Studi Pola Penguasaan Lahan/Pemanfaatan Sumber Daya Alam Masyarakat di Dalam dan Sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat, Provinsi Bengkulu
Disusun oleh: Dedek Hendry
Pendahuluan
Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dengan luas 1.389.510 hektare yang membentang di Provinsi Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat merupakan taman nasional terluas kedua di Indonesia. Taman nasional ini ditetapkan sebagai Taman Nasional Warisan Asean pada 2003, dan bersama Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) ditetapkan sebagai Warisan Dunia pada 2004. Namun, akibat tingginya ancaman keutuhan kawasan taman nasional yang terus berlanjut, misi pengawasan warisan dunia IUCN-UNESCO merekomendasikan TNGL, TNBBS dan TNKS masuk dalam daftar bahaya, yang ditindaklanjuti oleh Komite Warisan Dunia dengan memasukkan TNGL, TNBBS dan TNKS dalam daftar Warisan Dunia Dalam Bahaya pada tahun 2011 (Purwanto, 2015).
Dibandingkan TNGL dan TNBBS, laju perambahan dan luas kawasan TNKS yang dirambah adalah tertinggi dan terbesar (Purwanto, 2015). Sepanjang 1990 – 2014, laju perambahan di TNKS adalah 2.737 hektar/tahun. Bila dibagi menjadi tiga periodisasi, maka laju perambahan TNKS sepanjang 1990 – 2000 adalah 846,93 hektar/tahun, sepanjang 2000 – 2010 menjadi 1.414,20 hektar/tahun, dan meningkat tajam menjadi 10.772,65 hektar/tahun sepanjang 2010 – 2014. Sedangkan untuk luas yang dirambah hingga tahun 2014 adalah 130.322,2 hektar atau 52,6 % dari total perambahan di TNGL, TNBBS dan TNKS (247.798 hektar).
Semak 21.178,26
Di Provinsi Bengkulu, sesuai dengan SK Menhut No 748/Menhut-II/2012, luas kawasan TNKS adalah 345.841,30 hektar atau 35,8 % dari luas total hutan Provinsi Bengkulu (924.6.31 hektar). TNKS di Provinsi Bengkulu membentang di wilayah Kabupaten Mukomuko (150.036 hektar), Kabupaten Bengkulu Utara (71.702,70 hektar), Kabupaten Rejang Lebong (25.815,60 hektar) dan Kabupaten Lebong (98.287,2 hektar). Khusus di Kabupaten Lebong, luas kawasan TNKS setara dengan 51 persen dari luas wilayah Lebong (192.924 hektar). Hingga tahun 2014, luas kawasan TNKS di wilayah Kabupaten Rejang Lebong (dan Kabupaten Lebong) yang dirambah adalah 26.528,65 hektar (Purwanto, 2015). Sementara itu, berdasarkan Peraturan Gubernur No 36 Tahun 2013 Tentang Rencana Kehutanan Tingkat Provinsi Bengkulu Tahun 2014 – 2033, diketahui tutupan TNKS di Kabupaten Lebong berupa hutan primer (68.729,5 hektar), hutan sekunder (9.885,3 hektar), semak belukar (1.180 hektar), non vegetasi (19,9 hektar) dan pertanian campuran (18.467,2 hektar).
Fungsi Hutan di Kabupaten Lebong
Fungsi Luas (hektar) Persentase dari luas wilayah
CA Danau Menghijau 141,1 0,07
Tutupan TNKS di Kabupaten Lebong
Tutupan Luas (hektar) Persentase dari luas total
Hutan Primer 68.729,5 70
Hutan Sekunder 9.885,3 10
Semak Belukar 1.180 1,2
Pertanian Campuran 18.467,2 18,78
Non Vegetasi 19,9 0,02
Sumber: Peraturan Gubernur No 36 Tahun 2013 Tentang Rencana Kehutanan Tingkat Provinsi Bengkulu Tahun 2014 – 2033
Kabupaten Lebong merupakan daerah otonomi baru yang dimekarkan dari Kabupaten Rejang Lebong berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2003 Tentang Pembentukan Kabupaten Lebong dan Kabupaten Kepahiang. Dari total luas wilayah, diketahui wilayah Lebong yang terletak pada ketinggian 100 – 500 m diatas permukaan laut (dpl) adalah 21.205 hektar, ketinggian 500 – 1.000 m seluas 80.384 hektar dan pada ketinggian lebih dari 1.000 m seluas 91.335 hektar, serta dengan kemiringan lebih dari 40 derajat seluas 110.775 atau 57,41 persen dari luas wilayahnya (Lebong Dalam Angka 2009). Penduduk Kabupaten Lebong berjumlah 105.421 jiwa (Provinsi Bengkulu Dalam Angka 2014) dengan mayoritas bersuku Rejang dan bermatapencarian sebagai petani kebun, dan tercatat 17,03 persen penduduknya tergolong penduduk miskin (BPS, ).
42 Talang Donok 43 Topos
44 Suka Negeri 45 Bandar Agung 46 Tik Kuto 47 Air Dingin 48 Talang Baru Sumber: Anonim a
Tujuan Penelitian
Penelitian dilakukan untuk
- Mendokumentasikan pola penguasaan dan pengelolaan hutan berbasis Masyarakat Hukum Adat Rejang
- Mendokumentasikan konflik Masyarakat Hukum Adat Rejang dan TNKS
- Menyajikan rekomendasi penyelesaikan konflik yang menghormati, mengakui dan memenuhi hak-hak Masyarakat Hukum Adat Rejang
Metodologi
Pola Penguasaan Lahan dan Pengelolaan SDA Masyarakat di TNKS
Sejarah Masyarakat Hukum Adat Rejang
Kesatuan Masyarakat Hukum Adat Rejang mengalami lima tahapan perkembangan dari bersifat genealogis hingga teritorial, yakni meramu (genealogis), petulai (genealogis), kutei (genealogis), kuteui (teritorial), dan marga (teritorial). Pada masa meramu, masyarakat Rejang hidup mengembara dalam kelompok yang kecil. Mereka menggantungkan kehidupan dari hasil hutan dan sungai. Setelah mengenal teknik bercocok tanam, mereka mulai menetap dan membangun perkampungan yang didiami beberapa keluarga untuk mencukupi keperluan bersama atau disebut Petulai. Kesatuan kekeluargaan yang timbul dari sistem unilateral, dengan sistem garis keturunan yang patrilineal, dan cara perkawinan yang eksogami (Siddik, 1980) itu dipimpin oleh seseorang yang disebut Ajai.
