Studi Deskriptif Kehidupan Anak Pengumpul Koin Di Kawasan
Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten Ditinjau Dari Segi
Ekonomi, Psikologi, Sosiologi, Kebudayaan dan Hukum
Diajukan Untuk Mengikuti Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) 2009
Disusun Oleh:
Boni Andika (NIS. 07081006)
Megawati Cahyani (NIS. 07081014)
Regina Ivanovna (NIS. 07081017)
DINAS PENDIDIKAN PROVINSI BANTEN SMAN Cahaya Madani Banten Boarding School
Jl. Raya Pandeglang-Labuan KM.3 Kuranten, Pandeglang-Banten PO BOX 61/Pandeglang 42201. Telp. (0253) 5210114
i LEMBAR PENGESAHAN
Judul Karya Tulis : Studi Deskriptif Kehidupan Anak Pengumpul Koin Di Kawasan Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten Ditinjau Dari Segi Ekonomi, Psikologi, Sosiologi, Kebudayaan dan Hukum
Penulis : 1. Boni Andika NIS. 07081006 2. Megawati Cahyani
NIS. 07081014 3. Regina Ivanovna
NIS. 07081017
Karya tulis ini diajukan untuk mengikuti Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) 2009 yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Nasional.
Karya tulis ini telah diperiksa dan disetujui Pandeglang, 29 Juni 2009
Kepala Sekolah, Pembimbing,
Drs. H. Adin Wahyuddin, M.Pd Jejen Z.A., M.Pd
ii ABSTRAKSI
‘Anak pengumpul koin’ is a community that formed because of the poverty. Risks that faced by ‘anak pengumpul koin’ are the main reason in doing a research about life and their motivation in doing this harm activity. Based on
the research by the writer about the living of ‘anak pengumpul koin’ in Merak
Harbor from economic, psychologist, sociologist, culture, and la w site, shows a
variety of facts and informations about the living of’anak pengumpul koin’ up till now. Beside that, ‘anak pengumpul koin’ ha s a good opinion from the police force because they always help the police in solving the cases that related with harbor
waters. Because of that, need a cooperation of all walks of life for handling ‘anak
pengumpul koin’ as the social community that needs attention and protection.
Keyword: ‘Anak Pengumpul Koin’, Merak Harbor.
Anak pengumpul koin merupakan sebuah komunitas yang terbentuk akibat sulitnya biaya ekonomi. Resiko-resiko yang dialami oleh anak pengumpul koin merupakan alasan utama perlunya dilakukan sebuah penelitian mengenai kehidupan dan motivasi mereka melakukan aktivitas berbahaya semacam ini. Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis terhadap kehidupan anak pengumpul koin di Kawasan Pelabuhan Merak ditinjau dari sisi ekonomi, psikologi, sosiologi, kebudayaan, dan hukum, ditemukan berbagai fakta-fakta serta informasi-informasi mengenai kehidupan anak pengumpul koin selama ini. Di samping itu, anak pengumpul koin mendapatkan pandangan baik dari pihak kepolisian dikarenakan mereka sering membantu polisi dalam menyelesaikan kasus-kasus yang berhubungan dengan perairan pelabuhan. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu kerjasama antara semua lapisan masyarakat guna memberdayakan keberadaan anak pengumpul koin sebagai suatu komunitas sosial yang perlu diperhatikan dan dilindungi.
iii KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan Rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua selaku hamba-Nya. Alhamdulillah kami selaku
Penulis dapat menyusun tugas Karya Ilmiah yang berjudul “Studi Deskriptif Kehidupan Anak Pengumpul Koin Di Kawasan Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten Ditinjau Dari Segi Ekonomi, Psikologi, Sosiologi, Kebudayaan dan Hukum” dapat diselesaikan sebagaimana mestinya.
Beribu-ribu rasa terima kasih kami ucapkan kepada seluruh pihak yang telah mendukung pembuatan makalah ini, kepada :
1. Bapak Drs. H. Adin Wahyuddin, M.Pd selaku Kepala Sekolah SMA Negeri Cahaya Madani Banten Boarding School.
2. Bapak Jejen Z.A., M.Pd selaku Pembimbing.
3. Rekan–rekan yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu.
Penulis dengan bangga bisa mempersembahkan karya ilmiah ini, meskipun masih banyak kekurangan-kekurangan yang dijumpai di dalamnya. Tidak ada yang maha sempurna selain dia yang Maha Kuasa Allah SWT. Seperti kata pepatah “ Tidak Ada Gading Yang Tak Retak “, maka kami selaku penulis meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak pembaca. Selain itu, penulis mengharapkan kritikan dan saran yang sekiranya dapat membangun agar apa yang telah kami lakukan dapat menjadi lebih baik. Semoga dengan adanya karya ilmiah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
iv
1.2 Identifikasi Masalah………. 2
1.3 Fokus Masalah……….. 2
1.4 Tujuan Penelitian……….. 3
1.5 Manfaat Penelitian……… 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA………. 5
2.1 Ekonomi Anak Pengumpul Koin………. 5
2.2 Psikologi Anak Pengumpul Koin………. 7
2.3 Sosiologi Anak Pengumpul Koin………. 8
2.4 Kebudayaan Anak Pengumpul Koin……… 9
2.5 Hukum Anak Pengumpul Koin……… 9
BAB III METODOLOGI PENELITIAN………. 11
3.1 Desain Riset………. 11
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian……….. 12
3.3 Metode Penelitian………. 12
3.4 Populasi………. 12
3.5 Sampel……….. 13
3.6 Instrumen Penelitian………. 13
3.7 Pengumpulan Data……… 13
3.8 Pengolahan Data……… 14
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN………. 15
4.1 Hasil Penelitian………. 15
v
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………... 40
5.1 Kesimpulan……… 40
5.2 Saran……….. 40
DAFTAR PUSTAKA……… 42
vi DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Sudah berapa lama adik mengumpulkan koin dengan cara
menceburkan diri ke dasar laut ?”
15
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Berapa pendapatan (rupiah) yang dapat adik kumpulkan setiap
harinya?”
16
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Mulai
pukul berapa adik mengumpulkan koin ?”
16
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apa pekerjaan ayah adik ?”
17
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan :
”Apa pekerjaan ibu adik ?”
18
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apa
aktivitas adik sebelum mengumpulkan koin ?”
18
Tabel 7. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah
adik mengenyam pendidikan ?”
19
Tabel 8. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apa
tujuan adik mengumpulkan koin ?”
19
Tabel 9. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan :
”Digunakan untuk apa pendapatan yang adik peroleh ?”
20
Tabel 10. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah Adik pernah mendapatkan pelatihan pengembangan
kreativitas dari pemerintah ?”
21
Tabel 11. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah Adik pernah mendapatkan bimbingan kreativitas dari
pemerintah ?”
vii Tabel 12. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah
Adik pernah mendapatkan bantuan berupa santunan dari
pemerintah ?”
22
Tabel 13. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apa perlakuan pengunjung terhadap adik ?”
22
Tabel 14. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Menurut adik menjadi pengumpul koin termasuk dalam kategori
apa?”
23
Tabel 15. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Dari mana Adik mengenal dan mempelajari cara mengumpulkan
koin ?”
23
Tabel 16. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Menurut adik berapa tingkat bahaya mengumpulkan koin dengan cara seperti ini?”
24
Tabel 17. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah adik pernah dilarang oleh orang tua ?”
25
Tabel 18. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah
adik pernah dilarang oleh pengawas pelabuhan ?”
25
Tabel 19. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah
adik pernah merasa bosan dengan aktivitas ini ?”
26
Tabel 20. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah
adik pernah memiliki niat untuk beralih aktivitas ?”
26
Tabel 21. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah yang adik rasakan setelah mendapatkan uang dari hasil
menyelam ?”
27
Tabel 22. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Menurut adik apakah mengumpulkan koin layak dijadikan suatu
tradisi ?”
27
Tabel 23. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah adik pernah mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari preman atau teman lain yang lebih besar ?”
viii Tabel 24. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah
Adik pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan
berupa pukulan ?”
28
Tabel 25. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah Adik pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan
berupa pemalakan ?”
29
Tabel 26. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah Adik pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan
berupa tindakan asusila ?”
29
Tabel 27. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah Adik pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan berupa pengeroyokan?”
