• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH RAPAT PANITIA KHUSUS

RUU TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH &

RUU TENTANG PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN Tahun Sidang Masa Persidangan Jenis Rapat Rapat Ke Sifat Rapat Dengan Hari I Tanggal Pukul T em pat Rapat Ketua Rapat Sekretaris Rapat Acara

Anggota yang hadir Nama Anggota

Pimpinan Pansus Pemilu:

2007-2008 RDP

Terbuka

Komisi Pemilihan Umum {KPU) Kamis, 30 Agustus 2007 14.00 WIB- selesai

Ruang Rapat Komisi II DPR-RI (KK.III/Gd Nusantara) Ignatius Mulyono/Wakil Ketua Pansus Pemilu Suroso, SH/Kabagset Pansus Pemilu

Pengalaman Empirik Pelaksanaan Pemilu dan Usulan Penyempurnaan UU Pemilu

16 dari 50 orang anggota Pansus Pemilu 34 orang ljin

1. DR. Yasoma H. Laoly, SH, MS/F·PDIP/Waket 2. Drs. H.B. Taman Achda, M.Si/F-PPP/Waket 3. Ignatius Mulyono/F-PD/Waket

Fraksi Partai Golkar : Fraksi Kebangkitan Bangsa :

4. H. Muhammad Sofhian Mile, SH, MH 5. Rambe Kamarul Zaman, M.Sc

Fraksi POl Perjuangan : Fraksi Partai Keadilan Sejahtera :

6. Pataniari Siahaan 13. Mustafa Kamal, SS

(2)

Fraksi Partai Persatuan Pembangunan : 8. Ora. Hj. Lena Maryana Mukti

Fraksi Partai Demokrat : 9. Drh. Jhonny Allen

10. DR. Syarief Hasan, SE, ME, MBA 11. lr. Agus Hermanto, MM

Fraksi Partai Amanat Nasional : 12. Abdillah Toha, SE

Anggota yang berhalangan hadir (ljin} : 1. Drs. Ferry Mursyidan Baldan/F-PG 2. DR.Ir.Hj. Andi Yuliani Paris, M.Sc/F-PAN 3. Drs. Agun Gunanjar Sudarsa

4. Drs. H.A. Mudjib Rochmat 5. Mustokoweni Murdi, SH 6. Ora. Chairun Nisa, MA 7. Drs. T.M. Nurlif

8. Drs. Simon Patrice Morin 9. H. Hardisoesilo

10. Jacobus Mayong Padang 11. Permadi, SH

12. Drs. I.Made Urip

13. Dr. Mariani Akib Baramuli, MM 14. H. Asep Ruchimat Sudjana 15. Tjahjo Kumolo, SH

16. DR. Sutradara Gintings 17. Alexander Litaay

Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi :

Fraksi Partai Bintang Reformasi : 15. H. Bachrum R. Siregar, SE

Fraksi Partai Damai Sejahtera : 16. Pastor Saut M. Hasibuan

18. Hj. Tumbu Saraswati, SH 19. Lukman Hakim Saifuddin 20. Drs. H. Akhmad Muqowam 21. Drs. H. Hasrul Azwar, MM 22. DR. Benny Hermanto, MM 23. H. Patrialis Akbar, SH 24. H. Totok Daryanto, SE 25. lr. Tjatur Sapto Edy, MT 26. Prof. DR. Moh. Mahfud MD 27. Drs. H. Ali Masykur Musa, M.Si 28. H.A. Effendy Choirie, M.Ag. MH 29. Hj. Badriyah fayumi, Lc

30. Marwan Ja'far, SH, SE 31. Agus Purnomo, S.IP 32. Drs. Almuzzammil Yusuf 33. Drs. Ali Mochtar Ngabalin, M.Si 34. Prof. DR. M. Ryaas Rasyid, MA KETUA RAPAT (IGNATIUS MULYONO/F-PD}:

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Sejahtera bagi kita semua,

Yang kami hormati Bapak Ketua dan Anggota Komisi Pemilihan Umum dan seluruh jajarannya yang hadir pada siang hari ini.

Yang terhormat Bapak Wakil Pimpinan dan Anggota Pansus Rancangan Undang-undang tentang Pemilu, Anggota DPR-RI, Anggota DPD dan Rancangan Undang-undang tentang Pemilihan Presiden.

Pertama-tama, mari kita panjatkan Puja dan Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena pada sore hari ini kita bisa berkumpul pada saat yang membahagiakan karena acara hari ini tidak membutuhkan adanya kourum, maka ijinkanlah kami buka Rapat hari ini dan Terbuka untuk umum.

I (RAPAT DIBUKA PUKUL 14.32 WIB}

I Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Wakil Ketua dan Anggota Komisi

(3)

Pansus Rancangan Undang-undang baik Rancangan Undang-undang Anggota Legislatif dan Rancangan Undang-undang Presiden dan Wakil Presiden.

Kemudian kami ijin menawarkan bahwa acara ini paling lambat nanti akan kita tutup pada pukul 16.00 WIB apakah disetujui Bapak-bapak dari KPU, kemudian Bapak dan lbu sekalian kita paling lambat sampai pukul16.00 WIB.

(RAPAT:SETUJU)

Dan sebelumnya kami mahan ijin memperkenalkan rombongan dari Anggota Pansus yang pada sore hari ini hadir, karena kebetulan Tim Pansus ini sekarang sedang menyebar ke beberapa Daerah, yaitu ada ke Yogya terus ke Surabaya, Sulawesi Selatan, Papua, kemudian Ambon Maluku, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur sudah kembali, terus Sulawesi Selatan dsb. Jadi mahan maaf kalau pada sore hari ini tidak dapat lengkap tetapi ijinkanlah kami yang bisa pada sore hari ini, walaupun baru datang dari Daerah langsung bisa hadir bersama kita.

Kami perkenalkan sebelah kanan kami : 1. Drs. H. B. Tamam Achida, M.Si/F-PPP. 2. Pataniari Siahaan/F-PDIP.

3. Nur Suhud/F-PDIP.

4. Mustafa Kamal, SS/F-PKS.

5. DR. Syarief Hasan, SE, ME, MBA/F-PD. 6. lr. Agus Hermanto, MM/F-PD.

7. Abdillah Toha, SE/F-PAN. 8. Pastor Saut M. Hasibuan/F-PDS.

9. H. Muhammad Sofhian Mile, SH, MH/F-PG. 10. Ora. Hj. Lena Maryana Mukti/F-PPP.

Bapak dan lbu sekalian yang kami hormati,

Pada sore ini bagi Pansus sangat berbahagia sekali ketemu memang yang akan mengeluti permasalahan yang sudah menampilkan suatu hasil kinerja yang luar biasa demikian juga untuk Pemilu Tahun 2004 kemarin tentunya sekarang ini kita sangat mengharap masukan dari Bapak dan lbu KPU ini sebagai bahan kami dari Fraksi untuk misalnya nanti dalam DIM dan membahas dalam Pansus yang kami laksanakan.

Oleh sebab itu, untuk menyingkat waktu kami harapkan dan kam persilahkan kepada Bapak Ketua Wakil KPU untuk perkenan menyampaikan masukan-masukan yang tentunya akan dipertajam oleh Bapak dan lbu dari Pansus untuk mendapatkan pendalaman dari apa yang Bapak sampaikan guna membuat DIM yang akan datang.

Terima kasih.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. KPU (RAMLAN SURBAKTI):

Terima kasih,

Pimpinan Panitia Khusus Pemilu Anggota DPR-RI, DPD, dan DPRD dan Rancangan Undang-undang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden yang kami hormati.

Bapak dan lbu Anggota Panitia Khusus Rancangan Undang-undang Pemilu, sebelum saya memulai masukan dari kami saya ingin ada dua pengantar terlebih dahulu.

Pertama, kesempatan bagi kami untuk menyampaikan masukan, harapan kami tidak hanya sekali saja, karen a kepentingan tidak hanya sekedar untuk melihat apakah nanti Rancangan Undang-undang Pemilu dalam proses ini dari segi teknis penyelenggaraan itu ada hambatan atau

(4)

permasalahan atau tidak, seandainya institusi ini bisa melihat sebelum disahkan, KPU masih dapat memberikan masukan kepada Pansus, kalau Pansus setuju dengan apa yang dilihat ini tentu masih bisa diperbaiki sebelum disahkan menjadi Undang-undang.

Jadi, kami berharap dari pembicaraan diluar tadi kalaupun nanti kita teruskan ini kami berharap agar masih ada kesempatan beberapa kali lagi dan salah satu diantaranya bisa diselenggarakan di KPU, supaya lebih focus dan kami sendiri sudah membentuk Kelompok Kerja yang sudah disiapkan, itu masukan KPU untuk Rancangan Undang-undang Pemilu Anggota DPR-RI, DPD dan DPRD dan Rancangan Undang-undang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, Rancangan Undang-undang Partai Politik dan Susduk. ltu pertama.

Kedua, yang akan kami sampaikan berikut ini lebih banyak dari segi prespektif teknis penyelenggaraan, ada dimensi politis, yang menjadi yuridiksi atau menjadi konsen masyarakat umum dan untuk DPR-RI.

Pertama, dari segi sistem pemilunya, apalagi sistem ini juga tidak bisa kita lihat dari tinjauan politisnya, tetapi lebih dari penyelenggaraan. Pertama, disatu sisi kami melihat ada suatu kontradiksi dalam Rancangan Undang-undang ini, disatu sisi DPR itu lembaga perwakilan penduduk, tetapi kemudian hanya berselang beberapa Pasal sudah ditegaskan kursi DPR untuk Aceh, Papua dan Papua Barat dalam alokasi Pemilu Tahun 2004. ini ada kontradiksi kecuali kalau misalnya untuk yang pengecualian seperti itu diletakkan pada Ketentuan Peralihan itu barangkali lain ceritanya tetapi untuk menghindari kemungkinan adanya kontradiksi.

Kemudian juga disebut bahwa alokasi kursi DPR-RI kepada Provinsi didasarkan atas angka kesetaraan Nasional, kami membaca ini bait satu belum jelas betul dan angka kesetaraan nasional ini karena nanti kami unit tugaskan menentukan alokasi DPR untuk setiap Provinsi, kesetaraan Nasional tidak jelas itu akan menimbulkan persoalan, saran kami hal seperti ini lebih baik sudah diatur jelas didalam Undang-undang.

