• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh : Eliza Ruwaidah Prodi Arsitektur UNDIKMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Oleh : Eliza Ruwaidah Prodi Arsitektur UNDIKMA"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN PENGARUH KUALITAS SUNGAI TERHADAP KONDISI SOSIAL & EKONOMI MASYARAKAT DI BANTARAN SUNGAI JANGKOK

Oleh : Eliza Ruwaidah Prodi Arsitektur UNDIKMA

Abstrak : Kondisi sosial dan ekonomi masyakat bantaran sungai diamati berdasarkan beberapa parameter yaitu tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, ukuran keluarga, fasilitas pengelolaan sampah dan fasilitas sanitasi. Pengambilan parameter tersebut juga dikorelasikan dengan potensi pencemar terhadap parameter Total Coliform yang dihasilkan dari pemantauan kualitas air permukaan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram. Dari sisi pendapatan masyakarat bantaran sungai memiliki pendapatan kurang dari Rp. 500.000/bulan (44,7%) berada dibawah standar garis kemiskinan yang ditetapkan oleh Bank Dunia ($1,9/hari). Tingkat pendidikan masyakarak di bantaran Sungai Jangkok didominasi oleh pendidikan Dasar- Menengah (SD-SMP) sebesar 57,6% dari total responden sedangkan ukuran keluarga yang dimiliki oleh masyarakat bantaran sungai lebih dari 6 orang per rumah (67,3%). Pengelolaan sampah yang dilakukan oleh masyakarat bantaran sungai cukup terbantu dengan keberadaa motor tosa yang merupakan program pemerintah namun demikian masih ada sebagian masyarakat yang membuang langsung sampahnya ke sungai (17%). Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kenaikan parameter Total Coliform di Sungai Jangkok adalah pembuangan limbah kegiatan MCK masyarakat bantaran sungai, dimana sekitar 21,7% masyarakat bantaran Sungai Jangkok masih melakukan pembuangan limbah kegiatan MCK langsung ke Sungai Jangkok. Dari hasil analisa statistik menggunakan SPSS terlihat bahwa variable hasil pemantauan E-Coli dipengaruhi secara signifikan oleh variable fasiltas MCK dengan nilai Pearson Correlation 0,245. Perlu kembali membangun kerjasama antar semua pemangku kepentingan dengan mengacu pada beberapa prinsip kerjasama yaitu pembagian peran, komitmen, regulasi, inovasi dan ekonomi kreatif. Implementasi terhadap prinsip tersebut akan menghasilkan kerjasama yang berkelanjutan menuju sungai sehat dan bersih (lestari). Keberlangsungan dari multistakeholder model serta efektifitasnya sangat bergantung pada beberapa hal yaitu antara lain: 1. Berbagi peran (role sharing): setiap pemangku kepentingan harus diberikan peran dan tanggung

jawab sesuai dengan proporsi dan kesepakatan bersama.

2. Komitmen (commitment): setiap pemangku kepentingan harus memiliki komitmen yang tinggi untuk melaksanakan peran dan tanggung jawab yang telah disepakati bersama.

3. Regulasi yang jelas (punish and reward): perlu disiapkan peraturan yang jelas untuk mengatur peran berbagai pemangku kepentingan selain penerapan sistem punish and reward.

4. Inovasi dan ekonomi kreatif (innovation and creative economic): inovasi program yang mengarah pada pengembangan ekonomi kreatif perlu dilakukan untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.

5. Wilayah Tematik (thematic area): wilayah sungai perlu di segmentasi untuk memberikan ciri khas dari setiap area misalnya memberikan ciri khas untuk wilayah hulu, tengah dan hilir sehingga program inovasi juga mengarah ke wilayah tematik yang telah ditetapkan.