Pada masa ini, masyarakat Rejang terbagi empat Petulai dengan pemimpinnya adalah Ajai Bintang, Ajai Begelan Mato, Ajai Siang dan Ajai Tiea Keteko. Pada masa Ajai ini datanglah empat orang utusan negara bagian Majapahit bernama Biku Sepanjang Jiwo, Biku Bembo, Biku Bejenggo dan Biku Bermano. Kedatangan mereka diterima baik, bahkan mereka diangkat menjadi pemimpin. Di bawah pimpinan empat biku ini, masyarakat Rejang mulai mempunyai hukum yang mengatur kehidupan masyarakat dan lingkungan. Sehingga, terbentuklah satu masyarakat hukum adat dengan jumlah penduduk tidak lebih 100 orang, dan terdiri dari 10 atau 15 rumah tangga yang disebut Kuteui. Kesatuan masyarakat hukum adat yang bersifat genealogis dengan petulainya berciri patrilineal eksogami (Siddik, 1980) ini pemimpin oleh Tuai Kuteui.
Keresidenan Palembang, J Walland (1861 – 1865) yang dipindahkan ke Bengkulu, dengan mengadopsi peninggalan pemerintahan Sultan Palembang. Marga dibentuk dari beberapa Kuteui yang disatukan di bawah pimpinan yang disebut Pasirah. Kepala kutuei disebut proatin atau depati atau ginde. Ginde yang berdiam di kutei tempat pasirah berdomisili disebut pembarap. Selain pasirah dan jajarannya, pada kelembagaan marga juga terdapat Dewan Marga yang berperan membuat keputusan bersama dengan pasirah, dan mengawasi pemerintahan pasirah dan warga marga.
Hingga tahun 1961, Siddik (1980) mencatat, Masyarakat Hukum Adat Rejang mendiami 28 marga di wilayah Provinsi Bengkulu dan 15 marga di Sumatera Selatan. Sebanyak 28 marga di wilayah Provinsi Bengkulu itu meliputi Marga Suku IX, Marga Suku VIII, Marga Bermani-Jurukalang, Marga Selupu Lebong, Marga Bermani Ulu, Marga Selupu Rejang, Marga Merigi, Marga Bermani Ilir, Marga Sindang Beliti, Marga Suku Tengah Kepungut, Marga Selupu Baru, Marga Selupu Lama, Marga Merigi Kelindang, Marja Jurukalang, Marga Bang Haji, Marga Semitul, Marga Bermani Sungai Hitam, Marga Bermani Perbo, Marga Bermani Palik, Marga Air Besi, Marga Kerkap, Marga Lais, Marga Air Padang, Marga Bintunan dan Marga Sebelat.
Sedangkan 15 marga di wilayah Provinsi Sumatera Selatan itu meliputi Marga Muara Rupit, Marga Rupit Ilir, Marga Rupit Tengah, Marga Rupit Dalam, Marga Proatin V, Marga Tiang Pumpung Kepungut, Marga Sindang Kelingi Ilir, Marga Batu Kuning Lakitan, Marga Suku Tengah Lakitan Ulu, Marga Sikap Dalam Musi Ulu, Marga Tedajin, Marga Kejatan Mandi Musi Ulu, Marga Lintang Kiri Suku Sadan, Marga Semidang, Marga Lintang Kanan Suku Muara Pinang, Marga Lintang Kanan Suku Muara Danau dan Marga Lintang Kanan Suku Babatan.
Pola Penguasaan Lahan-Hutan
hutan dan tata gunanya seperti imbo lem, imbo cadang, imbo bujang, belukar, tebo, sakea, jamai, jamai imbo, ujung taneuik, sawa air idup dan sawa bendar langit.
Penyebutan Hutan dan Tata Guna
Istilah Arti
Imbo Hutan
Imbo Lem Hutan belantara atau hutan larangan Imbo Cadang Hutan cadangan
Imbo Bujang Hutan yang sudah pernah dikelola, namun telah ditinggalkan atau ditelantarkan lebih dari 15 tahun
Belukar Hutan yang sudah pernah dikelola, namun telah ditinggalkan atau ditelantarkan lebih dari 7 tahun
Tebo Hutan dengan kemiringan 40 derajat dan berada di bawah bukit Sakea Hutan yang telah dibuka hingga dengan pembakaran
Jamai Ladang yang telah menghasilkan
Jamai Imbo Ladang yang sudah berubah menjadi kebun
Ujung Taneuik Lahan kosong yang berbatasan dengan Jamai yang bisa menjadi cadangan pengelola jamai untuk memperluas lahan
Sawa Air Idup Sawah yang pengairannya bersumber dari air sungai
Sawa Bendar
Langit
Sawah yang pengairannya bersumber dari air hujan
Dalam pelaksanaan hak, warga marga memiliki hak utama, hak pakai dan hak milik. Hak utama adalah suatu hak yang dimiliki setiap warga marga yang mendahului hak warga lain yang semarga. Hak utama ini berlaku untuk jangka waktu tertentu. Sedangkan hak pakai adalah hak untuk mengelola hingga memungut hasil dari pengelolaan hutan atau sawah. Hak pakai ini dibedakan untuk warga marga dan pendatang, dan berlaku untuk jangka waktu tertentu. Sementara hak milik adalah hak kepemilikan warga marga atas hutan atau sawah yang dikelola secara terus menerus.
