• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI PERFORMA PROTOTIPE MESIN PENDINGIN AIR KAPASITAS 500 LITER UNTUK MEDIA HIDROPONIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UJI PERFORMA PROTOTIPE MESIN PENDINGIN AIR KAPASITAS 500 LITER UNTUK MEDIA HIDROPONIK"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

30

UJI PERFORMA PROTOTIPE MESIN PENDINGIN AIR

KAPASITAS 500 LITER UNTUK MEDIA HIDROPONIK

Eky Roskiana

1*

,

Ega Taqwali Berman

1

, dan Mutaufiq

1

1Departemen Pendidikan Teknik Mesin, Universitas Pendidikan Indonesia

*Email: [email protected]

INFORMASI ARTIKEL

ABSTRAK

Naskah Diterima 29/04/2018 Naskah Direvisi 30/04/2018 Naskah Disetujui 30/04/2018 Naskah Online 30/04/2018

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data performa sistem pendingin air kapasitas 500 liter. Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimen. Pada penelitian ini kapasitas air sejumlah 500 liter. Penelitian ini difokuskan pada pendinginan air yang di tampung pada bak air kapasitas 500 liter. Penelitian dilakukan dengan tahapan mengisi air pada bak sampai 500 liter, kemudian nyalakan mesin pendingin. Mesin pendingin tersebut menggunakan sistem kompresi uap. Pendinginan air dilakukan selama 12 jam. Parameter yang di ukur adalah perubahan temperatur (⁰F), tekanan discharge (psig), tekanan suction (psig), dan kuat arus (ampere). Parameter dicatat setiap interval 30 menit. Ketika waktu sudah sampai 12 jam maka mesin dimatikan. Hasil penelitian menunjukkan penurunan suhu sebesar 14,8 ⁰F, dari suhu awal 73,4 ⁰F sampai 58,6 ⁰F. Daya listrik yang di butuhkan mesin adalah sebesar 299 watt. Hasil analisis efek refrigerasi mencapai nilai tertinggi 90 Btu/lb pada menit ke-720. Analisis kerja kompresi mencapai nilai terendah 28,1 Btu/lb pada menit ke-0. Analisis nilai koefisien performa mesin mencapai nilai tertinggi 3,19 pada menit ke-0. Air dingin pada toren disirkulasikan ke reservoir hidroponik sehingga akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman hidroponik.

Kata kunci

:

hidroponik, mesin pendingin, air dingin, zone cooling.

1. PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi dalam bidang pertanian semakin tahun semakin pesat. Umumnya petani Indonesia saat ini masih menggunakan teknologi konvensional, sehingga tidak akan memperoleh keuntungan yang maksimal. Peningkatan produktivitas dengan budidaya konvensional semakin sulit dilakukan karena luas lahan yang semakin terbatas, kondisi kesuburan tanah menurun, dan riskan terhadap erosi tanah (Suharto et al, 2016). Sehingga teknologi hidroponik perlu di kembangkan agar petani lebih optimal dalam mengolah pertaniannya.

Tanaman hidroponik harus diperhatikan dalam perawatannya, salah satunya pengelolaan air dan unsur hara sehingga tercapai hasil yang maksimum. Indonesia merupakan kawasan yang dilewati oleh garis khatulistiwa yang menerima sinar radiasi matahari sangat tinggi. Menurut Suhardiyanto et al. (2009), suhu yang terlampau tinggi di dalam green house akan mengakibatkan stress pada tanaman. Sejak tahun

1990-an, telah dikembangkan sistem zone cooling (pendinginan terbatas) dimana pendinginan tidak dilakukan terhadap keseluruhan volume udara di dalam rumah tanaman, hanya dikondisikan daerah sekitar tanaman yang paling membutuhkan dengan menggunakan Air Conditioning (AC). Budidaya tanaman secara hidroponik akan lebih tepat melakukan pendinginan larutan nutrisi daripada melakukan pendinginan udara lingkungan dengan menggunakan mesin AC. Menurut Hancock et al. (2013), suhu siang hari yang optimum bagi pertumbuhan tanaman kentang adalah sekitar 14-22:C.

