Kajian Ekonomi Regional
Jakarta
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga penyusunan buku Kajian Ekonomi Regional (KER) Jakarta Triwulan I 2009 ini dapat diselesaikan. Buku Kajian Ekonomi Regional berisi potret perkembangan ekonomi dan perbankan di Jakarta yang di era otonomi daerah keberadaannya dirasakan semakin penting. Tujuan dari penyusunan buku laporan triwulanan ini adalah untuk memberikan informasi kepada stakeholder Bank Indonesia tentang
perkembangan ekonomi dan perbankan di Jakarta, dengan harapan
informasi tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu sumber referensi bagi pembuat kebijakan, akademisi, masyarakat, dan pihak-pihak lainnya yang membutuhkan dan memiliki perhatian terhadap perkembangan ekonomi di Jakarta.
Cakupan kajian di dalam buku KER cukup luas, yaitu meliputi kajian
Kami menyadari bahwa publikasi ini masih belum sempurna. Masih banyak hal yang harus dilakukan untuk menyempurnakan dan meningkatkan kualitas kajian buku ini. Untuk itu masukan dan terutama supplai data terkini, serta kritik dan saran yang membangun sangat kamiΩ harapkan. Selanjutnya, pada kesempatan ini kami juga mengucapkan banyak terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan buku ini.
Jakarta, 5 Mei 2009 BIRO KEBIJAKAN MONETER
Daftar Isi
Ringkasan Eksekutif ...vi
Bab 1. Kondisi Makroekonomi Regional...1
Sisi Permintaan...1
Sisi Penawaran...8
Boks 1. Composit Leading Indicator (CLI) PDRB DKI Jakarta...16
Bab 2. Perkembangan Inflasi Jakarta...19
Inflasi Berdasarkan Kelompok...19
Inflasi Berdasarkan Inflasi Inti dan Non Inti...22
Bab 3. Perkembangan Perbankan...25
Intermediasi Perbankan...25
Risiko Kredit Perbankan...30
Kredit UMKM (Lokasi Proyek)...31
Bab 4. Perkembangan Sistem Pembayaran...33
Transaksi RTGS...33
Transaksi Kliring...34
Transaksi Tunai...35
Bab 6. Keuangan Daerah...37
Realisasi Pendapatan APBD 2009...38
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi :
Biro Kebijakan Moneter
Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter
Bank Indonesia
Gedung Sjafruddin Prawiranegara Lt. 18 Kompleks Bank Indonesia
Jl MH Thamrin No. 2 Jakarta Ph. 021-381-8868, 381-8199 Fax. 021-386-4929, 345-2489 Email : BKM [email protected]
Web site : www.bi.go.id
Bab 7. Outlook Kondisi Ekonomi dan Inflasi...41
Asumsi dan Skenario yang Digunakan...41
Pertumbuhan Ekonomi...42
Inflasi...47
Gejolak perekonomian global yang masih berlanjut mulai dirasakan dampaknya pada perekonomian DKI Jakarta selama triwulan I-2009. Perekonomian Jakarta pada triwulan ini tumbuh sebesar 5,8% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang masih tumbuh tinggi yaitu sebesar 6,2% (yoy). Namun demikian, beberapa langkah yang diambil Pemerintah seperti percepatan realisasi stimulus fiskal APBD DKI Jakarta dan kenaikan gaji PNS serta adanya penyelenggaraan PEMILU diperkirakan mampu menahan perlambatan pertumbuhan yang lebih dalam. Di sisi permintaan, perlambatan disebabkan oleh melemahnya konsumsi dan investasi. Kegiatan ekspor-impor di Jakarta pada triwulan I-2009 menunjukkan penurunan negatif net ekspor, yaitu dari -40,4% menjadi -28,1%. Di sisi penawaran, sebagian besar sektor ekonomi DKI Jakarta mulai tumbuh melambat diantaranya sektor industri,
perdagangan, keuangan dan bangunan yang terimbas oleh dampak krisis keuangan global sehingga pertumbuhannya mulai melambat. Penurunan aktivitas ekonomi tersebut ternyata juga diikuti dengan penurunan pula aktivitas sistem pembayaran nontunai. Namun demikian, perkembangan kegiatan usaha perbankan di Jakarta masih relatif stabil. Sementara itu, di sisi harga-harga, tekanan inflasi pada triwulan ini tercatat 7,73% (y-o-y), menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai 11,11%. Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan II-2009 diproyeksikan akan tumbuh pada kisaran angka 5,1% - 5,5% (y-o-y). Perlambatan tersebut terutama bersumber dari melambatnya pertumbuhan konsumsi dan kegiatan ekspor-impor. Sementara tekanan inflasi masih relatif rendah seperti triwulan sebelumnya.
Perkembangan Makro Regional
Pertumbuhan perekonomian DKI Jakarta mengalami perlambatan seiring Pertumbuhan perekonomian DKI Jakarta mengalami perlambatan seiringPertumbuhan perekonomian DKI Jakarta mengalami perlambatan seiring Pertumbuhan perekonomian DKI Jakarta mengalami perlambatan seiring Pertumbuhan perekonomian DKI Jakarta mengalami perlambatan seiring dengan masih terus memburuknya perekonomian global.
dengan masih terus memburuknya perekonomian global. dengan masih terus memburuknya perekonomian global. dengan masih terus memburuknya perekonomian global.
dengan masih terus memburuknya perekonomian global. Setelah tumbuh diatas 6% di empat triwulan pada tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi di triwulan I-2009 mencatat pertumbuhan sebesar 5,8%(yoy), melambat
dibandingkan triwulan sebelumnya (6,2%). Perlambatan ekonomi Jakarta dikonfirmasi oleh indikator penuntun (leading indicator) maupun beberapa indikator dini (prompt indicator) .
Di sisi permintaan, demand domestik dan eksternal telah menunjukkan Di sisi permintaan, demand domestik dan eksternal telah menunjukkanDi sisi permintaan, demand domestik dan eksternal telah menunjukkan Di sisi permintaan, demand domestik dan eksternal telah menunjukkan Di sisi permintaan, demand domestik dan eksternal telah menunjukkan perlambatan pertumbuhan.
perlambatan pertumbuhan.perlambatan pertumbuhan. perlambatan pertumbuhan.
perlambatan pertumbuhan. Dari sisi domestik, pelemahan ini terutama didorong oleh sisi konsumsi dan investasi. Sementara dari sisi eksternal, kegiatan ekspor yang terpantau masih stabil sementara impor tumbuh melambat, sehingga negatif net ekspor menurun. Perkembangan kegiatan ekspor-impor tersebut belum berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan Jakarta disebabkan porsi ekspor-impor dalam pertumbuhan Jakarta yang relatif kecil.
Di sisi penawaran, sebagian besar sektor ekonomi DKI Jakarta mulai tumbuh Di sisi penawaran, sebagian besar sektor ekonomi DKI Jakarta mulai tumbuhDi sisi penawaran, sebagian besar sektor ekonomi DKI Jakarta mulai tumbuh Di sisi penawaran, sebagian besar sektor ekonomi DKI Jakarta mulai tumbuh Di sisi penawaran, sebagian besar sektor ekonomi DKI Jakarta mulai tumbuh melambat searah dengan perkembangan pada sisi permintaan.
melambat searah dengan perkembangan pada sisi permintaan.melambat searah dengan perkembangan pada sisi permintaan. melambat searah dengan perkembangan pada sisi permintaan.
melambat searah dengan perkembangan pada sisi permintaan. Beberapa sektor unggulan, seperti sektor industri, perdagangan, keuangan dan bangunan diperkirakan mulai terimbas oleh dampak krisis keuangan global sehingga pertumbuhannya mulai melambat. Salah satu faktor pendorong melambatnya pertumbuhan sektoral adalah melemahnya permintaan internasional dan permintaan domestik. Hanya beberapa sektor ekonomi yang pertumbuhannya melampaui triwulan sebelumnya yaitu sektor pertambangan, listrik dan
pengangkutan.
Perkembangan Inflasi Regional
Pada triwulan I 2009 tekanan IHK di DKI Jakarta menurun dibandingkan dengan Pada triwulan I 2009 tekanan IHK di DKI Jakarta menurun dibandingkan denganPada triwulan I 2009 tekanan IHK di DKI Jakarta menurun dibandingkan dengan Pada triwulan I 2009 tekanan IHK di DKI Jakarta menurun dibandingkan dengan Pada triwulan I 2009 tekanan IHK di DKI Jakarta menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
triwulan sebelumnya. triwulan sebelumnya. triwulan sebelumnya.
melambat. Terkendalinya tekanan inflasi juga didorong oleh perkembangan imported inflation yang menurun sejalan dengan harga komoditas internasional yang lebih rendah.
Perkembangan Perbankan
Kinerja sektor perbankan terpantau masih relatif baik, meskipun tekanan Kinerja sektor perbankan terpantau masih relatif baik, meskipun tekanan Kinerja sektor perbankan terpantau masih relatif baik, meskipun tekanan Kinerja sektor perbankan terpantau masih relatif baik, meskipun tekanan Kinerja sektor perbankan terpantau masih relatif baik, meskipun tekanan terhadap sektor keuangan meningkat.
terhadap sektor keuangan meningkat. terhadap sektor keuangan meningkat. terhadap sektor keuangan meningkat.
terhadap sektor keuangan meningkat. Hal tersebut terlihat dari penghimpunan Dana Pihak Ketiga pada triwulan I-20091 yang masih naik 23,0% (y-o-y).
Namun seiring dengan perlambatan ekonomi, penyaluran kredit bank yang berlokasi di Jakarta, sedikit melambat menjadi 27,8% (y-o-y). Perkembangan dua hal tersebut berimplikasi terhadap kegiatan intermediasi perbankan di Jakarta yang mengalami penurunan pada akhir Februari 2009 menjadi 76,1% dibanding triwulan sebelumnya (77,7%). Tren risiko kredit sebagaimana
tercermin pada angka NPLs Gross relatif masih terkendali. Dari sisi kredit mikro, kecil, dan menengah (MKM), perkembangannya masih meningkat pada
triwulan ini.
