Strategi Pengelolaan dan Pemanfaatan BMKT di Indonesia
Jujun Kurniawan, M.A.
Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada
e-mail: [email protected]
Disampaikan pada W orkshop Kebijakan Koordinasi Pengelolaan dan Strategi Pemanfaatan Benda Berharga Muatan Kapal yang Tenggelam (BMKT)
Jakarta, 16—17 Desember 2015
Pendahuluan
Letak Indonesia yang sangat strategis, telah dimanfaatkan sejak dahulu sebagai jalur pelayaran perdagangan internasional. Salah satu bukti dari ramai dan pentingnya jalur pelayaran perdagangan di Nusantara ini dapat dibuktikan dengan banyaknya temuan-temuan kapal tenggelam di perairan laut Indonesia. Direktorat Jenderal Pengawasan dan Pengendalian Sumber daya Kelautan dan Perikanan pernah memperkirakan terdapat lebih dari 500 titik kapal tenggelam yang tersebar di seluruh perairan Indonesia (Kompas, 20 April 2013: 12), meskipun sampai saat ini belum diketahui secara pasti data titik kapal tenggelam di perairan Indonesia yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
Keberadaan kapal tenggelam yang berpotensi sebagai data arkeologi dapat memiliki nilai ilmu pengetahuan, sejarah, dan nilai ekonomi. Benda berharga yang umumnya berasal dari kapal tenggelam, di samping memiliki potensi ekonomi juga mengandung bukti-bukti sejarah/arkeologi maritim. Selama ini, perhatian utama pada pengelolaan situs kapal tenggelam adalah artefaktual berupa keramik. Hal ini dikarenakan benda hasil pengangkatan asal kapal muatan yang tenggelam, yang berupa keramik, merupakan temuan yang paling banyak dan dominan. Keramik sebagai benda cagar budaya memiliki nilai penting sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Selain itu, keramik hasil pengangkatan dari situs kapal tenggelam ini mengandung nilai informasi dan nilai akademis yang tinggi karena memiliki:
1. nilai kuantitas: jumlah artefaktual yang ditemukan umumnya banyak sehingga nilai
informasinya akan semakin baik namun, semakin banyak jumlah temuan keramik dalam jenis dan masa yang sama, maka nilai ekonomisnya akan semakin kecil;
2. nilai in situ: lokasi penemuan dipastikan asli dan masih pada tempatnya;
3. nilai otentisitas: pengamatan dari segi bahan, bentuk, dan isi temuan dipastikan asli
bukan imitasi atau modifikasi; dan
4. nilai integritas: temuan-temuan lain yang berupa non-keramik dapat saling menunjang
Kondisi artefaktual berupa keramik asal kapal yang tenggelam tersebut didukung oleh lingkungan pengendapannya yang berupa sedimen lumpur dasar laut sehingga memberikan kondisi artefak yang ter-preservasi dengan sangat baik. Tak jarang temuan artefak keramik ini secara umum diperoleh dalam bentuk yang utuh dengan permukaan glasir yang masih sangat baik. Kondisi ideal ini memberikan keuntungan dalam menginterpretasikan kandungan informasinya.
Dalam hal pengelolaan potensi sumber daya kelautan, keberadaan kapal tenggelam dalam konteks arkeologis merupakan salah satu aspek yang perlu mendapatkan perhatian. Keberadaan kapal tenggelam yang berpotensi sebagai data arkeologi dapat memiliki berbagai nilai, baik ilmu pengetahuan, sejarah, maupun nilai ekonomis. Oleh karena itu upaya pemanfaatan benda berharga dari kapal tenggelam tersebut perlu mendapat pengawasan yang baik. Bentuk pemanfaatannya pun diupayakan agar tidak memberi dampak negatif yaitu berupa pemusnahan data sejarah budaya/arkeologi.
