ANALISIS PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
PARTICIPATORY
ACTION-LEARNING
PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADI DI SMP SATRIA
KENDARI
Oleh :
Karsadi
(Dosen Jurusan PPKn FKIP-UHO)
Abstrak. Masalah yang sangat mendasar yang dihadapi siswa dalam pembelajaran IPS di SMP Satria Kendari adalah sulitnya sisa memahami dan mengerti materi yang disajikan oleh guru. Hal ini antara ain dsebabkan oleh kurangnya guru menerapkan model pembelajaran yang bervariasi. Untuk mengatasi masalah pembelajaran tersebut salah satunya adalah guru dapat menerapkan model pembelajaran participatory action-learning, terutama untuk mata pelajaran IPS terpadu tersebut. Model pembelajaran participatory action-learning tersebut memiliki banyak kelebihan, salah atunya adalah keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dengan menekankan pada
learning to do (belajar sambil berbuat) dan learning to live together (belajar bekerjasama). Oleh karena itu, untuk memotivasi dan mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran IPS Terpadu pada siswa SMP Satria Kendari dapat dilakukan melalui guru menggunakan model pembelajaran
participatory action-learning. Dengan demikian hasil belajar dan pemahaman siswa untuk mempelajari dan mengikuti proses pembelajaran IPS Terpadu dapat meningkat dan siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran tersebut.
Kata Kunci : Model Pembelajaran, Participatory Action-Learning, IPS Terpadu
PENDAHULUAN
Pendidikan menurut Zamroni (2002 : 1) merupakan suatu proses pembudayaan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memahami hidup dan kehidupan sehingga kelak dapat hidup layak dan berguna tidak saja diri sendiri dan keluarganya tetapi juga bagi masyarakat dan bangsanya. Hidup dan kehidupan yang layak dapat dicapai oleh seseorang apabila yang bersangkutan memiliki kecerdasan otak, kehalusan hati, dan ketrampilan tangan. Oleh karenanya pendidikan untuk mempersiapkan hidup dan kehidupan senantiasa menekankan pada tiga aspek : otak, hati, dan tangan yang diwujudkan dalam pengembangan kecakapan hidup (life skill).
Bertolak dari konsep dan tujuan pendidikan demikian maka yang terpenting dalam proses pendidikan adalah mempersiapkan dan membekali peserta didik tidak hanya dalam bentuk kemampuan intelektual semata tetapi yang lebih mendasar adalah kemampuan yang terintegrasi baik menyangkut aspek kognitif, afektif maupun psikomotor. Terintegrasinya ketiga aspek tersebut
diharapkan peserta didik kelak menjadi seseorang yang tidak hanya cakap intelektualnya tetapi juga memiliki kepribadian yang luhur, keteladanan, dan nilai moral yang dianut masyarakat Indonesia.
Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut sebagaimana harapan masyarakat (das sollen) ternyata pada kenyataannya belum memberikan hasil (out put) yang maksimal. Secara
dalam proses pembelajaran tersebut mahasiswa/murid hanyalah menjadi objek.
Penggunaan metode ceramah pada pengajaran ilmu-ilmu sosial yang selama ini masih mendominasi proses pembelajaran seharusnya mulai ditinggalkan. Dosen/guru diharapkan mampu mengembangkan suatu bentuk inovasi pembelajaran baru yang melihat mahasiswa/murid sebagai patner (mitra) dalam proses belajar mengajar. Mahasiswa/siswa dalam proses pembelajaran harus diperlakukan sebagai subjek yang mempunyai peran dan tanggung jawab dalam proses pembelajaran.
Dengan berbagai kelemahan yang dimiliki oleh guru dalam menyampaikan pengajaran IPS menuntut terjadinya perubahan model atau metode pengajaran IPS. Ilmuwan sosial maupun ilmuwan yang concern terhadap perkembangan pendidikan IPS mulai memberikan beberapa alternatif metode pengajaran IPS yang lebih relevan dan sesuai dengan kebutuhan /siswa. Oleh karena itu, proses pembelajaran yang seharusnya dilaksanakan guru perlu menggunakan model pembelajaran yang bervariasi, termasuk penerapan model model pembelajaran participatory action-learning pada mata pelajaran IPS Terpadu di SMP Satria Kendari, tetapi berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran guru hanya menerapkan model pembelajaran yang monoton, yakni ceramah tanpa variasi untuk pembelajaran IPS Terpadu. Oleh karena itu seorang guru, termasuk guru mata pelajaran IPS Terpadu harus memiliki kemampuan pedagogik dalam proses pembelajaran di kelas agar siswa yung mengikuti proses pembelajaran tersebut tidak bosan dan jenuh, tetapi sebaliknya siswa menjadi aktif dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran tersebut.
Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kekurangan dan hambatan metode pengajaran untuk mata pelajaran IPS Terpadu di sekolah-sekolah selama ini, serta untuk mengembangkan model pembelajaran partisipatory action-learning,
khususnya untuk meta pelajaran IPS Terpadu dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Untuk memperbaiki dan mengganti metode pengajaran IPS yang kurang relevan dan mengandung banyak kelemahan, para ahli telah mengembangkan bentuk-bentuk metode
pengajaran baru, khususnya mata kuliah yang masuk dalam kelompok IPS. Zamroni (2002 : 11) salah satu ahli pendidikan telah menganjurkan perlu adanya perbaikan dan perubahan materi dan model pengajaran ilmu-ilmu sosial dengan mengedepankan prinsip adaptif dan partisipatory action-learning. Menurutnya, dalam implementasinya prinsip-prinsip itu sangat akomodatif karena memungkinkan memberikan kesempatan kepada siswa/mahasiswa untuk dapat mengkaji teori dan dikaitkan dengan apa yang ada dalam masyarakat, mengeksplor dan mendalami nilai-nilai individu dan masyarakat.
Dalam model atau metode pengajaran ilmu-ilmu sosial (IPS) yang mengedepankan prinsip adaptif dan partisipatory action-learning, para siswa/mahasiswa mulai dibiasakan untuk diajak mengembangkan prinsip antisipatory, partisipasi, dan mapping. Antisipatory mengandung arti bahwa siswa/mahasiswa dibiasakan untuk dapat membaca tanda-tanda masa depan dari apa yang dipelajari sekarang. Partisipasi mengandung arti bahwa siswa/mahasiswa diajak untuk tidak saja berfikir abstrak tetapi juga diajak untuk menguji dan menyaksikan apa yang ada dalam teori dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat. Mapping
mengandung arti bahwa siswa diajak untuk melakukan observasi masyarakat sekitar untuk menangkap gejala sebab akibat yang terjadi berulang-ulang secara konsisten.
Hampir sama dengan rekomendasi yang diberikan hasil penelitian dari Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta tersebut, maka untuk memperbaiki kondisi tersebut, diperlukan reorientasi pengajaran agar pengajaran ilmu-ilmu sosial dapat memberikan kontribusi yang maksimal dalam proses mempercepat pembangunan. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut materi dan organisasi pelaksanaan pengajaran ilmu-ilmu sosial perlu ditinjau ulang dan direvisi. Reorientasi pengajaran itu dapat dilakukan jika kelompok mata pelajaran ilmu-ilmu sosial harus memiliki tujuan yang sama. Untuk itu, menurutnya masing-masing mata pelajaran dalam kelompok ilmu pengetahuan sosial (IPS) perlu merumuskan tujuan bersama yang harus dicapai. Tujuan itu dirumuskan dalam suatu bentuk kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa setelah mengikuti pendidikan pada jenjang tertentu.
METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Satria Kendari, dengan pertimbangan bahwa pada sekolah tersebut diajarkan mata pelajaran IPS terpadu dan selama ini model pembelajaran yang diterapkan oleh guru mata pelajaran IPS terpadu masih menggunakan model pembelajaran yang bersifat teacher centered learning.
Jenis Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Dalam metode penelitian ini difokuskan pada koleksi data yang bersifat
participation observation (observasi partisipasi). Dalam koleksi data seperti itu, peneliti turut mengambil bagian dalam proses pembelajaran dalam kelas dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, beberapa guru mata pelajaran IPS terpadu, wali kelas, dan beberapa siswa. Untuk melengkapi data yang diperoleh dari informan tersebut dilakukan observasi lapangan sebagai bagian dari triangulasi data.
Teknik Pengumpulan Data
Peneliti melakukan observasi partisipasi. Diharapkan melalui participation observation
semua permasalahan yang berkaitan dengan proses pembelajaran pada mata IPS Terpadu dapat diketahui. Untuk mengoleksi data yang bersifat
participation observation tersebut, peneliti melakukan triangulasi data melalui in-depth inteview (wawancara mendalam) dengan menggunakan interview guide (pedoman wawancara). Teknik pengumpulan data tersebut diharapkan dapat menggali informasi secara mendalam sehingga semua informasi tersebut valid (akurat) dan tuntas.
