• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUILDING AND ENVIRONMENT STRUCTURING OF PA JUKKUKANG S VILLAGE, SUBDISTRICT BONTOA KABUPATEN MAROS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BUILDING AND ENVIRONMENT STRUCTURING OF PA JUKKUKANG S VILLAGE, SUBDISTRICT BONTOA KABUPATEN MAROS"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PROSIDING 20 12© HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK

Arsitektur

Elektro

Geologi

Mesin

Perkapalan

Sipil

BUILDING AND ENVIRONMENT STRUCTURING OF

PA’JUKKUKANG’S VILLAGE, SUBDISTRICT BONTOA

KABUPATEN MAROS

Yusni Mustari, Suriana La Tanrang & Lina Amalia Pratiwi

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10 Tamalanrea – Makassar, 90245

Telp./Fax: (0411) 586265/(0411) 587707

Abstract

Indonesia is one of the largest archipelago country which each of region has a specific characteristic that can be directly observed from the neighborhood residents. As an archipelago country, Indonesia is generally fast-growing residential areas in the coastal areas. Kabupaten Maros as one of the areas directly adjacent to Makassar Strait, has developed some of the settlements on the coast, one of that is Village Pa'jukkukang. Although settlements growing is on the coast, the settlements are not oriented to the existence of the beach, but on the river, which became a connector to the sea. This caused an impairment quality of the environment, especially in coastal rivers. This study aims to identify the condition of the building layout and neighborhoods, especially in the fishermen settlement, Pa'jukkukang Village, including land use, urban design, circulation systems, open space, a system of environmental quality also infrastructure systems and environment utility. By using both qualitative and quantitative methods, produced a draft direction of improving the quality of buildings and settlements with the zoning analysis which done by dividing the area into several zones. At the end of the study is expected to provide an overview of the direction of improving the quality of urban design and environment in the fishermen settlements Pa'jukkukang Village. It is expected that the results of this study could be followedup in order to improve the quality of the environment and the welfare of the people in Pa'jukkukang Village.

Keywords: Building and Environment Structuring, land use, urban design, circulation systems, open space, the environment quality, infrastructure and utility systems, buildings and environmental improvement

PENDAHULUAN

Desa Pa’jukkukang merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Bontoa tepatnya berada di pesisir timur Kabupaten Maros. Desa Pa’jukkukang merupakan salah satu perkampungan nelayan di pesisir pantai Maros yang memiliki beberapa karakteristik khusus sebab selain berbatasan dengan pesisir pantai, desa ini juga dilalui oleh sungai sehingga permukiman berkembang dari delta sungai. Sebagaimana masyarakat nelayan di daerah lain di Indonesia, masyarakat yang mendiami Desa Pa’jukkukang juga memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat menyebabkan masyarakat biasanya tidak memperdulikan kualitas lingkungan tempat tinggalnya. Hal ini ditandai dengan rumah penduduk yang dibangun tidak mengindahkan aturan sempadan sungai, rendahnya kesadaran penduduk dalam membuang sampah pada tempat yang ditentukan, serta pengeksploitasian hutan bakau yang ada di pesisir pantai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan hasil alam berupa kayu. Selain itu, letak Desa Pa’jukkukang yang dekat dengan Kota Makassar menjadikan desa nelayan ini dipengaruhi oleh dua kultur sosial, yaitu kultur sosial masyarakat kota yang mulai meninggalkan nilai-nilai budaya dan kultur sosial masyarakat desa masih sangat berpegang teguh pada nilai-nilai budaya leluhur dan nilai agama. Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian lebih lanjut mengenai tata bangunan dan lingkungan di kawasan pesisir pantai yang bertujuan untuk mendeskripsikan tata bangunan dan lingkungan pemukiman di kawasan pemukiman nelayan sesuai dengan karakteristik yang mempengaruhinya.