Ketiga, disatu sisi tersebut setiap Provinsi kursi DPR-RI untuk setiap Provinsi tersebut akan mempunyai kursi antara tiga sampai empat belas, namun kalau mengikuti cara berpikir seperti tadi sebagai lembaga perwakilan penduduk, jumlah kursi DPR untuk Provinsi semata-mata berdasarkan jumlah penduduk, pihak lain disebut Daerah Pemilihan kursi tiga sampai dua belas, ada kemungkinan Provinsi ini tidak mendapatkan tiga kursi dari segi jumlah penduduk, mungkin hanya dua, seperti ini tentu harus ada jalan keluar.

Kemudian dari segi administrasi pemilihan umum ini khususnya mengenai besaran daerah pemilihan DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota, dalam Rancangan Undang-undang disebut DPRD Provinsi adalah lembaga perwakilan penduduk dan perwakilan wilayah, ini baru. Seingat saya dalam sejarah perundang-undangan di Republik ini belum pernah ada perumusan seperti itu, bahwa DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dan lembaga perwakilan penduduk dan wilayah administrasi. Pointnya adalah Daerah Pemilihan DPRD Provinsi atau Daerah Pemilihan DPRD Provinsi adalah Kabupaten/Kota diwakili sekurang-kurangnya satu kursi.

Kami melihat ini ada kontradiksi juga, disatu sisi disebut sistem Pemilihan Umum Anggota DPR dan DPRD Provinsi dan Kabupaten kota itu adalah sistem Pemilu Proporsional dengan daftar calon terbuka. Disebut proposional itu karena kursi di setiap Daerah Pemilihan itu dibagi kepada Partai Proporsional dengan jumlah suara sah diperoleh, tetapi dengan besaran Daerah Pemilihan Provinsi setiap Kabupaten/Kota diwakili sekurang-kurangnya satu kursi dan Daerah Pemilihannya adalah Kabupaten/Kota maka cukup banyak Kabupaten/Kota, karena diwakili satu atau dua kursi pemilihan, maka pemenangnya tentu satu atau dua Partai, kalau misalnya 24 Partai yang menjadi peserta, satu atau dua partai yang dapat kursi, sisanya suara yang diperoleh terbuang, tidak bisa dikonversi menjadi kursi, ini berarti tidak Proporsional, yang menang dapat, yang kalah tidak dapat apa-apa, proporsional tentu semua Partai dapat kursi proporsional dengan jumlah suara yang diperoleh, kami melihat, kami tidak mempertanyakan besaran Daerah Pemilihan Provinsi,

(5)

Kabupaten/Kota tetapi kami melihat ada kontradiksi di satu sisinya disebut Proporsional tetapi besaran Daerah Pemilihanya justru mengarah ke sistem Distrik atau sistem Mayoritas. lni kontradiksi saja mempertanyakan dari segi pemilihan politik.

Kedua, Daerah Pemilihan DPRD Pronvinsi akan bertambah banyak, misalnya Jawa Timur pada Pemilu 2004 ada 10 Daerah Pemilihan DPRD Provinsi, kalau Rancangan Undang-undang Pemerintah juga diterima oleh DPR maka Pemilu tahun 2009 DPRD Jawa Timur akan memiliki 38 Daerah Pemilihan, dari segi penyelenggaraan Pemilu makin banyak Daerah Pemilihan makin kompleks dalam koordinasi dan juga harga cetak suara tentu akan lebih meningkat karena makin banyak yang dicetak biasanya harganya akan lebih murah, itu sehubungan dengan besaran Daerah Pemilihan DPRD Pronvinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.

Selain itu kami melihat dalam Rancangan Undang-undang yang diajukan oleh Pemerintah mengenai persyaratan pembentukan pili han itu masih terbatas pada jumlah penduduk dan wilayah administrasi, ini sebenarnya kekurangan yang sama terjadi pada Undang-undang Nomor. 12 Tahun 2003, mustinya selain factor jumlah penduduk dan wilayah administrasi juga ada factor lain, misalnya satu Daerah Pemilihan harus satu kesatuan wilayah, tidak boleh diselingi oleh Daerah lain misalnya, atau misalnya memperhatikan factor geografis transportasi dst, kalau factor-faktor historis cultural, mungkin tidak mutlak, karena kalau dibuat mutlak justru susah bagi KPU untuk membuat Daerah Pemilihan. Kongkritnya perlu dalam Undang-undang Pemilu ini ditambahkan mengenai persyaratan bentuk Daerah Pemilihan selain factor penduduk dan wilayah administrasi. ltu tadi mengenai Daerah Pemilihan.

Kedua, peserta Pemilu dan Pencalonan, dari segi pengalaman Pemilu Tahun 2004 di persyaratan Partai Politik peserta Pemilu ini itu dalam Rancangan Undang-undang disebut memiliki Kantor tetap. Kami mengusulkan agar paling tidak didalam penjelasan itu ada uraian apa yang dimaksud dengan memiliki Kantor tetap, apakah meng-hak milik atau Hak Guna Bangunan, Kantor tetap ini apakah bisa juga misalnya Sewa, kalau sewa berapa lama, karena terus terang dalam pengalaman kemarin ketika petugas mengidentifikasi memang ada kantor di Ruko itu setelah satu minggu petugas pergi sudah hilang Ruko itu, kemudian juga kemungkin luas ruangan dsb, karena kalau tidak ada definisi yang jelas mengenai ini, interpretasi petugas di lapangan akibatnya dari Daerah satu dan Daerah lain beda penafsirannya dan kemudian biasanya Partai memiliki KPU kok Daerah lain misalnya seperti ini, tetapi kok Daerah lain tidak ada, dsb. Kami mengusulkan supaya ada definisi yang lebih kongkrit memiliki Kantor Tetap.

Kemudian, jumlah maksimal calon yang dapat diusulkan oleh Partai Politik disetiap Daerah Pemilihan dalam Rancangan Undang-undang yang diajukan Pemerintah itu 150%, ini terlalu banyak, persoalan yang muncul pada Pemilu Tahun 2004 ada Partai misalnya kehabisan calon, bukan karena calon yang diajukan oleh Partai itu sudah tidak ada lagi, dalam arti tidak mencukupi, tetapi memang waktu mengajukan calon pada Pemilu Tahun 2004 tidak maksimal, tidak 120%, Partai yang diajukan mungkin tidak menduga, misalnya Partai Demokrat tidak menduga akan mendapatkan kursi sebanyak itu, sehingga yang diajukan juga tidak mencapai maksimal 120%, saran kami kalau setidak-tidaknya dipertahankan saja 120%, karena kami khawatir surat suaranya akan bertambah besar kalau Partai Politik dimungkinkan mengajukan calon maksimal 150%. Kalau dalam Undang-undang yang berlaku sekarang 120%, dalam Rancangan Undang-undang yang diajukan Pemerintah 150%.

Kemudian mengenai persyaratan Domisili menjadi calon Anggota DPD, ini juga ada problem dari segi pengalaman, ini terutama yang menonjol itu dari Sulawesi Selatan Almarhum AA Baramuli itu masih sampai ke tingkat, beliau masih tidak puas sampai ke tingkat kasasi kalau tidak salah. Perlu ada penegasan persyaratan domisili ini, domisili secara de facto atau de jure atau kedua-duanya, kalau de jure ini satu orang mempunyai KTP lebih dari satu, beliau misalnya, bukan hanya beliau, ada tiga calon dari Sulawesi Selatan mereka punya KTP di Makasar, tetapi de facto

(6)

tinggal di Jakarta, waktu itu Sulawesi Selatan mengambil jalan yang membayar Pajak itu dimana, Pajak Penghasilan dan lain sebagainya, ternyata di Jakarta akhirnya di Jakarta tidak mempunyai persyaratan tetapi beliau tetap tidak bisa terima dibawa ke Pengadilan.

Kemudian persyaratan Anggota masyarakat yang Pegawai Negeri Sipil menjadi calon Anggota DPR dan DPRD. Dalam Rancangan Undang-undang yang diajukan Pemerintah itu PNS ini adalah mundur setelah terpilih bahkan melihat ini bertentangan dengan Undang-undang Kepegawaian dimana seorang Pegawai Negeri tidak boleh menjadi Anggota Partai, padahal untuk menjadi calon itu harus mempunyai KTA. Jadi saran kami terus terang saja dalam praktek kemarin itu apabila atasan Pegawai Negeri tidak melaksanakan kewajibannya yang menjadi korban KPU, karena banyak pengaduannya Pegawai Negeri Sipil apabila masih bisa dulu yang mundur tetapi belum ada pernyataan mundur dia cuti, setelah dinyatakan tidak terpilih dia masuk lagi ke situ, jadi saran kami perlu ketegasan, kecuali untuk DPD, kalau rumusan DPD disebut mundur setelah dinyatakan terpilih, karena memang tidak ada persyaratan harus menjadi Anggota Partai, tetapi kalau untuk DPR supaya tidak kontradiktif dengan Undang-undang No.43 tentang Kepegawaian.

Dalam hal pemberian suara, dalam Rancangan Undang-undang yang diajukan oleh Pemerintah ada ketentuan yang mengharuskan Surat Suara mencantumkan daftar nama calon didalam tanda gambar. Kami membayangkan Surat Suaranya akan besar atau gambar Partai tidak akan kelihatan, ini seperti mata uang latar belakangnya tanda gambar partai setelah itu baru daftar nama calon tersusun secara vertical. lni pasti akan memerlukan biaya besar dan juga ukurannya yang cukup besar.

Bagi jumlah Surat Suara tambahan, kalau menurut rumusan Rancangan Undang-undang yang diajukan oleh Pemerintah cadangan atau surat tambahan tidak cukup 5%, karena disebut disitu pemilih berhak untuk meminta bukti kalau suara rusak atau salah coblos, kita membayangkan situasi yang ekstrim, bisa saja pemilih ini menganti ini, karena mereka berhak untuk menganti itu, ini menjadi cadangannya tidak cukup 5%. Jadi saran kami rumusannya supaya mengikuti saja Undang-undang Nomor. 12 tahun 2003. Jadi Surat Suara Tambahan dapat digunakan untuk menganti Surat Suara yang rusak atau salah coblos atau bagi pemilih dari TPS lain. artinya yang menilai Surat Suara itu rusak dsb itu adalah KPPS, yang disahkan pada masing-masing pemilih, kita tidak tau, kalau rumusannya bahwa yang menentukan Surat Suara Rusak itu adalah KPPS saya kira Surat Tambahan 5% sudah memadai, kemudian kami mengulangi apa yang pernah kami sampaikan Komisi II, yaitu mengenai Ketentuan Pasal 38 Ayat (2) dan Ayat (3) Undang-undang Nomor. 22 tahun 2007. supaya jelas apa yang kami maksudkan, saya ingin membacakan Pasal itu.

