PROSES BERPIKIR SISWA SMP DALAM MENYELESAIKAN SOAL HOT DITINJAU DARI PERBEDAAN KECERDASAN MAJEMUK
Elvi Hidayanti
PendidikanMatematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, e-mail: [email protected]
Endah Budi Rahaju
Dosen Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, e-mail:[email protected]
Abstrak
Pada kenyataannya kemampuan matematika siswa di Indonesia masih berada di peringkat bawah berdasarkan hasil studi TIMSS. Berdasarkan hal tersebut maka perlu diketehui bagaimana proses berpikir siswa dalam menyelesaikan soal-soal HOT berdasarkan kecerdasan yang dimiliki siswa. Sebab salah satu faktor yang memengaruhi kemampuan proses berpikir setiap individu yaitu fakor kecerdasan.
Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan proses berpikir siswa SMP dalam menyelesaikan soal HOT ditinjau dari perbedaan kecerdasan majemuk. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dilaksanakan di kelas VIII-4 SMP Negeri 1 Sidoarjo tahun ajaran 2015/2016. Subjek penelitian terdiri dari satu siswa dari masing-masing jenis kecerdasan linguistik, logika matematika, dan visual spasial. Instrumen penelitian terdiri dari tes identifikasi kecerdasan majemuk, tes kemampuan matematika, tes HOT, dan pedoman wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dalam menyelesaikan soal menganalisis, SL mengingat dengan cara menjelaskan perbedaan masalah yang dihadapai dengan permasalah sebelumnya. Mempertimbangkan dua cara dalam menentukan informasi lainnya. Memberikan argumen tetapi terjadi miskonsepsi. Memutuskan jawaban dengan memeriksanya kembali. SM dan SV mengingat dengan mengaitkannya pada pengetahuan yang dimiliki, mempertimbangkan informasi lainnya dengan mudah, membuat argumen dengan mengingat rumus yang sesuai. SM memutuskan dengan mengecek kembali jawaban sedangkan SV tidak mengecek kembali. (2) dalam menyelesaikan soal mengevaluasi, SL dan SV mengingat dengan cara membaca soal beberapa kali. Mempertimbangkan rencana yang sama pada setiap permasalahan. SL membuat argumen dengan tepat pada masalah pertama tetapi kurang tepat untuk masalah lainnya. Memutuskan menyatakan benar atau salah tetapi kurang tepat. SM mengingat dengan cara membaca soal kemudian membuat oret-oretan. Mempertimbangkan rencana yang dipikirkan dan mengaplikasikannya dengan mudah. SM dan SV memberikan argumen dengan menjelaskan secara rinci langkah-langkah selesaiannya. Memutuskan benar atau salah secara singkat dan tepat. (3) dalam menyelesaikan soal mencipta, SL dan SV mengingat dengan cara menentukan konsep yang dimiliki tetapi kurang tepat. SM mengingat dengan memunculkan beberapa ide. SL, SM, dan SV mempertimbangkan konsep yang dimiliki dapat menyelesaikan masalah sesuai dengan informasi yang diketahui. SL membuat argumen yang tepat hanya pada satu permasalahan sedangkan SV menjelaskan konsep yang digunakan tetapi kurang tepat. SM membuat argumen terhadap ide yang dipilih sesuai dengan konsep yang dimiliki dengan tepat. SL dan SV memutuskan membuat dua soal sesuai konsep yang dimiliki tetapi kurang tepat sedangkan SM membuat dua soal dengan konsep yang tepat. Kata kunci: proses berpikir, HOT, tes HOT, kecerdasan majemuk
Abstract
Volume 3 No.5Tahun 2016
The objective of this research was to describe the thinking process of junior high school student in solving HOT test based on multiple intelligences. This research was a qualitative research that conducted on VIII-4 class of SMP Negeri 1 Sidoarjo academic year 2015/2016. Subjects in this research consisted of one student from each linguistic, logical mathematic, and visual spatial. The research instruments consisted of multiple intelligences test, mathematical ability test, HOT test, and interview guidelines.