(2)

Building and Environment Structuring

… Yusni Mustari, Suriana La Tanrang & Lina Amalia Pratiwi

Arsitektur

Elektro

Geologi

Mesin

Perkapalan

Sipil

KAJIAN TEORI

1. Tinjauan Tata Bangunan dan Lingkungan

Berdasarkan Permen PU Nomor 06/PRT/M/2007 tentang Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan, rencana tata bangunan merupakan suatu panduan rancang bangun suatu lingkungan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang serta pengendalian bangunan dan lingkungan.

2. Komponen Penataan Bangunan dan Lingkungan

a. Struktur peruntukan lahan b. Intensitas pemanfaatan lahan c. Tata bangunan

d. Sistem sirkulasi dan jalur penghubung e. Sistem ruang terbuka hijau

f. Tata kualitas lingkungan

g. Sistem sarana dan utilitas lingkungan

3. Tinjauan Wilayah Pesisir dan Tepian Air

Menurut Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Kep.10/Men/2003 tentang Pedoman Perencanaan Pengelolaan Pesisir Terpadu, wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang saling berinteraksi, di mana ke arah laut 12 mil dari garis pantai dan sepertiga dari wilayah laut untuk Kabupaten/Kota dan ke arah darat hingga batas administrasi Kabupaten/Kota.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dapat dikategorikan dalam penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Proses penelitian ini terdiri dari pengumpulan data, penyusunan data, dan analisis data. Hasil akhir dari penelitian ini biasanya merupakan hasil identifikasi yang menghasilkan suatu konsep arahan peningkatan kualitas bangunan dan lingkungan. Penelitian ini dilaksanakan di permukiman nelayan Desa Pa’jukkukang Kabupaten Maros (Gambar 1). Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan pertimbangan bahwa Desa Pa’jukkukang merupakan kawasan permukiman nelayan dimana tingkat pendidikan serta kesadaran penduduknya akan pentingnya lingkungan yang baik sangat rendah, sehingga perlu dilakukan kajian mengenai tata bangunan dan lingkungan yang ad yang pada akhirnya menghasilkan suatu konsep peningkatan kualitas bangunan dan lingkungan yang ada.

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian

Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh komponen bangunan dan lingkungan yang ada di Desa Pa’jukkukang antara lain: tata guna lahan, bangunan, sirkulasi, ruang terbuka, kualitas lingkungan, serta sarana dan prasarana. Sementara penarikan sampel dilakukan secara random sampling dimana elemen-elemennya dipilih dengan cara acak. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Adapun teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan kepustakaan. Variabel – variabel yang digunakan dianalisis dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.

(3)

PROSIDING 20 12© HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK

Arsitektur

Elektro

Geologi

Mesin

Perkapalan

Sipil

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Pembagian Zona

Untuk mempermudah peneliti dalam menganalisi data yang ada, peneliti kemudian membagi wilayah penelitian menjadi dua zona (Gambar 2) berdasarkan kesamaan karakteristik lingkungan, yaitu Zona I merupakan kawasan permukiman, sedangkan Zona II merupakan Kawasan Produktif

Gambar 2. Peta Pembagian Zona

2. Tata guna Lahan

a. Peruntukan Lahan

Fungsi utama kawasan Desa Pa’jukkukang adalah sebagai kawasan permukiman, khususnya permukiman nelayan. Fungsi ini kemudian mempengaruhi pertumbuhan bangunan lain disekitarnya. Awalnya rumah penduduk tumbuh berkembang di sepanjang tepian sungai Pamelakkang Je’ne, setelah infrastruktur jalan mulai memadai, rumah penduduk kemudian tumbuh mengikuti pola jalan yang ada. Meskipun fungsi utamanya sebagai kawasaan permukiman, tetapi tata guna lahan yang mendominasi adalah ruang terbuka yang dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk kegiatan pertanian dan empang sebagai sumber mata pencaharian selain sebagai nelayan, serta sebagai hutan bakau.

