Pendahuluan
IPM Kota Parepare Tahun 2015 3
BAB I PENDAHULUAN
INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
KOTA PAREPARE
2015
I S S N : 2460-2442 No. Publikasi : 73720.1506 Katalog BPS : 4102002.7372 Ukuran Buku : 21 cm x 15 cm Jumlah Halaman : 104 HalamanNaskah : Badan Pusat Statistik Kota Parepare Penyunting : Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Gambar Kulit : Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Diterbitkan Oleh : Badan Pusat Statistik Kota Parepare Dicetak Oleh :
Catatan:
Boleh dikutip dengan menyebutkan sumbernya.
iii
PENGANTAR KEPALA BPS KOTA PAREPARE
Publikasi “INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KOTA PAREPARE 2015” ini merupakan publikasi statistik tahunan yang diterbitkan BPS Kota Parepare. IPM Tahun 2015 ini menggunakan metode baru dalam penghitungannya sehingga dengan adanya perubahan ini dapat lebih memperoleh gambaran menyeluruh mengenai tingkat kesejahteraan rakyat dan indikator yang berfungsi sebagai ukuran pencapaian keberhasilan pembangunan daerah. Berhasilnya penerbitan publikasi ini karena dukungan serta kerja sama yang baik dari semua pihak yang turut membantu.
Menyadari hal tersebut, maka melalui kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh pimpinan Dinas/Badan/Instansi terkait serta lembaga pemerintah dan swasta atas bantuan dan peran sertanya dalam penerbitan publikasi ini. Diharapkan, kerja sama yang baik ini dapat lebih ditingkatkan pada masa yang akan datang guna memenuhi keperluan data yang makin esensial bagi pembangunan dalam rangka penerapan otonomisasi yang luas, nyata, dan bertanggung jawab.
Akhir kata, untuk perbaikan di masa yang akan datang, saran dan kritik dari berbagai pihak sangat diharapkan. Semoga buku ini dapat digunakan oleh seluruh kalangan dan bemanfaat adanya.
Parepare, Oktober 2015
KEPALA BPS KOTA PAREPARE,
Ir. ARI PRIHANDINI, M.Si
NIP: 19680222 199401 2 001
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN KATALOG PUBLIKASI ... ii
PENGANTAR KEPALA BPS KOTA PAREPARE ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR TABEL LAMPIRAN ……….... viii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 3 1.2 Tujuan Penulisan ... 4 1.3 Sumber Data ... 5 1.4 Sistematika Penulisan ... 6 BAB II METODOLOGI ……….. 11
BAB III TINJAUAN UMUM 3.1 Geografis ... 25
3.2 Kependudukan ... 25
3.3 Ekonomi ... 27
3.4 Potensi dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam ... 30
BAB IV POSISI PEMBANGUNAN MANUSIA 4.1 Komponen IPM ... 35
4.2 IPM Kota Parepare ... 40
pareparekota.bps.go.id
v
BAB V KESEHATAN
5.1 Angka Harapan Hidup ... 49
5.2 Pemerataan Pelayanan Kesehatan ... 50
5.3 Status Kesehatan Masyarakat ... 53
5.4 Peningkatan Peran Serta Masyarakat ... 58
BAB VI PENDIDIKAN 6.1 Sarana dan Prasarana Pendidikan ... 63
6.2 Angka Harapan Lama Sekolah ... 66
6.3 Rata-Rata Lama Sekolah ... 67
6.4 Angka Partisipasi Sekolah ... 68
BAB VII KETENAGAKERJAAN 7.1 Angkatan Kerja ... 74
7.2 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja ... 75
7.3 Tingkat Pengangguran Terbuka ... 77
7.4 Penyerapan Tenaga Kerja ... 78
BAB VIII PERUMAHAN 8.1 Kondisi Fisik Tempat Tinggal ... 84
8.2 Fasilitas Tempat Tinggal ... 86
8.3 Fasilitas Penerangan ... 88
LAMPIRAN ... 93
pareparekota.bps.go.id
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Nilai Maksimum dan Minimum Komponen IPM yang Digunakan Dalam Penghitungan ... 13 Tabel 2. Produk Domestik Regional Bruto Kota Parepare, Tahun 2012 – 2014
... 28 Tabel 3. Perbandingan IPM Kabupaten/Kota di Ajattapareng, Tahun 2013 –
2014 ... 43 Tabel 4. Persentase Balita Menurut Penolong Persalinan di Kota Parepare,
Tahun 2014 (Persen) ... 50 Tabel 5. Statistik Pelayanan Kesehatan di Kota Parepare, Tahun 2013 – 2014
... 52 Tabel 6. Persentase Penduduk yang Mengalami Keluhan Menurut Jenis
Kelamin di Kota Parepare,Tahun 2014 (Persen) ... 54 Tabel 7. Persentase Penduduk yang Menderita Sakit Menurut Jenis Kelamin
dan Jumlah Hari Sakit di Kota Parepare,
Tahun 2014 (Persen) ... 57 Tabel 8. Angka Partisipasi Sekolah (APS) Menurut Usia Sekolah
(7 – 24 Tahun) di Kota Parepare, Tahun 2014 (Persen) ... 70 Tabel 9. Data Angkatan Kerja dan Penduduk Kota Parepare, Tahun 2012 –
2014 ... 75 Tabel 10. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas Menurut
Kegiatan Utama Selama Seminggu yang Lalu di Kota Parepare, Tahun 2013 – 2014 (Persen) ... 76 Tabel 11. Persentase Rumah Tangga Menurut Kualitas Rumah yang Ditempati
dan Luas Lantainya di Kota Parepare, Tahun 2013 – 2014 (Persen).... 86 Tabel 12. Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum,
Penggunaan Kakus, dan Jarak ke Penampungan Terakhir
di Kota Parepare, Tahun 2013 – 2014 (Persen) ... 87 Tabel 13. Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Penerangan
di Kota Parepare, Tahun 2013 – 2014 (Persen) ... 89
pareparekota.bps.go.id
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Grafik IPM Kota Parepare dan Provinsi Sulawesi Selatan, Tahun 2012 – 2014 ... 43 Gambar 2. Grafik Angka Harapan Hidup (AHH; e0) Kota Parepare, Tahun 2013
– 2014 (Tahun) ... 49 Gambar 3. Grafik Persentase Penduduk yang Menyatakan Mengalami
Keluhan Menurut Ada Tidaknya Gangguan Kesehatan dan Jenis Kelamin di Kota Parepare, Tahun 2014 (Persen) ... 56 Gambar 4. Grafik Angka Harapan Lama Sekolah (HLS) Kota Parepare, Tahun
2012 – 2014 (Persen) ... 66 Gambar 5. Grafik Rata-Rata Lama Sekolah Kota Parepare, Tahun 2012 – 2014
(Tahun) ... 68 Gambar 6. Grafik Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Parepare,
Tahun 2012 – 2014 (Persen) ... 77 Gambar 7. Persentase Penduduk Usia 15 tahun ke atas Yang Bekerja Menurut
Lapangan Usaha, Kota Parepare Tahun 2014 ... 78
viii
DAFTAR TABEL LAMPIRAN
Tabel 1. Beberapa Indikator Kependudukan Di Kota PArepare, Tahun 2013-2014 ... 93 Tabel 2. Beberapa Indikator Dasar Kependudukan dan Geografis di Kota
Parepare, Tahun 2012-2014 ... 94 Tabel 3. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Komponen IPM Kota
Parepare, Tahun 2012-2014 ... 96 Tabel 4. Beberapa Indikator Ketenagakerjaan di Kota Parepare, Tahun
2012-2014 ... 99 Tabel 5. Grafik Rata-Rata Lama Sekolah Kota Parepare, Tahun 2012 – 2014
(Tahun) ... 68 Tabel 6. Beberapa Indikator Perumahan di Kota Parepare , Tahun
2012-2014 (persen) ... 100 Tabel 7. PDRB ADH Berlaku dan ADH KOnstan 2010 Menurut Sektor
Ekonomi di Kota Parepare, Tahun 2012-2014 (Juta Rupiah) ... 101
BAB I
PENDAHULUAN
Pendahuluan
IPM Kota Parepare Tahun 2015 3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sebelum tahun 1970-an, pembangunan semata-mata dipandang sebagai fenomena ekonomi saja. (Todaro dan Smith). Pengalaman pada decade tersebut menunjukkan adanya tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetatpi gagal memperbaiki taraf hidup sebagian besar penduduknya. Pada tahun 1991 Bank Dunia menerbitkan laporannya yang menegaskan bahwa “tantangan
uatama pembangunan….adalah memperbaiki kualitas kehidupan”
(World Development Report). Pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur social, sikap-sikap masyarakat, dan institusi-institusi nasional. Konsep pembangunan muncul untuk memperbaiki kelemahan konsep pertumbuhan ekonomi karena selain memperhitungkan aspek pendapatan juga memperhitungkan aspek kesehatan dan pendidikan.
