Kajian Ekonomi Regional
Provinsi Gorontalo
Triwulan III 2009
Visi Bank Indonesia :
Me jadi le aga Ba k Se tral ya g dapat diper aya se ara asio al aupu i ter asio al elalui penguatan nilai- ilai ya g di iliki serta pe apaia i flasi ya g re dah da sta il
Misi Bank Indonesia :
Me apai da e elihara kesta ila ilai rupiah elalui pe eliharaa kesta ila o eter da pengembangan stabilitas sistem keuangan untuk pembangunan jangka panjang Negara Indonesia ya g erkesi a u ga
Tugas Bank Indonesia :
1. Menentapkan dan melaksanakan kebijakan moneter 2. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran 3. Mengatur dan mengawasi bank.
Kritik, saran dan komentar dapat disampaikan kepada
Redaksi :
Kelompok Kajian dan Survey Bank Indonesia Gorontalo
Jl. D.I. Panjaitan No 35 Gorontalo – 96115 Telp : +62 435 824444
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah-Nya sehingga
penyusunan Kajian Ekonomi Regional (KER) Provinsi Gorontalo dapat diselesaikan dengan
baik.
Kajian periode triwulan III-2009 ini merupakan pengejawantahan dari peranan KBI
Gorontalo sebagai eco o ic i tellige t a d research u it yang diharapkan mampu
memberikan informasi ekonomi dan keuangan daerah yang akurat, menyeluruh, dan terkini
sebagai bahan masukan pemangku kepentingan di daerah dan di pusat.
Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan informasi yang
amat bermanfaat bagi penyusunan kajian ini. Di sisi lain, kami juga menyadari bahwa di usia
yang masih sangat muda ini, KBI Gorontalo dari sisi produk dan peran masih jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu, kami mengharapkan saran, masukan dan kerjasama dari berbagai
pihak untuk meningkatkan kualitas produk dan peranan kami di masa yang akan datang.
Akhir kata, kiranya kajian ini dapat memberikan manfaat yang optimal bagi pengembangan
perekonomian Provinsi Gorontalo.
Gorontalo, 4 November 2009
BANK INDONESIA GORONTALO
Benny Siswanto
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI
RINGKASAN EKSEKUTIF 1
BAB 1. PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL
1.1. Sisi Permintaan 8
1.1.1. Konsumsi 9
1.1.2. Investasi 12
1.1.3. Ekspor-Impor 12
1.2.Sisi Penawaran 13
1.2.1. Sektor Pertanian 14
1.2.2. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 15
1.2.3. Sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran 16
1.2.4. Sektor Bangunan 17
1.2.5. Sektor Industri Pengolahan 18
1.2.6. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa 18
1.2.7. Sektor Lainnya 19
1.3.Box KER I 20
BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
2.1. Inflasi Gorontalo Triwulan III-2009 23
2.2. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang/Jasa 25
2.2.1. Inflasi Tahunan (yoy) 25
2.2.2. Inflasi Triwulanan (qtq) 26
2.3. Box KER II 28
BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH
3.1. Fungsi Intermediasi 29
3.1.1. Perkembangan Bank 29
3.1.2. Respon Perbankan Gorontalo Terhadap Kebijakan Moneter 29
3.1.3. Penyerapan Dana Masyarakat 30
3.1.4. Penyaluran Kredit 31
3.2. Stabilitas Perbankan 33
3.2.1. Risiko Kredit 33
3.2.2. Risiko Likuiditas 34
3.2.3. Risiko Pasar 36
3.3. Box KER III 37
BAB 4 PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH
4.1. Pendapatan Daerah 38
4.2. Belanja Daerah 39
4.3. Kontribusi Realisasi APBD Gorontalo terhadap Sektor Riil dan Uang Beredar 43
BAB 5 PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN
5.1. Perkembangan Aliran Uang Kartal 42
BAB 6 KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
6.1. Pengangguran 44
6.2. Kemiskinan 45
6.3 Rasio Gini 46
6.4 IPM 46
BAB 7 PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
7.1. Outlook Makro Ekonomi Regional 48
7.2. Outlook Inflasi 49
7.3 Prospek Perbankan 50
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo 8
Tabel 1.2 Pertumbuhan Ekonomi Sisi Permintaan 9
Tabel 1.3 Perkembangan Negara Tujuan Ekspor Luar Negeri 12
Tabel 1.4 Perkembangan Ekspor Luar Negeri Gorontalo 13
Tabel 1.5 Pertumubuhan Ekonomi Sisi Penawaran 13
Tabel 2.1 Inflasi Kelompok Barang dan Jasa (yoy) 25
Tabel 2.2 Inflasi Sub Kelompok Bahan Makanan (yoy) 25
Tabel 2.3 Inflasi Sub Kelompok Transpor, Komunikasi, Jasa Keuangan (yoy) 26
Tabel 2.4 Inflasi Sub Kelompok Barang dan Jasa (qtq) 37
Tabel 4.1 Anggaran Induk dan Realisasi Pendapatan APBD Provinsi Gorontalo 38 Tabel 4.2 Komposisi Pendapatan APBD Provinsi Gorontalo dalam (%) 39 Tabel 4.3 Anggaran Induk dan Realisasi Belanja APBD Provinsi Gorontalo 39
Tabel 4.4 Komposisi Belanja APBD Provinsi Gorontalo 40
Tabel 4.5 Stimulus Fiskal APBD terhadap sektor Riil 40
Tabel 4.7 Dampak APBD terhadap Uang Beredar 41
Tabel 6.1 Penduduk Usia 15 Tahun ke atas Menurut Kegiatan 44
Tabel 6.2 Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Yang Bekerja 45
Tabel 6.3 Persentase Penduduk Miskin Provinsi Gorontalo (%) 45 Tabel 6.4 Persentase Jumlah Penduduk Miskin Menurut Kab/Kodya tahun 2007 46
Tabel 6.5 Rasio Gini Provinsi Gorontalo 47
Tabel 6.6 IPM Provinsi Gorontalo 47
Tabel 6.6 Indeks Pembangunan Manusia per Kab/Kodya Tahun 2006-2007 47
Tabel 7.1 Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Sisi Permintaan 48
DAFTAR GRAFIK
Grafik 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo 8
Grafik 1.2 Perkembangan Deposito & Tabungan 10
Grafik 1.3 Index Nilai Tukar Petani 10
Grafik 1.4 Konsumsi Listrik Rumah Tangga 10
Grafik 1.5 Konsumsi BBM Rumah Tangga 10
Grafik 1.6 Impor Barang Konsumsi 10
Grafik 1.7 Index Keyakinan Konsumen 11
Grafik 1.8 Realisasi Belanja Non Modal 11
Grafik 1.9 Realisasi Semen 12
Grafik 1.10 Perkembangan Belanja Non Modal 12
Grafik 1.11 Muat Barang di Pelabuhan Gorontalo 12
Grafik 1.12 Volume Ekspor 12
Grafik 1.13 Luas Lahan Panen & Produktivitas Jagung 14
Grafik 1.14 Perkembangan Produksi Jagung 14
Grafik 1.15 Luas Lahan Panen & Produktivitas Padi 15
Grafik 1.16 Perkembangan Produksi Padi 15
Grafik 1.17 Luas Lahan Panen & Produktivitas Kedelai 15
Grafik 1.18 Perkembangan Produksi Kedelai 15
Grafik 1.19 Perkembangan Penumpang Pesawat 15
Grafik 1.20 Perkembangan Penumpang Kapal Laut 15
Grafik 1.21 Konssmsi Premium untuk Transportasi 16
Grafik 1.22 Jumlah Penerbangan Pesawat 16
Grafik 1.23 Perkembangan Kredit Perdagangan 16
Grafik 1.24 Konsumsi Listrik Bisnis 16
Grafik 1.25 Tingkat Penghunian Hotel 17
Grafik 1.26 Realisasi Belanja Modal APBD 17
Grafik 1.27 Realisasi Penjualan Semen 17
Grafik 1.28 Penggunaan BBM Industri 18
Grafik 1.29 Volume Barang Industri 18
Grafik 1.30 NIM Perbankan 18
Grafik 2.1 Perkembangan Inflasi Nasional dan Gorontalo 23
Grafik 2.2 Perkembangan Inflasi Tahunan Provinsi Gorontalo 24 Grafik 2.3 Survey Pemantauan Harga Mingguan Komoditas Ayam (Rp/Kg) 27 Grafik 2.4 Survey Pemantauan Harga Mingguan Komoditas Cabai dan Bawang (Rp/Kg) 27
Grafik 3.1 Rata-rata suku bunga Deposito Perbankan Gorontalo 30 Grafik 3.2 Rata-rata suku bunga kredit Perbankan Gorontalo 30
Grafik 3.3 Pertumbuhan DPK (yoy) 31
Grafik 3.4 Komposisi DPK 31
Grafik 3.5 Pertumbuhan Kredit berdasarkan jenis penggunaan (yoy) 31
Grafik 3.6 Komposisi berdasarkan jenis pengunaaan 31
Grafik 3.8 Komposisi Kredit sektor produktif 32
Grafik 3.9 Pertumbuhan Kredit UMKM 33
Grafik 3.10 Komposisi Kredit UMKM 33
Grafik 3.11 Non Performing Loan 33
Grafik 3.12 NPL Kredit Penggunaan (%) 34
Grafik 3.13 NPL Kredit Sektoral (%) 34
Grafik 3.14 Pertumbuhan Jenis DPK 35
Grafik 3.15 Simpanan Berdasarkan Nasabah 35
Grafik 3.16 Posisi LDR Perbankan Gorontalo 35
Grafik 3.17 Perkembangan Kurs USD dan BI Rate 36
Grafik 5.1 Netflow Kas Titipan Gorontalo 42
Grafik 5.2 Perkembangan Netflow 42
Grafik 5.3 Perputaran Kliring di Gorontalo 43
Grafik 5.4 Rata-rata Perputaran Kliring Per Hari 43
Grafik 5.5 Rasio Warkat dan Nominal Cek/BG Kosong Kliring Non BI Gorontalo 43
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 1
RINGKASAN
EKSEKUTIF
PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL
Perekonomian Gorontalo pada triwulan III-2009 melambat 7.60% (y.o.y).
