• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. FENOMENA ALIRAN SUNGAI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "III. FENOMENA ALIRAN SUNGAI"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas Gadjah Mada III. FENOMENA ALIRAN SUNGAI

3.1. Pengantar

Pada bab ini akan ditinjau permasalahan dasar terkait dengan penerapan ilmu hidrologi (analisis hidrologi) untuk perencanaan bangunan di sungai. Penerapan ilmu hidrologi dalam rangka kegiatan perencanaan bangunan sungai atau bangunan air pada umumnya adalah untuk mendapatkan data dasar perancangan. Salah satu besaran rancangan yang penting adalah besarnya debit maksimum yang perlu dipertimbangkan untuk penetapan kapasitas ataupun ketahanan/kekuatan bangunan air yang dipasang/dibangun di alur sungai. Besaran ini umumnya dinyatakan dalam debit banjir rancangan (design flood) yang diartikan sebagai besarnya aliran sungai maksimum yang diperkirakan dapat terjadi di lokasi bangunan air selama periode perancangan (design flood). Istilah periode perancangan dalam hal ini dikaitkan dengan umur teknis rencana dan bangunan air yang dibuat tersebut, yaitu periode waktu dimana bangunan air tersebut diharapkan dapat berfungsi dengan baik.

Besarnya debit rancangan yang diperoleh melalui analisis hidrologi merupakan analisis penting dalam analisis selanjutnya. Sebagai contoh untuk kasus jembatan, ukuran, dimensi, tata letak bangunan-bangunan bagian dan konstruksi jembatan akan tergantung pada tinggi muka air banjir. Selain itu untuk perencanaan bangunan pelengkap dan pengaman jembatan atau sungainya sendiri, diperlukan besaran debit dominan. Besaran ini merupakan parameter utama dalam kaitannya dengan analisis yang menyangkut proses morfologi sungai seperti penggerusan dasar dan tebing sungai akibat adanya angkutan sedimen. Penentuan letak dasar pilar, pondasi jembatan, macam dan tipe serta tata letak konstruksi perletakan jembatan, dan bangunan-bangunan pengaman lainnya akan sangat dipengaruhi oleh perilaku hidraulik sungai pada debit dominan tersebut. Dalam hal ini, penentuan nilai debit dominan merupakan proses analisis tersendiri yang memerlukan informasi data debit aliran untuk periode yang relatif panjang.

3.2. Konsep Umum Fenomena Aliran Sungai

Pada dasarnya, analisis hidrologi untuk menentukan besarnya debit banjir rancangan dan debit dominan tersebut merupakan pemahaman kuantitatif terhadap proses yang terjadi pada DAS yang ditinjau. Dalam hal ini yang diinginkan adalah nilai aliran debit maksimum atau debit dominan yang dapat ditelusuri berdasarkan

(2)

pemahaman hubungan kuantitatif antar dengan besarnya aliran sungai tersebut.

Dalam konteks hidrologi dapat dinyatakan bahw pemahaman terhadap proses pengalihragaman (

menjadi satu set keluaran pada suatu sistem hidrologi, yaitu sistem DAS. Masukan dalam pengertian ini dapat berupa hujan, sedangkan keluaran adalah aliran sungai yang terjadi pada DAS dengan berbagai karakteristik fisiknya membentuk s

yang dapat memberikan hubungan spesifik antara hujan dan aliran. Umumnya keluaran sistem DAS tersebut dinyatakan dalam bentuk hidrograf, yaitu grafik hubungan antara waktu dan debit aliran. Konsep

Gambar 3.1.

Konsep dasar untuk dapat memahami masalah aliran s

berangkat dari pengertian daur hidrologi, yaitu penjelasan tentang berbagai proses hidrologi yang umum berlaku pada suatu sistem DAS. Secara skematis daur hidrologi telah dilukiskan seperti pada Gambar 1.1. Penjelasan lebih lanjut mengenai daur hidrologi adalah sebagai berikut.

Sumber tenaga atau energi untuk dapat terjadinya

matahari. Dengan adanya tenaga tersebut dapat terjadi penguapan, baik dan permukaan tanah, dan permukaan tumbuhan dan penguapan dan tubuh air. Umumnya dibedakan dengan istilah evaporasi yaitu penguapan dan permukaan air dan transpirasi yaitu penguapan dari

membentuk awan yang jika kondisi klimatologinya memungkinkan akan dapat terjadi mahaman hubungan kuantitatif antara beberapa faktor penyebab terjadinya aliran dengan besarnya aliran sungai tersebut.

Dalam konteks hidrologi dapat dinyatakan bahwa upaya tersebut merupakan aman terhadap proses pengalihragaman (transformasi) dan satu set masukan menjadi satu set keluaran pada suatu sistem hidrologi, yaitu sistem DAS. Masukan dapat berupa hujan, sedangkan keluaran adalah aliran sungai yang terjadi pada DAS dengan berbagai karakteristik fisiknya membentuk s

yang dapat memberikan hubungan spesifik antara hujan dan aliran. Umumnya keluaran sistem DAS tersebut dinyatakan dalam bentuk hidrograf, yaitu grafik hubungan antara waktu dan debit aliran. Konsep ini secara skematis ditunjukkan pada

Konsep dasar untuk dapat memahami masalah aliran sungai, akan selalu pengertian daur hidrologi, yaitu penjelasan tentang berbagai proses hidrologi yang umum berlaku pada suatu sistem DAS. Secara skematis daur hidrologi telah dilukiskan seperti pada Gambar 1.1. Penjelasan lebih lanjut mengenai daur

berikut.

