• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. terumbu karang tepi dan penghalang, berperan penting sebagai; Produser

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. terumbu karang tepi dan penghalang, berperan penting sebagai; Produser"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Secara ekologis, ekosistem terumbu karang, khususnya yang berbentuk terumbu karang tepi dan penghalang, berperan penting sebagai; Produser primer, dimana ekosistem terumbu karang dapat menghasilkan 15 sampai 35 ton setara karbon per-Ha setiap tahun, pelindung daerah pantai dari abrasi akibat hempasan ombak dan arus kuat yang berasal dari laut, sebagai habitat atau tempat tinggal, tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan atau pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi berbagai biota yang hidup di terumbu karang, dan pendaur zat-zat hara secara efisien (Tuwo, 2011).

Ekosistem terumbu karang selain memiliki fungsi ekologis sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, pelindung fisik, tempat pemijahan tempat pengasuhan dan bermain bagi berbagai biota, juga menghasilkan berbagai produk yang mempunyai nilai ekonomi penting seperti berbagai jenis ikan karang, udang karang, alga, teripang dan kerang mutiara. Terumbu karang tidak hanya terdiri dari habitat karang saja, tetapi juga daerah berpasir, berbagai teluk dan celah, daerah alga dan sponge serta masih banyak lagi. Hal tersebut merupakan salah satu penyebab tingginya keragaman spesies ikan di terumbu karang (Burhanuddin, 2011).

Ikan dari Suku Pomacanthidae adalah ikan karang yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi sebagai ikan hias karena memiliki pola warna yang sangat menarik dan indah, dan juga sebagai indikator di daerah terumbu karang dan merupakan penghuni terumbu karang yang mencolok. Pomacanthidae termasuk

(2)

2 ikan karang yang anggun dan penuh warna, dan Marga Pomacanthus merupakan contoh sempurna ikan karang yang klasik bagi banyak peneliti alam bawah air. Keberadaan ikan Pomacanthidae sangat bergantung pada tempat perlindungannya seperti bebatuan, gua-gua dan celah-celah karang, sehingga biasanya mendiami wilayah terumbu karang yang besar

Pomacanthidae adalah ikan yang berasosiasi dengan terumbu karang. Pomacanthidae merupakan ikan yang hidup dan menetap serta mencari makan di areal terumbu karang (sedentary), sehingga apabila terumbu karang rusak atau hancur maka Pomacanthidae juga akan kehilangan habitatnya. Sebagai ikan yang hidup tergantung oleh terumbu karang maka rusaknya terumbu karang akan berpengaruh terhadap keragaman dan kelimpahan Pomacanthidae.

Adanya kegiatan tentang illegal fishing di perairan Mamuju merupakan alasan dilakukannya penelitian ini. Illegal fishing merupakan kegiatan penangkapan yang dilakukan oleh nelayan yang tidak bertanggung jawab dan termasuk kegiatan pemanfaatan sumberdaya perikanan yang melanggar hukum. Menurut Raodah (2012), kegiatan illegal fishing umumnya bersifat merugikan bagi sumberdaya perairan dan kegiatan ini semata-mata hanya memberi dampak yang kurang baik bagi ekosistem perairan karena cara dan alat tangkap yang digunakan bersifat merusak, seperti kegiatan penangkapan dengan pengeboman, penangkapan dengan menggunakan racun serta penggunaan alat tangkap trawl pada daerah karang. Akan tetapi memberi keuntungan yang besar bagi nelayan. Nelayan menangkap ikan sebanyak-banyaknya saja tanpa harus melihat ukuran dan jenis ikan, salah satu jenis ikan yang ditangkap oleh nelayan yaitu Pomacanthidae, ikan Pomacanthidae tidak memiliki nilai di pasar tradisional ataupun di tempat pelelangan ikan, karena ikan ini tidak termasuk ikan untuk dikonsumsi.

(3)

3 B. Tujuan dan Kegunaan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis dan distribusi ikan dari Suku Pomacanthidae kaitannya dengan kondisi terumbu karang dan rugositas di perairan Pulau Karampuang, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. Kegunaan dari penelitian ini sebagai informasi untuk melihat potensi sumberdaya ikan dari Suku Pomacanthidae dan terumbu karang yang terdapat di Pulau Karampuang dan diharapkan dapat menjadi sumber referensi dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya ikan hias dari Suku Pomacanthidae serta sebagai informasi ilmiah untuk penelitian selanjutnya.

C. Ruang lingkup

Penelitian ini dilakukan di Pulau Karampuang dengan objek ikan karang hias karang dari Suku Pomacanthidae. Sedangkan untuk melihat keterkaitan antara kondisi terumbu karang dan rugositas dengan distribusi ikan Pomacanthidae, dilakukan dengan melihat tutupan dan rugositas terumbu karang serta menghitung kelimpahan ikan Pomacanthidae.

(4)

4 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Sistematika dan Morfologi

Nelson (2006), mengklasifikasikan ikan Angelfish dari Suku Pomacanthidae dengan sistematika sebagai berikut, yaitu;

Filum : Chordata Kelas : Pisces Bangsa : Percimorfes Suku : Pomacanthidae Marga : - Apolemicthys - Centropyge - Chaetodontoplus, - Genicanthus - Holacanthus - Paracentropyge - Pomacanthus - Pygoplites

Menurut Kuiter (1996), Suku Pomacanthidae) terdapat 7 marga dan sekitar 80 spesies yang telah ditemukan, sedangkan menurut Allen (2003), Suku Pomacanthidae terdiri dari 7 marga dari 51 spesies. Nelson (2006) juga mengemukakan dalam bukunya bahwa Suku Pomacanthidae terdapat 8 marga, yaitu; Apolemicthys, Centropyge, Chaetodontoplus, Genicanthus, Holacanthus, Paracentropyge, Pomacanthus, dan Pygoplites dari 82 spesies.

Ikan Pomacanthidae memiliki warna yang terang dan tajam, tubuh memipih, merupakan salah satu penghuni terumbu karang yang mencolok. Ikan Pomacanthidae sangat mirip dengan ikan kepe-kepe, Suku ini berkaitan yang juga tampil mencolok. Ikan Pomacanthidae berbeda dari ikan kepe-kepe karena memiliki duri Preoperkulum (bagian dari tutup insang). Ciri ini juga menjelaskan asal nama Suku Pomacanthidae yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu; Poma yang berarti "tutup" dan Akantha yang berarti "duri" (Froese dan Daniel, 2005).

(5)

5 Pomacanthidae termasuk ikan yang mempunyai daya tarik bila diamati secara seksama, badannya bulat, panjang dan pipih. Sisik berukuran kecil, keras, stenoid dengan striaelongitudinal dan berkerut kerut. Pada bagian kepala, sisik berukuran lebih kecil dan gurat sisi melengkung sampai dasar ekor serta pre-orbitalnya berpinggiran halus dan bergerigi atau berduri (Balai Riset Perikanan Laut, 2006).

Menurut Nelson (2006) Ikan Pomacanthidae umumnya memilki warna yang cerah, memiliki mulut yang kecil letaknya terminal, badannya memipih tegak dan lebih tebal dari ikan kepe-kepe. Ikan ini terdiri dari 2 marga yang utama yaitu Pomacanthus spp, Centropyge spp. Selanjutnya dia menyatakan dalam bukunya bahwa Pomacanthidae atau Angelfish memiliki pola warna yang mencolok dan dalam banyak spesies, pola warna pada saat juvenil sangat berbeda dengan yang dewasa (gambar 1). Ikan Pomacanthidae umumnya hidup dan mencari makan dekat terumbu karang pada kedalaman kurang dari 20 meter (sangat jarang di bawah 50 meter).

Banyak spesies Ikan Pomacanthidae memiliki perpanjangan mirip bendera dari sirip punggung dan sirip anus yang lembut. Ikan ini memiliki mulut kecil dan sirip dada yang relatif besar dan sirip ekor yang membulat atau mirip bulan sabit. Marga terbesar dari Pomacanthidae adalah Pomacanthus, dapat mencapai panjang 60 cm; sementara itu, anggota Marga Centropyge tidak melebihi panjang 15 cm. Ikan Pomacanthidae lainnya rata-rata panjangnya 20 sampai 30 cm. Spesies kecil populer untuk akuarium, sedangkan spesies terbesar kadang-kadang dicari sebagai ikan konsumsi; akan tetapi ada laporan tentang keracunan ciguatera yang diakibatkan oleh karena memakan ikan Angelfish.

(6)

6 Hal yang umum pada banyak spesies Pomacanthidae adalah perubahan warna dramatis yang dikaitkan dengan kedewasaan, contohnya; juvenile Pomacanthus imperator memiliki garis hitam dan putih yang melengkung hampir bulat, namun berbeda pada saat dewasa garis kuning yang terang muncul di tiap sisi tubuhnya (gambar 1), meski berhubungan dengan tingkat sosial, perubahan warna ini tidak terbatas hanya terjadi pada jantan (Froese dan Daniel, 2005). Pomacanthus spp – badannya lebih besar dan bentuknya hampir segi empat, mempunyai sirip punggung, ekornya membulat. Termasuk ikan jenis omnivora, memakan sponge, tunikata, alga, hydroid dan invertebrata yang sessil.

Gambar 1. Ikan Suku Pomachantidae (juvenil & dewasa). (Kuiter dan Helmut, 2006).

B. Reproduksi

Semua spesies Ikan Pomacanthidae diketahui bersifat Hermafrodit Protogini. Hal ini berarti jika jantan dominan pada suatu harem hilang, seekor betina akan berubah menjadi seekor ikan jantan yang fungsional. Sebagai ikan yang bertelur pelagis, ikan Pomacanthidae menghasilkan banyak telur kecil mengapung ke air yang kemudian menjadi bagian dari plankton. Telur Ikan mengapung dengan bebas terbawa arus hingga menetas, dimana banyak dari telur ini dimakan oleh pemakan plankton (Froese dan Daniel, 2005).