Pada triwulan III-2009, perekonomian Gorontalo diperkirakan melambat 7.60% (yoy) dibandingkan triwulan III-2008 sebesar 9.00% (yoy). Angka pertumbuhan dimaksud masih sesuai dalam
range proyeksi Bank Indonesia Gorontalo pada triwulan lalu.
Di sisi permintaan, perlambatan ekonomi Gorontalo didorong oleh melemahnya kinerja ekspor dan konsumsi pemerintah
Disisi permintaan, melambatnya kinerja ekspor ditunjukkan oleh nilai realisasi ekspor antar pulau yang menurun secara signifikan. Menurunnya produksi pertanian berdampak langsung pada kinerja ekspor secara keseluruhan, sementara realisasi belanja non modal tidak secerah triwulan III-2008. Melambatnya sisi permintaan sedikit diredam oleh membaiknya kinerja investasi daerah. Upaya pemerintah meningkatkan anggaran belanja modal merupakan langkah yang tepat untuk mendorong kinerja ekonomi lebih baik. Sementara itu, musim lebaran cukup memberikan pengaruh positif bagi konsumsi masyarakat selama triwulan III-2009.
Di sisi penawaran, perlambatan didorong oleh menurunnya kinerja sektor pertanian dan sektor jasa-jasa lainnya
Disisi sektoral, kinerja sektor pertanian masih dilanda pesimisme. Musim kering berkepanjangan menurunkan kinerja pertanian selama triwulan III-2009. Melambatnya kinerja sektor tersebut memberikan tekanan yang cukup signifikan bagi pertumbuhan ekonomi secara total mengingat kontribusi sektor pertanian sebesar 30% terhadap PDRB. Disisi lain, kinerja empat sektor unggulan lainnya diperkirakan mampu sedikit meredam perlambatan yang terjadi. Sektor perdagangan dan angkutan menunjukkan perkembangan yang positif selama musim lebaran demikian juga kinerja sektor bangunan menunjukkan optimisme. Seiring pertumbuhan ekonomi daerah, kegiatan konstruksi khususnya di wilayah kota Gorontalo menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Proyek pembangunan Gorontalo Business Center dan Pelabuhan Dermaga III masuk dalam tahap penyelesaian sementara pembangunan Gorontalo Business Park (mall) masih terus berlangsung hingga saat ini.
PERKEMBANGAN INFLASI
Inflasi triwulan III-2009 sebesar 3,97% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan III-2008 sebesar 12,26% (yoy)
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 2
Sementara itu, inflasi triwulan III-2009 naik sebesar 0,83% (qtq) dibandingkan triwulan II-2009 sebesar 0,59% (qtq). Penurunan inflasi tahunan sejalan dengan inflasi nasional serta didukung oleh kecukupan pasokan barang kebutuhan pokok dan minimnya tekanan harga dari kelompok barang-barang yang diatur Pemerintah (administered price). Sementara itu, kenaikan inflasi triwulanan didorong tingginya permintaan barang dan jasa terkait ibadah puasa dan perayaan hari besar Idul Fitri.
Tendensi Penurunan inflasi selama triwulan III-2009 disebabkan oleh minimnya shock inflasi kebijakan.
Kecenderungan adanya oligopoly pada tata niaga beras serta gangguan pada distribusi barang menjadi permasalahan utama persistensi inflasi Gorontalo
Tanda-tanda tren penurunan inflasi Gorontalo mulai muncul sejak kebijakan penurunan harga BBM pada akhir tahun 2008. Menurunnya harga komoditas minyak internasional mengurangi beban Pos Subsidi BBM dalam APBN, sehingga kebijakan penurunan BBM secara nasional dapat dilakukan demi menciptakan situasi ekonomi dan bisnis yang kondusif. Tendensi penurunan tren inflasi Gorontalo kemudian diperkuat dengan adanya musim panen sehingga pasokan kebutuhan masyarakat terutama untuk komoditas pertanian terjaga.
Walaupun mengalami tren penurunan, permasalahan persistensi inflasi masih muncul tercermin dari nilai inflasi tahunan Gorontalo yang terus berada di atas inflasi nasional selama tahun 2009. Kecenderungan adanya gangguan pada tata niaga beras serta terhambatnya distribusi barang menjadi permasalahan utama persistensi inflasi Gorontalo. Tata niaga beras di Provinsi Gorontalo dikuasai oleh beberapa pengijon besar yang berperan sebagai petani, pengumpul, dan distributor sekaligus. Hal ini memberi dampak kepada perilaku pembentukan harga beras di Provinsi Gorontalo yang seringkali tidak patuh pada mekanisme pasar. Sementara itu, distribusi barang dan jasa seringkali terganggu karena terjadi penumpukan antrian kapal di Pelabuhan Gorontalo. Padahal terdapat alternatif Pelabuhan Anggrek namun kurang diminati oleh pedagang karena jaraknya yang lebih jauh.
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH
Pada triwulan III-2009 kinerja perbankan di Provinsi Gorontalo menunjukkan perkembangan yang menurun, diikuti dengan stabilitas sistem
indikator-Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 3 perbankan yang relatif
terkendali
indikator risiko kredit dan risiko pasar yang relatif terkendali. Namun, potensi peningkatan risiko kredit patut mendapat perhatian karena nilai NPL menunjukkan trend kenaikan. Sedangkan risiko likuiditas perlu diwaspadai karena LDR sudah berada pada taraf tidak wajar yang mencapai angka 130% sehingga dapat mengancam ketersediaan likuiditas perbankan.
Pada triwulan laporan, suku bunga deposito dan suku bunga kredit merespon dengan cukup signifikan terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia
Pada triwulan laporan, kebijakan BI-rate untuk menurunkan suku bunga perbankan sudah mulai direspon oleh perbankan di Gorontalo. Berbagai kebijakan yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam usaha menggerakkan sektor rill mulai membuahkan hasil. Kebijakan ekspansif yang dilakukan melalui penurunan BI-rate, pengaturan Giro Wajib Minimum (GWM), dan moral suasion mulai direspon dengan baik oleh perbankan. Rata-rata suku bunga deposito 1 bulan dan 3 bulan turun mencapai kisaran 125 bps dibandingkan awal tahun 2009, sementara suku bunga giro dan tabungan relatif tidak beranjak. Suku bunga kredit konsumsi merespon dengan penurunan yang cukup dalam sebesar 300 bps. Pada awal tahun 2009 rata-rata suku bunga kredit konsumsi berkisar 14% kemudian turun hingga kisaran 11% pada triwulan-III 2009. Sementara itu, rata-rata suku bunga kredit modal kerja dan kredit investasi turun sebesar 150 bps, pada awal tahun 2009 berkisar 16,5% menjadi 15% pada triwulan-III 2009.
Pada posisi akhir triwulan III-2009 dana
yang dihimpun meningkat menunjukkan peningkatan
Pada posisi akhir triwulan III-2009 dana yang dihimpun tercatat sebesar Rp1,87 triliun, meningkat 14,96% (yoy) lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 9.65% (yoy). Pertumbuhan tertinggi terjadi pada simpanan giro sebesar 29,08% (yoy), diikuti oleh tabungan sebesar 15,17% (yoy) dan deposito sebesar 8,51% (yoy). Dari komposisinya, tabungan memiliki pangsa tertinggi (53.19%), diikuti deposito (30.91%) dan giro (15.90%). Tingginya pertumbuhan giro didorong oleh pertumbuhan giro swasta sebesar 61,73% (yoy) jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar -3.5% (yoy). Pertumbuhan giro swasta ini sejalan dengan kinerja sektor perdagangan, hotel dan restoran yang mengalami perbaikan.
Pertumbuhan kredit mengalami perlambatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 4
mencapai 37.30% (yoy) namun masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 44.83% (yoy). Kredit modal kerja tumbuh sebesar 22,59% (yoy) lebih lambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 33.19% (yoy). Sementara itu berdasarkan sektoral, kredit sektor perdagangan, hotel, dan restoran mengalami perbaikan yaitu tumbuh sebesar 27,98% (yoy) lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 25,40% (yoy).
