EVALUASI GOOD DAIRY FARMING PRACTICES DAN
LINGKUNGAN MIKRO DI PETERNAKAN
SAPI PERAH PONDOK RANGGON
RESI OKTAVIALIS SYAM
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Evaluasi Good Dairy Farming Practice dan Lingkungan Mikro di Peternakan Sapi Perah Pondok Ranggon adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Desember 2016 Resi Oktavialis Syam NIM D14144011
iii
ABSTRAK
RESI OKTAVIALIS SYAM. Evaluasi Good Dairy Farming Practices dan Lingkungan Mikro di Peternakan Sapi Perah Pondok Ranggon. Dibimbing oleh AHMAD YANI dan IYEP KOMALA.
Usaha peternakan sapi perah merupakan suatu usaha yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan berupa susu segar, untuk mencapai hasil yang optimal diperlukan pedoman budidaya ternak sapi perah yang baik (good dairy farming practice). Good dairy farming practices adalah cara beternak sapi perah yang baik dan benar, yang memperhatikan lingkungan dan memenuhi standar minimal sanitasi dan kesejahteraan ternak. Penelitian dilakukan dengan metode survey di Kecamatan Cipayung Pondok Rangon Jakarta Timur, pada bulan Agustus sampai September 2016. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi aspek teknis pemeliharaan sapi perah dan evaluasi lingkungan mikro peternakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai GDFP tertinggi pada aspek bibit dan reproduksi sebesar
3.25 (kategori baik) dan terendah berada pada aspek sumber daya manusia sebesar
2.37 (kategori cukup baik). Hasil evaluasi lingkungan mikro berdasarkan perhitungan THI sapi perah mendapat nilai THI 80.65-85.69 yang berarti sapi perah mengalami stress sedang.
Kata kunci: aspek teknis, GDFP, sapi perah
ABSTRACT
RESI OKTAVIALIS SYAM. The Evaluation of Good Dairy Farming Practices and Microclimate in Dairy Farm Pondok Ranggon. Supervised by AHMAD YANI and IYEP KOMALA.
Dairy cattle business is a business that can be relied upon to comply the needs of food such as milk, to reach optimal results, livestock operations require guidance dairy cattle farming properly (good dairy farming practice). Good dairy farming practices is ways to raise dairy cattle a good and right, pay attention to the environment and comply the minimum standards of sanitation and welfare of livestock. The research was conducted by survey method in Cipayung subdistrict in Pondok Rangon East Jakarta from August to September 2016. The purpose of research was to study the technical aspects of the maintenance of dairy cows and environmental evaluation of micro farms. The results showed the value of the highest GDFP in breed and reproductive aspects amounted 3.25 (good category) and the lowest were in the human resources aspects amounted 2.37 (good enough category). The results of microclimate evaluation based on the calculation of dairy THI 80.65-85.69, which dairy had a moderate stress.
v
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan
pada
Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
EVALUASI GOOD DAIRY FARMING PRACTICES DAN
LINGKUNGAN MIKRO DI PETERNAKAN
SAPI PERAH PONDOK RANGGON
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
2016
vii
Judul Skripsi : Evalusi Good Dairy Farming Practices dan Lingkungan Mikro di Peternakan Sapi Perah Pondok Ranggon
Nama : Resi Oktavialis Syam NIM : D14144011
Disetujui oleh
Dr Ahmad Yani, STP Msi Pembimbing I
Iyep komala, SPt MSi Pembimbing II
Diketahui oleh
Dr Irma Isnafia Arief, SPt MSi Ketua Departemen
ix
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Agustus 2016 ini ialah manajemen peternakan, dengan judul Evaluasi Good Dairy Farming Practices dan Lingkungan Mikro di Peternakan Sapi Perah Pondok Ranggon.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr Ahmad Yani, STP MSi dan Iyep Komala, SPt MSi selaku dosen pembimbing, Dr Ir Rukmiasih, MS selaku pembimbing akademik, Sigid Prabowo, SPt MSc selaku dosen pembahas seminar, Dr Ir Sri Rahayu, MSi dan Dr Tuti Suryati, SPt MSi selaku dosen penguji sidang yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis dalam penyusunan karya ilmiah ini. Terima kasih juga kepada Bapak H Romli sekeluarga dan anggota Kelompok Tani Ternak Swadaya Pondok Ranggon atas bantuan dan informasi yang diberikan selama penelitian. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada Ayahanda Syamsuardi, Ibunda Marlis, AMd, kakak Refnellis Syam, AMd dan adik Vera Arnelis Syam serta seluruh keluarga atas segala doa dan kasih sayangnya. Selain itu, ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada rekan-rekan seperjuangan di Program Alih Jenis Ilmu dan Produksi Teknologi Peternakan angkatan 51. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Desember 2016
xi
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI xi
DAFTAR TABEL xii
PENDAHULUAN 1
Tujuan Penelitian 1
Ruang Lingkup Penelitian 2
METODE 2
Waktu dan Tempat 2
Materi 2
Prosedur 2
Analisis Data 2
Peubah yang diamati 3
HASIL DAN PEMBAHASAN 3
Keadaan Umum Wilayah Pondok Ranggon 3
Karakteristik Peternak dan Komposisi Sapi Perah 4
Evaluasi Good Dairy Farming Practice 5
Evaluasi Lingkungan Mikro 12
SIMPULAN DAN SARAN 13
DAFTAR PUSTAKA 14
xii
DAFTAR TABEL
1 Nilai konversi evaluasi GDFP 3
2 Karakteristik peternak sapi perah Pondok Ranggon 4
3 Komposisi sapi perah di Pondok Ranggon 5
4 Hasil evaluasi GDFP peternak sapi perah di peternakan rakyat
Pondok Ranggon 6
5 Nilai performa peternak hasil evaluasi GDFP aspek kandang dan
peralatan 6
6 Nilai performa peternak hasil evaluasi GDFP aspek pembibitan dan
reproduksi 7
7 Nilai performa peternak hasil evaluasi GDFP aspek pakan dan air
minum 8
8 Nilai performa peternak hasil evaluasi GDFP aspek pengelolaan 9 9 Nilai GFDP peternak pada aspek kesehatan ternak 11 10 Nilai performa peternak hasil evaluasi GDFP aspek sumber daya
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki karakteristik laju pertumbuhan ekonomi yang cukup baik diikuti dengan laju pertumbuhan penduduk yang pesat. Peternakan sapi perah merupakan salah satu sub sektor peternakan yang dapat membantu pembangunan ekonomi nasional. Direktorat Jenderal Peternakan (2010) menyatakan 80% permintaan susu nasional masih dicukupi melalui impor dari luar negeri. Keadaan ini memberikan peluang usaha bagi peternak untuk meningkatkan produktivitas sapi perah dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor.