Kata Kunci : Kualitas sungai, sosial ekonomi, suangai jangkok PENDAHULUAN

Sungai adalah merupakan salah satu ekosistem yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Banyak kota di Indonesia antara lain Jakarta, Surabaya, dan Bekasi memanfaatkan sungai yang mengalir melalui wilayahnya sebagai bahan baku air bersih sehingga kualitas air sungai sebagai raw material menjadi sangat krusial. Beberapa kota lain memanfaatkan sungai untuk aktifitas pendukung budidaya perikanan (keramba) dan juga sebagai pemasok air untuk persawahan melalui sistem irigasi. Pengertian sungai menurut

Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 adalah alur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa jaringan pengaliran air beserta air di dalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengan dibatasi kanan dan kiri oleh garis sempadan. Dengan pentingnya fungsi sungai untuk kehidupan manusia maka menjaga kualitas sungai menjadi hal utama yang harus dilakukan. Namu demikian, berdasarkan dokumen Atlas Status Mutu Air Indonesia Tahun 2015 (KLHK, 2015), 68% sungai di Indonesia berstatus cemar berat, 24%

(2)

cemar sedang, 6% cemar ringan dan hanya 2% yang memenuhi status mutu baik. Data tersebut mewakili 670 titik sampling di 83 sungai yang tersebar di 33 provinsi di seluruh Indonesia seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.

Kota Mataram dilalui oleh beberapa sungai besar antara lain Jangkok dan Ancar. Pemanfaatan sungai oleh masyarakat bantaran sungai antara lain untuk mencuci, budidaya ikan, dan budidaya kangkung. Namun demikian dari tahun ke tahun tingkat pemanfaatan sungai makin berkurang seiring dengan kondisi sungai. Selain itu anggapan masyarakat bahwa sungai sebagai tempat pembuangan sampah ‘besar’ juga turut memperparah kondisi sungai.

Dengan melihat kondisi saat ini maka perlu dibuat kajian awal untuk melihat apakah ada korelasi antara penurunan kualitas sungai dengan tingkat sosial dan ekonomi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Diharapkan dari hasil kajian ini akan menjadi masukan untuk Pemerintah Kota Mataram untuk langkah-langkah strategis dalam mempertahankan kualitas sungai di Kota Mataram

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi sosial-ekonomi masyarakat bantaran Sungai Jangkok, mengetahui korelasi antara kualitas sungai sebagai variable tetap (dependent variable) dengan kondisi sosial & ekonomi sebagai variable bebas (independent variable). mengidentifikasi instrument penunjang pengelolaan kualitas sungai antara lain Kelompok Masyarakat Peduli Sungai (KMPS), fasilitas/infrastruktur, membuat framework multi stakeholder engagement approach.

Lingkup dan batasan penelitian ini meliputi Lokasi penelitian di Sungai Jangkok Kota Mataram dan titik pengambilan sampling wawancara di tiga titik (Hulu, Tengah dan Hilir) disesuaikan dengan lokasi titik pemantauan kualitas air sungai yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram. Responden adalah penduduk yang tinggal di bantaran sungai dengan radius 30 meter (sesuai perundangan tentang Sungai).

METODOLOGI PENELITIAN a. Kerangka Pemikiran

Sungai adalah merupakan salah satu icon terhadap keberhasilan pembangunan sebuah daerah. Keberadaan Sungai yang terjaga dan lestari selain akan mampu meningkatkan kualitas lingkungan hidup juga akan mampu menimbulkan bangkitan ekonomi kepada masyarakat sekitar bantaran Sungai. Efek domino dari terjaganya kualitas air Sungai akan mampu membuat perubahan dari aspek ekonomi dan sosial masyarakat.

Kualitas air Sungai sangat erat pengaruhnya terhadap aktifitas yang ada di bantaran Sungai. Aktifitas masyarakat bantaran sungai tentunya berkorelasi dengan tingkat pendapatan dan tingkat pendidikan masyarakat. Kedua premises tersebut menyebabkan perlunya perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat bantaran Sungai untuk menjadi sungai lestar. Strategi pengelolaan sungai bisa menjadi penggerak terhadap perubahan kondisi tersebut.

b. Desain Penelitian

Penelitian ini dirancang dengan penelitian yang mempergunakan metode observasi dan survei dengan teknik kolerasional, yaitu jenis penelitian yang berupaya untuk mengemukakan ada tidaknya hubungan variabel bebas dan variabel terikat.

