• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA TEORI IDENTITAS URBAN DAN HIBRIDITAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KERANGKA TEORI IDENTITAS URBAN DAN HIBRIDITAS"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

17

BAB II

KERANGKA TEORI IDENTITAS URBAN DAN HIBRIDITAS

Merumuskan sebuah identitas perkotaan (urban) tak lepas dari karakteristik dan citra kota itu sendiri. Dalam hal ini, penulis hendak menguraikan identitas urban sebagai pintu masuk teori yang dapat membantu mejembatani penelitian ini. Di mana dalam merumuskan suatu identitas urban, terlebih kita perlu mencari citra suatu kota itu sendiri. Sehingga penulis pada bab II ini memulai merumuskan kerangka teori identitas urban dengan pendekatan teorinya Kevin Lynch dan beberapa tokoh yang memiliki kompetensi sama dalam teori ini. Kevin Lynch, sebagai peneliti kota, karya-karyanya banyak dijadikan sebagai referensi primer dalam sebuah penelitian perencanaan atau identitas kota. Pada bagian ini teori identitas Sheldon Stryker, Peter J. Burke, Chris Barker adalah teori-teori yang cukup mendukung dalam rumusan kerangka teori identitas urban ini. Di samping itu, sebagai upaya menelisik lahirnya proses persilangan budaya (hybrid culture) dalam masyarakat urban, maka hemat penulis penting menggunakan pendekatan teori hibriditasnya Hommi K. Bhabha yang juga hendak penulis jelaskan lebih mendalam pada bab ini.

(2)

18 A. Tinjauan Teoritik Identitas Urban

1. Identitas dan Perubahan Sosial

Secara konseptual subyektivitas dan identitas memiliki hubungan erat, bahkan tidak bisa dipisahkan. Seperti yang dikemukakan Chris Barker, ia menegaskan bahwa identitas sepenuhnya merupakan suatu kontruksi sosial budaya. Identitas tidak serta merta dapat eksis di luar representasi atau akulturasi budaya.1 Istilah identitas berasal dari bahasa latin, idem, yang berarti kesamaan dan keberlangsungan. Istilah ini populer digunakan secara leksikal sejak abad-20, dan kerap digunakan dengan maksud; (a) kondisi menjadi sama atau identik; (b) kondisi menjadi orang atau sesuatu yang spesifik dan bukan yang lain; (c) karakter yang berbeda yang dimiliki oleh seorang individu. Identitas dalam kajian ilmiah dapat dimaknai secara sederhana sebagai konsep mengenai siapa seseorang atau kelompok orang dikenali oleh orang atau kelompok lain, atau juga mengenai seseornag dikenali dalam kelompoknya (Jenkin, 2004: 5). Dijelaskan juga dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahwa Identitas merupakan ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang.2

Identitas secara umum dapat didefinisikan sebagai seperangkat makna yang disematkan pada diri seseorang baik sebagai pribadi, kelompok dan sosial.

1 Barker, 2005: 170-171

2 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa

Indonesia Edisi Kedua, cetakan petama (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan balai

(3)

19

Lebih lanjut, dalam teori identitas yang dipopulerkan oleh Sheldon Stryker (1980), identitas erat dengan saling mempengaruhi antara seseorang sebagai individu dengan struktur sosial yang lebih luas (masyarakat). Peter J. Burke, mengatakan bahwa identitas adalah bagaimana orang berperan dalam masyarakat untuk menemukan makna dirinya. Maka di sini identitas bisa menjadi kontrol dan panduan dalam setiap tindakan manusia. Manusia dalam memperoleh identitas bisa memiliki lebih dari satu identitas, menurut perannya yang berbeda dalam interaksi sosial. Dengan demikian, identitas dapat dimaknai diri sebagai ayah, ibu, rekan kerja, teman, dan sebagai salah satu dari sekian banyak kemungkinan peran sesuai yang bisa dimainkan seseorang.3

Identitas dalam lingkup sosial memang mempunyai peran yang berbeda sesuai dengan konteks diri itu berada, tetapi identitas itu mempunyai kekhasan yang suatu saat tertentu berpotensi mengalami perubahan. Identitas dengan sendirinya merupakan satu unsur kunci dari kenyataan subyektif. Sebagaimana semua kenyataan subyektif berhubungan secara dialektif dengan masyarakat. Identitas dibentuk oleh proses-proses sosial. Begitu memperoleh wujudnya, ia dipelihara, dimodifikasi, bahkan dibentuk ulang oleh hubungan-hubungan sosial. Proses-proses sosial yang terlibat dalam membentuk dan mempertahankan identitas ditentukan oleh struktur sosial. Sebaliknya, identitas-identitas individu,

3Jan Assmann dan John Czaplicka “Collective Memory and Cultural Identity” ini New

(4)

20

dan struktur sosial bereaksi terhadap struktur sosial yang sudah diberikan, memeliharanya, memodifikasinya atau membentuknya kembali.4

Identitas sosial merupakan bagian dari konsep diri individu yang bersumber dari pengetahuan mereka tentang keanggotaan dalam suatu kelompok sosial dengan beragam jenis nilai, norma, dan ikatan emosional yang berkembang dalam kelompok tersebut. Identitas tersebut merupakan identitas kolektif yang tidak mensyaratkan masing-masing anggota kelompok sosial tersebut untuk saling mengenal dan memiliki hubungan personal yang dekat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa identitas sosial adalah bagian dari konsep diri individu yang berasal dari pengetahuannya selama berada dalam kelompok sosial tertentu dengan disertai internalisasi nilai-nilai, emosi, partisipasi, rasa peduli dan bangga sebagai anggota kelompok tersebut.5

Lebih lanjut identitas juga difahami sebagai keterkaitan identitas dengan batas-batas etnis. Sebagaimana yang dijelaskan Fredrik Barth, dalam tulisannya ia menjelaskan bahwa dalam interaksi antar etnis, batasan-batasan etnis dipertahankan dengan teguh karena batasan-batasan tersebut adalah juga batasan sosial. Bahkan dalam interaksi dengan yang kain, batasan-batasan etnis dikelola oleh komunitasnya sebagai identitas yang menunjuk keanggotaan. Karenanya

4 Lihat juga Peter L Berger dan Thomas Luckmann, Tafsir Sosial Atas Kenyataan: Risalah

tentang Sosiologi Pengetahuan (Jakarta: LP3ES, 1990), 235-236.

