• Tidak ada hasil yang ditemukan

Smart-Urea-Controlled-Release-Nitrogen-Fertilizer Menggunakan Plastik Biodegradable Poli Asam Laktat Sebagai Carrier

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Smart-Urea-Controlled-Release-Nitrogen-Fertilizer Menggunakan Plastik Biodegradable Poli Asam Laktat Sebagai Carrier"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Article

Smart-Urea-Controlled-Release-Nitrogen-Fertilizer

Menggunakan Plastik Biodegradable Poli Asam

Laktat Sebagai Carrier

Mujtahid Kaavessina*, Chitra Husnabilqis, dan Meylani Tri Hardiyanti

Program Studi Sarjana Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta, Indonesia

E-mail: [email protected] (Corresponding author)

Abstract. Poly lactic acid is a polymer that has been developed as an alternative to

substitution of conventional polymers. The properties of this polymer are biodegradable in nature and non-toxic substances. These polymers potentially can be used as a matrix for urea carries. The aim of this research was to synthesize poly lactic acid in a low molecular weight. This product can be used as a matrix that urea release controller during the process of fertilization. The methodology consisted of two stages. The first stage was polycondensation of lactic acid and degradability test. Lactic acid was mixed with SnCl2 catalyst 0.1% and heated to 138oC for 24 hours. The second stage was producing in the form of Smart Urea Controlled Release Nitrogen Fertilizer (CRNF). Urea was dissolved in poly lactic acid through a heating process at 150°C to dissolve urea with variation in urea concentration weight of 0.5%; 0.1%; 0.15%; 0.2%; 0.25%; 0.3% and CRNF granulation processes. Finally, the mixture was granulated in ambient temperature. Chemical analysis was done the molecular weight of poly lactic acid. The relationship between intrinsic viscosity and molecular weight was used. The IR spectra (FTIR) was used to fine molecular structure. The release testing of urea from the matrix of poly lactic acid uses UV-VIS Spectrophotometer. The results showed that the average molecular weight of poly lactic acid is 1149.49 g /gmol. FTIR spectra of CRNF with variation in urea concentration weight showed the presence of groups owned by poly lactic acid and urea. The peaks are 1627.03 to 1629.92 cm-1 for the -NH group and 3478.77 to 3498.06 cm-1 for group -OH. The existence of these groups proves the existence of urea in CRNF. The release of urea from poly lactic acid occurs by diffusion. It can be seen, when urea in CRNF form immersed in water, the concentration of urea in water increase as well as the increasing immersed time.

Keywords: poly lactic acid, urea, Controlled Release Nitrogen Fertilizer, CRNF, matrix EQUILIBRIUM Volume 16 No.2 Juli 2017

(2)

1. Pendahuluan

Penggunaan pupuk anorganik dapat meningkatkan kandungan unsur hara dalam tanah, mempercepat pertumbuhan tanaman pangan (khususnya padi), dan meningkatkan hasil produksi pertanian. Pupuk anorganik adalah pupuk hasil proses rekayasa secara kimia, fisik dan atau biologis yang dibuat dari berbagai bahan kimia sehingga memiliki persentase kandungan hara yang tinggi. Salah satu metode pemberian pupuk adalah dengan menebarkannya ke tanah di sekitar akar tanaman, jenis pupuk ini disebut pupuk akar (contoh: urea, NPK, dan dolomit). Salah satu inovasi dalam metode pemberian pupuk jenis ini adalah dengan merekayasa pupuk tersebut menjadi Slow Release Fertilizer (SRF).

Salah satu bentuk pupuk SRF adalah Controlled Release Nitrogen Fertilizer (CRNF). CRNF) merupakan jenis pupuk dengan mekanisme pelepasan unsur hara berupa nitrogen secara perlahan dan berkala mendekati pola penyerapan oleh tanaman sehingga unsur hara yang terkandung dalam pupuk tidak terbawa oleh air dan tepat sasaran. Pengembangan pupuk ini secara umum dilakukan dengan melindungi kandungan unsurnya baik secara kimiawi maupun mekanis. Perlindungan kimiawi dengan cara mencampur urea dengan zat kimia, sehingga pupuk tersebut lepas secara terkendali. Sedangkan perlindungan secara mekanis dengan membungkus pupuk dalam bentuk granule dengan bahan pembungkus yang bersifat semipermeabel (Nick C., 2004).