Dalam penelitian ini, rancangan hipotesa dilakukan dengan langkah- langkah dan asumsi sebagai berikut:

Ho = Tidak terdapat pengaruh penambangan terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

H1 = Terdapat pengaruh penambangan terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

c. Teknik Pengambilan Data

Penelitian ini dilakukan di Bantaran Sungai Jangkok sebagai untuk lokasi yang dilakukan pada September 2018.

Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi dan kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi literatur, dan internet.

d. Populasi dan Sample Penelitian

Populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah masyarakat yang hidup di bantaran Sungai

(3)

yang dimaksud dalam penelitian ini adalah masyarakat bantaran Sungai Jangkok yang diambil berdasarkan lokasi tinggal (hulu, tengah, dan hilir Sungai).

Penarikan sampel dilakukan secara purposif dengan teknik Judgmental Sampling, dimana elemen sampel dipilih berdasarkan pada pertimbangan- pertimbangan (judgmental) yang sesuai (Nazir, 1999). Jumlah sample juga mengacu pada rumus slovin dengan akurasi 95%.

dimana:

n = jumlah sampel; N = jumlah populasi; e = batas toleransi kesalahan

Sampel yang dimaksud adalah masyarakat bantaran Sungai sebanyak 300 orang dengan sebaran 100 orang masing-maisng wilayah (hulu, tengah, hilir).

e. Teknik Pengolahan Data

Data hasil wawancara yang berupa data kualitatif akan dirubah dengan sistim coding agar dapat digunakan sebagai input data di program SPSS. Formulasi sistim coding menggunakan variable numerik sehingga memungkinkan untuk dilakukan proses lebih lanjut di program SPSS. Salah satu cara yang paling sering digunakan untuk menentukan skor adalah dengan menggunakan Skala Likert. Skala Likert adalah ukuran gabungan yang didasarkan pada struktur intensitas pertanyaan-pertanyaan. Dengan demikian, Skala Likert sebenarnya bukan skala, melainkan suatu cara yang lebih sistematis untuk memberi skor pada indeks (Singarimbun dan Effendi, 1995). Skala Likert dengan ukuran ordinal hanya dapat membuat ranking, tetapi tidak dapat diketahui berapa kali satu responden lebih baik atau lebih buruk dari responden lainnya didalam skala (Nazir, 1999). Variabel ordinal tidak memiliki keaslian suatu unit pengukuran. Mean, variasi, dan kovarian dari variabel ordinal tidak memiliki arti. Variabel ordinal bukanlah suatu variabel yang kontinu dan tidak seharusnya dipakai dalam penelitian (Joreskog, 2002).

Oleh karena itu, skala ordinal perlu ditransformasi menjadi skala interval sehingga dapat diketahui jaraknya. Metode transformasi yang digunakan adalah Method of Successive Interval (Hays, 1976). Metode tersebut digunakan untuk melakukan transformasi data ordinal menjadi data interval. Umumnya, jawaban responden yang diukur menggunakan skala likert dibuat nilai skornya dengan memberikan nilai

numerikal 1, 2, 3, 4, dan 5. Setiap skor memiliki tingkat pengukuran ordinal. Nilai numerikal tersebut dianggap sebagai objek dan selanjutnya melalui proses transformasi ditempatkan ke dalam interval.

1. Uji Validitas

Uji ini digunakan untuk mengukur tingkat kesahihan suatu instrumen atau peubah. Teknik analis butir instrumen untuk menguji validitas empirik menggunakan rumus Pearson Correlation Product Moment (Mason et al.,1999), yaitu:

Teknik tersebut digunakan untuk mengetahui korelasi antara dua peubah dan nilai korelasi yang dihitung dinyatakan sahih, apabila r hitung > r tabel , dengan level of significant sebesar 5%.

