Kajian Ekonomi Regional
Provinsi Gorontalo
Triwulan I 2010
Visi Bank Indonesia :
Me jadi le aga Ba k “e tral ya g dapat diper aya se ara asio al aupu i ter asio al elalui
penguatan nilai- ilai ya g di iliki serta pe apaia i flasi ya g re dah da sta il
Misi Bank Indonesia :
Me apai da e elihara kesta ila ilai rupiah elalui pe eliharaa kesta ila o eter da
pengembangan stabilitas sistem keuangan untuk pembangunan jangka panjang Negara Indonesia
ya g erkesi a u ga
Tugas Bank Indonesia :
1. Menentapkan dan melaksanakan kebijakan moneter 2. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran 3. Mengatur dan mengawasi bank.
Kritik, saran dan komentar dapat disampaikan kepada
Redaksi :
Kelompok Kajian dan Survey Bank Indonesia Gorontalo
Jl. D.I. Panjaitan No 35 Gorontalo – 96115 Telp : +62 435 824444
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah-Nya sehingga
penyusunan Kajian Ekonomi Regional (KER) Provinsi Gorontalo dapat diselesaikan dengan
baik.
Kajian periode triwulan I-2010 ini merupakan pengejawantahan dari peranan KBI Gorontalo
sebagai
eco o ic i tellige t a d research u it
yang diharapkan mampu memberikan
informasi ekonomi dan keuangan daerah yang akurat, menyeluruh, dan terkini sebagai
bahan masukan pemangku kepentingan di daerah dan di pusat.
Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan informasi yang
amat bermanfaat bagi penyusunan kajian ini. Di sisi lain, kami juga menyadari bahwa di usia
yang masih sangat muda ini, KBI Gorontalo dari sisi produk dan peran masih jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu, kami mengharapkan saran, masukan dan kerjasama dari berbagai
pihak untuk meningkatkan kualitas produk dan peranan kami di masa yang akan datang.
Akhir kata, kiranya kajian ini dapat memberikan manfaat yang optimal bagi pengembangan
perekonomian Provinsi Gorontalo.
Gorontalo, 30 April 2010
BANK INDONESIA GORONTALO
Dudung C. Setyadi
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI
RINGKASAN EKSEKUTIF i
BAB 1. PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL
1.1. Sisi Permintaan 1
1.1.1. Konsumsi 2
1.1.2. Investasi 4
1.1.3. Ekspor-Impor 6
1.2.Sisi Penawaran 8
1.2.1. Sektor Pertanian 8
1.2.2. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 11 1.2.3. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran 13
1.2.4. Sektor Bangunan 15
1.2.5. Sektor Industri Pengolahan 16
1.2.6. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa 16
1.2.7. Sektor Lainnya 17
1.3.Box KER I 19
BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
2.1. Inflasi Gorontalo Triwulan III-2009 23
2.2. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang/Jasa 25
2.2.1. Inflasi Tahunan (yoy) 25
2.2.2. Inflasi Triwulanan (qtq) 27
2.3. Box KER II 29
BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH
3.1. Fungsi Intermediasi 33
3.1.1. Perkembangan Bank 33
3.1.2. Penyerapan Dana Masyarakat 34
3.1.3. Penyaluran Kredit 34
3.2. Stabilitas Sistem Perbankan 36
3.2.1. Resiko Kredit 36
3.2.2. Resiko Likuiditas 37
3.2.3. Resiko Pasar 39
3.3. Box KER III 40
BAB 4 KEUANGAN DAERAH
4.1. Pendapatan Daerah 43
4.2. Belanja Daerah 44
4.3. Kontribusi Realisasi APBD Gorontalo terhadap Sektor Riil dan Uang Beredar 45
4.4 Perkembangan Keuangan Daerah 2010 46
BAB 5 SISTEM PEMBAYARAN
5.1. Perkembangan Transaksi Pembayaran Tunai 47 5.1.1 Aliran Uang Kartal (Inflow/Outflow) 47 5.1.2 Penyediaan Uang Kartal Layak Edar 47 5.2. Perkembangan Transaksi Pembayaran Non Tunai 48
BAB 6 KESEJAHTERAAN
6.1. Pengangguran 51
6.2. Kemiskinan 52
6.3 Rasio Gini 53
6.4 IPM 53
BAB 7 OUTLOOK EKONOMI
7.1. Outlook Makro Ekonomi Regional 55
7.2. Outlook Inflasi 56
7.3. Outlook Perbankan 58
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Sisi Permintaan 1
Tabel 1.2 Perkembangan Ekspor Komoditas ke Luar Negeri 6 Tabel 1.3 Perkembangan Ekspor Luar Negeri Berdasarkan Negara Tujuan 7 Tabel 1.4 Volume Bongkar Barang di Pelabuhan Gorontalo 7
Tabel 1.5 Pertumubuhan Ekonomi Sisi Penawaran 8
Tabel 1.6 Defisit Energi Listrik PLN 17
Tabel 2.1 Inflasi Tahunan Kelompok Barang dan Jasa (yoy) 25 Tabel 2.2 Inflasi Tahunan Kelompok Makanan (yoy) 26
Tabel 2.3 Kelompok Barang dan Jasa 27
Tabel 4.1 Anggaran Induk dan Realisasi Pendapatan APBD Provinsi Gorontalo 43 Tabel 4.2 Komposisi Pendapatan APBD Provinsi Gorontalo dalam (%) 44 Tabel 4.3 Anggaran Induk dan Realisasi Belanja APBD Provinsi Gorontalo 44 Tabel 4.4 Komposisi Belanja APBD Provinsi Gorontalo 45 Tabel 4.5 Stimulus Fiskal APBD terhadap sektor Riil 45
Tabel 4.6 Dampak APBD terhadap Uang Beredar 46
Tabel 4.7 APBD 2009 vs APBD 2010 46
Tabel 5.1 Rincian Pecahan Uang di Kas Titipan Gorontalo 48 Tabel 5.2 Perkembangan Transaksi RTGS di Gorontalo 49
Tabel 6.1 Penduduk Usia 15 Tahun Ke atas Menurut Kegiatan 51 Tabel 6.2 Penduduk Usia 15 tahun Ke atas Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan
Utama Februari 2008-Agustus 2009 52
Tabel 6.3 Persentase Penduduk Miskin Provinsi Gorontalo (%) 52 Tabel 6.4 Persentase Jumlah Penduduk Miskin Menurut Kab/Kota Tahun 2007 53
Tabel 6.5 Rasio Gini Provinsi Gorontalo 54
Tabel 6.6 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Gorontalo 54 Tabel 6.7 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Per Kab/Kota Tahun 2006-2007 54
Tabel 7.1 ARAM Pertanian 56
Grafik 1.1 Survei Konsumen 2
Grafik 1.2 NTP Pertanian 2
Grafik 1.3 Perkembangan Kredit Konsumsi 3
Grafik 1.4 Realisasi Belanja Pegawai 3
Grafik 1.5 Realisasi Konsumsi Pemerintah 3
Grafik 1.6 Perkembangan Kredit Investasi 4
Grafik 1.7 Realisasi Belanja Modal 4
Grafik 1.8 Impor Semen Gorontalo 7
Grafik 1.9 Survei Kegiatan Dunia Usaha 8
Grafik 1.10 Realisasi Panen Pertanian Tabama 8
Grafik 1.11 Realisasi Produksi Jagung 9
Grafik 1.12 Perkembangan Luas Panen Jagung Per Kab/Kota 9
Grafik 1.13 Realisasi Produksi Padi 10
Grafik 1.14 Perkembangan Luas Panen Padi Per Kab/Kota 10
Grafik 1.15 Realisasi Kredit Pertanian 10
Grafik 1.16 NPL Kredit Pertanian 10
Grafik 1.17 Perkembangan Angkutan Udara 11
Grafik 1.18 Perkembangan Kargo Udara 11
Grafik 1.19 Perkembangan Pajak Kendaraan Bermotor 12 Grafik 1.20 Realisasi Penjualan BBM Transportasi 12
Grafik 1.21 Perkembangan Angkutan Laut 13
Grafik 1.22 Perkembangan Kargo Laut 13
Grafik 1.23 Volume Bongkar Pelabuhan Laut 14
Grafik 1.24 Volume Bongkar Pelabuhan Udara 14
Grafik 1.25 Konsumsi Listrik Kelompok Bisnis 14
Grafik 1.26 Tingkat Penghunian Hotel 14
Grafik 1.27 Realisasi Penjualan Semen Gorontalo 15
Grafik 1.28 Perkembangan Kredit Konstruksi 16
Grafik 1.29 Realisasi Belanja Modal APBD 16
Grafik 1.30 Penggunaan BBM Industri 16
Grafik 1.31 Penggunaan Listrik Industri 16
Grafik 1.32 NIM Perbankan 17
Grafik 1.33 Pendapatan/Beban Bunga 17
Grafik 1.34 Penjualan Energi Listrik 17
Grafik 1.35 Realisasi Kredit Jasa-Jasa 18
Grafik 2.1 Perkembangan Inflasi Nasional dan Gorontalo 23
Grafik 2.2 Realisasi Kapasitas Produksi 24
Grafik 2.3 Indeks Keyakinan Konsumen 24
Grafik 2.4 Indeks Perkiraan Kenaikan Harga Kelompok Komoditas 3 Bulan YAD 24
Grafik 2.5 Harga Minyak Dunia 25
Grafik 2.6 HPP Pembelian Beras 25
Grafik 2.10 Perkembangan Harga Gula Pasir 28
Grafik 3.1 Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga 34
Grafik 3.2 Komposisi Dana Pihak Ketiga 34
Grafik 3.3 Pertumbuhan Kredit Penggunaan 35
Grafik 3.4 Komposisi Kredit Penggunaan 35
Grafik 3.5 Pertumbuhan Kredit Sektoral 35
Grafik 3.6 Komposisi Kredit Sektoral 35
Grafik 3.7 Pertumbuhan Kredit UMKM 36
Grafik 3.8 Komposisi Kredit UMKM 36
Grafik 3.9 Perkembangan NPL 37
Grafik 3.10 NPL per Sektor 37
Grafik 3.11 Konsentrasi Kredit 37
Grafik 3.12 Perkembangan Protofolio DPK 38
Grafik 3.13 Perkembangan LDR Perbankan Gorontalo 38
Grafik 3.14 Perkembangan Kurs USD dan BI-Rate 39
Grafik 5.1 Netflow Kas Titipan Gorontalo 47
Grafik 5.2 Perkembangan Netflow Bulanan 47
Grafik 5.3 Perputaran Kliring di Gorontalo 48
Grafik 5.4 Rata-rata Perputaran Kliring Per Hari 48
Grafik 5.5 Rasio Warkat dan Nominal Cek/BG Kosong Kliring Non BI Gorontalo 49
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 i PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO
Perekonomian Gorontalo pada triwulan I-2010 melambat 7,43% (y.o.y).