Stabilitas sistem perbankan di Gorontalo relatif terkendali dilihat dari aspek risiko kredit dan risiko pasar, namun risiko likiuiditas patut menjadi catatan
Selama triwulan laporan, stabilitas sistem perbankan di Gorontalo meliputi aspek risiko kredit dan risiko pasar relatif terkendali, namun risiko likuiditas perlu mendapat perhatian.
Non performing loans (NPLs) relatif terjaga berada pada nilai dibawah batas ketentuan BI, namun kecenderungan peningkatan NPL dibandingkan triwulan sebelumnya menunjukkan terdapat potensi risiko kredit. Sementara itu, aspek penyerapan dana masyarakat perlu menjadi perhatian karena Loan Deposit Ratio
(LDR) berada di a a g tidak wajar e apai le ih dari 3 % sehingga dapat mengancam ketersediaan likuiditas perbankan.
PERKEMBANGAN KEUANGAN DAERAH
Realisasi belanja APBD Provinsi Gorontalo triwulan III-2009 sebesar 57.85%, hampir sama dibandingkan realisasi triwulan III-2008 sebesar 56.12%.
Pengaruh realisasi fiskal pemerintah provinsi terhadap uang beredar selama triwulan III-2008 cenderung kontraktif.
Realisasi belanja terhadap target APBD Pemerintah Provinsi Gorontalo triwulan III-2009 hampir sama dibandingkan triwulan III-2008. Peningkatan terjadi disisi realisasi belanja modal, sementara realisasi belanja pegawai dan belanja barang/jasa lebih rendah dibandingkan periode lalu. Upaya positif pemerintah provinsi untuk mendorong kinerja investasi daerah selama triwulan III-2008 layak diapresiasi, kondisi tersebut sebagai cerminan nyata upaya pemerintah provinsi dalam menciptakan multiplier effect bagi ekonomi daerah di tengah perlambatan yang terjadi.
Disisi pengaruhnya terhadap uang beredar, realisasi fiskal pemerintah provinsi selama triwulan III-2009 cenderung bersifat
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 5
PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN
Kas titipan di Gorontalo sepanjang triwulan
III-2009 berada pada kondisi net inflow disertai dengan peningkatan rasio jumlah Cek/BG kosong terhadap total keseluruhan warkat yang dikliringkan.
Kegiatan kas titipan di Gorontalo sepanjang triwulan III-2009 mencatat net inflow sebesar Rp79.725 miliar yang berarti aliran uang kartal yang masuk ke dalam khasanah kas titipan lebih besar dibandingkan dengan aliran uang keluar dari khasanah. Kondisi net inflow pada triwulan laporan menunjukkan tanda-tanda berkurangnya kegiatan transaksi masyarakat. Pada periode yang sama tahun sebelumnya menunjukkan terjadi aliran
outflow, namun pada triwulan laporan menunjukkan terjadi inflow. Sementara itu, rasio jumlah Cek/BG kosong terhadap total keseluruhan warkat yang dikliringkan juga tercatat mengalami peningkatan dari 0,40% pada triwulan II-2009 menjadi 0,70% pada triwulan III-2009. Peningkatan rasio penolakan jumlah cek/BG kosong mencerminkan bahwa kelesuan ekonomi Provinsi Gorontalo mulai terasa pada triwulan laporan. Berkurangnya pendapatan para pelaku usaha diperkirakan memperlemah posisi likuiditas mereka, sehingga menghambat kelancaran pembayaran transaksi melalui kliring.
KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
Tingkat kesejahteraan sedikit mengalamai penurunan.
Jumlah pengangguran di Gorontalo pada Februari 2009 menurun.
Tingkat kesejahteraan masyarakat di Provinsi Gorontalo sedikit menurun. Tingkat pengangguran berkurang, dan IPM meningkat namun tingkat kemiskinan meningkat. Indeks Gini sebagai indikator kesenjangan masih belum menunjukkan tanda membaik.
Pada Februari 2009, jumlah angkatan kerja mencapai 462.899 orang naik 7,80% dibandingkan keadaan Agustus 2008 atau 9,33% dibandingkan bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Sementara itu jumlah penduduk yang bekerja tumbuh sebesar 11,66% dibandingkan bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Selama periode 1 tahun, tingkat pengangguran terbuka menunjukkan arah yang menurun, yaitu dari 7,04 % pada Februari 2008 menjadi 5,06% pada Februari 2009.
Persentase penduduk miskin di Maret 2009 meningkat.
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 6
Gorontalo (32,07%), Kabupaten Bone Bolango (30,6%), Kabupaten Pahuwato (29,74%), Kabupaten Boalemo (29,21%), dan yang terkecil di Kota Gorontalo (8,11%)
Pada Tahun 2007 indeks gini tercatat 0,39 mengalami kenaikan dibandingkan indeks gini Tahun 2005 lalu yang tercatat sebesar 0,36
Perkembangan angka rasio gini Gorontalo dalam 3 (tiga) tahun terakhir mengalami peningkatan. Pada Tahun 2007 indeks gini tercatat 0,39 mengalami kenaikan dibandingkan indeks gini Tahun 2005 lalu yang tercatat sebesar 0,36. Namun demikian berdasarkan strukturnya, persentase pendapatan yang dinikmati oleh 20% penduduk berpenghasilan tertinggi menjadi semakin meningkat dari 44,38% menjadi 47,67%. Sementara itu, Index Pembangunan Manusia (IPM) sampai tahun 2007 adalah tercatat 68,98 meningkat dibanding IPM 2006 yang sebesar 68,01.
PROSPEK PEREKONOMIAN
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo triwulan-III tahun 2009 diperkirakan pada kisaran 6.9% - 7.4% (yoy).
Perekonomian Gorontalo triwulan IV-2009 diperkirakan melambat, berada pada kisaran 6.91 – 7.41% (yoy). Sementara itu pertumbuhan keseluruhan tahun 2009 diperkirakan pada kisaran 7.15 – 7.55% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2008 sebesar 7.76% (yoy). Disisi permintaan, kinerja ekspor diperkirakan masih belum pulih terkait produksi pertanian Gorontalo yang terus menurun. Pertumbuhan konsumsi pemerintah pada triwulan IV-2009 diperkirakan lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Disisi lain meningkatnya pagu anggaran Belanja Modal dalam APBD-P 2009 diharapkan menjadi tumpuan peningkatan kinerja investasi di Gorontalo.
Perlambatan sisi sektoral pada triwulan IV tahun 2009 diperkirakan didorong pelemahan produksi sektor pertanian
Sisi penawaran, pelemahan masih didorong oleh sektor pertanian. Sementara itu kinerja sektor angkutan dan sektor perdagangan diperkirakan tidak setinggi triwulan IV-2008 terkait pergeseran musim lebaran dari triwulan IV-2008 menjadi triwulan III-2009. Disisi lain sektor bangunan dan sektor pertambangan/penggalian diharapkan mampu meredam perlambatan terkait penambahan pagu anggaran belanja modal yang cukup besar mencapai Rp 196 Miliar.
Diperkirakan inflasi tahunan Provinsi Gorontalo pada triwulan IV- 2009 berkisar antara 3.5 – 5.5% (yoy)
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 7
makanan patut menjadi perhatian mengingat pasokan hasil pertanian sudah mulai berkurang. Sementara itu, ekspektasi konsumen diperkirakan masih dalam level yang cukup tinggi untuk mendorong pertumbuhan inflasi pada triwulan IV-2009.
Kebijakan penurunan BI Rate diperkirakan sudah mulai direspon oleh perbankan Gorontalo pada triwulan IV-2009..
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 8
BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL
Perekonomian Gorontalo triwulan III-2009 diperkirakan melambat 7.60% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan III-2008 sebesar 9.00% (yoy).
Melemahnya kinerja ekonomi didorong oleh penurunan ekspor dan konsumsi pemerintah selama triwulan laporan, namun konsumsi swasta selama musim lebaran diperkirakan sedikit meredam perlambatan yang terjadi.
Sementara itu di sisi penawaran, melambatnya ekonomi Gorontalo didorong oleh melemahnya sektor pertanian dan jasa-jasa, namun kinerja sektor utama lainnya seperti perdagangan, dan angkutan diperkirakan masih tumbuh optimis.
Grafik 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo
Sumber : BPS Prov. Gorontalo *) Proyeksi Bank Indonesia Gorontalo
Menurunnya produksi pertanian selama triwulan III-2009 berdampak cukup
signifikan bagi perekonomian Gorontalo. Kondisi ini lebih rendah daripada yang telah
diperkirakan sebelumnya. Pengaruh cuaca dan musim kering berkepanjangan menyebabkan produksi pertanian jagung turun. Hal ini tentu saja berdampak pada kinerja ekspor secara keseluruhan karena pertanian merupakan komoditas ekspor utama Gorontalo.
1. 1
S
ISI PERMINTAAN
Di sisi permintaan, ekonomi Provinsi Gorontalo triwulan III-2009 diperkirakan
melambat. Kondisi tersebut didorong melemahnya kinerja ekspor dan konsumsi
pemerintah. Sementara itu meningkatnya kegiatan konsumsi swasta dan investasi
diperkirakan sedikit meredam perlambatan yang terjadi.
