EFFEKTIFITAS SUBSTITUSI PENGENCER TRIS-SITRAT
DAN KOLESTEROL MENGGUNAKAN AIR KELAPA DAN
KUNING TELUR TERHADAP KUALITAS SEMEN BEKU
SAPI POTONG
(Effectivity of Diluter Substitution of Tris-Sitrat and Cholesterol Using
Coconut Water and Egg Yolk to Beef Cattle Frozen Semen Quality)
YENNY NUR ANGGRAENY,LUKMAN AFFANDHY danAINUR RASYID Loka Penelitian Sapi Potong, Grati, Pasuruan 67184
ABSTRACT
One ways the effort to get feeder cattle calves fastly and efficiently in order to increase beef cattle productivity by using alternative technology of optimal semen preparation. Test of substitution effectiveness of tris–citrate and cholesterol with coconut water and egg yolk to beef cattle semen quality was done by Beef Cattle Research Station that used three heads of Simmental Cross Bulls. This research used Completely Randomized Design (RCD) with factorially pattern 2 x 2 x 2. The first factor was diluter (tris–citrate and cholesterol), the second factor was cholesterol level (0 and 0,5 mg/cc) and the third factor was egg yolk factor (10% and 20%), each treatment was repeated by sixth times. Test to fresh semen quality were conducted for volume, colour, consistentcy, spermatozoa consentration, motility (cluster and individualy), mortality and morfology. Spermatozoa concentration of ech straw was 50–100 bilion/ml and it was stored at −196oC. The parameters observed were motility, and viability of spermatozoa on diluent proces, after equlibration proces and post thawing proces. The result showed that volume semen of Simmental Cross was 5,8 ± 0,8 ml/ ejaculation. At diluent proces, motility and viability were affected by diluter (P<0.01) and. At equilibration proces, motility was affected by diluter (P<0.01); then viability was affected by interaction of cholesterol and egg yolk. At post thawing process, motility was affected by diluter (P<0,01), while viability was affected by cholesterol, diluter, egg yolk, the interaction of diluter and glycerol and the interaction of diluter and egg yolk (P<0.01). The cost of frozen semen using coconut water was Rp 300/6 ml, while using tris–citrate was Rp 800/6 ml. The substitution of coconut water to tris–citrate was less effective because of low motility (12.5−17.5%) than of tris–citrate (40%).
Key words: Frozen semen, coconut water, egg yolk, beef cattle ABSTRAK
Usaha mendapatkan bakalan yang cepat dan efisien dalam meningkatkan produktivitas sapi potong salah satunya adalah penggunaan teknologi alternatif pengolahan semen yang optimal. Suatu penelitian yang menguji efektivitas substitusi pengencer tris-sitrat dan kolesterol menggunakan air kelapa dan kuning telur terhadap kualitas semen beku sapi potong telah dilakukan di Loka Penelitian Sapi Potong menggunakan 3 ekor sapi jantan dewasa peranakan Simmental. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2 x 2 x 2. Faktor 1 adalah penggunaan kolesterol (0 dan 5 mg/cc kolesterol), faktor 2 adalah penggunaan pengencer (tris sitrat vs air kelapa) dan faktor 3 adalah penggunaan kuning telur (10 dan 20%), masing–masing perlakuan menggunakan ulangan sebanyak 6 kali. Pengujian kualitas semen segar meliputi volume, warna, konsistensi, konsentrasi spermatozoa, motilitas (massa dan individu), mortalitas dan morfologi spermatozoa. Konsentrasi spermatozoa tiap straw adalah 50–100 juta/ml dan disimpan pada suhu –196°C. Dilakukan pengamatan terhadap motilitas, dan viabilitas spermatozoa pada proses pengenceran, setelah proses equilibrasi dan post thawing. Hasil pengamatan menunjukan bahwa volume semen Sapi peranakan Simmental adalah 5,8 ± 0,8 ml/ejakulasi. Pengamatan kualitas semen pada proses pengenceran menunjukkan bahwa motilitas dan viabilitas spermatozoa dipengaruhi (P<0,05) oleh jenis pengencer. Pengamatan kualitas setelah proses equilibrasi menunjukan motilitas hanya dipengaruhi (P<0,01) oleh pengencer sedangkan viabilitas spermatozoa hanya dipengaruhi (P<0,05) oleh interaksi penambahan kolesterol dan kuning telur. Pengamatan kualitas pada post thawing menunjukan motilitas hanya dipengaruhi
oleh faktor pengencer (P<0,01), sedangkan viabilitas spermatozoa dipengaruhi oleh penambahan gliserol, jenis pengencer, penambahan kuning telur, interaksi faktor pengencer dan penambahan gliserol, interaksi faktor pengencer dan kuning telur (P<0,01). Pembuatan semen beku menggunakan air kelapa berkisar Rp 300/6 ml sedangkan tris–sitrat berkisar Rp 800 per 6 ml. Substitusi air kelapa terhadap tris–sitrat kurang efektif karena menunjukan motilitas lebih rendah (17,5–12,5%) dibandingkan dengan tris sitrat (40%).