5 Lihat juga dalam Disertasinya M. Mukhsin Jamil, Dinamika Identitas dan Strategi Adaptasi

(5)

21

intensitas interaksi yang terjadi antara orang berbeda etnis akan memperkecil perbedaan, tetapi kekhasan kultural akan kuat jika terus terimplikasi dalam perilaku. Dengan kata lain perbedaan kultural akan tetap menjadi unit yang signifikan, jika perbedaan yang ada tetap tercermin dalam perilaku.6

Perubahan masyarakat tradisional (agraris) ke masyarakat industri (modern) akibat dari derasnya proses modernisasi dengan berbagai nilai dan teknologi yang ditawarkan (Munandar Soelaiman, 1998: 93).7 Hal ini karena modernisasi melibatkan perubahan pada hampir segala aspek tingkah laku sosial, termasuk didalamnya industrialisasi, urbanisasi, deferensiasi, sekulerisasi, sentralisasi, dan sebagainya. Bahkan modernisasi dianggap sebagai proses transformasi nilai. Artinya untuk mencapai status modern, struktur dan nilai-nilai tradisional secara total harus diganti dengan nseperangkat struktur dan nilai-nilai modern.8

Masyarakat urban mula-mula barangkali dibagi dalam kotak-kotak rapat oleh struktur sosial ganda (plural), batas-batas interaksi antara kelompok-kelompok etnis telah memudar akibat bangunan-bangunan perkotaan dan penduduk yang kian padat. Dalam studinya tentang sebuah kota kecil di Jawa, Clifford Geertz menyayangkan tidak adanya integrasi antara berbagai kelompok etnis dan budaya

6 Fredrik Barth, Ethnic Group and Boundaries, The Social Organization of Culture Difference

(Oslo: Johansen&Nielsen Boktrykkeri, 1969), 15.

7 Munandar Soelaiman, Dinamika Masyarakat Transisi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1993),

93.

(6)

22

di dalam kota. Geertz menggunakan istilah “hollow town) (kota kosong) untuk menggambarkan situasi di mana suatu masyarakat kota bukan merupakan struktur sosial yang terintegrasi namun lebih bersifat kombinsi daripada masyarakat-masyarakat kecil.9

Melalui suatu proses yang digambarkan di atas, ada kesadaran yang semakin tumbuh tentang masalah-masalah bersama, suatu peningkatan rasa perkotaan. Penghuni kota menyadari bahwa mereka akan pindah keluar dari lingkungan wilayah tempat tinggal maupun dari pekerjaan mereka untuk menduduki posisi sosial dan pemukiman yang baru. Karena monopolisasi etnis pekerjaan yang tradisional sedang mengalami keruntuhan, maka kesempatan-kesempatan bekerja, dalam teori, terbuka untuk semua anggota kelompok etnis.10

Sedangkan melihat dinamika kelompok masyarakat pedesaan, bahwa dalam perpaduan beberapa orang atau kelompok suku atau keturunan di pedesaan dilatarbelakangi oleh dorongan upaya untuk memenuhi kebutuhan yang sama dari sekumpulan individu. Situasi ini oleh Cooley11 disebut community atau masyarakat setempat (selanjutnya disebut komunitas). Menurut Cooley12, identitas sosial

9Clifford Geertz, The Social History of an Indonesia Town (MIT Press, Cambridge 1965),

153-204.

10Hans-Dieter Evers, Sosiologi Perkotaan: Urbanisasi dan Sengketa Tanah di Indonesia dan

Malaysia (Jakarta: LP3ES, 1982), 58.

11Charles Horton Cooley, Human Nature and the Social Order (New York: Scribners, 2005),

5.

12Cooley populer dengan salah satu konsep dalam karyanya, “Concept of the Looking Glas

Self”, bahwa konsep hubungan diri ini atau bagaimana seseorang memandang diri sendiri bukanlah fenomena tersendiri. Melainkan mencakup hal-hal lain. Ia mengatakan bahwa masyarakat dengan

(7)

23

komunitas adalah anggota-anggota kelompok secara fisik berdekatan satu sama lain jumlah anggotanya kecil, kelanggengan hubungan antar anggota kelompok dan keakraban relasi sosial.13

2. Kontruksi Kultural Masyarakat Urban

Masyarakat perkotaan sering diidentikan dengan masyarakat modern dan dipertentangkan dengan masyarakat pedesaan yang akrab dengan sebutan masyarakat tradisional, terutama dilihat dari aspek kulturnya. Masyarakat modern adalah masyarakat yang sebagian besar warganya mempunyai orientasi nilai budaya yang terarah ke kehidupan dalam peradaban masa kini. Pada umumnya masyarakat modern tinggal di daerah perkotaan sehingga disebut masyarakat kota. Masyarakat modern sering dibedakan antara masyarakat pedesaan dengan masyarakat perkotaan. Tetapi perbedaan tersebut tidak mempunyai hubungan dengan pengertian masyarakat sederhana karena dalam masyarakat modern, seberapapun kecilnya desa, tentu ada pengaruh dari kota. Pembedaan antara masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan, pada hakikatnya bersifat gradual. Sulit untuk memberikan batasan yang dimaksudkan dengan perkotaan karena adanya hubungan konsentrasi penduduk dengan gejala-gejala sosial yang dinamakan urbanisme.

individu tidak menunjukkan fenomena yang dapat dipisahkan, namun hanya aspek kolektif dan distributif dari hal yang sama. Lebih lanjut Cooley juga menegaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan yang melekat untuk menjangkau, berinteraksi, atau bersosialisasi dengan orang-orang atau benda-benda yang mengelilinginya.