Manusia adalah kekayaan bangsa yang sesungguhnya. Pembangunan manusia menempatkan manusia sebagai tujuan akhir dari pembangunan, bukan hanya alat dari pembangunan. Tujuan utama pembangunan adalah menciptakan lingkungan yang
Pendahuluan
4 IPM Kota Parepare Tahun 2015
memungkinkan rakyat untuk menikmati umur panjang,sehat dan menjalankan kehidupan yang produktif (United Nation Development
Programme-UNDP). Pembangunan manusia didefinisikan sebagai
proses perluasan pilihan bagi penduduk (a process of enlarging
people’s choices).
1.2 TUJUAN PENULISAN
Publikasi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Parepare Tahun 2015 disusun dalam kerangka untuk menempatkan dimensi manusia sebagai titik sentral dalam pembangunan, dengan bercirikan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sehingga diharapkan daerah mempunyai indikator yang berfungsi sebagai ukuran pencapaian pembangunan, terutama yang terkait erat dengan upaya-upaya peningkatan kualitas hidup manusia.
IPM menjelaskan tentang bagaimana manusia mempunyai kesempatan untuk mengakses hasil dari suatu proses pembangunan, sebagai bagian dari haknya seperti dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya. IPM dibentuk oleh 3 (tiga) dimensi dasar yaitu Umur Panjang dan hidup sehat (a long and
healthy life), Pengetahuan (knowledge), Satandar hidup layak (decent standart of living).
Pendahuluan
IPM Kota Parepare Tahun 2015 5
Adapun manfaat atau kegunaan data IPM adalah sebagai berikut:
- IPM merupakan indicator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk).
- IPM juga dijadikan salah satu indicator target pembangunan pemerintah
- IPM juga digunakan sebagai salah satu alokator dalam penentuan Dana Alokasi Umum (DAU).
- IPM dapat menentukan peringkat atau level pembangunan suatu wilayah/negara
1.3 SUMBER DATA
Sumber data yang digunakan untuk menghitung Indeks Pembangunan Manusia adalah data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), Sensus Penduduk (SP), dan Survei Penduduk Antar Sensus (Supas). Hasil Susenas merupakan data pokok dalam perhitungan indeks pembangunan manusia, sedangkan data selain itu digunakan sebagai data pendukung. Sejak tahun 1993, data Susenas menjadi alat untuk mengkaji dan memantau hasil pembangunan di bidang sosial dan kesejahteraan
Pendahuluan
6 IPM Kota Parepare Tahun 2015
masyarakat serta pembangunan manusia hingga tingkat kabupaten/ kota. Variabel-variabel yang terdapat dalam survei tersebut adalah kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, fertilitas dan keluarga berencana serta konsumsi/pengeluaran rumah tangga sebulan. Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung antara pengumpul data (pencacah) dengan responden. Pengumpul data diusahakan berasal dari lokasi survei dan dikoordinir oleh seorang Koordinator Statistik Kecamatan. Direkrutnya pencacah dari lokasi suvei diharapkan lebih mempermudah operasional lapangannya. Hasil pencacahan tersebut diperiksa oleh tim pemeriksa lapangan dan diedit oleh tim pengolahan untuk dientri. Data Susenas adalah hasil dari pelaksanaan survei, oleh sebab itu sebelum dipublikasikan harus dilakukan estimasi terhadap populasi.
1.4 SISTEMATIKA PENULISAN
Publikasi Indeks Pembangunan Manusia Kota Parepare 2015 disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
Bab I – Pendahuluan
Menguraikan latar belakang, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
Pendahuluan
IPM Kota Parepare Tahun 2015 7
Bab II – Metodologi
Membahas tentang metodologi, yang meliputi pengertian, konsep, metode yang digunakan, penjelasan IPM dan komponennya, cara penghitungan indeks masing-masing komponen, dan sumber data yang digunakan.
Bab III – Tinjauan Umum
Membahas gambaran Umum Kota Parepare berdasarkan letak geografis, kependudukan, ekonomi (PDRB) potensi pemanfaatan sumber daya alam dan tren alokasi APBD
Bab IV – Posisi Pembanguan Manusia
Membahas mengenai posisi pembangunan manusia yang meliputi Indeks Kesehatan, Indeks Pendidikan, Indeks Paritas Daya Beli, dan IPM.
Bab V – Kesehatan
Membahas masalah kesehatan yang meliputi Angka Kematian Bayi dan Angka Harapan Hidup, pelayanan kesehatan, status gizi, status kesehatan masyarakat, dan peningkatan peran serta masyarakat.
Bab VI – Pendidikan
Membahas mengenai pendidikan yang meliputi sarana dan prasarana pendidikan, tingkat pendidikan yang ditamatkan, serta partisipasi sekolah.
Pendahuluan
8 IPM Kota Parepare Tahun 2015
Bab VII – Ketenagakerjaan
Membahas mengenai ketenagakerjaan yang meliputi angkatan kerja, lapangan pekerjaan utama, sektor informal, dan angka pengangguran.
Bab VIII – Perumahan
Membahas mengenai perumahan yang meliputi kondisi fisik tempat tinggal dan fasilitas tempat tinggal.
Lampiran
BAB II
METODOLOGI
Bab 2 – Metodologi
-
Rumus IPM
-
Variabel IPM
Metodologi
IPM Kota Parepare Tahun 2015 11
BAB II METODOLOGI
Kebutuhan untuk melihat fenomena atau masalah sering menuntut adanya ukuran baku dengan menyusun indeks agregat yang memungkinkan diturunkannya satu angka yang merangkum berbagai dimensi masalah yang sedang menjadi topik bahasan.
Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui seberapa jauh pemberdayaan masyarakat yang telah dicapai adalah dengan menggunakan indikator komposit. Beberapa indikator komposit yang telah dikembangkan dan direkomendasi oleh United Nations Development Programme (UNDP) adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Indeks Pembangunan Jender (IPJ), Indeks Pemberdayaan Jender (IDJ), dan Indeks Kemiskinan Manusia (IKM). Dalam publikasi ini hanya IPM yang akan dibahas lebih lanjut.
IPM dapat dijadikan salah ukuran untuk melihat tingkat pencapaian pembangunan manusia secara keseluruhan. Meskipun demikian ukuran komposit ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran bagi para perencana pembangunan di daerah tentang kualitas pembangunan manusia yang telah dicapai selama ini. Langkah yang ditempuh untuk menghadapi perkembangan fenomena yang sifatnya kuantitatif, dimulai dengan memahami konsep dan definisi serta batasan baku masalah yang hendak diukur. Oleh sebab itu dalam publikasi ini disajikan konsep dan definisi dari beberapa indikator yang digunakan serta sumber data yang dibutuhkan.
IPM merupakan indeks komposit yang dihitung sebagai rata-rata aritmatik dari Indeks Kesehatan (Harapan Hidup e0), Indeks Pendidikan
Metodologi
12 IPM Kota Parepare Tahun 2015
Rata Lama Sekolah dan Harapan Lama Sekolah), dan Indeks Standar Hidup Layak (Indeks Paritas Daya Beli), yang dirumuskan sebagai berikut:
√
Dengan menggunakan rata-rata geometric dalam menyusun IPM dapat diartikan bahwa capaian satu dimensi tidak dapat ditutupi oleh capaian di dimensi lain. Artinya, untuk mewujudkan pembangunan manusia yang baik, ketiga dimensi harus memperoleh perhatian yang sama besar karena sama pentingnya.
Nilai indeks hasil hitungan masing-masing komponen tersebut adalah antara 0 (keadaan terburuk) dan 1 (keadaan terbaik). Dalam penulisan ini, indeks tersebut dinyatakan dalam angka ratusan (dikalikan 100) untuk mempermudahkan penafsiran, seperti yang disarankan oleh BPS dan UNDP tahun 1996.