Berdasarkan data hasil interprestasi foto udara (citra landsat) Desa Pa’jukkukang yang dikompilasi dari KANWIL BPN Kabupaten Maros tahun 2009 menunjukkan bahwa penggunaan lahan di kasawan ini terdiri dari lahan terbangun (urban area) sebesar 23,54 % dan lahan tidak terbangun sebesar 76,46 %.

b. Intensitas Pemanfaatan Lahan

Intensitas pemanfaatan lahan yang ada di Desa Pa’jukkukang meliputi KDB, KLB, KDH, Ketinggian Bangunan, serta garis sempadan pantai dan sungai. Secara umum tata guna lahan di Desa Pa’jukkukang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1. Kondisi Intensitas Pemanfaatan Lahan Desa Pa’jukkukang

ZONA Peruntukan Lahan Pemanfaatan Lahan KDB KLB KDH Kepadatan

Bangunan

Garis Sempadan Zona I Kawasan Permuki-man

Penduduk Nilai KDB Rata-Rata sebesar 38%, Nilai KLB o.5, Nilai KDH rata-rata sebesar 61.99%, Nilai kepadatan bangunan Zona I adalah sebesar 52 rumah / Ha,

 Garis sempadan pantai adalah ± 500 meter dari titik pasang tertinggi  Garis sempadan sungai

untuk bangunan yang ada di Zona I antara 2 – 3 meter dari batas air sungai

Zona II Lahan Kosong berupa sawah dan empang yang difungsikan sebagai lahan produktif

Nilai KDB Rata-Rata sebesar 47.14% Nilai KLB 0.5, Nilai KDH rata-rata Zona II adalah 52.85% Nilai kepadatan bangunan Zona II adalah sebesar 1 rumah / Ha

 Bagunan yang ada di Zona II di bangun berjarak ± 300 meter dari titik pasang tertinggi  Bangunan yang ada di

Zona II di bangun berjarak ± 500 meter dari batas air sunga

(4)

Building and Environment Structuring

… Yusni Mustari, Suriana La Tanrang & Lina Amalia Pratiwi

Arsitektur

Elektro

Geologi

Mesin

Perkapalan

Sipil

3. Tata Bangunan

Konfigurasi persebaran rumah pada kelompok permukiman di Zona I berorientasi pada keberadaan sungai Pamelakkang Je’ne, komposisi bangunan mengelompok dan berderet. Sedangkan Konfigurasi persebaran rumah pada kelompok permukiman di Zona II berorientasi pada keberadaan empang/sawah, komposisi bangunan menyebar. Garis Sempadan bangunan di Desa Pa’jukkukang berkisar antara 0.5 meter sampai dengan 2 meter dihitung dari AS jalan. Ketinggian bangunan yang ada baik di Zona I maupun di Zona II, baik rumah Paggae yang biasanya terdiri dari dua lantai maupun rumah Jolloro yang konstruksinya berupa rumah panggung yang umumnya berlantai satu, berkisar antara 6–7 meter. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel tata bangunan berikut:

Tabel 2. Kondisi Tata Bangunan Desa Pa’jukkukang

Zona Pola

Bangunan Orientasi Gambar Sketsa

Ketinggian

Bangunan Keterangan

Zona I

Pola Linear Menghadap Sungai Rumah Paggae’ umumnya berlantai 2 dengan ketinggian bangunan ± 7 meter Rumah Jolloro umumnya berlantai 1, konstruksi rumah berupa rumah panggung dengan ketinggian ± 6 meter

Terbentuk karena pesisir pantai difungsikan sebagai hutan bakau

sehingga sungai menjadi akses penghubung utama ke laut

Pola Grid (Pita)

Menghadap Jalan

Terbentuk seiring dengan keberadaan infrastruktur jalan

Pola Terpusat

Menghadap Rumah Induk

Terbentuk karena sistem kekerabatan yang masih kental sehingga umumnya rumah anak akan mengelilingi rumah induk, serta sistem sosial antara Paggae’

dan Jolloronya untuk memudahkan pembagian hasil

tangkapan Zona II Pola Menyebar Menghadap empang /sawah

Rumah yang ada di Zona II merupakan rumah panggung dengan ketinggian ±

6 - 7 meter

Terbentuk karena keinginan untuk dekat dengan sumber mata

pencaharian sebagai petani tambak maupun petani sawah.

