,
LAPORAN I<ETUA PANITIA KHUSUS
RUU TENT ANG PEH.UBAHAN UNDANG-UNDANG DI BIDANG PERPAJAKAN
PADA RAP AT PARIPURNA DPR-RI
-Tanggal24Juli2000
Yang terhorn1at Saudara Ketua Rapat I~aripurna IJewan,
Yang terhorn1at Saudara Menteri Keuangan, yang n1ewakili Pet erintah, Yang terhormat Anggota Dewan, serta hadirin yang berbaltagia,
Assalatnu' alaikutn Warakhtna tullahi Wabaraka tuh, Salan1 Sejahte ·a bagi kita sen1ua,
penyarnpaia--;-la poran Pansus, katni tnengajak hadirin untuk bersyukur ke-pada Tuhan Yang Malla Esa, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, atas bitnbingan dan petunjuk serta perlindungan Nya, sehingga kita bisa tnenghadiri Rapat Paripurna
-Dewan ini dala1n keadaan sehat wal afiat.
I
I
E
Pada pag1 hari ini, direncanakan Dewan akan n1engan1bil keputusan tnengenai perubahan perundang-undangan di bidang perpajakan yang 1neliputi 5 RUU, yaitu Perubahan Kedua atas UU No. 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Utnun1 dan Tata Cara Perpajakan, Perubahan UU No.7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, UU No. 8 tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai 13arang dan Jasa Dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah, UU No. 19 tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa, dan UU No. 21 tahun 1997 tentang Bea Perolehan I-Iak atas Tanah dan Bangunan, yang telah dibahas oleh Dewan sejak tanggal 15 Mei 200 pada saat diberitahukan tentang diajukannya RUU tersebut, dan diperjelas Iagi dengan Keterangan Pen1erintah pada tanggal30 Mei 2000.
Selanjutnya kelinTa Rt:JU tersebut telah n1en1peroleh tanggapan para Anggota dala.tn Rapat P?ripurna Dewan pada tanggal 8 Juni 2000 dan tat ggapan Pemerintah disatnpaikan._ padJ tanggal 1.4 Juni 2000, dal!l dilanjutkan dengan pen1bahasan oleh se.b-uah Panitia Khusus yang beranggotakan 87 orang anggota, serta direncanakan pen1bicaraan Ting~at I\l :r,ada tanggal 17 Juli 2000, tetapi ketnudian tnelalui Rapat Bamus diacarakan untuk dilaksanakan pada hari ini tangga 24 J IIi 2000.
Saudara Ketua,
Saudara Menferi, dan
Sidang Dewan yang terhorn1at,
Mencermati perubahan terhaaap Undang-undang yang dic~jukan oleh Pemerintah, ada dasa~rnya Pansus dapat memahaminya, lebih-lebih apabila dilihat dari Jatar belqkang diajul<annya RUU perubahan.atas 5 Undang-undang bidang perpajakan. ---~
I
I
E
erdasarl<an penjelasan yang disampaikan oleh Pen1erintah, bahwa RUU tersebut men1punyai peranan dan kedudukan yang sangat penting dan strategis dalatn upaya meningkatkan pelaksanaan pembangunan nasional maupun men1berikan landasan hukutn yang febil-f kokoh, adil, tegas, dan jelas dalam petnungutan pajak bagi pen1biayaan penyelenggaraan petnerintahan dan pen1bangunan.
Pemulihan ekonotni nasional yang telah, sedang, dan akan terus diupayakan pencepatannya oleh Pen1erintah 1.nen1erlukan dukungan kebijaksanaan fiskal yang sehat, kredible dan sustainable. Salah satu kunci keberhasilan dari kebijaksanaan tersebu t terletak pada ke1nampuan meningkatkan penerimaan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap pinjan1an luar negeri, disamping tnengefisienkan dan tnenekan pengeluaran negara. Langkah penting yang perlu ditetnpuh adalah meningkatkan penerimaan perpajakan dari 11,1% pada tahun anggaran 2000 menjadi 16,0% pada tahun anggaran 2004 dari PfJB.