Masing-masing indeks komponen IPM tersebut merupakan perbandingan antara selisih nilai suatu indikator dan nilai minimumnya dengan selisih nilai maksimum dan nilai minimum indikator yang bersangkutan. Rumusnya adalah sebagai berikut:
X(i) – X(i) min Indeks X(i) =
X(i) maks – X(i) min
Metodologi
IPM Kota Parepare Tahun 2015 13
Dimana,
X(i) = Indikator ke-i, dengan i = 1, 2, dan 3 X(i) maks = Nilai Maksimum X(i)
X(i) min = Nilai Minimum X(i)
Tabel 1. Nilai Maksimum dan Minimum Komponen IPM yang Digunakan dalam Penghitungan
Indikator Komponen IPM [=X(i)]
Nilai
Catatan Maksimum Minimum
Angka Harapan Hidup 85 20 Sesuai Standar Global (UNDP) Harapan Lama Sekolah
(HLS) 18 0
Sesuai Standar Global (UNDP) Rata-Rata Lama Sekolah
(RLS) 15 0 Sesuai Standar Global (UNDP) Konsumsi Perkapita yang Disesuaikan (Pendekatan Terhadap Daya Beli) 107.721 (PPP U$) 26.572.352 (Rp)* 100 (PPP
U$) Menggunakan PDB UNDP Perkapita Riil yang
Disesuaikan 1.007.436
(Rp)**
Ket :*) Daya beli maksimum merupakan nilai tertinggi kabupaten yang diproyeksikan hingga 2025 (akhir RPJPN) yaitu perkiraan pengeluaran perkapita Jakarta Selatan tahun 2025
**) Daya beli minimum merupakan garis kemiskinan terendah kabupaten tahun 2010 (data empiris) yaitu di Toliakra-Papua
Variabel dalam IPM :
a. Angka Harapan Hidup Saat Lahir (e0)
Metodologi
14 IPM Kota Parepare Tahun 2015
Penggunaan angka harapan hidup didasarkan atas pertimbangan bahwa angka ini merupakan resultante dari berbagai indikator kesehatan. AHH didefinisikan sebagai rata-rata perkiraan banyak tahun yang ditempuh oleh seseorang sejak lahir. AHH mencerminkan derajat kesehatan suatu masyarakat. AHH dihitung dari hasil Proyeksi SP2010.
Indeks Harapan Hidup, dihitung berdasarkan angka harapan hidup sejak seseorang dilahirkan dengan mempertimbangkan angka harapan hidup terendah dan tertinggi (UNDP). Secara matematik dapat ditulis sebagai berikut:
Ahh – 20 X1= --- X 100
85 - 20 Keterangan :
X1 : Indeks harapan hidup Ahh : angka harapan hidup 25 : nilai terendah 85 : nilai tertinggi
Angka Harapan Hidup dapat diperoleh melalui suatu paket program Mortpack (metode Trussel dengan model West), dengan meng-input data hasil Susenas yaitu rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup (ALH) dan rata-rata jumlah anak yang masih hidup (AMH) per wanita yang berumur 15-49
Metodologi
IPM Kota Parepare Tahun 2015 15
tahun. Rumus untuk memperoleh rata-rata anak yang dilahirkan hidup (children ever born), adalah sebagai berikut:
7 Σ alhi i=1 Ralh = --- 7 Σ wi i=1 Keterangan :
Ralh : rata-rata anak lahir hidup
alh : anak lahir hidup menurut kelompok umur ibu ke-i w : wanita menurut kelompok umur ke-i
I : kelompok umur 15-19; 20-24; 25-29;30-34; 35- 39;40-44; 45-49
Rumus untuk memperoleh rata-rata anak yang masih hidup (children surviving), adalah sebagai berikut:
7 Σ amshi i=1 Ramsh = --- 7 Σ wi i=1 Keterangan :
Ramsh : rata-rata anak yang masih hidup
pareparekota.bps.go.id
Metodologi
16 IPM Kota Parepare Tahun 2015
Amsh : anak yang masih hidup menurut kelompok umur ibu ke-i
w : wanita menurut kelompok umur ke-i
I : kelompok umur 15-19; 20-24; 25-29;30-34;35-39;40-44;45-49
Angka harapan hidup dianggap sebagai resultan dari berbagai indikator kesehatan. Angka harapan hidup merupakan cerminan dari ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan, sanitasi lingkungan, pengetahuan ibu tentang kesehatan, gaya hidup masyarakat, dan pemenuhan gizi ibu & bayi.
b. Rata-rata Lama Sekolah (RLS)
Rata-rata Lama Sekolah (RLS) didefinisikan sebagai jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal. Cakupan penduduk yang dihitung RLS adalah penduduk berusia 25 tahun ke atas. RLS dihitung untuk usia 25 tahun ke atas dengan asumsi pada umur 25 tahun proses pendidikan sudah berakhir dan dalam kondisi normal rata-rata lama sekolah suatu wilayah tidak akan turun. Perhitungan RLS pada usia 25 tahun ke atas juga mengikuti standard internasional yang digunakan oleh UNDP. Teknik Menghitung RLS :
- Seleksi Penduduk pada umur 15 tahun ke atas
pareparekota.bps.go.id
Metodologi
IPM Kota Parepare Tahun 2015 17
- Mengelompokkan jenjang pendidikan yang pernah/sedang diduduki
- Mengelompokkan ijazah/STTB tertinggi yang dimiliki
Metodologi
18 IPM Kota Parepare Tahun 2015
- Menghitung lamanya bersekolah sampai kelas terakhir. - Menghitung lamanya bersekolah
Sumber data rata-rata lama sekolah didapatkan dari Survei social ekonomi (Susenas KOR) yang dilakukan oleh BPS.
c. Harapan Lama Sekolah (HLS)
Angka Harapan Lama Sekolah didefinisikan lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada
Metodologi
IPM Kota Parepare Tahun 2015 19
umur tertentu di masa mendatang. Diasumsikan bahwa peluang anak tersebut akan tetap bersekolah pada umur-umur berikutnya sama dengan peluang penduduk yang bersekolah per jumlah penduduk untuk umur yang sama saat ini.
Angka Harapan Lama Sekolah dihitung untuk penduduk berusia 7 tahun ke atas. HLS dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan system pendidikan di berbagai jenjang yang ditunjukkan dalam bentuk lamanya pendidikan (dalam tahun) yang diharapkan dapat dicapai oleh setiap anak. HLS dihitung pada usia 7 tahun keatas karena mengikuti kebijakan pemerintah yaitu program wajib belajar. Untuk mengakomodir penduduk yang tidak tercakup dalam susenas, HLS dikoreksi dengan siswa yang bersekolah di Pesantren (sumber data pesantren yaitu Direktorat Pendidikan Islam).Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :
Keterangan :
: Harapan Lama Sekolah pada umur a di tahun t
t i
E
: Partisipasi sekolah penduduk usia I pada tahun t : Populasi penduduk usia I yang bersekolah pada tahun t i : Usia (a, a+1, ……, n)
t t t i a t i a i
E
EYS
P
t a EYS t iP
pareparekota.bps.go.id
Metodologi
20 IPM Kota Parepare Tahun 2015
Teknik menghitung HLS :
- Menghitung Jumlah Penduduk menurut umur (7 tahun ke atas)
- Menghitung jumlah penduduk yang masih sekolah menurut umur (7 tahun keatas)
- Menghitung rassio penduduk masih sekolah menurut umur - Menghitung harapan lama sekolah
d. Pengeluaran per Kapita yang disesuaikan
Pengeluaran per kapita yang disesuaikan ditentukan dari nilai pengeluaran per kapita dan paritas daya beli (Purchasing Power
Parity-PPP). Rata-rata pengelluaran per kapita setahun diperoleh
dari Susenas, dihitung dari level propinsi hingga level kab/kota. Rata-rata pengeluaran per kapita dibuat konstan/riil dengan tahun dasar 2012=100. Perhitungan paritas daya beli pada metode baru menggunakan 96 komoditas dimana 66 komoditas merupakan makanan dan sisanya merupan komoditas nonmakanan. Metode penghitungan paritas daya beli menggunakan Metode Rao.