Kecamatan Cipayung Pondok Ranggon Jakarta Timur adalah satu-satunya sentra peternakan sapi perah yang ada di DKI Jakarta. Berdasarkan Kementan (2015) jumlah populasi sapi perah di DKI Jakarta pada tahun 2015 mengalami peningkatkan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Total populasi sapi perah sebesar 2 686 ekor pada tahun 2013 dan mengalami peningkatan menjadi 2 820 ekor pada tahun 2015. Kebutuhan produk peternakan terutama susu semakin meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pemenuhan gizi yang seimbang.
Susu memiliki nilai gizi yang hampir sempurna dan sangat peka terhadap pengaruh fisik maupun mikrobiologis sehingga perlu dilakukan penanganan yang baik agar menghasilkan produk yang Aman Sehat Utuh dan Halal (ASUH). Pemenuhan produk susu yang bernilai ASUH dapat dilakukan dengan menerapkan Good Dairy Farming Practices (GDFP) pada rangkaian proses produksi yang berlangsung.
Good Dairy Farming Practices (GDFP) adalah cara beternak sapi perah yang baik dan benar (Andriyadi 2012). Penerapan GDFP yaitu dengan memperhatikan beberapa aspek-aspek teknis dalam pemeliharaan di antaranya aspek kesehatan, aspek pembibitan dan reproduksi, aspek pakan dan air minum, aspek pengelolaan, serta aspek kandang dan peralatan (Ditjennak 1983). Selain 5 aspek tersebut yang mempengaruhi GDFP terdapat hal lain yang harus diperhatikan dalam usaha peternakan yaitu lingkungan mikro. Aspek lingkungan mikro adalah salah satu faktor penting dalam usaha peternakan sapi perah karena pada lingkungan yang nyaman maka sapi perah dapat berproduksi optimal. Faktor utama yang berpengaruh terhadap produksi antara lain suhu udara, kelembaban, dan radiasi matahari (Utomo 2009).
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penerapan good dairy farming practices dan lingkungan mikro pada peternakan sapi perah rakyat di Pondok Ranggon Jakarta Timur.
2
Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini meliputi evaluasi penerapan GDFP pada peternakan sapi perah dan evaluasi lingkungan mikro. Hal yang diamati adalah karakteristik peternak yaitu umur, lama beternak, dan tingkat pendidikan. Evaluasi penerapan GDFP meliputi aspek kesehatan ternak, aspek pembibitan dan reproduksi, aspek pakan dan air minum, aspek pengelolaan, aspek kandang dan peralatan, serta aspek sumber daya manusia. Evaluasi penerapan lingkungan mikro terdiri dari kelembaban, suhu, kecepatan angin, pemilihan bahan atap, dan penentuan tinggi kandang.
METODE
Waktu dan Tempat
Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan September 2016. Penelitian dilaksanakan di kawasan usaha ternak sapi perah Pondok Ranggon Kecamatan Cipayung Jakarta Timur.
Materi
Responden yang digunakan pada penelitian ini adalah seluruh anggota kelompok tani di Pondok Ranggon Jakarta Timur sebanyak 25 orang. Materi yang digunakan meliputi kuisioner, anemometer, termometer digital, alat tulis, kamera, alat komunikasi, dan pakaian kerja secara lengkap yang nantinya akan dipakai sebagai sarana pendukung.
Prosedur
Penelitian ini menggunakan metode survei, dengan cara wawancara langsung kepada peternak sapi perah melalui panduan kuisioner sebagai alat pengumpulan data. Isi kuesioner meliputi karakteristik peternak, evaluasi GDFP dan evaluasi lingkungan mikro.
Aspek yang dinilai dalam GDFP menggunakan pedoman usaha sapi perah rakyat menurut Ditjennak (1983) yang telah dimodifikasi. Aspek yang dinilai terdiri dari aspek kesehatan ternak, aspek pembibitan dan reproduksi, aspek pakan dan air minum, aspek pengelolaan, aspek kandang dan peralatan, aspek sumber daya manusia. Evaluasi lingkungan mikro terdiri atas suhu. Kelembaban, kecepatan angin, pemilihan bahan atap, dan tinggi kandang.
Analisis Data
Data dianalisis deskriptif dan analisis gap. Analisis deskriptif, yaitu menjelaskan atau menguraikan data primer maupun sekunder baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Analisis gap adalah membandingkan kinerja aktual dengan potensial. Data yang diperoleh dengan kuisioner GDFP disimpulkan sesuai poin-poin yang telah disusun dan diberi skor 4, 3, 2, 1, dan 0 di setiap
3 alternatif jawaban. Nilai yang didapat dari setiap aspek dirata-ratakan. Hasil evaluasi GDFP kemudian diberi nilai mutu seperti Tabel 1.
Tabel 1 Nilai konversi evaluasi GDFP
Nilai rataan GDFP Nilai mutu Kategori
0.00-0.50 E Sangat buruk 0.60-1.00 D Buruk 1.01-2.00 C Kurang baik 2.01-3.00 B Cukup 3.01-4.00 A Baik Sumber: Andriyadi (2012) Peubah
Karakteristik peternak: Peubah yang diamati adalah umur, lama beternak, dan
tingkat pendidikan.
Kandang dan peralatan: Peubah yang diamati adalah tata letak kandang,
kontruksi kandang, drainase kandang, peralatan pemerahan, peralatan kandang dan tempat kotoran.
Pembibitan dan reproduksi: Peubah yang diamati adalah cara seleksi, cara
kawin, pengetahuan birahi, umur beranak pertama, dikawinkan setelah beranak, dan calving interval.
Pakan dan air minum: Peubah yang diamati adalah jumlah pemberian pakan,
frekuensi pemberian pakan, cara pemberian pakan dan frekuensi pemberian air minum.
Pengelolaan: Peubah yang diamati adalah waktu membersihkan sapi, cara
membersihkan sapi, membersihkan kandang, cara pemerahan, penanganan pasca panen, pemeliharaan pedet dan dara, pencatatan usaha, waktu pengeringan sapi bunting dan manajemen kotoran.
Kesehatan ternak: Peubah yang diamati adalah pengetahuan penyakit,
pencegahan penyakit dan pengobatan.
Sumber daya manusia: Peubah yang diamati adalah pemberian gaji, komunikasi
peternak, disiplin dalam bekerja, kondisi keluarga dan pelatihan peternakan.