30
Tabel 28. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah
adik mengharapkan perlindungan dari orang lain ?”
30
Tabel 29. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Menurut Adik apakah Adik sangat membutuhkan perlindungan
fisik?”
31
Tabel 30. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Menurut Adik apakah Adik sangat membutuhkan bantuan di bidang
pendidikan ?”
32
Tabel 31. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Menurut Adik apakah Adik sangat membutuhkan bantuan di bidang
material atau keuangan ?”
32
Tabel 32. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah adik pernah keram saat mengumpulkan koin ?”
33
Tabel 33. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah adik pernah terluka dan menderita iritasi mata akibat
mengumpulkan koin ?”
ix Tabel 34. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah
Adik mengetahui adanya bantuan pemerintah untuk biaya
sekolah ?”
34
Tabel 35. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah Adik mengharapkan pemerintah menjadikan atraksi
mengumpulkan koin sebagai pertunjukan wisata ?”
34
1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
2 1.2 Identifikasi Masalah
Masalah umum yang diangkat dalam karya tulis ini adalah: 1. Bagaimana kemiskinan anak pengumpul koin?
2. Bagaimana dampak kemiskinan terhadap perilaku serta mental masyarakat umum?
3. Bagaimana upaya pemerintah dalam mengatasi masalah kemiskinan? 4. Mengapa terdapat keberanian dalam diri komunitas anak pengumpul koin? 5. Bagaimana aktivitas anak pengumpul koin sehari-hari?
6. Bagaimana kehidupan sosial dan budaya anak pengumpul koin?
7. Bagaimana posisi anak pengumpul koin dikalangan masyarakat umum dan pelabuhan?
8. Bagaimana peran anak pengumpul koin di dunia pendidikan? 9. Bagaimana kehidupan ekonomi anak pengumpul koin?
10.Bagaimana kesulitan yang dijalani oleh anak pengumpul koin? 11.Bagaimana harapan dan cita-cita anak pengumpul koin?
12.Seberapa besar perhatian yang diharapkan anak pengumpul koin dari masyarakat luas?
1.3 Fokus Masalah
Masalah-masalah yang dibahas oleh penulis dalam karya tulis ilmiah ini antara lain sebagai berikut:
1. Bagaimana kehidupan anak pengumpul koin?
2. Bagaimana motif yang mendorong anak pengumpul koin untuk menceburkan diri ke laut?
3. Bagaimana dampak kegiatan mengumpulkan koin terhadap pendidikan dan masa depan anak pengumpul koin?
4. Bagaimana upaya serta kebijakan yang telah dilakukan pemerintah dalam penanganan masalah anak pengumpul koin?
3 6. Bagaimana pendapat pihak Pelabuhan Merak dan kepolisian sekitar
mengenai aktivitas anak pengumpul koin?
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan penulis mengadakan penelitian mengenai anak pengumpul koin adalah sebagai berikut:
1. Mendeskripsikan kehidupan anak-anak pengumpul koin.
2. Menemukan motif dan tujuan anak-anak pengumpul koin dalam mengumpulkan koin.
3. Mendeskripsikan pandangan serta tanggapan warga sekitar, pengunjung pelabuhan, pihak pelabuhan, pendapat ahli, dan orang tua anak pengumpul koin terhadap kegiatan mengumpulkan koin.
4. Memberikan analisis tentang kehidupan dan permasalahan yang dihadapi anak pengumpul koin untuk mempermudah pihak berwenang merumuskan langkah-langkah dalam menghadapi masalah anak pengumpul koin.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini memberikan manfaat dan kontribusi terhadap beberapa pihak yang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan anak pengumpul koin. Manfaat utama yang bisa diambil dari penelitian ini yaitu dapat bermanfaat bagi penerapan teori dalam ilmu sosiologi, ekonomi, psikologi, kebudayaan, dan hukum. Di samping itu, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tolak ukur partisipasi organisasi-organisasi nonprofit yang bergerak dalam bidang kemiskinan dan anak-anak. Di samping itu, manfaat yang secara langsung maupun tidak langsung diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui bagaimana kehidupan anak pengumpul koin.
2. Mengetahui faktor-faktor pendorong anak pengumpul koin untuk mengumpulkan koin di laut.
4 4. Mengetahui peran serta dan tanggapan masyarakat sekitar serta pihak Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten terhadap aktivitas anak pengumpul koin.
5. Mengetahui bagaimana reaksi pihak Pelabuhan Merak dan kepolisian setempat terhadap kegiatan yang dilakukan oleh anak pengumpul koin. 6. Mempermudah pihak berwenang dalam menentukan langkah kebijakan ke
depan.
5 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ekonomi Anak Pengumpul Koin
Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk
memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Menurut Emil Salim dalam buku ”Ilmu Sosial Dasar” karangan Munandar Soelaeman (1989:174), dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh, dan lain sebagainya. Garis kemiskinan, yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan, posisi manusia dalam lingkungan sekitar, dan kebutuhan objektif manusia untuk dapat hidup secara manusiawi. Bappenas (2004) mendefinisikan kemiskinan sebagai kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Selain itu, Bappenas juga mengungkapkan beberapa hal yang menjadi indikator utama kemiskinan, antara lain sebagai berikut:
1. Terbatasnya kecukupan dan mutu pangan, dilihat dari stok pangan yang terbatas, rendahnya asupan kalori penduduk miskin dan buruknya status gizi bayi, anak balita dan ibu;
6 3. Terbatasnya akses dan rendahnya mutu layanan pendidikan yang disebabkan oleh kesenjangan biaya pendidikan, fasilitas pendidikan yang terbatas, biaya pendidikan yang mahal, kesempatan memperoleh pendidikan yang terbatas, tingginya beban biaya pendidikan baik biaya langsung maupun tidak langsung;
4. Terbatasnya kesempatan kerja dan berusaha, lemahnya perlindungan terhadap aset usaha, dan perbedaan upah serta lemahnya perlindungan kerja terutama bagi pekerja anak dan pekerja perempuan seperti buruh migran perempuan dan pembantu rumah tangga;
5. Terbatasnya akses layanan perumahan dan sanitasi. Masyarakat miskin yang tinggal di kawasan nelayan, pinggiran hutan, dan pertanian lahan kering kesulitan memperoleh perumahan dan lingkungan pemukiman yang sehat dan layak;
6. Terbatasnya akses terhadap air bersih. Kesulitan untuk mendapatkan air bersih terutama disebabkan oleh terbatasnya penguasaan sumber air dan menurunnya mutu sumber air;
7. Lemahnya kepastian kepemilikan dan penguasaan tanah. Masyarakat miskin menghadapi masalah ketimpangan struktur penguasaan dan pemilikan tanah, serta ketidakpastian dalam penguasaan dan pemilikan lahan pertanian;
8. Memburuknya kondisi lingkungan hidup dan sumber daya alam, serta terbatasnya akses masyarakat terhadap sumber daya alam. Masyarakat miskin yang tinggal di daerah pedesaan, kawasan pesisir, daerah pertambangan dan daerah pinggiran hutan sangat tergantung pada sumber daya alam sebagai sumber penghasilan;
9. Lemahnya jaminan rasa aman;
7 11.Besarnya beban kependudukan yang disebabkan oleh besarnya tanggungan
keluarga dan adanya tekanan hidup yang mendorong terjadinya migrasi. Kemiskinan menjadi suatu kebudayaan (culture of poverty) atau suatu subkultur yang mempunyai struktur dan way of life yang telah menjadi turun-temurun melalui jalur keluarga.
Hal ini pula yang terjadi pada anak pengumpul koin. Profesi pengumpul koin mereka kenal dari orang tua atau teman sepermainan. Disebabkan faktor-faktor penyebab kemiskinan tersebut, dan beberapa desakan ekonomi lainnya, mereka berani menceburkan diri ke laut hanya untuk memperoleh uang demi memenuhi kebutuhan hidup.
2.2 Psikologi Anak Pengumpul Koin
Konsep diri merupakan tema utama Psikologi Humanistik yang muncul
belakangan ini. William D. Brooks dalam bukunya ”Speech Communication”
(1974:40) berpendapat, ”those physical, social, and psychological perceptions of ourselves that we have derived from experiences and our interaction with others”.