Analisis Data
Analisis datanya adalah analisis kualitatif-deskriptif, yakni data yang dikumpulkan di lapangan dianalisis melalui narasi dan eksplanatif. Sebagai penelitian yang bersifat kualitatif, analisis data mulai dilakukan ketika pengumpulan data mulai dikumpulkan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Proses Pembelajaran Mata
Pelajaran IPS Terpadu Selama ini
Pelaksanaan proses pembelajaran IPS terpadu seperti sejarah, ekonomi dan gografi di SMP Satria Kendari sekarang ini kualitasnya masih sangat rendah, masalah rendahnya kualitas proses pembelaran maupun hasil pembelajaran IPS terpadu di SMP Satria Kendari disebabkan pembelajaran yang dilakukan oleh guru masih menggunakan metode konvensional dalam hal ini guru masih terfokus pada metode ceramah. Dengan penggunaan metode ceramah ini, menyebabkan kurangnya motivasi belajar siswa. Siswa tidak diberikan kebebasan untuk aktif dan pembelajaran tidak berjalan secara efektif serta kurang menyenangkan.
Permasalahan yang sering dikeluhkan guru di SMP Satria Kendari berkaitan dengan kurikulum satuan tingkat pendidikan (KTSP) adalah terbatasnya waktu dalam pembelajaran IPS terpadu yaitu hanya 2 jam pelajaran untuk keterpaduan sejarah, ekonomi, dan geografi. Namun kenyataannya menunjukkan bahwa dalam waktu yang tersedia ini, guru IPS terpadu SMP Satria Kendari, belum dapat menuntaskan Konsep IPS terpadu agar mudah dipahami oleh siswa.
Hasil pengamatan di SMP satria Kendari menunjukkan bahwa dalam belajar IPS terpadu, siswa kesulitan dalam memahami suatu pengertian yang abstrak. Bahkan hasil evaluasi IPS terpadu yang memuat konsep IPS terpadu memperlihatkan nilai IPS terpadu yang diperoleh siswa lebih rendah dari kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 60. Berdasarkan KKM tersebut, siswa hanya mencapai rata-rata nilai 59 pada tahun pelajaran 2007/2008, bahkan pada tahun pelajaran 2008/2009 dari KKM yang ditetapkan siswa hanya mencapai rata-rata nilai 58,52 hal ini menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep IPS terpadu.
peneliti menunjukkan bahwa sistematisasi materi masih disusun secara konvensional. Sistematisasi materi yang digunakan oleh guru tersebut masih menggunakan sistematisasi materi sebagaimana yang ada di dalam buku teks (teks book) secara utuh.
Dampak negatif lain sebagai akibat ketidakmampuan guru mata pelajaran tersebut mengorganisir jalannya perkuliahan tersebut adalah suasana kelas kaku dan kesiapan siswa untuk mengikuti pembelajaran tidak ada. Berdasarkan pengamatan di dalam kelas menunjukkan bahwa sebagian besar siswa kelihatan kebingungan ketika guru mata pelajaran tersebut menjelaskan materi dengan meminta siswa mencatat materi pelajaran yang dibacakan oleh guru tersebut. Bahkan sebagian besar dari siswa tampak jenuh dan kadang-kadang menggerakkan sebagian tubuhnya karena tidak termotivasi mengikuti jalannya pembelajaran atau penjelasan materi dari guru.
Kelemahan atau kekurangan lain yang sangat menonjol dan sering dilakukan oleh guru adalah tulisan di papan tulis yang tidak jelas dan tidak terbaca oleh siswa. Selain itu, penampilan guru sering dalam posisi membelakangi siswa sambil berbicara sehingga sebagian siswa kurang tertarik untuk memperhatikan dan mendengarkan penjelasan materi oleh guru mata pelajaran tersebut. Berdasarkan pengamatan peneliti menunjukkan bahwa ada beberapa orang siswa yang tidak mendengarkan penjelasan guru, tetapi sebaliknya mereka justeru berdiskusi dan bercerita sendiri. Akibatnya, suasana di dalam kelas tersebut berubah menjadi gaduh dan ribut.