Pada triwulan I-2010, perekonomian Gorontalo diperkirakan
tumbuh sebesar 7,43% (y.o.y), lebih rendah dibandingkan
pertumbuhan ekonomi triwulan I-2009 sebesar 7,66% (y.o.y).
Melambatnya ekonomi Gorontalo didorong oleh melemahnya
kinerja ekspor dan konsumsi pemerintah di sisi permintaan serta
kinerja pertanian di sisi penawaran.
Kinerja ekspor dan konsumsi yang melemah mendorong perlambatan pertumbuhan ekonomi sisi permintaan
Melemahnya daya beli masyarakat yang tercermin pada
menurunnya Nilai Tukar Petani (NTP) serta stagnasi
pertumbuhan belanja pegawai mendorong tingkat konsumsi
masyarakat menurun selama triwulan I-2010. Menurunnya NTP
diperkirakan sebagai dampak dari merosotnya produksi
pertanian di Bulan Januari dan Februari 2010. Tekanan
pertumbuhan ekonomi juga dirasakan disisi ekspor, dimana nilai
ekspor komoditas jagung selama triwulan I-2010 terkontraksi
hingga 77%, dibandingkan nilai ekspor pada triwulan yang sama
tahun sebelumnya. Namun perlambatan ekonomi yang terjadi
sedikit diredam oleh membaiknya kinerja investasi dan impor.
Peningkatan peran serta swasta dalam mendorong kegiatan
investasi daerah tumbuh secara signifikan ditengah menurunnya
pembiayaan investasi pemerintah daerah. Hal tersebut tercermin
dari pertumbuhan kredit investasi perbankan yang mencapai
121,12% (y.o.y), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama
tahun sebelumnya 35,12% (y.o.y). Sementara itu penurunan
pembiayaan pemerintah nampak dari nilai realisasi belanja
modal yang terkontraksi hingga 79,18% (y.o.y). Peningkatan
kegiatan investasi di Gorontalo selama triwulan I-2010
memberikan dorongan yang positif bagi peningkatan kegiatan
impor. Realisasi impor semen meningkat tajam hingga 69,50%
(y.o.y) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang
ii KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 | BANK INDONESIA oleh menurunnya kinerja
sektor pertanian
menurunnya luas tanam lahan pertanian pada bulan September
– November 2009 yang mempengaruhi produksi Januari – Februari 2010. Penurunan luas tanam pada periode tersebut
akibat pengaruh musim kering yang terjadi dibeberapa
kabupaten di Gorontalo. Dalam periode tersebut kandungan air
tanah merosot hingga 60% sehingga selama triwulan I-2010
Pemerintah Daerah telah mengupayakan optimalisasi sumur bor
untuk mempertahankan produksi pertanian Gorontalo.
Sementara itu kinerja sektor utama lainnya masih tumbuh
dengan baik. Meningkatnya kegiatan investasi dan impor
mendorong kinerja sektor bangunan, perdagangan dan angkutan
meningkat selama triwulan I-2010.
PERKEMBANGAN INFLASI
Inflasi Gorontalo triwulan I-2010 sebesar 3,59% (y.o.y) lebih rendah dibandingkan triwulan
I-2009 sebesar 10,54% (y.o.y)
Inflasi tahunan Gorontalo triwulan I-2010 sebesar 3,59% (y.o.y)
lebih rendah dibandingkan triwulan I-2009 sebesar 10,54%
(y.o.y). Penurunan tekanan inflasi tersebut tercermin pada
perbaikan output gap dan menurunnya ekspektasi inflasi.
Perbaikan ekonomi daerah berupa peningkatan produksi pada
akhirnya mampu menjaga pasokan kebutuhan barang dan jasa
masyarakat dengan baik, sebaliknya permintaan cenderung
melemah sehingga menggerakkan output gap ke arah positif.
Sementara itu, ekspektasi harga jangka pendek cenderung
menurun seiring dengan kondisi kelancaran pasokan
barang/jasa. Secara triwulanan, inflasi triwulan I-2010 sebesar
1,59% (qtq) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya
sebesar 0,53% (qtq). Kenaikan inflasi secara triwulanan didorong
oleh tekanan harga pada sub kelompok bahan makanan dan sub
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 iii
harga BBM memberi pengaruh positif pada perkembangan inflasi Gorontalo
memberi pengaruh positif pada perkembangan inflasi Gorontalo.
Kebijakan penurunan harga BBM telah memberikan pengaruh
yang signifikan terhadap penurunan inflasi 2009. Namun, pada
awal tahun 2010 harga minyak internasional menunjukkan tren
meningkat. Komitmen pemerintah untuk tetap mempertahankan
kestabilan harga BBM domestik hingga triwulan I-2010
memberikan pengaruh positif pada perkembangan harga-harga.
Sementara itu, dalam periode yang sama terdapat kebijakan
pemerintah yang berpotensi memberikan tekanan inflasi yaitu
kebijakan kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras
oleh Bulog per 1 Januari 2010. Kenaikan HPP beras sebesar
10% dari tahun sebelumnya yaitu dari Rp4.600/kg pada tahun
2009 menjadi Rp5.060/kg pada tahun 2010.
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH
Penghimpunan dana pihak ketiga dan penyaluran kredit mengalami perlambatan
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya
Perkembangan fungsi intermediasi perbankan pada triwulan
I-2010 menunjukkan kinerja yang kurang menggembirakan. Dana
pihak ketiga mengalami perlambatan dibandingkan periode yang
sama tahun sebelumnya. Menurunnya kinerja penghimpunan
dana pihak ketiga terutama didorong oleh berkurangnya
penempatan dana deposito seiring dengan tren penurunan suku
bunga perbankan. Sementara itu, penyaluran kredit juga
mengalami perlambatan dibandingkan periode yang sama tahun
sebelumnya. Perlambatan kredit terutama disebabkan oleh
menurunnya kinerja kredit konsumsi seiring dengan menurunnya
keinginan konsumsi masyarakat terkait menurunnya pendapatan
akibat keterlambatan musim panen. Sementara itu secara
sektoral kredit pertanian mengalami perlambatan yang cukup
signifikan sejalan dengan menurunnya kinerja sektor pertanian
iv KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 | BANK INDONESIA meliputi aspek risiko
kredit dan risiko pasar relatif terkendali, namun risiko likuiditas perlu mendapat perhatian
kredit dan risiko pasar relatif terkendali, namun risiko likuiditas
perlu mendapat perhatian. Non Performing Loans (NPLs) relatif
terjaga berada pada nilai dibawah batas ketentuan BI yaitu
dibawah 5%. Sementara itu, aspek penyerapan dana masyarakat
perlu menjadi perhatian karena Loan to Deposit Ratio (LDR)
berada di ambang ‘tidak wajar’ mencapai lebih dari 145%
sehingga berpotensi menganggu ketersediaan likuiditas
perbankan. Sedangkan volatilitas kurs diyakini tidak akan
berdampak besar terhadap risiko pasar, karena paparan tehadap
transaksi valuta asing yang tidak tinggi.
PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH
Realisasi belanja APBD Provinsi Gorontalo triwulanI I-2010 meningkat dibandingkan capaian triwulan I-2009
Pengaruh realisasi fiskal pemerintah provinsi terhadap uang beredar selama triwulan I-2010 bersifat ekspansif.