Pemerintah dan masyarakat Indonesia mulai menyadari potensi tinggalan arkeologi bawah air sejak tahun 1986 setelah terjadi kasus pengangkatan dan pelelangan ilegal muatan kargo kapal VOC Geldermalsen di perairan Pulau Buaya Riau. Walaupun lokasi penemuannya berada di wilayah perairan Indonesia, namun seluruh temuan barang dimiliki oleh pihak asing perorangan. Kemudian disusun suatu regulasi yang saling menguntungkan antara pemilik wilayah tempat penemuan, pemilik barang, dan pengambil barang. Akan tetapi, pemerintah Indonesia tidak mendapatkan hasil dari penjualan tersebut. Dari peristiwa ini kemudian muncul regulasi-regulasi yang cenderung lebih berorientasi pada aspek nilai jualnya.
BMKT Sebagai Cagar Budaya
Sehubungan dengan hal tersebut, Hari Untoro Drajat (2002) dan Surya Helmi (2010) menegaskan bahwa tinggalan arkeologi bawah air termasuk dalam kategori cagar budaya, maka harus diperlakukan sama dengan warisan budaya lainnya. Pemahaman yang sama dianut pula oleh masyarakat internasional. Hal ini terlihat dalam Konvensi UNESCO Tahun 2001 tentang Perlindungan Warisan Budaya Bawah Air, disebutkan bahwa kapal-kapal karam dan tinggalan bawah air lainnya dianggap sebagai benda cagar budaya. Pengertian warisan budaya bawah air (Underwater Cultural Heritage) dalam konvensi ini adalah:
Pasal 1 – Definisi
Dalam Konvensi ini yang dimaksud dengan:
1. (a) “Warisan Budaya Bawah Air” berarti semua jejak keberadaan manusia yang memiliki karakter budaya, sejarah, atau arkeologis yang sebagian atau keseluruhannya telah berada di bawah air, secara berkala atau terus-menerus, selama paling tidak 100 tahun seperti:
(i) Situs, struktur, bangunan, artefak dan sisa-sisa manusia, yang berada dalam konteks arkeologis dan alam mereka;
(ii) Kapal, pesawat udara, kendaraan lain atau bagian dari muatan kendaraan tersebut atau isi lainnya, yang berada dalam konteks arkeologis dan alam mereka; dan
(iii) Benda-benda dengan karakter prasejarah.
Sementara itu, Peraturan induk mengenai pengangkatan BMKT di Indonesia ialah Keppres No. 107 Tahun 2000. Dalam keppres ini dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan BMKT (Pasal 1, angka 1) adalah: ‘...Benda berharga adalah benda yang mempunyai nilai sejarah, budaya, ekonomi dan lainnya’. Tujuh tahun kemudian, keppres tersebut direvisi menjadi Keppres No. 19 Tahun 2007. Dalam keppres tersebut definisi BMKT pun mengalami perubahan menjadi sebagai berikut (Pasal 1 angka 1): ‘
Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam, yang selanjutnya disebut BMKT, adalah benda berharga yang memiliki nilai sejarah, budaya, ilmu pengetahuan, dan ekonomi yang tenggelam di wilayah perairan Indonesia, zona ekonomi eksklusif Indonesia dan landas kontinen Indonesia, paling singkat berumur 50 (lima puluh) tahun.
Kemudian pada pasal 2 dinyatakan bahwa status BMKT merupakan milik negara.
a. nilainya sangat penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayan bangsa Indonesia;
b. sifatnya memberikan corak khas dan unik; c. jumlah dan jenisnya sangat terbatas dan langka;
berdasarkan peraturan perundang-undangan di bidang benda cagar budaya, dinyatakan menjadi milik negara.
Pada dasarnya, sesuai dengan UU Cagar Budaya, penentuan status “cagar budaya” pada suatu warisan budaya haruslah melalui suatu proses penetapan. Proses penetapan ini kemudian dirinci dalam empat pasal pada Bab VI, Bagian Ketiga UU Cagar Budaya. Meskipun suatu cagar budaya, dalam hal ini benda cagar budaya, belum memiliki surat ketetapan sebagai “benda cagar budaya”, namun memiliki keharusan untuk tetap diperlakukan sebagai benda cagar budaya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, dalam Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pelestarian Cagar Budayaa disebutkan adanya
pengertian mengenai Objek yang Diduga Cagar Budaya, pada Pasal 1, angka 7 disebutkan:
‘...Objek yang Diduga Cagar Budaya adalah objek yang diduga memenuhi kriteria sebagai Cagar Budaya.’ Kemudian dalam dokumen RPP itu, Objek yang Diduga Cagar Budaya bersinonim/ disetarakan dengan Cagar Budaya.