Jadi, konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologi, sosial, dan fisis. Anita Taylor et al. Dalam
”Communicating” (1977:98) mendefinisikan konsep diri sebagai ”all you think and feel about you, the entire complex of beliefs and attitudes you hold about
yourself”. Jadi, konsep diri adalah semua yang kita pikirkan dan kita rasakan
tentang diri kita serta semua kepercayaan dan sikap yang kita pegang pada diri kita. Orang lain merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi konsep diri. Tidak semua orang lain memberikan pengaruh yang sama pada diri kita. Ada yang paling berpengaruh, yaitu orang-orang yang paling dekat dengan kita. George
Herbert Mead dalam buku ”Psikologi Komunikasi” karangan Jalaluddin Rakhmat
(2004:101), menyebut mereka Significant Others atau orang yang paling penting. Ketika kita masih kecil, mereka adalah orang tua kita, saudara-saudara kita, dan orang yang tinggal satu rumah dengan kita. Richard Dewey dan W.J. Humber
dalam buku mereka ”An Introduction to Social Phsychology” (1966:105)
8 mempunyai ikatan emosional. Dari merekalah secara perlahan-lahan kita membentuk konsep diri kita. Dalam perkembangan, Significant Others meliputi semua orang yang mempengaruhi perilaku, pikiran, dan perasaan kita. Mereka mengarahkan tindakan kita, membentuk pikiran kita dan menyentuh kita secara emosional. Orang-orang ini boleh jadi masih hidup atau sudah meninggal.
Disebabkan oleh Significant Others tersebut, yang dimaksud di sini adalah keluarga dan orang tua, otak serta pikiran anak pengumpul koin terprogram dengan sendirinya. Kemiskinan serta tindakan orang tua yang mungkin dulu adalah seorang pengumpul koin, atau lingkungan dekat mereka yang sudah memiliki kebudayaan berpenghasilan sebagai seorang pengumpul koin membuat mereka berani untuk mengikuti dan berprofesi sebagai anak pengumpul koin dengan resiko-resiko yang tidak mereka hiraukan lagi.
2.3 Sosiologi Anak Pengumpul Koin
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sosialisasi berarti suatu proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di lingkungannya. Sosialisasi erat kaitannya dengan pembentukan kepribadian. Orang yang salah dalam bersosialisasi akan menciptakan sebuah
kepribadian yang salah pula. Menurut Roucek dan Warren dalam buku ”Sosiologi 1 SMA” karangan Taufiq Rohman Dhohiri, dkk (2005:108) mengatakan faktor sosiologi atau lingkungan merupakan salah satu faktor dalam pembentukan kepribadian. Faktor sosiologi atau lingkungan mengandung pengertian sebagai faktor yang membentuk kepribadian seorang menjadi sesuai dengan perilaku atau kepribadian kelompok atau lingkungan masyarakatnya.
anak-9 anak yang menjadi seorang pengumpul koin. Hal ini merupakan bentuk sosialisasi anak pengumpul koin.
2.4 Kebudayaan Anak Pengumpul Koin
Koentjaraningrat dalam bukunya yang berjudul ”Kebudayaan Mentalitas
dan Pembangunan” (1990:5), berpendapat bahwa kebudayaan mempunyai tiga
wujud, yaitu:
1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya;
2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat;
3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Wujud kedua dari kebudayaan menurut koentjaraningrat sering disebut sebagai sistem sosial, mengenai kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial (social system) ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan lain, yang dari detik ke detik, dari hari ke hari, dan dari tahun ke tahun, selalu mengikuti pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat, maka sistem sosial itu bersifat konkret, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasi. Wujud kebudayaan semacam inilah yang terjadi pada anak pengumpul koin. Kebudayaan terbentuk dari interaksi-interaksi dan relasi-relasi yang telah mereka lakukan sejak bertahun-tahun sehingga terbentuk suatu sistem sosial dan sebuah kebudayaan tersendiri di antara mereka.
2.5 Hukum Anak Pengumpul Koin
10 penggunaan kekerasan fisik oleh pihak yang memiliki hak yang diakui secara sosial untuk bertindak. Definisi tersebut dapat diterapkan pada semua jenis masyarakat yang modern atau kompleks, maupun masyarakat yang sederhana tetapi baru setelah terdapat perkembangan dalam sistem hukum pada negara-negara yang relatif sudah maju, maka hukum diakui sebagai manifestasi keadilan, dan timbullah garis yurisprudensi. Bangsa pertama yang mengembangkan ilmu hukum adalah Bangsa Romawi yang dibutuhkan untuk mengonsolidasikan daerah kekuasaannya. Anak pengumpul koin juga memiliki status yang sama di mata hukum Indonesia. Anak pengumpul koin mempunyai dua peran dalam dunia hukum, yaitu sebagai orang yang patut mendapat perlindungan hukum dan sebagai pelanggar hukum. Pertama sebagai orang yang patut mendapat perlindungan hukum. Anak pengumpul koin sebagian besar adalah anak-anak dengan komposisi 72 % anak-anak (6-13 tahun), 16 % remaja (14-17 tahun), dan 12 % dewasa (>17 tahun). Berdasarkan Konvensi Hak Anak PBB tahun 1989, disebutkan bahwa terdapat 4 hak anak, yaitu hak kelangsungan hidup (survival right), hak berkembang (development right), hak memperoleh perlindungan (protection right), dan hak untuk berpartisipasi dalam berbagai keputusan yang menyangkut kepentingan hidupnya. Sedangkan secara hukum Indonesia, mereka masih tergolong belum cukup umur dan masih tidak boleh bekerja, apalagi dipekerjakan dengan pekerjaan yang berbahaya semacam ini.
11 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Desain Riset
Penelitian yang dilakukan penulis merupakan penelitian yang dilakukan secara bertahap. Mulai dari awal penentuan gagasan, penelitian terhadap anak pengumpul koin, hingga penyusunan data menjadi sebuah karya tulis. Sistematika urutan penelitian yang dilakukan penulis dapat dilihat dari bagan di bawah ini.
12 3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
No. Kegiatan April 2008 Mei 2008 Juni 2008
1 Persiapan penelitian
2 Penyebaran angket dan wawancara
3 Peninjauan kepustakaan 4 Analisis data
5 Penulisan karya ilmiah
Seluruh kegiatan penelitian dilaksanakan di Kawasan Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten.
3.3 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode deskriptif. Penyelidikan deskriptif tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang. Metode deskriptif lebih menitikberatkan pada penuturan dan penafsiran data yang diperoleh dari penelitian. Ciri-ciri metode deskriptif yaitu pertama
memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah pada masa sekarang dan masalah-masalah yang bersifat aktual (actual problems) dan kedua data yang terkumpul mula-mula disusun (arranged), dijelaskan (explained) dan kemudian dianalisa (analysed). Inti penyajian data pada penelitian bermetode deskriptif adalah memaparkan, menggambarkan, dan melukiskan objek penelitian secara akurat dan jelas.
3.4 Populasi
13 3.5 Sampel
Setiap penelitian tidak mungkin menyelidiki langsung seluruh populasi dalam penelitian tersebut. Sehingga penulis menggunakan sebagian dari populasi yang diteliti, yaitu sebuah sampel yang dapat dipandang mewakili (representative) terhadap populasi anak pengumpul koin. Dalam penelitian ini, penulis mengambil 25 (dua puluh lima) anak pengumpul koin yang sedang beroperasi di kawasan Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten saat penyebaran angket dan wawancara langsung pada tanggal 13 April 2008 secara acak (random) dari populasi yang ada sebagai sampel dalam penelitian.
3.6 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang kami gunakan berupa angket, dengan pertanyaan yang merujuk kepada kehidupan anak pengumpul koin. Panduan wawancara atau angket terdapat dalam lampiran 1.
3.7 Pengumpulan Data
Setelah terbentuk sebuah gagasan untuk meneliti anak pengumpul koin, penulis mulai mencari data-data yang diperlukan dalam penyusunan karya tulis ini. Pengumpulan data dilakukan dengan dua cara, yaitu secara langsung (direct observation) dan tidak langsung (indirect observa tion). Pengumpulan data secara langsung dilakukan dengan peninjauan langsung penulis ke lokasi penelitian, yaitu Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten, yang dilakukan sejak bulan April 2008 hingga bulan Juni 2008. Pengumpulan data secara langsung dilakukan dengan cara wawancara dan penyebaran angket kepada anak pengumpul koin yang dijadikan sebagai sampel penelitian.