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 9
ekonomi daerah menunjukkan tingkat realisasi yang menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Disisi lain kegiatan konsumsi masyarakat selama bulan puasa dan lebaran diperkirakan mampu memberikan dorongan positif bagi perekonomian Gorontalo ditengah perlambatan yang terjadi.
Tabel 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Sisi Permintaan (yoy)
Sumber : BPS Prov. Gorontalo **) Proyeksi Bank Indonesia
1.1.1
K
onsumsi
Konsumsi pada triwulan III-2009 diperkirakan tumbuh sebesar 18.66% (yoy)
dibandingkan triwulan III-2008 sebesar 17.26%(yoy). Konsumsi swasta diperkirakan tumbuh
21.53% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar 9,08% (yoy). Sementara konsumsi pemerintah tumbuh 21,23% (yoy), melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 28,99% (yoy).
Musim lebaran diperkirakan mendorong kegiatan konsumsi masyarakat lebih
tinggi. Peningkatan pola konsumtif selama lebaran dikonfirmasi oleh beberapa prompt
indikator seperti melambatnya pertumbuhan tabungan/deposito masyarakat, meningkatnya konsumsi BBM kelompok rumah tangga, meningkatnya konsumsi listrik rumah tangga serta meningkatnya impor barang konsumsi.
Melemahnya kinerja produksi pertanian yang dikhawatirkan berdampak pada tingkat pendapatan masyarakat rupanya tidak menyurutkan kegiatan konsumsi selama lebaran. Melemahnya NTP selama triwulan III-2009 ternyata belum mempengaruhi kinerja konsumsi secara umum. Masyarakat diperkirakan menggunakan dana simpanannya untuk memenuhi kegiatan konsumsi selama lebaran. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh pertumbuhan tabungan masyarakat yang melambat 15.17% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan III-2008 sebesar 19.91% (yoy).
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3**
Konsumsi Swasta 4,99 7,25 10,81 18,32 10,05 7,96 9,08 4,34 15,71 19,07 21,53
Konsumsi Pemerintah 17,50 5,61 18,44 12,09 11,56 21,25 28,99 26,70 26,89 43,89 21,23
Investasi 2,70 6,32 9,86 20,05 2,28 9,06 25,53 25,01 29,24 33,90 29,50
Ekspor 16,87 23,12 25,99 25,85 23,19 13,68 -5,90 6,05 -6,18 -1,29 -7,50
Impor 14,47 18,21 26,09 46,46 24,56 16,98 35,27 17,81 23,81 42,34 40,11
Pertumbuhan Ekonomi 6,09 8,32 8,30 7,25 7,02 7,26 9,00 7,55 7,66 7,22 7,60
2009
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 10
Grafik 1.2 Perkembangan Deposito & Tabungan Grafik 1.3 Index Nilai Tukar Petani
Sumber : Bank Indonesia Sumber : BPS Prov. Gorontalo
Realisasi penggunaan BBM rumah tangga tumbuh selama triwulan III-2009 sebesar
11.94% lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2008 sebesar -4.39%. Signifikannya peningkatan konsumsi BBM rumah tangga selama lebaran terkait budaya tumbilotohe
(malam pasang lampu untuk perayaan lebaran) di Gorontalo. Sementara itu konsumsi listrik rumah tangga selama triwulan III-2009 yang tumbuh sebesar 23.88% (yoy) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan III-2008 sebesar 3.09% (yoy).
Grafik 1.4 Konsumsi Listrik Rumah Tangga Grafik 1.5 Konsumsi Bahan Bakar Rumah Tangga
Sumber : PLN Gorontalo Sumber : PERTAMINA Depot Gorontalo UPMS VII
Grafik 1.6 Impor Barang Konsumsi
Sumber : Administrator Pelabuhan Gorontalo
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 11
Hasil survey konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia Gorontalo menunjukkan
bahwa optimisme konsumsi masyarakat selama triwulan III-2009 masih cukup baik. Indeks
Keyakinan Konsumen (IKK) pada September 2009 berada pada level optimis dengan saldo bersih tertimbang sebesar 131,35. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat meyakini kondisi saat ini masih tepat melakukan konsumsi. Sementara itu optimisme keyakinan konsumen dibangun oleh sentimen positif pada Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) saat ini sebesar 119,04.
Grafik 1.7 Indeks Keyakinan Konsumen Grafik 1.8 Realisasi Belanja Non Modal
Sumber : Survey Konsumen, BI Gorontalo Sumber : Badan Keuangan Provinsi Gorontalo
Sementara itu konsumsi pemerintah diperkirakan sedikit melambat. Hal ini
tercermin dari realisasi belanja non modal terhadap anggaran yang melambat. Realisasi belanja non modal triwulan III-2009 terhadap anggaran sebesar 67.06%, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 68.31%. Melambatnya realisasi belanja barang dan jasa pemerintah menjadi pendorong melambatnya realisasi belanja non modal pemerintah daerah secara keseluruhan.
1.1.2
I
nvestasi
Kinerja investasi di Provinsi Gorontalo pada triwulan laporan diperkirakan tumbuh 33.90 % (yoy) lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar
25,52% (yoy). Pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya persentase realisasi belanja
modal pemerintah daerah terhadap target anggaran sebesar 35.31%, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 30.73% . Belanja Modal pemerintah daerah merupakan pendorong utama kinerja investasi di Gorontalo.
Sementara itu realisasi investasi bangunan diperkirakan meningkat. Kondisi ini
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 12
Grafik 1.9 Realisasi Semen Grafik 1.10 Perkembangan Belanja Modal
Sumber : Asosiasi Pengusaha Semen Sumber : Badan Keuangan Provinsi Gorontalo
1.1.3
E
kspor dan Impor
Kinerja ekspor selama triwulan III-2009 secara keseluruhan diperkirakan masih melambat, perlambatan ini didorong oleh penurunan produksi pertanian jagung sebagai
komoditas utama. Ekspor keseluruhan komoditas barang tercatat 250.004 ton, lebih rendah
dibandingkan capaian ekspor triwulan III-2008 sebesar 476.380 ton. Sementara itu perlambatan ekspor juga ditunjukkan oleh menurunnya arus muat barang dipelabuhan laut.
Di pelabuhan laut, volume barang yang dimuat terkontraksi 43.68 % dibandingkan triwulan IIII-2008 yang tumbuh 6.62%.
Grafik 1.11 Muat Barang di Pelabuhan Gorontalo Grafik 1.12 Volume Ekspor
Sumber : BPS Prov. Gorontalo Sumber : Bea Cukai
Tabel 1.3 Perkembangan Negara Tujuan Ekspor Luar Negeri
JAN-SEP 2007 (USD) % KOMPOSISI JAN-SEP 2008 (USD) % KOMPOSISI JAN-SEP 2009 (USD) % KOMPOSISI Negara Tujuan
Jepang 143.060 1,09% 412.813 2,9% 49.247 0,5% China 9.686.913 73,52% 2.944.655 20,3% 38.580 0,4% Singapura 26.121 0,20% 74.481 0,5% 151.663 1,5% Hongkong 6.000 0,05% 8.000 0,1% 526.400 5,1% Switzerland 15.651 0,12% - 0,0% - 0,0% Taiwan - 0,00% 19.292 0,1% 60.330 0,6% Malaysia 451.000 3,42% 5.507.300 38,1% 1.634.000 15,8% Philipina 2.011.242 15,27% 2.762.000 19,1% 5.796.431 56,0% India 453.925 3,45% 1.029.173 7,1% 1.062.375 10,3% Rep. Korea 381.123 2,89% 142.818 1,0% 76.434 0,7% Vietnam - 0,00% 1.571.863 10,9% 953.134 9,2%
Total 13.175.035 100,00% 14.472.395 100,0% 10.348.594 100,0%
EXPORT 2007 2008 2009
pang hina apura ong land wan aysia pina India Korea nam
pang hina apura ong land wan aysia pina India
2009 0,5% 0,4% 1,5% 5,1% 0,0% 0,6% 15,8% 56,0% 10,3%
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 13
Tabel 1.4 Perkembangan Komoditas Ekspor Luar Negeri Gorontalo
BPS Prov Gorontalo, KPBC Gorontalo
Sementara itu, berdasarkan perkembangan ekspor kumulatif sampai dengan September 2009, penurunan signifikan terjadi untuk negara tujuan China dan Malaysia sementara ekspor ke Philipina mengalami peningkatan. Disisi komoditas, hampir semuanya mengalami penurunan kecuali komoditas gula dan kembang gula.
Sebaliknya, kinerja impor mengalami pertumbuhan terkait dengan peningkatan konsumsi
swasta. Impor Provinsi Gorontalo pada triwulan laporan diperkirakan tumbuh 40.11% (yoy)
dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya yaitu 35.27% (yoy).