Realisasi belanja APBD Pemerintah Provinsi Gorontalo triwulan
I-2010 mencapai 13,97%, lebih rendah dibandingkan realisasi
triwulan I-2009 sebesar 19,02%. Pos belanja modal mengalami
penurunan yang cukup signifikan dari Rp 28,25 Miliar pada
triwulan I-2009 menjadi Rp 5,88 Miliar di triwulan I-2010. Belum
terlaksananya tender proyek pemerintah 2010 sampai dengan
bulan Maret mendorong penyerapan belanja modal terkesan
lambat. Kondisi ini perlu disikapi oleh Pemerintah Daerah
mengingat pembiayaan investasi yang bersumber dari APBD
merupakan sumber pembiayaan investasi terbesar kedua setelah
dana pinjaman perbankan.
Realisasi fiskal Pemerintah Provinsi selama triwulan I-2010
cenderung ekspansif, hal ini tercermin dari nilai realisasi belanja
lebih besar daripada nilai realisasi pendapatan daerah. Kebijakan
ekspansif dimaksud dinilai tepat ditengah perlambatan ekonomi
Gorontalo pada triwulan I-2010 namun akselerasinya terkesan
masih lambat dan jauh dibawah nilai realisasi belanja daerah
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 v
Transaksi sistem pembayaran nasional di Gorontalo pada triwulan I-2010 diwarnai oleh net inflow dan penurunan uang lusuh serta berkembangnya transaksi
kliring dan RTGS.
Transaksi sistem pembayaran nasional di Gorontalo pada
triwulan I-2010 diwarnai oleh net inflow dan penurunan uang
lusuh serta berkembangnya transaksi kliring dan RTGS.
Kegiatan kas titipan di Gorontalo sepanjang triwulan I-2010
mencatat net inflow sebesar Rp135,05 miliar. Aliran uang kartal
yang masuk ke dalam khasanah kas titipan lebih besar
dibandingkan dengan aliran uang kartal yang keluar dari
Khasanah kas titipan. Sementara itu, pada triwulan laporan tidak
terdapat uang lusuh di Kas Titipan Provinsi Gorontalo. Hal ini
terjadi karena pada periode laporan dilakukan kegiatan clean
money policy oleh Bank Indonesia. Disisi lain, Jumlah nominal
perputaran warkat kliring non BI di Gorontalo pada triwulan
laporan sebesar Rp294,61 miliar dengan pertumbuhan sebesar
10,69% (y.o.y). Sedangkan perkembangan penyelesaian
transaksi RTGS rata-rata per bulan (dari dan ke Gorontalo)
selama triwulan I-2010 secara nominal sebesar Rp429 miliar
atau tumbuh secara tahunan sebesar 4,78% (y.o.y). Transaksi
RTGS masih mendominasi dalam sistem pembayaran non tunai
di Gorontalo. Hal ini disebabkan karena BI RTGS mempunyai
keunggulan mempercepat penyelesaian transaksi (seketika) dan
memperkecil risiko penyelesaian transaksi.
KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
Tingkat kesejahteraan
sedikit mengalamai
penurunan.
Jumlah pengangguran
di Gorontalo pada
Agustus 2009
menurun.
Tingkat kesejahteraan masyarakat di Provinsi Gorontalo sedikit
menurun yang ditandai oleh tingkat pengangguran yang
meningkat, indeks gini sebagai indikator kesenjangan masih
belum menunjukkan tanda membaik serta tingkat kemiskinan
yang meningkat. Pada tahun 2009 tingkat kemiskinan Gorontalo
merupakan yang tertinggi di kawasan Sulawesi.
Pada Bulan Agustus 2009, jumlah angkatan-kerja mencapai
447.313 atau meningkat 4,18% dibandingkan bulan yang sama
pada tahun sebelumnya. Sementara itu jumlah penduduk yang
vi KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 | BANK INDONESIA pengangguran terbuka meningkat, yaitu dari 5,65 % pada
Agustus 2009 menjadi 5,89% pada Agustus 2009
Persentase penduduk
miskin di Maret 2009
meningkat.
Persentase penduduk miskin atau yang berada di bawah garis
kemiskinan (data Bulan Maret 2009) di Provinsi Gorontalo
sebesar 25,01% atau mengalami peningkatan dibandingkan
periode Maret 2008 yang tercatat sebesar 24,88%. Jumlah ini
tersebar di wilayah Gorontalo dengan persentase penduduk
miskin tertinggi sebesar 33,18% berada di Kabupaten Gorontalo
Utara, kemudian disusul berturut-turut oleh Kabupaten Gorontalo
(32,07%), Kabupaten Bone Bolango (30,6%), Kabupaten
Pahuwato (29,74%), Kabupaten Boalemo (29,21%), dan yang
terkecil di Kota Gorontalo (8,11%)
Pada Tahun 2007 indeks gini tercatat 0,39 mengalami kenaikan dibandingkan indeks gini Tahun 2005 lalu yang tercatat sebesar 0,36
Perkembangan angka rasio gini Gorontalo dalam 3 (tiga) tahun
terakhir mengalami peningkatan. Pada Tahun 2007 indeks gini
tercatat 0,39 mengalami kenaikan dibandingkan indeks gini
Tahun 2005 lalu yang tercatat sebesar 0,36. Hal ini tercermin
pula dari persentase pendapatan yang dinikmati oleh 20%
penduduk berpenghasilan tertinggi semakin meningkat dari
44,38% menjadi 47,67%. Sementara itu, Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) tahun 2007 tercatat 68,98 meningkat dibanding
IPM 2006 yang sebesar 68,01.
PROSPEK PEREKONOMIAN
Perekonomian Gorontalo triwulan I- 2010 diperkirakan tumbuh
7,3-7,8% (y.o.y) lebih baik dibandingkantriwulan
I-2009
Perekonomian Gorontalo pada triwulan II-2010 diperkirakan
tumbuh 7,6 – 8,1% (y.o.y) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan
triwulan II-2009. Mulai membaiknya kondisi pertanian Gorontalo
pada akhir Maret 2010 dengan dukungan cuaca dan musim
diperkirakan mampu mendorong peningkatan produksi pertanian
hingga akhir semester II-2010. BMKG memperkirakan musim
kemarau di kawasan Sulawesi bagian Utara akan terjadi di bulan
Juni 2010 sementara curah hujan bulan Maret sampai dengan
Mei 2010 diperkirakan cukup. Perkembangan sektor pertanian
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 vii
Meningkatnya pendapatan masyarakat seiring pertumbuhan produksi sektor pertanian diperkirakan mendorong konsumsi swasta meningkat pada triwulan II-2009
Ramalan I-2010 bahwa produksi Jagung akan mencapai 665
Ribu Ton atau meningkat 16,87% dibandingkan tahun
sebelumnya yang terkontraksi sebesar 24,48%.
Peningkatan produksi pertanian diperkirakan mampu mendorong
peningkatan kinerja konsumsi dan ekspor luar negeri.
Meningkatnya pendapatan masyarakat seiring pertumbuhan
produksi sektor pertanian diperkirakan mendorong konsumsi
swasta meningkat pada triwulan II-2009. Disisi lain konsumsi
pemerintah diperkirakan masih melambat terkait anggaran APBD
2010 yang lebih rendah dibandingkan anggaran APBD 2009.
Sementara itu kinerja dunia usaha secara keseluruhan
diperkirakan masih tumbuh baik. Hasil Survei Kegiatan Dunia
Usaha (SKDU) Bank Indonesia Gorontalo triwulan I-2010
mencatat bahwa angka prakiraan kondisi dunia usaha pada
triwulan II-2009 berada pada level optimis 16,46. Sektor
bangunan dan perdagangan diperkirakan menjadi sektor
potensial yang akan memberikan sumbangan bagi pertumbuhan
triwulan II-2010. Hal ini sejalan dengan volume impor komoditas
semen pada akhir Maret 2010 yang menunjukkan peningkatan
secara signifikan 116,62% (y.o.y) dibandingkan kondisi Maret
2009.
Optimisme permintaan masyarakat yang disertai adanya policy shock inflation mendorong inflasi triwulan II-2010 berkisar 3,5 – 5,5% (y.o.y)
Optimisme permintaan masyarakat yang disertai adanya policy
shock inflation mendorong inflasi triwulan II-2010 berkisar 3,25 –
5,25% (y.o.y). Berbagai kegiatan ekonomi domestik kedepan
yang meliputi persiapan pemilihan bupati di Kabupaten
Pohuwato, Kabupaten Gorontalo, dan Kabupaten Bone-Bolango
akan menyumbang peningkatan permintaan masyarakat yang
dapat mendorong tekanan inflasi. Sementara itu, periode tahun
ajaran baru dan liburan sekolah pada triwulan II-2010 juga
memicu tingginya permintaan masyarakat. Sedangkan, faktor
yang dapat memperlemah tekanan inflasi adalah dimulainya
masa panen pada triwulan II-2010 sehingga menambah jumlah
pasokan barang terutama pada kelompok bahan makanan. Di
viii KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 | BANK INDONESIA Policy Shock Inflation
dapat mendorong
tekanan inflasi pada
triwulan II-2010
perkembangan inflasi daerah karena pada umumnya pergerakan
inflasi daerah disebabkan oleh faktor distribusi.
