• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PENAMPILAN GIGI ANTERIOR BERDASARKAN AESTHETIC COMPONENT DARI IOTN TERHADAP PSIKOSOSIAL REMAJA PADA SISWA SMAN 10 PADANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH PENAMPILAN GIGI ANTERIOR BERDASARKAN AESTHETIC COMPONENT DARI IOTN TERHADAP PSIKOSOSIAL REMAJA PADA SISWA SMAN 10 PADANG"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENAMPILAN GIGI ANTERIOR BERDASARKAN

AESTHETIC COMPONENT DARI IOTN TERHADAP PSIKOSOSIAL

REMAJA PADA SISWA SMAN 10 PADANG

Hazni Viyanti1 , Susi2

1

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas

2

Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas, ABSTRACT

Dentofacial esthetics plays an important role in social interaction and psychosocial well-being because it affects how people perceive themselves and how they are perceived in society. Dentofacial deviation, such a malocclusion has negatively affect the psychosocial well-being especially in adolescents period, when some aspects of the facial appearance and dental esthetics have great important for adolescent’s self-image and self-esteem. This study was aimed to investigate the effect of the anterior teeth appearance on the adolescents psychosocial in SMAN 10 Padang using Aesthetic Component of the IOTN. The subjects of cross-sectional study were 89 students in SMAN 10 Padang using the simple random sampling. Anterior teeth appearance were

assessed by interviewer using the Aesthetic Component of the IOTN. Psychosocial impact was measured through a self-rated Psychosocial Impact of Dental Aesthetics Questionnaire (PIDAQ). Data analysis included Spearman correlation test. Significant associations were observed between anterior teeth appearance using Aesthetic Component of IOTN and total score PIDAQ (p < 0,001), dental self-confidence (p < 0,001), social impact (p < 0,05), psychological impact (p < 0,05), and esthetic concern (p < 0,05). Anterior teeth appearance has a psychological impact in adolescents using Aesthetic Component of the IOTN. Therefore, it seemed necessary to improve dental esthetic on adolescents for prevent the disturbance on their psychosocial development.

Key word: Dental appearance, AC IOTN, psychosocial, adolescents, PIDA

Affiliasi penulis: 1Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas,

2

Staff Pengajar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Andalas

Korespondensi: Hazni

email: [email protected] PENDAHULUAN

Penampilan fisik mempunyai peranan yang besar dalam interaksi sosial. Orang yang berpenampilan menarik mempunyai banyak keuntungan sosial karena penampilan fisiknya. Eagly,

dkk menyatakan, orang yang

berpenampilan menarik dipersepsikan lebih popular, suka bergaul, terbuka, tegas, dan tampak bahagia1.

Bagian tubuh yang sangat mempengaruhi penilaian orang lain adalah wajah. Wajah merupakan bagian yang paling sering diperhatikan dan menjadi karakter fisik yang penting dalam perkembangan citra diri dan harga diri2. Penampilan wajah, terutama pada bagian mata dan mulut, memiliki tingkatan tertinggi dalam mempengaruhi persepsi estetika seseorang3. Menarik atau tidaknya wajah dapat dipengaruhi oleh senyum dan penampilan gigi1.

Estetik dentofasial berperan dalam hubungan sosial dan kesehatan psikologis. Hal ini mempengaruhi

(2)

bagaimana seseorang menilai dirinya dan bagaimana masyarakat menilainya4. Shaw, dkk mengatakan penampilan gigi mempengaruhi persepsi orang lain mengenai kelas sosial, popularitas, pertemanan, dan inteligen5. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Kanazawa (2004) yang mengatakan orang yang memiliki penampilan fisik yang menarik merasa mempunyai inteligen dan integritas yang lebih baik daripada teman sebayanya yang mempunyai penampilan kurang menarik1.

Kelainan estetik dentofasial seperti maloklusi merupakan salah satu masalah kesehatan dunia. Beberapa studi epidemiologi yang dilakukan pada remaja Amerika Serikat dilaporkan 11% remaja umur 12-17 tahun mempunyai oklusi normal, 34,8% mempunyai maloklusi ringan, 25,2% mempunyai maloklusi berat sehingga beberapa kasus memerlukan perawatan6. Hasil penelitian Oktavia Dewi tahun 2007 pada remaja SMU kota Medan menemukan 60,5% mengalami maloklusi. Penelitian ini juga menunjukkan 41,89% remaja mengalami gigi berjejal untuk segmen anterior rahang bawah dan rahang atas 30,75% serta kelainan jarak gigit dialami 35,56% remaja.