1.2
S
ISI PENAWARAN
Selama triwulan III-2009, perlambatan ekonomi Gorontalo didorong sektor
pertanian, dan jasa - jasa. Penurunan produksi pertanian selama triwulan III-2009
berdampak serius terhadap kinerja perekonomian secara umum. Pertanian yang mempunyai pangsa 30% terhadap PDRB Gorontalo belum juga menunjukkan tanda-tanda membaik sejak triwulan I-2009. Menurunnya produksi pertanian selama triwulan III-2009 terkait musim kering berkepanjangan sebagai dampak angin musim timur. Disisi lain kinerja sektor perdagangan dan angkutan selama musim lebaran diperkirakan mampu meredam perlambatan yang terjadi.
Tabel 1.5 Pertumbuhan Ekonomi Sisi Penawaran (yoy)
Sumber : BPS Prov. Gorontalo **) Proyeksi Bank Indonesia Gorontalo
JAN-SEP 2007 (USD) % KOMPOSISI JAN-SEP 2008 (USD) % KOMPOSISI JAN-SEP 2009 (USD) % KOMPOSISI Jenis Barang
Ikan dan Udang/Kepiting 19.706 0,15% 8.000 0,1% - 0,0% Jagung 2.471.902 18,76% 8.269.300 57,1% 7.430.431 71,8% Kayu, Barang dari Kayu 407.990 3,10% 211.421 1,5% 111.688 1,1% Bungkil Kopra 10.140.838 76,97% 1.029.173 7,1% 847.400 8,2% Rotan Poles 12.415 0,09% 151.061 1,0% 250.573 2,4% Lemak&Minyak Hewan/nabati - 0,00% 4.227.067 29,2% 1.062.375 10,3% Gula & Kembang Gula - 0,00% 576.373 4,0% 632.134 6,1% Mutiara & batu permata 122.184 0,93% - 0,0% 13.993 0,1% Binatang Hidup - 0,00% - 0,0% - 0,0% Tembakau - 0,00% - 0,0% - 0,0%
Total 13.175.035 100,00% 14.472.395 100% 10.348.594 100,0%
EXPORT 2007 2008 2009
pang hina apura ong land wan aysia pina India Korea nam
pang hina apura ong land wan aysia pina India
2009 0,5% 0,4% 1,5% 5,1% 0,0% 0,6% 15,8% 56,0% 10,3%
ies3 49.247 38.580 151.663 526.400 - 60.330 4.000 6.431 1.062.37
ujuan
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3**
1.PERTANIAN 7,98 6,04 4,41 7,35 7,74 5,42 1,75
2.PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 4,98 9,44 11,55 14,24 9,23 12,91 12,70
3.INDUSTRI PENGOLAHAN 1,44 3,86 7,54 8,72 6,06 2,01 8,10
4.LISTRIK,GAS & AIR BERSIH -2,64 -2,70 -2,76 2,71 7,51 6,53 6,22
5.BANGUNAN 6,95 9,48 10,83 13,13 9,78 12,86 11,98
6.PERDAGANGAN,HOTEL & RESTORAN 8,03 6,26 15,45 6,65 7,60 8,20 15,97
7.PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 12,98 9,22 13,67 6,78 8,56 9,82 14,05
8.KEU.,PERSEWAAN & JASA PERUSAHAAN 6,75 7,58 7,48 6,99 9,11 11,26 7,98
9.JASA - JASA 6,86 9,64 10,78 6,35 6,14 5,84 5,11
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 14
1.2.1
S
EKTOR PERTANIAN
Kinerja sektor pertanian pada triwulan III-2009 diperkirakan melambat. Pada triwulan ini sektor pertanian diperkirakan tumbuh sebesar 1.75% (yoy), lebih rendah
dibandingkan pertumbuhan triwulan III-2008 sebesar 4.41% (yoy). Dampak kekeringan
menurunkan produksi pertanian di Gorontalo cukup signifikan terutama produksi jagung. Hampir seluruh lahan pertanian yang tidak menggunakan pola irigasi teknis mengalami penurunan produksi.
Produksi pertanian jagung sebagai komoditas andalan perekonomian Gorontalo
diperkirakan menurun. Sesuai ARAM III-2009, produksi jagung diperkirakan terkontraksi
20.47% dibandingkan produksi tahun 2008. Menurunnya produksi didorong pula menurunnya luas lahan panen dari 156.436 ha di tahun 2008 menjadi 128.786 ha di tahun 2009. Sementara itu, produktivitasnya turut mengalami penurunan dari 48.17 Qu/Ha di tahun 2008 menjadi 46.54 Qu/Ha di tahun 2009.
Grafik 1.13 Luas Lahan Panen & Produktivitas Jagung Grafik 1.14 Perkembangan Produksi Jagung
Sumber: BPS Prov. Gorontalo, Dinas Pertanian & Ketahanan Pangan Prov. Gorontalo
Pertumbuhan produksi padi turut melambat, produksi padi tumbuh 7.94% lebih rendah dibandingkan pertumbuhan produksi tahun 2008 sebesar 18.69%. Di tengah musim kering yang berkepanjangan di Gorontalo, pertanian padi masih tumbuh terkait pemanfaatan teknologi irigasi teknis.
Kondisi optimis tampak pada pertanian pertanian kedelai, sesuai ARAM III-2009, produksi kedelai meningkat sebesar 5.821 ton atau tumbuh lebih 2x lipat dibandingkan produksi 2008 sebesar 2.514 ton. Namun meningkatnya produksi ternyata tidak diikuti produktivitas yang meningkat. Produktivitas kedelai menurun dari 13.42 Qu/ha di tahun 2008 menjadi 11.82 Qu/ha di tahun 2009.
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 15
Grafik 1.15 Luas Panen & Produktivitas Pertanian Padi Grafik 1.16 Perkembangan Produksi Padi
Grafik 1.17 Luas Panen & Produktivitas Pertanian Kedelai Grafik 1.18 Perkembangan Produksi Kedelai
Sumber: Dinas Pertanian & Ketahanan Pangan Prov. Gorontalo
1.2.2
S
EKTOR ANGKUTAN DAN KOMUNIKASI
Sektor angkutan diperkirakan tumbuh lebih tinggi yaitu dari 14.05% (yoy) pada
triwulan III-2008 menjadi 13.67% (yoy) pada triwulan laporan. Kondisi ini diperkirakan
sebagai dampak arus mudik/balik selama lebaran. Meningkatnya jumlah penumpang transportasi udara dan laut menggambarkan tumbuhnya kinerja di sektor ini. Secara keseluruhan jumlah penumpang tumbuh 28.04% lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2008 sebesar -0.071%. Sementara itu, jumlah penumpang angkutan udara tumbuh 25.6% (yoy), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar -5.9% (yoy). Jumlah penumpang angkutan laut tumbuh 18.8% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan III tahun lalu sebesar -5.9%(yoy).
Grafik 1.19 Perkembangan Penumpang Pesawat Grafik 1.20 Perkembangan Penumpang Kapal Laut
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 16
Meningkatnya kinerja sektor angkutan dikonfirmasi pula oleh peningkatan penjualan premium kelompok transportasi dan jumlah penerbangan yang masuk/keluar
Gorontalo. Data penjualan BBM menunjukkan peningkatan, selama triwulan III-2009
tercatat 18.378 kiloliter premium terjual. Volume penjualan ini tumbuh 15.60% (yoy) lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5.07% (yoy)
Grafik 1.21 Konsumsi Premium untuk Transportasi Grafik 1.22 Jumlah Penerbangan Pesawat
Sumber : PERTAMINA Depot Gorontalo UPMS VII Sumber : Bandara Jalaluddin Gorontalo
1.2.3
S
EKTOR PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN
Sektor perdagangan, hotel dan restoran pada triwulan III-2009 diperkirakan
tumbuh moderat 15.97% (yoy), dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya
sebesar 15.45% (yoy). Meningkatnya kinerja perdagangan selama triwulan III-2008 didorong
meningkatnya kegiatan konsumsi masyarakat menjelang hari raya.
Tumbuhnya sub sektor perdagangan dikonfirmasi oleh beberapa prompt indikator antara lain peningkatan kredit perdagangan, realisasi konsumsi BBM transportasi, realisasi
listrik industri serta tingkat hunian hotel. Kredit perdagangan di Gorontalo tumbuh lebih
tinggi dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Pada September 2009, tercacat kredit yang disalurkan ke sektor perdagangan sebesar Rp 748 Miliar atau tumbuh 27.98% (yoy), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 25.40% (yoy).
Grafik 1.23 Perkembangan Kredit Perdagangan Grafik 1.24 Konsumsi Listrik Bisnis
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 17
Grafik 1.25 Tingkat Penghunian Hotel
Sementara itu kinerja sub sektor perhotelan dikonfirmasi pula oleh meningkatnya tingkat hunian hotel di Gorontalo sebesar 32.41% lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2008. Hal ini juga didukung oleh peningkatan konsumsi listrik untuk kelas bisnis yang meningkat 24.03% (yoy), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 6.76% (yoy).
Sumber : BPS Prov. Gorontalo
1.2.4
S
EKTOR BANGUNAN
Kinerja Sektor Bangunan diperkirakan tumbuh lebih baik. Sektor ini tumbuh 12.54% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2008 sebesar dari 10.83% (yoy).