Pada RPP tersebut, Objek yang Diduga Cagar Budaya dilindungi oleh pemerintah. Sebagaimana yang tercantum pada Pasal 79 ayat (1): ‘...Pemerintah, Pemerintah Daerah, Setiap Orang, dan/atau Masyarakat Hukum Adat berperan aktif melindungi Cagar Budaya dan/atau Objek yang Diduga Cagar Budaya yang dimiliki dan/atau dikuasainya.’ Dengan demikian, pemerintah mempunyai hak dan kewajiban untuk mengelola BMKT, meskipun sumber daya arkeologi tersebut secara legal formal belum ditetapkan sebagai benda cagar budaya.
Nilai Penting BMKT Sebagai Sumber Daya Arkeologi di Perairan Indonesia
Mengetahui nilai penting suatu warisan budaya dapat membantu untuk menentukan kebijakan dan langkah yang tepat untuk pelestarian warisan budaya. Dalam hal ini termasuk keputusan untuk melakukan perlindungan, pemugaran, pemanfaatan, dan bahkan pengembangannya. Pada dasarnya pelestarian warisan budaya adalah upaya untuk mempertahankan nilai penting yang dikandungnya agar tidak berkurang atau bahkan hilang, sehingga dapat dimanfaatkan baik di masa kini maupun masa yang akan datang.
Dalam UU Cagar Budaya Nilai penting warisan budaya dapat diperhitungkan berdasarkan kemanfaatannya bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, atau
a RPP yang digunakan dalam tulisan ini merupakan versi draft 25 September 2014. RPP ini sebagai
kebudayaan. Namun, UU tersebut tidak memberikan rincian lebih lanjut, bagaimana nilai penting ini dapat diukur untuk dapat memenuhi kriteria tadi. Bahkan pada perundangan sebelumnya (UU RI No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya) juga tidak merinci mengenai hal ini, begitu pula dalam turunan perundangannya kala itu yaitu baik PP No. 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan UU No.5/1992 tentang Benda Cagar Budaya, maupun Kepmendikbud No. 064/U/1995 tentang Penelitian dan Penetapan Benda Cagar Budaya dan/atau Situs.
Setidaknya hingga saat ini di Indonesia belum ada rumusan baku yang dipandang cukup mapan sebagai acuan model penentuan nilai penting suatu warisan budaya. Ketiadaan ketentuan baku tentang kriteria tolok ukur penetapan nilai penting dalam sumber daya arkeologi ini cenderung menimbulkan perbedaan pandangan terhadap nilai suatu objek. Salah satu upaya untuk mempermudah penentuan nilai penting sebagaimana yang ditetapkan UU Cagar Budaya telah diusulkan oleh Daud Aris Tanudirjo (2004a) yang merinci kriteria nilai penting dalam UU Cagar Budaya menjadi unsur-unsur nilai penting sumber daya budaya yang lebih terukur yaitu:
1. Nilai Penting Sejarah: apabila sumber daya budaya tersebut dapat menjadi bukti yang
berbobot dari suatu peristiwa yang terjadi pada masa lalu; berkaitan erat dengan tokoh-tokoh sejarah; atau menjadi bukti perkembangan penting dalam bidang tertentu.
2. Nilai Penting Ilmu Pengetahuan: apabila sumber daya budaya itu mempunyai potensi
untuk diteliti lebih lanjut dalam rangka menjawab masalah-masalah dalam bidang keilmuan tertentu.
3. Nilai Penting Kebudayaan: apabila sumber daya budaya tersebut dapat mewakili hasil
pencapaian budaya tertentu, mendorong proses penciptaan budaya, atau menjadi jati diri bangsa atau komunitas tertentu.