Perkembangan Sistem Pembayaran
Perkembangan kegiatan sistem pembayaran nontunai di wilayah DKI Jakarta Perkembangan kegiatan sistem pembayaran nontunai di wilayah DKI Jakarta Perkembangan kegiatan sistem pembayaran nontunai di wilayah DKI Jakarta Perkembangan kegiatan sistem pembayaran nontunai di wilayah DKI Jakarta Perkembangan kegiatan sistem pembayaran nontunai di wilayah DKI Jakarta pada triwulan laporan menunjukkan penurunan, sedangkan untuk transaksi pada triwulan laporan menunjukkan penurunan, sedangkan untuk transaksi pada triwulan laporan menunjukkan penurunan, sedangkan untuk transaksi pada triwulan laporan menunjukkan penurunan, sedangkan untuk transaksi pada triwulan laporan menunjukkan penurunan, sedangkan untuk transaksi tunai relatif stabil.
tunai relatif stabil. tunai relatif stabil. tunai relatif stabil.
tunai relatif stabil. Faktor yang mempengaruhi penurunan transaksi pembayaran nontunai dengan menggunakan sarana BI Real Time Gross Settlement (RTGS) dan kliring, diperkirakan adalah aktifitas perekonomian yang sedikit melambat dan jumlah hari libur yang cukup banyak di triwulan laporan. Sementara
kegiatan sistem pembayaran tunai relatif stabil dengan rasio temuan uang palsu yang relatif rendah.
Perkembangan Keuangan Daerah
Angka realisasi APBD 2009 DKI Jakarta pada awal tahun relatif lebih tinggi Angka realisasi APBD 2009 DKI Jakarta pada awal tahun relatif lebih tinggi Angka realisasi APBD 2009 DKI Jakarta pada awal tahun relatif lebih tinggi Angka realisasi APBD 2009 DKI Jakarta pada awal tahun relatif lebih tinggi Angka realisasi APBD 2009 DKI Jakarta pada awal tahun relatif lebih tinggi daripada target yang direncanakan.
daripada target yang direncanakan. daripada target yang direncanakan. daripada target yang direncanakan.
daripada target yang direncanakan. Realisasi pendapatan mencapai Rp 3,496 triliun atau 16,9 % dari yang dianggarkan Rp 20,674 triliun. Realisasi belanja Rp 2,087 triliun atau 9,3 % dari total belanja. Realisasi tersebut lebih tinggi dari target yang dicanangkan 4-5 persen. Dibandingkan realisasi periode yang sama tahun lalu, realisasi ini juga relatif lebih cepat. Faktor yang mendukung adalah
relatif lebih cepatnya pengesahan APBD 2009 Jakarta yaitu pada bulan Januari, dibandingkan APBD 2008 yang terjadi pada bulan Maret.
Outlook Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi
Pada triwulan II-2009 diprakirakan imbas dari krisis keuangan global terhadap Pada triwulan II-2009 diprakirakan imbas dari krisis keuangan global terhadapPada triwulan II-2009 diprakirakan imbas dari krisis keuangan global terhadap Pada triwulan II-2009 diprakirakan imbas dari krisis keuangan global terhadap Pada triwulan II-2009 diprakirakan imbas dari krisis keuangan global terhadap perekonomian DKI Jakarta masih berlanjut.
perekonomian DKI Jakarta masih berlanjut. perekonomian DKI Jakarta masih berlanjut. perekonomian DKI Jakarta masih berlanjut.
perekonomian DKI Jakarta masih berlanjut. Proyeksi perekonomian DKI Jakarta pada triwulan II 2009 adalah pada kisaran angka 5,1% - 5,5% (y-o-y), relatif melambat dibandingkan dengan periode sebelumnya. Perlambatan tersebut utamanya masih bersumber dari penurunan konsumsi dan kinerja ekspor. Gejala perlambatan konsumsi diperkirakan akibat PHK yang masih terus berlanjut sehingga berpengaruh terhadap penurunan daya beli. Kegiatan ekspor dan impor tumbuh melambat dipengaruhi oleh permintaan dunia dan domestik yang melemah. Demikian pula perlambatan yang terjadi pada investasi swasta masih berlanjut, indikator penurunan utilisasi kapasitas usahanya akibat seiring permintaan yang menurun. Secara sektoral, sektor-sektor unggulan
diperkirakan masih tumbuh melambat.
Pada triwulan II-2009, laju inflasi regional Jakarta (q-t-q) diperkirakan masih Pada triwulan II-2009, laju inflasi regional Jakarta (q-t-q) diperkirakan masihPada triwulan II-2009, laju inflasi regional Jakarta (q-t-q) diperkirakan masih Pada triwulan II-2009, laju inflasi regional Jakarta (q-t-q) diperkirakan masih Pada triwulan II-2009, laju inflasi regional Jakarta (q-t-q) diperkirakan masih tetap rendah seperti triwulan sebelumnya.
tetap rendah seperti triwulan sebelumnya. tetap rendah seperti triwulan sebelumnya. tetap rendah seperti triwulan sebelumnya.
tetap rendah seperti triwulan sebelumnya. Angka inflasi triwulanan
Kondisi
Makroekonomi Regional
Gejolak perekonomian global yang masih berlanjut mulai berpengaruh terhadap pertumbuhan perekonomian DKI Jakarta. Perekonomian Jakarta pada triwulan I-2009 tumbuh melambat (5,8%) dibandingkan triwulan sebelumnya (6,2%). Indikator penuntun (leading indicator) maupun dini (prompt indicator) secara umum mengkonfirmasi perlambatan ekonomi Jakarta. Di sisi permintaan, perlambatan disebabkan oleh melemahnya konsumsi dan investasi. Konsumsi melambat karena konsumsi untuk barang tahan lama menurun, seiring upaya efisiensi yang dilakukan masyarakat. Investasi melambat terutama dipengaruhi investasi swasta yang terindikasi terbatas, terlihat dari konsumsi semen dan utilisasi
kapasitas yang menurun. Namun di tengah pelemahan permintaan dunia, kegiatan ekspor masih stabil, sedangkan impor terpantau melambat. Di sisi penawaran, walaupun sebagian besar sektor unggulan tumbuh melambat, namun sektor pengangkutan dan listrik tercatat masih meningkat.
A. SISI PERMINTAAN
1. Konsumsi
Pada triwulan I-2009, konsumsi tumbuh 6,0%, melambat dibandingkan dengan Pada triwulan I-2009, konsumsi tumbuh 6,0%, melambat dibandingkan denganPada triwulan I-2009, konsumsi tumbuh 6,0%, melambat dibandingkan dengan Pada triwulan I-2009, konsumsi tumbuh 6,0%, melambat dibandingkan dengan Pada triwulan I-2009, konsumsi tumbuh 6,0%, melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (6,4%).
triwulan sebelumnya (6,4%). triwulan sebelumnya (6,4%). triwulan sebelumnya (6,4%).
triwulan sebelumnya (6,4%). Perlambatan konsumsi tersebut diperkirakan berasal konsumsi rumah tangga yang melakukan efisiensi1. Penghematan yang
1 Hasil survei market research Ipsos (Februari 2009 ) : bahwa 70% ibu rumah tangga akan mengurangi atau menghemat pengeluarannya.
* angka sementara Sumber : BPS, diolah
Tabel I.1
Pertumbuhan Ekonomi Sisi Permintaan Jakarta (%, y-o-y)
D K I Q1-2008 Q2-2008 Q3-2008 Q4-2008* 2008* Q1-2009* Kontribusi Q1-2009
Konsumsi 7,8 6,1 6,4 6,4 6,7 6,0 3,6
Investasi 8,3 8,6 8,9 8,1 8,7 7,6 2,7
Ekspor 6,4 0,8 0,5 0,7 2,7 3,8 0,4
Impor 17,3 12,5 8,5 12,9 12,8 11,1 0,9
Net Ekspor -24,3 -33,8 -29,3 -40,4 -30,7 -28,1 -0,5
P D R B 6,3 6,1 6,1 6,2 6,2 5,8 5,9
akan dilakukan disebabkan oleh turunnya pendapatan masyarakat dan
menurunnya dukungan pembiayaan lembaga keuangan nonbank. Masyarakat melakukan pengurangan pos-pos tertentu (27%), mengurangi konsumsi (24%), berganti ke kemasan yang lebih kecil (19%), berganti merek yang lebih murah (13%), menunda pembelian (8%), dan berhenti mengkonsumsi (8%). Pos-pos pengeluaran yang cenderung dikurangi umumnya pengeluaran tersier. Indeks komoditi non makanan juga menunjukkan bahwa konsumsi untuk pakaian, perumahan, pendidikan, transportasi, kesehatan dan rekreasi cenderung menurun2. Sementara dari sisi pemerintah, belanja konsumsi pemerintah
(daerah dan pusat) diperkirakan masih minimal.
Grafik I.1
Konsumsi Komoditi Non Makanan
Q1*-2009 Q4-2008
* data sementara Sumber : BPS, diolah
Rekreasi Kesehatan Transportasi Pendidikan Perumahan Pakaian
117,26 72,82
59,87 82,74
132,6 128,74
57,4
117,7 115,2 70,5
116,2
82,7
0 20 40 60 80 100 120 140 160
Prompt indikator mengkonfirmasi perlambatan konsumsi di Jakarta. Prompt indikator mengkonfirmasi perlambatan konsumsi di Jakarta.Prompt indikator mengkonfirmasi perlambatan konsumsi di Jakarta. Prompt indikator mengkonfirmasi perlambatan konsumsi di Jakarta.
Prompt indikator mengkonfirmasi perlambatan konsumsi di Jakarta. Konsumsi durable good (barang tahan lama) seperti pendaftaran mobil dan motor, penjualan elektronik3 terpantau menurun. Penurunan tersebut sejalan pula
dengan hasil survei penjualan eceran yang menunjukkan penurunan pada penjualan obat, alat rumah tangga, bahan bakar dan makanan4.
