghormati hak kebebasan kepada

17

Zuhairi Misrawi, Alquran Kitab Toleransi, (Jakarta; Pustaka Oasis, 2007), 161 18

Zuhairi Misrawi, Pandangan Muslim Moderat, Toleransi Terorisme dan Oase Perdamaian, (Jakarta; Kompas Media Nusantara, 2010), 11

19

Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama, (Jakarta; Perspektif, 2005), 212. 20

(36)

28

penganut kepercayaan atau keyakinan yang berbeda dengan norma dan syarat-syarat ketertiban dalam bermasyarakat.

Dalam memaknai toleransi itu sendiri terdapat dua penafsiran tentang konsep ini. Pertama, penafsiran yang bersifat negatif (negative interpretation of tolerance) dan Kedua, penafsiran yang bersifat positif (positive interpretation of tolerance).

Pertama, yang menyatakan bahwa toleransi itu hanya mensyaratkan cukup dengan membiarkan dan tidak menyakiti orang atau kelompok lain. Kedua,

menyatakan bahwa toleransi itu membutuhkan lebih dari sekedar ini. Ia membutuhkan adanya bantuan dan dukungan terhadap keberadaan orang atau kelompok lain. Hanya saja, interpretasi positif ini hanya boleh terjadi dalam situasi dimana objek dari toleransi itu tidak tercela secara moral dan merupakan sesuatu yang tak dapat dihapuskan, seperti dalam kasus toleransi rasial.21

Toleransi mengandung maksud supaya membolehkan terbentuknya sistem yang menjamin terjaminnya pribadi, harta benda dan unsur-unsur minoritas yang terdapat pada masyarakat dengan menghormati agama, moralitas dan lembaga-lembaga mereka serta menghargai pendapat orang lain, tanpa harus berselisih dengan sesamanya karena hanya berbeda keyakinan atau agama, selama hal-hal yang ditolerir itu tidak bertentangan dengan norma-norma hukum perdamaian dalam masyarakat.22

21

Nurcholish Madjid, Pluralisme Agama; Kerukunan dalam Keragaman, (Jakarta; Buku Kompas, 2001), 13

22

(37)

29

Michael Walzer (1997) memadang toleransi sebagai keniscayaan dalam ruang individu dan ruang publik karena salah satu tujuan toleransi adalah membangun hidup damai (peaceful coexsistance) di antara berbagai kelompok masyarakat mulai dari perbedaan latar belakang sejarah, kebudayaan dan identitas.23

Sehingga, toleransi yang berkaitan dengan agama tersebut merupakan toleransi yang mencakup suatu masalah-masalah tentang keyakinan pada setiap umat manusia yang berhubungan langsung dengan akidah atau yang berhubungan dengan ke-Tuhanan dalam keyakinannya. Jadi, toleransi beragama adalah sikap sabar dan menahan diri untuk tidak mengganggu dan tidak melecehkan agama atau sistem keyakinan dan ibadah penganut agama-agama lain.

Dalam sejarahnya, jalan menuju toleransi bukanlah jalan yang mulus. Jalan menuju toleransi adalah jalan kontestasi untuk mengatasi intoleransi itu sendiri. Oleh karena itu, kehendak kuat membangun toleransi umumnya dimulai sejak munculnya kesadaran tentang dampak-dampak negatif dari tindakan intoleran. Seseorang harus diberikan kebebasan untuk menyakini dan memeluk agama (mempunyai akidah) masing-masing yang dipilih serta memberikan kebebasan atas pelaksanaan ajaran-ajaran yang dianut atau yang diyakininya.

Maka dalam hal ini, toleransi antar agama, sejatinya dalam tiap-tiap agama harus saling memahami bagaimana ajaran suatu konsep toleransi pada diri agama masing-masing yang telah diajarkan kepada mereka, supaya menciptakan kerukunan dan keharmonisan antar agama tanpa bertentangan dengan ajaran yang

23

(38)

30

diajarkan oleh agama itu sendiri, dan tanpa menyalahi aqidah agama masing-masing yang dianut. Dengan hal itu dapat dilihat dari beberapa aspek-aspek toleransi guna menciptakan keharmonisan dan perdamaian dalam berbangsa dan bernegara. Sebagaimana yang akan dijelaskan dibawah ini.