Theresult of this research showed that (1) in solving test analyze, SL remind that way explain the contradiction problem which is face with a problem before. Consider two ways in determine the other information. Gives arguments but happened misconception. Decided the answers with check the answers again. SM and SV remind with linked to knowledge that it’s have, consider the other information easily, make an argument with remind an appropriate pattern. SM decided with made a checked again the answer while SV it doesn’t check again. (2) in solving evaluation test, SL and SV remind with reading the test several times. Consider the same plan in every problem. SL make an argument with appropriate in the first problem but do not quite appropriate in the other problem. Decided to said that is true or false but do not quite appropriate. SM remind with reading the test then make a scratch. Decide the plan which is thinking and applying easily. SM and SV gives arguments with explain in the details hoe the steps to solving it. Decide true or false shortly and appropriate. (3) in decide creating test, SL and SV remind with decide the concept which is have but do not quite appropriate. SM remind with show up some of ideas. SL, SM and SV consider the concept which is can solving the problem based on the information that known. SL make argument which is appropriate only in one problem but SV explain the concept which is use but do not quite appropriate. SM make an argument based on the idea which is chosen based on the appropriate concept. SL and SV decided make two tests based on the concept that it’s have but do not quite appropriate while SM make two test with appropriate concept.
PENDAHULUAN
Pendidikan menjadi hal yang penting bagi setiap negara salah satunya Indonesia. Indonesia kemudian mengganti kurikulum yang lama dengan kurikulum yang baru untuk menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kurikulum yang digunakan di Indonesia saat ini yaitu Kurikulum 2013.
Pada Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan pembelajaran saintifik. Karakteristik pendekatan pembelajaran saintifik diharapkan dapat (1) meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa; (2) membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik; (3) memperoleh hasil belajar yang tinggi; (4) melatih siswa dalam
mengomunikasikan ide-ide; (5)
mengembangkan karakter siswa
(Kemendikbud, 2014).
Sasaran penilaian hasil belajar berdasarkan Permendikbud No.104 Tahun 2014 terdiri dari kemampuan berpikir mengingat (C1), memahami (C2), menerapkan (C3), menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6). Selain itu menurut King (2011) seiring berkembangnya zaman menuntut seseorang menentukan solusi yang mampu menyelesaikan masalah yang kompleks, yang dapat dilatihkan pada siswa melalui proses berpikir tingkat tinggi dan keterampilan hidup yang relevan.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat diketahui bahwa salah satu kemampuan yang penting bagi siswa yaitu kemampuan berpikir tingkat tinggi. Kemampuan berpikir tingkat tinggi meliputi kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan kreatif (King, 2011). Pada kenyataannya kemampuan matematika siswa di Indonesia berada di peringkat bawah berdasarkan hasil studi Internasional TIMSS.
Hasil studi TIMSS menunjukkan bahwa skor rata-rata prestasi matematika kelas VIII SMP di Indonesia tahun 2011 menduduki peringkat 38 dari 45 negara dengan skor 386 (skala 0 sampai 800). Sebanyak 54% siswa Indonesia mencapailow level atau keterampilan level rendah (Mullis et al,2012).
Domain materi yang diujikan dalam TIMSS yaitu bilangan (number), aljabar (algebra), geometri (geometry), data dan peluang (data and chance).
Higher Order Thinking (HOT) dalam Taksonomi Bloom merupakan tiga tingkatan teratas dalam tahapan berpikir. Tiga tingkatan tersebut adalah menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Anderson & Krathwohl (2010) yaitu berpikir tingkat tinggi didekati dengan indikator terakhir dalam domain Bloom yaitu menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Soal matematika yang mengacu kepada level berpikir C4, C5, dan C6 termasuk ke dalam kategori soal nonrutin dengan tingkat kesulitan tertentu dan membutuhkan pemikiran yang ekstra (Nabila, 2015).
Rendahnya prestasi siswa Indonesia terutama dalam mengerjakan soal-soal HOT berdasarkan hasil studi TIMSS menunjukkan bahwa pembelajaran matematika di Indonesia belum sepenuhnya fokus pada pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Agar dapat mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggisiswa maka guru perlu menerapkan strategi, pendekatan dan model pembelajaran yang sesuai. Sebelum menerapkan strategi, pendekatan dan model pembelajaran yang sesuai, maka perlu dikatehui terlebih dahulu bagaimana proses berpikir siswa dalam menyelesaikan soal-soal HOT.