Sumber tenaga atau energi untuk dapat terjadinya penguapan adalah panas . Dengan adanya tenaga tersebut dapat terjadi penguapan, baik dan permukaan tanah, dan permukaan tumbuhan dan penguapan dan tubuh air. Umumnya evaporasi yaitu penguapan dan permukaan air dan transpirasi yaitu penguapan dari permukaan tumbuhan. Air yang diuapkan

membentuk awan yang jika kondisi klimatologinya memungkinkan akan dapat terjadi a beberapa faktor penyebab terjadinya aliran a upaya tersebut merupakan dan satu set masukan menjadi satu set keluaran pada suatu sistem hidrologi, yaitu sistem DAS. Masukan dapat berupa hujan, sedangkan keluaran adalah aliran sungai yang terjadi pada DAS dengan berbagai karakteristik fisiknya membentuk sistem DAS yang dapat memberikan hubungan spesifik antara hujan dan aliran. Umumnya keluaran sistem DAS tersebut dinyatakan dalam bentuk hidrograf, yaitu grafik secara skematis ditunjukkan pada

ungai, akan selalu pengertian daur hidrologi, yaitu penjelasan tentang berbagai proses hidrologi yang umum berlaku pada suatu sistem DAS. Secara skematis daur hidrologi telah dilukiskan seperti pada Gambar 1.1. Penjelasan lebih lanjut mengenai daur penguapan adalah panas . Dengan adanya tenaga tersebut dapat terjadi penguapan, baik dan permukaan tanah, dan permukaan tumbuhan dan penguapan dan tubuh air. Umumnya evaporasi yaitu penguapan dan permukaan air dan permukaan tumbuhan. Air yang diuapkan ini dapat membentuk awan yang jika kondisi klimatologinya memungkinkan akan dapat terjadi

(3)

Universitas Gadjah Mada

hujan. Air hujan ini sebagian ada yang diuapkan kembali sebelum mencapai permukaan tanah, dan sebagian akan jatuh ke permukaan tanah yang kita kenal dengan pengertian hujan yang dapat diukur dengan alat penakar hujan.

Air hujan di permukaan tanah akan terinfiltrasi dan apabila jumlahnya cukup besar akan dapat menyebabkan terjadinya limpasan permukaan. Sebelum sejumlah air hujan yang jatuh di permukaan tanah akan menjadi limpasan, terjadi peristiwa intersepsi, penguapan dan pengisian cekungan (depression storage). Bagian air yang menjadi limpasan permukaan (surface runoff) akan terkumpul pada saluran-saluran kecil yang selanjutnya akan masuk ke sungai sebagai bagian dan debit aliran sungai. Air yang tertampung di cekungan akhimya akan menguap dan terinfiltrasi. Limpasan permukaan akan terkumpul di saluran-saluran kecil kemudian mengalir ke sungai dan akhimya menuju laut.

Air yang masuk ke tanah melalui infiltrasi akan mengalami berbagai proses. Sebagian akan langsung diuapkan jika transfer dan dalam tanah ke permukaan memungkinkan. Oleh tanaman, air yang teninfiltrasi dapat pula ditransfer ke atmosfer melalui proses transpirasi. Sisa air infiltrasi akan mengisi kekurangan lengas tanah dan jika jumlahnya cukup besar akan dapat memberikan masukan ke tampungan air tanah dan sebagian dapat mengalir secara mendatar yang disebut dengan aliran antara

(interfiow). Laju aliran pada tampungan air tanah akan menyebabkan terjadinya aliran dasar (base flow).

Dari pengertian tentang daur hidrologi tersebut dapat diketahui bahwa aliran yang terukur di sungai terdiri dan unsur-unsur aliran berikut:

a. limpasan permukaan, b. aliran antara (interfiow), c. aliran dasar (base flow)

d. curah hujan yang jatuh pada sungai (channel rainfall).

Terlihat dan penjelasan tersebut bahwa daur hidrologi merupakan konsep yang sederhana, namun pada kenyataannya di alam terjadi hal-hal yang sangat kompleks. Aliran yang terjadi di sungai dapat didekati dengan penelusuran dari elemen-elemen alirannya yaitu aliran permukaan, aliran antara dan aliran dasar.

Dalam konteks analisis debit banjir ekstrim atau debit banjir maksimum, maka dapat dilakukan pendekatan praktis dengan memisahkan bagian air yang terinfiltrasi dan yang menjadi limpasan atau runoff. Pendekatan ini ditetapkan dalam penggunaan metode rasional untuk menghitung debit maksimum. Penjelasan lebih rinci tentang cara tersebut dapat dilihat pada uraian di bab selanjutnya.

