• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

6

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian Karina, dkk (2013) mengenai Analisis Restitusi Pajak Pertambahan Nilai pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Palembang Ilir Barat menunjukkan bahwa pada tahun 2011 terdapat total 22 PKP yang telah menyetorkan permohonan restitusi atas Pajak Pertambahan Nilai. Dari total 22 PKP yang menyetorkan permohonan restitusi atas PPN tersebut, hanya terdapat 11 PKP yang dikabulkan permohonannya oleh pihak KPP Pratama Palembang Ilir Barat setelah dilakukannya proses observasi. Besarnya jumlah restitusi atas PPN yang permohonannya sudah disetujui pada tahun 2011 sebesar Rp5.643.955.207,- (Lima Milyar Enam Ratus Empat Puluh Tiga Juta Sembilan Ratus Lima Puluh Lima Ribu Dua Ratus Tujuh Rupiah).

Dari hasil observasi tersebut perlu dilakukan kembali koreksi pajak atas perhitungan PPN yang telah diajukan oleh 11 PKP atas permohonan restitusi tersebut. Maka, koreksi pajak tersebut kembali mengalami perubahan, yang dimana menyebabkan pencairan atas restitusi PPn yang telah disetujui oleh KPP Palembang Ilir Barat tersebut berubah jumlahnya menjadi kian sedikit, yaitu Rp5.141.097.935,- (Lima Milyar Seratus Empat Puluh Satu Juta Sembilan Puluh Tujuh Ribu Sembilan Ratus Tiga Puluh Lima Rupiah). Terdapat 2 (dua) hal yang telah menyebabkan terjadinya pendapatan pajak PPN pada KPP Pratama Palembang Ilir Barat menjadi lebih besar, yaitu: 1. Adanya kelebihan Pajak Pertambahan Nilai akibat dari adanya ketentuan

perpajakan;

(2)

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan ditemukan sejumlah PKP yang memiliki hasil perhitungan pajak yang harus dikoreksi kembali. Akibat dari koreksi pajak tersebut yaitu terdapatnya nlai pajak yang berubah menjadi: 1. Tetap lebih bayar, akan tetapi pendapatan lebih bayar berubah menjadi

lebih kecil; 2. Kurang bayar; 3. Nihil.

Penyebab terjadinya koreksi pajak atas PKP yang mengajukan restitusi PPN yaitu adanya kekeliruan pada saat pelaporan PPN. Kekeliruan tersebut ada saat dilakukan pelaporan faktur pajak oleh. Mengkreditkan faktur dari pajak masukan yang tidak dapat diakui merupakan bentuk kekeliruan yang dilakukan oleh PKP.

Persamaan antara penelitian yang telah dilakukan oleh Karina,dkk dengan penelitian yang penulis buat yaitu sama-sama membahas mengenai restitusi atas Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Adapun untuk perbedaan dari penelitian terdahulu dengan penelitian yang penulis tulis yaitu terletak pada objek pembahasan yang dimana penelitian terdahulu melakukan penelitian untuk mengetahui jumlah presentase Pengusaha Kena Pajak yang melakukan restitusi, sedangkan penulis lebih berfokus pada implementasi dari pengajuan restitusi tersebut.

Penelitian sejenis dilakukan oleh Gita (2010) tentang Tinjauan Atas Restitusi Kelebihan Pembayaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Tegallega menjelaskan apabila prosedur

(3)

restitusi pajak pertambahan nilai yang dilakukan telah sesuai dengan prosedur pada KPP Pratama Bandung Tegallega.

Berdasarkan SK Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak (SKPPKP) paling lambat 3 (Tiga) bulan untuk PPh dan 1 (Satu) bulan untuk PPN. Apabila saat proses pengembalian restitusi pajak mengalami keterlambatan, maka wajib pajak memiliki hak untuk menerima imbalan berupa bunga. Adapun hambatan yang dihadapi oleh KPP Pratama Bandung Tegallega yaitu dikarenakan kurang ketatnya pengawasan yang ada serta terdapatkerja sama antara fiscus dan wajib pajak dalam melakukan kecurangan restitusi sehingga membuat pihak KPP sulit untuk menemukan bukti faktur pajak fiktif.