Dalatn rangka pembahasan untuk pendalan1an n1ateri 5 RUU Perubahan Bidang Perpajakan tersebut dan untuk 1nenorerap aspirasi masyarakat Pansus telah n1engadakan Rapat Dengar Pendapat Utnum dengan para pihak yang berhubungan langsung dengar masalah
J
perpajakan, seperti Ikatan Akuntan Indonesia, Persatuan Pensiunan Pegawai Pajak, Kadin Indonesia, Perbanas, Pengacara Pajak, Masyarakat
Pajak, dan Satuan Tugas Prakarsa Jakarta (Jacarta Inisiative ask Force),
serta 111enatnp lng aspirasi tnasyaraka t yang disan1paikan secara tertulis
Setelah tnelalui pengkajiaFl secara
Fraksi, terkum.pul1.136 tnasalah, dengan klasifikasi:
1. menyetujui
rutnu
sa
;
-
(Y~
2. perubahan redaksional;
{~
3. peru bahan substansi;LCf
~
4.
oleh
Fraksi-E
--'---Sidang Dewan yang tnuJia,
Dalatn kesen1patan ini, perlu kami sampaikan bahwa waktu yang dialokasikan untuk kegiatan Pansus, yaitu tanggal 16 Juni sampai dengan tanggal 19 Juli 2000. Pada waktu tersebut agenda kegiatan Kon1isi-Ko1n.isi Dewan sangat padat berkenaan dengan pen1bicaraan pendahuluan
RAPBN tahun 2001, maka waktu tersebut dirasakan relatif sen1pit.
Natnun den1ikian, terlihat keinginan yaug keras dari seluruh anggota Pansus u 1tuk menyelesaikan 5 RUU tersebut sesuai waktu, sehingga Pansus sepakat untuk tnempergunakan waktu tersebut secara efisien dan efektif.
Setelaln diadakan penyesuaian dengan acara Kon1isi'-I<.omisi, khususnya Panitia Anggaran dan Kotnisi IX, maka ditetapkan :
Ra at Kerja dengan Petnerintah untuk tnetnbahas 1.136 butir masalah
dilaksanakan selatna 4 hari siang dan malatn, Rapat Panja" Tim Perutnus, Titn Kecil, dilaksanakan selama 8 hari,
6 hari untuk kegiatan Fraksi, dan
3 hari untuk-menatnpung as
~
Beberapa substansi yang penting dan~
rbeda
dengan RUU Perubahan Undang-undang yang diajukan oleh Petnerintah- ctapat katniIP D
1. Aspek keadilan.Didalam Undang-undang Non1or 6 tahun 1983 diatur 1nengenai sanksi pidana yang akan dikenakan manakala Wajib Pajak tnelakukan kesalaha n / kela laia n.
Untuk adanya rasa keadilan, perlu pula diatur dalatn RUU perubahan ini 1nengenai sanksi bagi petugas pajak tnanakala mereka juga melakukan kesalahan/kelalaian dalatn menghitung atau 1nenetapkan pajak tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan sehingga mengakibatkan kerugian bagi negara. Hal ini diatur pada Pasal 36A Perubahan Undang-undang No.6 tahun 1983.
2. Restrukturisasi Utang.
Krisis ekonon1i dan moneter yang terjadi sejak tahun 1997 telah menimbulkan dampak negatif yang luas terhadap sektor perbankan, usaha investasi, kesetnpatan kerja dan n1akro ekonotni.
Da1atn upaya pemulihan kegiatan perekono1nian nasional, Pe1nerintah perlu menempuh kebijakan khusus res trukturisa~i utang. Restrukturisasi tersebut dapat dilakukan dala1n bentuk 8e1nbebasan sebagian atau seluruh utang, pengalihan harta untl!_k pet1yelesaian utang, perufuahan utang, dan pengalihan harta ke lembaga khusus.
Untuk men1percepat petnulihan perlu didorong Clengan pemberian fasilitas perpajakan. Fasilitas tersebut sifatnya terbatas, baik jenis maupun jangka wakt~nya.
-Dilain pil:lak, segala bentuk penerimaan nega_ra haru-s thatur dengan undang-undang.
Oleh sebab itu Pansus sepakat bahwa kebijakan teTsebut diatur dalam Pasal31B-Ee--rubahan Undang-undang Nomor 7 tahun.i983,-. ----~
ID
I
D
E
3. Penetapan Tarif Pajak Penghasilan
Tarif pajak yang ditetapkan kepada Wajib Pajak atas Penghasilan Kena Pajak, oleh Pemerintah diusulkan dala111 4 (en1pat) lapisan penghasilan yang dimulai minimunl Rp.SO juta dengan tarif 10% sa1npai dengan diatas Rp.200 juta dengan tarif 35%.
Setelah melalui diskusi yang panjang akhirnya disepakati menjadi 5 (lima) lapisan penghasilan kena pajak, din1ulai tninimum Rp.20 juta dengan tarif 5% satnpai dengan diatas Rp.200 juta.