2. Uji Readibilitas

Uji ini digunakan untuk mengukur konsistensi suatu alat ukur dalam penelitian (Singarimbun dan Effendi, 1995). Keterandalan (reliability) instrumen atau pertanyaan ditentukan dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach, yaitu :

Rumus perhitungan ragam:

Dalam penyusunan penelitian ini, untuk mengolah data yang telah terkumpul, penulis menggunakan analisa data yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Semua pengujian dilakukan dalam taraf signifikasi a sebesar 5%. Hipotesis pertama dan kedua diuji dengan

(4)

teknik analisis korelasi artinya sekumpulan teknik statistika yang digunakan untuk mengukur seberapa erat hubungan antara dua variabel dan analisis regresi yang artinya suatu teknik yang digunakan untuk persamaan garis lurus dan menentukan nilai perkiraannya. Rumus untuk koefisien korelasi (r) adalah (Mason et al., 1999):

Semua perhitungan analisis di atas diolah dengan menggunakan software SPSS versi 15, dan Microsoft Excel for Windows 2013.

HASIL DAN PEMBAHASAN

a. Kondisi Umum Sosial dan Ekonomi

Dalam pembahasan hasil difokuskan pada empat faktor yang mengambarkan kondisi sosial dan ekonomi dari masyarakat di bantaran Sungai Jangkok. Keempat faktor tersebut adalah tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, ukuran keluarga dalam satu rumah, dan sistim pengelolaan sampah serta sanitasi. Pembahasan keempat faktor tersebut juga akan membandingkan antara kondisi masyarakat bantaran sungai yang tinggal di daerah hulu, tengah dan hilir.Total responden yang di wawancarai adalah 300 responden yang mewakili setiap lokasi: hulu (100 responden), tengah (100 responden), dan hilir (100 responden).

1. Pendapatan Masyarakat

Seperti diketahui, umumnya di Indonesia bahwa masyarakat yang hidup di bantaran sungai memiliki tingkat perekonomian yang lebih rendah dari masyarakat pada umumnya. Hal tersebut juga tergambar dari hasil wawancara dengan masyarakat yang tinggal dan bermukim di bantaran Sungai Jangkok. Dari total 300 responden yang diwawancarai terlihat pada Tabel 3 bahwa kisaran penghasilan masyarakat paling banyak (134 orang) berada pada angka kurang dari lima ratus ribu rupiah (Rp. 500.000) per bulan. Jika dibandingkan dengan standar Bank Dunia untuk pendapatan layak sebesar $ 1,9 per hari (Ferreira, 2017) maka masyarakat yang memiliki pendapat di kisaran angka kurang Rp. 500.000 berada pada zona merah atau dibawah garis kemiskinan (international poverty line). Masyarakat yang memiliki penghasilan diatas garis kemiskinan

sesuai standar Bank Dunia berada di kisaran Satu Juta (Rp. 1.000.000) sampai dengan Dua Juta (Rp. 2.000.000). Jumlahnya bervariasi antara 12 sampai dengan 35 orang.

Jika melihat lebih dalam ke masing-masing wilayah studi, maka poverty line paling besar berada di daerah hilir dengan total 74 responden (sekitar 24,6% dari total responden). Hal ini berkorelasi dengan pekerjaan yang digeluti oleh sebagian responden yaitu sebagai nelayan. Selain analisa distribusi pendapatan terhadap 300 responden, maka dilakukan pula perbandingan pendapatan antara masyarakat yang tinggal di daerah hilir, tengah dan hulu Sungai Jangkok. Dari hasil analisa seperti yang ditampilkan pada Gambar 7 terlihat bahwa tren rata-rata pendapatan masyarakat di semua wilayah studi (hilir, tengah, hulu) memiliki kemiripan dimana kisaran pendapatan didominasi antara Lima Ratus Ribu (Rp. 500.000) hingga Satu Juta (Rp. 1.000.000). Lebih lanjut dari Gambar 7 terlihat bahwa responden daerah hulu memiliki income yang paling baik dibandingkan dengan responden di dua wilayah studi lainnya (tengah dan hilir). 2. Tingkat Pendidikan

Dari sisi kondisi sosial maka pendidikan merupakan salah satu indikator yang dijadikan acuan pada penelitian ini. Pada Tabel 7 dan Gambar 8 terlihat bahwa distribusi pendidikan untuk responden wilayah studi di dominasi oleh pendidikan dasar dan menengah (SD-SMP) dengan total 57,6%. Selain itu dari hasil wawancara menunjukkan bahwa masih ada responden di bantaran sungai yang tidak menyelesaikan pendidikan (tidak sekolah) sebanyak 10,3%. Distribusi pendidikan umumnya memiliki kaitan yang erat dengan tingkat pendapatan masyarakat.