3 Electronic Marketing Club/EMC, bulan Februari 2009. 4 Survey Bank Indonesia, bulan Februari 2009.
Grafik I.4
Pertumbuhan Penjualan Elektronik
Grafik I.5
Survei Penjualan Eceran – BI Grafik I.2
Pendaftaran Mobil di Jakarta
Grafik I.3 Survei Penjualan Eceran
%, y-o-y %, y-o-y
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
2006 2007 2008 2009
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 -60 -40 -20 0 20 40 60 80 100
g.PDRB Konsumsi Jkt g.Sedan, Jeep, Minibus, B.Wagon, Delvan [baru] (rhs)
%, y-o-y
g.Obat-obatan g.Indeks Alat RT g.Bahan bakar g.Makanan -80 -60 -40 -20 0 20 40 60 80 100 120
2006 2007 2008 2009
2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2
%, y-o-y %, y-o-y
Sumber : EMC, diolah 4 5 6 7 8 9 10 11
2006 2007 2008 2009
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3-30 -20 -10 0 10 20 30 40 50
g.PDRB Konsumsi Jkt g.Penjualan Elektronik (rhs)
%, y-o-y %, y-o-y
0 2 4 6 8 10 12
2006 2007 2008 2009
-80 -60 -40 -20 0 20 40 60 80 g.PDRB Konsumsi Jkt
g.indeks spe (rhs)
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3
Namun demikian, melemahnya konsumsi yang lebih dalam masih tertahan oleh Namun demikian, melemahnya konsumsi yang lebih dalam masih tertahan olehNamun demikian, melemahnya konsumsi yang lebih dalam masih tertahan oleh Namun demikian, melemahnya konsumsi yang lebih dalam masih tertahan oleh Namun demikian, melemahnya konsumsi yang lebih dalam masih tertahan oleh keyakinan konsumen yang masih optimis.
keyakinan konsumen yang masih optimis.keyakinan konsumen yang masih optimis. keyakinan konsumen yang masih optimis.
ekonomi 6 bulan yang akan datang kurang lebih akan sama dengan kondisi saat ini.
Grafik I.7
Indeks Ekspektasi Konsumen (SK–BI) Grafik I.6
Indeks Kondisi Saat Ini (SK–BI) Indeks
Indeks Penghasilan saat ini Indeks Ketersediaan Lap. Kerja Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini 0 20 40 60 80 100 120
2006 2007 2008 2009
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3
Indeks
Ekspektasi penghasilan 6 bulan yad Ketersediaan lapangan kerja 6 bulan yad Kondisi ekonomi 6 bulan yad (rhs) 0 20 40 60 80 100 120 140 160
2006 2007 2008 2009
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3
Konsumsi melemah seiring dukungan pembiayaan yang terbatas. Konsumsi melemah seiring dukungan pembiayaan yang terbatas. Konsumsi melemah seiring dukungan pembiayaan yang terbatas. Konsumsi melemah seiring dukungan pembiayaan yang terbatas. Konsumsi melemah seiring dukungan pembiayaan yang terbatas. Kredit konsumsi hanya meningkat 22,2%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya (23,2%). Secara teknis faktor yang membatasinya adalah masih tingginya suku bunga dan bank yang semakin selektif dalam
mengucurkan kredit. Demikian pula, pertumbuhan pembiayaan lembaga keuangan nonbank juga masih terpantau tumbuh terbatas (24,4% dari 27,4%).
Grafik I.9
Perkembangan Pembiayaan Lembaga Keuangan Nonbank
Grafik I.8
Perkembangan Kredit Konsumsi Berdasarkan Lokasi Proyek
%, y-o-y %, y-o-y
3 4 5 6 7 8 9 10 11
2006 2007 2008 2009
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 0 5 10 15 20 25 30 35
g.PDRB Konsumsi Jkt g.kredit konsumsi Jkt (rhs)
%, y-o-y %, y-o-y
0 2 4 6 8 10 12
2006 2007 2008 2009
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3-20 0 20 40 60 80 100 120 g.PDRB Konsumsi Jkt (lhs)
g.Total Pembiayaan
2. Investasi
Investasi tumbuh 7,6%, melambat dibandingkan triwulan IV 2008 (8,1%). Investasi tumbuh 7,6%, melambat dibandingkan triwulan IV 2008 (8,1%).Investasi tumbuh 7,6%, melambat dibandingkan triwulan IV 2008 (8,1%). Investasi tumbuh 7,6%, melambat dibandingkan triwulan IV 2008 (8,1%). Investasi tumbuh 7,6%, melambat dibandingkan triwulan IV 2008 (8,1%). Sumber yang mempengaruhi perlambatan investasi antara lain adalah investasi swasta. Di sisi investasi bangunan, indikasi bahwa investasi bangunan sedikit tumbuh melambat antara lain tercermin pada perlambatan pertumbuhan konsumsi semen. Di sisi investasi non bangunan, suplai impor barang modal industri seperti mesin, peralatan industri dan suku cadang relatif menurun. Dari sisi ekspektasi, kalangan usaha menyatakan bahwa situasi usaha dan bisnis 6 bulan mendatang masih pesimis.
Grafik I.11 Survei Penjualan Eceran Grafik I.10
Konsumsi Semen Jakarta
%, y-o-y %, y-o-y
Sumber : Asosiasi Semen Indonesia, diolah 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
2006 2007 2008 2009
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3-60 -40 -20 0 20 40 60 80 g.PDRB Investasi Jkt
g.Kons Semen Jkt(rhs)
%, y-o-y %, y-o-y
4 5 6 7 8 9 10
2006 2007 2008 2009
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3-100 -50 0 50 100 150 200 g.PDRB Investasi Jkt (lhs)
g.Bahan konstruksi
Grafik I.13 Impor Barang Modal Grafik I.12
Utilisasi Kapasitas Industri * data sementara
30 40 50 60 70 80 90 60 70 80 90 Total Sektor Total Industri Pengolahan
1 2 3 4 1 2 3 4 1*
2007 2008 2009
%, y-o-y %, y-o-y
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3
2006 2007 2008 2009
-90 -40 10 60 110 160 g.PDRB Investasi Jkt
g.Volum Tertimbang Impor Brg Modal (rhs)
Sementara realisasi belanja investasi pemerintah daerah relatif lebih cepat dari Sementara realisasi belanja investasi pemerintah daerah relatif lebih cepat dariSementara realisasi belanja investasi pemerintah daerah relatif lebih cepat dari Sementara realisasi belanja investasi pemerintah daerah relatif lebih cepat dari Sementara realisasi belanja investasi pemerintah daerah relatif lebih cepat dari target yang dicanangkan.
target yang dicanangkan.target yang dicanangkan. target yang dicanangkan.
target 4-5 persen. Belanja infrastruktur pemerintah daerah Jakarta pada tahun 2009 terutama akan ditujukan bagi pembangunan infrastruktur, banjir kanal timur (KBT), perbaikan jalan, pembangunan irigasi, pembangunan fly over.
Grafik I.15 Ekspektasi Kegiatan Usaha Grafik I.14
Impor Barang Modal Utama %, y-o-y -100 -50 0 50 100 150 200 250
2006 2007 2008 2009
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 2
g.Capital Goods (Except Transport Equipment) g.Transport Equipment, Passenger Motor Cars g.Transport Equipment, (Industrial)
Indeks SBT
Sumber : SKDU Jakarta -10 0 10 20 30 40 50 60
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1p
2006 2007 2008
Ekspektasi Situasi Bisnis Ekspektasi Kegiatan Dunia Usaha
Dari sisi pembiayaan, kredit investasi perbankan maupun penerbitan IPO Dari sisi pembiayaan, kredit investasi perbankan maupun penerbitan IPO Dari sisi pembiayaan, kredit investasi perbankan maupun penerbitan IPO Dari sisi pembiayaan, kredit investasi perbankan maupun penerbitan IPO Dari sisi pembiayaan, kredit investasi perbankan maupun penerbitan IPO saham dan obligasi menurun.
saham dan obligasi menurun. saham dan obligasi menurun. saham dan obligasi menurun.
saham dan obligasi menurun. Pembiayaan investasi yang berasal dari dana perbankan yang berlokasi di Jakarta masih menunjukkan tren yang menurun 51,5% (y-o-y), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya (55,3%). Sementara itu, di sisi pembiayaan yang berasal dari pasar modal sampai dengan akhir bulan Maret 2009 hanya tercatat Initial Public Offering (IPO) obligasi baru, dari 1 emiten perusahaan financing sebesar Rp 900 miliar.
Grafik I.17 IPO Saham dan Obligasi Grafik I.16
Kredit Investasi Berdasarkan Lokasi Proyek
%, y-o-y %, y-o-y
g.PDRB Investasi Jkt g.kredit investasi Jkt (rhs)
2 3 4 5 6 7 8 9 10
2006 2007 2008 2009
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 -20 -10 0 10 20 30 40 50 60 70
80 Rp miliar
0 4000 8000 12000 16000 20000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3
2008 2008
3. Kegiatan Ekspor-Impor
Kegiatan ekspor-impor di Jakarta pada triwulan I-2009 masih menunjukkan net Kegiatan ekspor-impor di Jakarta pada triwulan I-2009 masih menunjukkan netKegiatan ekspor-impor di Jakarta pada triwulan I-2009 masih menunjukkan net Kegiatan ekspor-impor di Jakarta pada triwulan I-2009 masih menunjukkan net Kegiatan ekspor-impor di Jakarta pada triwulan I-2009 masih menunjukkan net ekspor yang negatif, yaitu dari -40,4% menjadi -28,1%.
ekspor yang negatif, yaitu dari -40,4% menjadi -28,1%.ekspor yang negatif, yaitu dari -40,4% menjadi -28,1%. ekspor yang negatif, yaitu dari -40,4% menjadi -28,1%.
ekspor yang negatif, yaitu dari -40,4% menjadi -28,1%. Namun demikian, negatifnya semakin kecil karena ekspor stabil sementara impor melambat. Ekspor5 yang masih stabil diperkirakan dari ekspor antar daerah yang masih
positif, karena didorong oleh Jakarta sebagai hub perdagangan dari dan ke provinsi/daerah lain.
Impor Jakarta tumbuh 11,1%, melambat dibandingkan dengan triwulan IV Impor Jakarta tumbuh 11,1%, melambat dibandingkan dengan triwulan IVImpor Jakarta tumbuh 11,1%, melambat dibandingkan dengan triwulan IV Impor Jakarta tumbuh 11,1%, melambat dibandingkan dengan triwulan IV Impor Jakarta tumbuh 11,1%, melambat dibandingkan dengan triwulan IV 2008 (12,9%).
2008 (12,9%).2008 (12,9%). 2008 (12,9%).
2008 (12,9%). Faktor utama yang mempengaruhi melemahnya pertumbuhan impor antara lain adalah industri dengan import content tinggi melemah. Ketergantungan terhadap bahan baku dan barang modal untuk kegiatan proses produksi yang menghasilkan barang konsumsi juga relatif tinggi. Pengaruh pelemahan impor diperkirakan akan saling berpengaruh terhadap kondisi konsumsi dan investasi di Jakarta. Namun demikian, impor yang cukup besar tersebut untuk kebutuhan bahan baku impor bagi industri-industri yang berlokasi di luar Jakarta yang diimpor melalui pelabuhan Jakarta, sehingga impor tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan impor Jakarta.