(8)

24

Masyarakat perkotaan sering disebut juga urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat-sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Perhatian khusus masyarakat kota tidak terbatas pada aspek-aspek seperti pakaian, makanan dan perumahan. Tetapi mempunyai perhatian lebih luas lagi. Orang-orang perkotaan sudah memandang penggunaan kebutuhan hidup, artinya oleh hanya sekedarnya atau apa adanya. Hal ini disebabkan oleh pandangan warga kota sekitarnya. Kalau menghidangkan makanan misalnya, yang diutamakan adalah bahwa yang menghidangkannya mempunyai kedudukan sosial yang tinggi. Kehidupan keagamaan masyarakat perkotaan berkurang jika dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa. Kegiatan-kegiatan keagamaan hanya berpusat pada tempat peribadatan, seperti Masjid, Gereja. Sedangkan di luar itu, kehidupan masyarakat berada dalam lingkungan ekonomi, perdagangan. Cara kehidupan demikian mempunyai kecenderungan ke arah keduniawian, jika dibandingkan dengan kehidupan masyarakat desa yang cenderung ke arah keagamaan yang ketat.14

Masyarkat perkotaan pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang terpenting di sini adalah manusia perorangan atau individu. Jalan pikiran rasional yang pada umumnya dianut masyarakat perkotaan, menyebabkan bahwa interaksi-interaksi yang terjadi lebih

14 Hans-Dieter Evers, Sosiologi Perkotaan: Urbanisasi dan Sengketa Tanah di Indonesia dan

(9)

25

didasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor pribadi. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar. Hal ini sering menimbulkan pertentangan antara golongan satu dengan golongan lainnya. Seperti dikatakan Daniel Lemer dalam teori modernisasinya yang terkenal, bahwa dengan adanya urbanisasi timbul struktur-struktur komunikasi, yang secara psikologi individual dinamakan “empati”, yaitu kemampuan psikologis seseorang membayangkan dirinya dalam peranan sosial lain yang ada di waktu itu.15

Kota merupakan suatu masalah tersendiri. Kota bukan merupakan, seperti halnya desa, suatu struktur sosial yang kurang lebih homogen, yang unsur-unsurnya cenderung terulang-ulang seperti suatu corak kertas hiasan dinding (yang berjumbai di pinggir-pinggirnya) di sekuruh pedesaan. Kota lebih merupakan suatu gabungan, dan hanya tersusun secara kebetulan dari struktur-struktur sosial yang terpisah-pisah, dan yang paling penting adalah birokrasi pemerintahan, jaringan pasar, dan semacam versi terbalik dari sistem desa.16 Masyarakat perkotaan yang kita ketahui selalu identik dengan sifat yang individual, egois, materialistis, penuh kemewahan, dikelilingi gedung-gedung yang menjulang tinggi, perkantoran yang mewah, dan pabrik-pabrik yang besar. Asumsi dasar kita tentang kota adalah tempat kesuksesan seseorang. Kehidupan masyarakat kota, lebih melihat kota pada dua sisi, yaitu

15 Daniel Lemer, The Passing of Traditional Society (New York: The Free Press, 1958). 16 Clifford Geertz, The Social History of an Indonesian Town (Cambridge: Massachussets,

(10)

26

aspek fisik dan aspek mental. Pertama aspek fisik, pada aspek fisik ini lebih melihat pada aspek struktur sosial kota yang dapat diperinci dalam beberapa gejala sebagai berikut:

a. Heterogenitas sosial. Kehidupan penduduk mendorong terjadinya persaingan dalam pemanfaatan ruang. Orang dalam bertindak memilih-milih yang paling menguntungkan bagi dirinya sehingga tercapai spesialisasi.

b. Hubungan sekunder, Jika hubungan antarpenduduk di desa disebut primer, hubungan atarpenduduk di kota disebut sekunder. Pengenalan dengan orang lain serba terbatas pada bidang hidup tertentu. Hal ini karena tempat tinggal juga cukup terpencar dan saling mengenal hanya menurut perhatian antarpihak. Pengawasan sekunder. Di kota orang tidak memedulikan perilaku pribadi sesamanya. Meskipun ada kontrol sosial, sifatnya nonpribadi. Selama tidak merugikan bagi umum, tindakan dapat ditoleransikan.

c. Toleransi sosial. Orang-orang kota secara fisik berdekatan, tetapi secara sosial berjauhan.

d. Mobilitas sosial. Di sini yang dimaksudkan adalah perubahan status sosial seseorang. Orang menginginkan kenaikan dalam jenjang kemasyarakatan. Dalam kehidupan kota, segalanya diprofesionalkan,

(11)

27

dan melalui profesinya orang dapat naik posisinya. Selain usaha dan perjuangan pribadi untuk berhasil, secara kelompok seprofesi juga ada solidaritas kelas. Ikatan sukarela. Secara sukarela orang menggabungkan diri ke dalam perkumpulan yang disukainya. Individualisasi. Ini merupakan akibat dari sejnis atomisasi. Orang dapat memutuskan hal-hal secara pribadi, menentukan kariernya tanpa desakan orang lain. Segregasi keruangan. Akibat kompetisi ruang terjadi pola sosial berdasarkan persebaran tempat tinggal sekaligus kegiatan sosial-ekonomis. Maka terjadilah semacam pemisahan berdasarkan ras. Misalnya ada wilayah kaum Cina, Arab, orang patuh beragama (kauman) dan lainnya.

Kedua, aspek mental lebih melihat pada aspek kejiwaan masyarakat kota. Adapun kejiwaan masyarakat kota dapat diperinci atas beberapa gejala. Atomisasi dan pembentukan massa, kepekaan terhadap rangsangan dan sikap masabodo, egalisasi dan sensasi, industri kesenangan dan pengisisan waktu luang.17

Di samping karakteristik masyarakat urban yang telah dijelaskan di atas, dalam masyarakat urban beragam bentuk rumah adat yang kaya di Indonesia, menunjukkan hasil yang utuh dari usaha masyarakat mencakup tempat hunian bagi

(12)

28

keluarganya. Perkembangan ini mengandung unsur tanggungjawab setiap keluarga mengupayakan pengadaan perumahannya sendiri, baik secara individual maupun kolektif. Proses perumahan dikembangkan atas dasar unit keluarga sebagai intinya, terintegrasi secara imbang dengan lingkungan sekitarnya. Ini adalah ciri pokok perkembangan rumah adat Indonesia yang sekaligus membuktikan bahwa perumahan berada dalam dua dominan berbeda yaitu: domein privat, yakni upaya merumahkan sendiri yang berlawanan dengan perumahan domein publik yang berupaya merumahkan warga secara formal. Pola perumahan yang diusahakan oleh masyarakat masih terus berlangsung, baik di kota maupun desa dalam keadaan dan proses yang berbeda, karena daya dukung lingkungan sudah amat terbatas dan kemampuan masyarakat umumnya rendah.18