Maloklusi tidak hanya

mempengaruhi fungsi rongga mulut dan

penampilan gigi, tetapi juga sosial, psikologis, dan ekonomi7. Maloklusi terutama pada gigi anterior, sering terlihat pada saat komunikasi, bicara dan tersenyum sehingga mudah disadari keberadaannya2. Penderita maloklusi kerap menerima respon yang tidak menyenangkan dari orang lain seperti sering mendapat ejekan atau julukan8. Shaw mengatakan penderita maloklusi menjadi sosok yang pemalu karena susunan giginya dan cenderung mempunyai popularitas yang rendah. Dampak psikologis akibat maloklusi membuat penderita merasa rendah diri, susah untuk beradaptasi, mengalami gangguan emosi9, tidak percaya diri, tidak nyaman dalam interaksi sosial, kurang bahagia dan kerap membanding-bandingkan diri dengan orang lain2. Hal

tersebut akan mempengaruhi

perkembangan diri seseorang terutama pada masa remaja, dimana seseorang sedang mencari jati dirinya10.

Remaja adalah fase perubahan dari anak-anak menjadi orang dewasa. Remaja akan mengalami masa transisi yang ditandai adanya perubahan fisik, psikis, dan psikososial10. Pada masa ini terjadi pembentukan identitas diri dan pembentukan peran dalam hubungan sosial3.

(3)

Siswa SMA terdiri dari individu-individu yang berusia sekitar 15-18 tahun yang sedang menjalani masa remaja11. Pada masa remaja, beberapa aspek pada penampilan wajah dan estetik gigi geligi menjadi hal yang sangat penting bagi penampilan dan penilaian dirinya12. Shaw, dkk menyatakan bahwa jika seseorang merasa tidak puas dengan penampilan gigi sejak usia kanak-kanak, kemungkinan besar akan tetap dirasakan sepanjang hidupnya5.

Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN) merupakan merupakan

salah satu alat ukur yang digunakan untuk menggambarkan tingkat kebutuhkan perawatan ortodonti yang terdiri dari

Dental Health Component (DHC) dan Aesthetic component (AC). Aesthetic component dari IOTN dapat mewakili

keadaan estetika seseorang sebelum dilakukan perawatan ortodonti9. Aesthetic

Component dikembangkan untuk

memeriksa keadaan estetik dari suatu maloklusi yang mungkin berdampak pada kondisi psikososial pasien13. Pada penelitian Khan dan Fida (2008) menyebutkan orang yang mempunyai penampilan gigi yang baik (Aesthetic

Component of Index of Orthodontic Treatment Need grade 1) mempunyai

keadaan psikososial yang lebih baik dari aspek rasa percaya diri, aspek sosial,

psikologis, dan estetik daripada orang yang penampilan gigi kurang baik.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh penampilan gigi anterior tehadap psikososial remaja. Penelitian dilakukan pada murid SMA 10 di kota Padang. Penampilan gigi anterior dinilai berdasarkan Aesthetic Component dari IOTN psikososial dinilai berdasarkan kuesioner PIDAQ.

MATERI DAN METODE

Kajian dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penampilan gigi anterior berdasarkan Aesthetic

Component dari IOTN terhadap

psikososial remaja. Desain penelitian ini adalah analitik observasional dengan studi cross sectional.

Sampel pada penelitian ini siswa SMAN 10 Padang yang memenuhi kriteria sampel penelitian yaitu tidak menggunakan pesawat orthodonti, tidak pernah perawatan orthodonti, dan tidak menggunakan gigi tiruan. Siswa yang mengalami kehilangan gigi anterior, mempunyai gigitan silang anterior, dan tidak berada di sekolah pada saat pengumpulan data tidak diikutsertakan dalam penelitian.

Pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling. Berdasarkan rumus formula sederhana

(4)

dari Slovin didapatkan jumlah sampel 89 orang siswa.