Namun demikian dari hasil wawancara juga terlihat bahwa masyarakat bantaran sungai juga ada yang memiliki tingkat pendidikan menengat atas (SMA) dan perguruan tinggi (PT) walaupun prosentasenya berkisar antara 5 – 27%. Hal ini menunjukkan variasi tingkat pendidikan masyarakat bantaran sungai yang beragam dengan variance antara prosentase minimum dan maksimum mencapai 31%. Dari distribusi pendidikan per wilayah studi (hulu, tengah, dan hilir) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 9 terlihat bahwa wilayah hulu memiliki prosentase responden paling tinggi untuk penyelesaian pendidikan dasar (SD- SMP) berkisar 63% dibandingkan dengan wilayah tengah dan hilir.

(5)

3. Ukuran Keluarga

Ukuran keluarga yang menempati satu rumah di bantaran sungai merupakan salah satu indikasi terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat bantaran sungai. Dari hasil wawancara lapangan terhadap 300 responden ditemukan bahwa ukuran keluarga yang menempati rumah di bantaran sungai Jangkok adalah berjumlah 6 orang ke atas. Dominasi tersebut ditunjukkan pada Tabel 8 dan Gambar 10, dimana ukuran keluar 6 orang ke atas berjumlah sekitar 67,3%.

Hampir semua keluarga yang dibantaran sungai memiliki anak dan hanya 7% atau 21 responden yang tidak memiliki anak. Hal ini menjadi indikasi bahwa populasi anak-anak bantaran sungai Jangkok cukup banyak yang kedepannya perlu diperhatikan.

Distribusi ukuran keluarga perwilayah studi (hulu, tengah dan hilir) ditunjukkan pada Gambar 11, dimana jumlah responden yang memiliki ukuran keluarga lebih dari 6 orang di dominasi oleh wilayah hilir dengan 76 responden. Jika melihat variance (minimum dan maksimal) ukuran keluarga yang lebih dari 6 orang untuk ketiga wilayah studi berjumlah 15 responden. Hal ini mengambarkan bahwa tidak ada perbedaaan yang signifikan terhadap ukuran keluarga di daerah studi.

4. Fasilitas Pengelolaan Sampah

Fasilitas pengelolaan sampah menjadi satu parameter yang penting untuk diperhatikan terkait dengan kualitas air sungai. Fasilitas pengelolaan sampah yang dimaksud meliputi dua hal utama yaitu sistem pembuangan dan tempat pembuangan sampah. Sistem pembuangan ditujukan pada bagaimana masyarakat bantaran sungai memilih sistem pembuangan sampah yang mereka hasilkan, pada umumnya meliputi menggunakan kresek, tong sampah sendiri dan bersama, dan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang disediakan oleh Pemerintah.

Dari Tabel 9 dan Gambar 12 terlihat bahwa masyarakat bantaran sungai mempunyai 2 sistem pengelolaan sampah yang dominan yaitu menggunakan kresek (118 responden) dan memiliki tong sampah sendiri (129 responden). Namun demikian masih ada responden yang tidak mempunyai sistem pengelolaan sampah yang mereka hasilkan berada pada kisaran 5 – 25 responden (dominan di wilayah hilir). Ketidak tersediaan sistem pengelolaan sampah untuk responden di area studi juga berimplikasi

pada tempat pembuangan sampah yang dipilih oleh para responden. Dimana terdapat total 17% responden yang melakukan pembuangan sampah langsung di Sungai.