Kota adalah ruang domisili sekaligus arena sosialisasi dan praktik budaya para pemukimnya. Ekspresi kultural itu dapat diakomodasi secara selayaknya. Dinamika kehidupan masyarakat urban dalam mencari sebuah identitas baru sebagai eksistensi dalam sebuah kelompok atau komunitasnya tak lepas dari kontruksi lingkungan sosial, budaya dan tradisi. Lingkungan, bagi masyarakat urban mendorong untuk mengekspresikan diri dan terlibat dalam komunitas atau

18 Lihat Freek Colombijn, Martine Barwegen, Purnawan Basundoro, Johny Alfian Khusyairi,

(13)

29

pengorganisasian sebuah pemukiman. Pada situasi inilah masyarakat urban akan menentukan identitasnya yang baru.19

Studi-studi sosial secara definitif mengenal istilah pembedaan masyarakat dalam dua tipologi, yaitu masyarakat pedesaan dan perkotaan. Desa didefinisikan sebagai wilayah sosial dengan karakteristik khas masyarakatnya, seperti mengutamakan harmonisasi ketimbang konflik, mematuhi nilai tradisional, memiliki semangat kolektivitas, kekeluargaan, dan berbagai karakteristik sopan-santun atau ramah-tamah lainnya. Sedangkan kota digambarkan sebagai wilayah yang dihuni oleh masyarakat berkarakteristik individualis, egois, kompetitif, produktif, dan berbagai karakteristik manusia modern lainnya. Menilik pada tipologi tersebut, Durkheim menyatakan bahwa perubahan yang terjadi dalam masyarakat solidaritas mekanik ke masyarakat solidaritas organik.20

Maka kedua tipologi masyarakat di atas dapat dipetakan bahwa Desa merupakan sebuah pengertian sosial atau konsep yang merujuk pada orang-orang atau sekumpulan individu, yang saling berhubungan antara satu sama lain dan tinggal di suatu tempat di luar daerah perkotaan. Hubungan sosial masyarakat pedesaan kerap didasarkan pada kekuatan ikatan tali persaudaraan, kolektifitas, kekeluargaan dan ikatan perasaan secara psikologis. Hubungan-hubungan sosial

19Lebih lanjut bisa dilihat dalam karyanya Derya Oktay, “The quest for urban identity in the

changing context of the city northern cyorus”, http://ww.webjournal.unior.it (www.elsevier.com/locate/cities), The International Journal of Urban Policy and Planning, Cities, Vol. 19, No. 4, pp. 261–271, 2002, 261.

(14)

30

pedesaan mencerminkan kesatuan-kesatuan kelompok yang didasari hubungan kekerabatan atau garis keturunan.21

3. Kerangka Konseptual tentang Identitas Urban

Kota adalah produk fisik dari tautan berbagai macam jaringan yang saling bekerjasama, seperti jaringan ekonomi, budaya, sosial dan politik. Kota merupakan produk budaya yang beragam satu dengan lainnya, karena jaringan pembentukannya sangat beragam. Menurut Munford (1968), kota sangat spesifik terhadap budaya, tidak ada dua kota pun yang sama persis, meskipun memiliki latar belakang budaya yang serupa. Meskipun tiap kota sangat spesifik, tetapi Lynch percaya bahwa ada kesepakatan publik mengenai elemen-elemen yang dikenal pada suatu kota.22

Identitifikasi citra kota dengan proses yang panjang dapat membentuk identitas baru sebuah kota. Kevin Lynch mendefinisikan identitas urban tidak dalam arti keserupaan suatu obyek dengan yang lain, tetapi justru mengacu kepada makna individualitas yang mencerminkan perbedaannya dengan obyek lain serta pengenalannya sebagai entitas tersendiri. Lynch menegaskan bahwa identitas kota adalah citra mental yang terbentuk dari ritme biologis tempat dan ruang tertentu

21Durkheim, The Division of Labour,,,

(15)

31

yang mencerminkan waktu (sense of time), yang ditumbuhkan dari dalam secara mengakar oleh sosial, ekonomi, budaya masyarakat kota itu sendiri.23

Teori identitas urban ini dipengaruhi oleh teori yang diformulasikan Kevin Lynch, seorang tokoh peneliti kota. Risetnya yang cukup populer didasarkan pada citra mental jumlah penduduk dari kota tersebut. Dalam risetnya, ia menemukan bahwa betapa pentingnya citra mental karena citra jelas akan memberikan banyak kontribusi penting bagi masyarakatnya, seperti kemampuan untuk berorientasi dengan mudah dan cepat disertai perasaan nyaman, identitas yang kuat terhadap suatu tempat, dan keselarasan hubungan dengan tempat-tempat lain. Menurut Lynch, bahwa citra lingkungan merupakan proses dua arah antara pengamat dengan benda yang diamati, atau disebut juga sebagai kesan atau persepsi antara pengamat terhadap lingkungannya. “The creation of the environmental image is a two way process between observer and observed” Agrumentasi Lynch di atas menandakan bahwa dalam proses pembentukan sebuah identitas urban terbentuk melalui suatu pengamatan citra atas kota itu sendiri, hal ini dapat berkembang dengan waktu yang lama untuk menjadi sebuah identitas kolektif (masyarakat urban). Citra bukanlah identitas urban, melainkan sebuah identitas urban dapat dibentuk oleh proses pemaknaan citra kota.24

23 Kevin Lynch, The Image of The City (M.I.T. Press, Cambridge, Massachusetts, 1960), 131. 24 Kevin Lynch, The Image of The City,,

(16)

32

Identitas sebagai seuatu ciri khas sebuah kota berarti sesuatu yang secara kuat menunjukkan kesamaan dan kesatuan, sehingga dapat dibedakan dari yang lainnya. Seperti yang dikemukakan oleh Kevin Lynch, ia beranggapan bahwa identitas kota adalah sesuatu hal unik yang membedakan dengan kota lainnya. Identitas sebuah kota memiliki peranan penting bagi masyarakat lokal maupun pengunjung dalam konteks berbeda, karena kota-kota secara bertahap berubah dan berevolusi ke dalam bentuk yang baru, dan identitas perkotaannya dibentuk melalui interaksi kompleks antara elemen-elemen alam, sosial, dan lingkungan yang terbagangun.25 Namun secara teknis, identitas perkotaan merupakan sesuatu yang secara tegas konstan dalam konteks perubahan tersebut. Lingkungan perkotaanpun harus dipertimbangkan dalam perspektif kesejarahan, tidak hanya sejarah dari arsitektur bangunan yang dibangun sebelumnya, melainkan keseluruhan kehidupan sosial ekonomi perkotaannya, dengan pertimbangan utama terhadap kehidupan manusiannya, bentuk bangunan dan alam.26