Jenis-jenis Hak Warga Marga
Hak warga marga - Membuka dan mengelola imbo - Memungut hasil-hasil imbo
- Memungut hasil berburu binatang liar - Memungut hasil sungai atau danau - Berdiam atau bertempat tinggal
Hak Utama Hak yang dimiliki setiap warga marga yang mendahului hak warga lain yang semarga, yang berlaku dalam jangka tertentu Hak Pakai Hak untuk mengelola hingga memungut hasil dari pengelolaan
ladang atau sawah yang berlaku dalam jangka waktu tertentu Hak Milik Hak kepemilikan warga marga atas kebun atau sawah yang
dikelola secara terus menerus yang dapat diwariskan Sumber: FGD (2015); Hartiman (2013); Siddik (1980)
Hak Utama
Hak utama yang berlaku di MHA Rejang bervariasi menurut objek dan masa berlakunya. Hak utama tersebut meliputi (FGD, 2015; Hartiman, 2013; Siddik, 1980) :
1. Hak utama atas imbo yang telah diletakkan balai-balai, yang akan hilang bila balai-balai jatuh ke tanah.
begitu saja, bahkan membuka imbo baru, maka warga bersangkutan dijatuhi sanksi dengan alasan tidak bertanggungjawab dan merusak imbo.
3. Hak utama atas jamai berlaku selama tiga tahun. Setelah tiga tahun pertama membuka dan mengelola jamai dan selanjutnya tidak dikelola lagi, jamai menjadi hak marga. Bila di lahan jamai terdapat pohon buah-buahan yang ditanam oleh warga yang pertamakali membuka dan mengelola jamai, maka hanya lahan yang kembali kepada marga. Sedangkan pohon yang ditanam, tetap menjadi kepunyaan warga yang menanamnya. Terhadap jamai yang telah kembali ke marga, pasirah bisa memberikan izin mengelola jamai kepada warga semarga lainnya. Hanya saja, warga marga yang mendapat izin tersebut tidak boleh merusak pohon yang berada di jamai. Bila dirusak dan mati, maka harus diganti dan mendapat sanksi denda.
4. Hak utama atas jamai imbo juga berlaku selama 3 tahun. Izin pengelolaan jamai imbo juga bisa diberikan kepada warga semarga lainnya oleh pesirah dengan syarat yang sama dengan jamai.
5. Hak utama atas ujung taneuik berlaku selama 1 tahun, setelah ujung taneuik tersebut dibuka oleh pengelola jamai.
6. Hak utama atas sawa air idup berlaku selama tiga tahun. Bila selama tiga tahun sawa air idup tidak dikerjakan lagi atau dibiarkan terbengkalai, maka pengelolaan sawa air idup bisa diberikan kepada warga semarga lainnya.
7. Hak utama atas sawa bendar langit berlaku selama satu tahun. Jika selama satu tahun sawa bendar langit tidak dikelola lagi, pengelolaan sawa bendar langit bisa diberikan kepada warga semarga lainnya.
8. Hak untuk mengambil hasil hutan seperti damar, rotan, madu (sialang) berlaku selama tanda sulo yang diberikan atau diletakkan tidak hilang atau rusak.
Hak Pakai
Rejang dan orang luar yang tidak beristeri orang Masyarakat Hukum Adat Rejang, serta orang bukan anggota Masyarakat Hukum Adat Rejang dan bukan semarga. Hak pakai diberikan seizin pasirah, dengan diajukan terlebih dahulu oleh orang yang ingin mendapatkan hak tersebut melalui tuai kuteui. Hak pakai tersebut meliputi (FGD, 2015; Hartiman, 2013; Siddik, 1980) :
1. Hak pakai untuk anggota Masyarakat Hukum Adat Rejang bukan semarga
Hak pakai bagi kelompok ini bisa diperoleh setelah meminta izin dari pasirah, dengan membayar sewa bumi. Bila pengelolaan jamai dan sawa bendar langit dilakukan secara terus-menerus, maka hak pakai bisa berubah menjadi hak milik.
2. Hak pakai untuk orang bukan anggota Masyarakat Hukum Adat Rejang a. Beristri anggota Masyarakat Hukum Adat Rejang
Hak pakai diberikan atas izin pasirah dengan membayar sewa bumi. Hak pakai untuk kelompok ini dapat berkembang menjadi hak milik bila hak pakai dilakukan secara terus-menerus.
b. Tidak beristri anggota Masyarakat Hukum Adat Rejang
Hak pakai untuk kelompok ini disebut juga hak orang tumpangan. Hak pakai ini tidak boleh dipindahkan kepada orang lain atau ahli warisnya. Hak pakai ini habis masa berlakunya, setelah panen. Orang yang mendapatkan hak pakai ini diwajibkan untuk menyerahkan sebagian dari hasil panen yang digunakan untuk kepentingan bersama anggota marga.
3. Hak pakai untuk bukan anggota Masyarakat Hukum Adat Rejang dan bukan semarga.
Hak pakai untuk kelompok ini bisa diperoleh seizin pasirah, dan membayar sewa bumi. Hak pakai ini masa berlakunya setelah panen, tidak bisa dipindahtangankan atau diwariskan.
Pola Pengelolaan Hutan
lahan imbo yang akan dibuka, dan memancangkan tiga kayu yang diikat dengan akar dan di tengahnya digantungi kayu atau disebut balai-balai, di lahan yang diterangi. Bila warga semarga lainnya melihatnya, warga tersebut tidak akan mengganggu, apalagi sampai menghalang-halangi rencana calon pembuka imbo.
Pemberitahuan itu dilakukan selama 3 bulan. Setelah itu, calon pembuka imbo akan melakukan ritual tabeus untuk menyampaikan permintaan izin kepada roh halus atau leluhur penjaga imbo. Ritual dilakukan dengan meninggalkan sesaji dan mengambil secuil tanah untuk dibawa pulang ke rumah dan diletakkan di bawah bantal. Apabila rencana membuka imbo tidak disetujui, calon pembuka imbo akan mendapatkan mimpi buruk. Selama 3 bulan tidak pernah mendapatkan mimpi buruk, maka calon pembuka imbo meminta izin kepada pasirah melalui tuai kuteui. Bila tidak terdapat pelanggaran hukum adat, permintaan izin dipenuhi oleh pasirah. Berbekal izin dari pasirah, calon pengelola imbo meneruskan rencananya dengan menebas akar-akar pepohonan dan semak belukar. Tiga hingga 6 bulan setelah menebas akar-akar pohon dan semak belukar, calon pengelola imbo menebangi pohon-pohon. Biasanya, penebangan pohon dilakukan menjelang akhir musim kemarau.
membuat lubang-lubang kecil di tanah menggunakan sebatang kayu yang diruncingi, menaburi benih pada ke lubang-lubang kecil, dan menutupnya dengan tanah.