Ayat (1) Ketua wajib menandatangani, penetapan hasil Pemilu yang diputuskan pada Rapat Plena dalam waktu paling lama tiga hari, ini tentu tidak masalah, yang menjadi masalah itu adalah Ayat (2) dan Ayat (3).

Ayat (2) dalam hal penetapan hasil Pemilu tidak ditanda tangani dalam waktu tiga hari sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) salah satu Anggota menandatangani penetapan hasil Pemilu.

Ayat (3) dalam hal tidak ada Anggota KPU Provinsi dan Kabupaten/Kota menandatangai penetapan hasil Pemilu dengan sendirinya hasil Pemilu dinyatakan sah dan berlaku. Ada beberapa konsekuensi ini yang bukan hanya kita khawatir tetapi kemungkinan bisa terjadi.

Pertama, tidak ada satu dokumen penetapan hasil pemilu yang otentik, melainkan bisa lebih dari satu, jadi kalau Ayat (2) ini dapat ditandatangani oleh salah satu Anggota berarti ada kemungkinan lima dokumen yang sah dari lima Anggota yang masing-masing menandatangani atau tidak ada Anggota yang mau menandatangani itu juga berlaku sah, misalnya dibuat macam-macam dokumen seperti itu.

(7)

Persoalannya kemudian karena hasil penetapan Pemilu apabila ada perselisihan hasil pemilu harus dibawa ke Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Konsitusi ini juga bingung yang ditanda tangani Anggota ini juga sah, Anggota ini juga sah, yang tanpa tanda tangan juga sah. lni akan menimbulkan persoalan, bahkan kalau misalnya Ketua tidak mau tanda tangan, padahal menurut Undang-undailg Nomor. 22 ini Ketua mewakili KPU didalamnya yang keluar, ada gugatan di Pengadilan siapa yang akan mewakili ke Pengadilan, apabila Ketua tidak mau tanda tangan. Justru Anggota lain yang mau tanda tangan, jadi menimbulkan persoalan , karena itu pernah kami sampaikan pada waktu di Komisi II, dalam Perbaikan Undang-undang ini Pasal 38 ini perlu dicari jalan keluar yang menurut kami sebenarnya Pasal 38 ini dalam Bahasa lnggrisnya over kill sebenarnya kalau Ketua mau tanda tangan sudah ada Ketentuan di Pasal 29 dan Pasal 31 bahwa Anggota KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota dapat diberhentikan sementara apabila terbukti menganggu pengambilan keputusan, ini Undang-undang harus ada kode etik.

Saran kami untuk mencegah kemungkinan terburuk dari implikasi Pasal 38 Ayat (2) dan Ayat(3) Undang-undang Nomor. 22 tahun 2007 pada Undang-undang Pemilu ini perlu dijamin adanya satu dokumen hasil Pemilu yang otentik, dimana semua pihak mengakui hal itu dimana Partai penyelenggara Pemilu, Mahkamah Konstitusi dsb. Undang-undang Nomor. 22 tahun 2007 tentang penyelenggara Pemilihan Umum.

Kemudian mengenai formula pembagian kursi dan penetapan calon terpilih, kami membaca di Media dialog antara Anggota Pansus kalau tidak salah mengenai keinginan untuk mendefinisikan ulang mengenai sisa suara. Apa yang dimaksud dengan sisa suara dalam Undang-undang yang dimaksud sekarang itu sisa suara itu diartikan sisa jumlah suara setelah pembagian dengan PBP dan yang tidak mencapai PBP itu masuk kategori sisa suara. Saya memang sudah mendengar berbagai diskusi, ini dipandang kurang adil karena saya ambil contoh ada suatu Partai mendapat 120.000 suara, ada Partai lain yang mendapat 25.000 suara PBP-nya 100.000 yang 120.000 mendapat satu kursi yang satu lagi sisa kursi jatuh kepada yang hanya dapat 5.000 suara, ini tidak adil.

Kami perlu mengingatkan juga kepada Pansus bagaimana kalau di salah satu Daerah Pemilihan itu tidak ada Partai Politik Peserta Pemilu yang sama atau melebihi PBP dan ini bukan betul terjadi, misalnya Maluku Utara tahun 2004 tidak ada partai politik yang mencapai PBP. lni nanti apapun keputusan DPR dengan Pemerintah tentu ini perlu memperhitungkan juga bagi Daerah yang Partai Politik yang tidak mencapai PBP.

Mengenai penegakan Partai Pemilu dalam Rancangan Undang-undang yang diajukan Pemerintah disebut keputusan KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota dapat digugat ke PTUN dan akan selesai dalam 21 hari. Saya perlu sampaikan keputusan atau penetapan yang ditetapkan oleh KPU itu adalah penetapan mengenai Partai Politik peserta Pemilu mengenai penetapan SK Penetapan calon anggota DPD, penetapan daftar calon tetap, Penetapan Daerah Pemilihan, Penetapan Hasil Pemilu DPR, DPD dan penetapan calon terpilih DPR dan DPD, ini dapat digugat ke PTUN, di Provinsi ada penetapan daftar calon tetap, penetapan hasil pemilu anggota DPRD Provinsi dan penetapan calon terpilih, Kabupaten/Kota juga sama dan pertanyaannya juga sama apabila keputusan-keputusan ini, misalnya mengenai Daerah Pemilihan mengenai Daftar Calon Tetap, mengenai Calon Terpilih itu digugat ke PTUN perlu waktu 21 hari, kami khawatir yang tahapan Pemilu akan terganggu, paling tidak itu tidak sama pelaksanaan tahapan itu diseluruh Daerah. Daerah Pemilihan itu ada Daftar Calon Tetap digugat menunggu 21 hari untuk menyiapkan design Surat Suara, mencetak dsb. Kalau yang digugat itu kalau diseluruh Indonesia itu lebih dari 2.000 Daerah Pemilihan, 10% saja digugat harus menunggu tiga minggu untuk memproses tahapan berikutnya, waktu yang tersedia untuk persiapan Pemilu terbatas, kami mohon perhatian apakah ini tidak menjadi factor penghambat dalam pelaksanaan Pemilu. ldenya sendiri menurut kami baik dan kami harus mengatakan, Komisi II seingat saya dua tahun yang lalu

(8)

mengingatkan karena KPU bukan Malaikat, jadi bisa saja keliru dan harus ditegakkan. Saya perlu karena ini berdasarkan dari Pengalaman saya perlu ingatkan juga kasus di Riau dari F-PDIP ada penetapan Daftar Calon Tetap, ada Calon yang tidak memenuhi syarat karena syarat pendidikannya dinyatakan tidak memenuhi syarat, calonnya dibawa ke PTUN, dia menang KPU Riau naik banding, yang bersangkutan juga menang. KPU Riau naik Kasasi dia juga yang menang, akhirnya pada saat itu sudah penetapan calon tetap, karena keputusan itu harus dijalankan kalau tidak salah nama dia masuk terpilih padahal nama dia tidak masuk pada daftar calon, Surat Suara tidak ada, yang nomor urut satu dalam daftar calon itu. baru keluar keputusan MA yang ikrah, F-KB minta supaya diganti supaya diganti semua, tidak hanya yang terpilih tetapi calon yang belum terpilih diganti semua dan tidak mungkin kita mengatakan tahapan pencalonan juga lewat, hal-hal seperti ini kalau Undang-undang yang dulu selalu mengatakan gugatan hukum tidak menghambat proses, tetapi kalau kita sudah mencapai tahapan delapan, yang digugat adalah tahapan empat, apakah kita masih bisa kembali keempat. lni problem tersendiri, oleh karena itu juga mengenai gugatan mengenai keputusan KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota itu perlu dipertimbangkan dari segi kelancaran pelaksanaan tahapan.

Kemudian mengenai logistik, dalam Rancangan Undang-undang Pemilu yang diajukan oleh Pemerintah itu jenis perlengkapan Pemilu itu sudah limitative, jenis perlengkapan Pemilu meliputi satu, dua, tiga, kalau kita daftar itu tidak, itu berarti nanti kalau Pemilunya tidak tidak bisa jalan, karena belum semua perlengkapan Pemilu ada disana. Kalau KPU mengadakan, melanggar Undang-undang, Undang-undang mengatakan jenis pelanggaran Pemilu hanya ini-ini. oleh karena itu saya kira itu perlu di perbaiki Ketentuan seperti ini, karena membatasi ruang gerak KPU atau bahkan KPU-nya, Pemilunya tidak bisa dijalankan karena logistiknya tidak bisa diadakan.

Kemudian kami juga menghimbau agar dimensi waktu dalam distribusi logistik supaya dihilangkan. Saya mengingatkan Bapak dan lbu Pansus bahwa bahwa Pemilu tahun 2004 itu dalam pasal 45 kalau tidak salah, dinyatakan seluruh logistik Pemilu harus sudah sampai di Desa paling lambat 10 hari setelah hari H. ltu pada Pemilu tahun 2004 dikeluarkan Perpu, karena Pasal ini ada kemungkinan di beberapa tempat tidak bisa dipenuhi, kami menyarankan karena seal waktu distribusi masalah teknis dan kedua supaya nanti. Dan yang kedua supaya nanti tidak menjadi jebakan bagi kita, kami sarankan agar dimensi waktu dalam distribusi logistik dihilangkan itu serahkan saja kepada KPU didalam pengaturan didalam pelaksanaannya. Ada beberapa yang terakhir mengenai tahapan, kami memohon perhatian bahwa didalam Undang-undang Nomor. 15 tahun 2003 yang berlaku sekarang dalam Ketentuan Umum ada sembilan tahapan penyelenggaraan Pemilihan Umum. Namun dalam Undang-undang Nomor. 22 tahun 2007 tahapannya justru ada sebelas, ini khususnya dikaitkan dengan tugas Panwas, itu Pasal 74 Undang-undang Nomor. 22 tahun 2007.