Atas dasar keterangan tersebut di atas, keberadaan situs-situs kapal yang tenggelam beserta BMKT nya dapat mengacu tiga elemen dasar yang menjadi unsur-unsur nilai penting sumber daya budaya, yaitu nilai sejarah, pengetahuan, dan kebudayaan.
Nilai Penting Sejarah
kota-kota pelabuhan/kerajaan-kerajaan pesisir pada konteks waktu yang sama. Data dari kapal karam ini dapat menjelaskan proses budaya dan perkembangan sejarah suatu tempat.
Nilai Penting Ilmu Pengetahuan
Lokasi situs kapal karam ini menjadi sebuah bukti arkeologis dari jalur pelayaran perniagaan yang ramai di Laut Jawa. Selain itu, muatan kapal berupa keramik dan non-keramik merupakan salah satu informasi awal yang dapat dipercaya mengenai perdagangan antar regional di Indonesia. Melalui data dari keramik kapal karam ini pula dapat menjadi salah satu penjelas kapan dan bagaimana keberadaan artefak keramik di berbagai situs arkeologi yang tersebar di Indonesia secara umum.
Kegiatan pengangkatan BMKT ini (dan juga setiap kegiatan serupa di situs-situs lain) dapat menjadi bahan evaluasi untuk metode dan teknik arkeologi bawah air di Indonesia. Evaluasi arkeologis tersebut di antaranya: pengidentifikasian temuan arkeologis, sistem penyelaman, teknik ekskavasi, prosedur fotografi, sistem registrasi artefak temuan, prosedur penanganan artefak temuan, dan upaya konservasi.
Nilai Penting Kebudayaan
Situs kapal karam yang hampir dipastikan berupa kapal dagang, tidak hanya ditumpangi pelaut-pedagang saja. Catatan-catatan sejarah menunjukkan bahwa para peziarah dan penyebar agama tidak jarang ikut serta menumpang kapal-kapal dagang semacam ini. Bukti konkret yang dapat menunjukkan hal ini memang tidak mudah diperoleh, namun tidak menutup kemungkinan bahwa kapal dagang ini juga membawa non-pedagang. Dalam pada itu, Islam berkembang sangat pesat di Nusantara namun tidak di Thailand dan China misalnya, karena pada konteks saat itu nusantara menjadi pusat perdagangan di kawasan Asia Tenggara.
Pengelolaan dan Penelitian BMKT
Dalam upaya memperoleh kemanfaatan BMKT dalam memperkuat jati diri Indonesia sebagai negara maritim, tentunya perlu dilakukan berbagai penelitian untuk menggali dan menginterpretasi tinggalan bawah air tersebut. Namun, penelitian mengenai kajian arkeologi bawah air di Indonesia belum banyak dilakukan. Hal ini dikarenakan belum adanya metode penelitian yang mapan. Selain itu, penelitian semacam ini merupakan kajian yang relatif baru dan belum populer di Indonesia jika dibandingkan dengan kajian arkeologi di darat (terrestrial archaeology). Judi Wahjudin (2003) dalam sebuah artikel pernah memaparkan tentang metode penelitian bawah air yang mungkin dapat diterapkan di Indonesia, namun pemaparan metode tersebut masih bersifat pengenalan dan sangat umum.
meningkatkan kajian arkeologi bawah air di Indonesia. Melalui jalur pendidikan, khususnya di Jurusan Arkeologi memiliki beberapa mata kuliah dalam kajian arkeologi bawah air seperti Arkeologi Maritim yang mengenalkan dan memberikan gambaran tentang pentingnya kajian arkeologi untuk mengungkapkan kehidupan bahari, tata cara pengkajian dalam bidang ini termasuk penanganan dan interpretasi data arkeologi bawah air, serta contoh-contoh rekonstruksi kehidupan bahari di Indonesia sejak masa prasejarah hingga kini. Selain itu, terdapat mata kuliah Keramologi yang memberikan pengetahuan mengenai pentingnya studi keramik dalam arkeologi Indonesia dan memberikan keterampilan identifikasi keramik dari situs-situs di Indonesia termasuk situs bawah air.
