• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 4

KEUANGAN DAERAH

BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2010 45

BAB 4 : KEUANGAN DAERAH

Realisasi belanja APBD Provinsi Gorontalo triwulan III-2010 mencapai 60,94%, lebih tinggi dibandingkan realisasi triwulan III-2009 sebesar 57,85%, realisasi pendapatan juga mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada triwulan III-2010 realisasi pendapatan sebesar 78,22%, lebih tinggi dibandingkan realisasi triwulan III-2009 sebesar 74,33%.

4.1 PENDAPATAN DAERAH

Meningkatnya realisasi pendapatan APBD Prov. Gorontalo pada triwulan III-2010

lebih didorong oleh meningkatnya penerimaan pajak daerah khususnya pada

penghimpunan pajak kendaraan bermotor sementara penerimaan dari sisi dana

perimbangan relatif sama.

Secara nominal, realisasi pendapatan triwulan III-2010 sebesar Rp 417,03 Miliar

dengan capaian 78,22% dari anggaran APBD-P 2010, capaian ini meningkat dibandingkan

penghimpunan pajak kendaraan bemotor yang meningkat hampir dua kali lipat dari target

anggaran 2010. Pajak kendaraan bermotor sampai dengan triwulan III-2010 mencapai Rp

(2)

BAB 4 KEUANGAN DAERAH

46 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2010| BANK INDONESIA

meningkatkan share dari self financing anggaran pemerintah sebesar 18,91% lebih baik

dibandingkan triwulan III-2009 sebesar 14,65%

Sementara itu realisasi dana perimbangan relatif secara nominal mengalami penurunan

walaupun secara persentase terhadap target anggaran mengalami peningkatan terkait

menurunnya target anggaran dana perimbangan pada APBD-P 2010 dibandingkan APBD-P

2009. Penerimaan dana perimbangan pada triwulan III-2010 sebesar Rp 322,58 Miliar

menurun dibandingkan triwulan III-2009 sebesar Rp 339,45 Miliar. Penurunan terutama

disebabkan berkurangnya Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Pemerintah Pusat dibandingkan

tahun sebelumnya. Pada triwulan III-2010, realisasi DAK mencapai Rp 8,05 Miliar lebih

rendah dibandingkan realisasi triwulan III-2009 yang mencapai Rp 38,51 Miliar. Komposisi

dana perimbangan masih mendominasi APBD triwulan III-2010 sebesar 77,22% lebih

rendah dibandingkan triwulan III-2009 sebesar 82,79%. Menurunnya komposisi dana dari

pemerintah pusat merupakan sinyal positif bagi kemandirian keuangan daerah yang

diindikasikan meningkatnya komposisi pendapatan asli daerah.

Tabel 4.2

Komposisi Pendapatan APBD Provinsi Gorontalo (dalam %)

4.2 BELANJA DAERAH

Meningkatnya penyerapan anggaran belanja APBD Prov. Gorontalo pada triwulan

III-2010 lebih didorong oleh meningkatnya belanja tidak langsung khususnya pada belanja

pegawai sementara penyerapan anggaran belanja langsung relatif sama.

Penyerapan belanja Provinsi Gorontalo pada triwulan III-2010 lebih tinggi

dibandingkan triwulan III-2009. Pada triwulan laporan, tercatat Rp 346,27 Miliar dana APBD

telah dibelanjakan dengan persentase realisasi mencapai 60,94%, lebih tinggi dibandingkan

triwulan III-2009 dengan pencapaian realisasi sebesar Rp 391,17 Miliar dengan persentase

realisasi mencapai 57,85%. Kondisi tersebut didorong oleh meningkatnya Belanja Tidak

(3)

BAB 4

KEUANGAN DAERAH

BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2010 47

sementara pada triwulan III-2009 penyerapan sebesar Rp 145,19 Miliar dengan capaian

62,36%. Sementara disisi penyerapan Belanja Langsung relatif sama dibandingkan tahun

sebelumnya.