Volume 3 No.5 Tahun 2016
Gardner (2011) memetakan kecerdasan manusia ke dalam delapan kategori kecerdasan yaitulingusitik, logika matematika, visual spasial, kinestetik, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Kecerdasan Majemuk memberikan pandangan bahwa terdapat delapan macam kecerdasan yang dimiliki oleh setiap orang dan yang membedakan antara yang satu dengan yang lainnya adalah komposisi atau dominasi dari kecerdasan tersebut.
Pada penelitian ini dipilih materi lingkaran yang merupakan bagian dari geometri. Geometri merupakan salah satu domain materi yang diujikan pada TIMSS dan memiliki posisi yang penting dalam kurikulum matematika. Lingkaran merupakan salah satu cabang materi geometri dasar yang dapat bidang geometri. Masing-masing kecerdasan memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan lingkaran sesuai dengan karakteristik kecerdasan yang dimiliki.Menurut Karimah (2015) siswa yang dominan dengan
kecerdasan linguistik mampu
mengomunikasikan ide geometri, baik secara tertulis maupun lisan dan pendapatnya secara runtut dan sistematis.Menurut Jayantika (2013) kecerdasan logika matematika memiliki kemampuan dalam menganalisis suatu masalah secara logis, memecahkan operasi matematika, dan menghubungkan antar konsep-konsep geometri. Menurut Boakes (dalam Ningsih, 2014), kecerdasan visual spasial merupakan bagian penting dalam pemikiran geometri yang berkaitan dengan pemahaman objek dan ruang.
Berdasarkan hal tersebut maka dalam penelitian ini dipilih tiga kecerdasan majemuk
yang ditentukan yaitu kecerdasan linguistik, logika matematika, dan visual spasial. Oleh karena itu peneliti terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul “Proses Berpikir Siswa SMP dalam Menyelesaikan Soal HOT Ditinjau dari Perbedaan Kecerdasan Majemuk”.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan proses berpikir siswa SMP dalam menyelesaikan soal HOT pada kecerdasan linguistik, logika matematika, dan visual spasial.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitiatif yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Sidoarjo pada semester genap tahun ajaran 2015/2016. Subjek penelitiannya adalah satu siswa dari masing-masing kecerdasan linguistik, logika matematika, dan visual spasial.
Instrumen penelitian terdiri darites identifikasi kecerdasan majemuk,tes kemampuan matematika, tes HOT, dan pedoman wawancara.Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode tes dan wawancara.Tes yang diberikan kepada subjek adalah tes identifikasi kecerdasan majemuk, tes kemampuan matematika (TKM) dan tes HOT.Tes identifikasi kecerdasan majemuk dilakukan untuk menggolongkan siswa ke dalam domain kecerdasan yang dimiliki.TKM dilakukan untuk mengontrol kemampuan matematika subjek penelitian agar memiliki kemampuan matematika setara.TesHOTuntuk mendapatkan gambaran proses berpikir penyelesaian soal HOT yang dilakukan oleh subjek penelitian. Wawancara dilakukan setelah subjek mengerjakan tes HOT.
Teknik analisis pada data yang diperolehyaitu data hasil tes HOT dan hasil wawancara dengan langkah-langkahsebagai berikut:
a. Reduksi data
Reduksi data merupakan proses merangkum, memilih hal–hal yang pokok, memfokuskan pada hal–hal yang penting, dicari tema dan polanya, dan membuang yang tidak perlu.
Penyajian data dilakukan dengan mendeskripsikan data hasil tes HOT dan hasil wawancara.
c. Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan didasarkan atas data yang telah dianalisis, meliputi data hasil tes HOT dan hasil wawancara.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian dengan judul proses berpikir siswa SMP dalam menyelesaikan soal HOTditinjau dari perbedaan kecerdasan majemukyang dilakukan di SMP Negeri 1 Sidoarjo pada semester genap tahun ajaran 2015/2016 yaitu pada tanggal 6 sampai 27Mei 2016.
Data Hasil Identifikasi Kecerdasan Majemuk dan Tes Kemampuan Matematika
Dari hasil identifikasi kecerdasan majemuk, diambil tiga kelompok siswa yaitu kelompok siswa dengan kecerdasan linguistik, logika matematika, dan visual spasial yang kemudian diberi tes kemampuan matematika.Berikut disajikan tabel hasil identifikasi kecerdasan majemuk dan hasil tes kemampuan matematika.