(7)

7 Ikan memiliki pola dan tingkah laku reproduksi yang beraneka ragam, tergantung dari jenis, habitat, atau kondisi lingkungan-nya. Suku Pomacanthidae menggunakaan strategi reproduksi Pelagic Spawners yang melepaskan telur di kolom perairan, dengan cara reproduksi Hermaprodit Protogineus, memijah di kolom perairan dan berpasangan, dengan tipe telur pelagic atau telur mengapung dan tipe larvanya yaitu planktonik. Sangat sedikit hewan akuatik yang memelihara telur-telurnya setelah dibuahi. Beberapa ikan ada yang menjaga telur-telurnya hingga menetas dan tetap melindungi anaknya yang masih muda hingga mereka mampu hidup mandiri di perairan. Pada beberapa ikan Pomacanthidae, kedua induk baik induk jantan maupun induk betina menjaga telur dan anak-anaknya yang masih muda (Kimball, 1994).

C. Habitat dan Penyebaran

Tingginya keragaman spesies pada terumbu karang disebabkan oleh variasi habitat yang terdapat diterumbu.Terumbu karang tidak saja terdiri dari karang tetapi juga daerah berpasir, celah-celah atau goa dan daerah alga. Habitat yang beranekaragam ini dapat menerangkan peningkatan jumlah ikan-ikan karang. Kebanyakan ikan-ikan-ikan-ikan karang yang ditemukan dengan pergerakan yang terbatas pada daerah tertentu, sangat terlokalisasi dan tidak berpindah-pindah.

Secara umum pola zonasi pada daerah terumbu mulai dari bagian terluar disebut Seaward Slope adalah zona yang menghadap ke arah datangnya angin (windward) dimana kehidupan karang mulai pada kedalaman kira-kira 50 m (Gambar 2). Reef Crest merupakan batas antara terumbu yang menghadap ke datangnya angin (Outer Seaward Slope) ditandai dengan adanya susuk atau penopang alga karang yang membentang ke arah gelombang dan menurun sampai pada kedalaman di tingkat teras. Zona dataran terumbu yang sangat

(8)

8 dangkal (Reef Flat), daerah ini merupakan daerah yang kompleks dengan berbagai faktor lingkungan seperti suhu, kekeruhan, dan terbuka di udara bebas (Nybakken,1992).

Gambar 2. Zonasi terumbu karang (http://terangi.or.id/)

Pomacanthidae (Angelfish) adalah ikan yang anggun dan penuh warna, dari Marga Pomacanthus merupakan contoh sempurna ikan karang yang klasik bagi banyak peneliti alam bawah air. Namun di daerah tropis indo-pasifik suku tersebut dalam jumlah spesies didominasi oleh anggota dari Marga Centropyge. Keberadaan Ikan Pomacanthidae sangat bergantung pada tempat perlindungannya seperti bebatuan, gua-gua dan celah-celah karang, sehingga biasanya mendiami wilayah terumbu karang yang besar (Allen et al., 2003).

Pomacanthidae ada 8 marga dan 82 spesies diseluruh dunia dan penyebarannya sangat luas terutama di daerah perairan Indo-Pasifik Barat, Laut Merah, Afrika Timur, Samoa, Jepang Selatan, Australia, dan Indonesia (Nelson, 2006). Selanjutnya dikatakan bahwa ikan P.Navarchus menghabiskan seluruh hidupnya dalam bongkahan dan lereng luar terumbu karang.

(9)

9 Ikan dari Suku Pomacanthidae ditemukan diseluruh laut tropis, terutama di pantai karang. Di Indonesia ikan ini banyak tersebar diperairan Aceh, Pelabuhan Ratu, Labuan, Ujung Genteng, Sibolga, Lampung, Binungaeun, perairan Sulawesi dan kalimantan (Balai Riset Perikanan Laut, 2006).

Ikan yang merupakan dari kelompok Suku Pomacanthidae pada umumnya hidup pada kedalaman antara 10 sampai 20 meter di daerah yang mempunyai tempat perlindungan di dalam bentukan batuan-batuan besar, gua-gua atau lubang-lubang dan celah-celah karang jarang ditemukan pada daerah yang mempunyai permukaan yang landai, hampir seluruh hidupnya dilewatkan di dasar perairan untuk mencari makan, hanya pada saat tertentu bersembunyi pada tempat perlindungan (Hutomo dkk, dalam Tadjuddin, 2012).

Menurut AKKII (2001) Pomacanthidae hidup diterumbu karang di perairan tropis, soliter dan terkadang berpasangan. Hidup pada kedalaman 1-50 meter seperti Marga Centropyge dan Genicanthus. Penyebaran ikan Pomacanthidae di perairan Indo-Pasifik adalah Australia (23 jenis), Papua Nugini (22 jenis), Indonesia (21 jenis), Taiwan (20 jenis) dan Philipina (19 jenis).

D. Kebiasaan Makan

Kebiasaan makan atau food habits adalah jenis kuantitas dan kualitas pakan yang dimakan. Pakan merupakan faktor pengendali yang penting dalam menghasilkan sejumlah ikan disuatu perairan. Jenis dan jumlah yang dapat dikomsumsi oleh suatu jenis ikan biasanya bergantung pada umur ikan, ketersediaan pakan dan waktu (Efendie, 1979).

Kebiasaan makan dapat didefinisikan dengan ketat pada marga tertentu, seperti pada Suku Pomacanthidae dari Marga Genicanthus yang makan zooplankton, serta Cetropyge yang menyukai alga fillamen. Spesies lain berfokus

(10)

10 pada Invertebrata bentik seperti spons, tunikata, bryozoa dan hidroit menjadi makanan pokoknya (Froese dan Daniel, 2005).

Pomacanthidae dari Marga Centropyge makanan utamanya terdiri dari alga, sedangkan Marga Pomacanthus mengkonsumsi spons, alga dan invertebrata bentik, beberapa spesies Genicanthus memakan zooplankton dan tunicata (Allen et al., 2003).

E. Hubungan Ikan Karang dengan Habitatnya

Ekosistem Terumbu Karang selain memiliki fungsi ekologis sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, pelindung fisik, tempat pemijahan tempat pengasuhan dan bermain bagi berbagai biota, juga menghasilkan berbagai produk yang mempunyai nilai ekonomi penting, seperti berbagai jenis ikan karang, udang karang, alga, teripang dan kerang mutiara. Terumbu karang tidak hanya terdiri dari habitat karang saja, tetapi juga daerah berpasir, berbagai teluk dan celah, daerah algae dan sponge serta masih banyak lagi. Hal tersebut merupakan salah satu penyebab tingginya keragaman spesies ikan di terumbu karang (Burhanuddin, 2011).

Tingginya keragaman spesies pada terumbu karang disebkan oleh variasi habitat yang terdapat diterumbu. Terumbu karang tidak saja terdiri dari karang tetapi juga daerah berpasir, celah-celah atau goa dan daerah alga, habitat yang beraneka ragam ini dapat menerangkan peningkatan jumlah ikan-ikan karang. Kebanyakan ikan-ikan terumbu yang ditemukan, meskipun pergerakan ikan karang jelas tapi ikan ini juga terbatas pada daerah tertentu, sangat terlokalisasi dan tidak berpindah-pindah (Nybakken, 1992).

Kehadiran suatu populasi ikan di suatu tempat dan penyebaran spesies ikan tersebut di muka bumi ini, selalu berkaitan dengan masalah habitat dan

(11)

11 sumberdayanya. Keberhasilan populasi tersebut untuk dapat hidup dan bertahan pada habitat tertentu, tidak terlepas dengan adanya penyesuaian atau adaptasi yang dimiliki anggota populasi tersebut. Perairan merupakan habitat bagi ikan dalam proses pembentukan struktur tubuh ikan, proses pernafasan, cara pergerakaan, cara memperoleh makanan, reproduksi dan hal-hal lainnya (Nybakken, 1992., Burhanuddin, 2008).

(12)

12 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilakukan di perairan Pulau Karampuang, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat, pada bulan Juni 2014, meliputi pengambilan data distribusi ikan dari Suku Pomacanthidae, kondisi tutupan terumbu karang dan rugositas, serta parameter lingkungan. Titik lokasi penelitian terdiri atas 4 stasiun yang dibedakan atas beberapa Kriteria, yaitu; Kawasan Aktifitas Wisata sebagai Stasiun I (Wisata), Kawasan/daerah penangkapan ikan sebagai Stasiun II ((Eksploitasi), Kawasan Konservasi sebagai Stasiun III (Konservasi) dan Kawasan Jalur Transportasi sebagai Stasiun IV (Transportasi) (Gambar 3).

(13)

13 B. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu alat scuba yang terdiri dari masker, snorkel, fins, regulator, bouyancy compensator device (BCD), dan tabung selam yang berisi oksigen digunakan untuk melakukan penyelaman dalam pengambilan data. Kamera bawah laut digunakan untuk mendokumentasikan aktivitas bawah laut dan mengambil gambar yang dianggap penting. Global Positioning System (GPS) digunakan untuk menentukan titik pengamatan yang kemudian diplotkan ke dalam peta. Roll meter sebagai alat untuk melakukan Line Intercept Transect (LIT). Rantai sebagai alat untuk melakukan Chain Intercept Transect (CIT). Sabak dan kertas tahan air, alat tulis menulis digunakan untuk mencatat data yang diperoleh selama pengamatan. Untuk mengetahui kondisi oseanografi perairan digunakan thermometer untuk mengukur suhu perairan, salinometer untuk mengetahui salinitas, layang-layang arus untuk menghitung kecepatan arus, kompas untuk melihat arah arus dan sacchi disk untuk mengukur kecerahan air. Buku identifikasi untuk mengidentifikasi sampel dan perahu motor sebagai alat transportasi.