Tabel 4.3

Anggaran Induk dan Realisasi Belanja APBD Provinsi Gorontalo

Kualitas APBD Gorontalo triwulan III-2010 lebih diarahkan pada kepentingan

konsumsi sementara tujuan investasi relatif menurun. Komposisi pos belanja modal

menurun secara signifikan dari 27,64% pada triwulan III-2009 menjadi hanya berkisar

13,83% pada triwulan III-2010. Sementara komposisi pos belanja konsumsi meningkat dari

72,36% pada triwulan III-2009 menjadi 86,17% pada triwulan III-2010. Hal ini perlu

mendapat perhatian mengingat kegiatan investasi lebih memberikan multiplier effect bagi

(4)

BAB 4 KEUANGAN DAERAH

48 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2010| BANK INDONESIA 4.3. KONTRIBUSI REALISASI APBD GORONTALO TERHADAP SEKTOR RIIL DAN

UANG BEREDAR

Kinerja fiskal selama tahun 2010 belum menunjukkan perubahan yang signifikan

terhadap stimulan sektor riil. Realisasi anggaran konsumsi pemerintah memberikan pangsa

14,15%, sementara itu belanja modal memberikan pangsa 3,39%.

Tabel 4.5

Stimulus Fiskal APBD terhadap Sektor Riil

Disisi pengaruhnya terhadap uang beredar, realisasi anggaran APBD Gorontalo

sampai dengan akhir triwulan III-2010 menunjukkan kontraksi. Kontraksi terjadi karena

realisasi dari pendapatan APBD lebih besar dibandingkan penyerapan belanja APBD.

Surplus penerimaan mencapai Rp 71,48 Miliar lebih tinggi dibandingkan periode yang sama

tahun sebelumnya sebesar Rp 18,84 Miliar. Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam rapat

(5)

BAB 5

SISTEM PEMBAYARAN

BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2010 49

BAB 5 : SISTEM PEMBAYARAN

Transaksi sistem pembayaran tunai di Gorontalo pada triwulan III-2010 diwarnai oleh net inflow dan peningkatan uang kartal layak edar. Sementara itu, sistem pembayaran non tunai menunjukkan berkembangnya transaksi RTGS.

5.1 PERKEMBANGAN TRANSAKSI PEMBAYARAN TUNAI

5.1.1 ALIRAN UANG KARTAL (INFLOW/OUTFLOW)

Kegiatan kas titipan di Gorontalo sepanjang triwulan III-2010 mengalami net inflow

sebesar Rp73,59 miliar. Aliran uang kartal yang masuk ke dalam khasanah kas titipan lebih

besar dibandingkan dengan aliran uang kartal yang keluar dari khasanah kas titipan.

Sumber: Bank Indonesia

Grafik 5.1 Netflow Kas Titipan Gorontalo Grafik 5.2 Perkembangan Netflow Bulanan

Kondisi net inflow pada triwulan laporan disebabkan karena uang yang beredar untuk

kegiatan transaksi pada bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri telah kembali masuk ke

kasanah kas titipan. Secara bulanan, pada Agustus 2010 aliran uang tercatat net outflow

sebesar Rp38,50 miliar yang disebabkan karena maraknya transaksi masyarakat terkait

bulan Ramadhan dan perayaan Hari Raya Idul Fitri, sementara pada September 2010 aliran

uang tercatat net inflow sebesar Rp93,47 miliar yang disebabkan kembalinya uang yang

telah ditarik masyarakat ke perbankan.