Meningkatnya kinerja sektor ini seiring dengan meningkatnya realisasi anggaran Belanja Modal dalam APBD-P 2009.
Grafik 1.26 Realisasi Belanja Modal APBD Grafik 1.27 Realisasi Penjualan Semen
Sumber : Badan Keuangan Provinsi Sumber : Asosiasi Pengusaha Semen
Tumbuhnya kinerja sektor ini dikonfirmasi oleh beberapa prompt indikator.
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 18
Sementara itu, peningkatan anggaran belanja modal pemerintah daerah dari Rp 99 Miliar menjadi Rp 196 Miliar dalam APBD-P 2009 diharapkan mampu menggairahkan kinerja sektor konstruksi di Gorontalo. Optimisme sektor konstruksi di Gorontalo dikonfirmasi pula oleh PT Semen Tonasa yang berencana membuka unit instalasi pengantongan semen tambahan di Gorontalo.
1.2.5
S
EKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN
Kinerja sektor industri pengolahan selama triwulan III-2009 diperkirakan tumbuh 8.10 % (yoy) lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar
7.54%. Meningkatnya kinerja sektor industri pengolahan dikonfirmasi oleh peningkatan
penggunaan bahan bakar minyak (BBM) industri serta volume barang yang keluar dari Provinsi Gorontalo yang melalui Jembatan Timbang.
Grafik 1.28 Penggunaan BBM Industri Grafik 1.29 Volume Barang Industri
Sumber : PERTAMINA Depot Gorontalo UPMS VII Sumber : Dinas Perhubungan Provinsi Gorontalo
Meningkatnya kinerja sektor industri pengolahan seiring dengan meningkatnya
perdagangan di Gorontalo. Masih optimisnya sektor industri dikonfirmasi tumbuhnya
konsumsi BBM kelompok industri sebesar 20.8%(yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2008 sebesar 12.8% (yoy). Sementara itu peningkatan sektor industri juga ditunjukkan oleh volume barang industri yang keluar melalui jalur darat yang meningkat dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya.
1.2.6
S
EKTOR KEUANGAN, PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN
Sektor keuangan, persewaan dan jasa
perusahaan pada triwulan II-2009
diperkirakan tumbuh moderat 7.98% (yoy)
dibandingkan triwulan III-2008 sebesar
7.48%. Net Interest Margin Perbankan
tumbuh moderat sebesar 29.61% (yoy) hampir sama dengan pertumbuhan triwulan III-2008 sebesar 29.79% (yoy).
Grafik 1.30 NIM Perbankan
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 19
Sementara itu, disisi jasa keuangan non bank diperkirakan mengalami peningkatan. Leasing sebagai sumber pembiayaan alternatif bagi masyarakat menunjukkan trend yang meningkat yang tercermin dalam hasil survei SKDU Bank Indonesia yang mencatat saldo bersih tertimbang sebesar 102% untuk kenaikan volume produksi saat ini.
1.2.7
S
EKTOR LAINNYA
Selama triwulan laporan, sektor jasa-jasa diperkirakan melambat 5.11% (yoy), dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 10.78% (yoy). Berdasarkan komponen pembentuknya, pertumbuhan sektor ini terutama disumbangkan oleh subsektor pemerintahan umum. Menurunnya kinerja di sektor ini seiring dengan menurunnya realisasi belanja barang/jasa pemerintah.
Secara tahunan, sektor pertambangan dan penggalian dalam triwulan-III tahun 2009 diperkirakan tumbuh sebesar 12,70 (yoy) lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 11,55% (yoy). Sektor pertambangan dan penggalian memiliki kontribusi sebesar 0,04% terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo. Pertambangan di Gorontalo banyak menghasilkan barang tambang galian C untuk mendukung kinerja sektor konstruksi. Berdasarkan pelaku usahanya, sub sektor penggalian ini lebih banyak dilakukan oleh pertambangan tradisional/rakyat dan bukan industri berskala besar.
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 20
BOX I : UJI KORELASI PROMPT INDIKATOR PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO
Dalam rangka memperkuat Kajian Ekonomi Regional, Bank Indonesia Gorontalo telah melakukan analisa korelasi prompt indikator untuk mengetahui kekuatan hubungan antara prompt indikator dengan variabel utama pertumbuhan ekonomi Gorontalo. Analisa korelasi dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Eviews 4.0 mencakup prompt indikator untuk
tracking pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo disisi penawaran dan permintaan.
1. Konsumsi
Prompt Konsumsi Periode Korelasi
UMP Tahunan 0.999518
Pajak Bermotor dan Bahan bakar Triwulanan 0.888320
Pengeluaran Pemerintah Non Belanja Modal Triwulanan 0.798186
Kredit Konsumsi Bulanan 0.910995
NTP Bulanan 0.688523
Listrik Rumah Tangga Bulanan 0.890572
Prompt indikator yang dimiliki untuk konsumsi adalah data Upah Minimum Provinsi (UMP), pajak bermotor dan bahan bakar, pengeluaran pemerintah non-belanja modal, kredit konsumsi, Nilai Tukar Petani (NTP) dan listrik rumah tangga. Hasil analisis menunjukkan bahwa UMP dan kredit konsumsi memiliki korelasi tertinggi terhadap konsumsi Provinsi Gorontalo. Peningkatan kemampuan daya beli masyarakat karena adanya kenaikan UMP atau tambahan kredit konsumsi menjadi alasan mengapa hubungan variabel tersebut sangat kuat terhadap konsumsi.
2. Investasi
Prompt Investasi Periode Korelasi
Belanja Modal Pemerintah daerah Triwulanan 0.760431 Kredit Investasi dan Modal Kerja Bulanan 0.785800
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 21
3. Sektor Pertanian
Prompt Sektor Pertanian Periode Korelasi
Produksi Jagung Tahunan 0.963695
Produksi Padi Tahunan 0.979662
Produksi Kedelai Tahunan -0.430350
Prompt indikator yang dimiliki untuk sektor pertanian adalah data produksi jagung, padi dan kedelai dalam satuan ton dengan periode tahunan. Hasil analisis menunjukkan bahwa produksi jagung dan produksi padi memiliki korelasi yang tinggi terhadap PDRB sektor pertanian, masing-masing sebesar 0.96 dan 0.98. Sementara itu, produksi kedelai justru memilki korelasi negatif dengan PDRB sektor pertanian. Hal ini dimungkinkan karena terjadi pengalihan penggunaan lahan dari kedelai menjadi jagung, padi, atau tanaman bahan makanan lainnya.
4. Sektor Perdagangan Hotel dan Restoran (PHR)
Prompt Sektor PHR Periode Korelasi
Jumlah bongkar-muat barang Bulanan 0.25666700 Tingkat Penghunian Kamar Hotel Bulanan 0.42906179
Kredit sektor PHR Bulanan 0.96619385
Listrik kegiatan bisnis Bulanan 0.84644976
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 22
5. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi
Prompt Pengangkutan dan Komunikasi Periode Korelasi
Jumlah penumpang angkutan udara Bulanan 0.446509
Jumlah penumpang angkutan laut Bulanan 0.176318
Perkembangan Jumlah Bagasi, Cargo,dan Pos/Paket Bulanan 0.493306 Perkembangan Bongkar-Muat Barang Angkutan Laut Bulanan 0.354284 Kredit sektor angkutan & komunikasi Bulanan 0.771527
Prompt indikator yang dimiliki untuk sektor pengangkutan & komunikasi adalah jumlah penumpang angkutan udara, jumlah penumpang angkutan laut, perkembangan jumlah bagasi, cargo, dan pos/paket, perkembangan bongkar-muat barang angkutan laut, dan kredit sektor angkutan & komunikasi. Prompt dengan korelasi tertinggi adalah kredit sektor angkutan & komunikasi sebesar 0.77. Hal ini karena kredit perbankan men-support
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 23
BAB 2 : PERKEMBANGAN INFLASI
Tendensi menurunya inflasi tahunan mewarnai perkembangan harga komoditas di
Provinsi Gorontalo pada triwulan-III 2009. Inflasi Gorontalo triwulan III-2009 sebesar 3,97%
(yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan III-2008 sebesar 12,26% (yoy). Sementara itu, inflasi triwulan III-2009 naik sebesar 0,83% (qtq) dibandingkan triwulan II-2009 sebesar 0,59% (qtq). Penurunan inflasi tahunan sejalan dengan inflasi nasional serta didukung oleh kecukupan pasokan barang kebutuhan pokok dan minimnya tekanan harga dari kelompok barang-barang yang diatur Pemerintah (administered price). Sementara itu, kenaikan inflasi triwulanan didorong tingginya permintaan barang dan jasa terkait ibadah puasa dan perayaan hari besar Idul Fitri.
2.1
I
NFLASI GORONTALO TRIWULAN III-2009
Pada triwulan III-2009, inflasi tahunan Gorontalo melambat seiring dengan tren
penurunan rata-rata inflasi nasional. Pengaruh eksternal memberi pengaruh positif
terhadap perkembangan harga di Provinsi Gorontalo. Melemahnya tekanan harga-harga kebutuhan masyarakat yang banyak dipenuhi oleh barang impor (antar provinsi) menjadi salah satu pemicu penurunan inflasi Gorontalo. Sementara itu terjaganya pasokan serta efek penurunan administered price turut menguatkan tren pelemahan tekanan inflasi Gorontalo.