Tingginya suhu udara di wilayah Indonesia merupakan sebuah hambatan bagi petani tanaman hidroponik, sehingga perlu adanya perlakuan khusus untuk mengkondisikan air sebagai media tanam hidroponik supaya pertumbuhannya lebih optimum. Suhardiyanto et al. (2007) melakukan penelitian memanfaatkan suhu di dalam tanah yang lebih rendah daripada di atas tanah yang diharapkan mampu

FLYWHEEL: JURNAL TEKNIK MESIN UNTIRTA

(2)

31

menurunkan suhu larutan nutrisi sebelum dialirkan ke daerah perakaran dengan murah karena hanya memerlukan pompa untuk mensirkulasikan larutan. Pendinginan terbatas lebih efisien daripada melakukan pengkondisian suhu di rumah tanaman (AC) yang memutuhkan energi sangat besar (Choerunnisa, 2015). Sehingga untuk petani kelas menengah ke bawah akan menjadi beban dalam hal ekonomis karna akan memperhitungkan biaya mesin, konsumsi listrik, dan material pendukungnya.

Menurut Sumarni et al. (2013) suhu perakaran mempengaruhi proses fisiologi pada akar, seperti penyerapan air, nutrisi dan mineral. Menurut Matsuoka et al. (1992) suhu daerah perakaran tanaman tomat yang dipertahankan pada tingkat 21 sampai 23 :C ternyata mendukung pertumuhan tanaman lebih baik dalam sistem NFT. Menurut Lovatt et al. (1997) suhu ideal untuk pementukan ubi adalah sekitar 15-20 :C. Kelembaban rata-rata untuk pertumbuhan tanaman kentang adalah 80-90%. Kelembaban berpengaruh terhadap evapotranspirasi dan proses transport air dan nutrisi dari akar ke tajuk tanaman (Struik, 2008). Menrut Choerunnisa et al. (2015) sehingga untuk mendapatkan suhu larutan nutrisi 20 :C pada posisi outlet dari pipa utama berbahan pvc ¾ inchi tanpa insulasi dengan panjang pipa 20 m maka suhu larutan nutrisi pada posisi outlet harus 18.06 :C, jika pipa menggunakan insulasi maka suhu larutan nutrisi cukup dengan 20 :C karena suhu sepanjang pipa akan seragam. Upaya yang dilakukan untuk menurunkan temperatur air larutan nutrisi sebagai cara meningkatkan hasil panen tanaman hidroponik telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Suhardiyanto et al. (2007) melakukan penelitian memanfaatkan suhu dingin permukaan dalam tanah untuk sistem hidroponik, penempatan tangki air dalam tanah terdapat selisih 1,2 sampai 2,7 :C dengan di atas permukaan tanah. Selanjutnya, air dalam tangki dipompa sehingga mengalir melalui pipa vertikal menuju ke emiter. Metode pendinginan dengan efek lingkungan di dalam tanah dapat digunakan untuk zone cooling dengan menempatkan tangki di dalam tanah dengan kedalaman tertentu. Kemudian Sumarni et al. (2013) melakukan penelitian pendinginan zona perakaran (root zone cooling) pada produksi benih kentang menggunakan sistem aeroponik, bahwa kendala budidaya kentang di dataran rendah adalah suhu yang tinggi. Suhu yang tinggi akan menyebabkan stress dan menghambat inisiasi umbi kentang, oleh karena itu dilakukan penelitian dengan tiga suhu pendinginan pada zona perakaran yaitu dilakukan perlakuan pada suhu 10, 15, dan 20 :C dan pada suhu ruangan rumah kaca sebagai kontrol. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jumlah dan bobot umbi tertinggi selama 90 hari diperoleh pada suhu zona pendinginan akar 10 :C disusul dengan suhu zona akar 15 dan 20 :C, sedangkan pada perlakuan kontrol tidak menghasilkan umbi.