Lingkungan peternakan: Peubah yang diamati dalam lingkungan mikro adalah
kelembaban, suhu, kecepatan angin, pemilihan bahan atap dan penentuan tinggi kandang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Umum Wilayah Pondok Ranggon
Pondok Ranggon merupakan kawasan relokasi sapi perah sesuai dengan SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 300 Tahun 1989 yang berada di wilayah DKI Jakarta. Kawasan peternakan sapi perah yang digunakan seluas 11 ha dari 30 ha yang telah disediakan. Kelurahan Pondok Ranggon berbatasan langsung dengan
4
kelurahan Cilangkap (Utara), Desa Harja Mukti Cimanggis (Selatan), Kelurahan Munjul (Barat), dan Desa Jati Sampurna Bekasi (Timur). Kawasan relokasi peternakan sapi perah ini dibatasi oleh jalan Manjul Raya Kecamatan Cipayung Jakarta Timur (Utara), peternakan ikan arwana dan perkemahan pramuka Cibubur (Barat), Kabupaten Bekasi Jawa Barat (Selatan) dan Tempat Pemakaman Umum (Timur).
Karakteristik Peternak dan Komposisi Sapi Perah
Peternak sapi perah di Pondok Ranggon sebagian besar berumur > 51 tahun dengan persentase sebanyak 56%. Peternak pada usia tersebut beranggapan bahwa pengalaman merupakan sumber utama dalam mengelola suatu peternakan sehingga pada umur tersebut cukup sulit untuk mendapat pengarahan dalam mengembangkan usaha ternaknya. Menurut Soekartawi (1988), peternak yang berusia muda biasanya mempunyai semangat ingin tahu mengenai hal-hal yang belum diketahui. Tingkat pendidikan peternak 52% adalah tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan hanya 16% yang tidak tamat SD (Tabel 2). Peternak dengan tingkat pendidikan yang rendah akan mengalami kendala dalam menyerap informasi baru khususnya terkait dengan proses difusi inovasi teknologi (Yusuf 2010).
Tabel 2 Karakteristik peternak sapi perah Pondok Ranggon No Karakteristik Peternak Jumlah (orang) Persentase (%) 1 Umur (tahun) 20-35 36-51 >51 6 5 14 24 20 56 2 Pendidikan formal Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA
Tamat perguruan tinggi
4 2 0 13 6 16 8 0 52 24 3 Pengalaman beternak (tahun)
1-8 9-15 >15 1 7 17 4 28 68
Peternak di Pondok Ranggon telah memiliki pengalaman beternak yang cukup lama yaitu >15 tahun (42.85%), karena pada umumnya peternak di Pondok Ranggon memulai usaha sejak berada di daerah Kuningan Timur Kecamatan Setia Budi Jakarta Selatan. Menurut Hermawan et al. (2013) peternak yang mempunyai pengalaman lebih lama akan lebih cepat tanggap dalam pengambilan keputusan, karena pengalaman merupakan pedoman dalam kegiatan usahanya
Perhitungan populasi ternak sapi perah digunakan nilai konversi Satuan Ternak (ST). Standar satuan ternak berdasarkan satu ekor sapi yang sudah memasuki usia dewasa. Menurut Ditjennak (1998) perhitungan nilai konversi
5 ternak sapi perah ke ST adalah 1 ekor sapi dewasa sama dengan 1 ST, 1 ekor sapi muda sama dengan 0.50 ST, dan 1 ekor anak sapi sama dengan 0.25 ST. Komposisi ternak sapi perah di Pondok Ranggon dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Komposisi sapi perah di Pondok Ranggon
Ternak Jumlah (ekor) Satuan Ternak (ST) Rataan (%) Pedet Pedet betina 59 14.75 1.64 Pedet jantan 54 13.50 1.50 Dara 89 44.50 4.96 Sapi kering 109 109.00 12.14 Sapi laktasi 611 611.00 68.06 Jantan dewasa 105 105.00 11.70 Jumlah 1 027 897.75 100.00
Peternak sapi perah di Pondok Ranggon memiliki jumlah ternak yang berbeda-beda, dengan total populasi sapi perah berjumlah 1 027 ekor atau 897.75 ST. Jumlah ternak yang paling banyak dipelihara adalah sapi laktasi yaitu sebanyak 611 ST (68.06%). Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa jumlah populasi sapi laktasi di Pondok Ranggon kurang optimum. Menurut Makin (2011), komposisi ideal usaha ternak sapi perah yaitu 70% sapi laktasi. Hal ini dikarenakan jumlah 70% sapi laktasi ini mampu menanggung beban untuk status ternak lain.
Kepemilikan pedet jantan dan betina sebesar 1.50% dan 1.64%. Sex ratio pedet jantan dan pedet betina di Pondok Ranggon dapat dikatakan cukup efisien karena menurut Nurdin (2011) sex ratio pedet jantan dan pedet betina yang efisien sebesar 1:1. Sapi jantan memiliki persentase yang cukup banyak dipelihara di peternakan Pondok Ranggon (11.70%). Sapi jantan dipelihara dan akan dijual sebagai sapi potong dan menjadi penghasilan tambahan bagi peternak. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Sudono et al. (2003) bahwa pemeliharaan sapi jantan hanya akan menambah biaya pemeliharaan dan peternak akan menjual sapi jantan pada saat pedet.
Evaluasi Good Dairy Farming Practice
Good Dairy Farming Practice (GDFP) merupakan pedoman tata cara beternak sapi perah yang baik dan benar. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata nilai performa peternak cukup baik yaitu 2.70. Nilai performa GDFP Peternak sapi perah di Pondok Ranggon masih lebih baik dibandingkan di daerah Kebon Pedes Kecamatan Tanah Seral Bogor dengan nilai performa 2.08 (Andriyadi 2012). Hasil evaluasi GDFP peternak sapi perah di peternakan rakyat Pondok Ranggon ditampilkan pada Tabel 4.