Kata kunci: Semen beku, air kelapa, kuning telur, gliserol, sapi Simmental PENDAHULUAN
Kebutuhan sapi potong bakalan yang diperlukan untuk menghasilkan daging bagi keperluan konsumen di Indonesia semakin meningkat, maka diperlukan bibit yang tepat dan teknologi biologi reproduksi yang mendukung seperti program IB maupun alih janin (PUTU et al., 1997). Pengawetan semen dalam bentuk semen beku untuk pelaksanaan IB telah dilakukan secara intensif baik pada sapi potong maupun sapi perah dengan tujuan meningkatkan kemampuan reproduksi sapi pejantan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas sperma pada semen beku adalah penggunaan pengencer, karena selama proses pembekuan fungsi pengencer adalah menjamin kebutuhan fisik dan kimia spermatozoa sehingga kualitas spermatozoa dapat dipertahankan khususnya pada kemampuan untuk kapasitasi (PARTODIHARDJO, 1992).
Pengenceran semen merupakan salah satu tahap yang penting dalam pengemasan semen dalam bentuk straw atau ampul beku. Diharapakan kualitas semen dan viabilitas spermatozoa selama proses pembekuan dapat dipertahankan selain itu fungsi pengenceran adalah memperbesar volume semen sehingga setiap satu kali ejakulat dapat digunakan untuk ternak betina lebih banyak (SUYADI et al.,
1994). Syarat penting yang harus dimiliki oleh pengencer semen menurut TOILEHERE (1981) adalah: (1) murah, sederhana, praktis tapi punya daya preservasi yang tinggi (2) mengandung unsur yang sifat fisik dan kimianya sama dengan semen dan tidak mengandung racun bagi spermatozoa dan saluran kelamin ternak betina (3) tetapi dapat mempertahankan daya fertilitas spermatozoa, tidak kental sehingga tidak menghambat fertilisasi. Sementara itu, menurut PARTODIHARDJO (1992) fungsi pengencer
adalah: (1) mempebanyak volume semen; (2)
energi bagi spermatozoa; (4) menyediakan buffer untuk mempertahankan pH, tekanan osmotic dan keseimbangan elektrolit; (5) mencegah kemungkinan terjadinya pertumbuhan kuman. Beberapa bahan pengencer yang telah dilaporkan dari beberapa bahan penelitian adalah kuning telur sitrat, fosfat kuning telur, susu masak dan tris amino methan.
