PEMBAHASAN
Berat Bayi
Uji statistik (Tabel 2) menyatakan bahwa tidak terjadi perbedaan pada berat bayi perempuan dan laki-laki. Pada ketinggian 0 m dpl (Gambar la, 2d), 800 m dpl (Gambar lb, le), dan di atas 1200 m dpl (Gambar lc, If), berat bayi perempuan sama besarnya dengan berat bayi laki-laki. Dapat dikatakan bahwa tidak terdapat dimorfisme kelamin pada berat bayi maupun berat plasenta pada ketiga ketinggian, atau dapat diiatakan bahwa jenis kelamin tidak mempengaruhi berat plasenta dan berat bayi. Ketinggian Tempat (rn dpl) 0 0 c , 2 m 35W m 4 m Berat Bayi (g)
Gambar 1 Variasi berat bayi dan berat plasenta manusia pada tiga ketinggian.
Pada tahun 1984, Glinka melaporkan bahwa di Flores, Indonesia, berat bayi laki-laki lebih besar daripada bayi perempuan, walaupun tidak selamanya fenomena ini berlangsung demikian. Sebaliknya, Lurie, Michael & Yaakov (1999) melaporkan bahwa rasio perbandingan berat bayi dengan berat plasenta laki-laki dan perempuan
banyak ha1 seperti gizi, kondisi sosial ekonomi, faktor lingkungan dan psikologis,
riwayat kesehatan ibu dan berat lahir ibu; tidak dipengamhi oleh jenis kelamin bayi. Tidak terjadinya dimorfisme kelamin temtama untuk berat lahir bayi pada penelitian ini, kemungkinan disebabkan mayoritas responden memiliki kesadaran yang tinggi akan sarana kebersihan tempat tinggal mereka, kesehatan dan pendidikan anak- anaknya. Selama kehamilan semua responden selalu mentaati jadwal konsultasi kesehatan mereka kepada bidan setempat. Hubungan masyarakat dengan bidan memegang peranan yang sangat besar terhadap tingkat keberhasilan ibu melahirkan dengan selamat, begitupun dengan bayinya. Ketersediaan suplai vitamin dari Puskesmas setempat selalu mencukupi, dan responden secara teratur mengkonsumsi suplai vitamin tersebut.
Status sosial ekonomi responden berada dalam taraf cukup, dengan penghasilan
bulanan mereka sama atau sedikit lebii tinggi dari Upah M i m u m Regional (Uh4R).
UMR untuk Kabupaten Temanggung adalah sebesar Rp 455000 (Depnaker 2004) dan Kabupaten Cilacap sebesar Rp 450000 (Depnaker 2003). Walaupun penghasilan
mereka hanya sedikit di atas rata-rata UMR yang ditetapkan per Kabupaten, tetapi
dengan keadaan sosial ekonomi yang cukup, maka status kesehatan mereka pun
tergolong baik. Rataan pengeluaran bulanan masyarakat Temanggung untuk biaya
pendidikan anak-anaknya, yaitu sebesar Rp 90000. Pengeluaran untuk pangan
sebesar Rp 110000, dan untuk kesehatan Rp 65000. Rataan pengeluaran bulanan
masyarakat Cilacap lebii tinggi daripada Temanggung. Pengeluaran untuk p e n d i d i sebesar Rp 125000, untuk pangan Rp 150000 dan untuk kesehatan Rp 80000. Mereka mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang Sekolah
Menengah Pertama (SMP), dan selalu membawa anggota keluarga yang sakit untuk
mendapatkan pertolongan dari jasa medis. Pada penelitian ini tidak didapat informasi
mengenai berat lahir ibu, sebab pada umumnya mereka tidak memilii pengetahuan
mengenai hal tersebut.