Disana disebut tugas dan wewenang Panwaslu adalah mengawasi tahapan penyelenggaraan Pemilu yang meliputi satu sampai sebelas. Namun dalam RUU yang diajukan oleh Pemerintah sama dengan Undang-undang Pemilu yang berlaku sekarang, sembilan tahapan. Saran kami lebih baik lebih tepat ketentuan yang berlaku sekarang, karena misalnya dalam Pasal 74 tadi itu pengadaan distribusi logistik dijadikan tahapan. Padahal logistik ini adalah supporting system karena tahapan pemutaran dana pemilih yang perlu logistik, pendaftaran penetapan Pemilu tidak perlu logistik, jadi tidak tepat kalau pengadaan distribusi logistik dijadikan tahapan.

Mengenai pemutaran data pemilih, kami menyarankan agar pemutaran data pemilih dilaksanakan secara berkelanjutan oleh kami, artinya kalau kita baca Rancangan Undang-undang yang diajukan Pemerintah, pemutaran data pemilih itu hanya menjelang Pemilu, apa Pemilu Kepala Daerah, Pemilu Legislatif atau Presiden, kami menyarankan agar setiap tahun diadakan pemutaran data pemilih tentu dengan bekerjasama dengan Pemerintah Daerah, ini tidak lain dimaksudkan agar Pemilu ini kalau diputar terus menerus itu akan mencapai parameter ditetapkan

(9)

agar pendaftar Pemilu itu terdaftar 100%, kalau tidak mencapai 1 00% paling tidak 95% atau 96%, up to date untuk ukuran yang secara universal dilakukan untuk pemutaran data pemilih. Kami juga menyarankan agar dalam Undang-undang ini dinyatakan secara lebih tegas bahwa paling lambat 12 bulan sebelum hari dan tanggal pemungutan suara data penduduk dan data penduduk potensial peserta Pemilu diserahkan oleh Pemerintah Daerah kepada KPU soft copy dan hard copy. Saya pikir ini mengenai data pemilih ini setahun sebelumnya supaya KPU mempunyai kesempatan yang sungguh-sungguh untuk memuktahirkan.

Dalam Rancangan Undang-undang Pemilu yang diajukan Pemerintah sudah tidak ada lagi ketentuan mengenai Kartu Pemilih, padahal Undang-undang yang berlaku sekarang ada Ketentuan untuk Kartu Pemilih, yang kita tahu tahun 2004 itu ada Kartu Pemilih dan memang lebih lancar digunakan seterusnya.

Mengenai saya ada kelupaan tadi, mengenai persyaratan Partai Politik Peserta Pemilu, ada pemikiran seperti berikut, mengingat waktu yang tersedia ini terbatas mempersiapkan Pemilu barangkali perlu dipikirkan verifikasi yang dilakukan dari Departemen Hukum dan Ham yang dilakukan oleh KPU secara singkron supaya tidak kerja dua kali. Ada satu pemikiran yaitu bahwa supaya Departemen Hukum dan Ham itu hanya melakukan verifikasi administrasi tadi terhadap Partai Politik yang baru, jadi sama seperti ketika Badan Hukum Near Laba, pengesahan dari Departemen Hukum dan Ham itu hanya memperhatikan persyaratan administrative, sedangkan verifikasi faktanya oleh KPU, jadi kalau sebelumnya Departemen Hukum dan Ham baik administrative maupun fatwa, KPU juga begitu administrative dan fatwa, kalau Departemen Hukum dan Ham melakukan verifikasi administrative dan fatwa, diperlukan waktu delapan sampai sembilan bulan seperti tahun 2003, kalau itu terjadi seperti ini, kalau misalnya Undang-undang Partai selesai akhir tahun baru Oktober tahun 2008 baru KPU membuka pendaftaran Partai Politik Peserta Pemilu, saya pikir waktu yang tersedia untuk persiapan akan menjadi terbatas, ini satu pemikiran. Tentu saja persyaratan Partai ini harus sama di KPU maupun di Partai Politik, karena sebelumnya jumlah cabang kalau untuk menjadi Partai Politik itu kalau tidak salah 50% dari Provinsi, kalau di KPU 75%, disamakan saja supaya nanti verifikasi administrative yang di Departemen Hukum dan Ham dan fatwa yang di Departemen Hukum dan Ham itu bisa sejalan.

Jumlah kursi Anggota DPR paling 560 itu berarti nanti bisa empat ratus, jadi kalau kita mau dari segi Bahasa itu kalau paling banyak 560 bisa saja replica itu menetapkan 400 karena itu kita usulkan dengan sebanyak, kalau memang itu dimasukkan.

Waktu Pemilu tahun 2004 KPU selain menurut Undang-undang, penghitungan suara secara manual, juga melakukan melalui 10, kami tentu masih ingat ada beberapa pihak Partai yang berkeberatan tentang ini, oleh karena itu kami ada dasar hukum yang disebutkan dalam Undang-undang, dengan catatan bahwa tetap yang harus dipakai sebagai sah yang mana, yang manual perhitungan melalui teknologi informasi itu fungsinya satu mempersiapkan masyarakat untuk menerima hasil Pemilu ini, tidak dadakan, tidak kejutan.

Kedua, juga semacam cheking untuk hasil yang manual dan tidak terlalu signifikan maka hasil yang manual itu dapat dipercaya. Kami minta supaya kami sarankan, kalau memang Pansus ini dan Pemerintah setuju ini penting masih dilakukan, kami sarankan agar dimasukkan didalam Pemilu ini.

Dua point terakhir, dari pelaksanaan distribusi dan pengamanan perlengkapan pemungutan suara itu dalam prakteknya menurut KPU dan KPU Daerah masih mengeluarkan anggaran, padahal dalam APBN tidak ada itu anggaran untuk pengamanan, karena itu sudah dialokasikan ke point, karena sekarang ini zaman serba takut sekarang, jadi tidak ada posnya, tetapi ada kebutuhan realnya yang kemarin itu saya kira masih bisa disiasati, tetapi kedepan sudah tidak ada yang berani, padahal itu sudah betul-betul diperlukan, jadi dalam Undang-undang

(10)

' ditegaskan mengenai distribusi dan pengamanan ini apakah saya kira perlu ditegaskan dalam Undang-undang.

Yang terakhir klien saya untuk menindaklanjuti, mempertajam apa yang yang belum · disebutkan. Kami juga mengusulkan supaya dalam Undang-undang Pemilu itu dicantumkan yang isinya begini, Surat Suara yang sudah dapat dimusnahkan setelah Anggota DPRD Kabupaten/Kota atau DPRD Provinsi, DPD dilantik, artinya Surat Suara Pemilu Anggota DPRD Kabupaten/Kota ' dapat dimusnahkan setelah mereka dilantik, demikian juga Surat Suara yang digunakan untuk DPRD Provinsi, DPR-RI, ini kami kemukakan karena sekarang penegakan hukum di Daerah · memperkarakan, dianggap titik temua, kami harapkan secara eksplisit Surat Suara yang sudah · digunakan itu sudah dapat dimusnahkan, ini sekali lagi untuk mencegah kemungkinan ternan-, ternan kami di Daerah menghadapi masalah hukumternan-, itu dari saya.

KPU (CHUSNUL MAR'IY AH):

Terima kasih Bapak Pimpinan Panitia Khusus Pansus Bidang Politik.

Ada beberapa catatan saya, perlama tentu saja saya sebagai Anggota KPU tidak akan . berbicara prespektif, dalam artian itu adalah pilihan politik Anggota Dewan sebagai kapasitas Anggota KPU. Karena saya tidak bisa memberikan masukan kepada Pansus DPR, kalau itu urusannya adalah pilihan sistem mana, sebaiknya dipilih oleh DPR didalam membuat Undang-. undang, namun sebagai penyelenggara Pemilu kami memiliki pengalaman Undang-undang seperti

apa yang nanti didalam pelaksanaan penyelenggaraannya itu bisa dilaksanakan dan bisa dilaksanakan dengan baik.

Kalau tadi Bapak Ramlan sudah banyak menjelaskan beberapa hal, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan disini, misalnya mengenai masalah verifikasi peserta Pemilu, sebaiknya dimasukkan bahwa KPU hanya menjalankan, melanjutkan verifikasi yang sudah disampaikan oleh Departemen Hukum dan Ham dan itu setiap tahun, jangan nanti setelah setahun sebelum Pemilu baru kita melakukan verifikasi, kecuali nanti beberapa point yang mungkin nanti diangkat, karena Dephukham itu membuat verifikasi sampai 50%, kalau dibutuhkan KPU tinggal melanjutkan 25% sehingga tidak double, tidak double tenaganya dan sebetulnya KPU tinggal melanjutkan 25%, sehingga tidak double anggarannya, tidak double tenaganya dan sebetulnya wasting time juga.

lni juga perlu diatur didalam prespektif sebetulnya pelaksanaan verifikasi peserta Pemilu yang ada ini. kemudian kalau dalam Rancangan Undang-undang ini Bab VI Pasal 40 sampai Pasal 58 kebetulan saya juga berkutat didalam data base kependudukan, salah satu dari KPU tahun 2004, pertama kali didalam sejarah Republik ini 60 tahun merdeka Indonesia memiliki data base kependudukan dengan 60, dengan 12 variable dengan 220 juta rakyat Indonesia, termasuk penyandang cacat.

Tanggal 8 Desember 2004 data base kependudukan inilah yang kita serahkan kepada Menteri Dalam Negeri, ini sebetulnya bagaimana pemukhtahiran kalau didalam Pasal 40 sampai Pasal 58 terlihat apakah akan setiap kali Pemilu kita mendapatkan data dari Departemen Dalam Negeri terlebih dulu seperti setiap kali akan Pemilu akan ada proyek baru dari DP4, dari Depdagri atau sebetulnya digantikan sekali, karena data yang diberikan KPU itu masih ada empat belas tahun lagi masih bisa digunakan. Karena umur nol tahun pada tahun 2003 itu akan secara otomatis dalam 17 tahun akan masuk tinggal pembersihan data-data saja. disini letaknya panjang Iebar dibahas tetapi jelas posisinya, apakah setiap kali akan Pemilu KPU mendapatkan data DP4, karena P4 itu dirubah supaya proyeknya berbeda yaitu DP4 (Data Penduduk Potensi Pemilih), padahal dulu adalah P4D aslinya. lni juga panting, contohnya apa, pada Pemilu Kepala Daerah tahun 2004,2005,2006,2007 seluruh persoalan konflik adalah karena OPT, dan OPT itu bukan

(11)

proyeknya KPU Oaftar Pemilih Tetapi kemarin itu adalah proyeknya Catatan Sipil. lni juga penting dengan Permendagrinya dsb.