Tujuan dari penelitian ini adalah merancang bangun prtotipe mesin pendingin air kapasitas 500 liter untuk media hidroponik. Penelitian ini diharapkan

memberikan manfaat kepada masyarakat. Khusunya para petani dan pembudidaya tanaman hidrponik.

2. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilakukan di workshop Refrigerasi dan Tata Udara, Departemen Pendidikan Teknik Mesin, Fakultas Pendidikan Teknik dan Kejuruan, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah: 1.) Alat ukur seperti tang ampere tipe SMC87, manifold gauge merk Robinair, dan thermometer digital; 2). Alat utama adalah kompresor merk Fuji-Kobe kapasitas ¼ Pk, kondensor jenis air clooled ukuran 10 U, pipa kapiler ukuran ID 0,3 mm dengan panjang 3 meter, dan evaporator jenis plate ukuran 82 cm x 24 cm; 3). Komponen tambahan adalah refrigerant R134a merk Klea, fan kondensor dan pompa air merk Multi-pro kapasitas daya 125 watt.

Mesin pendingin air yang digunakan pada penelitian ini ditunjukan pada gambar 1 yang telah dirancang untuk mendapatkan data penelitian. Parameter data yang diambil adalah tekanan suction (psig), tekanan discharge (psig), kuat arus (ampere), pencapaian temperatur air (:C), h1 adalah entalpi awal evaporasi

(Btu/lb), h2 adalah entalpi akhir evaporasi (Btu/lb), dan

h3 adalah entalpi akhir kompresi (Btu/lb). Pengambilan

data dilakukan setiap 30 menit sekali selama 12 jam. Prinsip kerja mesin pendingin air hidroponik ini adalah sama dengan sistem kompresi uap. Secara prinsip, mesin pendingin ini sama halnya dengan chiller yang mana evaporator di tanam di dalam tangki penampung air dengan refrigerant primer R134a. Diawali dengan proses kompresi yang dilakukan oleh kompresor terhadap refrigerant wujud uap dimana tekanan dan temperatur refrigerant naik, pada keadaan ini terjadi proses entropik dimana entalpi refrigerant meningkat sedangkan entropinya tetap. Kemudian refrigerant masuk ke kondensor, terjadi pertukaran kalor antara sistem dengan lingkungan maka terjadi perubahan fasa pada kondensor ini refrigerant berubah dari uap menjadi cair (mengembun). Fan berfungsi sebagai alat pembantu mempercepat pertukaran kalor. Setelah meninggalkan kondensor refrigerant masuk ke alat ekspansi, pada bagian ini terjadi penurunan tekanan dan temperatur pada refrigerant. Wujud refrigerant pada bagian ini adalah campuran (mix), dan terjadi proses isoentalpi dimana kandungan entalpi adalah konstan. Kemudian refrigerant masuk ke dalam evaporator. Pada bagian ini wujud refrigerant adalah cair dengan suhu rendah, terjadi perubahan fasa pada refrigerant menjadi uap karena adanya pertukaran temperatur dengan produk yang berupa air. Sehingga akan menghasilkan air dingin pada bagian ini. Terjadi proses isobar dimana tekanan refrigerant adalah konstan.

Langkah kerja untuk mengoperasikan mesin ini pertama adalah isi air pada bak penampung sampai penuh 500 liter. Langkah berikutnya masukan bulb thermometer digital pada air yang ada di dalam toren. Kemudian hubungkan tang amper dengan kabel power supply. Selanjutnya sambungkan kabel power supply ke sumber listrik. Kemudian tekan saklar pada panel

(3)

32

sampai posisi on. Mesin akan beroperasi menghasilkan air dingin, amati tekanan yang terukur pada gauge yang ada di panel dan amati arus yang terukur pada tang amper dan catat data yang terukur berdasarkan parameter di atas. Ketika temperatur tercapai selama 12 jam matikan mesin dengan menekan tombol off pada saklar dan mesin akan berhenti beroperasi.