14 3.8 Pengolahan Data
15 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan penulis mengenai kehidupan anak pengumpul koin di Kawasan Pelabuhan Merak, diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Sudah berapa lama adik mengumpulkan koin dengan cara menceburkan diri ke dasar laut ?”
Pilihan Jawaban f %
0-1 tahun 10 40 %
1-2 tahun 4 16 %
2-3 tahun 3 12 %
3-4 tahun 4 16 %
4-5 tahun 1 4 %
Total 22 88 %
16 Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Berapa pendapatan
(rupiah) yang dapat adik kumpulkan setiap harinya ?”
Pilihan Jawaban (Rp) f %
0-2000 0 0 %
2000-4000 0 0 %
4000-7000 0 0 %
7000-10000 2 8 %
>10000 23 92 %
Total 25 100 %
Dari tabel di atas sangat terlihat bahwa 92 % anak pengumpul koin berpenghasilan lebih dari Rp. 10.000,- setiap harinya, dan sisanya 8 % berpenghasilan rata-rata Rp. 7000,- hingga Rp. 10.000,- per hari. Dan berdasarkan hasil wawancara, anak pengumpul koin mengungkapkan bahwa pendapatan mereka dapat mencapai Rp. 100.000,- per hari pada hari-hari tertentu ketika meledaknya penumpang yang menyeberang melalui Pelabuhan Merak, seperti Hari Raya Idul Fitri. Hal ini tentunya merupakan angka yang sangat menggiurkan. Hal ini pulalah yang menyebabkan profesi sebagai pengumpul koin terus digeluti.
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Mulai pukul berapa adik mengumpulkan koin ?”
Pilihan Jawaban f %
05.00-06.00 WIB 2 8 %
06.00-07.00 WIB 3 12 %
07.00-08.00 WIB 12 48 %
08.00-09.00 WIB 3 12 %
09.00-10.00 WIB 3 12 %
Total 23 92 %
17 Dari data di atas tergambar bahwa sebagian besar tepatnya 48 % anak pengumpul koin memulai kegiatan pengumpulan koin pada pukul 07.00-08.00 WIB. Selain itu didapat dua anak pengumpul koin yang mengatakan pada pukul 12.00-13.00 WIB jika hari-hari sekolah karena mereka masih bersekolah. Untuk kapan mereka berhenti mengumpulkan koin, mereka mengungkapkan pada sore hari atau jika mereka sudah merasa lelah.
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan :
”Apa pekerjaan ayah adik ?”
Pilihan Jawaban f %
Pengamen 1 4 %
Buruh 2 8 %
Nelayan 1 4 %
Pedagang 7 28 %
Pengangguran 4 16 %
Total 15 60 %
18 bersama teman-temannya, karena ia merasakan jika mengumpulkan koin merupakan kegiatan yang menyenangkan.
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan :
”Apa pekerjaan ibu adik ?”
Pilihan Jawaban f %
Ibu rumah tangga 12 48 %
Buruh 0 0 %
Pengrajin 0 0 %
Pedagang 11 44 %
Pengemis 0 0 %
Total 23 92 %
Dari data di atas terlihat bahwa sebesar 48 % ibu dari anak pengumpul koin berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Dan sebesar 44 % berprofesi sebagai pedagang. Mereka mengungkapkan bahwa ibu mereka berdagang di sekitar Kawasan Pelabuhan Merak. Di samping itu, didapat sebesar 4 % berprofesi sebagai petani dan 4 % sebagai pemulung.
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apa aktivitas adik sebelum mengumpulkan koin ?”
Pilihan Jawaban f %
Pengamen 6 24 %
Pengemis 0 0 %
Penyemir sepatu 1 4 %
Pedagang 2 8 %
Tidak bekerja 10 40 %
19 Dari hasil wawancara di atas terlihat bahwa 40 % anak pengumpul koin mengatakan bahwa mereka sebelumnya tidak bekerja. Dan 24 % bekerja sebagai pengamen, sisanya sebagai penyemir sepatu dan pedagang. Selain itu didapatkan hasil sebesar 16 % sebagai pemulung, 4 % sebagai kondektur bus, dan 4 % sebagai buruh pasar. Mereka berpendapat bahwa hasil dari mengumpulkan koin lebih memuaskan dan lebih menyenangkan daripada pekerjaan-pekerjaan mereka sebelumnya.
Tabel 7. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah adik mengenyam pendidikan ?”
Pilihan Jawaban f %
Dulu pernah 7 28 %
Putus tidak ada biaya 16 64 %
Berhenti dulu sambil mencari biaya
0 0 %
Masih sekolah 2 8 %
Tidak pernah sekolah 0 0 %
Total 25 100 %
Dari data di atas, 64 % anak pengumpul koin putus sekolah akibat tidak ada biaya. Sedangkan sisanya ada yang mengatakan pernah sekolah tetapi tidak melanjutkan sebesar 28 % dan masih bersekolah sebesar 8 %. Mereka merasa bahwa biaya sekolah saat ini sangat memberatkan. Selain itu, mereka mengatakan waktu yang digunakan untuk sekolah lebih baik jika digunakan untuk mencari uang.
Tabel 8. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apa tujuan adik mengumpulkan koin ?”
Pilihan Jawaban f %
20
Disuruh orang tua 1 4 %
Main-main 1 4 %
Ikut-ikutan 5 20 %
Disuruh bos atau penadah
0 0 %
Total 24 96 %
Tabel di atas menunjukkan bahwa 68 % anak pengumpul koin mengumpulkan koin di laut bertujuan untuk mencari uang jajan. Dan 20 % hanya ikut-ikutan saja. Sedangkan sisanya disuruh orang tua dan main-main. Di samping itu, 4 % mengatakan untuk ditabung. Mereka mengungkapkan lebih baik mencari uang jajan sendiri daripada menyulitkan orang tua. Selain itu, mereka merasa dapat lebih menghargai uang, jika uang tersebut diperoleh dari hasil keringat mereka sendiri.
Tabel 9. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Digunakan untuk apa pendapatan yang adik peroleh ?”
Pilihan Jawaban f %
Jajan 9 36 %
Diberikan kepada orang tua
9 36 %
Diserahkan kepada penadah
0 0 %
Biaya sekolah 2 8 %
Makan sehari-hari 3 12 %
Total 23 92 %
21 orang tua sebesar 36 % dan 12 % untuk makan sehari-hari. Selain itu didapat 8 % yang mengatakan untuk ditabung.
Tabel 10. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah Adik pernah mendapatkan pelatihan pengembangan kreativitas dari pemerintah ?”
Pilihan Jawaban f %
Selalu 0 0 %
Sering 0 0 %
Kadang-kadang 0 0 %
Jarang 0 0 %
Tidak pernah 25 100 %
Total 25 100 %
Dari data di atas, kita dapat melihat bahwa sebesar 100 % atau seluruh anak pengumpul koin tidak pernah mendapatkan pelatihan pengembangan kreativitas apapun dari pemerintah. Mereka mengatakan sangat mengharapkan sekali pelatihan pengembangan kreativitas dari pemerintah. Mereka takut jika skill
yang dimilikinya sekarang tidak dapat menghidupi keluarganya.
Tabel 11. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah Adik pernah mendapatkan bimbingan kreativitas dari pemerintah ?”
Pilihan Jawaban f %
Selalu 0 0
Sering 0 0
Kadang-kadang 1 4 %
Jarang 0 0 %
Tidak pernah 24 96 %
22 Dari tabel di atas, kita dapat melihat bahwa sebesar 96 % anak pengumpul koin tidak pernah mendapatkan bimbingan kreativitas apapun dari pemerintah. Dan 4 % mengatakan kadang-kadang, itu pun waktu ia masih tinggal di Jakarta. Ia mengungkapkan bimbingan yang pernah didapatnya berupa keterampilan kecakapan hidup saja, sehingga sulit sekali untuk dikembangkan.
Tabel 12. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah Adik pernah mendapatkan bantuan berupa santunan dari pemerintah ?”
