• Tidak ada hasil yang ditemukan

Edisi Khusus Juni 2010 | JURNAL PENELITIAN SAINS b ramlan genap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Edisi Khusus Juni 2010 | JURNAL PENELITIAN SAINS b ramlan genap"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Penelitian Sains Edisi Khusus Juni 2010 (B) 10:06-04

Karakterisasi Keramik Na

2

O - Al

2

O

3

Dengan Variasi MgO Sebagai

Komponen Elektrolit Padat

Ramlan

Jurusan Fisika FMIPA, Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan, Indonesia

Intisari: Keramik Na2O - Al2O3 dibuat melalui proses solid state mixing dari campuran bahan baku serbuk Na2CO3

y-Al2CO3 dan Mg(OH)2CO3 sebagai sumber aditif MgO perbandingan molaritas Na2O dan Al2O3 adalah 1 : 11.

Sedangkan aditif MgO divariasikan: 1, 2, 3 dan 4% wt. Preparasi serbuk dilakukan dengan cara mencampur ketiga bahan baku (Na2CO3 y-Al2CO3 dan Mg(OH)2CO3) dicampur dan digiling menggunakan ball mill selam 24 jam, kemudian

proses kalsinasi pada suhu 1200◦C selama 2 jam. Pembuatan benda uji, dari serbuk yang telah kalsinansi, dilakukan

dengan proses milling pengayakan hingga lolos 400 mesh, dicetak 50 Mpa, dan sintering dengan variasi suhu 1400 - 1600 (pada interval 50◦C ) dengan waktu penahan 2 jam. Karakterisasi yang dilakukan meliputi uji densitas porositas, dan

analisa XRD. Hasil karakteritas XRD menunjukkan bahwa fasa dominan terbentuk adalah Na-β′Al

2O3 dan fasa minor

Na-β′Al

2O3densitas 2.34 g/cm3, dan porositas 32% pada kondisi terbaik dengan penambahan aditif MgO sebanyak 3%.

Kata kunci: keramik oksida, elektrolit padat, porositas

Juni 2010

1 PENDAHULUAN

A

lumina (Al2O3) tergolong salah satu jenis

keramik oksida atau keramik teknik yang ap-likasinya cukup naik di bidang maupun di bidang mekanik. Berdasarkan kompisinya alumina ada dua macam yaitu alumina murni dan alumina tidak murni merupakan polimorfi material yang berdasarkan struk-tur kristalnya dapat digolongkan menajdi dua yaitu y-alumina Al2O3 dan α-alumina Al2O3 atau disebut corundum[1]. Aplikasi dari corondum yang sangat keras dan kuat sehingga bahan paling tahan suhu tinggi sampai 1700◦C, juga merupakan material yang

sangat keras dan kuat sehingga sering dipakai seba-gai bahan makanik. Disamping itu sifat listrik[1,2].

Sedangkan alumina tidak murni, uumnya merupakan kombiansi dua macam oksida seperti misalnya antara Na2O dengan Al2O3, yang membentuk struktur baru

yaitu dikenal dengan sebutan beta alumina dengan formula stachionimetri, yang Na2O·11Al2O3. Beta

alumina sendiri memiliki beberapa struktur kristal an-tara lain: Na-β′Al

2O3, Na-β′′ Al2O3[3]. Aplikasi dari

beta alumina hanya dibidang elektronik yaityu ma-terial ini memiliki kondusktivitas listrik yang cukup tinggi memiliki konduktivitas ion 30 Sm-1 pada suhu 300◦C sehingga cocok dipakai sebagai bahan elektrolit

pada batrei padat[2].

Kecenderungan pada perkembangan teknologi di era tahun dua ribu mengarah ke perkembangan yang pe-sat dibidang elektronik khususnya dalamenergy stor-ageseperti baterei, dimana batrei padat memiliki daya

kapasitas penyimpanan yang tinggi oleh karena itu pengembangan beta alumina daya kapasitas penyim-panan yang tinggi. Oleh karena itu pengembangan beta alumina sebagai salah satu kandidat materai un-tuk batrei perlu muali dikembangkan. Kesedian bahan baku alumina di dala di indonesia cukup melimpah dalam bentuk mineral bauksit, selama ini belum di-manfatkan secara optimal. Beta alumina memiliki sifat mekanik yang lebih rendah dibandingkan dengan corundum. Pada penelitian ini dibuat keramik beta alumina melalui reaksi padatan antara Na2O dengan

Al2O3, di mana reaksi tersebut berlangsung pada

suhu tinggi sekitar 1200-1400◦C. Dalam pembuatan

keramik diawali dengan pembuatan serbuk kemudian dilanjutkan ke proses pemadatan pada suhu tinggi yang disebut dengan proses sintering.