Kota-kota terus berubah dan berkembang dalam bentuk baru, di mana identitas perkotaan diciptakan melalui interaksi yang kompleks dari unsur-unsur alam, sosial dan bangunan. Oleh karena itu, lingkungan perkotaan harus dipertimbangkan dari perspektif sejarah, bukan hanya dengan memahami

25 Derya Oktay, “How Can Urban Context Maintain Urban Identity and Sustainability?:

Evaluations od Taormina (Sicily) and Kyrenia” (North Cyprus). http://ww.webjournal.unior.it (www.elsevier.com/locate/cities)

26Gede Budi Suprayoga, “Identitas Kota Sawahlunto Paska Kejayaan Pertambangan Batu

(17)

33

signifikansi historis bangunan, namun melalui evaluasi perkotaan konteks lokal. Sehubungan dengan aktivitas manusia, bentuk bangunan dan alam. Tingkat yang paling dasar, kota-kota diidentifikasi dalam hal pengaturan geografis mereka; namun unsur-unsur yang dibangun adalah bentuk paling penting dalam mempengaruhi identitas kedua dengan cara yang positif dan negatif dalam waktu singkat. Hal ini juga penting dalam penciptaan “dalam arti tempat”, merupakan faktor penting guna mencapai identitas dan keberlanjutan pemukiman perkotaan seperti yang dinyatakan oleh banyak theoritis.27 Identitas perkotaan erat terkait dengan keberlanjutan perkotaan, faktor penting untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat urban di kota, mencakup aspek-aspek lingkungan, ekonomi dan sosial.

Berdasarkan sudut demografis, kota dirumuskan sebagai pengelompokan orang atau penduduk dalam ukuran jumlah dan wilayah tertentu. Sebagai suatu prosedur yang umum, kota (urban) adalah tempat pemukiman yang mempunyai jumlah penduduk besar. Masyarakat perkotaan sering disebut juga urban community. Pengertian ini lebih ditekankan pada sifat-sifat kehidupan serta ciri-ciri kehidupan yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Perhatian khusus masyarakat kota tidak terbatas pada aspek-aspek, seperti pakaian, makanan dan

27 Lihat juga Derya Oktay, “How can urban context maintain urban identity and

sustainability?: Evaluations of Taormina (Sicily) and Kyrenia (North Cyprus”

(www.elsevier.com/locate/cities), The International Journal of Urban Policy and Planning, Cities, Vol. 19, No. 4, pp. 261–271, 2006, 1-4.

(18)

34

perumahan, tetapi lebih luas lagi.28 Dalam kajian kehidupan keberagamaan, banyak ahli menggunakan konsep Geertz tentang agama yang melihatnya sebagai pola bagi tindakan. Dalam hal ini agama merupakan pedoman yang dijadikan sebagai kerangka interpretasi tindakan manusia. Selain itu, agama juga merupakan pola dari tindakan, yaitu sesuatu yang hidup dalam diri manusia dan tampak dalam kehidupan kesehariannya. Di sini agama dianggap sebagai bagian dari sistem kebudayaan.29

Pola bagi tindakan terkait dengan sistem nilai atau sistem evaluatif, dan pola dari tindakan terkait dengan sistem kognitif atau sistem pengetahuan manusia. Hubungan antara pola bagi dan pola dari tindakan itu terletak pada sistem simbol yang memungkinkan pemaknaan dilakukan.30 Maka Geertz juga menekankan bahwa kontruksi sosial terkait dengan sistem pengetahuan atau refleksi dan pengetahuan berkesadaran yang melibatkan seperangkat pengalaman manusia di dalam kaitannya dengan sosial kulturalnya.31 Tradisi lokal mengandung ambivalensi. Sebagai alat untuk menciptakan lokasi sosial dan membentuk solidaritas di suatu ruang yang terbatas, yang berada di atas segala perbedaan dan keberadaan dalam status sosial, prestise kultural, dan peluang-peluang ekonomi,

28 Adon Nasrullah Jamaludin, Sosiologi Perkotaan: Memahami Masyarakat Kota dan

Problematikanya (Bandung: Pustaka Setia, 2015), 35-44.

29 Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama (Yogyakarta: Kanisius, 1992), 8-9. 30Nur Syam, Islam Pesisir (Yogyakarta: LkiS, 2005), 1-2.

31 Lihat juga Mark R. Woodward dalam tulisannya Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus

(19)

35

tradisi lokal memang dapat menegakkan integrasi sosial. Tetapi pada saat yang sama menyebabkan terciptanya batas-batas dan garis pemisah baru. 32 Solidaritas sosial masyarakat urban dalam merepresentasikan religositasnya dapat dielaborasi melalui serangkaian interaksi masyarakat dengan sistem ruang. Ruang sebagai kelengkapan yang terdiri dari kekuatan simbolisme dalam membangun jaringan bangunan terjadi dominasi dan subordinasi. Ruang juga membentuk solidaritas dan kerjasama antar manusia.33

Ruang sosial memiliki keragaman objek, alam dan sosial, termasuk didalamnya jaringan dan jalur yang mampu memfasilitasi pertukaran suatu barang dan informasi. Pada prinsipnya, ruang sosial tidak selalu jaringan pertukaran barang saja tetapi juga relasi yang terbangun. Ruang dapat mengkontruksi masyarakat secara alami tanpa selalu mempengaruhi secara materialitas.34

Social space contains a great diversity of objects, both natural and social, including the networks and pathways which facilitate the exchange of material things and information. Such 'objects' are thus not only things but also relations. As objects, they possess discernible peculiarities, contour and form. Social labour transforms them, rearranging their positions within spatia-temporal configurations without necessarily affecting their materiality, their natural state.

32 Hans Dieter Evers dan Rudigrff, Urbanisme di Asia Tenggara; Makna dan Kekuasaan

dalam Ruang-Ruang Sosial (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2002), 168.