6
Tabel 4 Hasil evaluasi GDFP peternak sapi perah di peternakan rakyat Pondok Ranggon
Aspek Nilai GDFP Kategori GDFP
Kandang dan peralatan 2.45 Cukup
Bibit dan reproduksi 3.25 Baik
Pakan dan air minum 2.76 Cukup
Pengelolaan 2.79 Cukup
Kesehatan ternak 2.64 Cukup
Sumber daya manusia 2.37 Cukup
Rataan 2.71 Cukup
Keterangan: 0.00-0-0.50= sangat buruk, 0.60-1.0= buruk, 1.01-2.0= kurang baik, 2.01-3.0= cukup, 3.01-4.00= baik
Kandang dan Peralatan
Peternakan di dalam lingkup penelitian berada di lingkungan pemukiman dan hanya berjarak 0-4 m dari rumah. Menurut Ditjennak (2008), kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 m dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Jarak rumah dan kandang yang berdekatan disebabkan terbatasnya lahan yang disediakan. Peternak sapi perah di Pondok Ranggon memiliki tipe kandang head to head dan terdapat jalan di tengah kandang yang memudahkan dalam pemberian pakan. Penggunaan kandang tipe head to head kurang efisien dalam penggunaan tenaga kerja karena pemeliharaan sapi perah hampir 60% berada di belakang sapi perah (Djaja et al. 2009). Nilai GFDP peternak pada aspek kandang dan peralatan disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Nilai performa peternak hasil evaluasi GDFP aspek kandang dan peralatan
Faktor penentu Nilai GDFP Katogori GDFP
Tata letak kendang 2.16 Cukup
Kontruksi kendang 2.36 Cukup
Drainase kendang 2.68 Cukup
Tempat kotoran 1.72 Kurang baik
Peralatan kandang 3.52 Baik
Peralatan pemerahan 2.24 Cukup
Rataan 2.45 Cukup
Keterangan: 0.00-0-0.50= sangat buruk, 0.60-1.0= buruk, 1.01-2.0= kurang baik, 2.01-3.0= cukup, 3.01-4.00= baik
Konstruksi kandang di peternakan Pondok Ranggon umumnya telah berdiri lebih dari 15 tahun. Konstruksi kandang pada peternakan tersebut cukup baik (2.36). Konstruksi kandang yang baik dapat memberikan perlindungan dari gangguan predator maupun alam, memudahkan dalam pengawasan kesehatan ternak, meningkatkan efisiensi tenaga kerja dan memudahkan tata laksana pemeliharaan (Ako 2013).
Drainase kadang di peternakan Pondok Ranggon cukup baik karena dapat mempermudah dalam proses pengeluaran kotoran serta limbah lainnya. Menurut Sukmawati dan Kaharudin (2010) drainase kandang atau selokan berfungsi untuk
7 saluran pembuangan kotoran, dan air bekas mandi sapi dan berukuran 35 cm x15 cm. Peternak di Pondok Ranggon tidak semuanya memiliki tempat penampungan limbah sendiri. Tempat penampungan limbah pada peternakan tersebut terpusat pada 1 tempat, namun limbah pada tempat penampungan sudah melebihi kapasitas. Hal ini disebabkan karena jumlah ternak terus bertambah setiap tahunnya tetapi tidak ada perbaikan tempat penampungan limbah.
Peralatan yang terdapat di kandang biasanya terbagi menjadi peralatan pemerahan dan peralatan kandang. Peralatan kandang yang dimiliki oleh peternakan di Pondok Ranggon sudah baik (3.52). Peralatan kandang yang digunakan pada peternakan berupa karpet karet, kendaraan umum, skop, sapu, ember, sikat, gerobak dorong, tali, parang, dan bangku kecil (Ako 2013). Peralatan pemerahan yang dimiliki oleh peternak cukup lengkap namun kurang memenuhi syarat dengan nilai GDFP 2.24. Umumnya peternak memiliki peralatan pemerahan ember susu, saringan (strainer), milk can, mesin pemerahan dan timbangan (Syarif dan Harianto 2011).
Pembibitan dan Reproduksi
Hasil penilaian GDFP pada aspek pembibitan dan reproduksi dapat dilihat pada Tabel 6. Hal yang perlu diperhatikan dalam reproduksi diantaranya adalah umur pertama melahirkan dan calving interval (Triwulanningsih et al. 2009). Umur Inseminasi Buatan (IB) pertama induk sapi perah di Pondok Ranggon rata-rata 18 bulan, dengan keberhasilan kebuntingan rata-rata-rata-rata umur 20 bulan, sehingga rata-rata umur beranak pertama 28 bulan. Umur beranak pertama pada peternakan Pondok Ranggon sudah baik, karena menurut penilaian GDFP (Ditjennak 1983) umur beranak pertama yang baik 30 bulan. Hasil penelitian tersebut, sama dengan peternakan sapi perah di Kebon Pedes bahwa umur beranak pertama sampai 30 bulan (Andriyadi 2012). Nilai GDFP peternak pada aspek pembibitan dan reproduksi disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Nilai performa peternak hasil evaluasi GDFP aspek pembibitan dan reproduksi
Faktor penentu Nilai GDFP Kategori GDFP
Cara seleksi 1.84 Kurang baik
Cara kawin 3.96 Baik
Pengetahuan birahi 2.92 Cukup
Umur beranak pertama 3.84 Baik
Dikawinkan setelah beranak 3.12 Baik
Calving interval 3.76 Cukup
Rataan 3.24 Baik
Keterangan: 0.00-0-0.50= sangat buruk, 0.60-1.0= buruk, 1.01-2.0= kurang baik, 2.01-3.0= cukup, 3.01-4.00= baik
Perkawinan setelah beranak dilakukan peternak antara 60-90 hari setelah kelahiran, namun sebanyak 16% peternak mengawinkan sapi kembali setelah 120 hari. Perkawinan kembali sapi setelah beranak telah dilakukan peternak dengan cukup baik. Menurut Ditjennak (1983) ternak dapat dikawinkan kembali pada 60-90 hari setelah kelahiran. Peternak yang mengawinkan kembali ternaknya pada hari ke-120 setelah beranak bertujuan agar mempertahankan produksi susu tetap
8
tinggi. Menurut Triwulanningsih et al. (2009) penundaan perkawinan kembali pada sapi perah yang terlalu lama akan berakibat jarak kelahiran (calving interval) berikutnya terlalu panjang. Hasil penelitian menunjukan calving interval pada peternakan Pondok Ranggon selama 12 bulan. Hasil ini sesuai dengan saran Sudono et al. (2003) bahwa calving interval yang optimal adalah 12-13 bulan.
Cara seleksi yang dilakukan peternak di Pondok Ranggon kurang baik karena peternak hanya memperhatikan bentuk luar ternak. Menurut Sudono (1999) seleksi dengan melihat tampak luar tidak tepat karena ternak yang memiliki bentuk badan (eksterior) yang baik, belum tentu memiliki produksi susu yang tinggi. Cara terbaik untuk seleksi indukan menurut Ditjennak (1983) adalah melihat catatan produksi susu. Kurangnya pengetahuan peternak tentang manfaat seleksi menjadi alasan peternak tidak melakukan seleksi.
Pengetahuan peternak tentang birahi cukup baik, apabila ada ternak yang menunjukkan tanda-tanda birahi maka peternak akan memanggil dinas peternakan DKI Jakarta untuk melakukan Inseminasi Buatan (IB). Menurut Ihsan (2010) dan Simamora (2015) manajemen perkawinan ternak dengan inseminasi buatan dapat meningkatkan efisiensi reproduksi dan menghemat biaya karena tidak perlu memelihara pejantan.