DATA PRIMER

Data primer dikumpulkan dengan dengan cara observasi atau pemeriksaan, pengukuran, wawancara, pengamatan, dan dengan menggunakan kuesioner. Data primer yang dikumpulkan adalah identitas responden, penampilan gigi anterior responden, dan keadaan psikososial responden.

DATA SEKUNDER

Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari data siswa dari bagian tata usaha SMAN 10 Padang.

Peneliti melakukan observasi terhadap penampilan gigi subjek penelitian. Peneliti membandingkan penampilan gigi subjek saat beroklusi sentrik dengan 10 foto standar Aesthetic

Component dari IOTN, kemudian

memilih foto yang paling mendekati penampilan gigi subjek. Peneliti mendokumentasi tampilan gigi anterior subjek dalam posisi oklusi sentrik menggunakan kamera. Selanjutnya, subjek penelitian mengisi kuesioner PIDAQ setelah mendapat penjelasan mengenai cara pengisisan kuesioner. Pengisian kuesioner didampingi oleh peneliti.

PENGUKURAN VARIABEL PENELITIAN

Pengukuran variabel penampilan gigi anterior memakai skala ordinal. Variabel penampilan gigi anterior diukur

menggunakan indeks Aesthetic

Component IOTN. Indeks ini digunakan

karena AC IOTN digunakan untuk mengukur keadaan estetika gigi dan hambatan estetika gigi dari suatu maloklusi menggunakan foto standar yang diambil dari aspek anterior sehingga dapat mewakili tampilan gigi anterior responden. Foto standar Aesthetic Component IOTN yang terdiri dari 10

buah foto dengan grade 1-10. Foto nomor satu menunjukkan estetika gigi yang sangat baik dan foto nomor sepuluh estetika gigi sangat tidak baik.

Pengukuran variabel keadaan psikososial menggunakan skala numerik. Variabel keadaaan psikologis diamati menggunakan instrument kuisioner PIDAQ (Psychosocial Index Dental

Aesthetics Quetionnaire) terdiri dari

aspek rasa percaya diri, dampak sosial, dampak psikologis, dan dampak estetik yang diisi oleh responden. Untuk pertanyaan mengenai dampak sosial, dampak psikologis, dan dampak estetik dilakukan penilaian dengan ketentuan nilai 0 bila responden menjawab tidak setuju, nilai 1 bila responden menjawab

(5)

sedikit setuju, nilai 2 bila responden menjawab agak setuju, nilai 3 bila responden menjawab setuju, dan nilai 4 bila responden menjawab sangat setuju.

Untuk pertanyaan mengenai aspek rasa percaya diri dilakukan dengan penilaian nilai 4 bila responden menjawab tidak setuju, nilai 3 bila responden menjawab sedikit setuju, nilai 2 bila responden menjawab agak setuju, nilai 1 bila responden menjawab setuju, dan nilai 0 bila responden menjawab sangat setuju. Hasil pengukuran variabel keadaan psikososial didapatkan dengan menjumlahkan keseluruhan skor dari butir pertanyaan kuesioner. Semakin besar nilai skor total, semakin berdampak negatif terhadap keadaan psikososial responden.

Analisis Data

Analisis Univariat dilakukan untuk menggambarkan/mendeskripsikan

karakteristik masing-masing variabel yang diteliti yaitu variabel independen (penampilan gigi anterior berdasarkan

Aesthetic Component dari IOTN) dan

variabel dependen (keadaan

psikososial/hasil skor kuesioner). Data disajikan secara deskriptif dalam bentuk tabel.

Analisis Bivariat dilakukan untuk melihat pengaruh variabel dependen terhadap independen apakah signifikan

atau tidak. Pengaruh penampilan gigi anterior berdasarkan Aesthetic Component dari IOTN terhadap keadaan

psikososial dianalisis menggunakan uji statistik Spearman. Signifikan atau tidaknya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dapat dilihat dari nilai p, bila p < 0,05 berarti terdapat pengaruh yang bermakna.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan penempilan gigi anterior berdasarkan indek AC IOTN paling banyak adalah

grade 1 sebesar 31,5% dan yang paling

sedikit adalah grade 10.