Tris amino methan telah dipergunakan secara luas sebagai medium buffer di dalam semen guna memperpanjang daya hidup spermatozoa pada suhu 5 sampai dengan −196oC (B
EARDEN dan FUQUAY, 1984), namun
harganya mahal Rp 8.400/100 ml (UMIYASIH et
al., 1999) dan adanya lesistin yang
menghambat motillitas spermatozoa maka pelu pencarian bahan pengencer alternatif sehingga adopsi teknologi IB terutama faktor daya beli dapat diatasi (YUSRAN et al., 2001)
Bahan alternatif yang mungkin dapat dipergunakan sebagai bahan campuran pengencer adalah air kelapa (QOMARIYAH et
al., 2001; AFFANDHY, 2003). Indonesia
merupakan negara penghasil kelapa. Air kelapa tersusun 25% dari berat total kelapa, sehingga potensinya sangat besar digunakan sebagai air kelapa. Air kelapa mengandung senyawa organik yang komplek yaitu 20 macam asam amino bebas, 18 macam asam organik 3 macam gula dan 18 macam vitamin (MONOARFA, 1984); namun air kelapa hanya
bersifat sebagai penyangga yang tidak cukup melindungi spermatozoa dari suhu rendah, sehingga perlu ditambahkan bahan-bahan lain yang dapat mengoptimalkan kemampuan air kelapa sebagai pengencer semen.
Kuning telur telah lama digunakan sebagai bahan pengencer semen. Kuning telur mengandung lipoprotein dan lesitin yang dapat mempertahankan dan melindungi integritas selubung lipoprotein dari sel spermatozoa; selain itu kuning telur juga banyak
fruktosa yang terdapat dalam semen. Kuning telur juga banya mengandung protein, vitamin yang larut dalam air dan minyak sehingga ideal digunakan sebagai pengencer. Namun karena harga telur mahal maka penggunaan kuning telur terbatas. Penggunaan kuning telur pada bahan pengencer air kelapa diharapkan dapat mempertahankan dan melindungi intensitas slubung lipoprotein dan sel spermatozoa dari keadaan penurunan suhu dingin yang tiba-tiba pada saat pembekuan.
Proses pembekuan pada pembuatan semen beku menyebabkan penurunan kualitas spermatozoa sehingga dapat mematikan spermatozoa hingga 30% (GOLDMAN et al., 1991). Penggunaan kuning telur pada bahan pengencer air kelapa diharapkan dapat mempertahankan dan melindungi intensitas selubung lipopotein dan sel spermatozoa dari keadaan penurunan suhu dingin yang tiba-tiba pada saat pembekuan; sehingga penggunaan kuning telur harus dikombinasikan dengan krioprotektan. Kriprotektan merupakan agen kimia yang ditambahkan dalam proses pembekuan untuk mengurangi kerusakan mekanik akibat proses pembekuan (PARK dan
GRAHAM, 1993). Gliserol merupakan bahan
krioprotektan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunaan air kelapa, kuning telur dan kolesterol terhadap kualitas semen beku pada sapi potong.
MATERI DAN METODE
Penelitian ini menggunakan tiga ekor Sapi peranakan Simmental (Simmental X Peranakan Ongole) jantan dewasa dengan gigi seri tetap satu pasang (Ii) bobot badan 387,3 ± 32,0 kg. Rancangan percobaan menggunakan rancangan percobaan acak lengkap pola faktorial 2 x 2 x 2. Faktor ke-1 adalah bahan pengencer yaitu tris-sitrat dan air kelapa, level faktor ke–2 adalah level kuning telur (10 dan 20%) dan faktor ketiga adalah level kandungan gliserol (0 dan 0,5 mg gliserol/ml pengencer). Sumber kolesterol yang digunakan pada penelitian ini adalah gliserol ulangan masing-masing perlakuan sebanyak enam (6) kali.
Penampungan semen sapi dilakukan menggunakan vagina buatan satu kali
seminggu. Pengujian semen segar meliputi volume, warna, konsistensi, konsentrasi spermatozoa, pH, motilitas (massa dan individu) dan morfologi spermatozoa (normal dan abnormal). Peubah yang diamati adalah motilitas dan viabilitas spermatozoa. Masing– masing peubah diamati pada proses pengenceran, setalah proses ekuilibrasi (4 jam) dan post thawing. Data yang diperoleh kemudian dianalisis melalui analisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan least square
design bila terdapat pengaruh perlakuan.