Persamaan antara penelitian yang dilakukan oleh Gita dengan yang penulis tulis yaitu terletak pada peninjauan atas proses pengembalian kelebihan pembayaran pajak serta hambatan-hambatan yang dihadapi oleh Kantor Pelayanan Pajak tersebut. Adapun perbedaan dari penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan penulis yaitu terletak pada wilayah KPP yang menjadi objek penelitian tersebut dilakukan.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Supit, dkk (2014) mengenai Analisis Restitusi Pajak Pertambahan Nilai Terhadap Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Manado dapat diketahui bahwa restitusi atas pajak pertambahan nilai yang dilakukan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Manado sangat mempengaruhi jumlah penerimaan pajak yang telah ada. Ketika terjadi proses restitusi atas permohonan pengajuan yang telah dilakukan oleh wajib pajak maka dana dari hasil

(4)

penerimaan pajak yang telah dilakukan akan berkurang sehingga menyebabkan terhambatnya penyaluran dana pajak untuk kebutuhan pembiayaan dalam pemerintahan.

Dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Supit memiliki persamaan dengan penelitian yang penulis lakukan yaitu terletak pada subjek yang diteliti yang berupa restitusi pajak pertambahan nilai. Sedangkan perbedaan atas penelitian terdahulu dengan penelitian yang penulis tulis yaitu terletak pada tujuan penelitian tersebut dilakukan.

Penelitian sejenis dilakukan oleh Riftiasari (2019) tentang Pengaruh Restitusi Kelebihan Pembayaran Pajak Pertambahan Nilai Pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Penjaringan menjelaskan bahwa restitusi PPN tidak mempengaruhi jumlah penerimaan PPN pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Penjaringan dikarenakan nilai signifikan yang diperoleh yaitu sebesar 0.193 dan untuk nilai korelasi sebesar 0.694. Dimana kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang kuat karena berada diatas 0.50, artinya bahwa restitusi PPN memiliki pengaruh kontribusi sebesar 48.2% terhadap penerimaan PPN. Untuk prosedur pelaksanaan restitusi PPN pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jakarta Penjaringan yaitu dilakukan dengan 4 (Empat) tahap sesuai dengan standar SOP Nomor KPP50-0004 tentang Tata Cara Penyelesaian Permohonan Pengembalian Kelebihan PPN, sebagai berikut:

1. Tahap Permohonan 2. Tahap Pemeriksaan 3. Tahap Penetapan

(5)

4. Tahap Pencairan

Persamaan dari penelitian terdahulu dengan penelitian yang dilakukan penulis yaitu sama-sama terdapat penjelasan mengenai proses dari restitusi PPN. Adapun perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang penulis tulis yaitu terletak pada pengaruh dari restitusi kelebihan pembayaran pajak pertambahan nilai tersebut terhadap jumlah penerimaan PPN pada kantor Pelayanan Pajak tersebut.

Penelitian terakhir dilakukan oleh Akhiruddin (2010), mengenai Pengaruh Restitusi Pajak Pertambahan Nilai Wajib Pajak Badan Terhadap Penerimaan Pajak Pertambahan Nilai Pada Kantor Pelayanan Pajak Madya di Kota Makassar. Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa restitusi pajak pertambahan nilai yang terjadi sangat mempengaruhi penerimaan pajak yang telah ada. Dapat dilihat dari penelitian terdahulu terdapat persamaan pada subjek penelitian yaitu restitusi pajak atas pajak pertambahan nilai. Sedangkan untuk perbedaan terletak pada lokasi penelitian.