Pelaksanaan kurikulum tersebut difasilitasi dengan sarana yang mendukung dan mendorong mahasiswa untuk mengkaji bidang arkeologi bawah air. Saat ini jurusan Arkeologi FIB UGM memiliki peralatan selam sejumlah 10 set perlengkapan SCUBA (self-contained underwater breathing apparatus) termasuk di dalamnya tabung oksigen,
divecomp, dan dua buah kompresor tabung. Peralatan ini dimanfaatkan oleh mahasiswa
arkeologi yang diorganisir oleh himpunan mahasiswa jurusan. Tidak kurang dari 40 orang mahasiswa sejak tahun 2004 berkegiatan di bidang ini. Secara rutin mereka melakukan latihan dan kajian teori-metodologi dan melakukan sertifikasi untuk keterampilan penyelaman.
Untuk melengkapi pelaksanaan pendidikan dalam kajian arkeologi bawah air tersebut, dalam beberapa tahun ini jurusan Arkeologi telah mengundang beberapa pakar kajian arkeologi bawah air dan arkeologi maritim untuk memberikan kuliah umum atau kuliah berseri seperti Prof. Dr. Mark Staninfoth, Dr. John N. Miksic, dan Alejandro Mirabal, M.Sc. hal ini dilakukan dalam rangka dialog ilmiah dengan perkembangan keilmuan arkeologi maritim di dunia internasional.
Belum banyak penelitian terhadap artefak temuan BMKT pernah dilakukan oleh sivitas akademika UGM, beberapa di antaranya adalah penelitian terhadap artefak wadah berbahan kaca hasil pengangkatan BMKT di Cirebon (Setiawan, 2009). Penelitian mengenai kapal karam di Situs USAT Liberty, Tulamben, Bali dikaji melalui pemodelan wisata
shipwreck dan kajian pembentukan data arkeoginya dilakukan oleh Shinatria Adhityatama
Sementara itu di bidang pengabdian kepada masyarakat, untuk kajian bak arkeologi bawah air maupun arkeologi maritim masih kurang dilakukan. pihak kampus belum terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosialisasi mengenai BMKT dan sumber daya arkeologi maritim pada umumnya. Pada kesempatan beberapa waktu yang lalu Fakultas Ilmu Budaya UGM mengusung tema kebudayaan maritim dalam acara pameran terbuka kampus UGM di Gadjah Mada Expo. Pada kesempatan itu, dikenalkan pula khasanah kebudayaan maritim beserta tinggalan materinya, termasuk di dalamnya kajian arkeologi bawah air.
Perguruan tinggi dalam hal ini melalui tugas tridharma nya berkomitmen untuk terus berperan sebagai wadah untuk melakukan edukasi dan mempersiapkan arkeolog yang memiliki wawasan, keterampilan, dan kompetensi di bidang kemaritiman dan kajian bawah air.
Strategi Pengelolaan dan Pemanfaatan BMKT
Pada hakikatnya, tujuan pengelolaan BMKT adalah pelestarian warisan budaya dengan mempertahankan nilai penting sumber daya arkeologi, agar tidak hilang ataupun berkurang. Muatan yang hendak diwariskan pada generasi sekarang dan yang akan datang adalah nilai-nilai yang terkandung di dalam sumber daya arkeologi. Tanpa adanya wujud fisik sumber daya arkeologi, maka proses transformasi tersebut akan sulit dilakukan.
Sementara itu, kegiatan pengelolaan tinggalan arkeologi dalam hal konsep pelestarian dan pengelolaannya memiliki tiga hal model pemanfaatan (Cleere, 1989: 5--10) yaitu: pertama nilai ideologis, untuk memantapkan identitas budaya (termasuk di dalamnya aspek kesejarahan) suatu kelompok masyarakat, kedua nilai akademis yang berkaitan dengan aspek keilmuan dan penelitian, ketiga nilai ekonomi yang berhubungan dengan kemanfaatan, kepentingan pariwisata, dan kemampuan atau kemungkinannya untuk mendapatkan keuntungan. Satu hal yang sangat penting dalam keseluruhan sistem pengelolaan sumber daya arkeologi adalah bentuk pemanfaatan yang harus berwawasan pelestarian. Konsep ini digunakan untuk melindungi dan mengatur upaya-upaya pelestarian sumber daya budaya dan nilai-nilai yang dikandungnya, sehingga dapat berbanding lurus dengan perolehan kualitas baik nilai ideologis maupun nilai ekonomisnya.