Tiap 100 ml pengencer tris sitrat mengandung 3,028 g larutan tris, 1,675 g asam sitrat, 1,25 g fruktosa, 0,0525 g penicilin dan 0,075 g streptomycin. Pengencer kelapa dilakukan penyaringan dan penetralan pH menggunakan NaOH 0,1 N; penambahan penicillin dan streptomycin ditambahkan dalam jumlah yang sama dengan pengencer tris–sitrat. Konsentrasi permatozoa adalah 100 juta/ml atau 25 juta/dosis straw. Pembekuan dilakukan secara bertahap dari suhu kamar ke 5oC selama 40–60 menit, setelah itu dilakukan equilibrasi pada suhu 5oC selama 3–4 jam, kemudian diuapkan diatas N2 cair selama 10 menit dan selanjutnya disimpan dalam kontainer yang berisi N2 cair.
HASIL DAN PEMBAHASAN Kualitas semen segar
Evaluasi terhadap kualitas semen segar pada Pejantan Turunan Simmental PO dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis. Pemeriksaan secara makroskopis meliputi volume, warna, konsistensi dan pH. Sedang secara mikroskopis meliputi gerakan massa, gerakan individu, konsentrasi, viabilitas dan abnormalitas spermatozoa. Evaluasi kualitas semen secara makroskopis dan mikroskopis (Tabel 1).
Kualitas semen segar telah memenuhi persyaratan standar pejantan sapi potong untuk ditampung sebagai semen beku yaitu konsentrasi spermatozoa lebih dari 1000 juta/ml, gerakan masa ++ sampai dengan +++ dan spermatozoa hidup ≥70%.
Karakteristik semen selama pendinginan dan pembekuan
Motilitas
Rataan semen segar sapi peranakan PO– Simental yang dipakai pada penelitian ini adalah 80,7 ± 0,1% (Tabel 1). Pengaruh jenis pengencer, penambahan kuning telur dan kolesterol terhadap motilitas spermatozoa pada berbagai tahap proses pembuatan semen beku (Tabel 2).
Tabel 1. Kualitas semen segar sapi pejantan turunan Simmental
Uraian Nilai Volume 5,8 ± 0,8 ml/ejakulasi
Warna Putih kekuningan–cream
Konsistensi Sedang–kental Konsentrasi spermatozoa (juta/ml) 1428,3 ± 574,9 Gerakan massa ++ sd +++ Gerakan individu/ motilitas (%) 80,7 ± 0,1 pH semen 7,0 ± 0,1 Viabilitas spermatozoa (%) 79,8 ± 6,6 Abnormalitas (%) 4,3 ± 6,8
Tahap pengenceran menyebabkan terjadinya penurunan motilitas spermatozoa. Motilitas spermatozoa dipengaruhi secara nyata (P<0,05) oleh jenis pengencer. Motilitas spermatozoa menggunakan pengencer air kelapa adalah 78,05% lebih rendah dari semen yang menggunakan pengencer tris–sitrat (80,15%).
Proses equilibrasi menyebabkan terjadi penurunan motilitas spermatozoa menjadi 70,7–75,5% dan motilitas pada tahap ini dipengaruhi secara nyata oleh jenis pengencer dan interaksi antara jenis pengencer dan penambahan kuning telur. Spermatozoa menggunakan pengencer air kelapa mempunyai motilitas 64% lebih rendah dibandingkan yang menggunakan pengencer tris sitrat (68,3%).
Tahap Post Thawing menyebabkan
penurunan yang drastis pada motilitas spermatozoa yaitu menjadi 15,2-42,5%. Motilitas spermatozoa setelah thawing hanya dipengaruhi jenis pengencer.