Beto’o dilakukan secara bergotong-royong. Pengelola lahan menyiapkan makanan untuk orang-orang yang bergotong-royong. Bubua tingting yang terbuat dari tepung beras, dan nasi dengan lauk umbut aren dan ikan kering. Bubua tingting yang disiapkan bukan hanya untuk orang-orang bergotong-royong, tetapi juga keluarganya. Saat pulang, orang-orang yang bergotong-royong diberikan bubua tingting di dalam kaceung tebet yang terbuat dari bulua (bambu) kapea untuk dibawa pulang. Kegiatan bergotong-royong ini dilakukan secara bergiliran atau disebut ali bilai (ganti hari).
Setelah berumur 5 - 6 bulan, padi mulai berbuah. Semakin intensif merawat dan menjaga padi, pengelola lahan membuat pondok. Pembuatan pondok juga dilakukan dengan bergotong-royong. Pengelola lahan juga menghidangkan makanan persis sama dengan makanan yang disiapkan saat melakukan aktivitas beto’o. Setelah panen, dilakukan acara syukuran atau meket poi. Dalam acara, pengelola lahan menyediakan lemang untuk orang yang menghadiri, dan sesaji seperti pisang emas, sirih, gambir dan lainnya untuk dipersembahkan kepada Dewi Sri. Ladang yang telah menghasilkan inilah yang disebut jamai.
Awalnya imbo dibuka dan dikelola untuk bertanam padi atau ketan. Namun, secara perlahan juga ditanami dengan tanaman muda yang bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan sayur, rempah-rempah (bumbu), obat-obatan dan tradisi (ritual). Biasanya, lahan mulai ditanami dengan tanaman keras yang bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan kayu dan buah setelah dua kali panen padi. Selain untuk berladang dan berkebun (kebun campur atau agroforestry), tidak sedikit pula warga marga membuka imbo untuk dikelola menjadi sawa bendar langit dan sawa air idup.
Pola Memanen Hasil Hutan
bisa menjadi tandanya. Setelah memasang sulo atau membuat cukilan-cukilan, warga tersebut melaporkan kepada tuai kutei. Untuk mengambil hasil hutan tidak diperlukan izin pasirah. Kecuali untuk mengambil hasil hutan di daerah imbo cadang yang telah ditetapkan oleh dewan marga, dibutuhkan izin pasirah.
Larangan dalam Pengelolaan Hutan
Selain imbo cadang yang ditetapkan oleh dewan marga dan pasirah, dan imbo lem yang ditetapkan pasirah dan pemerintahan hindia Belanda yang dilarang untuk dibuka, Masyarakat Hukum Adat Rejang juga memiliki sejumlah larangan untuk membuka imbo atau menebang pohon (FGD, 2015; Hartiman, 2013), diantaranya:
Tidak boleh menebang pohon yang berumur ratusan tahun dan dipercaya dihuni oleh roh halus
Tidak boleh menebang pohon di bantaran atau pinggir sungai Tidak boleh membuka imbo yang terdapat mata air
Tidak boleh membuka imbo di lahan-lahan yang curam Tidak boleh membuka imbo di dekat air terjun
Tidak boleh menimbun atau merusak mata air
TNKS dan Dampak Terhadap Masyarakat
Sejarah TNKS
TNKS dibentuk dari 17 kelompok hutan yang merupakan bagian hutan lindung register tahun 1921-1926 yang ditetapkan oleh pemerintah Belanda (dikenal oleh masyarakat dengan istilah BW), cagar alam dan suaka margasatwa yang ditetapkan pada kurun 1978-1981, ditambah dengan kawasan hutan produksi (Anonim b; Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, 2003; Purwanto, 2015; Wantoro dan Adam, 2001). Pengusulan membentuk TNKS dilakukan berdasarkan hasil penelitian Direktorat Jenderal Perlindungan dan Pelestarian Alam dan WWF yang disponsori FAO (Food and Agriculture Organization) pada 1977 – 1980. Usulan tersebut ditanggapi Departemen Pertanian (kala itu membidangi sektor kehutanan), Departeman Penerangan, Menteri Negara PPLH dan Meneg Ristek dengan mengeluarkan pernyataan bersama dan konsep “Strategi Konservasi Alam di Indonesia” pada 6 Maret 1980.
Kawasan Hutan yang Membentuk TNKS
No Unit Hutan Status Tanggal Provinsi
1 Bayang HL 08-06-1921 Sumatera Barat
2 Batang Hari HL 31-01-1921 Sumatera Barat
Kambang HL 19-02-1921 Sumatera Barat
3 Indrapura CA 09-12-1929 Sumatera Barat
Indrapura CA 05-11-1980 Jambi
4 Sangir 1 HL 25-04-1921 Sumatera Barat
Jujuhan HL 08-06-1921 Sumatera Barat
5 Hutan tidak berstatus TS - Sumatera Barat
6 Danau Gunung Tujuh CA 1976 Jambi
7 Sangir Ulu HL 29-06-1926 Jambi
9 Batang Merangin Timur HL 29-06-1926 Jambi
10 Hutan tidak berstatus TS - Jambi
Masurai
12 Batang Merangin Barat SM - Jambi
13 Bukit Tapan CA 1978 Jambi
14 Bukit Kayu Embun SM - Bengkulu
15 Bukit Gedang Seblat SM 1980 Bengkulu
16 Bukit Rengas HL 08-03-1926 Bengkulu
Hulu Sulup HL 08-03-1926 Bengkulu
17 Rawas Hulu Rakitan SM 05-07-1979 Sumatera
Selatan
Sumber: Anonim b, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan (2003), Purwanto (2015); Wantoro dan Adam (2001).