Pilihan Jawaban f %
Selalu 0 0 %
Sering 1 4 %
Kadang-kadang 0 0 %
Jarang 1 4 %
Tidak pernah 23 92 %
Total 25 100 %
Dari hasil wawancara di atas terlihat bahwa 92 % anak pengumpul koin mengatakan bahwa mereka tidak pernah mendapat bantuan berupa santunan dari pemerintah. Sedangkan 4 % mengatakan sering dan 4 % mengatakan jarang. Mereka mengatakan pernah, bantuannya pun berupa bahan makanan pokok yang diambil dari kelurahan tempat mereka tinggal. Bahkan untuk mengambil bahan makanan pokok itu pun sulit. Di samping itu, mereka merasa bantuan yang didapatkannya tidak mencukupi kebutuhan.
Tabel 13. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apa perlakuan pengunjung terhadap adik ?”
Pilihan Jawaban f %
Melarang 2 8 %
Menasihati 12 48 %
23
Tak acuh 7 28 %
Memarahi 1 4 %
Total 25 100 %
Dari data di atas terlihat bahwa 48 % anak pengumpul koin mengatakan bahwa pengunjung selalu menasihati mereka agar tidak mengumpulkan koin di laut. Sedangkan 28 % tak cuh. Sisanya sebesar 8 % melarang dan 4 % memarahi. Namun, terdapat pula sebesar 12 % pengunjung yang menertawai.
Tabel 14. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Menurut adik menjadi pengumpul koin termasuk dalam kategori apa ?”
Pilihan Jawaban f %
Pekerjaan 21 84 %
Permainan 2 8 %
Trend 0 0 %
Paksaan 0 0 %
Aktivitas biasa 2 8 %
Total 25 100 %
Dari tabel di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sebesar 84 % anak pengumpul koin menganggap kegiatan mengumpulkan koin merupakan sebuah pekerjaan. Sedangkan 8 % menganggap sebagai permainan dan 8 % sebagai aktivitas biasa. Mereka menganggap dengan mengumpulkan koin inilah mereka dapat memperoleh uang.
Tabel 15. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Dari mana Adik mengenal dan mempelajari cara mengumpulkan koin ?”
Pilihan Jawaban f %
Orang tua 1 4 %
24
Teman 12 48 %
Pengawas pelabuhan 0 0 %
Otodidak 6 24 %
Total 25 100 %
Tabel di atas menunjukkan bahwa 48 % anak pengumpul koin mengetahui cara mengumpulkan koin di laut dari teman. Sedangkan 24 % dari kakak atau saudara dan 24 % secara otodidak. Sisanya 4 % dari orang tua. Hal ini menunjukkan adanya warisan kebudayaan serta interaksi sosial antara pengumpul koin yang satu dengan pengumpul koin yang lain.
Tabel 16. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Menurut adik berapa tingkat bahaya mengumpulkan koin dengan cara seperti ini ?”
Pilihan Jawaban f %
Sangat bahaya 16 64 %
Bahaya 4 16 %
Cukup bahaya 1 4 %
Kurang Bahaya 2 8 %
Tidak bahaya 2 8 %
Total 25 100 %
25 Tabel 17. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah adik pernah
dilarang oleh orang tua ?”
Pilihan Jawaban f %
Selalu 1 4 %
Sering 6 24 %
Kadang-kadang 2 8 %
Jarang 12 48 %
Tidak pernah 4 16 %
Total 25 100 %
Data di atas menunjukkan bahwa 48 % anak pengumpul koin jarang dilarang oleh orang tua mereka dalam mengumpulkan koin di laut Kawasan Pelabuhan Merak, 24 % mengaku sering, 16 % tidak pernah, 8 % kadang-kadang, dan 4 % selalu. Hal ini menunjukkan masih rendahnya perhatian orang tua terhadap keselamatan anaknya sendiri. Satu orang yang selalu dilarang oleh orang tuanya pun merupakan anak mampu yang ayahnya berprofesi sebagai polisi.
Tabel 18. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah adik pernah dilarang oleh pengawas pelabuhan ?”
Pilihan Jawaban f %
Selalu 2 8 %
Sering 6 24 %
Kadang-kadang 0 0 %
Jarang 5 20 %
Tidak pernah 12 48 %
Total 25 100 %
26 masih rendahnya ketegasan petugas Pelabuhan Merak untuk melarang aktivitas anak pengumpul koin dalam mengumpulkan koin di laut.
Tabel 19. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah adik pernah merasa bosan dengan aktivitas ini ?”
Pilihan Jawaban f %
Selalu 0 0 %
Sering 1 4 %
Kadang-kadang 5 20 %
Jarang 3 12 %
Tidak pernah 16 64 %
Total 25 100 %
Dari data di atas terlihat bahwa anak pengumpul koin cenderung tidak bosan dengan aktivitas mereka. Hal ini tergambar dari hasil wawancara bahwa 64 % anak pengumpul koin mengatakan bahwa mereka tidak pernah bosan dengan aktivitasnya. Sedangkan 20 % mengatakan kadang-kadang, 12 % mengatakan jarang. Dan sisanya 4 % mengatakan sering.
Tabel 20. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah adik pernah memiliki niat untuk beralih aktivitas ?”
Pilihan Jawaban f %
Selalu 2 8 %
Sering 10 40 %
Kadang-kadang 7 28 %
Jarang 1 4 %
Tidak pernah 5 20 %
27 Data di atas menunjukkan bahwa 40 % anak pengumpul koin sering memiliki niat untuk beralih aktivitas, 28 % kadang-kadang, 20 % tidak pernah, 8 % selalu, dan 4 % jarang. Mereka mengatakan ingin beralih pekerjaan, namun pekerjaan lain dinilai sulit bagi anak-anak seusia mereka.
Tabel 21. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah yang adik rasakan setelah mendapatkan uang dari hasil menyelam ?”
Pilihan Jawaban f %
Sangat puas sekali 4 16 %
Sangat puas 11 44 %
Puas 5 20 %
Biasa saja 5 20 %
Tidak puas 0 0 %
Total 25 100 %
Tabel di atas menunjukkan bahwa 44 % anak pengumpul koin merasa sangat puas akan uang yang didapatkannya dari hasil menyelam. Sedangkan 20 % merasa puas, 20 % merasa biasa saja, dan 16 % merasa sangat puas sekali. Mereka mengungkapkan bahwa mencari uang dengan cara mengumpulkan koin membuat mereka lebih dapat menghargai uang tersebut.
Tabel 22. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Menurut adik apakah mengumpulkan koin layak dijadikan suatu tradisi ?”
Pilihan Jawaban f %
Sangat layak 2 8 %
Layak 13 52 %
Cukup layak 2 8 %
Tidak layak 6 24 %
Sangat tidak layak 2 8 %
28 Dari data di atas terlihat bahwa 52 % anak pengumpul koin berpendapat jika aktivitas mengumpulkan koin layak dijadikan suatu tradisi. Sedangkan 24 % berpendapat tidak layak, dan sisanya 8 % berpendapat sangat layak, 8 % cukup layak, serta 8 % sangat tidak layak.
Tabel 23. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah adik pernah mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari preman atau
teman lain yang lebih besar ?”
Pilihan Jawaban f %
Selalu 0 0 %
Sering 2 8 %
Kadang-kadang 3 12 %
Jarang 1 4 %
Tidak pernah 19 76 %
Total 25 100 %
Dari tabel di atas tergambar bahwa 76 % anak pengumpul koin tidak pernah mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari preman atau teman lain yang lebih besar, 12 % menyatakan kadang-kadang, 8 % menyatakan sering, dan 4 % menyatakan jarang. Hal ini menunjukkan tingginya resiko-resiko yang harus dihadapi oleh anak pengumpul koin.
Tabel 24. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah Adik pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan berupa pukulan ?”
Pilihan Jawaban f %
Selalu 0 0 %
Sering 1 4 %
29
Jarang 3 12 %
Tidak pernah 20 80 %
Total 25 100 %
Dari tabel di atas tergambar bahwa 80 % anak pengumpul koin tidak pernah mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan berupa pukulan, 12 % menyatakan jarang, 4 % menyatakan sering, dan 4 % menyatakan kadang-kadang.
Tabel 25. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah Adik pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan berupa pemalakan ?”
Pilihan Jawaban f %
Selalu 1 4 %
Sering 2 8 %
Kadang-kadang 3 12 %
Jarang 3 12 %
Tidak pernah 16 64 %
Total 25 100 %
Dari tabel di atas tergambar bahwa 64 % anak pengumpul koin tidak pernah mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan berupa pemalakan, 12 % menyatakan kadang-kadang, 12 % menyatakan jarang, 8 % menyatakan sering, dan 4 % menyatakan selalu.