Motilitas merupakan salah satu acuan dalam penilaian kualitas semen beku, karena mudah dan cepat ditentukan. Daya gerak progresif (motilitas) mempunyai peranan penting untuk keberhasilan fertilisasi. Motilitas spermatozoa dipengaruhi oleh spesies ternak, kondisi medium dan suhu lingkungan
Tabel 2. Pengaruh jenis pengencer, penambahan kuning telur dan kolesterol terhadap motilitas spermatozoa
pada berbagai tahap proses pembuatan semen beku
Bahan pengencer
Air kelapa Tris sitrat Penambahan kuning telur (%) Tahapan proses
pembuatan semen Penambahan gliserol
10 20 10 20 Rataan penambahan gliserol Pengenceran 0 64,2±9,2 67,5±5,2 66,7±5,2 70,0±5,5 67,10±2,39a 0,5 65,8±4,9 68,3±5,2 72,5±7,6 73,3±8,2 69,97±3,54b Rataan pengencer 66,45±1,83 70,63±2,97 67,3±3,62 69,75±2,57 Setelah ekuilibrasi 0 61,0±7,4 66,0±5,5 69,0±2,2 67,0±4,5 65,8±3,4a 0,5 63,0±4,5 66,0±5,5 71,0±8,9 66,0±5,5 66,5±3,32b Rataan pengencer 64±2,45 68,3±2,21 Rataan kuning telur 66±4,76 (10%) 66,3±0,5 (20%) Post thawing 0 16,7±8,8 16,7±7,5 39,2±18,3 41,7±11,3 28,6±13,75a 0,5 16,7±12,1 29,2±19,8 32,5±20,7 36,7±12,1 28,8±8,61b Rataan pengencer 19,28±6,25 37,5±3,92
(TOELIHERE, 1981). Pada penelitian ini terjadi
penurunan motilitas spermatozoa pada setiap tahap proses pembuatan semen beku. Waktu yang diperlukan pada setiap tahap pada proses pembekuan semen berkorelasi negatif dengan motilitas kemampuan hidup spermatozoa (TOELIHERE, 1981). Penggunaan pengencer air kelapa menghasilkan motilitas spermatozoa lebih rendah hal ini disebabkan karena air kelapa hanya bersifat sebagai penyangga (QOMARIYAH et al., 2002), meskipun dalam penelitian ini telah dilakukan pengayaan air kelapa dengan penambahan kuning telur dan gliserol.
Penambahan kuning telur dan gliserol tidak memberikan pengaruh nyata terhadap motilitas spermatozoa pada setiap tahap proses pembekuan. Penambahan kuning telur bertujuan untuk mempertahankan dan melindungi integritas selubung lipoprotein dari sel spermatozoa. Penambahan gliserol sebagai krioprotektan adalah untuk mencegah terjadinya cold shock dan kerusakan sel akibat terbentuknya kristal es pada saat terjadi pembekuan (KUSUMANINGRUM et al., 2002).
Viabilitas spermatozoa
Rataan semen segar sapi peranakan Simental sebesar 79,8 ± 6,6% (Tabel 1). Pengaruh jenis pengencer, penambahan kuning telur dan kolesterol terhadap motilitas spermatozoa pada berbagai tahap proses pembuatan semen beku ditampilkan pada Tabel 3.
Rataan viabilitas spermatozoa semen segar pada sapi turunan PO–Simmental adalah 79,8 ± 6,6%.
Tahap pengenceran menyebabkan penurunan viabilitas spermatozoa menjadi 50,3−74,7%. Viabilitas spermatozoa pada tahap pengenceran dipengaruhi secara nyata (P<0,05) oleh jenis pengencer. Viabilitas spermatozoa pada semen menggunakan pengencer air kelapa lebih rendah (62,58%) dibandingkan dengan semen yang menggunakan tris-sitrat (72,25%).