B. Landasan Teori 1. Pengertian Pajak

Pajak menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 pasal 1 ayat 1 merupakan suatu kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh Orang Pribadi ataupun Badan yang dimana bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang serta tidak mendapatakan imbalan secara langsung dan akan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Arti pajak lainnya menurut Markus dan Yujana (2004) dalam bukunya yang berjudul “Pajak Peghasilan edisi Revisi” ialah suatu harta kekayaan milik

(6)

rakyat yang dimana berdasarkan undang-undang sebagian dari harta tersebut wajib diberikan oleh rakyat kepada negara dengan tanpa mendapatkan kontra prestasi yang diterima oleh rakyat baik secara individual maupun secara langsung dari negara, dan bukan merupakan pinalti, yang akan berfungsi sebagai dana untuk biaya pembangunan serta berfungsi sebagai alat untuk mengatur kehidupan sosial ekonomi masyarakat

Selain itu terdapat pula beberapa pengertian pajak menurut para pakar, diantaranya yaitu :

a. Pajak menurut Prof. Dr.Rochmat Soemitro, S.H dalam buku Dasar-dasar Hukum Pajak dan Pajak Pendapatan (1994)

Pajak merupakan suatu iuran dari rakyat kepada kas negara untuk membiayai pengeluaran rutin negara dan tidak mendapatkan imbalan secara langsung yang dimana nanti “surplus”nya akan dipergunakan untuk keperluan

public saving yang merupakan suatu sumber utama untuk membiayai public investment

b. Pajak menurut S.I Djajadiningrat dalam buku Siti Resmi (2016) Pajak ialah suatu kewajiban untuk menyerahkan sebagian dari kekayaan rakyat ke kas Negara yang disebabkan oleh suatu kejadian, perbuatan, dan keadaan yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai suatu hukuman, menurut peraturan yang ditetapkan pemerintah dapat dipaksakan, akan tetapi tidak ada jasa timbal balik dari Negara secara langsung dan dipergunakan untuk memelihara kesejahteraan secara umum.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa unsur yang melekat dalam pengertian pajak, yaitu sebagai berikut :

(7)

a. Pembayaran pajak sesuai dengan Undang-Undang yang telah ditetapkan. b. Pajak bersifat “Memaksa”.

c. Pajak yang di bayarkan akan dipergunakan untuk membiayai pengeluaran rutin negara yang akan berdampak untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat secara umum.

d. Tidak terdapatnya imbalan (kontraprestasi) secara langsung yang dapat dirasakan oleh Wajib Pajak.

c. Pajak menurut Prof. Dr. P. JA. Andriani dalam buku Dr. A. Anshari Ritonga, SE. SH. MH (2017)

Pajak merupakan suatu iuran dari warga negara terhadap negara yang sifatnya dapat dipaksakan berdasarkan peraturan dan tidak mendapatkan pengembalian secara langsung yang dapat ditunjuk dan penggunaanya yaitu

untuk membiayai pengeluaran umum yang berhubungan dengan

penyelenggaraan pemerintahan.

d. Pajak menurut DR. N.J. Feldmann dalam buku Dr. A. Anshari Ritonga, SE. SH. MH (2017)

Pajak ialah suatu prestasi yang dipaksakan secara sepihak oleh penguasa sesuai peraturan yang ditetapkan secara umum dan tanpa adanya prestasi kembali serta digunakan untuk mencukupi pengeluaran umum pemerintah.

2. Fungsi Pajak

Pajak memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara, khususnya dalam hal pelaksanaan pembangunan kepentingan negara dikarenakan pajak merupakan sumber pendapatan negara untuk

(8)

membiayai segala bentuk pengeluaran rutin negara termasuk pengeluaran untuk pembangunan. Berikut beberapa fungsi dari pajak menurut Direktorat Jenderal Pajak, yaitu :

a. Fungsi Anggaran (Budgetair)

Pajak merupakan salah satu sumber pendapatan terbesar negara, selain itu pajak berfungsi untuk membiayai segala bentuk pengeluaran negara, baik bersifat rutin maupun pembangunan. Oleh karena itu, saat ini pemerintah selalu berupaya mengedukasi masyarakat untuk membayar pajak agar semakin banyak uang yang masuk ke dalam kas negara. Adapun jenis-jenis pajak yang sedang diupayakan untuk di edukasi ke masyarakat berupa Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Luar Negeri, dan sebagainya.

b. Fungsi Mengatur (Regulerend)

Pada fungsi ini, pajak mejadi alat untuk memperoleh suatu tujuan tertentu. Dengan adanya fungsi ini, terjadi perputaran perekonomian yang cepat pada sektor perekonomian tertentu, sehingga dapat menimbulkan kesepadanan pada sektor tersebut.

c. Fungsi Stabilitas

Pajak pada fungsi ini memegang peran yang sangat penting pada sektor perekonomian negara yang dimana bisa membantu menjaga keseimbangan ekonomi yang ada. Contohnya saat terjadinya penurunan nilai mata uang rupiah atas dollar, sehingga bisa membuat pemerintah membuat suatu kebijakan akan perpajakan seperti misalnya peningkatan pajak atas PPN impor, sehingga bisa membuat nilai mata uang rupiah kembali meningkat.