C. Prosedur Penelitian 1. Observasi Awal

Observasi awal merupakan awal dari kegiatan penelitian ini, dimana pada tahap ini dimaksudkan untuk mengetahui gambaran awal mengenai lokasi penelitian, sehingga dengan adanya observasi ini akan memudahkan dalam mengambil tindakan selanjutnya dan pelaksanaan penelitian lebih terarah.

2. Penentuan Stasiun

Lokasi penelitian ditentukan dengan melakukan snorkling terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi secara umum yang kemudian dilanjutkan dengan

(14)

14 penetapan posisi stasiun pengamatan dengan menggunakan GPS. Titik lokasi penelitian terdiri atas 4 stasiun yang dibedakan atas beberapa kawasan, yaitu; Kawasan Aktifitas Wisata sebagai Stasiun I, Kawasan Eksploitasi ( daerah penangkapan ikan) sebagai Stasiun II, Kawasan Konservasi sebagai Stasiun III, dan Kawasan Jalur Transportasi sebagai Stasiun IV, dimana setiap Stasiun dilakukan 3 kali ulangan pengambilan data pada masing-masing 2 kisaran kedalaman, yaitu kisaran kedalaman 3-7 meter dan kisaran kedalaman 8-12 meter.

3. Pemasangan Transek

Pada masing-masing stasiun pengamatan ditarik transek (roll meter) lurus dan mengikuti kontur pulau sepanjang 50 meter di atas terumbu karang sejajar dengan garis pantai, dimana setiap Stasiun dilakukan pengulangan 3 kali ulangan pada 2 kisaran kedalaman, yaitu 3 kali ulangan pada kisaran kedalaman 3-7 meter dan 3 kali ulangan pada kisaran kedalaman 8-12 meter.

4. Pengambilan Data Lapangan

a. Komposisi dan Distribusi Ikan Suku Pomacanthidae

Untuk data Komposisi dan Distribusi Ikan Suku Pomacanthidae menggunakan metode sensus langsung (Visual Census Method). Secara teknis pengambilan data ikan dan karang dilakukan secara bersamaan, setelah pendata ikan turun, selang beberapa menit diikuti pendata karang, kegiatan pendataan ikan Pomacanthideae dimulai beberapa menit setelah pemasangan transek, maksudnya untuk memberi kesempatan kepada ikan agar kembali ke tempatnya semula, setelah pendata ikan turun kelimpahan ikan mulai dihitung dan mengestimasi ukuran ikan pada area transek dengan batasan jarak 2,5 meter ke samping kiri dan kanan (Gambar 4). Lebar batasan sampling tersebut

(15)

15 sudah merupakan standar batas penglihatan bawah air dengan menggunakan kacamata selam (masker) pada saat pengamatan (English dkk, 1994)

.

Gambar 4. Metode Sensus Visual Ikan Karang

b. Kondisi Tutupan Karang

Untuk mengetahui kondisi umum terumbu karang di Pulau karampuang, digunakan metode Transek garis atau Line Intersept Transect (LIT). Dengan metode ini, di setiap titik pengamatan yang telah ditentukan ditentukan sebelumnya, seorang penyelam melakukan penyelaman sepanjang transek 50 meter dan mencatat di kertas tahan air (underwater paper) substrat ataupun bentos yang berada tepat di bawah transek garis (English et al., 1994).

(16)

16 c. Rugositas

Untuk mengetahui rugositas terumbu karang digunakan metode transek rantai atau Chain Intercept Transek (CIT). Transek rantai sepanjang 5 meter diletakkan mengikuti kontur terumbu karang di sepanjang transek garis yang telah diletakkan sebelumnya (Gambar 5) (Hill dan Wilkinson, 2004).

Gambar 5. Line Intercept Transect (LIT) dan Chain Intercept Transect (CIT) di daerah pengamatan terumbu karang yang sama (Hill dan Wilkinson, 2004).

5. Identifikasi

Identifikasi jenis Ikan Karang Pomacanthidae dilakukan secara langsung di lapangan (untuk jenis ikan yang dikenali pada saat pengamatan), merujuk pada Burgess dkk “Atlas of Marine Aquarium Fishes” 2000 dan Kuiter “Guide To Sea Fishes of Australia” 2006.

D. Analisis Data

1. Distribusi Kelimpahan Ikan Suku Pomacanthidae

Untuk mengetahui Kelimpahan Ikan Pomacanthidae dihitung dengan menggunakan metode sensus langsung (Visual Census Method). Ikan Pomacanthidae dihitung jumlah kelimpahan dan mengestimasi ukuran ikan pada area transek dengan batasan jarak 2,5 meter ke samping kiri dan kanan.

Untuk menganalisa status ekologi ikan karang di lokasi penelitian maka digunakan nilai indeks ekologi dengan melihat kriteria skoring (McMellor, 2007). Penilaian nilai indeks ekologi terbagi atas dua yaitu nilai ekologi untuk ikan

(17)

17 karang keseluruhan dan nilai ekologi ikan karang yang bersifat herbivora. Dalam penelitian ini yang digunakan hanya 1 indeks, yaitu nilai ekologi untuk ikan karang keseluruhan, disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Kriteria skoring penilaian indeks ekologi ikan karang keseluruhan (McMellor, 2007).

Attribute/ Score Score Score Score

References

Score 5 3 1 0

Fish abundance >1000 >500 >250 <250 Hill & Wilkinson, 2004 McField & Kramer, 2006

Shannon-Weiner index

>3.00 >2.50 >2.00 <2.00 Jennings et al. 1995 Munday & Allen, 200 Species

Richness

>100 >75 >50 <50 Alcala & Luchavez, 1993 Gratwicke & Speight, 2005 Chaetodontidae

Richness

>8 >6 >4 <4 Crosby & Reece, 1997 Allen & Werner, 2002 Serranidae

Richness

>4 >2 >1 <1 Allen, 2000

Allen & Werner, 2002 Scaridae

Richness

>6 >4 >2 <2 Allen, 2000

Allen & Werner, 2002 Labridae

Richness

>15 >10 >5 <5 Allen, 2000

Allen & Werner, 2002 Pomacanthidae

Richness

>4 >2 >1 <1 Allen, 2000

Allen & Werner, 2002 Pomacentridae

Richness

>15 >10 >5 <5 Allen, 2000

Allen & Werner, 2002 Acanthuridae

Richness

>8 >4 >2 <2 Allen, 2000

Allen & Werner, 2002 Proportion Herbivores 0.10-0.12 0.08-0.09 0.13-0.14 0.06-0.08 0.14-0.16 <0.06 >0.16 Bellwood et al, 2003 Nystrom, 2006 Proportion Corallivores 0.04-0.05 0.03-0.04 0.05-0.06 0.02-0.03 0.06-0.07 <0.02 >0.07 Bellwood et al, 2003 Nystrom, 2006 Keterangan:

Score Pomacanthidae: 5 = Kondisi Sangat baik 3 = Kondisi Baik

1 = Kondisi Buruk

(18)

18 2. Kondisi Terumbu Karang

Untuk mengetahui kondisi terumbu karang di Pulau Karampuang, digunakan metode transek garis atau Line Intersept Transect (LIT). Dengan metode ini, di setiap titik pengamatan yang telah ditentukan sebelumnya, seorang penyelam melakukan penyelaman sepanjang transek 50 meter dan mencatat di kertas tahan air (underwater paper) substrat ataupun bentos yang berada tepat di bawah transek garis. Adapun kategori yang diamati yaitu Hard Coral (HC), Soft Coral (SC), Algae (A), Sponge (SP), Rubble (R), Dead Coral (DC), Dead Coral Algae (DCA), dan Sand (S) (English et al, 1994). Data yang diperoleh dari lapangan yaitu data hasil dari metode LIT, kemudian diolah dengan program Ms Excel dan analisis data menggunakan rumus dibawah ini:

Kondisi ekosistem terumbu karang ditentukan berdasarkan persentase tutupan karang batu hidup dengan kriteria CRITC-COREMAP LIPI berdasarkan Monitoring Reef Condition (Gomez dan Yap, 1988), dapat dilihat seperti yang disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Kriteria penentuan kondisi terumbu karang berdasarkan penutupan karang hidupnya

Persentase Penutupan (%) Kondisi Kategori Terumbu Karang

0,0 – 24,9 Buruk

25,0 – 49,9 Sedang

50,0 – 74,9 Baik

75,0 – 100,0 Sangat Baik

Jumlah tiap Komponen

% Tutupan Komponen = --- X 100 % Total Komponen

(19)

19 3. Rugositas

Data dari hasil pengamatan tingkat rugositas terumbu karang dianalisa dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

R

= Tingkat rugositas terumbu karang

Ar

= Luas permukaan yang sebenarnya (panjang transek rantai)

Ag

= Luas permukaan geometris (panjang transek garis)

4. Keterkaitan Kondisi Tutupan Karang Karang dangan Distribusi Kelimpahan Ikan Pomacanthidae

Keterkaitan antara distribuisi kelimpahan ikan Pomacanthidae dengan kondisi habitat dan tutupan dasar terumbu karang dianalisis dengan analisis multi variat dengan teknik Pricipal Components Analysis (PCA). Adapun sebagai kolom variabel yaitu data kondisi habitat dan kelimpahan ikan karang serta parameter oseanografi. Adapaun proses pengolahan datanya dilakukan dengan bantuan perangkat lunak Microsoft Office Excel dengan XLSTAT.

Ag

Ar

R

(20)

20 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi

Pulau Karampuang dalam bahasa Indonesia berarti Pulau Bulan, Pulau yang didominasi batu karang dan semua sisinya dikelilingi Teluk Mamuju ini secara administrasi berada dalam wilayah Desa Karampuang, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. Pulau Karampuang terletak tepat di depan pantai Kota Mamuju dan dikelilingi oleh Teluk Mamuju dengan memiliki luas wilayah ± 6,37 km2. Pulau Karampuang merupakan pulau terbesar yang dimiliki Kabupaten Mamuju.