Grafik I.19
Perkembangan Volume Impor Jakarta Grafik I.18
Nilai Impor Jakarta
Juta USD %, y-o-y
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500
2008 2009
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 -40
-20 0 20 40 60 80
Total Impor Jakarta g. Total impor Jkt (rhs)
%, y-o-y
-60 -40 -20 0 20 40 60 80 100 120 140
2007 2008 2009
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 121 2 g.Barang Konsumsi
g.Bahan Baku g.Barang Modal
5 Ekspor pada PDRB mencakup ekspor ke luar negeri dan ekspor antar daerah.
Ekspor untuk sementara masih tumbuh stabil, sebagaimana ditunjukkan oleh Ekspor untuk sementara masih tumbuh stabil, sebagaimana ditunjukkan olehEkspor untuk sementara masih tumbuh stabil, sebagaimana ditunjukkan oleh Ekspor untuk sementara masih tumbuh stabil, sebagaimana ditunjukkan oleh Ekspor untuk sementara masih tumbuh stabil, sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa
beberapa beberapa beberapa
beberapa prompt indicatorprompt indicatorprompt indicatorprompt indicatorprompt indicator yang masih baik. yang masih baik. yang masih baik. yang masih baik. Total ekspor terutama untuk yang masih baik. kelompok pertanian masih sedikit meningkat. Namun demikian perlu
mesin dan perlengkapan transportasi, pakaian, alas kaki dan barang-barang manufaktur lainnya.
Grafik I.21
Perkembangan Volume Ekspor Grafik I.20
Perkembangan Nilai Ekspor
Juta Kg %, y-o-y
Total Ekspor g.Total Ekspor (rhs)
0 50 100 150 200 250 300 350 400
2007 2008 2009
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011121 2 3 4 5 6 7 8 9 1011121 2-40 -20 0 20 40 60 80
100 %, y-o-y
(100) (50) -50 100 150
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2
2007 2008 2009
g.Manufaktur g.Pertanian
Grafik I.23
Pertumbuhan Nilai Ekspor Komponen Utama Manufaktur Jakarta
Grafik I.22
Komposisi Ekspor Jakarta Berdasarkan Komoditi
Manufaktur 98,8%
Tambang 0,0% Pertanian
1,2%
%, y-o-y %, y-o-y
-500 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500
2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2
2007 2008 2009
-100 -50 0 50 100 150 200
Non metalic minerals mfs (lhs)
Animal&Vegetable Oils & Fats (lhs)
Metalliferous ores&metal scr Ess. Oils & perfum materials
Misc. Food preparations
B. SISI PENAWARAN
Sektor utama di DKI Jakarta mulai tumbuh melambat. Sektor utama di DKI Jakarta mulai tumbuh melambat. Sektor utama di DKI Jakarta mulai tumbuh melambat. Sektor utama di DKI Jakarta mulai tumbuh melambat.
1. Industri
Pada triwulan I-2009, sektor industri tumbuh melambat 2,3%, dibandingkan Pada triwulan I-2009, sektor industri tumbuh melambat 2,3%, dibandingkanPada triwulan I-2009, sektor industri tumbuh melambat 2,3%, dibandingkan Pada triwulan I-2009, sektor industri tumbuh melambat 2,3%, dibandingkan Pada triwulan I-2009, sektor industri tumbuh melambat 2,3%, dibandingkan triwulan sebelumnya (3,6%).
triwulan sebelumnya (3,6%).triwulan sebelumnya (3,6%). triwulan sebelumnya (3,6%).
triwulan sebelumnya (3,6%). Perlambatan di sektor industri terindikasi pada penurunan penggunaan energi dan turunnya indeks produksi beberapa industri. Konsumsi energi industri (BBM dan listrik) cenderung turun. Indeks produksi industri secara total juga turun. Secara individual indeks produksi industri yang turun adalah industi tekstil (TPT) dan mesin. Sementara itu indeks produksi industri makanan masih tumbuh meskipun relatif terbatas. Upaya pemerintah untuk membantu industri terutama TPT adalah keringanan biaya masuk bagi industri dengan local content tertentu. Pelemahan sektor industri telah
* angka sementara Sumber : BPS, diolah
Tabel I.2
Pertumbuhan Ekonomi Sisi Penawaran Jakarta (%, y-o-y)
D K I KontribusiQ1-2009
Pertanian 1,4 -0,3 0,7 1,4 0,8 1,4 0,0
Pertambangan 1,5 0,9 -0,3 0,0 1,3 0,4 0,0
Industri 4,1 4,0 3,9 3,6 4,0 2,3 0,4
Listrik 6,8 7,0 5,6 5,9 6,3 6,5 0,0
Bangunan 7,5 7,6 7,8 7,8 7,8 6,9 0,7
Perdagangan 6,8 6,2 6,2 5,8 6,3 5,4 1,2
Pengangkutan 15,2 14,9 15,0 14,8 15,0 15,4 1,5
Keuangan 4,1 4,1 4,2 4,8 4,0 4,4 1,3
Jasa-jasa 6,4 6,0 6,0 5,9 6,0 5,8 0,7
PDRB 6,3 6,1 6,1 6,2 6,2 5,8 5,8
Q1-2008 Q2-2008 Q3-2008 Q4-2008* 2008* Q1-2009*
Grafik I.25 Konsumsi BBM Industri Grafik I.24
Pemakaian Listrik Industri %, y-o-y %, y-o-y
g.PDRB Industri Jkt g.Kons Listrik Industri (rhs)
Sumber : PLN, diolah 0
1 2 3 4 5 6
2006 2007 2008 2009
3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 -40 -30 -20 -10 0 10 20 30 40 50
60 %, y-o-y %, y-o-y
Sumber : Pertamina, diolah 0
1 2 3 4 5 6 7
2006 2007 2008 2009
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 -100 -50 0 50 100 150 200 g.PDRB Industri Jkt
mendorong langkah efisiensi industri dengan mengurangi jumlah tenaga kerja sebanyak 17.150 orang (24 April 2009).
Pembiayaan perbankan terhadap sektor industri sedikit menurun dengan Pembiayaan perbankan terhadap sektor industri sedikit menurun dengan Pembiayaan perbankan terhadap sektor industri sedikit menurun dengan Pembiayaan perbankan terhadap sektor industri sedikit menurun dengan Pembiayaan perbankan terhadap sektor industri sedikit menurun dengan riskriskriskriskrisk profile
profile profile profile
profile sektor industri yang masih relatif tinggi. sektor industri yang masih relatif tinggi. sektor industri yang masih relatif tinggi. sektor industri yang masih relatif tinggi. sektor industri yang masih relatif tinggi. Pelemahan pembiayaan perbankan di sektor industri menjadi sekitar 35,5%, menurun dibandingkan posisi triwulan IV-2008 yang mampu mencapai 37,6%. Pelemahan tersebut menimbulkan pula tren resiko kredit yang cenderung naik masih di atas ambang aman NPLs (7,2%).
2. Bangunan
Sektor bangunan pada triwulan I-2009 tumbuh sebesar 6,9%, melambat Sektor bangunan pada triwulan I-2009 tumbuh sebesar 6,9%, melambat Sektor bangunan pada triwulan I-2009 tumbuh sebesar 6,9%, melambat Sektor bangunan pada triwulan I-2009 tumbuh sebesar 6,9%, melambat Sektor bangunan pada triwulan I-2009 tumbuh sebesar 6,9%, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan IV-2008 (7,8%).
dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan IV-2008 (7,8%). dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan IV-2008 (7,8%). dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan IV-2008 (7,8%).
dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan IV-2008 (7,8%). Perlambatan pertumbuhan sektor bangunan diperkirakan bersumber dari melambatnya pembangunan properti oleh swasta, khususnya properti residensial akibat melemahnya permintaan. Proyek yang berjalan pada triwulan ini hanya merupakan penyelesaian proyek lama yang belum kelar. Bahkan beberapa perusahaan multinasional menyatakan melakukan penundaaan ekspansi pada tahun 2009. Sementara beberapa kegiatan pembangunan infrastruktur pemerintah di DKI Jakarta masih terus berlanjut dan beberapa proyek telah selesai, diantaranya perbaikan 86 jalan 158 jalan rusak, penggalian dan pembangunan jembatan Proyek Banjir Kanal Timur.
Melemahnya kinerja sektor bangunan diikuti pembiayaan perbankan yang Melemahnya kinerja sektor bangunan diikuti pembiayaan perbankan yang Melemahnya kinerja sektor bangunan diikuti pembiayaan perbankan yang Melemahnya kinerja sektor bangunan diikuti pembiayaan perbankan yang Melemahnya kinerja sektor bangunan diikuti pembiayaan perbankan yang menurun.
menurun. menurun. menurun.
menurun. Posisi kredit perbankan di sektor bangunan yang berlokasi di
Grafik I.26 Indeks Produksi Industri Sumber : CEIC, diolah
%, y-o-y %, y-o-y
0 1 2 3 4 5 6
2006 2007 2008 2009
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 -15 -10 -5 0 5 10 15 20
Jakarta pada posisi akhir Februari 2009 mencapai Rp 25,1 triliun, melambat menjadi naik 31,2% (y-o-y) dibandingkan triwulan sebelumnya (35,4%). Sementara itu, risiko kredit (NPLs) sektor bangunan dalam tren yang relatif meningkat (5,2%).