(4)

3.3. Hubungan antara Hujan, Parameter DAS dan Aliran

Dengan konsep dasar seperti diuraikan

banjir atau aliran besar pada sungai pada umumnya akan terkait dengan peristiwa hujan dan parameter DAS. Fenomena penting yang haru

adalah bagaimana proses terjadinya pengalihragaman hujan yang DAS tertentu menjadi aliran di alur sungai. Proses

hujan dan karakteristik parameter DAS. Pengaruh parameter fisik DAS terhadap karakteristik aliran dijelaskan sebagai berikut

1. Bentuk DAS

DAS yang mempunyai bentuk lebar akan menunjukkan ciri debit aliran puncak lebih besar daripada debit aliran puncak pada DAS yang memanjang. Pada DAS yang berbentuk memanjang, waktu untuk terjadinya akumulasi aliran penuh akibat curah hujan akan lebih lama, sehing

waktu terjadinya debit puncak lebih besar. Untuk lebih jelasnya keterangan tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.2 berikut ini

2. Luas DAS

Debit puncak untuk setiap satuan DAS akan lebih besar pada DAS

kecil. Hal ini dapat disebabkan faktor losses dan reduksi yang umumnya lebih besar pada DAS yang luas. Misal akibat adanya danau atau rawa.

Hujan, Parameter DAS dan Aliran

Dengan konsep dasar seperti diuraikan di atas, dapat difahami bahwa peristiwa banjir atau aliran besar pada sungai pada umumnya akan terkait dengan peristiwa r DAS. Fenomena penting yang harus dipahami dengan benar adalah bagaimana proses terjadinya pengalihragaman hujan yang jatuh pada suatu DAS tertentu menjadi aliran di alur sungai. Proses ini akan sangat tergantung dan sifat hujan dan karakteristik parameter DAS. Pengaruh parameter fisik DAS terhadap karakteristik aliran dijelaskan sebagai berikut ini.

g mempunyai bentuk lebar akan menunjukkan ciri debit aliran puncak lebih besar daripada debit aliran puncak pada DAS yang memanjang. Pada DAS yang berbentuk memanjang, waktu untuk terjadinya akumulasi aliran penuh akibat curah hujan akan lebih lama, sehingga bentuk hidrograf cenderung akan lebih landai dengan waktu terjadinya debit puncak lebih besar. Untuk lebih jelasnya keterangan tersebut

lihat pada Gambar 3.2 berikut ini.

Debit puncak untuk setiap satuan DAS akan lebih besar pada DAS dengan luas dapat disebabkan faktor losses dan reduksi yang umumnya lebih besar pada DAS yang luas. Misal akibat adanya danau atau rawa.

di atas, dapat difahami bahwa peristiwa banjir atau aliran besar pada sungai pada umumnya akan terkait dengan peristiwa s dipahami dengan benar jatuh pada suatu akan sangat tergantung dan sifat hujan dan karakteristik parameter DAS. Pengaruh parameter fisik DAS terhadap

g mempunyai bentuk lebar akan menunjukkan ciri debit aliran puncak lebih besar daripada debit aliran puncak pada DAS yang memanjang. Pada DAS yang berbentuk memanjang, waktu untuk terjadinya akumulasi aliran penuh akibat curah ga bentuk hidrograf cenderung akan lebih landai dengan waktu terjadinya debit puncak lebih besar. Untuk lebih jelasnya keterangan tersebut

dengan luas dapat disebabkan faktor losses dan reduksi yang umumnya lebih besar

(5)

3. Topografi

Pada DAS dengan kemiringan tanah dan alur sungai yang besar akan menunjukkan ciri debit puncak yang besar. Hal

aliran permukaan yang lebih cepat akibat kemiringan yang besar tersebut.

4. Geologi

Pengaruh faktor geologi pada DAS terutama menyangkut besarnya laju infiltrasi dan evaporasi. Pada DAS dengan kondisi geol

rapat, nilai infiltrasi akan kecil, sehingga pada waktu terjadi hujan akan menyebabkan adanya aliran permukaan yang besar. Sebaliknya pada DAS dimana struktur tanah dan batuannya mempunyai sifat permeabilitas yang besa

terinfiltrasi akan cukup besar sehingga akan mengurangi potensi aliran permukaan yang terjadi akibat hujan.

5. Kerapatan jaringan kuras

Kerapatan jaringan kuras dinyatakan dengan panjang alur sungai per satuan luas DAS. Pada DAS dengan sungai yang mempunyai banyak anak sungai, berarti kerapatan jaringan kurasnya besar dan proses pengatusan lebih cepat, sebab air limpasan permukaan segera akan tertampung pada alur

debit aliran puncaknya akan lebih besar

pada DAS dengan kerapatan jaringan kuras kecil dan waktu untuk mencapai debit puncak lebih cepat. ilustrasi pengaruh kerapatan jaringan kuras terhadap debit puncak ditunjukkan pada Gambar 3.3.

Pada DAS dengan kemiringan tanah dan alur sungai yang besar akan cak yang besar. Hal ini disebabkan proses pengatusan aliran permukaan yang lebih cepat akibat kemiringan yang besar tersebut.