Pulau Karampuang berbatasan dengan beberapa wilayah: sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Simboro Kepulauan, bagian timur berbatasan dengan Desa Bone-bone, wilayah utara berbatasan dengan perairan Selat Makassar, dan sebelah selatan berbatasan dengan Kota Mamuju, tepatnya berada 20 39’ 12.52” – 20 36’ 44.70” Lintang Selatan (LS) dan 1180 52’ 41.23” – 1180 53’ 53.30” Bujur Timur (BT) (Directori Pulau-pulau Kecil Indonesia, 2011).

Untuk sampai ke Pulau Karampuang dapat menggunakan kapal/perahu transportasi umum yang beroperasi setiap hari di Pelabuhan Pelelangan Ikan (PPI) Kabupaten Mamuju, dengan jarak tempuh sekitar 15-20 menit dari Kota Mamuju. Topografi Pulau Karampuang yaitu berbukit-bukit dan berbatu dengan morfologi pantai yang ada adalah pantai karang berpasir dan beberapa area bervegetasi mangrove.

(21)

21 B. Komposisi dan Distribusi Ikan Suku Pomacanthidae

Berdasarkan hasil pengambilan data di lokasi penelitian yang disajikan pada Gambar 6, secara keseluruhan diperoleh total 91 ekor ikan Suku Pomacanthidae. Jumlah terbanyak didapatkan pada stasiun 3 dengan 47 ekor, kemudian stasiun 1 terdapat 25 ekor dan stasiun 2 terdapat 13 ekor, jumlah terendah didapatkan pada stasiun 4 terdapat 6 ekor. Perbedaan jumlah kelimpahan yang didapatkan pada tiap stasiun ini erat kasitannya dengan karakteristik masing-masing stasiun.

Gambar 6. Kelimpahan Ikan Pomacanthidae pada tiap stasiun

Dapat dilihat pada Gambar 7, yang menunjukkan bahwa ikan Suku Pomacanthidae yang terbanyak didapatkan di lokasi penelitian adalah dari Marga Centropyge sebanyak 69 ekor yang terdiri dari 3 spesies, yaitu; Centropyge vroliikii 45 ekor , Centropyge tibicen 21 ekor dan Centropyge bicolor 3 ekor. Sedangkan dari Marga Pygoplytes hanya ada 1 spesies yaitu; Pygoplites diacanthus dengan jumlah 12 ekor, meskipun demikian jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan Marga Pomacanthus dari 3 spesies secara keseluruhan hanya ada 10 ekor, yang terdiri dari; Pomacanthus navarchus 8 ekor,

25 13 47 6 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 1 2 3 4 Jumlah Ikan (ekor)

(22)

22 Pomacanthus sexstriatus 1 ekor, dan Pomacanthus imperator 1 ekor. Hal ini seperti yang dinyatakan Allen et al (2003), bahwa di daerah tropis indo-pasifik Suku Pomacanthidae dalam jumlah spesies didominasi oleh anggota dari Marga Centropyge.

Gambar 7. Kelimpahan Ikan Pomacanthidae dari tiap Spesies

Distribusi Ikan Pomacanthidae di pulau Karampuang pada tiap stasiun dengan masing-masing dua kisaran kedalaman dapat dilihat pada Gambar 8. Distribusi terbanyak terdapat pada stasiun 3 kisaran kedalaman 3-7 meter dengan jumlah individu 34 ekor. Stasiun 3 juga merupakan daerah distribusi ikan terbanyak pada kisaran kedalaman 8-12 meter dengan jumlah individu yang didapatkan yaitu 13 ekor. Dari keempat stasiun penelitian didapatkan jumlah distribusi ikan Pomacanthidae dengan kisaran 0-34 ekor dari dua kisaran kedalaman. Berdasarkan kisaran kedalaman, kedalaman 3-7 meter terdapat kisaran distribusi ikan 0-34 ekor, sedangkan pada kedalaman 8-12 meter didapatkan kisaran distribusi ikan 4-13 ekor. Distribusi terendah di kisaran kedalaman 3-7 meter ada pada stasiun 4, sedangkan di kisaran kedalam 8-12 ditribusi terendah pada stasiun 1 dengan jumlah ikan 3 ekor.

45 21 3 8 1 1 12 Cen tro p yg e V ro lik ii Cen tro p yg e Ti b ic en Cen tro p yg e B ic o lo r Po m a ca n th u s N a va rch u s Po m a ca n th u s Sex st ri a tu s Po m a ca n th u s Im p era to r Py g o p lit es D ia ca n th u s

Centropyge Pomacanthus Pygoplites

(23)

23 Gambar 8. Distribusi Ikan Pomacanthidae pada 2 Kisaran Kedalaman

Tinggi dan rendahnya distribusi ikan Pomacanthidae pada lokasi penelitian sangat dipengaruhi oleh karakteristik masing-masing stasiun. Stasiun 3 adalah stasiun yang memiliki tingkat distribusi yang tinggi dikarenakan karakteristik pada stasiun 3 adalah kawasan konservasi, sangat kurang atau hampir tidak ada gangguan dari aktifitas masyarakat di kawasan ini. Selain banyak ditemukan ikan Pomacanthidae di stasiun 3, persentase tutupan karang dan nilai rugositasnya juga tertinggi dibandingkan stasiun lainnya.

Pada Tabel 3 dapat dilihat distribusi ikan Pomacanthidae dari 3 marga dan 7 spesies. 3 spesies dari Marga Centropyge, 3 spesies dari Marga Pomacanthus dan 1 spesies dari Marga Pygoplites. Dengan jumlah total keseluruhan 91 ekor yang tersebar pada masing-masing stasiun pengamatan dengan dua kisaran kedalaman yang berbeda. Menurut AKKII (2001), di Indonesia terdapat 21 spesies Pomacanthidae dari 8 marga, namun dalam penelitian ini hanya didapatkan 7 spesies dari 3 marga, hal ini menandakan masih kurangnya keragaman ikan pomacanthidae di Pulau Karampuang.

0 5 10 15 20 25 30 35

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4

Ju m la h Ika n ( e kor ) Kisaran Kedalaman 3-7 Kisaran Kedalaman 8-12

(24)

24 Tabel 3. Distribusi Ikan Pomacanthidae di Pulau Karampuang

Marga Spesies Kisaran Kedalaman 3-7 meter Kisaran Kedalaman 8-12 meter Jumlah Ikan (ekor) St.1 St.2 St.3 St.4 St.1 St.2 St.3 St.4 Centropyge Centropyge Vrolikii 17 6 22 45 Centropyge Tibicen 4 3 12 2 21 Centropyge Bicolor 1 2 3 Pomacanthus Pomacanthus Navarchus 1 4 3 8 Pomacanthus Sexstriatus 1 1 Pomacanthus Imperator 1 1 Pygoplites Pygoplites Diacanthus 2 2 5 3 12 3 Marga 7 Spesies 22 9 34 0 3 4 13 6 91

Spesies terbanyak ditemukan yaitu Centropyge vrolikii (Gambar 9.A) dari Marga Centropyge. dengan jumlah 45 ekor, yang hanya tersebar di kedalaman 3-7 meter pada stasiun 1 (17 ekor), stasiun 2 (6 ekor) dan stasiun 3 (22 ekor).

Carpenter dan Volker (2001) menyatakan bahwa spesies Centropyge vrolikii tersebar diseluruh wiayah Indo-Malaya, di Samudera Pasifik Timur, Jepang Utara dan Selatan. Hidup di daerah terumbu karang pada kedalaman 3-15 meter, Namun dalam penelitian ini yang dilakukan di Pulau Karampuang, ikan Centropyge vrolikii hanya ditemukan pada kedalaman 3-7 meter. Hampir sama dengan distribusi dari spesies Centropyge tibicen (Gambar 9.B) yang juga tersebar di kedalaman 3-7 meter pada stasiun 1 (4 ekor), stasiun 2 (3 ekor) dan stasiun 3 (12 ekor) dengan jumlah yang lebih sedikit, tetapi ada 2 ekor ditemukan pada kedalaman 8-12 meter. Selanjutnya dikatakan Carpenter dan Volker (2001), bahwa spesies Centropyge tibicen mampu berenang lebih dalam (4-30 meter) dibandingkan dengan Centropyge vrolikii. Sedangkan pada spesies Centropyge bicolor (Gambar 9.C) sangat berbeda dengan Centropyge tibicen dan Centropyge vrolikii, selain memiliki

(25)

25 ukuran yang lebih besar, spesies ikan ini hanya ditemukan pada kedalaman 8-12 meter.

A B C

Gambar 9. Ikan Suku Pomacanthidae, Marga Centropyge (A. Centropyge vrolikii, B. Centropyge tibicen, C. Centropyge bicolor)

Untuk Marga Pomacanthus didapatkan 3 speies dengan total jumlah 10 ekor. Pomacanthus navarchus 8 ekor, Pomacanthus sexstriatus 1 ekor dan Pomacanthus imperator 1 ekor yang masing-masing terdistribusi pada tiap stasiun dan kisaran kedalaman penelitian. Pomacanthus navarchus (Gambar 10.A) ditemukan di kedalaman 8-12 meter pada stasiun 3 (4 ekor) dan di stasiun 4 (3 ekor). Sedangkan pada stasiun 1 didapatkan hanya 1 ekor di kedalaman 3-7 meter. Dari spesies Pomacanthus sexstriatus (Gambar 10.B) dan Pomacanthus imperator (Gambar 10.C) hanya ditemukan masing-masing 1 ekor pada stasiun dan kisaran kedalaman yang sama, yaitu stasiun 3 pada kisaran kedalaman 8-12 meter. Marga Pomacanthus merupakan ikan dari Suku Pomacanthidae yang rata-rata spesiesnya berukuran besar, ikan marga ini tersebar diseluruh perairan tropis.