Sistem pembuangan sampah yang paling dominan dipilih (68%) oleh masyarakat bantaran sungai Jangkok adalah memanfaatkan motor roda tiga (tosa) yang merupakan program Pemerintah Kota Mataram. Hal ini merupakan salah satu indikasi bahwa keberadaan tosa dinilai cukup efektif dalam membantu distribusi sampah dari penghasil (masyarakat bantaran sungai) ke TPS.

5. Fasilitas Sanitasi

Kegiatan Mandi Cuci Kakus (MCK) adalah kontributor utama terhadap nilai parameter E-Coli dan Total E-Coliform yang ada di sungai termasuk Sungai Jangkok. Dari data hasil pemantauan kualitas air Sungai Jangkok yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram (Tabel 3) terlihat bahwa nilai parameter Total Coliform di Sungai Jangkok berkisar antara 35.000 – 240.000 MPN/100 ml, dimana hasil tersebut melebihi baku mutu air permukaan sebesar 5.000 MPN/100 ml. Terlihat bahwa sebagai besar masyarakat (>90%) sudah memiliki fasilitas sanitasi lengkap berupa kamar mandi dan WC. Namun demikian masih ada masyarakat bantaran Sungai Jangkok (responden) yang melakukan aktifitas MCK di sungai – berkisar 5,7%. Sistem pembuangan dari fasiltas MCK yang dimiliki oleh responden di bantaran Sungai Jangkok juga beragam antar lain buangan dari fasilitas MCK dibuang langsung ke sungai, menggunakan sistem septitank untuk buangan dari fasilitas MCK. Terlihat bahwa sekitar 44% masyarakat bantaran sungai memiliki septitank untukmenampung air buangan/limbah yang dihasilkan dari kegiatan MCK mereka. Selain itu ada sekitar 21,7% responden membuang limbah hasil kegiatan MCK mereka langsung ke sungai yang tentu saja akan berkontribusi terhadap nilai parameter Coli yang ada di Sungai Jangkok. Beberapa hasil pemantauan lapangan terhadap pembuangan langsung ke sungai ditampilkan pada Gambar berikut

(6)

b. Uji Statistik

Untuk Uji Statistik dilakukan dua model uji yaitu uji korelasi, uji validitas dan uji kehandalan. Salah satu contoh parameter yang diuji adalah mengetahu korelasi antara variable tetap (pemantauan E-Coli) dengan variable tidak tetap (fasilitas pengelolaan sampah dan sanitasi) seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1 dengan total responden sebanyak 300 orang.

Tabel 1 Uji Korelasi Variabel Correlations

** . Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Dari hasil analisa statistik menggunakan SPSS terlihat bahwa variable hasil pemantauan E-Coli dipengaruhi secara signifikan oleh variable fasiltas MCK dengan nilai Pearson Correlation 0,245.

Uji statistik lain yang dilakukan adalah uji validitas, dimana suatu tes dapat dikatakan memiliki validitas tinggi jika tes tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang tepat dan akurat sesuai dengan tujuan tes tersebut. Teknik pengujian yang sering digunakan untuk uji validitas di SPSS adalah dengan menggunakan bivariate pearson, analisa ini dengan cara mengkorelasikan masing-masing skor item dengan skor total. Skor total adalah penjumlahan dari keseluruhan item. Dari Tabel terlihat bahwa r hitung (total) > r table (0,133) sehingga dapat disimpulkan bahwa item-item pertanyaan berkorelasi signifikan terhadap skor total (dinyatakan valid).

Uji terakhir yang dlakukan adalah uji kehandalan atau reliability test. Reabilitas atau kehandalan adalah konsistensi dari serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur. Dalam penelitian, realibilitas adalah sejauh mana pengukuran dari suatu tes tetap konsisten setelah dilakukan berulang-ulang terhadap subjek dan dalam kondisi yang sama. Tinggii rendahnya reliabilitas secara empiric ditunjukkan oleh suatu angka yang disebut nilai koefisien realibilitas

(alpha). Dari Tabel terlihat bahwa angka Alpha Cronbatch’s sebesar 0,666 (=0,7) sehingga bisa dikatakan bahwa kehandalan dari seluruh tes yang digunakan adalag mencukupi (sufficient reabillity). c. Multi Stakeholder Model

Dari paparan pada Sub bab 4.3 terlihat bahwa pendekatan multistakeholders model menjadi hal yang paling sesuai dengan pengelolaan sungai menuju sungai yang lestari (sehat dan bersih) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Pendekatan multistakeholder banyak diterapkan dalam pengelolaan sungai di berbagai tempat bahkan di Luar Negeri.