Pakan dan Air Minum
Ternak sapi perah di Pondok Ranggon diberi pakan hijauan dan konsentrat. Hijauan yang diberikan berupa rumput lapang dan rumput gajah. Rataan pemberian hijauan sapi perah sebesar 19.58 kg ekor-1 hari-1. Peternak di Pondok Ranggon memiliki nilai GDFP jumlah pemberian hijauan dalam kategori kurang baik (1.04) karena jumlah pemberian kurang sesuai dengan kebutuhan. Jumlah pemberian hijauan yang disarankan Siregar (2007), yaitu 35-40 kg ekor-1 hari-1 untuk sapi yang diperah. Nilai GDFP cara pemberian hijauan sudah baik (3.80) hijauan diberikan setelah pemerahan dengan frekuensi 1-2 kali sehari. Menurut Sudono (1999) tujuan pemberian hijauan setelah pemerahan agar susu tetap bersih dan memiliki kualitas yang baik. Nilai GDFP peternak pada aspek pakan dan air minum disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7 Nilai performa peternak hasil evaluasi GDFP aspek pakan dan air minum
Faktor penentu Nilai GDFP Kategori GDFP
Cara Pemberian hijauan 3.80 Baik
Jumlah pemberian hijauan 1.04 Kurang baik
Frekuensi pemberian hijauan 3.00 Baik
Cara Pemberian konsentrat 3.32 Baik
Jumlah pemberian konsentrat 2.08 Cukup
Frekuensi pemberian konsentrat 3.92 Baik
Air minum 2.16 Cukup
Rataan 2.76 Cukup
Keterangan: 0.00-0-0.50= sangat buruk, 0.60-1.0= buruk, 1.01-2.0= kurang baik, 2.01-3.0= cukup, 3.01-4.00= baik
Berdasarkan hasil evaluasi GDFP, peternak di Pondok Ranggon memiliki nilai jumlah pemberian konsentrat dalam kategori cukup (2.08). Konsentrat yang diberikan berupa ampas tahu dan konsentrat komersil. Rataan pemberian ampas
9 tahu 22.79 kg ekor-1 hari-1 dan konsentrat komersil 1.30 kg ekor-1 hari-1. Sudono et al. (2003) menyatakan bahwa pemberian konsentrat agar lebih praktis dianjurkan 50% dari produksi susu. Pemberian ampas tahu dalam jumlah yang banyak karena persediaannya melimpah dan harga lebih murah.
Hasil evaluasi GDFP sub aspek pemberian air minum termasuk dalam kategori cukup yaitu 2 kali sehari. Pemberian air minum dilakukan 2 kali sehari karena bentuk tempat pakan dan tempat minum tidak terpisah, sehingga pemberian pakan dan air minum dilakukan secara bergantian. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Ako (2013), bahwa sapi perah membutuhkan air dalam jumlah besar serta harus tersedia sepanjang waktu, umumnya kebutuhan dasar air minum seekor sapi perah adalah 40 L hari-1.
Pengelolaan
Hasil evaluasi GDFP aspek pengelolaan secara umum termasuk dalam kategori cukup. Aspek yang telah baik penerapannya yaitu waktu pembersihan sapi, cara membersihkan sapi, membersihkan kandang, dan pengeringan sapi laktasi. Peternak membersihkan kandang dan sapi 2 kali sehari sebelum pemerahan. Kebersihan sapi sangat penting demi menjaga kualitas susu dan kesehatan ternak. Peternak membersihkan sapi sesuai dengan yang disarankan Sudono (1999), yaitu membersihkan pada bagian ambing, lipatan paha, dan bagian belakangnya. Hal ini membuktikan bahwa para peternak yang ada di lokasi penelitian tersebut sudah mulai menyadari akan arti pentingnya sanitasi. Nilai perfoma GDFP pada aspek pengelolaan disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8 Nilai performa peternak hasil evaluasi GDFP aspek pengelolaan
Faktor penentu Nilai GDFP Kategori GDFP
Waktu membersihkan sapi 3.36 Baik
Cara membersihkan sapi 3.96 Baik
Membersihkan kandang 3.68 Baik
Cara pemerahan 2.08 Cukup
Penanganan pascapanen 2.64 Cukup
Pemeliharaan pedet dan dara 2.04 Cukup
Pengeringan sapi laktasi 3.92 Baik
Pencatatan usaha 1.24 Kurang baik
Manajemen kotoran 2.16 Cukup
Rataan 2.79 Cukup
Keterangan: 0.00-0-0.50= sangat buruk, 0.60-1.0= buruk, 1.01-2.0= kurang baik, 2.01-3.0= cukup, 3.01-4.00= baik
Hasil evaluasi GDFP pada cara pemerahan sudah cukup baik namun kurang benar. Peternak di Pondok Ranggon melakukan pemerahan secara manual dan hanya ada 1 peternak yang melakukan pemerahan dengan menggunakan mesin. Pada saat pemerahan peternak kurang memperhatikan kebersihan tangan. Menurut penelitian Handayani dan Purwanti (2010) tangan dapat berperan sebagai sumber kontaminan mikroba. Menurut Sudono (1999) Pengujian mastitis perlu dilakukan sebelum pemerahan, namun peternak tidak melakukan tes mastitis karena akan memperlambat pekerjaan. Selain itu peternak tidak mencelupkan puting ke dalam densifektan setelah pemerahan. Sudono et al.
10
(2003) menyatakan tujuan pencelupan puting dengan densifektan agar bakteri tidak masuk ke dalam lubang puting susu.
Penanganan pascapanen pada peternakan Pondok Ranggon sudah cukup baik yaitu susu yang sudah diperah dimasukkan ke dalam milk can dan disaring terlebih dahulu. Susu yang sudah diperah langsung diambil oleh konsumen yang datang ke kandang atau disetor ke koperasi dengan harga Rp4 000 L-1. Selain dijual langsung, beberapa peternak juga melakukan pengolah susu menjadi susu pasteurisasi, es susu, dan yoghurt. Pengolahan susu menjadi berbagai produk dapat meningkatkan nilai tambah atau pendapatan peternak (Murti 2009).