Nitrogen merupakan unsur hara esensial bagi tanaman. Nitrogen berguna untuk mempercepat pertumbuhan tanaman dan merupakan penyusun utama protein yang diperlukan oleh tumbuhan maupun hewan dalam jumlah besar (Nasoetion, 1996). Urea merupakan pupuk yang memiliki kadar N yang tinggi (46%), mudah larut dalam air, dan higroskopis sehingga penyimpanannya harus di tempat yang kering dan tertutup rapat. Karena tingginya kadar nitrogen dan sifatnya yang mudah larut dalam air, pupuk urea ini sangat cocok apabila dijadikan pupuk dalam bentuk CRNF.

Hasil studi literatur menyatakan bahwa belum ada yang menggunakan plastik biodegradable poli asam laktat sebagai matriks CRNF. Kebanyakan penelitian sebelumnya menggunakan zeolit sebagai matriksnya. Namun zeolit tersebut mengandung unsur Al yang apabila pemakaiannya dilakukan secara berlebih akan merusak tanaman. Hal tersebut memberikan ide inovasi untuk menggunakan plastik poli asam laktat berberat molekul rendah sebagai matriks pembawa pupuk urea dalam bentuk CRNF karena biodegradasi plastik poli asam laktat oleh mikroba menghasilkan biomassa dan gas-gas yang tidak beracun bagi tanaman (Noezar dkk, 2008).

Pengembangan CRNF dengan menggunakan plastik biodegradable poli asam laktat sebagai matriksnya menjadi topik yang sangat menarik untuk diteliti, karena Smart-UreaControlled-Release-Nitrogen-Fertilizer dibuat dengan melarutkan urea dalam poli asam laktat dengan komposisi tertentu. Pelepasan urea di dalam matriks dapat ditentukan dengan mengatur kecepatan degradasi dari plastik biodegradable poli asam laktat. Urea akan keluar lambat seiring terurainya plastik poli asam laktat saat dilakukan pemupukan.

Penelitian ini dilakukan untuk mensintesis plastik poli asam laktat berberat molekul rendah, membuat Smart-Urea-Controlled-ReleaseNitrogen-Fertilizer dengan matriks plastik biodegradable poli asam laktat, serta mengetahui pelepasan pupuk urea dalam bentuk CRNF.

2. Metode Penelitian

Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan adalah asam laktat, SnCl2.2H2O, urea, kloroform, dan akuades. Rangkaian alat polimerisasi asam laktat ditunjukan pada Gambar 1 dan rangkaian alat blending ditunjukkan pada Gambar 2.

Cara Penelitian

Penelitian di Laboratrium Operasi Teknik Kimia, Program Studi Sarjana Teknik Kimia, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap polimerisasi asam laktat dan pembuatan pupuk urea dalam bentuk CRNF.

(3)

Tahap I. Polimerisasi Asam Laktat

Dalam tahap ini ditetapkan variabel tetap adalah konsentrasi larutan asam laktat, berat katalis, dan waktu polimerisasi. Tahap polimerisasi asam laktat adalah sebagai berikut:

a. 400 g asam laktat dimasukkan ke dalam labu leher tiga.

b. Katalis SnCl2 dengan kadar 0,1% berat terhadap berat asam laktat dimasukkan ke dalam labu leher tiga.

c. Larutan tersebut dipanaskan hingga 138oC dan dijaga konstan selama 24 jam.

Tahap II. Pembuatan Pupuk Urea Dalam Bentuk CRNF

Tahap pembuatan pupuk CRNF terdiri dari: blending, dan proses granulasi.

a. Dalam proses blending, urea dilarutkan dalam poli asam laktat melalui proses pemanasan pada suhu 150 oC sampai urea laru dengan variasi kadar urea 0,5%; 0,1%; 0,15%; 0,2%; 0,25%; 0,3% berat.

b. Proses granulasi dilakukan untuk mendapatkan pupuk CRNF dalam bentuk granule.