5.1.2 PENYEDIAAN UANG KARTAL LAYAK EDAR

Uang layak edar yang tersedia pada kas titipan Gorontalo pada triwulan III-2010

sebesar Rp129,91 miliar lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp56,30

miliar. Adapun rincian uang layak edar dimaksud sebesar Rp129,89 miliar untuk uang kertas

dan Rp19 juta untuk uang logam. Sementara itu, uang lusuh yang terdapat pada kas titipan

sebesar Rp42,68 miliar. Pecahan uang kertas sebesar Rp1000,- merupakan pecahan yang

(6)

BAB 5

Pada triwulan-III 2010 tidak teridentifikasi tambahan uang palsu dibandingkan

triwulan II-2010. Sehingga uang palsu yang telah teridentifikasi hingga triwulan III-2010

sebanyak 20 lembar lebih tinggi dibandingkan tahun 2009 yang hanya teridentifikasi

(7)

BAB 5

SISTEM PEMBAYARAN

BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2010 51

5.2 PERKEMBANGAN TRANSAKSI PEMBAYARAN NON TUNAI

5.2.1 KLIRING NON BI DI GORONTALO

Jumlah nominal perputaran warkat kliring non BI di Gorontalo pada triwulan laporan

sebesar Rp261,00 miliar dengan pertumbuhan sebesar -15,23% (qtq) lebih rendah

dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,51% (qtq). Adapun jumlah warkat sebanyak

11.123 lembar dengan pertumbuhan sebesar -13.26% (qtq). Sementara itu, rata-rata harian

nominal kliring Non BI di Gorontalo pada triwulan III-2010 sebesar Rp3,96 miliar atau

tumbuh -20,29% (qtq). Sedangkan rata-rata harian jumlah warkat sebanyak 169 lembar atau

tumbuh sebesar -18,69% (qtq).

Sumber: Bank Indonesia

Grafik 5.3 Perputaran Kliring di Gorontalo Grafik 5.4 Rata-Rata Perputaran Kliring Per Hari

Rasio jumlah nominal Cek/BG kosong per hari terhadap total keseluruhan nominal

warkat yang dikliringkan tercatat mengalami kenaikan dari 0,35% pada triwulan II-2010

menjadi 0,59% pada triwulan III-2010. Sementara itu, jumlah rasio warkat Cek/BG kosong

per hari terhadap total keseluruhan warkat yang dikliringkan juga mengalami kenaikan

dari 0,47% pada triwulan II-2010 menjadi 0,59% pada triwulan III-2010.

Sumber : Bank Indonesia

(8)

BAB 5 SISTEM PEMBAYARAN

52 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2010| BANK INDONESIA 5.2.2 REAL TIME GROSS SETTLEMENT (RTGS)

Transaksi RTGS mendominasi dalam sistem pembayaran non tunai di Gorontalo.

Hal ini disebabkan karena BI RTGS mempunyai keunggulan mempercepat penyelesaian

transaksi (seketika) dan memperkecil risiko penyelesaian transaksi. Perkembangan

penyelesaian transaksi RTGS rata-rata per bulan (dari dan ke Gorontalo) selama triwulan

III-2010 secara nominal sebesar Rp587 miliar atau tumbuh secara triwulanan sebesar 31.08%

(qtq) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,48% (qtq). Sementara itu,

secara volume penyelesaian transaksi RTGS rata-rata per bulan selama triwulan III-2010

tercatat sebanyak 1.423 transaksi atau tumbuh secara triwulanan sebesar 48,47% (qtq)

lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 30,97% (qtq). Perkembangan

transaksi RTGS menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Provinsi Gorontalo pada triwulan

III-2010 lebih tinggi terkait dengan pelaksanaan Ibadah Ramadhan dan perayaan Hari Raya

(9)

BAB 6

KESEJAHTERAAN

BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2010 53

BAB 6 : KESEJAHTERAAN

Tingkat kesejahteraan masyarakat di Provinsi Gorontalo meningkat yang ditandai oleh tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan yang menurun. Kondisi diperkirakan sebagai dampak dari mulai membaiknya kinerja sektor pertanian sebagai sektor terbesar penyerap tenaga kerja di Gorontalo.