4. Sistem Sirkulasi dan Jalur Penghubung

Secara hirarki, jaringan jalan yang terdapat di Desa Pa’jukkukang adalah jalan lokal Primer yang lebarnya antara 4–5 meter dengan kondisi baik dan memakai perkerasan beton, Jalan lingkungan yang lebarnya bervariasi antara 3–4 meter dengan kondisi rusak dibeberapa ruas jalan, serta jalan setapak yang menjadi space antara dua rumah dan dijadikan sebagai akses. Semua ruas jalan yang ada di Desa Pa’jukkukang tidak dilengkapi dengan pedestrian dan sistem penerangan jalan.

Sirkulasi kendaraan umum hanya terjadi di ruas jalan local, sedangkan sirkulasi kendaraan pribadi terjadi di semua ruas jalan local dan lingkungan. Sarana transit yang terdapat di Desa Pa’jukkukang terdiri atas sarana transit untuk kendaraan laut yang terjadi di dermaga desa, sedangkan transit untuk kendaraan darat dilakukan di pasar pa’jukkukang.

5. Sistem Ruang Terbuka dan Tata Hijau

Ruang terbuka yang ada di Desa Pa’jukkukang terdiri atas ruang terbuka umum berupa lapangan,

hutan bakau serta pekuburan umum, ruang terbuka pribadi berupa pekarangan milik warga

masyarakat, serta area jalur hijau yang keberadaannya tidak merata pada tepian jalan. Besaran ruang

terbuka hijau yang ada di desa pa’jukkukang ini telah sesuai dengan besaran ideal ruang terbuka

hijau. untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

(5)

PROSIDING 20 12© HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK

Arsitektur

Elektro

Geologi

Mesin

Perkapalan

Sipil

Tabel 3. Kondisi Ruang Terbuka Desa Pa’jukkukang

Zona Jenis Luas

(Ha) Gambar Fungsi

Zona

I Lapangan 2.44

Difungsikan sebagai sarana Olah Raga dan lapangan serbaguna untuk acara-acara yang membutuhkan ruang yang besar

Zona II

Hutan Bakau 55,63

Tanaman bakau di tanam di sepanjang pesisir pantai Desa Pa’jukkukang sebagai upaya mitigasi bencana oleh masyarakat

Pekuburan

Umum 4,11

Pekuburan umum yang ada di Desa Pa’jukkukang ini tidak hanya dimanfaatkan oleh penduduk desa Pa’jukkukang, tetapi juga oleh penduduk dari desa lain di sekitar Desa Pa’jukkukang

6. Tata Kualitas Lingkungan

Komponen penataan kualitas lingkungan mencakup pengaturan elemen-elemen fisik bangunan dan lingkungan, meliputi pertandaan (signage) atau papan informasi/reklame, perlengkapan jalan (street funiture), dan komponen perancangan yang terpadu sehingga membentuk wajah jalan.

Pada lokasi penelitian Desa Pa’jukkukang tidak terdapat sistem penandaan, tidak terdapat papan reklame, tidak terdapat elemen street furniture, serta elemen bangunan tidak membentuk karakter khusus pada wajah jalan.