Dalam mengelola sumber daya arkeologi, strategi yang terbaik adalah melakukan suatu pengembangan yang dilakukan bukan untuk kepentingan sesaat, tetapi lebih pada bagaimana pengelolaan tersebut dapat berjalan secara terus menerus dengan tetap memperhatikan pelestarian sumber daya tersebut. Adapun strategi pengelolaan terhadap kegiatan pengangkatan dan pemanfaatan BMKT tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut:
pengangkatan yang tidak dilakukan tindakan proses konservasi yang memadai dalam waktu yang cukup lama, akan mengalami perubahan baik kuantitas maupun kualitasnya.
Kedua, memastikan ketersediaan payung hukum yang dapat melindungi sumber daya arkeologi tersebut. Ketersediaan regulasi yang ada idealnya tidak saling bertentangan satu sama lain. Regulasi mengenai pemanfaatan BMKT dalam bentuk penjualan untuk kepentingan negara hingga saat ini masih menjadi bahan diskusi. Terdapat dua pihak aturan hukum yang memiliki fokus yang berbeda tentang pengelolaan warisan budaya bawah air ini terutama mengenai pemanfaatannya. UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya memiliki paradigma perlindungan dan pengembangan. Sementara di pihak lain terdapat Keppres No.19 Tahun 2007 dengan paradigma pemanfaatan ekonomi.
Ketiga, preservasi perlu dilakukan agar BMKT hasil pengangkatan sebagai sumber daya arkeologi dapat bertahan lebih lama. Walaupun sifat dari artefak berupa keramik memiliki daya tahan terhadap keausan yang tinggi, namun perubahan lingkungan tempat artefak tersebut dari lingkungan pengendapan bawah laut selama ribuan tahun ke lingkungan darat dengan udara terbuka tentunya akan membawa dampak. Kegiatan preservasi ini wajib dilakukan oleh pihak perusahaan pemegang izin pengangkatan bersama-sama PANNAS BMKT berdasarkan pedoman yang telah dikeluarkan oleh Direktorat Peninggalan Bawah Airb. Konstribusi dari kegiatan preservasi yang memadai ini
akan memberikan hasil yang positif dalam mempertahankan nilai penting dari BMKT tersebut. Hal ini akan memberikan manfaat baik untuk ilmu pengetahuan maupun kepentingan ekonomisnya.
Keempat, pendokumentasian sumber daya arkeologi secara terperinci perlu dilakukan lagi sehingga data tersebut dapat digunakan untuk preservasi di masa depan. Hal ini juga untuk menjamin transparansi mengenai pengelolaan BMKT hasil pengangkatan tersebut. Sampai saat ini, BMKT masih dipandang sebagai barang berharga yang memiliki potensi nilai ekonomi yang sangat tinggi, maka keberadaan pengelolaannya cenderung riskan untuk mengalami penyimpangan.
Kelima, memberi kesempatan pada masyarakat untuk mengeksplorasi sumber daya arkeologi, serta memberikan tanggapan yang positif terhadap hasil interpretasi yang telah dilakukan. termasuk di sini adalah memberikan keleluasaan kepada pihak akademisi untuk mengeksplorasi dan memberikan interpretasi terhadap tinggalan tersebut. Selain itu, BMKT pasca pengangkatan yang telah berstatus Barang Milik Negara perlu dipertimbangkan adanya tempat penyimpanan/pameran yang dapat menunjukkan/menggambarkan obyek temuan secara jelas. Masyarakat umum yang nantinya sebagai pengunjung display/pameran ini diharapkan akan memperoleh manfaat
dengan melakukan wisata yang bersifat edukatif ini, yakni secara rinci mendapat gambaran tentang masa lalu obyek arkeologi bawah laut serta kegiatan pengangkatan obyek tersebut. Hal ini sejalan dengan UU No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya Pasal 85 dan Pasal 91. Pemanfaatan untuk kepentingan masyarakat ini hanya akan dapat dilaksanakan apabila setelah rangkaian pengelolaan BMKT berupa pengangkatan selesai dilakukan.