4. Tarif Pajak alas Penjualan Barang Mewah.
Barang Mewah merupakan datnbaan bagi sebagian besar masyarakat kita yang baru saja dilanda krisis ekot]omi dan moneter, natnun sebaliknya tnerupakan kebanggaan bagi sebagian kecil tnasyarakat "elite".
Dalatn upaya tnengurangi kesenjangan sosial dikalangan masyarakat,
I
Pansus setnula berpendapat untuk n1engubah besarnya tarif pajak terse but paling tinggi dari 50% menjadi 100%. Akan tetapi setelah memperoleh pengkajian secara tnendalatn, dengan tnemperti[nbangkan
l I
p,erkembangan industri dalam negeri, tnaka akhirnya disepakati
menjadi 75%.
5. Bagi hasil Pajak Penghasilan Perseorangan
Mencermati diberlakukannya Undang-undang Notnor 22 tahun 1999 tentang Petnerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 25 tentang
....-
-Peritnbanga Kenangan Antara Pemer'ntah Pusat dan Daerah, Pansus telah menga,kotnodasi sun1ber peneritnaan daeraH yang berasal dari
~
-pajak pengahsilan pribadi dan pafak penghasilan Pasal 21, yang diJ2otong_Q__e pemberi k:erja, dengan in18angan 80% untuk Pemerintah
6. Zakat
Pada beberapa waktu yang lalu Dewan telah n1embahas RUU Usul Inisiatif tentang Pengelolaan Zakat, dan telah diundangkan pada tanggal 23 Septetnber 1999 dengan Undang-undang Nomor 38 tahun 1999.
Sejalan dengan itu, Pansus sependapat untuk mengakomodasikannya dalam RUU ini, bahwa penerimaan zakat yang diterima dan dikelola oleh Badan Amil Zakat atau Letnbaga Amil Zakat yang disahkan oleh pemerintah diserahkan oleh Wajib Pajak, tidak tennasuk sebagai obyek pajak.
Ketentuan ini dicantumkan dalan1 Pasal 4 ayat (3) RUU Pajak Penghasilan.
Saudara Ketua Sid
Saudara Menteri,
Saudara Anggota Dewan,
Serta hadirin yang berbahagia,
Secara lengkap 5 RUU tersebut telah dibacakan (termasu.k tanda baca tibik, kama) dan telah disetujui semua Fraksi dala1n Rapat Kerjat·
Pans us dengan Pem.erintah yang dila.ksanakan pad a tanggal 19
J
uli 2000, untuk diterusl<an pada Petnbicaraan Tingka t IV Rap at Paripurna hari ini, yang se~lanjutnya naskah RUU a.kan kami sampaikan kepada Saudara Ketua Ra12at untul< tnendaga~an pengesahan dalam Rapat Paripurna Dewan yang-malia 1ni.A
K
~
Demikianlah seeara I<rono ogis proses pe1nbahasans-
RUU Perubahan Undang-undang di bidang I?erpaja.kan oleh Panitia Khusus, mudan-mucta11an laporan bennanfaat bagi kita semua.terima kasih kepada semua pihak, khususnya Anggota Pansus dan Pemerintah, yang telah dengan tekun, cermat, aspiratif, dan akomodatif dalatn membahas perubahan 5 RUU bidang perpajakan. Kami yakin, bahwa kerja keras Saudara-saudara, khusus anggota Dewan yang harus lebih jeli, karena dalatn waktu yang bersamaan harus hadir di lebih dari satu rapat, akan mendapat in1balan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Selain itu, kan1i satnpaikan ucapan terin1a kasih pula kepada rekan-rekan wartawan, yang telah tnemberikan infonnasi, baik kepada anggota Pansus maupun n1asyarakat, sehingga Pansus dapat langsung menyerap aspirasi tnasyarakat, dan masyarakat mengetahui perkembangan pembahasan RUU perpajakan.
Dalatn kesempatan ini pula, katni atas natna Phnpinan Pansus tnengucapkan terima kasih kepada seluruh hadirjn yang telah dengan seksatna mengikuti laporan katni ini.
Demikian laporan katni, wabilahit t~fiq wal hidayah Wassalammu'alaikum Warakhtnatullahi Wabaratuh.
Jakarta, 24 Juli 2000
P ANITIA Kl-IUSUS
PERUBAI--IAN UNDANG-UNDANCG PERP