Pemeliharaan pedet dan dara dilakukan peternak dengan cukup baik namun kurang benar dengan nilai GDFP 2.04. Peternak memberikan susu pada pedet sebanyak 2-3 L ekor-1 hari-1. Berbeda dengan hasil penelitian Anggraeni et al. (2008) pada pedet di wilayah kerja bagian barat KPSBU Lembang yang diberi susu sekitar 4.5-6.5 L ekor-1 hari-1. Pemeliharaan pedet tidak dilakukan pada kandang khusus tetapi ditempatkan pada blok kandang tersendiri untuk menghindari terinjak dari sapi dewasa. Peternak menyamakan pemeliharaan sapi dara dengan pemeliharaan sapi induk. Pemberian ransum pada sapi dara tidak memperhatikan kuantitas maupun kualitasnya. Menurut Djaja et al. (2009) pemberian ransum pada sapi dara harus diperhatikan kualitasnya yakni yang dapat memberikan pertumbuhan cepat namun bukan untuk menggemukkan.
Pengeringan sapi perah dilakukan 2 bulan sebelum melahirkan dan termasuk dalam kategori baik. Menurut Djaja et al. (2009) lama kering kandang sapi perah yang baik adalah sekitar 56-60 hari sebelum beranak. Nilai GDFP pencatatan usaha kurang baik (1.24), karena peternak di Pondok Ranggon tidak melakukan pencatatan usaha secara lengkap. Peternak hanya memiliki catatan berupa data total produksi susu dan penjualan. Pencatatan usaha diperlukan agar usaha yang dijalankan dapat terkontrol dan diketahui perkembangannya (Suhendar 2012). Hasil penelitian Simamora (2015) juga menunjukkan hanya 11.11% peternak di Kabupaten Karo Sumatera Utara yang membuat pencatatan usaha.
Limbah sapi berupa kotoran atau feses dan air seni di Pondok Ranggon dijadikan kompos atau pupuk organik oleh peternak. Penelitian Zurriyati (2008) melaporkan bahwa pembuatan kompos secara ekonomi sangat efisien dan dapat meningkatkan pendapatan peternak sebesar 35%-100%.
Kesehatan Ternak
Kesehatan sapi perah merupakan salah faktor utama yang harus diperhatikan dalam peternakan, hal ini disebabkan sapi perah dapat menghasilkan susu yang yang berkualitas dalam kondisi sehat. Berdasarkan Tabel 9, secara keseluruhan penerapan teknologi beternak untuk aspek kesehatan ternak sudah cukup baik. Faktor penentu yang telah baik penerapannya yaitu pengobatan penyakit. Umumnya jika ada ternak yang sakit peternak langsung memanggil tenaga kesehatan hewan. Nilai GFDP peternak pada aspek manajemen kesehatan dapat dilihat pada Tabel 9
11 Tabel 9 Nilai GFDP peternak pada aspek kesehatan ternak
Faktor penentu Nilai GDFP Kategori GDFP
Pengetahuan penyakit 2.09 Cukup
Pencegahan penyakit 2.22 Cukup
Pengobatan penyakit 3.61 Baik
Rataan 2.64 Cukup
Keterangan: 0.00-0-0.50= sangat buruk, 0.60-1.0= buruk, 1.01-2.0= kurang baik, 2.01-3.0= cukup, 3.01-4.00= baik
Pengetahuan peternak tentang penyakit sudah cukup baik (2.09). Peternak mengetahui tentang penyakit yang umum terjadi pada sapi perah seperti mastitis, cacingan, bloat, dan diare. Pengalaman beternak yang lama membuat peternak memiliki pengetahuan yang baik akan penyakit sapi perah. Peternak di Pondok Ranggon telah melakukan pencegahan penyakit dengan melakukan sanitasi kandang dan pemberian vaksin secara rutin. Menurut Ako (2013) pencegahan terhadap serangan penyakit bisa dilakukan dengan vaksin secara rutin, ternak sapi harus sering dimandikan dan dilakukan sanitasi kandang. Cara lain untuk meminimalkan masuknya agen penyakit menurut FAO dan IDF (2011) adalah menggunakan peralatan kandang yang bersih dan diketahui sumber peralatan tersebut. Pengobatan sapi perah yang sakit di peternakan Pondok Ranggon telah dilakukan dengan baik.
Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia yang ada di peternakan Pondok Ranggon adalah tenaga kerja dalam keluarga (peternak) dan tenaga kerja luar keluarga. Motivasi beternak yang dimiliki oleh peternak di Pondok Ranggon sudah baik (3.56), peternak menjadikan usaha sapi perah sebagai usaha utama dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Penghasilan yang diperoleh dari usaha ternak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari peternak dan keluarga dengan nilai GDFP 2.52 (cukup). Penilaian GDFP aspek sumber daya manusia disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10 Nilai performa peternak hasil evaluasi GDFP aspek sumber daya manusia
Faktor penentu Nilai GDFP Kategori GDFP
Peternak
Motivasi beternak 3.56 Baik
Harapan keluarga terhadap peternakan 3.64 Baik Kondisi kesejateraan keluarga 2.52 Cukup
Pelatihan peternakan 0.36 Sangat buruk
Tenaga kerja
Pemberian gaji 2.64 Cukup
Komunikasi 2.76 Cukup
Disiplin dalam bekerja 3.80 Baik
Kondisi kesejateraan keluarga 2.04 Cukup
Pelatihan peternakan 0.00 Sangat buruk
Rataan 2.37 Cukup
Keterangan: 0.00-0-0.50= sangat buruk, 0.60-1.0= buruk, 1.01-2.0= kurang baik, 2.01-3.0= cukup, 3.01-4.00= baik
12
Hasil penelitian sub aspek pelatihan menunjukkan nilai evaluasi GDFP peternak dan tenaga kerja sangat buruk. Hal ini karena sebagian besar peternak sangat jarang mengikuti pelatihan. Menurut Andajani (2006) pelatihan peternakan berfungsi untuk meningkatkan kompetensi dan memperoleh keterampilan spesifik untuk melaksanakan suatu pekerjaan secara lebih baik.
Jumlah ternak di Pondok Ranggon sebanyak 897.75 ST (Tabel 3) dengan jumlah pekerja sekitar 70 orang dari 25 peternak, maka seorang tenaga kerja menangani sekitar 9 ekor hari-1. Menurut Sudono (1999) seorang tenaga kerja dapat menanggani 6-7 ekor sapi, semakin banyak sapi yang dipelihara dalam suatu peternakan makin efisien tenaga yang dibutuhkan. Tenaga kerja di Pondok Ranggon disiplin dalam bekerja dengan nilai GDFP 3.80 (baik). Setiap tenaga kerja pada setiap peternakan akan mendapat tempat tinggal di dekat peternakan sehingga mereka akan bekerja tepat waktu. GDFP pemberian gaji bernilai 2.64 (cukup), pemberian gaji dilakukan sebulan sekali dengan jumlah yang berbeda-beda antara Rp2 500 000 – Rp3 200 000.