Pengaruh faktor geologi pada DAS terutama menyangkut besarnya laju infiltrasi dan evaporasi. Pada DAS dengan kondisi geologi yang menunjukkan sifat tanah yang rapat, nilai infiltrasi akan kecil, sehingga pada waktu terjadi hujan akan menyebabkan adanya aliran permukaan yang besar. Sebaliknya pada DAS dimana struktur tanah dan batuannya mempunyai sifat permeabilitas yang besar, jumlah air hujan yang terinfiltrasi akan cukup besar sehingga akan mengurangi potensi aliran permukaan

Kerapatan jaringan kuras

Kerapatan jaringan kuras dinyatakan dengan panjang alur sungai per satuan luas dengan sungai yang mempunyai banyak anak sungai, berarti kerapatan jaringan kurasnya besar dan proses pengatusan lebih cepat, sebab air limpasan permukaan segera akan tertampung pada alur-alur sungai. Dengan demikian debit aliran puncaknya akan lebih besar dibanding debit aliran puncak yang terjadi pada DAS dengan kerapatan jaringan kuras kecil dan waktu untuk mencapai debit puncak lebih cepat. ilustrasi pengaruh kerapatan jaringan kuras terhadap debit puncak ditunjukkan pada Gambar 3.3.

Pada DAS dengan kemiringan tanah dan alur sungai yang besar akan disebabkan proses pengatusan

Pengaruh faktor geologi pada DAS terutama menyangkut besarnya laju infiltrasi ogi yang menunjukkan sifat tanah yang rapat, nilai infiltrasi akan kecil, sehingga pada waktu terjadi hujan akan menyebabkan adanya aliran permukaan yang besar. Sebaliknya pada DAS dimana struktur tanah r, jumlah air hujan yang terinfiltrasi akan cukup besar sehingga akan mengurangi potensi aliran permukaan

Kerapatan jaringan kuras dinyatakan dengan panjang alur sungai per satuan luas dengan sungai yang mempunyai banyak anak sungai, berarti kerapatan jaringan kurasnya besar dan proses pengatusan lebih cepat, sebab air alur sungai. Dengan demikian dibanding debit aliran puncak yang terjadi pada DAS dengan kerapatan jaringan kuras kecil dan waktu untuk mencapai debit puncak lebih cepat. ilustrasi pengaruh kerapatan jaringan kuras terhadap debit puncak

(6)

Universitas Gadjah Mada 6. Tataguna lahan

Faktor tataguna lahan pada DAS memberikan pengaruh cukup dominan. Macam penggunaan lahan akan sangat menentukan besarnya losses akibat infiltrasi dan besarnya koefisien limpasan permukaan. Perubahan tataguna lahan dapat menyebabkan perubahan nilai koefisien limpasan permukaan (koefisien aliran) dan kerapatan jaringan kuras. Sebagai contoh pada DAS yang semula sebagian besar berupa hutan dan persawahan, kemudian berubah menjadi lahan pemukiman, akan menunjukkan ciri perubahan debit puncak aliran banjir menjadi meningkat.

3.4. Hidrograf Satuan

Salah satu sifat spesifik DAS terkait dengan pemahaman proses pengalihragaman hujan aliran adalah hidrograf satuan. Keterangan lebih rinci tentang hidrograf satuan DAS diuraikan sebagai berikut mi.

3.4.1. Pengertian Umum

Hidrograf satuan (unit hydrograph) didefinisikan sebagai hidrograf limpasan langsung (direct runofi) akibat hujan efektif merata di seluruh DAS dengan intensitas tetap dengan durasi dan kedalaman tertentu (satu satuan). Dengan definisi tersebut mengartikan bahwa hidrograf satuan merupakan tanggapan DAS secara menyeluruh dalam bentuk aliran (hidrograf) akibat masukan berupa hujan yang dideskripsikan dengan satuan tinggi dan durasi tertentu. Sifat DAS ini berlaku tetap pada suatu DAS tertentu dan merupakan representasi karakteristik tertentu dalam proses pengalihragaman hujan menjadi aliran.

Konsep ini merupakan pendekatan mendasar yang dapat dikembangkan untuk perhitungan banjir rancangan (Sherman, 1932). Gambar 3.4 menyajikan skema ilustrasi pengertian tentang hidrograf satuan suatu DAS serta penggunaannya dalam hitungan banjir rancangan.

(7)
(8)

Universitas Gadjah Mada

Beberapa anggapan dasar (postulat) yang berlaku pada penggunaan teori hidrograf satuan adalah sebagai berikut ini.

a. Hujan dianggap merata seluruh DAS dengan intensitas seragam dan tetap dalam satuan durasi yang ditetapkan.

b. Hubungan antara hujan dan aliran bersifat linier (linear system).

c. Hubungan antara hujan dan aliran pada proses pengalihragaman di DAS tidak tergantung pada waktu kejadian (time invariant).

d. Waktu dasar (base time) hidrograf satuan tetap.

3.4.2. Hidrograf Satuan Terukur

Hidrograf satuan suatu DAS dapat diperoleh dengan suatu analisis hitungan berdasarkan data hujan jam-jaman dan hidrograf (debit rerata jam-jaman) akibat kejadian hujan tercatat. Penentuan hidrograf satuan tersebut dapat dilakukan dengan beberapa metode hitungan sebagai berikut:

a. persamaan polinomial, b. cara Collins

c. jumlah kuadrat terkecil (least square method),

d. algoritme optimasi.

1. Hitungan hidrograf satuan dengan cara persamaan polinomial

Berikut diberikan contoh hitungan hidrograf satuan dengan cara persamaan polinomial yang menggunakan keempat postulat seperti disebutkan di uaraian terdahulu.