A B C

Gambar 10. Ikan Suku Pomacanthidae, Marga Pomacanthus (A. Pomacanthus navarchus, B. Pomacanthus sexstriatus, C. Pomacanthus imperator)

(26)

26 Marga Pygoplites yang didapatkan pada penelitian ini hanya 1 spesies, yaitu Pygoplites diacanthus (Gambar 11) dengan jumlah 12 ekor dan hanya didapatkan pada kisaran kedalaman 8-12 meter, spesies Pygoplites diacanthus hadir disetiap stasiun penelitian, pada stasiun 1 (2ekor), stasiun (2 ekor), stasiun 3 (5 ekor) dan stasiun 4 (3 ekor).

Gambar 11. Ikan Suku Pomacanthidae, Pygoplites diacanthus

Dari hasil pengamatan yang dilakukan di lokasi penelitian, pada umumnya ikan dari Suku Pomacanthidae akan berenang menjauh dan bersembunyi, sehingga sulit untuk didekati oleh penyelam, hal ini menyulitkan proses pengambilan gambar ikan pada saat pangambilan data. Ikan Pomacanthidae sangat menyukai daerah terumbu karang yang memiliki banyak celah atau gua-gua sebagai tempat bersembunyi ataupun dijadikan sebagai tempat untuk tinggal dan menetap, terutama pada karang batu yang besar dan memiliki banyak celah. Seperti yang di dinyatakan Allen et al (2003) bahwa ikan Pomacanthidae sangat bergantung pada tempat perlindungannya sehingga biasanya mendiami wilayah terumbu karang yang besar. Selanjutnya Tajuddin (2012) menyatakan dari hasil penelitiannya bahwa anggota Suku Pomacanthidae umumnya hidup pada di daerah yang mempunyai tempat berlidung, di celah batu-batuan yang besar, gua-gua atau lubang-lubang dan celah-celah karang, ikan Pomacanthidae jarang didapatkan di daerah rataan pasir.

(27)

27 Distribusi ikan Pomacanthidae di Pulau Karampuang sangat erat kaitannya dengan karakteristik masing-masing stasiun penelitian. Pada stasiun 1 dengan kondisi terumbu karang yang tergolong baik (50.45%) dengan nilai rugositas paling rendah dibandingkan dengan stasiun lainnya (1,53). Banyaknya ikan Pomacanthidae di stasiun ini dikarenakan aktifitas wisata di daerah ini hanya pada saat tertentu saja, pada saat adanya aktifitas wisata di stasiun ini ikan Pomacanthidae akan pergi meninggalkan tempat persembunyiannya, setelah aktifitas wisata tersebut berhenti ikan-ikan Pomacanthidae akan kembali ke tempatnya semula. Berbeda halnya dengan terumbu karang, terumbu karang membutuhkan waktu yang lama untuk pulih kembali. Aktifitas wisata di stasiun ini adalah penyebab patahnya percabangan karang sehingga mengekibatkan rugositas pada stasiun ini sangat rendah dibandingkan stasiun lainnya.

Pada stasiun 2 yaitu. Kondisi terumbu karang tergolong buruk (19.45%), dengan nilai rungositas (2,12). Kurangnya ikan Pomacanthidae dan rusaknya terumbu karang pada stasiun ini diakibatkan karena aktifitas manusia yang menangkap ikan dengan cara dan alat tangkap yang digunakan bersifat merusak, seperti kegiatan penangkapan ikan dengan pengeboman, penangkapan dengan menggunakan racun serta penggunaan alat tangkap trawl dll. Tingginya rugositas di stasiun ini dibandingkan dengan stasiun 1 dikarenakan banyaknya karang batu yang besar (Dead Coral Alga) di stasiun ini.

Stasiun 3 memiliki data distribusi ikan yang terbanyak, dengan persentase tutupan karang tertinggi 57,64% (baik) dan nilai rugositas tertinggi (2,78). Banyaknya distribusi ikan Pomacanthidae, serta tingginya persentase tutupan karang dan rugositas di stasiun ini disebabkan karena daerah ini sudah terjaga dan tidak adanya aktifitas masyarakat di kawasan ini.

(28)

28 Stasiun 4 dengan persentase tutupan karang 45.84% (sedang) serta tingkat rugositas 2,45 yang cukup tinggi. Tidak adanya ditemukan ikan Pomacanthidae pada kisaran kedalamn 3-7 meter di stasiun ini, dikarenakan kawasan ini setiap harinya dilalui kapal, yang menyebabkan ikan Pomacanthidae merasa terganggu dan meninggkan kawasan ini untuk mencari tempat yang lebih tenang. Namun pada kedalaman 8-12 meter masih ada ditemukan beberapa ekor ikan Pomacanthidae.

C. Kondisi Ikan Suku Pomacanthidae

Berdasarkan Tabel kriteria skoring penilaian ekologi ikan karang (McMellor, 2007). Kondisi ikan karang dari Suku Pomacanthidae yang disajikan pada Tabel 4. Pada stasiun 1 kisaran kedalaman 3-7 meter, stasiun 3 kisaran kedalaman 3-7 dan 8-12 meter tergolong yang memiliki ikan Pomacanthidae dalam kondisi sangat baik dengan skor masing-masing (5).

Tabel 4. Kondisi Ikan Pomacanthidae Pulau Karampuang pada tiap kisaran kedalaman berdasarkan Kriteria Skoring Penilaian Ekologi Ikan Karang (McMellor, 2007)

Stasiun Kisaran Score Ket.

Kedalaman

1. Wisata 3-7 meter 5 Sangat Baik

8-12 meter 1 Buruk

2. Eksploitasi 3-7 meter 3 Baik

8-12 meter 1 Buruk

3. Konservasi 3-7 meter 5 Sangat Baik

8-12 meter 5 Sangat Baik

4. Transportasi 3-7 meter 0 Sangat Buruk

8-12 meter 3 Baik

Kriteria kondisi baik dengan skor (3) terdapat pada stasiun 2 kedalaman 3-7 meter dan stasiun 4, kedalaman 8-12 meter. Pada kedalaman 8-12 meter di stasiun 1 dan 2, masing-masing dengan skor (1), termasuk dalam kriteria kondisi yang buruk. Namun yang memiliki kriteria kondisi yang sangat buruk terdapat

(29)

29 pada stasiun 4 kedalaman 3-7 meter, karena sama sekali tidak ada ditemukan ikan Suku Pomacanthidae di daerah tersebut.

D. Kondisi Terumbu Karang dan Rugositas

Peta Sebaran Terumbu Karang di Pulau Karampuang dapat dilihat pada Gambar 12. Sebaran terumbu karang yang luas berada pada bagian Utara dan sebaran terumbu karang pada bagian timur memanjang sampai ke bagian Selatan, sedangkan pada bagian Barat memiliki sebaran terumbu karang yang lebih sedikit. Meskipun demikian, kondisi terumbu karang di bagian Barat lebih baik dibandingkan dengan kondisi terumbu karang pada bagian Utara, Timur dan Selatan.

(30)

30 1. Kondisi Terumbu Karang dan Rugositas pada Kisaran Kedalaman 3-7 meter a. Kondisi Terumbu Karang pada Kisaran Kedalaman 3-7 meter

Tutupan komponen dasar terumbu karang yang mendominasi di kisaran kedalaman 3-7 meter dari semua stasiun yaitu Live Coral, Abiotik dan Dead Coral Alga (DCA). Dapat dilihat pada Gambar 13, bahwa pada satsiun 1,3 dan 4 kisaran kedalaman 3-7 meter memiliki persen tutupan karang hidup yang baik yaitu >50,00 %. Daerah ini memiliki habitat yang masih alami, perairan yang jernih sehingga karang mendapatkan cahaya matahari yang cukup untuk tumbuh dengan baik.

Gambar 13. Persentase Tutupan Komponen Dasar Terumbu Karang pada Kisaran Kedalaman 3-7 Meter

Tutupan Dead Coral Alga (DCA) paling tinggi ditemukan pada stasiun 2 (34,91%) dan stasiun 3 (24,77%). Untuk Alga dan Other persentasenya sangat sedikit disetiap stasiun pada kisaran kedalaman ini. Kegiatan manusia merupakan ancaman yang paling dominan dan sangat berpotensi merusak ekosistem sekaligus menghilangkan keanekaragaman terumbu karang maupun diluar terumbu karang. Kegiatan yang berpotensi merusak terumbu karang yaitu eksploitasi karang. 1 2 3 4 Stasiun Live Coral 53.88 17.55 54.69 57.45 DCA 11.28 34.91 24.77 9.66 Alga 0.79 0.11 0.00 0.00 Other 5.66 4.18 2.07 1.81 Abiotik 85.20 43.24 17.80 30.99 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00 P e rsent ase %

(31)

31 b. Rugositas pada Kisaran Kedalaman 3-7 meter

Pada Gambar 14 menjelaskan rugositas terumbu karang pada kisaran kedalaman 3-7 meter berkisar antara 1,73 – 3,30 kali lebih panjang dari panjang permukaan karang yang dilalui oleh meteran. Nilai rugositas tertinggi berada pada stasiun 3 dengan nilai 3,30. Berdasarkan pengamatan di lapangan tingginya rugositas di stasiun 3 disebabkan karena tingginya persentase penutupan karang hidup di stasiun ini yang tergolong baik. Sedangkan nilai rugositas terendah ada pada stasiun 1 dengan nilai 1,73. Pada Gambar 14 menjelaskan bahwa stasiun 4, stasiun 3 dan stasiun 1 pada kisaran kedalaman 3-7 meter ini memiliki kondisi kondisi terumbu karang yang sama (baik), dengan persentase tutupan karang pada stasiun 4 (57,45%), stasiun 3 (54,69%) dan stasiun 1 (53,88%) namun rugositas pada ketiga stasiun tersebut jauh berbeda. Hal ini di sebabkan karena perbedaan karakteristik masing-masing stasiun. Stasiun 3 merupakan daerah atau Kawasan Konservasi, tingginya rugositas di stasiun 3 karena tidak adanya aktifitas masyarakat di daerah ini sehingga karang dapat tumbuh dengan baik. Sedangkan Stasiun 1 merupakan kawasan aktifitas wisata, banyak aktifitas masyarakat yang terjadi di kawasan ini, seperti; wisatawan yang melakukan snorkeling ataupun diving di daerah ini dan pembuangan jangkar kapal di daerah terumbu karang, aktifitas tersebut dapat menyebabkan patahnya karang yang ada di kawasan ini. Hal ini sesuai dengan penelitian Arham (2010), yang menyatakan bahwa rugositas terumbu karang berkaitan erat dengan persentase penutupan terumbu karang dan keanekaragaman karang. Semakin tinggi persentase penutupan dan keanekaragaman maka akan semakin menambah kompleksitas/kerutan substrat terumbu karang.