Penutup
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, sudah saatnya pihak pemerintah mengkaji ulang kemungkinan untuk meratifikasi Konvensi UNESCO Tahun 2001 tentang Perlindungan Warisan Budaya Bawah Air. Konvensi ini merupakan tanggapan UNESCO dari komunitas internasional atas penjarahan dan perusakan warisan budaya bawah air. Konvensi UNESCO Tahun 2001 menawarkan suatu standar internasional yang tinggi untuk perlindungan warisan budaya bawah air. Konvensi tersebut terdiri atas kerangka hukum yang komprehensif dan aturan perlindungan melalui upaya hukum, administratif, dan operasional yang sebaiknya diadopsi oleh Negara-Negara Pihak berdasarkan kemampuan masing-masing. Sampai dengan Januari 2012 sudah 41 negara yang telah meratifikasi dan menjadi Negara Pihak (State Party) konvensi ini (Flavis, 2012: 6).
Konvensi UNESCO Tahun 2001 tentang Perlindungan Warisan Budaya Bawah Air merupakan instrumen hukum yang penting untuk perlindungan warisan budaya bawah air. Konvensi tersebut memiliki tujuan antara lain: pertama, memastikan perlindungan universal yang dilakukan terhadap warisan budaya bawah air. Kedua, memfasilitasi kerja sama antar negara. Ketiga, menetapkan standar-standar profesional. Bagian yang penting dari konvensi ini adalah “Lampiran” (Annex) yang merupakan panduan untuk para arkeolog bawah air saat ini. Lampiran Konvensi tahun 2001 berisi 36 aturan yang memberikan skema operasional berupa rincian praktis mengenai “Berbagai Aturan dan Ketentuan mengenai berbagai kegiatan yang mengarah pada warisan budaya bawah air”.
Empat prinsip utama pada Konvensi UNESCO Tahun 2001(Nagaoka, 2010) adalah:
1. Kewajiban untuk melestarikan warisan budaya bawah air
2. Pelestarian in situ sebagai pilihan utama
3. Tidak ada eksploitasi komersial
4. Pelatihan dan berbagi informasi
Larangan terhadap aktifitas komersial tersebut di atas adalah berdagang, menjual, membeli,
dan atau barter (Maarleveld, 2013: 35). Tampaknya prinsip mengenai tidak ada eksploitasi
komersial ini lah yang menjadi hambatan pemerintah Indonesia untuk meratifikasi konvensi
ini. Selama kegiatan pengelolaan BMKT berupa pemanfaatan BMKT melalui pelelangan dan
masih diterapkan maka hal ini masih bertentangan dengan prinsip umum dari Konvensi
UNESCO Tahun 2001 ini (Pasal 2, ayat 7).
UNESCO mensyaratkan bahwa dalam meratifikasi konvensi tersebut di atas harus dilakukan perubahan paradigma dalam hal memandang tinggalan arkeologis bawah air sebagai harta karun (treasure/benda berharga) menjadi benda cagar budaya/warisan budaya (cultural heritage). Dengan demikian, semua tinggalan arkeologi bawah air dianggap dan diperlakukan sama halnya dengan cagar budaya yang berada di darat. Indonesia saat ini dipandang perlu untuk mempertimbangkan ratifikasi konvensi UNESCO tersebut. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Masanori Nagaoka (2010) mengenai keadaan terkini terkait warisan budaya bawah air di Indonesia:
1. Data mengenai keberadaan bangkai kapal dan benda berharga di dalamnya masih
belum akurat;
2. Terbatasnya kapasitas dalam pengawasan dan pengendalian BMKT, dan terbatasnya
kualitas dan kuantitas sumber daya manusia dibandingkan dengan luas wilayah laut Indonesia;
3. Situs bangkai kapal di wilayah perairan dangkal umumnya telah rusak dan dijarah;
4. Fasilitas dan infrastruktur pendukung survei, pengangkatan, dan penanganan
pasca-pengangkatan yang belum memadai;
5. Ketiadaan museum maritim untuk mengakomodir berbagai warisan maritim termasuk
BMKT.