Policy Shock Inflation dapat mendorong tekanan inflasi pada
triwulan II-2010. Kebijakan penetapan Harga Eceran Tertinggi
(HET) pupuk oleh pemerintah pada 1 April 2010 diperkirakan
dapat memberi tekanan pada perkembangan harga-harga
komoditas pertanian. Pupuk merupakan salah satu komponen
utama dalam kegiatan produksi komoditas pertanian, dengan
adanya kenaikan harga pupuk akan berimbas pada kenaikan
biaya produksi kemudian dapat menekan harga jual. Sementara
itu, isu kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) pada pertengahan
tahun 2010 juga diperkirkan dapat meningkatkan ekspektasi
inflasi kedepan.
Kegiatan usaha perbankan diperkirakan meningkat seiring dengan bergairahnya kegiatan ekonomi pada triwulan
II-2010
Kegiatan usaha perbankan diperkirakan meningkat seiring
dengan bergairahnya kegiatan ekonomi pada triwulan II-2010.
Kegiatan pemilihan bupati di tiga kabupaten yaitu Kabupaten
Pohuwato, Kabupaten Gorontalo, dan Kabupaten Bone-Bolango
diperkirakan ikut meningkatkan kinerja ekspansi kredit
perbankan. Sementara itu, diperkirakan suku bunga perbankan
di Gorontalo akan cenderung stabil seiring dengan kebijakan
Bank Indonesia untuk mempertahankan BI-rate pada tingkat
yang mendukung perkembangan sektor riil dengan
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 1
BAB 1 :
P
ERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL
Pada triwulan I-2010, perekonomian Gorontalo diperkirakan tumbuh melambat
7,43% (y.o.y) dibandingkan triwulan I-2009 (7,66% y.o.y). Melemahnya ekonomi regional
diperkirakan sebagai dampak menurunnya kinerja sektor pertanian sebagai sektor dominan
di Gorontalo. Akibat kekeringan, luas lahan tanam pada periode September – November
2009 menurun, kondisi ini mengakibatkan produksi pertanian di bulan Januari dan Februari
2010 merosot. Tanda-tanda meningkatnya produksi pertanian diperkirakan mulai terjadi di
akhir Maret 2010, namun secara kumulatif jumlah produksi yang dihasilkan selama triwulan
laporan masih dibawah produksi pertanian pada triwulan I-2009.
Disisi permintaan,melambatnya ekonomi Gorontalo tercermin pada kinerja konsumsi
dan ekspor. Melemahnya Nilai Tukar Petani serta menurunnya produksi pertanian di awal
triwulan I-2010 memberikan dampak yang signifikan bagi menurunnya kinerja konsumsi
masyarakat dan ekspor luar negeri Gorontalo. Namun perlambatan yang terjadi sedikit
diredam oleh peningkatan kinerja investasi dan impor yang tercermin dari peningkatan nilai
penyaluran kredit investasi dan peningkatan volume impor pelabuhan. Disisi penawaran,
perkembangan sektor pertanian masih terkendala namun kinerja sektor utama lainnya
tumbuh baik. Meningkatnya kegiatan investasi dan impor mendorong kinerja sektor
bangunan, perdagangan dan angkutan meningkat selama triwulan I-2010.
1.1 SISI PERMINTAAN
Perekonomian Gorontalo sisi permintaan pada triwulan I-2010 diperkirakan tumbuh
sebesar 7,43% y.o.y, melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan I-2009 (7,76%).
Perlambatan pertumbuhan ini lebih didorong melemahnya kinerja konsumsi dan ekspor
sementara kegiatan investasi dan impor diperkirakan meningkat.
Tabel 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Sisi Permintaan
*) Proyeksi Bank Indonesia Gorontalo
2010
I II III IV I II III IV I*
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga 10,09 7,97 9,09 2,93 11,66 12,57 11,11 8,17 9,99 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 25,14 26,00 28,99 13,42 14,48 21,69 21,43 19,64 10,09 Pembentukan Modal Tetap Bruto 22,73 15,67 19,55 25,01 23,85 27,52 18,88 13,26 28,14 Ekspor Barang dan Jasa 23,19 13,68 (5,90) 6,05 (6,18) (2,24) 5,69 (4,43) (1,74) Impor Barang dan Jasa 48,41 16,98 35,27 17,99 23,81 42,34 10,13 5,15 25,90 Pertumbuhan Ekonomi 7,11 7,09 9,16 7,56 7,66 7,22 6,60 8,78 7,43
2008 2009
2 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010| BANK INDONESIA
1.1.1 KONSUMSI
Pada triwulan I-2010, konsumsi tumbuh 9,99%, melambat dibandingkan dengan
triwulan I-2009 (11,66%). Melemahnya kondisi makroekonomi regional yang didorong oleh
melambatnya kinerja sektor pertanian diperkirakan berpengaruh cukup signifikan terhadap
tingkat pendapatan masyarakat karena 45% angkatan kerja di Gorontalo terserap pada
sektor usaha pertanian. Menurunnya tingkat pendapatan masyarakat mendorong
melemahnya tingkat daya beli masyarakat selama triwulan laporan. Disisi lain kinerja
konsumsi pemerintah diperkirakan turut melambat dibandingkan triwulan I-2009. Kondisi
tersebut sebagai dampak menurunnya pagu anggaran APBD 2010 dibandingkan pagu
anggaran APBD 2009.
Perlambatan pertumbuhan sisi konsumsi dikonfirmasikan oleh hasil survei
konsumen Bank Indonesia serta diperkuat oleh data-data prompt indikator konsumsi.
Perlambatan konsumsi masyarakat selama triwulan I-2010 tercermin dari menurunnya
realisasi kredit konsumsi, penurunan nilai tukar petani, stagnasi realisasi belanja pegawai,
serta menurunnya tingkat konsumsi bahan bakar minyak rumah tangga. Sementara itu
perlambatan konsumsi pemerintah tercermin dari menurunnya realisasi APBD Non Belanja
Modal.
Sumber : Bank Indonesia Sumber : BPS Prov. Gorontalo
Grafik 1.1 Grafik 1.2 Survei Konsumen NTP Pertanian
Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia Gorontalo mencatat bahwa Indeks
Keyakinan Konsumen (IKK) pada triwulan I-2010 menurun. Kondisi tersebut didorong oleh
menurunnya Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) saat ini yang mencapai level 120,25, lebih
rendah dibandingkan IKE triwulan IV-2009 yang mencapai 131,58. IKE merupakan cerminan
daya beli konsumen Gorontalo. Penurunan IKE terutama didorong oleh menurunnya faktor
ketersediaan lapangan kerja selama triwulan I-2010. Menurunnya lapangan kerja
diperkirakan sebagai implikasi melambatnya kinerja sektor pertanian selama bulan Januari
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 3
Januari dan Februari 2010 yang menunjukkan penurunan. Sementara itu pendapatan
kelompok non petani selama triwulan I-2010 diperkirakan mengalami stagnasi. Realisasi
belanja pegawai tumbuh 16,46% (y.o.y) hampir sama dengan pertumbuhan triwulan I-2009
sebesar 15,01% (y.o.y).
Perkembangan searah ditunjukkan pula oleh pembiayaan kredit konsumsi
selama triwulan I-2010 yang menunjukkan penurunan dibandingkan triwulan I-2009.
Tingkat outstanding kredit konsumsi tumbuh sebesar 37,64% (y.o.y), lebih rendah
dibandingkan triwulan I-2009 sebesar 52,00% (y.o.y).
Sumber : Bank Indonesia Sumber : Badan Keuangan Provinsi
Grafik 1.3 Grafik 1.4
Perkembangan Kredit Konsumsi Realisasi Belanja Pegawai
Sementara itu menurunnya tingkat konsumsi pemerintah tercermin dari
melambatnya nilai realisasi APBD triwulan I-2010. Realisasi konsumsi pemerintah
selama triwulan I-2010 hanya tumbuh 0,09% , lebih rendah dibandingkan pertumbuhan
konsumsi pemerintah triwulan I-2009 sebesar 19,73%.
Sumber : Badan Keuangan Provinsi
Grafik 1.5
4 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010| BANK INDONESIA
1.1.2 INVESTASI
Kinerja investasi di Provinsi Gorontalo pada triwulan laporan diperkirakan
tumbuh 28,14 % (y.o.y) lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun
sebelumnya sebesar 23,85 % (y.o.y). Peran serta sektor swasta menunjukkan
peningkatan selama selama triwulan I-2010. Kondisi ini tentu saja memberikan harapan
yang baik mengingat dalam beberapa triwulan sebelumnya belanja modal pemerintah
daerah selalu menjadi prime mover investasi di Gorontalo. Meningkatnya partisipasi swasta
dalam kegiatan investasi tercermin dari penyaluran kredit investasi perbankan yang
meningkat sementara nilai realisasi belanja modal APBD mengalami penurunan yang cukup
signifikan. Hal ini karena pekerjaan investasi fisik pemerintah masih melanjutkan proyek
multiyears yang telah dijalankan sebelumnya sementara tender proyek baru masih belum
berjalan.