Tahap equilibrasi menyebabkan penurunan viabilitas spermatozoa menjadi 61−79,5%. Jenis pengencer berpengaruh secara nyata (P<0,01) terhadap viabilitas spermatozoa. Tabel 3. Pengaruh jenis pengencer, penambahan kuning telur dan kolesterol terhadap viabilitas spermatozoa
pada berbagai tahap proses pembuatan semen beku
Bahan pengencer Air kelapa Tris sitrat
Penambahan kuning telur (%) Tahapan proses pembuatan semen Penambahan gliserol 10 20 10 20 Rataan penambahan gliserol Pengenceran 0 66,3±12,6 68,7±11,7 72,5±7,6 71,3±10,0 69,7±2,77b 0,5 50,3±18,6 65,0±13,1 70,5±7,6 74,7±10,4 65,13±10,65a Rataan pengencer 62,58±8,33 72,25±1,83 Rataan kuning telur 64,9±0,7 (10%) 69,93±4,10 Ekuilibrasi 0 73,0±13,1 61,0±13 79,5±8,6 78,3±5,6 73±8,45 0,5 79,5±14,7 76,3±14,5 69,3±6,3 66,8±13,7 73±6,36 Rataan pengencer 72,5±8,08 73,5±6,37 Rataan kuning telur 75,3 (10%) 70,6 (20%) Post thawing 0 24,3±10,1a 51,3±4,2bc 61,5±4,5d 70,5±8,5e 51,9±20,02b 0,5 32,3±9,0b 61,5±4,5d 53±9,5c 58,0±9,5d 51,2±13,07a Rataan pengencer 42,4±17,06a 60,8±7,37b Rataan kuning telur 42,8±17,38 (10%)a 60,3±7,99 (20%)b
Viabilitas spermatozoa menggunakan pengencer air kelapa lebih rendah (72,5%) daripada pengencer tris sitrat (73,5%).
Tahap thawing menyebabkan penurunan viabilitas spermatozoa menjadi 24,3-70,5%. Viabilitas spermatozoa pada tahap thawing dipengaruhi oleh secara nyata oleh pengencer (P<0,05), gliserol (P<0,05), kuning telur (P<0,01) dan interaksi antara ke tiga faktor tersebut diatas (P<0,05).
Nilai viabilitas spermatozoa pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dengan nilai motilitas spermatozoa, menurut KOSTAMAN et
al., (2000) hal ini merupakan suatu fenomena
banyaknya spermatozoa yang hidup tapi tidak motil. Penurunan viabilitas spermatozoa diatas suhu 5oC disebabkan terjadinya defisit energi dan kerusakan membran sebagai hasil reaksi peroksida dari lemak dan sekitar 30% spermatozoa akan mati selama pembekuan (GOLDMAN et al., 1991) dan spermatozoa yang lolos hidup sangat sensitif terhadap lingkungan dan mempunyai daya hidup yang pendek saat
post thawing dan fertilitasnya akan rendah
(PARK dan GRAHAM, 1992).
Salah satu syarat penting bagi pengencer semen adalah dapat menyediakan makanan sebagai sumber energi bagi spermatozoa. Glukosa adalah sumber energi yang lebih utama dimanfaatkan oleh spermatozoa dibandingkan dengan jenis gula yang lain seperti fruktosa atau sukrosa (VAN
TIENHOVEN, 1952 dalam TOELIHERE, 1981). Sediaan sumber energi pada air kelapa berupa karbohidrat adalah sukrosa (SUTARMININGSIH,
1999) sehingga hal ini yang perlu diperhatikan dalam penggunaan air kelapa sebagai pengencer semen beku, mengingat kerusakan sel pada saat pembekuan lebih banyak disebabkan oleh defisit energi (GOLDMAN et
al., 1991) dan spermatozoa tidak dapat
mensintesa energi serta tidak dapat memperbaiki kerusakan yang terjadi selama penyimpanan maupun pendinginan (HAMMERSTED dan HAY, 1980; HAMMERSTED
dan LARDY, 1983; INSKEP dan HAMMERSTED, 1983).
Pemberian fosfolipid, gliserol dan kuning telur telah terbukti dapat meningkatkan viabilitas spermatozoa selama pendinginan dan pembekuan (SITUMORANG, 2003), tetapi hal ini
menggunakan kuning telur dan gliserol tidak memberikan pengaruh nyata, meskipun dalam kuning telur terdapat glukosa yang merupakan sumber energi utama bagi spermatozoa (TOILEHERE, 1981). SITUMORANG et al. (2002)
melaporkan bahwa penambahan kolesterol sampai 0,5 mg/ml pada pengencer tris yang mengandung 10% dan 20% kuning telur tidak menyebabkan peningkatan viabilitas spermatozoa dan bila ditingkatkan menjadi 1 mg/ml menyebabkan penurunan motilitas dan viabilitas spermatozoa.