Tabel 26. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah Adik pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan berupa tindakan asusila ?”
Pilihan Jawaban f %
Selalu 0 0 %
Sering 1 4 %
Kadang-kadang 1 4 %
30
Tidak pernah 22 88 %
Total 25 100 %
Dari tabel di atas terlihat bahwa 88 % anak pengumpul koin tidak pernah mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan berupa tindakan asusila, 4 % menyatakan kadang-kadang, 12 % menyatakan jarang, 4 % menyatakan sering. Mereka yang menyatakan pernah mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan berupa tindakan asusila mengatakan jika tindakan tersebut biasanya dilakukan oleh teman-temannya yang lebih dewasa.
Tabel 27. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah Adik pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan berupa pengeroyokan ?”
Pilihan Jawaban f %
Selalu 0 0 %
Sering 1 4 %
Kadang-kadang 0 0 %
Jarang 0 0 %
Tidak pernah 24 96 %
Total 25 100 %
Data di atas menggambarkan bahwa 96 % anak pengumpul koin tidak pernah mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan berupa aksi pengeroyokan, dan 4 % menyatakan sering. Dari hasil pengamatan penulis, terdapat perbedaan karakter antara pengumpul koin yang berada di dermaga 1 dengan pengumpul koin yang berada di dermaga 2. Anak pengumpul koin di dermaga 2 cenderung bersikap anarkis terhadap orang asing.
Tabel 28. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah adik mengharapkan perlindungan dari orang lain ?”
31 mengharapkan sekali perlindungan dari orang lain, 24 % menyatakan sangat mengharapkan, 24 % menyatakan mengharapkan, dan 20 % menyatakan tidak mengharapkan. Perlindungan dari orang lain dalam hal ini khususnya pihak-pihak yang berwenang. Sedangkan mereka yang tidak mengharapkan mengungkapkan percuma saja mengharapkan perlindungan dari orang lain, karena selama ini tidak ada pihak-pihak yang memberikan perlindungan kepada mereka.
Tabel 29. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Menurut Adik apakah Adik sangat membutuhkan perlindungan fisik ?”
Pilihan Jawaban f %
32 Tabel 30. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Menurut Adik
apakah Adik sangat membutuhkan bantuan di bidang pendidikan ?”
Pilihan Jawaban f %
Sangat butuh sekali 17 68 %
Sangat butuh 3 12 %
Butuh 4 16 %
Tidak butuh 1 4 %
Sangat tidak butuh 0 0 %
Total 25 100 %
Dari tabel di atas terlihat bahwa 68 % anak pengumpul koin sangat membutuhkan sekali bantuan di bidang pendidikan, 16 % mengatakan butuh, 12 % mengatakan sangat butuh, dan 4 % mengatakan tidak butuh. 4 % pengumpul koin yang mengatakan tidak butuh merupakan mereka yang sudah berusia di atas 17 tahun.
Tabel 31. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Menurut Adik apakah Adik sangat membutuhkan bantuan di bidang material atau keuangan ?”
Pilihan Jawaban f %
Sangat butuh sekali 15 60 %
Sangat butuh 4 16 %
Butuh 3 12 %
Tidak butuh 3 12 %
Sangat tidak butuh 0 0 %
Total 25 100 %
33 Tabel 32. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah adik pernah
keram saat mengumpulkan koin ?”
Pilihan Jawaban f %
Selalu 1 4 %
Sering 12 48 %
Kadang-kadang 4 16 %
Jarang 2 8 %
Tidak pernah 6 24 %
Total 25 100 %
Dari data di atas terlihat bahwa 48 % anak pengumpul koin sering terkena keram saat mengumpulkan koin di laut, 24 % menyatakan tidak pernah, 16 % mengatakan kadang-kadang, 8 % mengungkapkan jarang, dan 4 % mengaku selalu terkena keram ketika mengumpulkan koin.
Tabel 33. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah adik pernah terluka dan menderita iritasi mata akibat mengumpulkan koin ?”
Pilihan Jawaban f %
Selalu 5 20 %
Sering 9 36 %
Kadang-kadang 1 4 %
Jarang 4 16 %
Tidak pernah 6 24 %
Total 25 100 %
34 mata yang dialami anak pengumpul koin disebabkan oleh kandungan air laut di Kawasan Pelabuhan Merak yang cukup tercemar.
Tabel 34. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah Adik mengetahui adanya bantuan pemerintah untuk biaya sekolah ?”
Pilihan Jawaban f %
Sangat tahu sekali 5 20 %
Sangat tahu 4 16 %
Tahu 6 24 %
Tidak tahu 8 32 %
Sangat tidak tahu 2 8 %
Total 25 100 %
Data di atas menggambarkan bahwa 32 % anak pengumpul koin tidak mengetahui adanya bantuan dari pemerintah untuk biaya sekolah, 24 % mengatakan tahu, 20 % mengaku sangat tahu sekali, 16 % sangat tahu, dan sisanya 8 % mengatakan sangat tidak tahu akan adanya bantuan dari pemerintah untuk biaya sekolah.
Tabel 35. Distribusi Frekuensi Responden Atas Pertanyaan : ”Apakah Adik mengharapkan pemerintah menjadikan atraksi mengumpulkan koin sebagai
pertunjukan wisata ?”
Pilihan Jawaban f %
Sangat mengharapkan sekali
6 24 %
Sangat mengharapkan 4 16 %
Mengharapkan 10 40 %
Tidak mengharapkan 5 20 %
Sangat tidak mengharapkan 0 0 %
35 Dari tabel di atas kita dapat mengetahui bahwa 40 % anak pengumpul koin mengharapkan pemerintah menjadikan atraksi mengumpulkan koin sebagai pertunjukan wisata, 24 % sangat mengharapkan sekali, 20 % tidak mengharapkan, dan 16 % sangat mengharapkan.
4.2 Pembahasan
Anak pengumpul koin merupakan suatu komunitas masyarakat yang terbentuk dari adanya interaksi-interaksi sosial dan himpitan ekonomi di sebagian kecil belahan masyarakat Indonesia.
Berdasarkan teori yang telah disebutkan pada kajian pustaka yang disampaikan oleh George Herbert Mead dalam buku ”Psikologi Komunikasi” karangan Jalaluddin Rakhmat (2004:101), terdapat hubungan yang erat antara anak pengumpul koin dengan significant others atau orang yang paling penting,
atau Richard Dewey dan W.J. Humber dalam buku mereka ”An Introduction to Social Phsychology” (1966:105) menamainya Affective Others atau orang lain yang dengan mereka mempunyai ikatan emosional, yang dalam konteks ini adalah orang tua, saudara-saudara, dan orang yang tinggal satu rumah dengan anak pengumpul koin.
Hasil wawancara dan penelitian langsung penulis ke lokasi penelitian, yaitu perairan Kawasan Pelabuhan Merak telah membuktikan teori di atas. Di lokasi penelitian, penulis menemukan tiga orang anak pengumpul koin yang telah mengumpulkan koin di Kawasan Pelabuhan Merak selama 10, 14, hingga 20 tahun lamanya. Bahkan seorang di antara mereka sudah mewariskan profesinya tersebut kepada anaknya yang masih berusia 7 tahun.
Di samping itu mengacu pada teori Roucek dan Warren dalam buku
”Sosiologi 1 SMA” karangan Taufiq Rohman Dhohiri, dkk (2005:108), faktor
36 kelompok yang sama, dalam hal ini sebagai pengumpul koin. Awalnya hanya satu dua orang, dan lama-lama menjadi banyak akibat adanya hubungan sosial. Inilah yang membuat anak pengumpul koin menjadi komunitas yang masih ada sampai sekarang.
Kegiatan anak pengumpul koin dalam suatu tatanan sosial masyarakat,
mungkin dapat kita kategorikan sebagai ”anak yang bekerja”. Anak yang bekerja
menurut sistem-sistem sosial yang ada di Indonesia, pada umumnya dibenarkan bahkan dianjurkan sebagai bagian dari pendidikan anak tersebut. Dengan kata lain
”anak bekerja” adalah kegiatan dalam proses pendidikannya, dengan sasaran agar
anak tersebut mengerti akan makna bekerja di dalam kehidupan dalam kaitannya dengan menanamkan rasa tanggung jawab, disiplin, partisipasi dalam kehidupan keluarga dan bakti pada orang tua. Namun, yang sedikit berbeda adalah anak pengumpul koin sebagian besar didasarkan pada kemauan anak tersebut.