Grafik 2.1
Perkembangan Inflasi Nasional dan Gorontalo
Sejak awal tahun 2009 hingga triwulan III-2009 inflasi Gorontalo secara persisten
berada diatas tingkat inflasi nasional. Hal ini merupakan indikasi terdapat permasalahan
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 24
Kecenderungan adanya gangguan pada tata niaga beras serta hambatan pada
distribusi barang menjadi permasalahan utama persistensi inflasi Gorontalo. Tata niaga
beras di Provinsi Gorontalo dikuasai oleh beberapa pengijon besar yang berperan sebagai petani, pengumpul, dan distributor sekaligus. Hal ini memberi dampak kepada perilaku pembentukan harga beras di Provinsi Gorontalo yang seringkali tidak patuh pada mekanisme pasar. Sementara itu, distribusi barang dan jasa seringkali terganggu karena terjadi penumpukan antrian kapal di Pelabuhan Gorontalo. Padahal terdapat alternatif Pelabuhan Anggrek namun kurang diminati oleh pedagang karena jaraknya yang lebih jauh. PEMDA telah membangun dermaga III di Pelabuhan Gorontalo sebagai salah satu solusi permasalahan tersebut yang diperkirakan selesai pada tahun 2010
Grafik 2.2
Perkembangan Inflasi Tahunan Provinsi Gorontalo
Tanda-tanda tren penurunan inflasi Gorontalo mulai muncul sejak kebijakan
penurunan harga BBM pada akhir tahun 2008. Menurunnya harga komoditas minyak
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 25
2.2
I
NFLASI BERDASARKAN KELOMPOK BARANG DAN JASA
2.2.1
I
NFLASI TAHUNAN (YOY)
Secara tahunan, inflasi Gorontalo triwulan III-2009 sebesar 3,97% (yoy) lebih
rendah dibandingkan triwulan III-2008 sebesar 12,26% (yoy). Tendensi penurunan harga
terutama terjadi pada kelompok bahan makanan dan kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan.
Tabel 2.1
Inflasi Kelompok Barang dan Jasa (yoy)
Sumber : BPS Provinsi Gorontalo
Pada triwulan-III 2009, Inflasi kelompok bahan makanan sebesar 5,50% (yoy) lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 21,69% (yoy).
Pelemahan tekanan inflasi secara tahunan pada kelompok bahan makanan didorong oleh berkurangnya harga-harga terutama pada subsektor ikan bumbu-bumbuan, dan daging. Kecukupan pasokan pada barang-barang tercakup dalam subsektor tersebut menjadi penyebab utama terjadinya penurunan inflasi. Perkembangan cuaca yang membaik menyebabkan produksi terutama komoditas ikan dan bumbu-bumbuan mampu memenuhi permintaan masyarakat dengan baik.
Tabel 2.2
Inflasi Sub kelompok Bahan Makanan tahun 2009 (yoy)
Sumber : BPS Provinsi Gorontalo
Secara tahunan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami
deflasi tertinggi dibandingkan kelompok barang dan jasa lainnya. Pada triwulan-III 2009,
kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan deflasi sebesar -5,35% (yoy) lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya mengalami inflasi sebesar 6,14% (yoy).
I II III IV I II III IV I II III
Umum 3.55 5.07 5.97 7.02 8.33 9.58 12.26 9.20 10.54 7.22 3.97 1
Bahan makanan 5.09 10.34 10.62 13.09 13.25 18.05 21.69 8.56 21.05 14.59 5.50 2
Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau 9.10 5.69 8.41 6.41 5.47 5.79 9.36 14.51 21.08 12.39 12.03 3
Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 0.07 1.03 1.36 1.70 6.85 4.50 12.43 14.02 14.74 5.57 3.38 4
Sandang 2.41 2.11 2.16 4.63 6.81 4.29 3.40 2.63 6.36 2.53 2.80 5
Kesehatan 3.34 3.80 1.90 4.65 6.35 7.10 4.66 3.95 3.42 3.41 8.59 6
Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga 0.29 0.30 8.84 9.11 9.39 10.65 4.52 4.34 4.27 4.24 0.44 7
Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan 0.21 0.91 0.97 0.95 1.39 3.37 6.14 3.48 (0.37) (5.15) (5.35)
2009 No Kelompok
2007 2008
Kelompok / Sub kelompok JAN FEB MAR APR MEI JUNI JULI AUG SEPT
BAHAN MAKANAN 2.83 2.87 0.99 -1.15 1.41 0.62 0.57 1.05 -2.26
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 26
Tabel 2.3
Inflasi Sub kelompok Transportasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan tahun 2009 (yoy)
Sumber : BPS Provinsi Gorontalo
Bila diuraikan lebih dalam, subkelompok transportasi merupakan penyumbang terbesar terjadinya deflasi pada kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Subkelompok transportasi mengalami deflasi sebesar -7.31% (yoy) jauh lebih rendah dibandingkan subkelompok lainnya dalam kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang pergerakan harganya relatif stabil. Kebijakan pemerintah untuk menurunkan harga BBM bersubsidi pada awal Desember 2008 masih memberikan second round effect
pada triwulan-II 2009 berupa penurunan tariff angkutan transportasi.
2.2.2
I
NFLASI TRIWULANAN (QTQ)
Secara triwulanan, inflasi Gorontalo pada triwulan III-2009 sebesar 0.85% (qtq)
lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0.59% (qtq). Dorongan peningkatan
harga terjadi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar; kelompok sandang; dan kelompok kesehatan. Tekanan Inflasi pada triwulan III-2009 didorong oleh tingginya permintaan masyarakat terkait dengan ibadah puasa dan perayaan hari besar idul Fitri. Sementara itu, kelompok bahan makanan menunjukkan deflasi sebesar -0.67%. Ketersediaan pasokan merupakan faktor utama terjadinya deflasi pada kelompok bahan makanan.
Tabel 2.4
Kelompok Barang dan Jasa (qtq)
Tendensi deflasi kelompok bahan makanan terlihat dari hasil Survei Pemantauan
Harga yang menunjukkan penurunan harga pada beberapa komoditas utama. Hasil Survei
Pemantauan harga menunjukkan bahwa beberapa komoditas utama dalam kelompok bahan makanan yaitu beras, minyak goreng, telur ayam kampung, garam, kacang kedelai, dan cabe menunjukkan penurunan harga.
Kelompok / Sub kelompok JAN FEB MAR APR MEI JUNI JULI AUG SEPT
TRANSPOR, KOMUNIKASI & JASA KEUANGAN 0.52 -0.36 -0.37 2.39 0.80 -5.15 -5.16 -5.27 -5.35
Transpor 5.11 3.79 3.77 3.26 0.98 -7.36 -7.37 -7.39 -7.31 Komunikasi dan Pengiriman -12.80 -12.80 -12.80 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -0.69 Sarana dan Penunjang Transpor 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 Jasa Keuangan 2.74 2.74 2.74 2.74 2.74 2.74 2.74 0.34 0.34
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3
Umum -1.24 0.46 1.66 2.96 -0.04 3.83 4.01 0.16 2.33 0.59 0.85
Bahan makanan -4.86 0.19 2.10 10.48 -4.72 4.73 7.89 -1.44 6.83 0.88 -0.67 Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau 2.86 0.24 2.77 -0.24 1.96 4.01 2.32 4.46 3.15 1.93 2.00 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 0.13 0.73 0.88 -0.07 5.20 1.36 4.40 1.34 -0.14 -0.07 2.23
Sandang 0.24 0.90 0.41 1.90 2.33 -0.67 -0.04 1.14 2.52 -1.08 0.22
Kesehatan 0.12 0.90 0.26 1.11 1.74 1.34 0.56 0.42 0.62 1.77 5.59
Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga 0.00 0.12 7.44 0.05 0.26 0.47 3.98 -0.12 0.17 0.20 0.19 Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan 0.16 0.74 0.11 -0.59 0.60 8.37 0.13 -3.09 -2.39 0.14 -0.08
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 27
Grafik 2.3 Survei Pemantauan Harga Mingguan Komoditas Ayam (Rp/Kg)
Grafik 2.4 Survei Pemantauan Harga Mingguan Komoditas Cabai dan Bawang (Rp/Kg)
Hasil survei pemantauan harga menunjukkan bahwa beras sebagai komoditas
utama penyumbang inflasi mengalami penurunan. Harga beras jenis Super Win pada
minggu-II Juni 2009 sebesar Rp7000/kg turun menjadi Rp6.500/kg pada minggu-IV September 2009. Sementara itu, harga tepung terigu merek Segitiga Biru pada minggu-II Juni 2009 sebesar Rp8000/kg turun menjadi Rp7.000/kg pada minggu-IV September 2009. Harga kacang kedelai pada minggu-II Juni 2009 sebesar Rp12000/kg turun menjadi Rp10.000/kg pada minggu-IV September 2009. Sedangkan harga garam beryodium pada minggu-II Juni 2009 sebesar Rp1.750/250gr turun menjadi Rp1.000/250gr pada minggu-IV September 2009.