B. Pelaksanaan Pembelajaran IPS Terpadu Dengan Participatory Action-Learning Untuk memperbaiki proses pembelajaran di dalam kelas yang kurang menimbulkan suasana kelas menjadi “hidup” dibuatlah alternatif pemecahan masalah dalam bentuk rencana tindakan 1 antara guru mata pelajaran dengan peneliti. Di dalam membuat perencanaan tindakan tersebut peneliti bersama-sama guru tersebut berdiskusi intensif untuk mencari format tindakan yang tepat untuk memperbaiki model pembelajaran di dalam kelas tersebut. Di dalam diskusi tersebut dibicarakan mulai dari persiapan untuk membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sebagai bentuk
persiapan materi, model pembelajaran yang digunakan, media pembelajaran, evaluasi, dan referensi yang digunakan oleh guru.
Setelah semua persiapan rencana pembelajaran dianggap sudah cukup, maka langkah selanjutnya adalah melakukan tindakan sebagaimana rencana tindakan sebelumnya. Tindakan dimulai dari guru menjelaskan tujuan pembelajaran sebagaimana tujuan pembelajaran yang tercantum di dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Dalam memberikan penjelasan tujuan pembelajaran ini, guru memberikan rincian uraian tujuan pembelajaran, baik tujuan pembelajaran yang bersifat umum (TPU) maupun tujuan pembelajaran yang bersifat khusus (TPK).
Tindakan berikutnya adalah guru menjelaskan keterkaitan antara materi yang dibahas pada saat pertemuan sebelumnya dengan materi pelajaran sekarang ini. Hal ini dilakukan supaya siswa tidak mengalami kesulitan untuk memahami materi sekarang tanpa melupakan materi perkuliahan sebelumnya. Dalam melakukan review materi sebelumnya, manfaat yang diperoleh oleh seorang guru tersebut adalah dapat mengetahui seberapa besar kemampuan mahasiswa untuk dapat mengetahui materi yang akan dijelaskan oleh guru nanti. Review materi tersebut juga sangat bermanfaat bagi guru untuk memodifikasi model pembelajaran yang sesuai dengan kesiapan dan kemampuan siswa untuk mengikuti pembelajaran yang berlangsung.
Tindakan berikutnya adalah guru memberikan penjelasan materi melalui media pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya. Dalam hal ini guru menggunakan OHP (Overhead Projector) untuk menjelaskan materi-materi yang dibahas pada pembelajaran itu. Berdasarkan pengamatan peneliti menunjukkan bahwa dengan dijelaskannya materi melalui bantuan media OHP tersebut, sebagian besar siswa tampak bersemangat mendengarkan dan memperhatikan penjelasan dari guru. Mereka tidak perlu lagi mencatat dan menulis sebagaimana model pembelajaran konvensional, tetapi siswa sudah tidak risau/khawatir lagi mengenai materi pelajaran. Mereka merasa senang karena materi pembelajaran sudah dibagikan dalam bentuk
memfokuskan pikiran mereka kepada materi yang ada di layar OHP.
Secara lebih rinci penampilan guru dalam menerapkan model pembelajaran participatory
action-learning dilihat dari aspek kemampuan keterampilan menggunakan variasi gaya mengajar pada tindakan 1 dapat dilihat pada tabel pengamatan peneliti (observer) sebagai berikut.
Komponen Keterampilan Komentar Observer/Peneliti
1. Suara
Guru memberi variasi dalam nada suara, volume suara, kecepatan berbicara
2. Mimik dan gerak
guru mengadakan perubahan mimik dan gerak tangan (tangan dan badan) untuk memperjelas penyajiannya
3. Kontak pandang
Guru melayangkan pandangan dan melakukan kontak pandang dengan siswanya 4. Perubahan gerak posisi badan
Guru bergerak di dalam kelas untuk maksud yang berbeda-beda
5. Kemasan bahasa
Guru menguraikan materi dengan kemasan bahasa
6. Pemberian contoh
Guru menguraikan materi dengan memberikan contoh
7. Menarik kesimpulan
Guru mengakhiri penjelasan materi dengan manarik kesimpulan
1. Volume suara cukup jelas dan dapat di dengan oleh seluruh siswa, namun intonasinya masih datar
2. Terlalu banyak gerakan yang dilakukan guru sehingga mengganggu kosentrasi siswa
3. Kontak pandang hanya dilakukan ke satu arah, belum menyeluruh. guru belum mampu melayangkan pandangan ke semua siswa dalam rangka memusatkan perhatian dan pengendalian siswa