Oleh karena itu, perlu nanti dipertegas, bagaimana sebetulnya urusan data pemilih, atau memang kalau toh harus kerjasama, adalah kerjasama. Perbedaan kesalahan kerjasama data yang dibuat oleh Oepdagri dengan kami kalau salah 10 juta tidak masalah, kalau KPU salah 10 juta saya yakin Bapak-bapak dari Partai akan ngamuk, karena resiko politiknya sangat tinggi sekali. Waktu saya pergi ke Ambon, Pemilu Kepala Oaerah di Ambon, besok akan pemilu ada 11.062 pemilih yang belum mendapatkan Kartu Pemilih, jam 23.00 malam, itu peserta Kepala Oaerah ngamuk di KPU, jalan keluarnya ditunda lbu, jangan ditunda karena resiko politik lebih tinggi, apa yang harus dilakukan, siapa yang memiliki Kartu Pemilih Pemilu tahun 2004 silahkan tetap datang dan tetap diakomodir, itu waktu itu jalan keluar yang dimiliki oleh KPU Kota Ambon. Padahal setiap hari yang didemo masalah OPT adalah KPU, termasuk di Tuban yang kemudian gosong semuanya Pemilu Kepala Oaerah di Tuban, ini sebenarnya isu yang dikemukakan adalah OPT, tetapi OPT proyeknya bukan diletakkan di KPU. Oisini letaknya harus secara tegas, kalau memang itu Oepartemen Oalam Negeri silahkan, kesalahan apapun tolong jangan KPU yang dihujat-hujat, sebetulnya saya sudah malas, karena tidak ada hubungannya dengan saya Pemilu tahun 2009. lni penting karena urusan saya banyak bagaimana Pimpinan saya, Professor saja keluar dari penjara setelah berhasil menyelenggarakan Pemilu tersukses di Ounia, the most complex il/egent system.

Masalah banyak hal yang ingin saya sampaikan, tetapi intinya berurusan dengan logistik. Oi Pasal147 disitu jelas dikatakan jenis perlengkapan pungutan suara terdiri atas, kalau ini seperti ini banyak sebetulnya Pasal153, Pasal154, Pasal158, Pasal178, Pasal180, Pasal181, apakah itu juga tidak dimasukkan sebagai jenis kelengkapan yang ada, kalau tidak bertentangan, nanti akhirnya KPU lagi yang dimasukkan ke Penjara bukan peserta Pemilu Partai Politik yang dibicarakan, ini harus jelas sebetulnya.

Kemudian disitu Pasal 147, Bab IX Ayat (4) Pengadaan perlengkapan pungutan suara sebagaimana pada Ayat (1) dilaksanakan oleh KPPS, bisa atau tidak dibayangkan, bagaimana pertanggungjawaban KPPS yang ad hoc padahal didalam aturan untuk menjadi Panitia harus Pegawai Negeri, bukan apa-apa kalau Pegawai Negeri itu bisa dikejar sampai kapanpun, itu sebetulnya, tetapi disini jelas-jelas disebutkan ad hoc KPPS yang akan membuat pengadaan. lni juga menjadi persoalan.

Tadi sudah dikatakan waktu itu 1 bulan itu menurut saya sangat sulit, jauh lebih baik serahkan kepada KPU bahwa yang penting bahwa sehari sebelum Pemilu itu di Oaerah-daerah, di Oesa-desa, Kelurahan di Indonesia sudah dilaksanakan atau sudah ada, dan harus diberikan jalan keluar kalau terjadi natural calamite dan kecelakaan. Pada malam besok Pemilu saya masih di Telephone jam 12 malam ada tiga kapal di Mentawai dengan segala logistiknya, sampai tiga hari setelah Pemilu baru ketahuan, Alhamdullilah tiga kapal itu selamat, berarti apa, terjadi Pemilu susulan di beberapa Oaerah, ada 1.176 TPS di 585.118 TPS yang melakukan Pemilu susulan tahun 2004 yang lalu.

Kemudian Pasal 148 itu berurusan dengan ukuran Surat Suara ini akan menjadi sangat besar dsb seperti pad a waktu yang lalu, mari kita sebelum diputuskan seperti apa, untuk membuat excersice, seperti apa sebetulnya model Surat Suara yang dinginkan didalam Peraturan yang seperti itu.

Pasal 156 menarik lagi menyerahkan OPT kepada saksi yang hadir pada Pemilu lapangan, berapa jumlah kertas yang akan dicetak kalau seluruh pengawas itu akan mendapatkan daftar pemilih tetap, dari banyak Negara yang saya datangi untuk melihat pelaksanaan Pemilu paling yang dilakukan itu adalah ditempel di depan TPS pemilih tetap dan dilihat apakah ada itu dan satu lagi petugas, tetapi kalau setiap saksi ada 24 yang menjadi saksi, kita harus mengalikan

(12)

OPT itu 24 dikali jumlah TPS diseluruh Indonesia, berapa Anggaran yang akan bisa disediakan oleh Bangsa ini untuk urusan yang sebetulnya tidak perlu, atau kalau memang KPU sudah memiliki on line buka saja para peserta Pemilu untuk membuka on line itu, ini letaknya kelihatan remeh temeh, tetapi pada saat penyelenggaraan biayanya luar biasa, bisa di excersice kalau Rp. 150 juta, misalnya 300 nama disetiap TPS atau 600 nama disetiap TPS dikali sekian lembar dikali 500.000 TPS yang ada diseluruh Indonesia, dikali jumlah peserta Pemilu. lni kalau menurut saya bagus-bagus saja dari prespektif proyek tetapi menurut saya tidak ada gunanya.

Kalau dilihat lagi yang spesifikasi teknis, menurut saya pada intinya kita lihat, kita excersice, nantinya kemana sebetulnya yang kita inginkan, jadi dicoba saja model Surat Suara seperti apa saja, kita kumpulkan, waktu KPU membuat Surat Suara dulu, itu juga kita excersice, model-model seperti apa, sehingga nanti kita pilih yang mana yang akan kita pergunakan. Jangan sampai nanti yang ditulis didalam catatan yang kemudian nantinya jadi harus ada namanya didalam kotak itu, berarti tidak jelas, kalau tidak jelas nanti akhirnya Partainya akan prates, karena yang dikenali itu gambar, bukan gambar partai, kalau gambar partainya tidak jelas, karena harus ada nama didalam kotak itu, bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkan, nanti yang diamuk KPU lagi, ini juga penting.

Kemudian masalah anggaran, anggaran jelas untuk Pemilu ini adalah APBN, walaupun disebutkan bisa saja disebutkan dianggarkan oleh APBN, tetapi APBD masuk, hati-hati karena Pemilu tahun 2004 yang lalu untuk lima tahun kita membutuhkan Rp. 5,9 triliun, kemudian yang APBD tidak menghitung.

Kalau kemudian Pemilu 2009 nanti mencapai RP. 80 triliun saya yakin legitimasi dan persoalan politik yang ada akan menjadi isu yang besar dan KPU tidak bisa bekerja untuk melaksanakan itu. jadi menurut saya Undang-undang Nomor. 22 tahun 2007, itu dilaksanakan dengan APBN saja itu harus diperbaiki di Undang-undang Pemilu disini, APBD juga ada, tetapi harus ada disitu.

Kedua, Anggaran untuk keamanan, pada saat Pemilu Tahun 2004 KPU mengadakan MOU dengan Kapolri bahwa urusan keamanan bukan core bussinesnya KPU, itu adalah core bussinesnya Pemerintah untuk memberikan ruang lingkungan kepada saat Pemilu harus menyelenggarakan Pemilu. KPU tidak memiliki pos anggaran keamanan, yang terjadi KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota atau Pusat masih mengeluarkan anggaran untuk Polisi yang ada di KPU. Pertanyaannya contoh saya baru pulang dari Pemilu Kepala Daerah di Kendari, tidak ada juga anggarannya, tetapi ada 200 Polisi yang ada di KPU butuh makan pagi, makan siang, makan malam, makan tengah malam, rokok, kopi, uang saku, dari mana anggarannya.

Disini juga harus jelas anggaran keamanan bagaimana, apakah diserahkan kepada kantor Pribadi sendiri, mungkin juga kurang, atau KPU juga diberikan anggaran keamanan yang bersifat makan pagi, makan siang, makan malam, makan tengah malam dsb, kelihatannya sedikit tetapi kalau ada 200 Polisi di Kabupaten dikali 460 Kabupaten, maka dikali sehari, karena pasti begadang, harus ada makan tengah malam dsb, jadi anggaran yang juga cukup besar, jadi disini harus diperhatikan berbagai hal yang berurusan dengan bagaimana sebetulnya anggaran, dan berikutnya kalau Pemilu Daerah , kalau BRR Aceh, kalau Pemilu Pemerintah seperti Aceh kemarin itu saja semuanya ada Keppres untuk melindungi logistik, kenapa untuk Pemilu yang begitu besarnya, the most complex i/ektion, the biggest ilection on earth kita tidak sam a sekali dilindungi dengan Keppres, sehingga Pimpinan saya, kolega saya, KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota dianggap melanggar Keppres Nomor. 80 tahun 2003. Kalau kita gunakan Keppres Nomor. 80 tahun 2003 secara buta, saya yakin tidak pernah ada Presiden untuk Oktober 2004, tidak melanggar Keppres lagi, tetapi melanggar kepada Undang-undang Dasar 1945. ini tolong lagi-lagi saya sudah tidak ada urusan lagi untuk tahun 2009, paling tidak siapapun yang mengantikan saya itu diberhentikan keamanannya setelah pasca Pemilu tidak menjadi target dimasukkan kedalam

(13)

Penjara, ini juga penting perlindungan Keppres. Bapak Nazar juga dianggap melanggar Keppres oleh pengadilan yang melanggar Undang-undang Dasar 1945, tipikor dianggap bertentangan dengan Undang-undang Dasar 1945.