1. NDR Laki-laki Linguistik 93
2. SAI Perempuan Linguistik 87
3. WK Perempuan Linguistik 89
4. EAA Laki-laki Linguistik 77
5. DSI Laki-laki
7. MFR Laki-laki Matema-Logika tika
85
8. TN Perempuan Matema-Logika tika
25
9. AIC Laki-laki Kinestetik
-10. ACO Perempuan Kinestetik
-No
11. FMN Laki-laki Kinestetik
-12. MRR Laki-laki Kinestetik
-13. RN Perempuan Kinestetik
-14. MRK Laki-laki Kinestetik
-15. DAPZ Perempuan Musik
-16. FMH Laki-laki Musik
-17. FDN Perempuan Musik
-18. FCS Perempuan Musik
-19. FO Perempuan Musik
-20. HAM Perempuan Musik
-21. ITF Perempuan Musik
-22. RNRW Laki-laki Musik
-23. SAU Perempuan Musik
-24. MAF Laki-laki SpasialVisual 94
25. RBA Laki-laki SpasialVisual 88
26. RPP Perempuan Interper-sonal
-27. SDA Perempuan Interper-sonal -Berdasarkan hasil identifikasi kecerdasan majemuk dan skor TKM pada tabel di atas, maka dipilih tiga siswa sebagai subjek penelitian. Tiga siswa tersebut terdiri dari masing-masing satu siswa laki-laki yang memiliki kecerdasan linguistik, logika matematika, dan visual spasial dengan kemampuan matematika yang setara yaitu jika selisih skor TKM kurang dari sama dengan 5 dalam skala 100. Pada penelitian ini dipilih ketiga subjek berjenis kelamin sama yaitu laki-laki untuk mengontrol subjek agar yang menjadi tinjauannya adalah perbedaan kecerdasan majemuk. Hal tersebut berdasarkan pendapat Pasiak (dalam Hatip, 2008) yang mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan, salah satunya pada cara berpikirnya. Adapun rincian subjek yang terpilih disajikan pada tabel berikut.
Tabel 2. Subjek Penelitian No
Volume 3 No.5 Tahun 2016
Nam
a n TKM
1. NDR Linguistik 93 SL
2. DSI MatematikaLogika 97 SM
3. MAF SpasialVisual 94 SV
Ketiga subjek penelitian tersebut selanjutnya diberi tes HOT yang dilanjut dengan proses wawancara. Berdasarkan data yang diperoleh yaitu jawaban tertulis tes HOT dan hasil wawancarakemudian dideskripsikan proses berpikir dalam menyelesaikan soal HOT dari masing-masing subjek penelitian. Proses Berpikir Subjek Linguistik (SL) dihadapi. SL menyebutkan informasi yang diketahui dan ditanya serta
menjelaskan perbedaan dengan
permasalahan sebelumnya yang pernah dihadapiberdasarkan pengetahuan sebelumnya tentang panjang dan luas lintasan berbentuk lingkaran.Pada proses
mempertimbangkan, SL
mempertimbangkan dua cara dalam menentukan informasi-informasi lainnya yang belum diketahui.Pada proses membuat argumen, SL mengalami miskonsepsi dalam menentukan konsep yang dipilih.Pada proses memutuskan, SL memeriksa kembali jawabannya tetapi masih ragu dengan jawabannya ketika wawancara.
2. Soal HOT Mengevaluasi
Pada proses mengingat, SL membuat rencana selesaian masalah yang diberikan berdasarkan pengetahuan sebelumnya dengan membaca soal beberapa kali dan menuliskan informasi yang diketahui terlebih dulu.Pada proses mempertimbangkan, SL dengan mudah melaksanakan rencana yang dipikirkan pada permasalahan pertama atau soal nomor 2a. Tetapi SL membutuhkan bantuan penjelasan dalam memahami kembali soal nomor 2b dan 2c.Pada proses membuat argumen, SL
menjelaskan strateginya dengan rinci dalam menentukan selesaian masalah pertama yaitu untuk menggunakan phi 3,14 karena berdasarkan pendapat subjek yaitu jika menggunakan 22/7 hasilnya tidak sesuai harapannya.Pada proses memutuskan untuk menyatakan benar atau salah pernyataan tersebut, SL melakukan kesalahan hitung pada nomor 2b.