6.1. PENGANGGURAN

Jumlah angkatan kerja (berusia 15 tahun ke atas) di Gorontalo relatif meningkat dari

tahun ke tahun. Pada bulan Februari 2010, jumlah angkatan-kerja mencapai 484.834 atau

meningkat 8,39% dibandingkan kondisi Agustus 2009. Sementara itu jumlah penduduk yang

Apabila dilihat berdasarkan lapangan usaha penduduk yang bekerja, sektor

pertanian merupakan lapangan usaha yang paling banyak digeluti penduduk Provinsi

Gorontalo yaitu 194.987 orang (Februari 2010) atau 42,36 % dari total penduduk yang

bekerja. Jumlah tersebut tumbuh 13,28% jika dibandingkan dengan tahun lalu. Sektor

lainnya dengan pangsa pasar jumlah tenaga kerja yang cukup besar adalah sektor jasa

perdagangangan (18,93%) dan sektor jasa kemasyarakatan sebesar 17,52%. Kedua sektor

ini mengalami pertumbuhan jumlah tenaga kerja masing-masing sebesar 25,72% dan

11,96% dibandingkan bulan Agustus 2009. Sementara sektor industri merupakan sektor

(10)

BAB 6 KESEJAHTERAAN

54 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2010| BANK INDONESIA Tabel 6.2.

Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Yang Bekerja

Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Februari 2008-Agustus 2009

Sumber: Berita Resmi Statistik, BPS Provinsi Gorontalo

6.2. KEMISKINAN

Persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan pada tahun 2010

(data bulan Maret) di Provinsi Gorontalo sebesar 23,19% atau mengalami penurunan

dibandingkan periode Maret 2009 yang tercatat sebesar 25,01%. Kemiskinan Gorontalo

masih yang tertinggi di Sulawesi serta masih jauh di atas persentase nasional yang berada

di tingkatan 14,15%. Sementara itu garis kemiskinan di Provinsi Gorontalo pada bulan Maret

2010 sebesar Rp171.371 per kapita per bulan atau mengalami kenaikan sebesar Rp 9.182

perkapita per bulan dibandingkan dengan bulan Maret 2007 yang tercatat sebesar

Rp162.189 perkapita per bulan.

Tabel 6.3.

Persentase Penduduk Miskin Provinsi Gorontalo (%)

Sumber : BPS Provinsi Gorontalo, Sakernas

Februari Agustus Februari Agustus Februari

Pertanian 213,275 184,148 208,636 172,130 194,987

Industri 28,340 34,268 32,462 32,431 41,393

Perdagangan 45,195 59,610 71,911 69,315 87,167

Angkutan 26,177 32,214 31,227 35,301 25,350

Jasa Kemasyarakatan 59,540 63,720 72,325 72,051 80,668

Lainnya 21,040 31,166 22,899 39,734 30,790

Total 393,567 405,126 439,460 420,962 460,355

2010 2009

(11)

BAB 6

KESEJAHTERAAN

BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2010 55

Jika dilihat berdasarkan sebarannya di tahun 2010, persentase penduduk miskin di

provinsi Gorontalo terbesar berada di wilayah pedesaaan. Persentase penduduk miskin

pedesaan sebesar 30,18% sementara di perkotaan sebesar 6,29% Untuk mengatasi

permasalahan kemiskinan diperlukan manajemen sumber daya lokal, penerimaan fiskal

yang berpihak pada masyarakat miskin, dan juga alokasi anggaran pendidikan dan

kesehatan yang proporsional dan berkeadilan.

6.3. RASIO GINI

Perkembangan angka rasio gini Gorontalo dalam 3 (tiga) tahun terakhir mengalami

peningkatan. Pada Tahun 2007 indeks gini tercatat 0,39 mengalami kenaikan dibandingkan

indeks gini tahun 2005 lalu yang tercatat sebesar 0,36. Kondisi ini menunjukkan

kesenjangan pendapatan antara lapisan penduduk semakin meningkat. Namun demikian

berdasarkan strukturnya, persentase pendapatan yang dinikmati oleh 20% penduduk

berpenghasilan tertinggi menjadi semakin meningkat dari 44,38% menjadi 47,67%.