Lalu, pada Kongres Taman Nasional Sedunia III di Bali tahun 1982, pemerintah menetapkan rencana taman nasional untuk 11 kawasan, termasuk Kerinci Seblat. Surat Menteri Pertanian No.736/ Mentan/X/1982, tertanggal 14 Oktober 1982, menetapkan TNKS seluas 1.484.660 hektar. Dalam perkembangannya, luas TNKS berkurang menjadi 1.386.000 hektar berdasarkan SK Menteri Kehutanan nomor 192/Kpts-II/1996, tertanggal 1 Mei 1996. Akibat terjadi penyusutan, dilakukan revisi dengan melakukan tata batas. Setelah pemancangan pal batas dan rekonstruksi, Menteri Kehutanan
2015; Hartiman, 2013; Hartiman dkk, 2001). Sehingga, tidak sedikit lahan milik masyarakat seperti sawah, kebun dan pemanfaatan hasil hutan nonkayu secara tradisional masuk dalam kawasan taman nasional (FGD, 2015; Hartiman, 2013; Hartiman dkk, 2001; Wantoro dan Adam, 2001).
Pemaksaan untuk menerima penetapan kawasan dan batas TNKS yang dilakukan oleh pemerintah dengan menggunakan pendekatan refresif, intensif dilakukan pada 1992-1993-an. Kala itu, Masyarakat Hukum Adat Rejang yang mengelola kebun yang diwariskan secara turun temurun diusir dan dilarang untuk melanjutkan aktivitas. Pondok di kebun dihancurkan dan dibakar, tanaman di kebun ditebang, pengelola kebun dikumpulkan dan dipaksa menggunakan kalung yang bertuliskan “perambah” dan difoto oleh petugas. Selanjutnya, mereka disuruh menaiki mobil dan dibawa keliling untuk diperlihatkan kepada masyarakat lainnya. Perlakuan refresif petugas balai TNKS yang melibatkan aparat keamanan bersenjata api itu meninggalkan kesan mendalam.
Bagi Masyarakat Hukum Adat Rejang, penetapan kawasan dan batas TNKS dianggap telah merampas hak, menghancurkan sumber penghidupan, mempersempit ruang hidup, menggerogoti hukum adat Rejang, melakukan kriminalisasi, dan melanggar hak asasi manusia (FGD, 2015). Selain itu, penetapan kawasan dan batas TNKS dianggap telah memutuskan mata rantai kehidupan ekonomi dengan lingkungan tanah-hutan (Hartiman dkk, 2001), dan menghilangkan rasa memiliki dan tanggungjawab kolektif masyarakat hukum adat terhadap hutan (Yamani, 2011).
Perlakuan negara tersebut dinilai lebih buruk daripada Pemerintah Hindia Belanda yang menggunakan teoretikal domein verklaring untuk menguasai tanah yang tidak dikuasai secara langsung oleh kesatuan masyarakat adat. Pada saat ingin menetapkan kawasan hutan lindung (BW) pada 1926, Pemerintah Hindia Belanda mengajak dan melibatkan masyarakat hukum adat Rejang memusyawarahkannya dan pemasangan patok BW (FGD, 2015; Hartiman, 2013; Hartiman dkk, 2001). Singkatnya, bila Pemerintah Hindia Belanda menghormati dan mengakui keberadaan Masyarakat Hukum Adat Rejang, wilayah adat dan hukum adat Rejang, sementara pemerintah Indonesia malah menafikannya.
Upaya Memperoleh Pengakuan Hak dan Penyelesaian Masalah
Sebelum keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012, dapat dikatakan belum ada upaya yang terencana dan sistematis yang dilakukan Masyarakat Hukum Adat Rejang untuk memperoleh pengakuan atas haknya dan menyelesaikan konflik. Upaya yang dilakukan hanya sebatas menyuarakannya kepada pejabat atau anggota DPRD yang kebetulan melakukan kegiatan di desa. Kendati berulang kali menyuarakannya, namun tidak membuahkan hasil. Hal serupa sewaktu Masyarakat Hukum Adat Rejang didampingi oleh sejumlah LSM lokal, upaya yang dilakukan tidak membuahkan hasil. Belum terangnya proses legal untuk memperoleh pengakuan keberadaan Masyarakat Hukum Adat dan hak-haknya, dan minimnya keberpihakan pejabat dan anggota DPRD Lebong menjadi pemicunya.
Paska keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012 dan sejumlah peraturan perundang-undangan lainnya, upaya yang dilakukan mulai terencana dan sistematis. Hal ini diakibatkan proses legal untuk memperoleh pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat dan hak-haknya mulai terang benderang. Proses legal dilakukan dengan mengkaji definisi masyarakat hukum adat, syarat untuk memperoleh pengakuan, dan posisi peraturan daerah yang mengakui keberadaan masyarakat hukum adat berdasarkan peraturan dan perundang-undangan. Untuk definisi masyarakat hukum adat, sejumlah peraturan dan perundang-undangan yang menjadi rujukannya antara lain:
Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pasal 1 ayat (31)
Masyarakat hukum adat adalah kelompok masyarakat yang secara turun temurun bermukim di wilayah geografis tertentu karena adanya ikatan pada asal usul leluhur, adanya hubungan yang kuat dengan lingkungan hidup, serta adanya sistem nilai yang menentukan pranata ekonomi, politik, sosial, dan hukum.
Pasal 1 ayat (6)
Masyarakat Hukum Adat adalah sekelompok orang yang secara turun-temurun bermukim di wilayah geografis tertentu di Negara Kesatuan Republik Indonesia karena adanya ikatan pada asal usul leluhur, hubungan yang kuat dengan Tanah, wilayah, sumber daya alam yang memiliki pranata pemerintahan adat dan tatanan hukum adat di wilayah adatnya.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil
Pasal 1 ayat (33)
Masyarakat Hukum Adat adalah sekelompok orang yang secara turun-temurun bermukim di wilayah geografis tertentu di Negara Kesatuan Republik Indonesia karena adanya ikatan pada asal usul leluhur, hubungan yang kuat dengan tanah, wilayah, sumber daya alam, memiliki pranata pemerintahan adat, dan tatanan hukum adat di wilayah adatnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat
Pasal 1 ayat (3)
Masyarakat hukum adat adalah sekelompok orang yang terikat oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum karena kesamaan tempat tinggal ataupun atas dasar keturunan.
Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P.62/Menhut-Ii/2013 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.44/Menhut-Ii/2012 Tentang Pengukuhan Kawasan Hutan
Masyarakat hukum adat adalah sekelompok orang yang terikat oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum karena kesamaan tempat tinggal ataupun atas dasar keturunan.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pengakuan Dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat
Pasal 1 ayat (1)
Masyarakat Hukum Adat adalah Warga Negara Indonesia yang memiiki karakteristik khas, hidup berkelompok secara harmonis sesuai hukum adatnya, memiliki ikatan pada asal usul leluhur dan atau kesamaan tempat tinggal, terdapat hubungan yang kuat dengan tanah dan lingkungan hidup, serta adanya sistem nilai yang menentukan pranata ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum dan memanfaatkan satu wilayah tertentu secara turun temurun.
Peraturan Menteri Negara Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 2015 Tentang Tata Cara Penetapan Hak Komunal Atas Tanah Masyarakat Hukum Adat dan Masyarakat Yang Berada Dalam Kawasan Hutan
Pasal 1 ayat (3)
Masyarakat hukum adat adalah sekelompok orang yang terikat oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum karena kesamaan tempat tinggal ataupun atas dasar keturunan.
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.32/Menlhk-Setjen/2015 Tentang Hutan Hak.
Pasal 1 ayat (11)
adanya hubungan yang kuat dengan lingkungan hidup, serta adanya sistem nilai yang menentukan pranata ekonomi, politik, sosial, dan hukum.
Sedangkan mengenai syarat untuk memperoleh pengakuan dan posisi peraturan daerah yang mengakui keberadaan masyarakat hukum adat, peraturan dan perundang-undangan yang menjadi rujukannya adalah :
Undang-Undang Dasar 1945
Pasal 18 B ayat (2)
Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam Undang-undang.
Undang-Undang No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Paska Putusan MK No 35/PPU-X/2012)
Pasal 1 angka 6
Hutan adat adalah hutan yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat.
Pasal 4 ayat (3)
Penguasaan hutan oleh Negara tetap memperhatikan hak masyarakat hukum adat, sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dengan undang-undang.
Pasal 5 ayat (1)
Hutan berdasarkan statusnya terdiri dari: a. hutan negara,
Pasal 5 ayat (3)
Pemerintah menetapkan status hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan hutan adat ditetapkan sepanjang menurut kenyataannya masyarakat hukum adat yang bersangkutan masih ada dan diakui keberadaannya.
Pasal 67 ayat (1)
Masyarakat hukum adat sepanjang menurut kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya berhak:
a. melakukan pemungutan hasil hutan untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat adat yang bersangkutan;
b. melakukan kegiatan pengelolaan hutan berdasarkan hukum adat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan undang-undang; dan
c. mendapatkan pemberdayaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya.
Pasal 67 ayat (2)
Pengukuhan keberadaan dan hapusnya masyarakat hukum adat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Undang-Undang No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pasal 63 ayat (1) huruf (t)
Dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, Pemerintah bertugas dan berwenang antara lain menetapkan kebijakan mengenai tata cara pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat, kearifan lokal, dan hak masyarakat hukum adat yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Pasal 63 ayat (2) huruf (n)
masyarakat hukum adat, kearifan lokal, dan hak masyarakat hukum adat yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Pasal 63 ayat (3) huruf (k)
Dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, Pemerintah Kabupaten/Kota bertugas dan berwenang antara lain melaksanakan kebijakan tata cara pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat, kearifan lokal, dan hak masyarakat hukum adat yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat kabupaten/kota.
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012
Dalam putusan ini, MK berpendapat adapun tentang pengukuhan dan hapusnya masyarakat hukum adat ditetapkan dengan Peraturan Daerah dan ketentuan lebih lanjut diatur dalam Peraturan Pemerintah, menurut Mahkamah merupakan delegasi wewenang yang diatur dalam Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 yang menyatakan “Negara mengakui dan menghormati kesatuan kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang“.
Undang-Undang yang diperintahkan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 hingga saat ini belum terbentuk. Oleh karena kebutuhan yang mendesak, banyak peraturan perundang-undangan yang lahir sebelum Undang-Undang yang dimaksud terbentuk. Hal tersebut dapat dipahami dalam rangka mengisi kekosongan hukum guna menjamin adanya kepastian hukum. Dengan demikian, pengaturan yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah dapat dibenarkan sepanjang peraturan tersebut menjamin kepastian hukum yang berkeadilan.
Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil
Masyarakat Hukum Adat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan pengakuannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
UU No 6 Tahun 2014 Tentang Desa
Pasal 96
Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota melakukan penataan kesatuan masyarakat hukum adat dan ditetapkan menjadi Desa Adat.
Pasal 97 ayat (1)
Penetapan Desa Adat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 96 memenuhi syarat: a. kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya secara nyata masih hidup, baik yang bersifat teritorial, genealogis, maupun yang bersifat fungsional;
b. kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya dipandang sesuai dengan perkembangan masyarakat; dan
c. kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya sesuai dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pasal 97 ayat (2)
Kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya yang masih hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a harus memiliki wilayah dan paling kurang memenuhi salah satu atau gabungan unsur adanya:
a. masyarakat yang warganya memiliki perasaan bersama dalam kelompok; b. pranata pemerintahan adat;
c. harta kekayaan dan/atau benda adat; dan/atau d. perangkat norma hukum adat.
Pasal 97 ayat (3)
a. keberadaannya telah diakui berdasarkan undang-undang yang berlaku sebagai pencerminan perkembangan nilai yang dianggap ideal dalam masyarakat dewasa ini, baik undang-undang yang bersifat umum maupun bersifat sektoral; dan
b. substansi hak tradisional tersebut diakui dan dihormati oleh warga kesatuan masyarakat yang bersangkutan dan masyarakat yang lebih luas serta tidak bertentangan dengan hak asasi manusia.