3. Soal HOT Mencipta
Pada proses mengingat, SL menemukan ide untuk menyelesaikan masalah yang diberikan dengan menuliskan informasi yang diketahui terlebih dulu tetapi ragu dengan konsep yang dimiliki yang sesuai untuk menjawab masalah yang diberikan.Pada
proses mempertimbangkan, SL
mengetahui bahwa informasi yang diketahui cukup untuk membuat dua soal sesuai dengan kriteria yang diberikan karena dengan membuat satu soal dapat dibuat soal lainnya.Pada proses membuat argumen, SL membuat soal dengan konsep yang digunakan untuk membuat dan menyelesaikan soal pertama masih kurang tepat.Pada proses memutuskan, SL membaca soal dan mengecek mengaitkannya pada kemampuannya dalam kecakapan bahasa. Hal ini sesuai dengan teori Gardner (2011) yang mengemukakan bahwa kecerdasan linguistik berkaitan dengan pemahaman bahasa dan pengelolaan kata. SL menangkap informasi melalui bahasa salah satunya dengan membaca soal beberapa kali untuk memahami soal dan menyampaikan informasi secara lisan dan tertulis yaitu dengan menuliskan informasi yang diketahui dan mampu menjelaskannya kembali ketika wawancara.
Proses Berpikir Subjek Logika Matematika (SM) dalam Menyelesaikan Soal HOT
Pada proses mengingat, SM belum pernah menjumpai soal yang serupa namun tidak mengalami kesulitan dalam menyelesaikannya. Hal ini terjadi karena SM memiliki konsep yang sesuai berdasarkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya sehingga SM mampu menyebutkan informasi-informasi yang ada pada soal dan yang ditanyakan walaupun tidak menuliskannya pada
jawaban tertulis.Pada proses
mempertimbangkan, SM mengetahui dan dengan mudah menentukan informasi lainnya yang belum diketahui untuk menentukan selesaian masalah yang
diberikan.Pada proses membuat
argumen, SM menjelaskan dengan baik alasan memilih cara yang digunakan untuk menentukan selesaian masalah yang diberikan. Pada proses memutuskan, SM menyimpulkan hasil akhir dengan benar dan meyakini bahwa jawabannya benar karena telah membuat oret-oretan.Pada proses mempertimbangkan, SM memiliki satu strategi dan konsep yang digunakan untuk menyelesaikan masalah yang
diberikan.Pada proses membuat
argumen, SM melaksanakan rencananya dengan tepat sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. SM mampu menjelaskan secara rinci langkah-langkah selesaian setiap masalah yang diberikan.Pada proses memutuskan, SM menuliskan kesimpulan benar atau salah selesaian masalah yang diberikan secara singkat dan tepat pada jawaban tertulis. 3. Soal HOT Mencipta beberapa soal dapat dibuat berdasarkan informasi dan gambar yang tersedia pada masalah yang diberikan.Pada proses
mempertimbangkan, SM meyakini bahwa dengan konsep yang dimiliki dapat dibuat
beberapa soal. SM mampu
mempertimbangkan konsep yang sesuai yang akan digunakan.Pada proses membuat argumen, SM menjelaskan langkah-langkah atau ide yang dipilih sesuai dengan konsep yang dimiliki dengan tepat. Pada proses memutuskan, SM mampu membuat dua soal dan
menyelesaikannya berdasarkan
pengetahuan yang dimiliki tanpa menuliskan detail cara memperoleh jawaban soal yang dibuat karena menghitungnya secara langsung diluar kepala.
Berdasarkan hasil tulis dan wawancara terlihat bahwa dalam menyelesaikan soal HOT,SM menyelesaikan soal dengan mengaitkannya pada kemampuannya dalam menalar dan menggunakan angka-angka dengan baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Gardner (2011) yaitu kecerdasan logika matematika berkaitan dengan kemampuan logika dan penggunaan angka dengan baik. SM mampu menyelesaikan semua soal HOT dengan tepat dan memahami soal dengan baik.