(9)

d. Fungsi Redistribusi Pendapatan

Dengan adanya hasil pajak yang ada pada kas negara, maka pemerintah akan memanfaatkannya untuk menjamin segala kebutuhan kesejahteraan masyarakat secara umum, tak terkecuali dalam membantu masyarakat dalam mendapatkan lapangan perkerjaan sehingga pembangunan akan sarana maupun prasarana yang mendukung akan segera dilakukan, sehingga pada akhirnya akan membantu memajukan penghasilan masyarakat.

3. Penggolongan Jenis-Jenis Pajak

Pajak terdiri dari banyak macam bentuk yang dimana pada akhirnya dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis pajak diantaranya yaitu, pengelompokan pajak berdasarkan cara pemungutan (langsung dan tidak langsung), berdasarkan sifat pajak (subjektif dan objektif), dan berdasarkan instansi pemungut pajak, berikut jenis-jenis pajak menurut Direktorat Jenderal Pajak: a. Jenis Pajak Berdasarkan Golongan

Cara pemungutan pajak yang dilakukan oleh DJP/Instansi Pemungut Pajak terbagi dua, yakni:

1) Pajak Langsung merupakan pajak yang dimana pembayarannya merupakan tanggung jawab langsung sang wajib pajak yang bersangkutan dan tidak bisa dipindah tangankan untuk pihak lain dan di pungut secara berkala. Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Pajak Kekayaan lainnya merupakan contoh dari pemungutan pajak secara langsung

2) Pajak Tidak Langsung merupakan pajak yang dimana pembayarannya dapat dialihkan kepada pihak lain dikarenakan tidak terdapatnya surat

(10)

khusus akan ketetapan pajak dan juga pengumpulan atas pajak tersebut tidak dilakukan secara periodik, akan tetapi melalui aktivitas yang belandaskan kasus yang telah dilakukan. Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Ekspor/Impor, dan Pajak Bea Masuk merupakan bagian dari pemungutan pajak secara tidak langsung.

b. Jenis Pajak Berdasarkan Sifat

Terdapat 2 jenis sifat di dalam perpajakan, yaitu :

1) Pajak Subjektif merupakan pajak yang dikenakan dengan

memperhatikan subjeknya serta keadaan pribadi dari Wajib Pajak yang bisa memengaruhi pembayaran pajak setiap tahunnya. Hal-hal yang dapat memengaruhi pembayaran pajak diantaranya yaitu apakah Wajib Pajak tersebut Kawin/ Tidak Kawin, apakah Wajib Pajak tersebut memiliki anak atau tidak, apakah Wajib Pajak tersebut memiliki tanggungan atau tidak, serta pendapatan yang didapat oleh Wajib Pajak tersebut. Yang termasuk dalam pajak subjektif ialah Pajak Penghasilan (PPh).

2) Pajak Objektif merupakan pajak yang dikenakan dengan memperhatikan objeknya baik dari benda, perbuatan, keadaan hingga peristiwa sebagai dasar pengenaan pajak tersebut tanpa memperhatikan keadaan atau kondisi dari Wajib Pajak tersebut. Yang tergolong dalam perhitungan pajak objektif diantaranya yaitu Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Bea Masuk, Pajak Ekspor/Impor, Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Hiburan, Pajak Jasa dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

(11)

c. Jenis Pajak Bersumber pada Instansi Pemungut Pajak Pemungutan pajak terbagi menjadi 2, yaitu: 1) Pajak Pusat

Pajak yang diperoleh serta dikendalikan langsung oleh pemerintah pusat, pada pajak pusat hampir sebagian besar pajak diatur oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan hasil dari perolehan pajak tersebut dipergunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan belanja negara pada umumnya. Adapun proses administrasi yang berhubungan dengan pajak pusat, akan dilaksanakan di KPP (Madya/Pratama) atau pada KP2KP, serta pada Kanwil DJP.