Perhitungan biaya bahan pengencer
Biaya produksi pembuatan semen beku masing-masing perlakuan pada penelitian ini ditampilkan pada Tabel 4. Rataan biaya pengencer semen beku menggunakan air kelapa adalah Rp. 265 sedangkan menggunakan tris sitrat adalah Rp. 795, jadi biaya pengencer semen beku menggunakan tris sitrat adalah 3 kali lipat bila menggunakan air kelapa.
Efektivitas air kelapa dan tris sitrat pada pembuatan semen beku
Penggunaan air kelapa sebagai bahan pengencer pada pembuatan semen beku kurang efektif digunakan meskipun biaya bahannya murah. Kualitas semen beku menggunakan air kelapa menurun pada saat post thawing (mempunyai motilitas 19,8% dan viabilitas spermatozoa hanya 42,4%), sedangkan untuk keberhasilan IB diperlukan motilitas minimal 40% dan viabilitas spermatozoa 60–80% (HEDAH, 1992).
KESIMPULAN
Pengayaan air kelapa menggunakan gliserol dan kuning telur belum mampu memperbaiki kualitas semen beku pada sapi potong. Penggunaan air kelapa pada pembuatan semen beku kurang efektif digunakan karena mempunyai kualitas yang jelek terutama sesudah thawing. Perlu dilakukan penelitian pembuatan semen beku menggunakan air
Tabel 4. Biaya produksi pembuatan semen beku pada berbagai perlakuan
Jenis pengencer Penambahan kuning telur dan kolesterol
Air kelapa Tris-sitrat
Tanpa gliserol + 10% kuning terlur Rp. 249 Rp. 779
0,5 mg/cc gliserol + 20% kuning telur Rp. 261 Rp. 791
Tanpa gliserol + 10% kuning terlur Rp. 269 Rp. 799
0,5 mg/cc kolesterol + 20% kuning telur Rp. 281 Rp. 811
Rataan biaya produksi Rp. 265 Rp. 795
DAFTAR PUSTAKA
AFFANNDHY, L. 2003. Penambahan cholesterol dan
kuning telur di dalam bahan pengencer Tris– sitrat dan air kelapa muda terhadap kualitas semen cair sapi potong. Unpublished.
BEARDEN, H.J. and J. FUQUAY. 1984. Applied
Animal Reproduction. A Prentice-Hall. Co.
Preston. Virginia.
GOLDMAN,E.E.,J.E.ELLINGTON,F.B.FARREL and
R.H.FOOTE. 1991. Use of Fresh and Frozen Thawed Bull Sperm In-Vitro. Theriogenologi 35: 204.
HAMMERSTED, R.H., and S.R. HAY. 1980. Effect of
Incubation Temperature on Motility and cAMP Content of Bovine Serum. Archives Biochemistry Biophysiology. 266: 111–123. HAMMERSTED, R.H. and H.A.LARDY. 1983. The
effect of substrat cycling on the ATP Yield of sperm glycolysis. J. Biology and Biochemistry. 258: 8759–8768.
HEDAH, D. 1992. Peranan Balai Inseminasi Buatan Singosari dalam meningkatkan mutu sapi Madura melalui inseminasi buatan. Pros. Pertemuan dan Pembahasan Hasil Penelitian Seleksi Bibit Sapi Madura. Sub Balai penelitian Ternak. Puslitbangnak. Badan Litbang Pertanian. Grati
INSKEEP, P.B. and R.H., HAMMERSTED. 1985. Endogenous metaboilism in response to altered celullar ATP requirements. J. of Cell
Physiology. 123: 180–190.
KUSUMANINGRUM, D.A., P. SITUMORANG, A.R.
SETIOKO, E. TRIWULANINGSIH, T. SUGIARTI,
dan R.G.SIANTURI. 2002. Pengaruh jenis dan aras krioprotektan terhadap daya hidup spermatozoa. JITV 7(3).