E.

Aspek-aspek Toleransi agama

Pribadi seseorang yang memiliki toleransi beragama akan melihat perbedaan agama tidak sebagai pertentangan, apalagi permusuhan, melainkan sebagai suatu keniscayaan. Oleh karena itu, manusia yang bertoleran pasti akan mampu menerima, menghargai dan memberi kebebasan dalam agama. Maka, dari itu disini peneliti akan menguraikan secara gamblang tentang beberapa aspek-aspek toleransi dalam beragama.

a. Penerimaan

Penerimaan dapat diartikan memandang dan menerima pihak lain dengan segala keberadaannya dan bukan menurut kehendak serta kemauannya sendiri. Hal tersebut berarti setiap golongan uamt beragama menerima golongan agama lain tanpa memperhitungkan perbedaan, kelebihan atau kekurangan.24 Sehingga, dengan adanya penerimaan akan berdampak positif bagi kehidupan keagamaan seseorang dalam masyrakat. Berdasarkan uraian di atas dapat diperoleh pemahaman bahwa suatu penerimaan dapat diartikan sebagai kesediaan seseorang untuk menerima oramg lain yang memiliki perbedaan keyakinan atau kepercayaan suatu agama.

24

(39)

31

b. Menghargai dan menghormati

Etika dalam toleransi yang harus dilaksanakan yaitu menghormati eksistensi agama lain. Manifestasi dari toleransi adalah adanya kesediaan seseorang untuk menghormati keyakinannya meskipun tidak menyetujuinya. Kesediaan menghargai harus dilandasi oleh kepercayaan bahwa tidak benar ada orang atau golongan untuk memaksa kehendaknya kepada orang atau golongan lainnya. Tidak dibenarkan setiap umat manusia untuk memonopoli kebenaran dan landasan suatu kepercayaan itu adalah urusan pribadi masing-masing.25

Seperti yang tertera pada al-Qur’an pada surah al-Kafirun ayat 6 menyatakan bahwa dalm setiap perbedaan tersebut harus saling menghargai dan saling menghormati dengan itu ditegaskan dalam surah tersebut sebagai berikut:











6. untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."

Berdasarkan pemahaman ini bahwa setiap umat beragama harus saling menghormati eksistensi agama lain dalam bentuk tidak ada celaan atau penghinaan atau paksaan. Menghormati disini diartikan bahwasanya pada setiap perbedaan aqidah dan kepercayaan pada setiap agama harus saling multirasialisme (ajaran atau paham yang menghormati berbagai ras).

Pengakuan dan penghormatan terhadap eksistensi agama lain sekali lagi perlu digarisbawahi bukan berarti mengakui kebenaran ajaran agama tersebut. Seperti contoh dalam sejarah didapati tokoh seperti Kaisar Hiraqlius dari Bizantium dan al-Muqauqis penguasa kopti dari Mesir mengakui eksistensi

25

(40)

32

kerasulan Nabi Muhammad saw. Namun pengakuan tersebut tidak secara otomatis menjadikan mereka memeluk Islam.26

c. Kesabaran

Hal terpenting dalam toleransi adalah kesabaran, dalam kesabaran itu merupakan suatu sikap simpatik terhadap perbedaan pandangan dan sikap orang lain.27 Kesabaran dalam toleransi adalah suatu pondasi keharmonisan dan rasa aman bagi kehidupan masyarakat yang berbeda keyakinan dan kepercayaan pada agama lainnya. Kesabaran dalam konteks toleransi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menahan hal-hal yang tidak disetujui atau tidak disukai, dalam rangka membangun hubungan sosial yang lebih baik.28

Toleransi beragama dapat diartikan sikap sabar dan menahan diri untuk tidak mengganggu dan tidak melecehkan agama atau sistem keyakinan dan tempat ibadah penganut agama-agama lain.

d. Kebebasan

Dalam konteks toleransi suatu kehidupan beragama akan dapat terwujud manakala adanya kebebasan dalam segala hal maksudnya kebebasan dalam keyakinan, kebebasan mengeluarkan pendapat dan lain-lain. Setiap manusia memiliki kebebasan untuk berbuat, bergerak maupun berkehendak menurut dirinya sendiri dan juga di dalam memilih suatu agama atau kepercayaan.