2) Pajak Daerah

Pajak yang ditarik dari wajib pajak serta akan dikelola langsung oleh Pemerintah Daerah tersebut,baik itu di Pemerintah Tingkat I (Provinsi) maupun Pemerintah di Tingkat II (Kabupaten/Kota). Perolehan penarikan pajak ini kelak akan dipergunakan dalam membelanjai kebutuhan belanja daerah pada umumnya. Prosedur administrasi pajak daerah dilaksanakan di Kantor Dispenda, Kantor Pajak Daerah atau kantor-kantor serupa yang berada dibawha pengawasan langsung oleh Pemerintah Daerah tersebut.

4. Sistem Perpajakan

Di dalam perpajakan terdapat tiga (3) sistem yang mengatur bagaimana hak dan kewajiban dalam perpajakan seorang Wajib Pajak ketika dilaksanakan, berikut penjelasan mengenai ketiga sistem tersebut berdasarkan Direktorat Jenderal Pajak:

(12)

a. Official Assessment System

Jumlah besaran pajak yang terutang ditetapkan sepenuhnya oleh pihak berwenang pemungut pajak. Pada sistem ini Wajib Pajak bersifat pasif dan hanya menunggu penyampaian utang pajak yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang pemungut pajak.

b. Self Assessment System

Wajib Pajak diberikan wewenang, kepercayaan, serta tanggung jawab untuk menghitung, membayar, serta melaporkan sendiri besaran pembayaran pajak yang harus di bayarkan sehingga dalam sistem ini pihak berwenang pemungut pajak tidak ikut campur lagi.

c. Withholding System

Sistem pemotongan pajak dilakukan oleh pihak lain (pihak ketiga), dengan cara pihak lain (pihak ketiga) tersebut memotong pajak dari jumlah yang dibayarkannya kepada Wajib Pajak, kemudian menyetorkannya ke kas negara untuk dan atas nama Wajib Pajak. Sebagai bukti telah dilakukannya pemotongan pajak maka Wajib Pajak yang bersangkutan diberikan bukti potong.

5. Pajak Pertambahan Nilai

Ritonga (2017), bagian dari jenis pajak tidak langsung yang dikenakan atas konsumsi/penggunaan barang serta jasa di daerah pabean yang menanggung adanya pertambahan nilai. Terdapatnya pertambahan nilai dikarenakan terpakai nya atau ter olahnya aspek pabrikasi pada suatu industri dalam memanifestasikan serta mendistribusikan barang atau pemberian

(13)

bantuan jasa terhadap konsumen. Pajak tidak langsung dalam pengenaan pajak dibedakan atas:

a. Single Stage Levies

1) Pemungutan pada pabrikan atau importir (Manufacturer Tax). 2) Pemungutan pada tingkat distributor (Whole Saler Tax). 3) Pemungutan pada tingkat retailer (Retailer Tax).

b. Multiple Stage Levies

1) Cumulative Multiple Stage Levies

• Dihitung dari harga setiap penyerahan, tanpa ada pengreditan. 2) Non-Cumulative Multiple Stage Levies atau Non-Cumulative Cascade

System

• Value Added Tax seperti PPN berdasarkan UU No.8 Tahun 1983, apabila terjadi proses produksi, maka PPN yang akan dibayar sebesar pertambahan nilai yang diperoleh, melalui mekanisme pajak masukan yang menjadi kredit pajak untuk pajak keluaran.

Pada PPN terdapat 2 (dua) bentuk istilah yang sering digunakan yakni Pajak Keluaran dan Pajak Masukan. Pajak Keluaran ialah PPN terhutang yang harus untuk ditarik oleh PKP yang mengadakan penyerahan barang atau jasa yang kena pajak. Sedangkan Pajak Masukan ialah PPN yang dimana sepatutnya telah dibayar oleh PKP dikarenakan adanya penerimaan barang atau jasa yang kena pajak. Apabila pendapatan pajak masukan kian banyak daripada penerimaan pajak keluaran, maka wajib pajak menanggung pajak yang lebih bayar sedangkan apabila perolehan pajak masukan kian sedikit daripada

(14)

perolehan pajak keluaran maka wajib pajak mendapati pajak yang kurang bayar.