Analisis Kimia

a. Berat molekul poli asam laktat dengan menggunakan hubungan viskositas intrinsik dan berat molekul

1. Sampel diambil setelah waktu polimerisasi 24 jam.

2. Viskositas instrinsik diukur mengunakan viskometer Ostwald didasarkan pada persamaan Solomon-Cuita.

b. Karakterisasi FTIR

Poli asam laktat dan urea sebagai control, hasilnya untuk membandingkan dengan pupuk urea CRNF. Uji FTIR dilakukan di Laboratorium Terpadu, FMIPA, Universitas Sebelas Maret, Surakarta menggunakan alat Fourier Transform Infra Red Shimadzu Prestige-21.

c. Uji kadar urea dalam larutan menggunakan Spectrofotometer UV-VIS yang dilakukan diLaboratrium Proses, Program Studi Sarjana Teknik Kimia, Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Pengujian pelepasan pupuk urea dari matrik poli asam laktat dilakukan secara invitro.

1. Pupuk urea CNRF dilakukan uji pelepasan dari matriks dengan dissolution tester menggunakan medium air sebanyak 50 ml.

2. Tiap periode waktu tertentu (8, 16, 24, 32, 40, 48 jam) dilakukan pengambilan sampel sebanyak 3 ml.

Keterangan :

1.Reaktor polimerisasi

2. Pengaduk

3. Oil bath

4. Tabung N

2

5. N

2

inlet

6. Termokopel

.

7 Heat magnetic stirer

8. Condensor

9. Dean stark

klem

dan

10. Statif

condenser

Gambar 1. Rangkaian Alat Polimerisasi

Gambar 2. Rangkaian Alat Blending

Keterangan :

.

1 Gelas beaker

.

2 Magnetic stirrer

.

(4)

3. Sampel kemudian dianalisis dengan menggunakan Spectrofotometer UV-VIS

3. Hasil dan Pembahasan

Gambar 3 . Spektrum IR untuk Poli Asam Laktat

Gambar 4 .

Spektrum IR untuk Urea

Gambar 5 . Spektrum IR untuk CRNF Berbagai

(5)

Pembuatan Smart-Urea-CNRF

Pembuatan Smart-Urea-CNRF dilakukan dengan dua tahap yaitu tahap polimerisasi asam laktat dan tahap pembuatan pupuk urea dalam bentuk CRNF. Dalam tahap polimerisasi asam laktat, dilakukan proses polimerisasi polikondensasi langsung untuk membentuk poli asam laktat yang digunakan sebagai matriks pupuk urea, sedangkan tahap berikutnya adalah blending antara matriks tersebut dengan urea untuk membentuk CRNF. Untuk selanjutnya, sampel yang berbentuk granule dilakukan karakterisasi.

Analisis Berat Molekul Poli Asam Laktat

Analisa berat molekul dilakukan melalui pengukuran viskositas intrinsik, proses polimerisasi asam laktat yang terjadi pada suhu 138oC selama 24 jam dengan katalis SnCl2.2H2O sebesar 0,1% berat didapatkan berat molekul poli asam laktat sebesar 1149,49 g/gmol.

Karakterisasi Smart-Urea-CRNF

Analisis spektroskopi FTIR berguna untuk mengetahui ciri struktural senyawa kimia pada sampel dan mendeteksi perubahan gugus fungsi akibat reaksi kimia. Hasil analisis FTIR dari poli asam laktat ditunjukkan pada Gambar 3. Interpretasi dari gambar tersebut adalah pada peak 1759,16 cm-1 untuk gugus –COO-, peak 1093,69cm-1 untuk gugus –O-, peak 2947,36 cm-1 dan 2998,47 cm-1 untuk gugus – CH2- dan –CH3, peak 3500,95 cm-1 untuk gugus –OH, dan pada peak 1759,16 cm-1 untuk gugus –C=O. Hasil interpretasi gugus-gugus sesuai dengan gugus yang dimiliki poli asam laktat. Dari hasil FTIR urea yang ditunjukan pada Gambar 4, didapatkan intepretasi pada peak 1060,89 cm-1 dan 1154,45 cm-1 untuk gugus –CN, peak 1627,03 cm-1 untuk gugus –NH, dan peak 3259,84 cm-1, 3347,60 cm-1, dan 3443,08 cm-1 untuk gugus –OH.

Hasil analisa FTIR CRNF dengan berbagai variasi berat urea menunjukan adanya gugusgugus yang dimiliki oleh poli asam laktat dan urea. Gambar 5 menunjukan bahwa analisis FTIR CRNF yaitu pada peak 1627,03-1629,92 cm-1 untuk gugus –NH dan peak 3478,77-3498,06 cm-1 untuk gugus –OH. Adanya gugus-gugus tersebut membuktikan adanya urea dalam CRNF.