Data

Pada satu DAS seluas 75,6 km2 terjadi hujan merata selama 4 jam

berturut-turut sebesar 13 mm, 15 mm, 12 mm dan 8 mm. Akibat hujan tersebut terjadi perubahan debit aliran di sungai terukur seperti pada Tabel 3.1 di bawah. Dengan ketersediaan data tersebut, tentukan hidrograf satuan di DAS dengan menggunakan cara persamaan polinomial.

(9)

VLL = [(11+27+47+56.5+48.5+33.5+18.5+8)

Pef = VLL/A = 756000 x 103

Misal index < 8 mm/jam: index = [(13+15+12+8) Misal 8 < index < 12 mm/jam:

index = [(13+15+12) index = 10 mm/jam. (2) Menentukan hujan efektif

Jam ke 1: P1 efektif = 13 - 10 = 3 mm. Jam ke 2: P2 efektif = 15 - 10 = 5 mm. Jam ke 3: P3 efektif = 12 -10 = 2 mm.

[(11+27+47+56.5+48.5+33.5+18.5+8) — (8x5) ] x 3600 = 756000 m3. 3 / (75.6 x 106)= 10 mm.

index = [(13+15+12+8) -10)] / 4 = 9.5 mm/jam……….Tidak benar !! index < 12 mm/jam:

index = [(13+15+12) — 10)] / 3 = 10 mm/jam …………..Anggapan benar !! index = 10 mm/jam. 10 = 3 mm. 10 = 5 mm. 10 = 2 mm. . !! …………..Anggapan benar !!

(10)

(3) Menurunkan hidrograf satuan

Hitungan hidrograf satuan dilakukan dengan cara tabulasi agar lebih sederhana penyelesaiannya, seperti disajikan pada Tabel 3.2.

Keterangan:

1) QHLL = U3(t) + U5(t-1) + U2

2) Contoh: 22.0 = U3(t) + 10.0 + 0.0, maka U

3) Hidrograf satuan (UH) adalah U

2. Hitungan hidrograf satuan dengan cara Collins

Hitungan hidrograf satuan dengan cara persamaan polinomial praktis tidak akan dapat diterapkan untuk kasus nyata di lapangan. Tingat ketelitian hasil pengukuran data AWLR dan debit sangat terbatas dari

DAS untuk hubungan hujan dan aliran tidak sepenuhnya dapat dipenuhi. Pendekatan lain adalah dengan cara Collins, yaitu dengan prosedur iterasi yang diawali dengan sebuah hidrograf satuan hipotetik sebagai masukan awal hitungan iterasi. Proses iterasi ditetapkan dengan pendekatan konvergensi nilai volume hidrograf satuan. Meskipun demikian, prosedur hitungan tetap didasarkan pada prinsip superposisi dan linieritas hubungan hujan dan al

Cara Collins mensyaratkan pemilihan kasus berupa hidrograf tunggal, semata mata agar proses hitungan lebih sederhana dan tidak memakan waktu. Prosedur penetapan hidrograf satuan cara Collins dapat dijelaskan sebagai berikut

hidrograf satuan

Hitungan hidrograf satuan dilakukan dengan cara tabulasi agar lebih sederhana penyelesaiannya, seperti disajikan pada Tabel 3.2.

2(t-2)

(t) + 10.0 + 0.0, maka U3(t) = 12.0

satuan (UH) adalah U1(t) = U3(t) / 3 (m3/dt) Hitungan hidrograf satuan dengan cara Collins

Hitungan hidrograf satuan dengan cara persamaan polinomial praktis tidak akan dapat diterapkan untuk kasus nyata di lapangan. Tingat ketelitian hasil LR dan debit sangat terbatas dari asumsi prinsip linieritas sistem DAS untuk hubungan hujan dan aliran tidak sepenuhnya dapat dipenuhi. Pendekatan lain adalah dengan cara Collins, yaitu dengan prosedur iterasi yang diawali dengan tuan hipotetik sebagai masukan awal hitungan iterasi. Proses iterasi ditetapkan dengan pendekatan konvergensi nilai volume hidrograf satuan. Meskipun demikian, prosedur hitungan tetap didasarkan pada prinsip superposisi dan linieritas hubungan hujan dan aliran dalam sistem DAS.

Collins mensyaratkan pemilihan kasus berupa hidrograf tunggal, semata ata agar proses hitungan lebih sederhana dan tidak memakan waktu. Prosedur

tapan hidrograf satuan cara Collins dapat dijelaskan sebagai berikut ini.

Hitungan hidrograf satuan dilakukan dengan cara tabulasi agar lebih sederhana

Hitungan hidrograf satuan dengan cara persamaan polinomial praktis tidak akan dapat diterapkan untuk kasus nyata di lapangan. Tingat ketelitian hasil asumsi prinsip linieritas sistem DAS untuk hubungan hujan dan aliran tidak sepenuhnya dapat dipenuhi. Pendekatan lain adalah dengan cara Collins, yaitu dengan prosedur iterasi yang diawali dengan tuan hipotetik sebagai masukan awal hitungan iterasi. Proses iterasi ditetapkan dengan pendekatan konvergensi nilai volume hidrograf satuan. Meskipun demikian, prosedur hitungan tetap didasarkan pada prinsip superposisi dan Collins mensyaratkan pemilihan kasus berupa hidrograf tunggal, semata - ata agar proses hitungan lebih sederhana dan tidak memakan waktu. Prosedur

(11)

Universitas Gadjah Mada

(1) Dipilih kasus hujan dan rekaman AWLR (hidrograf tinggi muka air tunggal) yang terkait. Selanjutnya ditetapkan hidrograffiya dengan menggunakan liku kalibrasi yang berlaku.