Sumber : Bank Indonesia Sumber : Badan Keuangan Provinsi
Grafik 1.6 Grafik 1.7
Perkembangan Kredit Investasi Realisasi Belanja Modal
Kredit investasi pada triwulan I-2010 tumbuh sebesar 51,68% (y.o.y), lebih tinggi
dibandingkan triwulan I-2009 yang terkontraksi sebesar 16,51% (y.o.y). Pertumbuhan kredit
investasi ini lebih didorong oleh kredit konstruksi yang tumbuh mencapai 121,12% (y.o.y)
selama triwulan I-2010. Sementara itu realisasi belanja modal pemerintah daerah
terkontraksi sebesar 79,18%, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun
sebelumnya yang terkontraksi sebesar 6,76%. Proyek swasta skala besar yang saat ini
masih terus berjalan adalah pembangunan Gorontalo Business Park yang ditargetkan
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 5 Proyek Pembangun Infrastruktur (multiyears) di Gorontalo :
- Pembangunan Jalan Akses Agropolitan di lima kabupaten telah mencapai 302,25 km
(kondisi akhir 2009)
- Pembangunam Jalan Gorontalo by Pass dengan total anggaran mencapai Rp
51.423.918.000 (sumber pendanaan APBN dan APBD). Sampai dengan akhir 2009
realisasi pelaksanaan baru sekitar 30% dan masih membutuhkan tambahan dana
sebesar US$ 19.690.000,-. Program ini telah dimasukkan dalam Blue Book
Bappenas, dimana bantuan Pemerintah Korea akan menjadi satu pilihan untuk
penyelesaian jalan tersebut.
- Pembangunan Bendungan Paguyaman sejak tahun 2005 dengan luas areal irigasi
mencapai 6.880 ha. Total anggaran anggaran yang terealisasi hingga tahun 2009
mencapai Rp. 97 Miliar sementara progres fisik pekerjaan bendungan mencapai
96,3%, pekerjaan Jaringan Kiri mencapai 90,5% dan pekerjaan Jaringan Kanan
mencapai 49%.
- Pembangunan Kanal Banjir Tamalate seluas 2.850 m2 dengan total kebutuhan
anggaran mencapai Rp. 62.729.340.000,- . Saat ini progres fisik sudah mencapai 70
% dengan alokasi dana yang terealisasi sebesar Rp 29 Miliar. Untuk penyelesaian
proyek masih membutuhkan dana sebesar Rp 34 Miliar (Anggaran sudah
dimasukkan dalam RPJMN 2010 – 2014).
- Peningkatan Bandara Djalaluddin Gorontalo menjadi Bandara Embarkasi Haji Penuh
tahun 2010 dengan meningkatkan sarana dan prasarana ( runway, apron, turning
area, fillet, VIP room, dll). Diharapkan bandara dapat difungsikan untuk didarati
pesawat jenis Boeing 737 – 400 dan 737-900 ER. Pemda Provinsi Gorontalo dalam
tiga tahun terakhir telah melakukan langkah strategis untuk mewujudkan embarkasih
haji berupa perluasan tanah, pembangunan Jalan By Pass menuju bandara dan
pembangunan asrama haji dan sebagai penyelenggara EHA 3 kali dengan baik. Saat
pembangunan dilaksanakan untuk penambahan lapisan runway, pembuatan apron
dan taxiway baru serta peralatan penunjang dengan total anggaran yang dibutuhkan
sebesar Rp 150 Miliar.
- Menjadikan Pelabuhan Anggrek sebagai pelabuhan ekspor/impor dan pusat kargo di
kawasan Pantai Utara Sulawesi dengan fasilitas gudang penyimpanan, lapangan
penumpukan dan fasilitas penunjang lainnya. Setiap tahunnya terjadi peningkatan
kegiatan bongkar muat yang mencapai 162.068 ton/m3 untuk Bongkar dan 134.562
ton/m3 untuk Muat (akhir 2008). Total anggaran pembangunan pelabuhan tiga tahun
6 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010| BANK INDONESIA - Pembangunan Dermaga III kota Gorontalo terus di tingkatkan dan diharapkan
sebagai pelabuhan pengumpul dan pendistribusian 9 bahan pokok dikawasan teluk
Tomini. Dengan jumlah dermaga yang ada saat ini jumlah antrian cukup panjang
mencapai 35 kapal/bulan berlabuh dengan jumlah penumpang mencapai sekitar
6.000 orang/tahun.
- Pembangunan jaringan listrik 150 KV Interkoneksi se-Sulawesi, pembangunan PLTU
Anggrek dengan daya 2 x 25 MW, PLTU Molotabu 2x10 MW sedang untuk menjamin
ketersediaan listrik dalam jangka panjang sekaligus mendukung kegiatan investasi.
Selain itu dilakukan juga pembangunan Gardu Induk (GI) untuk menunjang
pembangunan PLTU Anggrek yaitu GI Anggrek 20 MVA, GI Paguat 20 MVA, GI
Isimu 30 MVA dan GI Boluontala 30 MVA.
Sumber : BAPPEDA Prov. Gorontalo
1.1.3 EKSPOR – IMPOR
Kinerja ekspor selama triwulan I-2010 secara keseluruhan diperkirakan
melambat. Ekspor luar negeri selama triwulan I-2009 terkontraksi 46,5% (y.o.y)
dibandingkan triwulan I-2009 yang terkontraksi sebesar 3,5% (y.o.y). Menurunnya
kinerja ekspor didorong oleh penurunan produksi pertanian jagung sebagai
komoditas utama. Ekspor luar negeri untuk keseluruhan komoditas barang tercatat US$
2.456.627, lebih rendah dibandingkan capaian ekspor luar negeri triwulan I-2009 sebesar
US$ 4.589.484.
Tabel 1.2 Perkembangan Ekspor Komoditas ke Luar Negeri.
2010
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1
Negara Tujuan
1. Jepang 20.808 - 28.439 25.599 -2. China - 38.580 - - -3. Singapura 21.765 81.988 47.910 - 380.348 4. Hongkong - - 526.400 420.000 194.000 5. Taiwan - 38.250 22.080 1.923.663 1.022.210 6. Malaysia - 1.634.000 - - 382.500 7. Philipina 4.077.131 1.719.300 - - 396.000 8. India 445.500 616.875 - - -9. Rep. Korea 24.280 9.247 42.907 53.254 81.569 10. Vietnam - 953.134 - -
-NILAI EKSPOR 4.589.484 5.091.374 667.736 2.422.516 2.456.627
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 7 Tabel 1.3 Perkembangan Ekspor Luar Negeri Berdasarkan Negara Tujuan.
Sementara itu kinerja impor antar pulau menunjukkan peningkatan, impor
diperkirakan tumbuh sebesar 25,90% lebih tinggi dibandingkan kinerja impor pada
triwulan I-2009 sebesar 23,81%. Peningkatan impor selama triwulan I-2010 diantaranya
didorong kenaikan impor barang modal terutama untuk kepentingan konstruksi
bangunan.Hal tersebut dikonfirmasikan oleh data pengadaaan semen Gorontalo yang
meningkat cukup signifikan pada bulan Februari dan Maret 2010.
Tabel 1.4 Volume Bongkar Barang di Pelabuhan Gorontalo
Sumber : Asosiasi Pengusaha Semen
Grafik 1.8 Impor Semen Gorontalo
2010
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1
Jenis Barang
1. Ikan dan Udang/Kepiting - - - - -2. Jagung 4.077.131 3.353.300 - - 778.500 3. Kayu, Barang dari Kayu 45.088 9.247 57.353 65.375 81.569 4. Bungkil Kopra - 321.000 526.400 420.000 511.050 5. Rotan Poles 21.765 158.818 69.990 - 63.298 6. Lemak&Minyak Hewan/nabati 445.500 616.875 - - -7. Gula & Kembang Gula - 632.134 - 1.923.663 1.022.210 8. Mutiara & batu permata - - 13.993 13.479 -9. Binatang Hidup - - - - -10. Tembakau - - - -
-NILAI EKSPOR 4.589.484 5.091.374 667.736 2.422.517 2.456.627
2009 Keterangan
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1
BONGKAR BARANG
Gorontalo 96.969 103.759 106.342 76.420 96.896 99.197 81.851 110.584 106.888 Kwandang - - - - - 32 - - -Anggrek 23.756 21.642 18.300 25.445 14.179 14.727 26.433 22.039 37.203 Tilamuta 7 9 12 8 11 905 2.700 - 7.980 Total 120.732 125.410 124.654 128.198 111.086 114.861 110.984 132.623 152.071 gBONGKAR BARANG (yoy) 67,50 89,23 20,71 73,95 -7,99 -8,41 -10,97 3,45 36,89
2010
8 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010| BANK INDONESIA
1.2 SISI PENAWARAN
Disisi sektoral, kinerja pertanian diperkirakan melambat akibat menurunnya luas
tanam lahan pertanian pada bulan September – November 2009 yang mempengaruhi
produksi Januari – Februari 2010. Penurunan luas tanam pada periode tersebut akibat
pengaruh musim kering yang terjadi dibeberapa kabupaten di Gorontalo, dalam periode
tersebut kandungan air tanah merosot hingga 60%. Sementara itu kinerja sektor utama
lainnya masih tumbuh baik. Meningkatnya kegiatan investasi dan impor mendorong kinerja
sektor bangunan, perdagangan dan angkutan meningkat selama triwulan I-2010.