Daftar Pustaka
Adhityatama, Shinaria. 2012. Pemodelan Jalur Aktivitas Penyelaman di Situs USAT LIBERTY, Tulamben, Bali: Studi Pengelolaan Sumber Daya Arkeologi. Skripsi Sarjana. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya UGM.
Cleere, Henry F. 1989. "Introduction: The Rationale of Archaeological Management". dalam Archaeological Heritage Management in the Modern World. Ed. Henry F. Cleere. London: Unwin-Hyman. Hlm. 1--19.
Drajad, Hari Untoro. 2002. Penelitian dan Penyelamatan Sumberdaya Laut. Makalah dipresentasikan pada Seminar Eksplorasi Sumberdaya Budaya Maritim Indonesia. 6 Juni. Jakarta.
Favis, Ricardo L. 2012. “Unit 1: The 2001 Convention on the Protection of the Underwater Cultural Heritage”. dalam Training Manual for the UNESCO Foundation Course on the Protection and Management of Underwater Cultural Heritage in Asia and the Pacific. Ed. Martijn R. Manders dan Christopher I. Underwood. Bangkok: UNESCO Bangkok.
Helmi, Surya. 2010. Kebijakan Pemerintah Dalam Pengelolaan Warisan Budaya Bawah Air di Indonesia. Makalah dipresentasikan pada Seminar dan Pameran Warisan Budaya
Bawah Air dengan tema ‘Warisan Budaya Bawah Air, Apakah Harus Dilelang?’. 4
Agustus. Jakarta.
Indonesia Miliki 500 Situs Bawah Air. (2010, 20 April). Kompas, Hlm. 12.
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 107 Tahun 2000 Tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam.
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam.
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2007 Tentang Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam.
Kurniawan, Jujun. 2014 Evaluasi Pengelolaan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam di Jepara. Tesis. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.
Maarleveld, Thijs, Ulrike Guerin, Barbara Egger (Eds.). 2013. Manual for Activities Directed at Underwater Cultural Heritage: Guideline to the Annex of the UNESCO 2001 Convention. Paris: UNESCO Paris.
Mulyadi, Yadi. 2009. Penerapan Community Development Dalam Pengelolaan Tinggalan Arkeologi Bawah Air. Tesis. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.
Budaya Bawah Air dengan tema ‘Warisan Budaya Bawah Air, Apakah Harus Dilelang?’. 4 Agustus. Jakarta.
Pratama, Henki Riko. 2012. Proses Pembentukan Data Arkeologi Bawah Air (Studi Kasus Bangkai Kapal Liberty di Tulamben, Bali). Skripsi Sarjana. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya UGM.
Rancangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tentang Pelestarian Cagar Budaya, Draft 25 September 2015
Rochmani, Koos Siti. 2003. Perlindungan Benda Cagar Budaya Bawah Air di Indonesia. Buletin Cagar Budaya 3: 14--15.
Setiawan, Niko Roni. 2009. Artefak Wadah Berbahan Kaca Temuan BMKT Cirebon, Analisis Bentuk dan Komposisi Unsur Kimia. Skripsi Sarjana. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya UGM.
Tanudirjo, Daud Aris. 2004a. Penetapan Nilai Penting Dalam Pengelolaan Benda Cagar Budaya. Makalah dipresentasikan pada Rapat Penyusunan Standardisasi Kriteria (Pembobotan) Bangunan Benda Cagar Budaya. 26–28 Mei. Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.
UNESCO. 2001. Convention on the Protection of the Underwater Cultural Heritage.