26

Ali Mustafa Yaqub, Kerukunan Umat dan Perspektik al-Qur’an & Hadis, (Jakarta; Pustaka Firdaus, 2000), 46.

27

G. Kartasapoetra & Hartini, Kamus Sosiologi dan Kependudukan, (Jakarta; Bumi Aksara, 1992), 429.

28

(41)

33

Kebebasan ini diberikan sejak manusia lahir sampai nanti ia meninggal dan kebebasan atau kemerdekaan yang manusia miliki tidak dapat digantikan atau direbut oleh orang lain dengan cara apapun. Karena kebebasan itu adalah datangnya dari sang Pencipta guna untuk dijaga dan dilindungi. Kebebasan merupakan hak yang fundamental bagi manusia sehingga hal ini yang dapat membedakan manusia dengan makhluk yang lainnya.

Kebebasan beragama sering kali disalah artikan dalam berbuat sehingga manusia ada yang mempunyai agama lebih dari satu. Yang dimaksudkan kebebasan beragama di sini bebas memilih suatu kepercayaan atau agama yang menurut mereka paling benar dan membawa keselamatan tanpa ada yang memaksa atau menghalanginya, kemerdekaan telah menjadi salah satu pilar demokrasi dari tiga pilar revolusi di dunia. Ketiga pilar tersebut adalah persamaan, persaudaraan dan kebebasan.29

Di setiap negara melindungi kebebasan-kebebasan setiap manusia baik dalam Undang-Undang maupun dalam peraturan yang ada. Begitu pula di dalam memilih satu agama atau kepercayaan yang diyakini, manusia berhak dan bebas dalam memilihnya tanpa ada paksaan dari siapapun.30 Dalam al-Quran pun secara tegas menyatakan bahwa tidak ada paksaan untuk memeluk keyakinan agama. Sebagaimana Allah swt berfirman pada surah al-Baqarah ayat 256:

                                         29

Marcel A. Boisard, Humanisme dalam Islam, (Jakarta; Bulan Bintang), 22. 30

(42)

34

256. tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui

Dalam ayat ini Allah swt menghendaki agar setiap makhluk sosial merasakan suatu kebebasan dalam memeluk ajaran agamanya tersebut. Kemudian supaya memberikan rasa kedamaian dalam menganut keyakinan ajaran akidahnya masing-masing dan merasa kenyaman dalam suatu negara serta menghilangkan rasa ketakutannya tersebut.

e. Kerjasama

Menurut Said Agil ada dua macam toleransi agama, yakni yang Pertama, toleransi statis dan Kedua, toleransi dinamis. Pertama, toleransi statis adalah toleransi dingin yang tidak melahirkan kerjasama. Bila pergaulan antar umat beragama hanya dalam bentuk statis, maka akan melahirkan toleransi semu.

Kedua, toleransi dinamis adalah toleransi aktif yang melahirkan kerja sama untuk tujuan bersama, sehingga kerukunan anatar umat beragama sebagai refleksi dari kebersamaan umat beragama sebagai satu bangsa.31 Dalam al-Qur’an dipaparkan bahwa kerja sama antar agama itu diperlukan sebagaimana terdapat pada surah al-Mumtahanah ayat 8-9:

                                                                     

8. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.

9. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain)

31

(43)

35

untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

Dalam ayat diatas sudah dijelaskan secara gamblang pada kaum muslimin untuk bekerja sama dengan pemeluk agama lain. Artinya disini tdak bisa dipungkiri bahwa harus adanya kerja sama dalam melakukan segala hal dengan pemeluk agama lain.