3. Perdagangan, Hotel dan Restoran
Sektor perdagangan hotel dan restoran (PHR) pada triwulan I-2009 tumbuh Sektor perdagangan hotel dan restoran (PHR) pada triwulan I-2009 tumbuhSektor perdagangan hotel dan restoran (PHR) pada triwulan I-2009 tumbuh Sektor perdagangan hotel dan restoran (PHR) pada triwulan I-2009 tumbuh Sektor perdagangan hotel dan restoran (PHR) pada triwulan I-2009 tumbuh sebesar 5,4% (y-o-y), melambat dibandingkan dengan triwulan IV-2008 (5,8%). sebesar 5,4% (y-o-y), melambat dibandingkan dengan triwulan IV-2008 (5,8%).sebesar 5,4% (y-o-y), melambat dibandingkan dengan triwulan IV-2008 (5,8%). sebesar 5,4% (y-o-y), melambat dibandingkan dengan triwulan IV-2008 (5,8%). sebesar 5,4% (y-o-y), melambat dibandingkan dengan triwulan IV-2008 (5,8%). Melambatnya kinerja perdagangan, dipengaruhi oleh kecenderungan
terbatasnya konsumsi masyarakat. Perlambatan sektor perdagangan/hotel/ restoran dikonfirmasi dengan beberapa prompt indikator dan hasil survei,
Grafik I.28
Pembangunan Apartemen di Jakarta Grafik I.27
Konsumsi Semen Jakarta
%, y-o-y %, y-o-y
Sumber : CEIC, diolah 6 6,5 7 7,5 8 8,5
2006 2007 2008 2009
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3-60 -40 -20 0 20 40 60 80
g.PDRB Bangunan Jkt g.Semen Jkt(rhs)
Ribuan meter2 %, y-o-y
Sumber : CII, diolah 45
50 55 60 65
2007 2008 2009
III IV I II III IVp Ip -30 -20 -10 0 10 20 30 40 50 60 Unit Tersedia
g.Unit Tersedia (rhs)
Grafik I.30
Konsumsi Listrik Sektor Bisnis Grafik I.29
Survei Penjualan Eceran %, y-o-y %, y-o-y
Sumber : PLN, diolah 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
2006 2007 2008 2009
3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 -10 0 10 20 30
g.PDRB Perdagangan Jkt g.Kons Listrik Bisnis (rhs)
%, y-o-y %, y-o-y
Sumber : PLN, diolah 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
2006 2007 2008 2009
diantaranya pertumbuhan indeks penjualan eceran6 dan konsumsi listrik sektor
bisnis. Di sisi lain, occupancy rate persewaan untuk sektor retail 7 sedikit
menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Namun demikian, perlambatan pertumbuhan perdagangan dapat tertahan seiring masih kuatnya arus bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok.
Subsektor hotel dan restoran diperkirakan tumbuh relatif stabil. Subsektor hotel dan restoran diperkirakan tumbuh relatif stabil. Subsektor hotel dan restoran diperkirakan tumbuh relatif stabil. Subsektor hotel dan restoran diperkirakan tumbuh relatif stabil.
Subsektor hotel dan restoran diperkirakan tumbuh relatif stabil. Jumlah wisman yang masuk melalui bandara Sukarno Hatta dan Tanjung Priok relatif normal. Tingkat hunian hotel terlihat agak menurun, beberapa libur panjang yang terjadi di triwulan I 2009 tujuan wisatawan justru dilakukan ke luar Jakarta.
6 Survei Penjualan Eceran-BI.
7 Survei oleh Collier International Indonesia.
Grafik I.31
Jumlah Arus Barang di Pelabuhan Tanjung Priok (BPS)
%, y-o-y %, y-o-y
Sumber : BPS, diolah 0
2 4 6 8 10
2006 2007 2008 2009
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3-30 -20 -10 0 10 20 30 40 50 60 70
g.PDRB Perdagangan Jkt g.Brg Tnjg. Priok (rhs)
Grafik I.33
Tingkat Hunian Hotel di Jakarta Grafik I.32
Arus wisatawan mancanegara
Ribuan orang Ribuan orang
Sumber : CEIC 30 50 70 90 110 130 150 170
2006 2007 2008 2009
2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2 2 3 4 5 6 7 8 9 Kedatangan di Empat Pintu Utama Jakarta Kedatangan di Tanjung Priok(rhs)
% Hari
Sumber : CEIC 40 45 50 55 60 65
2006 2007 2008 2009
Sementara itu, dukungan pembiayaan perbankan ke sektor ini masih kuat Sementara itu, dukungan pembiayaan perbankan ke sektor ini masih kuatSementara itu, dukungan pembiayaan perbankan ke sektor ini masih kuat Sementara itu, dukungan pembiayaan perbankan ke sektor ini masih kuat Sementara itu, dukungan pembiayaan perbankan ke sektor ini masih kuat dengan
dengan dengan dengan
dengan perfomanceperfomanceperfomanceperfomanceperfomance kredit yang baik. kredit yang baik. kredit yang baik. kredit yang baik. Posisi kredit lokasi proyek yang disalurkan kredit yang baik. di sektor ini masih tumbuh tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada posisi akhir Februari 2009, jumlah kredit yang disalurkan mencapai Rp 72,9 triliun, naik 24,7% (y-o-y). Sementara itu, performance kredit yang tercermin pada NPLs tetap berada di level yang rendah (3,5%).
4. Pengangkutan dan Komunikasi
Sektor pengangkutan dan komunikasi tetap tumbuh pada level yang tinggi Sektor pengangkutan dan komunikasi tetap tumbuh pada level yang tinggiSektor pengangkutan dan komunikasi tetap tumbuh pada level yang tinggi Sektor pengangkutan dan komunikasi tetap tumbuh pada level yang tinggi Sektor pengangkutan dan komunikasi tetap tumbuh pada level yang tinggi (15,4%), dan sedikit meningkat dibandingkan dengan triwulan IV-2008 (15,4%), dan sedikit meningkat dibandingkan dengan triwulan IV-2008(15,4%), dan sedikit meningkat dibandingkan dengan triwulan IV-2008 (15,4%), dan sedikit meningkat dibandingkan dengan triwulan IV-2008 (15,4%), dan sedikit meningkat dibandingkan dengan triwulan IV-2008 (14,8%).
(14,8%). (14,8%). (14,8%).
(14,8%). Subsektor komunikasi masih tumbuh meningkat, tercermin dari jumlah pelanggan seluler yang masih tumbuh di atas 50%. Peningkatan tersebut terkait peningkatan kapasitas oleh beberapa provider seluler yang diikuti dengan inovasi produk, serta tarif yang kompetitif mampu meningkatkan kinerja subsektor komunikasi. Demikian pula kinerja di subsektor pengangkutan masih cukup tinggi. Indikator yang mendukung terjadinya meningkatnya pertumbuhan sub sektor ini antara lain adalah jumlah penumpang transportasi kereta maupun pesawat di DKI Jakarta. Dengan pembukaan jalur baru busway koridor VIII diperkirakan akan memberikan efek kepada pertumbuhan sektor ini. Jumlah penumpang busway terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2006 menjadi 38,8 juta penumpang (tiga koridor), 2007 naik menjadi 61,4 juta penumpang, dan 2008 menjadi 74,6 juta penumpang (tujuh koridor). Sejak Januari hingga 15 Maret 2009, jumlah penumpang sudah mencapai 15,5 juta orang.
Grafik I.35
Jumlah Penumpang KA Jabodetabek Grafik I.34
Perkembangan Telepon Seluler Sumber : CEIC dan Pers Release
Jumlah pelanggan (juta orang) %, y-o-y
0 20 40 60 80 100 120 140
2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
2004 2005 2006 2007 2008
0 10 20 30 40 50 60 70 Cellular (telkomsel +
Indosat+ProXL) g.Cellular (rhs)
%, y-o-y %, y-o-y
Sumber : BPS, diolah 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18
2006 2007 2008 2009
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 -10 -5 0 5 10 15 20 25 30 g.PDRB Transport Jkt
Dukungan pembiayaan perbankan terhadap sektor pengangkutan masih cukup Dukungan pembiayaan perbankan terhadap sektor pengangkutan masih cukup Dukungan pembiayaan perbankan terhadap sektor pengangkutan masih cukup Dukungan pembiayaan perbankan terhadap sektor pengangkutan masih cukup Dukungan pembiayaan perbankan terhadap sektor pengangkutan masih cukup tinggi dengan risiko kredit yang cukup kecil.
tinggi dengan risiko kredit yang cukup kecil. tinggi dengan risiko kredit yang cukup kecil. tinggi dengan risiko kredit yang cukup kecil.
tinggi dengan risiko kredit yang cukup kecil. Posisi kredit yang disalurkan perbankan pada sektor ini per posisi akhir bulan Februari 2009 tercatat sebesar Rp 45,7 triliun, naik 59,5% (y-o-y). Peningkatan kredit ini diikuti dengan kualitas kredit yang masih baik (NPLs sebesar 3,1%).
5. Keuangan, Persewaan dan Jasa
Pada triwulan laporan, sektor keuangan, persewaan dan jasa tumbuh 4,4%, Pada triwulan laporan, sektor keuangan, persewaan dan jasa tumbuh 4,4%, Pada triwulan laporan, sektor keuangan, persewaan dan jasa tumbuh 4,4%, Pada triwulan laporan, sektor keuangan, persewaan dan jasa tumbuh 4,4%, Pada triwulan laporan, sektor keuangan, persewaan dan jasa tumbuh 4,4%, melambat dibandingkan triwulan sebelumnya (4,8%).
melambat dibandingkan triwulan sebelumnya (4,8%). melambat dibandingkan triwulan sebelumnya (4,8%). melambat dibandingkan triwulan sebelumnya (4,8%).
melambat dibandingkan triwulan sebelumnya (4,8%). Dampak krisis keuangan global secara langsung diperkirakan hanya sedikit berdampak pada sektor keuangan, antara lain karena rendahnya portofolio instrumen keuangan asing bermasalah yang dimiliki lembaga keuangan domestik. Dampak yang lebih
Grafik I.36
Jumlah Penumpang Udara di Bandara Soekarno Hatta
%, y-o-y %, y-o-y
Sumber : BPS, diolah 0
2 4 6 8 10 12 14 16 18
2006 2007 2008 2009
1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 5 7 9 11 1 3 -20 -10 0 10 20 30 40 50 g.PDRB Transport Jkt g.Pnpg Soeka (rhs)
Tabel I.3
Perkembangan Kegiatan Bank
Jakarta DPK Rp Miliar 717.000,7 765.022,5 785.919,1 868.802,7 881.884,8
Pertumbuhan (%, y-o-y) 15,7 15,8 15,2 15,6 23,0
Kredit Lokasi Bank Rp Miliar 524.871,4 577.897,6 633.266,8 674.870,4 670.748,2
Pertumbuhan (%, y-o-y) 32,5 34,8 40,5 33,0 27,8
Kredit Lokasi Proyek Rp Miliar 374.904,6 408.253,9 450.225,6 483.947,8 479.266,6
Pertumbuhan (%, y-o-y) 33,7 39,3 41,1 48,8 32,5
LDR (%) 73,2 75,5 80,6 77,7 76,1
NPL (%) 3,9 3,8 3,6 3,8 4,3
2008 2009
Uraian
Grafik I.38
Perkembangan NTB Bank di Jakarta Grafik I.37
Perkembangan Kegiatan Lembaga Keuangan Bukan Bank
Rp Triliun %, y-o-y
0 20 40 60 80 100 120 140 160
2006 2007 2008 2009
0 10 20 30 40 50 60 Total Pembiayaan
g.Total Pembiayaan (rhs)
2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2
Rp Triliun %, y-o-y
0 4 8 12 16 20
2006 2007 2008
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 -80
-60 -40 -20 0 20 40 60 80 100 120 Nilai Tambah Bank g.NTB (rhs)
8 Berdasarkan publikasi Collier International Indonesia.
dalam justru disebabkan oleh melemahnya kinerja di sektor riil yang melemah sebagai akibat krisis global yang pada gilirannya telah menyebabkan risk exposure di sektor riil dan juga daya beli masyarakat terganggu. Sehingga pertumbuhan kredit melemah disertai kenaikan NPL. Hal ini menyebabkan lembaga keuangan semakin meningkatkan kehati-hatian.