Tercapainya proses sintering yang sempurna sa-ngat dipengaruhi oleh jenis material. Ukuran bu-tir, dan aditip sintering digunakan[4]. Dalam

pem-buatan keramik beta alumina ini digunakan aditif MgO, karena aditif ini telah banyak dilakukan peneliti lain pada pembuatan keramik alumina, di mana aditif MgO dalam sintering alumina memberikan efek yang baik terhadap mikrostruktur dan mampu mengurango pori-pori hingga mendekati nol[5]. Tahapan

pembu-atan keramik beta alumina ini baru sampai tahap pembuatan benda uji untuk dilakukan pengujian sifat-sifat fisis seperti densitas dan porositas, serta analisa fasa dengan difraksi sinar-X.

c

(2)

Ramlan/Karakterisasi Keramik . . . JPS Edisi Khusus (B) 10:06-04 2 METODOLOGI PENELITIAN

Pembuatan keramik beta alumina digunakan kompo-sisi tetap yaitu dengan mole rasio antara Na2O dan

Al2O3 adalah 1:11, dan sebagai aditif sintering

digu-nakan MgO dengan variasi: 0, 1% 2% 3% dan 4% berat. Sebagai bahan baku digunakan bahan kimia murni dari E-Merck yaitu : serbuk Na2CO3sebagai

se-bagai sumber Na2O, serbukα-Al2O3dan sebagai

sum-ber MgO dugunakan Mg(OH)2CO3. Komposisi

pen-campuran diperlihatkan pada Tabel 1. Ada dua taha-pan yang dilakukan yaitu pembuatan serbuk dengan mancampurkan ketiga macam bahan baku tersebut berdasarkan komposisinya menggunakan ball miil dan media nya adalah ethanol. Proses pencampuran di-lakukan pengeringan pada suhu 60-80◦C, sehingga

diperoleh serbuk kering. Selanjutnya serbuk yang lolos ayakan dicetak tekan dengan tekanan sekitar 50 Mpa, kemudian disintering dengan menggunakan tungku listrik dengan kecepatan 10◦C/menit. Suhu

sinter-ing divariasikan dari 1400◦C pada masing-masing suhu

tersebut dilakukan penahanan selama 2 jam. Selan-jutnya masing-masing sampel yang telah disintering dilakukan pengujian yang meliputi pengujian densi-tas dan porosidensi-tas dengan merode archimedes, serta dilakukan analisa fasa dengan menggunakan difraksi sinar-X. Diagram alir preparasi sampel diperlihatkan pada Gambar 1.

Tabel1: Komposisi pencampuran bahan baku

Kode Mole Mole % Berat Sampel Al2O3 Na2O MgO

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengukuran decsitas dan porositas dari masing-masing sampel ditunjukkan pada Gambar 2 dan 3. Kurva Gambar 2 menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu sintering nilai densitas cendurung naik. Hal ini menerangkan bahwa mekanisme proses sintering pada rentang suhu 1400-1600◦C telah berjalan. Dari suhu

1400 sampai 1500◦C merupakan awal proses sintering,

kenaikan

Densitas masih kecil, tetapi pada kisaran 1500-1600◦C terjadi perubahan densitas yang besar

ber-arti terjadi proses akhir sintering/pemadatan. Pe-nambahan aditif dari 1% sampai 3% memberikana dampak kenaikan densitas, peranan aditif MgO mampu meredam pertumbuhan butir selama proses

sintering, sehingga terjadi pemadatan, tetapi dengan bertambah banyaknya aditif MgO (4%) peranan berkurang sehingga densitasnya turun kembali. Suhu sintering yang baik adalah pada suhu 1600◦C dengan

aditif 3% yaitu diperoleh densitas sebesar 2,34 g/cm3.

akan tetapi densitas yang dicapai ini masih dibawah menurut densitas literaur, di mana densitas teoeritis sekitar 2,6-2,8 g/cm3

Gambar 3 menunjukkan pola kurva yang berlawa-nan dengan kurva pada Gambar 2. Semakin tinggi suhu sintering makan nilai porositasnya cenderung mengecil. Hal sesuai dengan mekanisme proses sin-tering, dimana terjadi pengurangan pori selama ter-jadinya proses sintering. Porositas terendah adalah 32% pada sampel dengan aditif 3% MgO dan sinter-ing pada suhu 1600◦C. Idealnya porositasnya harus

mendekati nol, tetapi hal ini dilihat dari nilai densitas-nya juga masih jauh dibawah densitas terositas. Un-tuk dapat mencapai porositas yang lebih rendah lagi dan densitas teoritis. Maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut lagi.