(32)

32 Gambar 14. Rugosita Pada Kisaran Kedalaman 3-7 meter

Pada stasiun 2 (Gambar 14) juga menjelaskan bahwa rugositas terumbu karang erat kaitannya dengan persentase penutupan terumbu karang dan keanekaragaman karang. Semakin tinggi persentase penutupan dan keanekaragaman maka akan semakin menambah kompleksitas/kerutan substrat terumbu karang. Persentase tutupan karang stasiun 2 termasuk dalam kondisi yang buruk (17.55%), sedangkan pada stasiun 1, stasiun 3 dan stasiun 4 persentase tutupan karangnya adalah baik (>49,99%). Namun stasiun 2 memiliki nilai rugositas (2,33) lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun 1 (1,73) ini disebabkan karena pada stasiun 2 terdapat banyak karang batu yang sudah mati dan berukuran besar.

2. Kondisi Terumbu Karang dan Rugositas pada Kisaran Kedalaman 8-12 meter a. Kondisi Terumbu Karang pada Kisaran Kedalaman 8-12 meter

Pada Gambar 15, menunjukkan bahwa tutupan Live Coral, Abiotik dan Dead Coral Alga (DCA) masih mendominasi tutupan dasar terumbu karang pada kisaran kedalaman 8-12 meter pada setiap stasiun di lokasi penelitian. Gambar 15, juga memperlihatkan bahwa presentase karang hidup yang terdapat pada kisaran kedalaman ini tidak berbeda jauh dengan yang ada pada kisaran

1.73 2.33 3.30 2.27 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 1 2 3 4

(33)

33 kedalaman 3-7 meter. Perbandingan dari dua kisaran kedalaman ini tidak begitu jauh berbeda, baik dari Live Coral, Dead Coral Alga (DCA), Alga, Other, maupun unsur Abiotik-nya.

Gambar 15. Persentase tutupan komponen dasar terumbu karang pada kisaran kedalaman 8-12 Meter

Tutupan karang hidup yang tinggi terdapat pada stasiun 3 (60,59%), daerah ini memiliki habitat yang jarang dijamah oleh masyarakat, perairan yang jernih dan rata-rata intensitas cahaya yang tinggi sehingga terumbu karang mendapatkan cahaya matahari yang cukup untuk kondisi ini sangat dibutuhkan agar dapat tumbuh dengan baik.

Untuk unsur Dead Coral Alga terlihat dominan di stasiun 2 (19,07%), begitu juga dengan penutupan unsur Abiotik terukur dominan di stasiun 2 (56,69%). Masalah klasik yang sering didengar yaitu adanya Illegal fishing dan banyaknya nelayan yang mengambil ikan dengan cara yang tidak ramah lingkungan yang mengakibatkan rusaknya terumbu karang masih menjadi faktor dominan di lokasi penelitian.

1 2 3 4 Stasiun Live Coral 47.01 21.35 60.59 34.23 DCA 18.17 19.07 18.13 16.87 Alga 0.00 0.11 0.62 0.62 Other 3.14 2.78 1.35 7.83 Abiotik 31.67 56.69 19.31 40.45 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 P e rsent ase %

(34)

34 Secara umum tingginya penutupan Dead Coral Alga (DCA) diduga disebabkan dampak dari eksploitasi yang berlebihan oleh manusia seperti penggunaan bom ikan. Adapun faktor lain yang mempengaruhinya yaitu sedimentasi baik oleh peristiwa resusupensi maupun oleh peristiwa badai. Sedimentasi merupakan salah satu faktor pembatas pertumbuhan karang, daerah yang memiliki sedimentasi yang tinggi akan sulit untuk menjadi tempat yang baik bagi pertumbuhan karang. Tingginya sedimentasi menyebabkan penetrasi cahaya di air laut akan berkurang dan hewan karang (polip) akan bekerja keras untuk membersihkan partikel yang menutupi tubuhnya. Faktor fisik lain yang turut mempengaruhi penyebaran terumbu karang adalah gelombang, arus dan tingginya kisaran antara pasang dan surut, gelombang dan arus erat kaitannya dengan penempelan planula serta morfologi karang. Perbedaan pasang dengan surut, mempengaruhi lamanya karang terpapar sinar matahari.

b. Rugositas pada Kisaran Kedalaman 8-12 meter

Rugositas terumbu karang pada kisaran kedalaman 8-12 meter berkisar antara 1,33 – 2,63 kali lebih panjang dari panjang permukaan karang yang dilalui oleh meteran. Rugositas pada kisaran kedalaman 8-12 meter lebih rendah dari nilai rugositas pada kisaran kedalaman 3-7 meter. Nilai rugositas tertinggi berada pada stasiun 4 dengan nilai 2,63. Berdasarkan pengamatan di lapangan tingginya rugositas di stasiun 4 disebabkan karena karang massive yang berukuran besar di stasiun ini. Sedangkan nilai rugositas terendah ada pada stasiun 1 dengan nilai 1,33 (gambar 16). Stasiun 1 merupakan kawasan aktifitas wisata, banyak aktifitas masyarakat yang terjadi di kawasan ini, seperti; wisatawan yang melakukan snorkeling ataupun diving di daerah ini dan pembuangan jangkar kapal di daerah terumbu karang, aktifitas tersebut dapat menyebabkan patahnya karang yang ada di kawasan ini.

(35)

35 Gambar 16. Tingkat rugositas pada kisaran kedalaman 8-12 meter

3. Rata-rata Persentase Tutupan Karang

Persentase tutupan karang hidup berkisar antara 17,55% sampai 60,59%. Jika dibandingkan antar stasiun, tutupan karang hidup yang tinggi tedapat pada stasiun 3, 1, dan 4 dengan kisaran 34,23% sampai 60,59%, sedangkan tutupan karang terendah ditemukan pada stasiun 2 dengan kisaran 17,55% sampai 21,45% (Tabel 5).

Tabel 5. Persentase tutupan karang hidup

Stasiun Persentase Tutupan Karang Hidup (%) Kondisi Terumbu Karang 3-7 M 8-12 M Rata-rata 1 53.88 47.01 50.45 Baik 2 17.55 21.35 19.45 Buruk 3 54.69 60.59 57.64 Baik 4 57.45 34.23 45.84 Sedang

Berdasarkan tutupan karang hidup, maka kondisi tutupan karang hidup di lokasi penelitian dimulai dari kondisi buruk sampai dengan baik. Persentase kondisi tutupan karang yang tinggi ditemukan di stasiun 3 kemudian stasiun 1 dan selanjutnya stasiun 4, dengan rata-rata tutupan karang hidup pada stasiun 3 (57,63%), stasiun 1 (50,45%) dan stasiun 4 (45,84%). Tigginya persentase

1.33 1.90 2.27 2.63 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 1 2 3 4

(36)

36 tutupan karang hidup di lokasi ini mengindikasikan bahwa perairannya masih alami. Lokasi penelitian memiliki perairan yang jernih sehingga terumbu karang masih mendapatkan cahaya matahari yang cukup. Kondisi ini sangat dibutuhkan oleh karang untuk tumbuh dengan baik. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Antasari (2011), bahwa perairan Pulau Karampuang relatif memiliki kecerahan perairan yang tinggi, sehingga karang mendapatkan cahaya matahari yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh.

Stasiun 2 kondisi terumbu karangnya berada dalam kondisi buruk, dengan tutupan karang hidupnya rata-rata 19,45%, rendahnya tutupan karang hidup pada stasiun 2 karena telah rusak akibat pemanfaatan yang tidak ramah lingkungan, hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan lingkungan pesisir yang tidak ramah lingkungan masih tinggi di stasiun ini, rendahnya tutupan karang hidup akan berdampak bagi lingkungan pesisir khususnya manfaat fisik dari terumbu karang, salah satu dampak terhadap lingkungan pesisir akibat berkurangnya terumbu karang yaitu terjadinya abrasi dikarenakan daya redam ombak dari terumbu karang berkurang. Hasil Penelitian Antasari (2011) menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang di pulau Karampuang pada saat itu dalam kondisi sedang sampai dengan baik. Fenomena ini menunjukkan adanya sedikit penurunan kondisi terumbu karang dalam kurun waktu 3 tahun.