Tabel 1.5 Pertumbuhan Ekonomi Sisi Penawaran
*) Proyeksi Bank Indonesia Gorontalo
1.2.1 SEKTOR PERTANIAN
Kinerja sektor pertanian di Gorontalo pada triwulan I-2010 masih menunjukkan
penurunan. Sektor Pertanian diperkirakan tumbuh sebesar 5,06%, melambat
dibandingkan pertumbuhan di triwulan I-2009 sebesar 7,74%. Menurunnya kondisi
pertanian di Gorontalo selama triwulan I-2010 tercermin dari hasil survei kegiatan dunia
usaha (SKDU) dimana Saldo Bersih Tertimbang (SBT) realisasi sektor pertanian triwulan
I-2010 terkontraksi hingga mencapai -7,12%.
Sumber : Bank Indonesia Sumber : Dinas Pertanian Prov. Gorontalo
Grafik 1.9 Grafik 1.10
Survei Kegiatan Dunia Usaha Realisasi Panen Pertanian Tabama
2010
I II III IV I II III IV I*
1. PERTANIAN 7,70 5,68 11,17 7,23 7,74 5,42 (2,89) 5,18 5,06 2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 5,04 9,46 11,55 14,17 9,23 12,91 20,17 14,82 11,23 3. INDUSTRI PENGOLAHAN 1,44 3,86 7,54 8,72 6,38 2,32 4,76 1,48 7,36 4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH (2,66) (2,70) (0,49) 2,72 7,51 6,53 7,85 4,30 5,85 5. BANGUNAN 6,95 9,48 10,83 13,13 9,78 12,86 18,91 15,87 10,66 6. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN 8,08 6,36 6,45 6,66 7,60 8,20 10,35 8,46 7,85 7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 10,39 8,46 5,16 6,69 8,56 9,82 11,01 7,29 10,10 8. KEUANGAN, PERSEWAAN, & JS. PRSH. 6,75 7,58 7,48 6,99 6,92 7,23 10,95 11,00 7,20 9. JASA-JASA 6,86 9,63 10,65 6,36 7,00 7,49 11,82 13,60 8,12 PERTUMBUHAN EKONOMI 7,11 7,09 9,16 7,56 7,66 7,22 6,60 8,78 7,43
2008 2009
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 9 Produksi pertanian pada triwulan I-2010 diperkirakan masih terpengaruh
kondisi pertanaman periode September – November 2009, dimana pada saat itu
Gorontalo dilanda musim kering. Pertanian jagung di Gorontalo merupakan pertanian
lahan kering dimana kondisi pengairan sangat tergantung dari hujan. Pada akhir Maret
2010, pertanian jagung mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah sebelumnya
menurun secara dratis pada triwulan III dan IV-2009. Luas panen jagung pada triwulan
I-2010 mencapai 37.047 Hektar masih lebih rendah dibandingkan luas panen triwulan I-2009
yang mencapai 45.501 Hektar. Penurunan luas lahan panen jagung terbesar terjadi pada
Kab. Pohuwato yang merosot sebesar 47% dibandingkan luas panen pada triwulan I-2009.
Sumber : Dinas Pertanian Prov. Gorontalo
Grafik 1.11 Grafik 1.12
Realisasi Produksi Jagung Perkembangan Luas Panen Jagung Per Kab/Kota
Sementara itu pertanian padi masih menunjukkan produksi yang cukup baik
terkait irigasi teknis yang telah dilakukan pada hampir sebagian besar lahan pertanian
di Gorontalo. Selama triwulan I-2010 penurunan luas panen padi terbesar terjadi pada kab.
Boalemo. Hal ini terjadi karena debit air tanah merosot hingga 60% dari debit air normal.
Upaya strategis dilakukan pemerintah daerah melalui perbaikan irigasi teknis dan bantuan
cadangan bibit nasional sehingga produksi pertanian di bulan Maret 2010 mulai
menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Selama triwulan I-2010, beberapa lahan pertanian tabama banyak yang
dialihfungsikan oleh petani menjadi lahan pertanian palawija. Hal ini dilakukan untuk
mensiasati berkurangnya cadangan air tanah. Pemerintah kabupaten di Gorontalo
mengalokasikan anggaran lebih dari Rp 20 Miliar untuk menanggulangi kebutuhan air tanah
selama bulan Januari – Februari 2010 dengan mengoptimalkan penggunaan sumur bor.
Sementara itu untuk meningkatkan produksi pertanian padi, jagung dan cabe di Gorontalo,
Pemerintah Daerah mengucurkan anggaran bantuan senilai Rp 6,75 Miliar dengan alokasi
anggaran (i) pengelolaan tanaman terpadu, (ii) peningkatan frekuensi pertemuan satgas dan
10 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010| BANK INDONESIA (iv) peningkatan pembinaan dan konsultasi pertanian, (v) pengadaan lahan penangkar
benih, dan (vi) pencanangan tanaman panen.
Sumber : Dinas Pertanian Prov. Gorontalo
Grafik 1.13 Grafik 1.14 Realisasi Produksi Padi Perkembangan Luas Panen Padi Per Kab/Kota
Menurunnya kinerja pertanian di Gorontalo juga tercermin dari sisi
pembiayaan. Tren pengucuran pembiayaan perbankan disektor pertanian
menunjukkan penurunan dengan resiko kredit yang meningkat. Outstanding kredit di
sektor pertanian pada bulan Maret 2010 mencapai Rp 47,04 Miliar terkontraksi 41,23%
dibandingkan triwulan I-2009. Sementara itu tingkat NPL’s mencapai 4,12%, meningkat
dibandingkan NPL’s triwulan I-2009 sebesar 3,32%.
Sumber : Bank Indonesia
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 11 1.2.2 SEKTOR PENGANGKUTAN
Pada triwulan I-2010, sektor pengangkutan diperkirakan tumbuh sebesar
10,10%, lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2009 (8,56%). Peningkatan kinerja di sektor
ini terutama disumbang oleh peningkatan kinerja sub sektor angkutan udara dan angkutan
darat sementara kinerja sub sektor angkutan laut dan ferry cenderung melambat. Perbaikan
kinerja pada sektor ini semakin ditunjang oleh perbaikan sarana infrastruktur seperti jalan
dan bandara yang telah dilakukan pemerintah daerah demi menunjang kemudahan
transportasi barang/manusia dari dan menuju Gorontalo.
Peningkatan pertumbuhan sub sektor pengangkutan udara tercermin dalam
peningkatan jumlah penumpang dan angkutan kargo udara. Jalur transportasi Manado
– Gorontalo yang selama ini ditempuh dengan jalur darat telah dilayani jalur penerbangan maskapai nasional yakni WINGS Air dan EXPRESS Air. Tercatat selama triwulan I-2010
jumlah penumpang angkutan udara yang terlayani sebanyak 64.505 orang atau tumbuh
sebesar 25,38% (y.o.y) lebih tinggi dibandingkan Triwulan I-2009 (15,19%). Sementara itu
disisi kargo udara juga mengalami peningkatan, volume bongkar/muat kargo udara pada
triwulan I-2010 mencapai 1.205 ton atau tumbuh sebesar 11,20% (y.o.y), lebih tinggi
dibandingkan triwulan I-2009 (0,32%). Semakin strategisnya fungsi transportasi udara bagi
masyarakat Gorontalo mendorong Pemerintah Daerah melakukan pembangunan penebalan
landasan pacu di Bandara Djalaludin. Diharapkan melalui proyek penebalan landasan pacu
tersebut pesawat Boeing 737-900ER dapat dimuati penumpang full capacity pada
September 2010 nanti. Sementara itu proyek pembangunan jalan bypass Bandara yang
memasuki tahap akhir penyelesaian diharapkan turut memperlancar arus
penumpang/barang dari dan menuju Bandara Djalaludin di Gorontalo.
Sumber : Bandara Djalaludin Gorontalo
Grafik 1.17 Grafik 1.18 Perkembangan Angkutan Udara Perkembangan Kargo Udara
Kinerja sektor angkutan darat pada triwulan I-2010 diperkirakan mendorong
12 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010| BANK INDONESIA
untuk sub sektor ini menunjukkan pencapaian yang lebih tinggi dibandingkan
triwulan I-2009. Tingkat konsumsi bahan bakar transportasi darat mencapai 19.007 kiloliter
atau meningkat sebesar 17,19%(y.o.y) lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2009 sebesar
10,92%. Sementara itu prompt indikator penghimpunan pajak kendaraan bermotor turut
mengalami peningkatan. Penghimpunan pajak kendaraan bermotor mencapai Rp
8.563.116.400 tumbuh 32,64% (y.o.y) lebih tinggi dibandingkan triwulan yang sama tahun
sebelumnya sebesar 19,79%. Meningkatnya kebutuhan angkutan darat direspon pemerintah
kota Gorontalo dengan memperbaiki sarana transportasi yang ada. Busway “Hulotalangi”
mulai resmi beroperasi melayani transportasi masyarakat diseputar kota Gorontalo pada
bulan Maret 2010.