33 Peter Conoly (ed), Aneka Pendekatan Studi Agama (Yogyakarta: LKiS, 2002), 36. 34 Henri Lefebvre, The Production of Space (Oxford, OX, UK: Cambridge, Massachusets,

(20)

36

B. Teori Hibriditas atau Liminalitas Hommi K. Bhabha

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan “integrasi” sebagai pembauran hingga menjadi kesatuan. Kata kesatuan mengisyaratkan berbagai macam elemen yang berbeda satu sama lain mengalami proses pembauran. Jika pembauran telah mencapai suatu perhimpunan, maka gejala perubahan ini dinamai integrasi. Dalam bahasa inggris, integrasi (integration) antara lain bermakna keseluruhan atau kesempurnaan.35 Homi K. Bhabha adalah seorang doktor filsafat dari Oxford University yang lahir dalam masyarakat Paris Bombay, India. Bhabha juga seorang pengajar di beberapa universitas, antara lain Princeton, Pennylvania, juga School of Cristism and Theory di Darmouth Coledge. Kajian pascakolonial Bhabha cukup dipengaruhi oleh para pemikir post-strukturalis seperti Jacques Derrida, Jacques Lacan, dan Michel Foucault. Bagi Bhabha antara teori dengan praktek tidak dapat dipilih salah satu saja untuk dikritik. Teori dan praktek berada bersebelahan. Teori adalah wahana ideologi dan dalam mewujudkannya, teori menciptakan situasi politis. Dengan menyandingkan teori dan praktek, Bhabha berusaha menemukan pertalian dan ketegangan antara keduanya yang melahirkan hibriditas. Bhabha melukiskan bagaimana budaya-budaya itu bergerak keluar masuk ruang ketiga dengan indahnya.36

35 Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (Jakarta: Balai Pustaka, 1998). 3636Homy K Bhabha, The Location of Culture (London and New York: Routletge, 1994), 36.

(21)

37

Sistem budaya sebagai identitas kultural merupakan representasi masyarakat hibrid, dan beragam kultur membuka ruang kontruksi suatu kebudayaan dalam masyarakat dengan pemaknaan baru yang terus berkembang. Seperti kata Hommi K. Bhaba, budaya dan sistem budaya terbentuk dalam ruang ketiga. Independensi itu mengambil wajah dalam hibriditas. Di mana, hibriditas identitas memunculkan diri dalam budaya, bahasa, ras dan sebagainya. Menurut Benhabib (2000), budaya adalah konteks di mana kita perlu menempatkan diri, untuk itu hanya berdasarkan interpretasi, orientasi dan nilai-nilai yang diberikan oleh budaya bahwa kita dapat merumuskan identitas kita untuk mengatakan, ‘siapa kita’ dan ‘darimana kita berasal’.37

Berdasarkan pandangan Bhabha, maka cultural studies memaknai identitas sebagai sebuah entitas yang dapat diubah menurut sejarah, waktu dan ruang tertentu. Identitas bukanlah sesuatu yang melekat begitu saja, tetapi merupakan serangkaian proses yang terus berkembang menjadi seperti yang tercitrakan. Mereka membuat dan mendefinisikan dirinya dalam sebuah kontruksi yang ideal tentang diri mereka. Sebagai konsekuensinya mereka akan tergabung dalam sebuah solidaritas kebersamaan atas dasar gagasan yang serupa. Dengan demikian, proses identifikasi seseorang dari pengaruh lngkungan sosial sehingga melahirkan sebuah identitas baru sangat dimungkinkan. Sebagimana Canclini yang mengintrodusir

37 Culture is the context within which we need to situate the self, for it is only by virtue of

the interpretations, orientations and values provided by culture that we can formulate our identities, say ‘who we are’, and ‘where we are coming from

(22)

38

kecenderungan persentuhan budaya antar kultur ini sebagai budaya hibrida atau hybrid culture (budaya hybrid).38

Upaya mewujudkan identitas sosial dapat dijembatani oleh Homi K Bhabha dalam karyanya “The Location of Culture, ia menyatakan bahwa keterikatan multikultural merupakan hasil dari kesadaran bersama atas apa yang dirasakan bersama oleh masyarakat tradisional yang lahir sepanjang sejarah itu terjadi. Bahkan suatu perbedaan dalam lintas budaya tidak bukanlah sesuatu penghalang atas kesedaran dimana mereka menempati ruang yang sama. Pemahaman atas hibriditas ini bukan sekedar nalar final atau sebuah realitas, tetapi bagaimana kita menuju artikulasi aktivitas manusia yang memberi nilai rasionalitas yang ia rasakan.39 Rumusan tentang hybrid culture bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia, sebagaimana Soekarno pada pidatonya menjawab permintaan BPUPKI tentang dasar negara Indonesia yang segera berdiri dengan sangat sadar memilih pandangan yang khas dianut oleh Barat, yakni mendasarkan negara pada

38Bagi Canclini, dijelaskan dalam bukunya Hybrid Cultures: Strategies for Entering and

Leaving Modernity (Minneapolis London: University of Minnesota Press, 1995), xxiii. Bahwa studi

tentang hibriditas telah mengubah bicara tentang identitas, budaya, perbedaan, ketidaksetaraan, multi budaya, dan tentang pasangan konseptual yang digunakan untuk mengatur konflik dalam ilmu sosial. Yakni tradisi atau modernitas, lokalitas atau global. Mengapa isu hibriditas begitu penting, bagi Canclini istilah hibriditas secara khusus untuk mengidentifikasi merupakan hasil dari karakterisasi konsekuensi sejak awal modernitas, bahasa elit dan populer pasca terjadinya ekspansi Eropa ke Amerika. Canclini berpendapat bahwa inti dari gagasan budaya hibrid adalah gagasan antropologi yang berfokus pada tradisi dan sosiologi dengan berkonsentrasi pada modernitas. Di samping itu juga studi hibriditas ini merupakan disiplin dalam mempelajari produksi ketidaksetaraan melalui segmentasi pasar tenaga kerja di mana perbedaan dalam pekerjaan, gaji, dan status beralih ke kelompok yang berada berdasarkan faktor-faktor kelas, jenis kelamin, dan ras.