Berat bayi pada ketiga ketinggian tidak menunjukkan perbedaan (Tabel 3). Hal
ini berbeda dengan penelitian Giussani et a1 di Bolivia dengan ketinggian tempat
3500 m dpl pada tahun 2001, yang mendapatkan hasil bahwa berat lahir dan bentuk
tubuh bayi lebih banyak dipengaruhi oleh ketinggian tempat dibandingkan status ekonomi keluarga. Oleh karena itu pada daerah dataran tinggi, bayi memiliki berat
ekonomi keluarga. Oleh karena itu pada daerah dataran tinggi, bayi memiliki berat lahir yang rendah walaupun berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi menengah ke atas. Sedangkan di dataran rendah berat lahir bayi urnumnya dipengaruhi oleh status ekonomi keluarga. Sepertinya fenomena yang terjadi pada penelitian ini jauh lebih mendekati asurnsi Stephenson & Symonds (2002), yaitu bahwa berat bayi antara lain dipengaruhi oleh gizi, kondisi sosial ekonomi, faktor lingkungan dan psikologis, dan riwayat kesehatan ibu. Pada penelitian ini mayoritas responden walaupun bukan berada pada status sosial menengah ke atas, tetapi mereka berada pada status sosial ekonomi yang cukup dengan parameter penghasilan yang didapat sama besarnya atau sedikit lebih tinggi dari UMR.
Berat Plasenta
Begitu pula halnya dengan berat plasenta, ternyata tidak terjadi perbedaan berat plasenta bayi perempuan dengan laki-laki (Tabel 2). Berat bayi merupakan salah satu faktor yang paling mempengaruhi berat plasenta, sebab pembentukan plasenta sebagian besarnya merupakan kontribusi dari bayi bukan dari ibu. Dari uji Tukey (Tabel 3) dapat diambil kesimpulan yang semakin menguatkan dugaan bahwa perbedaan pada plasenta mulai terjadi di ketinggian 800 m dpl, sebab pada ketinggian 800 dan 1200 m dpl tidak tejadi perbedaan berat plasenta. Kemudian semua data pada ketinggian 800 dan 1200 m dpl digabungkan, sehingga kini hanya ada dua tipe plasenta. Kedua tipe tersebut terbagi atas: plasenta dataran rendah, yaitu plasenta yang berasal dari daerah dengan ketinggian 0 m dpl; dan plasenta dataran tinggi, yaitu plasenta yang berasal dari daerah dengan ketinggian di atas 800 m dpl (Gambar 2).
Plasenta dataran tinggi (Gambar 2b, 2d) memiliki kisaran yang lebih tinggi dibanding plasenta dataran rendah (Gambar 2% 2c). Di dataran tinggi, berat plasenta cenderung tinggi walaupun bayi lahir dengan berat rendah. Selama pertumbuhannya di dalam rahim janin membutuhkan oksigen jauh lebih besar dibandingkan kebutuhan oksigen orang dewasa normal, baik pada dataran rendah maupun dataran tinggi. Keadaan ini menuntut tersedianya oksigen dalam jumlah besar bagi janin.
Oleh karena itu janin memiliki adaptasi berupa meningkatnya berat plasenta, dan adaptasi hemopoetik berupa hb-fetal yaitu hemoglobin yang sangat tinggi afinitas pengikatannya terhadap oksigen. Di dataran tinggi janin menghadapi kondisi lingkungan yang cukup berat, dengan terjadiiya penurunan oksigen terlarut di udara
yang dihirup ibunya. Janin pun membutuhkan mekanisme adaptasi lain untuk
mencukupi kebutuhan oksigennya, yaitu melalui plasenta. Menurut hasil penelitian
Genbacev et al. (1997) di dataran tinggi, plasenta akan term tumbuh dan
berkembang hingga saat plasenta dilahirkan, sedangkan pada dataran rendah plasenta akan tumbuh dengan sangat lambat bahkan berhenti tumbuh setelah usia kehamilan lima bulan.
25Op 30W 3500 40W 45W
Berat Bay1 (g)
Ketinggian Tempat
Garnbar 2 Variasi berat plasenta manusia pada dua ketinggian.
o m @
Dari h a i l penelitian Ali (1997) juga diketahui bahwa pada plasenta dataran
800-12WmdpI
tinggi sepanjang usia kehamilan akan t e n s melakukan pertumbuhan pada pembuluh
25W 30W 3MO 40W 4500
darah janin berupa bertambahnya jumlah sel sitotrofoblas, tetapi tanpa
meningkatkan volume sel; peningkatan percabangan vili, penambahan ukuran dan
menyebabkan bertambahnya luasan penyerapan oksigen pada ruang antar vili yang mengandung darah ibu (Gambar 3).