Dengan demikian manifestasi dari toleransi agama adalah adanya kesediaan bekerjasama dengan pemeluk agama lain atau keyakinan agama lainnya supaya dalam perbedaan keberagamaan tersebut akan manjadi suatu bentuk negara yang sejahtera, harmonis dan damai.

f. Jiwa Falsafah Pancasila

Dari semua aspek-aspek yang telah disebutkan diatas itu, falsafah Pancasila merupakan suatu hal yang telah menjamin adanya ketertiban dan kerukunan hidup bermasyarakat. Dan bila falsafah Pancasila ini disebutkan yang terakhir, ini bukannya sebagai urutan yang terakhir dari aspek-aspek toleransi, tetapi falsafah Pancasila itu merupakan sesuatu landasan yang telah diterima oleh segenap manusia Indonesia, merupakan tata-hidup yang pada hakekatnya adalah merupakan konsensus dan diterima praktis oleh bangsa Indonesia, atau lebih dari itu, adalah merupakan dasar negara kita.32

Sehingga dari berbagai penjelasan ke enam aspek-aspek toleransi tersebut dapat dipahami bahwa semua aspek-aspek itu mempunyai pengaruh pada kesetaraan. Dimana seharusnya hal itu bisa berjalan dan dihayati oleh setiap

32

(44)

36

makhluk sosial bila ingin memiliki suasana yang bertoleransi dikalangan masyarakat Indonesia.

F.

Faktor- faktor yang berpengaruh Terhadap Toleransi

Untuk meminimalisasi adanya diskriminasi agama pemerintahan Indonesia menerapkan kebijakan toleransi antar penganut berbeda agama. Sebagai langkah awal untuk membentuk toleransi. Dengan kata lain, toleransi merupakan suatu hal yang sangat berpengaruh dengan kejadian tersebut, supaya terhindar dari kejadian mendiskriminasi agama maka disini akan memaparkan beberapa faktor-faktor yang berpengaruh dalam toleransi diantaranya adalah sebagi berikut:

a. Kepribadian

Kepribadian ekstrovert adalah sesuatu kepribadian yang dimiliki seseorang berdasarkan perngaruh dari hasil orientasi dari luar diri yang dipilihnya sebagai suatu keputusan dan jika ini dijadikan sebagai kebiasaan. Dalam faktor yang berpengaruh dalam toleransi dengan tipe kepribadian extrovert lah yang sangat berpengaruh. Dikarenakan tipe kepribadian tersebut menurut Jung seperti yang dikutip oleh Sumardi sikap yang terbuka, mudah bergaul, hubungan dengan orang lain lancar ini adalah sosok kepribadian extrovert.

Kemudian tipe kepribadian extrovert cenderung berpartisipasi dalam masyarakat, bersikap spontan dan wajar dalam berekspresi, menguasai perasaan, tidak banyak pertimbangan dan memberikan respons secepat mungkin.33 Maka dari itu salah satu ciri dari tipe kepribadian extrovert tersebut adalah suka

33

(45)

37

berpandang atau berorientasi keluar, bebas, dan terbuka secara ssosial.34 Sosok kepribadian extrovert dalam toleransi seperti ini merupakan hal yang paling penting dikembangkan dalam kehidupan masyrakat supaya terjalin hubungan yang harmonis dan sejahter

b. Kontrol Diri

Salah satu sifat kepribadian yang merupakan aktivitas pengendalian tingkah laku yaitu kontrol diri. Dimana kontrol diri pada satu individu dengan yang lain tidaklah sama. Ada yang memiliki kontrol diri tinggi dan ada juga yang memiliki kontrol diri rendah. Mereka yang memiliki kontrol diri tinggi lebih cenderung mampu mengubah kejadian dan menjadi pemimpin utama dalam mengarahkan dan mengatur perilaku, sehingga membawa kepada konsekuensi yang positif.

Sedangkan kontrol diri yang rendah lebih cenderung melihat suatu mengarahkan dan mengatur perilaku yang membawa negatif. Karena dalam kontrol diri rendah mereka memiliki sikap yang mudah marah dalam melakukan segala kebijakannya dan sulit melakukan adaptasi dengan disekitarnya. Beda dengan kontrol diri tinggi dimana mereka juga mampu mengubah perilakunya sesuai dengan permintaan situasi sosial di sekitarnya.35 Berdasarkan uraian tersebut kontrol diri dalam toleransi merupakan aspek dimana seseorang untuk tahu bagaimana cara untuk mngendalikan suatu amarah dan tidak melakukan tindakan semena-mena terhadap agama lain.