39Homy K Bhabha, The Location of Culture (London and New York: Routletge, 1994),

(23)

39

kebangsaan, bukan pada etnis, agama, atau pandangan politik. Dengan demikian, identitas Indonesia akan terus berada dalam ruang tarik-ulur yang bergerak, yakni ruang ketiga, ruang ambang.40

Berkembangnya perayaan ritual keagamaan yang dibingkai model kebudayaan lokal secara kolektif, Canclini dalam argumentasinya cukup meyakinkan, bahwa identias bukanlah sesuatu yang melekat begitu saja. Tetapi merupakan serangkaian proses yang terus menerus berkembang menjadi seperti yang tercitrakan (dalam hal ini simbol-simbol ritual sosial kegamaan dan kebudayaan). Sebagaimana Canclini yang mengintrodusir kecenderungan persentuhan budaya antar kultur ini sebagai hybrid culture (Canclini, 1995). Maka, ruang-ruang bersama dalam tradisi kultural keagamaan masyarakat urban merupakan jalan yang kuat untuk menjadi identitas kolektif. Tradisi ini sebagai strategi adaptasi masyarakat muslim dalam menghadapi dinamika zaman. Secara lebih luas, pemaknaan terhadap tradisi sebagai bentuk konstruksi simbol komunal yang mengikat bersama. Maka konstruksi dimaksudkan di atas sebagai bentuk penempelan simbol-simbol kultural yang kemudian menjadi identitas pribadi atau kolektif. Kontruksi kultural seperti yang dijelaskan Homi K. Bhaba di atas, mengembangkan hibriditas dalam wacana antara asli dan campur dengan konteks kekuasaan politik kultural penjajah di mana ia merumuskannya bahwa hibriditas merupakan produk kontruksi kultural kolonial

40 Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto (ed), Hermeneutika Pascakolonial (Yogyakarta:

(24)

40

yang mau tetap membagi strata identitas murni asli penjajah dengan ketinggian kultur yang didiskriminasikan dengan kaum campuran.

Hybridity is the sign of productivity og colonial power, its shifting forces and fixities: it is the name for the strategic reversal of the process of domination through disavowl (that is, the production of discriminatory identities that scure the pure an original identity of authority). Hybridity is the revolution of the assumption of colonial identity through the repetition of discriminatory identity effects.41

Bhabha membangun pemikiran tentang hibriditas di atas fondasi pemikiran Edward Said dan Fanon. Bhabha belajar dari Said melalui karyanya yang klasik, Orientalisme bahwa kecenderungan studi orang Eropa terhadap Asia bersifat Eropa centris dan oposisi biner. Menurut Said, studi orientalisme adalah upaya untuk menjinakkan orang Asia dan memandang mereka sebagai subyek yang diam, di bawah kuasa Eropa. Hasilnya, gambaran tentang Timur adalah gambaran yang homogen, baku dan merendahkan.42 Dari Fanon, yang mengkaji mereka yang terjajah dalam buku Black Skin White Masks, Bhabha belajar bahwa dari sisi orang yang dijajah ada hasrat untuk menjadi sama sekaligus takut terhadap penjajah.43 Proses elaborasi pemikiran di atas, Bhabha mengintegrasikan keduanya. Bagi Bhabha, relasi penjajah dan pihak terjajah bukan oposisi biner. Dalam relasi tersebut ada timbal balik di antara mereka, si penjajah tidak pernah bisa sepenuhnya

41 Homi K. Bhabha, “Sign Taken for Wonders” in H.L. Gates Jr. (ed.), Chicago: Yniversity of

Chicago Press, 1985.

42 Homy K Bhabha, The Location,, 43 Fanon, Black Skin White Masks, 1986.

(25)

41

menguasai si terjajah. Si terjajah tidak pernah sepenuhnya takluk kepada penjajah. Keadaan inilah yang membuka ruang negosiasi antara mereka.

Kelompok esensialisme meyakini, identitas adalah sesuatu yang alami. Argumentasinya bahwa seseorang atau sekelompok orang, secara alami terlahir sebagai orang beretnis tertentu. Secara natral, orang Jawa misalnya, memiliki karakteristik fisik dan budaya tertentu, yang membedakannya dengan etnik yang lain. Berbeda dengan kelompok anti esensialisme, yang beranggapan bahwa identitas sepenuhnya dibangun secara sosial. Karena itu tidak ada yang disebut identitas baku. Ien Ang dalam bukunya On Not Speaking Chinese44, menjelaskan bahwa Hibriditas merupakan cara pandang yang berada di luar pemahaman essensialisme dan anti essensialisme. Hibriditas mempermasalahkan segala bentuk identitas yang bersifat kaku. Dalam essensialisme, kekakuan dan kebakuan itu adalah etnik yang alami. Dalam anti essensialisme kekakuan itu adalah pilihan bebas. Hibriditas mampu melampaui batas etnis, tetapi tidak menghapuskannya secara total. Hibriditas mengaburkan batas sekaligus mengafirmasi batas identitas dalam pengertian yang cair. Dengan demikian, disini hibriditas menolak pemahaman essensialis yang melihat identitas sebagai sesuatu yang baku, kaku, dan alami. Ia juga menolak pandangan anti essensialisme yang memutlakkan pilihan bebas manusia dalam menentukan identitasnya. Hibriditas meyakini tidak ada satu

44 Ien Ang, On Not Speaking Chinese: Living Between Asia and the West (London:

(26)

42

kategori identitas yang murni. Bahkan, Ieng Ang juga menolak pemahaman akan identitas yang tidak punya batas sama sekali.45

Keberagaman kebudayaan dalam masyarakat multikultural melahirkan tradisi dan identitas lokal masyarakat beragama. William James mengatakan untuk mencapai kondisi kehidupan mereka dengan penyerahan diri dan menahan hawa nafsu guna memperoleh kebahagiaan yang penuh gairah, sesuai dengan kebutuhan mereka. Di sini pula agama menurut James telah memberikan kepada anggota-anggota dari setiap kelompok, itu suatu ikatan yang kuat untuk kepercayaan tradisional yang dihayati bersama tentang eksistensi kebudayaan mereka. 46 Berbagai sumber, bentuk dan ekspresi suatu kebudayaan dimanapun berada merupakan perpaduan elemen tradisi lokal dengan keragaman budaya dan tradisi lokal yang lain. Pada perkembangan berikutnya perpaduan budaya yang terjadi bukan hanya berlangsung secara lokal atau antar etnis tetapi lebih luas lagi, bahkan merupakan sebuah langkah atau proses persilangan budaya universal yang berlangsung melalui interaksi sosial dan komunikasi budaya dengan berbagai bangsa dan media, diantaranya melalui medium kesenian, pergaulan sehari-hari, bahkan medium “tuker-tambah” budaya dengan unsur-unsurnya yang spesifik. (Adipurnomo, 2013:26). Proses ini menciptakan sebuah kolase atau mosaik budaya

45 Darwin Darmawan, Identitas Hibrid Orang Cina (Yogyakarta: Gading Publishing, 2014),

24-26.