Nilai performa peternak sapi perah di Pondok Ranggon (Tabel 4) terlihat bahwa capaian nilai GDFP peternak sudah cukup baik. Aspek penerapan GDFP dengan nilai tertinggi adalah bibit dan reproduksi dan nilai terendah adalah kandang dan peralatan. Kurangnya penilaian pada kandang dan peralatan karena penataan kandang yang kurang sesuai dengan standar. Hal tersebut karena lokasi dan lingkungan peternakan berada di daerah kota, sehingga menyulitkan peternak untuk perluasan kandang. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan renovasi kandang ternak agar memiliki ventilasi yang baik. Tempat penampungan limbah juga perlu dilakukan perbaikan karena banyaknya limbah yang menumpuk. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengolahan kotoran ternak menjadi pupuk kompos yang berkualitas dan melakukan penjualan secara kontinu sehingga tidak banyak pupuk yang menumpuk. Aspek sumber daya manusia merupakan aspek yang memungkinkan untuk dikembangkan. Hal itu dapat dilakukan dengan meningkatkan pelatihan pada pemilik peternakan dan tenaga kerja. Pelatihan peternakan akan meningkatkan kesadaran peternak dalam usaha sapi perah yang baik agar meningkatkan produktivitas peternakan.
Evaluasi Lingkungan Mikro
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi penampilan produksi dan kelangsungan hidup sapi perah. Lingkungan yang diamati merupakan lingkungan mikro atau lingkungan sekitar kandang yang terdiri atas suhu, kelembaban, dan kecepatan angin. Hasil pengamatan suhu di Pondok Ranggon pada pagi hari sekitar 29.36 oC, di siang hari meningkat sampai 33.26 oC, dan di sore hari suhu kembali menurun sekitar 30.46 oC. Kelembaban udara berbanding terbalik dengan suhu yaitu pada pagi hari kelembaban tinggi sekitar 78.73%, di siang hari kelembaban menurun sekitar 67.20%, dan di sore hari kelembaban kembali meningkat sekitar 76%. Yani et al. (2007) menyatakan bahwa sapi FH yang ditempatkan pada suhu dan kelembaban udara yang tidak mendukung maka sapi akan mengalami cekaman panas sehingga akan berpengaruh terhadap menurunnya produktivitas sapi Friesian Holstein (FH).
13 Sapi perah menunjukkan penampilan produksi terbaik apabila ditempatkan pada suhu lingkungan 18 oC dan kelembaban 55%.
Hubungan besaran suhu dan kelembaban udara atau Temperature Humidity Index (THI) dapat mempengaruhi tingkat stres pada ternak. Berdasarkan perhitungan nilai THI, sapi perah di Pondok Ranggon mengalami stres sedang dengan nilai THI 80.65-85.69. Menurut Moran (2005) bahwa nilai THI yang ideal untuk sapi perah adalah 72, apabila nilai THI melebihi 72 maka sapi perah FH akan mengalami stres ringan (72≤THI≤79), stres sedang (80≤THI≤89) dan stres berat (90≤THI≤97). Hasil pengamatan kecepatan angin yang ada pada peternakan sapi perah di Pondok Ranggon adalah 0.05 m s-1. Pada peternakan tersebut hanya ada satu peternak yang menambahkan kecepatan angin dengan kipas.
Bahan atap yang digunakan pada peternakan Pondok Ranggon umumnya adalah genteng dan asbes. Pengunaan atap berbahan genting, seng, rumbia sebagai bahan atap tidak menimbulkan pengaruh nyata terhadap konsumsi pakan dan air serta pertumbuhan sapi (Djaja et al. 2009). Atap pada prinsipnya adalah sebagai alat untuk mendapatkan keteduhan, mencegah menetesnya air dan mencegah sengatan panas sinar matahari langsung masuk ke dalam kandang (Djaja et al. 2009). Pemilihan bahan atap adalah salah satu hal yang penting dalam pembuatan kandang. Hal ini karena semua bahan akan memantulkan, meneruskan dan menyerap radiasi gelombang pendek dan gelombang panjang dengan proporsi yang berbeda-beda tergantung pada jenis bahannya (Yani dan Purwanto 2006). Ketinggian kandang merupakan hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan kandang. Berdasarkan hasil pengamatan tinggi kandang pada peternakan Pondok Ranggon berkisar antara 3-4 m. Hal ini sesuai dengan pendapat (Yani dan Purwanto 2006) bahwa daerah-daerah yang cerah dengan sinar matahari penuh, tinggi atap kandang sebaiknya antara 3.6-4.2 m, sedangkan untuk daerah agak berawan tinggi atap kandang antara 2.1-2.7 m.
Ternak sapi perah di Pondok Ranggon mengalami stress sedang, upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi stres pada ternak adalah dengan menambah kecepatan angin. Penambahan kecepatan angin perlu dilakukan di peternakan sapi perah karena dapat mengurangi cekaman panas. Menurut Yani dan Purwanto (2006) penambahan kecepatan angin 1.125 m s-1 dapat mengoptimalkan kerja metabolisme sapi FH sehingga ternak tersebut merasa nyaman. Penambahan kecepatan angin dapat dilkakukan dengan pemasangan kipas angin pada kandang sapi perah.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Hasil evaluasi berdasarkan Good Dairy Farming Practices (GDFP) pada peternakan sapi perah rakyat di Pondok Ranggon cukup baik. Hasil evaluasi GDFP peternak dari yang tertinggi ke terendah secara berturut-turut adalah bibit dan reproduksi, pengelolaan, pakan dan air minum, kandang dan peralatan serta sumber daya manusia. Hasil evaluasi lingkungan mikro berdasarkan perhitungan
14
THI sapi perah mendapat nilai THI 80.65-85.69 yang berarti sapi perah mengalami stres sedang.
Saran
Perlu adanya perbaikan dalam tata laksana pemberian pakan, pengolahan limbah peternakan serta kegiatan pelatihan peternakan. Pemberian pakan sebaiknya sesuai dengan kebutuhan sapi perah agar meningkatkan produksi susu.
DAFTAR PUSTAKA
Adjani T. 2006. Hubungan karakteristik peternak domba dengan tingkat partisipasinya dalam pengembangan agribisnis peternakan di Kabupaten Bogor Jawa Barat [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Andriyadi A. 2012. Kajian penerapan good dairy farming practice pada peternakan rakyat di Keluraham Kebon Pedes Kecamatan Tanah Seral Bogor [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Anggraeni A, Kurniawan N, Sumantri C. 2008. Pertumbuhan pedet betina dan dara sapi frisien-holstein di wilayah kerja bagian barat KPSBU Lembang. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. 11-12 November 2008; Bogor (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Hlm 122-131.