Tabel 1. Gambaran penampilan gigi anterior responden berdasarkan Aesthetic

Component dari IOTN

Penampilan Gigi Anterior Jumlah Persentase (%) Grade 1 28 31,5 Grade 2 12 13,5 Grade 3 17 19,1 Grade 4 9 10,1 Grade 5 1 1,1 Grade 6 9 10,1 Grade 7 4 4,5 Grade 8 Grade 9 8 0 9,0 0 Grade 10 1 1,1 Total 89 100,0

Menurut Brook dan Shaw (1989) grade 1 merupakan estetika yang paling

(6)

tinggi berdasarkan Aesthetic Compnen dari IOTN. Hasil studi epidemiologi menyatakan maloklusi yang paling banyak ditemukan adalah maloklusi ringan14.

Tabel 2. Hasil skor kuesioner PIDAQ

AC IOTN

N Hasil Skor Kuesioner PIDAQ (Mean) Skor Total PIDAQ

Grade 1 28 24,07 Grade 2 12 29,17 Grade 3 17 30,24 Grade 4 9 27,44 Grade 5 1 66,00 Grade 6 9 34,56 Grade 7 4 43,25 Grade 8 8 40,38 Grade 9 0 0 Grade 10 1 82,00

Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat bahwa rata-rata hasil skor total PIDAQ siswa SMAN 10 Padang paling tinggi pada responden yang mempunyai grade 10 AC IOTN dan paling rendah pada

grade 1 AC IOTN. Ditinjau dari rasa

percaya diri ditemukan rata-rata skor paling tinggi pada grade 10 AC IOTN dan terendah pada grade 1 AC IOTN. Dilihat dari aspek dampak sosial didapatkan rata-rata skor paling tinggi pada grade 10 AC IOTN dan terendah

pada grade 2 AC IOTN. Pada aspek dampak psikologis didapatkan rata-rata skor paling tinggi pada grade 10 AC IOTN dan paling rendah pada grade 1 AC IOTN. Ditinjau dari aspek dampak estetik didapatkan rata-rata skor paling tinggi pada grade 5 dan grade 10 AC IOTN dan terendah pada grade 3 AC IOTN. Semakin tinggi skor, maka semakin berdampak negatif terhadap keadaan psikososial.

Pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa penampilan gigi anterior berdasarkan Aesthetic Component dari IOTN memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keadaan psikososial remaja pada siswa SMAN 10 Padang.

Tabel 3. Pengaruh penampilan gigi anterior berdasarkan Aesthetic

Component dari IOTN terhadap

psikososial remaja pada siswa SMAN 10 Padang Variabel N Koefisien Korelasi P Skor total PIDAQ 89 0,391 0,000* * p < 0,01

Hasil penelitian menunjukkan penampilan gigi anterior berdasarkan

Aesthetic Component dari IOTN memiliki

pengaruh yang signifikan terhadap keadaan psikososial remaja pada siswa

(7)

SMAN 10 Padang. Penelitian ini menemukan bahwa semakin tinggi grade AC IOTN maka semakin tinggi skor total PIDAQ yang menunjukkan semakin tidak baik estetika maka semakin tinggi dampak negatif terhadap keadaan psikososial responden. Grade AC IOTN yang semakin tinggi menunjukkan keadaan estetika yang semakin rendah.

Wajah merupakan bagian yang paling sering diperhatikan dan menjadi karakter fisik yang penting dalam perkembangan citra diri dan harga diri2. Bagian wajah sangat mempengaruhi penampilan fisik adalah mata dan mulut14. Penampilan gigi dan mulut berpengaruh terhadap kehidupan psikososial seseorang dan relasi dengan orang lain, yaitu bagaimana seseorang menjalani kehidupannya, bagaimana orang lain menilainya, dan bagaimana mereka bergaul, hal ini akan mempengaruhi citra diri, harga diri, dan kesejahteraan sosial15.