Hasil analisa dengan difraksi sinar-X ditunjukan pada Gambar 4. Telah terindentifikasi bahwa telah terbentuk fasa dominan Na-β′′Al

2O3dengan fasa

mi-nor Na-β′′. Perubahan suhu sintering tidak

mem-berikan adanya perubahan fasa yang besar. Karena fas-fasa tersebut telah terbentuk pada suhu 1400◦C,

dan tetap stabil dengan suhu sintering yang meningkat keramik beta alumina dengan fasa Na-β′′ telah dapat

terbentuk pada suhu sekita 1400-16000C dan diser-tai dengan fasa Na-β′′ Al

2O3. Aditif MgO mampu

memberikan efek pemadatan/sintering keramik beta alumina yang signifikan dengan presentase maksimum 3%. Dimana pada kondisi tersebut dengan suhu 1600◦C diperoleh densitas sebesar 3,34 g/cm3dan

po-rositas 32%.

Perubahan suhu sintering tidak memberikan adanya perubahan fasa yang besar karena fas fasa tersebut telah terbukti pada suhu 1400◦C, dan tetap stabil

dengan suhu sintering yang meningkat.

4 SIMPULAN DAN SARAN

Keramik beta alumina dengan fasa Na-β′′Al

2O3telah

terbentuk pada suhu 1400-1600◦C dan disertai dengan

fase minor Na-β′′ Al

2O3. Aditif MgO mampu

mem-berikan efek pamadatan/sintering keramik beta alu-mina dengan presentase maksimum 3. Dimana pada konsisi tersebut dengan duhu sintering 1600◦C

diper-oleh densitas sebesar 2,34 g/cm3 dan porositas 32%

Saran untuk lebih semprnanya penelituan ini perlu untuk dilanjutkan pengukuran konduktivitas. Karena material ini akan dipergunakan sebagai elektrolid pada tabek.

(3)

Ramlan/Karakterisasi Keramik . . . JPS Edisi Khusus (B) 10:06-04

Gambar1: Diagram alir preparasi sampel

Gambar2: Kurva hubungan balik densitas terhadap suhu sintering untuk berbagai persen aditif MgO (A: O%, B: 1%, C: 2%, D: 3%, E:4%)

DAFTAR PUSTAKA

[1]Ramlan, Bambang Sugijono dan Priyo Sarjono, 2001,

Pengaruh MgO dan Suhu Sintering Terhadap Mikrostruktur dan Sifat Fisis Keramik Beta Alumina(β′′-Al2O3)

[2]Buchanan, R.C., 1986,Ceramik Materials for Electronic,

Marcel Dekker, New York

[3]Moulson, A. J. dan J.M Herbert, 1991, Pengaruh

Penambahan TiO2terhadap Proses Sintering Keramik

Al2O3dan Sifat Mekaniknya,Proseding seminar nasional material dan lingkungan dalam pembangunan industri, PPF-LIPI, Bandung 19 Oktober 1988

[4]William, C, 1991,Firing-Sintering, Samuel J.S. Hand

Book of Engineeered Materials, Vol 4, ASM Internasional, New York

[5]Ristic, M.M., 1979,Sintering-New Developments, Elsevir,

Amasterdam

Gambar3: Kurva hubungan porositas terhadap suhu sin-tering untuk berbagai persen aditif MgO (A: O%, B: 1%, C: 2%, D: 3%, E:4%)

(4)

Ramlan/Karakterisasi Keramik . . . JPS Edisi Khusus (B) 10:06-04

Gambar 4: Pola difraksi sinar-X untuk sample D (3%

MgO) yang disintering pada suhu 1400-1600◦C

Gambar

Tabel 1: Komposisi pencampuran bahan baku

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini berdasarkan sifat ekologi rawa lebak yang merupakan bagian dari ekosistem air tawar, an- tara lain berfungsi menyediakan nutrisi untuk organ- isme akuatik, terutaka

Sesuai dengan tujuan utama penelitian ini, yaitu untuk mengetahui pengaruh dari pemotongan sirip dorsal, ventral, dan sirip kaudal ter- hadap pertumbuhan panjang tubuh ikan mas

Hasil perhitungan menyimpulkan bahwa: (1) waktu transien sebanding dengan beda suhu antara kondisi awal dan kondisi setimbang sistem, (2) Sebagai konsekuensi dari dominasi

adalah menggunakan tumbuhan yang kaya akan zat metabolit sekunder yaitu daun mimba ( Azadirachta indica A. Juss) yang dapat berpengaruh terhadap larva atau serangga hama, di

Hasil uji organoleptik terhadap produk kue kering sukun menunjukkan bahwa pemanfaatan tepung sukun untuk substitusi 25-75% tepung beras dalam produk kue kering sukun direspon

Hasil analisa menunjukkan bahwa fraksi bensin dan kerosin yang dihasilkan pada temperatur hidrocracking 350 ◦ C, laju alir gas hidrogen 1,5 ml/det, dan berat katalis 1,25 g