Sementara itu, di subsektor persewaan dan jasa pada triwulan diperkirakan Sementara itu, di subsektor persewaan dan jasa pada triwulan diperkirakanSementara itu, di subsektor persewaan dan jasa pada triwulan diperkirakan Sementara itu, di subsektor persewaan dan jasa pada triwulan diperkirakan Sementara itu, di subsektor persewaan dan jasa pada triwulan diperkirakan masih tumbuh moderat.
masih tumbuh moderat.masih tumbuh moderat. masih tumbuh moderat.
masih tumbuh moderat. Melemahnya kegiatan usaha diperkirakan
menyebabkan sewa untuk perkantoran, apartemen dan retail masih mengalami pertumbuhan yang moderat. Tingkat hunian (occupancy rate) persewaan gedung perkantoran relatif stabil di sekitar 90%8.
Grafik I.39
Tingkat Hunian dan Persediaan Perkantoran
Sumber : Colliers International Indonesia - Research Departement 5.000.000
4.500.000 4.000.000
3.500.000 3.000.000 2.500.000
2.000.000 1.500.000 1.000.000
95%
90%
85%
80%
75%
70% Supply
Demand Ocupancy Rate
2000
boks 1
Composit Leading Indicator
(CLI) PDRB DKI Jakarta
Leading indicator Leading indicatorLeading indicator
Leading indicatorLeading indicator (indikator penuntun) mempunyai fungsi yang (indikator penuntun) mempunyai fungsi yang (indikator penuntun) mempunyai fungsi yang (indikator penuntun) mempunyai fungsi yang (indikator penuntun) mempunyai fungsi yang berbeda dengan model makro (ekonometri) jangka panjang berbeda dengan model makro (ekonometri) jangka panjangberbeda dengan model makro (ekonometri) jangka panjang berbeda dengan model makro (ekonometri) jangka panjangberbeda dengan model makro (ekonometri) jangka panjang maupun model proyeksi jangka pendek.
maupun model proyeksi jangka pendek.maupun model proyeksi jangka pendek.
maupun model proyeksi jangka pendek.maupun model proyeksi jangka pendek. Leading indicator digunakan untuk mengidentifikasi suatu siklus perekonomian apakah berada dalam fase kontraksi maupun ekspansi dan juga menentukan titik balik arah fase dalam perekonomian. Pergerakan bulanan leading indikator sendiri dapat berbeda dengan series acuannya. Hal ini dimungkinkan selama pergerakan leading indikator dan series acuan berada pada fase yang sama. Selama belum terdapat titik balik maka perbedaan pergerakan tersebut dapat diabaikan.
Metodologi yang digunakan adalah metode Metodologi yang digunakan adalah metode Metodologi yang digunakan adalah metode
Metodologi yang digunakan adalah metode Metodologi yang digunakan adalah metode growth growth growth growth growth cycle yangcycle yangcycle yangcycle yangcycle yang dikembangkan oleh
dikembangkan oleh dikembangkan oleh
dikembangkan oleh dikembangkan oleh the Organization for Economic Cooperationthe Organization for Economic Cooperationthe Organization for Economic Cooperationthe Organization for Economic Cooperationthe Organization for Economic Cooperation and Development (OECD)
and Development (OECD)and Development (OECD)
and Development (OECD)and Development (OECD)... Metode pendekatan ≈growth cycle∆ atau ≈deviation from trend∆ menyatakan bahwa fase kontraksi maupun ekspansi dinyatakan dengan penurunan atau peningkatan pertumbuhan ekonomi dan tidak harus melihat pada nilai
absolutnya. Metode ini mengacu pada metode dasar dari business cycle yang dikembangkan oleh National Bureau of Economic Research (NBER). Secara garis besar, tahapan yang harus dilalui dalam metode ini meliputi: (1) penentuan series acuan; (2) penentuan titik balik series acuan; (3) pemilihan komponen pembentuk CLI; dan (4) pembentukan dan pemilihan CLI.
Kajian ini akan membahas tentang CLI ( Kajian ini akan membahas tentang CLI (Kajian ini akan membahas tentang CLI (
Kajian ini akan membahas tentang CLI (Kajian ini akan membahas tentang CLI (Composite LeadingComposite LeadingComposite LeadingComposite LeadingComposite Leading Indicators
IndicatorsIndicators
menentukan titik balik series acuan, dilakukan prosedur awal yakni membersihkan data dari unsur musiman dan trend, menggunakan metode PAT (Phase Average Trend). Setelah itu, baru dilakukan penentuan titik balik menggunakan metode Bry-Boschan Routine9.
Terlihat bahwa siklus pertumbuhan DKI Jakarta yang terjadi bergerak dalam rentang waktu lebih dari satu tahun (sekitar 27 bulan). Artinya, secara rata-rata, siklus pertumbuhan DKI Jakarta akan bergerak dari titik puncak (peak) menuju lembah (trough) dan kembali ke titik puncak lagi dalam periode 27 bulan.
9 Lihat OECD Composite Leading Indicators ≈OECD System Of Composite Leading Indicators∆ pada http:// www.oecd.org/dataoecd/26/39/41629509.pdf (November 2008).
Pemilihan komponen pembentuk CLI dari kandidat beberapa Pemilihan komponen pembentuk CLI dari kandidat beberapa Pemilihan komponen pembentuk CLI dari kandidat beberapa Pemilihan komponen pembentuk CLI dari kandidat beberapa Pemilihan komponen pembentuk CLI dari kandidat beberapa variabel yang secara ekonomi berkaitan dengan pertumbuhan variabel yang secara ekonomi berkaitan dengan pertumbuhan variabel yang secara ekonomi berkaitan dengan pertumbuhan variabel yang secara ekonomi berkaitan dengan pertumbuhan variabel yang secara ekonomi berkaitan dengan pertumbuhan Jakarta.
Jakarta. Jakarta. Jakarta.
Jakarta. Terdapat 10 (sepuluh) variabel yang telah diuji dan pantas menjadi kandidat pembentuk komposit tersebut (Tabel 1).
Tabel 1
Kandidat Pembentuk CLI Pertumbuhan PDRB Jakarta
All Series
1 g.ipi 2002M1 - 2008M11 32 28 30 0,241 lag 3 bulan indeks produksi industri 2 g.kredit konsumsi 2002M1 - 2008M12 31 25 27 0,706 lag 2 bulan nilai kredit konsumsi
Jakarta
3 g.nilai impor bahan 2002M1 - 2008M12 2 -1 -1 0,608 lag 1 bulan nilai impor bahan baku
baku Jakarta
4 g.nilai impor barang 2002M1 - 2008M12 36 27 35 0,461 lag 1 bulan nilai impor bahan modal
modal Jakarta
5 g.penjualan mobil 2002M1 - 2008M12 3 -1 -1 0,360 lag 1 bulan penjualan mobil Jakarta 6 g.nilai tukar 2002M1 - 2009M1 14 -5 5 0,622 lag 1 bulan nilai tukar Rp / USD 7 g.real exchange rate 2002M1 - 2009M1 14 -1 7 0,558 lag 1 bulan real exchange rate 8 g.nilai RTGS 2002M1 - 2008M12 23 16 16 0,450 lag 1 bulan nilai RTGS Jakarta 9 g.survei penjualan 2002M1 - 2008M12 7 1 1 0,412 lag 2 bulan indeks survei penjualan
eceran eceran Jakarta
10 g.nilai ekspor total 2002M1 - 2008M12 11 7 7 0,767 lag 1 bulan nilai ekspor Jakarta Median lead (+) at
turning points (TP) Period
Peak Trough All TP Coef. Cross
correlation Time
Selanjutnya disusun CLI yang memberikan hasil terbaik (grafik 1), dengan hasil yang mampu mendeteksi siklus pertumbuhan PDRB Jakarta hingga sekitar 4 bulan ke depan (tabel 2).
Tabel 2
Karakteristik CLI PDRB DKI Jakarta
CLI 31,0 30,0 31,0 0,6 4 0,833
Median lead (+) at turning points (TP)
Standard deviation
Cross correlation
Peak Trough All TP Lead (+) Coef.