Berdasarkan nilai tutupan karang hidupnya, maka dapat dinyatakan bahwa kondisi terumbu karang di lokasi penelitian berkisar dari buruk, sedang sampai baik. Jika dilihat menurut stasiun, kondisi terumbu karang di stasiun 3 memiliki persentase tutupan karang lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun lainnya. Kondisi terumbu karang di stasiun 2 sudah dalam kondisi yang rusak pada kisaran kedalaman 3-7 meter maupun 8-12 meter dengan penutupan <25% (berkisar 17,55 – 21,35%), sedangkan kondisi terumbu karang di stasiun

(37)

37 1 dan 4 masih tergolong baik pada kisaran kedalaman 3-7 meter, namun pada kisaran kedalaman 8-12 meter tergolong baik dan sedang dengan tutupan karang hidupnya 53,857,45% di kedalaman 3-7 meter dan pada kedalaman 8-12 meter penutupan karang hidupnya 47,10-34,23% pada masing stasiun 1 dan 4 (Tabel 4). Kondisi terumbu karang di Pulau Karampuang masih mengalami tekanan yang bersumber dari aktivitas manusia sehari-harinya, baik dalam pengambilan biota laut yang tidak ramah lingkungan serta aktivitas lainnya yang dapat merusak ekosistem terumbu karang, selain itu, kondisi ini juga masih dipengaruhi peristiwa alam.

E. Keterkaitan Kondisi Tutupan Karang dan Kondisi Oseanografi dangan Distribusi Kelimpahan Ikan Pomacanthidae

Berdasarkan hasil analisis PCA, maka dapat dilihat bahwa persentase tutupan karang hidup dan parameter oseanografi di Pulau Karampuang mempunyai kaitan yang erat terhadap distribusi ikan karang Suku Pomacanthidae, tiap stasiun dipengaruhi oleh kecerahan (Gambar 17). Pada saat melakukan penyelaman, visibility cukup tinggi dan kurangnya partikel sedimen pada saat melakukan penyelaman sehingga jarak pandang penyelam cukup jauh. Hal ini dimungkinkan karena lokasi berada cukup jauh dari daratan utama dan sungai sehingga suplai material tersuspensi yang menurunkan kecerahan perairan dari muara sungai dan pemukiman penduduk di daratan utama relatif kecil. Untuk data kondisi oseanografi dapat dilihat pada Lampiran 5.

(38)

38 Gambar 17. Keterkaitan Kondisi Tutupan Karang dan Kondisi Oseanografi dangan

Distribusi Kelimpahan Ikan Pomacanthidae

Distribusi tertinggi terdapat pada kelompok 1 yang dicirikan oleh 2 variabel (salinitas dan arus) distribusi ikan dari Suku pomacanthidae yang ditemukan melimpah pada titik pengamatan yaitu pada stasiun 3 pada kisaran kedalaman 3-7 dan stasiun 3 pada kisaran kedalaman 8-12. Pada stasiun 3 merupakan stasiun pengamatan dengan kondisi terumbu karang yang baik, dengan rata-rata persentase tutupan karang 50,45%, hal ini mendukung sebagai habitat untuk hidup dan berkembangnya ikan Suku pomacanthidae. Tingginya distribusi ikan Pomacanthidae pada kelompok 1 dipengaruhi oleh salinitas dan arus (Gambar 16). Nilai salinitas pada stasiun 3 yaitu 30 ppt merupakan nilai normal yang dibutuhkan oleh ikan Pomacanthidae untuk melangsungkan hidupnya di perairan, sedangkan kecepatan arus yang diukur pada stasiun 3 dengan kecepatan 0.10 m/s sangat bagus untuk menyuplai oksigen, membantu

(39)

39 penyebaran larva-larva ikan dan membawa makanan berupa plankton untuk ikan Pomacanthidae.

Kelompok 2 pada titik pengamatan yaitu pada stasiun 1 dan 4 dengan 2 kisaran kedalaman dipengaruhi oleh suhu dan kondisi tutupan dasar terumbu karang yaitu live coral, alga, abiotik dan other, dengan kondisi pada stasiun 1 yaitu 29 :C dan stasiun 4 yaitu 30 :C nilai tersebut suhu tersebut dapat ditolerir oleh ikan Pomcanthidae untuk aktivitas metabolisme maupun perkembangannya, sedangkan variable tutupan dasar terumbu karang berperan sebagai habitat untuk ikan Pomacanthidae.

Distribusi ikan Pomacanthidae pada kelompok 3 pada titik pengamatan stasiun 2 dipengaruhi oleh dead coral. Tingginya dead coral pada stasiun 2 karena adanya aktifitas illegal fishing, hal ini menyebabkan kurangnya kelimpahan ikan Pomacanthidae pada stasiun 2 yang merupakan stasiun eksploitasi

(40)

40 BAB. V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Hasil penelitian yang dilakukan di Pulau Karampuang adalah sebagai berikut :

1. Selama penelitian ditemukan 7 spesies ikan karang dari suku yang berasal dari 3 marga dengan total individu 91 ekor yang didominasi oleh Marga Centropyge

2. Stasiun 1 ditemukan 5 spesies ikan Pomacanthidae yaitu Centropyge vrolikii, Centropyge tibicen, Centropyge bicolor, Pomacanthus navarchus dan Pygoplites diacanthus. Stasiun 2 ditemukan 4 spesies ikan Pomacanthidae yaitu Centropyge vrolikii, Centropyge tibicen, Centropyge bicolor, dan Pygoplites diacanthus. Stasiun 3 ditemukan 6 spesies ikan Pomacanthidae yaitu Centropyge vrolikii, Centropyge tibicen, Pomacanthus navarchus, Pomacanthus sexstriatus, Pomacanthus imperator dan Pygoplites diacanthus. Stasiun 4 ditemukan 2 spesies ikan Pomacanthidae yaitu Pomacanthus navarchus dan Pygoplites diacanthus.

3. Stasiun 1 (Wisata) kondisi terumbu karang baik dengan nilai rata-rata persentase tutupan karang 50.45% dan rugositas 1,53 ditemukan 25 ekor ikan Pomacanthidae. Satsiun 2 (Eksploitasi) kondisi terumbu karang buruk dengan nilai rata-rata persentase tutupan karang 19.45% dan rugositas 2,12 ditemukan 13 ekor ikan Pomacanthidae. Satsiun 3 (Konservasi) kondisi terumbu karang baik dengan nilai rata-rata persentase tutupan karang 57.64% dan rugositas 2,78 ditemukan 47 ekor ikan Pomacanthidae. Satsiun 4 (Transportasi) kondisi terumbu karang sedang dengan nilai rata-rata

(41)

41 persentase tutupan karang 45.84% dan rugositas 2,45 ditemukan 6 ekor ikan Pomacanthidae.

B. Saran

1. Perlu adanya penelitian lanjutan mengenai keterkaitan ikan hias karang dari Suku Pomacanthidae dan Ikan dari suku lain dengan kondisi tutupan terumbu karang.

2. Untuk menjaga dan meningkatkan populasi ikan hias karang dari Suku Pomacanthidae di Pulau Karampuang, maka perlu dilakukan perlindungan dan pengawasan area terumbu karang di Pulau Karampuang.

3. Perlunya menyadarkan masyarakat terutama nelayan mengenai dampak dari Illegal fising, agar kelestarian terumbu karang dan ikan semakin meningkat.

(42)

42 DAFTAR PUSTAKA

AKKI. 2001. Petunjuk Teknis Perdagangan Ikan Hias dan Coral Indonesia. (http://www.akkii.org, diakses 1 April 2014)

Allen, G.R, R.Steene., P.Humann and N.Deloach. 2003. Reef Fish Identification. Tropical pacific. USA.

Anonim. Pengenalan Bentuk Pertumbuhan Karang dan Struktur Rangka Kapur Karang. http://terangi.or.id/

Antasari, K. 2011. Penentuan Lokasi Wisata Selam di Pulau Karampuang Kecamatan Mamuju Kabupaten Mamuju Dengan Menggunakan Metode Pembobotan. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Arham, A. 2011, Sebaran dan Keragaman Ikan Karang di Pulau Barrang Lompo Kaitannya Dengan Kondisi dan Kompleksitas Habitat. Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin Makassar.

Balai Riset Perikanan Laut. 2006. Ikan Hias Laut Indonesia. Penebar Swadaya, Jakarta.

Burgess, W.E., H.R.Axelrod and R.E.Hunziker. 2000. Atlas of Marine Aquarium Fishes. Third Edition.

Burhanuddin, A.I. 2008. Ikhtiologi, ikan dan aspek kehidupannya. Yayasan Citra Emulsi, Makassar-Indonesia.

Burhanuddin, A.I. 2011. The Sleeping Giant, potensi dan permasalahan kelautan. Brilian Internasional. Surabaya.

Directori Pulau Pulau Kecil Indonesia. 2011. Potensi dan Arahan Pengembangan Pulau Karampuang. Mamuju. http://www.ppk-kp3k.kkp.go.id/, diakses pada 17 Mei 2014.

Edrus, I.N. 2013, Presentasi Ikan Karang MPTK, Metode Senssus Visual Ikan Karang, Pelatihan Metode Penelitian Terumbu Karang,P2O-LIPI, D/a Balai Riset Perikanan Laut

Efendie, M.I. 1979. Metoda Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor

English, S., C.Wilkinson and V.Baker. 1994. Survey Manual and Tropical Marine Resources. Australian Institute of Marine Science, Townsville.

Froese. E.R. and P.Daniel. 2005, Fish Base. http://www.fishbase.org, diakses pada 1 April 2014

Gomez, E.D. and H.T.Yap. 1988. Monitoring Reef ConditionIn Kenchington R.A. and B.E.T. Hudson (eds) CoralReef Management Handbook.UNESCO Regional Office for Science and Technology for South East Asia. Jakarta

(43)

43 Hill, J. and C.Wilkinson. 2004. Methods For Ecological Monitoring of Coral Reefs.

Australian Institute of Marine Science (AIMS). Townsville. Australia. Kimball, J.W. 1994. Biologi. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Kuiter, R.H. 1996. Guide To Sea Fishes of Australia, a comprehensive reference for divers & fishermen.