46 Harold R. Issacs, Pemujaan Terhadap Kelompok Etnis: Kelompok dan Perubahan Politik

(27)

43

baru, antara lain perpaduan antar dua unsur budaya atau lebih, utamanya melalui cara-cara tradisional yang diikuti terbentuknya entitas budaya baru. Dalam kajian Homy K Bhabha, salah satu tokoh dalam kajian poskolonial, hibriditas merupakan salah satu konsep yang penting.47

Seperti yang dikemukakan oleh Berger dan Luckmann, pergulatan yang terjadi dalam pembentukan identitas merupakan proses dialektika yang terjadi terus menerus dalam kehidupan manusia dengan lingkungan sosialnya. Dialektika tersebut terjadi dua arah, yaitu ke luar (antara individu dengan lingkungan sosialnya) dan ke dalam (antara kebutuhan individu dengan identitas yang terbentuk karena pengaruh lingkungan dan interaksi sosial). Sementara Burke dan Stets menyatakan, identitas terbentuk karena posisi interaksi dan negosiasi terus-menerus antara agensi atau pelaku dan struktur sosial.48

Gagasan tentang identitas masyarakat urban telah banyak ditelitian. Sebagaimana hasil riset beberapa karya yang didapat penulis, setidaknya ada beberapa contoh hasil penelitian, diantaranya: “The quest for urban identity in the changing context of the city northern cyorus”, salah satu karya Derya Oktay, pengajar di Eastern Mediterranean University. Derya Oktay, dalam karyanya berupaya menjelaskan dinamika masyarakat urban dalam mencari sebuah identitas baru melalui sebuah komunitas. Dalam hal ini Derya menawarkan sebuah teori

47 Homy K Bhabha, The Location of Culture (New York: Routletge, 1994), 122. 48Benny Baskara, Islam Bajo Agama Orang Laut (Banten: Javanica, 2016), 220-221.

(28)

44

identitas urban sebagai hasil studi kasus di konteks pemukiman Cipriot.49 Identitas masyarakat urban terus mengalami perubahan seiring perkembangan sosial budaya yang ada. Berbicara pada wilayah identitas kolektif, seperti Dolores Hayden menegaskan bahwa identitas erat dengan memori (Haydn, 1997:9). Hal itu hadir melalui suatu memori dan rasa antara masa lalu, sekarang dan masa depan secara kontinuitas. Membangun makna identitas memerlukan sebuah kontinuitas narasi.50

Jika berbagai macam elemen yang berada satu sama lain merujuk pada kemajemukan sosial yang telah pula mencapai suatu kehidupan bermasyarakat, maka proses ini dinamai integrasi sosial. Dalam disiplin sosiologi51, integrasi sosial berarti proses penyesuaian unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memiliki keserasian fungsi. Dengan demikian, ada dua unsur pokok integrasi sosial. Pertama, pembauran atau penyesuaian, sedangkan unsur kedua adalah unsur fungsional. Jika kemajemukan sosial gagal mencapai pembauran atau penyesuaian satu sama lain maka kemajemukan sosial berarti disintegrasi sosial. Dengan kata lain, kemajemukan gagal membentuk (disfungsional) masyarakat.52

49Lebih lanjut bisa dilihat dalam karyanya Derya Oktay, “The quest for urban identity in the

changing context of the city northern cyorus”, (www.elsevier.com/locate/cities), The International

Journal of Urban Policy and Planning, Cities, Vol. 19, No. 4, pp. 261–271, 2002, 261.

50 William J.V Neill, Urban Planning and Cultural Identity (New York: Routledge, 2004), 10. 51Emile Durkheim, The Division of Labour in Society (New York: The Free Press a Dvision of

Macmillan, 1984), 158-160

(29)

45

Integrasi sosial di atas menjadi substansi daripada proses identifikasi identitas masyarakat urban. Identitas bukanlah sesuatu yang alami, dapat dikontruksi dan tidak tunggal. Jankis mengatakan bahwa identitas dan identifikasi mengindikasikan bahwa keduanya memiliki jalinan yang kuat. Kontribusi teori ini penekannannya mengenai pentingnya identifikasi sebagai rujukan identitas, karena tanpa tahapan identifikasi tidak akan memahami siapa adalah siapa atau apa adalah apa.53

53 Richard Jankins, Social Identity (London and New York: Routledge Taylor&Francis Group,

Referensi

Dokumen terkait

Abstrak: Buku ajar IPA yang digunakan saat pembelajaran dilakukan oleh guru bersama peserta didik seharusnya mampu mengkonstruksi konsep-konsep yang dipelajari, membiasakan

Pelaksanaan penempatan pegawai sudah dilaksanakan dengan baik namun masih perlu diperhatikan persyaratan kese- suaian antara minat, bakat, pengetahuan, keterampilan

antara peserta dalam sistem pemerintahan, Pemegang saham pengendali+ "ang mungkin merupakan individu+ kepemilikan keluarga+ aliansi blok+ atau perusahaan lain "ang

Suplemen berenergi termasuk salah satu suplemen makanan atau minuman yang terdiri dari komponen multivitamin, makronutrien (karbohidrat, protein), efedrin, taurin,

Bila tanah pondasi pada kedalaman normal p p tidak mampu mendukung beban, sedangkan tanah keras terletak pada kedalaman yang p y g sangat dalam.. Bila pondasi terletak pada

teregang. Hal ini disebabkan karena cairan irigasi yang menetes terus menurus, sedangkan aliran dibawah urine bag tidak lancar kita curigai adanya clots yang

Dalam banyak kasus, sebuah perusahaan e-commerce bisa bertahan tidak hanya mengandalkan kekuatan produk saja, tapi dengan adanya tim manajemen yang handal, pengiriman yang tepat

Puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT pencipta alam semesta yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga dapat tersusun skripsi dengan judul “Analisis