• Daya beli yang disesuaikan Y = pengeluran per kapita PPP = paritas daya beli
Metodologi
IPM Kota Parepare Tahun 2015 21
𝑃 𝑖,𝑗 𝑃 𝑘,𝑗 𝑄 𝑖,𝑗 Keterangan : Teknik Penghitungan Pengeluaran per Kapita disesuaikan:
- Menghitung rata-rata pengeluaran per kapita dari susenas - Menghitung nilai riil dari rata-rata pengeluaran per kapita - Menghitung PPP
- Menghitung pengeluaran per kapita disesuaikan
= harga per unit komoditi j yang dikonsumsi di provinsi/ kabupaten i = harga per unit komoditi j di JakartaSelatan
= volume komoditi j (unit) yang dikonsumsi di provinsi/ kabupaten i
Metodologi
22 IPM Kota Parepare Tahun 2015
BAB III
TINJAUAN UMUM
Bab 3 – Tinjauan Umum
-
Geografis
-
Kependudukan
-
Ekonomi
-
Potensi dan Pemanfaatan Sumber Daya
Alam
Tinjauan Umum
IPM Kota Parepare Tahun 2015 25
BAB III TINJAUAN UMUM
3.1 GEOGRAFIS
Kota Parepare terletak di bagian tengah Provinsi Sulawesi Selatan dengan posisi antara 03o.57 39”„- 04o.04‟ 49” Lintang Selatan dan 119o.36‟ 24”-119o.43‟ 40” Bujur Timur. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Pinrang, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Barru, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sidrap dan sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar.
Luas wilayah Kota Parepare adalah sekitar 99,33 km2, yang terdiri dari 4 kecamatan dan 22 kelurahan. Sekitar 20 persen dari luas Kota Parepare merupakan daerah pantai dan 80 persen merupakan daerah yang berbukit- bukit, dengan ketinggian antara 0-500 meter di atas permukaan laut. Selama tahun 2013, Kota Parepare memiliki iklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata 182,75 mm.
3.2 KEPENDUDUKAN
Penduduk Kota Parepare pada tahun 2014 sekitar 136.903 jiwa yang terdiri dari 67.217 jiwa laki-laki dan 69.686 jiwa
Tinjauan Umum
26 IPM Kota Parepare Tahun 2015
perempuan. Sex rasionya adalah sekitar 96 yang berarti terdapat sekitar 96 orang laki-laki diantara 100 perempuan. Diduga salah satu penyebabnya adalah karena penduduk laki-laki di daerah ini lebih banyak keluar daerah untuk sekolah, bekerja dan mencari pekerjaan.
Berdasarkan Hasil Sensus Penduduk (SP) tahun 1980,1990, dan 2000, 2010 laju pertumbuhan penduduk Kota Parepare pada kurun waktu 1980-1990 adalah 1,62 persen per tahun, 1990-2000 turun menjadi 0,66 persen pertahun. Sementara pada tahun 2014 pertumbuhan penduduknya adalah sekitar 1,44 persen per tahun. Pertumbuhan penduduk yang tinggi tersebut, oleh banyak pihak dianggap sebagai suatu hal yang merisaukan apalagi bila tidak dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tapi tidak merata juga berpotensi menimbulkan kesenjangan sosial, terutama bila tidak diimbangi dengan pertambahan lapangan kerja. Dengan kata lain apabila pertumbuhan penduduk lebih tinggi dibanding dengan pertumbuhan ekonomi maka pertumbuhan penduduk akan menjadi masalah, terlebih bila terdapat kesenjangan pendapatan yang cukup tinggi. Pertumbuhan penduduk yang positif akan memperluas lahan hunian dan mengurangi lahan usaha bagi penduduk itu sendiri.
Tinjauan Umum
IPM Kota Parepare Tahun 2015 27
Tren data yang ada memperlihatkan bahwa kepadatan penduduk Kota Parepare semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013 kepadatan penduduk Kota Parepare adalah sekitar 1.361 orang/km2 naik menjadi 1.378 orang/km2 pada tahun 2014. Peningkatan kepadatan penduduk tentunya akan menambah beban pemerintah dalam penyediaan berbagai macam fasilitas, tetapi jika hal itu diikuti dengan peningkatan potensi penduduk terutama dari segi ekonomi, maka peningkatan kepadatan penduduk justru akan memberikan dampak yang positif. Pada tahun 2014 jumlah penduduk usia muda (0-14 tahun) di Kota Parepare adalah sekitar 39.829 orang, penduduk usia produktif (15-64 tahun) sekitar 90.814 orang, dan penduduk usia lanjut (65 tahun keatas) sekitar 6.260 orang. Angka beban tanggungan penduduk Kota Parepare pada tahun 2014 adalah sebesar 50,75 artinya setiap 100 penduduk usia produktif menanggung beban ekonomi sekitar 51 orang usia tidak produktif. Angka beban tanggungan ini menurun dibanding tahun 2013 yang berkisar 56 orang.
3.3 EKONOMI
Perkembangan maupun petumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama bagi kelangsungan
Tinjauan Umum
28 IPM Kota Parepare Tahun 2015
pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari besarnya nilai PDRB (atas dasar harga konstan) yang berhasil diperoleh pada tahun tertentu dibandingkan dengan nilai PDRB tahun sebelumnya. Penggunaan angka atas dasar harga konstan ini dimaksudkan untuk menghindari pengaruh perubahan harga. Perubahan yang diukur adalah perubahan produksi sehingga menggambarkan pertumbuhan riil ekonomi. Pertumbuhan ekonomi baik nasional maupun regional provinsi dan kabupaten/kota dihitung dengan menggunakan harga konstan 2010 sebagai tahun dasar.
Tabel di bawah ini menyajikan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Kota Parepare Tahun 2012-2014. Bila diperhatikan selama periode 2012-2014, terlihat bahwa perekonomian Kota Parepare mengalami perlambatan dalam pertumbuhannya.
Tabel 2. Produk Domestik Regional Bruto Kota Parepare, Tahun 2012 – 2014
Tahun
ADH Berlaku ADH Konstan 2000 PDRB (Juta Rupiah) Perkembangan Ekonomi (Persen) PDRB (Juta Rupiah) Pertumbuhan Ekonomi (Persen) 2012 3.501.130,2 13,89 3.150.257,4 8,80 2013* 3.938.494,7 12,49 3.401.319,8 7,97
pareparekota.bps.go.id
Tinjauan Umum
IPM Kota Parepare Tahun 2015 29
2014** 4.428.046,5 12,42 3.608.584,8 6,09
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Parepare Catatan : * Angka Sementara
** Angka Sangat Sementara
Struktur ekonomi Kota Parepare dalam kurun waktu tahun 2012-2014 tampaknya tidak mengalami pergeseran dan masih didominasi oleh sektor-sektor sekunder dan tersier dalam pembentukan angka PDRB. Pada tahun 2014 Sektor sekunder memberikan andil sebesar 18,77 persen, sedangkan sektor tersier memberikan andil sangat besar yaitu 73,86 persen. Sebagai Kota , andil tertinggi PDRB di Kota Parepare adalah dari Lapangan Usaha Konstruksi sebesar 16,73 persen Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 14,94 persen, dan Lapangan Usaha Jasa, terutama Administrasi Pemerintahan, pertahanan dan jaminan social sebesar 11,21 persen. Sektor lain yang juga memberikan andil cukup tinggi bagi struktur ekonomi Kota Parepare adalah Real Estate sebesar 9,16 persen. Sedangkan Kontribusi terkecil untuk total PDRB Kota Parepare adalah Lapangan usaha Pengadaan Listrik dan Gas, dikarenakan pengeluaran yang dihitung adalah pengeluaran riil rumah tangga setelah dikeluarkan unsur subsidi di dalamnya.
PDRB perkapita Kota Parepare dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. PDRB perkapita merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar
Tinjauan Umum
30 IPM Kota Parepare Tahun 2015
aktivitas ekonomi yang terjadi di suatu wilayah dan dalam kurun waktu tertentu. Selama tahun 2012– 2014 PDRB Perkapita Kota Parepare meningkat dari Rp. 26,51 juta menjadi Rp. 32,34 juta Walaupun demikian, angka tersebut relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan PDRB perkapita Provinsi Sulawesi Selatan yang sebesar Rp. 35,59 juta pada tahun 2014. Kenaikan pendapatan perkapita secara makro belum tentu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata, tergantung dari sektor pekerjaan masing-masing.
3.4. POTENSI DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM
Kota Parepare memiliki areal seluas 99,33 km², terbagi menjadi 4 Kecamatan dan 22 Kelurahan. Dari empat Kecamatan yang ada, hanya Kecamatan Bacukiki yang memiliki potensi di sektor pertanian tanaman pangan. Pada tahun 2014 produksi padi sawah di Kota Parepare adalah sekitar 5.282 ton, sedikit penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2013 yaitu sekitar 6.109 ton, dikarenakan tahun ini luas panen berkurang 16,21 persen dari tahun sebelumnya. Lahan sawah di Kota Parepare merupakan sawah tadah hujan yang tidak dapat berproduksi secara optimal dan luas areal persawahan tidak lebih dari 10 persen terhadap luas total Kota Parepare. Selain itu, topografi Kota Parepare 85 persen
Tinjauan Umum
IPM Kota Parepare Tahun 2015 31
merupakan daerah berbukit-bukit dan sisanya merupakan wilayah dataran yang umumnya digunakan sebagai pusat pemukiman maupun kegiatan ekonomi penduduk. Dengan demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa hasil produksi yang ada belum cukup memenuhi permintaan konsumsi penduduk Kota Parepare, sehingga harus dipenuhi dengan mendatangkannya dari daerah lain.