Sarver (2005) menyatakan orang yang mempunyai gangguan estetik seperti maloklusi cenderung menerima respon yang tidak menyenangkan dari orang lain sehingga menimbulkan rasa rendah diri. Selain itu, penderita maloklusi akan sulit untuk menyesuaikan diri dengan orang lain dan mengalami gangguan emosi. Soh, dkk menyatakan maloklusi terutama

pada gigi anterior menyebabkan konsep diri yang negatif2. Menurut Calhoun dan Acocella (1995), ciri konsep diri yang negatif adalah peka terhadap kritik, cenderung merasa tidak disukai orang lain, dan pesismis, pandangan yang tidak teratur terhadap diri sendiri, dan tidak memiliki kestabilan. Kondisi seperti ini sering sekali ditemukan pada remaja16. Pada hasil penelitian ini ditemukan responden yang mempunyai tampilan gigi dengan grade yang semakin tinggi merasakan dampak psikososial yang lebih besar dibandingkan dengan responden yang mempunyai tampilan gigi dengan

grade yang semakin rendah.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Carlos Bellot, dkk (2013) pada remaja di Spanyol, dimana terdapat pengaruh yang signifikan antara grade

Aesthetic Component dari IOTN dengan

skor PIDAQ remaja. Hasil serupa juga ditemukan pada penelitian Paula, dkk (2009) pada remaja di Brazil dimana terdapat hubungan yang signifikan antara maloklusi dan psikososial.

Penelitian Arsie (2012) pada remaja awal di Jakarta menemukan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara karakteristik maloklusi gigi anterior terhadap psikososial. Penelitian Arsie dilakukan pada SMP 51 dan SMP 159 Jakarta Timur. Perbedaan tersebut

(8)

mungkin disebabkan karena lingkungan sekolah dan lingkungan sosial yang tidak mengutamakan penampilan untuk bersosialisasi. Selain itu, latar belakang sosial ekonomi responden yang berbeda mungkin juga mempengaruhi hasil penelitian. Namun, pada penelitian ini faktor demografi dan sosial ekonomi responden tidak dikontrol. Status sosial ekonomi mempengaruhi kemampuan untuk mendapatkan dan melakukan perawatan estetika gigi. Keluarga yang mempunyai kemampuan ekonomi yang lebih tinggi bisa mendapatkan perawatan dengan mudah supaya mempunyai penampilan wajah yang lebih baik dan mencegah gangguan pada penampilan gigi. Hal ini berhubungan dengan kedudukan sosial yang bermartabat dan jabatan9.

Pada penelitian Mahmood dan Karem (2013) menunjukkan bahwa skor PIDAQ semakin tinggi pada maloklusi yang semakin berat. Hasil penelitian tersebut didukung oleh Mandall, dkk (1999) yang menemukan bahwa anak yang lebih membutuhkan perawatan orthodonti merasakan dampak psikososial yang lebih besar7. Berdasarkan hasil penelitian ini dan didukung oleh beberapa penelitian dapat disimpulkan bahwa penampilan gigi anterior berdasarkan

Aesthetic Component dari IOTN

berpengaruh terhadap kesejahteraan psikososial.

KESIMPULAN

1. Gambaran penampilan gigi anterior responden berdasarkan Aesthetic Component dari IOTN paling banyak

pada grade 1 yaitu estetika gigi paling tinggi

2. Terdapat pengaruh yang signifikan antara penampilan gigi anterior berdasarkan Aesthetic Component dari IOTN terhadap psikososial remaja pada siswa SMAN 10 Padang SARAN

1. Disarankan kepada siswa SMAN 10 Padang agar meningkatkan estetika gigi dengan konsultasi ke dokter gigi

untuk mencegah timbulnya

gangguan perkembangan psikososial akibat penampilan gigi. Selain itu,

disarankan untuk menjaga

kebersihan gigi dan mulut untuk mencegah dampak lain dari maloklusi seperti karies dan penyakit periodontal.

2. Pada penelitian selanjutnya, disarankan untuk menggunakan metode Dental Health Component dari IOTN serta hubungannya dengan psikososial.

3. Pada penelitian selanjutnya, disarankan untuk meneliti tentang pengaruh faktor-faktor estetik lain

(9)

seperti warna gigi, bentuk gigi, proporsi gigi, dan proporsi wajah terhadap psikososial.