Pemerintah, Mahmakah konstitusi membolehkan Pemerintah ini untuk melanggar Undang-undang Dasar 1945 sampai tiga tahun, sebab pengadilan tipikor masih diberikan hidup sampai tiga tahun. Disini letaknya ingin tetap waktu itu tunduk taat kepada Undang-undang Dasar 1945, mensiasati bagaimana supaya pengadaan barang dan jasa bisa dilakukan, semuanya masih melalui tender tetapi satu dua saja yang tidak. Bayangkan jumlah partai politik itu sudah diputuskan oleh KPU pada tanggal 8 Desember 2003, mustinya KPU bisa melaksanakan tender setelah 8 Desember 2003, membutuhkan 46 hari untuk membuat 46.000 ton kertas paling tidak dua bulan, jadi 46 hari plus 2 bulan distribusinya tidak mungkin April itu ada Pemilu, tetapi kita coba dengan asumsi pada bulan Juni kita sudah berani melakukan pengadaan kertas. Pencetakan Surat Suara, jumlah nama calon itu baru diputuskan KPU tanggal 29 Januari 2004, 460 ribu nama calon, kapan dicetaknya baru 29 Januari 2004 itu kita memutuskan, kenapa demikian, baik Undang-undang politiknya yang baru selesai 11 Maret 2003 maupun memang Pemilu itu memang ada sequennya, pendaftaran Partai dulu, verifikasi partai, baru Caleg, baru bisa disini sangat hati-hati pengadaan logistik, kalau kita tidak mendapatkan payung hukum memang dalam Undang-undang Nomor. 22 tahun 2007 Anggota KPU tidak berurusan dengan Pengadaan, kalau saya selamat tidak akan dikejar-kejar, kalau kurang logistik apakah Anggota KPU tidak bisa dikejar, tidak. Sekretariat salah yang salah tetap Anggota KPU, disini kesalahan politik, kalau kesalahan di Polisi mungkin bisa lari, tetapi kalau kesalahan politik saya yakin tidak.

Disini perlu diperhatikan dengan baik legalisasi KPU tahun 2004, data base Pemilih yang kita miliki kemudian penggunaan ID yang itu juga memberikan . . . tidak terjadi apa-apa, karen a masyarakat (rakyat) bisa melihat hasil Pemilu secara progresif result setiap hari melalui media, melalui tv per TPS. Nah disini letaknya sebetulnya kebutuhan transparansi dan akuntabilitas pengitungan suara dari KPU supaya apa yang terjadi itu bisa dicek dan ricek oleh masyarakat kalangan luar. Nah kalau itu tidak dimasukan lagi, saya tidak yakin Anggota KPU yang baru bisa kemudian berantem seperti kita berantem di 2004 yang lalu, tetapi ya terserah dan lagi-lagi tersrah Bapak-bapak dan lbu-ibu Anggota Pansus.

Jadi, kami masih mengundang Bapak!lbu dari Panitia kalau memang nanti kita bisa bicarakan lebih detail account dari bagaimana sebetulnya penyelenggaraan Pemilu supaya kita tidak mengulang dan mengulang kesalahan-kesalahan tiap 5 tahun sekali. Sebetulnya pada intinya dengan waktu yang tersisa sangat sedikit, disarankan bukan penggantian Undang-undang melainkan cukup memperbaiki hal-hal yang dirasa waktu itu tidak memberikan ruang yang baik atau ketentuan-ketentuan yang menjadikan suatu permasalahan di lapangan.

Nah ini sebetulnya beberapa pain yang ingin saya sampaikan, tetapi kalau urusan makalah dan sebagainya, kami-kami bisa diajak bicara, tetapi mungkin tidak mengatasnamakan kelembagaan KPU, karena saya yakin, Pak Ramlan, Valina dan saya pasti memiliki perspektif yang berbeda di dalam rancang bagaimana electro rule di Republik ini, masing-masing dengan vision-nya dan sebagainya, tetapi kalau dari perspektif Penyelenggara Pemilu, lnsya Allah kita tidak berbeda banyak. Saya pikir itu saja dari saya. Kalau saya salah, saya mohon maaf.

Wabilfahi Taufiq Waf Hidayah,

Wassalamu'afaikum Warrahmatulfahi Wabarakaatuh. KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak.

(14)

KPU (VALINA SINGKA): Terima kasih.

Pimpinan Pansus dan Anggota Pansus yang kami hormati. Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh.

Walaupun tadi Bu Qusnul dan Pak Ramlan sudah secara panjang Iebar menyampaikan masukan-masukan resmi dari KPU, tentu juga saya ingin menambahkan sedikit seperti tadi dikatakan mengenai Sistem Pemilihan Umum. Walaupun dikatakan bahwa Sistem Pemilihan Umum itu adalah sesuatu pilihan politik yang disebabkan memang Sistem Pemilu itukan memang dipilih disesuai dengan tujuan akhir yang hendak kita capai. Mengapa kita pilih district, professional dan sebagainya. Walaupun itu bukan kewenangan kami di KPU, kalau boleh saya mengusulkan mungkin sebaiknya untuk 2009 ke depan ini Sistem Pemilu ini tidak usah diubah.

Jadi, kita tetap menggunakan Sistem Pemilu kemarin yaitu proporsional terbuka yang terbatas. Sebab apa? Sebab menurut saya, yang namanya merubah Sistem Pemilu khususnya merubah Daerah Pemilihan bukanlah pekerjaan yang mudah, disamping juga tidak mudah juga untuk mensosialisasikan mengenai ketentuan-ketentuan baru tentang Sistem Pemilu, tidak hanya kepada Partai-partai Politik terutama Pimpinan dan Anggotanya yang nantinya akan dipromosikan menjadi Caleg. ltu mereka harus tahu betul mengenai aturan-aturan (rules) mulai dari tingkat pusat sampai di daerah, tetapi juga untuk para pemilih kita sebab itu nantinya juga akan mempengaruhi kualitas, pilihan dari pemilih kita. Kan kita mau mendorong supaya pemilih kita bisa memberikan pilihannya secara berkualitas. Saya mengusulkan supaya tidak, demikian pula daerah pemilihan itu tidak usah diubah sebab tidak cukup moderat yang diputuskan oleh KPU pada 2004 kemarin, alokasi kursi antara 3 sampai 12 sehingga memungkinkan Partai-partai Besar itu memperoleh kursi yang cukup signifikan, tetapi di pihak lain juga Partai-partai yang berskala menengah maupun yang agak kecil juga masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkan kursi.

Yang kedua, beberapa teknis. Misalnya, masih yang dalam rangka sistem itu. Misalnya, mengenai aturan tata cara coblos. Kalau kita melihat pada Undang-undang No. 12 Tahun 2003. ltukan sebetulnya tata cara coblos khususnya mengenai suara sah dan tidak sah. ltukan agak kurang konsisten dengan apa yang ingin dituju oleh sistem proporsional Daftar Calon Terbuka, sebab yang dikatakan suara sah itukan mencoblos tanda gambar partai dan mencoblos nama Caleg. Kemudian kalau hanya mencoblos tanda gambar saja, itu sah juga. Tetapi kalau hanya mencoblos nama caleg saja, itu tidak sah. Nah bagaimana? Menurut saya, sebaiknya kita mendorong supaya tujuan akhir dari proposional terbuka ini dapat tercapai. Jadi, kita dorong pemilih kita ini untuk memilih caleg kita. Jadi, bukan karena gambar. Di satu sisi, ini akan meningkat kualitas out put dari caleg yang terpilih. Sebab dengan metoda yang demikian, para caleg kita akan terdorong untuk tidak hanya mensosialisasikan dirinya, tetapi juga visi/misinya kepada para pemilih dan di sisi lain, para pemilih kita juga punya alat ukur yang cukup untuk memberikan pilihannya terhadap caleg tertentu. Jadi, kami mengusulkan supaya mencoblos nama Caleg saja. Kalau mengacu kepada Tahun 2004 kemarin, itu 1 hari setelah Pemilu 2004, itu LP3ES itu membuat survey nasional. Nah hasilnya cukup bagus, itu 79% para pemilih kita tidak menemukan kesulitan dalam pengertian mereka itu mencoblos tanda gambar partai dan nama caleg. Artinya apa? Artinya, sosialisasi yang kita lakukan pada waktu itu menghasilkan sesuatu. Kalau mengacu kepada survey LP3ES, sebetulnya tidak kalau kita mendorong pemilih kita pemilih hanya nama caleg juga lebih mudah, juga bagi penyelenggara pemilu (KPU), tidak terlampau rumit nantinya untuk melakukan sosialisasi kepada para pemilih.

Yang ketiga, saya juga ingin menambahkan. lni ketentuan di dalam Undang-undang 22 yang mengatur mengenai persyaratan PPS dan KPPS. Disitukan dikatakan mereka mesti sehat, jasmani/rohani, mereka mesti memperoleh keterangan dari Pengadilan bahwa mereka tidak

(15)

sedang dipidana atau tidak sedang menjalankan pidana atau tidak sedang dipidana untuk 5 Tahun dan seterusnya. Menu rut saya, ketentuan semacam ini kan agak menyulitkan untuk calon PPS dan KPPS. Sementara kita tahu KPPS itu lebih, pekerjaannya adalah kerja sosial. Kalau KPPS kan hanya pada waktu pemungutan dan penghitungan suara. Untuk PPS pun demikian, sampai 8 bulan dan tugas mereka kan juga luar biasa makin berat sebab antara lain misalnya mereka harus membentuk Petugas Pendaftar Pemilih, sebab nanti Petugas Pendafat Pemilih inilah yang akan ditugaskan oleh PPS untuk memutakhirkan data pemilih mengacu kepada Undang-undang No. 22. Nah kemarin KPU membuat Peraturan KPU untuk bagaimana mensiasati agar ini tidak menjadi beban bagi para calion KPPS khususnya untuk penyelenggaran Pilkada. Kemudian, kami mengatakan kalau untuk sehat jasmani/rohani ya nanti PPK-nya yang mengurus nanti. Kalau untuk surat pengadilan, biar Kabupaten/Kota yang mengurusnya. Bahkan ini memerlukan tidak hanya waktu, tetapi biaya. Padahal honor mereka bulanan juga tidak terlalu besar. Nah apakah nanti itu di dalam Undang-undang Pemilihan Umum? Mungkin nanti Bapak/lbu sekalian bisa mengatur kembali sehingga ini tidak memberatkan untuk para calon PPS dan KPPS kita.