Di subsektor tanaman hortikultura, ada beberapa jenis komoditi tanaman sayuran yang cukup potensi di Kota Parepare yaitu petsai/sawi, kangkung, dan bayam. Tanaman tersebut terutama berada di Kecamatan Soreang. Selain sayuran, terdapat pula berbagai jenis tanaman buah-buahan yang dihasilkan seperti manga, pisang dan nangka. Berdasarkan penelitian agrocultumate, untuk jenis tanah yang ada di Kota Parepare memang cocok untuk ditanami pohon mangga dan nangka.
Ikan sebagai salah satu bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani merupakan komoditas yang cukup banyak di Kota Parepare. Pada tahun 2014 produksi perikanan laut di Kota Parepare mencapai 2.566,69 Ton. Di sub sektor peternakan, secara keseluruhan populasi ternak besar (sapi, kerbau, dan kuda) maupun ternak kecil pada tahun 2014. Ternak besar berupa sapi adalah 4.713 ekor, kerbau 25 ekor, kuda 22 ekor dan ternak kecil
Tinjauan Umum
32 IPM Kota Parepare Tahun 2015
yaitu kambing sebanyak 2.079 ekor, Ayam kampung sebanyak 306.500 ekor, ayam ras 239.700 ekor, dan itik 4.440 ekor.
BAB IV
POSISI
PEMBANGUNAN
MANUSIA
Bab 4 – Posisi Pembangunan Manusia
-
Komponen IPM
-
IPM Kota Parepare
Posisi Pembangunan Manusia
IPM Kota Parepare Tahun 2015 35
BAB IV
POSISI PEMBANGUNAN MANUSIA
4.1 KOMPONEN IPM
Pembangunan manusia merupakan model pembangunan yang menurut United Nations Development Programm (UNDP) ditujukan untuk memperluas pilihan-pilihan yang dapat ditumbuhkan melalui upaya pemberdayaan penduduk. Pemberdayaan penduduk ini dicapai melalui upaya yang menitikberatkan pada peningkatan kemampuan dasar manusia yaitu meningkatnya derajat kesehatan, pengetahuan, dan keterampilan agar dapat digunakan untuk mempertinggi partisipasi dalam kegiatan ekonomi produktif, sosial budaya, dan politik.
Model pembangunan manusia telah menempatkan manusia sebagai titik sentral pembangunan yang berarti bahwa pembangunan yang dilaksanakan adalah dari rakyat (of people), untuk rakyat (for
people), dan oleh rakyat (by people). Pembangunan dari rakyat
mengandung makna pemberdayaan yaitu peningkatan kapabilitas melalui pendidikan, pelatihan, pemeliharaan kesehatan yang lebih baik, perumahan layak huni dan perbaikan gizi. Pembangunan untuk rakyat berarti hasil pembangunan benar-benar diterima semua rakyat secara adil, buah pertumbuhan ekonomi harus terlihat pada
Posisi Pembangunan Manusia
36 IPM Kota Parepare Tahun 2015
kehidupan rakyat sehari-hari, tidak terjadi ketimpangan dalam masyarakat. Proses ini biasanya tidak secara otomatis tampak, akan tetapi memerlukan waktu serta manajemen kebijakan yang hati-hati. Pembangunan oleh rakyat berarti rakyat harus benar-benar ikut mengambil bagian dan berperan aktif dalam pembangunan, bukan sebagai penonton dan penerima hasil pembangunan. Dengan berperan aktif berarti ikut serta berkontribusi dalam pengambilan keputusan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kehidupannya.
Dua hal yang ditekankan pada konsep pembangunan manusia, yaitu peningkatan kapabilitas atau pemberdayaan, dan penciptaan peluang. Antara kapabilitas dan peluang harus imbang. Bila kapabilitas berhasil ditingkatkan melalui pembangunan SDM, namun tidak ada peluang atau sebaliknya bila peluang telah tercipta tapi tidak ditopang oleh kemampuan SDM maka akan menimbulkan pengaruh yang tidak baik.
IPM dapat digunakan sebagai ukuran kebijakan dan upaya yang dilakukan dalam kerangka pembangunan manusia khususnya upaya pemberdayaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan partisipasi dalam pembangunan. Namun indeks ini hanya akan memberikan gambaran perbandingan antar waktu dan perbandingan antar wilayah. Sebelum pembahasan mengenai perbandingan IPM antar waktu, perlu diuraikan terlebih dahulu
Posisi Pembangunan Manusia
IPM Kota Parepare Tahun 2015 37
mengenai keadaan dari masing-masing indikator (komponen) pembentuk IPM. Masing-masing komponen tersebut adalah indeks kesehatan, indeks pendidikan, dan indeks paritas daya beli.
Model pembangunan adalah suatu model pembangunan yang memiliki konsep yang lebih luas mengenai pilihan-pilihan manusia yang sangat tidak terbatas jumlahnya dan bahkan cenderung berubah setiap waktu. Namun sejumlah pilihan ini, ada 3 pilihan yang sangat esensial untuk dipenuhi yaitu, (1) pilihan untuk hidup sehat dan berumur panjang, (2) pilihan untuk memiliki ilmu pengetahuan, dan (3) pilihah untuk mempunyai akses ke berbagai sumber yang diperlukan agar dapat memenuhi standar kehidupan yang layak. Apabila ketiga pilihan mendasar ini dapat terpenuhi maka seseorang akan mudah meningkatkan kemampuannya dalam aktifitas sehari-hari serta memiliki kemampuan pula untuk meraih pilihan-pilihan lain yang juga tidak kalah pentingnya seperti pilihan untuk berpartisipasi dalam bidang politik, kebebasan mengeluarkan pendapat dan sebagainya.
Ketiga pilihan yang esensial tersebut di atas dapat tercermin dari komponen-komponen indeks pembangunan manusia sebagai berikut:
a. Indeks Kesehatan
Posisi Pembangunan Manusia
38 IPM Kota Parepare Tahun 2015
Indeks kesehatan ini diperoleh dari angka harapan hidup seseorang sejak dilahirkan. Angka harapan hidup ini sering digunakan sebagai proxy terhadap keadaan dan sistem pelayanan kesehatan suatu masyarakat. Hal itu dapat dipandang sebagai suatu bentuk akhir dari upaya peningkatan taraf kesehatan secara makro.
Indeks kesehatan yang diwakili oleh Angka Harapan Hidup (e0) diharapkan dapat mencerminkan pembangunan manusia
dibidang kesehatan. Pada tahun 2014 angka harapan hidup Kota Parepare tercatat sekitar 70,39 tahun. Hal ini dapat diartikan bahwa kondisi kesehatan masyarakat Kota Parepare semakin baik dalam kurun waktu 2014, jika dibandingkan dengan Angka Harapan Hidup Sulawesi Selatan yang hanya 69,60 tahun.
Indeks kesehatan Kota Parepare tahun 2014 yaitu 77,52 persen juga masih lebih tinggi dibandingkan dengan Sulawesi Selatan yang hanya sebesar 76,30 persen. Walaupun indeks kesehatan di daerah ini, relatif membaik atau sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata Sulawesi Selatan, tetapi perhatian di bidang ini harus terus ditingkatkan.
Untuk lebih lengkapnya lagi mengenai indeks kesehatan dan turunannya, dapat dilihat pada tabel yang ada di lampiran.
Posisi Pembangunan Manusia
IPM Kota Parepare Tahun 2015 39
b. Indeks Pendidikan
Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa indeks pendidikan terdiri dari dua unsur yaitu rata-rata Harapan Lama Sekolah (HLS) penduduk 7 tahun ke atas dan rata-rata lama sekolah (RLS) penduduk 25 tahun ke atas. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, komponen rata-rata Harapan Lama Sekolah pada tahun 2014 mengalami sedikit peningkatan dari 13,65 tahun menjadi 14,04 tahun. Begitu juga, rata-rata lama sekolah pada tahun 2014 meningkat menjadi 9,95 tahun dibandingkan tahun 2013 sebesar 9,89 tahun. Angka ini lebih tinggi daripada angka Sulawesi Selatan yang hanya sekitar 7,49 tahun.