KEPUSTAKAAN

1. Kershaw, S, dkk (2008). “The Influence of Tooth Colour on the Perception of Personal

Characteristics Among Female Dental

Patients: Comparisons of unmodified,

Decayed, and Whitened teeth”. British Dental Journal. Vol. 204: E9.

2. Khan, Munizeh & Fida, Mubassar (2008). “Assessment of Psychosocial Impact of Dental Aesthetics. Journal of The College of Physicians and Surgeons Pakistan”. Vol. 18(9): 559-564.

3. Arsie, Risa Yunia (2012). “Dampak Berbagai Karakteristik Oklusi Gigi Anterior terhadap Status Psikososial Remaja Awal (Penelitian Epidemiologi pada Remaja Awal di SMP 51 dan SMP 195 Jakarta Timur)”. Tesis Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Jakarta.

4. Barnabe, Eduardo & Flores-Mir, Carios (2007). “Influence of Anterior Occlusal Characteristics on Self-perceived Dental Appearance in Young Adults”. Angle Orthodontist. Angle Orthodontist. Vol. 77(5): 831-836.

5. Nevin, Jill Bennet & Keim, Robert (2005).

Biomechanics and Esthetic Strategies in Clinical Orthodontics. Elsevier Saunders. St

Louis.

6. Dewi, Oktavia (2008). “Analisis Hubungan Maloklusi dengan Kualitas Hidup pada Remaja SMU Kota Medan Tahun 2007”. Tesis Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Medan

7. Mahmood, Trefa M. Ali & Kareem, Fadil Abdulla (2013). “Psychological Impact of

Dental Aesthetics for Kurdish Young Adults

Seeking Orthodontic Treatment”.

International Journal of Health and

Rehabilitation Sciences. Vol. 2: 28-37. 8. Sarver, David M. & Proffit, William R.

(2005). Orthodontics Current Principles and

Techniques. Edisi ke 4. Elsevier Mosby. St

Louis.

9. Proffit, William R., dkk (2007).

Contemporary Orthodontics. Edisi ke 4.

Mosby Elsevier. St Louis.

10. Dariyo, Agoes (2004). Psikologi

Perkembangan Remaja. Ghalia Indonesia.

Bogor.

11. Rohayati, Iceu (2011). “Program Bimbingan Teman Sebaya untuk Meningkatkan Percaya Diri Siswa”. Diakses 19 Oktober 2013; http://www.jurnal.upi.edu

12. Paula, Delcides Ferreira. Jr, dkk (2011). “Effect of Anterior Teeth Display During Smiling on The Self-Perceived Impacts of

Malocclusion in Adolescents”. Angle

Orthodontist. Vol. 81(3): 540-545.

13. Mitchell, Laura (1998). An Introduction of

Orthodontics. Oxford University Press. New

York

14. Hunt, Orlagh, dkk (2002) “ The Aesthetics Component of the Index of the Index of Orthodontic Treatment Need Validated Againts Lay Opinion” European Journal of Orthodontics. Vol 24: 53-59

15. Traebert, Eliane S.A. & Peres, Marco Aurelio (2007). “Do Malocclusions Affect the Individual’s Oral Health-Related Quality of Life?”. Oral Health Prev Dent. Vol 5: 3-12. 16. Ghufron, M. Nur & S, Rini Risnawati (2010).

Teori-Teori Psikologi. Ar-Ruzz Media.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Penyelesaian masalah konversi bilangan ini diaplikasikan dalam sebuah program dengan bahasa pemprograman Turbo Pascal 7.0 yang memiliki beberapa kelebihan diantaranya memiliki

Dalam penulisan ilmiah ini, penulis bertujuan membuat aplikasi untuk pelayanan peminjaman dan pengembalian buku pada perpustakaan Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah

[r]

Text yang digunakan diperoleh dari buku-buku Successfull Soccer yang berisikan informasi tentang teknik-teknik sepakbola tersebut kemudian dituliskan kedalam Visual Basic 6.0

[r]

Dari uraian diatas maka peneliti tertarik untuk mengangkat isu dengan judul penelitian “ Analisis Pengaruh Intellectual Capital, Capital Adequacy Ratio Dan Ukuran

Dosen-dosen program studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung yang telah memberikan ilmu kepada penulis selama