4. Gerakan guru masih kaku, masih satu arah dari mimbar (podium) menuju depan papan tulis dan posisi guru sering membelakangi siswa
5. Guru sudah mampu menjelaskan materi dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan bahasa Indonesia yang baik dan benar
6. Guru belum mampu memberikan contoh dari setiap topik esensial dengan contoh yang nyata (riil) yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. terkadang contoh yang diberikan masih jauh (kurang relevan) dengan topik esensial yang dijelaskan kepada siswa
7. Pada akhir pembelajaran, guru belum mampu menarik kesimpulan dari semua materi (topik) yang dibahas dan dijelaskan dalam pertemuan tatap muka
Sumber : Hasil catatan observasi oleh observer (peneliti) di dalam kelas
Dalam menjelaskan materi pelajaran melalui media OHP, guru memperhatikan cakupan dari topik-topik esensial dari materi pelajaran secara keseluruhan. Dengan demikian, setiap selesai memberikan penjelasan topik-topik esensial, guru selalu mengakhiri penjelasan topik tersebut dengan memberikan kesempatan bertanya siswa. Masalah-masalah apa yang dianggap siswa memerlukan penjelasan dan contoh yang seharusnya dijelaskan lebih detail dari guru. Berdasarkan pengamatan peneliti, suasana kelas menjadi “hidup” dengan ditandai oleh banyaknya pertanyaan yang dilontarkan kepada guru, baik yang bersifat menyamakan persepsi karena ada perbedaan pendapat antara guru dan siswa maupun
pertanyaan dari siswa untuk meminta penjelasan lebih lanjut dari guru. Dalam proses pembelajaran tersebut terjadi perdebatan-perdebatan argumentasi baik yang dikemukakan guru maupun siswa sehingga kelas menjadi sarana diskusi yang kritis.
Suasana kelas hidup tersebut sebagai akibat juga model pembelajaran yang dimodifikasi dengan model pemmbelajaran yang oleh para ahli disebut
sama dengan guru. Pandangan guru yang menganggap bahwa siswa memiliki bakat dan potensi inilah merupakan syarat utama untuk menerapkan model pembelajaran participatory action-learning. Berdasarkan pengamatan peneliti menunjukkan bahwa siswa merasa senang karena diberikan kebebasan mengemukakan pendapat dan bersikap kritis terhadap materi yang disampaikan oleh guru.
Berdasarkan pengamatan peneliti, komponen keterampilan mengadakan variasi gaya mengajar adalah berkaitan dengan kontak pandang dan perubahan gerak posisi badan. Guru yang
diobservasi tersebut sudah dapat melakukan kontak pandang ke semua arah (ke semua siswa) yang ada di dalam kelas. Kontak pandang sudah merata ditujukan ke seluruh siswa dan sesekali meribah posiis kontak pandang kepada siswa yang diberikan pertanyaan. Secara lebih rinci penampilan guru dalam menerapkan model pembelajaran participatory action-learning dilihat dari aspek kemampuan keterampilan menggunakan variasi gaya mengajar pada tindakan 2 dapat dilihat pada tabel pengamatan peneliti (observer) sebagai berikut.
Komponen Keterampilan Komentar Observer/Peneliti
1. Suara
Guru memberi variasi dalam nada suara, volume suara, kecepatan berbicara
2. Mimik dan gerak
Guru mengadakan perubahan mimik dan gerak tangan (tangan dan badan) untuk memperjelas penyajiannya
3. Kontak pandang
Guru melayangkan pandangan dan melakukan kontak pandang dengan mahasiswanya
4. Perubahan gerak posisi badan
Guru bergerak di dalam kelas untuk maksud yang berbeda-beda
5. Kemasan bahasa
Guru menguraikan materi dengan kemasan bahasa
6. Pemberian contoh
Guru menguraikan materi dengan memberikan contoh
7. Menarik kesimpulan
Guru mengakhiri penjelasan materi dengan manarik kesimpulan
1. Volume suara cukup jelas dan dapat di dengan oleh seluruh siswa, intonasi bahasanya sudah disesuaikan dengan kalimat dan materi.
2. Gerakan yang dilakukan guru sudah bagus, terutama dalam memperjelas sajian materi. Gerakan dan mimik guru sudah terkontrol dan rileks.
3. Guru melayangkan pandangan ke semua siswa dalam rangka memusatkan perhatian dan pengendalian siswa. Kontak pandang guru sudah terfokus dalam menjelaskan materi dan tidak lagi membelakangi siswa ketika guru menulis di papan tulis.