Pasal 97 ayat (4)
Suatu kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c sesuai dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia apabila kesatuan masyarakat hukum adat tersebut tidak mengganggu keberadaan Negara Kesatuan Republik lndonesia sebagai sebuah kesatuan politik dan kesatuan hukum yang:
a. tidak mengancam kedaulatan dan integritas Negara Kesatuan Republik lndonesia; dan
b. substansi norma hukum adatnya sesuai dan tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 98 ayat (1)
Desa Adat ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah
Pembagian Urusan Pemerintahan Konkuren Antara Pemerintah Pusat Dan Daerah Provinsi Dan Daerah Kabupaten/Kota
K. Pembagian Urusan Pemerintahan Bidang Lingkungan Hidup
Sub Bidang Pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat (MHA), kearifan lokal dan hak MHA yang terkait dengan PPLH
berada di Daerah kabupaten/kota merupakan urusan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 Tentang Perkebunan
Pasal 13
Masyarakat Hukum Adat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan, Menteri PU, Kepala BPN No 79 Tahun 2014 Tentang Tata Cara Penyelesaian Penguasaan Tanah yang Berada di Dalam Kawasan Hutan
Pasal 1 ayat (12)
Pengakuan hak masyarakat hukum adat adalah pengakuan pemerintah terhadap keberadaan hak-hak masyarakat hukum adat sepanjang pada kenyataan masih ada
Pasal 9
Pengakuan hak masyarakat hukum adat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pengakuan Dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat
Pasal 2
Gubernur dan bupati/walikota melakukan pengakuan dan perlindungan masyarakat hukum adat.
Pasal 15
Pengakuan hak masyarakat hukum adat adalah pengakuan pemerintah terhadap keberadaan hak-hak masyarakat hukum adat sepanjang pada kenyataan masih ada
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.32/Menlhk-Setjen/2015 Tentang Hutan Hak
Pasal 6 ayat 1 huruf a
Terdapat masyarakat hukum adat atau hak ulayat yang telah diakui oleh pemerintah daerah melalui produk hukum daerah
Kesimpulan
Putusan MK No 35/PUU-X/2012 merupakan koreksi mendasar terhadap konsep dan praktik negara menegasikan keberadaan dan hak masyarakat hukum adat atas hutan, dan penguasaan hutan. MK berpendapat, Pasal 1 angka (6) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan bahwa “Hutan adat adalah hutan negara yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat” adalah bertentangan dengan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 bahwa “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam Undang-undang”, dan merupakan pengabaian terhadap hak-hak masyarakat hukum adat. Sehingga, MK memutuskan Pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menjadi “Hutan adat adalah hutan yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat”.
Koreksi mendasar yang dilakukan negara itu selaras dengan pergeseran pendekatan penetapan dan pengelolaan kawasan konservasi yang merampas hak dan mengusir masyarakat hukum adat. Pendekatan yang menegasikan keberadaan dan hak masyarakat hukum adat atas hutan di dalam kawasan konservasi dan masyarakat hukum adat dianggap sebagai bagian masalah dalam pengelolaan kawasan konservasi itu dikoreksi secara mendasar dengan mengkaitkannya dengan hak asasi manusia, khususnya hak masyarakat hukum adat sebagaimana tertuang dalam Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa atas Hak-hak Masyarakat Hukum Adat. Pendekatan baru ini dikenal dengan pendekatan berbasis hak (Campese, 2009; Greiber, 2009; Rights and Resources Initiative, 2015).
dan mengontrol tanah-tanah, wilayah-wilayah dan sumber daya-sumber daya yang mereka miliki atas dasar kepemilikan tradisional atau penempatan dan pemanfaatan secara tradisional lainnya, juga tanah-tanah, wilayah-wilayah dan sumber daya-sumber daya yang dimiliki dengan cara lain”. Namun, hak masyarakat adat bukan hanya seperti tercantum pada Pasal 26 ayat (1) dan Pasal 26 ayat (2). Masih banyak hak yang diatur Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa atas Hak-hak Masyarakat Hukum Adat, antara lain:
Pasal 10
Masyarakat adat tidak boleh dipindahkan secara paksa dari tanah atau wilayah mereka. Tidak boleh ada relokasi yang terjadi tanpa persetujuan bebas dan sadar, tanpa paksaan dari masyarakat adat yang bersangkutan, dan hanya boleh setelah ada kesepakatan perihal ganti kerugian yang adil dan memuaskan, dan jika memungkinkan, dengan pilihan untuk kembali lagi.
Pasal 16
Masyarakat adat mempunyai hak untuk membentuk media mereka sendiri dalam bahasa-bahasa mereka sendiri, dan memiliki akses terhadap semua bentuk media umum tanpa diskriminasi
Pasal 18
Masyarakat adat mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan berkenaan dengan hal-hal yang akan membawa dampak pada hak-hak mereka, melalui perwakilan-perwakilan yang mereka pilih sesuai dengan prosedur mereka sendiri, dan juga untuk mempertahankan dan mengembangkan pranata pembuatan keputusan yang mereka miliki secara tradisional.
Pasal 23
pengembangan dan menentukan program-program kesehatan, perumahan dan program-program ekonomi dan kemasyarakatan yang mempengaruhi mereka, dan sejauh mungkin mengelola program-program tersebut melalui lembaga-lembaga mereka sendiri.
Pasal 25
Masyarakat adat memiliki hak untuk memelihara dan memperkuat hubungan spiritual yang khas dengan tanah, wilayah, air dan pesisir pantai dan sumber daya yang lainnya, yang digunakan atau dikuasai secara tradisional, dan untuk menjunjung tinggi tanggung jawab mereka terhadap generasi-generasi mendatang.
Pasal 28
Masyarakat adat memiliki hak untuk mendapatkan ganti kerugian, dengan cara-cara termasuk restitusi atau, jika ini tidak memungkinkan, kompensasi yang layak dan adil, atas tanah, wilayah dan sumber daya yang mereka miliki secara tradisional atau sebaliknya tanah, wilayah dan sumber daya yang dikuasai atau digunakan, dan yang telah disita, diambil alih, dikuasai, digunakan atau dirusak tanpa persetujuan bebas tanpa paksaan dari mereka terlebih dahulu.