Grafik 1
Komposit Leading Indikator PDRB DKI Jakarta
Dengan menggunakan CLI tersebut, pertumbuhan ekonomi Jakarta Dengan menggunakan CLI tersebut, pertumbuhan ekonomi JakartaDengan menggunakan CLI tersebut, pertumbuhan ekonomi Jakarta Dengan menggunakan CLI tersebut, pertumbuhan ekonomi JakartaDengan menggunakan CLI tersebut, pertumbuhan ekonomi Jakarta masih dalam siklus perlambatan.
masih dalam siklus perlambatan.masih dalam siklus perlambatan.
masih dalam siklus perlambatan.masih dalam siklus perlambatan. Siklus pertumbuhan menurut metode Bry-Boschan, phase perlambatan pertumbuhan PDRB DKI Jakarta telah terjadi mulai triwulan II 2007 dan masih berlangsung hingga triwulan I-2009 dan diperkirakan pula pada triwulan II-2009 masih juga belum memperlihatkan tanda-tanda ekspansi (Grafik 1).
pdrb (Reference Series) and Cli
pdrb CLI
Composit indicators : ipi, kredit konsumsi, impor bahan baku, impor barang modal, rtgs, survei penjualan eceran, ekspor total 98
99 99 100 100 101 101 102 102 103 103
contraction phase
A. INFLASI BERDASARKAN KELOMPOK
Penurunan tekanan inflasi DKI Jakarta pada triwulan I-2009 dibandingkan Penurunan tekanan inflasi DKI Jakarta pada triwulan I-2009 dibandingkanPenurunan tekanan inflasi DKI Jakarta pada triwulan I-2009 dibandingkan Penurunan tekanan inflasi DKI Jakarta pada triwulan I-2009 dibandingkan Penurunan tekanan inflasi DKI Jakarta pada triwulan I-2009 dibandingkan triwulan sebelumnya bersumber pada semua kelompok barang
triwulan sebelumnya bersumber pada semua kelompok barangtriwulan sebelumnya bersumber pada semua kelompok barang triwulan sebelumnya bersumber pada semua kelompok barang
triwulan sebelumnya bersumber pada semua kelompok barang. Pada triwulan I 2009 harga BBM yang masih disubsidi (premium, solar) turun sekitar 15 %. Bahkan BBM dengan harga keekonomian (Pertamax, Minyak tanah) turun hampir 20%. Dampak lanjutan berupa penurunan tarif angkutan pada Februari 2009 yang mencapai 10 %. Penurunan tarif angkutan tersebut diikuti pula oleh penurunan tekanan kelompok inflasi lainnya (makanan dan bahan makanan), walaupun suplai barang ke DKI Jakarta disokong oleh
Perkembangan Inflasi
Jakarta
bab 2
Pada triwulan I 2009 tekanan IHK di DKI Jakarta menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Tekanan inflasi pada triwulan ini tercatat 7,73% (y-o-y), menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai 11,11%. Level inflasi tersebut telah jauh lebih rendah dari puncaknya pada bulan September 2008 yang mencapai 11,31% (yoy). Bahkan pada triwulan laporan terjadi deflasi (q-t-q) sebesar 0,13%, dibandingkan triwulan sebelumnya (0,9%). Penurunan inflasi tersebut didorong oleh terjaganya pasokan kebutuhan pokok, harga BBM yang lebih rendah, ekspektasi inflasi yang membaik, serta daya beli yang melambat. Terkendalinya tekanan inflasi juga didorong oleh
daerah lain, misalnya beras (75 % dari Jawa Barat seperti Karawang dan Cirebon1).
Grafik II.1
Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang (y-o-y)
Grafik II.2
Kontribusi Berdasarkan Kelompok Barang Dalam Inflasi (y-o-y)
(y-o-y,%)
Sumber : BPS, diolah 0 5 10 15 20
Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1p
2007 2008 2009
Bhn Makanan Mknn jadi Perumahan Pakaian Kesehatan Pendidikan Transportasi IHK 10,54 9,71 11,64 7,94 4,70 3,16 0,86 7,73 15,48 12,91 14,84 8,56 7,31 5,56 6,20 11,11 18,79 10,78 13,19 10,04 6,56 5,37 8,39 11,31 15,20 9,89 8,16 13,00 5,60 7,58 8,08 9,96 11,84 9,85 6,08 13,07 5,71 8,91 1,42 7,66 11,40 5,36 4,81 8,15 3,99 9,09 0,93 6,04 12,68 4,19 7,08 5,13 3,11 9,03 0,97 6,52 12,67 3,88 6,22 3,67 2,89 6,47 0,68 5,85 11,87 3,70 5,73 4,96 4,60 6,99 0,51 5,67 %, y-o-y 0,14 0,20 0,17 0,47 3,56 1,58 2,26 7,73
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
100,0 21,5 16,3 30,6 5,9 3,6 6,4 15,7
SHARE : IHK Bhn Makanan Mknn jadi Permhn Pakaian Kesehatan Penddkn Transports
Pada triwulan ini, tercatat terjadi deflasi 0,13 % (mtm). Pada triwulan ini, tercatat terjadi deflasi 0,13 % (mtm). Pada triwulan ini, tercatat terjadi deflasi 0,13 % (mtm). Pada triwulan ini, tercatat terjadi deflasi 0,13 % (mtm).
Pada triwulan ini, tercatat terjadi deflasi 0,13 % (mtm). Deflasi dapat terjadi karena dipicu oleh penurunan administered price harga BBM sekitar 10 %, yang diikuti deflasi 5,70% di kelompok transportasi. Kelompok inflasi lain yang tercatat adalah perumahan dengan deflasi sebesar 0,02%. Penyumbang terbesar deflasi tersebut berasal dari biaya bahan bakar seperti minyak tanah yang turun lebih dari 10%.
Grafik II.3
Inflasi Berdasarkan Kelompok
Grafik II.4
Sumbangan Inflasi Berdasarkan Kelompok %(q-t-q)
Sumber : BPS, diolah -8 -6 -4 -2 0 2 4 6 8 10 12
2006 2007 2008 2009 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1
Bhn Makanan Mknn jadi Perumahan Pakaian Kesehatan Pendidikan
Transportasi IHK SHARE : IHK Bhn Makanan Makanan jadi Perumahan Pakaian Kesehatan Pendidikan Transport -0,90 0,00 0,01 0,24 -0,02 0,37 0,26 -0,13
Secara umum, pasokan dan distribusi komoditi penting di Jakarta relatif lancar. Secara umum, pasokan dan distribusi komoditi penting di Jakarta relatif lancar.Secara umum, pasokan dan distribusi komoditi penting di Jakarta relatif lancar. Secara umum, pasokan dan distribusi komoditi penting di Jakarta relatif lancar. Secara umum, pasokan dan distribusi komoditi penting di Jakarta relatif lancar. Pasokan beras ke PIBC sedikit meningkat dari rata-rata 1,9 ribu ton per hari menjadi 2,4 ribu ton. Pasokan yang meningkat disebabkan ada daerah yang telah masuk musim panen (Jawa Barat). Sementara, seiring cuaca yang kurang baik, komoditas sayuran mengalami penurunan pasokan, dari 42 ribu ton per bulan (triwulan IV-2008) menjadi 36 ribu ton. Demikian pula, pasokan buah-buahan juga menurun, dari sekitar 33 ribu ton per bulan menjadi 23 ribu ton. Namun demikian, penurunan tersebut masih wajar, karena mekanisme distribusi memungkinkan pasokan langsung ke pasar-pasar di Jakarta, tanpa melalui pasar induk2.
2 Kecenderungan hampir terjadi pada semua pasar induk seperti Pasar Induk Sayur dan buah Kramat Jati, Pasar Induk Daging Dharma Jaya, Pasar Induk Beras Cipinang, dari hasil diskusi Tim Ketahanan Pangan Pemprov DKI Jakarta.
Grafik II.5
Pemasukan dan Pengeluaran Beras di DKI
Grafik II.6
Harga dan Pasokan Beras di PIBC
ton ribuan ton
Sumber : Departemen Perdagangan 0 500 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000
2007 2008 2009
1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 Pasokan Harian
Pengeluaran Harian Stok Harian (rhs)
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
50 Rp ton
3000 3600 4200 4800 5400 6000 6600
2007 2008 2009
1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 0 600 1200 1800 2400 3000 3600
Harga Beras Rata-rata Pasokan Harian (rhs)
Grafik II.7
Perkembangan Rata-rata Pasokan dan Harga Sayur
Grafik II.8
Perkembangan Rata-rata Pasokan dan Harga Buah
ribu ton Rp/kg
Sumber : Biro Adms Perekonomian Jakarta
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
2007 2008 2009
1 2 3 4 5 6 7 8 910 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 910 1112 1 2 3
0 5000 10000 15000 20000 25000 Pasokan Sayur Rata-rata Harga Sayur (rhs)
ribu ton Rp/kg
Sumber : Biro Adms Perekonomian Jakarta 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 2007 2008
Harga komoditas bahan makanan lainnya menunjukkan perkembangan yang Harga komoditas bahan makanan lainnya menunjukkan perkembangan yang Harga komoditas bahan makanan lainnya menunjukkan perkembangan yang Harga komoditas bahan makanan lainnya menunjukkan perkembangan yang Harga komoditas bahan makanan lainnya menunjukkan perkembangan yang relatif stabil.
relatif stabil. relatif stabil. relatif stabil.
relatif stabil. Harga daging, ikan dan telur masih pada level yang tinggi
meskipun stabil. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan harga ketiga komoditas di atas masih pada level yang tinggi, antara lain adalah kenaikan biaya input dan khusus di sektor perikanan juga dipengaruhi oleh terganggunya pasokan akibat cuaca yang kurang baik. Sementara komoditas minyak goreng curah, tepung terigu dan gula pasir terpantau stabil.
B. INFLASI BERDASARKAN INFLASI INTI DAN NON INTI
3Menurunnya tekanan inflasi IHK pada triwulan I-2009 diperkirakan lebih Menurunnya tekanan inflasi IHK pada triwulan I-2009 diperkirakan lebih Menurunnya tekanan inflasi IHK pada triwulan I-2009 diperkirakan lebih Menurunnya tekanan inflasi IHK pada triwulan I-2009 diperkirakan lebih Menurunnya tekanan inflasi IHK pada triwulan I-2009 diperkirakan lebih bersumber dari turunnya inflasi non inti, sedangkan inflasi inti relatif stabil. bersumber dari turunnya inflasi non inti, sedangkan inflasi inti relatif stabil. bersumber dari turunnya inflasi non inti, sedangkan inflasi inti relatif stabil. bersumber dari turunnya inflasi non inti, sedangkan inflasi inti relatif stabil. bersumber dari turunnya inflasi non inti, sedangkan inflasi inti relatif stabil. Disisi administered price, penurunan harga BBM (premium, solar) turun sekitar 15%. Bahkan BBM dengan harga keekonomian (Pertamax, Minyak tanah) turun hampir 20%. Harga bahan bakar yang diatur lainnya seperti elpiji relatif masih tetap. Sementara itu, kenaikan kenaikan tarif cukai rokok per 1 Februari 2009 relatif tidak berpengaruh signifikan terhadap inflasi administered.
Perkembangan harga untuk komoditas volatile seperti sayur-sayuran dan padi-padian sedikit meningkat. Sementara harga komoditas lainnya, seperti minyak goreng, gandum, kedelai dan gula pasir stabil, seiring harga komoditas internasional yang lebih rendah.