4. Gerakan guru sudah baik, perubahan posisi sudah terkontrol di tengah dan sekali-kali menuju ke arah samping kanan dan kiri serta ke arah siswa
5. Guru sudah mampu menjelaskan materi dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan bahasa Indonesia yang baik dan benar
6. Guru sudah mampu memberikan contoh dari setiap topik esensial dengan contoh yang nyata (riil) sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
7. Pada akhir perkuliahan, guru sudah dapat menarik kesimpulan dari semua materi (topik) yang dibahas dan dijelaskan dalam pertemuan tatap muka
Sumber : Hasil catatan observasi oleh observer (peneliti) di dalam kelas
Berdasarkan hasil catatan observasi tersebut menunjukkan bahwa guru dalam melakukan pembelajaran di kelas sudah dapat memperbaiki kelemahan). Dengan demikian, guru pada langkah berikutnya sudah dapat menerapkan
topik-topik yang dijelaskan oleh guru di dalam kelas. Selain itu, siswa mengatakan bahwa mereka mampu menarik kesimpulan sendiri.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada pembahasan pada bab IV di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Model pembelajaran yang bersifat konvensional yang selama ini diterapkan pada pembelajaran IPS terpadu di SMP Satria Kendari masih mengadung banyak kelemahan, sehingga para siswa mengalami kesulitan memahami materi dan membuat para siswa tidak tertarik untuk mengikuti proses pembelajaran, dan proses pembelajaran tersebut menjadi bosan dan jenuh.
2. Model pembelajaran participatory action-learning telah dapat menjadi alternatif untuk menggantikan model pembelajaran konvensional. Model pembelajaran
participatory action-learning ini memiliki banyak keunggulan dan kelebihan antara lain misalnya guru melihat siswa memiliki bakat dan potensi untuk berkembang dalam belajar. 3. Model pembelajaran participatory
action-learning dapat berhasil dengan baik ketika guru mampu memodifikasi model pembelajaran tersebut dengan kemampuan pembelajaran mengadakan variasi pembelajaran yang kreatif dan inovatif.
Saran-Saran
Merujuk pada kesimpulan tersebut di atas, maka akhirnya peneliti menyampaikan saran-saran sebagai berikut.
1. Diperlukan adanya perubahan model pembelajaran dari model pembelajaran yang bersifat konvensional menuju model pembelajaran yang partisipatif, yakni model pembelajaran participatory action-learning.
2. Bagi guru baru yang masih belum memiliki pengalaman mengajar yang memadai perlu mengikuti pembelajaran di dalam kelas yang dilakukan oleh guru senior (guru yang kreatif) dalam memodifikasi model-model pembelajaran inovatif.
DAFTAR PUSTAKA
Astuti, Pudji Dwi. 1998. Studi Tentang Macam-Macam Alat Bantu Mengajar Dalam Meningkatkan Kemampuan Siswa. Malang. Jurnal Penelitian Sosial Universitas Muhammadiyah Malang Edisi 5 TH. IV Juli 1998. Hal. 89-94.
Iswinarti et al. 1998. Analisis Permasalahan Mahasiswa Berindeks Prestasi Rendah di Universitas Muhammadiyah Malang. Malang. Jurnal Penelitian Sosial Universitas Muhammadiyah Malang Edisi 5 TH. IV Juli 1998. Hal. 124-134.
Machmuroch. 1991. Prestasi Belajar Ditinjau Dari Kesiapan Bersekolah, Stimulasi Belajar Ibu, dan Intelegensi Pada Anak Kelas 1 SD. Yogyakarta. Tesis Program Pascasarjana UGM.
Mubyarto. 2002. Ilmu Sosial dan Profesionalisme Guru di Indonesia. Yogyakarta. Makalah Seminar Nasional Reorientasi Peran Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial Menyongsong Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Purwanti, E. 1995. Perkembangan Mahasiswa dan Berbagai Permasalahannya. Malang. Makalah Pada Kegiatan Pelatihan Dosen Konselor dan Penasehat Akademis Universitas Muhammadiyah Malang.
Purwanto, M.N. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Ramdani, Neila dan Sri Mulyani Martinah.1995.
Pelatihan Keterampilan Sosial Pada Mahasiswa Yang Sulit Bergaul. Yogyakarta. Majalah Berkala Penelitian Pascasarjana UGM, Jilid 8, Nomor 2 A, Mei 1995.
Universitas Haluoleo. Nomor 13 Tahun VII, Edisi Oktober 1994. Hal.114-125.
Zamroni. 1992. Pengantar Pengembangan Teori Sosial. Yogyakarta. Tiara Wacana Yogya.