Kuiter, R.H. and D.Helmut. 2006. World Atlas of Marine Fishes.

McMellor, S. 2007. A Conservation Value Index to Facilitate Coral Reef Evaluation and Assessment. A thesis Submitted for the Degree of Doctor of Philosophy. Department of Biological Sciences. University of Essex. Nelson, J.S. 2006. Fishes of The World, fourth edition. Simultaneously in

Canada.

Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut, suatu pendekatan ekologis. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Raodah, S.U. 2012. Analisis Pengawasan Penangkapan Ikan Pada Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Barat. STIA-LAND. Makassar. Tadjuddin, T. 2012. Keterkaitan Kelimpahan Ikan Hias Angel Napoleon

(Pomacanthus Xanthometopon) Dengan Kondisi Tutupan Karang Di Perairan Takabonerate Kabupaten Kepulauan Selayar. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Tuwo, A. 2011. Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut. Brilian Internasional, Surabaya.

(44)

44

LAMPIRAN

(45)

45 Lampiran 1. Data Ikan Suku Pomancanthidae yang didapatkan di Lokasi

Penelitian

Stasiun Kedalaman Spesies Jumlah Ukuran

1 3 Pomacanthus xanthometopon 1 15 cm Centropyge Vrolikii 9 6 cm 6 5 cm 2 4 cm Centropyge Tibicen 2 6 cm 2 7 cm 7 Centropyge Bicolor 1 15 cm Pygoplites diacanthus 1 15 cm 1 12 cm 2 3 Centropyge Vrolikii 3 5 cm 3 4 cm Centropyge Tibicen 2 6 cm 1 7 cm 7 Centropyge bicolor 2 12 cm Pygoplites diacanthus 2 12 cm 3 3 Centropyge Vrolikii 10 6 cm 7 5 cm 5 4 cm Centropyge Tibicen 8 7 cm 4 6 cm 7 Centropyge Tibicen 1 5 cm 1 6 cm Pygoplites diacanthus 2 12 cm 3 15 cm Pomacanthus Navarchus 3 13 cm 1 11 cm Pomacanthus Sexstriatus 1 18 cm Pomacanthus Imperator 1 17 cm 4 3 7 Pomacanthus xanthometopon 3 15 cm Pygoplites diacanthus 1 17cm 1 15 cm 1 18 cm

(46)

46 Lampiran 1. (Lanjutan)

Distribusi Ikan Pomacanrhidae

Scoring Kelimpahan Ikan Pomacanthidae (McMellor, 2007)

Stasiun Kisaran Score Ket. Kedalaman 1. Wisata 3-7 M 5 Sangat Baik 8-12 M 1 Buruk 2. Eksploitasi 3-7 M 3 Baik 8-12 M 1 Buruk 3. Konservasi 3-7 M 5 Baik 8-12 M 5 Baik 4. Transportasi 3-7 M 0 Sangat Buruk 8-12 M 3 Baik Marga Spesies

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4

Jumlah (spesies) 3-7 8-12 3-7 8-12 3-7 8-12 3-7 8-12 Centropyge Centropyge Vrolikii 17 6 22 45 Centropyge Tibicen 4 3 12 2 21 Centropyge Bicolor 1 2 3 Pomacanthus Pomacanthus Navarchus 1 4 3 8 Pomacanthus Sexstriatus 1 1 Pomacanthus Imperator 1 1 Pygoplites Pygoplites Diacanthus 2 2 5 3 12 3 Marga 7 Spesies 22 3 9 4 34 13 0 6 91

(47)

47 Lampiran 2. Hasil Pengambilan Data Terumbu Karang Tiap Transek di

Pulau Karampuang STASIUN 1.

 Kisaran Kedalaman 3-7 Meter Transek 1

No Kategori Frekuensi Kemunculan Panjang Individu % Penutupan

1 ACB 5 518 10.36 2 ACT 2 260 5.20 3 ACE 0 0 0.00 4 ACS 0 0 0.00 5 ACD 1 63 1.26 6 CB 5 368 7.36 7 CM 7 142 2.84 8 CE 0 0 0.00 9 CS 2 16 0.32 10 CF 17 941 18.82 11 CMR 9 263 5.26 12 CME 1 11 0.22 13 CHL 0 0 0.00 14 DC 5 232 4.64 15 DCA 10 344 6.88 16 MA 4 48 0.96 17 TA 0 0 0.00 18 CA 0 0 0.00 19 HA 0 0 0.00 20 AA 0 0 0.00 21 SC 3 195 3.90 22 SP 1 7 0.14 23 ZO 0 0 0.00 24 OT 4 22 0.44 25 S 2 56 1.12 26 R 28 1514 30.28 27 SI 0 0 0.00 28 WA 0 0 0.00 29 RCK 0 0 0.00 Total 5000 100.00

Persentase Tutupan Komponen Dasar Terumbu Karang

1 Persentase tutupan Live Coral adalah 51.64 % 2 Persentase tutupan Dead Coral adalah 11.52 % 3 Persentase tutupan Algae adalah 0.96 % 4 Persentase tutupan Other adalah 4.48 % 5 Persentase tutupan Abiotik adalah 31.4 %

(48)

48 Lampiran 2. (Lanjutan)

Transek 2

No Kategori Frek. Kemunculan Panjang Individu % Penutupan

1 ACB 12 1113 22.26 2 ACT 1 15 0.30 3 ACE 0 0 0.00 4 ACS 0 0 0.00 5 ACD 1 24 0.48 6 CB 13 790 15.80 7 CM 16 295 5.90 8 CE 3 33 0.66 9 CS 9 179 3.58 10 CF 2 71 1.42 11 CMR 7 78 1.56 12 CME 2 39 0.78 13 CHL 0 0 0.00 14 DC 6 178 3.56 15 DCA 18 460 9.20 16 MA 4 48 0.96 17 TA 0 0 0.00 18 CA 0 0 0.00 19 HA 0 0 0.00 20 AA 0 0 0.00 21 SC 2 111 2.22 22 SP 6 154 3.08 23 ZO 0 0 0.00 24 OT 9 78 1.56 25 S 4 142 2.84 26 R 24 1192 23.84 27 SI 0 0 0.00 28 WA 0 0 0.00 29 RCK 0 0 0.00 Total 5000 100.00

Persentase Tutupan Komponen Dasar Terumbu Karang

1 Persentase tutupan Live Coral adalah 52.74 % 2 Persentase tutupan Dead Coral adalah 12.76 % 3 Persentase tutupan Algae adalah 0.96 % 4 Persentase tutupan Other adalah 6.86 % 5 Persentase tutupan Abiotik adalah 26.68 %

(49)

49 Lampiran 2. (Lanjutan)

Transek 3

No Kategori Frek. Kemunculan Panjang Individu % Penutupan

1 ACB 9 1431 28.62 2 ACT 2 260 5.20 3 ACE 0 0 0.00 4 ACS 0 0 0.00 5 ACD 1 63 1.26 6 CB 3 280 5.60 7 CM 14 183 3.66 8 CE 7 88 1.76 9 CS 15 175 3.50 10 CF 2 165 3.30 11 CMR 8 218 4.36 12 CME 0 0 0.00 13 CHL 0 0 0.00 14 DC 6 213 4.26 15 DCA 16 264 5.28 16 MA 2 22 0.44 17 TA 0 0 0.00 18 CA 0 0 0.00 19 HA 0 0 0.00 20 AA 0 0 0.00 21 SC 2 176 3.52 22 SP 2 34 0.68 23 ZO 0 0 0.00 24 OT 7 72 1.44 25 S 3 86 1.72 26 R 17 1270 25.40 27 SI 0 0 0.00 28 WA 0 0 0.00 29 RCK 0 0 0.00 Total 5000 100.00

Persentase Tutupan Komponen Dasar Terumbu Karang

1 Persentase tutupan Live Coral adalah 57.26 % 2 Persentase tutupan Dead Coral adalah 9.54 % 3 Persentase tutupan Algae adalah 0.44 % 4 Persentase tutupan Other adalah 5.64 % 5 Persentase tutupan Abiotik adalah 27.12 %

Gambar

Gambar  1.  Ikan  Suku  Pomachantidae  (juvenil  &amp;  dewasa).  (Kuiter  dan  Helmut,  2006)
Gambar 2. Zonasi terumbu karang (http://terangi.or.id/)
Gambar 3. Peta lokasi penelitian
Gambar 4. Metode Sensus Visual Ikan Karang
+7

Referensi

Dokumen terkait

Proses metafora kembang api pada objek rancang Galeri Seni Instalasi Indonesia adalah memindahkan beberapa sifat kembang api, yaitu ledakan yang meyebar dan

Kalau ia melihat dunia, ia tidak melihat dunia, ia tidak akan akan merasa senang di dalamnya sampai ia dapat melahirkan pertemuan kembali dengan Tuhan merasa senang di

Berdasarkan contoh kesalahan konsep yang ditemukan pada buku ajar SMA dapat dikelompokkan kesalahan konsep genetika terjadi akibat enam sebab yakni penyajian

memiliki nilai 81,6% dengan kategori sangat valid. Modul ini dinyatakan valid oleh validator karena memiliki penggunaan tulisan, gambar dan peta pikiran, warna dan

Sepanjang Januari-Oktober tahun ini volume penjualan semen SMGR mencapai 15,96 juta ton atau naik 10,8% dari periode yang sama 2010 sebanyak 14,40 juta ton.. Penurunan

BBRI  3000‐3200.  Saham‐saham  perbankan  unggulan  kemarin  didominasi  tekanan  jual  terutama  oleh  pemodal  asing.  Hal  ini  juga  dialami  saham  Bank 

STIA BANDUNG.. cara pandang pemerintah terhadap PKL jika pemerintah melihat PKL sebagai potensi sosial ekonomi yang bisa dikembangkan, maka kebijakan yang dipilih biasanya