Hasil Percobaan Release Urea

Pelepasan urea dari matriks poli asam laktat ke dalam air dengan rentang waktu 8, 16, 24, 32 dan 48 jam dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Grafik Hubungan antara Konsentrasi Urea (g/mL) dengan Waktu (jam)

Dari gambar 6 dapat dilihat bahwa konsentrasi urea yang release pada air paling banyak ditunjukkan pada persentase berat urea 1,5%. Konsentrasi urea yang release pada air paling sedikit ditunjukkan pada persentase berat urea 2,5%. Pengaruh persentase berat urea dalam CRNF terhadap konsentrasi urea yang release tidak dapat terlihat trend-nya. Hal ini memungkinkan untuk dilakukan penelitian selanjutnya. Namun,

0,E +00 5,E -04 -03 ,E 1 -03 2,E 2,E -03 3,E -03 0 8 16 24 32 40 48 56 0 ,5% urea 1 % urea 1 ,5% urea 2 % urea 2 ,5% urea 3 % urea

(6)

4. Kesimpulan

Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Proses polimerisasi asam laktat menjadi poli asam laktat sebagai matriks CRNF dilakukan dengan proses polikondensasi langsung selama 24 jam yang menghasilkan berat molekul poli asam laktat sebesar 1149,49 g/gmol.

2. Pembuatan pupuk urea dalam bentuk CRNF adalah dengan cara mencampurkan pupuk urea dengan poli asam laktat yang telah dicairkan dengan pemanasan terlebih dahulu.

3. Pelepasan pupuk urea dari matriks poli asam laktat terjadi karena terdegradasinya matriks poli asam laktat. Hal ini dibuktikan, ketika dibenamkan di dalam air, dengan semakin bertambahnya waktu, kadar pupuk urea dalam air semakin bertambah.

Daftar Pustaka

Hoeung, P., Bindar, Y., Senda, S.P. 2011.

Development of Granular Urea-Zeolite Slow Release Fertilizer Using Inclined Pan Granulator,. Jurnal Teknik Kimia Indonesia. 2(10): 102-111

Hwang, J. K., S. P. Hong, dan C. T. Kim. 1997. Effect of Molecular Weight and NaCl Concentration on Dilute Solution Properties of Chitosan. J Food Sci Nutr. 2:1-5

Hyon, S.H., Jamshidi, K., Ikada, Y., 1997. Synthesis of Polylactides with Different Molecular Weights. Biomaterials. 18(22):1503-8.

Jung, S., P. Wang, Y. M. Zhang, and X. J. Mi, J. 2006. Rapid Melt Polycondensation of LLacticAcid under Microwave Irradiation.

Macromolecular Research. 14(6): 659-662

Nasoetion, A.H., 1996. Pengantar ke Ilmu-Ilmu Pertanian. Pustaka Literatur Antar Nusa.

Nick, C. 2004. Fertilization: Fundamentals of Turfgrass Management. John Wiley & Sons. pp. 137–138, 142–143

Noezar, I., Praptowidodo, V, S., Nugraheni, R., Nasution, M.H. 2008. Biodegradable Polimer dari Asam Laktat. Jurnal Teknik Kimia Indonesia. 6(2): 626-633 Pupuk Sriwidjaya. 2016. Urea Tentang Urea. (http://www.pusri.co.id/ina/urea-tentangurea/diunduh tanggal 10 Maret 2016 pukul 20.29 WIB)

Swift, G. 1993. Directions for Environmentally Biodegradable Polymer Research.Acc. Chem. Res. 26 (3) : 105

Gambar

Gambar 1. Rangkaian Alat Polimerisasi
Gambar 4 .    Spektrum IR untuk Urea
Gambar 6. Grafik Hubungan antara Konsentrasi Urea (g/mL) dengan Waktu (jam)

Referensi

Dokumen terkait

Karena alasan tersebut maka pada penelitian ini dilakukan pembuatan plastik campuran polipropilen (PP) dan Poli asam laktat (PLA) dengan penambahan polivinil alkohol (PVA)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Formulasi Pupuk Nitrogen Lambat Tersedia dari Bahan Urea, Zeolit, serta Asam Humat dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,