Proses Berpikir Subjek Visual Spasial (SV) dalam Menyelesaikan Soal HOT 1. Soal HOT Menganalisis
Volume 3 No.5 Tahun 2016
2. Soal HOT Mengevaluasi
Pada proses mengingat, SV menentukan rencana selesaiannya dengan mudah untuk nomor 2a dengan membaca soalnya sekali. Sedangkan untuk nomor 2b dan 2c, SV perlu mencermatinya kembali.Pada proses mempertimbangkan, SV mengerjakan nomor 2a terlebih dulu dan tidak mengalami kesulitan. Kemudian subjek menyelesaikan soal nomor 2b dan 2c dengan mempertimbangkan cara yang sama seperti pada pengerjaan nomor 2a dan setelah diberi penjelasan kembali untuk nomor 2b dan 2c.Pada proses membuat argumen, SV melaksanakan rencananya dengan tepat sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki setelah diberi bantuan penjelasan kembali untuk nomor 2b dan 2c.Pada proses memutuskan, SV menentukan hasil akhir sesuai dengan strategi yang ditentukan dengan tepat. 3. Soal HOT Mencipta
Pada proses mengingat, SV memiliki ide untuk menyelesaikannya yang menunjukkan bahwa subjek memiliki pengetahuan sebelumnya mengenai permasalahan yang dihadapi.Pada proses mempertimbangkan,SV
mempertimbangkan ide yang akan digunakan dengan mampu menyebutkan informasi yang diketahui dapat menyelesaikan permasalahan pada soal sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki.Pada proses membuat argumen, SV mampu menjelaskan alasannya memilih konsep dalam membuat soal tersebut namun kurang tepat.Pada proses memutuskan, SV menentukan jawaban akhir sesuai dengan ide yang dipikirkan namun kurang tepat.
Berdasarkan hasil tulis dan wawancara terlihat bahwa dalam menyelesaikan soal HOT,SV menyelesaikan soal dengan mengaitkannya pada kemampuannya dalam
memahami konsep dengan
menggambarkannya secara tepat. Hal ini sesuai dengan pendapat Santrock (2008) yaitu kecerdasan visual spasial berkaitan dengan kemampuan untuk berpikir secara tiga dimensi. SV memahami soal dengan cara mencermati dan mentransformasikannya
dalam bentuk sketsa dalam menyelesaikan soal HOT.
PENUTUP Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil simpulan sebagai berikut.
1. Proses Berpikir Siswa dengan Kecerdasan Linguistik dalam Menyelesaikan Soal HOT. Dalam menyelesaikan soal menganalisis, siswa dengan kecerdasan linguistik mengingat dengan cara mengaitkannya dengan permasalahan yang pernah dihadapi. Siswa menyebutkan informasi yang diketahui dan ditanya serta
menjelaskan perbedaan dengan
permasalahan sebelumnya yang pernah
dihadapi. Kemudian siswa
mempertimbangkandua cara dalam menentukan informasi-informasi lainnya
yang belum diketahui. Siswa
menyelesaikan masalah yang diberikan
berdasarkan permasalahan dan
pengetahuan yang dimiliki tersebut dan memberikan argumen mengenai cara yang dilakukan tetapi terjadi miskonsepsi. Sehingga ketika memutuskan selesaian
dan simpulan jawaban, siswa
memeriksanya dengan mengeceknya kembali.Dalam menyelesaikan soal mengevaluasi, siswa dengan kecerdasan linguistik mengingat konsep yang dimiliki mengenai luas dan keliling lingkaran dengan cara membaca soal beberapa kali. Siswa memahami dan memiliki rencana pada permasalahan yang pertama. Sehingga siswa mempertimbangkan rencana untuk menyelesaikan masalah yang pertama terlebih dulu kemudian meminta bantuan penjelasan dalam memahami masalah kedua dan ketiga. Dalam menyelesaikan masalah pertama, siswa memberikan argumennya dalam menentukan menggunakan phi 3,14 sedangkan pada masalah kedua dan ketiga tidak dijelaskan secara rinci konsep
yang digunakan. Kemudian
nomor 2b.Dalam menyelesaikan soal mencipta, siswa dengan kecerdasan linguistik menuliskan informasi yang diketahui terlebih dulu dalam mengingat konsep yang akan digunakan tetapi kurang tepat. Siswa mempertimbangkan konsep yang dimiliki dapat menyelesaikan masalah yang diberikan sesuai dengan informasi yang diketahui. Kemudian siswa memberikan argumennya dengan menjelaskan pemilihan konsep yang digunakan tetapi salah satu konsep yang digunakan kurang tepat yaitu pada soal pertama yang dibuat siswa. Kemudian siswa memutuskanmembuat dua soal dan menyelesaikannya sesuai dengan konsep yang dimiliki dengan membaca soal dan mengecek jawabannyanya kembali. Tetapi siswa hanya menyadari bahwa konsep mengenai hubungan sudut pusat dan sudut keliling pada soal yang kedua yang dibuatnya masih salah dan menggantinya dengan konsep yang benar. Sedangkan pada soal pertama yang dibuat konsep yang digunakan kurang tepat. 2. Proses Berpikir Siswa dengan Kecerdasan
Logika Matematika dalam Menyelesaikan Soal HOT.