(2) Hidrograf limpasan langsung diperoleh dengan memisahkan aliran dasar dan hidrograf tersebut. Selanjutnya hujan efektif ditetapkan dengan (misalnya) indeks , sedemikian sehingga volume hujan efektif sama dengan volume hidrograf limpasan langsung.

(3) Hidrograf satuan hipotetik ditetapkan tidak dengan ordinat — ordinat yang belum diketahui, akan tetapi hidrograf satuan hipotetik yang pasti ditetapkan dengan ordinat — ordinatnya. Tidak ditemukan prosedur atau pedoman tentang hidrograf satuan ini, akan tetapi pengalaman menunjukkan bahwa sebaiknya hidrograf satuan ini paling tidak mempunyai yang mirip dengan karakter hidrograf satuan yang sebenamya.

(4) Semua hujan efektif yang terjadi, kecuali bagian hujan efektif maksimum, ditransformasikan dengan hidrograf satuan hipotetik tersebut, dengan demikian akan diperoleh sebuah hidrograf.

(5) Apabila hidrograf terukur dikurangi dengan hidrograf yang diperoleh dari butir (4), maka yang akan diperoleh adalah hidrograf yang ditimbulkan oleh hujan maksimum. Dengan demikian, maka hidrograf satuan 1 mm/jam baru dapat diperoleh dengan membagi semua ordinat hidrograf ini dengan intensitas hujan maksimum. Hidrograf satuan yang diperoleh terakhir ini dibandingkan dengan hidrograf satuan hipotetik. Apabila perbedaan keduanya telah lebih kecil dari patokan (kriteria) yang ditetapkan, maka hidrograf satuan ini telah dianggap benar. Akan tetapi apabila perbedaannya masih lebih besar dari patokan yang ditetapkan, maka prosedur pada butir (4) diulangi lagi, dengan menggunakan hidrograf satuan yang yang diperoleh dan butir (5) ini.

(6) Prosedur ini diulang terus sampai akhirnya hidrograf satuan terakhir yang tidak berbeda banyak (tidak melebihi patokan perbedaan yang telah ditetapkan).

Contoh Soal : Diambil dan Analisis Hidrologi, Sri Harto (1993)

Pada tanggal 23 Pebruari 1976 di DAS Progo di Kranggan seluas 4 11,67 km2

terjadi hujan selama 5 jam masing — masing 15.00 mm, 15.00 mm, 11.70 mm, 0.45 mm, dan 0.15 mm. Hujan tersebut menimbulkan hidrograf banjir seperti pada Tabel 3.3. Untuk keperluan perancangan diperlukan hidrograf satuan. Urutan yang dilakukan

(12)

adalah merujuk pada cara Co dengan menggunakan cara Collins.

Penyelesaian

(1) Menentukan aliran dasar

Base flow ditentukan dengan cara menarik garis lurus pada awal sisi naik dan pada akhir sisi turun diperoleh persamaan

berikut:

Qt = 14.59 + 0.36 16667 * (t

Aliran dasar hasil hitungan ditampilkan pada tabel 2 kolom 3. (2) Menentukan curah hujan efektif (Re) dan Phi Index (

- Dari hasil hitungan diperoleh Volume Limpasan Langsung (VLL) = 5 113746.000 m3 (hitungan lihat pada Tabel 3.4)

- Luas DAS = 411.67 km

- Data hujan selama 5 jam : 15.00 mm, 15.00 mm, 11.70 mm, 0.45 mm dan 0.15 mm.

- Tinggi curah hujan efektif total (Re) dihitung sbb

Re * Luas DAS = Volume Limpasan Langsung (VLL) Re =

Re =

adalah merujuk pada cara Collins. Hitunglah hidrograf satuan pada DAS tersebut dengan menggunakan cara Collins.

Menentukan aliran dasar (base flow)

Base flow ditentukan dengan cara menarik garis lurus pada awal sisi naik dan pada akhir sisi turun diperoleh persamaan aliran dasar pada jam ke t sebagai

= 14.59 + 0.36 16667 * (t-1).

Aliran dasar hasil hitungan ditampilkan pada tabel 2 kolom 3. Menentukan curah hujan efektif (Re) dan Phi Index ( )

hasil hitungan diperoleh Volume Limpasan Langsung (VLL) = (hitungan lihat pada Tabel 3.4)

km2

Data hujan selama 5 jam : 15.00 mm, 15.00 mm, 11.70 mm, 0.45 mm dan Tinggi curah hujan efektif total (Re) dihitung sbb.:

Re * Luas DAS = Volume Limpasan Langsung (VLL) Volume Limpasan Langsung

LuasDAS 5.113.746

411.67*1000 = 12422 mm

llins. Hitunglah hidrograf satuan pada DAS tersebut

Base flow ditentukan dengan cara menarik garis lurus pada awal sisi naik dan aliran dasar pada jam ke t sebagai

(13)

- Menentukan curah hujan efektif untuk masing - ulang. Diambil 2 curah

dengan curah hujan terbesar berikutnya adalah (15.00 = 6.60 mm.