Sumber : Badan Keuangan Prov. Gorontalo Sumber : PERTAMINA Gorontalo
Grafik 1.19 Grafik 1.20
Perkembangan Pajak Kendaraan Bermotor Realisasi Penjualan BBM Transportasi
Sementara itu kinerja sub sektor angkutan laut dan ferry pada triwulan I-2010
menunjukkan sedikit penurunan khususnya dalam hal pengangkutan penumpang
namun untuk pengangkutan barang masih menunjukkan peningkatan. Kondisi ini
diperkirakan karena masyarakat mulai beralih dari mode transportasi laut menuju moda
transportasi udara terkait sarana dan prasarana angkutan udara yang baik dengan tingkat
harga yang semakin bersaing. Jumlah penumpang kapal laut tercatat sebesar 2.641 orang
dengan laju terkontraksi 15,84% (y.o.y) sementara angkutan ferry selama triwulan I-2010
melayani 17.300 penumpang dengan laju terkontraksi sebesar 10,30% (y.o.y). Namun arus
barang melalui laut terus mengalami peningkatan dengan didukung kinerja sub sektor
perdagangan yang semakin baik. Jumlah kargo laut mencapai 195.346 ton atau tumbuh
sebesar 33,88% (y.o.y) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan I-2009 yang
terkontraksi sebesar 4,78%. Infrastruktur dermaga III yang saat ini dalam tahap
penyelesaian diharapkan mampu mendukung kelancaran bongkar muat barang di
pelabuhan Gorontalo. Namun disisi lain, permasalahan lain timbul pada ketersediaan
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 13
terhadap volume bongkar/muat barang sehingga beberapa barang mengalami kerusakan
karena tidak tertampung gudang penyimpanan.
Sumber : Pelabuhan Se-Gorontalo
Grafik 1.21 Grafik 1.22
Perkembangan Angkutan Laut Perkembangan Kargo Laut
1.2.3 SEKTOR PERDAGANGAN HOTEL DAN RESTORAN
Sektor perdagangan hotel dan restoran pada triwulan I-2010 diperkirakan
tumbuh sebesar 7,85% (y.o.y) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan I-2009
(7,60%). Peningkatan pertumbuhan disektor ini diindikasikan oleh meningkatnya
pertumbuhan pada beberapa prompt indikator seperti arus bongkar di beberapa pelabuhan
di Gorontalo, konsumsi listrik kelompok bisnis, dan tingkat penghunian hotel.
Pada sub sektor perdagangan, pertumbuhan tercermin pada peningkatan
volume bongkar barang di beberapa pelabuhan Gorontalo. Volume bongkar selama
triwulan I-2010 mencapai 152.071 ton atau meningkat sebesar 36,89% (y.o.y) lebih tinggi
dibandingkan triwulan I-2009 yang terkontraksi sebesar 7,99%. Selama triwulan I-2010
impor barang elektronik yang berasal dari China menunjukkan peningkatan seiring
diberlakukannya ACFTA. Namun perdagangan barang elektronika China di Gorontalo
sempat terkendala operasi pasar yang dilaksanakan pemerintah daerah bekerjasama
dengan kepolisian pada bulan Januari 2010 terkait kepatuhan produk China terhadap
Standard Nasional Indonesia (SNI).
Peningkatan kinerja sub sektor perdagangan diindikasikan pula oleh meningkatnya
konsumsi listrik kelompok bisnis turut yang turut meningkat sebesar 17,22% (y.o.y) lebih
14 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010| BANK INDONESIA
Sumber : Pelabuhan se-Gorontalo Sumber : Bandara Jalaluddin
Grafik 1.23 Grafik 1.24
Volume Bongkar Pelabuhan Laut Volume Bongkar Pelabuhan Udara
Pada sub sektor perhotelan, pertumbuhan nampak pada tingkat hunian hotel di
Gorontalo. Tingkat penghunian hotel pada triwulan I-2010 sebesar 37,68 meningkat lebih
tinggi dibandingkan tingkat penghunian pada triwulan I-2009 sebesar 29,97. Semakin
meningkatnya sarana dan prasarana transportasi di Gorontalo diperkirakan turut
meningkatkan kegiatan pariwisata di Gorontalo sehingga berdampak pada meningkatnya
kinerja sub sektor perhotelan. Hal tersebut dikonfirmasi dengan semakin banyaknya
pembangunan rumah penginapan baru dan hotel kelas melati dikawasan kota Gorontalo.
Sumber : PLN Gorontalo Sumber : BPS Gorontalo
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 15 1.2.4 SEKTOR BANGUNAN
Sektor bangunan pada triwulan I-2010 diperkirakan tumbuh sebesar 10,66%
(y.o.y) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan I-2009 (9,78%). Perkembangan
sektor properti khususnya ruko dan rumah tinggal semakin menunjukkan peningkatan di
Gorontalo. Hal tersebut dikonfirmasi oleh pertumbuhan pembiayaan konstruksi dan realisasi
penjualan semen di Gorontalo. Realisasi penjualan semen di Gorontalo meningkat sebesar
69,50% (y.o.y), lebih tinggi dibandingkan penjualan semen triwulan I-2009 yang terkontraksi
sebesar 22,04%. Beberapa proyek infrastruktur saat ini masih dalam proses pengerjaan
antara lain : pembangunan PLTU Anggrek, pembangunan embarkasi haji untuk bandara
Jalaluddin, pembangunan banjir kanal timur Bone Bolango, pembangunan jalan by pass
Bandara – Kantor Gubernur, pembangunan jalan by pass Molu-Molingkapoto.
Sumber : Asosiasi Pengusaha Semen
Grafik 1.27
Realisasi Penjualan Semen Gorontalo
Disisi pembiayaan konstruksi, peran swasta mulai tumbuh selama triwulan I-2010.
Hal ini tecermin dari semakin meningkatnya pertumbuhan kredit konstruksi sementara
realisasi belanja modal APBD menunjukkan penurunan. HIPMI, Perumnas dan Pemkab.
Gorontalo telah menandatangani MoU pembangunan 500 unit rumah baru bagi PNS di Kab.
Gorontalo. Kondisi tersebut diharapkan menjadi pemicu pembangunan real estate diluar
kawasan kota, sehingga pertumbuhan sektor bangunan kedepan semakin meningkat.
Disisi pembiayan kredit konstruksi tumbuh sebesar 121,12% (y.o.y), lebih tinggi
dibandingkan triwulan I-2009 sebesar 35,12% (y.o.y). Sementara itu belanja modal APBD
selama triwulan I-2010 terkontraksi 79,18% (y.o.y), lebih rendah dibandingkan realisasi
16 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010| BANK INDONESIA
Sumber : Bank Indonesia Sumber : Badan Keuangan Prov. Gorontalo
Grafik 1.28 Grafik 1.29
Perkembangan Kredit Konstruksi Realisasi Belanja Modal APBD
1.2.5 SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN
Kinerja sektor industri pengolahan selama triwulan I-2010 diperkirakan tumbuh 7,36 %
(y.o.y) lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 6,38
% (y.o.y). Meningkatnya kinerja sektor industri pengolahan seiring dengan meningkatnya
perdagangan di Gorontalo.
Sumber : PERTAMINA Depot Gorontalo UPMS VII Sumber : PLN Gorontalo
Grafik 1.30 Penggunaan BBM Industri Grafik 1.31 Penggunaan Listrik Industri
Masih optimisnya kondisi sektor industri dikonfirmasi oleh tumbuhnya konsumsi BBM
kelompok industri sebesar 22,79% (y.o.y), lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2009 sebesar
14,95% (y.o.y). Sementara itu peningkatan sektor industri juga dikonfirmasi oleh tumbuhnya
konsumsi listrik kelompok industri sebesar 1,33% (y.o.y) lebih tinggi dibandingkan periode
yang sama tahun sebelumnya yang terkontraksi sebesar 19% (y.o.y).
1.2.6 SEKTOR KEUANGAN
Kinerja sektor keuangan diperkirakan tumbuh 7,20% (y.o.y) lebih tinggi
dibandingkan pertumbuhan triwulan I-2009 (6,92%). Pertumbuhan sektor keuangan ini
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 17
peningkatan. Sampai dengan bulan Maret 2010, NIM perbankan telah mencapai Rp 107
Miliar atau tumbuh 57,55%, lebih tinggi dibandingkan NIM periode Maret 2009 yang tumbuh
28,33%. Peningkatan NIM ini didorong oleh pendapatan bunga perbankan yang tumbuh
signifikan selama triwulan I-2010 sementara beban bunga relatif sama dengan periode
sebelumnya.
Sumber : Bank Indonesia
Grafik 1.32 NIM Perbankan Grafik 1.33 Pendapatan/Beban Bunga
1.2.7 SEKTOR LAINNYA
Kinerja sektor listrik, gas dan air bersih pada triwulan I-2010 diperkirakan
tumbuh 5,85% (y.o.y) melambat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I-2009
(7,51%) khususnya pada sub sektor listrik. Melambatnya sub sektor kelistrikan
disebabkan oleh faktor defisit energi listrik yang belum dapat teratasi sampai dengan
triwulan laporan. Menurunnya kondisi tersebut dikonfirmasi oleh perkembangan data
penjualan energi listrik yang tumbuh melambat. PT. PLN telah melakukan serangkaian
upaya untuk meningkatkan kapasitas kelistrikan di Gorontalo melalui program jangka
pendek, jangka menengah dan jangka panjang (terlampir dalam box KER).