Gambar 1. Mesin pendingin air hidrooponik

Pada mesin ini air dingin di dalam bak penampung air 500 liter disirkulasikan ke bak penampung air nutrisi hidroponik dengan menggunkan pipa PVC yang di insulasi. Sehingga, bak penampung air nutrisi tersebut menjadi dingin. Ketika air di dalam bak penampung habis maka air dari bak penampung air 500 liter akan mengisi dengan menggunakan keran yang di buka katupnya secara manual. Air nutrisi pada bak penampung setiap harinya di ganti dengan air yang baru, untuk mengefektifkan jumlah air supaya tidak di buang begitu saja maka air disirkulasikan kembali ke dalam toren untuk didinginkan.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Analisis Efek Refrigerasi (RE)

Besar efek refrigerasi mesin ketika on hingga off kurang lebih selama 12 jam dapat dilihat pada gambar 2. Ketika mesin on hingga menit ke- 300 efek refrigerasi mengalami penurunan dari 90 Btu/lb hingga 89,1 Btu/lb. Kemudian mengalami kenaikan yang signifikan dari menit ke- 300 hingga mesin berhenti beroperasi dari 89,1 Btu/lb menjadi 90 Btu/lb. Pada menit ke- 330 sampai menit ke- 480 efek refrigerasi cenderung konstan berada pada angka 89,5 Btu/lb.

Ketika mesin on tekanan suction rendah yaitu berkisar 10 psig sampai meningkat pada tekanan 13 psig dalam waktu 300 menit. Kemudian tekanan turun kembali pada menit ke- 300 sampai menit ke- 720 dari 13 psig ke 10 psig. Kenaikan tekanan suction ini dikarenakan besarnya beban kalor yang harus di serap oleh evaporator, kemudian terjadi penurunan tekanan karena beban kalor yang di serap evaporator lebih kecil. Kenaikan dan penurunan tekanan suction berakibat pada efek refrigerasi.

Gambar 2. Nilai efek refrigerasi mesin pendingin air hidroponik

terhadap waktu operasi mesin

3.2 Kerja Kompresi

Kerja kompresi pada saat mesin running hingga menit ke- 90 mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari 28,2 Btu/lb menjadi 29,8 Btu/lb. Kerja kompresi kemudian konstan dari menit 90 sampai menit ke-300 pada nilai 29,8 Btu/lb. Menit ke- 330 sampai menit ke- 360 mengalami kenaikan kembali menjadi 30,1 Btu/lb. Mesin mengalami penurunan kerja kompresi kembali pada menit ke- 360 sampai menit ke- 480 dari 30,1 Btu/lb menjadi 29,2 Btu/lb. Pada menit ke- 510 kerja kompresi naik dari 29,2 Btu/lb menjadi 29,4 Btu/lb konstan sampai menit ke- 600, kemudian mengalami kenaikan lagi menjadi 29,6 Btu/lb pada menit ke- 630. Pada menit akhir, yaitu menit ke- 660 sampai mesin stop (menit ke- 720) kerja kompresi mengalami penurunan menjadi 29,1 Btu/lb. Gambar 3 menggambarkan grafik kenaikan dan penurunan hasil kerja kompresi.

Kenaikan dan penurunan kerja kompresi tersebut dipengaruhi oleh tekanan discharge. Ketika menit awal, mesin running selama 90 menit, tekanan dischard mengalami kenaikan dari 195 psig menjadi 217 psig. Otomatis mempengaruhi kerja kompresi menjadi naik karena di pengaruhi oleh tekanan discharge. Kenaikan tekanan discharge tersebut dipengaruhi oleh beban kalor dari produk. Pada menit awal kalor dari produk masih tinggi, kemudian mengalami penurunan kalor karena proses pendinginan. Mengakibatkan tekanan

discharge turun, penurunan tekanan discharge

mengakibatkan kerja kompresi menurun. 88.6 88.7 88.8 88.989 89.1 89.2 89.3 89.4 89.5 89.6 89.7 89.8 89.990 90.1 0 90 180 270 360 450 540 630 720 Ef e k R e fri g e ra s i (Bt u /l b )

(4)