7. Sistem sarana dan Utilitas Lingkungan

a. Sistem Sarana

Sarana yang terdapat di Desa Pa’jukkukang terdiri atas sarana pemerintahan dan pelayanan umum berupa kantor desa, sarana kesehatan yang terdiri atas satu unit Puskesmas Pembantu dan 1 Posyandu, sarana peribadatan yang terdiri atas 3 masjid berskala lingkungan, sarana pendidikan yang terdiri atas 1 unit Sekolah Dasar, serta sarana perekonomian berupa pasar dan took-toko atau usaha lainnya.

b. Sistem Utilitas Lingkungan

Utilitas lingkungan yang ada di Desa Pa’jukkukang terdiri atas jaringan air bersih, jaringan drainase, serta jaringan listrik dan telepon. Tidak terdapat jaringan air limbah, sistem persampahan yang memadai serta tidak terdapat hidran kebakaran. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4. Kondisi Sistem Sarana dan Utilitas Lingkungan Desa Pa’jukkukang

JENIS UTILITAS LINGKUNGAN LOKASI T E R S E D IA T ID A K T E R S E D IA KETERANGAN

Jaringan Air Bersih Zona I √

Sumber air bersih bersumber dari PDAM dan sumber mata air. Paggae menggunakan sumber PDAM. Jolloro menggunakan sumber mata air untuk pemenuhan kebutuhan air bersih.

Zona II √ Sumber air bersih bersumber dari sumber mata air yang digunakan oleh penduduk untuk pemenuhan kebutuhan air bersih.

Jaringan Air Limbah dan Air Kotor

Zona I √ Tidak tersedia sistem jaringan air limbah pada Zona I Zona II √ Tidak tersedia sistem jaringan air limbah pada Zona II

(6)

Building and Environment Structuring

… Yusni Mustari, Suriana La Tanrang & Lina Amalia Pratiwi

Arsitektur

Elektro

Geologi

Mesin

Perkapalan

Sipil

Tabel 4. Kondisi Sistem Sarana dan Utilitas Lingkungan Desa Pa’jukkukang (lanjutan)

JENIS UTILITAS LINGKUNGAN LOKASI T E R S E D IA T ID A K T E R S E D IA KETERANGAN Jaringan Drainase Zona I √

Drainase yang ada terdiri atas drainase permanen dan drainase non permanen. Drainase utama memanfaatkan keberadaan sungai Pamelakkang Je’ne, sedangkan drainase non permanen memanfaatkan topografi tanah sebagai jalur air

Zona II √

Drainase yang ada hanya berupa saluran kanal yang difungsikan sebagai drainase utama, sedangkan di kedua sisi jalan sama sekali tidak ditemukan sistem drainase yang memadai

Sistem Persampahan

Zona I √ Produksi sampah dikelola sendiri oleh tiap rumah tangga. Umumnya masyarakat menimbun, membakar atau membuang sampah pada lahan-lahan kosong yang tidak dimanfaatkan warga. Hal ini disebabkan karena tidak terdapat sarana pengelolaan sampah secara terpadu.

Zona II √

Sistem Jaringan Listrik Zona I √ Sistem jaringan listrik untuk di Desa Pa’jukkukang menggunakan sambungan

langsung dari PLN.

Zona II √

Sistem Jaringan Telepon

Zona I √ Alat komunikasi yang digunakan oleh masyarakat adalah telepon seluler (ponsel)

Zona II √

Sistem Jaringan Pengaman Kebakaran

Zona I √

Pada kawasan Zona II tidak tersedia hidran kebakaran, atau sarana pencegahan kebakaran lainnya.

Zona II √

8. Konsep Arahan Pengembangan Kualitas Bangunan dan Lingkungan

Untuk meningkatkan kualitas bangunan dan lingkungan yang ad di Desa Pa’jukkukang, maka perlu upaya peningkatan kualitas maupun kuantitas beberapa hal, antara lain:

a. Penetapan garis sempadan sungai yaitu 3 meter dari bibir sungai untuk kawasan permukiman yang telah pemanen dan 15 meter untuk daerah peruntukan permukiman yang masih merupakan lahan kosong

b. Penetapan GSB yaitu ½ dari ROW jalan

c. Renovasi pasar untuk dijadikan landmark kawasan d. Renovasi dermaga untuk dijadikan pusat kegiatan kawasan

(7)

PROSIDING 20 12© HASIL PENELITIAN FAKULTAS TEKNIK

Arsitektur

Elektro

Geologi

Mesin

Perkapalan

Sipil

e.