Gambar 1 Multistakeholders Model

Keberlangsungan dari multistakeholder model serta efektifitasnya sangat bergantung pada beberapa hal yaitu antara lain:

1. Berbagi peran (role sharing): setiap pemangku kepentingan harus diberikan peran dan tanggung jawab sesuai dengan proporsi dan kesepakatan bersama.

2. Komitmen (commitment): setiap pemangku kepentingan harus memiliki komitmen yang tinggi untuk melaksanakan peran dan tanggung jawab yang telah disepakati bersama.

3. Regulasi yang jelas (punish and reward): perlu disiapkan peraturan yang jelas untuk mengatur peran berbagai pemangku kepentingan selain penerapan sistem punish and reward.

4. Inovasi dan ekonomi kreatif (innovation and creative economic): inovasi program yang mengarah pada pengembangan ekonomi kreatif perlu dilakukan untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.

5. `Wilayah Tematik (thematic area): wilayah sungai perlu di segmentasi untuk memberikan ciri khas dari setiap area misalnya memberikan ciri khas untuk wilayah hulu, tengah dan hilir sehingga program inovasi juga mengarah ke wilayah tematik yang telah ditetapkan.

(7)

PENUTUP a. Simpulan

Kondisi sosial dan ekonomi masyakat bantaran sungai diamati berdasarkan beberapa parameter yaitu tingkat pendapatan, tingkat pendidikan, ukuran keluarga, fasilitas pengelolaan sampah dan fasilitas sanitasi. Pengambilan parameter tersebut juga dikorelasikan dengan potensi pencemar terhadap parameter Total Coliform yang dihasilkan dari pemantauan kualitas air permukaan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram.

Dari sisi pendapatan masyakarat bantaran sungai memiliki pendapatan kurang dari Rp. 500.000/bulan (44,7%) berada dibawah standar garis kemiskinan yang ditetapkan oleh Bank Dunia ($1,9/hari). Tingkat pendidikan masyakarak di bantaran Sungai Jangkok didominasi oleh pendidikan Dasar- Menengah (SD-SMP) sebesar 57,6% dari total responden sedangkan ukuran keluarga yang dimiliki oleh masyarakat bantaran sungai lebih dari 6 orang per rumah (67,3%). Pengelolaan sampah yang dilakukan oleh masyakarat bantaran sungai cukup terbantu dengan keberadaa motor tosa yang merupakan program pemerintah namun demikian masih ada sebagian masyarakat yang membuang langsung sampahnya ke sungai (17%). Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kenaikan parameter Total Coliform di Sungai Jangkok adalah pembuangan limbah kegiatan MCK masyarakat bantaran sungai, dimana sekitar 21,7% masyarakat bantaran Sungai Jangkok masih melakukan pembuangan limbah kegiatan MCK langsung ke Sungai Jangkok. Bagaimana korelasi antara kualitas sungai sebagai variable tetap (dependent variable) dengan kondisi sosial & ekonomi sebagai variable bebas (independent variable).

Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa ada keterkaitan yang cukup kuat antara variable tetap (parameter Total Coliform) dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat bantaran sungai. Hal ini ditunjukkan oleh nilai significance (2-tailed) berada di level >0,01.

Instrumen penunjang pengelolaan sungai sudah ada di Sungai Jangkok walaupun tidak memiliki peran yang jelas sehingga terkesan tidak efektif. Kelompok Peduli Sungai (KSP) yang sudah dibentuk dibeberapa tempat hanya menyisakan 2 KSP yang masih aktif.