Fenomena yang menarik adalah terjadinya shifting dari sebagian penduduk di kelompok

(12)

BAB 6 KESEJAHTERAAN

56 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2010| BANK INDONESIA

(13)

BAB 7

OUTLOOK EKONOMI

BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN II-2010 57

BAB 7 : OUTLOOK EKONOMI

Perekonomian Gorontalo pada triwulan IV-2010 diperkirakan tumbuh seiring percepatan realisasi anggaran Pemerintah Daerah. Sementara itu kegiatan konsumsi swasta akan tetap tumbuh walaupun dengan besaran yang lebih rendah dibandingkan triwulan III-2010. Disisi sektoral kegiatan konstruksi dan perdagangan diperkirakan meningkat sementara sektor pertanian akan mengalami penurunan terkait curah hujan yang semakin tinggi dan berpotensi menimbulkan banjir.

7.1 OUTLOOK MAKROEKONOMI REGIONAL

Perekonomian Gorontalo pada triwulan IV-2010 diperkirakan tumbuh 7,1 – 7,6 %

(y.o.y) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan III-2010 (5,71 % y.o.y). Pemerintah

Daerah diperkirakan akan merealisasikan percepatan belanja modal maupun non modal.

Target penyelesaian proyek infrastruktur sebelum tahun anggaran berakhir diharapkan

memberikan dorongan positif bagi perkembangan sektor konstruksi, pertambangan dan sub

sektor jasa pemerintahan umum.

Sementara itu efek lonjakan konsumsi swasta pada triwulan III-2010 terkait lebaran

diperkirakan telah berangsur-angsur normal. Hal ini tercermin dari hasil liason yang telah

dilaksanakan pada awal bulan Oktober terhadap beberapa pelaku usaha retail di Kwandang,

Marisa dan kota Gorontalo yang mengkonfirmasi bahwa angka penjualan komoditas

kebutuhan harian masyarakat telah berangsur normal.

Grafik 7.1 Grafik 7.2

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo SKDU Triwulan III-2010

Hasil survei kegiatan dunia usaha menunjukkan bahwa tingkat ekspektasi pelaku

usaha terhadap kondisi dunia usaha pada triwulan IV akan menunjukkan peningkatan. Hal

ini ditunjukkan oleh nilai SBT yang meningkat di level 15,90. Optimisme ini dibangun bahwa

diakhir tahun pemerintah akan melakukan percepatan realisasi anggaran sehingga

(14)

BAB 7 OUTLOOK EKONOMI

58 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN II-2010| BANK INDONESIA 7.2 OUTLOOK INFLASI

Grafik 7.3

Proyeksi Inflasi Tahunan (yoy) Provinsi Gorontalo (%)

Inflasi Gorontalo pada akhir tahun diperkirakan pada kisaran 7 ± 1% didukung oleh

meredanya permintaan masyarakat yang telah melewati masa puncaknya pada saat

perayaan Idul Fitri. Namun, diperkirakan tekanan inflasi Gorontalo akan terus berlangsung

hingga akhir tahun 2010 terkait dengan potensi kenaikan permintaan masyarakat karena

adanya perayaan Hari Raya Idul Adha, Natal, dan Tahun Baru walaupun tidak setinggi saat

Idul Fitri. Tekanan administered price turut berkontribusi dalam memberi tekanan inflasi

kedepan seiring dengan diberlakukannya kebijakan kenaikan harga TDL, sementara

imported inflation turut meningkat sejalan dengan tren kenaikan harga-harga internasional

dan nasional seperti emas, tepung terigu, dan minyak goreng. Meningkatnya tekanan inflasi

Gorontalo juga didukung oleh pergeseran kondisi cuaca yaitu musim hujan yang

berkepanjangan sehingga mengurangi produktivitas tanaman bahan makanan dan

perikanan.