Anak pengumpul koin selalu dihadapkan pada masalah kesehatan. Kandungan air laut yang tercemar di Kawasan Pelabuhan Merak merupakan ancaman pertama bagi anak pengumpul koin. Berbagai macam penyakit seperti iritasi mata, sakit telinga, hingga keram menjadi sebuah hal yang biasa bagi mereka. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Dinas Pertambangan dan Lingkungan Hidup Kota Cilegon mengenai kandungan air laut Pelabuhan Merak diperoleh data seperti di bawah ini.
Tabel 36. Hasil Analisa Air Laut Triwulan IV Tahun 2008 Tanggal Pengambilan : 17 November 2008
37
*) Keputusan Walikota Cilegon Nomor : 6 Tahun 2005 Tentang Baku Mutu Air Laut Untuk
Perairan Pelabuhan
Sumber : Dinas Pertambangan dan Lingkungan Hidup Kota Cilegon
38 Selain penjelasan deskriptif di atas, setelah hasil wawancara penulis dengan anak pengumpul koin diperoleh beberapa fakta dan informasi antara lain:
1. Anak pengumpul koin pernah merekam album yang berisi 2 lagu yang mereka buat sendiri yang berjudul “Andai” di radio Mandiri FM, Cilegon. Lagu ini berisi harapan-harapan serta cita-cita anak pengumpul koin. 2. Anak pengumpul koin sering mendapat perlakuan yang tidak
menyenangkan dari pihak kapal SP Ferry berupa pengeroyokan dan pemukulan karena mereka dianggap penjahat. Aksi anak pengumpul koin dengan naik ke atas kapal dan terjun ke laut guna menarik perhatian penumpang kapal tanpa seizin pihak kapal selalu dianggap sebagai aksi kejahatan.
3. Banyak diantara anak pengumpul koin yang seringkali menelan koin seratusan besar maupun seratusan kecil saat di taruh di dalam mulut ketika mereka menyelam, bahkan beberapa di antara mereka sampai meninggal. 4. Salah satu dari anak pengumpul koin pernah terbawa arus timur ketika air
sedang pasang dan angin sedang berhembus kencang pada pertengahan tahun 2001.
5. Pada tahun 2004 seorang anak pengumpul koin yang berasal dari Kp. Medaksa Sebrang Rt.05/05 bernama Suwarso pernah meninggal karena terjepit kapal dengan badan, kepala, dan mata terpisah saat merayap ke bagian bawah kapal untuk mengambil koin yang dilempar pengunjung, bahkan hingga sekarang mata dan kepalanya belum ditemukan.
6. Salah satu dari anak pengumpul koin pernah terbawa arus baling-baling kapal Tribuana dari Dermaga 2 sampai Dermaga 3 Pelabuhan Merak. 7. Santi (perempuan) adalah seorang anak pengumpul koin yang pernah ikut
shooting Bolang yang berjudul “Cita-citaku” mengenai aktivitas anak pengumpul koin dan pergi ke Ancol serta dibayar sebesar Rp. 400.000,-. 8. Deni, anak pengumpul koin yang berusia 13 tahun sangat ingin sekali
39 10 % untuk makan dan sisanya 40 %, ia berikan kepada orang tuanya untuk biaya hidup.
Fakta-fakta yang penulis ungkapkan berdasarkan hasil wawancara kepada 25 anak pengumpul koin di Kawasan Pelabuhan Merak di atas merupakan sepenggal kecil kisah-kisah yang dialami oleh anak pengumpul koin.
Di samping deskripsi-deskripsi di atas, ternyata anak pengumpul koin memiliki peran yang cukup baik bagi pihak kepolisian sektor Merak. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan BP. A. Aryan dan BP. Yudi. R ternyata anak pengumpul koin di Pelabuhan Merak mendapat tanggapan yang cukup menyenangkan dari polisi. Menurutnya, anak pengumpul koin cukup membantu polisi yaitu contohnya dalam kasus penemuan mayat di Pelabuhan Merak dan pengambilan satu truk sirup yang jatuh ke laut ketika proses pengiriman dari Pelabuhan Bakauheni menuju Pelabuhan Merak. Berkat kemampuan berenang serta menyelam mereka yang cukup handal, mereka selalu membantu polisi dalam berbagai kasus yang berhubungan dengan perairan. Jadi, walaupun anak-anak pengumpul koin ini termasuk anak-anak yang nakal karena tidak pernah menghiraukan larangan dari pihak Pelabuhan Merak, tetapi ternyata mereka memiliki nilai baik bagi pihak kepolisian sektor Merak dalam bertugas, terutama di kawasan perairan.
40 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Realita anak pengumpul koin menjadi suatu hal yang perlu mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Himpitan ekonomi yang mendesak menjadikan komunitas ini terus ada di kalangan masyarakat Pelabuhan Merak Kota Cilegon. Berbagai resiko-resiko berbahaya menjadi ancaman utama bagi keselamatan anak pengumpul koin ini. Mulai dari bahaya kandungan air laut yang tercemar, terjepit kapal dan terhisap baling-baling, serta terseret arus sejauh puluhan meter.
Kehidupan anak pengumpul koin ditinjau dari segi ekonomi merupakan komunitas yang terbentuk akibat desakan biaya hidup. Desakan biaya hidup yang semakin lama semakin mencekik mengakibatkan terbentuknya suatu kebudayaan bersama yang didasari atas persamaan psikologi dan rasa sosial di antara mereka.
Sedangkan jika kita melihat dari segi hukum, anak pengumpul koin menempati dua sisi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi mereka bertindak sebagai objek yang harus dilindungi hukum. Dan di sisi lain bertindak sebagai pelanggar hukum yang telah dibuat oleh petugas Pelabuhan Merak mengenai larangan untuk mengumpulkan koin.
5.2 Saran
1. Diperlukan kerjasama antara semua pihak guna memberdayakan keberadaan anak pengumpul koin sebagai suatu komunitas sosial yang perlu diperhatikan dan dilindungi.
2. Perlu ditingkatkannya ketegasan dari pihak Pelabuhan Merak dalam meminimalisir aksi anak pengumpul koin.
3. Orang tua harus lebih peduli dan bertanggung jawab terhadap keselamatan anaknya.
41 5. Diperlukan adanya social code of ethics mengenai pekerjaan yang patut
diberikan kepada anak haruslah :
a. Tidak terlalu berat bebannya secara fisik.
b. Tidak membahayakan kesehatan dan keselamatannya.
c. Tidak mengambil alih pekerjaan yang karena sifat dan beratnya merupakan pekerjaan orang dewasa.
d. Bukan pekerjaan yang hanya menuntut usaha dan daya anak tanpa berbuat sesuatu untuk kemajuan anak itu.
42 DAFTAR PUSTAKA
Biro Perencanaan Makro dan Studi Kuantitatif. 2004. Pembangunan Dalam Angka. Jakarta: Bappenas.
Brooks, W.D. 1974. Speech Communication. Dubuque: Wm. C. Brown Company Publishers.
Dewey, R. Dan Humber, W.J. 1966. An Introduction to Social Psychology. London: Collier-Macmillan.
Dhohiri, T.R., dkk. 2005. Sosiologi 1 SMA. Jakarta: Yudhistira.
Dirdjosisworo, Soedjono. 2005. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Koentjaraningrat. 1990. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Nasoetion, A.H. 1992. Panduan Berpikir dan Meneliti Secara Ilmiah Bagi Remaja. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Putranto, Pandji, dkk. 1989. Masalah-Masalah Pekerja Anak. Jakarta: Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (Pusat Dokumentasi dan Penelitian Tentang Anak).
Rakhmat, Jalaludin. 2004. Psikologi Komunikasi (edisi revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Soelaeman, M. 1989. Ilmu Sosial Dasar (edisi revisi). Bandung: Eresco. Surakhmad, W. 1998. Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung: Tarsito.
x LAMPIRAN
Lampiran 1: Angket anak pengumpul koin
DINAS PENDIDIKAN PROVINSI BANTEN
SMA NEGERI CAHAYA MADANI BANTEN (Boarding School) Jalan Raya Pandeglang-Labuan Km. 3 Kuranten Pandeglang-Banten
Nama : ……….
Alamat : ……….