Dalam menyelesaikan soal menganalisis, siswa dengan kecerdasan logika matematika mengingat pengetahuan yang dimiliki tentang luas lintasan berbentuk lingkaran dan mengaitkannya dengan informasi-informasi yang diketahui dan ditanya pada masalah yang diberikan. Kemudian siswa mempertimbangkan dengan mudah informasi lainnya yang belum diketahui untuk menentukan selesaian masalah yang diberikan. Siswa memberikan argumennya mengenai alasan memilih cara yang digunakan untuk menentukan selesaian masalah yang diberikan dengan tepat karena masih mengingat rumus yang sesuai. Sehingga siswa menyimpulkan hasil akhir dengan benar karena memutuskan mengecek jawabannya kembali.Dalam menyelesaikan soal mengevaluasi, siswa dengan kecerdasan logika matematika mengingat dengan caramembaca soal terlebih dulu kemudian membuat oret-oretan. Siswa mempertimbangkan rencana yang
dipikirkan yaitu menggunakan rumus luas (r²) dan keliling (2r) yang sama-sama berkaitan dengan jari-jari (r) sehingga
memudahkan untuk menentukan
simpulan. Siswa tidak mengalami kesulitan dan tidak memikirkan startegi lainnya dalam menyelesaikan masalah yang diberikan. Kemudian siswa memberikan argumen mengenai langkah-langkah selesaian masalah secara rinci sesuai dengan rencana yang dipikirkan. Siswa memutuskandengan
caramenyatakanbenar atau salah
selesaian masalah yang diberikan secara singkat dan tepat pada jawaban tertulis.Dalam menyelesaikan soal mencipta, siswa dengan kecerdasan logika matematika mengingat konsep yang akan digunakan yaitu tentang hubungan sudut pusat dan sudut keliling pada lingkaran dengan cara memperhatikan informasi dan gambar pada masalah yang diberikan. Berdasarkan konsep dan informasi tersebut siswa memiliki beberapa ide dalam membuat soal. Siswa mempertimbangkan konsep yang dipikirkan dan informasi yang diketahui dapat menyelesaikan masalah yang diberikan yaitu membuat dua soal sesuai gambar dan informasi yang diberikan. Kemudian siswa menjelaskan langkah-langkah atau ide yang dipilih dalam membuat dua soal dengan memberikan argumennya sesuai dengan konsep yang dimiliki dengan tepat. Sehingga siswa memutuskanmembuat dua soal dan menyelesaikannya dengan tepat dan tanpa menuliskan detail cara memperoleh jawaban soal yang dibuat karena menghitungnya secara langsung diluar kepala.
3. Proses Berpikir Siswa dengan Kecerdasan Visual Spasial dalam Menyelesaikan Soal HOT.
Dalam menyelesaikan soal menganalisis, siswa dengan kecerdasan visual spasial mengingat rumus yang sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki tentang luas lintasan berbentuk lingkaran dengan cara
mencermati soal. Siswa
Volume 3 No.5 Tahun 2016
menyelesaikan masalah yang diberikan dan memilih menggunakan rumus keliling roda dengan mengalikan dengan diameter lingkaran. Selanjutnya siswa memberikan argumennya mengenai pemilihan strategi yang digunakan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki tentang luas lintasan berbentuk lingkaran. Siswa mampu menjelaskan hubungan informasi yang diketahui dengan permasalahan pada soal. Tetapi dalam memutuskan jawaban akhir dan simpulan selesaian masalah kurang tepat karena tidak mengecek jawabannya kembali.Dalam menyelesaikan soal mengevaluasi, siswa dengan kecerdasan visual spasial mengingat dengan caramembaca soalnya sekali dan dengan mudah menentukan rencana selesaiannya untuk nomor 2a. Tetapi perlu mencermatinya kembali untuk nomor 2b
dan 2c. Kemudian siswa
mempertimbangkan untuk mengerjakan nomor 2a terlebih dulu dan tidak mengalami kesulitan dan dengancara yang sama seperti pada pengerjaan nomor 2a untuk menyelesaikan nomor 2b dan 2c. Siswa memberikan argumen dengan menjelaskan secara rinci langkah-langkah pembuktiannya untuk setiap pernyataan.