33

Gambar 3. Nilai kerja kompresi mesin pendingin air hidroponik

terhadap waktu operasi mesin

3.3 Koefisien Performa Sistem

Ketika mesin running dari mneit ke-0 hingga menit ke-90 nilai koefisien performa mesin turun signifikan dari 3,19 menjadi 3,00. Kemudian dari menit ke- 90 sampai menit ke- 210 nilai koefisien performa adalah konstan pada nilai 3,00. Selanjutnya dari menit ke- 210 hingga menit ke- 360 masih terjadi penurunan nilai koefisien dari 3,00 menjadi 2,97. Pada menit ke- 390 hingga menit ke- 480 mengalami kenaikan nilai koefisien performa dari 3,02 menjadi 3,07. Nilai koefisien turun kembali pada menit ke- 510 sampai menit ke- 630 dari nilai 3,05 menjadi 3,04. Nilai koefisien performa meningkat dan konstan menjadi 3,09 dari menit ke- 660 sampai menit ke- 720. Indikator terbaik suatu mesin pendingin adalah memiliki nilai koefisen performa yang tinggi. Gambar 4 menggambarkan grafik nilai koefisien performa mesin. Kenaiakan dan penurunan nilai koefisien performa mesin dipengaruhi oleh nilai efek refrigerasi dan kerja kompresi. Semakin besar nilai efek refrigerasi dan semakin kecil nilai kerja kompresi akan menghasilkan performa mesin yang baik (Berman dan Hasan, 2015).

Gambar 4. Nilai koefisien performa mesin pendingin

air hidroponik terhadap waktu operasi mesin

3.4 Daya Aktif

Daya aktif merupakan daya listrik yang terpakai untuk melakukan energi sebenarnya. Pada saat running hingga mesin berhenti jumlah arus yang terukur adalah konstan. Arus yang terukur adalah 1,7 Ampere. Untuk

mengetahui jumlah daya aktif yang dibutuhkan mesin menggunakan rumus:

P = V. I. cos φ

Daya aktif disimbolkan dengan P satuannya adalah watt. Tegangan listrik disimbolkan dengan V satuannya adalah volt, umumnya tegangan listrik untuk 1 phasa adalah 220 volt. Kuat arus disimbolkan dengan I satuannya adalah ampere. Sedangkan cos φ adalah faktor daya, umumnya faktor daya memiliki nilai 0,7 – 0,8, namun pada analisi ini di ambil faktor daya yang terbesar. Sehingga diperoleh daya aktif yang terhitung pada mesin pendingin air adalah sebesar 299 watt.

4. KESIMPULAN

Penelitian uji performa prototipe mesin pendingin air kapasitas 500 liter untuk media hidroponik telah selesai dilaksanakan. Menggunakan kompresor kapasitas 2300 Btu/hr (1/4 Pk) mampu menurunkan suhu air sebesar 14,8 :F, dari suhu awal 73,4 :F sampai 58,6 :F selama 720 menit (12 jam). Daya aktif yang terhitung adalah 299 watt. Jumlah refrigerant yang terisi adalah sebanyak 100 gram menghasilkan efek refrigerasi terbaik yaitu 90 Btu/lb pada menit ke- 720. Kerja kompresi kecil 29,1 Btu/lb pada menit ke-0. Nilai koefisien performa mesin terbaik 3,19 pada menit ke- 0.

5. DAFTAR PUSTAKA

Berman, E.T., Hasan. S., (2015). “Analisis Performa Refrigeran R 290 pada Sistem AC yang menggunakan Accumulator Heat Exchanger”. Jurnal Energi dan Manufaktur, Vol. 8(1): 95-98.

Choerunnisa, N., Suhardiyanto, H. (2015). “Analisis Pindah Panas pada Pipa Utama Sistem Hidroponik dengan Pendinginan Larutan Nutrisi”. JTEP Jurnal Keteknikan Pertanian. 3(1): 1-8.