34

Djaalii, Psikologi Pendidikan, (Jakarta; Program Pascasarjana UNJ, 2000), 14 35

Wuri Roosianti, Hubungan Antara pemantauan diri dan popularitas dengan

(46)

38

c. Lingkungan

Suatu lingkungan menjadi sangat berpengaruh dalam bertoleransi supaya membentuk jiwa dan pola pikiran pada pendidikan anak tersebut. Dalam melakukan proses sosialisasi terdapat tiga lingkungan yang memberi pengaruh dalam faktor toleransi yaitu lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, dan lingkungan masyrakat.

Lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang pertama kali sangat berpengaruh dan ikut andil dalam memainkan peran contohnya saja peran orang tua yang sangat mendominasi membantu tumbuh kembang dalam mendidik pada anak. Anak-anak mengobservasi sikap dan perilaku orang tua mereka dan mereka mampu menangkap isyarat-isyarat non verbal yang dilakukan oleh orang tua ketika bereaksi dengan lawan individu diluar kelompoknya. Maka akibatnya, jika sang orang tua mengarahkan toleran terhadap suatu kelompok lawan jenis, maka anaknya pun akan menjadi toleran juga. Maka sebaliknya, jika sang orang tua mengarahkan tidak toleran terhadap kelompok individu jenis tersebut maka bisa jadi anak tersebbut tidak akan toleran juga kepada kelompok lain.36

Lingkungan pendidikan formal baik disekolah maupun universitas itu sangat menentukan dan memberi pengaruh terhadap pembentukan jiwa, pembentukan sikap, penerima, tingkah laku, dan toleransi setiap seseorang terhadap berbagai kemajemukan (etnis, organisasi dan agama).37 Dimana lingkungan pendidikan merupakan peran dalam menanamkan rasa dan sikap keberagamaan pada

36

Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta; PT raja Grafindo Persada, 2012), 294-299. 37

(47)

39

manusia. Dengan kata lain, pendidikan dinilai memiliki peran penting dalam upaya menanamkan rasa keagamaan pada sesorang. Oleh karena itu, dalam suatu pendidikan dapat melakukan pembentukan sikap keagamaan seseorang dalam bertoleransi.38

Selanjutnya, lingkungan masyarakat disini merupakan situasi atau kondisi interaksi sosial dan sosio kultural yang secara potensial berpengaruh terhadap perkembangan fitrah beragama atau kesadaran beragama individu.39 Sehingga, lingkungan masyarakat tidak bisa dipisahkan dari lingkungan pendidikan begitu pula lingkungan keluarga karena dalam lingkungan tersebut memiliki hubungan timbal balik dalam membentuk jiwa, tingkah laku atau perilaku, pola pikir, dalam membina pribadi anak, termasuk hal-hal dalam toleransi. Dengan demikian adanya tiga lingkungan itu yakni lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan dan yang terakhir yaitu lingkungan masyarakat, maka sangatlah berpengaruh dalam membentuk jiwa anak, perkembangan anak, pola pikiran anak, perilaku atau tingkah laku anak dan kepribadian anak tersebut.

d. Interaksi Sosial

Interaksi sosial adalah sikap yang pada hakikatnya seseorang memiliki hasrat untuk melakukan komunikasi, bergaul dan bekerja sama dengan orang lain.40 Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang berhubungan antara individu satu dengan saling mempengaruhi individu lainnya. Jadi dengan

38

Jalaluddin, Psikologi Agama..., 291. 39

Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung; Remaja Roskarya , 2001), 141.

40

(48)

40

demikian, dalam interaksi sosial ini terdapat hubungan timbal balik terhadap sesama individu.

Setiap manusia pasti akan berkenalan, bekerja sama, berorganisasi, bersaing bahkan berkonflik dengan adanya seprti itu maka dibutuhkan interaksi sosial dalam bermasyarakat. Interaksi sosial merupakan kebutuhan mendasar dalam diri manusia. Oleh karena itu, dalam toleransi sangat diperlu adanya interaksi sosial supaya dalam suatu agama akan terjalin hubungan. Dan sifat seperti inilah yang membawa kehidupan bermasyarakat lebih bisa menghargai agama-agama lainnya. e. Fundamentalisme agama

Allport (1979) mengungkapkan bahwa agama merupakan suatu yang paradoksal karena agama bisa menimbulkan toleransi, namun agama juga bisa menyebabkan intoleransi. Misalnya saja jemaat yang jarang menghadiri misa gereja lebih intoleransi daripada jemaat yang rajin ke gereja. Hal tersebut ternyata disebabkan karena ajaran keagamaan dari gereja yang diteliti menyebarkan paham egalitarianisme.