Yang keempat, mengenai efisiensi anggaran Pemilihan Umum. Pada waktu kami bertemu dengan Presiden dan Wakil Presiden dan khususnya wakil Presiden menekankan mengenai pentingnya efeisiensi anggaran atau biaya Pemilu 2009 yang disebabkan, Wapres juga sudah mendengar biayanya itu akan membengkak akibat dari, tentu pembengkakan biaya itu bukan direkayasa tetapi akibat dari perinatah dari Undang-undang seperti tadi yang sudah disampaikan oleh Pak Ramlan dan Bu Qusnul, surat suaranya itu 150%. Surat suaranya itu nanti bentuknya, tanda gambar partai lalu baru ditempel, dicetak nama calegnya. Nah inikan pasti akan mahal harganya. Sementara kita ingin yang murah, malah Pak Wapres bilang "tidak perlu security paper, cari kertas yang paling murah dan seterusnya, nama caleg diperkecil dan seterusnya, tanda-tandanya tidak usah besar dan pokoknya kecil, murah dan seterusnya dan efisiensi katanya". Nah ini juga perlu dipikirkan oleh lbu dan Bapak sekalian. Yang kedua, tadi Bu Qusnul juga menyinggung soal fotokopi OPT yang mesti diserahkan KPPS di TPS,I mengacu Undang-undang No. 22. Contoh, Jawa Barat akan Pilkada dan mereka sudah menghitung. Ternyata ada tambahan biaya sekitar Rp 100 Milyar hanya untuk memfotokopi OPT. Pertanyaannya, apakah memang betul-betul diperlukan fotokopi OPT untuk disampaikan kepada para saksi dan PPL. PPL ini adalah institusi baru mengacu Undang-undang No. 22. PPA itu singkatan dari Petugas Pengawas Lapangan yang dibentuk di setiap desa 1 orang, kita punya sekitar 70 ribu desa. Jadi, 70 ribu petugas baru untuk PPL. Berapa ini? lnikan pembengkakan anggaran-pembengkakan anggaran. Jadi, saya mahan Bapak/lbu sekaian demi efisiensi karena negara kita adalah negara miskin, masih banyak orang yang kelaparan, bagaimana caranya kita menyelenggarakan Pemilihan Umum dengan biaya yang murah? Tentu nantinya juga, KPU itukan bekerja melaksanakan Undang-undang. Mohon ini supaya dilihat kembali supaya ketentuan-ketentuan ini nantinya tidak mengikat kita semua sehingga anggaran negara itu kesedot luar biasa besarnya hanya menyelenggarakan Pemilu 2009, sementara kan Pilkada-pilkada inikan terus menerus berlangsung. Jadi, saya kira masih banyak hal yang ingin kami sampaikan. Tentu nanti ada waktu khusus lagi yang rencananya kita akan menyelenggarakan pertemuan lebih I an jut di KPU, tentu komunikasinya akan lebih intensif dan tidak terlampau formal. Kita lebih bebas juga untuk berbicara, banyak aspek dari penyelenggara-penyelenggara Pemilihan Umum mengacu kepada pengalaman kami ketika menyelengarakan Pemilu Nasional kemarin.

Kira-kira demikian dari saya. Terima kasih atas perhatiannya dan Wassa/amu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh.

(16)

KETUA RAPAT:

Terima kasih Bapak/lbu sekalian.

lni kalau kita berenasi pada waktu, memang masih ada

±

9 menit. Kalau memang Bapak/lbu sekalian dari Pansus akan memberikan ketajaman untuk pendalaman, masih ada waktu 9 menit kami persilahkan. Silahkan Bu Lena.

ORA. HJ. LENA MARY ANA MUKTI/F-PPP: Terima kasih Pimpinan.

Assa/amu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh.

Ada beberapa hal yang ingin kami mahan respon dari Bapak/lbu yang terhormat dari KPU. Yang pertama, ingatan dari Bapakllbu KPU tentang kalau kita tidak segera menyelesaikan Rancangan Undang-undang, saya tidak tahu apakah ini bahasa koran atau memang langsung dari Bapak/lbu sekalian ini menjadi darurat pemilu dan itu penting untuk diberikan masukan kepada kami karena Bapakllbu inilah yang sangat berpengalaman menyelenggarakan Pemilu dan terus terang saya adalah orang yang kecewa Bapak Ramlan dan lbu Valina tidak lolos dalam seleksi, tetapi itu persoalan yang lain karena sesungguhnya kita membutuhkan orang-orang yang betul-betul sudah berpengalaman dalam penyelenggaraan Pemilu ini. Kami mahan untuk diberikan warning tentang darurat Pemilu ini.

Kemudian, penetapan daftar pemilih yang DP4 sekarang ini. Tadi sudah disampaikan panjang Iebar oleh lbu Qusnul Mariyah dan yang menjadi concern kami persoalan Data Pemilu untuk Daerah Otonomi Baru walaupun Moratorium Pemekaran ini Tahun 2007 ada himbauan untuk dihentikan, tetapi ada beberapa daerah pengajuan-pengajuan daerah otonomi baru yang masih terus diusulkan kepada kami dan kami juga sudah menwanti-wanti bahwa 2008 itu sesungguhnya tidak boleh lagi ada daerah-daerah yang dimekarkan karena ini akan ada kesulitan termasuk juga nanti ketika pada perjalanannya penentuan daerah otonomi baru kan ada beberapa hal kasus-kasus di daerah yang ricuh dalam tanda petik soal Anggota Dewan yang harus kembali ke daerah pemilihannya, tetapi karena soal sistem Pemilu belum kita bicarakan, karena soal daerah pemilihan ini apakah per kabupaten itu 1 kecamatan, bukan lagi seperti Undang-undang No. 12 Tahun 2003, tetapi itu ada relevansinya ke depan.

Kemudian, menyangkut juga PNS di Undang-undang Politik yang lalu kan ada syarat bahwa dia tidak boleh merangkap menjadi Anggota Partai Politik dan harus menyatakan mundur, karena otomatis dia akan punya kartu anggota, tetapi pada prakteknya di beberapa dan saya tidak perlu menyebutkan, tetapi ini faktanya bahwa kawan-kawan yang maju dari PNS itu diberikan oleh Pimpinan-nya untuk "main kucing-kucingan" dan tidak ada sanksinya dan ternyata kembali lagi menjadi PNS. ltukan artinya sebenarnya inikan tindakan yang menyalahi hukum yang bisa diseret ke Pengadilan kalau memang kita tegas melaksanakan enforcement ini dan itu tidak sangat mendidik, karena PNS yang tidak terpilih pada kenyataan berjanji atau terbatas ada perjanjian khusus dengan Pimpinan mereka, mereka nanti katanya kalau tidak terpilih, bisa kembali lagi. ltukan sudah merupakan kebohongan yang luar biasa kebohongan publik, tetapi tidak ada sanksinya Pak, karena seseorang memegang kartu tanda anggota sebagai syarat sebagai calon itu, itu jelas dia mengundurkan diri dari PNS, tetapi dalam kenyataannya dibiarkan saja.

Kemudian, menyangkut soal penyelenggaraan kampanye. Di persentasi dari Bapak/lbu sekalian tidak menyinggung soal kampanye. Ada wacana yang berkembang dalam forum ini adalah bagaimana kampanye itu tidak perlu kita batasi. Artinya, tidak khusus waktunya (2 minggu, 3 minggu) karena banyak sekali konsekuensi-konsekuensi yang mengganggu ketertiban, kelancaran, keamanan di masing-masing daerah yang menyelenggarakan kampanye. Khusus

(17)

masalah kampanye kalau tidak bisa dijawab pertanyaan saya, mungkin nanti bisa disiapkan pada saat kita bertemu di KPU.

Selanjutnya, kuota 30%. Pada Undang-undang No. 22 memang dapat mengajukan calon DPR dan seterusnya dengan memperhatikan keperwakilan perempuan dan itu dianggap opsional dan bukan impratif sifat dari Undang-undang yang ada. Sementara Rancangan Undang-undang yang diajukan oleh Pemerintah ini ada kata-kata harus ada keterwakilan 30% perempuan. Kalau sudah harus memperhatikan, ada konsekuensi hukum. Kalau dia tidak memenuhi, ada sanksinya. Nah sanksi seperti model apa, karena dengan memperhatikan keterwakilan 30%, pengalaman KPU yang lalu kan dikembalikan ke partai untuk dipenuhi 30% kembali lagi tetap tidak terpenuhi 30%. Saya kira, karena bagi pandangan kami 30% kuota itu atau tindakan khusus kepada perempuan merupakan suatu hal yang sudah final dan Undang-undang Politiknya pun di Kepengurusan Partai walaupun kami ingin bukan di Kepengurusan Partai, tetapi di Kepengurusan Harian Partai harus 30% perempuan sekurang-kurangnya. Karena apa? Karena kalau bukan di harian, kalau sistemnya seperti yang diusulkan oleh lbu Valina tadi tetap seperti yang ada, maka bukan rahasia umum lagi. Sudah ada konvensi, bahwa yang di harian itulah yang mendapatkan nomor-nomor jadi dan saya sungguh sepakat ketika kita sosialisasi ke NTT ke Bali, saya secara khusus menyampaikan bahwa sesungguhnya Undang-undang itu tidak harus selalu diubah ketika menghadapi Pemilu, tetapi untuk yang sekarang bolehlah kita revisi, tetapi menyangkut soal penyelenggara Pemilu, karena penyelenggara Pemilu sudah diatur sendiri pada Undang-undang No 22 Tahun 2007. Jadi, mau tidak mau kita lakukan revisi, tetapi revisi yang terbatas dan bukan yang prinsipil karena itu membutuhkan sosialisasi, cost yang tinggi, soal daftar pemilih, dan soal daftar pemilih, bayangan saya Bu Qusnul yang terhormat ketika saya ikut Pilkada DKI, saya kira kartu yang saya pegang itu sudah bisa dipakai dan tidak perlu lagi ada proyek-proyek itu karena kartu pemilu itukan sudah diwanti-wanti ketika kita mendapat Tahun 2004 dan sudah diingatkan jangan hilang, karena ini akan dipakai pada saat pilkada dan sesungguhnya kalau kita pakai aturan itu, karena itu sebagai dokumen penting pribadi masing-masing, kita simpan pada dokumen keeper yang luar biasa. ltukan ketika Pilkada atau Pemilu yang akan datang, kita akan tetap memakai , paling up date datanya apakah yang sudah meninggal atau yang pemilih yang baru yang belum mempunyai kartu pemilih. Saya kira itu yang di administrasi kependudukan sendiri juga masih belum jelas soal atuaran kartu penduduk ini. Soal single identity number saja kan kemarin tidak terlaksana sehingga single identity number sudah dari hari sekarang sudah kita pikirkan. Jadi, administrasi kependudukan bukan hanya mengatur KTP tetapi single identity number yang punya proporsis.