Correa, R.M., J.E.B.P. Pinto, A.A.B.P. Pinto, V. Faquin, E.S. Reis, A.B. Monteiro, W.E. Dyer. (2008). “A comparison of potato seed tuber yields in beds, pots and hydroponic systems”. Sci. Hort. 116:17-20. Hancock, R. D., Morris, W. L., Ducreux J. A. et al. (2013). “Physiological, Biochemcical and Molecular Responses of the Potato (Solanum tuberosum L.) Plant to Moderately Elevated Temperature”. Plant, Cell and Environment. Vol. 37(2): 439-450.

Lovatt, J, L. (1997). Potato Information Kit. The Agrilink Series. The State of Queensland, Departement of Primary Industries. Australia. Matsuoka, T., Suhardiyanto, H. (1992). “Studies on a Zone Cooling System in a Greenhouse (2): Evaluation of a System for Microlimate Modification in a Plastic Greenhouse During Hot Weather”. Environment Control in Biology 30 (4): 143-151. Struick, P, C. (2008). The Canon of Potato Science: Minitubers. Potato

res 50: 305-308.

Suhardiyanto, H., Faudi, M, M., Widianingrum, Y. (2007). “Analisis Pindah Panas Pada Pendinginan Dalam Tanah untuk Sistem Hidroponik”. JTEP Jurnal Keteknikan Pertanian. 21(4): 1-8. Suhardiyanto, H. (2009). “Teknologi Rumah Tanaman untuk Iklim

Tropika Basah”. Pemodelan dan Pengendlian Lingkungan. IPB Press. Bogor.

Suharto, Y.B., Suhardiyanto, H. (2016). “Pengembangan Sistem Hidroponik untuk Budidaya Tanaman Kentang (Solanum Tuerosum L.). JTEP Jurnal Keteknikan Pertanian. 3, (2), p 211-218. Sumarni, E, A., Suhardiyanto, H., K.B. Seminar., dan S.K. Saptomo. (2013). “Pendinginan Zona Perakaran (Root Zone Cooling) Pada Produksi Benih Kentang Menggunakan Sistem Aeroponik”. Jurnal Agronomi Indonesia 41(2): 154-159. 27.25 27.5 27.75 28 28.25 28.5 28.75 29 29.25 29.5 29.75 30 0 90 180270360450540630720 Ke rj a Ko m p re s i (Bt u /l b )

Waktu operasi mesin (Menit)

2.85 2.90 2.95 3.00 3.05 3.10 3.15 3.20 3.25 0 90 180 270 360 450 540 630 720 N il a i Ko e fi s ie n Pe rf o rm a

(5)

Gambar

Gambar 2. Nilai efek refrigerasi mesin pendingin air hidroponik  terhadap waktu operasi mesin
Gambar 3. Nilai kerja kompresi mesin pendingin air hidroponik  terhadap waktu operasi mesin

Referensi

Dokumen terkait

Identifikasi permasalahan berdasarkan tugas dan fungsi Biro Kesra ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis SWOT, untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang

Perbaikan tata letak fasilitas ini nantinya akan merubah beberapa posisi area fasilitas yang sesuai dengan aliran bahan, sehingga nanti dapat mengurangi jarak

24 Pendidikan ibu Wawancara Kuesioner B4K8 (RKD10.RT.Blok IV. Keterangan Anggota Rumah. Tangga)

Penelitian yang dilakukan oleh Ariani 2017 menunjukkan bahwa DPR berpengaruh secara signifikan terhadap return saham dikarenakan suatu perusahaan yang mempunyai nilai DPR tinggi,

Ada pun yang menjadi upaya yang dilakukan kepala sekolah antara lain (1) melakukan diskusi dan komunikasi dengan pengawas sekolah mengenai cara melakukan peningkatan

Melalui hasil penelitiannya, Khairani menyimpulkan, bahwa preposisi BJ mit dan bei memiliki berbagai macam bentuk ketika dipadankan dalam BI, yaitu (1) bentuk padanan

Peneliti mengharapkan agar peneliti-peneliti yang selanjutnya lebih mengembangkan penelitian tentang preposisi karena ternyata walaupun penelitian tentang preposisi

Alhamdulillah, puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan ridho-Nya jualah penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “PENGARUH