6. Subyek dan Obyek Pajak Pertambahan Nilai

a. Subyek Pajak Pertambahan Nilai merupakan subyek pajak yang memenuhi persyaratan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang melakukan penyerahan atas barang dan jasa kena pajak yang dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Nomor 8 Tahun 1983 yang telah diubah menjadi Undang-Undang No.42 Tahun 2009.

b. Obyek Pajak Pertambahan Nilai merupakan penyerahan barang dan jasa kena pajak yang telah dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang telah dikenakan pajak berdasarkan Undang-Undang PPN. Berdasarkan jenis obyek PPN dapat dibedakan menjadi dua yaitu atas barang kena pajak bukan barang mewah dan barang kena pajak tergolong mewah.

7. Asas Hukum Pajak Pertambahan Nilai

PPN memiliki dasar hukum yaitu Undang-Undang Nomor 8 tahun 1983 yang berlaku per tanggal 1 April 1985, dan sebagai halnya telah beberapa kali di ganti, hingga final dengan Undang-Undang Nomor 42 tahun 2009 yang berlaku per tanggal 1 Januari 2010.

8. Restitusi Pajak

Merupakan pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak yag telah dilakukan perhitungannya berdasarkan Surat Pemberitahuan (SPT) yang dimasukkan oleh Wajib Pajak. Hal ini dapat terjadi didalam sistem pemungutan

(15)

pajak berdasarkan stelsel campuran yang dimana pembayaran bulanan mengacu pada stelsel fiktif.

Timbulnya kelebihan pembayaran pajak tersebut disebabkan oleh adanya pajak yang telah dibayar melalui setoran bulanan atau pemotongan melalui pihak ketiga yang lebih besar dibandingkan pajak terhutang yang harus dibayar di dalam SPT, terdapatnya PPN masukan yang lebih besar daripada PPN keluaran dalam satu periode dan terdapatnya pungutan PPN atas penyerahan barang atau jasa kena pajak yang tidak tehutang PPN.

a. Pasal 17 UU KUP

Setelah melakukan pemeriksaan, Direktorat Jenderal Pajak akan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) yang dimana jika jumlah kredit pajak (pajak yang dibayar) memiliki jumlah lebih besar dibandingkan dengan jumlah pajak terutang ( pajak yang dikeluarkan). Jika Wajib Pajak telah menerima SKPLB dan berniat melakukan pengembalian kelebihan atas pembayaran pajak, maka Wajib Pajak tersebut wajib mengajukan permohonan tertulis sebagaimana yang dimaksud di dalam pasal 11 Ayat (2).

Direktorat Jenderal Pajak melakukan penelitian terhdapa kebenaran pembayaran pajak berdasarkan lampiran permohonan yang di setorkan oleh Wajib Pajak. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) masih bisa dikeluarkan lagi jika dalam pelaksanaan survei pajak lebih bayar ditemukan jumlah pajak lebih bayar yang lebih besar daripada yang telah ditetapkan.

(16)

b. Pasal 17B UU KUP

Setelah melakukan pemeriksaan atas permohonanan pengembalian lebih bayar pajak, Direktorat Jenderal Pajak harus menerbitkan surat ketetapan pajak (SKP) paling lama 12 (dua belas) bulan sejak surat permohonan diisi secara lengkap sesuai dengan yang disebutkan dalam Pasal 3 UU KUP. Adapun surat ketetapan pajak (SKP yang diterbitkan setelah dilakukannya pemeriksaan dapat berupa Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) dan Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN).