Sumber: Survei Konsumen Provinsi Gorontalo

Grafik7.4

(15)

BAB 7

OUTLOOK EKONOMI

BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN II-2010 59

7.3 PROSPEK PERBANKAN

Penghimpunan dana pihak ketiga melalui tabungan pada triwulan IV-2010

diperkirakan mengalami peningkatan seiring dengan telah kembalinya dana masyarakat ke

perbankan pasca Ramadhan-Idul Fitri. Sementara itu, pada triwulan IV-2010 perbankan juga

akan menggiatkan penghimpunan dana pihak ketiga melalui program Gerakan Sekolah

Menabung (GSM) yang dicanangkan pada November 2010. GSM merupakan program

perbankan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran menabung masyarakat

khususnya di kalangan pelajar. Hasil Survei Konsumen (SK) mengkonfirmasi peningkatan

tabungan pada triwulan depan melalui Indeks Ekspektasi Tabungan Dalam 6 Bulan Yang

Akan Datang yang menunjukkan tren kenaikan.

Sumber: Survei Konsumen, Bank Indonesia Gorontalo

Grafik 7.5

(16)
(17)
(18)
(19)
(20)

DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN

Inflasi Kecenderungan kenaikan harga barang dan jasa secara

umum dan bersifat persisten. Perubahan (laju) inflasi

umumnya diukur dengan melihat perubahan harga pada

sejumlah barang dan jasa yang dikonsumsi oleh

masyarakat, seperti tercermin pada perkembangan indeks

harga konsumen (IHK). Berdasarkan faktor penyebabnya,

inflasi dapat dipengaruhi baik dari penawaran maupun dari

permintaan.

Food Inflation Inflasi yang disebabkan oleh perubahan harga dari jenis

barang-barang makanan.

Administered Inflation Inflasi yang disebabkan oleh perubahan harga sekelompok

barang yang harganya diatur/ dikendalikan oleh pemerintah,

seperti: BBM, Tarif listrik, telpon, dll.

Traded Inflation Inflasi yang diukur berdasarkan perubahan harga kategori

barang yang dapat diperdagangkan secara international.

Inflation Month to Month Perbandingan atau nisbah indeks harga konsumen pada

bulan yang diukur dengan IHK pada bulan sebelumnya

(inflasi bulanan), dan sering disingkat (m-t-m)

Inflasi Year to Date Inflasi kumulatif merupakan inflasi yang mengukur

perbandingan harga (nisba) perubahan harga indeks

konsumen bulan bersangkutan dibandingkan akhir bulan

pada tahun sebelumnya, sehingga merupakan angka total

dan disingkat (y-t-d)

Inflasi Year on Year Atau inflasi tahunan adalah Inflasi yang mengukur

perbandingan harga (nisbah) perubahan harga indeks

konsumen bulan bersangkutan dibandingkan IHK pada

bulan yang sama tahun sebelumnya, atau sering disingkat

(Y-o-Y)

Inflasi Quarter to Quarter Atau inflasi triwulan adalah inflasi yang mengukur

perbandingan harga (nisbah)/perubahan indeks harga

konsumen pada akhir triwulan yang bersangkutan

dibandingkan IHK akhir triwulan sebelumnya, atau sering

(21)

PDB dan PDRB Atau produk domestik bruto, sedangkan untuk skala daerah

(kota/kebupaten) disebut PDRB (produk domestik regional

bruto)

Pertumbuhan Year on

Year

Atau pertumbuhan tahunan adalah pertumbuhan yang

mengukur perbandingan PDRB atas dasar harga konstan

triwulan laporan dibandingkan PDRB atas dasar harga

konstan triwulan yang sama tahun sebelumnya, atau sering

disingkat (Y-o-Y)

Pertumbuhan Melambat Pertumbuhan tahunan masih menunjukkan nilai positif

namun lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya

M1 Disebut sebagai narrow money (uang beredar dalam arti

sempit), terdiri dari uang kartal dan uang giral

M2 Disebut broad money atau uang beredar dalam arti luas,

merupakan indicator tingkat likuiditas perekonomian, terdiri

dari uang kartal, uang giral dan uang kuasi (tabungan dan

deposito baik dalam mata uang rupiah maupun asing).