Selanjutnya memutuskandengan
caramenyatakanbenar atau salah
selesaian masalah yang diberikan berupa kalimat lengkap pada jawaban tertulis nomor 2a dan menuliskan simpulan berupa satu kata untuk nomor 2b dan 2c.Dalam menyelesaikan soal mencipta, siswa dengan kecerdasan visual spasial memunculkan ide dengan caramengingat konsep yang akan digunakan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki mengenai hubungan sudut pusat dan sudut keliling tetapi kurang tepat. Siswa dapat mempertimbangkaninformasi yang ada pada soal dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan konsep yang dimiliki tersebut. Tetapi siswa ragu ketika memberikan argumennya dalam menentukandua soal yang dibuat karena tidak mampu mengingat dengan baik konsep mengenai hubungan sudut pusat dan sudut keliling. Sehingga dalam
memutuskan selesaian masalah, dua soal beserta selesaiannya yang dibuat siswa penafsiran ganda terhadap soal tes HOT. 2. Pada penelitian ini, wawancara yang
dilakukan masih terdapat beberapa pertanyaan yang kurang menggali proses berpikir siswa. Salah satunya yaitu pertanyaan yang mengarahkan siswa pada jawaban dengan satu kata (iya, tidak, yakin, sudah, cukup) atau yang mengintervensi siswa. Maka pada proses wawancara, pertanyaan yang diajukan harus memancing jawaban siswa sehingga tergali lebih dalam proses berpikir siswa dalam menyelesaikan soal HOT.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, Lorin W. And Krathwohl, D.R. 2010.
Kerangka Landasan untuk
Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen. Edisi Bahasa Indonesia. Terjemahan Prihantoro, Agung. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hatip, Ahmad. 2008. Proses Berpikir Siswa SMP dalam Menyelesaikan Soal-Soal Faktorisasi Suku Aljabar Ditinjau dari Perbedaan Kemampuan Matematika dan Perbedaan Gender. Tesis tidak diterbitkan. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Howard, Gardner. 2011. Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. Philadelphia: Basic Books.
Jayantika, Trisna I G A N. 2013. Kontribusi Bakat Numerik, Kecerdasan Spasial, Dan Kecerdasan Logis Matematis Terhadap Prestasi Belajar Matematka Siswa SD Negeri Di Kabupaten Buleleng. Jurnal Program Pascasarjana. Vol 2.
dengan Kecerdasan Linguistik, Kecerdasan Logis-Matematis, dan Kecerdasan Visual-Spasial. Tesis tidak diterbitkan. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
King, FJ, Goodson, Rohani. 2011. Higher Order Thinking Skills. Assestment and Evaluation Educational Services Program: Center for Advancement of Learning And Asessment.
Kuswana, Wowo Sunaryo. 2013. Taksonomi Berpikir. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mullis, I. V. S., Martin M. O., Foy P., and AroraA. 2012. TIMSS 2011 InternationalResults In Mathematics. Boston: TIMSS& PIRLS International Study Center.
Murtalib. 2014. Pemahaman Rasional Siswa SMP dalam Pemecahan Masalah Lingkaran Berdasarkan Kemampuan Matematika. Tesis tidak diterbitkan. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Nabila, Chanesia. 2015. Proses Berpikir Kritis Siswa Dalam Pengerjaan Soal Higher
Order Thinking Berdasarkan
Kemampuan Matematika. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Ningsih, Sriwahyu. 2014. Kecerdasan Visual Spasial Siswa SMP Dalam Mengkonstruksi Rumus Phytagoras Dengan Pembelajaran Berbasis Origami Di Kelas VIII. Jurnal Ilmiah. Vol 3 Nomor 1.
Santrock, John W. 2008. Psikologi Pendidikan. Edisi Ketiga Buku 2. Edisi Bahasa Indonesia. Terjemahan Angelica, Diana. Jakarta: Salemba Humanika. Sternberg, R.J. 2006. Psikologi Kognitif. Edisi