Jika keputusan hukum yang akan diberikan oleh Direktorat jenderal pajak terhadap Wajib Pajak melebihi batas waktu yaitu 12 (dua belas) bulan, maka permohonan pengembalian lebih bayar pajak yang diajukan dianggap dikabulkan dan harus segera diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) dengan jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak jangka waktu tersebut berakhir. Dan apabila penerbitan SKPLB melebihi batas waktu yaitu 1 (satu) bulan, maka Wajib Pajak berhak mendapatkan imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan terhitung sejak masa berakhirnya jangka waktu tersebut.

c. Pasal 17C UU KUP

Setelah dilakukannya penelitian atas permohonan pengembalian lebih bayar pajak oleh Wajib Pajak dengan kriteria tertentu, maka Direktorat jenderal Pajak menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak dengan jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan bagi Pajak Penghasilan (PPh) dan 1 (satu) bulan bagi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) semenjak surat

(17)

permintaan diisi secara menyeluruh sesuai yang dimaksud pada pasal 3 ayat (1), ayat (1a) dan ayat (6).

Adapun kriteria tertentu yang telah ditetapkan berdasarkan keputusan Direktorat Jenderal Pajak, yaitu :

1) Menyampaikan Surat Pemberitahuan tepat waktu;

2) Tidak memiliki tunggakan pajak terhadap semua jenis perpajakan. Terdapat pengecualian untuk hutang pajak yang sudah mengantongi surat persetujuan dalam mengangsur atau menunda penyetoran pajak;

3) Terdapatnya Laporan Keuangan yang telah diaudit oleh Akuntan Publik atau instansi keuangan pemerintah lainnya serta disertai adanya pendapat Wajar Tanpa Pengecualian selama 3 (tiga) tahun berturut;

4) Tidak terdapatnya catatan tindak pidana pada bidang perpajakan menurut putusan pengadilan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terakhir.

d. Pasal 17D UU KUP

Direktorat Jenderal Pajak (DJP), setelah mengadakan observasi atas permintaan restitusi pajak yang diajukan oleh Wajib Pajak yang telah melengkapi semua prasyarat, maka harus mengeluarkan Surat Keputusan Pegembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak (SKPPKP) dengan jangka waktu 3 (tiga) bulan untuk jenis Pajak Penghasilan, sejak permohonan diterima secara lengkap. Sedangkan 1 (satu) bulan untuk jenis Pajak Pertambahan Nilai.

Adapun Wajib Pajak yang berhak untuk diberikan Surat Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak (SKPPKP) berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan, yaitu :

(18)

1) Merupakan WP Pribadi yang tidak menjalankan pekerjaan bebas atau menjalankan usaha;

2) Merupakan WP Pribadi yang melakukan pekerjaan bebas atau menjalankan usaha dengan kuantitas peredaran bruto dan kuantitas lebih bayar dengan jumlah tertentu;

3) Merupakan WP Badan dengan besaran peredaran bruto dan besaran lebih bayar sampai dengan jumlah tertentu;

4) Merupakan PKP yang telah melaporkan SPT Masa PPN dengan total penyerahan dan total lebih bayar sampai dengan jumlah tertentu.

Referensi

Dokumen terkait

Seting jarak dengan kecepatan untuk pengereman otomatis dibuat sebagai berikut, jarak lebih dari 5 m dari media penghalang, kecepatan mobil akan melaju maksimal 25 km/jam;

Pengembangan pola ragam hias Trowuli yang berinspirasi dari gerabah Majapahit ini adalah satu dari beberapa upaya peneliti dalam rangka melestarikan seni dan budaya

Analisis Kinerja Perusahaan dengan Metode Balanced Scorecard (Studi Kasus pada PDAM Tirta Jaya Mandiri Kabupaten Sukabumi Tahun 2013 s.d. Dibawah bimbingan Akhsanul Haq

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan berkat-Nya hingga selesainya tugas akhir ini dengan judul “ Analisis Pengaruh Penempatan Alat

perlu diperhatikan metode pembelajaran yang digunakan oleh guru terhadap murid yang berada dalam kelas. Metode pembelajaran merupakan bagian dari komunikasi

Pada Data Flow Diagram Level 0 ini, proses dipecah menjadi tujuh bagian yaitu login admin, pengolahan data kategori, pengolahan data produk, pengolahan data

Hal ini didukung penelitian Nostib (2013) yang menyatakan dalam penilaian performa pemberi jasa pelayanan kesehatan terdapat dua elemen yang perlu diperhatikan yaitu teknis

Dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-XV/2017 memberikan penjelasan bahwa “...kecuali telah diatur dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan atau