Grafik II.9
Perkembangan Harga Sembako 2000
7000 12000 17000 22000 27000 32000 Rp
Gula pasir
Tepung terigu Minyak goreng curah Ayam Boiler/Potong
Sumber : Biro Adms Perekonomian Jakarta
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3
2007 2008 2009
Telur ayam ras
Di sisi inflasi inti, komoditas yang masuk dalam keranjang inflasi inti pada Di sisi inflasi inti, komoditas yang masuk dalam keranjang inflasi inti padaDi sisi inflasi inti, komoditas yang masuk dalam keranjang inflasi inti pada Di sisi inflasi inti, komoditas yang masuk dalam keranjang inflasi inti pada Di sisi inflasi inti, komoditas yang masuk dalam keranjang inflasi inti pada triwulan I-2009 diperkirakan relatif stabil.
triwulan I-2009 diperkirakan relatif stabil. triwulan I-2009 diperkirakan relatif stabil. triwulan I-2009 diperkirakan relatif stabil.
triwulan I-2009 diperkirakan relatif stabil. Komoditas-komoditas yang tergolong inti dan mengalami kenaikan harga terutama adalah komoditas yang masuk di kelompok sandang dan makanan jadi. Tekanan terutama berasal dari sandang yang sedikit meningkat, karena adanya sedikit naiknya harga emas perhiasan. Perkembangan tersebut didorong oleh ekspektasi masyarakat terhadap inflasi yang membaik disertai dengan daya beli yang melemah.
Sumber : Pertamina
Tabel II.1 Harga BBM di Jakarta
Premium 5.000 4.500 -16,7 -10,0
Pertamax Plus 6.850 6.300 -21,3 -8,0
Pertamax 6.500 5.600 -23,1 -13,8
Pertamax Dex 8.100 5.800 -21,4 -28,4
Minyak Tanah 6.400 5.681 -32,5 -11,2
Minyak Solar 4.800 4.500 -12,7 -6,3
Harga (Rp) Perubahan (%) Jenis
A. INTERMEDIASI PERBANKAN
Kegiatan intermediasi perbankan yang tercermin dalam Kegiatan intermediasi perbankan yang tercermin dalam Kegiatan intermediasi perbankan yang tercermin dalam Kegiatan intermediasi perbankan yang tercermin dalam
Kegiatan intermediasi perbankan yang tercermin dalam Loan to deposit ratioLoan to deposit ratioLoan to deposit ratioLoan to deposit ratioLoan to deposit ratio (LDR) berdasarkan lokasi bank di Jakarta sedikit menurun dibandingkan dengan (LDR) berdasarkan lokasi bank di Jakarta sedikit menurun dibandingkan dengan(LDR) berdasarkan lokasi bank di Jakarta sedikit menurun dibandingkan dengan (LDR) berdasarkan lokasi bank di Jakarta sedikit menurun dibandingkan dengan (LDR) berdasarkan lokasi bank di Jakarta sedikit menurun dibandingkan dengan akhir triwulan sebelumnya.
akhir triwulan sebelumnya. akhir triwulan sebelumnya. akhir triwulan sebelumnya.
akhir triwulan sebelumnya. Penurunan tersebut dipicu oleh akselerasi peningkatan dana pihak ketiga (DPK) yang lebih besar daripada kredit.
Peningkatan DPK terjadi pada semua komponen (giro, tabungan dan deposito). Sementara itu, kredit justru sedikit melambat. Faktor yang mempengaruhi
Perkembangan
Perbankan
1
bab 3
Meskipun tekanan terhadap sektor keuangan meningkat namun kinerja sektor perbankan masih relatif baik. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga pada triwulan I-2009 (Februari) naik 23,0% (y-o-y). Namun seiring dengan perlambatan ekonomi, penyaluran kredit bank yang berlokasi di Jakarta, melambat menjadi 27,8% (y-o-y). Dengan perkembangan tersebut
kegiatan intermediasi perbankan di Jakarta mengalami penurunan menjadi 76,1% dibanding triwulan sebelumnya (77,7%). Tren risiko kredit
sebagaimana tercermin pada angka NPLs Gross relatif masih terkendali. Dari sisi kredit mikro, kecil dan menengah (MKM) penyaluran di Jakarta masih tertinggi dibanding provinsi lainnya, dan pertumbuhannya masih meningkat pada triwulan ini.
antara lain adalah dari permintaan kredit masyarakat yang melemah sementara dari sisi perbankan suku bunga kredit relatif masih tinggi.
Grafik III.1 LDR Kredit Lokasi Bank
Grafik III.2 LDR Kredit Lokasi Proyek
*) s.d. Februari 2009
Tabel III.1
Beberapa Indikator Perbankan Jakarta
Jakarta DPK Rp Miliar 717.000,7 765.022,5 785.919,1 868.802,7 881.884,8
Pertumbuhan (%, y-o-y) 15,7 15,8 15,2 15,6 23,0
Kredit Lokasi Bank Rp Miliar 524.871,4 577.897,6 633.266,8 674.870,4 670.748,2
Pertumbuhan (%, y-o-y) 32,5 34,8 40,5 33,0 27,8
Kredit Lokasi Proyek Rp Miliar 374.904,6 408.253,9 450.225,6 483.947,8 479.266,6
Pertumbuhan (%, y-o-y) 33,7 39,3 41,1 48,8 32,5
LDR (%) 73,2 75,5 80,6 77,7 76,1
NPL (%) 3,9 3,8 3,6 3,8 4,3
2008 2009
Uraian
1 2 3 4 1*
Kredit yang disalurkan ada pula yang ditujukan untuk proyek di Luar Jakarta. Kredit yang disalurkan ada pula yang ditujukan untuk proyek di Luar Jakarta. Kredit yang disalurkan ada pula yang ditujukan untuk proyek di Luar Jakarta. Kredit yang disalurkan ada pula yang ditujukan untuk proyek di Luar Jakarta. Kredit yang disalurkan ada pula yang ditujukan untuk proyek di Luar Jakarta. Hal tersebut ditunjukkan oleh LDR dengan menggunakan kredit berdasarkan lokasi proyek2 yang menunjukan angka rasio LDR yang lebih rendah (Grafik III.2). Pada posisi akhir bulan Februari 2009, penghitungan LDR dengan menggunakan jumlah kredit berdasarkan lokasi proyek di Jakarta adalah 54,3%, turun dibandingkan dengan posisi triwulan IV 2008 (55,7%). Jumlah kredit untuk membiayai proyek yang berlokasi di Jakarta pada posisi akhir
2 Kredit berdasarkan lokasi proyek adalah kredit yang disalurkan di suatu daerah atau wilayah tertentu, tempat dimana lokasi proyek yang dibiayai kredit tersebut berada tanpa memperhatikan asal daerah/wilayah kantor bank yang membiayai.
%
50 55 60 65 70 75 80 85
2006 2007 2008 2009
2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2 Jakarta
Nasional
%
0 20 40 60 80 100
2006 2007 2008 2009
2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2 Jakarta
Februari 2009 adalah Rp 479,3 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan jumlah kredit yang disalurkan oleh perbankan di Jakarta pada posisi yang sama sebesar Rp 670,7 triliun. Artinya, sebanyak Rp 191,5 triliun kredit yang
disalurkan oleh perbankan di Jakarta digunakan untuk membiayai proyek yang berlokasi di luar Jakarta.
1. Penghimpunan Dana Masyarakat
Penghimpunan dana pihak ketiga oleh perbankan di Jakarta sampai dengan Penghimpunan dana pihak ketiga oleh perbankan di Jakarta sampai denganPenghimpunan dana pihak ketiga oleh perbankan di Jakarta sampai dengan Penghimpunan dana pihak ketiga oleh perbankan di Jakarta sampai dengan Penghimpunan dana pihak ketiga oleh perbankan di Jakarta sampai dengan Februari 2009 sedikit meningkat.
Februari 2009 sedikit meningkat.Februari 2009 sedikit meningkat. Februari 2009 sedikit meningkat.
Februari 2009 sedikit meningkat. Secara tahunan (y-o-y) penghimpunan DPK meningkat (21,4%), dibandingkan dengan peningkatan triwulan sebelumnya (15,6%). Dengan perkembangan ini pertumbuhan penghimpunan DPK secara akumulatif sampai dengan Februari 2009 meningkat 1,5% (y-t-d).
Grafik III.3 Perkembangan DPK Jakarta
Grafik III.4
Perkembangan Komponen DPK Jakarta
Rp triliun %
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000
2006 2007 2008 2009
2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2-10 -5 0 5 10 15 20 25 Total (lhs) g(y-t-d)
g(y-o-y)
%, y-o-y
-20 -10 0 10 20 30 40
2006 2007 2008 2009
2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2 4 6 8 10 12 2 Giro Tabungan Deposito
Peningkatan penghimpunan DPK bersumber dari kenaikan seluruh komponen Peningkatan penghimpunan DPK bersumber dari kenaikan seluruh komponenPeningkatan penghimpunan DPK bersumber dari kenaikan seluruh komponen Peningkatan penghimpunan DPK bersumber dari kenaikan seluruh komponen Peningkatan penghimpunan DPK bersumber dari kenaikan seluruh komponen DPK.
DPK. DPK. DPK.
DPK. Pada posisi Februari 2009 peningkatan terbesar terjadi pada deposito (25,4%) sementara giro dan tabungan masing-masing (19,1%) dan 10,8%. Peningkatan deposito dan giro yang tinggi terutama bersumber dari
peningkatan dana milik perusahaan swasta non lembaga keuangan, dana deposan individual dan BUMN/BUMD. Sementara DPK yang berasal dari Pemerintah Daerah terpantau menurun.
Struktur atau komposisi dana pihak ketiga (DPK) perbankan di DKI Jakarta Struktur atau komposisi dana pihak ketiga (DPK) perbankan di DKI JakartaStruktur atau komposisi dana pihak ketiga (DPK) perbankan di DKI Jakarta Struktur atau komposisi dana pihak ketiga (DPK) perbankan di DKI Jakarta Struktur atau komposisi dana pihak ketiga (DPK) perbankan di DKI Jakarta relatif tidak berubah, deposito tetap memiliki porsi tertinggi.
relatif tidak berubah, deposito tetap memiliki porsi tertinggi. relatif tidak berubah, deposito tetap memiliki porsi tertinggi. relatif tidak berubah, deposito tetap memiliki porsi tertinggi.
mempengaruhi tingginya porsi deposito di dalam komposisi DPK antara lain dikarenakan sebagian deposan masih menganggap deposito masih
menguntungkan dan a