- Selisih = 12.422 mm

angka selisih tersebut dibagi 3 = 5.822 mm

- Dengan demikian Curah hujan efektif yang diperoleh untuk masing jam adalah sbb:

Re1 = 3.30 mm + 1.941 mm =

Re2 = 3.30 mm+ 1.941 mm

Re3 =1.941 mm.

Angka Phi Index ( ) = 15.00

Gambar 3.5 menyajikan grafik hubungan antara hujan dan debit terukur serta pemisahan aliran dasar (base fiwo

Menentukan curah hujan efektif untuk masing - masing jam dengan cara ulang. Diambil 2 curah hujan terbesar yaitu 15.00 mm dan 15.00 mm, dengan curah hujan terbesar berikutnya adalah (15.00 — 11.70) = 3.30 Selisih = 12.422 mm - 6.60 mm = 5.822 mm, terdistribusi pada 3 jam angka selisih tersebut dibagi 3 = 5.822 mm /3 = 1.94 1 mm.

Dengan demikian Curah hujan efektif yang diperoleh untuk masing = 3.30 mm + 1.941 mm = 5.241 mm.

mm+ 1.941 mm = 5.241 mm.

) = 15.00 - 5.241 = 9.759 mm.

menyajikan grafik hubungan antara hujan dan debit terukur serta

base fiwo).

masing jam dengan cara coba hujan terbesar yaitu 15.00 mm dan 15.00 mm, selisih 11.70) = 3.30 mm.*2 6.60 mm = 5.822 mm, terdistribusi pada 3 jam sehingga Dengan demikian Curah hujan efektif yang diperoleh untuk masing — masing

(14)

(3) Menentukan hidrograf satuan.

- Hidrograf satuan dihitung dengan cara coba ulang untuk beberapa kali trial diperoleh hasil hidrograf

ditampilkan pada tabel hitungan (Tabel 3.5).

- Hidrograf satuan awal ditetapkan dengan debit sembarang dengan jumlah ordinat debit (n) = np,

jumlah ordinat hidrograf terukur dan jaman.

Table 3.4. Hitungan base flow dan volume limpasan langsung Menentukan hidrograf satuan.

Hidrograf satuan dihitung dengan cara coba ulang untuk beberapa kali trial diperoleh hasil hidrograf satuan yang dianggap memenuhi syarat seperti ditampilkan pada tabel hitungan (Tabel 3.5).

Hidrograf satuan awal ditetapkan dengan debit sembarang dengan jumlah , - nq +1 = 31 — 3 + 1 = 29 ordinat (dimana n

jumlah ordinat hidrograf terukur dan nq adalah jumlah periode hujan jam

Table 3.4. Hitungan base flow dan volume limpasan langsung

Hidrograf satuan dihitung dengan cara coba ulang untuk beberapa kali trial satuan yang dianggap memenuhi syarat seperti Hidrograf satuan awal ditetapkan dengan debit sembarang dengan jumlah at (dimana np adalah

(15)
(16)

3.4.3. Hidrograf Satuan Sintetik

Apabila data tidak tersedia cukup untuk penurunan hidrograf satuan cara analitis (terukur), maka dapat dilakukan pendekatan dengan cara menetapkan hidrograf satuan sintetik (HSS). HSS suatu DAS dapat diperoleh berdasarkan sifat dan

Hidrograf Satuan Sintetik

Apabila data tidak tersedia cukup untuk penurunan hidrograf satuan cara (terukur), maka dapat dilakukan pendekatan dengan cara menetapkan satuan sintetik (HSS). HSS suatu DAS dapat diperoleh berdasarkan sifat dan Apabila data tidak tersedia cukup untuk penurunan hidrograf satuan cara (terukur), maka dapat dilakukan pendekatan dengan cara menetapkan satuan sintetik (HSS). HSS suatu DAS dapat diperoleh berdasarkan sifat dan

(17)

karakteristik DAS yang terukur. Beberapa rumus empiris telah banyak dikembangkan, antara lain cara Nakayasu, Snyder, Clar

Dari kelima metode tersebut yang secara spesifik dirumuskan berdasarkan data DAS di Indonesia (Jawa dan Sumatera) adalah metode HSS Gama

Berikut diberikan uraian tentang teori HSS Gama

1. Bentuk tipikal HSS Gama

Bentuk tipikal HSS Gama

waktu dasar (base time) dan debit puncak ( bawah.

2. Sifat-sifat DAS untuk hitungan HSS Gama

Parameter HSS Gama-I tersebut nilainya sangat dipengaruhi oleh beberapa sifat DAS sebagai berikut ini.

a. Faktor-sumber (SF), yaitu perbandingan antara jumlah panjang sungai tingkat satu denganjumlah panjang sungai semua tingkat.

b. Frekuensi-sumber (SN), yaitu perbandingan antara jumlah pangsa sungai tingkat satu clenganjumlah pangsa sungai semua tingkat.

c. Faktor-simetri (SIM), ditetapkan sebagai hasil kali antara faktor lebar (WF) dengan luas relatif DAS sebelah hulu (RUA).

d. Faktor-lebar (WF) adalah perbandingan antara lebar DAS yang diukur dan titik di sungai yang berjarak 0,75 L dan lebar DAS yang diukur dan titik di sungai yang berjarak 0,25 L dan tempat pengukuran.

erukur. Beberapa rumus empiris telah banyak dikembangkan, antara lain cara Nakayasu, Snyder, Clark, SCS dan HSS Gama-I.

kelima metode tersebut yang secara spesifik dirumuskan berdasarkan data DAS di Indonesia (Jawa dan Sumatera) adalah metode HSS Gama-I (Sri Harto, Berikut diberikan uraian tentang teori HSS Gama-I.