Cabe keriting sebagai komoditas dengan tingkat volatilitas tinggi mengalami
penurunan. Harga cabe keriting pada minggu-II Juni 2009 sebesar Rp11.000/kg turun
menjadi Rp10.000/kg pada minggu-IV September 2009. Sementara itu, harga minyak goreng merek Bimoli pada minggu-II Juni 2009 sebesar Rp8000/kg turun menjadi Rp7.000/kg pada minggu-IV September 2009. Sedangkan harga telur ayam kampung pada minggu-II Juni 2009 sebesar Rp30.000/250gr turun menjadi Rp26.500/250gr pada minggu-IV September 2009.
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 28
BOX II : IDENTIFIKASI 20 KOMODITAS UTAMA PENYUMBANG INFLASI GORONTALO
Identifikasi komoditas penyumbang inflasi menjadi penting mengingat perannya dalam perumusan kebijakan dalam usaha untuk menjaga tingkat inflasi yang rendah dan stabil. Hasil analisa Bank Indonesia Gorontalo, menunjukkan bahwa komoditas beras, minyak tanah, malalugis, rokok kretek filter, bensin, gula pasir, angkutan dalam kota, cabe merah, tarif listrik, pasir, semen, kangkung, daging sapi, pisang, minyak goreng, cakalang, seng, kembung, SLTA, dan tude merupakan 20 besar komoditas penyumbang inflasi terbesar selama Januari 2003 hingga Mei 2008. Sementara itu, cabe merah memiliki tingkat volatilitas tertinggi dalam kelompok 20 besar komoditas tersebut.
Sembilan komoditas dalam inflasi kelompok bahan makanan termasuk dalam 20 komoditas penyumbang inflasi tertinggi. Tak heran jika inflasi kelompok bahan makanan sangat signifikan dalam mempengaruhi pergerakan inflasi IHK di Provinsi Gorontalo. Beras merupakan komoditas yang memiliki sumbangan tertinggi terhadap inflasi Gorontalo. Oleh karena itu kebijakan mendukung peningkatan produksi pertanian, kelancaran pasokan, tata niaga, dan distribusi barang menjadi hal yang penting untuk mencapai tingkat inflasi Gorontalo yang rendah dan stabil.
No. Komoditas Rata-rata Sumbangan rata-rata Std. Dev/volatilitas
1 0.885752746
2 0.557126075
3 0.488850031
4 0.476399434
5 0.377362671
6 0.330765087
7 0.264983482
8 0.240909269
9 0.23243239
10 0.231367058
11 0.201027296
12 0.198850731
13 0.185850523
14 0.182215004
15 0.16597175
16 0.163937414
17 0.127407223
18 0.115663738
19 0.104095085
20 0.103799352
5.634766358 Total
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 29
BAB 3 : PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH
Pada triwulan III-2009 kinerja perbankan di Provinsi Gorontalo menunjukkan perkembangan yang menurun, diikuti dengan stabilitas sistem perbankan yang relatif
terkendali. Intermediasi perbankan ditandai oleh pertumbuhan asset perbankan dan
pertumbuhan kredit yang melambat. Sementara itu stabilitas perbankan Gorontalo tetap terjaga, tergambar dari indikator-indikator risiko kredit dan risiko pasar yang relatif terkendali. Namun, potensi peningkatan risiko kredit patut mendapat perhatian karena nilai NPL menunjukkan trend kenaikan. Sedangkan risiko likuiditas perlu diwaspadai karena LDR berada dalam taraf tidak wajar, tercatat sebesar 130% yang dikhawatirkan dapat mengancam ketersediaan likuiditas perbankan.
3.1
F
UNGSI INTERMEDIASI
Perkembangan fungsi intermediasi perbankan pada triwulan laporan menunjukkan
kinerja yang kurang memuaskan. Pertumbuhan kredit mengalami perlambatan
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, kualitas penyaluran kredit belum optimal tercermin dari pangsa kredit konsumtif yang terus mengalami peningkatan. Sedangkan penyerapan dana pihak ketiga menunjukkan kinerja yang cukup baik ditunjukkan oleh pertumbuhan dana pihak ketiga yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
3.1.1
P
erkembangan Bank
Kegiatan perbankan di Provinsi Gorontalo saat ini dilayani oleh 9 Bank Umum
Konvensional, 1 Bank Umum Syariah 4 Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Jaringan kantor
Bank Umum baik yang konvensional maupun syariah di Provinsi Gorontalo terdiri dari 12 kantor cabang, 18 kantor cabang pembantu, 9 kantor kas serta 21 kantor unit. Sementara itu, jaringan kantor BPR terdiri dari 4 kantor pusat, 2 kantor cabang dan 2 kantor kas.
Total asset pada triwulan-III 2009 tumbuh lebih rendah dibandingkan periode yang
sama tahun sebelumnya. Total asset seluruh bank pada bulan September 2009 mencapai
Rp2,84 triliun, tumbuh 24,11% (yoy) lebih lambat dibanding bulan September tahun sebelumnya sebesar 28,29% (yoy). Sementara itu, Net Interest Margin (NIM) pada September 2009 sebesar Rp.227,32 milyar atau tumbuh 29,61% (yoy) sedikit lebih lambat dibandingkan September 2008 sebesar 29,79% (yoy). Perlambatan total asset diakibatkan oleh sikap kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit terkait krisis keuangan global.
3.1.2
R
espon Perbankan Gorontalo terhadap Kebijakan Moneter
Berdasarkan data yang diperoleh, kebijakan BI-rate untuk menurunkan suku bunga
perbankan sudah mulai direspon oleh perbankan di Gorontalo. Berbagai kebijakan yang
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 30
Minimum (GWM), dan moral suasion mulai direspon dengan penurunan suku bunga deposito dan suku bunga kredit. Diharapkan penurunan suku bunga mampu mendorong penyaluran kredit kepada sektor rill guna mengakselerasi gerak roda perekonomian.
Grafik 3.1 Rata-Rata Suku Bunga Deposito Perbankan Gorontalo
Grafik 3.2 Rata-Rata Suku Bunga Kredit Perbankan Gorontalo
Sumber : Bank Indonesia
Suku bunga deposito dan suku bunga kredit merespon dengan cukup signifikan
terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia. Rata-rata suku bunga deposito 1 bulan dan 3
bulan turun mencapai kisaran 125 bps dibandingkan awal tahun 2009, sementara suku bunga giro dan tabungan relatif tidak beranjak. Suku bunga kredit konsumsi merespon dengan penurunan yang cukup dalam sebesar 300 bps. Pada awal tahun 2009 rata-rata suku bunga kredit konsumsi berkisar 14% kemudian turun hingga kisaran 11% pada triwulan-III 2009. Sementara itu,rata-rata suku bunga kredit modal kerja dan kredit investasi turun sebesar 150 bps, pada awal tahun 2009 berkisar 16,5% menjadi 15% pada triwulan-III 2009.
3.1.3
P
enyerapan dana masyarakat
Pada posisi akhir triwulan III-2009 dana yang dihimpun tercatat sebesar Rp1,87 triliun, meningkat 14,96% (yoy) lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar
9.65% (yoy). Peningkatan tertinggi terjadi pada simpanan giro sebesar 29,08% (yoy), diikuti
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 31
Grafik 3.3 Pertumbuhan DPK (yoy) Grafik 3.4 Komposisi DPK
Sumber : Bank Indonesia
3.1.4
P
enyaluran kredit
Pada posisi akhir triwulan laporan, kredit yang disalurkan tercatat sebesar Rp2,46 triliun, tumbuh 30,28%. (yoy) lebih lambat dibandingkan periode yang sama tahun
sebelumnya sebesar 38.44% (yoy). Berdasarkan jenis penggunaannya, pertumbuhan kredit
tertinggi terjadi pada kredit konsumsi yang mencapai 37.30% (yoy) namun masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 44.83% (yoy). Kredit modal kerja tumbuh sebesar 22,59% (yoy) lebih lambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 33.19% (yoy). Sementara itu, kredit investasi tumbuh 15,95% (yoy) lebih lambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 21.39% (yoy).
Grafik 3.5 Pertumbuhan Kredit berdasarkan jenis Penggunaan (yoy)
Grafik 3.6 Komposisi Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan
Sumber : Bank Indonesia
Seluruh kredit menurut jenis penggunaan mengalami trend perlambatan
dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sikap kehati-hatian perbankan
Bank Indonesia | Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III-2009 32
Grafik 3.7 Pertumbuhan Kredit Sektoral (yoy) Grafik 3.8 Komposisi Kredit Sektor Produktif
Sumber : Bank Indonesia
Pertumbuhan kredit sektor produktif pada triwulan laporan diwarnai oleh
perlambatan. Kredit konsumsi mengalami perlambatan yang paling dalam, pada triwulan
laporan tumbuh 36,33% (yoy) jauh lebih lambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya tumbuh mencapai 103,84% (yoy). Sementara itu, kredit sektor pertanian tumbuh sebesar 22,28% (yoy) lebih lambat dibandingkan periode yang sama tah