Soal IT dan quick count, quick count ini pada pikiran apakah perlu diatur secara khusus dalam Rancangan Undang-undang ini karena quick count inikan juga mau tidak mau menggiring opini dalam penghitungan, macam-macam dampaknya yang kalau buat saya ya tidak masalah poling berseri itu tidak masalah dan asal jangan quick count ini sudah seolah-olah sudah paten ini yang akan menang. Kalau polling, biasa-biasa saja dan semestinya itu bisa saja kita lakukan sebelum pemilihan sehingga orang bekerja keras untuk dukungan dari rakyat.

Demikian, kurang lebihnya saya mohon maaf. Wabillahi Taufiq Waf Hidayah,

Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh. T erima kasih.

(18)

KETUA RAPAT: Terima kasih Bu Lena.

Bagaimana kita perpanjang sedikit Pak? Karena Bapak-bapak masih ada yang memberikan penajaman. Tam bah Y2 jam begitu? 15 men it begitu?

(RAPAT: SETUJU) Pak Rambe silahkan.

RAMBE KAMARUL ZAMAN, M.Sc/F-PG:

Saya 2 menit saja Pak Ketua. Pertama, 3 kali tadi saya mencatat walaupun tidak saya mencatat (mendengar) Bu Qusnul menyampaikan lagi-lagi tidak berkepentingan untuk Pemilu 2009. Hati saya ya kita juga sebenarnya jika dikaitkan mau jadi tidak, dicalonkan Tahun 2009 kita juga tidak ada kepentingan, belum pasti juga, tetapi dalam posisi sekarang kita ditugaskan untuk membahas Pansus ini dan Bu Qusnul dan Prof. Ramlan saya kira masih resmi sebagai KPU. Oleh karena itu, ini jadi perbaikan Pemilu yang akan datang. Tetapi ada hal yang kita catat disini, sistem tetap sajalah. ltu pendapat KPU. Yang sebaiknya kita ubah ya teknis-teknis ini bagaimana untuk kebaikan, tetapi muncul disini apakah kejadian disampaikan tadi semuanya ya itu betullah. Keberhasilan dan ada soal yang kita hadapi. Nanti kita buka dan nanti akan panjang sekali. Apa tidak ada kaitannya dengan sistem yang kita tetapkan yang lalu. lnikan harus jelas pembagian tugas masing-masing. ltu disitu kaitannya. KPU diberikan kewenangan ini, tetapi kewenangan yang lain tidak diberikan. ltukan berpengaruh pada sistem itu. Nanti kita buka, misalnya contoh diangkat lbu Lena tadi exsensi anggaran. Sebaiknya memang pada waktu tertentu bagaimana mengefisienkan anggaran ini. Kita cocok tidak Pansus, tidak usah kita recok. ltukan kita recok selama ini. Jadi, dari KPU yang mana yang tidak efisien itu kita atur di Undang-undang yang ada, tetapi kalau untuk kebaikan, kita untuk kebaikan misalnya berkembangnya demokrasi, bagusnya pelaksanaan pemilu. Kita jangan berpikir harus diefisienkan. Misalnya, jika lbu Valina tadi setuju. ini contoh yang konkrit saja, kita arahkan. Tampaknya ada keberhasilan mengarahkan menusuk tanda gam bar. Jangan lagi nanti kita temui tanda gambar pas foto orang itu kabur. Nah itukan tidak pas. Kita nyatakan seperti ini, kenyataannya tidak. Bagaimana agar kenyataan di bawah itu cocok. Mempengaruhi sistem Pak Ramlan. ltu teknis sekali, tetapi mempengaruhi sistem. Jadi, kacau. Soal tadi lbu Qusnul mengatakan ini tanggung jawab KPU, tetapi yang lain soal data. ltu yang mengerjakan diproyekan, ya kenapa bisa terjadi begini? lnikan bisa diatur sebenarnya dalam Undang-undang walaupun detail kita buat Undang-undangnya, kita tidak salah kalau untuk kebaikan. Akibat dari sistem kejadian yang ada, itu saya kira berpengaruh (ada yang positif dan ada yang negatin. Kita ambil yang positif yang akan kita atur dalam Undang-undang. Jadi, mempengaruhi sistem.

Yang terakhir, misalnya tadi dikatakan sistem dikatakan itu mengubah daerah pemilihan. Bukannya tidak soal kalau tidak kita ubah. Contoh saja saya ambil Pak Ramlan, daerah pemilihan saya Sumut II. ltu dulu 11 Kabupaten/Kota, mulai dari Labuhan Batu sampai ke Nias. ltu 9 kursi, tetapi luasnya luar biasa. Tidak bisa kita melakukan kampanye untuk seluruh kabupaten ini, apalagi kecamatan. Bagaimana kalaupun kita katakan aspirasi kalau kita misalnya diketahui oleh masyarakat, apa yang kita kampanyekan? Saya sendiri tidak bisa menempuh sampai ke Pulau Nias. Sekarang itu, Sumut II akan menambah menjadi 6 Kabupaten/Kota. Jadi, nanti menjadi 19. Bagaimana kalau soal begini tidak dibicarakan dan tidak ditentukan? Undang-undang kalau kita divensif menyatakan hal-hal teknis, yang teknis ini mempengaruhi sistem itu.

(19)

KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Rambe. Silahkan Mas Agus.

IR. AGUS HERMANTO/F·PD:

Assa/amu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh

Yang kami hormati Pimpinan Pansus dan Rekan-rekan Pansus. Pimpinan dari KPU dan seluruh jajarannya.

Saya singkat langsung ke masalah Dapil. Tadi yang disampaikan oleh Pak Ramlan memang ada di dalam RUU-nya, untuk DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten kelihatan akan berubah, tetapi di saat yang terakhir ya kalau mau diubah tentu disesuaikan, tetapi memang yang saya lihat di lbu Valina, saya kira sudah tegas dan sebaiknya kalau memang tidak berubah, tentu bisa diterima. Yang kami tanyakan disini, mungkin kalau bagi kita semuanya, itu kalau Dapil itu seandainya ditetapkan apakah bahayanya, apakah hal-hal yang mendasari apabila kita menggunakan Dapil yang tepat sehingga mungkin tidak menimbulkan hal-hal sepanjang pengalaman Bapak. Kalau memang tidak ada hal-hal yang krusial, saya pikir Dapil kalau tetap seperti apa? Kalau menurut kami, lebih tetap dan beda dengan alasan Pak Rambe tadi. Akan tetapi semuanya akan kita lihat, kalau kepastian Bu Valina tadi sudah kelihatan ada atasanya tetap, mungkin akan lebih baik, tetapi yang kami inginkan seandainya itu tidak tetap, apakah ada hal-hal yang sangat menyulitkan dalam pelaksanaannya nanti?

Yang kedua, masalah Pegawai Negeri. Saya kebetulan waktu itu Pegawai Negeri. Saya pikir aturannya pada waktu itu, pada saat kita masuk ataupun menjadi pemeroleh kartu anggota, kita hanya menyatakan bahwa kita akan keluar, tetapi setelah OCT (Daftar Calon Tetap), itu harus keluar dan pada waktu itu, secara praktis juga cepat keluarnya Pak. Menurut saya kalau ini memang dilaksanakan, saya pikir tidak ada masalah karena memang bagaimana kita sebelum nyalon kok sudah harus keluar dulu? Padahal pengajuan itu barangkali ada yang cepat, tetapi ada yang lama Pak. Karena keluarnya surat gampangnya lolos putuh, itukan tidak mungkin diprediksi, bisa 1 hari, 2 hari dan lain sebagainya. Menurut saya, kok hal-hal yang seperti dulu itu sudah cukup ketat apabila dibandingkan dengan zaman Pak Rambe Pak, ada cuti di luar tanggungan negara. Apabila seperti kemarin, itupun menurut kami sudah cukup mewakili, tetapi ada hal yang melanggar tadi tentunya, itu melanggar aturan apa yang ditetapkan di dalam Undang-undang itu sendiri.

Selanjutnya, hal-hal yang bersifat jauh lebih teknis dan detail seperti penghapusan daripada surat suara, biaya distribusi dan anggaran yang disampaikan oleh lbu Qusnul Mariyah tadi. Saya pikir apa tidak sebaiknya diletak di dalam PP, karena hal itu jauh lebih teknis dan lebih detail apabila ditaruh di dalam undang maka tentunya kita inginkan pembahasan Undang-undang ini tidak memakan waktu yang lama.

Mungkin itu yang kami sampaikan. Wabillahi Taufiq Waf Hidayah,

Wassa/amu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh. KETUA RAPAT:

Terima kasih.

Referensi

Dokumen terkait

Pendekatan kuantitatif dipergunakan untuk mengungkap efektivitas penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) di SMP Saraswati 1 Tabanan. Sedangkan pendekatan kualitatif

1) Serginho berhasil setelah tendangan pelan ke arah kanan kiper menipu pergerakannya. 2) Seedorf gagal setelah tendanganya ke sebelah kanan dengan pelan kiper

Streaming adalah sebuah teknologi untuk memaninkan file video atau audio secara langsung ataupun dengan pre-recorder dari sebuah mesin server (web server). Dengan kata

3) Soft copy Hasil Rekapitulasi Penghitungan Suara Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati/ Walikota dan Wakil Walikota tingkat Oesa (Formulir Model OAA KWK); 4) Soft copy dokumen yang

Interaksi an- tara konsentrasi asap cair batang tembakau de- ngan lama perendaman tidak berpengaruh pada kekerasan, warna, aroma, dan total bakteri daging ikan gurami

Tidak boleh melakukan tindakan yang menyangkut risiko pribadi atau tanpa pelatihan yang sesuai.. Evakuasi

Bahwa berdasarkan isi Perjanjian Konsesi disebutkan tujuan Perjanjian Konsesi dibuat adalah memasok air bersih untuk memenuhi kebutuhan saat Perjanjian Konsesi

Pseudomonas stutzeri ASLT2 tidak dapat mereduksi nitrat pada media dengan penambahan nitrat, nitrit, dan amonium tetapi memperlihatkan adanya aktivitas reduksi nitrit dan