Perlu kembali membangun kerjasama antar semua pemangku kepentingan dengan mengacu pada beberapa prinsip kerjasama yaitu pembagian peran, komitmen, regulasi, inovasi dan ekonomi kreatif. Implementasi terhadap prinsip tersebut akan menghasilkan kerjasama yang berkelanjutan menuju sungai sehat dan bersih (lestari).

Pemangku kepentingan yang meliputi Pemerintah, masyarakat, swasta dan LSM menjadi pilar penentu keberhasilan pengelolaan sungai yang berkelanjutan. Pembagian peran yang proporsional disertai dengan komitmen serta keberadaan regulasi akan mampu menghasilkan nilai-nilai ekonomi sehingga akan memberikan dampak positif ke masyarakat bantaran Sungai Jangkok. Pendekan multistakeholder menjadi model yang layak untuk di implementasi menuju sungai sehat dan bersih (lestari).

b. Saran

Beberapa saran yang disampaikan terkait dengan kajian ini adalah:

1. Melakukan penataan wilayah bantaran Sungai Jangkok sehingga potensi pencemar yang masuk ke badan air bisa dikurangi bahkan dihilangkan. 2. Membuat regulasi yang menerapkan sistem

punish and reward untuk menuju pengelolaan sungai yang berkelanjutan.

3. Melakukan implementasi model multistakehoder untuk pengelolaan wilayah Sungai Jangkok.

DAFTAR PUSTAKA

Ferreira, F., Lakner, C., Sanchez, C., 2017, The 2017 Global Poverty Update from The World Bank,

http://blogs.worldbank.org/developmenttal/ 2017- Global-Poverty-Update-World-Bank, last visited 5 September 2018.

Hays, W.L, 1976, Quantification in Psychology. Prentice Hall, New Delhi.

Joreskog, K.G, 2002, Structural Equation Modelling with Ordinal Variables Using LISTREL.http://ssicentral.com. [28 Juli 2007]

Mason, Robert D., and Douglas, 1999, Teknik Statistika Untuk Bisnis dan Ekonomi, terjemahan Ed. 9 Cetakan Pertama. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Nazir, M., 1999, Metode Penelitian. Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta. Siagian, S.P. 1994. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bumi Aksara, Jakarta.

Singarimbun, M dan S. Effendi, 1995, Metode Penelitian Survei. LP3ES, Jakarta

Gambar

Tabel 1 Uji Korelasi Variabel Correlations

Referensi

Dokumen terkait

Pola bakteri total coliform menunjukkan bahwa lingkungan perairan sungai mempunyai jumlah yang tertinggi dibandingkan dengan muara dan pantai, bahkan perbedaan nilai

MATRIKS UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (UKL-UPL) KEGIATAN PERLUASAN SAWAH OLEH DINAS PERTANIAN, PERKEBUNAN DAN KEHUTANAN KABUPATEN

Pada tahun 2020 penyusunan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup DKI Jakarta telah mendapatkan dukungan data pemantauan dari KLHK, sama halnya dengan tahun 2021 ini

% 100 100 100 Meningkatkan kualitas lingkungan yang menyeluruh melalui Penguatan sistem pemantauan kualitas lingkungan hidup, penegakan hukum lingkungan, penanganan

Pemantauan lingkungan hidup, berisi informasi mengenai cara, metode, dan/atau teknik untuk melakukan pemantauan yang telah dilakukan/diusulkan atas kualitas lingkungan hidup

Beberapa parameter kualitas air sungai yang dipantau adalah adalah Total Organic Carbon (TOC) dan Total Inorganic Carbon (TIC). Fluktuasi konsentrasi parameter-parameter

Mata air yang berada di Desa Gedongjetis diuji berdasarkan kualitas air dari segi parameter biologi yaitu total coliform dan fecal coliform. Metode yang digunakan

Rekomendasi kesesuaian lahan merupakan langkah terakhir yang harus dilakukan pada tahapan analisis aspek fisik dan lingkungan. Analisis ini merangkum hasil studi