Ako A. 2013. Ilmu Ternak Perah Daerah Tropis. Bogor (ID): IPB Pr.
Djaja W, Matondang RH, Haryanto. 2009. Aspek manajemen usaha sapi perah. Di dalam: Santosa KA, Dwiyanto K, Toharmat T, editor. Profil Usaha Peternakan Sapi Perah di Indonesia. Bogor (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
[Ditjennak] Direktorat Jendral Peternakan. 1983. Laporan pertemuan pelaksanaan uji coba faktor-faktor penentu dan perencanaan tata penyuluhan subsektor peternakan. Jakarta (ID): Departemen Pertanian.
[Ditjennak] Direktorat Jendral Peternakan. 2008. SK Menteri Pertanian Nomor:07007/HK.030/F/05/2008 tentang petunjuk teknis pembibitan ternak rakyat. Jakarta (ID). Departemen Pertanian.
[Ditjennak] Direktorat Jendral Peternakan. 1998. Usaha Peternakan, Perencanaan, Analisis dan Pengolahan. Jakarta (ID): Departemen Pertanian.
[Ditjennak] Direktorat Jendral Peternakan. 2010. Agribisnis Persusuan. Jakarta (ID): Departemen Pertanian.
[FAO-IDF] Food and Agriculture Organization of the United Nations- International Dairy Federation Food. 2011. Guide to good dairy farming practice. Rome (IT): FAO-IDF.
Handayani KS, Purwanti.2010. Kesehatan ambing dan higiene pemerahan di peternakan sapi perah Desa Pasir Buncir Kecamatan Caringin. J Penyuluhan Pertanian. 5(1).
15 Hermawan S, Fitriani A. 2013. Potensi usaha peternakan sapi perah rakyat dalam menghadapi pasar global (potential of small scale dairy farm for facing in global market). J Ilmu Ternak. 13(1).
Ihsan NM. 2010. Ilmu Reproduksi Peternakan Dasar. Malang (ID): UB Pr.
[Kementan] Kementerian Pertanian RI. 2015. Populasi sapi perah menurut provinsi. Jakarta (ID): Kementerian Pertanian RI.
Makin M. 2011. Tata Laksana Peternakan Sapi Perah. Yogyakarta (ID): Graha Ilmu.
Moran J. 2005. Tropical Dairy Farming:Feeding Manajemen for Small Holder Dairy Farmers in the Humid Tropics. Australia (AU): Landlinks Pr.
Murti TW, Purnomo H, Usmiati S. 2009. Pascapanen dan teknologi pengolahan susu. Di dalam: Santosa KA, Dwiyanto K, Toharmat T, editor. Profil Usaha Peternakan Sapi Perah di Indonesia. Bogor (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
Nurdin E. 2011. Manajemen Sapi Perah. Yogyakarta (ID): Graha Ilmu.
Simamora T, Fuah A, Atabany A, Burhanuddin. 2015. Evaluasi aspek teknis peternakan sapi perah rakyat di Kabupaten Karo Sumatera Utara. J IPTHP. 03(1). 52-58.
Siregar SB. 2007. Manajemen Agribisnis Sapi Perah yang Ekonomis dan Kiat Melipat Gandakan Keuntungan. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Soekartawi. 1988. Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. Jakarta (ID): UI Pr. Sudono A, Rosdiana, Setiawan BS. 2003. Beternak Sapi Perah Secara Intensif.
Depok (ID): Agromedia Pustaka.
Sudono. 1999. Ilmu Produksi Ternak Perah. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Suhendar D. 2012. Manajemen pemeliharaan dan efisiensi produksi susu sapi
perah anggota koperasi peternak sapi perah Saluyu Cigugur Kabupaten Kuningan [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Sukmawati F, Kaharudin M. 2010. Petunjuk Praktis Perkandangan Sapi Nusa Tenggara Barat (ID): Kementerian Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Syarif EK, Harianto B. 2011. Beternak dan Bisnis Sapi Perah. Jakarta (ID): Agromedia Pustaka.
Triwulanningsih E, Susilawati T, Kustono. 2009. Reproduksi dan inovasi teknologi reproduksi. Di dalam: Santosa KA, Dwiyanto K, Toharmat T, editor. Profil Usaha Peternakan Sapi Perah di Indonesia. Bogor (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.
Utomo B, Miranti DP, Intan GC. 2009. Kajian termoregulasi sapi perah periode laktasi dengan introduksi teknologi peningkatan kualitas pakan. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Jawa Tengah (ID): Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah.
Yani A, Purwanto BP. 2006. Pengaruh iklim terhadap respon sapi peranakan Fries Holland dan modifikasi lingkungan untuk meningkatkan produktivitasnya. Med Petern. 9: 35-46.
Yani A, Suhardiyanto H, Hasbullah R, Purwanto BP. 2007. Analisis dan simulasi distribusi suhu udara pada kandang sapi perah menggunakan Computational Fluid Dynamics (CFD). Med Petern. 30: 218-228.
16
Yusuf. 2010. Kompetensi peternak dalam pengelolaan usaha sapi potong di Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Zurriyati. 2008. Peningkatan pendapatan petani Desa Masda Makmur, Rambah Samo-Riau dari pembuatan kompos asal kotoran sapi pada sistem integrasi tanaman terbaik. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan Dan Veteriner. 11-12 November 2008; Bogor (ID): Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. hlm 254-257.
17
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Pasar Usang Sumatera Barat pada tanggal 1 Oktober 1993. Penulis adalah anak kedua dari 3 bersaudara dari pasangan Bapak Syamsuardi dan Ibu Marlis.
Pada tahun 1999 penulis masuk Sekolah Dasar Negeri 147/VIII Bogorejo dan lulus tahun 2005. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Kabupaten Tebo dan lulus pada tahun 2008. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Kabupaten Tebo dan lulus pada tahun 2011. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan di Program Keahlian Teknologi dan Manajemen Ternak Program Diploma Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan lulus pada tahun 2014. Pada tahun 2014 penulis diterima di Program Alih Jenis Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Institut Pertanian Bogor melalui jalur ujian tertulis alih jenis. Penulis pernah melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di PT QL Agrofood dan PT Lembu Jantan Perkasa. Penulis aktif mengikuti organisasi BEM J IPB Departemen Pendidikan periode 2012-2013 dan 2013-2014. Selama menempuh pendidikan di Institut Pertanian Bogor penulis pernah menerima beasiswa PPA tahun ajaran 2014/2015. Penulis pernah menjadi asisten praktikum Mata Kuliah Teknik Pengolahan Daging pada tahun 2015 dan asisten praktikum Mata Kuliah Teknik Pengolahan dan Penanganan Hasil Ikutan Ternak pada tahun 2016