Usia : ……….
A. IDENTITAS
1. Sudah berapa lama adik mengumpulkan koin dengan cara menceburkan diri ke dasar laut?
a. 0-1 tahun c. 2-3 tahun e. 4-5 tahun b. 1-2 tahun d. 3-4 tahun
2. Berapa pendapatan (rupiah) yang dapat adik kumpulkan setiap harinya? a. 0-2000 c. 4000-7000 e. > 10000
b.2000-4000 d. 7000-10000 3. Mulai pukul berapa adik mengumpulkan koin?
a. 05.00-06.00 WIB c. 07.00-08.00 WIB e. 09.00-10.00 WIB b. 06.00-07.00 WIB d. 08.00-09.00 WIB
4. Apa pekerjaan ayah adik?
a. Pengamen c. Nelayan e. Penggangguran
b. Buruh d. Pedagang
5. Apa pekerjaan ibu adik?
a. Ibu rumah tangga c. Pengrajin e. Pengemis b. Buruh d. Pedagang
6. Apa aktivitas adik serbelum mengumpulkan koin?
xi b. Pengemis d. Tidak bekerja
7. Apakah adik mengenyam pendidikan? a. Dulu pernah
b. Putus tidak ada biaya
c. Berhenti sebentar sambil mencari biaya d. Masih bersekolah
e. Tidak pernah bersekolah
8. Apa tujuan adik mengumpulkan koin? a. Uang jajan
b. Disuruh orang tua c. Main-main
d. Ikut-ikutan
e. Disuruh bos atau penadah
9. Digunakan untuk apa pendapatan yang adik peroleh? a. Jajan
b. Diberikan kepada orangtua c. Diserahkan kepada penadah d. Biaya sekolah
e. Makan sehari-hari
10. Apakah adik pernah mendapatkan pelatihan pengembangan kreativitas dari pemerintah?
a. Selalu c. Kadang-kadang e. Tidak pernah
b. Sering d. Jarang
11. Apakah adik pernah mendapatkan bimbingan kreativitas dari pemerintah? a. Selalu c. Kadang-kadang e. Tidak pernah
b. Sering d. Jarang
12. Apakah adik pernah mendapatkan bantuan berupa santunan dari pemerintah?
a. Selalu c. Kadang-kadang e. Tidak pernah
b. Sering d. Jarang
xii a. Melarang c. Menertawakan e. Memarahi
b. Menasihati d. Tak acuh
14. Menurut adik menjadi pengumpul koin termasuk dalam kategori apa? a. Pekerjaan c. Trend e. Aktivitas biasa b. Permainan d. Paksaan
15. Dari mana adik mengenal dan mempelajari cara mengumpulkan koin?
a. Orang tua c. Teman e. Otodidak
b. Kakak atau saudara d. Pengawas pelabuhan
KUISIONER
1. Menurut adik berapa tingkat bahaya mengumpulkan koin dengan cara seperti ini?
a. Sangat bahaya c. Cukup bahaya e. Tidak bahaya
b. Bahaya d. Bahaya
2. Apakah adik pernah dilarang oleh orang tua?
a. Selalu c. Kadang-kadang e. Tidak pernah
b. Sering d. Jarang
3. Apakah adik pernah dilarang oleh pengawas pelabuhan?
a. Selalu c. Kadang-kadang e. Tidak pernah
b. Sering d. Jarang
4. Apakah adik pernah merasa bosan dengan aktivitas ini?
a. Selalu c. Kadang-kadang e. Tidak pernah
b. Sering d. Jarang
5. Adik pernah memiliki niat untuk beralih aktivitas?
a. Selalu c. Kadang-kadang e. Tidak pernah
b. Sering d. Jarang
6. Apakah yang adik rasakan setelah mendapatkan uang dari hasil menyelam?
xiii 7. Menurut adik apakah mengumpulkan koin layak dijadikan suatu tradisi?
a. Sangat layak c. Cukup layak e. Sangat tidak layak b. Layak d. Tidak layak
8. Apakah adik pernah mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari preman atau teman lain yang lebih besar?
10. Apakah adik pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan berupa pemalakan?
a. Selalu c. Kadang-kadang e. Tidak pernah
b. Sering d. Jarang
11. Apakah adik pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan berupa tindakan asusila?
a. Selalu c. Kadang-kadang e. Tidak pernah
b. Sering d. Jarang
12. Apakah adik pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan berupa pengeroyokan?
a. Selalu c. Kadang-kadang e. Tidak pernah
b. Sering d. Jarang
13. Apakah adik mengharapkan perlindungan dari orang lain? a. Sangat mengharapkan sekali
b. Sangat mengharapkan c. Mengharapkan
d. Tidak mengharapkan e. Sangat tidak mengharapkan
xiv b. Butuh sekali
c. Butuh d. Tidak Butuh e. Sangat tidak butuh
15. Menurut adik apakah adik sangat membutuhkan bantuan di bidang pendidikan?
16. Menurut adik apakah adik sangat membutuhkan bantuan di bidang material atau keuangan?
17. Apakah adik pernah keram saat mengumpulkan koin?
a. Selalu c. Kadang-kadang e. Tidak pernah b. Sering d. Jarang
18. Apakah adik pernah terluka dan menderita iritasi mata akibat mengumpulkan koin?
a. Selalu c. Kadang-kadang e. Tidak pernah b. Sering d. Jarang
19. Apakah adik mengetahui adanya bantuan pemerintah untuk biaya sekolah? a.Sangat tahu sekali
xv 20. Apakah adik mengharapkan pemerintah menjadikan atraksi mengumpulkan
koin sebagai pertunjukan wisata? a.Sangat mengharapkan sekali b.Sangat mengharapkan c.Mengharapkan
xvi Lampiran 2: Biodata Penulis
Penulis 1
Data Peserta:
Nama : Boni Andika
NIS : 07081006
Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 27 Mei 1992 Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Kp. Suka Bakti Rt.08/04 Kelurahan Lembang Sari Kecamatan Rajeg, Tangerang, Banten 15540
No. Telepon : 08568453532 / 02194512474
E-mail : [email protected] / [email protected]
Data Orang Tua: Ayah:
Nama : Antoni
Pendidikan Akhir : SLTA Ibu:
Nama : Sri Lestari
Pendidikan Akhir : SLTA
Data Sekolah:
Asal Sekolah : SMAN Cahaya Madani Banten (Boarding School) Alamat : Jl. Raya Pandeglang-Labuan Km.3 Kuranten,
Pandeglang-Banten PO BOX 61/Pandeglang 42201.
Telpon : (0253) 5210114
Website : http://www.smancmbbs.com
xvii Penulis 2
Data Peserta:
Nama : Megawati Cahyani
NIS : 07081014
Tempat, Tanggal Lahir : Tangerang, 19 Juni 1992 Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Kp. Neglasari Rt.007/03 No.11 Kelurahan Sindang Sari Kecamatan Warunggunung, Lebak, Banten 42352
No. Telepon : 081289006451
E-mail : [email protected]
Data Orang Tua: Ayah:
Nama : Guntur Cahyono
Pendidikan Akhir : SLTA Ibu:
Nama : Midawati
Pendidikan Akhir : SLTA
Data Sekolah:
Asal Sekolah : SMAN Cahaya Madani Banten (Boarding School) Alamat : Jl. Raya Pandeglang-Labuan Km.3 Kuranten,
Pandeglang-Banten PO BOX 61/Pandeglang 42201.
Telpon : (0253) 5210114
Website : http://www.smancmbbs.com
xviii Penulis 3
Data Peserta:
Nama : Regina Ivanovna
NIS : 07081017
Tempat, Tanggal Lahir : Tangerang, 27 Maret 1992 Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Binong Permai Blok E10 No.15 Kecamatan Curug, Tangerang, Banten
No. Telepon : 085710471490
E-mail : [email protected]
Data Orang Tua: Ayah:
Nama : Havies Djansiwar, SE.
Pendidikan Akhir : S1 Ibu:
Nama : Susiladya, SE.
Pendidikan Akhir : S1
Data Sekolah:
Asal Sekolah : SMAN Cahaya Madani Banten (Boarding School) Alamat : Jl. Raya Pandeglang-Labuan Km.3 Kuranten,
Pandeglang-Banten PO BOX 61/Pandeglang 42201.
Telpon : (0253) 5210114
Website : http://www.smancmbbs.com