Indeks Pendidikan Kota Parepare Tahun 2014 sebesar 72,17 persen, sedangkan Propinsi Sulawesi Selatan hanya sekitar 60,79 persen.
Untuk lebih lengkapnya lagi mengenai indeks pendidikan dan turunannya, dapat dilihat pada tabel yang ada di lampiran.
c. Indeks Paritas Daya Beli
Komponen PPP (Purchasing Power Parity) atau dikenal sebagai komponen kemampuan daya beli atau standar hidup layak,
Posisi Pembangunan Manusia
40 IPM Kota Parepare Tahun 2015
dalam laporan ini digunakan PDRB riil perkapita. Penggunaan PDRB riil perkapita ini karena data yang ideal (modul konsumsi susenas) belum sampai estimasi kabupaten/kota. Namun dengan asumsi bahwa PDRB Kota Parepare dapat dinikmati oleh sebagian besar penduduk, maka dianggap masih relevan dengan tingkat pendapatan sebagai indikator standar hidup layak. Daya beli penduduk Kota Parepare pada tahun 2014 sekitar 12.692 ribu rupiah. Sementara itu, rata-rata daya beli penduduk Sulawesi Selatan pada tahun 2014 hanya sekitar 9.723 ribu rupiah.
4.2 IPM KOTA PAREPARE
Manusia sebagai subjek dan sekaligus objek pembangunan harus mampu meningkatkan kualitas hidupnya, untuk itu peran pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan. Manusia adalah kekayaan bangsa yang sesungguhnya. Pembangunan sumber daya manusia secara fisik dan mental mengandung makna sebagai peningkatan kemampuan dasar penduduk. Kemampuan dasar penduduk tersebut diperlukan untuk memperbesar kesempatan berpartisipasi dalam proses pembangunan.
Posisi Pembangunan Manusia
IPM Kota Parepare Tahun 2015 41
IPM merupakan suatu jawaban untuk menilai tingkat kinerja pembangunan manusia secara keseluruhan dari tingkat pencapaian pembangunan manusia. Indikator ini juga secara mudah dapat memberikan posisi kinerja pembangunan (output pembangunan) yang dicapai oleh suatu daerah. Makin tinggi nilai IPM suatu daerah, maka makin tinggi pula tingkat kinerja pembangunan yang dicapai wilayah tersebut.
Indeks Pembangunan Manusia Kota Parepare pada tahun 2014 sekitar 75,66 persen . Posisi IPM Kota Parepare pada tahun 2014 berada pada peringkat ke 2 (dua) dari 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan, sedangkan posisi pertama adalah Kota Makassar (79,35 %) dan posisi terakhir Kabupaten Jeneponto (61,45). Pada tahun 2014 IPM Kota Parepare sedikit mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya, dan masih lebih tinggi dari rata-rata IPM kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan (68,49 %). Hal ini diduga karena adanya kesadaran masyarakat Parepare akan pentingnya kesehatan yang tercermin pada meningkatnya angka harapan hidup, kesadaran akan pentingnya pendidikan yang tercermin pada meningkatnya Harapan Lama Sekolah dan rata-rata lama sekolah, serta daya beli masyarakat yang semakin tinggi.
Capaian Nilai IPM diklasifikasikan menjadi beberapa kategori : - IPM ≥ 80 = Sangat Tinggi
Posisi Pembangunan Manusia
42 IPM Kota Parepare Tahun 2015
- 70 ≤ IPM < 80 = Tinggi - 60 ≤ IPM <70 = Sedang - IPM ≥ 60 = Rendah
Sesuai dengan kriteria tersebut, IPM Kota Parepare tergolong IPM tinggi, baik pada tahun 2013 maupun tahun 2014.
Perbandingan antar indikator (komponen IPM seperti yang diuraikan pada sub-bab sebelumnya) merupakan tinjauan parsial, artinya tingkat keberhasilan pembangunan baru diukur dari satu komponen saja. Akan tetapi dengan adanya indikator tunggal IPM merupakan suatu jawaban untuk menilai tingkat kinerja pembangunan manusia secara keseluruhan dari tingkat pencapaian pembangunan manusia. Indikator ini juga secara mudah dapat memberikan posisi kinerja pembangunan (output pembangunan) yang dicapai oleh suatu daerah. Makin tinggi nilai IPM suatu daerah, maka makin tinggi pula tingkat kinerja pembangunan yang dicapai wilayah tersebut.
Untuk lebih lengkapnya lagi mengenai indeks paritas daya beli dan turunannya, dapat dilihat pada tabel yang ada di lampiran.
Posisi Pembangunan Manusia
IPM Kota Parepare Tahun 2015 43
Gambar 1. Grafik IPM Kota Parepare dan Provinsi Sulawesi Selatan,Tahun 2012– 2014
Tabel 3. Perbandingan IPM Kabupaten/Kota di Ajattapareng,Tahun 2013 - 2014 Kabupaten/ Kota 2013* 2014** IPM Peringkat se-Prov. Sul-Sel IPM Peringkat se-Prov. Sul-Sel (1) (2) (3) (4) (5) Pinrang 68,14 6 68,92 6 Parepare 75,10 2 75,66 2 Sidrap 67,15 7 68,14 7 Enrekang 68,39 5 69,37 5 Barru 67,02 8 67,94 8 Sulawesi 67,92 68,49 67.26 67.92 68.49 74.67 75.10 75.66 60.00 65.00 70.00 75.00 80.00 2012 2013 2014
IPM Kota Parepare dan Sul-Sel Tahun 2011-2013
Sulawesi Selatan Kota Parepare
Posisi Pembangunan Manusia
44 IPM Kota Parepare Tahun 2015
Selatan
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Parepare
Catatan : * Angka Sementara
** Angka Sangat Sementara
BAB V
KESEHATAN
Bab 5 – Kesehatan
-
Angka Harapan Hidup
-
Pemerataan Pelayanan Kesehatan
-
Status Kesehatan Masyarakat
-
Peningkatan Peran Serta Masyarakat
Kesehatan
IPM Kota Parepare Tahun 2015 47
BAB V KESEHATAN
Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan dan status kesehatan penduduk, ketersediaan serta keterjangkauan fasilitas dan sarana kesehatan merupakan salah satu faktor yang penting. Ketersediaan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas dalam pelayanan kesehatan penduduk menjadi suatu keharusan. Pada umumnya di daerah perkotaan tersedia rumah sakit dan juga puskesmas, sedangkan di daerah pedesaan umumnya hanya terdapat puskesmas (termasuk puskesmas pembantu atau puskesmas keliling). Fasilitas kesehatan yang dimaksudkan dalam bab ini adalah banyaknya rumah sakit dan puskesmas termasuk puskesmas pembantu atau puskesmas keliling. Perbandingan ketersediaan fasilitas kesehatan dengan jumlah penduduk dirasakan masih belum optimal.
Hidup sehat merupakan kebutuhan dasar manusia, dan setiap insan mempunyai hak untuk menikmati derajat kesehatan yang tinggi bagi kehidupannya. Agar dapat dicapai derajat kesehatan yang tinggi, penduduk juga harus mendapatkan hak-haknya atas kecukupan dalam memperoleh makanan, air minum, pakaian, pemukiman, pelayanan kesehatan, pendidikan dan pelayanan sosial.
Kesehatan
48 IPM Kota Parepare Tahun 2015
Pemerintah mempunyai peranan penting dalam meningkatkan derajat kesehatan penduduk, karena kesehatan merupakan investasi untuk meningkatkan SDM. Disamping itu, setiap individu bertanggung jawab terhadap kesehatan dirinya, keluarganya dan lingkungannya. Kemajuan dalam pembangunan kesehatan akan mempunyai pengaruh terhadap pembangunan nasional dan sebaliknya pembangunan nasional akan mempunyai dampak penting terhadap derajat kesehatan penduduk. Pada hakekatnya derajat kesehatan penduduk sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor perilaku masyarakat, lingkungan hidup, pelayanan kesehatan dan faktor keturunan. Oleh sebab itu, pembangunan kesehatan yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat guna mewujudkan derajat kesehatan yang tinggi perlu dijalankan dengan mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat. Untuk mengetahui keberhasilan pembangunan dibidang kesehatan dapat dilihat dari derajat kesehatan & gizi penduduk, meningkatnya pelayanan kesehatan, serta bertambah baiknya lingkungan kesehatan masyarakat.