Perbaikan ruas jalan

f. Penataan parkir pada kawasan perdagangan g. Pengadaan shelter/halte pada kawasan permukiman

h. Pengadaan jalur pedestrian

i.

Pengadaan area jalur hijau pada sisi kiri-kanan jalan

j. Pengadaan street furniture k. Pengadaan sistem signage

l. Penataan wajah jalan sehingga menekankan karakter kawasan

(8)

Building and Environment Structuring

… Yusni Mustari, Suriana La Tanrang & Lina Amalia Pratiwi

Arsitektur

Elektro

Geologi

Mesin

Perkapalan

Sipil

n. Penataan sistem jaringan drainase dan IPAL rumah tangga

o. Perencanaan sistem persampahan secara terpadu

p.

Pengadaan hidran kebakaran

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Cipta Karya, 1997. Kamus Tata Ruang.

Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Cipta Karya, 1987. Pedoman Pemugaran Lingkungan Perumahan Desa.

Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Cipta Karya, 2008. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Non Hijau di Wilayah perkotaan.

Kuswartojo, Tjuk dkk. 2005. Perumahan dan Permukiman di Indonesia. Bandung: ITB.

Lasido, Ismi Angraini. 2011. Pengembangan Ruang Terbuka Hijau di Kelurahan Masale Kota Makassar. Skripsi Tidak Diterbitkan. Makassar: Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Hasanuddin.

Santi. 2006. Karakteristik Rumah di Pemukiman Nelayan Desa Lemo Bajo Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara. Program Pascasarjana. Fakultas Teknik. Universitas Hasanuddin. Makassar

Syarif, Edward. 2006. Pola Spasial Pemukiman Padat Tepian Air Mariso. Program Pascasarjana. Fakultas Teknik. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Surianti. 2011. Konsep Pengembangan Desa Lakkang Menjadi Desa Wisata di Kota Makassar. Skripsi Tidak Diterbitkan. Makassar: Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Hasanuddin.

Usman, Fitria Dewi. 2008. Revitalisasi Obyek Wisata Pantai Barombong. Tugas Mata Kuliah Revitalisasi Gedung dan Kawasan Pantai. Makassar: Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Hasanuddin.

Gambar

Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian
Tabel 1. Kondisi Intensitas Pemanfaatan Lahan Desa Pa’jukkukang
Tabel 2. Kondisi Tata Bangunan Desa Pa’jukkukang
Tabel 4. Kondisi Sistem Sarana dan Utilitas Lingkungan Desa Pa’jukkukang
+2

Referensi

Dokumen terkait

Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya kemerosotan moral pada anak, di antaranya: (1) Kurang tertanamnya nilai-nilai keimanan pada anak-anak, (2) lingkungan masyarakat

keputusan Badan Pengawas Pemilihan Umum sesuai dengan kebutuhan diberikan ketika terjadi pelanggaran yang tidak disebutkan dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa

Seandainya menggunakan (bejana) emas dan perak pada selain makan dan minum adalah haram pasti sudah dijelaskan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan penjelasan

Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2009

Kemudian dari pihak Minoritas Slankers Jogjakarta (MSJ), mereka sangat mendukung grup musik Slank terkait tindakan anggota DPR-RI yang hendak memperkarakan Slank. Slankers

Studi ini memiliki beberapa keterbatasan, antara lain: (i) Studi ini menggunakan pendekatan pengukuran kualitas audit multidimensi, meliputi dimensi kompetensi dan

Bagaimana akibat hukum terhadap pencatatan perkawinan di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil dari adanya penetapan Pengadilan Negeri yang mengabulkan permohonan

Program studi Pendidikan Ekonomi Tahun ajaran 2017-2018 IKIP PGRI Jember ikut berpartisipasi dalam seminar dan bazar yang diselenggarakan oleh IKIP PGRI jember, tetapi