Berbeda dalam penelitian Denney (2008) dan Altemeyer dan Hunsberger (1992) menemukan bahwa ada kolerasi positif antara fundamentalisme agama dengan intoleransi terhadap muslim. Temuan kedua penelitian di atas bisa dipahami karena seseorang yang fundamentalisme agamanya tinggi cenderung berpikiran sempit, enggan untuk mempertanyakan keyakinan yang lain, dan tidak mampu mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda.41 Berdasarkan uraian

41

(49)

41

terebut dapat diasumsikan bahwa fundamentalisme agama berpengaruh terhadap intoleransi pada pemeluk agama lain.

G.

Prinsip-prinsip dalam Toleransi

Berbicara mengenai beberapa pedoman atau prinsip, yang perlu diperhatikan secara khusus dan perlu disebar luaskan dalam memelihara toleransi. Disini dalam memelihara toleransi terdapat tiga prinsip atau pedoman dalam toleransi yaitu sebagai berikut:

Pertama, saling menerima (Acceptance), tiap subyek memandang dan menerima subyek lain dengan segala keberadaannya, dan bukan menurut kehendak dan kemauan subyek pertama. Dengan penertian, setiap golongan umat beragama menerima golongan agama lain, tanpa memperhitungkan perbedaan, kelebihan atau kekurangan.

Kedua, sikap saling mempercayai merupakan kenyataan dan pernyataan dari saling menerima. Hambatan utama dalam memelihara keharmonisan pergaulan bila bilang sikap saling mempercayai dan berganti dengan saling berprasangka serta saling mencurigai. Langgeng atau tidaknya, retak atau tidaknya pergaulan baik antara pribadi maupun antar golongan sangat ditentukan oleh bertahan atau tidaknya sikap saling mempercayai. Kerukunan dalam pergaulan hidup antara umat beragama akan tetap terpelihara dengan terpeliharanya saling mempercayau antara satu golongan agama dengan golongan agama lain.42

Ketiga, prinsip berpikir positif. Be

Referensi

Dokumen terkait

Dilihat dari metode penafsirannya, tafsir Ibn Kathir ini menggunakan metode analisis (tahlili), yaitu metode penafsiran al-Qur`an yang dilakukan dengan menjelaskan

Penelitian ini membahas tentang konsep pendidikan anak dalam al-Qur’an surah Al- Alaq ayat 1-5 (telaah pemikiran Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah). Penelitian ini

Penelitian ini bertujuan supaya peneliti dan pembaca mengetahui penafsiran Alquran Surah Al-Qiyamah ayat 4 dalam kitab Tafsir Ilmi Kementrian Agama RI yang dibantu oleh

1. selaku Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan belajar dan menuntut ilmu bagi penulis, pada Program Sarjana Jurusan Ilmu Al-Qur‟an dan

Keenam, skripsi yang ditulis oleh Aghis Nikmatul Qomariyah dengan judul Penafsiran Bakri Syahid Terhadap Ayat-ayat al-Qur‟an dan Kewajiban Istri dalam Tafsir al-Huda

PENDIDIKAN TAUHID DALAM PERSPEKTIF AL- QUR’AN (Tinjauan Tafsir Al-Mishbah Surah Al-Baqarah ayat

Al-Syanqithi memaparkan semua makna yang dimaksud dengan al- muhshanaat dalam al-Qur‟an dan merujuk pada makna yang terdapat dalam surah an-Nisa ayat 24 ْمُكُنَْيَْأ ْتَكَلَم اَم َّلِإ

Ahmad Yasir Muharram Laknat Dalam Perspektif Al- Qur‟an Analisis Tafsir Tematik  Pennelitian Kualitatif  Membahas tentang laknat pada Al-Qur‟an Penelitian tersebut lebih umum