KOSTAMAN,T.,I-K.SUTAMA.,P.SITUMORANG dan I-G.M. BUDIARSANA. 2000. Pengaruh jenis pengencer dan waktu equilibrasi terhadap
kualitas semen beku kambing Peranakan Etawah. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Badan Litbang Pertanian. Bogor.
MONOARFA. D.B. 1984. Mempelajari pengaruh Penambahan Glukosa pada Pembuatan asam Asetat dari Air Kelapa dengan Menggunakan Kultur Acetobacter. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang PARK, J.E. and J.K. GRAHAM. 1992. Effect of
Cryopreservation Prosedures on Sperm Membran. Theriogenology 38: 209−222. PARTODIHARDJO, S. 1992. Ilmu Reproduksi Hewan.
Cetakan ke-3 Fakultas Kedokteran dan Veteriner. IPB. Mutiara Sumber Wijaya. Jakarta.
PUTU, I.G., DIWYANTO, K., SITEPU, P., dan SOEDJANA, T.D. 1997. Ketersediaan dan
kebutukan teknologi produksi sapi potong. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Badan Litbang Pertanian. Bogor. QOMARIYAH, S, MIHARDJA dan R. IDI. 2001.
Pengaruh kombinasi kuning telur dengan air kelapa terhadap daya tahan hidup dan abnormalitas spermatozoa domba Priangan pada penyimpanan 5oC. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Badan Litbang Pertanian. Bogor.
SITUMORANG, P. 2003. The effect of inclusion of exogenous phospholipid in tris diluent containing different level of egg yolk on viability of bull spermatozoa. JITV 7 (3). SITUMORANG, P., A.R. SETIOKO, T. SUGIARTI.,E.
TRIWULANINGSIH, D.A. KUSUMANINGRUM,
R.G.SIANTURI.,I.G.PUTU dan A. LUBIS. 2002.
Pengaruh penambahan kolesterol terhadap daya hidup spermatozoa sapi, itik dan entog. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan
Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Badan Litbang Pertanian. Bogor. SUTARMININGSIH, 1999. Peluang Usaha Nata de
Coco. Teknologi Pengolahan Pangan. Penebar
Swadaya. Jakarta.
SUYADI, NURYADI dan M. INSANURROHMAN.1994.
Kualitas semen setelah pembekuan dengan Tris–sari kacang hijau sebagai pengencer. Pros. Pertemuan Ilmiah pengolahan dan Komunikasi Hasil Penelitian Sapi Perah. Sub Balai Penelitian Ternak Grati. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Litbang Pertanian. Grati, Pasuruan.
TOILEHERE, M. R. 1981. Inseminasi Buatan Pada
Ternak. Angkasa. Bandung.
UMIYASIH, U., L. AFFANDHY., dan D.B. WIJONO. 1999. Pengaruh beberapa bahan pengencer terhadap kualitas spermatozoa. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Badan Litbang Pertanian. Bogor.
YUSRAN,M.A.,L.AFFANDHY dan SUYAMTO. 2001.
Pengkajian keragaan, permasalahan dan alternatif solusi program IB sapi potong di Jawa Timur. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.
DISKUSI Pertanyaan:
1. Apakah fungsi kolesterol pada makalah yang saudara paparkan?
2. Bagaimana analisa ekonomi pada pembuatan semen beku dengan menggunakan air kelapa dan Tris sitrat?
Jawaban:
1. Kolesterol dalam penelitian ini berfungsi sebagai agen kimia yang ditambahkan dalam proses pembekuan untuk mengurangi kerusakan mekanik akibat pembekuan. Penggunaan kolesterol dikombinasikan dengan kuning telur untuk dapat mempertahankan dan melindungi intensitas selubung lipoprotein dan sel spermatozoa dari keadaan penurunan suhu dingin yang tiba-tiba pada saat pembekuan. Rp. 300/6 ml sedangkan tris-sitrat berkisar Rp. 800/6 ml perlu dijelaskan kembali. Hal ini mengingat bahwa harga bahan tris sitrat sangatlah mahal.