Pasal 31
Masyarakat adat memiliki hak untuk menjaga, mengontrol, melindungi dan mengembangkan warisan budaya mereka, pengetahuan tradisional dan ekspresi-ekspresi budaya tradisional, seperti juga manifestasi ilmu pengetahuan mereka, teknologi-teknologi dan budaya-budaya, termasuk sumber daya manusia dan sumber daya genetik lainnya, benih-benih, obat-obatan, permainan-permainan tradisional dan seni pentas. Mereka juga memiliki hak untuk menjaga, mengontrol, melindungi dan mengembangkan kekayaan intelektual, warisan budaya, pengetahuan tradisional, dan ekspresi-ekspresi budaya mereka.
Masyarakat adat memiliki hak untuk menentukan dan mengembangkan prioritas-prioritas dan strategi-strategi untuk pembangunan atau penggunaan tanah-tanah atau wilayah mereka dan sumber daya lainnya.
Pasal 33 ayat (2)
Masyarakat adat mempunyai hak untuk menentukan susunan, dan untuk memilih keanggotaan dari, kelembagaankelembagaan mereka sesuai dengan prosedur mereka sendiri.
Pasal 34
Masyarakat adat mempunyai hak untuk memajukan, membangun dan mempertahankan stuktur-struktur kelembagaan mereka dan kebiasaan-kebiasaan mereka yang khas, spiritualitas, tradisi-tradisi, prosedur dan praktik-praktik dimana mereka berada, system-sistem peradilan atau kebiasaan-kebiasaan, sesuai dengan standar-standar hak asasi manusia yang diakui secara internasional.
Pasal 40
Masyarakat adat memiliki hak atas akses ke, dan untuk memperoleh keputusan secara cepat melalui prosedur-prosedur yang adil dan disetujui secara bersama bagi, penyelesaian konflik dan sengketa dengan Negara dan pihak-pihak yang lain, dan juga bagi pemulihan yang efektif untuk semua pelanggaran hak-hak individual dan kolektif mereka. Keputusan seperti itu harus mempertimbangkan adat, tradisi, peraturan-peraturan dan sistem hukum dari masyarakat adat yang bersangkutan dan hak asasi manusia internasional.
Saran dan Rekomendasi
Daftar Pustaka
Anomim a, Desa-desa yang Berbatasan Langsung dengan TNKS di Kabupaten Rejang Lebong
Anonim b, Status Awal Kawasan Sebelum Ditetapkan sebagai Taman Nasional
Barber, Victor dkk, 1997, Meluruskan Arah Pelestarian Keanekaragaman Hayati dan Pembangunan di Indonesia, Yayasan Obor Indonesia
Campese, Jessica, 2009, Rights-based Approaches to Conservation: An Overview of Concepts and Questions dalam Campese, J Jessica. et al (Eds.), 2009, Rights-based Approaches: Exploring Issues and Opportunities for Conservation. CIFOR and IUCN. Bogor, Indonesia.
Directorate General Of Forest Protection And Nature Conservation Ministry Of Forestry, 2003, Tropical Rainforest Heritage Of Sumatra By The Government Of The Republic Of Indonesia To Be Included In The World Heritage List
Hartiman, Andry Harijanto dkk, 2001, Ketaatan Masyarakat Pada Hukum Adat Dalam Pelestarian Keanekaragaman Hayati Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Di Kabupaten Rejang Lebong Propinsi Bengkulu, Pusat Studi Lingkungan Lembaga Penelitian UNIB
Hartiman, Andry Harijanto, 2013, Antropologi Hukum: Studi Kasus di Bengkulu, Komis-FH Unib Press
Hendry, Dedek, 2014, Masyarakat Adat Rejang Buat Media, Mungkinkah?,
Hendry, Dedek, 2015, Jurnalisme dan Perlindungan Hak-hak Masyarakat Adat, https://www.academia.edu/10111672/Jurnalisme_dan_Perlindungan_Hak-hak_Masyarakat_Adat
Greiber, Thomas (Ed.) 2009. Conservation with Justice. A Rights-based Approach. IUCN, Gland, Switzerland.
Lebong Dalam Angka 2009, BPS Kabupaten Lebong
Provinsi Bengkulu Dalam Angka 2014, BPS Provinsi Bengkulu
Purwanto, E, 2015. Strategi Anti-Perambahan di Kawasan Warisan Hutan Tropis Sumatra (TRHS): Menuju Paradigma Baru, Tropenbos International Indonesia programme dan UNESCO Jakarta
Rights and Resources Initiative, 2015, Protected Areas and the Land Rights of Indigenous Peoples and Local Communities:Current Issues and Future Agenda,
Siddik, Abdullah, 1980, Hukum Adat Rejang, PN Balai Pustaka
Wantoro, Untung dan Adam, 2001, Sejarah Terbentuknya TN Kerinci Seblat, Alam Sumatera, Volume I - No. 2/September 2001
Yamani, Muhammad, 2011, Strategi Perlindungan Hutan Berbasis Hukum Lokal di Enam Komunitas Adat Daerah Bengkulu, JURNAL HUKUM NO. 2 VOL. 18 APRIL 2011: 175 – 192
UN Declaration on the Rights of Indigenous Peoples
Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 Tentang Perkebunan
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 Tentang Perkebunan
Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Kehutanan, Menteri PU, Kepala BPN Nomor 79 Tahun 2014 Tentang Tata Cara Penyelesaian Penguasaan Tanah yang Berada di Dalam Kawasan Hutan
Peraturan Menteri Agraria Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Permasalahan Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat,
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 Tahun 2015 Tentang Tata Cara Penetapan Hak Komunal Atas Tanah Masyarakat Hukum Adat dan Masyarakat Yang Berada Dalam Kawasan Hutan
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Kehutanan Nomor P.32/Menlhk-Setjen/2015 Tentang Hutan Hak