Sumber : PLN Gorontalo
Grafik 1.34 Penjualan Energi Listrik Tabel 1.6 Defisit Energi Listrik PLN
Sementara itu kinerja sektor pertambangan dan penggalian pada triwulan
I-2010 diperkirakan tumbuh 11,23% (y.o.y), lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2009
(9,23% y.o.y). Hal ini seiring dengan perkembangan kinerja sektor bangunan di Gorontalo
yang semakin menunjukkan peningkatan. Namun tingginya permintaan akan bahan galian C
di Gorontalo mengakibatkan upaya penambangan seringkali menimbulkan kerusakan Rencana Realisasi Selisih Frekuensi
(kW) (kW) (kW) (kali) Jan
Siang 3.800 2.100 1.700 3 Malam 6.300 4.200 2.100 25 Feb
Siang 3.900 2.000 1.900 8 Malam 6.400 3.600 2.800 27 Mar
18 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010| BANK INDONESIA lingkungan. Pemerintah Kota Gorontalo dalam bulan Maret 2010 melarang penambangan
bahan galian C disekitar kota yang berpotensi merusak lingkungan. Sementara beberapa
potensi pertambangan telah ditemukan di wilayah Gorontalo antara lain potensi minyak bumi
di Teluk Tomini, potensi pertambangan emas di kab. Bone Bolango, potensi pertambangan
timah hitam di Atinggola dan potensi pertambangan tembaga di daerah Tapa. Potensi
dimaksud diharapkan dapat dikembangkan untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi
masyarakat.
Kinerja sektor jasa-jasa pada triwulan I-2010 diperkirakan tumbuh 8,12% (y.o.y)
lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I-2009 (7,00%). Meningkatnya
kinerja sektor jasa-jasa dikonfirmasikan oleh peningkatan realisasi kredit jasa-jasa
perbankan yang tumbuh 47,45% lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit pada triwulan
I-2009 yang terkontraksi sebesar 15,45%
Sumber : Bank Indonesia
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 19 Investasi di Gorontalo telah menjadi pekerjaan rumah yang belum menujukkan
perkembangan yang cukup signifikan. Berbagai pihak berharap melalui investasi multiplier
effect pembangunan ekonomi Gorontalo dapat dipacu lebih tinggi, namun permasalahan
infrastruktur seringkali menjadi kendala terhambatnya aliran modal masuk ke Gorontalo.
Dalam satu focus group discussion antara Bank Indonesia, Badan Investasi Daerah Prov.
Gorontalo dan Bappeda Prov. Gorontalo melalui seminar tengah tahun 2009 terungkap lima
kendala utama yang menghambat kinerja investasi di Gorontalo yaitu (i) kendala kelistrikan,
(ii) ketersediaan air bersih (iii) kepemilikan lahan (iv) kualitas ketenagakerjaan serta (v) arus
modal masuk. Dari kelima aspek dimaksud, masalah kelistrikan menjadi kendala mendesak
yang perlu dipecahkan bersama, mengingat beberapa calon investor telah membatalkan
rencana investasi dikarenakan pasokan listrik yang terbatas.
Sumber : PT. PLN Wilayah Sulutenggo Sumber : BPS Prov. Gorontalo
Untuk mengetahui keterkaitan antara investasi dan kelistrikan secara empirik
digunakan tools uji kausalitas granger1. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa pertumbuhan
sub sektor kelistrikan secara signifkan mempengaruhi pertumbuhan kinerja investasi namun
tidak berlaku sebaliknya, dimana pertumbuhan investasi yang terjadi belum mendorong
pertumbuhan sektor kelistrikan secara signifikan. Analisis ini diperkirakan menggambarkan
kondisi yang berkembang di Gorontalo bahwa terhambatnya arus investasi salah satunya
dikarenakan ketersediaan daya listrik yang belum optimal.
Pairwise Granger Causality Tests Date: 04/28/10 Time: 17:14 Sample: 2000:1 2009:4 Lags: 4
Null Hypothesis: Obs F-Statistic Probability
INVEST does not Granger Cause LISTRIK 36 1.37355 0.26931 LISTRIK does not Granger Cause INVEST 2.96617 0.03748
Granger Causality Test
1
20 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 | BANK INDONESIA Kementerian EDSM pada tahun 2009, Indonesia mengalami defisit daya listrik sebesar
143.16 MW dimana Gorontalo sendiri merupakan daerah dengan defisit daya listrik yang
cukup besar dikawasan Indonesia Timur setelah Provinsi Sulawesi Tengah. Per-September
2009 defisit daya listrik di Gorontalo tercatat sebesar -4.25 MW. Kondisi dimaksud
menyebabkan frekuensi pemadaman menjadi alternatif untuk pemenuhan daya yang
dibutuhkan oleh masyarakat. Data PT. PLN Wilayah Sulutenggo mencatat bahwa frekuensi
pemadaman dari bulan Januari 2010 s/d Maret 2010 mengalami peningkatan terkait defisit
daya pembangkit.
Sumber : Kementerian ESDM dalam Sosialisasi Kebijakan Teknis Terkait Penanaman Modal 2009
Selama tahun 2006 – 2010 PT. PLN telah melakukan serangkaian perbaikan jaringan dan penambahan daya listrik untuk memenuhi permintaan kelistrikan di Gorontalo.
Pada tahun 2010 produksi energi listrik diproyeksikan mencapai 230.864.489 KWh dengan
target penjualan energi sebesar 213.139.708 KWh. Surplus energi listrik tersebut
diperkirakan mampu mengurangi frekuensi pemadaman listrik sehingga berdampak pada
kinerja perekonomian secara luas.
Tabel Frek. Pemadaman Listrik Tabel Proyeksi Produksi Listrik 2010
Sumber : PT. PLN (Persero) Wilayah Suluttenggo Rencana Realisasi Selisih Frekuensi
(kW) (kW) (kW) (kali) Jan
Siang 3.800 2.100 1.700 3
Malam 6.300 4.200 2.100 25
Feb
Siang 3.900 2.000 1.900 8
Malam 6.400 3.600 2.800 27
Mar
Siang 3.800 2.400 1.400 17
Malam 6.400 4.600 1.800 31
KWH %
Growth KWH
% Growth
2006 142.907.898 128.531.907
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 21 dalam meningkatkan pasokan listrik untuk wilayah Gorontalo melalui program jangka
pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Diharapkan melalui program pembangunan
dan perbaikan jaringan yang ada ketersediaan listrik di Gorontalo dapat segera tercukupi
sehingga peluang investasi daerah dapat termanfaatkan dengan baik.
USAHA JANGKA PENDEK
- Mengatasi derating daya (penurunan kemampuan daya) mesin PLTD Telaga - Penambahan kapasitas pembangkit :
o Sistem Telaga
Sewa mesin MFO berdaya 7 MW dioperasikan bulan September 2010 dengan anggaran Rp7,5 Milyar/bulan
IPP PLTM Taludaa berdaya 1 MW dioperasikan bulan Juni 2010 dengan anggaran Rp708 juta/bulan
Perbaikan 1 unit mesin PLTMh Mongango berdaya 600 kW
o Sistem Marisa-Tilamuta:
Sewa Mesin HSD oleh PLN berdaya 2 MW dioperasikan bulan September 2010 dengan anggaran Rp 3 Milyar/bulan
Pinjam Pakai Mesin Diesel HSD berdaya 1 MW oleh Pemda Pohuwato dioperasikan bulan September 2010 dgn anggaran Rp 1,5 Milyar/bulan
- Pengiriman daya 5-10 MW dari PLTU Amurang melalui interkoneksi T/L 150 kV dari Sistem Minahasa ke Sistem, bila Sistem Minahasa tidak mengalami gangguan (Oktober 2010) - Menggeser jadwal pemeliharaan rutin mesin P0-P5 dari siang hari ke malam hari sesuai
kondisi beban, untuk mencegah tidak terjadi pemadaman pada siang hari.
USAHA JANGKA MENENGAH
- Meningkatkan partisipasi swasta (IPP) dalam penyediaan tenaga listrik o PLTU Tenaga Listrik 2x10 MW
o PLTU Gorontalo Energi 2x7 MW
- Pembangunan PLTU Anggrek 2x25 MW (s/d 29 Maret 2010 : sudah tergali 969 titik untuk
persiapan peledakan, menunggu keluarnya izin dari Mabes POLRI)
USAHA JANGKA PANJANG
- Penambahan kapasitas pembangkit melalui proyek 10.000 MW tahap II o PLTP Kotamobagu 1s/d 4, 4x20 MW
o PLTP Lahendong 5&6, 2x20 MW
- Interkoneksi Sistem Gorontalo dengan sistem Palu melalui T/L 150 kV - Pembangunan pembangkit dengan energi primer terbarukan
o PLTP Lombongo 9 MW (Status : Survey Site Investigation / SSI) o PLTP Pentadio 5 MW (Status : Survey Site Investigation / SSI)
22 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 | BANK INDONESIA
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN I-2010 23
BAB 2 :
P
ERKEMBANGAN INFLASI
Faktor fundamental membawa penurunan tekanan inflasi tahunan Provinsi Gorontalo
triwulan I-2010. Inflasi tahunan Gorontalo triwulan I-2010 sebesar 3,59% (y.o.y) lebih rendah
dibandingkan triwulan