Bentuk tipikal HSS Gama-I

Bentuk tipikal HSS Gama-I ditandai dengan para meter waktu naik (time of rise

) dan debit puncak (peak discharge) seperti pada gambar di

sifat DAS untuk hitungan HSS Gama-I

I tersebut nilainya sangat dipengaruhi oleh beberapa sifat sumber (SF), yaitu perbandingan antara jumlah panjang sungai

anjumlah panjang sungai semua tingkat.

sumber (SN), yaitu perbandingan antara jumlah pangsa sungai tingkat satu clenganjumlah pangsa sungai semua tingkat.

simetri (SIM), ditetapkan sebagai hasil kali antara faktor lebar (WF) dengan luas relatif DAS sebelah hulu (RUA).

lebar (WF) adalah perbandingan antara lebar DAS yang diukur dan titik di sungai yang berjarak 0,75 L dan lebar DAS yang diukur dan titik di sungai yang berjarak 0,25 L dan tempat pengukuran.

erukur. Beberapa rumus empiris telah banyak dikembangkan, kelima metode tersebut yang secara spesifik dirumuskan berdasarkan data I (Sri Harto, 1985).

time of rise), gambar di

I tersebut nilainya sangat dipengaruhi oleh beberapa sifat sumber (SF), yaitu perbandingan antara jumlah panjang sungai-sungai

sumber (SN), yaitu perbandingan antara jumlah pangsa sungai-sungai simetri (SIM), ditetapkan sebagai hasil kali antara faktor lebar (WF) dengan lebar (WF) adalah perbandingan antara lebar DAS yang diukur dan titik di sungai yang berjarak 0,75 L dan lebar DAS yang diukur dan titik di sungai yang

(18)

Universitas Gadjah Mada

e. Luas relatif DAS sebelah hulu (RUA) adalah perbandingan antara luas DAS sebelah hulu garis yang ditarik melalui titik di sungai terdekat dengan titik berat DAS dan tegak lurus terhadap garis yang menghubungkan titik tersebut dengan tempat pengukuran, dengan luas DAS total (A).

f. Jumlah pertemuan sungai (JN) yang besarnya sama dengan jumlah pangsa sungai tingkat satu dikurangi satu.

g. Kerapatan jaringan kuras (D), yaitu panjang sungai persatuan luas DAS (km/km2) 3. Rumus-rumus empiris untuk hitungan HSS Gama-I

Rumus-rumus empiris untuk menentukan parameter HSS Gama-I adalah sebagai berikut ini: TR = 043 3 100SF L +1,0665 SIM + 1,2775 QP = 0,1 836A0,5884JN 0,238ITR 0,4008 TB = 27,4 132 TR0,1457S-0,0986SN0,7344 RUA0,2574 K = 0,56 17 A0,1798 S-0,1446 SF-1,0897 D0,0452 = 10,4903 - 3,859.10-6 A2 + 1,6985 .10-13 QB = 0,4751 A°’6444 D°’943°

Dengan pendekatan teori hidrograf satuan ini dapat dilakukan hitungan banjir cangan dengan asumsi bahwa kala ulang banjir rancangan sama dengan kala ulang hujan rancangan. Skema prosedur hitungan banjir rancangan tersebut ditunjukkan pada Gambar 3.9 di bawah ini.

(19)

Gambar

Gambar  3.5  menyajikan  grafik  hubungan  antara  hujan  dan  debit  terukur  serta  pemisahan aliran dasar (base fiwo
Table 3.4. Hitungan base flow dan volume limpasan langsungMenentukan hidrograf satuan

Referensi

Dokumen terkait

tidak boleh mempengaruhi pelajar etnik India bertingkah laku devian. d) Untuk mengenal pasti sama ada penglibatan terhadap aktiviti sosial/. kemasyarakatan boleh atau

Dari diskusi dalam tulisan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Masjid Agung Demak didirikan dengan konsep dan nilai – nilai lama yang mengakar pada masyarakat Jawa sebelum

Hasil penelitian terhadap tekstur ikan motan yang direndam dalam ekstrak buah pare dengan konsentrasi berbeda terjadi peningkatan nilai mutu tekstur, namun semakin

Undang-undang 45 Tahun 2009 tentang Pengawasan oleh dinas perikanan dan kelautan terhadap pengendalian sumberdaya perikanan dan kelautan di Pasal 25 a Ayat (2)

Berdasarkan pembahasan dan hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka dapat diajukan beberapa saran, berikut: (1) Deskripsi kasus wanita tidak bekerja dalam penelitian

Kerjasama yang telah dilakukan PS Fisika berkaitan dengan instansi dalam negeri yaitu pembinaan Olimpiade Sain Nasinal (OSN) dengan pihak Dikpora Bali, memberikan