Zamudio (2003) juga menyatakan bahwa pada plasenta dataran tinggi te rjadi peningkatan jumlah arteri dua kali lebih banyak dibanding plasenta dataran rendah; juga peningkatan vaskularisasi vili yang ditandai dengan penarnbahan tebal plasenta, dan penipisan membran vili yang akan meningkatkan laju saturasi hb-Fetal dan meningkatkan kapasitas difusi oksigen. Sedangkan Guyton (1991) menduga plasenta dataran tinggi mengalami peningkatan jumlah dan
u k m
kapiler sehingga memperbesar kesempatan terjadinya difusi oksigen.Semua fenomena adaptasi yang disebutkan di atas memberi pengaruh yang besar pada berat plasenta, sehingga
di
dataran tinggi bayi dengan berat lahir kecil memiliki plasenta dengan berat yang tinggi. Angka rasio perbandingan berat kayi dengan berat plasenta menjadi menurun nilainya di daerah dataran tinggi. Pada penelitian ini, dilakukan jllga p?ri$lItungan rasio perbandingan berat bayi dengan berat plasenta per individu.01
dataran refidah rasio perbandingan berat bayi dengan berat plasenta ialah sebesar 6,05, dan di dataran tinggi sebesar 5,l. Sama dengan hasil penelitian Lurie, Michael & Yaakov (1999) yang rnenemukan bahwa dalam keadaan normal, di daerah dataran rendah rasio perbandingan berat bayi dengan berat plasenta berada pada nilai 5,6.Vili Korionik
Tebal Plasenta
Analisis selanjutnya dilakukan untuk mengetahui perbedaan ketebalan plasenta pada ketiga ketinggian. Hal ini dilakukan, karena sesungguhnya pertambahan berat plasenta berhubungan erat dengan pertambahan tebal plasenta. Atau dengan kata lain, mekanisme adaptasi pada plasenta dataran tinggi menyebabkan terjadinya perubahan pada tebal plasenta, yang pada akhirnya akan mempengaruhi berat plasenta. Uji Tukey (Tabel 3) menunjukkan te rjadinya perbedaan ketebalan plasenta antara ketinggian 0 dengan 800 m dpl, dan antara ketinggian 0 dengan di atas 1200 m dpl. Pada ketinggian 800 dan di atas 1200 m dpl tidak terjadi perbedaan ketebalan plasenta Kemudian dilakukan penggabungan data tebal plasenta pada ketinggian 800 dengan ketinggian di atas 1200 m dpl.
Pada ketinggian 0 m dpl (Gambar 4a), penambahan berat plasenta selalu sejalan dengan penambahan tebal plasenta. Pada plasenta dataran tinggi, yaitu plasenta pada daerah dengan ketinggian 800 dan di atas 1200 m dpl (Gambar 4b), plasenta dengan berat rendah pun memiliki tingkat ketebalan yang besar. Hal ini disebabkan oleh kadar oksigen terlarut di udara yang semakin menipis pada daerah dataran tinggi (Baker 1996), sedangkan janin membutuhkan oksigen dalam jumlah lebih banyak dari yang dibutuhkan manusia dewasa. Menurut Fox (2002) pada ketinggian 0 m dpl tekanan oksigen pada arteri ialah sebesar 100 mmHg, sedangkan di ketinggian 1500 m dip1 tekanannya turun menjadi 75-81 mmHg. Tekanan oksigen yang rendah di dataran tinggi menimbulkan stimuIus pada tubuh untuk meningkatkan produksi sel darah merah. Sebagai bentuk adaptasi lain terhadap kebutuhan oksigen yang meningkat, maka plasenta dataran tinggi mengalami peningkatan vaskularisasi vili, penambahan jumlah, ukuran dan lipatan-lipatan kapiler, yang pada akhimya akan mempengaruhi ketebalan plasenta (Zamudio 2003). Dengan bertambahnya lipatan-lipatan kapiler, maka kesempatan difusi oksigen akan semakin besar dan kebutuhan oksigen janin dapat terpenuhi. Penambahan jumlah sel dan lipatan-lipatan kapiler pada korion frondosum (Gambar 6 ) tentunya membutuhkan ruang untuk perkembangannya (Ali 1997). Ruang yang dimaksud adalah tebal plasenta, sehingga pada plasenta dataran tinggi terjadi penambahan tebal seiring dengan peningkatan lipatan-lipatan kapilemya.
K W a n Tempat Omdp(