Kesehatan
IPM Kota Parepare Tahun 2015 49
5.1 ANGKA HARAPAN HIDUP
Salah satu indikator kesejahteraan rakyat di bidang kesehatan adalah Angka Harapan Hidup (AHH). Angka Harapan Hidup Kota Parepare mengalami peningkatan sangat kecil pada tahun 2013 AHH adalah 70,38 tahun dan AHH pada tahun 2014 adalah 70,39 tahun .
Gambar 2. Angka Harapan Hidup Kota Parepare Tahun 2013 – 2014
Jika dibandingkan dengan Angka Harapan Hidup Sulawesi Selatan tahun 2013 dan tahun 2014, tampak bahwa Angka Harapan Hidup Kota Parepare masih lebih tinggi. Pada tahun 2013 Angka Harapan Hidup Sulawesi Selatan adalah sekitar 69,50 tahun sedangkan tahun 2014 sekitar 69,60 tahun. Besar kecilnya Angka Harapan Hidup dipengaruhi oleh banyak variabel baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung, dapat seketika maupun dengan tenggang waktu (time lag) tertentu. Variabel yang
70.375 70.38 70.385 70.39 2013 2014 70.38 70.39
pareparekota.bps.go.id
Kesehatan
50 IPM Kota Parepare Tahun 2015
diperkirakan sangat berpengaruh terhadap AHH/e0. adalah balita yang ditolong kelahirannya oleh tenaga medis. Persalinan yang ditolong oleh tenaga medis di Kota Parepare pada tahun 2014 adalah sekitar 99,61 persen.
Tabel 4. Persentase Balita Menurut Penolong Persalinan di Kota Parepare, Tahun 2014 (Persen) Penolong Persalinan
Terakhir Pertama Terakhir
Dokter 29,78 26,26
Bidan 69,83 73,74
Tenaga Paramedis Lain - -
Dukun - -
Keluarga 0,39 -
Lainnya - -
Total 100,00 100,00
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Parepare
5.2 PEMERATAAN PELAYANAN KESEHATAN
Dalam rangka meningkatkan kesehatan masyarakat secara menyeluruh, pemerintah melaksanakan program kesehatan gratis.
Kesehatan
IPM Kota Parepare Tahun 2015 51
Sebagai penunjang utama adalah fasilitas dan tenaga kesehatan yang memadai.
Dalam rangka pemerataan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat, selain terdapat 3 rumah sakit besar, dan 1 rumah sakit khusus kusta. Kota Parepare juga dilengkapi dengan 6 buah Puskesmas dan 22 buah Puskesmas Pembantu (Pustu) yang tersebar di empat kecamatan. Di Kota Parepare terdapat Rumah Sakit Umum Tipe B, yang merupakan tempat rujukan rumah sakit dari beberapa kabupaten lain.
Dinas Kesehatan Kota Parepare tidak mendapat kesulitan untuk menjangkau semua penduduk dalam wilayah kerja masing-masing karena secara umum Kota Parepare mempunyai kondisi geografis yang tidak sulit. Walaupun masih ada masyarakat yang hidup di daerah pegunungan, mereka ditunjang dengan fasilitas layanan kesehatan yang disebut Puskesmas Pembantu (Pustu).
Jumlah tenaga medis dan paramedis di Kota Parepare cenderung berfluktuasi. Pada tahun 2014 jumlah dokter yang ada di Kota Parepare adalah sebanyak 96 orang dengan rincian dokter umum sebanyak 43 orang, dokter spesialis 32 orang, dokter gigi 21 orang , sedangkan tenaga bidan sebanyak 90 orang, paramedic keperawatan 422 orang, apoteker sebanyak 53 orang dan refraksionis sebanyak 5 orang.
Kesehatan
52 IPM Kota Parepare Tahun 2015
Tabel 5. Statistik Pelayanan Kesehatan di Kota Parepare, Tahun 2013 – 2014
Rincian 2013 2014
Fasilitas Kesehatan:
Rumah Sakit 3 3
Rumah Sakit Khusus 1 1
Puskesmas dengan RRI 6 6
Puskesmas Pembantu (Pustu) 19 22
Poskesdes - - Rumah Bersalin 2 3 Balai Pengobatan - 1 Laboratorium Klinik 1 1 Optikal 7 6 Apotik 33 39 Gudang Farmasi - 1
Toko Obat Berizin 11 11
Praktek Perorangan : Dokter Umum 17 17 Dokter Spesialis 7 7 Dokter Gigi 3 3 Bidan 25 25
pareparekota.bps.go.id
Kesehatan
IPM Kota Parepare Tahun 2015 53
Refraksionis 2 2 Fisioterapi 1 - Tenaga Kesehatan: Dokter Umum 54 43 Dokter Gigi 19 21 Dokter Ahli 18 32 Apoteker 44 53 Bidan 110 90
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Parepare
Pada tahun 2014 jumlah penduduk Kota Parepare adalah sebanyak 136.903, dengan jumlah dokter sebanyak 75 orang dokter umum dan ahli (tidak termasuk dokter gigi), maka diperoleh rasio 1:1.825, sehingga dapat dikatakan bahwa setiap dokter secara rata-rata melayani 1.825 orang.
Tenaga medis lain seperti bidan jumlahnya relatif berfluktuasi. Pada tahun 2013 jumlah bidan adalah sebanyak 110 orang, menurun menjadi 90 orang pada tahun 2014.
5.3 STATUS KESEHATAN MASYARAKAT
Dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia, sejak dini keadaan gizi perlu mendapat perhatian yang lebih serius.
Kesehatan
54 IPM Kota Parepare Tahun 2015
Status gizi balita dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain pemberian zat besi terhadap ibu-ibu hamil, pemberian kapsul yodium (untuk ibu hamil, ibu nifas & wanita usia subur), dan pemberian kapsul vitamin A kepada balita. Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota Parepare pada tahun 2009 masih ada balita yang berstatus gizi buruk, tetapi telah ditangani dengan baik sehingga pada awal tahun 2010 ,2011 sampai 2014 tidak ada lagi kasus gizi buruk.
Variabel lain yang berpengaruh terhadap AHH/e0 yaitu
persentase penduduk dengan keluhan kesehatan dan persentase penduduk yang sakit. Secara umum diharapkan bahwa semakin sedikit persentase penduduk dengan keluhan kesehatan dan persentase penduduk yang sakit maka akan semakin tinggi kemungkinan kelangsungan hidupnya.
Tabel 6. Persentase Penduduk yang Mengalami Keluhan Menurut Jenis Kelamin di Kota Parepare, Tahun 2013 – 2014 (Persen)
Rincian 2013 2014 Ya Tidak Ya Tidak Laki-Laki 19,59 80,41 29,02 70,98 Perempuan 18,79 81,21 29,63 70,37 Laki-Laki + Perempuan 19,18 80,82 29,33 70,67
pareparekota.bps.go.id
Kesehatan
IPM Kota Parepare Tahun 2015 55
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Parepare (Susenas)
Jika dilihat dari jenis kelamin tampak bahwa persentase laki-laki yang mengeluh sakit adalah sekitar 29,02 persen, sedangkan perempuan sekitar 29,63 persen dari total penduduk pada tahun 2014 sedangkan Pada tahun 2013 jumlah laki-laki yang mengeluh sakit sebanyak 19,59 persen, sedangkan perempuan sebanyak 18,79 persen.
Data Susenas menunjukkan bahwa persentase penduduk yang mengalami keluhan di Kota Parepare sekitar 19,18 persen pada tahun 2013, naik menjadi 29,33 persen pada tahun 2014. Penduduk yang mengeluh diduga akibat perubahan cuaca yang tidak menentu.
Pada tahun 2014, dari 29,33 persen penduduk Kota Parepare (laki-laki + perempuan) yang mengalami keluhan tersebut, maka dapat dirinci lebih dalam lagi apakah penduduk tersebut benar-benar ada gangguan kesehatan atau tidak. Persentase penduduk yang menyatakan mengalami keluhan menurut ada tidaknya gangguan kegiatan, jenis kelamin di Kota Parepare pada tahun 2014 dapat dilihat pada gambar grafik di bawah ini.