Mo Disebut uang primer (base money) merupakan kewajiban

otoritas moneter (di dalam neraca bank sentral), terdiri dari

uang kartal pada bank umum dan masyarakat ditambah

dengan saldo giro bank umum dan masyarakat dibank

sentral.

Uang Kartal Uang kertas dan uang logam yang berlaku, tidak termasuk

uang kas pada kas negara (KPKN) dan bank umum.

Uang Giral Terdiri dari rekening giro masyarakat masyarakat dibank,

kiriman uang, simpanan berjangka dan tabungan yang

sudah jatuh tempo yang seluruhnya merupakan simpanann

penduduk dalam rupiah pada sistem moneter.

NIM Singkatan dari Net Interest Margin adalah selisih antara

pendapatan bunga yang diperoleh oleh bank dengan biaya

bunga yang harus dibayar.

NPLs Singkatan dari non performing loan disebut juga kredit

bermasalah, dengan kolektibiltas kurang lancar (3),

(22)

Restrukturisasi kredit Upaya yang dilakukan bank dalam kegiatan usaha

perkreditan agar debitur dapat memenuhi kewajibannya

yang dilakukan antara lain dengan melalui : restrukturisasi,

re-scheduling atau konversi kepemilikan.

UMKM Singkatan dari Sektor Usaha Mikri, Kecil Menengah yang

mempunyai skala pinjaman antara Rp50 Juta s/d Rp 5

Milyar.

UYD Singkatan dari uang yang diedarkan, adalah uang

kartalyang berada dimasyarakat ditambah dengan uang

yang berada di kas bank.

Inflow Uang kartal yang masuk ke BI, melalui kegiatan setoran

yang dilakukan oleh bank umum.

Outflow Uang kartal yang keluar dari BI melaui proses penarikan

uang tunai bank umum dari giro di BI atau pembayaran

tunai melalui BI.

Netflow Selisih antara outflow and inflow.

PTTB Pemberian tanda tidak berharga, adalah bagian dari

kegiatan untuk menarik uang yang sudah tidak layak edar,

sehingga uang yang disediakan oleh BI tersebut dapat

berada dalm kondisi layak dan segar (fit for circulation)

Gambar

Tabel 4.1 Anggaran Induk dan Realisasi Pendapatan APBD Provinsi Gorontalo
Tabel 4.2
Tabel 4.3 Anggaran Induk dan Realisasi Belanja APBD Provinsi Gorontalo
Tabel 4.5 Stimulus Fiskal APBD terhadap Sektor Riil
+7

Referensi

Dokumen terkait

Uang palsu yang ditemukan perbankan Jawa Timur pada triwulan III-2008 tercatat sebanyak 3.778 lembar, lebih tinggi dibandingkan pada triwulan II-2008 yang tercatat sebanyak

Tingkat inflasi di Kota Ternate sebagai representasi tingkat harga di Maluku Utara pada Triwulan III-2009 mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun

meningkat seiring dengan musim lebaran Idul Fitri, kegiatan ekspor meningkat lebih.. 2 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN III-2010| BANK INDONESIA.. didorong

Fungsi intermediasi perbankan di Gorontalo hingga triwulan III-2010 menunjukkan perkembangan yang cukup baik seperti tercermin dari indikator Loan to Deposit Ratio ( LDR ),

Sementara, pertumbuhan konsumsi pemerintah diperkirakan juga terjadi peningkatan seiring dengan masa puncak realisasi belanja APBD unt uk proyek- proyek pembangunan

Kinerja BPR selama triwulan III-2009 secara umum jika dibandingkan baik dengan periode yang sama tahun lalu dan triwulan sebelumnya mengalami peningkatan tercermin

Seiring dengan berangsur membaiknya permintaan domestik dan kondisi ekonomi global, pertumbuhan PDB pada triwulan III-2009 diprakirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan

Pada triwulan III 2008 terjadi outflow sebesar Rp1,52 triliun atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan triwulan II 2008 yang tercatat sebesar Rp791 miliar. Sementara itu