Kesehatan
56 IPM Kota Parepare Tahun 2015
Gambar 3. Grafik Persentase Penduduk yang Menyatakan Mengalami Keluhan Menurut Ada Tidaknya Gangguan Kegiatan,
Jenis Kelamin di Kota Parepare, Tahun 2014 (Persen)
Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa di Kota Parepare pada tahun 2014, dari 29,33 persen penduduk (laki-laki + perempuan) yang menyatakan ada keluhan, yang benar-benar terganggu kesehatannya adalah sekitar 40,32 persen, sedangkan sisanya 59,68 persen tidak ada gangguan kesehatan. Sementara itu, dari 29,02 persen penduduk laki-laki yang menyatakan ada keluhan, yang benar-benar terganggu kesehatannya adalah sekitar 41,22 persen, sedangkan sisanya sekitar 58,78 persen tidak ada gangguan
Ada Tidak 0 20 40 60 80
Laki-laki Perempuan Total 41.22
39.47 40.32 58.78 60.53 59.68
Ada Tidak
Kesehatan
IPM Kota Parepare Tahun 2015 57
kesehatan. Kemudian, dari 29,63 persen penduduk perempuan yang menyatakan ada keluhan, yang benar-benar terganggu kesehatannya adalah sekitar 39,47 persen, sedangkan sisanya 60,53 persen tidak ada gangguan kesehatan.
Dari 41,19 persen penduduk (laki-laki + perempuan) yang benar-benar terganggu kesehatannya, dapat dirinci lebih lanjut berdasarkan jumlah hari sakitnya tersebut, seperti yang ditampilkan pada tabel di bawah ini.
Tabel 7. Persentase Penduduk yang Menderita Sakit Menurut Jenis Kelamin dan Jumlah Hari Sakit di Kota Parepare,
Tahun 2014 (Persen)
Rincian Laki-Laki Perempuan L + P
< 4 71,01 65,83 68,40 4 – 7 18,25 23,03 20,66 8 – 14 5,05 1,74 3,38 15 – 21 0,47 - 0,24 22 – 30 5,23 9,40 7,53 Jumlah 100,00 100,00 100,00
Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Parepare (Susenas)
Pada tahun 2014, persentase penduduk terbesar jumlah hari sakitnya adalah kurang dari 4 hari yaitu sebanyak 68,40 persen,
Kesehatan
58 IPM Kota Parepare Tahun 2015
dimana penduduk laki-laki sebanyak 71,01 persen dan penduduk perempuan sebanyak 65,83 persen. Sedangkan persentase terkecil adalah penduduk yang jumlah hari sakitnya antara 15 – 21 hari yaitu sebesar 0,24 persen, dimana hanya penduduk laki-laki sebanyak 0,47 persen.
5.4 PENINGKATAN PERAN SERTA MASYARAKAT
Kesehatan merupakan kebutuhan setiap insan oleh sebab itu kesehatan mestinya tercermin dari kegiatan tersebut. Peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan diarahkan melalui 3 kegiatan, yaitu:
- Kepemimpinan, dengan melakukan suatu intervensi kepemimpinan yang berwawasan kesehatan untuk semua, - Pengorganisasian, yaitu melakukan intervensi dibidang
kesehatan pada setiap kelompok masyarakat sehingga muncul Usaha Kesehatan Bersama Masyarakat (UKBM), dan
- Pendanaan, yaitu dengan mengembangkan sumber dana yang ada untuk membiayai beberapa kegiatan di bidang kesehatan. Peningkatan peran serta masyarakat secara kasar dapat dilihat dengan melihat keberadaan jenis UKBM, misalnya Posyandu, Polindes, POD (Pos Obat Desa), BKB (Bina Keluarga Balita), dan lain
Kesehatan
IPM Kota Parepare Tahun 2015 59
sebagainya. Namun karena keterbatasan data pada publikasi ini, maka yang dapat disampaikan hanya keberadaan Posyandu saja yang ada di Kota Parepare.
Peningkatan peran serta masyarakat secara kasar dapat dilihat melalui keberadaan jenis UKBM misalnya Posyandu, Pos KB, dan BKM (Bina Keluarga Balita ) dan lain–lain. Namun karena keterbatasan data pada publikasi ini hanya dapat disampaikan keberadaan posyandu dan pos KB di Kota Parepare. Di Kota Parepare terjadi perubahan yang cukup signifikan terhadap kualitas peran serta masyarakat selama dua tahun terakhir ini. Disamping tenaga kesehatan, kader binaan posyandu memegang peranan yang sangat penting bagi kelangsungan posyandu. Biasanya kader ini direkrut dari penduduk sekitar tempat posyandu didirikan dan ditempatkan di rumah-rumah penduduk sehingga sangat akrab dengan penduduk sekitarnya. Adanya kader ini menunjukkan betapa pedulinya penduduk terhadap kesehatan dilingkungan tempat tinggalnya.
pareparekota.bps.go.id
Kesehatan
60 IPM Kota Parepare Tahun 2015
BAB VI
PENDIDIKAN
Bab 6 – Pendidikan
-
Sarana dan Prasarana Pendidikan
-
Angka Harapan Lama Sekolah
-
Rata-Rata Lama Sekolah
-
Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan
-
Angka Partisipasi Sekolah
Pendidikan
IPM Kota Parepare Tahun 2015 63
BAB VI PENDIDIKAN
6.1 SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN
Sumber daya manusia sangat penting peranannya dalam proses pembangunan. Untuk itu, pembangunan yang dilakukan bermuara pada pembangunan manusia. Salah satu komponen dalam pembangunan manusia adalah peningkatan di bidang pendidikan, karena merupakan suatu sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan manusia. Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah Sulawesi Selatan sangat konsisten dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Program Pembangunan Daerah (Propeda) Sulawesi Selatan tahun 2011 – 2016 yang menyebutkan strategi yang dilakukan di antaranya adalah perluasan dan pemerataan di dalam memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh masyarakat melalui peningkatan anggaran pendidikan secara berarti.
Sektor pendidikan merupakan salah satu sektor yang mendapat prioritas utama dalam pembangunan nasional. Hal ini disadari karena pendidikan dipandang sebagai unsur utama dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan
Pendidikan
64 IPM Kota Parepare Tahun 2015
pendidikan telah diupayakan pemerintah melalui berbagai program, di antaranya pengadaan sarana dan prasarana pendidikan, program wajib belajar, beasiswa, progam Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dan lain sebagainya.
Program pendidikan mempunyai andil yang sangat besar terhadap kemajuan bangsa, ekonomi, dan sosial. Sehingga keberhasilan pembangunan di bidang pendidikan merupakan salah satu parameter untuk mengetahui kesejahteraan masyarakat.
Ketersediaan fasilitas pendidikan dan tenaga pengajar merupakan dua hal yang memegang peranan penting terhadap maju mundurnya dunia pendidikan. Salah satu hal yang selama ini masih menjadi kendala adalah kelangkaan jumlah guru pada daerah-daerah terpencil. Isu yang masih sering terdengar adalah sebagian besar guru enggan ditempatkan pada daerah terpencil, sehingga mengakibatkan menumpuknya jumlah guru di daerah-daerah perkotaan.
Untuk melihat ketersediaan dan penyebaran guru pada suatu daerah dapat dilihat dengan membandingkan jumlah guru. Walaupun belum ada angka ideal sebagai patokan namun semakin kecil angka ini maka akan menggambarkan beban seorang guru yang semakin kecil pula.
Pendidikan
IPM Kota Parepare Tahun 2015 65
Untuk melihat ketersediaan guru dapat diketahui dengan membandingkan antara jumlah guru dan jumlah murid pada setiap jenjang pendidikan yang ada di masing-masing daerah. Semakin kecil angka ini maka akan semakin kecil pula beban seorang guru. Rasio murid guru SD di Kota Parepare selama kurun waktu 2012-2014 hampir sama. Pada tahun 2012 dan 2012-2014 rasio murid-guru SD sekitar 13, ini berarti pada tahun 2014 secara rata-rata ada sekitar 13 murid SD yang harus ditangani oleh seorang guru pada sekolah tempatnya mengajar.
Rasio murid–guru SLTP selama kurun waktu 2012-2014 juga hampir sama. Pada tahun 2014 terdapat 11 murid dari setiap guru. Begitupun itu, rasio murid guru SMU, pada tahun 2012-2014 relatif sama yaitu 1 guru menangani 8 orang siswa. Untuk melihat rata-rata banyaknya murid yang bersekolah dalam setiap jenjang pendidikan dapat diketahui dengan membandingkan jumlah murid terhadap sekolah. Salah satu kegunaannya adalah untuk melihat apakah sudah waktunya pemerintah atau pihak swasta membangun sekolah baru pada suatu tempat.
Rasio murid-sekolah SD di Kota Parepare pada tahun 2014 sekitar 188 murid per sekolah. Sedangkan Rasio murid sekolah SLTP pada tahun 2014 adalah dari 346 siswa per sekolah. Sementara itu,